Love Labyrinth [Chapter 1]

image

Love Labyrinth
We never know where it take us
Written by. hikariakasaa
Chaptered [Chapter 1] || PG-15 ||Drama, School life
All Lovelyz & BTS Member
Lovelyz © Woollim Ent
BTS © BigHit Ent
Love Labyrinth © hikariakasaa
.
.

Saat itu liburan musim panas, Jiyeon berlibur ke rumah neneknya. Disanalah ia bertemu dengan cinta pertamanya. Entah perasaannya tersebut bisa dikatakan cinta pertama atau hanya sekedar cinta monyet. Usianya sangat muda saat bertemu dengan bocah itu. Bahkan terlalu muda untuk merasakan jatuh cinta dan patah hati. Tapi, yang Jiyeon tahu, perasaannya untuk bocah itu masih sama, tak berubah sedikit pun.
#Kim_Jiyeon

Jiyeon melangkah masuk mengikuti wanita paruh baya di depannya. Mrs. Han, guru yang akan menjadi wali kelasnya. Hari ini dia baru saja dipindahkan ke sekolah ini. Bukan karena orang tuanya dipindah tugaskan atau alasan lain yang akan biasa diungkapkan murid pindahan yang lainnya. Tapi alasan yang hanya dirinya sendiri yang tahu.
Akhirnya mereka tiba di ruangan kelas yang mereka tuju. Jiyeon dapat mendengar beberapa anak yang berbisik begitu ia memasuki ruangan itu. Tapi Jiyeon berusaha tak memperdulikan itu dan tetap memasang senyumnya. Berusaha seolah memunculkan imej baik kepada teman teman barunya itu.

