[Chapter 4] Rose, Waterfall, and Gold Sworded Knight

rwk2

Jihan Kusuma

Cast : Moon Namji|Oh Sehun|Luhan

Genre : Comedy-Romance|School-life|Drama

Length : Eps

Copyright 2015 ©JihanKusuma

EPS 1| EPS 2 | EPS 3 | EPS 4

note :

Annyeong. Han harap masih ada yang nunggu kelanjutan ff ini. Maafin lama hiatus soalnya baru aja wisuda dan ternyata Han keterima di sekolah SMA tujuan di luar kota :””) akhirnya. So sekarang Han engga di rumah lagi, melainkan di kost. Adakah dari kalian yang lokasi di Surabaya? Han disini. Di smkn 1 surabaya. Han gaada keluarga, gaada teman, gaada satupun yang dikenal disini. Tapi sekarang, setelah ospek, Han dapet banyak temen baru🙂

Oh ya, kenapa curhat ini ._.

Cus

Selamat membaca! :*


“Little Blue Bird With Wolf Mentally”

Menjadi seorang isteri dari mahluk penunggu air terjun bukal hal yang bisa dilakukan semua orang. Terkadang puteri mawar merasa tidak nyaman, kerap kali penghuni air terjun meminta hal yang tidak-tidak. Sang Puteri semakin tidak betah. Tangisannya yang terdengar hingga ke seluruh hutan membuat langit menggelap. Hujan menghujam dedaunan, cahaya abu-abu menelanjangi belantara, dan hewan-hewanpun bersembunyi dibalik selimut mereka yang terbuat dari jerami…

-Cont

 


 

Namji mengetuk ruang army. Seseorang membukakan pintu. Ternyata itu Chanyeol, lelaki yang kelebihan gigi itu tersenyum kearah Namji. “Kau lagi.”

“Annyeonghaseo.” Namji membungkuk. “Boleh aku masuk. Jenderal menyuruhku mengambil berkasnya.” papar Namji to the point.

“Masuk saja. Kau bisa ambil berkasnya diatas meja.”

Chanyeol membiarkan gadis itu masuk ke ruang army yang didominasi warna pale. Penghangat ruangannya begitu menyengat dan aroma lilac tercium dimana-mana. Menyenangkan sekali menjadi army. Pasti hanya siswa-siswa terpilih yang bisa menempati ruagan seperti ini. Mungkin suatu saat Namji bisa-

Namun sebelum Namji menuntaskan khayalannya , dia terlebih dulu terpaku karena mendapat tatapan dari seluruh army yang ada didalamnya. Sontak bulu kuduknya meremang. ‘Seperti inikah rasanya bertatapan langsung dengan kakak kelas yang belum kau kenal?’

“A-annyeong… Moon Nam-“

“Moon Namji?” seorang perempuan memotongnya begitu saja. Namji mengangkat wajahnya untuk menatap salah satu anggota army itu. Didadanya tertera nama ‘Seul Gi’. Mata sipit gadis itu dibingkai dengan polesan eyeliner tebal. Tatapannya bisa dibilang sedikit berbahaya.

Seul Gi adalah siswa kelas 11, teman satu angkatan Sehun yang diam-diam menyukai jenderal itu. Jadi jangan heran jika Seul Gi membenci siapa saja yang dekat dengan Sehun. Apalagi dengan pangkatnya sebagai army di sekolah ini. Dia bisa menghentikan siapa saja yang menapakkan kakinya selangkah saja mendekat kearah Sehun.

“N-nde.” jawab Namji. Mungkin anggapan jika laki-laki lebih berbisa daripada perempuan itu salah besar. Buktinya Namji tidak takut sama sekali ketika harus membentak Sehun. Tetapi sekarang? Dia tidak mampu bergerak barang satu senti dihadapan Seul Gi. Terkadang kakak kelas perempuan bisa tampak lebih menyeramkan daripada monster es.

“Aku sudah dengar itu. Jadi Sehun menjadikanmu sebagai babunya begitu ya?” sambil melipat tangannya, Seul Gi mendekati Namji. Jongin yang mengetahuinya segera menghalangi langkah Seul Gi. Jongin tahu betul jika Seul Gi tidak menyukai Namji yang notabenenya saat ini sedang sangat dekat dengan Sehun.

“Dia kemari atas perintah jenderal. Biarkan gadis ini mengambil berkas Sehun.” sahut Jongin degan senyumannya.

Seketika Seul Gi menodong lelaki itu dengan tatapan ‘What the…’. Rupanya Namji harus bersyukur tidak kena semprotan Seul Gi untu kali ini. ‘Si Gosong ini mencoba membelanya rupanya’ pikir Seul Gi.

“Cha! Disana berkas milik Sehun. Kau mau aku bantu membawanya?” tawar Jongin sambil mengangkat alis.

“A-aku bisa membawanya sendiri.” mungkin Namji harus mencium sepatu Jongin karena sudah melindunginya dari serangan nenek sihir yang satu ini. Namji segera mengambil tumpukan map diatas meja.

“Gomawo. Aku harus pergi sekarang juga.” secepatnya dia hengkang dari sana.

‘Ternyata ada yang lebih berbahaya dari pada moster kapur itu.’

Hari ini adalah hari terakhir masa orientasi para siswa baru –kecuali Namji. Semuanya sudah berkumpul di lapangan utama untuk melaksanakan upacara penutupan. Para army memutuskan untuk mempersingkat upacara karena sepertinya hujan akan segera turun siang ini juga.

Didepan sana, Sehun sedang berdiri dengan Chanyeol yang sedang menopang lengannya. Dengan begitu para siswa akan percaya jika gigitan di jempol kaki Sehun cukup parah sampai-sampai jenderal mereka belum bisa berjalan seperti biasa.

“Sehun, bukankah kemarin kau mencetak gol ketika kita futsal?” bisik Chanyeol.

“Aku sedang berpura-pura Hyung.” balas Sehun.

“Yaa, jadi kau benar-benar menyukai gadis itu?” suara Chanyeol meninggi seiring senyumannya yang mulai mengembang.

Sehun menatap Chanyeol sambil mengerutkan dahi. Jika dipikir-pikir Sehun sendiri juga belum mengerti mengapa dia rela berpura-pura seperti ini hanya untuk gadis itu. Yang pasti Sehun senang melihat Namji menderita, itu saja. Tidak ada alasan yang lain yang lebih masuk akal. Mungkin ini semua efek menjadi jenderal; Sehun menjadi salah satu dari para psikopat yang bangga melihat adik kelasnya merasa begitu rendah. Baginya, itu merupakan salah satu hukuman untuk Namji juga agar tidak macam-macam kepada sunbae.

“Mana mungkin aku menyukai gadis seperti itu!” sambar Sehun.

