[Oneshot] He’s Beautiful

 photo HesBeauty_zpsgevy2imt.jpg

| He’s Beautiful |

| Kim Liah |

| Oneshot |

| Xi Luhan, Park Jiyeon |

| Jung Soojung, Kang Minhyuk |

| Romance, Life, Fluff |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism! Be careful of typo(s) |

.

“Kau yakin berkencan dengan pria ini?” tangan Soojung menpin out jarinya di layar iphone itu, matanya dengan jeli mengamati gambar yang terpampang disana lalu menggeleng hebat “Andwae, ini benar-benar merugikanmu Jiyeon-a” pekiknya.

Jiyeon menggelembungkan pipinya bingung lalu meminum jus strawberry dihadapannya. Kali ini giliran ia yang mengamati sahabatnya itu dengan gelengan kepala, apa penglihatan Soojung mulai rabun? Atau kepala Soojung sedikit bergeser sehingga bisa mengatakan hal rancu itu?

“Lalu pria seperti apa yang pantas kukencani Soojung-a?”

Seketika wajah Soojung nampak cerah dan pandangannya nampak kosong, ia tangkup iphone itu dipipinya. “Minhyuk oppa, kau harus mencari pria seperti Minhyuk oppa” jawabnya.

Jiyeon mengangguk paham “Arghh jadi aku harus mengencani Minhyuk oppa?” senyumnya nampak menggoda “Geurae, apa perlu kuajak Minhyuk oppa berkencan sekarang?” ia merebut iphonenya kembali dari tangan Soojung.

“Yaa Park Jiyeon!” tangan Soojung sungguh lincah hingga iphone Jiyeon sudah kembali tergenggam ditangannya “Minhyuk oppa hanya milikku, aratcji?” tegasnya.

Jiyeon tertawa puas “Igeo,kau sendiri melarangku mengambil Minhyuk oppa. Padahal kau bilang aku harus mencari pria seperti dia. Eumm, jincha eottokachi?” godanya.

“Anni, bukan Minhyuk oppa, tapi pria yang seperti Minhyuk oppa” tolak Soojung.

Dagu Jiyeon tersangga di kedua tangannya sambil menatap Soojung lekat, tak ada salahnya menjahili Soojung sebentar. “Hi, bukankah kau pernah bilang kalau tak ada pria lain sebaik Minhyuk oppa?”

Seketika Soojung tergagap, memang benar ia pernah berkata seperti itu pada Jiyeon. “Eum, cari saja pria yang mendekati mirip dengan Minhyuk oppa!”

JIyeon mengangguk puas “Geurae. Pria yang seperti Minhyuk oppa” ia bertingkah seolah tengah membayangkan wajah Minhyuk “Tinggi dan manly?” Soojung mengangguk “Apa Minhyuk oppa juga dewasa dan melindungimu seperti princess?” selidik Jiyeon.

“Tentu saja Jiyeon-a. Kau kan tahu sendiri kita para wanita adalah princess yang selalu butuh guardian angel, our prince charming to coodle us” jawab Soojung bangga dengan sikapnya yang kekanak-kanakan.

Jiyeon menjentikkan jarinya yakin “Geurae, aku sudah menemukannya Soojung-a” serunya.

“Jincha?” Soojung membelalakkan matanya tak percaya, bagaimana bisa JIyeon menemukan pria seperti Minhyuk secepat itu? Bagaimana kalau nanti pria itu sangat mirip dengan Minhyuk? Aneh saja jika wajah kekasihnya dan semua perilakunya sama persis dengan kekasih sahabatnya. Bagaimana kalau ada copian dari Minhyuk hingga pemikirannya pun sama pula? Tidak lucu bukan kalau kelakuan sweetnya dilakukan bersamaan tuk Jiyeon juga.

“Eoh, apa kau tidak senang?” jelas sekali ada kecemasan diwajah Soojung “Kita akan memiliki kekasih yang sama, seperti kembar” goda Jiyeon.

“Yaa kau pasti bercanda Jiyeon-a”Soojung tersenyum hambar.

Jiyeon memperlihatkan layar iphonenya kembali tepat didepan wajah Soojung.

