[Series] Will You Be My Bride? (6)

WIYBmBL Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

| Will You Be My Bride? |

| Kim Liah (B2utyinspirited.wordpress.com |

| Chapter |

| Xi Luhan, Park Jiyeon |

| Byun Baekhyun, Kim Nahyun, Yoo Ara, Do Kyungsoo |

| Romance, Friendship, Marriage Life |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) BASED ON NOVIA STEFANI’s CERPEN |

NOTE: Ini FF (Luhan Version) remake dari cerpen yang sudah sering dijadikan FF juga. Jadi harap maklum kalau idenya hampir mirip, tapi untuk keseluruhan cerita akan saya kembangkan sendiri. FF ini sudah pernah saya post di WP pribadi dengan cast lain

.

.

.

Tidak terasa pernikahan simulasi Jiyeon dan Luhan sudah berjalan lancar selama dua bulan ini. Sesekali mereka menginap dirumah orangtua masing-masing dan menebar kemesraan layaknya pasangan pengantin yang masih seumur jagung. Jiyeon mulai memaklumi hobby memancing dan bermain sepak bola Luhan. Begitu pula Luhan, ia kini hanya 2x dalam sebulan menjalankan rutinitas yang menjiwainya itu. Selebihnya ia berusaha menyukai hobby Jiyeon yang menurutnya kaku dan membosankan baginya. Mereka juga sering mengobrol berdua sembari menemani pasangannya menonton film kesukaan mereka meski kebanyakan mereka hanya sebatas bermanjaan dikala pasangannya menikmati film yang menurut mereka masing-masing sangatlah konyol.

“Kau sudah pulang?” Jiyeon baru saja memanaskan sup yang sudah ia beli tadi ketika ia pulang bekerja.

“Eoh, aku mandi dulu” Luhan mencuri kecupan di pipi Jiyeon lalu menyelonong masuk ke kamarnya, hal seperti ini sudah terbiasa mereka lakukan dan Jiyeon memakluminya karna ini merupakan bagian dari eksperimennya.

Sembari menunggu Luhan selesai mandi, ia menyiapkan makanan yang ia sajikan sederhana dimeja makan. Sebenarnya Ara menyarankannya agar berlatih memasak, tapi ia menolaknya. Ia akan sangat malu jika masakannya lebih buruk dari Luhan.

“Film apa yang akan kita tonton malam ini?” Luhan menarik kursinya dan menyendok nasi ke mangkuknya.

“Aku ingin menonton endless love” Jiyeon menuangkan sup iga sapi ke mangkuk Luhan “Sangat disayangkan Won bin oppa sudah beristri sekarang” keluhnya.

“Waeyo? Memangnya kau dulu berharap menjadi istrinya?”

“Anni, geunyang tak rela saja” Jiyeon menyumpit ayam bumbu pedas kesukaan Luhan dan menaruhnya dimangkuk Luhan.

“Bukankah kau juga sudah bersuami sekarang?” kini giliran Luhan menaruh ayam bumbu madu manis ke mangkuk Jiyeon yang masih kosong.

“Eoh, simulasi” Jiyeon menyumpit ayam itu tanpa berkeinginan memakannya dengan nasi. Seandainya ini bukan simulasi mungkin ia akan bangga berstatus sebagai seorang istri.

“Aishh geurae istri..” Luhan membatin ‘sungguhan’ “..simulasi Xi Luhan” ujarnya seraya menyuapi Jiyeon nasi.

.

Luhan memilih kaset yang ditunjuk Jiyeon dan menyalakannya di dvd ruang tamu. Sementara Jiyeon duduk tenang disofa seraya memainkan remotnya agar film itu segera bisa ia tonton. Di depannya tersaji minuman soda, cheese cookies, potato dan juga sisa ayam madu manis sertapedas yang tadi mereka makan.

“Nanti kita akan menonton ini” Luhan dengan santainya berbaring dipangkuan Jiyeon sembari menunjukkan kaset berjudul Resident Evil.