Chanyeol menepuk pundak Sehun dua kali. “Hati-hati. Siapa tahu setelah ini ganti kau yang bersujud di kakinya. Bagaimana jika gadis itu menolak dan memaksamu mengejar-ngejarnya?” lelaki dengan jumlah gigi diatas rata-rata itu mengangkat alisnya yang lebat. Sehun jadi bertanya-tanya apakah keluarga kutu bisa tinggal atau bermalam disana dan membantu Chanyeol mencuci otaknya yang selalu berfikir aneh-aneh.

“Hyung, kau ini bicara apa?” Sehun mulai kesal dengan Hyungnya yang satu ini –yang selalu berimajinasi tentang hal yang iya-iya.

“Sehuni… lihat dia.” Chanyeol meremat tengkuk Sehun lalu mendekatkannya ke sebuah arah. Disana, diujung pandangan mereka tampak seorang gadis memakai rok kotak-kotak dengan rambut yang terikat kebelakang secara asal-asalan namun tetap rapi. Gadis itu sesekali menatap pergelangan tangannya yang dilingkari arloji. Kemudian mengipaskan jemarinya pertanda sedang gerah.

“Kau lihat siapa disana?”

Sehun mengangguk-angguk. “Ada apa dengan gadis itu?” Sehun memutar bola matanya dengan malas. Jangan bilang jika kali ini Chanyeol akan mencomblangkannya dengan Moon Namji yang notabenenya sama sekali bukan tipe gadis idaman. Apakah gadis yang tidur dengan ular atau kecoa dibawah kolong tempat tidurnya bisa disebut gadis idaman? Bahkan Namji sama sekali tidak pandai menata rambut. Kemampuannya berdandan sangat payah. There’s such a BIG NO.

“Hyung, jangan bicarakan dia. Harus berapa kali kukatakan aku tidak menyukainya dan gadis itu sama sekali tidak menarik!”

“Yaa, Sehuni. Tidak bisakah kau melihatnya tidak sebagai seorang hoobae. Coba pandang gadis itu sebagai seorang wanita. Lihat kakinya, lalu keatas, lingkar pinggangnya mempesona sekali. Tubuh itu sepertinya begitu nyaman dipeluk. Lalu keatas ke dadanya. Nah kau lihat kan jika-“

“Stop. Hyung!” Sehun membentak. Seketika Chanyeol kehabisan stok kata-kata untuk merayu Sehun lagi. Sepertinya anak ini memang sulit diajak berpikir.

“Berapa kali harus kukatakan jika Namji bukan kriteriaku?” Sehun berucap dengan dingin. Biasanya Chanyeol akan langsung ketakutan melihat sikap Sehun yang seperti sekarang, tetapi untuk kali ini dia malah terkikik geli. Chanyeol memiliki feeling jika kedekatan Sehun dengan Namji yang semula terjadi karena kecelakaan bisa berbuahkan sebuah hubungan spesial.

Sehun mengangkat megaphone kedepan bibirnya.

“Pehatian semua!” serunya. Seketika suara dari barisan yang semula riuh rendah langsung terbungkam. Para siswa baru itu memasang sikap sempurna dihadapan jenderal mereka. Ekspresi-ekspresi tak sabar terpampang di barisan itu. Mereka semua menunggu jenderal mengumumkan jika masa orientasi berakhir dan mereka bisa bebas, tidak berada dibawah para army yang bertugas mengayomi mereka.

“Saya akan mengumumkan jika masa orientasi siswa baru SMA Pyong Dan tahun ajaran 2014-2015 sudah berakhir…” tepukan tangan beserta sorakan bahagia terdengar disana-sini. Ekspresi yang seperti akan dihukum mati sudah berubah menjadi tawa. Mereka semua bersuka ria dengan berakhirnya masa orientasi kali ini. Kecuali satu orang yang sejak tadi melipat kedua tangannya kedepan dada. Wajahnya mendung. Kulit wajahnya seperti akan mengeropos karena kurang kelembaban. Apalagi bibirnya yang seperti sudah lumutan karena terlalu lama tidak dipakai untuk tersenyum.

“Yey! Yey!” Mark mengepalkan tangan lalu medorongnya ke udara. Namji melirik temannya itu dengan risih. Ada sedikit rasa cemburu dihatinya. Namji juga ingin seperti yang lain. Lulus masa orientasi bersama-sama. Namun itu hanya setetes harapan yang tidak mungkin memenuhi lumbung kebahagiaannya. Pandangan Namji tertuju pada sosok yang baginya sangat mirip monster itu. ‘Oh Sehun! Lihat saja setelah aku lulus orientasi. Maka aku yang akan ganti membullymu!’

“Diam!” Sehun kembali berteriak dibalik alat pengeras suaranya yang selalu dia bawa kemana-mana itu. Suara-suara berisik terganti dengan kesunyian. Hanya suara dahan-dahan pohon yang bergesekan yang terdengar karena ditiup angin.

“Kami, segenap pasukan army mengucapkan selamat kepada kalian yang sudah berhasil melewati masa orientasi selama tiga hari ini. Dan yang belum beruntung, kami harap bisa menjalankan sisa masa orientasinya dengan sungguh-sungguh.” papar Sehun, terdengar menyindir seseorang. Diam-diam lelaki itu menatap Namji yang kini juga sedang memandang lurus kearahnya.

Seluruh pasang mata disana langsung tertuju para si gadis yang belum lulus ospek. Namji memasang wajah ‘Aku salah apa’ sambil mengedipkan matanya tanpa dosa.

“Jadi saya umumkan lagi. Upacara penutupan masa orintasi siswa telah ditutup.”

Tepukan riuh kembali membanjiri atmosfir yang terasa memanas. Sehun turun dari podium dengan bantuan Chanyeol. Sementara itu Mark sedang menepuk-nepuk pundak Namji seraya membisikkan kata-kata penenang agar gadis itu bisa bersikap tabah.

“Semangat Namji! Ayo fighting!” Mark mengepalkan tangannya kedepan wajah Namji, berharap agar gadis itu menoleh kearahanya. Namun sayang sekali, Namji yang terlanjur kesal langsung berbalik dan bubar dari barisan dengan wajah tertekuk.

“Yaa, Namji-ya!” Mark tak gentar mengejar gadis itu.

Semua siswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Mereka kembali lebih awal karena cuaca yang kurang bersahabat. Gemuruh terdengar berkali-kali mengguncang semesta sementar awan keabu-abuan mulai muncul mengambang diatas langit. Semua orang yang sedang bepergian pasti ingin segera pulang dan menurunkan jemuran mereka sebelum hujan mengguyur.

Namun tidak dengan seorang gadis kecil yang sekarang sedang menyapu aula sambil sesekali mengusap keringat di dahinya yang menonjol kedepan. Tak jarang dia mendesah sambil berbicara sendiri. Mengomel sendiri memang sudah menjadi kebiasaannya yang sulit dihilangkan.

