[Series] Will You Be My Bride? (5)

WIYBmBL

| Will You Be My Bride? |

| Kim Liah (B2utyinspirited.wordpress.com |

| Chapter |

| Xi Luhan, Park Jiyeon |

| Byun Baekhyun, Kim Nahyun, Yoo Ara, Do Kyungsoo |

| Romance, Friendship, Marriage Life |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) BASED ON NOVIA STEFANI’s CERPEN |

NOTE: Ini FF (Luhan Version) remake dari cerpen yang sudah sering dijadikan FF juga. Jadi harap maklum kalau idenya hampir mirip, tapi untuk keseluruhan cerita akan saya kembangkan sendiri. FF ini sudah pernah saya post di WP pribadi dengan cast lain

.

Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

.

.

Jiyeon mengeliat pelan, ada sebuah tangan tersampir dipinggangnya. Ia amati ruangan yang bukan kamarnya ini lalu berbalik memiringkan wajahnya menatap sahabatnya yang sudah menjadi suaminya ini. Ia tertawa kecil menertawakan kebodohannya dan juga Luhan kemarin. Aneh bukan, kemarin ia menangis dan mencemaskan Luhan yang sudah sebesar ini hanya karna tidak pulang kerumah dalam dua hari.

Apa ini yang dirasakan ibunya dulu ketika ayahnya tidak pulang berhari-hari dan berakhir selingkuh? Tapi Luhan tidak seperti itu, dia pergi dari rumah karna pertengkaran mereka. Bukankah seharusnya yang pergi dari rumah itu wanita? Sungguh lucu sekali sahabatnya ini.

“Yaa apa yang kau lihat?” Jiyeon tertangkap basah oleh Luhan “Apa kau baru sadar kalau sahabatmu ini setampan ini?”

“Cihh, eoh saking tampannya aku sampai muak” JIyeon bangkit berdiri hendak kembali ke kamarnya.

“Gumawo Jiyeonie”

“Mwonde?”

“Karna kau sudah menemaniku tidur”

“Aisshh”

.

Doojoon tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Luhan yang dua hari ini nampak kumel ketika bekerja.

“Jadi kemarin itu kau kabur dari rumah? Kekanak-kanakan sekali kau”

“Pantas saja dua hari yang lalu istrimu kemari, Lulu-ya. Kasihan dia nampak begitu mencemaskanmu” jelas Jin.

Doojoon menepuk pundak Luhan “Yaa sebagai seorang suami kau harus bersikap gentle. Kabur itu mencerminkan kau itu suami yang lemah. Coba kau lihat diluar sana apa ada suami yang kabur dari rumah karna pertengkaran kecil sepertimu?” ia menggeleng “Hanya kau” cibirnya.

“Arrayo, aku hanya gertak sambal saja. Coba kalau kau jadi aku Doojoon-a, Gayoon menolak lapor padamu kalau pulang terlambat, apa kau tak akan kesal? Bukankah istri harus menurut pada suami?” Luhan sadar kalau hubungannya dan Jiyeon masih berat sebelah, ia menginginkan hubungan yang sesungguhnya sementara Jiyeon hanya menganggap ini sebuah percobaan saja.

“Majayo, bagaimana kalau alasan pulang terlambatnya karna bersama pria lain. Aishh, sungguh tak terbayangkan” angguk Jin.

“Haha kau bercanda, Gayoon tak mungkin menghianatiku” Doojoon serasa terjatuh dalam candaannya sendiri “Sudahlah lupakan saja, jangan lupa besok kita melepas penat bersama”

.

Ini bahkan baru jam 5 pagi, tapi kepala Jiyeon masih saja pusing akibat kegiatan rutinnya semalam. Menonton film cengeng, itu adalah kegiatan yang tak pernah Jiyeon tinggalkan semenjak ia berstatus single. Ia akan menghabiskan malam minggu dengan menonton film baru yang bergenre melowdrama sampai pagi, bahkan matanya bukan hanya seperti panda tapi juga sembab akan air matanya.

Statusnya yang berubah tak pelak merubah kebiasaannya juga. Lagipula Luhan sudah hafal betul dengan crying night itu. Luhan tak suka menonton film cengeng, Dia lebih menyukai film berbau pembunuhan, jadi Jiyeon menonton sendirian dikamarnya. Meskipun sebenarnya Luhan menawarinya untuk pergi dengannya berkumpul dengan teman-temannya dan istri mereka.

