[Chaptered] Digital Love (Chapter 1)

digital-love

TITLE : DIGITAL LOVE
LENGTH : CHAPTERED
GENRE : AU, ROMANCE
RATING : T

STARRING
BLOCK B ZICO AS WOO JIHO
OC AS SUNG HYEWON

MENTIONED
PARK KYUNG (BLOCK B KYUNG) ; 
IM HYENA (OC) ; KIM MYUNGSOO (INFINITE L) ;
PARK EUNYOUNG (OC) ; PARK SIHOO


poster by:
simpleshine @ PosterChannel

.

.

.

“Wonnie-ah!” Jiho berlari menghampiri yeoja chingunya yang tengah duduk di bangku taman.

“Eh? Ada apa Zico oppa?” Hyewon mendelik ke arah namja chingunya yang terengah-engah.

Jiho atau yang biasa dikenal dengan nama Zico itu menatap yeojanya sambil cemberut. “Jangan panggil aku Zico disini.”

“Hehehe. Habisnya keren.” Hyewon tersenyum polos.

“Dasar! Terserahlah!” Jiho mengacak-acak rambut Hyewon.

“Ih! Oppa!” Hyewon memebenahi rambutnya yang berantakan sambil mendengus kesal. Jiho hanya tertawa melihat wajah kesal Hyewon.

“Jadi, tadi ada apa?” Tanya Hyewon. Tatapannya masih tidak lepas dari kaca kecil yang selalu dia bawa.

“Nanti malam, kita pergi ke pesta pernikahannya Sihoo gyosuyuk!” ujar Jiho sambil membantu membenahi rambut Hyewon.

“Eh? Sihoo gyosu? Park Sihoo gyosu?” Tanya Hyewon sambil menoleh kepada Jiho.

Jiho hanya mengangguk sambil terus membenahi rambut Hyewon.

“Lho? Memangnya dia menikah dengan siapa?”

“Eunyoung~” Jawab Jiho singkat.

“EHHH!?” Hyewon sontak berdiri dari bangkunya dan menatap Jiho dengan matanya yang terbelakbak.

“Sssssh!” Jiho menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.

“Ekspresimu tidak usah hyper begitu!” Jiho menarik pergelangan tangan Hyewon, menyuruhnya untuk kembali duduk.

“Jadi…Jadi.. Gosip itu benar?” Tanya Hyewon seraya duduk berhadapan dengan namjanya itu.

“Iya! Tentu saja gossip itu benar! Aku kan seangkatan dengan Eunyoung dan aku sering melihat mereka berduaan dengan mata kepalaku sendiri.” Ujar Jiho dengan nada meyakinkan. Ekspresi Hyewon tidak jauh dari ekspresi kaget, terkejut, dan shock.

“Ekspresimu itu loh Won.” Jiho mencubiti pipi Hyewon gemas.

“Pokoknya nanti malam aku jemput kamu, oke? Kamu tunggu aja di depan rumah.”

Hyewon mengangguk-angguk sambil meringis menahan sakit.

“Oke ‘deh kalau begitu!” Jiho beranjak dari kursinya dan mengusap-usap kepala Hyewon. “Aku pergi dulu ya! Sampai ketemu nanti malam jam 7!” Jiho pergi seraya melambaikan tangannya.

Hyewon balas melambai. “Yah. Kok cepat sekali sih? Padahal aku kan masih kangen.”ujarnya dalam hati.

Kok cepet banget udah pergi lagi sih?” Tepukan ringan mendarat di bahu kanan Hyewon. Hyewon berbalik dan menatap sahabatnya, Hyena yang tengah berdiri di belakangnya.

“Ah, Hyena! Kamu tahu saja isi pikiranku!” Hyewon tertawa. Hyena ikutan tertawa. “Tentu saja dong! Kita kan soulmate!!” Perempuan berparas manis itu kemudian duduk di sebelah Hyewon.

“Jadi… Tadi untuk apa Zico oppa kesini?” Tanya Hyena.

“Ng. Tadi dia bilang mau mengajakku ke pesta pernikahannya Sihoo gyosu.”

“Oh.. Masalah itu. Tadi juga Myung oppa mengajakku kok! Kita berempat pergi bareng yuk!” ajak Hyena.

Hyewon menatap sahabatnya itu dengan tatapan bingung. “Wah.. Gimana ya? Pengen sih Na. Tapi, gimana ya? Hmm…”

“Kamu ini gimana sih Na?” Myungsoo, namja-chingunya Hyena tiba-tiba ikutnimbrung.

