Part IV : HIME

hime

Author : Ariskachann

Cast : Mizuhara Hime (OC), Park Chanyeol, Zhang Yizing (Lay)

Genre : Romance, sad

Rating : PG

Disclaimer : Cerita murni hasil karya author. Jika menemukan kesamaan itu karena cerita sudah pernah dipost diblog pribadi sebelumnya.

A/N : Recommended song “Epic High – Happen Ending”

Sorry for typo^^

Happy reading^^

 

 

Previous : Part I, Part II, Part III

 

“Yeobo, kau belum mau tidur?” Yoonhee memeluk leher Chanyeol dari belakang sementara pria itu sibuk dengan laptopnya.

“Nanti, pekerjaanku masih banyak. Kalau kau mau tidur duluan tidak apa-apa,” jawab Chanyeol tanpa sedikitpun mengalihkan fokusnya dari layar laptop. Helaan napas berat terdengar ditelinga Chanyeol yang berasal dari wanita disampingnya itu. Namun Chanyeol tetap tidak peduli.

“Chanyeol-ah, kau tahu kan kalau ini adalah malam pertama kita? Seharusnya kau tidak mengerjakan pekerjaan bodohmu itu,” kesal Yoonhee seraya melepas pelukannya.

“Terserah kau mau bilang apa. Pekerjaanku ini tidak bisa ditunda, Yoonhee. Lagipula malam pertama tidak harus malam ini,” ujar Chanyeol pelan.

Yoonhee melipat kedua tangannya didepan dada, menatap Chanyeol tajam, “Araseo, aku tidur duluan kalau begitu,” dan wanita yang resmi menjadi istri Chanyeol beberapa jam lalu itu menghentakan kakinya kasar keluar dari ruang kerja Chanyeol. Selang kepergian Yoonhee, pria itu pun menghentikan aktivitas berkutatnya dengan laptop. Kedua matanya terpejam erat seraya menyandarkan punggungnya kesandaran kursi.

“Rahasia?”

Minho memasukan kedua tangannya kedalam saku celana, menyunggingkan senyuman misterius yang membuat Chanyeol semakin penasaran, “Tidakkah Hyungnim tahu jika hubungan kalian itu dilandasi dengan sebuah ‘taruhan’?”
Chanyeol masih belum mengerti arah pembicaraan ini, Minho terlalu berbelit-belit menurutnya,
“Apa maksudmu?” Tanyanya tidak sabaran.

“Yoonhee noona awalnya tidak benar-benar menaruh hati padamu. Dia hanya ingin tahu bagaimana cara menaklukan hati pria cuek seperti hyung,” Minho menyeringai kala melihat ekspresi terkejut Chanyeol, “Yoonhee noona hanya mencari kesenangan lewat taruhan itu dan aku tidak menyangka kesenangan itu akan berujung pernikahan seperti ini,”

“Hentikan omong kosongmu!” Geram Chanyeol marah.

“Ini bukan omong kosong hyungnim. Jika hyungnim tidak percaya tanyakan langsung saja pada Yoonhee Noona kebenarannya. Mumpung pernikahan ini belum disahkan,”

“Cish, jadi maksudmu aku akan terkecoh dengan semua kata-katamu dan membatalkan pernikahan ini!”

“Itu terserah pada hyungnim. Aku hanya tidak menyangka saja taruhan itu berakhir dengan sebuah pernikahan,” Minho kembali menyunggingkan senyum manisnya, tidak takut meski Chanyeol sudah menatap kedua matanya dengan marah, “Sekali lagi selamat ya Hyungnim atas pernikahanmu dengan Yoonhee noona. Semoga kalian bahagia selamanya,”

Brak! Chanyeol memukulkan kedua kepalan tangannya dilengan kursi yang didudukinya. Chanyeol sedih, kecewa, dan marah.

“Yoonhee-ah, apakah itu benar?”

*
*
*

Yoonhee hanya menemukan sebuah note kecil diatas meja ketika dirinya baru saja bangun.

