[Fanfiction] Azab Tukang Beras Palsu @seungwonation

kai exo

Author : @seungwonation

Judul : Azab Tukang Beras Plastik

Cast : EXO Kai – SNSD Yoona – Infinite Seungwon – EXO DO
(Kyungsoo)

Genre : Hidayah

Length : Oneshot

Disclaimer : Cast bukan milik Author. Kalau ada kesamaan
adegan, ya emang di sengaja sih. Cerita murni hasil
mikir Author. Ini cuman Fanfiction, jadi gak usah di
buat ribet. Woles aja ya Mas/Mbak Bro smile emotikon

Cuap-cuap Author :

Holla, udah lama banget nih gue gak bikin fanfic.
Tadinya sih udah mau pensi dari dunia perfanfican, tapi
yah mau gimana lagi, gue udah terlanjur suka dengan
dunia tulia menulis ini.

Makanya, meskipun udah gak punya waktu buat fanboying,
gue tetep nyempetin buat bikin ff geje ini. Serius, gue
udah males bikin ff yang ceritanya romance-romance,
terlalu mainstream banget kayanya hehehe

Fanfic ini emang geje, makanya buat orang yang gak punya
sense of humor, mendingan gak usah baca dari pada ntar
misuh-misuh sendiri.

Lagian gue juga gak terima bash dalam bentuk apapun
waksss

Yow, gak pake lama lagi deh, Happy Reading Yow

oOo

Alkisah pada suatu hari, negeri ini tengah di hebohkan dengan sebuah fenomena beras plastik yang beredar di tengah-tengah masyarakat. Entah dari mana dan oleh siapa rumor ini pertama kali di hempaskan ke masyarakat.

Ada yang mengatakan beras plastik itu berasal dari negeri tirai bambu, namun ada juga yang mengatakan kalau beras palsu itu berasal dari pelosok daerah di negeri ini. Tapi itu semua hanyalah rumor tak berdasar yang berhembus di tengah hirup pikuk hebohnya Dijah Yellow yang menerbitkan sebuah buku dengan gaya bahasa yang cetar badai paripurna.

Tapi siapa yang menyangka kalau beras plastik itu di buat dan di produksi oleh seseorang di negeri ini. Ada pepatah yang mengatakan kalau rumor adalah fakta yang tertunda.

Misalnya rumor Kris yang katanya sakit jantung, ternyata keluar dari EXO, kemudian ada Luhan yang katanya sibuk ini itu ternyata emang lagi sibuk ngurusin lawsuit, atau Tao yang katanya istirahat karena cedera, ternyata malah sibuk ngurus album solonya.

Semua itu berasal dari rumor yang menjadi kenyataan. Makanya rumor yang beredar itu gak bisa kita abaikan begitu saja, karena rumor itu biasanya 85% kenyataan yang hanya tinggal di konfirmasi sama agensinya. /Uhuk/

Balik lagi ke beras palsu. Kai dan Dijah adalah sepasang suami istri yang bisa di bilang sangat serasi. Serasi karena tampangnya sama-sama ngeselin. /Dan kemudian Author di santet EXO-L/

Mereka berdua adalah orang kismin. Penghasilan dari buku yang Dijah terbitkan nyatanya tak cukup untuk mencukupi kehidupan mereka sehari-hari. Jangankan buat balik modal, bukunya aja gak ada yang laku satu pun.

Sementara Kai, dia adalah seorang pengangguran yang kerjaannya nongkrong di pangkalan ojek sambil ngegodain anak-anak perawan.

Hingga pada suatu hari, karena terinspirasi dari muka Dijah yang mirip kaya orang gagal operasi plastik, Kai akhirnya memutuskan untuk berjualan beras.

Tentu saja bukan beras biasa, melainkan beras plastik. Wah, ternyata tampang absurd seorang Dijah bisa membuat Kai terinspirasi.

“Pah, sampai kapan sih kita mau jualan beras abal-abal kaya gini? Mamah merasa gak enak. Mamah merasa kotor dan hina, pah.” Suatu malam Dijah bertanya pada suaminya.

Kai yang sedang memilah-milah plastik yang menjadi bahan utama dagangannya, kemudian menoleh ke arah Dijah. “Berani kotor itu baik loh, mah.” Jawabnya dengan santai.

“Ih, Papah, itu kan kata-kata di iklan Rinso.” Dijah merajuk manja sembari mencubit tete Kai dengan gemas.

“Ya, abisnya muka mamah kaya cucian kotor sih. Jadi cuman itu yang papah inget.”

Wajah Dijah Yellow yang kaya cucian lecek itu tiba-tiba merona merah ketika mendengar pujian yang di lontarkan oleh Kai. Tunggu dulu, pujian? Yah, anggap saja seperti itu. Namanya juga kopel gaib, jadi wajar kalau otaknya agak gesrek.

“Dasar, gembel!” Dijah pura-pura marah, padahal dia cuman malu-malu kucing garong. Biasalah, namanya juga cewek suka jual mahal. Tapi kalau si Dijah sih, jangankan jual mahal, di diskon (?) Aja belum tentu ada yang mau, kecuali si Kai.

“Terus gimana dengan permintaan Mamah yang tadi, pah?”

“Permintaan yang mana ya?” Kai terlihat bingung.

Dijah merengut kesal. “Yang tadi, pah. Soal kapan kita berhenti berjualan beras palsu.”

Kai mendesah pelan. Ia kemudian menghentikan aktifitasnya untuk sejenak, lalu memandang tajam istrinya.

“Kita sudah berkali-kali ngebahas ini loh, Mah. Kalau gak kerja kaya gini, kita mau dapet duit dari mana lagi, hah?!” Bentak Kai dengan nada tinggi.

“Tapi gak kaya gini juga kali, Pah. Ini bulan puasa loh, inget dosa, Pah!” Dijah bersabda.

“Halah, persetan sama dosa. Yang penting perut kenyang!”

“Astagfirullah, Papah. Kok ngomongnya kaya gitu sih?!” Dijah tampak kaget dengan reaksi suaminya.