“Annyeonghaseo, Kim Jiyeon Imnida-“ Belum selesai Jiyeon memperkenalkan dirinya, kalimatnya terhentikan oleh suara terbukanya pintu belakang kelas. Membuat semua murid mengalihkan perhatiannya ke belakang kelas.
Pria bersurai hitam –yang menjadi pusat perhatian– itu menundukkan kepalanya kepada Han ssaem kemudian melangkah menuju tempat duduknya yang berada di dekat jendela seperti tak terjadi apa pun.
“Baiklah, Kau duduk di sebelah Jimin,” Ucap Han ssaem kepada Jiyeon, melupakan bahwa murid di sebelahnya belum selesai memperkenalkan diri. Tapi tanpa banyak komentar Jiyeon hanya mengangguk. Mengadarkan pandangannya sampai seseorang mengangkat tangannya.
Jiyeon tahu itu bukan lah Jimin –karena bukan bangku di sebelahnya yang kosong, melainkan bangku di hadapannya–. Begitu sampai di bangku kosong itu pria bersurai orange –yang tadi mengangkat tangannya– itu tersenyum ke arahnya, Jiyeon membalas tersenyum kemudian duduk dibangkunya.
“Namaku Kim Taehyung,” Bisiknya memperkenalkan diri, “Dan itu lah yang bernama Jimin,” lanjut Taehyung menunjuk pria di sebelah kiri Jiyeon. Pria yang tadi terlambat masuk itu hanya diam menutup matanya dengan earphone di telingannya. Jiyeon tak dapat mendengar apa yang Taehyung katakan setelahnya, karena gadis itu kini tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Park Jimin, Tak tahukah kau betapa aku merindukanmu?
.
13 tahun yang lalu…
Jiyeon yang baru saja sampai di rumah neneknya langsung berlarian di halaman depan, seperti tak kehabisan energi untuk bermain. Tak peduli dengan panggilan neneknya yang menyuruhnya beristirahat sehabis perjalanan panjang dari Seoul.
Ia terus melempar bolanya tak tentu arah. Kemudian berlari mengambil bola itu untuk kembali dilemparkan. Terus menerus begitu membuat kedua orangtuanya was was. Takut anak semata watangnya terjatuh dan terluka. Sehingga mengurungkan niat mereka untuk beristirahat.
“Jiyeona~ simpan bolamu dulu, kita istirahat oke?” Ucap Ibunya menghampiri Jiyeon yang sedang bermain. Menahan kedua pundak anaknya agar berhenti berlari.
Jiyeon memajukan bibirnya kemudian menggeleng, “Shirreo!” ucapnya kemudian kembali berlari meninggalkan ibunya.
“Istirahatlah, biar aku yang menjaganya,” bisik sang nenek pada ayah Jiyeon.
“Tapi umma-“
“Sudahlah, ajak istrimu beristirhat,” Ucap nenek Jiyeon sambil tersenyum pada anak sulungnya itu.
Kedua orang tua Jiyeon pun pergi ke kamar untuk beristirahat membiarkan Jiyeon yang masih asyik bermain. Gadis kecil itu memang tak bisa diganggu jika sudah bermain bersama bola pantul kesayangannya.
Sampai terdengar samar samar suara dari kejauhan. Jiyeon yang penasaran melihat neneknya keluar menghentikan aktifitasnya. Ia melihat sepasang suami istri yang sedang menggendong seorang anak yang nampak habis menangis.
“Bagaimana keadaannya? Dia baik baik saja bukan?” Tanya nenek Jiyeon kepada sepasang suami-istri tersebut.
Sang suami tersenyum kemudian mengangguk sementara sang istri menurunkan bocah yang digendongnya setelah sampai di rumah mereka yang bersebrangan dengan rumah nenek Jiyeon. “Ia mendapat delapan jahitan,” ucap sang istri menepuk kepala anaknya pelan.
“Aigoo… apa kau menangis? Jagoan nenek tak boleh menangis,” Jiyeon menatap neneknya dan bocah itu bergantian. Dengan ragu ia mengikuti neneknya yang menghampiri keluarga kecil itu. Tanpa meninggalkan bolanya yang kini ia peluk erat.
Jiyeon terus diam memperhatikan neneknya yang sedang menghibur anak itu. Sampai sang ibu dari anak itu buka mulut, “Lihatah, nampaknya kau mendapat teman baru,” saat itu juga mata bocah itu teralih pada Jiyeon yang juga menatapnya.
“Oh iya, ini cucuku.. kau ingat anak sulungku bukan? Ini anaknya, Namanya Jiyeon.” Ucap sang nenek menghampiri cucunya dan mengajaknya untuk mendekat kepada bocah itu. “Ayo perkenalkan dirimu,”
“Annyeong, Kim Jiyeon Imnida,” ucapnya menundukan kepalanya member hormat.
“Aigoo… cucumu lucu sekali,” mendengar komentar dari wanita dihadapannya, nenek Jiyeon tersenyum bangga, “Umurnya sama dengan anakmu,” Ucapnya memberi tahu.
“Mana sopan santunmu? Perkenalkan juga dirimu,” titah sang ayah pada anaknya yang masih saja diam sedari tadi.
