THE PORTAL 2 [Part 6 : Destiny]

theportal2wallpaper21

Title :

THE PORTAL 2

                                                                                                                              

Author :

citrapertiwtiw a.k.a Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast(s) :

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Witch

– INFINITE’s L as the Witch ( another side : Kim Myungsoo )

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard and celebrity

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Casts :

In Junghwa :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon / A Pink’s Hong Yookyung as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince from Gwangdam Kingdom

 

In South Korea :

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as a medium

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s fiancee

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as a celebrity, and introducing ;

– Girl’s Day Yura / Kim Ahyoung as Minah’s Manager (another side : Gwangdam’s palace witch Kim Ahyoung)

– INFINITE’s Kim Sunggyu as Yura’s ‘Father’

 

Rating : PG15 – NC17

 

Type :

Chaptered, Season

 

Cerita Sebelumnya :

Synopsis The Portal 1

Part 1              : I Hate My Life

Part 2              : Big Decision

Part 3A           : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4               : Another Me

Part 5               : Over Protective?

Part 6               : Faithfulness

Part 7               : Something New

Part 8               : The Hidden Truths

Part 9               : Unpredictable

Part 10             : The Scandals

Part 11             : Reality

Part 12             : True Love

Part 13             : It’s Time To…

Part 14             : The Real Story

Part 15 ( final ) : Open or Close The Portal?

PROLOG SEASON 2

Part 1             : Nice to Meet…You?

Part 2A         : 15 Days

Part 2B           : Before The Day 15

Part 3           : Day 15

PREVIEW PART 4

Part 4 : Secret Page

Part 5 : Helpless

 

Ringkasan Cerita Sebelumnya :

Tindakan Hyoyeon mengubah resep ramuan portal ciptaannya berhasil membuat kekacauan, bahkan lebih dari yang ia harapkan.

Mengapa?

Sebab meski tujuannya hanya satu, yakni agar L tak bisa lagi bertemu Yeoshin, namun hal ini juga berdampak pada Hyerim dan Krystal yang mencoba kabur dari negeri Gwangdam karena Baekhyun telah menyiksa Krystal di malam pertama pernikahan mereka. Diubahnya resep ramuan portal membuat keduanya sempat panik dan tak punya jalan lagi untuk melarikan diri.

Dampak yang tak kalah hebat juga dirasakan di negeri Junghwa, bangsa penyihir yang masih diamankan di istana oleh Madame Sunny, L, dan Taeyeon harus berduka karena Madame Sunny mengorbankan nyawanya demi mendapatkan halaman rahasia berisi resep portal milik Hyoyeon dengan menyamar menjadi L. Hal ini tentu mengejutkan mengingat sejak dulu hubungan Madame Sunny dan L tidak begitu baik. Namun dengan alasan bahwa L tak harus mati karena memiliki keluarga dan banyak tanggung jawab, Madame Sunny rela mengorbankan dirinya.

Strateginya memang berjalan, namun tidak benar-benar berhasil. Karena resep ramuan portal itu dibawa pergi oleh seekor burung merpati hitam entah kemana, membuat L kembali frustasi.

Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana keadaan Hyoyeon setelah menyadari bahwa ia tidak membunuh L, namun justru membunuh sahabat lamanya, Sunny? Apakah ia menyesal?

*

Sementara itu di dunia nyata, Naeun tak kalah depresi. Ia nyaris kehilangan semangat hidup ketika mengetahui bahwa ramuan portal yang semestinya bisa membawanya pulang tak bisa lagi berfungsi. Namun sang sisi baik dari L, Kim Myungsoo, datang menghiburnya. Mereka pun telah saling terbuka tentang apa yang mereka tahu satu sama lain. Akankah setelah ini mereka akan semakin dekat dan membuat Chorong, yang notabene pernah sangat menyukai Myungsoo merasakan cemburu?

Bicara tentang Chorong, dan Sungyeol.. persahabatan mereka dengan Myungsoo kembali utuh meski rasanya memang tak sama seperti sediakala. Selain Yura yang terus datang mengganggu, perasaan Chorong terhadap Myungsoo pun muncul lagi hingga menggoyahkan kembali hubungannya dengan Woohyun. satu-satunya perubahan baik hanyalah usaha Sungyeol untuk melupakan perasaannya pada Myungsoo dan mencoba menjadi lelaki normal.

Tetapi memang masih ada satu hal yang mengusik Sungyeol, ia ingin tak lagi terlibat dengan orang-orang negeri Junghwa.

 

Namun sepertinya, hubungan antara penghuni negeri Junghwa dan dunia nyata akan terus berjalan. Karena meski Hyoyeon telah menutup aksesnya dengan merubah resep portal, resep baru itu jatuh ke tangan orang yang benar-benar harus melarikan diri ke dunia nyata, yakni Hyerim dan Krystal.

 

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Selamat membaca.

***

Author POV

 

Night in Seoul, 09.30 P.M

 

“ Hyerim, kita berada dimana sebenarnya!?”

“ Sshh..” Eunji menenangkan Krystal yang sejak tadi terus-terusan rewel di belakangnya, perlahan ia mengajak adiknya itu mendekati sebuah pintu yang terkunci.

“…passwordnya.. J-u-n-g H-y-e-r-i-m…”

KLAK!

“…ha! Terbuka. Katanya ingin putus, tapi kenapa password apartemennya masih saja pakai namaku.” Eunji mencibir, ia mengajak Krystal memasuki tempat tujuannya.

Apartemen Hoya.

Ya, mereka telah berhasil memasuki dunia nyata berkat bantuan Ahyoung, penyihir istana negeri Gwangdam.

Yah, sebenarnya bukan bantuan. Tetapi lebih tepatnya hasil kompromi, karena Ahyoung menuntut imbalan yang tidak mudah.

Eunji sedikit menyesal, namun ia tak punya pilihan. Hanya Ahyoung yang bisa membantunya dan Krystal membuat ramuan portal yang resepnya secara tak sengaja mereka dapatkan dari cakar burung merpati hitam yang ditangkap oleh Krystal di jendela menara. Setelah diamati oleh Ahyoung, diketahui bahwa burung itu milik Hyoyeon yang entah bagaimana ceritanya bisa terbang jauh ke negeri Gwangdam.

“ Kau lelah, kan? Tidurlah. Nanti aku obati lukamu.”Eunji menuntun Krystal menuju tempat tidur mewah apartemen milik Hoya.

“ Ah.. nyamannya..wanginya..~” Krystal semakin tenang ketika sudah berbaring di atas tempat tidur dan diselimuti. Eunji merasa lega, Krystal tak banyak bicara meski ini pertama kali baginya memasuki dunia nyata. Walaupun sejak tadi mata adiknya itu terus melihat ke sekelilingnya.

“ Mimpi indah, Krystallie. Jangan takut lagi, kau aman disini.” Eunji mengelus rambut indah adik perempuannya itu.

“ Hyerim..”

“ Ya?”

“ Bagaimana caranya kau menuruti permintaan penyihir Ahyoung?”

Eunji agak risau, namun buru-buru menenangkan diri.

“ Aku tahu caranya. Tidak perlu kau pikirkan, istirahat saja ya?”

“ Baiklah. Tapi.. aku.. aku lapar.”

Aigoo.” Eunji baru ingat Krystal sama sekali tak makan sejak resmi menikah dua hari yang lalu, meski banyak makanan enak di istana Gwangdam.

“…aku akan masak sekarang. Sambil menungguku, tidur saja dulu.”

Krystal mengangguk pelan dan memejamkan matanya. Eunji segera bangkit dan pergi ke dapur.

Ah! Kau disini..” Eunji tak sengaja menemukan merpati putih milik Madame Sunny yang memang ia kirimkan ke dunia nyata untuk menyampaikan surat balasannya pada Howon. Burung penyihir itu diam di bawah meja makan tanpa sangkarnya.

“ Pasti Howon sudah membaca surat balasanku itu..”pikir Eunji, ia kemudian memegang pelan burung tersebut dan mengusapnya, “…hei, kenapa kau tidak di dalam sangkar? Apa artis bodoh itu mengabaikanmu?”

Hebatnya, merpati putih itu menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan berulang kali, menggeleng.

“…untung saja kau tidak terbang kemana-mana. Kau sangat pintar, seperti Madame Sun…..”

Ts.. ts..

Tiba-tiba beberapa tetes air membasahi tangan Eunji, air itu berasal dari mata kecil sang merpati, bahkan Eunji baru menyadari bahwa lantai di bawah meja makan pun sudah basah.

“ Kau bisa menangis?” Eunji terkejut, namun ada satu hal yang membuatnya lebih heran.

“…apa yang kau tangisi? Apa kau tahu sesuatu?”

Kali ini sang merpati mengangguk, Eunji semakin penasaran.

“ Seandainya kau bisa bicara.. ya sudahlah, mungkin nanti aku akan tahu.” Eunji pun berdiri dan meletakkan sang merpati di bahunya, kemudian melanjutkan kegiatannya memasak, ia pun membuka kulkas apartemen.

“ Ah, syukurlah ada yang bisa aku olah..” Eunji mengeluarkan beberapa jenis sayuran dan bahan-bahan lainnya dari sana, setelah itu mengikat rambut panjangnya dan mulai memasak sembari sesekali melihat jam yang menempel di dinding apartemen.

“ Sudah jam 1 pagi dan artis sialan itu belum pulang. Apa dia sesibuk itu?”

***

“ Apa aku salah ramal? Kenapa begini jadinya?”

Malam itu seorang lelaki tengah duduk bersila di atas tempat tidurnya, menata kartu-kartu tarot miliknya di atas kasur sembari terus mengusap peluh dingin dari keningnya.

“…sudahlah, bagaimanapun juga aku tidak bisa mengingkari ramalanku sendiri.”