Air minum dinakas ranjangnya sudah habis, ia terpaksa menunda kegiatan mandinya untuk bergegas ke dapur meneguk sebotol air mineral agar tenggorokannya tak lagi mengering. Sekali lagi ia mengamati lingkaran merah dikalender yang dibuat Luhan kemarin. Dua masalah sudah mereka selesaikan dengan saling mengalah dan memahami satu sama lain. Namun sebenarnya masih banyak masalah yang ia tahan sendiri.

“Jiyeonie” Luhan mengecek isi tas ranselnya yang berisi makanan ikan dan cacing “Aku sudah memasakkan sarapan untukmu” ia menenteng tongkat panjang yang disebut pancing”

Jiyeon mengamati Luhan dengan seksama “Kau mau kemana Lulu-ya?”

Luhan mengangkat pancingnya “Memancing” ia menghampiri Jiyeon dan mengecup kening Jiyeon “Georeum na kanda” pamitnya.

Sebagai sahabat ia tak pernah tahu jika Luhan memiliki hobby lain selain bermain sepak bola. Jadi setiap minggu sahabatnya itu bukan hanya menghabiskan waktu seharian diluar karna sepak bola tapi juga ditambah kegiatan memancing ini?

Membosankan sekali berada dirumah sendiri, ia kira ia akan seperti yang Ara ceritakan bahwa setiap akhir pekan Ara dan suaminya pergi bersama bersenang-senang berdua.

.

“Jiyeonie, kita akan pesta ikan” ini sudah jam makan siang dan Luhan tepat sekali membawa ikan segar hasil tangkapannya kerumah.

Jiyeon hanya tersenyum tipis “Kurokuna” lirihnya.

“Chakkaman aku akan memasakanmu olahan ikan yang lezat”

Sekali lagi Jiyeon tampak acuh dan asik menatap layar tipis didepannya, acara Tv itu lebih menarik. Ia juga tak ada niat membantu Luhan memasak, toh ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Luhan tak menyadari sikap acuh Jiyeon yang menandakan bahwa Jiyeon tengah sedikit kesal padanya. Ia benar-benar antusias memasak ikan tangkapannya menjadi Soondubu Jiggae sebuah sup ikan serta ikan panggang.

“Tadaa, kajja Jiyeonie. Makanannya sudah siap”

Jiyeon beranjak menuju meja makan menuang supnya dan menyendoknya lalu menyumpit ikan panggang itu tanpa berkata sepatah katapun pada Luhan.

“Otthe? Ikannya besar-besar, dagingnya banyak pula”

“Massita”

“Manhi mogo” Luhan menyumpit daging ikannya dan menaruhnya dimangkuk Jiyeon “Keundae Jiyeonie, apa kau mau ikut denganku ke lapangan bola? Gwaenchana, kau tak akan sendirian disana juga ada istri dari teman-temanku” lanjutnya.

“Aku ada acara dengan Ara, kau pergi sendiri saja”dusta Jiyeon

“Guerae”

.

10 menit yang lalu Luhan sudah pergi lengkap dengan seragam futsalnya. Jiyeon sekali lagi dirumah sendirian, aneh sekali kenapa ia merasa sendirian itu menyebalkan sekali. Padahal dulu ia lebih suka sendiri dirumah.

“Kajja Kyungsoo-ya, kau harus menang dipertandingan futsal kali ini” suara Nahyun terdengar sampai diberanda rumah Jiyeon lengkap dengan deruan motor yang dikendarai Kyungsoo.

“Chota, aku pasti memang jika ada kau Nahyun-a” angguk Kyungsoo seraya mengemudikan motor sportnya.

“Cihh, dasar anak muda” cibir Jiyeon, ia tak mungkin seperti Nahyun. Ia anti dengan lapangan sepak bola yang menurutnya sangat panas itu.

**

Hari ini tepat satu bulan usia pernikahan Luhan dan Jiyeon. Berbagai permasalahan baru memang mulai muncul lagi, namun mereka sama-sama berpikir jernih dengan saling mengalah satu sama lain. Simulasi mereka juga masih terjaga kerahasiaannya didepan keluarga mereka.

Sesekali Taehee menanyakan kabar melalui sambungan telpon. Untung saja Taehee tidak mengunjunginya atau bahkan menginap dirumahnya. Kalau iya sudah pasti ia dan Luhan harus berpura-pura menjadi pasangan suami istri sesungguhnya.

