Athazagoraphobia

Athazagoraphobia

Title : Athazagoraphobia

Author : Atatakai-chan

Length : Oneshot

Genre : AU, Friendship, School life

Rating : G

Cast(s):
1. LU:KUS Donghyun as Lee Donghyun [Main]
2. LU:KUS J-One as Jung Haewon [Mentioned]
3. Ghun (of disbanded group X-5) as Son Hyunseok [Mentioned]

“Hey lihat, wajahnya tidak seperti kita!”

“Ih, jelek sekali. Ada apa dengan hidung kecilnya itu?”

“Lihat! Rambutnya tidak hitam!”

“Ah iya kau benar rambutnya tidak hitam! Apakah ketumpahan cat?”

“Kau tidak boleh duduk di sini! Pergilah!”

.

.

.

.

“Mom? Kau dimana?”

Hening. Ruang tamu yang biasanya ramai oleh suara TV itu kali ini sangatlah sepi.

“Mom?”

Anak laki-laki berambut coklat pekat itu duduk di depan TV sembari memegangi perutnya yang terasa sakit dan perih. Sudah berkali-kali ia menengok ke belakang, ke arah pintu yang sengaja ia buka.

“Lapar…” ia meringis, pandangannya yang semula terpaku pada TV di hadapannya kini berpindah ke arah pintu.

Matahari sudah terbenam, keadaan cukup gelap, dan untuk anak berumur 5 tahun tentu saja pemandangan itu sangat menakutkan. Perlahan air mata mulai bercucuran dari kedua matanya.

“Mom, kau di mana? Hiks. Cepat pulang. A-aku takut…”

“Hiks, hiks…”

“… Aku takut.”

.

.

.

.

“Ayo! Kejar aku! Hahaha!” Seorang anak laki-laki berambut hitam pekat berlari mundur mendahuluinya.

“Ng! Jangan tinggalkan aku Haewon-ah! Tunggu!” Dengan napas tersenggal-senggal ia berlari menyusul temannya yang sudah berada cukup jauh di depannya.

“Hah.. hah…” Ia sudah sangat lelah namun ia tidak mau berhenti.

Ia tidak mau kalah.

Ia tidak mau ditinggalkan.

Ia benci ditinggalkan.

“Ugh!” Genangan air hujan menyebabkan jalanan menjadi licin lebih dari biasanya dan hal itu cukup untuk membuatnya terpeleset.

“Donghyun-ya awas!”

Ia menoleh dan sebuah benda beroda empat melaju semakin dekat ke arahnya.

oOOo

Seoul, 18 Juni 2002

“Tenang saja Donghyun, tidak perlu terburu-buru.”

“Iya aku tahu tapi kan.. Ugh!” Dengan gusar Donghyun membuka kembali dasi yang ia kenakan.

Laki-laki yang berdiri di hadapan Donghyun tertawa geli.

“Kau tidak akan berhasil mengenakan dasimu apabila kau terburu-buru.”  Kedua lengannya yang panjang meraih dasi yang bertengger di sekitar leher seragam Donghyun dan dengan sangat perlahan tangan yang cekatan itu menyimpulkan dasi dengan rapi.

Cool!”

“Apanya? Hahaha. Kau saja yang bodoh. Ayo, kita berangkat.”

.

.

.

.

“Hahh… hah…” Kedua laki-laki dengan tinggi di atas 175cm itu terengah-engah sambil berjongkok bersandar di dinding gerbang SMP J yang sudah terkunci.

“Ah! Sial!”

“Haewon-ah, coba kau tengok ke dalam.”

Laki-laki berambut hitam bernama Haewon itu mengangguk. Tak lama kemudian ia memberikan tanda OK dengan jarinya.

“Baiklah! Ayo kita masuk.”

Haewon mengangguk mengiyakan ajakan Donghyun.

Dengan tinggi mereka yang sudah hampir mencapai 180cm, keduanya dengan mudah memanjat dinding yang seharusnya adalah penghalang. Tanpa mengeluarkan suara apapun keduanya berhasil menginjak permukaan tanah di balik dinding SMP J dan sambil menenteng tas masing-masing, keduanya berlari menuju ke pintu gedung SMA J yang untungnya masih terbuka.

.

.

.

.

“Hey!”

Haewon menoleh ke arah Donghyun yang melambai-lambai ke arahnya.