“Lo kok Mamah jadi kaya Ustadz Baekhyun sih, bawel. Kalau mau ceramah gak usah di sini deh, sono di mesjid aja!” Ujar Kai marah. “Lagian sejak kapan sih Mamah jadi mikirin dosa? Kalau Papah gak cari duit kaya gini, Papah mana bisa beliin bedak mahal buat tampang Mamah yang kaya keset itu, eoh?!”

Mata Dijah mulai berkaca-kaca mendengar cercaan dari suaminya itu. Namun dengan berat hati, ia harus mengakui kalau apa yang di katakan Kai itu memang benar adanya.

Dulu, sebelum Kai mempunyai duit buat ngebeliin dia bedak, Dijah harus rela mendempul mukanya dengan semen basah, yah sekalian di lulur biar tampang Dijah yang kaya kulit dorokdok itu lebih mulus, meskipun gak ngaruh tentu saja.

“Mendingan tampang Mamah kaya di dempul semen, dari pada pake bedak mahal hasil dari duit haram. Lagian Pah, kata Ustadz Baekhyun —”

“Ahh, banyak bacot lo. Dikit-dikit Ustadz Baekhyun, dikit-dikit Ustadz Baekhyun. Kalau lo gak suka, sono kawin aja sama si Ustadz Baekhyun!” Kai menghardik istrinya dengan nada tinggi. Ia selalu kesal kalau Dijah udah ngomongin tentang dosa. Cuman bikin kuping panas aja bawaannya, pikir Kai.

“Lagian kalau bukan Papah, siapa lagi yang mau nyari
duit buat keluarga ini? Emangnya Mamah bisa, hah?! Bikin
buku gak laku, Lo gue jual ke germo juga gak ada yang
mau. Kalau Mamah gak bisa nyari duit, udah diem aja gak
usah banyak cingcong deh!”

Dijah tersentak kaget. Sebenernya ia ingin membalas,
namun ia tak bisa. Karena lagi-lagi, apa yang di katakan
Kai itu memang ada benarnya. Maka seperti apa yang di
katakan suaminya barusan, ia hanya perlu diam.

“Iyah, Pah, Mamah ngerti. Mamah gak akan protes lagi
deh.” Lirih Dijah pasrah. Yow, orang kaya dia mana bisa
milih-milih sih.

Kai mengangkat dagunya, bangga. Ralat, lebih ke arah
nyombong sih. Dia orangnya gak suka di bantah, makannya
dia ngawinin Dijah yang selalu nurut dengan apa yang di
perintahkan. Lagian baik Kai maupun Dijah, keduanya
sadar diri dengan tampangnya yang pas-pasan, – kecuali
Dijah yang tampangnya di bawah standart SNI -, makanya
keduanya nikah dari pada gak laku sama sekali.

“Sekarang bantuin Papah. Sono potongin plastik-plastik
ini!” Kai menyerahkah beberapa ikat stick berbahan
plastik.

Dijah kemudian memasukan plastik-plastik berbentuk stick
ke dalam sebuah mesin. Plastik itu bukanlah plastik
biasa, tetapi plastik yang sudah di campur dengan resis
sintesis. Mesin itu berfungsi untuk memotong plastik-
plastik itu menjadi bagian-bagian kecil sehingga
terlihat mirip dengan butiran-butiran beras.

Nantinya butiran-butiran plastik itu akan di campur
dengan beras asli dengan perbandingan 55% beras asli dan
45% beras plastik. Jika sudah di gabungkan, tak akan ada
yang menyadari kalau berasnya sudah di campur dengan
beras palsu.

Dengan modus seperti ini, Kai bisa mendapatkan untung
yang banyak. Kasarnya dia hanya menjual beras setengah
karung, namun konsumennya akan membayar seharga satu
karung besar.

Sekali jual saja, dia sudah mendapatkan untuk bersih
nyaris 100%. Dia akan mendistribusikan beras-beras
oplosan itu ke pasar-pasar tradisional dan beberapa
warung kecil.

Kai tidak peduli kalau beras plastik buatannya itu akan
membahayakan kesehatan orang lain. Buat dia yang penting
untung, untung, dan untung.

Astagfirullah, sungguh licik sekali si Kai ini. Semoga
dia segera tobat sebelum Tuhan menurunkan azab untuknya.

~ oOo ~

Sementara di tempat lain, seorang pemuda berbaju koko
putih, bersarung motif kotak-kotak, serta sorban
melingkar di atas kepalanya. Ah, jangan lupakan kumis
tipis yang berada tepat di atas bibirnya.

Dia adalah Ustadz Seungwon. Sepertinya ia baru saja
pulang setelah mengisi ceramah di kampung sebelah.
Maklum saja, Seungwon adalah seorang Ustadz famous yang
follower twitternya aja udah 500K, anak RP aja kalah
banyak.

Ketika ia sampai di rumah, Ustadz Seungwon mendapati
Yoona Yuningsih, – Istrinya -, sedang duduk-duduk di
cantik di teras rumahnya bersama dengan ibu-ibu lainnya.
Sebenernya Ustadz Seungwon kurang suka istrinya itu
bergaul dengan ibu-ibu bigos yang tiap hari kerjaannya
tuh nyinyir mulu. Dia takut istrinya yang polos itu jadi
ketularan nyinyir juga.

Meskipun begitu, sebagai Ustadz, dia tak bisa menolak
kedatangan ibu-ibu itu. Yah, sukur-sukur kalau istrinya
bisa mengajak teman-temannya itu ke jalan yang benar.

“Assalamualaikum…” Ujar Ustadz Seungwon memberi salam.

“Waalaikum salam warrohmatullahi wabarakatu…” Balas
para ibu-ibu.

“Eh, Ustadz baru pulang ya? Dari mana aja, kok baru
kelihatan sih.” Tanya salah seorang ibu-ibu gembrot yang
hanya menggunakan daster bunga-bunga yang udah lusuh
kaya kain pel.

‘Ya iyalah gue baru pulang, emang dia gak lihat gue baru
dateng, eoh?’ Kata Ustadz Seungwon di dalam hatinya.