Mungkin Jiyeon bisa bersabar dengan berbagai kebiasaan Luhan yang berlawanan dengannya. Sahabatnya itu ternyata tak serapi kelihatannya, dia sering membiarkan koran berserakan di meja. Dia juga sering bercengkrama meladeni anak tetangga yang sampai sekarang masih menganggap Jiyeon sebagai teman serumah Luhan. Tapi ada satu hal yang paling membuat Jiyeon dongkol satu bulan ini.

Ia sungguh tak tahan lagi dengan kebiasaan Luhan setiap minggu pagi yang selalu berangkat sebelum pukul enam untuk memancing dengan teman-temannya, kemudian sore harinya sekitar pukul setengah empat, ia pergi bermain sepak bola. Ini sungguh berlawanan sekali dengan Jiyeon, ia ia tak suka hal-hal yang berbau keramaian dan membosankan seperti itu. Ia sungguh tak paham dengan kebiasaan Luhan yang akan dengan cepatnya membuatnya merasa jemu.

Ia lebih suka menghabiskan waktu luang dengan pergi dari satu galeri ke galeri lain, dari satu pameran lukisan ke yang lain, dari mal ke mal, dan berakhir dengan acara makan-makan. Menurutnya menonton 11 pria memperebutkan bola bundar itu sungguh membosankan, untuk apa benda kecil seperti itu ditendang kemana-mana.

Sebenarnya Jiyeon tak tega jika harus protes dan mengeluhkan kekesalannya karna Luhan selalu pulang dengan mata berbinar sehabis melakukan kegiatan rutinnya tiap hari minggu dan kini kesabarannya tandas.

“Temani aku jalan-jalan ke mal sore ini,” pintanya seraya mencuci piring.

“Kau kan bisa pergi sendiri,” balas Luhan sambil memasukkan kaus bersih dan handuk kecil ke dalam tasnya, seperti biasa ia akan memancing pagi ini

Jiyeon mengeringkan tangannya ke arpon “Seingatku kau akan menggandeng tanganku kemanapun kumau”

“Mianhae Jiyeonie, aku sudah janjian dengan temanku” Luhan menalikan sepatu bolanya yang berwarna hitam itu “Kami akan mencoba tempat memancing baru”

“Bukankah kalau sore hari kau bermain bola?”

“Anniya, kali ini jadwalnya berubah. Aku akan memancing nanti sore, semalam tak ada bulan jadi ikan akan tetap rakus sore ini, Jiyeonie”

“Kalau begitu lupakan bola bundar itu dan memancing pagi ini”

“Kami juga ada pertandingan bola dengan lawan kami pagi ini. Aku tak mungkin menghilang disaat teman-temanku berjuang menjadi pemenang” Luhan mengecup kening Jiyeon, ia sudah siap untuk berangkat bermain bola “Yaksoke, aku akan membawakanmu banyak ikan segar untuk makan malam kita nanti” lanjutnya.

Sungguh Jiyeon terlalu menahan amarahnya kali ini hanya untuk memperdebatkan hal yang tak berujung dengan keegoisan mereka berdua.

“Voucher diskon salonku akan kadaluarsa minggu ini” ia punya suami, ia juga ingin seperti ibu rumah tangga lainnya yang ditunggui oleh suami mereka ketika disalon.

“Pakai voucher dariku saja” Luhan mulai pemanasan ringan dengan lari di tempat “Berapa diskon yang kau dapat dengan voucher itu? Lima puluh ribu won, cukup bukan?”

Jiyeon tertawa mencibir “Itu hanya cukup untuk membeli chocohino latte disana”

“Aku bisa cukur rambut, dipijit  dan minum kopi dengan lima puluh ribu won disalon langgananku”

“Lulu-ya geumanhe” Jiyeon semakin meledak amarah melihat Luhan tak berhenti lari ditempat.

“Jiyeonie, kau sudah cantik. Untuk apa ke salon segala”

“Gumapta Lulu-ya, aku sudah cukup yakin dengan kecantikanku. Yang aku butuh cuma keluar dari rutinitas harianku, dan aku memilih melakukannya dengan jalan-jalan”

“Jadi? Apalagi yang kau tunggu? Cha! Aku tidak melarangmu. Kalau kau
bawakan aku oleh-oleh, aku akan lebih tidak keberatan”

“Ini bukan masalah kau melarangku atau tidak. Apa enaknya jalan-jalan sendirian? Aku perlu teman, Lulu-ya” jelas Jiyeon sembari mengurut keningnya.