“Aish! Kenapa ruangan ini begitu luas?!” amuknya kepada angin sore yang berembus masuk melalui jendela aula. Pasir dan debu-debuan menghambur masuk melalui jendela besar yang terbuka. Namji menggeram kesal lalu menutup jendela dan gordain putih yang terkibaran ditiup angin dingin. Sesaat dia bergidik karena udara dingin mulai menjamahi permukaan kulitnya yang hanya tertutup jas almamater warna biru donker khas SMA Pyong Dang.

“Yahh, dingin sekali. Pasti nanti hujannya akan sangat deras.” gumam Namji sambil menatap guntur dilangit. Dan benar saja, seketika titik-titik air memenuhi permukaan kaca jendela. Gerimis datang mengiringi angin dingin tadi. Namji tidak terlalu ambil pusing karena dia sudah membawa payung untuk perjalanan ke halte.

Tiba-tiba sesuatu disakunya bergetar. ‘Jenderal?’ pikirnya begitu melihat sebuah nama dilayar ponselnya. ‘Untuk apa dia menelepon?’

“Halo?” sapanya sedikit kesal.

“Kau dimana?” tanya Sehun langsung tancap ke topik.

“Bukankah tadi Jenderal menyuruhku untuk membersihkan aula. Aku belum menyelesaikan tugas itu.” kini suara Namji terdengar seperti bibi-bibi penjual sayur =o=

Dipikirannya sudah tergambar ekspresi pahit Sehun. ‘Pasti lelaki itu akan menyuruhku membersihkan toilet pria, menyapu lorong kantin, dan membenarkan genteng. Kenapa tidak sekalian menyuruhku menggali makam Fir’aun?’ =o=

“Kemarilah. Aku ingin segera pulang sebelum hujan.” pinta Sehun dengan suara yang bahkan terdengar membekukan. Mendengarnya saja Namji jadi merinding disko.

Sejenak gadis itu memejamkan mata untuk menahan anjing pudel galak yang sekarang merongrong dalam dirinya. Ingin rasanya Namji membanting ponsel dan kabur dari dunia ini. Baru saja dia turun dari tangga untuk menyapu aula, dan sekarang Sehun memintanya untuk naik lagi. Namji jadi berharap agar dana sosial sekolah ini digunakan untuk membangun eskalator saja.

“Namji” panggil Sehun.

“Arra, arra, kau tunggu saja!” Namji segera menutup sambungan telepon tanpa kata-kata penutup. “Kenapa namja itu tidak bisa berhenti merepotkanku! Ghaish!” pekinya kepada layar ponsel yang masih menampakkan foto Sehun.

Dengan angkah gontai Namji menyeret alat kebersihannya menuju gudang kemudian segera berancang-ancang untuk menaiki tangga. Nafasnya sudah setengah-setengah begitu dia sampai di ruangaan jenderal.

“Aku datang”

“Dasar siput. Cepat bantu aku berdiri!” Sehun mengomel. Namji berusaha menormalkan nafasnya yang serampangan. Gadis itu menyeka keringatnya kemudian berjalan menghampiri Sehun. Dengan perlahan-lahan Sehun mulai berdiri dengan berpegangan pada Namji. Diam-diam lelaki itu mengulum senyum. ‘Senang rasanya melihat gadis itu tersiksa’ pikirnya. Aneh memang. Namun itulah yang diinginkan Sehun. Lelaki itu hanya ingin membuat Namji kapok.

“Tubuh Jenderal berat sekali.”

“Diam.” potong Sehun dengan dinginnya sementara hatinya sedang menjerit-jerit girang. Sehun ingin tersenyum melihat ketidakberdayaan Namji yang begitu lucu.

“Jenderal, aku masih lelah. Bisakah kita duduk sejenak?” tanya Namji, lebih mirip sebuah permohonan. Namun tiga detik setelah itu terdengar suara guntur yang membedil langit. Namji menghembuskan nafas.

“Kau dengar. Sebentar lagi hujan. Aku benci terjebak hujan di sekolah ini sendirian hanya bersamamu.” ujar Sehun sambil menyentil dahi Namji.

“Agh sakit.”

“Cepat bantu aku turun!”

Sambil tertatih-tatih keduanya menuruni tangga kemudian ke lapangan parkir yang kini hanya terisi satu kendaraan, mobil milik Sehun. Namji tidak bisa berhenti mengeluh dalam hatinya. Ingin rasanya melemparkan benda tajam kewajah orang tak berperasaan ini.

Namun ketika mereka masih setengah jalan menuju mobil rintik hujan tampak membelah awan dan menjatuhi tubuh mereka. Namji semakin cepat menuntun Sehun agar dia tidak basah kuyup.

“Namji,” bisik Sehun. Air hujan mengalir kemudian jatuh dari ujung hidungnya. Di jarak sependek ini mereka saling memandang dan sesuatu mulai terasa berdenyut didalam dada keduanya. Namji nyaris menjatuhkan Sehun jika dia tidak bisa menjaga keseimbangan.

“Iya Jen-Jenderal?” balas Namji dengan terbata.

“Sebaiknya aku mengantarmu pulang.” kalimat barusan terasa menjungkir balikkan bumi dalam sekali hentak. Namji hampir kehabisan oksigen. ‘Sehun? Lelaki ini bersedia mengantarku pulang? Oh, setan macam apa yang merasukinya?’

“A-apa?”

“Yaa, cepat bawa aku masuk ke mobil? Kau mau terus menerus kehujanan? Jika kau sakit, siapa yang akan menuntunku menaiki tangga besok?” tiba-tiba suara Sehun meledak.

‘Oh ternyata dia tidak jadi kerasukan.’ =o=

Mobil melaju cepat menembus hantaman air hujan. Titik-titik air itu seperti sedang membentuk kolaborasi alam yang menakjubkan. Satu persatu menjatuhi kaca kemudian mengalir turun. Namji bersandar di seat mobil Sehun sambil memiringkan kepala, menatap air itu. Matanya yang lelah mulai berkunang-kunang. Lampu-lampu jalanan yang berlalu cepat dari balik jendela mambuatnya bosan dan mungkin sedikit mengantuk. Walau bagaimanapun dia sudah bekerja begitu keras hari ini. Mengurus seekor bayi naga memang tidak mudah.

“Kita harus belok mana? Kiri atau kanan? Atau terus saja?” tanya Sehun sambil mengurangi laju mobil sportnya.

Tetapi tidak ada jawaban.

“Moon Namji?” panggil Sehun sekali lagi.

Dan selanjutnya terdengar dengkuran halus dari nafas gadis yang baru saja terlelap itu. Karena terlalu lelah tanpa sengaja Namji tertidur. Sehun memutuskan untuk menepi dan membangunkan gadis itu.