“Iya nih, Bu Samsung, saya abis ngisi ceramah di kampung
sebelah.” Jawab Ustadz Seungwon dengan ramah. Tak lupa
ia pun melontarkan senyumannya yang mampu mempesona
semua anak perawan di kampung itu.

“Wah, kalau tahu Ustadz Seungwon yang ngisi ceramah di
sana, saya ikutan juga deh.” Timpal Bu Advan, seorang
ibu-ibu yang mukanya kaya kuda, tapi ganjennya
naudzhubillahimindzalik.

“Eh, kampret, gak usah gangguin laki gue deh!” Protes
Yoona yang tak terima suami tercintanya di goda-goda si
tampang kuda.

“Mamah, tolong bahasanya di jaga ya!” Tegur Ustadz
Seungwon ketika mendapati Istri tercintanya mengumpat
dengan kasar. Maklum, Yoona Yuningsih kan mantan preman
tanah abang, jadi masih suka keceplosan ngomong kasar.

“Ups, Maaf, Pah, Mamah lupa.” Kata Yoona meminta maaf.

“Yasudah, Papah maafkan. Tapi jangan di ulangi lagi ya.”
Kata Ustadz Seungwon yang langsung di sambut dengan
anggukan oleh Istrinya. “Yowes, Papah masuk dulu ya.”

“Saya masuk duluan, mari Ibu-Ibu, Assalamualaikum.”
Ustadz Seungwon pamit pada ibu-ibu lainnya.

“Waalaikumsalam…” Ujar Ibu-Ibu bersamaan.

Para Ibu-Ibu itu hanya bisa menatap sosok Ustadz
Seungwon yang semakin menjauh. Tampang mereka mupeng.
Keterlaluan, mereka ngebayangin hal-hal jorok dengan
Ustadz Seungwon di depan Yoona yang notabennya adalah
istrinya.

“Hayo, matanya di jaga. Inget, kita lagi puasa loh!”
Sindir Yoona pada Ibu-Ibu yang hanya bisa cengengesan
karena malu tertangkap basah membayangkan yang Iya Iya
dengan Ustadz tampan itu.

Gak usah heran kalau para Ibu-Ibu itu kesengsem sama
Ustadz yang satu itu. Ustadz Seungwon itu nyaris
sempurna. Wajahnya begitu sangat tampan, dengan mata
teduh yang mampu membuat setiap orang yang melihatnya
merasa damai.

Entah kenapa, wajah Seungwon itu selalu terlihat
bercahaya. Mungkin karena efek dari air wudhu yang
selalu membasahi wajahnya.

Belum lagi senyumannya yang bisa membuat setiap
perempuan langsung klepek-klepek. Senyuman sejuta pesona
Ustadz Seungwon memang tidak ada tandingannya.

Badannya juga cukup bagus. Dengan dada bidang, bahu
lebar, dan ABS yang }«~\}<[]>»\ ICIKIWEW banget.
Pokoknya atletis banget deh.

Beruntung sekali Yoona Yuningsih yang bisa bersandar di
dada bidang Ustadz Seungwon setiap malam.
Membayangkannya saja sudah membuat para Ibu-Ibu itu
menjerit histeris.

Intinya, Ustadz Seungwon adalah gambaran dari pria
sempurna masa kini. Selain mempunyai paras yang rupawan,
sifatnya yang ramah, serta rajin mengaji, membuat semua
wanita di kampung itu menginginkannya.

Dari sekian gadis di kampung itu, beruntunglah Yoona
yang di pilih oleh Ustadz Seungwon. Setelah di
persunting oleh Ustadz tampan itu, Yoona yang tadinya
preman tanah abang, lama-lama mulai berangsur tobat dan
menjadi seorang pribadi yang lebih baik.

Subhanallah, ternyata Ustadz Seungwon mampu menuntun
Istri tercintanya ke jalan yang lurus. Surga menantimu,
Ustadz Seungwon.

Beberapa jam kemudian, adzhan maghrib mulai
berkumandang, menandakan sudah waktunya bagi keluarga
Ustadz Seungwon untuk berbuka puasa.

Dengan teliti, Yoona mulai menyiapkan berbagai makanan
untuk suami dan anaknya berbuka puasa. Ada sayur sop
buntut curut, perkedel tomcat, Tumis Laron Asam Manis,
serta beberapa lauk pauk lainnya. Ah, jangan lupakan
juga kolak paha kecoa madagaskar sebagai pencuci
mulutnya.

Ustadz Seungwon, Yoona, dan Kyungsoo – anak sulung
mereka – sudah berkumpul di meja makan, bersiap
menyantap hidangan berbuka puasa yang menggugah selera.

“Mah, kok nasinya benyek sih?” Tanya Kyungsoo tiba-tiba.
Ia menatap nasi yang berada di piringnya tampak berbeda
dari pada biasanya.

“Mungkin Mamah masak nasinya kebanyakan airnya kali.”
Kata Ustadz Seungwon sambil ngaduk-ngaduk nasi di
piringnya. Ia juga merasa ada yang aneh dengan nasinya
hari ini.

“Ah, nggak kok, Pah. Perasaan Mamah masaknya kaya
biasanya deh.” Ujar Yoona. Ia mengaduk-aduk nasi di
dalam ricecooker.

Benar apa kata Suami dan Anaknya, nasi itu terlihat
berbeda dari biasanya. Nasinya jadi lembek dan aneh.
Terus kalau digigit, rasanya agak keras-keras gimana
gitu.

Ahh, Yoona bingung, Author bingung, pusing pala barbie
deh jadinya.

“Kenapa ya?” Yoona bertanya-tanya entah pada siapa.

“Ini beras yang Papah beli di Cianjur bukan, Mah?” Tanya
Ustadz Seungwon penasaran. Perasaan beras yang di
belinya sebulan yang lalu, kualitas bagus deh. Kok
sekarang jadi hancur gini, pikirnya.