“Geurae” Jiyeon menyambar kaset itu dan meletakkannya di meja. “Aku rasa aku lebih tampan dari pria itu” Luhan memakan potatonya sembari menunjuk pria yang tengah bercengkarama dengan seorang wanita di film tersebut. “Ini berpuluh episode Jiyeonie, kita tak akan bisa menghabiskannya dalam semalam” keluhnya kemudian.

“Arrayo, aku akan menskip episode tertentu”

Setelah dua jam menonton dua episode, Jiyeon memilih episode yang paling mengharu biru dan ia puas meneteskan air matanya.

“Uljima” Luhan bahkan menyodorkan tissue kepada Jiyeon, ia sedari tadi bermain game di psp nya.

“Lulu-ya, sekarang giliranmu. Air mataku sudah habis terkuras” Jiyeon masih mengusap ingus dan air matanya dengan tissue.

“Ashha” Luhan mengganti dvd itu dengan kaset resident evilnya “Ini tidak terlalu banyak pembantaiannya Jiyeonie”

“Aku lapar” kini giliran Jiyeon yang berbaring dipangkuan Luhan.

“Igeo” Luhan menyuapi Jiyeon cuilan ayam madu manis seraya menyaksikan film kesukaannya.

“Yeoja?” Jiyeon menengok wanita yang menjadi tokoh utama film tersebut.

“Eoh keren bukan?”

“Jadi kau suka wanita yang pandai menembak seperti itu?”

“Tidak juga”

“Mungkin kalau aku pandai menembakkan pistol, sudah pasti aku akan menembak siapapun yang menyakitiku” Jiyeon menggoyangkan lengan Luhan agar Luhan menyuapinya lagi.

“Untungnya kau tidak punya kemampuan seperti itu” Luhan kembali menyuapi cuiran daging ayam madu itu kepada Jiyeon dan memakan sisa daging ditulang ayamnya “Kalau iya, aku pasti sudah mati terkena luka tembakanmu”

“Cihh, aku tak mungkin setega itu” Jiyeon kembali menatap layar TV nya yang menampakkan tokoh utama film itu bangkit dari kesadarannya tanpa sehelai pakaian sekalipun “Yaaa yaa, tutup matamu” ia menarik leher Luhan hingga tanpa ia sadari mereka hampir tak berjarak sekalipun. Mereka bertatapan lama, Jiyeon merasakan degupan jantungnya yang mulai tak berirama hingga ia tak mampu berkedip.

Sementara Luhan, ia berpikiran lain “Jiyeonie” lirihnya.

Jiyeon tersadar dari lamunannya “Ww..wae?”

Mata elang Luhan mengarah pada bibir merah merona Jiyeon. “Kata Doojoon kita harus mencoba ini” dan ia melumat bibir Jiyeon dengan lembut. Benar, Doojoon menyarankannya untuk sesekali berciuman lebih berat.

Awalnya Jiyeon kaget, ini kali pertama ia berciuman dengan sahabatnya. Mungkin ciuman di pipi dan kening nampak biasa, tapi kalau di bibir, ia merasa aneh.”Geurae, tak ada salahnya aku membalasnya” dan Jiyeon semakin menarik leher Luhan lalu membalas lumatan dibibirnya.

Mereka berhenti sejenak ketika nafas mereka berderuan dan mereka sama-sama tak bisa berkontakan mata satu sama lain.

“Aa..kku mengantuk, kau tonton saja sendiri film ini” Jiyeon melangkah pergi memasuki kamarnya. Didalam kamarnya ia merutuki kebodohannya dan pikirannya yang terlalu jauh. Ia berkali-kali memukulkan kepalanya ke bantalnya “Yaa Park Jiyeon, ingat dia hanya suami simulasi. SIMULASI” batinnya menekankan dirinya untuk menolak pemikirannya yang merasa nyaman dan terpikat dengan ciuman Luhan.

**

Jam dinding dikamar Jiyeon menunjukkan pukul 5 pagi “Yaa Xi Jiyeon, ireona” Luhan menarik tirai kamar Jiyeon dan membiarkan cahaya pagi menyapa kamar Jiyeon. Ia teramat bahagia karna semalam untuk kali pertama melakukan skinship dengan Jiyeon yang bisa dibilang diatas wajar.