Perlahan mobilnya memotong jalan dan berhenti disamping halte yang kini kosong karena hari semakin malam dan hujan kian lebat. Sehun mengulurkan tangannya dengan perlahan kemudian menyentuh pundak hoobaenya. Entah mengapa ada keraguan dihatinya. Melihat Namji tertidur seperti ini, Sehun jadi tidak tega jika membangunkannya sekarang.

Namji kelelahan juga karena dirinya.

“Hssh…hssh…” dada gadis itu kembang kempis disertai uap yang keluar dari hidungnya.

Sehun semakin tidak memiliki hati untuk mengganggu Namji. Sebelum mereka berangkat, Namji berkata jika dia tinggal di kontrakan seorang diri. Jadi tidak akan ada masalah jika Sehun membawa Namji ke rumah. Lagi pula Sehun juga tidak tahu harus membawa Namji kemana.

‘Baiklah, kau yang membuatku melakukan ini Namji-ya. Tidak ada tujuan lain.’

Sehun melajukan lagi mobilnya, dan tujuan kali ini adalah rumahnya.

Rumah Sehun memang selalu sepi. Appanya bekerja sebagai seorang pengusaha dan sang eomma memiliki butik di luar negeri. Sehari-hari Sehun berada di rumah bersama para pelayan rumah tangga. Sosoknya tidak begitu ramah, bahkan kerap memasang wajah dingin terhadap penghuni-penghuni tetap rumahnya itu. Hanya ada beberapa pembantu yang sedikit akrab dengannya. Mungkin inilah salah satu hal yang menyebabkan Sehun menjadi sangat tertutup. Kedua orang tuanya yang sibuk tidak pernah memiliki waktu yang cukup untuk merajut ikatan yang hangat didalam keluarga. Mereka lebih sering berada di luar kota bahkan di luar negeri daripada di rumah menemani Sehun.

Beberapa menit kemudian mobil Sehun berhenti didepan sebuah bangunan besar yang dibentengi pagar tinggi. Terdapat relief bunga mawar dipagar itu, sementara dibagian atasnya terdiri dari batangan baja yang runcing untuk mencegah tidak ada maling yang memberanikan diri memanjat keatas.

Sehun memencet klakson beberapa kali, dak tidak lama kemudian seorang security membukakan pintu. Beginilah kehidupannya yang serba sempurna –sekaligus serba sengsara. Lelaki dengan rambut berwarna putih keabu-abuan itu selalu diperlakukan seperti seorang putera raja. Namun dia tidak pernah merasa sebagai seorang pangeran. Sehun hanya seorang remaja laki-laki kesepian yang tidak pernah sekalipun berani kabur dari hidupnya yang monoton.

Mobil itu memasuki pekarangan yang luas kemudian menepi tepat didepan gerbang. Dua orang pelayan membukakan pintu untuk tuan muda mereka. Sehun keluar dari mobil dengan langkah terburu-buru (baca : dengan tidak pincang) kemudian membuka pintu lagi untuk menggendong Namji yang masih tidur.

Beberapa pelayan terkejut begitu mengetahui Sehun membawa seorang gadis ke rumah. Sebelumnya Sehun tidak pernah membawa perempuan manapun untuk datang berkunjung. Sehun melintasi para maid sambil membopong Namji tanpa peduli apa yang sedang mereka pikirkan.

Lelaki dengan kemeja sekolah yang ternodai sedikit percikan air hujan itu masuk ke kamarnya dan menaruh sosok Namji diatas ranjang miliknya. Untuk sesaat Sehun menatap gadis di hadapannya yang tampak seperti seorang malaikat kecil. Gadis itu tertidur seperti sleeping beauty, sangat berbeda dengan kelakuannya ketika sedang sadarkan diri.

Tidak mungkin juga jika Sehun membiarkan Namji tidur di kamar orang tuanya. Kamar tamu pun juga ada di lantai atas, dia tidak mau ambil pusing untuk menggendong Namji menaiki tangga.

Ponsel disaku celananya bergetar. Dengan malas Sehun mengambil benda itu dan melihat siapa yang menelepon. Bola matanya berputar begitu menangkap sebuah nama. ‘Appa’. Sehun membanting ponselnya kesamping Namji. Dia malas untuk berakting ‘sedang baik-baik saja di rumah’. Sehun sudah bisa menebak pertanyaan apa saja yang akan Appanya utarakan begitu dia mengangkat telepon.

‘Apakah kau baik-baik saja? Sudah makan? Jangan bersikap terlalu dingin kepada para pelayan.’ mungkin hanya itu.

Sehun melepas dasi sekolahnya kemudian merebahkan diri di sofa. Matanya terpejam sejenak. Jujur saja dia sangat lelah hari ini. Berpura-pura pincang juga bukan perkara yang mudah –selain menjadi pembantu untuk seseorang yang pura-pura pincang. Sehun melirik sosok sleeping beauty yang kini sedang mendengkur tanpa suara diatas ranjangnya yang berseprai hitam.

Sehun baru ingat jika Namji masih memakai sepatu, juga dasi, juga seragam sekolah yang setengah basah karena kehujanan. Dia tidak mungkin membiarkan gadis itu tidur pulas sementara angin malam yang dingin terus membelai seragamnya yang basah. Namji bisa flu besok.

‘Jika dia sakit maka aku akan kehilangan kesempatan mengerjainya.’ pikir Sehun.

Sehun melangkah mendekati Namji kemudian berlutut disamping ranjangnya. Nafas Namji menabrak penciumannya. Sehun baru sadar jika aroma gadis ini seperti bayi. Tatapannya terpaku pada Namji. Tanpa sadar jemarinya melayang kemudian berhenti diatas rambut gadis itu. Sehun mengusapnya pelan, menyeka sisa air hujan yang masih menempel disekitar wajahnya. Seulas senyuman terukir dibibirnya. Dia mengingat rentetan kejadian yang di alami bersama gadis itu di sekolah. Sejak awal Sehun sudah mengagumi Namji yang cukup ‘berbeda’ dengan gadis lain. Kagum. Yah cukup sampai batas itu saja, tidak ada perasaan lain seperti yang diutarakan Chanyeol.

Dia hanya ingin tahu sekuat apa nyali gadis ini. Sehun belum pernah sekalipun menemukan yeoja seperti Namji. Sosok Namji bagaikan selembar daun merah yang tumbuh diantara daun-daun hijau disekitarnya. Daun merah itu meleset dari keberanan umum seolah terlahir cacat, namun dialah yang menjadikan tumbuhan itu menjadi spesial.