“Hyewon pasti ingin berduaan dengan Jiho! Iya kan Hyewon?” Myungsoo menatap Hyewon kemudian tersenyum. Muka Hyewon langsung memerah karena ucapan Myungsoo.

“Ah… Itu…” Hyewon menunduk, tak berani bertatap muka dengan Hyena maupun Myungsoo.

“Tuh, tuh! Lihat deh! Mukanya memerah kan tuh? Hahaha!” Myungsoo yang iseng menunjuk-nunjuk muka Hyewon yang sekarang makin memerah seperti terbakar.

Hyena mengusap-usap punggung Hyewon sambil tertawa. “Hahaha! Aku mengerti Wonnie. Akhir-akhir ini kalian jarang nge-date kan?” Hyena mengusap-usap rambut Hyewon. Hyewon hanya  bisa mengangguk karena memang benar adanya seperti itu.

“Iya. Akhir-akhir ini dia sibuk dengan project mixtapenya.” Senyuman seketika menghiasi wajah Hyewon.

“Ya ampun! Dia sebentar lagi sudah bisa rekaman secara resmi dong?” nada suara Hyena berubah menjadi nada kagum.

Hyewon mengangguk-angguk sambil tersenyum sebagai respon.

“Wah! Selamat ya! Semoga dia sukses!” Hyena menjabat tangan Hyewon.

“Iya! Gomawoyo!” Hyewon memeluk Hyena erat, bahagia.

“Oh iya! Besok anniversary kalian kan?” Hyena melepaskan pelukan.

“E..eh.. Iya. Memang kenapa?”

“Mau dirayakan di mana eh?” Hyena tersenyum menggoda Hyewon.

“Ah! Tidak akan dirayakan dimana-mana kok Na. Lagipula, tidak perlu dirarayakan ramai-ramai bukan?”

“Parah nih chagi ku! Masa anniversary saja harus dirayakan?” Myungsoo mengelus-elus kepala Hyena.

Hyena memberikan tatapan tajam kepada Myungsoo. “Aish, oppa ini! Kalau sekedar anniversary bulanan sih memang tidak perlu dirayakan!”

“Besok kan anniversary mereka yang ke 2 ½ tahun. Anniversary tahunan lho!” Hyena menekankan dan sebagai respon kedua mata Myungsoo terbelakbak.

Laki-laki penuh kharisma itu tersedak oleh ludahnya sendiri. “Apa? Mereka sudah jadian selama 2 ½ tahun? Ya ampun! Lamanya! Kalau begitu ceritanya, memang harus dirayakan!”

*********************

Meja kerja Jiho penuh dengan berbagai macam alat tulis. Dari kertas-kertas yang penuh tulisan sampai kertas-kertas yang kosong, pensil kayu, pensil mekanik, penghapus, pulpen, correction pen, hingga staples pun ada di atas sana.

Nampak Jiho dengan headset dikepalanya sedang termenung. Selang beberapa menit kemudian, senyuman terlukis di wajahnya, dan seling beberapa menit, ia kembali termenung sambil memutar-mutar pensilnya.

“Yah! Zico! Sebaiknya kau beristirahatlah sejenak!” Park Kyung atau yang akrab dipanggil Kyung yang adalah partner kerja sekaligus teman semasa kecil Jiho menghampiri laki-laki yang tampak sibuk itu seraya menarik kursi ke sebelahnya.

“Ah! Kyung! Aku ingin menyelesaikan lagu ini pada hari ini juga!” ujar Jiho dengan semangat,

“Tumben sekali! Haha! Sudahlah, jangan tergesa-gesa. Kan masih bisa dilanjut besok!” Kyung menepuk pundak Jiho.

“Tidak. Aku ingin ini selesai hari ini juga.” Jiho menggeleng perlahan sambil tersenyum.

Kyung menghela nafas. Partner kerjanya yang satu ini, Woo Jiho atau yang akrab dipanggil Jiho dan juga Zico memang keras kepala dan aneh. Biasanya ia lebih suka bersantai dalam melakukan pekerjaannya, namun, kali ini lain. Sudah semenjak minggu yang lalu Jiho menginap di studio dan membuat lirik-lirik lagu—sampai bergadang.