“A-annyeonghaseo, Jimin Imnida,”
Setelah itu mereka meninggalkan Jiyeon dan Jimin untuk bermain bersama. Keduanya harus menyiapkan makanan untuk makan siang mereka masing masing.
Tanpa ragu Jiyeon menghampiri Jimin dan duduk disampingnya, “Kau baru saja menangis ya?” tanyanya.
“Aniya, anak laki laki tak boleh mengangis,” Ucap Jimin sok jagoan mebuat Jiyeon terkikik kecil.
“Ummaku bilang tak apa jika menangis karena sakit, karena menangis akan mengurangi rasa sakitnya dan jika kita menahannya itu akan semakin sakit.” Ucap Jiyeon polos. Sebenarnya ia juga tak mengerti dengan apa yang baru saja ia katakan.
“Pagi ini aku terjatuh di kamar mandi. Dan aku mendapat jahitan. Lihat,” ucap Jimin sambil menunjuk bekas jahitan yang nampak baru di dekat mata kirinya seolah bangga.
“Pasti sakit,” Ucap Jiyeon meringis.
“Tidak lagi sekarang,” Ucap Jimin terkekeh kecil.
Sejak saat itu mereka pun menghabisakan libur musim panas mereka dengan bermain bersama. Jiyeon yang merupakan anak yang tomboy membuat mereka tak kesulitan untuk menentikan permainan yang akan mereka mainkan. Karena Jiyeon tak pernah mengajak Jimin bermain boneka atau pun rumah rumahan seperti anak perempuan pada umumnya.
Sampai suatu saat liburan hampir berakhir, mereka datang ke pernikahan paman Jiyeon. Dari awal, memang ini lah tujuan keluarga Jiyeon ke Busan. Untuk mengurus dan menghadiri pernikahan adik sang ayah. Tentu saja keluarga Jimin yang merupakan tetangga mereka pun ikut diundang.
Melihat pernikahan secara langsung untuk pertama kalinya membuat Jiyeon membayangkan dengan siapa nanti ia akan menikah. Dan entah kenapa di bayangannya Jimin lah yang muncul sebagai pasangannya. Membayangkan hal itu membuatnya tersenyum malu. Jujur saja, dari saat pertama kali bertemu Jimin, Jiyeon menyukai anak itu terlebih senyum dan suara tawanya.
“Aku jadi membayangkan jika aku menikah nanti,” ucap Jiyeon pelan tapi bisa terdengar oleh Jimin yang berdiri di sampingya.
“Kau masih kecil Jiyeon ah,” Seolah tak mendengar perkataan Jimin, Jiyeon malah bertanya pada teman kecilnya itu, “Jika sudah besar nanti, apa kau akan menikahiku?” tanyanya polos.
Jimin malah tertawa renyah mendengar pertanyaan itu, “Itu tidak mungkin. Kau itu seperti laki-laki. Aku akan menikahi perempuan yang lucu, dan feminim. Tak sepertimu.” Ucap Jimin dengan nada meledek.
Tanpa disadari air mata mulai muncul di mata milik Jiyeon, “ta..tapi…a-ku..hiks..me..nyukai..mu..” Tanpa melihat respon dari Jimin, Jiyeon berlari menuju ibunya. Memeluk kaki ibunya erat erat. Memintanya untuk lekas pulang ke Seoul.
.
“Ingin ikut kami ke kantin?” Tanya Taehyung membuat Jiyeon mendongkak menatapnya, tanpa menunggu Jiyeon menjawabnya, Taehyung langsung menarik lengan Jiyeon. Membuat gadis itu tak bisa melakukan apapun selain mengikuti kemana Taehyung melangkah.
Jiyeon tersenyum ketika tahu bahwa pria di sampingnya ini mengikuti langkah Jimin. Ia dapat menyimpulkan kalau kedua pria itu berteman baik. Seolah melupakan Taehyung yang kini masih mengenggam pergelangan tangannya, pikiran Jiyeon tenggelam dengan pikirannya tentang pria bernama Park Jimin.
Namun lamunan itu tak berlangsung lama. Untuk pertama kalinya –setelah tak bertemu selama 13 tahun– Jiyeon melihat senyum berkemang di wajah Jimin. Ia mengikuti kemana mata Jimin tertuju. Seorang siswi melambaikan tangan ke arah mereka, atau lebih tepatnya Jimin.
Begitu sampai di meja itu Jimin langsung duduk di samping gadis itu. Mereka nampak seperti pasangan –Ah, mereka memang sepasang kekasih. Bahkan salah satu dari pasangan terkenal disekolah itu. Jimin adalah ketua klub vokal tahun lalu, dan kekasihnya adalah orang yang menggantikan posisi Jimin sekarang.
Jiyeon tak tahu apa ia bisa tersenyum sekarang. Ia bahkan tak tahu apa yang kini ia rasakan sedih, kecewa, dan menyesal. Jiyeon tak tahu yang mana yang lebih dominan, tapi dadanya terasa begitu sesak.
“Dia murid baru di kelas kita,” dan sekarang untuk pertama kalinya Jiyeon mendengar suara Jimin lagi. Ada rasa kesal karena pertama kali mendengarnya adalah saat Jimin berbicara dengan orang lain dan bukan dirinya.
“Namanya,” “Kei,” Jiyeon buru buru memotong ucapan Taehyung, membuat Taehyung menatapnya heran.