“Kalau begitu ajak saja teman-temanmu” Luhan mengecek jam dinding disampingnya, masih 30 menit lagi sebelum pertandingannya dimulai.

“Mereka ada acara dengan suami mereka sendiri” sulit sekali Jiyeon mengalami apa yang teman-teman perempuannya lakukan bersama suami mereka.

“Kenapa kau tidak bilang dari tadi, jadi kau ingin melewatkan hari ini denganku? Kalau begitu kajja, ikutlah denganku ke pertandingan bolaku. Aku akan sangat senang kalau kau menyemangatiku seperti Gayoon menyemangati Doojoon” jawab Luhan seraya menarik lengan Jiyeon namun tertepis oleh Jiyeon.

“Michesseo, kau ini pabbo atau tuli hah? Kau tahu bukan kalau aku benci lapangan sepak bola apalagi memancing” gertak Jiyeon, ia sungguh sudah tak tahan lagi berdebat.

“Dan kau tahu bukan kalau aku alergi dengan mall”

“Tak bisakah kau mengalah kali ini?” Jiyeon hampir saja lupa jika Luhan anti dengan keramaian mall.

“Mengalah?” suara Luhan terdengar meninggi “Apa aku kurang mengalah, Jiyeonie? Aku sudah meluangkan waktuku 6 x 24 jam hanya untukmu, apa kau tak bisa memberiku sehar…”

“6 x 24 jam? Kau bercanda? 6 x 2, kita hanya benar-benar bertemu dan berbicara satu jam saat sarapan dan satu jam waktu makan malam!”  cibir Jiyeon.

“Kita bisa mengobrol dan melewatkan waktu lebih banyak denganku kalau kau mau! Keundae, neo anniya,  kau lebih memilih mengurung diri di kamar dengan Pavarotti dan Flamingo.…” sanggah Luhan, sehabis pulang kerja Jiyeon langsung memasuki kamarnya dan hanya keluar kamar untuk makan malam bersama saja

“Placido Domingo!” Jiyeon menekankan kalimat yang salah diucapkan oleh Luhan tersebut “Mianhae Lulu-ya, waktuku terlalu berharga  hanya untuk digunakan menyaksikan orang-orang saling membunuh tiap dua menit atau dua puluh dua orang memperebutkan satu bola kulit!”

“Setidaknya itu lebih jujur dan bisa dimengerti daripada film-film mengharu birumu itu”

“Kau kekanak-kanakan” Jiyeon memukul dada Luhan.

Luhan menahan tangan Jiyeon “Dan kau gongjonim, kau terlalu egois” cibirnya lalu melangkah lebar-lebar keluar rumah tanpa menghiraukan Jiyeon yang membanting pintu kamarnya.

Jiyeon melemparkan tubuhnya ke ranjangnya, ia menangis sesenggukan. Dadanya sesak dan kepalanya sakit. Ia benci menjadi cengeng, tapi air mata kecewanya mulai membuat matanya pedih. Ia sama sekali tidak mengira sesuatu seperti ini terjadi padanya. Seperti inikah perasaan para istri setelah bertengkar dengan suaminya?

Sekali lagi ia berpikir positif mengenai kebaikan Luhan yang sudah mempertaruhkan statusnya hanya untuk menikah simulasi dengannya. Tapi selama ini ia tidak pernah menuntut apa pun darinya. Sebaliknya, ia telah berkorban banyak sekali sejak ia menikah simulasi dengannya, ia sudah mengurangi jadwal clubbing-nya, ia juga pulang dari kantor sesegera mungkin dan ia juga memperhitungkan apa Luhan akan menyukai menu makanan yang ia beli. Sedangkan Luhan, apa yang sudah Luhan lakukan untuknya selain mempertaruhkan statusnya untuk menjadi suaminya?

Jiyeon bangkit berdiri mengusap air matanya dan menuju dapur untuk mengambil eskrim strawberry kesukaanya sebagai temannya menonton film melankolis dikamarnya. Seperti dugaannya Luhan tak mungkin kembali dan membatalkan acaranya hanya karna ia marah padanya.

.

Sebuah ketukan terdengar dipintu kamar Jiyeon tepat jam 11 siang. Luhan bahkan sudah mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna putih tulang. Karna tak ada sahutan ia menyelonong masuk membuka pintu kamar Jiyeon.

“Kalau kau mau pergi ke mall, kusarankan kau pergi mandi dan dandan sedikit” ujarnya didepan pintu Jiyeon.