Sehun melangkah mendekali lemari hitamnya yang terletak disamping meja belajar, mencari-cari sesuatu yang mungkin akan muat dan cocok di tubuh sunbaenya. Lelaki itu mengambil sebuah kaos warna putih polos dengan v-neck, untuk sesaat dia kembali melirik Namji yang terebah di ranjang. Tidak cocok, pikirnya. Lelaki itu menyerah kemudian menutup lagi lemarinya.

Dia keluar dari kamar dan memanggil salah satu maid. Sekilas, rumah seukuran kuil ini terasa seperti pemakaman. Sepi sekali.

“Carikan piyama wanita yang cocok untuk gadis itu. Oh ya, jangan lupa panggil beberapa maid yang lain untuk menggantikan pakaiannya.” pinta Sehun.

“Baik Tuan Muda, akan segera terlaksana.” jawab si maid sambil membungkuk.

Sehun melangkah menuju dapur kemudian mengeluarkan sekotak susu dari kulkas dua pintu yang ada disamping mesin espresso. Dia menuangkan minuman itu keatas gelas lalu menenggaknya bersuara. Sehun duduk ditepian meja mesin kopi sambil memandangi gelasnya yang masih setengah penuh.

‘Moon Namji…’ lirihnya. Entah mengapa nama itu terus sana berputar-putar dalam benaknya seolah memaksa Sehun untuk terus mengingatnya.

“Eugh…” lenguh seorang gadis muda begitu seseorang menarik selimut dari tubuhnya. Gadis itu menggeliat pelan kemudian meringkukkan tubuh kekanan, memeluk guling sambil terus memejamkan mata.

Tetapi tak lama kemudian Namji menghirup sesuatu yang asing.

‘Aku tidak pernah memakai pewangi dengan bau seperti ini.’

Gadis itu membuka matanya perlahan kemudian menemukan seberkas cahaya dari jendela yang terpancar dari samping ranjang.

‘Jendelaku tidak mungkin berubah menjadi selebar itu.’

Matanya yang tadinya masih sayu semakin ternganga lebar, bahkan berakomodasi hingga titik maksimal.

‘Aku dimana?’

“Sampai kapan kau mau memeluk guling itu?” tanya seseorang dari sebuah arah. Namji melempar pandangannya ke sumber suara dengan gerakan cepat. Tubuhnya meloncat beberapa senti dari ranjang sampai-sampai membuat bantal dan guling disekitarnya memantul kecil.

Sehun yang sudah lengkap dengan seragam sekolah terlihat melipat kedua tangannya sambil menatap lurus kearah gadis itu.

“A-aku.. kenapa bisa.. dan jenderal.. bagaimana bisa?” pertanyaan yang tertampung memenuhi kepalanya berhasil keluar dari mulutnya dengan tidak teratur. Namji berubah menjadi gagap seketika.

Gadis itu menatap sekeliling ruangan. Kamar ini terlihat amat rapi –namun tetap ada tanda-tanda kehidupan. Semuanya terpoles warna hitam putih, beberapa diantaranya abu-abu. Benar-benar ‘Oh Sehun’. Jadi… Namji meneguk air liurnya dengan berat. Dia bisa menyimpulkan jika ini adalah kamar Oh Sehun.

Pandangan gadis itu berhenti para seragam perempuan yang tergantung di dinding. Ada pelat nama disana, Moon Namji. Gadis dengan rambut yang masih acak-acakan itu segera melirik ke arah tubuhnya sendiri. Matanya seakan mau copot begitu mendapati piyama putih melapisi kulitnya.

“Pakaianku?!” serunya tidak percaya. Namji jadi berfikiran yang aneh-aneh terhadap namja ini.

‘Tak kusangka. Oh Sehun, lelaki sedingin itu ternyata mesum!’

Sehun melemparkan selembar handuk kepada Namji. Gadis itu belum juga sadar dari angannya yang masih berkeliaran liar hingga jauh.

“Cepat mandi dan pakai seragammu. Lalu temui aku di ruang makan. Salahkan dirimu sendiri yang tidur seperti kerbau hamil, aku jadi tidak tega membangunkanmu untuk makan malam.” suara Sehun semakin tipis seiring langkahnya keluar dari kamar.

Namji mencoba menampar pipinya sendiri sambil berdoa agar segera terbangun dari mimpi buruk ini.

Namji tidak paham. Kakinya terus bergerak-gerak gelisah. Bukan karena makanan yang sedang dia kunyah pastinya. Daging panggang yang tersangkut diujung garpunya itu terasa meledak di indera pengecapnya. Ini pertama kalinya dia memakan dagis sebesar ini. Rasanya pun sangat luar biasa ketika menyentuh permukaan bintil lidahnya.

Tetapi nuansa kesurgaan itu dengan mudahnya sirna begitu Namji melempar pandangan kearah namja jakung yang sedang duduk diseberang meja makan. Sehun makan seperti bangsawan. Meski kelaparan, dia tidak tampak ‘ganas’ seperti sebagian manusia didunia –yang seperti Namji. Jadi, mau tidak mau, gadis itu harus mampu menata sikapnya dihadapan si monster es yang berjiwa bangsawan ini. Bahkan beberapa pelayan dengan seragam penuh renda sedang berdiri disudut-sudut ruang makan, mengawasi bagaimana daging panggang buatan mereka menggelinding dengan manis dikerongkongan sempit sang pangeran muda.

Namji sudah mengingat semuanya. Dia ketiduran di mobil jenderalnya ini, dan tersesat ke alam mimpi selama seribu tahun sampai-sampai tidak sadar jika dia sudah terdampar di kasur lembut ‘atasan’nya. Memalukan, sekaligus ajaib. Jarang ada ‘atasan’ yang mau menyerahkan ranjangnya kepada babu.

Sehun menaruh pisau dan garpunya keatas lap yang terlentang pasrah disamping piringnya. Lelaki itu meminum susu putih yang sudah diaduk sebanyak seribu kali oleh pelayan. Bukan berarti Namji melihatnya dengan mata kepala, tetapi memang begitulah para pelayan disini. Pelayanan mereka sempurna dalam segala hal.

Sehun mengusap sisa susu diatas bibirnya dengan tisu. “Ayo berangkat.”

Namji mengekor dibelakang Sehun seolah dia juga salah satu dari sekian ratus maid yang ada di rumah ini. Sehun melepas jas sekolahnya lalu menyampirkan benda itu ke bahunya yang tegap.

“Kau tidak mau aku yang membawanya Jenderal?” tanya Namji.

“Kita sedang di rumahku. Hukuman itu hanya berlaku disekolah bukan?” jawab lelaki itu.

‘Jadi ini alasan kenapa dia membolehkanku mengotori ranjangnya? Ternyata monster juga memiliki hati.’ batin gadis itu sambil mengikuti Sehun masuk ke mobil.

Tas milik Namji masih ada didalam sana karena Sehun memang tidak mengeluarkannya. Gadis itu duduk disamping kemudi kemudian merapihkan anak rambutnya yang beberapa terurai tipis.