Lee Sungyeol, lelaki itu. Ia menyerah dan berbaring, menyingkirkan kartu-kartu itu dengan kaki jenjangnya.

Setelah menenangkan diri sejenak, ia meraih ponselnya dan mengaktifkan kamera depannya, setelah itu mulai merekam dirinya sendiri.

“ Annyeong, Kim Myungsoo.. Park Chorong. Malam ini, aku baru saja meramalkan masa depan persahabatan kita.”

Selama kurang lebih tiga menit sang cenayang menguraikan hasil ramalannya dalam video, yang entah apa tujuannya. Setelah puas, ia berhenti merekam dan membuka program lain di ponselnya.

Kini ia membuka sebuah grup chat khusus, grup chat yang hanya beranggotakan ia, Myungsoo, dan Chorong. Grup yang nyaris tak digunakan lagi sejak Myungsoo meninggal.

<Seongyeolee> : [Video1].mp4

<Seongyeolee> : Videonya kuberi password, akan kuberitahu kalau waktunya sudah tepat.

<IamChorong> : Apa isinya? Jangan membuatku penasaran.

<Seongyeolee> : OMO, Chorong merespon! Ah, syukurlah grup ini tidak ditelan bumi. By the way, Kim Myungsoo, kau dimana?

<IamChorong> : Syukurlah dia tidak membawa Naeun ke kamar kalian.

 

“ Apa-apaan?” Sungyeol tak mengerti, rupanya Chorong masih saja sensitif tentang Naeun.

<Seongyeolee> : Heol ~ Myungsoo, kau sedang bersama Yeoshin?

<IamChorong> : Berhenti bertanya. Myungsoo tidak akan membacanya, ponselnya mungkin disimpan L.

 

“ Ah, bisa jadi..” Sungyeol menatap sebuah ponsel murahan yang ada di atas meja kamarnya, “…ia sampai ganti ponsel seburuk itu. Pantas tidak dia bawa ke luar, ponsel seperti itu hampir seperti tidak ada gunanya.”

Drrt. Pesan lagi di grup chat.

<IamChorong> : Hey cenayang. Aku akan menelponmu.

Karena sepertinya ia akan mendengar ‘cerita seru’, Sungyeol mengangkat telepon dari Chorong.

Annyeo—“

“ Jangan bilang kau hanya ingin mengeluh soal Myungsoo dan Naeun padaku.” Sungyeol memotong, Chorong tertawa pahit.

“ Mungkin sedikit, Sungyeol-ah. Tadi aku bertemu Myungsoo.”

“ Oh ya? Di mana?”

“ Di pintu gerbang asrama putri. Dengan Naeun, dia ingin mengantar Naeun pulang ke kamar. Itu berarti.. untuk kedua kalinya dia mencoba melanggar aturan.”

Uri Myungsoo sudah berani rupanya. Hahaha.”

“ Hanya itu tanggapanmu!?”

“ Memangnya aku harus bagaimana?”

“ Aku belum selesai. Jadi, saat itu aku sedang ingin pergi, dan kamar dalam keadaan terkunci. Aku ingin memberikan kuncinya pada Naeun, tapi.. aku tidak memberikannya.”

“ Hah? Jadi?”

“ Yaa.. aku pergi saja, lagipula aku buru-buru.”

“ Hahaha! Kau sadar apa yang kau lakukan? Kau malah membuat mereka semakin dekat. Buktinya Myungsoo tidak pulang-pulang juga ke kamar ini, dia pasti masih menemani Naeun entah dimana. Aigoo Park Chorong.. aku benar, kan? Kau sama sekali tidak pintar.”

Terdengar helaan nafas Chorong, tanda pasrah dihina oleh Sungyeol.

“ Aku memang bodoh, Sungyeol-ah. Bukan keinginanku menyembunyikan kunci kamar ini, Woohyun yang menyuruhku.”

Mwo…?”

“ Aku bersama Woohyun, dia yang memaksaku untuk tidak memberikan kunci kamarnya pada Naeun.”

“ Pintar juga dia. Ia ingin kau semakin panas melihat Myungsoo dengan Naeun.”

“ Tapi bukankah itu aneh? Woohyun jelas sudah tahu Naeun milik siapa..”

“ Apa pedulinya, Park Chorong? Yang dia inginkan hanyalah memilikimu dan menjauhkan Myungsoo darimu. Lagipula L tidak ada disini.”

“ Sialan..” Chorong menyadari kebodohannya, “…ya sudah, aku…”

“ YA! Jangan ditutup dulu..!”

“ Apa lagi? mau mengataiku bodoh?!”

“ Aku mengataimu begitu bukan berarti aku senang kau bodoh. Terutama soal hatimu. Jangan terlalu bodoh dengan perasaanmu, Chorong-ah. Aku tahu Woohyun brengsek, semua orang juga tahu. Tapi aku yakin, kau tahu Woohyun lebih banyak dari semua orang..” Sungyeol mencoba untuk bijak, dan Chorong memilih diam mendengarkannya, sebab Sungyeol biasanya tak sering seperti ini.

“…sudah hampir tiga tahun kau berhubungan dengan Woohyun, walaupun kadang berperasaan kadang tidak, kalian sudah bertaruh harta dan harga diri. Kau juga bilang padaku bahwa sekarang kau mencintai chaebol itu. Jangan karena Myungsoo, perasaanmu goyah lagi. Myungsoo akan merasa bersalah, tapi aku akan lebih bersalah lagi, karena akulah yang menginginkan dan berusaha mengembalikan Myungsoo dari kematian…”

“…”

“…hei, kau dengar aku kan, Rong?”

Klak.

“…sial! Malah dimatikan!”

*

Chorong melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan meringkuk di lantai seraya menghapus buliran bening yang keluar dari matanya.

Woohyun masih berdiri di depannya dengan tangan terlipat. Rupanya sejak tadi lelaki itu ada di sana, karena ini memang kamarnya, satu-satunya kamar termewah di asrama putra.

“ Aku sudah puas menghubungi Sungyeol. Lalu kau mau apa?” Chorong mengangkat kepalanya dan menatap Woohyun, lelaki itu masih memasang wajah datar dan tak menjawab pertanyaannya.

“…ah, aku tahu.” Chorong tersenyum getir dan berdiri, perlahan melepas kancing kemeja dan rok pendeknya. Woohyun segera maju dan meraih tangannya.

“ Hentikan.”

“ Kenapa?”

“ Rupanya penilaianmu terhadapku masih belum berubah.”

Chorong menatap lelaki itu bingung.

Sekaligus takut.

“…aku menyesal bisa sembuh dari kanker itu. Hanya dengan sakit kau bisa mencintaiku, meski didasari rasa kasihan.”

“ Nam Woohyun.. kau—“

“ Aku tidak ingin kita menjalani hubungan seperti dulu. Aku sadar uangku tidak sebanding dengan harga dirimu.” Woohyun meraih rok Chorong yang sudah merosot ke lantai dan memasangkannya lagi pada gadis itu, begitu pula dengan kancing kemejanya yang sudah terbuka setengah.

“…kukira memori kita di lapangan basket itu sudah menjadi akhir dari segalanya. Nyatanya tidak. Aku masih harus berjuang untukmu. Lagipula.. kupikir-pikir, aku terlalu mudah mendapatkanmu. Hanya dengan uang dan penyakit. Rasanya tidak adil, kan?” Woohyun mengelus rambut Chorong dan memeluk gadis itu.

“…kita putus saja. Aku akan mendapatkanmu lagi.”

Gadis itu tersentak, namun tak tahu jelas bagaimana perasaannya setelah mendengar hal itu dari Woohyun. Ia tak percaya lelaki itu menjemputnya ke asrama putri dan membiarkannya masuk ke kamar mewah ini hanya untuk ‘dicampakkan’.

“ Woohyun, kau benar-benar—“

Well, aku ini orang dengan gengsi yang tinggi. Jadi aku tidak mau diputuskan duluan.” Woohyun melepas pelukannya kemudian meraih tangan Chorong dan melepas cincin yang pernah ia berikan pada gadis itu, “…aku akan sangat senang jika kau sedih sekarang. Membuatku bersemangat untuk menyingkirkan Kim Myungsoo-mu itu.”

Chorong tak mampu bicara lagi, airmatanya berjatuhan. Ia segera meraih tas dan ponselnya kemudian berjalan cepat untuk keluar dari kamar kekasihnya itu. Woohyun tersenyum sinis dan mengikutinya sampai mulut pintu.

“ Aku akan melakukan segala cara. Meski harus membuat Myungsoo merasakan kematian untuk yang kedua kalinya.”

“ Mengapa kau seperti ini, Nam Woohyun!?” tanya gadis itu dengan emosi tertahan dan suara parau. Ini benar-benar menghancurkan hatinya.

“ Karena aku sangat menyukaimu, Park Chorong.”

Woohyun menutup pintunya rapat-rapat. Meninggalkan Chorong yang bahkan tak sanggup lagi berjalan dan hanya menangis di depan pintu…

***

“ Chorong kemana ya? Apalagi dia dengan Woohyun. Aku belum sempat tanya, perempuan bodoh itu sudah mematikan teleponnya..”

Sungyeol gelisah dan tak bisa tidur tenang. Ia tak tahu dimana Myungsoo ataupun Chorong. Dengan terpaksa ia meraih jaketnya dan berniat keliling asrama untuk mencari kedua sahabatnya itu.

Drrt..drrt..

“ Ponsel murahan begini bisa bergetar juga?” Sungyeol meraih ponsel milik Myungsoo yang bergetar, ada telepon masuk dari nomor tak dikenal.

“…halo?”

“ Myungsoo-ssi! Coba ke jendela atau ke balkon! Ada kejutan untukmu!”