“Hey Jiho! Ayolah! Kau sudah seminggu ini tidak pulang ke rumah! Kamu juga sudah seminggu ini tidak bertemu dengan Hyewonnie. Dia pasti rindu denganmu! Setidaknya, tengoklah dia!” Bujuk Kyung –sebenarnya Kyung hanya ingin Jiho beristirahat dan membuatnya melupakan pekerjaannya sejenak.

“Aku tadi sudah bertemu dengannya.” Ujar Jiho sambil menulis-nulis di kertas.

“Benarkah? Berapa lama kalian bertemu tadi?” Tanya Kyung tidak yakin.

Well. Mungkin sekitar 15 menit? Atau mungkin 20 menit? Aku tidak tahu.” Jawab Jiho yang masih asyik menulis-nulis di kertasnya. Kyung melongo kaget.

“15 menit? Jesus Fucking Christ, Zico! Kalian sudah tidak bertemu hampir seminggu lebih dan tadi kamu hanya menemuinya selama 15 menit? Astaga!” Kyung menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jangan berisik, Kyung! Aku sudah hampir selesai.” Jiho menyodorkan jari telunjuknya ke arah Kyung.

“Uh… Baiklah. Tapi jangan sampai dirimu stress sobat!”

“Akhirnya!!!!!” Jiho berteriak girang.

“Apa?” Tanya Kyung bingung.

“Selesai!”

“Apanya?”

“Liriknya, bodoh! Aku sudah selesai! Hahaha!!!! Lihat ini!” Jiho dengan bangga menyodorkan kertas berisi lirik lagunya tepat ke depan wajah Kyung.

Kyung mengambil kertas itu dan mulai membacanya. Selang beberapa detik kemudian, Kyung tersenyum kagum. “DAEBAK!! Liriknya perfect sekali Zico!! You’re the best! Jinjja! ZICO JJANG!” Kyung bertepuk tangan, memuji sahabatnya itu.

Jiho melipat kedua tangannya di depan dada. “Betul kan? Aku hebat! Hahaha!” Jiho tertawa bangga.

“Ya, ya! Harus ku akui kau memang hebat! Haha! Oh iya, ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak mau menyelesaikan ini besok saja?” Tanya Kyung yang heran melihat tingkah Jiho akhir-akhir ini.

“Ah.. Besok aku mau mempersiapkan diriku.” Jiho tersenyum.

Senyuman Jiho dibalas oleh tatapan heran Kyung. “Mempersiapkan apa?”

Candle light dinner dengan Wonnie.”

“Haaah!? Apa? Hey! Aku tidak salah dengar kan?” Kyung shock bukan main atas jawaban Jiho.

“Haha! Bukan candle light biasa, Kyung.”

“……… Lalu?”

“Aku berencana untuk melamarnya.”

Sedetik kemudian, ruangan studio riuh oleh suara Kyung yang nyaring bukan main. “ASTAGA ZICO! SELAMAT KAWAN!!!! JANGAN LUPA UNDANG AKU KE PERNIKAHAN KALIAN YA!!!” Kyung menjabat-jabat tangan Jiho dengan semangat.

“Tunggu tunggu! Maksudku bukan pernikahan Kyung. Eonni nya kan belum menikah. Jadi, kami hanya akan bertunangan saja.” Wajah Jiho memerah.

Raut wajah kecewa terlukis di wajah Kyung. “Tsk! Kenapa tidak langsung menikah saja? Sudahlah! Jangan terlalu terpaku pada tradisi. Lagipula, kalian sudah sangatlah cocok!” Kyung kembali duduk di samping partner kerjanya itu.

Jiho menghela nafas dan kemudian menatap Kyung. “Aku juga inginnya seperti itu Kyung. Tapi, apa boleh buat. Tipe keluarganya adalah keluarga yang….”

“Kuno?” celutuk Kyung.

“Ya. Kurang lebih seperti itu lah. Jadi… Aku memutuskan untuk bertunangan dulu saja. Lagipula aku rasa dia masih terlalu muda untuk menikah.” ujar Jiho sambil tersenyum.

“Kau benar-benar namja yang bertanggung jawab Zico! Aku bangga jadi temanmu!” Kyung menepuk-nepuk bahu Jiho.

“Ya,ya. Aku juga.” Jiho tertawa.

“Uh oh! Sudah jam 4. Aku harus pergi sekarang! See you, Kyung!” Jiho bergegas keluar dari studio.

*********************

Hyewon berkali-kali bolak-balik di depan cermin.

“Hayo! Saengku kenapa sih bolak-balik depan cermin terus?” Hyemin menghampiri adiknya yang berumur 4 tahun lebih muda darinya itu.