“Waeyo, Lulu-ya? Aku masih sangat mengantuk” Jiyeon hendak melirik Luhan namun begitu mengingat kejadian semalam, ia kembali mengurungkannya dan membenamkan kepalanya dibantal pink itu.

“Palli ireona” Luhan menarik Jiyeon hingga Jiyeon menempel dibahunya “Apa kau mau kugendong lagi seperti dulu?”

“Anni” Jiyeon melompat dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi, jadwal rutin mereka jika Luhan memberikan waktu liburnya seutuhnya untuknya adalah dimulai dengan olahraga pagi.

“Palliwa, aku akan menunggumu diluar” sembari menunggu Jiyeon, ia berlari kecil dihalaman rumahnya. Setidaknya olahraga kecil ini bisa menggantikan rutinitas sepak bolanya.

“Oppa, apa kau mau kutemani jogging?” ajak Nahyun seraya memasuki halaman rumah Luhan. Ia mengenakan celana seperempat paha berwarna hitam yang dipadukan kaos putihnya. Ia sebentar lagi juga akan menemani Kyungsoo bermain bola.

“Anniya, kasihan teman priamu kalau kau menemaniku” Luhan mengusap kepala Nahyun layaknya Nahyun adalah adiknya sendiri.

“Gwaenchana oppa, aku sudah keseringan menemaninya main bola. Tak masalah kalau aku mangkir menemaninya sekali saja” jelasnya seraya hendak menggandeng lengan Luhan.

“Aishhh, kau ini” Luhan kali ini mencubit pipi tembam Nahyun dengan gemas, ia saja paling anti mengingkari janji, jadi mana mungkin ia membuat orang lain kecewa karna janjinya tak ditepati “Jangan seperti ini Nahyun-a, tak baik bagi gadis secantik kau” pujinya.

“Oppa” Nahyun bersemu malu dengan pujian Luhan yang menurutnya teramat manis.

“Ehmm” Jiyeon melipat kedua tangannya didada, sungguh memuakkan melihat suaminya meski hanya simulasi berduaan dengan wanita lain apalagi anak kecil seperti Nahyun “Kajja, mataharinya keburu terik” sungutnya.

Mesin motor Kyungsoo berhenti didepan rumah Nahyun, ia membunyikan belnya seperti biasa agar Nahyun segera keluar. Ia menoleh ke kirinya dan mendapati Nahyun dirumah tetangganya. “Kim Nahyun, palliwa” teriaknya.

“Geurae, anyyeong oppa” pamit Nahyun dengan senyum mengembangnya lalu berlari keluar rumah Luhan dan menaiki motor sport Kyungsoo.

“Kenapa kau kerumah itu lagi?” ada kekesalan diwajah Kyungsoo.

“Geunyang.. obbseo… Kajja” Nahyun melingkarkan kedua tangannya dipinggang Kyungsoo hingga mesin motor itu terdengar menjauh.

.

“Lucu sekali anak itu” Luhan geleng-geleng kepala “Yaa chakkaman Xi Jiyeon” lalu mengejar Jiyeon yang sudah berlari duluan.

Jiyeon berlari dengan cepat seolah ia tengah berlari di lapangan kejuaraan lari. Ada dorongan aneh yang membuatnya ingin marah pada Luhan, tapi ia tak tahu apa itu.

“Yaa jangan cepat-cepat, nanti kakimu sakit. Kau belum pemanasan Jiyeonie” Luhan berhasil berlari berdampingan dengan Jiyeon hingga sampai di taman komplek.

Masa bodoh dengan kakinya yang sakit, Jiyeon ingin berlari menjauhi Luhan. “Yaa geumanhe” Luhan berhasil menarik lengan Jiyeon “Kita istirahat dulu, kau sudah cukup lama berlari” dan membawanya duduk dibangku taman, ia menyodorkan botol minuman yang sedari tadi ia kalungkan dibahunya “Minumlah” pintanya.