“Aku biasa dipanggil Kei,” Ucap Jiyeon menjelaskan. Sebenarnya itu tidak bohong, Beberapa temannya dulu memanggilnya dengan nama itu.Tapi alasan Jiyeon mengatakan itu adalah ia tidak siap untuk melihat Jimin yang tidak memiliki reaksi apapun saat mendengar namanya.
“Park Myungeun,” Ucapnya mengulurkan tangannya. Walaupun sempat ragu Jiyeon menyambut tangan Myungeun.
“Aku boleh memanggilmu eonni bukan?” Tanya Myungeun meminta izin, Jiyeon hanya tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.
.
“Kau lihat bukan? Sunbae itu mirip sekali dengan mu!” Ujar seorang siswi yang rambutnya dikepang dua pada temannya dengan semangat. Sementara gadis disebelahnya hanya memutar bola matanya malas.
“Ya, aku sudah mendengarnya berkali kali. Tapi, Serius? Kau juga menyamaiku dengan seorang laki laki? Kita sama sekali tidak mirip!” Tegasnya melipat tangan di depan dadanya menatap sahabatnya itu kesal.
“Sadarlah Jeong Yein, kalian memang mirip.” Balas siswi berambut pirang itu tak mau kalah.
Gadis yang dipanggil Yein itu hanya menyeringit, “Baiklah Kim Yeri, terserah apa katamu,”
Yeri pun tertawa mendengar ucapan Yein, merasa memenangkan perdebatan mereka. Ia menghentikan tawanya ketika teringat sesuatu, “Oh ya, hasil pemilihan manager klub basket keluar nanti sore bukan?” Yeri terdiam sebentar, membuat Yein mengangguk sebagai jawaban.
“Ku harap kau akan terpilih,” Yein hanya tersenyum ketika mendengar itu. Sebenarnya Yein tak berniat mendaftarkan diri sebagai manager klub basket. Tapi apa yang bisa ia lakukan saat orang yang memintanya ikut mendaftar adalah pelatih Jeong, Ayahnya sendiri.
“Dengan begitu, kau akan lebih sering bertemu dengan sunbae itu,” Ucap Yeri lagi membuat Yein menatapnya tak percaya.
.
“Jadi, Bagaimana persiapan untuk penyambutan mahasiswa baru besok?” Tanya Namjoon selaku ketua mahasiswa. Kini semua perwakilan dari masing masing perkumpulan sudah berkumpul di ruang rapat.
“Semuanya sudah siap, Tapi kita harus mengganti MC untuk besok. Karena ternyata Minhyuk dan Joohyun tak bisa hadir besok.” Lapor Seokjin, sang sekretaris melaporkan situasi yang terjadi.
Semua yang hadir mengerang, berharap bukan mereka yang akan menggantikan kedua orang itu untuk menjadi pembawa acara. Lagi pula siapa yang bisa bersiap siap menjadi pembawa acara dalam setengah hari satu malam?
“Bagaimana kalau Yoongi dan Jiae?”
“SETUJU!” Semua orang –yang merasa namanya tak disebut–langsung berseru, bukti tanda syukur mereka karena namanya tidak disebut oleh Namjoon.
“APA? AKU TIDAKMAU! APA LAGI BERSAMA DIA!” Ucap keduanya bersamaan membuat Seokjin dan Namjoon menahan tawa.
“Kalian bahkan sudah kompak, keputusan sudah dibuat. Kalian lah pembawa acaranya.” Ucap Namjoon yang langsung dicatat oleh Seokjin tanda keputusan sudah diresmikan.
.
“Sudah kuduga, Kau pasti terpilih” Ucap Yeri menepuk pundak Yein memberi selamat. Sementara Yein hanya mengeluh, sebenarnya ia berharap tak akan diterima menjadi manager klub basket. Karena ia yakin hal itu pasti sangat melelahkan.
“Ya ampun, Ini sudah hampir jam empat. Cepat sana pergi kelapangan!” Seru Yeri mendorong dorong pundak Yein–seolah Yein adalah mobil mogok–sampai gadis itu berjalan sendiri.
Akhirnya Yein sampai dilapang basket, duduk di salah satu bangku di pinggir lapangan. Menunggu semua klub basket berkumpul. Namun kemudian pelatih Jeong datang duluan, berdiri di samping bangku panjang yang diduduki Yein.
“Kau terpilih karena banyak anggota yang memilihmu, bukan karena Ayah,” Ucap lelaki paruh baya itu. Meyakinkan anaknya bahwa tak ada nepotisme yang terjadi dalam pemilihan manajer klub basket itu.
Yein hanya memutar bola matanya, kemudian mengangguk. Yein berusaha untuk percaya pada Ayahnya.
“Hari ini hanya tes kesehatan, dan beberapa tes dasar. Usahakan kau menghafal wajah dan nama mereka. Arraso?” Yein mengangguk, Ia cukup yakin karena Ia memiliki ingatan yang cukup cepat dan kuat.
Setelah semua anak berkumpul dilapangan dan mendengar semua pengarahan dari sang pelatih, mereka pun pindah ke lapangan basket Indoor yang ternyata sudah disiapkan oleh manajer utama dan beberapa senior.