“JIncha kau benar-benar mempermainkanku Jiyeon-a” Soojung membalik arah ponsel itu sehingga Jiyeon nampak berbunga-bunga mengamati gambar yang terpampang di iphonenya, Luhan, kekasihnya “Pria ini sungguh tak mirip dengan Minhyuk oppa! Dan bukankah tadi sudah kubilang kalau pria ini akan merugikanmu!” tegas Soojung geram, namun ia sedikit lega juga karna ia tak perlu merasa malu karna kekasihnya berkelakuan sama dengan kelakuan kekasih sahabatnya.

“Anniya, Xiao Lu oppa sungguh sebuah keberuntungan bagiku Soojung-a”

Soojung mengangkat jus lemonnya yang terisi 5 bongkahan es kecil “Ccckkk, jincha sepertinya kepalamu perlu kunormalkan dengan es ini” ia mengangkat gelas jusnya seolah mau menyiramkannya kepada Jiyeon.

“Yaa Jung Soojung!”

Soojung menghela nafas kesal “Lihat ini Jiyeon-a” ia kembali mengangkat iphone Jiyeon yang berisi foto Luhan “Banyak sekali kerugian yang akan kau dapat! Geurae, karna kau tak mengerti, maka akan aku kuliti satu persatu” geramnya.

“Annimida, Xiao Lu oppa memberiku banyak keuntungan” tolak Jiyeon seraya menggoyangkan telunjuknya tanda tak setuju.

“Arraseo, arraseo, igeo” Soojung merogoh tasnya dan mengambil sebuah cermin kecil lalu memberikannya pada Jiyeon “Berkacalah!”

“Mwo? Jadi maksudnya aku ini tak pantas bersanding dengan Xiao Lu oppa?” rasanya Jiyeon ingin sekali melempar cermin ditangannya hingga berkeping-keping.

“Anniya, bukan begitu, hanya saja…” Soojung menyipitkan kedua matanya dan memasang ekspresi tak suka “Dia lebih cantik darimu” ucapnya to the point.

Jiyeon ternganga dan tertawa setelahnya begitu mendengar ucapan Soojung. “Jadi masalahnya karna Xiao Lu oppa berwajah cantik? Kau ini ada-ada saja Soojung-a”

Soojung menggebrak meja didepannya “Yaa ini bukan masalah kecil Jiyeon-a, pria ini.. bukan hanya cantik tapi juga cute. Kalau kau berjalan dengannya orang-orang bisa salah paham” jelasnya.

“Kurasa kau salah besar Soojung-a, selama ini kami baik-baik saja” tolak Jiyeon keukeh.

“Geurae, jangan sampai kau menyesal nantinya jika kau merasa tersaingi” tegas Soojung.

 ***
“Kau ingin minum apa?” Luhan menarik kursi kosong untuk Jiyeon duduki, kini mereka tengah berada di sebuah cafe.

Daftar menu besar diatas meja kasir itu terbaca cepat oleh Jiyeon. “Chocolatte ice cream saja oppa” jawabnya dengan senyum sumringahnya.

“Arraseo, chakkaman” pamit Luhan, ia segera menuju meja kasir untuk memesan minuman.

Jiyeon nampak tenang menunggu sembari mengamati ke sekeliling ruangan cafe hingga tak sengaja telinganya menangkap obrolan dua remaja SMA yang duduk 2 meja dibelakangnya.

“Jincha eonnie itu sungguh nampak psycho, bagaimana bisa dia memanggil remaja SMP itu dengan panggilan oppa?” cibir seorang remaja berkuncir kuda, Minjoo.

“Eoh sungguh berlebihan, mungkin dia terobsesi memanggil bocah itu dengan sebutan oppa. Kau tahu sendiri sekarang lagi marak hubungan noona dongsaeng” sanggah remaja yang bermake up lumayan tebal disamping Minjoo.

“Maja maja, atau mungkin saja bocah itu hanya korban saja” Minjoo menyeruput ice americanonya.

“Korban? Yaa mana mungkin bocah itu jual diri, Yuna-ya”

“Anniya bukan seperti itu Minjoo-ya, keundae bocah itu hanya mencoba membantu eonnie itu. Mungkin saja eonnie itu sedang tertekan”

Jiyeon yang mendengar semua ini tentu saja naik pitam. Bagaimana bisa dua remaja penggosip itu menyebutnya psycho bahkan sakit jiwa? Ia menepuk kedua pipinya, apa wajahnya setua itu? Tidak, ia tidak bisa tinggal diam digunjingkan oleh bocah-bocah SMA itu.