Jiyeon dengan kasar menerima botol itu dan meminumnya dengan lahap. Kerongkongannya sungguh kering dan kakinya terasa sakit. Namun tiba-tiba ada pijatan yang melegakan di pergelangan kakinya.

“Kakimu pasti sakit bukan?” Luhan berjongkok didepan Jiyeon dan memijit lembut pergelangan kaki Jiyeon “Mengenai semalam, Doojoon, kau ingat kan kalau Doojoon yang menyarankannya dan sebagai langkah simulasi kita” dustanya, ia kira Jiyeon marah padanya hingga berlari kencang seperti tadi karna masalah semalam.

“Arrayo, pijat yang benar. Kakiku masih terasa sakit” dumel Jiyeon semakin kesal, ntah apa yang membuatnya kesal? Ucapan Luhan atau kelakuan Nahyun tadi.

.

Dua kali ke salon langganan Jiyeon, Luhan sudah lumayan akrab dengan suami pelanggan-pelanggan disana. Ia baru menyadari bahwa ternyata suami juga harus bersikap seperti ini, menunggui dan menemani istri bermanja diri di salon.

Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya Jiyeon selesai melakukan perawatannya. Sebenarnya ia menawarkan agar Luhan ikut perawatan seperti dirinya dan sebagian suami lainnya. Tapi Luhan menolak, ia lebih memilih bercengkrama dengan suami yang bernasib sama dengannya atau bahkan battle game di psp mereka.

“Di mall ini ada pameran lukisan, aku ingin melihatnya” ujar Jiyeon seraya meminum chocochino yang disodorkan Luhan olehnya, tangan kanannya digandeng hangat oleh Luhan.

“Kurokuna, kajja”

Sesampainya di pameran, Jiyeon mengamati lukisan demi lukisan dan menyuarakan pendapatnya yang ntah memuji atau menilai negatif kekurangan lukisan itu. Lain halnya dengan Luhan penilaiannya cuma satu, semua lukisan ini sama saja hanya sebatas lukisan.

.**

“Saengil Chukkae hamnida, Jiyeonie” Luhan mengenakan topi kerucut, meniup terompet kecil dan membawa kue strawberry red velvet dengan lilin angka 25.

Jiyeon terlonjak duduk dan menyalakan lampu, ia sungguh kaget dengan kelakuan Luhan yang menurutnya aneh padahal ini masih jam 12 malam. Semalam saja Luhan sudah berlaku aneh untuk mengijinkannya tidur dikamarnya. “Lulu-ya, untuk apa kau sepagi ini membangunkanku!” keluhnya bingung.

“Memberimu selamat ulang tahun” jawab Luhan polos, ia meletakkan kuenya di nakas tempat tidur dan menarik Jiyeon hingga bangkit duduk ditepi ranjang “Saengil chukkae hamnida, saengil chukae Jiyeonie, saengil chukkae hamnida” ia menyanyikan lagu khas ulang tahun itu sembari menyodorkan kue didepan Jiyeon.

“Ulang tahun? Naega?” tunjuk Jiyeon bingung.

“Eoh, palli ucapkan permohonan dan tiup lilinnya”

Jiyeon menurut, ia memejamkan matanya meminta sebuah doa agar ia dan Luhan bahagia lalu meniup lilin diatas kue tersebut.

“Cha” Luhan meletakkan kuenya di nakas lalu melempar sebuah kecupan singkat dibibir Jiyeon “Selamat ulang tahun Jiyeonie” lalu menarik Jiyeon yang masih terpaku ke meja kerjanya dan menunjuk komputer Jiyeon yang sudah menyala “Tadaaa. Ini hadiahmu” ujarnya dengan mata berbinar.

Jiyeon tersenyum geli sambil menebak apa yang telah Luhan siapkan untuknya. Mungkinkah Pisi? Personal website, dengan foto dan lagu? Ia menggeleng dalam hati “Luhan tidak cukup romantis untuk memberiku itu” batinnya.

“Igeo, lihatlah” ucapan Luhan membuyarkan lamunan Jiyeon.