‘Aku pergi ke Beijing untuk pemotretan selama seminggu’

Singkat saja. Tidak ada embel-embel kalimat manis yang setidaknya bisa membuat Yoonhee gembira diawal pagi setelah pernikahannya ini. Mereka pengantin baru dan rasanya tidak jauh berbeda dengan masa-masa mereka masih menjadi tunangan dulu. Malah lebih buruk. Apa perasaan Yoonhee saja jika setelah pernikahan mereka Chanyeol berubah kembali menjadi sosok yang cuek? Yoonhee menggelengkan kepalanya pelan mencoba menghilangkan persepsi dalam otaknya mengenai hal-hal berbau negatif yang akan berujung pertengkaran mereka berdua. Dan untuk memastikan jika Chanyeol baik-baik saja maka Yoonhee berinisiatif untuk menghubungi suaminya itu. Lalu yang didapat Yoonhee setelah nada ‘tut’ beberapa kali adalah pesan kotak suara yang demi Tuhan benar-benar membuat mood paginya bertambah buruk saja. Tanpa perasaan Yoonhee melemparkan ponselnya keatas meja.

“Yak! Neo eodiseo?”

*
*
*

“Hyung, long time no see,” Chanyeol memeluk sosok yang baru saja tiba dihadapannya dengan hangat.

“Ne, ne, aku juga merindukanmu,” pria itu menepuk bahu Chanyeol pelan.

“Woooaah, hyung masih bisa bahasa korea,” Chanyeol melepaskan pelukannya lalu menatap pria yang dipanggilnya hyung itu tersenyum.

“Tentu saja. Aku kan cukup lama tinggal disana. Bagaimana kabarmu?” Pria itu duduk setelah sebelumnya mempersilahkan Chanyeol untuk duduk terlebih dahulu.

“Aku baik hyung. Hyung sendiri?”

“Aku juga baik. Oh ya, selamat atas pernikahanmu. Maaf aku tidak bisa datang karena terlalu sibuk,”

“Tidak apa hyung. Aku tahu hyung sibuk,”

“Tapi apa kau tidak apa-apa langsung kesini. Kau ini kan pengantin baru. Kau mengajak istrimu kan?”

“Sebagai fotografer profesional aku harus memenuhi panggilan pekerjaan meski aku baru menikah. Lagipula Yoonhee sudah biasa mandiri. Hyung tidak perlu khawatir,”

“Gomawo. Aku senang kau datang,”

“Ck. Luhan hyung tidak usah sungkan begitu,”

“Hahaha, kau ini,”

Hari ini Chanyeol menikmati waktu sendirinya di Beijing. Meskipun untuk urusan pekerjaan tetapi entah kenapa pria itu merasa bebas dan nyaman. Rasanya tidak ada beban yang menghimpit dadanya dan tidak ada rasa sakit dikepalanya.

*
*
*

“Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini,”

Semua saling membungkukan tubuhnya sopan, begitupun dengan Chanyeol. Setelah selesai berbasa basi, Chanyeol bergegas merapikan kamera dan peralatannya hingga Luhan menghampirinya,
“Hei, mampirlah ke apartemenku,” ajak Luhan.

Chanyeol menyampirkan tasnya dibahu lalu mengangguk diiringi senyumannya.
Ketika Chanyeol menginjakan kakinya di apartemen Luhan adalah pria itu hanya bisa mengangakan mulutnya. Chanyeol tahu Luhan memang kaya dan seharusnya dia tidak perlu sekaget itu melihat apartemen Luhan yang luar biasa mewah. Okay, Chanyeol memang punya apartemen yang bagus tapi tentu tidak luar biasa bagus seperti milik Luhan.

Melihat Chanyeol yang belum mengatupkan mulutnya, Luhan terkekeh pelan, “Chanyeol-ah, buatlah dirimu senyaman mungkin eoh. Kamarmu ada disana,” tunjuk Luhan pada sebuah pintu didekat ruangan televisi yang bagi Chanyeol lebih pantas disebut sebagai bioskop mini. Pria itu hanya mengangguk pelan, sementara matanya masih fokus mengamati seluruh isi apartemen Luhan.