Sungyeol mengangkat alisnya, girang sekali yeoja yang ada di seberang telepon ini. Karena penasaran, Sungyeol membuka jendela dan berdiri di balkon kamarnya.

“…kau melihatnya!? Kejutan!! Eh.. kau bukan Myungsoo!”

Lelaki itu menghela nafas malasnya.

Kim Yura sedang melambai-lambaikan tangan dengan girang di balkon seberang, namun berhenti ketika sadar bukan Kim Myungsoo yang dilihatnya.

“ Mana Myungsoo!!?” tanya gadis itu, masih dengan sambungan telepon.

“ Pergi.”

“ Kemana?”

“ Mana kejutannya?” Sungyeol balik bertanya.

“ Aku. Aku disini! Myungsoo harus tahu.”

Seperti biasa, Kim Yura yang selalu percaya diri.

“ Sedang apa kau disana? Kalau tidak salah itu kamar Yoon Bomi, kan?”

“ Aku sekamar dengannya!”

“ Apa?”

“ Aku diperbolehkan appa tinggal di asrama putri! Dan aku meminta kamar yang berhadapan dengan kamar Myungsoo!”

Gila. The power of Kim Sunggyu. Sungyeol tak menyangka sekeras dan segigih ini perjuangan Yura.

“ Kau sedang apa juga disana, hah?”gadis itu balik bertanya, Sungyeol memutar bola matanya.

“ Ini kamarku juga, bodoh.”

“ Hah?? Ya! Kau sekamar dengan Myungsoo? Daebak~ kapan-kapan kita bertukar tempat ya??”

“ Jangan mimpi.”

Sungyeol hendak mematikan teleponnya, namun Yura buru-buru bertingkah heboh dari seberang sana untuk melarangnya.

“ Sebentar! Sebentar dulu!”

“ Apa?”

“ Kau mau kemana? Kelihatannya mau pergi.”

Jika Sungyeol menjawab hendak mencari Myungsoo, ia tahu tindakan gadis itu selanjutnya. Jadi..

“ Aku ingin makan di kantin 24 jam.”

“ Hah? Ikut! Aku juga lapar~”

Ck, rupanya sama saja. Yura tetap ingin mengikutinya.

Sungyeol tak bisa melarang. Lagipula ia yakin akan aman dan tak akan dihukum pengawas jika ketahuan berjalan dengan gadis itu.

The power of Kim Sunggyu, tentunya.

***

“ Terimakasih untuk hari ini, Hoya-ssi.”

Lelaki itu mengangguk dan membiarkan rekan sesama artisnya itu memasuki apartemennya duluan. Namun gadis itu kembali berbalik.

“…oh ya, kau sendirian juga? Myungsoo dan Yura kan sudah tidak disini. Kau bisa ke tempatku atau aku yang ke tempatmu.”

“ Hmm…”

“ Tidak perlu, aku sudah menemaninya.”

Hoya dan Minah sontak menoleh ke arah pintu apartemen Hoya yang setengah terbuka, muncul wajah kecil seorang gadis yang tak asing bagi mereka berdua.

“ EUNJI!?”

“ Sejak kapan dia kemari?”

Gadis itu hanya tersenyum tipis dan menarik dirinya untuk masuk lagi ke dalam apartemen. Hoya menggeleng dengan wajah bingung sekaligus shock, ia segera membalikkan tubuh Minah.

“ Pulanglah, sampai jumpa di schedule berikutnya.”

Setelah itu Hoya buru-buru memasuki apartemen dan menguncinya, lalu mencari Eunji yang sekarang entah dimana.

“ Bagaimana bisa…?” lelaki itu semakin terkejut melihat Krystal yang tertidur pulas di atas spring bednya, dan merasa surprise dengan banyaknya makanan yang ada di atas meja makan.

“ Jangan banyak tanya. Makanlah, kau semakin kurus.”

Eunji kembali dari dapur dan menyalakan lilin di tengah meja, kemudian mematikan lampu apartemennya dan duduk di hadapan sang artis.

“…oh ya, jangan salah sangka. Aku mematikan semua lampu agar Krystal tidur lebih nyenyak.”sambungnya agak cuek, kemudian mulai mengambil piring dan makan.

“ Hyerim.. bagaimana bisa..”

“ Kubilang makan dulu.”

Ini benar-benar situasi yang aneh dan canggung.

Meski rasa laparnya tak sebesar rasa penasarannya, Hoya tetap menurut dan mulai menyantap makanannya. Dalam satu suapan, lelaki itu tersenyum tipis. Tak menyangka putri Jung Hyerim yang hampir sebagian hidupnya selalu dilayani di istana rupanya pandai memasak.

Terimakasih untuk hari ini, Hoya-ssi.” Eunji memecah keheningan dan tiba-tiba meniru ucapan Minah yang ia dengar beberapa saat yang lalu.

“ Ehk!”lelaki itu langsung tersedak dan minum sebanyak-banyaknya, “…Tuan Putri, itu tidak seperti yang Anda pikirkan.”

“ Memangnya apa yang aku pikirkan?”

Hoya menghela nafas dan mengangguk pasrah.

“ Baiklah. Aku tahu kau marah padaku. Aku kelewat kurang ajar menulis surat itu padamu.. aku—“

“ Baguslah kalau sadar.”gadis itu memotong dengan santai, dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

“ Aku merasa tidak punya muka lagi di depanmu.”

“ Setidaknya kau beruntung, Lee Howon. Aku menanggapi suratmu dengan sesantai dan sesingkat itu karena aku sedang tidak ingin mempersulit keadaan.” Eunji meraih sendok dan menambahkan makanan untuk piring Hoya.

“…aku tahu suatu saat aku dan Krystal akan membutuhkanmu. Jika kita putus begitu saja, aku mungkin tak berani masuk ke apartemenmu dan seenaknya menjadikan tempat ini perlindungan bagiku dan Krystal.”

“ Jadi.. kau ingin kita tetap bertahan pada hubungan ini?”tanya lelaki itu pelan, Eunji tersenyum.

“ Setidaknya sampai Krystal baik-baik saja, sampai aku merasa tak perlu bantuanmu lagi.. kau boleh memutuskan aku setelah itu.”

Jung Hyerim benar-benar gadis yang dewasa. Seandainya gadis lain yang berada di posisinya, mungkin pembicaraan dengan Hoya ini akan penuh dengan emosi.

Keduanya selesai makan malam. Selagi Eunji mencuci piring, Hoya memutuskan untuk mandi dan menyiapkan tempat tidur untuk tuan putrinya. Ia masih malu untuk bicara apapun lagi pada Eunji karena kini ia merasa terlalu kekanak-kanakan dan lebih bodoh dari gadis itu. Seandainya waktu bisa diulang, ia takkan mengirimkan surat itu pada Eunji.

“ Krystal sudah nyaman tidur sendiri di spring bedmu. Maaf ya..”Eunji sedikit bersalah karena tak bisa membangunkan Krystal yang telah nyenyak di atas tempat tidur Hoya.

“ Tidak apa-apa. Tidurlah disini.”lelaki itu menunjuk beberapa lapis selimut dan sebuah bantal yang sudah ia persiapkan di lantai, gadis itu mengangguk pelan dan duduk di atas sana.

“ Kau sendiri tidur di mana?”

“ Tidak perlu dipikirkan. Aku bisa dimana saja.”

“ Salah satunya di apartemen Minah?”goda gadis itu seraya tertawa kecil, Hoya langsung menggeleng cepat. Eunji pun menepuk-nepuk alas tidurnya.

“…disini saja, masih muat kok.”

“ Tidak apa-apa?”

“ Tentu saja, lagipula kau kan yang menyiapkan tempat ini.”

Dengan awkward, lelaki itu berbaring di samping gadis yang entah masih menjadi kekasihnya atau bukan ini. Sementara Eunji masih duduk, dan justru memperhatikannya.

“ Aku benar, kan? Kau semakin kurus. Sudah tidak memenuhi kualifikasi sebagai pengawal lagi di istana.”

Hoya membuka matanya, menatap gadis itu gugup.

“ T-terimakasih makan malamnya. Baru kali ini setelah pulang kerja aku tidak merasa hampa.”

“ Kau berbicara seolah-olah tidak ada yang memperhatikanmu selama ini.”

“ Memang benar. Setelah Myungsoo kembali ke sekolah, aku melakukan apapun seorang diri.”

“ Myungsoo sekolah?”

Hoya mengangguk, “ Aku tak bisa terus memenjarakannya disini. Biar sajalah, sudah takdirnya dia hidup kembali dan mau tidak mau ia harus menjalani rutinitasnya lagi.. ia juga sudah bertemu Kai. Dan… sudah takdirnya pula ia bertemu Yeoshin.”

“ Mereka sudah bertemu? Yeoshin dan Myungsoo?”

“ Hm. Kuharap L tidak pernah tahu.”

“ Jadi Naeun belum pulang ke Junghwa? Apa jangan-jangan karena..”

“ Ada masalah?”

Eunji mengangguk, “ Tentang portal. Sudah terlalu larut untuk membicarakan itu, hatiku juga masih sangat sakit mengingat apa yang sedang terjadi. Besok akan kujelaskan, sekaligus memberimu jawaban mengapa aku dan Krystal bisa berada disini.”

Gadis itupun berbaring dan memejamkan matanya, dalam waktu singkat ia sudah tertidur dengan sangat pulas.

Lelaki disampingnya sedikit mendekat dan menatapnya. Benar-benar ingin memeluknya. Saat merasa Eunji telah benar-benar pulas, lelaki itu mendekat dan mengecup keningnya.

“ Kau mengalami masa sulit? Sendirian?”bisiknya dengan penuh rasa bersalah.

