[ Ficlet ] Destiny

destini-by-peniadts

“And this my destiny…

 … leave them.”

Title : Destiny

Author : Tricila

Cast : Jung Jessica

Genre : Sad, Friendship

Rated : PG – 13

Length : Ficlet

Disclaimer : Makasih buat para readers yang sudah mau menyempatkan untuk membaca fanfic ini. Ingat ya! Tokoh hanya milik Tuhan, keluarga, dan para fans ^^Alur cerita sepenuhnya punya saya, DON’T BE A PLAGIATOR PLEASE!

Credit poster by peniadts Art Fantasy

WARNING TYPO EVERYWHERE!

Destiny

Previous : Prolog

Destiny

Jung Soo Yeon

            Langit sore disinari cahaya dari sang surya yang semakin lama kian meredup. Aku di sini, duduk termenung membayangkan senyum yang terlukis indah dari wajah kalian satu per satu. Membayangkan setiap peristiwa yang telah kita lewati bersama. Peristiwa yang membuatku merindukan saat-saat dimana kita melakukannya bersama. Ya, itu kalian. Hanya kalian.

“Cuacanya cerah, aku memikirkan kalian semua.” — Jung Soo Yeon

Flashback

Saat itu, kupikir mereka hanyalah secuil dari mimpi buruk dalam hidupku. Aku pikir mereka hanyalah sekumpulan orang rendahan yang bisanya memberi pengaruh negatif padaku. Aku pikir mereka hanyalah sekumpulan orang tak berguna yang akan menjadikanku seperti mereka. Aku pikir mereka hanyalah sekumpulan berandalan yang tak tau biadab.

Aku melewati hari demi hari di sekolah itu dengan perasaan muak. Sampai-sampai aku memiliki pikiran untuk mempercepat waktu. Tetapi itu tidak mungkin. Itu hanyalah khayalan cerita fiksi yang kubuat sendiri.

Selama ini, tak ada kesan tersendiri bersama mereka. Aku merasa telah membuang banyak waktu. Aku merasa telah membuang kesempatanku untuk bergaul dengan orang-orang yang lebih tinggi derajatnya. Aku merasa telah hampir menghancurkan masa depanku. Dan aku merasa telah menjadi orang yang rendah diri.

Tapi, semua itu hanyalah pikirku belaka.

Setelah berteman lebih lama bersama mereka, aku merasakan perubahan besar dalam diriku sendiri. Aku lebih bersemangat untuk meraih cita-citaku, aku lebih pandai dari sebelumnya, dan aku lebih menghargai orang lain.

Aku sadar, semua itu karena mereka.

Mereka orang yang selama ini kuanggap mimpi buruk, rendahan, tak berguna, berandalan dan perusak masa depanku.

Ternyata merekalah yang membantuku sebaik ini, sepandai ini, seceria ini, dan sebahagia ini. Tak pernah terbesit di hatiku untuk tinggal lebih lama bersama mereka. Kini, serasa dunia ini terbalik, aku menginginkan waktu yang lebih lama bersama mereka. Aku ingin bersama mereka. Aku sangat ingin. Sangat.

Bahkan semua pikiran burukku tentang mereka sudah kubuang jauh-jauh. Aku merasa bersalah. Aku telah memfitnah orang yang baru saja kukenal. Baru saja kulihat. Dan baru saja kuperhatikan. Aku menyesal.

Sekarang, aku memiliki teman. Aku memiliki keluarga kedua. Aku memiliki kesempatan bersama mereka. Aku memiliki mereka. Hanyalah waktu yang tak kumiliki. Aku sangat ingin memiliki waktu yang lama. Sangat. Akan kuberikan apapun untuk bersama mereka.

Kalian pasti bertanya-tanya, waktu? Ya. Ini bukanlah sekolah keinginanku juga keluargaku. Ini bukanlah sekolah yang seharusnya kumasuki. Ini bukanlah tempat dimana aku seharusnya menuntut ilmu. Bukan. Sekolah ini hanyalah sebuah ‘batu lompatan’ agar aku tetap bisa mengikuti pelajaran yang sudah seharusnya kuketahui.

Oleh karena itu, aku dan keluargaku berencana pindah setelah aku menyelesaikan sekolah kelas pertamaku. Aku akan pindah ke sekolah yang seharusnya kutempati dari dulu.