Masih memunggungi Luhan, Jiyeon hanya fokus menyaksikan film di Tv besarnya. “Shirreo” tolaknya.

“Kau bilang tadi pagi kau…”

“Aku tak mau merepotkanmu dan membuatmu gatal-gatal karna alergimu”

“Jiyeonie, kalau kita tidak pergi sekarang, kita bisa pulang terlalu sore. Aku ada janji jam empat….”

“Aku bilang aku tidak mau pergi ke mall” nada suara Jiyeon meninggi.

“Jangan seperti anak kecil, Jiyeonie. Kajja” Luhan menarik Jiyeon agar bangkit berdiri dari duduknya.

“Shirreo, geunyang cha. Silahkan kalau kau mau pergi dari rumah seperti dulu” Jiyeon berbaring diranjangnya dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

Wajah Luhan benar-benar merah penuh amarah “Jiyeonie, jangan main-main denganku! Aku tidak mau kau menolak pergi jalan-jalan lalu menghukumku dengan
cemberut sepanjang hari seperti ini” ia menyikap selimut Jiyeon “Mandi sekarang dan kita pergi setengah jam lagi” titahnya.

“Nan shirreo, aku bukan budakmu dan aku TAK MAU PERGI” sungut Jiyeon seraya kembali berselimutan.

“Guerae, terserah. Kalau kau mau duduk di sini seharian, makan es krim dan cokelat sambil mengasihani diri sendiri dan melar dan melar dan melar dan melar….”

“Yaaaaaa” Jiyeon melempar air mineral dinakas ranjangnya “Geunyang cha
bentaknya yang sukses membuat pria tampan itu berjalan keluar kamar.

“Aishh nappeun yeoja” Luhan menendang pintu kamar Jiyeon dengan kesal.

Jiyeon semakin menutup telinganya dengan bantal dan kembali menangis hingga tenggorokannya terasa sakit serta kepalanya berat hingga tertidur kelelahan. Ia sungguh tak menyangka kalau Luhan bisa menjadi sosok semenyeramkan ini.

.

Jam dinding dikamar Jiyeon menunjukkan pukul lima sore, Luhan pasti sudah berangkat memancing dan belum pulang. Jiyeon  memijat kepalanya yang berat lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia sungguh semakin marah pada Luhan karna Luhan dengan teganya pergi memancing sementara ia masih menangis tersedu dikamarnya.

Begitu ia selesai mengenakan gaun pink tak berkerah sepanjang lututnya, ia bergegas memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper. Tak ada pilihan lain kecuali meninggalkan rumah ini dan kembali ke rumah ibunya.

Ia mengendap-endap keluar kamarnya seraya membopong kopernya hingga keruang tamu tepat ketika Luhan bersiul senang meletakkan enam buah ikan tuna besar hasil tangakapannya ke meja dapur.

Siulan Luhan terhenti ketika matanya menangkap kotak bernama koper itu “Apa-apaan ini Jiyeonie?”

“Aku akan pulang ke rumah eomma” bahkan Jiyeon tak menyadari kaos hitam Luhan yang setengah basah.

“Semudah ini kau menyerah?”

“Ini di luar dugaanku” Jiyeon masih menyeret kopernya hingga ke depan pintu.

“Mworago?”

“Aku tidak mengira aku menikahi monster” Jiyeon mengenakan heelsnya.

Luhan menunduk “Aku…Aku membawa pizza kesukaanmu” lanjutnya.
“Aku sudah terlalu gemuk” Jiyeon selesai menalikan tali heelsnya.

Luhan menggeleng dengan ekspresi bersalah “Anniya. Kau cantik”

“Aku tidak butuh pendapatmu. Kau bukan suamiku, ingat? Penilaianmu tidak
punya arti apa-apa” Jiyeon membuka pintu dan mendapati langit menumpahkan hujan deras.

“Aku sudah mencoba jadi suami yang baik” Luhan berjalan mendekati pintu rumah.
“Kau gagal”

“Setidaknya aku mencoba. Kau … kau tidak melakukan apapun supaya pernikahan kita berhasil….”

“Simulasi”

Luhan menghela napas panjang dan mengangguk singkat. “Simulasi”

“Dan kau salah besar. Aku sudah melakukan terlalu banyak. Sudah belajar terlalu banyak” Jiyeon masih ragu apakah ia akan melawan hujan ini? “Aku juga sudah mengambil keputusan. Aku tidak akan menikah. Aku tidak suka menikah. APALAGI DENGANMU!” pandangannya sedikit kabur.