“Anu eon… Apa aku sudah terlihat cantik?” Hyewon tersipu.

“Aigoo! Tentu saja sayang! Kamu sudah terlihat cantik!” Hyemin mengelus-elus pipi adiknya dengan lembut.

Mereka berdua kemudian duduk di atas kasur empuk mereka.

“Oh iya Wonnie… Kapan kamu akan menikah dengan Jiho?”

Hyewon tersedak, ia batuk-batuk mendengar pertayaan dari eonninya yang mendadak itu.

“Hahaha! Aigo! Lucu sekali. Apakah pertanyaan seperti ini saja cukup untuk membuatmu grogi Won?” Hyemin terkekeh melihat tingkah laku adiknya.

“A..Aku juga tidak tahu eonni.” Hyewon menggelengkan kepalanya pelan.

“Pokoknya, jangan terlalu cepat ya. Tapi, jangan terlalu lambat juga seperti eonnidan Kyuhyun oppa.” Nada suara Hyemin melemah.

“Tenang saja eonni. Jiho dan aku pasti akan menunggu eonni dan Kyu oppa. Jangan tergesa-gesa ya eonni. Lagipula, kalau terlalu dikebut kasihan Kyu oppa juga. Tinggal beberapa bulan lagi Kyu oppa akan di bebastugaskan kok.” Hyemin langsung memeluk adik tersayangnya dengan erat.

“Terimakasih ya Wonnie. Kamu memang saeng terbaik.” Air mata Hyemin mulai menetes. Selang beberapa menit kemudian, Hyemin kembali tersenyum. Senyumannya lebih cerah daripada senyumannya yang biasa.

‘TIIN TIIIN’

Bunyi klakson khas mobil Jiho membuyarkan suasana haru diantara kakak beradik Sung itu. Hyewon langsung beranjak berdiri dan kemudian mengecup pipi eonninya sebelum akhirnya ia berlari menuju ke depan rumah.

Hyewon berlari ke depan sembari membuka pintu rumahnya. Nampak Jiho sudah berdiri di sana dengan tuxedo hitam miliknya. “Ayo baby. Kita pergi sekarang.” Jiho menggandeng tangan Hyewon dan mereka menuju ke tempat dimana mobil Jiho diparkir.

*********************

“Waaah! Eunyoung eonni manis sekali ya pakai gaun pengantin itu!” Hyewon memeluk lengan Jiho makin erat.

“Kalau kau yang pakai pasti lebih manis. Ah! Tidak! Bahkan lebih dari manis.” Jiho tersenyum menatap Hyewon.

“Mwo?! Gombal! Tidak ada yang bisa lebih dari manis tahu!” Hyewon menggembungkan kedua pipinya.

“Heh! Pipinya jangan jadi seperti bunglon begitu dong!” Jiho menepuk-nepuk pipi Hyewon dengan tangan kanannya.

“Ada kok yang lebih daripada manis.” Lanjut Jiho.

“Apa?”

“Manis…. sekali. Hahaha!” Jiho terbahak.

Hyewon memanyunkan bibirnya sambil mencubiti perut dan lengan Jiho. “Jayus!” Gumam Hyewon.

“Beneran jayus nih? Yakin jayus?” Jiho mulai menggoda Hyewon. Hyewon mengangguk-angguk kecil, sebenarnya ia malu.

“Iya deh. Oppa jayus. Tapi, kok jadi Wonie yang malu sih?” Jiho terkekeh.

Sifat isengnya kambuh.

“Eh? Maksudnya?”

“… Pipimu merah tuh~ Hahaha!” Jiho tertawa seraya mencolek-colek pipi kanan Hyewon yang memerah.

“Ih! Ini gara-gara oppa sih!” Hyewon mulai salah tingkah.

Jiho menatap Hyewon dengan ekspresi pura-pura kaget, “Lho? Kok gara-gara oppa?”

“Ah! Pokoknya ini gara-gara oppa!” Hyewon menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat.

“Oh, ya sudah, ya sudah. Let me fix that.”

“Eh? Means?”

“Kau tidak mau pipimu merah lagi kan?”

Hyewon mengangguk sebagai respon. Dan tanpa basa basi Jiho langsung mencium pipi kanan Hyewon dan kemudian ia berbisik tepat di telinga Hyewon, “Saranghae.” Jiho kemudian mengecup pipi kanan Hyewon. Hyewon terpaku. Seluruh tubuhnya terasa kaku.