Sepenglihatan Jiyeon dilayar komputernya itu hanya terpampar kolom window yang terdapat rangkaian disk C, D, E dan CD drive saja, tak ada yang lain. “Mwonde?” tanyanya.

“Hadiahmu”

Kening Jiyeon berkerut, tidak ada yang berbeda dengan tampilan komputer ini. Dengan ragu  Jiyeon raih mouse dan mengklik tombol Start dan sekali lagi tidak ada yang berubah. Tapi Luhan nampak semakin antusias setelah Jiyeon membuka file-file-nya dan sekali lagi kecewa karna tidak menemukan apa pun. Ia hanya mampu menghendikkan bahunya bingung karna sama sekali tak mengerti mana hadiah yang Luhan siapkan.

“Kau tidak menemukannya?” terdengar setitik kecewa dalam suara Luhan “Aku menambah memori komputermu, Jiyeonie” raut wajah Jiyeon yang tak berubah tetap datar dan bingung “Komputermu sekarang bisa bekerja lebih cepat”jelasnya.

Jiyeon tersenyum dengan ekspresi tak berdaya, ia akui Luhan memang seorang programer yang ahli mengutak-atik komputer super berat dan berlainan dengannya yang hanya menggunakan komputer sebatas sebagai alat tulis, hiburan dan berinternet saja. Ia ingin sekali berbagi kegembiraannya begitu melihat Luhan membanggakan hadiahnya. Setidaknya beberapa detik yang lalu, sebelum Luhan sadar bahwa Jiyeon kecewa.

“Eoh” hanya itu yang bisa Jiyeon katakan. “Gumawo, Lulu-ya”

“Kau boleh memelukku kalau kau mau” tawar Luhan dengan senyumnya seraya membentangkan kedua tangannya.

Jiyeon memukul lengan Luhan dan tertawa. “Ne gumawo, uri yeobo” Ia memeluk Luhan erat dan pagi itu mereka habiskan memakan kue tersebut lalu kembali tidur.

.

“Chukae Jiyeon-a” sorakan selamat terucap dari rekan-rekan kerjanya, hadiah juga berdatangan dimejanya.

“Saengil chukae uri Jiyeon” Ara memeluk Jiyeon erat.

“Gumawo chingu-ya” semuanya kembali ke tempat duduknya sementara Ara masih bergelayutan padanya.

“Hadiahku paling special” bisik Ara lalu kembali ke mejanya pula.

“Cihh” Jiyeon memasuki ruangannya dan dimejanya terdapat banyak kado tertata rapi, namun hanya satu yang menarik perhatiannya. Sebuah kotak berbingkai putih panjang berisi sebuah bunga mawar putih. Jantungnya seketika serasa berhenti berdetak, bunga ini mengingatkannya pada sesuatu yang seharusnya sudah ia lupakan sejak dulu. Ia buka kartu yang tertempel di tangkai bunga itu yang didalamnya tertuliskan ‘Saengil chukae uri Jiyeon. Dangsin, ajigdo gieoghani? Aku menunggumu ditempat special kita’

Seketika pikirannya kacau penuh rasa penasaran dan rasa rindu yang menderu untuk bertemu dengan si pemberi mawar putih tersebut. Namun ia mencoba mengelak, mungkin saja ini hanya isapan jempol belaka. Mana mungkin pria itu ada di Seoul sekarang?

Namun ternyata rasa rindunya lebih besar daripada penolakannya, jam 11 siang ia bergegas makan siang lebih awal untuk menguak kebenaran yang sedari tadi ia harapkan.

“Jiyeon-a, oeddiega? Apa kau ada janji dengan suamimu? Arghh romantis sekali mawar putih itu” goda Ara menunjuk bunga yang dibawa Jiyeon ketika Jiyeon melewati meja Ara.

Jiyeon hanya tersenyum tipis, mana mungkin Luhan mengajaknya makan siang romantis apalagi memberinya mawar seperti ini. Hadiah saja aneh seperti itu pikirnya.

.

