Ombrophobia

Ombrophobia3

Title : Ombrophobia

Author : Atatakai-chan

Length : Oneshot

Genre : AU, Friendship, slight!Hurt/Comfort

Rating : G

Seoul, 21 April 2007

“Donghyun-ah! Selamat ulang tahun!” Dua orang laki-laki bertubuh besar -tinggi, bukan gemuk, berjalan sambil mengelilingi seorang laki-laki yang tak kalah besarnya dari mereka.

“Hahaha! Hentikan, babodeul! Kalian membuatku malu saja!” Donghyun yang baru saja mendapatkan gelar laki-laki tertampan di SMA H berjalan cepat, berharap meninggalkan teman-temannya yang menurutnya konyol itu.

Mwo? Kau berani memanggil seniormu ini bodoh?” Laki-laki yang paling pendek di antara ketiganya merangkul leher Donghyun dengan lengan kiri sementara lengan kanannya mengacak-acak rambut Donghyun yang berwarna coklat pekat.

“Ah, ah, maafkan aku, Hyunseok seonbaenim.” Donghyun dengan lincah melepaskan diri dari rangkulan si laki-laki pendek yang bernama Hyunseok itu kemudian menghentikan langkahnya dan membungkuk 90 derajat.

Tingkah lakunya mengundang gelak tawa Hyunseok dan laki-laki satu lagi yang sedari tadi berjalan di belakang Donghyun dan Hyunseok.

.

.

.

.

Donghyun mengeluarkan alat-alat tulis beserta buku-buku dari dalam tasnya dan meletakannya secara teratur di atas meja. Tempat duduknya yang berada di dekat jendela tidak pernah gagal menyebabkannya tergoda untuk menengok ke luar. Terkadang menurutnya pelajaran itu bisa menjadi membosankan.

“A-anu maaf, apa bisa kita bertukar tempat duduk?”

“Eh? Lagi? Tentu saja Haewon. Aku tidak keberatan. Tapi apa kau tidak apa-apa duduk di pojok belakang?”

“Ya, aku yakin aku tidak akan apa-apa.”

Pandangan Donghyun beralih ke pada Haewon yang seharusnya duduk di depannya. Sudah beberapa kali dalam seminggu ini laki-laki yang pernah tinggal di Russia itu meminta untuk bertukar tempat duduk dengan laki-laki yang duduk di pojok belakang ruang kelas.

“Haewon-ah. Kau baik-baik saja kan?” Donghyun tak dapat menghentikan pertanyaan terlontar dari mulutnya.

“.. A-ah. Iya aku tidak apa-apa.”

Donghyun mengerenyitkan dahinya mendengar jawaban yang seakan tidak pasti dari sahabatnya itu.

“Kau yakin? Perlu aku temani duduk di belakang?” tawar Donghyun seraya bangkit dari tempat duduknya.

Haewon menggeleng cepat. “Tidak perlu.”

“Aish, sudahlah, tidak apa-apa. Lagipula aku juga sedang malas memperhatikan pelajaran.”

Sifat Donghyun yang keras kepala ini menurut kepercayaan adalah karena dia lahir di bulan April, ia seorang Aries. Dengan senyuman lebar ia kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan berjalan menyusul Haewon ke bagian belakang kelas.

.

.

.

.

Pelajaran baru dimulai satu jam yang lalu namun, tidak hanya Donghyun tetapi murid-murid yang lain juga, sudah tampak bosan. Ada beberapa yang sudah menguap puluhan kali. Donghyun menyenderkan bagian atas tubuhnya ke sandaran kursi. Menurutnya duduk di belakang cukuplah menyenangkan untuk murid yang bisa dikatakan tidak terlalu rajin seperti dirinya. Otaknya mulai berputar mencari jawaban apa yang membuat murid rajin seperti Haewon ingin duduk di belakang.

“Oy, Haewon.” Donghyun berbisik, berharap terdengar oleh laki-laki yang duduk di sebelah kanannya.

Haewon sama sekali tidak menoleh. Laki-laki berkulit putih itu sedang sibuk menuliskan penjelasan yang diberikan oleh guru ke atas buku catatan miliknya.

“Hmph. Orang aneh.” gumam Donghyun pelan sambil perlahan mencondongkan badannya ke depan dan membiarkan bagian atas tubuhnya menempel pada meja.

JLEGAAR!

Suara petir cukup kencang sehingga berhasil membuat perhatian beberapa orang murid terusik.

“Wah! Itu menganggetkan sekali! Ya kan Haewon?”

Donghyun menoleh ke arah Haewon dan langsung dikejutkan oleh apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Seluruh tubuh Haewon seakan menegang, peluh membasahi keningnya, dan pulpen yang selama ini berada erat dalam genggamannya jatuh ke atas lantai.

“H-hey. Haewon? Kau baik-baik saja kawan?” Dengan ragu Donghyun menjulurkan legannya, berniat untuk menepuk pundak Haewon.

Namun belum sampai tangan Donghyun di pundak Haewon, laki-laki berambut hitam gelap itu sudah menyenderkan dirinya sendiri ke atas meja, membuat kedua lengannya sebagai tatakan untuk wajahnya dan badannya bergetar cukup hebat.