“Hm? Kok jadi malah tambah merah sih?” Jiho menahan tawanya.

Hyewon terus mencubiti dan memukuli namja-chingunya itu.

“Aduh! Aduh! Sakit! Ampun!” Jiho pura-pura meringis kesakitan.

Ditengah pertengkaran mesra mereka, tiba-tiba saja mereka mendengar nama mereka berdua dipanggil oleh suara yang tidak asing, yaitu suara Hyena dan Myungsoo.

“Hey Won! Hey Jiho!” Myungsoo melambai ke arah mereka.

“Ayo ikut bergabung duduk dengan kami disini.” Hyena datang menghampiri mereka dan menarik lengan Hyewon. Hyewon pun langsung menarik agar Jiho ikut bersamanya.

*********************

Mereka berempat duduk melingkari meja bundar yang berisi berbagai makanan pembuka yang lezat.

“Wah! Makanannya enak-enak nih!” Mata Hyena mulai bersinar-sinar karena senang.

“Nah nah! Kebiasaan nih chagiku. Melihat makanan langsung drooling.” Myungsoo merogoh-rogoh saku celananya mencari-cari saputangan.

“Nih!” Myungsoo pun langsung menyerahkan saputangan nya kepada Hyena.

Perbincangan di antara mereka berempat pun dimulai. Berawal dari membahas hal keseharian sampai membahas bagaimana ramainya acara pernikahan ini. Ketika sedang asik-asik berbincang, suara MC acara bergema di ruangan.

“Bagi para teman kuliah mempelai wanita dipersilahkan untuk naik ke atas panggung untuk berfoto bersama.”

“Tsk! Timing nya tidak pas sekali! Baru mau mulai makan.” Gerutu Jiho.

“Myungsoo, Hyena, permisi dulu ya.” Jiho bangkit berdiri sebelum menghampiri Hyewon dan mengecup keningnya. “Wait a minute baby. I’ll be right back.” Ujar Jiho sambil mengusap-usap kepala Hyewon.

“N..ne!” sahut Hyewon singkat.

Myungsoo menatap yeoja chingunya sambil senyum-senyum. Tatapan itu dibalas oleh Hyena dengan senyuman juga.

Tuh kan benar apa kataku oppa! Mereka itu romantisnya sungguh terlalu!” Ujar Hyena.

“Iya. Awalnya oppa ragu. Jiho itu anak yang dapat dikategorikan seperti.. hm, berandalan dan oppa kira dia itu tipe yang cuek. Eh! Ternyata… Hmmm….” Myungsoo melirik-lirik Hyewon yang sedari tadi sudah tidak nyaman.

Merasa dirinya dilirik, Hyewon langsung menoleh.

“Ada apa Myungsoo oppa?” Hyewon tersenyum polos.

“Hmmm… Tidak ada apa-apa. Hanya saja rasanya iri dengan kau dan Jiho. Iya kan, Na?” Myungsoo menoleh kepada Hyena.

Hyena mengangguk-angguk mengiyakan.

“Kalian itu romantis sekali. Serius deh, aku tidak bohong.”

Karena tidak tahu harus merespon apa Hyewon memutuskan untuk tersenyum, walalupun sebenarnya ia malu.

*********************

“Kamu! Ya, kamu namja berambut blonde! Bisa tolong geser lebih ke kanan sedikit?” Jiho mendengus kemudian bergeser ke sebelah kanan.

“Aduh! Kesebelah kananku!” Gerutu juru sang foto.

Jiho dengan ogah-ogahan bergeser ke sebelah kiri.

“Nah! Begitu! Oke, siap semuanya! Satu, dua, tiga…” Flash dari kamera memancar.

“Sekali lagi! Satu… Dua… Tiga…” Sinar flash dari kamera kembali memancar.

“Ya! Perfect! Terimakasih! Silahkan turun dari sebelah kiri!” Juru foto menunjuk sebelah kirinya. Semuanya menuju ke sebelah kiri sang juru foto, namun, tidak dengan Jiho. Ia malah maju ke depan dan langsung melompat dari atas panggung.

Melihat hal ini, Eunyoung,  si mempelai wanita tertawa cukup keras sementara mempelai pria, Sihoo hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.

“Dasar anak itu. Dari dulu tidak pernah berubah!”

*********************

Jiho kembali ke tempat duduknya. Ia mencium kening Hyewon sebelum ia duduk.