Lima tahun lalu seorang Byun Baekhyun pernah mengikrarkan sebuah kalimat yang mungkin tak akan ia muntahkan jika hal itu terjadi saat ini. Namun sayangnya, pria bertubuh tinggi itu sudah lebih dulu mengucapkannya disaat yang tepat. 20 tahun, Jiyeon masih menyandang sebagai mahasiswa sastra tingkat akhir. Meski hanya satu tahun lagi, pria itu tak bisa menunggunya.

Flashback

“Jiyeon-a” Baekhyun mengeluarkan sebuah kotak cincin dan mengambilnya “Menikahlah denganku?”

Seketika Jiyeon terperanjat kaget hingga hampir tersedak jusnya “Mwo? Menikah?” ulangnya.

“Eoh” dan dengan seenaknya Baekhyun melingkarkan cincin yang dihiasi banyak berlian putih itu dijari manis Jiyeon “Kita menikah” jawabnya.

Jiyeon amati cincin itu yang nampak cantik terlingkar dijemarinya “Kau berlebihan Baekhyun-a” ia mengangkat jemari tangan kirinya “…dan kau terlalu bermimpi untuk menikahiku” cibirnya.

Baekhyun menarik tangan kiri Jiyeon dan membelai jari manisnya “Kurasa ini pantas sekali dijarimu” dan ia melempar senyum bangga pada Jiyeon “Memangnya salah kalau aku ingin menikahi kekasihku? Kita sudah lama berkencan Jiyeon-a, bagiku 2 tahun sudah cukup untuk mengenalmu” lanjutnya.

Jiyeon menghempas tangan kirinya “Anni, kau salah besar Baekhyun-ya. Kita masih butuh banyak waktu untuk saling mengenal” ia mengambil jeda “..dan aku masih terlalu muda untuk menjabat sebagai seorang nyonya Byun” tolaknya.

Baekhyun menggengam tangan Jiyeon erat, diwajahnya ada sebuah penyesalan “Aku yang tak bisa menunggu lagi Jiyeon-a. Aku akan segera pindah ke Swiss” jelasnya.

“Swiss?” apa ini artinya Jiyeon dan Baekhyun akan berpisah sampai disini?

“Eoh, abeoji akan mengembangkan bisnis kami disana, begitu pula masa depanku, semuanya berpindah kesana. Aku juga ingin membawamu kesana, karna kau masa depanku Jiyeon-a. Jebal, gyeolhon naja, Jiyeon-a”pinta Baekhyun.

Jiyeon tertawa sinis “Tapi masa depanku disini Baekhyun-a. Keluargaku, pendidikanku semuanya akan berlanjut disini” tolaknya.

“Kita bisa melanjutkan pendidikanmu disana Jiyeon-a, bersamaku”

“Mianhae”

Flashback off

.

Restoran ini masih sama seperti dulu, nampak sederhana dan tidak mencolok diluarnya. Namun begitu Jiyeon memasukinya, ia menemukan kedamaian dan ketenangan dalam interiornya yang lapang dan asri dengan kolam-kolam kecil berisi teratai berbunga merah jambu dan putih serta suara gemericik air terjun buatan disudut kolam. Bahkan meja nomor lima itu masih sedikit di sudut dan terhalangi serumpun gelagah.

Sungguh tidak ada yang berubah, yang berubah hanya ia dan pria itu. Ketika ia menghampiri meja itu, ia tidak lagi merasa sebagai Jiyeon yang berusia 25 tahun, yang dewasa dan percaya diri, tapi seorang gadis berusia dua puluh tahun yang tercabik di antara cinta dan ambisi.

Di meja itu harusnya seseorang menantinya, seperti 5 tahun silam. Sebagian hatinya berkata agar ia tidak terlalu berharap. Mustahil baginya untuk mengulang masa lalu yang terlalu indah untuk ia hancurkan kala itu.

Sesuai dugaannya ada seorang pria berjas hitam di meja itu yang kini bangkit menyambut kedatangannya. Baekhyun menggenggam tangan Jiyeon erat bahkan kalau bisa ia ingin membenamkan tubuh langsing itu didada bidangnya.