“Apartemenmu besar sekali hyung. Kamar mandinya saja sebesar ruang makan diapartemenku,”
Chanyeol baru saja keluar dari kamarnya setelah sebelumnya membersihkan diri, rambutnya saja masih basah. Luhan yang sedang membuat dua cangkir kopi disebuah meja pantry dekat ruang televisi (apa ya menyebutnya? Seperti sebuah cafe mini begitu) menolehkan kepalanya sejenak kearah Chanyeol yang kini menyecahkan dirinya disofa.

“Kau berlebihan,” Luhan menghampiri Chanyeol membawa dua cangkir kopi yang baru saja dibuatnya.

“Apa tidak repot membersihkan semuanya?” Tanya Chanyeol lalu menyesap kopi yang baru diangsurkan oleh Luhan. Pria itu menggeleng, “Tentu saja aku menyuruh orang untuk membersihkan semuanya. Aku hampir tidak punya waktu walau untuk membersihkan kamarku,” Luhan terkekeh pelan lalu mengambil remote televisi, menyalakan siaran bola yang ditunggunya sejak tadi.

“Jadi apa mempunyai kekasih juga hyung tidak punya waktu?” Goda Chanyeol, kembali mengingatkan Luhan yang sampai sekarang belum mempunyai kekasih yang dia tahu.

“Untuk apa punya kekasih Chanyeol-ah,” kata Luhan pelan.

“Loh, bukankah itu wajar. Mencintai lalu menjalin hubungan. Hyung tidak berencana hidup sendirian selamanya kan?”

“Semua wanita mencintaiku. Ya itu yang selalu mereka katakan. Tetapi apakah cara mencintai mereka itu tulus?” Chanyeol terdiam mendengar penuturan Luhan barusan. Kata-katanya itu seperti menohok hati Chanyeol.

“Di dunia ini sulit sekali menemukan seseorang yang memiliki hati tulus kepada kita Chanyeol-ah. Maka dari itu aku selalu berusaha membentengi diriku dari semua orang disekitarku,” Luhan menatap layar televisi namun Chanyeol bisa melihat dari samping jika pria itu tidak sedang benar-benar menonton, tatapannya menerawang, “Jika kau berpikir aku takut akan sakit hati mengenal namanya ketulusan. Maka ya, aku terlalu takut akan hal itu,” Luhan tersenyum lalu mengalihkan tatapannya pada Chanyeol yang kini menundukan kepalanya dalam diam, “Percaya pada seseorang yang sangat kau cintai boleh saja. Tetapi kau harus tahu terlebih dahulu jika memang dia benar-benar tulus mencintaimu,” tepukan pelan tangan Luhan dibahunya membuat Chanyeol tersentak.

“Ne, hyung. Kau benar,” senyuman tipis Chanyeol menandakan jika hatinya kembali tidak baik-baik saja.

*
*
*

Sudah hampir sepuluh hari Chanyeol berada di Beijing dan selama itu pula Chanyeol tidak mengaktifkan ponselnya. Chanyeol memang sengaja tidak mengaktifkan ponselnya yang satu itu karena pria itu sedang tidak ingin siapapun kenalannya yang menghubungi termasuk Yoonhee, istrinya sendiri. Dan lihatlah ketika Chanyeol mengaktifkan kembali ponselnya semua pesan teks dan suara masuk kedalam kotak inboxnya dan rata-rata semua itu dari Yoonhee. Mulai dari bertanya dimana Chanyeol, apa yang dilakukan pria itu, kapan akan pulang, dan lain sebagainya. Chanyeol hanya membaca sebagian saja pesan-pesan itu. Terlalu malas. Namun diantara semua pesan-pesan itu ada satu pesan yang menarik perhatian Chanyeol. Sebuah pesan dari seseorang yang entah kenapa sangat dirindukannya akhir-akhir ini. Pesan dari Hime.

‘Chanyeol-ah, bagaimana kabarmu? Semoga kau baik. Aku hanya ingin mengatakan Selamat atas pernikahanmu dan Yoonhee. Maaf aku tidak bisa datang hari itu dan maaf karena aku baru memberimu selamat. Semoga kalian bahagia’

“Hime-ya, aku ingin bertemu,”

*
*
*

“Kau yakin tidak mau kutemani?” Yixing mengusap lembut puncak kepala Hime yang dibalas gelengan pelan wanita itu.

