[FICLET] Problematic Weight

B2utyInspirit presents

.

 photo PW_zps4jhunfrj.jpg

| Problematic Weight |

| Kim Liah |

| Ficlet |

| Kim Myungsoo, Park Jiyeon |

| Romance, Life |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism! Be careful of typo(s) |

.

.

“Jiyeon-a, waeirae?” Soojung menghampiri Jiyeon ke kamar mandi sebuah cafe, aneh sekali sahabatnya itu, dia tiba-tiba membungkam mulutnya dan berlari tak jelas ke kamar mandi “Gwaenchana?” ia mengelus punggung Jiyeon begitu melihat Jiyeon masih berkutat dengan ledakan hebat diperutnya.

Gemericik air mengguyur hasil ledakan perut Jiyeon diwastafel. Jiyeon sendiri merasa aneh dengan kondisinya saat ini, tadi ia tiba-tiba merasa mual begitu mencium bau sup asparagus dan tubuhnya terasa lemas sekali saat ini. Sakit, itulah yang ia pikirkan saat ini.

“Jiyeon-a?” panggil Soojung, sungguh wajah Jiyeon nampak merah pucat saat ini.

“Eoh, Soojung-a”

“Apa tadi pagi kau salah memakan sesuatu?” kondisi Jiyeon saat ini teramat mirip dengan pengalamannya dulu ketika mengandung Minsoo “Kapan kau terakhir datang bulan?”

“Yaa apa hubungannya sakitku ini dengan datang bulan?” Jiyeon membasuh wajah merahnya.

“Tentu saja ada hubungannya, igeo..” Soojung menunjuk perut Jiyeon.

“Mwonde?”

“Perut” jawab Soojung.

Jiyeon menunduk melirik perutnya yang tak bermasalah kecuali rasa mual itu. “Kenapa dengan perutku?”

“Mual, terlambat datang bulan dan… hamil, Jiyeon-a”

“Mwo? Hamil?” mata Jiyeon membulat sempurna, ntah kenapa aneh saja mendengar kata hamil ditelinganya.

“Majayo, mungkin kau lupa bahwa dalam hubungan pernikahan akan segera hadir buah cinta kalian” pernikahan Jiyeon sudah berlangsung enam bulan dan ia masih hidup berdua dengan Myungsoo seorang “Inilah hasilnya, bayi… kau akan segera memiliki bayi” jelas Soojung seraya memeluk Jiyeon.

“Aku hamil?”

“Eoh, kemungkinannya iya, bagaimana kalau kita ke dokter saja?” tawar Soojung seraya menuntun Jiyeon tanpa ijin keluar kamar mandi dan segera memasuki mobil mereka untuk menuju ke rumah sakit.

.

Jiyeon tak henti-hentinya melirik Myungsoo yang tengah duduk disampingnya seraya mengamati acara show di TV. Tebakan Soojung tadi siang memang benar adanya, ia tengah mengandung 1 bulan, dan ia tak akan pernah menyadarinya jika bukan karna kejelian Soojung. Tentu saja ia bahagia dengan berita yang teramat menggembirakan ini, saking gembiranya ia sampai bingung harus berbuat apa untuk memberitahu kondisinya sekarang pada Myungsoo.

“Jincha wanita itu berlemak sekali, kasihan suaminya harus menggendongnya”

Seketika lamunan Jiyeon pudar dengan kalimat yang menohoknya. Berlemak? Bukankah kalau usia kandungannya semakin bertambah, maka perutnya akan membuncit dan lemak-lemak akan membungkus tubuh langsingnya?

“Kenapa kasihan?”

“Tentu karna akan sangat berat kalau menggendongnya, Jiyeonie”

“Tapi bukankah mereka saling mencintai? Berat badannya bukan masalah bagi suaminya, Myungie-ya”

Myungsoo menatap Jiyeon tajam “Arra, mereka saling mencintai. Tapi cinta bisa pudar begitu saja”

“Jadi rasa cintamu padaku juga akan segera pudar seiring berjalannya waktu, Myungie-ya?” Jiyeon tak menyangka Myungsoo mengucapkan kalimat menyesakkan itu.

“Anniya, bukan begitu” Myungsoo merengkuh bahu Jiyeon agar menghadapnya “Hanya saja, penampilan itu penting Jiyeonie. Banyak suami yang berpaling dari istrinya karna kondisi tubuhnya yang berubah gemuk dan jelek”

“Jadi kalau aku berubah gemuk kau juga akan meninggalkanku? Yaa bahkan sudah ada kerut diwajahku beberapa tahun lagi” ketus Jiyeon.

“Anni, anni, aku tak akan pernah meninggalkanmu Jiyeonie, yaksokae”

“Molla, aku mengantuk” Jiyeon bangkit berdiri dan menuju kamarnya, ia bahkan belum sempat mengutarakan surprise itu.

***

“Yaa kenapa kau tak meminta Myungsoo saja menemanimu kemari?” Bisa-bisanya Jiyeon menyeret Soojung menemaninya ke dokter kandungan seperti ini.