“Perkenalkan, Namaku Ryu Sujeong. Manager baru bukan?” Sapa sang manager utama dengan senyum ramahnya.
Yein mengangguk, “Ya, Jeong Yein Imnida,” Ucapnya.
“Aku sudah tahu, tugasmu mencatat tinggi dan berat mereka, oke?” Titah Sujeong memberikan papan dada yang sudah terselipkan beberapa lembar kertas. Disana sudah ada foto, nama dan beberapa informasi tentang masing masing anggota.
“Kau Juga yang nanti memasukan hasil tes lainnya ke dalam kertas itu.” Ucap Sujeong lagi, membuat Yein menatapnya tak percaya. “Aku tahu itu sulit, aku juga merasakannya saat menjadi manager junior sepertimu. Tapi percaya lah, Itu yang membuatmu mengingat mereka lebih cepat,” ucap Sujeong menepuk pundak Yein kemudian meninggalkan gadis malang itu menatap file di genggamannya.
.
Yein menelan ludah ketika melihat nama anggota yang harus ia panggil berikutnya. Siapa lagin kalau bukan Jeon Jungkook. Senior yang selalu ia dengar namanya setelah masuk ke sekolah itu. Yein mengambil nafas dalam dalam, “Jungkook sunbae,”
Mendengar namanya dipanggil, Jungkook langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju alat ukur berat itu. Seperti yang seharusnya ia berdiri tegap dan meluruskan wajahnya ke depan. Tapi ia tak bisa menahan matanya untuk berhenti melihat sang manajer basket yang kini sedang menatap angka di timbangan itu.
“Sekarang kita ukur tinggimu,” ucap Yein, menunjuk dimana Jungkook harus berdiri dengan pulpen yang di pegangnya. Sebenarnya hal ini yang melelahkan bagi Yein. Yein harus menaiki kursi untuk melihat angka yang ditunjukan oleh penggarisnya.
Yein menyimpan papan dada dan pulpennya kemudian mengambil penggaris yang berfungsi untuk meluruskan tinggi Jungkook dengan pengukur tinggi yang menempel di dinding itu. Entah apa yang membuat Yein lebih gugup kali ini sampai membuatnya kehilangan keseimbangan saat menaiki kursi. Beruntung Jungkook menahan Yein saat ia hampir terjatuh, membuat Jungkook tanpa sengaja memegang pinggang Yein.
Tentu saja Yein terkejut sekaligus merasa lega, tapi tak dapat menahan malunya ketika mendengar sorakan dari anggota basket yang lainnya. Yein memang menjadi orang pertama yang mengecek mereka. Jadi beberapa anggota yang menunggu namanya dipanggil oleh Yein menunggu disana sambil ‘menonton’ Yein mengukur berat dan tinggi anggota lainnya.
“Berhati-hatilah,” bisik Jungkook pelan yang tentu saja dapat didengar oleh Yein mengingat sedekat apa mereka sekarang. Tanpa melihat Jungkook, Yein mengangguk membuat Jungkook melepaskan tangannya dan Yein pun dapat berdiri tegak di kursi kemudian mengukur tinggi pria itu.
Baru saja Yein ingin mengambil kembali papan dadanya untuk menuliskan hasil pengukuran tinggi Jungkook. Seruan dari salah satu anggota menghentikan langkahnya, “Manager Jeong, bisakah kau berdiri di samping Jungkook?” Yein menatap senior yang menyuruhnya itu bingung.
“Jungkook, berdirilah di samping manager,” ucapnya setelah Yein tak mengikuti perkataannya. Dengan polosnya Jungkook mengikuti perkataan temannya dan berdiri disamping Yein. Membuat beberapa anggota lain terkesiap.
“Mereka mirip bukan?”
“Se-sedikit,” Komentar yang lain.
“Sedikit apanya? Kurasa mereka sangat mirip,”
“Apa kalian bersaudara?”
“Kurasa mereka akan menjadi pasangan yang serasi,” Blush. Komentar itu membuat pipi keduanya memerah. Terlebih Yein yang memang tak terbiasa berada disituasi semacam ini.
“Ya! Bagaimana bisa? Itu akan menjadi Incest,” Komentar yang lain membuat anggota lainnya tertawa.
“Jeon Jungkook! Kau tak akan melanjutkan test shooting?” Jungkook yang merasa terpanggil menoleh, Sujeong sudah menatapnya dengan tatapan membunuh. Menyuruh pria itu agar segera menghampirinya. Tanpa banyak babibu Jungkook pun segera meninggalkan Yein dan sekumpulan anggota basket yang mulai berhenti tertawa.
Hening sesaat, Yein masih terdiam. Entah apa yang dipikirkannya sampai seorang anggota memberanikan diri menyadarkan Yein, “Manager Jeong, Kita akan melanjutkan tesnya bukan?”
Yein membelakan matanya tersadar lalu dengan cepat mengangguk, mengambil papan dada untuk memanggil anggota berikutnya. Namun tangannya terhenti ketika melihat data pada kertas paling atas itu.
Sial, Ia lupa tinggi Jungkook barusan.
.
.
.