Perlahan, roda-roda kokoh mobil ini mulai bergerak menyetrika halaman kemudian keluar dari gerbang maha tinggi yang baru kali ini Namji lihat.

‘Ini.bukan.mimpi’

Tiga kata itulah yang terus terulang-ulang di otaknya seperti rekaman rusak. Namji melirik Sehun secara diam-diam pastinya. Namun kemudian kulit dagi gadis itu mengkerut dengan kompak.

“Jenderal…”

“Hm?”

“Seingatku kakimu masih sakit”

DUAGH!

Sekujur tubuh Sehun menegang seorang baru saja terpental di sisi ring tinju. Bibirnya terbuka beberapa centi lalu kaku.

“Kau belum bisa berjalan dengan normal bukan begitu?”

“A-“

“Lalu bagaimana caranya hingga kau bisa sembuh secepat itu?”

“Aku mencoba berjalan. Dan ternyata tidak terasa sesakit kemarin. Kau tahu kan, aku lelaki sejati. Lagi pula aku bisa menahannya. Aku tidak semanja itu.” rupanya Sehun tidak bisa berhenti menjaga image ‘galak’nya walau sedang terhimpit situasi. Hampir saja dia terjebak karena rencananya sendiri.

Namji hanya bisa mengangguk-angguk percaya.

“Ikat sepatuku.” Sehun memajukan kakinya kearah Namji.

Gadis yang diperintahnya hanya mampu menatap wajah angkuh Sehun yang menengadah ke atas. Baru saja dia terbuai dengan sisi manis lelaki ini, tetapi ternyata itu tidak lebih dari permen basi. Rasa apapun yang terasa di lidah, akan tetap menjadi pahit ketika ditelan.

Namji mematuhi perintah Sehun, bahkan tanpa protes. Mungkin setelah ini Namji harus mengenakan tali di lehernya, juga lonceng, dan menjulurkan lidah ke pipi Jenderalnya. Menggelikan sekali bukan?

“Tetap berjalan dibelakangku, dan bawakan ini.” monster pirang itu menyodorkan jas biru gelapnya kepada Namji.

Mereka berjalan memasuki halaman sekolah.

Beberapa gadis dengan rambut terurai dan anting warna-warni yang sedang menggosip disamping tugu air mancur langsung menghentikan obrolan mereka. Begitu juga dengan para lelaki yang asik memantul-mantulkan bola basket kesana kemari. Mereka semua berganti menatap ke arah pasangan baru yang sedang menggemparkan seluruh jagad raya.

Bola basket memantul lamban kemudian berakhir di sepasang tangan Sehun yang kelewat putih. Seluruh tubuhnya bersinar terang –terutama di mata para adik kelas perempuan.

“Ah jenderal kecil ini…” Chanyeol menghampiri Sehun. Deretan giginya seakan menyapa mentari dengan kilauan yang hampir sama.

Baekhyun dan Kai mengikuti si giant. Topi mereka dipasang terbalik, ala berandal sekolah.

“Kau sedikit terlambat untuk olahraga pagi kita.” lelaki berbadan jailangkung itu merebut bola basket di tangan Sehun kemudian memantulkannya.

“Oh, ada kelinci karnivora rupanya. Daging apa yang sudah kau santap hari ini kelinci manis? Kucing, hamster, atau kuda mungkin? Hahaha!” Chanyeol mencoba membuat Namji tertawa, tetapi usahanya nol besar. Namji malah memalingkan muka.

Mungkin perkiraan Namji keliru. Otak Chanyeol pasti hanya sebesar jempol kaki semut.

“Apakah kalian datang bersama?” tanya Kai.

“Sepertinya iya.” jawab Baekhyun.

“Wah, seluruh sekolah harus tahu tentang ini.” Chanyeol menggerling jahil kearah Sehun.

“Hyung kau mau ku-“ Sehun melawan.

“Hanya bercanda.” cengir lelaki berlubang hidung lebar itu. Namji jadi bertanya-tanya apakah dia bisa menusukkan sepasang sumpit raksasa kesana. Moodnya hancur begitu melihat tampang Chanyeol.

‘Apakah lelaki ini juga termaksuk idaman para adik kelas? Jangan melucu!’

“Sudahlah Hyung, aku sedang tidak semangat untuk bermain pagi ini. Kalian bermain sendiri saja.” Sehun melangkah pergi dari kerumunan pebasket itu.

“Yaa Sehuni, sebaiknya kau tidak menyuruh gadis itu mengikuti kemanapun kau pergi! Penggemarmu bisa saja mencakar-cakarnya hingga habis!” teriak Chanyeol dari kejauhan diikuti tawa Baekhyun, dan Jongin.

Mungkin benar kata lelaki itu. Tidak lama lagi penderitaan Namji yang sesungguhnya akan segera dimulai.

Sehun dan Namji melangkah menyusuri koridor. Seperti biasa. Jenderal muda itu selalu bergaya sok keren dengan kedua tangan yang diselipkan kedalam saku celananya. Tas hitam yang memeluk kedua pundak Sehun bergerak-gerak naik turun seiring langkahnya yang tidak terlalu cepat.

Namji bisa mendengar sorakan lirih dari para gadis disekitar yang tidak bisa mengedipkan mata ketika Sehun melintas. Gadis itu melototi punggung Sehun dengan penuh kebencian.

Seperti tersihir. Seluruh pasang mata tidak bisa terlepas dari sosok jakung pemimpin mereka yang dengan angkuhnya menatap lurus ke depan. Isi perut Namji terasa teraduk-aduk melihat kegilaan para ‘fans’ Sehun. Dia adalah satu-satunya gadis yang tidak terpesona. Dan mungkin memang begitu harusnya. Bagaimana bisa kau terpikat kepada seseorang yang sudah kau sujudi, yang sudah menyuruh-nyuruhmu ini-itu hingga tulangmu mengeropos di usia dini, dan yang menyuruhmu mengikatkan tali sepatu didepan umum.

Namji bukan pengemis cinta dan Sehun harus sadar itu.

Lelaki itu bisa saja mengkomat-kamitkan mantra pemikat kepada semua wanita, tetapi tidak kepada Namji. Gadis itu sudah kebal dengan sihir apapun yang terucap dari bibir Sehun.

Kaki-kaki jenjang Sehun berhenti tepat didepan tangga. Lelaki itu berbalik kemudian menatap gadis di belakangnya yang sedang menggenggam jas jenderalnya.

“Kemarikan jasku.” suruhnya dingin.

Tangan Namji terulur menyodorkan benda itu.

“Pakaikan.” pintanya penuh penekanan.