Awalnya aku sangat antusias dengan keputusan Ayah, namun, sekarang berbanding terbalik. Rasanya seperti aku ingin menghentikan waktu. Tapi, yah, itu semua masih karangan cerita fiksi yang kuciptakan dan tidak akan pernah terwujud.

Aku mulai bisa berteman baik dengan mereka, aku mulai mau mengenal mereka lebih dalam, aku mulai mengukir kenangan bersama mereka, dan aku menemukan seseorang yang telah membuatku jatuh hati padanya.

“Cinta adalah saat kau ingin memilikinya dan ingin menjadi satu-satunya.”

Kata-kata itu masih melekat dalam otakku. Sejak aku mulai bertemu dengannya, aku mulai merasakan getar-getar rasa dalam dadaku. Aku merasa gugup, kikuk, ragu, dan merasa ingin memilikinya. Tapi, aku berusaha acuh tak acuh pada perasaanku ini. Aku masih bingung dengan sedikit rasa yang mulai tumbuh ini. Rasa sayang sebagai teman atau sebagai seorang lelaki? Ah, aku masih memikirkannya.

Kian hari aku merasa penasaran pada sosok itu. Aku mulai membangun rencana-rencana kecil yang menurutku bisa mempertemukanku dengannya seolah-olah itu tidak disengaja. Bantuan sahabatku akan melancarkan rencanaku.

Sore itu, kegiatan basket dan voli dilaksanakan pada hari yang sama. Itu pun termasuk ulah dari temanku yang menjadi seorang ketua klub voli di sekolah. Dia bersama dengan kawannya bermain basket, dan aku bersama temanku bermain voli. Lapangan kami bersebelahan, maka tidak mungkin jika bola tidak akan menggelinding ke lapangan sebelah.

Berjalan dengan perasaan ragu, aku melangkah menuju bola yang telah sampai di depan anak lelaki yang berdiri dengan tatapan heran. “Milikmu?”

Dia.

Dia berbicara padaku.

Seolah berhenti bernapas, aku menjawabnya dengan tersengal-sengal. Dia mengambilkan bola voli yang tergeletak di hadapannya dan memberikannya padaku. “Ini. Lain kali hati-hati,” ujarnya dengan senyuman manisnya. Aku menerima bola itu dengan senyuman seadanya dan langsung berlari menjauh darinya.

Ah, senangnya.

Aku cukup bahagia bisa berbicara dengannya walau hanya selama 15 detik. Aku cukup bahagia bisa berdiri tepat di depannya. Aku cukup bahagia bisa menatap matanya. Aku cukup bahagia bisa melihat otot yang ada ditangannya secara dekat. Aku cukup bahagia bisa melihat lekukan wajahnya secara jelas. Aku cukup bahagia.

Berkembangnya hubunganku dengan si ‘dia’ diiringi berjalannya waktu. Waktu semakin membuatku khawatir. Khawatir tak bisa bersama mereka, khawatir tak bisa bertemu dengan mereka.

Tetapi, seseorang berusaha meyakinkanku.

“Karena semua pertemuan, pasti akan ada perpisahan.”

Orang itu berhasil menanamkan kata-kata itu ke dalam otakku. Saat-saat seperti inilah yang selalu membuatku terbayang-bayang akan …

“Memikirkannya, aku memang harus pergi. Kupikir seiring berjalannya waktu, aku akan bisa meninggalkannya.” – Choi Dal Po

Yah, sekarang ini memang cukup berat bagiku. Aku harus meninggalkan mereka semua dalam waktu 2 minggu. Inipun masih terpotong waktu ujian. Jadi aku tidak bisa bersama mereka dalam 1 kelas yang sama. Itu mengurangi waktuku untuk mengukir kenangan dengan mereka.

Tetapi, entah mengapa semakin hari lelaki ‘itu’ tampak menjauhiku. Ia seperti menjaga jarak dariku, seolah-olah tidak pernah mengenalku. Sebuah kabar pernah melintas ditelingaku bahwa dia sedang mendekati gadis pemain voli y

Hari demi hari, aku melewatinya dengan senyuman di siang hari, dan tangisan di malam hari. Aku hanya bisa menumpahkan semua rasa emosi, kecewa, dan rasa sedihku dalam bentuk tetesan air mata yang melewati pipiku.