|| To Be Continued ||


Next chapter *spoiler*
.
“tak keberatan jika aku meminta nomer ponselmu?”
.
“Aku sial sekali hari ini,”
“Jika kau sial berarti aku super sial”
.
“Aku mendapat masalah besar”
“Aku bisa membantumu,”
“Tidak, Jangan dengannya..”
.

.
Oke, cukup segitu dulu ne~
(mohon maaf karena lama update, kemaren2 modem abis dan warnet masih pada tutup *bow*)
Gimana? Mohon kasih comment ya, hargai author yang udah ngetik chapter ini semaleman :’)
Author bakal fast update kok kalau kaliannya rajin komen, soalnya komen kalian samangat author –apalagi kalau komennya panjang*plak–😀
.
Tunggu next chapter-nya ne?

Ppyong~

11 responses to “Love Labyrinth [Chapter 1]

  1. Ini belom semuanya muncul ya, eh udah sih ya cuma yg masuk ke ceritanya masing masing masih beberapa~ nungguin suga sama jiae ehehe
    Next part soon

    • Iya nih, belum muncul semua ( jhope mijoo sama baby soul belum ada) soalnya chapter ini fokus sama yang di sekolah kkk
      sipp deh, next chapter (aku usahain) mereka ‘beneran’ muncul😀

    • eh.. ada sudut pandang orang pertama kah? Ini semuansudut pandang orang ketiga kok.
      kalau ada yang dimaksud cetak miring itu emang sengaja aku gituin, (yang awal misanya) aku kasih tau dulu ‘jiyeon tenggelam dalam pikirannya’ berarti yang dimiringin itu pikiranya jiyeon.
      Tapi kalau emang membingungkan nanti gak aku gituin lagi di chapter chapter berikutnya🙂

  2. di tunggu crita selanjutnya,,,tp lebih d perbaiki saat pergantian pov nya biar g membingungkan baca nha ,,,ok semangat buat aouthor ~~

    • Sebenernya gak ada pergantian pov sih.. disini semuanya pov orang ke tiga. tapi kalau emang membingungkan aku perbaiki deh, (mungkin aku ganti ke orang pertama aja biar gak pada bingung kkk) makasih masukannya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s