Mau tidak mau Namji menuruti perintah bayi monster ini. Jeritan lirih mengisi kesunyian pagi. Para gadis yang merasa ‘iri kepada Namji’ itu rupanya tidak bisa menahan diri. Mereka ingin menerima ‘hukuman’ seperti apa yang Namji terima.

“Aku bisa pergi sekarang?” tanya Namji. Sesungguhnya dia juga merasa tidak nyaman menjadi objek tontonan seperti sekarang. Semakin lama dia berdiri disamping Sehun, semakin parah pula penderitaan yang akan segera dia rasakan. Fans gila itu pasti akan mencabik-cabik kulitnya hingga berdarah.

Sehun menaikkan salah satu ujung bibirnya sambil menatap sekitar. Lelaki itu juga sadar jika tidak baik memosisikan Namji di pihak yang layak di benci. Dia memang sedang menghukum Namji, namun Sehun tidak sejahat itu untuk memangsakan gadis ini kepada para fansnya.

“Pergilah.”

Namji berbalik. Tetapi dengan segera Sehun kembali menangkap pergelangan tangan gadis itu.

Aish… apa lagi?’ pikir Namji.

“Kita bertemu lagi di lapangan basket ketika istirahat. Pukul sebelas tepat.”

Dan sekali lagi, jeritan-jeritan memuakkan dari para fans menghujam kesabaran Namji.

Jika hidup ini merupakan sebuah animasi, mungkin segulung awan berpetir sedang bergelut diatas kepala Namji dan menyambarnya berkali-kali. Dia jadi tampak seperti liliput jika sedang berada di keramian, terutama di sekitar para yeoja. Kini hari-harinya dipenuhi oleh gossip-gossip miring tentang kedekatannya dengan si jenderal sinting itu. Tidak jarang mereka menyindir dan melemparkan kata-kata kasar kepada Namji ketika dia sedang berdiam diri kantin maupun didalam kelas.

Persetan dengan guru-guru pembunuh yang bermunculan satu persatu di hari pertama ini. Mereka bahkan tidak menyadari kelakuan murid-murid perempuan yang saling mengelompok dan memusuhi sesamanya.

‘Apakah aku harus ke ruang konseling dan melaporkan perlakuan mereka? Ah tidak! Tidak! Itu sama sekali bukan ide yang bagus! Aku bisa dianggap lemah! Berlindung dibawah kumis guru konseling tidak akan membantuku terlindung dari masalah ini. Pasti urusannya akan semakin panjang jika melibatkan guru! Aish!… Aku harus apa?!’

Seorang lelaki culun dengan tatanan serba rapi duduk disamping Namji. Lelaki itu tersenyum jahil kemudian mengagetkan Namji.

“Selamat siang!” seru Mark penuh semangat.

Namji mengejang begitu suara cempreng Mark menampar saraf motoriknya.

“Aduk kenapa anak ini harus datang di saat-saat seperti ini?” Namji meremas-remas kepalanya dengan frustasi.

“Namji-ya, ada apa denganmu?” tanya Mark sambil memiringkan kepala, berusaha memandang wajah Namji yang tertunduk lesu.

“Aku sebal! Aku marah! Aku sedang ingin menghajar seseorang yang berteriak di telingaku! Aku ingin mematahkan leher orang yang berani tersenyum selebar itu kepadaku hari ini! Dan aku ingin menendang bokong seseorang yang berani duduk disampingku tanpa ijin! PUAS? Jadi jauh-jauh dariku jika kau masih sayang nyawamu!”

Namji menghentakkan kaki menjauh dari laki-laki dengan rambut hitam klimis itu.

“Eh!… Namji… ceritakan dulu padaku kenapa kau bisa semarah ini? Siapa yang menyebabkanmu jadi seperti ini? Mungkin aku bisa bantu…” Mark mengikuti gadis itu.

Namji memandang Mark. Tatapannya seolah bisa meremukkan tulang belulang bocah itu dalam sekali kedipan mata.

‘Kau.Membantu.Apakah.Kau.Sedang.Bercanda.’ kira-kira begitulah bunyi tatapan Namji.

“Tidak. Terimakasih.” Namji menghempaskan tubuhnya menjauh.

Tetapi kali ini bukan Mark yang menghentikannya. Sebuah bola basket melayang tinggi kemudian menghantam pelipis kirinya dengan penuh kemesraan. Namji mengaduh sejenak. Bola basket itu memantul-mantul disamping kakinya yang terbalut sepatu warna hitam mengkilap. Namji menangkap si bulat yang baru saja menampar kepalanya itu.

“Hey! Lempar bolanya kemari!” seru salah seorang lelaki yang sedang bermain bola disana.

Namji melototi mereka. Gadis itu malah membuang bola basket ke lain arah, menjauh dari lapangan basket.

“Yaak! Kenapa kau buang bolanya?” seorang lelaki yang tingginya kira-kira satu jengkal diatas kepala Namji menghampirinya dengan wajah marah.

Namji melirik name-tag lelaki yang satu angkatan dengannya itu. ‘Tae Yeong’ gumam Namji.

“Bolamu itu barusaja mengenai kepalaku. Seharusnya kau meminta maaf bukan meminta bolamu lagi.” balas Namji tanpa rasa takut.

Dua lelaki lain menghampiri Namji.

“Hey kau Moon Namji kan? Yang terlambat di upacara ospek?” tanya teman Taeyeong yang bername-tag ‘Jeno’.

‘Jadi dia mengenalku ya?’ pikir Namji.

“Jika kalian mau bola itu kembali. Minta maaflah dulu padaku. Sujud.” gadis itu melirik kakinya dengan raut sangar.

“Namji, ambil saja bolanya!” lirih Mark sambil meremas pundak Namji. Si culun itu sepertinya takut.

Tetapi Namji tidak menggubris lelaki lemah dibelakangnya. Meski para perempuan memandangnya rendah, dia tidak mau mendapat perlakuan yang sama dari laki-laki.

“Kau diam saja. Aku hanya ingin mengajari mereka sopan santun.” balas Namji.

“Ish! Gadis ini!” Taeyeong melayangkan tamparannya. Tetapi Namji segera menangkap tangan lelaki itu.

“Jadi tidak mau bersujud ya? Oke, aku juga tidak akan mengembalikan bolamu.”

Namji tersenyum miring kemudian melangkah menjauh.

“Tidak semudah itu Moon Namji!” Taeyeong berhenti didepan Namji, menghalangi jalannya.

“Katakan apa maumu Taeyeong-ssi?” tanya gadis tak kenal takut itu.

“Jadi kau merasa jantan begitu? Kau harus ingat! Kau seorang yeoja!” Taeyeong mendorong bahu Namji hingga gadis itu mundur beberapa langkah.

“Apa kau pikir, setelah membentak Jenderal Sehun di upacara ospek, kau bisa berlaku seenaknya kepadaku? Huh, mahluk lemah tetap saja lemah. Perempuan hanya bisa menang dengan bibir mereka.” Taeyeong maju selangkah demi selangkah.