Tangisan bukan berarti menandakan orang itu lemah, kan? Tangisan hanyalah cara untuk orang itu mengekspresikan dirinya karena dia tidak mampu untuk melampiaskan semua amarahnya pada orang disekitarnya. Dia berusaha menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya. Dia hanya ingin orang lain tak khawatir dengan keadaannya. Oleh karena itu, ia lebih memilih menangis dalam diam.

Aku masih berharap jika semua ini adalah mimpi. Aku benar-benar tidak ingin berpisah dengan mereka. Aku sangat menyayangi mereka. Merekalah yang membuatku tertawa, menangis, dan marah selama ini. Aku ingin menyebut mereka adalah ‘The Real Friends’

Selama ini aku hanya memiliki seorang sahabat yang begitu munafik dihadapanku. Dia selalu berusaha menghancurkanku walau notabene-ku adalah sahabatnya. Dia selalu membuat rumor buruk tentangku. Dan dia yang kusebut ‘The Fuck Friend’

אּאּאּ

Ujian sudah terselesaikan, dan hasilnya pun sudah diumumkan. Aku merasa puas dengan hasil yang kuperoleh. Peringkat 1 dari 188 siswa yang ada. Ini tahun pertamaku, namun aku sudah memperoleh prestasi. Menakjubkan.

Hari-hari setelah ujian akhir biasanya hanya diisi dengan hal-hal yang menurutku membosankan. Malas untuk berangkat ke sekolah. Aku lebih memilih bermanja-manja di atas ranjangku daripada bangun pagi. Tetapi, kebiasaan burukku itu sekarang berubah. Sebenarnya tidak berubah begitu saja, perlu sedikit pertimbangan. Sekolah atau tidak.

Jika aku bolos, aku tidak bertemu teman-teman. Yang benar saja! Waktuku hanya 4 hari sebelum pengambilan rapor, pikirku saat itu. Buru-buru aku beranjak dari kasur empuk itu dan berlari menuju ke kamar mandi.

Aku sudah siap dengan seragamku, dan kini aku terduduk memandangi roti isi ditemani susu coklat hangat di sebelahnya. Aku teringat bahwa sebentar lagi aku akan melepaskan seragam dengan identitas sekolah ini. Aku akan mengenakan seragam umum yang tidak dilengkapi identitas sekolah lagi. Tersenyum kecut, berusaha untuk tidak meneteskan air mata lagi.

15 menit.

Waktu yang kubutuhkan untuk perjalanan menuju sekolah. Aku yakin, perjalanan ke sekolah baru pasti akan lebih singkat. Dan…, aku yakin, aku akan merindukan waktu 15 menit itu.

Dua pagar di sisi utara dan selatan. Satu pagar kecil menuju dalam sekolah. Dan, jalan kecil menuju kelas. Kelas X F yang terbangun sendiri di depan kelas-kelas yang lain. Kelas yang paling dekat dengan kantor guru. Kelas yang begitu ramai ketika jam kosong. Kelas yang begitu senang mengerjai salah satu guru. Kelas yang sangat senang jika diperbolehkan makan saat Bahasa Inggris. Kelas yang tidak pernah mendengarkan ucapan guru IPA Fisika. Kelas yang paling malas jika ada acara bersih-bersih lingkungan. Kelas yang paling terkenal ramainya. Kelas yang paling senang dengan Bahasa Indonesia. Kelas yang benci dengan TIK. Kelas yang hobi bernyanyi. Kelas yang sering melanggar aturan.

Aku melangkahkan kakiku di tanah SMA Busan. Sesekali tersenyum simpul kepada kakak kelas dan satu angkatan saat berjalan. Hangatnya persahabatan di sekolah ini.

Aku ingin memiliki waktu lebih banyak disini, pikirku.

Dua orang gadis itu melambaikan tangannya kepadaku seraya tersenyum simpul. Merekalah sahabatku. Orang yang selalu bisa menghiburku. Aku menyayangi mereka. Aku ingin bersama mereka. Sangat ingin.

“Soo Yeon-ah,” panggil Tae Yeon ramah. Suaranya begitu khas ketika sampai ke gendang telingaku. “Ya?”

Tae Yeon menundukkan kepalanya lalu menatapku dengan tatapan sedih. “Kau yakin akan pindah?” tanyanya dengan ragu-ragu. Aku tersenyum kecut dan mengangguk pelan. Reaksi kedua sahabatku itu membuatku semakin ingin untuk tetap berada di sini. “Tae Yeon-ah, Yu Ri-ya, kalian harus tau. Aku juga ingin tetap sekolah di sini, bersama kalian semua X F. Tapi, ini keputusan orang tuaku untuk masa depanku. Walaupun sebenarnya berat, mau apa dikata? Mau tidak mau kita harus menghargai keputusan mereka. Maafkan aku.”