“…seharusnya aku ada disampingmu.. karena mengirim surat itu padamu, aku sungguh minta maaf, Jung Hyerim..”

***

“ Kegelapan menunggumu.. tenang.. tenanglah di dalam kegelapan sihir yang abadi..”

 

Di istana negeri Junghwa malam itu, para penyihir masih dalam suasana duka, mengelilingi jasad Madame Sunny yang telah terbaring dalam peti mati terbuka seraya terus mengucapkan kata-kata perpisahan kepada arwahnya yang mereka yakini bergabung dalam kegelapan. Mereka percaya bahwa jiwa-jiwa penyihir muncul dari kegelapan, maka pada saat mati ia pun akan kembali pada kegelapan.

L satu-satunya penyihir yang tak tahan berada dalam perkumpulan penyihir yang berduka itu. Rasa bersalah semakin menyelimutinya.

Jika saja ia bisa mencegah Madame Sunny..

Jika saja ia tidak tidur malam itu..

“ ARRGGH!!!!”

Lelaki itu membuang puntung rokoknya dan membakar batang tembakaunya lagi dengan api lilin untuk yang kesekian kalinya, asap kembali mengepul di atap istana.

“…dasar bodoh kau, Sunny. Aku tidak sedih kau mati. Lihat? Aku sedang menertawakan kematianmu.. aku.. tidak.. aku tidak.. sed.. aku..”

L menundukkan kepalanya, mencoba untuk tidak menangis. Usahanya menghibur diri terus saja gagal. Tetapi mungkin, ia akan lebih tak rela lagi jika yang mati adalah Taeyeon atau mungkin Lin. Apalagi Yeoshin, ia akan gila.

Namun seandainya bisa, L tak ingin ada yang mati karena dendam Hyoyeon padanya, kecuali dirinya sendiri.

Lelaki itu meraih lilin yang masih menyala di didepannya, menggenggamnya kemudian berbaring di atap istana, mencoba memasuki alam mimpi perempuan yang ia cintai.

“ Aku siap dimarahi olehmu, Son Yeoshin.”

***

“ Apa? Jadi buletinnya belum dicetak?”

“ Belum. Sebenarnya bisa cepat saja, tapi kita masih kekurangan satu tulisan, kira-kira berita apa lagi ya..”

Meski jam sudah hampir menunjukkan pukul 2 dini hari, Myungsoo masih berada di ruangan redaksi tempat buletin sekolah disusun dan dicetak. Tim redaksi memanggilnya untuk datang dan memberi ide karena mereka kekurangan berita. Ini tidak biasanya, tim redaksi kebingungan menuliskan berita di buletin karena ada kategori-kategori tertentu yang dilarang oleh kepala sekolah baru mereka, Kim Sunggyu. Seperti kritikan terhadap peraturan sekolah atau kepada pegawai-pegawai di sekolah maupun asrama. Padahal, berita-berita semacam itu yang biasanya mendominasi buletin mingguan SMA Junghwa tersebut.

Myungsoo, yang notabene hanya menjadi loper yang membagikan buletin tersebut di depan pintu kamar asrama akhirnya ikut membantu tim redaksi berpikir juga, lagipula ia terpaksa tidak tidur sama sekali untuk malam ini karena ia pun harus menunggu buletinnya dicetak kemudian dibagikan sepagi mungkin.

“ Myungsoo, kau tidak apa-apa kan? Kupikir kau perlu membawa dia dulu ke kamarnya.” Jang Dongwoo, siswa seangkatan Myungsoo sekaligus pemimpin redaksi sejak tadi sedikit canggung melihat seorang gadis yang masih tertidur pulas di kursi ruangan. Karena hanya gadis itu satu-satunya perempuan dalam ruangan mereka.

“ Sejak tadi sore aku ingin membawanya ke kamar, tapi kamarnya dikunci.”jawab Myungsoo dengan penuh penyesalan.

Apa Chorong semarah itu? pikirnya. Sahabat perempuannya itu sampai mengunci pintu kamar hingga Naeun tak bisa masuk. Jika Chorong marah pada Myungsoo, mungkin lelaki itu masih bisa mengatasinya. Tapi jika Chorong sampai cemburu berlebihan pada Naeun, ini akan menimbulkan rasa bersalah bagi Myungsoo.

Naeun. Gadis itu tadinya sudah bangun setelah tertidur sebentar di atap asrama dalam..ehm, pelukan Myungsoo. Saat tahu bahwa pintu kamarnya dikunci dan tak dibuka sama sekali, ia terpaksa mengikuti Myungsoo ke ruang redaksi hingga larut malam begini.

Kondisi fisiknya yang sedang lemah membuat gadis penyihir itu tertidur lagi. Tetapi kelihatannya, meski harus tidur di kursi, Naeun tidur dengan tenang bahkan tersenyum sesekali.

Myungsoo tahu Naeun sedang bermimpi indah.

***

“ Kenapa aku selalu menemukanmu tidur di tempat-tempat aneh, gadis lily? Di dapur, di atap, sekarang di kursi. Tidak bisakah sekali saja kita bertemu di tempat tidur? Ah.. ini menyebalkan.”

“ Hah?”

Gadis itu membuka matanya dan nyaris terlonjak ketika mendapati seseorang sedang berlutut di hadapannya.

“ Myungsoo sunbae? Kita masih disini? Kukira aku sudah.. eh..–” Naeun buru-buru menutup mulutnya ketika sadar bahwa ia tidak benar-benar bangun dari tidurnya. Bahkan sedang sangat pulas karena memasuki alam mimpinya dengan…

Penyihir sialan yang melarangnya pulang ke dunia nyata itu. Bodoh sekali, seharusnya Naeun tak bicara dulu sebelum melihat tatonya.

Pantas saja ruangan tempatnya berada yang seharusnya cukup ramai itu kini kosong, hanya ada ia dan penyihir tampan itu. Ini benar-benar mimpi, dan Naeun sempat mengucap nama Myungsoo barusan. Semoga saja penyihir itu tidak memberondongnya dengan ribuan pertanyaan.

“ Myungsoo sunbae? Kau sedang merasa ditipu lagi olehku atau manusia itu benar-benar ada disini?”

Benar, kan. Tak hanya matanya yang tajam dan menusuk, pendengaran L pun tak kalah tajamnya, lagipula sebutan ‘Myungsoo sunbae’ sangat akrab di telinganya selama ia bersandiwara di dunia nyata dulu.

Naeun diam sejenak, berpikir sambil menggigit bibirnya. L bukan penyihir bodoh, sia-sia saja jika ia cari-cari alasan untuk berbohong.

“ Kenapa kau menginterogasiku!? Seharusnya aku yang marah padamu!!”

Gadis itu ingat ia sedang memendam kekesalan pada penyihir tampan didepannya ini. Ah, syukurlah ada topik yang tepat untuk menghindari pertanyaan L barusan.

“ Aku tahu..aku tahu..” L mengangguk pasrah, ia lantas lebih mendekat lagi pada istrinya itu.

“…pukul aku.”

“ Apa?”

“ Kau marah, kan? Pukul saja aku, sepuasnya.”

“ M..maksudmu a…”

“ Tendang juga boleh.”

“ L, kau ini..”

“ Cepatlah.”

“ Kau tidak akan membalas, kan?”

L menggeleng dan tersenyum. Naeun mengangkat tangannya, mengamati tubuh lelaki itu, mencari sasaran pukulnya. Tapi ia menyerah dan menurunkan tangannya.

“ Aku tidak tahu harus mulai dari mana, L. Dalam kepalaku, sudah banyak hujatan untukmu. Aku benci padamu, aku sangat benci padamu.”Naeun menunduk dan menghela nafas, “…tapi aku sangat bodoh, memukulmu saja aku tidak sanggup.”

“ Itulah mengapa kadang-kadang aku gemas dengan orang yang terlalu baik.”

Naeun menatap L, mata indahnya memicing.

“…jahat itu perlu, nona Son. Agar kau tidak terlalu naif menjalani kehidupan.” lanjut penyihir tampan itu, “…jadi sebenarnya, jika kau memintaku untuk menjadi penyihir yang terlalu baik sepertimu, sampai kapanpun aku tidak akan bisa.”

“ Perkataanmu membuatku semakin membencimu sekarang.”

“ Aku tidak peduli. Kau tidak bisa memukulku juga, kan?”

BUK!

“ Aku melakukannya.”gadis itu tersenyum puas setelah mendaratkan kepalan tangannya di lengan L, meski berakhir dengan rasa sakit juga karena lengan penyihir tampan itu sangat kokoh.

“ Ah.. rupanya sejak tadi kau mengumpulkan keberanian dulu untuk memukulku?” L memegangi lengannya yang sedikit berkedut, “…payah sekali. Tapi kuhargai.”lelaki itu tertawa mengejek.

“…lakukan lagi, di wajahku.”

“ Aku tidak berani merusak wajah tampanmu.”

“ Kenapa? Ini hanya wajahku. Aku saja berani merusak hidupmu.”

Sekali lagi Naeun menoleh kearah L, kali ini dengan tatapan heran. L menyadarinya.

“…maaf ya, sudah merusak hidupmu.”sambung lelaki itu.

Dan moment langka terjadi, penyihir tampan itu tiba-tiba meneteskan air bening dari mata elangnya. Meski buru-buru disembunyikannya karena tak ingin terlihat lemah.

Naeun terdiam sejenak, merasa terhenyak. Apakah yang sedang terjadi di negerinya benar-benar hal yang serius?

Gadis itu buru-buru menggeleng dan mengusap punggung L dengan lembut.

Geumanhae. Kau tidak merusak hidupku..”ucap gadis itu pelan, meski terdengar ragu karena semua orang pun tahu apa yang telah L perbuat padanya di masa lalu.