Yoona menggeleng dengan pelan. “Bukan, Pah. Beras
Cianjur yang Papah beli mah udah abis. Ini beras yang
Mamah beli di warung, Pah.” Ungkap Yoona menjelaskan.
Ustadz Baekhyun hanya ber-oh sambil mengangguk-angguk
paham.

“Emang Mamah beli di warung siapa? Kok berasnya jelek
gini sih.”

“Mamah beli di warungnya Mpok Dijah, Pah.”

“Dijah yang mukanya Astagfirullahaladzhim itu?” Tanya
Kyungsoo tiba-tiba.

“Iya, Nak. Mpok Dijah yang kuning-kuning ngambang itu.”
Kata Yoona.

Kyungsoo kemudian mendesah pelan. “Mah, kenapa beli
beras di si kuning-kuning itu sih?!” Protesnya.

“Emangnya kenapa, Nak?” Yoona terlihat penasaran.

“Kata orang-orang, beras yang di jual di warungnya Mpok
Dijak dan Bang Kai itu palsu, Mah, beras plastik!” Ujar
Kyungsoo memberitahu. Gak sia-sia setiap hari ia
nongkrong di warteg buat ngegosip sama Ibu-Ibu disana.
Yasalam, ternyata anak Ustadz hobi ngegosip juga.

“Ah, yang bener, Soo?” Yoona kaget dan terlihat tak
percaya.

“Iya, Mah, gosip Mpok Dijah sama Bang Kai jualan beras
plastik itu udah heboh banget di kampung.” Kata
Kyungsoo.

Brakkk…

Tiba-tiba Ustadz Baehyun menggeberak meja makan dengan
kerasehingga membuat anak istrinya terlonjak kaget.

“Astagfirullah, Nak. Sudah berapa kali Papah bilang,
jangan suka bergaul sama ibu-ibu tukang gosip. Papah gak
suka ah!” Seru Ustadz Baekhyun marah.

“Ihh, Papah, aku serius, Pah. Udah banyak kok korbannya
di kampung kita!”

“Sudah, diam Kau, Morgan. Jangan seenaknya menyebarkan
gosip, ntar jatuh fitnah, dosa tahu!”

“Jangan panggil aku, Morgan! Namaku Kyungsoo keleuz!”
Protes Kyungsoo tak terima karena ayahnya itu hobi
sekali memanggilnya dengan nama kecilnya itu.

Dari pada harus berdebat tak jelas, Ustadz Seungwon dan
keluarganya kemudian berinisiatif untuk melihat sisa
beras yang di beli Yoona di warung Dijah Kuning.

“Nih, Pah, berasnya.” Yoona menyerahkan sisa beras yang
di belinya pada Ustadz Seungwon.

Ustadz Seungwon kemudian meneliti beras tersebut. Di
perhatikannya butiran-butiran beras, warna, bau, hingga
tekstur. Dia sendiri gak yakin beras itu asli atau
palsu. Toh, Ustadz Seungwon sendiri gak tahu bedanya
apa.

“Morgan, ambilin setrikaan gih!” Perintah Seungwon pada
anaknya.

Kyungsoo mendengus kesal, “Ish, udah di bilangin jangan
panggil aku dengan nama Morgan!” Gerutunya. Ia kemudian
pergi mengambil setrikaan.

Tak lama kemudian Kyungsoo kembali dengan membawa sebuah
setrikaan.

“Emang buat apa setrikaan, Pah? Papah mau nyetrikain
baju? Alhamdullilah, akhirnya Mamah bisa santai-santai
sambil nonton sinetron.” Ujar Yoona merasa bersyukur,
sementara Ustadz Seungwon hanya melirik istrinya itu
dengan malas.

“Yee, sapa juga yang mau nyetrika baju, males binggow.”

“Yahh, kirain the si Papah mau nyetrika baju. Terus buat
apa atuh setrikaannya?” Yoona tampak kecewa, tapi
penasaran.

“Papah pernah liat di berita, katanya cara ngebedain
beras asli sama beras plastik itu pakai setrikaan.”
Ungkap Ustadz Seungwon.

“Oh ya, gimana caranya?” Kali ini Morgan ehh Kyungsoo
yang bertanya. Duh, author jadi ikut-ikutan Ustadz
Seungwon, manggil Kyungsoo dengan sebutan Morgan kekeke

“Katanya kalau beras asli di setrika itu gak kenapa-
napa, sementara kalau beras plastik biasanya meleleh
terus nempel-nempel di setrikaannya.” Ustadz Seungwon
menjelaskan.

Yoona dan Kyungsoo cuman bisa ber-oh ria sambil
manggut-manggut, padahal mah pada gak ngerti. Duh,
kasihan Ustadz Seungwon, gini nih punya istri mantan
preman sama anak yang sekolahnya cuman sampe gerbang.
Untung aja selain tampan dan rupawan, Ustadz Seungwon
juga di anugerahi otak yang sangat encer, seencer bubur
nestle.

Setelah menunggu setrikaannya panas, Ustadz Seungwon
langsung menyetrika berasnya. Dan setelah setrikaannya
di angkat, Ustadz Seungwon, Yoona, dan Kyungsoo langsung
terkejut.

“Tuh kan berasnya bener-bener palsu!” Seru Kyungsoo
dengan semangat. Dari tadi cuman dia sih yang paling
bersikukuh kalau beras itu palsu.

“Alhamdulliah, untung nasinya belum kita makan yah, Mah.
Kalau tidak kita sekeluarga bisa keracunan. Gak elit
banget ntar kalau ada berita keluarga Ustadz Seungwon
keracunan beras oplosan.” Kata Ustadz Seungwon merasa
bersalah.

“Iyah, Pah, Alhamdullilah yah. Terus sekarang gimana
dong?” Tanya Yoona.

Ustadz Seungwon tampak berpikir sejenak. Bahkan ketika
sedang berpikir pun, wajah Ustadz Seungwon tampak gagah
dan mempesona.

“Yasudah, beras yang ini di buang aja. Kita juga gak
usah makan nasinya. Kita makan di fluar aja!” Kata
Ustadz Seungwon pada anak Istrinya.