“HAEWON-AH! KAU BAIK-BAIK SAJA? HAE-”

“HEY KAU YANG DI BELAKANG! DIAM!”

“ANDA TIDAK USAH PEDULIKAN SAYA!” Donghyun dengan galak menyentak balik kepada guru yang berada di depan kelas.

Kejadian tadi membawa shock kepada semua yang ada di kelas, khususnya para murid perempuan karena mereka selalu berpikir bahwa Lee Donghyun si murid paling tampan di SMA H adalah orang yang kalem.

“HAEWON-AH! BERTAHANLAH!” Donghyun benar-benar sudah bangkit dari tempat duduknya dan kini mengguncang-guncang tubuh Haewon.

.

.

.

.

Haewon membuka matanya, pertama kali yang ia lihat adalah wajah Donghyun. Laki-laki berwajah kecil itu nyaris saja melompat dari ranjang yang ia tiduri karena merasa kaget.

“Maaf, aku mengagetkanmu ya?” Donghyun berhenti mencondongkan wajahnya.

“… Ini di mana?” tanya Haewon yang masih agak linglung.

“Coba tebak di mana. Kalau kau benar aku akan mentraktirmu makan nanti malam.”

“Berhenti bercanda!”

Donghyun mengerutkan dahinya. Belum pernah dalam seumur hidupnya ia melihat Haewon seperti ini. Jung Haewon yang ia tahu adalah seorang laki-laki yang sangatlah tenang walaupun menjadi korban keisengannya dan juga Hyunseok.

“Kau kenapa?” tanya Donghyun.

Seolah menyesali perbuatannya barusan, Haewon terdiam, tangannya meremas dengan erat tepian selimut yang menutupi dadanya.

“Maafkan aku. Aku tidak apa-apa Donghyun.”

Donghyun menghela napas, ia tahu Haewon sedang berbohong. Mereka sudah berteman semenjak mereka masih duduk di bangku SD sehingga kejanggalan apapun yang terjadi pada Haewon tidak akan luput darinya.

“Sebaiknya kau istirahat saja, tidak usah khawatir dengan pelajaran hari ini. Aku akan mencatatkannya untukmu,” Donghyun berujar seraya pergi meninggalkan ruangan kesehatan.

.

.

.

.

Jam istirahat sudah tiba namun hujan masih belum berhenti, bahkan menjadi semakin deras. Donghyun melangkahkan kakinya masuk ke ruang guru untuk menemui Kim seonsaengnim. Bagaimanapun ia merasa tidak enak karena sudah membentak, ia memutuskan untuk meminta maaf pada gurunya itu.

“Selamat siang seonsaengnim.” Donghyun membungkuk 90 derajat.

“Oh, kau. Ada perlu apa kemari?”

Donghyn dengan gugup membuka mulutnya, “Saya kemari untuk minta maaf seonsaengnim. Saya benar-benar minta maaf.” Laki-laki berhidung mancung itu kembali membungkuk di hadapan gurunya.

Sang guru menghela napas. “Tidak apa-apa. Saya mengerti perasaanmu. Tadi sahabatmu sakit bukan?”

Donghyun mengangguk mengiyakan.

“Apakah ia sudah baik-baik saja sekarang?”

“Ya, kurasa ia sudah membaik. Tadi sebelum saya tinggalkan, ia sudah membentak saya, jadi saya rasa ia sudah baik-baik saja.” Donghyun tertawa kecil.

“Baguslah kalau begitu.” sahut Kim seonsaengnim.

“Saya permisi du-”

“Kurasa kau harus memperhatikan Haewon, Donghyun-ssi. Ia sepertinya terlalu sibuk belajar sehingga tidak memperhatikan kondisi tubuhnya.”

“Eh?”

Donghyun tidak mengerti. Menurutnya selama ini Haewon sehat-sehat saja, bahkan ini adalah kali pertama baginya melihat Haewon seperti tadi.

“Kau tidak tahu?”

Donghyun menggelengkan kepalanya walaupun dalam hati ia bertanya apa yang tidak ia tahu mengenai sahabatnya yang selalu sekelas dengannya semenjak awal masuk SMA.

“Ia selalu begitu kan? Saya pernah melihatnya meringkuk seperti tadi. Hanya saja tadi benar-benar berbeda. Apa ia tipe yang mudah masuk angin?”

Donghyun tertegun.

“… Masuk angin?”

“Kau tidak memperhatikannya? Setiap cuaca mendung atau hujan turun ia selalu begitu.”

 

Hujan turun dengan amat deras dan anak laki-laki berkulit putih itu tak bisa mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang berada tepat di depan matanya.

“T-tolong aku… S-sakit sekali…”

Ia menelan ludahnya sendiri. Genangan air hujan di bawah kakinya yang tadinya berwarna bening kini mulai keruh kemerahan.

“H-haewon ah….”

 

Kedua mata Donghyun melebar. Untuk sekian detik ia terpaku sebelum akhirnya ia membungkuk kepada Kim seonsaengnim dan berjalan keluar dari ruang guru. Mulutnya bergerak mengatakan sesuatu namun tanpa suara, dan ia pun menghela napas panjang.