“Setidaknya tunggulah sampai hujan reda” Luhan bersender didahan pintu.

“Terlalu lama” Jiyeon sudah mantap ia akan menerjang hujan dan berlari mengendarai obilnya yang terparkir dipinggir jalan depan rumah “Aku tidak bisa tinggal denganmu selama itu” ledeknya seraya berlari menyeret kopernya dan menyalakan mesin mobilnya.

Sialnya  genangan air hujan menyendat laju mobil Jiyeon. Ia keluar dari mobil dan menendang pintunya. Air matanya larut dalam siraman hujan.

Beruntungnya Luhan menghampirinya merebut kopernya “Kajja, kembali kerumah” ajaknya.

Jiyeon menggeleng tanpa berani menatap wajah Luhan. Karna penolakannya Luhan mengangkat tubuh ringkih Jiyeon dan menggendongnya tanpa menghiraukan perlawanan Jiyeon dan koper tak bersalah itu yang berakhir tersiram air hujan dipinggir jalan. Ia membopong Jiyeon sampai ke rumah, tak memberinya kesempatan untuk melarikan diri. Setiba di dalam, ia mengunci pintu rumah dan menyimpan kuncinya di saku.

“Ganti bajumu” titahnya.

“Semua bajuku di dalam koper”

“Pakai bajuku”

“Tidak akan pernah!”

Luhan mencengkeram pergelangan tangan Jiyeon dan menatapnya lurus dengan mata berkobar. “Ini bukan waktunya melawanku, Jiyeonie. Kau bisa sakit!”

“Monster” desis Jiyeon, tiba-tiba kepalanya semakin pening dan ia berakhir ambruk dipelukan Luhan.

Luhan tak menyangka keegoisannya menyebabkan Jiyeon sakit seperti ini. Seharusnya ia mengalah, karna Jiyeon memang lebih keras kepala kalau ditentang. Semalaman ia terjaga merawat Jiyeon, ia mengganti kompres dikening Jiyeon setiap satu jam dan berkali-kali memeriksa termometer ditubuh Jiyeon. Ia juga kembali dibuat jengkel ketika Jiyeon terbangun dan menolak meminum sebutir obat penurun panas. Ia juga membersihkan ceceran muntah Jiyeon dilantai.

**

Jendela kamar Jiyeon terbuka dan cahaya matahari hangat menerobos masuk membawa aroma lavender dari rumpun ditaman, NYala api dalam kepala dan dadanya sudah mulai padama. Ia masih ingat betul kejadian semalam ketika Luhan merawatnya. Bahkan ketika ia gelisah dan menggigau ia bisa merasakan kehangatan tangan Luhan dibalik suhu dingin tubuhnya. Namun orang pertama yang ia lihat bukanlah Luhan.

“Eomma?” Taehee menurunkan majalah fashion yang tengah ia baca. “Luhan oediesso?” lirih Jiyeon, pertanyaan yang bodoh, kenapa pertanyaan pertamanya ketika terbangun harus tentang Luhan?

“Masih di kantor. Sebentar lagi juga pulang” Taehee mengecek suhu ditermometer yang menempel diketiak Jiyeon “Panasnya sudah turun Jiyeon-a” ujarnya.

“Eomma, sudah berapa lama kau disini?”

“Dari pagi. Kau tidak ingat eomma datang pagi tadi?” Jiyeon menggeleng, dadanya kembali sesak begitu mengetahui bahwa Luhan lebih mementingkan pekerjaan kantornya daripada dirinya. Ia berbalik memunggungi Taehee dan air matanya kembali luruh.

.

Sore itu ketika Luhan pulang, Jiyeon berpura-pura tidur. Ia sama sekali belum siap untuk bicara lagi dengan Luhan.

“Eommonim, bagaimana keadaan Jiyeon?” tanya Luhan seraya menempelkan punggung tangannya  menyentuh kening Jiyeon hingga sebuah ketenangan menggelayuti dada Jiyeon.

Kalaupun Jiyeon sanggup menepiskan tangan Luhan dengan tenaganya yang nyaris nihil, ia tak akan mau melakukannya.

“Tadi bangun sebentar , menanyakan kamu. Lalu tidur lagi. Tapi panasnya sudah turun dan tadi siang sudah mau minum susu”

Tangan Luhan berpindah ke bahu Jiyeon dan mulai memijat dengan lembut hingga Jiyeon berharap agar pijatan itu tak segera berakhir. Tapi Luhan malah bangkit dan merapikan selimut Jiyeon sambil terus bicara dengan Taehee.