אּאּאּ

Perjalanan terakhir ke sekolah. Hari ini adalah hari pembagian hasil pembelajaran. Aku, dan Ayah menaiki mobil berwarna putih susu yang sudah siap di halaman depan. Perjalanan kami sunyi. Hanya deruman mobil yang terdengar sampai gendang telinga.

Setelah aku dan ayah berjalan menyusuri halaman sekolah yang cukup luas, mataku menangkap 2 orang yang tengah melambaikan tangannya kepadaku. “Ayah, masuk saja ke aula itu. Kelasku ada di ujung selatan. Aku mau menemui temanku dulu,” ujarku kemudian diikuti anggukan ayah.

Sebuah tas bergambar emoticon yang menarik perhatianku itu digenggam oleh Yoona. Yoona yang sadar akan pandangan mataku yang terus memerhatikan bawaannya itu akhirnya membuka mulutnya, “Ini untukmu.”

“Untukku? Kenapa?” tanyaku seraya meraih tas yang diberikan oleh Yoona. “Kenang-kenangan. Kau sudah memberiku gelang, dan ini barang untukmu. Ada sekitar 5 surat kecil yang harus kau baca. Tapi jangan dibaca di sini. Ada gelang kesukaanku juga,” jawabnya didampingi senyuman yang terlukis di wajahnya. Aku mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih padanya. “Jangan lupakan aku ya.”

Mendadak kata-kata itu menusuk hatiku lagi. “Mana mungkin.”

“Jung Soo Yeon!”

Aku dan Yoona serentak menoleh ke arah suara itu berasal. Kim Tae Yeon dan Kwon Yuri. Mereka berlari kecil seraya membawa sebuah bingkisan persegi panjang di tangan masing-masing. “Kau sudah datang, Soo Yeon-ah,” sapa Yuri. Aku hanya tersenyum simpul. “Ah, ini untukmu,” lanjutnya serta menyerahkan bingkisan tadi.

“Lagi?” ucapku heran. “Kalian tidak perlu memberiku kenang-kenangan. Kita masih bisa bertemu, ‘kan?” lanjutku. “Sudahlah. Terima saja apa repotnya, sih? Ini juga untukmu,” ujar Tae Yeon. Aku hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan teman-temanku.

“Soo Yeon-ah, ini kado dariku dan dari X F. Kau terima ya,” ucap Hyo Yeon seraya mengeluarkan 2 kado dari dalam tasnya. “Astaga, kado yang ini terlalu besar, Hyo Yeon-ah.” Hyo Yeon menyengir. “Hehehe, aku bingung harus memilih yang mana. Jadi aku pilih yang paling besar,” ujarnya.

Hari ini semua teman-temanku memberikan sebuah kado. Aku masih heran, kenapa mereka melakukan ini. Kami masih bisa bertemu, tapi kenapa mereka bersikap seolah-olah tidak akan pernah bertemu denganku lagi?

אּאּאּ

Aku membuka satu per satu kenang-kenangan dari mereka semua. “Kartu ucapan?” gumamku singkat kemudian membuka kertas kecil berwarna pink itu.

“To : Jung Soo Yeon

Soo Yeon-ah, terima kasih atas semua kenangan yang sudah kita lewati bersama. Aku minta maaf jika aku sering membuatmu marah, menangis, dan kecewa. Tapi, terima kasih sudah mau menjadi sahabat baikku, berteman denganku. Dan, mungkin baru kalian berdua yang bisa menjadi sahabat baikku. Thanks. Semoga kamu sukses di sekolah barumu nanti.

Don’t forgot me please!

Love You.

From : Kim Tae Yeon.”

Aku tersenyum simpul. Mana mungkin aku melupakan kalian semua? Kalian adalah teman terbaikku, dasar bodoh. Sesaat perhatianku teralihkan pada kaleng yang berisi 5 kertas gulung juga pernak-pernik kecil di dalamnya. Kubuka perlahan kaleng itu dan kubaca isi surat itu.