“Kita makan di luar, Pah? Asyik, mau makan dimana kita,
Pah? Hokben? Pizza Hut? Atau Solaria?” Kyungsoo tampak
antusias karena mau di ajak makan di luar.

“No… No… No… Kita makan di Warteg Mpok Esia aja!”
Ujar Ustadz Seungwon.

Kyungsoo dan Yoona langsung lemes seketika. Kirain
mereka Ustadz Seungwon akan mengajak mereka makan di
restoran yang mewah, ternyata malah di Warteg Mpok Esia
.
‘Dasar, si Papah pelit!’ Gerutu Kyungsoo dan Yoona di
dalam hatinya.

~ oOo ~

Sehabis melaksanakan Shalat tarawih di masjid, Ustadz
Baekhyun beserta keluarga hendak pulang ke rumah mereka.
Namun, ketika di jalan mereka melihat kerumunan warga
yang beramai-ramai entah mau pergi kemana.

Apa mereka mau demo menuntut kenaikan harga BBM atau
harga paket internet Smartfren yang naik tapi koneksinya
makin lelet? Entahlah, jangan tanya sama Author.

Mereka terlihat saling berkasak-kusuk satu sama lain.
Raut wajah mereka tampak kesal dan marah. Beberapa di
antara mereka bahkan membawa obor dan sebilah golok.
Karena penasaran, Ustadz Seungwon pun bertanya pada
kerumunan masa tersebut.

“Assalamualaikum Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Kok rame-rame
begini, ada apa ya?”

Kerumunan masa itu kemudian berhenti ketika berpapasan
dengan Ustadz Seungwon beserta keluarga.

“Waalaikumsalam, Pak Ustadz.” Jawab mereka semua dengan
kompak.

“Kita mau demo, Pak Ustadz.” Ujar salah seorang dari
mereka, sebut saja namanya Bapak Oppo.

Demo? Tuh kan bener apa kata Author kita yang tampan ini
kalau mereka mau demo. Tapi mau demo apa? Jangan-jangan
mereka mau ngedemo kantor smartfren beneran. Wah, kalau
gitu author dukung 1000% deh. /Author curhat banget yee/

“Loh, demo kok malem-malem begini, sih. Emang saudara-
saudara ini mau demo kemana?” Ustadz Baekhyun terlihat
bingung. Ya, siapa juga yang gak bingung, demo kok
malem-malem. Emang siapa sih mau di demo jam segini?
Kuntilanak, Genderuwo, atau Wewe Gombel?

“Kita mau demo ke warung Mpok Dijah, Pak Ustadz.” Kata
seorang Bapak-Bapak bertubuh tambun, kali ini kita sebut
saja Bapak eLji.

“Lah, emang ada apa ya?”

“Pak Ustadz tahu si Baekhyun anak Ceu Odah kan?” Tanya
Pak Oppo. Ustadz Seungwon hanya mengangguk. “Nah,
beberapa saat yang lalu dia masuk rumah sakit.”

“Terus apa hubungannya si Cabe masuk rumah sakit sama
Mpok Dijah?” Kali ini Kyungsoo yang bertanya, karena
bagaimana pun si cabe ehh Baekhyun adalah teman
nongkrongnya di warteg.

“Kata Dokter, dia keracunan beras plastik, Nak Morgan.”
Kyungsoo mendengus kesal ketika Pak Oppo memanggilnya
dengan sebutan Morgan. Salahkan Ustadz Seungwon yang
memberinya nama kecil Morgan.

“Pah, untung tadi kita gak jadi makan beras plastik itu
ya.” Bisik Yoona pada suami dan anaknya. Ustadz Seungwon
dan Kyungsoo hanya mengangguk dengan kompak.

“Kita harus menghentikan Bang Kai dan Mpok Dijah sebelum
jatuh korban lain, Pak Ustadz.” Kata Pak eLji
menjelaskan maksud mereka.

“Benar, kalau perlu kita usir mereka dari kampung kita!”
Timpal Pak Oppo yang di sambut sorak-sorai warga
lainnya.

“Hmm, yasudah saya ikut ya.” Ustadz Seungwon menawarkan
diri yang langsung di setuji oleh warga.

Akhirnya Ustadz Seungwon beserta keluarga ikut bergabung
dengan warga lainnya untuk berdemo ke warungnya milik
Mpok Dijah dan Bang Kai.

~ oOo ~

Beberapa saat kemudian, Ustadz Seungwon beserta warga
sudah berada di depan warung yang sekaligus menjadi
tempat tinggal Kai dan Dijah.

Sambil mengacungkan-acungkan obor, para warga juga
meneriakan nama Kai dan Dijah agar keduanya keluar dari
rumah.

“Woi, temsek, keluar lo!” Teriak Pak Oppo.

Karena penasaran dengan keributan yang terjadi di depan
rumahnya, Kai dan Dijah langsung keluar dengan bingung.

“Ada apa ya, kok pada rame-rame di depan rumah gue?”
Tanya Kai pada kerumunan warga.

“Gak usah sok pura-pura deh. Noh, gara-gara kalian si
Baekhyun ‘Cabe’ jadi masuk Rumah Sakit!” Bentak Pak
Oppo. Kalau di pikir-pikir, Pak Oppo ini kayanya
Koordinator ngerangkap provokator juga deh, soalnya
pinter banget manas-manasin suasana.

“Loh, dia yang masuk Rumah Sakit, kok gue yang di
salahin sih?!” Kai semakin terlihat bingung, namun ada
nada tidak terima saat dirinya di tuduh sebagai penyebab
Baekhyun masuk Rumah Sakit.

Pak Oppo berdecak kesal ketika melihat Kai yang kayanya
tuh gak merasa bersalah sama sekali. “Bangke lo, si Cabe
masuk Rumah Sakit gegara keracunan beras oplosan yang
kalian jual. Sekarang kalian harus tanggung jawab, eoh!”
desaknya.

Nghh, perasaan namanya Bang Kai deh, bukan BangKe. Ah,
sudahlah, mungkin Pak Oppo sedang lelah dan lavar.