“Jiyeon-a, waesseo?” lirihnya dengan senyum tampannya yang tak pernah terlupakan sekalipun diingatan Jiyeon.

“Annyeong, Baekhyun-a” sapa Jiyeon sembari duduk di hadapan Baekhyun, mata tajamnya hanya tertuju pada senyuman diwajah Baekhyun. Kerinduan itu mulai berkecamuk didadanya, rasanya lega sekali bisa bertemu Baekhyun lagi disini.

“Gomawo, ternyata kau masih mengingatnya” ujar Jiyeon datar seraya mengangkat kotak mawarnya. Sayangnya getaran di suaranya membeberkan semuanya.

“Aku tak bisa lupa, meski mau sekalipun” aku Baekhyun dengan tersenyum.

Jiyeon tersenyum tipis meneguk jus strawberry yang tiba-tiba dibawa oleh pelayan restoran. “Kapan kau pulang?” tanyanya.

“Tadi pagi”

“Dengan anak istrimu?”

Baekhyun tertawa kecil. “Ini sedikit memalukan. Tapi aku masih sendiri, Jiyeon-a” jawabannya begitu mengejutkan bagi Jiyeon hingga sesaat ia tak tahu harus mengatakan apa.

“Aku tidak bisa membayangkan menikah dengan siapa pun selain denganmu, Jiyeon-a” senyum Baekhyun padam dan di matanya bergelora lagi pesona yang pernah dan mungkin masih bisa meluluhkan hati Jiyeon. “Lima tahun aku mencari dan aku tetap tak bisa menemukan penggantimu” akunya.

Jiyeon menunduk dan mencerna perkataan Baekhyun. Apakah ini hanya guyonan mantan kekasihnya itu? Atau memang Baekhyun masih menyimpan rasa dan menunggunya sama sepertinya dirinya yang kadang berharap ia dan Baekhyun berakhir bahagia? Meski Baekhyun mendapat penolakan darinya, di 2 tahun pertama perpisahan mereka ia masih sering menerima kartu ulang tahun dan email. Namun tak ada nyali bagi Jiyeon untuk membalasnya, menurutnya semuanya sudah percuma.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu, Jiyeon-a?”

“Aku seorang editor senior”

“Chukae, aku selalu yakin kau pasti bisa menggapai mimpimu”

Jiyeon tertawa kecil “Apa jadinya kalau dulu aku katakan iya?”

Baekhyun menggeleng “Aku hanya memintamu memilih dan bertahan disampingku” matanya tertambat pada cincin di jari manis Jiyeon. Suaranya pelan saat ia bertanya, ”Kau sudah menikah?” ada keterkejutan dan kekecewaan didalamnya.

Jiyeon mengangguk pelan dan mengamati wajah Baekhyun yang nampak berubah tak seceria tadi.

“Siapa pria beruntung itu?” selidik Baekhyun dengan tawa miris.

“Luhan”

“Xi Luhan? Sahabat dekatmu?” Baekhyun sungguh tak menyangka Jiyeon bisa menjadi pasangan Luhan, seingatnya sedari dulu pria itu hanya sebatas sahabat berkeluh kesah bagi Jiyeon. “Anak kalian pasti bermata cantik sepertimu, Jiyeon-a” lanjutnya.

“Anni, kami masih sebatas berdua saja”

Baekhyun menatap Jiyeon lekat. Dua kali ia tampak seolah akan bicara, tapi setiap kali, ia berhenti. Akhirnya, dengan senyum kecil ia mengeluarkan sebuah kotak mungil dari sakunya.
“Aku…” dibukanya kotak itu. “…Aku sendiri menganggap diriku gila, karena membawakanmu ini. Keundae Jiyeon-a, mian, kalau aku terus-terang seperti ini, dibenakku kau masih Park Jiyeon ku yang dulu. Aku tahu dalam lima tahun segalanya bisa terjadi dan kau pasti sudah menikah. Keundae….” dikeluarkannya sebuah gelang mungil berhias batu-batu semi-mulia.  “Aku tahu kau suka perhiasan antik. Ada kenalanku yang membuka toko barang antik di Swiss. Aku membeli ini darinya” tanpa meminta izin Jiyeon, ia telah memasangkan gelang itu di tangan Jiyeon.