.

.

.

.

Donghyun dan Haewon berjalan dalam diam menyusuri lorong lantai 2 gedung tempat mereka menuntut ilmu. Keadaan yang hening itu membuat Haewon bingung namun ia tidak berani mengatakan apa-apa.

 

“Haewon-ah… Kenapa kau meninggalkanku?”

Air mata mengalir dari kedua mata Haewon.

“S-sakit sekali…”

“… A-aku…”

“Haewon-ah…”

 

“Haewon! Jung Haewon!” Lamunan Haewon terbuyar karena tubuhnya tergoncang-goncang.

“A-h iya? Ada apa?” Ia mengerjapkan matanya sebelum menaikan matanya untuk menatap Donghyun.

“Kau mau pulang tidak? Mau sampai malam di sini?” tanya Donghyun yang sudah membalikan badannya dan mulai berjalan mendekati pintu keluar gedung SMA H.

Haewon menatap lurus ke depan melihat bahwa hujan masih turun. Ia menggigiti bibir bawahnya, berusaha mempercepat langkahnya untuk menyusul Donghyun yang sebentar lagi sampai ke pintu keluar gedung.

“D-donghyun! Masih hujan!” Ia menarik lengan Donghyun yang sudah melangkahkan kakinya keluar pintu gedung.

Laki-laki dengan bibir seksi itu menoleh ke arah Haewon yang kini kedua matanya melebar dan napasnya tidak beraturan. “Lalu kenapa kalau masih hujan?” tanyanya dingin.

“T-tapi…”

“Kalau kau tidak ingin pulang ya terserah kau saja. Tapi aku ingin segera pulang dan menyantap kue ulang tahunku. Kau bisa pulang sendiri kan?” Donghyun menepuk-nepuk bahu Haewon sebelum berjalan keluar dari pintu sembari melambai-lambaikan tangannya.

Haewon melangkahkan kakinya untuk menyusul Donghyun namun belum sampai 3 detik ia kembali mundur ke posisinya semula. Hujan yang seakan mentertawakan tingkahnya itu turun semakin deras dan perlahan membuat Donghyun nyaris hilang dari pandangannya.

‘Donghyun-ya jangan pergi…’

‘Kumohon Donghyun-ya! Berhenti!’

Hujan yang turun amat deras ditambah angin bertiup cukup besar membuatnya sulit untuk melihat namun secara samar-samar ia dapat melihat Donghyun terpeleset dan tanpa menunggu apapun lagi ia langsung berlari keluar dan menahan tubuh sahabatnya itu yang 10cm lagi akan mengenai tanah.

Kedua mata Haewon terbuka dengan lebar seolah-olah di hadapannya terjadi insiden 9 tahun lalu. Kedua matanya yang sudah mengalirkan air mata kini ia pejamkan dengan sangat kuat.

“Maafkan aku Donghyun-ya, maafkan aku!”

“…. Haew-”

“Aku seharusnya tidak meninggalkanmu! Aku seharusnya tidak membuatmu mengejarku!”

“Hey, Jung Haew-”

“Maafkan aku! Kau tidak bisa lagi bermain sepakbola karena a-”

Haewon merasakan semprotan air di wajahnya, ia membuka matanya dan melihat Donghyun sedang meraup-raup air dengan tangannya.

“Dasar bodoh.” ujar Donghyun sebelum menyemburkan air yang ada dalam genggamannya ke wajah Haewon.

“Kau benar-benar bodoh, sobat.” Donghyun bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Haewon yang sedari tadi bersimpuh karena menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

“Sudah kukatakan bukan? Itu bukan salahmu. Itu jelas-jelas kesalahan si pengemudi mobil itu.”

Haewon tidak bergerak sama sekali, air mata masih membanjiri wajahnya bersamaan dengan air hujan.

“Aish. Ayolah berdiri! Kau jadi bahan tontonan tahu!” Dengan kuat Donghyun menggenggam lengan Haewon dan menariknya berdiri.

Tubuh Haewon yang bergetar membuat Donghyun menghela napas.

“Baiklah. Kalau ini bisa membantumu menghilangkan phobiamu  maka akan kukatakan. Aku memaafkanmu.”

~FIN~

author’s note:

Halo semuanya, salam kenal ya😀
Atatakai-chan di sini dengan fanfic perdana di FFIndo!
Sebenarnya fanfic ini aku buat untuk dasar fanfic yang akan datang (sudah dalam proses pengetikan). Ya semacam teaser pengenalan tokoh gitu, hanya saja dalam bentuk fanfic.
Supaya para readers juga sudah punya gambaran mengenai para tokoh untuk fanfic yang akan aku post. (SPOILER ALERT: Series)

Bagaimana menurut kalian tentang Ombrophobia ini?
Tolong tuliskan di comment box pendapat kalian
mengenai fanfic ini ya.
Aku dengan senang hati akan terima❤

Oh iya, untuk kalian yang tidak tahu apa itu Ombrophobia, aku kasih tau ya😀
Ombrophobia itu phobia hujan.

3 responses to “Ombrophobia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s