“Ah! Disitu kau rupanya. Aku pikir tadi kau sudah keluar lebih dulu.” Haewon berhenti melangkah dan memutar tubuhnya.

Dengan sedikit mendesak-desak kerumunan siswa yang berjalan bergerombol keluar dari aula, Donghyun mendekati Haewon yang berada di tengah-tengah kerumunan siswa. Tanpa ia sadari ia memberikan ekspresi yang menurut Haewon tidak enak dilihat.

“Hey! Kenapa wajahmu seperti itu?”

“Tidak apa-apa. Ayo kita ke kelas sekarang. Kau kelas 7-5 juga kan?”

Haewon mengangguk. “Yap. Ayo, kita cari tempat duduk yang strategis.”

oOOo

Seoul, 25 Juni 2003

“Haewon-ah! Kau kemana saja!?” Donghyun berlari mendekati Haewon yang baru saja keluar dari perpustakaan.

“Oh, maaf. Aku baru saja belajar bersama dengan seorang seonbae.” ujar Haewon seraya melepaskan kacamatanya.

“Ah, itu dia!” lanjut Haewon sambil menunjuk ke arah seorang laki-laki yang tingginya tidak kalah dai mereka.

“Hyunseok seonbae!” Haewon melambai-lambai dan lambaiannya di balas oleh laki-laki bernama Hyunseok itu.

“Oh. Halo. Son Hynnseok imnida.” Hyunseok mengulurkan tangannya pada Donghyun, mengajaknya untuk berjabat tangan.

Donghyun dengan dingin membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Haewon dan Hyunseok. Tingkahnya tersebut memancing kebingungan Haewon dan juga Hyunseok.

“Eh? Dia kenapa?” tanya Hyunseok dengan bingung.

“A-ah ya aku juga tidak tahu. Dia terkadang memang begitu.”

Hyunseok mengangguk-angguk. “Ah, lihat! Dia ke toilet. Mungkin dia kebelet?”

Haewon tertawa kecil sebagai respon perkataan seniornya itu.

“Ya, mungkin seperti itu.”

.

.

.

.

Donghyun menutup pintu bilik toilet dan menyenderkan punggungnya di sana. Ia mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan dan berkali-kali bergumam, “Aku harus mencari topik.”

oOOo

Seoul, 21 April 2003

Donghyun sama sekali tidak memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi di depan kelas. Tatapannya terus tertuju kepada sahabatnya yang sedari tadi pagi tidak berbicara dengannya sama sekali.

Ingatan Donghyun kembali ke beberapa tahun lalu.

“Mom. Aku pulang.”

“….”

“Mom?”

“….”

“Hey mom? Kau bisa mendengarku?” Donghyun mengguncang pelan kaki ibunya yang berdiri terpaku di dekat telepon.

“A-ah iya dear. Mom bisa mendengarmu.” Ibunya langsung berjalan ke arah pintu.

“Mom? Kau mau kemana?” Dengan tatapan bingung Donghyun memperhatikan sosok Ibunya yang berjalan menjauh darinya.

“Ah dear. Mom ada urusan sebentar. Kau jadi anak baik di rumah, ya?” Ibunya kembali menghampiri dan memeluk serta mencium kening Donghyun sebelum pergi meninggalkan apartment mereka tinggal.

Donghyun tersentak kaget ketika ia mendengar suara kencang di dekatnya. Matanya tertuju kepada sebuah tangan yang sedang memegangi penggaris besar berbahan dasar kayu bertengger di mejanya. Meyadari situasi yang terjadi, Donghyun menengadahkan kepalanya dan tatapannya disambut oleh eskpresi galak Lee seonsaengnim.

“Kau tidak memperhatikan pelajaran ya? Kalau begitu untuk apa ada di kelas?! Ayo cepat berdiri di luar kelas!”

“B-baik seonsaengnim!” Dengan terburu-buru Donghyun berlari ke luar kelas.

Dari luar ia dapat mendengar gelak tawa para siswa yang berada di dalam kelas.

.

.

.

.

“Haewon-ya! Ayo makan!”

“Maaf. Sepertinya hari ini kau harus makan sendiri Donghyun-ya. Aku ada perlu.”

“Eh?” Kedua mata Donghyun mengikuti gerak Haewon yang berjalan keluar dari kelas.

Satu menit, dua menit….

Donghyun membiarkan kotak bekalnya terbuka di hadapannya, ia sama sekali belum menyentuh makanan yang tertata di dalam.