“Gomawo” gumam Jiyeon terpesona. “Yeppeouta”

“Apa kau menyukainya?”

Jiyeon mengangguk, ia tiba-tiba teringat hadiah ulang tahun dari Luhan yang berbeda jauh dengan seleranya. “Kau….sebetulnya tidak perlu repot-repot…” suaranya nampak sedikit gagap.

“Sebenarnya aku juga mau membawakanmu karpet antik yang aku yakin akan membuatmu tergila-gila. Setiap kali aku berbelanja barang antik aku tak bisa tidak mengingatmu, makanya aku membelinya” Baekhyun tertawa kecil. “Tapi aku tidak bisa membawanya ke sini. Bawaanku sudah banyak sekali. Sepupuku memesan oleh-oleh untuk semua keponakanku dalam radius dua ratus lima puluh kilometer” jelasnya.

Jiyeon tersenyum paham, tiba-tiba ia terpikir apakah Luhan tahu hadiah seperti apa yang akan membuatnya bahagia? Sayang sekali sahabatnya itu paling anti mall dan galeri. Jadi tak mungkin ia akan memberinya barang antik seperti Baekhyun.

“Bisnisku semakin melebar di Swiss dan seperti dugaanku semuanya berjalan semakin lancar. Meski ada satu kekurangan terbesar” Baekhyun menghela nafas kecil “Kalau saja kau bersamaku, Jiyeon-a” matanya nampak berbinar. “Kita bisa menghabiskan waktu mengaduk-aduk Eropa untuk mencari barang antik….” ia melihat ekspresi wajah Jiyeon dan berhenti bicara. “Mianhae, Jiyeon-a” sesalnya. Mungkin tak seharusnya ia mengucapkan harapan yang tak mungkin jadi kenyataan seperti ini.

“Aku harus kembali ke kantor” gumam Jiyeon kaku.

“Geurae, Mau kuantar?”

“Aku ada mobil”

Baekhyun menahan tangan Jiyeon saat Jiyeon hendak berdiri. “Jiyeon-a, aku tahu semuanya berbeda sekarang. Tapi, kalau kau tidak keberatan, bisakah kita bertemu lagi sesekali selama aku di sini? Aku perlu teman yang bisa mengantarku jalan-jalan mengunjungi galeri dan art shop” jelasnya.

Undangan yang sangat menggoda, yang memenuhi benak Jiyeon lengkap dengan masa lalu dan janji akan sesuatu yang lebih istimewa lagi, kalau saja ia bisa mengucapkan iya.

Baekhyun melihat keraguan diwajah Jiyeon dan sesaat sorot matanya meredup. “Kita bisa jalan-jalan bertiga. Kau …. Luhan dan aku” ia tersenyum miris “Aku tidak punya banyak teman di sini, Jiyeon-a” sambarnya

“Akan aku pikirkan dulu, Baekhyun-a” jawab Jiyeon cepat, sebelum hatinya dikuasai kehausan untuk berlama-lama dengan Baekhyun.

Baekhyun merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Di belakangnya ia menuliskan sederet nomor. “Hubungi aku kalau kau bersedia. Aku akan selalu menunggu” tegasnya.

Jiyeon menerima kartu itu dan beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hatinya kembali goyah, pria yang ia harapkan kembali disaat ia sudah berstatus istri simulasi Luhan. Seandainya  satu bulan yang lalu ia bisa bertahan lebih lama dari desakan eomma-nya, mungkin ia akan hidup bahagia sebagai seorang Nyonya Byun dan bukan hanya sekedar istri simulasi semata. Haruskah ia mengakhiri simulasi ini?

.

.

TBC

Be Sociable, Like and comment please!

Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

15 responses to “[Series] Will You Be My Bride? (6)

  1. otidak… bekhyun datang menyerang omoooo >< semoga gak meruntuhkan pernikahan(simulasi) hanyeon, mereka udah saling suka udah aman tentrem u.u neexxtt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s