“ Aku merusaknya, Yeoshin. Kau menderita selama lebih dua belas tahun mengenalku, dan sekarang harus sampai berpisah dengan Lin, ini semua karena aku..”

“ Aku akan lebih menderita jika kau tidak mengatakan apa yang terjadi saat ini.”

“ Baiklah. Aku ada sedikit kabar untukmu.”

“ Kabar baik..atau sebaliknya?”

“ Aku sendiri tidak tahu ini kabar baik atau buruk.”

“ Memangnya kabar apa?”

“ Ibuku..” L masih merasa sedikit tercekat di tenggorokannya, “…Taeyeon, sekarang ia menjadi penyihir nomor tiga. Kau tahu apa artinya?”

Perasaan Naeun mendadak tak nyaman, “ Kemana Madame Sunny?”

“ Dia sudah kembali, pada kegelapan.”

“ Tidak mungkin..”gadis itu menutup mulutnya, airmatanya menetes satu demi satu, “…L.. bagaimana bisa!? Bukan kau yang membunuhnya, kan!?”

“ Sayang sekali bukan aku.”L masih bisa-bisanya bergurau meski hatinya benar-benar sakit, membuat Naeun semakin gemas.

“ Jelaskan semuanya, L. aku tidak bisa diam dengan ketidaktahuan. Portal tidak bisa terbuka dan sekarang Madame Sunny tiada, bisa kau bayangkan betapa menderitanya aku disiksa oleh rasa penasaran?!”

L menghela nafas dan berdiri, mengamati ruangan tempat ia dan Naeun berada sekarang.

“ Oh ya, kenapa kau bisa ada di ruangan ini?”

Naeun memutar bola matanya, “ YA! Jangan mengalihkan pembicaraan, kau belum menjawab pertanyaanku!”

“ Kenapa kau bisa ada disini? Karena ini mimpi, kau pasti sedang tidur disini..”L mengulang pertanyaannya seraya berbalik dan menatap Naeun tajam, membuat istrinya itu urung untuk protes lagi. Sepasang mata elang itu terlalu mengintimidasinya.

“ Kamarku terkunci, jadi aku tidur disini.” dengan sedikit bergetar Naeun menjawab seadanya, “…ini.. ruang redaksi SMA Junghwa.”

L kembali menatap sekeliling ruangan itu, cukup sempit karena terdapat mesin cetak dan ratusan rim kertas di dalam sana. Selama bersekolah di SMA Junghwa sebagai ‘Myungsoo’, ia tak pernah masuk ke ruangan ini.

“ Dengan siapa kau di tempat ini?”

Ini interogasi yang berbahaya. Salah-salah Naeun bisa membocorkan keberadaan Myungsoo, ia sama sekali belum siap.

“ Aku sendirian.”

“ Yakin?”

“ Hm.”

“ Setahuku buletin SMA Junghwa terbit tiap selasa. Dan sekarang selasa dini hari, kupikir seharusnya ruangan ini sedang menjadi tempat sibuk tim redaksi.”

Naeun semakin menggetar. Ia harus jawab bagaimana lagi?

“ Tim redaksi membiarkanku tidur disini, sendirian.”

Meski jelas masih nampak raut kecurigaan di wajah L, Naeun sedikit lega melihat lelaki itu mengangguk saja setelah mendengar jawaban terakhirnya.

“…sudahlah jangan bahas tempat ini. Jawab pertanyaanku yang tadi, kenapa portal sampai tidak bisa terbuka dan Madame Sunny..mati?” Naeun mengulang pertanyaannya dan ia hampir menangis lagi.

“ Tadinya aku ingin ceritakan semuanya padamu. Tapi barusan kau berbohong padaku, jadi aku tidak akan cerita.”

DEG. Naeun benar-benar takut sekarang. L tahu ia berbohong?

“…aku yakin seseorang membawamu ke tempat ini, Son Yeoshin. Sayang sekali aku tidak bisa cari tahu karena kita hanya bisa bertemu dalam mimpi. Terserah mau kau akui atau tidak, tapi aku yakin itu.”sambung L seraya tersenyum sinis. Naeun tak bisa membayangkan jika L bisa berhasil mengetahui keberadaan Myungsoo.

Naeun mencoba mengontrol debaran jantungnya, ternyata seperti ini rasanya menyembunyikan rahasia besar di depan L.

“ Kau terus mengalihkan pembicaraan. Lagipula tidak penting siapa yang membawaku kesini.”ucap gadis itu, “…tolong beri aku kejelasan sedikit tentang situasi di negeri Junghwa.”

L mondar-mandir di dalam ruangan sambil berpikir, memilah-milah apa saja yang bisa ia ceritakan dan tidak pada Naeun. Ia masih tega membuat istrinya itu penasaran.

“ Hmm.. sekarang aku, Taeyeon, dan Lin tinggal di istana. Semua penyihir tinggal disana. Terutama malam ini, kami semua berkumpul mengantar Madame Sunny menuju kegelapan.”

“ Kenapa—“

“ Jangan tanya alasan kematian Sunny untuk saat ini, jangan tanya apapun. Aku tidak akan menjawabnya.”

Naeun terpaksa menarik pertanyaannya, sedikit mendengus karena L masih saja keras kepala.

“…dan uri Lin, kemarin ia sempat demam tinggi.. tapi sekarang sudah sembuh. Aku merawatnya dengan baik, ia juga semakin tampan dan pintar..”

Kini Naeun tersenyum kecil, namun airmatanya menitik lagi karena merasakan rindu yang teramat sangat pada putra kecilnya itu. Ia menunduk dan menutup wajah cantiknya, sudah beberapa kali ia menangis dan ia tak bisa membayangkan betapa kusut wajahnya di depan L sekarang.

L berbalik dan berlutut di depan Naeun, menurunkan tangan yang menutupi wajah cantik ahli ramuan itu.

“ Bisakah aku minta tolong padamu, Son Yeoshin?”

“ Minta tolong?”

L mengangguk, tangan lebarnya perlahan mengusap airmata di wajah Naeun dan memegang pipi gadis itu dengan lembut.

“ Aku memintamu untuk menunggu, percaya, dan berhenti. Menunggu sampai semuanya baik-baik saja, percaya bahwa aku bisa mengatasi semuanya, dan berhenti bertanya apa yang terjadi, karena aku tidak akan berbagi penderitaan denganmu.”

“ Tapi bagaimana bisa….”

“ Sekolah saja disini, akan bermanfaat bagimu. Lagipula aku yakin tempat ini aman untukmu. Kau punya kakak angkat disini, dan aku juga bisa meminta Howon melihat keadaanmu sewaktu-waktu.”

Seandainya saja L tahu ada Myungsoo disini. Naeun tak tahu apakah lelaki itu akan mengubah keputusannya.

“ L..aku..”

“ Kau bisa melakukannya, kan?”

“ Dengan satu syarat.”

“ Apa itu?”

“ Datanglah ke mimpiku seperti ini, setiap hari.”

L mengangguk, lega karena Naeun mengajukan syarat yang tidak sulit.

“ Kalau begitu, besok kita bisa bertemu lagi. atur jam tidurmu, dan kuharap kita tidak bertemu di tempat-tempat aneh. Tidurlah di tempat yang nyaman, Son Yeoshin.”

L terpaksa pamit karena khawatir melewatkan keadaan di negerinya terlalu lama. Naeun mengangguk pasrah dan mencoba tersenyum agar L tidak semakin berat meninggalkannya. Di relung hatinya yang terdalam, sebenarnya ia masih sangat ingin mencecar tentang situasi di negeri Junghwa, terlebih penyebab portal tak bisa terbuka dan kematian Madame Sunny. Tapi jika L tetap berkeras memintanya untuk diam dengan ketidaktahuan, ia bisa apa?

“…kau boleh memukulku sekali lagi sebelum aku pergi.”

Naeun tertawa kecil, ia menggeleng dan justru mendekat, mencoba meraih bibir tipis L dengan bibirnya, namun lelaki itu menahan dengan telunjuknya.

“ Jangan. Aku habis merokok.”

Sebelum dibantah, lelaki itu menghilang setelah menggantikan ciuman yang Naeun inginkan dengan kecupan singkat di kening gadis itu.

Bersamaan dengan itu, Naeun terbangun dari tidurnya.

***

Hiks.. aigoo..padahal tidak apa-apa, aku suka aroma tembakau dari bibirmu..”

Para anggota tim redaksi termasuk Myungsoo sontak menoleh kearah gadis cantik yang kelihatannya masih tidur tertelungkup di meja itu, igauannya terdengar jelas.

Omo..kukira selama ini siswi Son Naeun itu gadis baik-baik.”bisik Dongwoo, dibarengi anggukan anggota timnya, Myungsoo benar-benar salah tingkah. Apa Naeun habis bermimpi erotis?

“…kalian masih pacaran, kan?”kali ini Dongwoo menatap Myungsoo, lelaki tampan itu semakin salah tingkah dan tak menjawab, memilih untuk beringsut menghampiri Naeun yang mulai bangun dari tidurnya.

“ Hei..”

“ Hm? Hei..kau masih disini?” Naeun tak bisa menahan senyum lebarnya saat menatap wajah Myungsoo, wajah yang masih ia rindukan.

“ Ya. Tentu saja..buletin belum selesai.”jawab Myungsoo kikuk, sekaligus menyadarkan Naeun bahwa gadis itu tak lagi berada di alam mimpi.

“ Kenapa mereka menatapku seperti itu?”Naeun mengerutkan dahinya saat menyadari tim redaksi menatapnya tanpa berkedip, namun buru-buru menyibukkan diri saat ketahuan.

“ Kalian berdua masih pacaran, kan? Bagaimana kalau space kosong di buletin ini memuat berita tentang kalian saja.”kata Dongwoo tiba-tiba, mata Myungsoo dan Naeun sontak membesar.