Tiga menit, empat menit, lima menit…

Haewon belum juga kembali dan seketika itu juga ia merasakan jantungnya bedegup cepat dan kencang.

‘J-jangan pergi!’ Donghyun beranjak dari tempat duduknya dan berlari keluar kelas dengan sangat cepat, berharap ia belum kehilangan jejak sahabatnya itu.

Dengan gelisah matanya menyusuri orang demi orang yang berlaluan di lorong dan akhirnya matanya berhasil menangkap sosok Haewon. Tanpa mempedulikan sekitarnya ia mengejar sosok tersebut sambil berteriak memanggil-manggil namanya.

Haewon dengan kaget menengok dan langsung berlari, seolah menjauhi Donghyun. Laki-laki keturunan Amerika itu kaget dengan apa yang baru saja dilakukan oleh sahabatnya namun tidak berhenti mengejarnya sampai ke ruang olahraga.

‘Kenapa!? Kenapa!?’

“HAE-”

“SELAMAT ULANGTAHUN!” Donghyun melompat ke belakang karena kaget.

Di dalam ruang olahraga berdiri Haewon dan juga Hyunseok yang sedang menadahi box kue yang terbuka. Kue itu tampak bersinar terang dan akhirnya Donghyun menyadari bahwa lilin-lilin lah yang membuat kue tersebut seperti menyala.

“Hah.. hah… hah… Untuk apa sih kau mengejarku seperti tadi?”

Dongwoon terdiam. Kedua tangannay dengan erat memegangi gagang pintu ruang olah raga yang kini setengah terbuka itu.

“Padahal kalau kau duduk manis di ke-”

Ucapan Haewon terhenti karena ia kaget melihat Donghyun menangis sambil menyeka-nyeka matanya menggunakan punggung tangannya.

“Wah, wah. Rupanya Lee Donghyun anak yang cengeng ya. Hahaha.” Hyunseok yang masih memegangi box kue berjalan mendekati Donghyun dan memberikannya sebuah rangkulan erat, disusul oleh Haewon yang juga merangkul Donghyun dengan hangat.

“Bodoh. Jangan pernah tinggalkan aku seperti tadi….”

oOOo

Seoul, 21 April 2007

Hujan yang tadi turun kini sudah berhenti. Donghyun mendengar helaan napas yang cukup panjang dari laki-laki yang duduk di sebelahnya.

“Lega karena hujan sudah berhenti turun eh?” Donghyun tertawa mengejek sebelum meneguk secangkir susu coklat hangat yang baru beberapa waktu lalu disediakan di atas meja mereka.

Haewon mencibir.

“Setidaknya aku lebih baik daripadamu Donghyun-ya.”

“Huh? Apanya?”

“Aku baru sekali menangis di hadapanmu. Hahaha!”

“Maksudmu? Aku juga baru sekali kan?”

“Pft.” Haewon menahan tawanya. “Kau sudah lupa ya?”

“Lupa apa?” Ekspresi wajah Donghyun langsung kaku. Ia mencoba mengingat-ngingat.

“Ahahahaha! Sudahlah lupakan saja. Hahaha!” Haewon masih terus tertawa karena ia ingat bagaimana Donghyun menangis beberapa tahun lalu ketika ia mengajak Donghyun masuk ke dalam apartmentnya. Ya, itu adalah kali pertamanya mereka bertemu.

~FIN~

author’s note:

Halo readers, bertemu lagi dengan Atatakai-chan hehe🙂
Kalian sudah baca fanficku yang sebelum ini kan? Nah, sebenarnya kan tadinya fanfic yang sebelum ini aku buat untuk memperkenalkan tokoh di fanfiction chaptered yang
lagi aku kerjakan, tapi tadi mendadak mikir kenapa ga aku
perkenalkan aja semua tokohnya melalui oneshot, jadi here I am with another
phobia related oneshot fanfiction!
Bagaimana pendapat kalian mengenai fanfic ini?😀

4 responses to “Athazagoraphobia

    • hahaha ya karena sudah seharusnya fin dear kkk
      tenang aja nanti begitu ff chaptered nya aku publish kamu pasti ngerti lebih dalam mengenai para tokoh dan phobia mereka :”)
      maaf ya kalau bikin males bacanya
      thank you so much udah mau baca dan ninggalin jejak❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s