“Eh, jangan sekate-kate yee kalau ngemeng. Siapa yang
bilang gue jualan beras oplosan, hah?!” protes Kai
dengan nada menantang.

“Iya nih, jangan asal nuduh dong. Ink namanya fitnes ehh
fitnah, dosa tahu hukumnya. Noj, tanya aja sama Ustadz
Seungwon!” timpal Dijah menambahkan.

‘Loh, kok nama gue di bawa-bawa sih?’ pikir Ustadz
Seungwon.

“Woi, bungkus Indomie diem lo, gak usah banyak
cingcong!” seru seorang warga pada Dijah.

Kesal, Dijah pun kemudian diam sambil ngumpet di ketek
Lai. Ceritanya si tampanh Astagfirullahaladzhim itu lagi
pundung karena di katain Bungkus Indomie.

“Yak! Biar kata muka bebez gue kaya pantat panci gosong,
gak usah di hina juga keleuz!” Kai memarahi warga yang
sudah membully istri tersayangnya.

“Uhhh, Papah So sweat banget deh belain Mamah sampe
segitunya.”

“Demi lo apa sih yang nggak, bebz.” ujar Kai gombal.
Sementara Dijah tampak tersipu malu dengan wajah yang
merona.

Ustadz Seungwon dan para warga nyaris muntah berlian
menyaksikan drama percintaan Kai dan Dijah yang membuat
iritasi mata itu.

“Adegan yang tak senonoh!”

“Best Horror scene 2015.”

“Semoga fans Kai di berikan ketabahan.”

Para warga tampak berkasak-kusuk, menggunjingkan
pasangan absurd di depan mereka.

“Heh, ini fanfic hidayah, bukan sinetron. Gak usah pada
lebay deh!” ujar Pak eLji yang merasa terganggu dengan
interaksi couple gaib tersebut.

Dengan terpaksa, Kai dan Dijah pun menghentikan acara
mesra-mesraan mereka sebelum ada korban yang jatuh.

“Jadi gimana, kalian masih mau nuduh gue gitu? Emang
kalian punya buktinya gitu?” Kai memandang para warga
dengan tatapan meremehkan. Sepertinya dia yakin sekali
kalau dia gak bakal ketahuan.

“Kita emang gak punya bukti, tapi semua orang di kampung
ini juga udah pada tahu kalai lo sama bini sundel lo itu
jualan beras plastik!” kata Ibu Advan.

“Iya, bener itu!” timpal Bu Esia Mengiyakan.

“Halah, itu sih kalian aja sendiri yang bikin gosip!”
sergah Kai.

“Sekarang mendingan bapak-bapak dan ibu-ibu pulang aja
gih, gue mau lanjut ngebokep dulu nih!” usir Kai pada
warga.

“Astagfirullah, Kai. Ini lagi bulan puasa, bukannya
tadarusan malah ngebokep. Dasar anak jaman sekarang
ckckckck” Ustadz Seungwon hanya bisa mengelus dada Yoona
ketika melihat moral anak bangsa yang semakin rusak saat
ini.

“Please deh, Tadz. Bokep itu Bobok Cakepz. Wah, pikiran
lo jorok mulu nih.” Kai memandang Ustadz Seungwon dengan
poker face.

“Ihh, Papah Kudet banget sih!” Bukannya membela, Yoona
malah ikut mengolok-olok Suaminya.

“Iya nih, Papah Upay banget masa gak tahu Bokep, malu-
maluin aja deh.” timpal Kyungsoo.

“Tenang, nak. Besok ke pasar buat tuker tambah Papah
yang lebih update-an lagi.” kata Yoona.

Poot Ustadz Seugwon. Bukannya di bela, dia malah mau di
tuker tambah di pasar sama anak istrinya. Sejuta pukpuk
deh buat Ustadz Seungwon.

“Nah, karena kalian gak punya bukti, gue dan my bebebz
mau bobo dulu ya!” ujar Kai pada warga. Ia kemudian
mengajak Dijah masuk ke dalam rumahnya.

Para warga hanya bisa menahan kesal ketika melihat sikap
Kai yang songong itu. Mereka yakin kalau Kai dan Dijah
adalah oknum pembuat beras plastik, namun mereka tak
bisa berbuat apa-apa karena mereka tidak punya bukti
yang cukup kuat.

“Tunggu sebentar, kita punya buktinya kok!” teriak
seseorang di tengah kerumunan, dia adalah Kyungsoo.

Kini, semua mata tertuju pada Kyungsoo dan kedua orang
tuanya. Sebagian dari mereka memandang Kyungsoo dengan
beragam. Ada yang memandangnya dengan penuh harap,
heran, hingga bertanya-tanya.

“Oh ya, benarkah?” tanya Kai dengan tampang songong dan
meremehkan.

Kyungsoo mengangguk. Pemuda boncel itu kemudian
menceritakan insiden saat buka bersama di rumahnya,
mulai dari Yoona yang membeli beras di warung Dijah,
nasi yang lebih mirip makanan soang, hingga eksperimen
Ustadz Seungwon yang menguji beras plastik dengan
setrikaan.

“Benarkah itu, Ustadz Seungwon?” tanya Pak Advan
memastikan.

Ustadz Seungwon mengangguk sambil tersenyum penuh
wibawa. “Nde, setelah di uji di ITB dan IPB, positif
kalau wajah gue itu ganteng binggow!”

Krikk… Krikkk… Krikk…

Semua orang memandang Ustadz Seungwon dengan ekspresi
poker face.

“Kita tahu kalau Ustadz itu tampan rupawan menggelora,
jadi gak usah narsis juseyo.” ujar Bu Esia.

Ustadz Seungwon mengusap tengkuknya, malu.

“Hehehe… Maaf. Tapi serius, setelah beras yang istri saya beli di warungnya si jamban kampret ini saya setrika, eh berasnya malah meleleh. Fix banget kalau berasnya itu beras plastik!” kata Ustadz Seungwon menjelaskan.

Para warga langsung berkasak-kusuk. Kalau Ustadz
Seungwon yang ngomong, mereka yakin 100% karena seorang
Ustadz gak mungkin bohong.