“Aku tak mau pergi dengannya”

“Waeyo? Apa dia mengaku sok sibuk? Jincha, suamimu sungguh tak bertanggung jawab sekali”

Jiyeon mengelus perutnya yang sudah mulai menonjol, usia kandungannya sudah hampir menginjak 4 bulan dan ia sama sekali belum memberitahu Myungsoo kalau ia mengandung buah cinta mereka. Matanya mengamati ke sekeliling ruang tunggu apotik dokter kandungan ini, dimana-mana ibu hamil didampingi oleh suaminya yang berwajah sumringah.

“Soojung-a”

“Eum, wae?”

“Aku juga ingin seperti mereka, memiliki suami siaga”

“Yaa aishh jincha” Soojung mendial iphone-nya “Akan kupanggil suamimu itu kemari”

“Andwae” Jiyeon merebut ponsel Soojung.

“Yaa kau ini kenapa? Bukankah kau ingin Myungsoo disini? Akan kumarahi dia agar mau kemari”

“Aku tak ingin dia kemari” geleng Jiyeon.

“Bukankah kau bilang ingin ditemani Myungsoo?”

Sekali lagi Jiyeon menggeleng “Dia akan menertawaiku” bahkan akhir-akhir ini ia mendapat kritikan dari Myungsoo mengenai perutnya yang membuncit “Ia akan meninggalkanku jika mengetahui kondisiku”

“Mworago? Kau bercanda Jiyeon-a? Yaa Kim Myungsoo awas kau!” terdapat amarah dikilatan mata Soojung “Chakkaman, tadi kau bilang kondisimu? Jangan bilang dia belum tahu kalau kau tengah mengandung?” selidik Soojung.

JIyeon mengangguk lemah “Eoh, dia sama sekali tak tahu dan tak akan pernah tahu jika saja perutku nanti tak semakin membesar” ia menghela nafas seraya mengelus perutnya “Aku akan semakin jelek dan akan membesarkannya sendiri”

Soojung berpikir bahwa Jiyeon hanya sekedar takut dengan perubahan bentuk tubuhnya ketika mengandung. “Yaaa geumanhe. Buang pemikiran jelekmu itu. Mana mungkin Myungsoo meninggalkanmu hanya karna kau mengandung”

“Anniya Soojung-a” tatapan mata Jiyeon nampak teramat sendu “Ini bukan hanya sekedar pemikiranku. Tapi pendapat pria menyebalkan itu” ia tertawa miris “Aku benar-benar menikahi pria yang salah. Ia hanya menyukaiku karna penampilanku, ia akan meninggalkanku jika aku semakin gemuk karna kandungan ini” jelasnya seraya mengelus perutnya.

“Wah jincha” Soojung mengepalkan telapak tangannya, ingin sekali ia hampiri Myungsoo dan melayangkan tinjuan diwajah tampan suami sahabatnya ini “Kajja kita beri dia pelajaran, Jiyeon-a” ajanya seraya menarik Jiyeon berdiri.

“Aku bahkan sempat berpikir untuk menggugurkan janin ini” lirih Jiyeon.

“Yaaa” Soojung memukul punggung Jiyeon, bagaimana sahabatnya ini bisa berpikiran sepicik ini “Kau ini bodoh apa tolol Jiyeon-a? Kau mau menjadi pembunuh darah dagingmu sendiri hanya karna suami tak berperasaan seperti Myungsoo?” ia merengkuh punggung tangan Jiyeon “Kau akan menyesalinya Jiyeon-a, bahkan seumur hidupmu kelak”

“Lalu apa yang harus kulakukan Soojung-a? Pasrah begitu saja ditinggalkan oleh Myungsoo?”

Soojung mengangguk “Eoh, jika memang kau memilih bertahan dengannya, memangnya kau yakin dia tak akan meninggalkanmu kelak jika kau semakin bertambah tua?” kali ini ia berhasil menarik Jiyeon bangkit berdiri “Sudahlah, kau katakan saja sebenarnya padanya. Jika ia benar-benar berniat meninggalkanmu, maka bertahanlah demi darah daging kalian ini” saran Soojung seraya mengelus perut Jiyeon.

.

“Myungie-ya?” Jiyeon memutar posisi tidurnya yang semula membelakangi Myungsoo.

“Eum”

“Aku akan segera berubah wujud”

Myungsoo membuka matanya begitu mendengar kata yang tak ia pahami itu. Keningnya semakin berkerut bingung.

“Dan kau akan meninggalkanku bukan?”

“Aku sungguh tak mengerti Jiyeonie… dan kenapa aku harus meninggalkanmu?”

Jiyeon tertawa kecil, ia sudah bertekad akan bertahan dengan janinnya ini apapun resikonya, termasuk kehilangan suaminya. “Pergilah, aku tak akan mencegahmu”

“Yaa kau ini sebenarnya berbicara apa? Aku sungguh bingung Jiyeonie” Myungsoo mencengkram bahu Jiyeon. “Apa kau sakit?”

“Kalau aku sakit parah kau juga akan meninggalkanku bukan?”

“Jincha, kenapa sedari tadi hanya kata meninggalkan saja yang keluar dari bibirmu hah?”