“Maaf lama. Tadi juru kameranya ribet.” Gerutu Jiho sambil menyantap makanannya.

“Kelihatan dari tampangnya.” Celutuk Myungsoo. Jiho mengangguk-angguk setuju.

Selang beberapa waktu kemudian, mereka berempat sudah selesai dengan makanan mereka. Mereka pun kembali berbincang-bincang sambil ditemani oleh lagu yang dilantunkan oleh pemusik yang mengisi acara pernikahan ini.

“Ngomong-ngomong,” Myungsoo menahan dagunya dengan kedua tangannya. “Kalian berdua kenal sejak kapan?” Tanyanya sambil menatap Jiho dan Hyewon secara bergantian.

Jiho tersenyum tipis sementara Hyewon menunduk untuk menutupi wajahnya yang memerah.

Menyadari apa yang terjadi pada kekasihnya Jiho menepuk pelan kepalanya kemudian dengan sangat lembut ia bertanya. “Bolehkah oppa ceritakan hal ini pada Myungsoo?” Hyewon menganguk pelan.

“T-tapi tidak usah terlalu detail, ya?” gumam Hyewon pelan.

Jiho, Myungsoo, dan Hyena tertawa mendengar gumaman Hyewon.

“Baiklah…” ujar Jiho.

Ia kemudian melanjutkan. “Kami kenal sejak dia masih SMA. Waktu itu….”

[flashback]

Hujan deras turun membasahi seluruh Korea. Seorang namja berambut coklat berlari di tengah hujan sambil menutupi kepalanya dengan tasnya yang berwarna hitam dengan sobekan di tepi kanan atas.

“Berikan paying itu sekarang!” Dari arah halte bus, terdengar suara seorang namja.

“Tidak mau! Payung ini milik haraboji ini!” terdengar sahutan seorang yeoja.

Namja berambut coklat itu lagnsung berlari ke arah halte untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dan ia dapat dengan jelas melihat seorang yeoja yang berdiri disamping seorang haraboji tua yang tengah ketakutan.

“Huh! Dasar yeoja sombong!” Namja yang agak bertubuh besar itu mendorong yeoja berseragam SMA yang tampak tidak punya rasa takut sampai tersungkur. Namja kasar itu kemudian mulai berusaha merebut payung dari haraboji yang ketakutan itu.

“Hentikan! Dasar namja tidak tahu malu!” Yeoja itu bangkit berdiri dan mendaratkan hantaman di wajah namja kasar itu.

“Haraboji tidak apa-apa? Cepat pergi sana!” Haraboji itu langsung lari tanpa membuka payungnya.

Namja berambut coklat yang sedari tadi mengintip itu menghela napas.

‘Dasar! Haraboji zaman ini ada-ada saja! Kalau payungnya tidak mau dipakai, kenapa tidak kasih saja? Kasihan kan anak SMA itu yang jadi harus berurusan dengan namja tak tahu diri itu’

BRAAAK! Sesuatu membentur kursi halte. Namja berambut coklat itu kagettnya bukan main ketika melihat namja kasar itu mendorong anak SMA itu sampai membentur kursi halte dengan keras.

“Dasar yeoja belagu!” Namja itu baru saja akan menampar wajah yeoja SMA tersebut, namun, sebuah genggaman erat menahan tangannya yang sedang melayang itu.

“Boo!” Namja itu jatuh tersungkur menabrak kursi halte setelah sebuah pukulan mendarat di perutnya.

“Kau bangga jadi namja yang berani menghajar seorang yeoja seperti barusan?” Namja berambut coklat itu menaruh tas nya di samping yeoja SMA yang tersungkur.

“Kau tidak apa-apa?” Yeoja itu mengangguk pelan sambil tersenyum ke arah namja berambut coklat tersebut.

“Bisa berdiri?”

“Bisa.”

Namja berambut coklat mengulurkan tangannya untuk membantu yeoja yang mengenakan seragam SMA itu berdiri. Yeoja berambut hitam itu meraih tangan yang terulur ke arahnya dan mulai berdiri.

“Kau yakin baik-baik saja?”

“Ne!” Senyuman lebar menghiasi wajah yeoja tersebut.

Mereka berdua berbalik badan untuk mengambil tas mereka. Namun….

“Lho? Tas ku yang mana ya?” Yeoja itu kebingungan.

“Kalau tasku sih yang….” Namja berambut coklat itu terhenti.