“Jiyeon-a, oddiega?” Luhan membawa dua buah  mangkuk berisi chocholatte dan vanilla ice cream.

Jiyeon yang hendak berbalik dan menyerang balik dua remaja putri itu kini hanya bisa kembali duduk tenang. “Anniya oppa geunyang..”

“Jincha kasihan sekali bocah itu hingga harus berpura-pura menjadi pria dewasa” keluh Minjoo.

Jiyeon sudah menolehkan wajahnya ke samping kiri dan hampir bisa melihat wajah menyebalkan dua remaja itu.

“Waeirae?” Luhan mendongakkan kepalanya untuk mengintip siapa yang hendak Jiyeon sapa mungkin.

Jiyeon hanya mampu tersenyum janggal, jika ia menuruti emosinya ia pasti akan nampak menyeramkan didepan Luhan karna untuk pertama kalinya ia akan menunjukkan sisi monsternya sebagai seorang wanita yang beringas jika sudah bertengkar dengan sesama kaumnya.

“Keundae bocah itu sungguh tampan, aku juga tak akan segan berpura-pura sakit untuk bisa menggandengnya” Yuna nampak memoleskan ulang lipgloss dibibirnya.

Jiyeon kembali bangkit berdiri dan kali ini ia sukses menatap tajam dua remaja itu.

“Ommona” pekik Minjoo kaget dengan tatapan tajam Jiyeon.

Hentakan kaki Jiyeon layaknya hentakan kaki raksasa begitu ia melangkah menghampiri dua remaja itu. Sungguh ia akan menghabisi dua remaja yang berkelakuan layaknya wanita dewasa itu.

Yuna itu bangkit berdiri menyilangkan kedua tangannya dengan angkuh dan balas menatap Jiyeon dengan bengis. Baginya bukan masalah besar berkelahi dengan wanita dewasa.

“Kalia…” bibir Jiyeon sudah hendak komat kamit mencurahkan amarahnya.

“Josonghamnida, haksaeng” potong Luhan yang ntah sejak kapan sudah berdiri disamping Jiyeon.

“Haksaeng? Kau bahkan hanya seorang junghaksaeng, menghisap rokok saja pasti kau belum berani” sanggah Yuna dengan tawa renyahnya.

Luhan tersenyum manis, jadi dua remaja ini salah paham mengenai usianya.

“Hi bahkan dia kelihatan cantik saat tersenyum” bisik Minjoo yang terdengar jelas oleh Luhan dan Jiyeon.

“Yaa bocah” Yuna menepuk bahu Luhan “Kau tinggi juga” sekilas ia terpesona dengan perawakan Luhan yang menawan “Anni, aishh. Yaa bocah jangan bertampang bodoh seperti ini, kalau kau kasihan pada eonnie ini, maka jujurlah padanya dan jangan sok bersikap sebagai pria dewasa” ia menepuk pipi Luhan “Apa kau juga akan menurut begitu saja jika eonnie ini menganggapmu yeoja dongsaengnya dan memakaikanmu pakaian wanita?” cibir Yuna.

“Mworago? Yaa haksaeng, aku tekan padamu kalau aku bukan…” sungut Jiyeon kesal, masih saja dua remaja ini menganggapnya sakit jiwa.

“Eoh majayo kyeopta junghaksaeng, kau masih kecil masih anak SMP yang labil. Jangan mau begitu saja diperalat wanita sakit jiwa ini” tambah Minjoo seraya meraba lengan Luhan yang ternyata kekar juga meski tubuhnya terlihat kurus.

“Yaaaaaa” Jiyeon hampir saja menarik rambut Minjoo kalau Luhan tak menahannya. Masa bodoh dengan image pure girl nya didepan Luhan.

“Oppa aku ingin choco” ucapan Soojung terhenti begitu melihat Jiyeon tengah berurusan dengan dua remaja SMA. Ia dan Minhyuk hendak menikmati segelas kopi di cafe ini.

“Bukankah itu Jiyeon?” tunjuk Minhyuk dari ujung pintu masuk cafe, kakinya melangkah begitu saja menghampiri Jiyeon karna Soojung menariknya.

“Kalian benar-benar sudah salah paham” Luhan masih bersikap tenang, ia rangkul bahu Jiyeon erat “Wanita ini 100% sehat, aku yang sakit jiwa” jelasnya.

“Mwo? Jadi…” pekik Yuna tak percaya.