“Kalau Eommonim capek, anda bisa ambil cuti besok”

Taehee bekerja disebuah event organizer sebagai perancang acara.

“Kau sendiri bagaimana? Kau tidak tidur entah berapa malam dan kau mengerjakan semuanya sendiri. Mencuci, membersihkan rumah, mengurus Jiyeon. Apa kau tidak lelah?”

“Saya pakai baterai anti lelaha, eommonim” tawa Luhan.

“Kau harus istirahat juga Luhan. Kalau kau sakit, eomma tidak yakin Jiyeon bisa mengurusmu sesabar kau merawatnya”

“Geumanhe eomma, dia hanya suami simulasiku, simulasi” batin Jiyeon.

“Sudah tanggung jawab saya, eommonim” jawaban Luhan kali ini kembali ditertawakan dalam hati oleh Jiyeon.

“Apa kau betul-betul tidak butuh bantuan eomma?”

“Gumapta eommonim. Kalau ada apa-apa, pasti saya telepon kerumah”

“Geuraeyo, kau tinggal menyuapinya nanti malam, jangan lupa obatnya. Kalau ia mau, eomma sudah masak bubur di dapur. Kalau tidak, beri saja apa yang dia mau” Taehee menepuk pundak Luhan “…dan jangan tidak tidur lagi nanti malam. Jiyeon sudah baikan” lanjutnya seraya berjalan keluar kamar Jiyeon dan kembali pulang kerumahnya. Setidaknya ia bersyukur Jiyeon mendapat suami sebaik Luhan, hingga ia tak perlu lagi khawatir.

“Ne eommonim” Luhan menunduk memberi hormat ia hendak mengantar Taehee keluar rumah tapi Taehee menolaknya.

.

Selepas kepergian Taehee, Jiyeon bersumpah akan membalaskan kekesalannya pada Luhan. Ia ingin menghukum Luhan karna perkataannya yang menyakitkan hatinya.

Malam itu ia memberontak ketika Luhan hendak menyuapinya, namun Luhan bersikap tenang dan membersihkan bubur yang tertumpah dilantai. Ia juga menolak meminum obatnya. Ia meminta berbagai permintaan aneh seperti membuka jendelan kamarnya karna kepanasan lalu sejenak kemudian memintanya menutupnya kembali karna kedinginan.

Ia juga memintanya memasakkan mie ramen namun ia sama sekali tak memakannya. Ia meminta Luhan mengupas apel hingga apel itu kecoklatan karna teranggurkan tanpa ia makan. Ia hanya memakan secuil dari omelet yang sudah susah payah Luhan masakkan.

Ia juga mengeluhkan pijatan Luhan dikaki dan tangannya yang menurutnya terlalu keras, terlalu lembek, terlalu kasar dan tidak terasa. Ketika Luhan mulai terkantuk-kantuk di kursinya, Jiyeon membangunkannya untuk menyalakan televisi agar ia bisa menyuruhnya mengganti saluran tiap kali Luhan mulai mengangguk terlelap.

Semuanya itu akan membuat Jiyeon puas jika saja Luhan menolaknya dan kembali kesal padanya bahkan marah dan memakinya seperti kemarin. Sayangnya, Luhan malah bersikap tenang dan meladeni segala ulah buruknya. Ia sama sekali tidak mengeluh ataupun tidak membantah.

Semakin lama Jiyeon semakin menyadari kelembutan dalam suara Luhan yang hanya bisa terbentuk dari kekhawatiran dan kelelahan di matanya. Ia merasa bersalah, ia sadar kalau Luhan juga tengah menyalahkan dirinya sendiri, menghukum dirinya sendiri, mungkin lebih berat dari yang Jiyeon lakukan padanya. Lamban laun kebencian Jiyeon justru musnah dan berganti kasihan, sesuatu yang sama sekali tak ia harapkan, tapi tak bisa ia elakkan.

**

Menjelang fajar, saat mengawasinya tertidur meringkuk di kursi, Jiyeon mengingat lagi pertengkaran yang menerbitkan kebencian itu. Ia mengulang lagi setiap kalimat yang ia ucapkan dan tiba-tiba ia merasa malu. Kenapa semuanya harus terjadi hanya karena sesuatu seremeh itu?