“Aku hanya jalan-jalan sebentar. Nanti aku telpon saja kalau aku sudah bosan. Sudah sana,” Hime mendorong bahu Yixing pelan, “Kau harus kembali ke kantor kan,”

“Ya sudah. Hati-hati ya,” Yixing berjalan mundur seraya melambaikan satu tangannya kearah Hime, “Sampai jumpa dirumah nanti,” dan Yixing membalikan tubuhnya sebelum masuk kedalam mobilnya yang diparkir tidak jauh dari taman. Hime masih melambaikan tangannya hingga mobil Yixing berjalan pergi meninggalkan taman. Senyuman manisnya masih tersungging kala dia membalikan tubuhnya dan mulai meniti langkahnya disebuah jalan kecil. Kakinya perlahan mengayun seiring dengan semilir angin yang berhembus lewat dedaunan pohon yang tumbuh mengelilingi taman itu. Sejuk dan menenangkan. Cina memang pilihan bagus untuk Hime melepaskan penatnya. Langkah Hime tiba-tiba terhenti ketika dia melihat sosok pria tinggi yang beberapa jam lalu menelponnya sedang duduk disebuah bangku taman.

“Chanyeol-ah!” Panggil Hime membuat pria itu mendongakan kepalanya yang tengah tertunduk. Kedua mata bulat pria itu nampak sendu.

“Hime-ya,” lirihnya lalu perlahan beranjak dari duduknya menghampiri Hime yang berdiri tidak jauh darinya.

“Apa kau sudah menunggu lama?” Tanya Hime ketika Chanyeol sudah berada satu jengkal dengannya.

“Hime-ya,” Chanyeol meneteskan airmatanya yang sedari tadi menggenang dipelupuk matanya.

“Neon gwenchanha?” Hime mengerutkan dahinya heran melihat airmata Chanyeol yang kini membasahi pipinya, “Chan-” dan Hime hanya membelalakkan kedua matanya kala Chanyeol malah menarik tubuhnya lalu mendekapnya erat. Bahu Chanyeol bergetar pelan, menandakan jika pria itu tengah menangis.

“Chanyeol-ah, waegeurae?”

*
*
*

“Mianhae. Aku tidak bisa datang ke pernikahanmu. Aku malah sibuk mengurusi kepindahanku ke Cina. Aku bukan teman yang baik,”

Chanyeol menggeleng pelan, “Aniya, aku tahu bagaimana perasaanmu Hime-ya.”

“Kau tidak perlu khawatir aku sudah merasa lebih baik sekarang,” Hime menyunggingkan senyumnya, meyakinkan Chanyeol jika sekarang dia baik-baik saja.

“Hime-ya, aku merasa buruk sekarang,” Chanyeol menundukan kepalanya, “Wae? Kenapa kau merasa begitu?” Hime memegang lengan Chanyeol lembut.

“Aku merasa semakin buruk saat kau tidak ada lagi disampingku. Aku merasa sendirian, Hime-ya,” airmata Chanyeol mengalir kembali membuat hati Hime terenyuh melihatnya. Sebenarnya kenapa dengan pria ini? Kenapa dia terlihat semakin lemah? Seperti bukan Chanyeol yang ia kenal dulu?

“Chanyeol-ah, sekarang kau sudah punya Yoonhee. Jika kau merasa berat kau bisa membagi bebanmu dengannya. Itulah gunanya seorang istri,” Chanyeol mendongakan kepalanya, menatap manik mata Hime yang memancarkan kekhawatiran disana.

“Yoonhee tidak akan bisa seperti itu. Dia tidak akan mengerti apa yang kurasakan. Yoonhee dia. . .,”

*
*
*

“Yoonhee tidak akan mungkin mau menikah denganmu jika dia tidak tulus mencintaimu, Chanyeol-ah. Kau tidak perlu dengarkan apa kata orang mengenai Yoonhee. Kau hanya perlu yakin dan percaya jika Yoonhee memang mencintaimu seperti kau mencintai dia. Jadi lebih baik sekarang kau tenangkan dirimu dulu dan setelah kau merasa lebih baik segeralah hubungi Yoonhee,”

Sore itu Chanyeol kembali mendapatkan ketenangannya setelah bertemu dan berbagi kepenatannya pada Hime. Hanya Hime yang mampu membuatnya merasa lega seperti sekarang ini dan memang hanya Hime yang mampu menjadi orang terbaiknya saat ini. Chanyeol hanya bisa mengucap beribu terima kasih pada Hime. Ya, hanya itu yang bisa dilakukannya.