Luhan mengangguk dengan senyumnya “Majayo, kalaupun wanita ini menyuruhku memakai gaun aku pasti akan langsung memakainya. Bahkan kalau dia menyuruhku menikahinya aku akan langsung mengucap janji sakral sekarang juga” ia menatap Jiyeon lembut lalu menempelkan bibirnya sekilas dibibir cherry Jiyeon “Aku sudah cukup dewasa untuk menjadi ayah dari anak wanita yang kucintai ini” tegasnya.

“Jincha Minjoo-ya, bocah ini sudah saraf akut. Pemerintah akan langsung menolak pernikahan mereka” ledek Yuna yang mendapat anggukan setuju oleh Minjoo.

“Sepertiya bocah ini lebih berpengalaman dari kita” bisik Minjoo.

“Mianhae haksaeng” Luhan merogoh dompetnya.

“Beraninya kau bicara banmal padaku, bocah!” sungut Yuna.

“Ne, noonanim” Luhan menyerahkan Kartu namanya dan seketika dua remaja itu terbelalak kaget “Apa sekarang kalian tetap memanggilku bocah?”

“Apa aku tak salah baca Yuna-ya, CEO Xi coorporation?” gumam Minjoo.

“Yaa kau pasti memalsukan ini” Yuna melempar kartu nama itu ke wajah Luhan “Jangan-jangan tubuh ini juga palsu? Wanita sepertimu…” tangannya mengangkat kaos biru yang dikenakan Luhan hingga abs Luhan terlihat, penafsirannya seketika luntur, Luhan memang seorang pria berwajah cantik dan bukan pria jadi-jadian.

“Yuna-ya, badannya berotot” mata Minjoo berkedip kagum.

“Yaa geumanhe, kalian lihat sendiri bukan, aku bukan wanita gila dan kekasihku ini bukan bocah dibawah umur. Jebal, jangan menuduhnya macam-macam, haksaeng” tegas Jiyeon.

“Jiyeon-a” Soojung menatap tajam pada dua remaja itu pula “Apa ada masalah?” tanyanya.

“Hyung, gwaenchanika?” selidik Minhyuk pula.

“Eoh gwaenchana Minhyuk-a” balas Luhan dengan senyum kemenangannya.

“Yuna-ya, kajja” Minjoo menarik Yuna keluar dari cafe sebelum mereka dianggap perusuh.

“Anni” Jiyeon kembali terduduk menunduk dikursinya, kali ini ia sungguh bernafas lega sekaligus lemas dalam waktu yang bersamaan.

“Soojungie, chakkaman” pamit Minhyuk menuju meja kasir.

“Jiyeon-a, gwaechana?” wajah Luhan nampak kahawatir.

“Ne oppa” Jiyeon menegapkan posisi duduknya “Bagaimana denganmu oppa?”

“Gwaenchana, ini bukan masalah besar” jawab Luhan seraya menyendok eskrim vanilanya yang sudah sedikit mencair.

“Ckkckk, kalian ini benar-benar klop. BUKAN MASALAH BESAR” ulang Soojung.

“Waeyo Soojung-a?”

“Oppa, ini sungguh masalah besar. Kau…” Soojung menunjuk Luhan “.. sungguh sangat cantik dan cute seperti bocah. Pantas saja dua remaja menyebalkan tadi menuduhmu memalsukan usia dan gendermu”

“Yaa Jung Soojung geumanhe” cegah Jiyeon, ia sungguh sudah lelah mendengar kata cantik dan cute. Tiba-tiba saja ia membenarkan perkataan Soojung 2 bulan lalu ketika ia baru saja menjalin hubungan dengan Luhan.

“Aku akan jujur padamu oppa”

“Jujur? Memangnya apa yang ingin kau katakan pada Luhan hyung?” Minhyuk meletakkan segelas besar ice cream strawberry di meja lalu duduk disebelah Soojung.

“Anniya oppa, kau jangan salah paham” Soojung menoleh sekilas ke Minhyuk lalu kembali fokus ke Luhan “Akan aku ulangi lagi Luhan oppa, jujur dari dulu aku tak suka kau berkencan dengan Jiyeon. Kau lebih cantik dari kami dan tentu terlihat lebih muda juga dari kami” jelasnya.

“Soojung-a, jebal” mata Jiyeon nampak lelah memohon pada Soojung tuk menyumpal mulutnya sendiri dan jangan berkata apa-apa didepan Luhan.