“Eh, temsek, lo udah dengerkan apa kata Ustadz Seungwon?
Udah deh gak usah ngeles lagi!” seru Pak eLji dengan
nada tinggi, diikuti dengan sorak sorai dari warga
lainnya.

“Tu-tunggu, emang kalian yakin kalau beras yang di beli
keluarga Ustadz Seungwon itu asalnya dari warung gue,
eoh?!” Protea Kai tak terima. Dari nada bicaranya, ada
sedikit keraguan dari diri Kai.

“Oh, tentu saja. Di dalam karung beras yang saya beli,
ada hadiah buku novel buatanya Dijah juga loh.” ujar
Yoona angkat bicara.

Skak mat! Kai gak bisa ngeles lagi. Dia mendelik ke arah
istrinya dengan kesal.

“Woi, ngapai juga lo masukin novel busuk lo ke dalam
beras, hah?!” Kai memarahi istrinya.

“Maaf, Pah. Tadinya Mamah pikir, dari pada novel Mamah
berakhir jadi bungkus gorengan, mendingan novelnya di
jadiin hadiah beras aja.” lirih Dijah. Ia menundukan
wajahnya, tanda ia sangat menyesal.

Kai mendesia kesal mendengat kebodohan yang di buat
istrinya itu.

“Terus kalau iya gue jualan beras plastik emang kenapa?
Masalah buat kalian? Toh, gak ada yang mati ini, si cabe
juga masih iduo kan?!” Kata Kai dengan nada menantang.
Astagfirullah, udah ketahuan busuknya, masih aja si Kai
ini bersikap songong.

Mendengar nada bicara Kai yang tidak bersahabat, emosi
para warga pun mulai tersulut. Mereka geram dengan sikap
songong Kai.

“Wah, parah nih orang! Udah deh, saudara-saudara, sikat
aja!” seru Ustadz Seungwon memanas-manasi.

Astagfirullah, bukannya melerai, Ustadz Seungwon malah
memprovokasi para warga. Dan parahnya semuanya pada
nurut aia.

Para warga kemudian mulai bersikap anarkis. Ada yang
ngebakar ban di tengah jalan dan sebagian mulai
mengobrak-abrik rumah Kai.

“Woi, mau apa kalian, hah?!” teriak Kai sembari
menghalangi para warga.

“Halah, minggir lo!” seorang warga mendorong Kai, hingga
pemuda bertampang songong itu terjatuh.

“Papah!” jerit Dijah khawatir. Ia kemudian menghampiri
suaminya.

Semakin malam, suasana di tempat itu semakin panas. Para
warga menghancurkan barang-barang milik Kai dan Dijah.
Kemarahan para warga pun semakin memuncak ketika melihat
alat-alat yang di duga sebagai alat untuk membuat beras
plastik.

Mereka bahkan tak segan-segan melempar sekarung beras
plastik ke muka Kai dan Dijah.

Hingga pada puncaknya, para warga mulai membakar rumah
itu, seolah-olah rumah itu adalah rumah dari dukun
santet. Meskipun gak ada dukunnya, seenggaknya tampang
Dijahlah yang mirip boneka santet.

Melihat rumahnya di lalap si jago merah, Kai dan Dijah
hanya bisa meratapinya sambil sesekali menjerit parau.
Para warga kini mengerumungi Kai dan Dijah yang tengah
berpelukan kaya maling ayam.

“Sekarang kita apain ni orang?” tanya Pak eLji pada
warga lainnya.

“Bakar aja, bakar!” teriak seorang warga yang langsung
di sambut sorak sorai warga lainnya.

Kai dan Dijah hanya bisa menatap warga dengan tatapan
minta di kasihani. Sayangnya tampang mereka gak cocok
buat pasang ekspresi seperti itu.

“Jjangan bakar kita, Bang. Gue minta maaf deh. Gue janji
gak bakal jualan beras plastik lagi deh!” pinta Kai
dengan nada memohon.

“Halah, gak usah di dengerin apa katanya, Bapak-Bapak
dan Ibu-Ibu!”

“Iya, bullshit banget. Udah kita telanjangi aja mereka,
terus kita arak keliling kampung, ntar baru deh kita
bakar!”

Kai dan Dijah hanya bisa menelan ludah dengan susah
payah.

“Astahfirullahaladzhim, tenang dulu saudara-saudara.
Kita ini negara hukum, tolong jangan main hakim
sendiri!” kata Ustadz Seungwon mencoba melerai warga
yang sudah semakin menggila.

“Eh, gak usah banyak bacot lo, Tadz. Bukannya lo yang
tadi ngeprovokasi warga buat ngebakar rumah gue, hah?!”
teriak Kai pada Ustadz Seungwon.

Tiba-tiba saja sebuah tendangan melayang ke arah kepala
Kai.

“Eh, Tong, sopan dikit kalau ngomong sama Ustadz!”
bentak Pak Advan.

“Ni orang emang songong, udah kita sikat aja deh!”
Kai akhirnya di gebukin oleh beberapa warga hingga
tampangnya jadi bonyok dan luka-luka. Melihat suaminya
di keroyok, Dijah hanya bisa pasrah sambil termewek-
mewek. Serius, gak ada yang kasihan sama Dijah meskipun
dia mau mewek sambil guling-guling sekalipun.

“Ehhh, udah-udah. Kan gue udah bilang jangan pada maen
hukum sendiri!” lerai Ustadz Seungwon untuk kedua
kalinya.

“Tapi orang kaya dia gak pantea buat di kasihani, Pak
Ustadz!” sergah Pak eLji.

“Iya, saya tahu kalau dia adalah seorang penjahat. Dia
memang berdosa, tapi bukan hak kita untuk menghakiminya.
Ingat, semua orang juga tak luput dari yang namanya
dosa. Biar saja Allah yang akan menghukumnya nanti, tapi
sekarang lebih baik kita serahkan saja mereka kepada
pihak yang berwajib.” ungkap Ustadz Seungwon.