“ Eh..tapi..”Myungsoo benar-benar tak bisa berpikir sekarang. Perihal hubungan ‘Myungsoo’ dan Naeun di masa lalu akankah mereka lanjutkan atau tidak, ia belum sempat membicarakannya dengan Naeun.

“ Ayolah.. kalian berdua itu sorotan di SMA ini..”ucap Dongwoo yakin seraya membentuk persegi dengan kedua tangannya untuk menunjuk namja dan yeoja di depannya, “…president school sekaligus kapten basket yang berpacaran dengan anak angkat keluarga Nam. Woohoo~ warga sekolah sangat suka mengikuti perkembangan hubungan kalian.”

Anggota redaksi yang lain mengangguk setuju dan meminta persetujuan dengan wajah memelas, mungkin karena takut dengan waktu yang terus berjalan dan buletin yang belum tercetak juga.

Myungsoo menggaruk pelipisnya dengan salah tingkah, Naeun berpikir keras, baru sadar bahwa Myungsoo bertanggung jawab atas segala yang pernah L lakukan selama di SMA Junghwa.

“ Ya. Tulis saja berita tentang kami.”ucap Naeun tiba-tiba, Dongwoo dan timnya tersenyum cerah karena akhirnya mendapatkan berita berharga di ambang deadline. Myungsoo? Tentu saja lelaki itu terkejut bukan main, ia kira Naeun akan menolak habis-habisan.

“ Oke! Cepat, bagaimana beritanya?”Dongwoo bersiap di depan komputernya, Myungsoo masih memilih untuk diam, sementara Naeun sedikit beringsut mendekati Dongwoo dan berbisik di telinga ketua tim redaksi itu.

“ HAH!? Benarkah!!?”Dongwoo nampak terbelalak, membuat timnya sekaligus Myungsoo benar-benar penasaran.

Naeun mengangguk, “ Tulis beritanya dengan benar ya, sunbae. Aku tidak mau ada kesalahpahaman.”

Dongwoo mengangguk pelan dan langsung menatap Myungsoo dengan prihatin.

Lelaki tampan itu semakin bingung.

“ Son Naeun, berita macam apa yang kau berikan?”

***

“ Hei, bodoh. Bangun.”

“…”

Sungyeol memutar bola matanya, menyerah. Gadis di depannya tak bangun juga, bahkan dengkurannya semakin keras.

“ Benar-benar seperti ular, habis makan langsung tidur.”dengus lelaki itu. Pasalnya, ia jadi tak bisa pergi begitu saja dari kantin 24 jam tempatnya berada karena Yura benar-benar pulas dan tak mungkin ia tinggal sendirian. Sebenarnya ia bisa saja tega melakukan itu. Tapi mengingat Yura adalah anak kepala sekolah, ia harus berpikir seribu kali untuk meninggalkannya. Padahal, Sungyeol sama sekali belum menjalankan tujuannya keluar tengah malam begini : mencari Myungsoo dan Chorong.

KRIETT..~

Terdengar suara decitan pintu yang dibuka, seorang gadis berwajah lusuh dan sedikit bengkak memasuki kantin. Penjaga kantin yang sudah terkantuk terpaksa bangkit lagi untuk melayani gadis itu.

Annyeong, mau pesan apa?”

“ Aku ingin duduk saja disini, boleh kan?”

Sungyeol segera berdiri ketika menyadari suara gadis itu tak asing baginya, ia lantas berlari kecil menghampiri dan menariknya menuju meja.

Green tea panas dan satu ramen untuknya.”pesan Sungyeol cepat, penjaga kantin itu mengangguk dan segera mempersiapkan pesanannya, sementara sesampainya di meja, sang gadis baru mengangkat kepalanya.

“ Yeol, kenapa kau disini?”

“ Kau kenapa?”Sungyeol sedikit terkejut melihat sahabat perempuannya itu dalam keadaan lusuh dan tidak rapi, “…Woohyun lagi?”

Chorong diam, hatinya masih terasa sangat sakit mendengar nama lelaki itu.

“…kau diapakan hah?”tanya Sungyeol lagi, gemas karena Chorong bertingkah seperti orang tuli.

“ Tak kusangka begini caramu berkencan, dini hari di kantin 24 jam.” Chorong mengalihkan pembicaraan dan menunjuk Yura yang masih pulas di atas meja yang penuh bekas makanan.

Sungyeol memutar bola matanya , “ Jangan salah paham. Dia yang ingin ikut. Tadinya aku hanya ingin mencari kau dan Myungsoo.”

“ Myungsoo di ruang redaksi, tadi aku lewat sana. Kurasa ia tidak melihatku.” jawab Chorong pelan.

“ Syukurlah kau tidak memanggilnya.”Sungyeol bernafas lega, “…Myungsoo memang baik pada semua orang. Tapi kalau kuingat isi surat balasannya padamu dulu, sepertinya ia tak bisa memberi toleransi lagi pada Woohyun. Daripada imej Myungsoo hancur, biar aku saja yang beri perhitungan pada Woohyun. Katakan, apa yang dilakukan chaebol itu padamu?”

Chorong mencoba untuk tenang.

“ Kenapa kau tegang sekali, Yeol? Aku baru saja putus dengannya, hahaha..”

Sungyeol menaikkan sebelah alisnya.

“ Putus? Dan.. apa barusan kau tertawa?”

“ Yah.. aku.. tertawa.. aku sangat senang akhirnya dia mengakhiri semua ini.. hahaha..”

Namun Chorong buru-buru menunduk, menghapus airmatanya yang berjatuhan lagi. Sementara Sungyeol sedikit mendorong secangkir teh dan semangkuk ramen yang sudah datang ke arah gadis itu.

“ Huh, pasti karena Myungsoo. Biar aku bicarakan dengan Woohyun. Kau makan saja.”

“ Percuma.”jawab Chorong pelan sembari memainkan sumpitnya, “…aku yang tolol, kenapa aku punya hati seperti ini.. kadang-kadang menyukai sesama perempuan, kadang-kadang menyukai Woohyun, kadang-kadang menyukai Myungsoo.. jangan-jangan.. sebentar lagi aku menyukaimu, Yeol. Hahahaha…”

“ Tidak lucu.”

“ Tapi aku benar, kan? Aku punya hati yang aneh. Aku tidak tahu apakah harus senang atau sedih dengan keputusan Woohyun, aku tidak bisa mengingkari juga bahwa perasaan itu datang lagi, perasaanku pada Myungsoo..”

Mwo? Siapa yang punya perasaan pada Myungsoo-ku!!??”

Yura terbangun dan sedikit mengucek matanya, ternyata telinganya begitu sensitif mendengar nama Myungsoo.

“ Tidur lagi sana.”Sungyeol merasa agak malu, sementara Chorong justru tertawa kecil.

“ Ugh.. makanya jangan bicarakan Myungsoo tanpa sepengetahuanku.”sahutnya, namun menurut karena ia kembali melanjutkan tidurnya.

“ Ck, yeoja menyebalkan. Harusnya dia tidak disini.”umpat Sungyeol.

“ Jangan begitu, Yeol. Semakin kau tidak suka dengan tingkahnya, suatu saat kau bisa sangat menyukainya.”

“ Aku tidak jatuh cinta semudah itu.”

Chorong tersenyum getir, “ Aku iri padamu, Yeol. Aku ingin juga sulit jatuh cinta. Aku terlalu mudah menaruh perasaan pada siapapun..”

Lelaki itu menggeleng, “ Aku yakin sebenarnya kau tidak seperti itu, Rong. Kau hanya tidak bisa berpikir panjang ketika merasa tertarik dengan seseorang.”

“…aku ingin kau berpikir dan memahami hatimu sendiri. Luangkan waktumu dan temukan siapa yang sebenarnya ada di dalam sana.”Sungyeol sedikit menunjuk letak jantung Chorong, gadis itu mengangguk pelan dan berhenti menangis.

“ Bagaimana denganmu? Siapa yang ada di dalam sana?”Chorong ikut menunjuk letak jantung Sungyeol, “…Masih Yookyung? Atau…Myungsoo?”

“ Entahlah, hatiku terasa kosong.”

*****

“ Aku mencari songsaenim kemana-mana, ternyata disini? Kau tidak kedinginan?”

L berhenti berbaring dan membenarkan posisi duduknya di atap istana yang miring ketika melihat seorang gadis datang dengan menggendong putra kecilnya.

“ Hati-hati, awas jatuh.”ucap lelaki itu sedikit was-was, namun Namjoo yang memegang Lin erat dalam lengannya berhasil duduk di samping L.

“ Dia merindukanmu.”Namjoo menyerahkan Lin yang sedang tenang pada L, “…Lin yang sekecil ini saja mengantar kepergian Madame Sunny, kenapa kau tidak?”

L tersenyum getir, mencium lembut wajah Lin sejenak. Sementara tangan mungil putranya itu menyentuh pipinya yang dingin.

“ Ia mati karena aku. Bagaimana mungkin aku sanggup menatap jasadnya lama-lama.”

Namjoo mengangguk, “ Aku mengerti, songsaenim.”

“ Panggil saja aku L. bagaimanapun juga kita adalah keluarga. Lagipula aku bukan guru lagi.”

“ Setelah semuanya baik-baik saja, kau pasti bisa menjadi guru lagi. aku suka memanggilmu L songsaenim.”

“ Kurasa kau benar-benar tidak benci lagi padaku. Aku masih terkejut.”

Namjoo tersenyum tipis dan kembali menggoda Lin yang ada dalam gendongan L, “ Berkatmu dan Yeoshin unnie, anak selucu dan sehebat ini lahir. Aku sangat menyukai Lin, jadi aku juga tak bisa lagi membencimu, songsaenim.”