Mata mereka berdua menuju kepada tas-tas berwarna hitam dengan sobekan di tepi kanan yang tergeletak di bawah.

‘TIIN TIIN!’

Suara klakson bus berbunyi, menandakan penumpang harus segera naik.

“AISH! TUNGGU!” Yeoja itu langsung mengambil tas yang berada di sebelah kanan dan langsung naik ke dalam bus. Namja berambut coklat hanya bisa bengong.

“YA! TUNGGU! BAGAIMANA KALAU TAS KITA TERTUKAR!?” Namja itu lansung mengambil tas yang tersisa dan membukanya.Dan, benar saja. Nampaknya tas mereka berdua tertukar.

“Oh! S**t!” Namja itu berlari mengejar bus yang sudah melaju. Langkah kakinya makin melebar dan makin cepat seraya bus melaju makin cepat.

“YA, YA!! TUNGGU!” Namja itu menggedor-gedor pinggiran bus dengan tangannya.Namun, bus terus melaju. Namja itu mulai kelelahan. Namun ia tidak bisa berhenti. Tas mereka benar-benar harus ditukar kembali. Tiba-tiba saja bus mengerem karena lampu merah dan tanpa menunggu lagi namja itu langsung mengetuk-ngetuk pintu kiri bus.Sang sopir yang melihatnya langsung membuka pintu.

“Silakan masuk. Lain kali jangan terlambat naik ke dalam bus!” ujar supir bus itu.

Namja itu tidak menjawab dan langsung naik kedalam bus.

“Ya! Kau! Yeoja yang barusan! Tas kita tertukar. Ini tas mu.” Namja itu menyerahkan tas yang ada dalam pangkuan tangannya kepada yeoja itu dan langsung mengambil tas miliknya yang ada di pangkuan yeoja SMA itu.

“Ah! Memalukan sekali! Maafkan aku!” Yeoja SMA itu berdiri dan membungkuk, meminta maaf.

“Haha! Ani. Tidak apa-apa. Oh iya, kenalkan..” Namja itu mengulurkan tangan kanannya.

“Jiho. Woo Jiho. Senang bertemu denganmu!” Yeoja itu menjabat tangan Jiho sambil kemudian tersenyum.

“Senang bertemu denganmu juga Jiho-ssi. Namaku Hyewon. Sung Hyewon.”

Mereka berdua lalu duduk bersebelahan dan mulai berbincang-bincang. “Ngomong-ngomong sekolahmu dimana?”

“Ah. Sekolahku tidak jauh dari halte barusan.” Jawab Hyewon.

“Oh! Sekolah X itu ya? Dulu aku juga bersekolah disitu.”

“Oh, begitu. Eh iya! Ngomong-ngomong Jiho-ssi sekarang sudah bekerja kah?”

“Ahaha! Apa aku terlihat tua? Aku masih kuliah.” ujar Jiho.

“O-oh. Maafkan aku. Jiho-ssi kuliah mengambil jurusan apa?”

“Berhentilah bericara formal seperti itu. Panggil saja aku Jiho oppa. Aku mengambil jurusan musik. Musik hiphop.”

“Hiphop? Wah! Keren! Aku rasa genre hiphop cukup menarik!”

“Benarkah? Bagus kalau kau berpikir seperti itu! Nanti kalau kita bertemu lagi aku akan memperdengarkan lagu mixtapeku padamu Won. Haha!”

“Kyoo! Oppa benar-benar hebat! Jangan lupa janjimu lho! Haha!”

“Iya, iya. Aku janji.”

“Tapi… bagaimana kalau pada pertemuan berikutnya oppa tidak kenal aku?”

“Haha! Bodoh! Tentu aku tidak akan lupa. Kau adalah yeoja paling perkasa yang pernah aku temui! Hahaha!” Jiho tertawa keras.

“Dasar! Sudah ah! Aku malu!” pipi Hyewon bersemu.

“Ah! Sudah sampai daerah rumahku! Aku duluan ya! Sampai bertemu lagi Jiho oppa!” Hyewon pamit dan turun dari bus. Hyewon bergegas menuju ke trotoar dan melambai pada Jiho. Dari dalam bus Jiho balas melambai sambil tersenyum.  

-Keesokan Harinya pada Sore Hari-  

Hyewon kaget bukan main ketika sebuah mobil menepi ke arahnya. Kaca jendela mobil tersebut terbuka dan nampak Jiho dari dalam mobil.

“Yo, brave girl! Shall we go home together?”