*
*
*

“Jadi mau mampir?” Tanya Chanyeol ketika mereka tiba didepan hotel tempat pria itu menginap selama di Cina. Hime yang ditanya nampak berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku langsung pulang saja.”

Entah kenapa ada perasaan tidak rela dalam dada Chanyeol ketika Hime memutuskan untuk pulang. Padahal sungguh Chanyeol masih ingin mengobrol dengan sahabatnya itu.

“Kau kan bisa meminta Yixing untuk menjemputmu nanti. Jadi mampirlah dulu,” bujuk Chanyeol. Sejenak Hime nampak ragu namun tarikan tangan Chanyeol dipergelangan tangannya mau tak mau membuat Hime mengikuti langkah pria memasuki hotel.

*
*
*

“Cha! Ayo masuk!” Ajak Chanyeol masih menggenggam erat tangan Hime ketika mereka memasuki kamar hotel.
“Maaf kalau berantakan tadi aku tid-”

“Chanyeol-ah!”

Chanyeol menghentikan langkahnya, mengalihkan tatapannya yang semula pada Hime lalu kepada sosok wanita yang berdiri diruangan hotel dengan senyum lebar. Namun sayang senyuman lebar wanita yang tidak lain adalah Yoonhee memudar perlahan kala melihat tangan Chanyeol menggenggam erat seorang wanita. Mata bulat Yoonhee melebar tidak percaya.

“Hime,”bisiknya. Hime yang melihat kehadiran Yoonhee disana menyunggingkan senyuman seraya mengangkat satu tangannya yang bebas, melambai pada Yoonhee yang masih nampak syok.

“Eoh, Yoonhee-ya? Kau datang?”

Senyuman hangat Hime bagai senyum palsu dimata Yoonhee. Hatinya meradang. Dia cemburu.

“Kapan kau datang?” Tanya Chanyeol yang tidak digubris sama sekali oleh Yoonhee. Malah wanita itu mengepalkan kedua tangan disisi tubuhnya erat kemudian mengambil langkah lebar kearah dua orang itu. Chanyeol menaikan sebelah alisnya melihat wajah Yoonhee yang dirasanya tidak bersahabat hingga akhirnya mata Chanyeol terbelalak lebar ketika

Plak!

Tanpa aba-aba Yoonhee menampar keras wajah Hime. Chanyeol terkejut bukan main. Begitupun dengan Hime.

“Aku sudah menebaknya. Kau itu memang jalang!” Teriak Yoonhee nyalang dengan napas memburu karena amarah.

“Yoonhee!” Teriak Chanyeol tidak terima atas perbuatan Yoonhee dan perkataan kasarnya pada Hime.

“Yoonhee-ya, ini tidak seperti yang kau pikirkan,” lirih Hime.

“Kau pikir aku tidak tahu selama ini kau menyukai suamiku, hah? Aku selalu percaya bahwa hubunganmu dengan Chanyeol hanya sebatas sahabat yang sangat dekat. Tapi nyatanya apa? Kau menusukku dari belakang! Seharusnya kau itu malu menggoda suami orang apalagi pria itu-”

“Cukup!” Potong Chanyeol marah, “Jangan menilai Hime serendah itu! Kau pikir kau siapa hah? Jangan seenaknya menghina Hime! Kau pikir dirimu itu sudah lebih bagus dan baik darinya?!”

“Oh, apa kau sekarang membelanya? Apa kau sudah tahu perihal dia menyukaimu? Apa kau sudah dirayunya?!”

Plak!

Dan tanpa belas kasih Chanyeol menampar pipi Yoonhee. Sungguh Chanyeol tidak tahan dengan sikap dan kata-kata Yoonhee.

Chanyeol muak.