“ Lin juga kelihatannya senang, akhirnya dia punya teman.”segala kekacauan dalam benak L sedikit mereda ketika melihat senyum cerah Lin, yang nampaknya sudah sangat akrab dengan Namjoo.

“…tapi.. aku tahu kau tidak akan suka, tapi aku ingin kau pulang, Kim Namjoo.” sambung L, Namjoo buru-buru menggeleng.

“ Aku sudah bilang berkali-kali, sekarang aku tidak lagi berpihak pada Hyoyeon, aku…”

“ Aku tahu. Tapi aku tidak ingin kau disini. Bagaimanapun juga Hyoyeon adalah ibu angkatmu, kemungkinan besar ia mencarimu. Jika ia datang kesini dan mencelakai semua penyihir terutama Taeyeon dan Lin, aku tak akan memaafkan diriku sendiri… kematian Madame Sunny saja sudah membuatku hampir gila.”

Namjoo terdiam dan mulai menangis. L merasa agak bersalah. Sudah dua yeoja yang ia buat menangis hari ini. Pertama Naeun, dan kini Namjoo.

“ Bermainlah dengan Lin malam ini, besok aku akan mengantarmu pulang.”

L menyerahkan Lin pada Namjoo, bayi kecil itu langsung bergelayut manja dalam gendongan Namjoo, mencoba menghibur karena tangisan gadis itu semakin dalam.

“ Kau tidak takut mengantarku pulang? Bisa saja kau berhadapan dengan Hyoyeon.”

“ Ya sudah, memang itu yang kumau.” sahut L santai sembari kembali membakar rokoknya, hanya racun itu yang bisa sedikit menghangatkan tubuhnya dan menghilangkan penat di kepalanya.

“ Kau sudah gila. Ia akan membunuhmu. Aku tetap tidak akan mau pulang.” Namjoo berdiri dan bersiap untuk pergi.

“ Aku akan memaksa.”

Namjoo menyerah dan ia pergi membawa Lin, meninggalkan L yang sepertinya akan terus merokok di atap sampai pagi datang.

***

[PERATURAN BARU SMA JUNGHWA]

-PERATURAN INI DITULIS LANGSUNG OLEH KEPALA SEKOLAH, KIM SUNGGYU. TANPA PERUBAHAN SEDIKITPUN OLEH EDITOR-

Sehubungan dengan vakumnya aktivitas belajar mengajar di SMA Junghwa selama hampir lima bulan yang disebabkan oleh kasus pembunuhan misterius tanpa titik terang, kepala sekolah baru sekaligus pengajar Kimia, Kim Sunggyu, mengajak seluruh warga sekolah untuk melupakan kasus yang terjadi dan mematuhi beberapa peraturan baru, antara lain :

-Untuk mengejar ketertinggalan materi, total waktu belajar dalam sehari menjadi 18 jam untuk kelas X dan XI (07.00 AM-00.00 AM), dan 20 jam untuk kelas XII yang tak lama lagi akan mengikuti ujian kelulusan (07.00 AM-02.00 AM). Sudah termasuk waktu istirahat makan siang dan makan malam. [Perubahan jadwal pelajaran bisa dilihat di lampiran belakang]

-Kelas XII wajib mengikuti les tambahan di hari Minggu.

-Weekend keluar asrama ditiadakan. Siswa kelas X dan XII dipastikan memiliki PR setiap hari dan wajib mengerjakan PR di asrama.

-Kegiatan ekstrakulikuler di luar jam sekolah ditiadakan dan hanya bisa dilakukan pada jam pelajaran olahraga.

-Pengambilan nilai/ulangan setiap mata pelajaran dilakukan seminggu sekali.

-Siswa yang sakit dan tidak bisa mengikuti kegiatan pembelajaran tetap menerima tugas dan PR, serta diwajibkan mengikuti ulangan susulan.

-Siswa yang membolos akan langsung dikeluarkan.

-[PENTING] Setiap siswa wajib membentuk kelompok belajar maksimal 8 orang untuk menyelesaikan tugas dan PR, serta sharing materi. Anggota tak harus dari kelas dan jenjang yang sama. Nama anggota wajib dikumpulkan pada pihak asrama dan sekolah karena akan sangat mempengaruhi penilaian individu.

 

“ Apa-apaan ini? Sekolah ini dipimpin oleh kepala sekolah atau monster?”

Kai mendengus dan mulai melempar buletinnya dengan kasar ke pintu-pintu kamar di sekitarnya setelah membaca sedikit isi buletin yang sedang dibagikannya, Myungsoo mengacak-acak rambut adiknya itu.

“ Hei.. aku tahu kau kesal, tapi jangan begitu.. nanti mereka bangun.”

Kai mengangguk pelan dan mengikuti cara Myungsoo yang justru menciptakan suasana sesunyi mungkin dan meletakkan buletinnya di bawah pintu.

“ Enak sekali ya, hyung. Jam segini mereka masih bisa tidur nyenyak, sedangkan kita..”Kai sedikit mengeluh karena ia sendiri masih mengantuk dan terpaksa bangun karena sudah janji akan mulai membantu Myungsoo menjadi loper.

“ Nanti kau akan terbiasa..”jawab Myungsoo sabar, meski ia jauh lebih mengantuk dari Kai karena tidak tidur sama sekali.

“ Kau bahkan tidak tidur sama sekali, kan? Apa saja yang kau lakukan di ruang redaksi?”

“ Hmm.. yah, membantu tim mencari ide berita karena ada satu space kosong.”

“ Ah.. begitu ya? Jadi space kosongnya diisi berita apa?”Kai membolak-balik buletin yang ia pegang, Myungsoo agak memucat sekarang.

“…HAH!? Berita apa ini?? Hyung dan Naeun?!”Kai terkejut dan membaca artikelnya dengan terburu-buru.

“ Itu..bukan aku.. maksudku.. yah.. Naeun ada disana dan dia yang memberi beritanya pada tim redaksi.”

“ Kau sudah membicarakan hal ini sebelumnya dengan Naeun?”

Myungsoo menggeleng, “ Ini keputusannya. Aku terima saja, lagipula memang keputusan yang bagus.”

Hyung.. kau baik-baik saja, kan?”

Myungsoo tertawa pahit dan hanya mengerlingkan matanya, setelah itu menghela nafas lalu berbalik, melanjutkan kegiatannya membagikan buletin meski berita di dalam sana kembali membuat Myungsoo sedikit…

Kecewa.

***

Morning, 06.00 AM

 

“ Hei!! Lihat! Mereka putus!”

“ Hah!? Benarkah!?”

Omo..apa yang mereka pikirkan? Kenapa sampai begini ya?”

Naeun berusaha untuk tidak peduli dan tetap melanjutkan sarapan paginya di sudut ruang makan, berharap tak seorangpun melihatnya dan mendatanginya kemudian bertanya-tanya.

Berita yang ia berikan pada Dongwoo dan sudah tersebar lewat buletin ternyata memang menimbulkan kehebohan cukup besar, tak kalah dari kehebohan para siswa tentang peraturan baru SMA Junghwa.

“ Kim Myungsoo dan Son Naeun menjadi teman. Akhir kisah cinta kapten basket dan anak angkat keluarga Nam.”

Naeun mengangkat kepalanya setelah mendengar suara seorang gadis membacakan judul artikel buletin yang ia buat.

“…keputusan yang bagus, Son Naeun.”

Chorong tersenyum dan duduk di hadapannya, wajah cantiknya kembali ceria.

“ Aku bertemu L semalam, aku sangat merindukannya.”ucap Naeun pelan, “…aku merasa bersalah saja jika harus berpura-pura berhubungan dengan Myungsoo sunbae disini, bagaimanapun juga dia bukan L. jadi.. anggap saja kisah kami sudah berakhir.”

“ Myungsoo setuju saja, kan?”

Naeun mengangguk meski ragu, ia bahkan mengajukan berita ini tanpa meminta pendapat Myungsoo terlebih dahulu. Dan ketika Myungsoo membaca sendiri, kelihatannya lelaki itu langsung murung dan tak bicara lagi dengan Naeun sampai pagi ini.

Tapi mana mungkin Naeun ceritakan pada Chorong, hanya akan membuat runyam.

“…maaf sudah mengunci kamar semalam. Sekali lagi, aku suka dengan keputusanmu mengakhiri drama ‘Myungsoo dan Naeun’ di sekolah ini. Bagaimanapun juga kalian memang tidak terkait satu sama lain. Hahaha. Kalau begini Myungsoo tidak perlu memikirkanmu lagi.”

Chorong makan dengan lahap setelah mengungkapkan kebahagiaannya, Naeun benar-benar yakin ini semua karena gadis itu masih menyimpan –entah sedikit atau banyak- perasaan pada Myungsoo.

Naeun jadi merasa kasihan dengan kakak angkatnya, Nam Woohyun.

Melalui jendela ruang makan di sisi kanannya, Naeun menatap kakak angkatnya itu. Semenjak sembuh dari kanker berkat ramuan penyembuh, Woohyun jadi lebih aktif bermain basket. Saat ini saja ia begitu sibuk berlatih di tengah lapangan. Naeun juga menyadari mulai banyak siswa yang keluar dari ruang makan dengan terburu-buru, membawa makanan mereka ke pinggir lapangan basket.

“ Apa akan ada pertandingan?”tanya Naeun pelan, Chorong menoleh sebentar ke arah jendela dan mengangguk saja.

“…kenapa tidak menemani oppa?”tanya Naeun lagi dengan sedikit kecewa, ia pun berdiri dan ikut membawa sarapannya ke lapangan basket.

Chorong masih diam di tempatnya, mencoba untuk tidak lagi melihat ke jendela. Akan sangat malu jika ia ketahuan tengah memperhatikan Woohyun.