Selama bertahun-tahun persahabatannya dengan Luhan, hobi dan kegemarannya tak pernah membuatnya merasa terganggu. Masih banyak hal lain yang menyenangkan darinya. Kenapa ia sampai bisa melupakan itu dan membiarkan kemarahan sesaat membutakannya?

Ia tahu permintaannya wajar, ia berhak meminta Luhan menemaninya ke mana pun. Menurutnya Luhan juga sama bersalahnya dengannya karena mengobarkan pertengkaran konyol itu. Hanya saja Luhan lebih berbesar hati untuk menyingkirkan pertengkaran itu sementara Jiyeon justru memupuk dendam dan benci padanya. Jadi siapa sebenarnya pemenang dalam kontes kedewasaan ini?

Jiyeon terbangun dari tidurnya dan Luhan menyambutnya dengan baki sarapan pagi dan senyum lebar. Luhan membantunya ke kamar mandi dan Jiyeon tidak memprotes ketika Luhan memintanya untuk tidak mengunci pintu. Didalam kamar mandi Luhan sudah menyiapkan sebuah kursi didekat wastafel agar Jiyeon tak perlu berdiri untuk menggosok gigi. Bahkan di rak Luhan telah menyediakan pakaian bersih untuknya dan meletakkan bedak serta sisirnya, hingga saat ia keluar dari kamar mandi, ia merasa jauh lebih segar dan hidup.

Ketika Jiyeon keluar kamar mandi, ia  melihat spreinya telah diganti, mejanya telah rapi kembali dan bunga di dalam vas di dekat tempat tidurnya telah diganti dengan yang baru. Bahkan Jiyeon hampir menangis terharu begitu melihat Luhan duduk di pinggir ranjangnya, menambahkan gula pada susu strawberry-nya dan mengupaskan telur sarapan pagi untuknya,

“Kau tidak ke kantor?” Jiyeon kembali berbaring diranjangnya dan Luhan membantunya.

“Ini hari minggu, Jiyeonie”

“Aku sudah sakit selama seminggu?” Jiyeon sungguh tak percaya dengan kenyataan ini. Bukankah ini artinya ia sudah seminggu menyiksa Luhan?

“Eoh” Luhan tersenyum lebar “Tapi aku senang kau sudah sembuh sekarang. Aku tidak bisa tenang di kantor memikirkanmu”

“Bukankah eomma sudah menjagaku disini”

“Ne, mianhae. Aku terpaksa memintanya datang. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaanku seminggu ini”

Jiyeon menunduk, tak menyangka Luhan setulus ini padanya. Ia melirik jam di atas nakas yang menunjukkan jam 7.30.

“Apa kau tidak memancing?”

Luhan menggeleng sambil mengolesi sepotong roti lagi dengan selai strawberry. “Aku harus memberi kesempatan ikan-ikan itu berkembang biak, Jiyeonie. Kalau kutangkapi terus, mereka bisa punah” ujarnya.

Jiyeon tersenyum tipis “Bagaimana dengan sepak bola?”

Luhan memberikan roti tawar itu pada Jiyeon “Aku mau memberi kesempatan pada Chen. Sudah dua bulan dia cuma duduk di bangku cadangan” Jiyeon kembali tersenyum senang dengan peringai Luhan yang mau menomor satukannya “Dia kurang berani menyerang dan tidak segesit aku. Tapi siapa tahu jika dia lebih jago membobol bola daripada aku”

“Kau kau bermain bola lagi tolong sampaikan terima kasihku pada Chen” Jiyeon menggigit rotinya.

“Waeyo?”

“Karena meminjamkanmu untuk hari ini”

Senyum Luhan serta merta surut. Diulurkannya tangannya dan disentuhnya lengan Jiyeon. “Lain kali kalau kau ingin kuantar ke manapun, bisakah kau bilang minimal sehari sebelumnya? Bukannya aku tidak mau, tapi kalau aku sudah berjanji dengan teman-temanku, aku tidak bisa begitu saja membatalkannya kan?” Jiyeon mengangguk paham, memang kemarin ia yang salah “Aku juga janji tidak akan sering nonton film action lagi, kita memang perlu sering mengobrol banyak” seketika air mata haru menetes dipipi Jiyeon “Uljima Jiyeonie, nanti susu strawbery-mu asin” ucapnya seraya mengusap air mata diwajah Jiyeon dan memeluknya erat.

.

.

TBC

Be Sociable, Like and comment please!
Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

11 responses to “[Series] Will You Be My Bride? (5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s