“Chanyeol,” gumam Yoonhee tidak percaya jika pria itu baru saja menamparnya keras. Pipinya terasa panas dan hatinya terasa sakit mendapati pria yang adalah suaminya memukul dirinya. Lalu tanpa rasa menyesal Chanyeol malah berbalik untuk pergi seraya menarik tangan Hime ikut bersamanya membuat dada Yoonhee berkali lipat merasakan sakit.

“Chanyeol,”

*
*
*

Tangan Hime masih berada dalam genggaman Chanyeol. Mereka sudah berada diluar hotel dan berjalan cukup jauh dari sana. Hime tidak tahu kemana Chanyeol akan membawanya. Begitupun Chanyeol yang tidak tahu kemana kakinya akan melangkah. Tapi yang pasti dia ingin pergi sejauh mungkin dan melupakan statusnya yang sudah menikah sekarang. Hingga sentakan tangan Hime membuat genggaman Chanyeol terlepas begitu saja. Langkahnya terhenti lalu perlahan berbalik untuk menatap Hime yang berada dibelakangnya.

“Kenapa kau memukulnya?” Pertanyaan Hime membuat Chanyeol mengerutkan dahinya. Hingga Chanyeol membaca tatapan mata wanita itu yang mengisyaratkan jika dia tidak suka tindakan Chanyeol memukul Yoonhee tadi.

“Kau masih bertanya kenapa aku memukulnya?” Chanyeol menghembuskan napasnya kasar, memalingkan wajahnya sebentar lalu kembali menatap Hime, “Aku tidak suka dia menghina dan memukulmu. Itu balasan setimpal untuknya, Hime-ya,”

Hime menggeleng, “Dia istrimu Chanyeol. Dia melakukan itu karena emosi. Yoonhee hanya salah paham dengan apa yang dilihatnya. Kau tahu kan selama ini dia memang tidak suka kau terlalu dekat denganku. Jadi wajar jika dia berpikiran bahwa aku akan mere-”

“Aku membelamu Hime. Kenapa kau tidak mengerti, huh? Kau ini bodoh atau apa! Yang berarti bagiku sekarang adalah dirimu. Tidak perduli dia istriku atau siapapun dia, yang pasti aku tidak suka dia menghinamu. Titik.”

Hime menggeleng kembali, “Kau egois Chanyeol. Kau egois,” dan Hime perlahan membalikan tubuhnya.

“Kau mau kemana?” Tanya Chanyeol ketika melihat Hime mulai melangkahkan kakinya.

“Tidak usah perdulikan aku,”

“Hime-ya,”

“Seharusnya kita memang tidak usah bertemu. Ya, seharusnya,”

*
*
*

Bagi seorang wanita cinta pertama itu sangatlah berarti. Tetap berarti bahkan ketika kau mendapati cinta itu tidak berpihak padamu. Ketika kau sudah yakin tidak bisa menggapainya maka detik itu juga kau bisa menyerah dan berjuang untuk melupakannya. Tetapi sudah dikatakan jika cinta itu terlalu berarti maka akan semakin sulit untuk melupakannya. Cinta pertama itu tidak akan pernah benar-benar hilang meski kau sudah mendapatkan cinta yang lainnya. Ya, itulah yang dirasakan Hime. Jika hatinya sekarang goyah maka katakanlah dia wanita bodoh yang belum bisa berjalan tegak tanpa menoleh kemasa lalunya. Ya tidak apa-apa. Karena bagi Hime cinta pertamanya begitu berarti hingga detik ini.

Dan. . .

Seharusnya kita memang tidak usah dipertemukan sama sekali. Seharusnya aku tidak jatuh cinta padamu. Dan seharusnya kau tidak perlu tahu bagaimana perasaanku padamu selama ini.
Jika saja semua itu tidak terjadi maka aku yakin kita akan hidup bahagia, tanpa penderitaan seperti ini.

*
*
*

Fin

Sorry for bad fict, RCL ne~~

3 responses to “Part IV : HIME

  1. Apa bener yoonhe seperti yg dikatakan mino…chanyeol cm taruhan?tp klo chan tidak meluruskan semuanya kasian hime kan …dia dikira sengaja deketin chanyeol….udah biarin si chan itu hime ah…km ma yixing aja biar kapok chan2…

  2. Pingback: Part V : HIME | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s