“Lho? Jiho oppa kok bisa ada disini?” Hyewon mendekatkan dirinya ke mobil Jiho dan menyelusupkan kepalanya ke dalam jendela mobil yang terbuka itu.

“Aku kebetulan saja lewat. Ayo pulang bareng! Sepertinya mau hujan.” Selang beberapa detik kemudian, rintik-rintik hujan membasahi jalanan.

“Ayo cepat! Nanti kau kehujanan.”

“Ah! Maaf sekali merepotkan!”

“Hahaha! Tidak apa-apa. Cepat naik. Duduk di depan saja.”

Hyewon mengangguk dan kemudian berjalan mengitari depan mobil dan masuk ke dalam melalui pintu satunya lagi.  

[end of flashback]

Setelah pikirannya menjelajah kembali ke beberapa tahun lalu, Jiho membuka mulutnya. “Ah, pertemuan pertama kami dulu di halte bus dekat sekolah X. Ya, itu saat pertama kali kami bertemu.”

Myungsoo mengangguk-angguk. “Ketika Hyewon masih SMA ya?”

Jiho mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba saja laki-laki berambut pirang itu tertawa. Myungsoo, Hyena, dan bahkan kekasihnya, Hyewon hanya bisa melongo melihat hal tersebut.

“Eh? Oppa kenapa?” tanya Hyewon.

“… Ah tidak. Oppa hanya ingat betapa lugunya oppa waktu itu.” jawab Jiho penuh arti.

Tiba-tiba saja suara MC kembali terdengar. “Wah! Akhirnya tiba waktu pelemparan bunga!”

Hyena dan Hyewon langsung menoleh ke arah panggung dan secara bersamaan keduanya berkata, “Ayo kita ke sana sekarang!”

“Kenapa ya selalu saja ada acara seperti ini di acara pernikahan? Aku sama sekali tidak tertarik.” Jiho berdiri ogah-ogahan.

Myungsoo tertawa mendengar perkataan Jiho. “Ya, aku pun sama sepertimu, Jiho.” ujarnya kemudian.

-To be continued-

author’s note
halo lagi para readers!
gimana untuk fanfic yang satu ini? kalian suka? atau tidak suka?
jangan lupa comment ya.. aku butuh pendapat kalian mengenai fanfic ini
Thank you untuk yang sudah membaca
dan thank you so much untuk yang sudah meninggalkan jejak❤

4 responses to “[Chaptered] Digital Love (Chapter 1)

  1. wuhuuu another Zico FF here.seneng banget rasanya. akhirnya ada juga yg mau bikin ff cast Zico. Sebelumnya salam kenal ya. Ini kayanya comment kedua ku ya. sebelumnya aku udah comment di ff kaamu yg satu lagi. kamu 96 line? sebenernya ga terlalu kaget sih, soalnya udah keliatan dari gaya bahasa di ff km yg ini. gimana ya…gaya bahasanya teen bgt. hihihi. Plis bgt lanjutin FF ini sampe tamat. Aku selalu tunggu pokoknya. oiya boleh saran ga? kalo bisa si gaya bahasanya jng terlalu teen bgt walopun kamu masih terbilang teenager si, ga kaya aku.hahaha. soalnya buat aku yg terbilang udah ga teenager lagi, ada yg ngeganjel gitu pas baca ff yg bahasanya terlalu teen.hihi.tapi gapapa si kalo kamu lebih nyaman dg gaya bahasa seperti ini. gamasalah.yg penting lanjutin ff ini. terus sama mungkin lebih dipanjangin dikit deskripsi gerak gerik tokohnya sama suasana atau latar ff ini. udah gitu aja sarannya. selebihnya oke bgt kok. ditunggu bgt ya kelanjutannya ^^

    • hallo Miss Ellyot (boleh panggil gitu?) salam kenal juga ya
      ini comment Miss yang kedua ff ku ><
      hm ya sebelumnya mohon maaf kalau gaya bahasanya masih anu soalnya kalau boleh jujur ini fanfiction aku buat 3 tahun lalu, sebenernya baru cuma semacem coret coret di kertas gitu tapi sekarang aku udah mantep dan mau post jadi aku lagi rombak rombak gaya bahasanya dan juga alur aku belokin(?) sedikit hehe
      mohin maaf ya Miss
      untuk chapter selanjutnya saya usahakan post a.s.a.p

      thank you untuk feedbacknya ya sangat berarti❤

  2. Pingback: Digital Love [Chapter 2] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s