“Surat pertama :

To : Jung Soo Yeon

Soo Yeon-ah! Cari sendiri urutan surat ini, lalu baca. Sorry tulisan berantakan. First, thanks sudah banyak berperan untukku. Menyemangatiku, dan memberikan saran yang sangat bermanfaat. Thanks juga sudah berperan banyak untuk X F. Kau sudah mengangkat derajat X F di mata banyak orang.

Surat kedua :

Bagiku, kau sangat penting. Sebenarnya aku tidak pernah menyangka kita bisa sedekat ini. Saling tukar rahasia, dan open-minded. Dan aku tidak pernah membayangkan jika kamu akan pindah sekolah. Jujur saja, aku bingung ingin menulis apa. Oh ya, thanks kenang-kenangannya. Nama panggilan yang absurd, tapi menyenangkan.

Surat Ketiga :

Ayolah, jangan sedih tentang lelaki itu. Jadikan dia sebagai pembelajaran, pengalaman, juga pengingat bahwa kau pernah memiliki suatu hal yang cukup istimewa di SMA Busan ini. Aku berharap, lelaki itu bisa mengingatkanmu pada kami semua.

Surat Keempat :

Mungkin aku memang konyol, stress, atau apalah, tapi percayalah aku lebih romantis dari lelaki itu. Romantis sebagai teman. Jangan salah paham! Sebenarnya aku tidak pernah berharap saat-saat seperti ini datang. Tapi disetiap pertemuan, ada perpisahan, kan? Ya mungkin memang di sini kita harus berpisah. Namun, perpisahan ini bukan berarti kita lost contact, ‘kan?

Surat Kelima :

Jung Soo Yeon, kau tau aku sangat menyukai 2 barang yang kuberikan untukmu? Dream catcher dan gelang lilit. Aku ingin kau memakai gelang itu, dan menggantungkan dream catchermu di depan pintu kamarmu untukku. Aku berharap ketika kau melihat kedua barang itu, kau akan mengingatku. Pakai itu menandakan kita akan selalu dekat.

With Love,

Im Yoona.”

Tak sadar, cairan bening yang berasal dari kedua kelopak mataku mulai mengalir melalui pipiku kemudian jatuh ke kertas surat yang terakhir kubaca. Aku berusaha menyeka air mata yang terus mengalir itu menggunakan punggung tanganku.

Di akhir ceritaku ini, aku masih  berharap sebuah keajaiban datang dan membuatku bisa bersama mereka-mereka sampai lulus dari SMA Busan. Tapi, yah, inilah sesuatu yang disebut takdir. Takdir bukanlah hal yang bisa diubah oleh manusia itu sendiri dengan usahanya. Takdir bukanlah permainan yang bisa ditentukan oleh pemainnya.

Tetapi, takdir adalah ketentuan yang sudah diatur agar para manusia itu mengikuti peraturan-Nya. Kini, aku percaya…

… ini takdirku.

Meninggalkan mereka.

 

~ THE END ~

 

Halo semuanyaa! Aku tau ini fanfic yang lumayan absurd, tapi anggep aja layak dibaca yaa😀 . Aku berharap readers dan siders suka dengan fanfic-ku yang satu ini. Oh iya, jangan lupa kasih kenang-kenangan di kolom komentar oke😉 Dahhh!! :*

6 responses to “[ Ficlet ] Destiny

  1. Zzz aku jadi teinget dream high. Hahaha paa diawal dijelasin kalo dia nda begitu peduli sama orang disekitarnya. Tapi lama kelamaan dia ngerasa kalo temen itu punya banyak peran penting di hidupnya. Dan kalimat penutup di dream high 2, ngejelasin kalo dia masih pengen main sama temen2nya trus dia juga berterimakasih soalnya mereka nggapai cita2 sama2 dan saling menguatkan.

    Gua kok jadi cerita dream high? Hahaha fans beratnya soalnya. /amvun dek/

    Kritik dek, terima ya? Mungkin ini terkesan monoton, sama aja kayak tulisanku (monoton semua) wkwk. Gimana kalo misalnya kamu coba pake sudut pandangnya penulis. Trus masalah alurnya mungkin jangan dipercepat (menurutku ini kecepatan). And then /aseek/, maybe lebih diperjelas rasa galaunya seoyon.

    Sudah jelas sih. Cuma feel galaunya masih belum ngena. Kamu masih bisa perlambat alur sama deskripsi kesakithatiannya lebih ditekankan lagi.

    Jebreet!! Gua ngomong apa ini?
    Maafkeun aku.

  2. Pingback: Destiny 2 – Teaser | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s