“Aku tidak lemah.” manik mata Namji sama sekali tidak bergetar, sarat dari keberaniannya. Perasaannya terkikis begitu mendengar kata ‘lemah’.

“Bohong. Kau pasti menangis setelah ini.”

“Jangan sakiti Namji!” Mark menengahi kedua pihak yang beradu argumen itu. Dengan takut-takut, Mark maju mendekati Taeyeong yang notabenenya lebih tinggi darinya.

“Aku tidak akan menangis!” bibir gadis itu bergetar namun ditahannya. Namji mendorong Mark untuk menyingkir.

“Ya kau menangis. Dasar perempuan!”

“Aku bisa buktikan padamu jika aku tidak selemah yang lain!” bentak Namji sambil menghentak dada Taeyeong untuk menjauh.

Taeyeong tertawa kecil. Kedua temannya, Jeno dan Jaehyun, ikut terawa mendengar ucapan Namji yang lebih mirip lelucon di April Mop.

“Kalian dengar. Gadis ini ternyata sangat keras kepala…” cengir Taeyeong.

Jeno tertawa sambil bertepuk tangan, mengejek Namji.

“Aku tidak sedang bercanda. Katakan padaku! Apa yang bisa kulakukan untuk membuktikan kepada kalian jika aku bukan mahkluk lemah!”

Taeyeong berpikir sejenak lalu menjentikkan jemarinya yang tebal. “Jaehyung, ambil bola basket itu. Berikan kepada gadis ini.” pinta Taeyeong.

Tak lama kemudian sebuah bola basket terlempar dan mendarat di genggaman Namji.

“Masukkan bola basket ini kedalam ring. Kesempatanmu hanya sekali. Jika tidak masuk berarti kau kalah.” ujar Taeyeong dengan alis yang berjinjit.

Namji meremat bola di tangannya. ‘Tantangan macam apa ini?’

“Dan yang kalah. Harus melakukan keinginan yang menang.”

“Katakan apa yang harus kulakukan.” perintah Namji lirih.

“Jika kau gagal, angkat rokmu dihadapan kita!”

“Apa?!” bola mata Namji hampir keluar dari tempatnya.

“Itu hukumannya. Kau takut? Menyerah sebelum memulai?” senyuman Taeyeong terasa menusuk Namji dari dalam.

Namji memandang bulatan di genggamannya. Konsekuensinya cukup berat. Mengangkat roknya didepan ketiga berandal cilik ini sama saja dengan menyerahkan kepalanya untuk dipenggal oleh algojo.

“Namji, ini gila… Mereka berusaha menjebakmu.” Mark menarik-narik lengan gadis itu, ekspresinya memohon.

Tetapi dia tidak mungkin berhenti sampai disini. Namji sudah melangkah terlalu jauh. Ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan martabatnya didepan namja. Meski hukuman itu cukup ‘memalukan’ tetapi tantangan tetap saja tantangan. Akan lebih memalukan jika Namji menyerahkan bola itu kepada Taeyeong dan mengucapkan kata ‘batal’.

“Masih berfikir ya?” Taeyeong melipat kedua tangannya kedepan dada.

“Baiklah!” Namji memantulkan bola basket itu kemudian menangkapnya lagi. “Aku terima tantanganmu Taeyeong-ssi. Dan jika aku menang, kau harus bersujud diatas kaki-kakiku.”

“Deal!” Taeyeong tersenyum puas.

TO.B.CONT

aw moon namji bikin ulah yang gimana lagi ini bocah!

di chap depan Luhannya keluarrrrrr! Hoyeeee! /sebar recehan/😀

Chapter ini panjang kan? Puas ga nih dah panjang banget loh😀

Karena itu semoga komennya juga pada dipanjangin/? lagi butuh motivasi buat terus nulis nih. Maklum terhimpit sikon.

9 responses to “[Chapter 4] Rose, Waterfall, and Gold Sworded Knight

  1. Namji memang cewek yang tak kenal kata takut sepertinya, sudah dikerjai oleh Sehun sekarang malah menerima tantangan baru Taeyeong, kalau kalah hukumannya cukuo memalukan juga, lucu juga Sehun harus berpura2 sakit di depan Namji, next thor bagus ff nya

  2. uhh laaa laa ,,,namji berani banget gimana nasib namji kalu g berhasil ya????penasaran,,,,
    d tunggu kelanjutanya🙂 .. semangat buat aothor😀

  3. Ow my god Moon namji!!!!!

    Nasibmu berkutat dengan hal2 yang berkaitan dengan penyiksaan ya
    hahahahahahahahaha

    Kolot dan nyolot pantes jadi image namji

    Sehun sudah mulai masuk musim semi ya ladang bunganya?
    Kupu2 siap bersliweran kek nya
    hwahahahahaha

    Oh dan Luhan????
    Kukira Mark itu image dari Luhan
    Syukurlah kalau bukan

    Dari kemaren2 mikirnya si tengil Mark itu adalah LUhan

    Woah lumayan puas ini bacanya
    tapi emang dasar manusia ya,
    ketemu kata “to be cont. ” itu sengak banget
    Penasaran gimana kelanjutannya
    hahahahaha

    Dan disini kebayar juga akhirnya bisa ninggalin jejak setelah 3 epi sebelumnya kek nya g ada jejaknya sama sekali

    Biasa thor, Koneksi koneksi
    Lupa pass juga buat login
    hehehee

    Intinya, kelanjutannya selalu ku nantikan
    buahahahahaha

    Han, Fighting !!!

  4. namji cwe pemberani sking brani na smpy brani nrima truhan sgla aduch namji nasip mu sial bget sih sehun juga pura2 skit sgla biar bisa nyiksa namji tpi sbnar na suka kn hahaha
    next thor aq ska bnget crita na apha lg tntang dongeng na itu pokok na TOP bgt . . . .

  5. Aaaaa akhirnya update lagi
    Makin seruu kerennn daebaaakkkk
    Hampir aja sehun ketauan sama namji kalo udah bisa jalan lagi
    Yaaahh pengganggu dateng deh si seulgi
    Namji gilaaaaaaa!!!!!berani banget dia gapunya rasa takut ya???._.
    Next lah thor ditunggu fighting!!!!!

  6. aaaiisshh jinjja? ini mah panjang banget malahan fanficnya kamu, yah kira2 aku bacanya sekitar setengah jaman iihhh! tapi aku suka kok kapan nih lanjutannya ffnya kamu? udah gak sabar nih aku🙂 semangat ne😀

  7. Namji bikin ulah lagi,kira2 sehun nolongin ga ya?
    Ffnya panjang thor seruu. Fighting nulisnya😀 postnya jan lama2 ya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s