Semburat kekecewaan nampak diwajah tampan Luhan, jadi selama ini Jiyeon terbebani berkencan dengannya? “Lalu?” lirihnya.

“Tentu saja aku meminta Jiyeon menjauhimu” Soojung selalu asal nyerocos tanpa berpikir jika ucapannya bisa menyakiti orang lain.

“Soojungie!” Minhyuk membekap mulut Soojung dengan sesendok eskrim suapannya “Kau tak berhak ikut campur urusan mereka. Kajja!” ia menarik Soojung berdiri “Hyung, mianhae. Kalian selesaikan berdua saja dan akan kubawa pergi sipengacau ini” pamitnya.

“Oppa, chakkaman, aku belum selesai bicara dengan Luhan opp…” ucapan Soojung terpotong dengan kecupan singkat dibibirnya.

“Kajja” ajak Minhyuk dan kali ini Soojung hanya mampu diam menurut.

“Oppa, nan…” Jiyeon bingung harus bagaimana, ia sungguh bimbang kali ini dan semua karna ulah Soojung.

Luhan tersenyum kecut “Mianhae, jeongmal mianhae. Wajahku sungguh membawa masalah” ia bangkit berdiri “Aku…” sesalnya.

“Anni” tangan Jiyeon menahan pergelangan tangan Luhan “Jangan katakan itu!”

Alis Luhan berkerut bingung.

Jiyeon mensejajarkan posisinya tepat didepan Luhan “Aku menerimamu apa adanya oppa, masa bodoh jika mereka menyebutmu lebih cantik dariku, lebih muda dariku, bahkan adik tingkatku. Aku akan tetap bertahan disisimu oppa” akunya seraya menangkup pipi Luhan lalu menciumnya hangat, ia tak akan terpengaruh dengan ucapan Soojung, ia mencintai Luhan dan hanya Luhan yang memberinya rasa nyaman.

Bibir Luhan menyunggingkan tawa kecil, melihat Jiyeon dalam ekspresi seperti ini sungguh menyenangkan, Jiyeon nampak lucu dalam balutan ekspresi malu dan canggung.

“Ww-wae?” tanya Jiyeon terbata-bata, apa ucapannya salah?

“Jadi kau memang berharap kita berpisah?”

“ANNI”

“Tadi kau melarangku mengatakannya” tambah Luhan.

“Eoh, aku mencegahmu mengakhiri hubungan kita oppa”

“Jadi benar kau memang berharap hubungan kita berakhir” Luhan berbalik dan melangkah keluar cafe.

“Oppa, xiao Lu oppa” Jiyeon bergegas mengejar Luhan, sekali lagi ia tarik bahu Luhan hingga berbalik menghadapnya “Kau salah paham oppa, jebal percaya padaku” pintanya.

Luhan berpura-pura membuang muka dan melirik sekilas ekspresi wajah Jiyeon yang semakin sendu. “Arraseo, aku mengerti. Keundae, sama sekali tak terlintas dipikiranku untuk memintamu mengakhiri hubungan kita”

“Keundae tadi oppa…”

Tangan Luhan mencubit pelan pipi kanan Jiyeon “Makanya kalau aku belum selesai bicara jangan dipotong Jiyeon-a” ia dekatkan bibirnya dipipi Jiyeon “Aku tadi berpikir untuk operasi plastik dan membuang kecantikan dan keawet mudaan wajahku” bisiknya dengan senyum menggoda lalu berjalan mendahului Jiyeon.

“Mwo? Aishh jincha” Jiyeon berlari menghampiri Luhan dan melompat ke punggungnya, tentu saja Luhan dengan sigap membantu Jiyeon tergendong dipunggungnya “Igeo” tangan Jiyeon menyisir poni Luhan agar tegak berdiri “Bukankah kau suka David Beckham? Kau lebih tampan dan manly dengan rambut seperti ini oppa”

“Geurae, mohawk, spike, pompadour atau apapun itu akan ku ubah untukmu JIyeon-a” Luhan mengatur kembali posisi gendongan Jiyeon lalu berlari menjauhi cafe tadi “Wo ai ni, Park Jiyeon!” teriaknya kemudian.

.

Be Sociable, Like and comment please!

.

.

.

Thankiess  good readers ♥♥♥♥

11 responses to “[Oneshot] He’s Beautiful

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s