“Karna memang begitu bukan?” tangis Jiyeon mulai pecah “Kau mengatakannya sendiri dengan bibirmu, kalau kau benci istri yang berpenampilan tak menarik”

“Jincha, marhaebhwa! Kau ini sebenarnya kenapa? Kau sakit apa?” Myungsoo mencengkram bahu Jiyeon hingga terduduk berhadapan dengannya.

“Aku juga lelah mendengar kritikan pedas darimu, gemuk.. gemuk dan gemuk. Kata ini sungguh membuat telingaku panas”

Myungsoo mengamati Jiyeon intens, memang benar akhir-akhir ini ia sering komplain mengenai perut Jiyeon yang ntah mengapa menjadi buncit seperti itu. Tapi sungguh tak ada sekalipun niat untuk meninggalkan istri yang ia cintai ini.

“Sebentar lagi aku akan semakin menggelembung seperti balon dan kau akan sangat muak untuk melirikku sekalipun”

Myungsoo menautkan alisnya bingung, menggelembung seperti balon? Setahunya nafsu makan Jiyeon masih seperti biasanya dan tak berlebihan. lalu apa yang akan membuat tubuh Jiyeon menggelembung?

“Seolma, kau…” Myungsoo melempar Jiyeon dalam pelukan hangatnya.

Jiyeon tertawa kecil “Apa ini pelukan perpisahan?”

“Kau hamil?” mata Myungsoo beradu dengan mata Jiyeon yang nampak gugup.

Bagaimana bisa Myungsoo tahu kalau Jiyeon hamil? “Eoh” ia membelakangi Myungsoo “Aku rasa kita sudah tak perlu tidur seranjang lagi. Ini hanya akan merusak pandanganmu saja”

“Yaaa” Myungsoo menangkup kedua pipi Jiyeon agar menatapnya “Aku tak mungkin meninggalkanmu hanya karna kau hamil Jiyeonie”

“Tapi kau akan meninggalkanku jika aku berubah gemuk dan jelek, matcji?” mata Jiyeon berkaca-kaca.

Myungsoo tertawa renyah, jadi ini alasan Jiyeon bersikap aneh seperti ini. “Kau tahu darimana?”

“Sudahlah”

“Yaa Nyonya Kim” Myungsoo mendaratkan sebuah ciuman singkat dibibir Jiyeon “Sekalipun lemak-lemak bersarang disekujur tubuhmu hingga ia sebulat balon, aku tak akan pernah meninggalkanmu”

“Liar! Jangan membodohiku tuan Kim! Kau tak akan mampu menggendongku nanti”

Jadi ucapan Myungsoo mengenai berat badan itu sungguh melekat dipikiran Jiyeon hingga dia berpikir bahwa ia akan meninggalkannya. “Kyeopta” ia kembali mengecup bibir Jiyeon dengan lumatan kecil “80 kg itu sangatlah ringan Jiyeonie, keundae kurasa kau tak akan seberat itu” ia mengulum senyum menggoda “Aku mencintaimu bukan karna kau cantik dan langsing…”

“Liar! Kau sendiri yang bilang dulu…” potong Jiyeon.

“Kau kira aku sama dengan suami-suami brengsek itu?” Jiyeon menggeleng lemah, ia sendiri juga bingung “Anni, aku tak akan pernah menjadi suami brengsek yang meninggalkanmu nyonya Kim. yaksokae, jincha yaksokae Jiyeonie” tegas Myungsoo seraya menatap Jiyeon  semakin intens untuk membuktikan bahwa ia berkata jujur.

“Yaa” Jiyeon memukul dada bidang Myungsoo, dari tatapan Myungsoo, ia bisa menangkap kejujuran didalamnya “Babo Myungsoo” pekiknya kesal.

Myungsoo menenggelamkan Jiyeon dalam rengkuhan eratnya “Jangan berpikiran aneh lagi Jiyeonie. Aku mencintaimu, semuanya yang ada padamu” ia lalu beralih mengecup perut Jiyeon “.. dan buah cinta kita” ucapnya yang diakhiri ciuman mesra yang semakin meyakinkan Jiyeon bahwa semua pemikirannya salah.

Be Sociable, Like and comment please!

.

.

.

Thankiess  good readers ♥♥♥♥

15 responses to “[FICLET] Problematic Weight

  1. bru ktemu sma ff ini, pdahl udh hmpr sbulan hehe
    jiyeon brburuk sangka dluan ke myung sih pdahal myung tulus sma jiyeon

  2. Telat ngt coment nya.. mian lia…. bis baru nemu n baca nic ff.. ttp seprti biasa ff neo enak di baca … n jiyeon jadi sensitif n berpikir pabo,, mana ad suami yx ninggalin istri nya tengah mengandung.. klo emank ad itu ma emank namja brengsek…
    Syukur myungsoo gx gtu…

  3. wwaaaahhhh so sweeetttt….
    istri mana sih yng gak sensi sama kata ‘gemuk’ apalagi saat hamil,,,,makin sensitif kan……
    iiissshhhh gemesin banget momen d ranjang mereka…..
    ssuukkkaaa
    d tnggu ff yng lain….
    jgn lma2 yyyyyyaaaaa……🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s