Para warga tampak saling berdiskusi, ada yang setuju dan
ada juga yang tidak. Sebagian dari mereka rupanya sudah
terlanjur sakit hati dengan ulah Kai dan Dijah.

“Yaudah, kita sepakat gak akan ngelaporin kalian ke
polisi. Tapi mulai sekarang kalian harus meninggalkan
kampung ini dan jangan pernah kembali kemati!” ujar Pak
Advan pada Kai dan Dijah.

“Benarkah? Kami janji gak akan pergi jauh dan tak akan
kembali lagi ke kampung ini!” seru Kai. Ia merasa lega,
tak apalah ia di usir dari kampung itu di banding harus
di laporkan ke Polisi atau di bakar sambil di arak
keliling kampung.

Singkat cerita, setelah di usir oleh warga, Kai dan
Dijah pun meninggalkan kampung itu tanpa uang
sepeserpun, mereka bahkan tak membawa apa-apa karena
semua harta bendanya sudah habis di lalap si jago merah.

Dijah mungkin sudah menyesal, tapi tidak dengan Kai. Air
matanya adalah air mata buaya, dia tidak benar-benar
menyesali perbuatannya. Kai bahkan berencana untuk
membalas dendam pada warga kampung, terutama pada Ustadz
Seungwon.

Astagfirullah, sepertinya hati Kai sudah benar-benar di
butakan dengan rasa dendam. Kalau sudah seperti ini
hanya azab Allah lah yang bisa menghentikannya.

Dengan penuh luka lebam, malam itu Kai dan Dijah
berjalan di sepanjang jalan yang dingin hingga menusuk
tulang. Mereka tak punya apa-apa dan juga tak punya
tujuan.

Rencanya, malam ini mereka mau tidur di kolong jembatan
fly over. Kasarnya sih, sekarang mereka udah jadi
gembel. Cocoklah sama tampang mereka. *dan kemudian
author di keroyok fans Kai*

Namun, ketika sedang berjalan di jalanan yang gelap dan
sepi, tiba-tiba Kai dan Dijah di hadang oleh beberapa
orang berkendaraan sepeda motor.

Mereka tidak berniat untuk merampok keduanya, tidak.
Mereka hanya gak suka aja ngelihat tampang Kai dan Dijah
yang ngeselin. Maka, para anggota geng motor itu pun
kemudian membegal Kai hingga ia tewas di tempat.

Lalu, bagaimana dengan Dijah? Tadinya, melihat ada
seorang wanita membuat para geng motor itu ingin
membawanya untuk di ikkeh-ikkeh kimochi di semak-semak.
Tapi ngelihat muka Dijah yang kaya jamban SD, mereka pun
mengurungkan niatnya dan membegal Dijah hingga tewas.

Poor Kai dan Dijah, terutama Kai yang harus tewaa dalam
keadaan penuh dosa dan rasa dendam. Ia harus mati
sebelum menyesali perbuatannya.

Keesokan harinya, Mayat Kai dan Dijah di temukan oleh
warga. Sayangnya, tak ada warga yang mau mengurua mayat
keduanya, sehingga pada akhirnya mayat merekapun di
biarkan di tergeletak di pinggir jalan.

Membusuk, bau, di kerubungi lalat ijo, dan menjadi
makanan tikus got. Begitulah nasib seonggok mayat
tersebut.

Hingga pada suatu hari, setelah di perintah oleh Ustadz
Seungwon, para warga pun mau mengurus mayat Kai dan
Dijah.

Namun, saat mayat keduanya akan di kuburkan, tiba-tiba
saja lubang kuburannya menjadi menyempit dan penuh
dengan ular berbisa.

Astagfirullah, bahkan bumi pun menolak Kai dan Dijah.
Azab Allah emang sesuatu banget deh.

Para warga hanya bisa nyinyirin kelakuan Dijah dan Kai
yang semasa hidupnya selalu berbuat kejahatan. Sehingga
mereka pun udah gak kaget lagi ketika Allah menurunkan
azabnya untuk pasangan jamban itu.

Subhanallah, dari cerita di atas bisa kita ambil
kesimpula bahwasanya berdagang secara curang adalah
dosa besar. Allah sangat mengharamkan dan melaknat oknum
pedagang licik yang merugikan masyarakat luas.

Belum lagi Kai mempunyai niat balas dendam terhadap
Ustadz Seungwon yang tampan rupawan. Allah itu sayang
sama Seungwon, makannya Allah langsung menurunkan
azabnya sebelum Kai mencelakai Ustadz Seungwon.

Jadi, jika kalian ingin menjadi seorang pedagang, maka
jadilah seorang pedagang yang jujur. Insya Allah, kalau
rezeki mah gak bakal kemana.

Terus janganlah sekali-kali berniat jahat pada hamba
Allah seperti Ustadz Seungwon, karena azab yang akan di
terimanya bisa berkali-kali lipat lebih perih di banding
ngeliat mantan yang udah bahagia dengan gebetan barunya.
/uhukk/

Ingat, kejahatan terjadi bukan karena ada niat dari
pelaku, melainkan karena ada kesempatan dan power of
kepepet.

Was-waslah, was-waslah….

oOo Tamat oOo

Kritik dan Saran hisa hubungi Author via :

Facebook : Seungwonation

Twitter : @Seungwonation

Blog : Seungwonation

Baca juga Fanfiction Seungwonation Lainnya :

5 responses to “[Fanfiction] Azab Tukang Beras Palsu @seungwonation

  1. 😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😃😂😃😃😂😂😂

  2. Gilaaaaaa aku ngakak model apa pas baca fenfik ini. Jahat bener Kai dipasangan sama Dijah Yellow, wkwkwk. Terus itu kyungsoo… hahahaha… emang rada2 mirip sama Morgan smash. Entah dibagian mananya aku nggak tahu.
    Btw ada Typo yang cukup membingungkan. Penamaan Ustadnya berubah-ubah, dari Seungwon jadi Baekhyun, terus dari Baekhyun jadi Seungwon lagi.
    Bikin lagi yang kayak gini ya, fanboy. hahaha😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s