“ Kau sudah sembuh. Tapi mengapa aku masih khawatir melihatmu bermain basket?”

***

“ Woah! Lihat, Son Naeun datang. Kalau dia putus dengan Myungsoo, berarti kali ini dia mendukung Woohyun..”

Naeun mendengar beberapa pembicaraan lagi sesampainya ia di pinggir lapangan basket. Beberapa siswa juga mulai menghampirinya, mereka benar-benar heboh setelah membaca buletin.

Myungsoo dan Woohyun memang benar-benar selebriti sekolah, Naeun sedikit menyesal mengapa harus terlibat dengan mereka.

“ Hei Naeun, kau benar-benar sudah putus dengan Myungsoo sunbae?”

“ Kau sudah gila ya?”

“ Jadi sekarang kau mendukung Woohyun?”

“ Mendukung apa?”tanya Naeun pelan pada mereka. Huh, ia hanya penasaran. padahal ia tak ingin bicara sama sekali.

Heol~ untuk apa kau kesini kalau tidak tahu apa yang akan kau saksikan? Myungsoo dan Woohyun sunbae akan tanding solo lagi.”

Naeun sedikit terkejut. Kenapa tiba-tiba? Ini pasti dadakan, apa karena berita di buletin?

Suasana lapangan semakin riuh ketika kedua rival berat itu memasuki lapangan bersama-sama dengan seragam basket mereka.

Dalam hitungan detik, mata elang Myungsoo menangkapnya. Menguncinya, membuatnya tak bisa berkedip dan kaku mendadak.

Naeun menggigit bibirnya dengan gugup. Kenapa ia jadi begini? Tatapan Myungsoo kali ini tak ada bedanya dengan L.

Lelaki itu tersenyum sekilas padanya sebelum akhirnya memperhatikan arahan wasit. Naeun khawatir, ia tahu Myungsoo sama sekali tidak tidur semalaman. Apa ia bisa menghadapi Woohyun yang entah mengapa hari ini kelihatan ingin sekali menerkamnya?

Pertandingan dimulai. Semua siswa semakin heboh meneriakkan sunbae favorit mereka bahkan dengan ompreng sarapan yang mereka bawa dari ruang makan. Benar-benar berisik. Hanya Naeun yang tetap tak bersuara, bola matanya mengikuti setiap pergerakan Myungsoo yang masih tetap lincah dan (sialnya) terlihat seksi saat beberapa kali memasukkan bola ke dalam ring.

“ Apa-apaan ini? Kenapa waktu makan pagi jadi waktu pertandingan?”

Seseorang duduk tepat di samping Naeun. Lee Sungyeol. Ah, Naeun baru sadar ia sudah sangat lama tak melihat cenayang aneh ini.

“ Apa kabar, sunbae?”

“ Seperti yang kau lihat, tetap memprihatinkan.”

Naeun tertawa kecil meski masih merasa sedikit canggung. Bagaimanapun juga selama ia masih bersandiwara dengan L, Sungyeol merupakan salah satu orang yang membencinya.

“…oh ya. Good job, ahli ramuan. Aku berhutang padamu seumur hidup.”Sungyeol sedikit menepuk bahunya dan tersenyum, “…rasanya masih seperti mimpi, melihat Myungsoo ada lagi disini.”

Naeun tahu pada akhirnya Sungyeol akan membahas hal ini. Naeun tak ingin membicarakannya lebih jauh, hanya akan membuatnya semakin bersalah pada L yang sampai saat ini belum tahu sisi baiknya hidup kembali.

Gadis itu diam saja dan pura-pura sibuk menyantap sarapannya yang belum habis.

“…sebagai tanda terimakasih, ayo kita berteman. Jika kau perlu sesuatu, apapun itu.. katakan saja padaku, aku akan membantumu.”Sungyeol mengulurkan tangannya, Naeun menjabatnya dan tersenyum seraya mengangguk. Ia cukup senang karena ini artinya Sungyeol tak lagi berbahaya.

“ Mereka bermusuhan lagi ya?”kini Naeun bertanya sambil sedikit menunjuk Woohyun dan Myungsoo yang masih bertanding mati-matian, Sungyeol tertawa sinis.

“ Memangnya mereka pernah berteman?”

“ Kupikir keadaannya sudah berubah.”

“ Tidak ada harapan.” Sungyeol meletakkan buletin yang ia miliki di atas paha Naeun, “…kau membuatnya semakin buruk. Aku tahu kabar putusnya Kim Myungsoo dan Son Naeun ini adalah idemu.”

“ Apa yang salah? Aku memang tidak bisa melanjutkan kisah cinta di sekolah ini, dia bukan L, dia Kim Myungsoo yang asli, yang tidak ada hubungannya denganku.”

“ Yah.. aku mengerti. Tapi kau sudah membuat Chorong berharap lagi tentang Myungsoo.”

Naeun menunduk, sedikit menoleh ke arah jendela ruang makan, melihat Chorong yang ikut menyaksikan pertandingan dari sana dan entah sedang mendukung atau mengkhawatirkan siapa.

“…ya sudahlah, bukan salahmu sepenuhnya. Chorong memang sering berubah-ubah perasaannya.”sambung Sungyeol, “…yang kupikirkan saat ini hanyalah bagaimana menjaga persahabatan kami tetap utuh dan baik-baik saja. Jika Chorong merusaknya dengan terus menyukai Myungsoo, aku tak akan tinggal diam.”

“ Aku juga tak ingin melihat Woohyun oppa dikecewakan lagi.”

“ Tapi kenapa mereka tiba-tiba bertanding? Mereka membuat jam makan pagi jadi berantakan.”Sungyeol memperhatikan lapangan dan dengan santainya meraih dan melahap roti milik Naeun yang tersisa, ia belum sarapan sama sekali.

“ Kau tidak tahu mereka akan duel?”

Sungyeol menggeleng, “ Aku saja baru balik kesini.”

“ Memangnya kau darimana?”

“ Dari SMA lain, mengantar anak dia ke sekolah.” Sungyeol sedikit menunjuk kepala sekolah baru mereka –Kim Sunggyu- yang rupanya ikut menyaksikan pertandingan di pinggir lapangan seberang.

“ Yura?”

Sungyeol mengangguk, “ Ia sudah bolos berhari-hari, jadi Sunggyu songsaenim menyuruhku mengantarnya ke ke sekolah hari ini, walaupun harus dipaksa.”

“ Kau berpacaran dengannya?”

“ Hah!? Cih, gila saja. Dia sangat menyukai Myungsoo. Dia sampai meminta kamar di asrama ini agar bisa melihat Myungsoo setiap hari. Dia gadis gila.”

Benar juga, Naeun ingat betapa kesalnya Yura padanya saat di rumah sakit dulu.

“ Apa Yura membaca buletin pagi ini?”

Sungyeol tertawa kecil, “ Tidak. Ia bukan siswa sekolah ini, jadi tidak dapat jatah buletin.”

Naeun merasa lega, pasalnya saat di rumah sakit, Yura melihat ia dan Myungsoo sebagai orang asing satu sama lain.

PRIIIT!!!

Peluit tanda babak pertama selesai berbunyi. Saat itu juga seluruh siswa di lapangan diarahkan atas perintah Kim Sunggyu untuk masuk ke dalam kelas karena jam memasuki ‘neraka’ belajar seharian telah berbunyi. Lapangan semakin riuh karena semua siswa masih ingin menyaksikan pertandingan yang sepertinya akan semakin seru di babak kedua.

Karena untuk sementara ini, Myungsoo yang memimpin poin. Ternyata ia masih kuat meski tidak tidur semalaman.

Kedua rival itu mengambil jalan memisah untuk beristirahat di tengah lapangan. Woohyun menghampiri tempat Kim Sunggyu, sementara Myungsoo..

“ Dia kesini? Tidak..jangan..” Naeun agak salah tingkah, ia buru-buru berdiri dan merapikan seragamnya.

Sunbae, aku permisi ke kelas duluan.”Naeun membungkukkan badannya pada Sungyeol, cenayang itu mengangguk.

“ Tidak pamit denganku?”

Myungsoo sudah berdiri di belakangnya dengan peluh bercucuran, Naeun terpaksa berbalik dan bersikap sewajarnya.

Kenapa ia harus salah tingkah? Memangnya dia sudah berbuat apa?

Naeun sendiri tidak mengerti. Berita di buletin itu membuatnya sedikit berdosa pada Myungsoo karena telah membuat keputusan secara sepihak disaat mereka punya opsi lain : melanjutkan hubungan antara ‘Myungsoo’ dan Naeun sebelumnya meski harus berpura-pura.

Fighting!”

Hanya itu yang diucapkan Naeun sembari meninggalkan saputangan di tangan Myungsoo sebelum akhirnya benar-benar berlari ke kelasnya.

***

“ Kau akan ke negeri Junghwa?”

“ Ya.”

“ Kau bawa ramuan portal?”

“ Ya.”

“ Kau akan pergi dengan Krystal?”

“ Tidak.”

“ Kenapa?”

“ YA!!! Jangan dibuka!”

Eunji menutup kembali pintu kamar mandinya dan mempercepat kegiatan yang paling tak ia sukai di dalam sana : memasang gaun.

Ia akan ke negeri Junghwa hari ini, dengan ramuan portal yang dibekali oleh Ahyoung, penyihir istana Gwangdam itu. Tadinya ia ingin memakai pakaian santainya saja, tapi rasanya tak akan nyaman memasuki istananya sendiri tanpa memakai gaun.

“ Maaf, aku refleks saja membuka pintu tadi, hehe.”

Hoya sedikit salah tingkah ketika Eunji akhirnya keluar dari kamar mandi, sementara Krystal yang tengah makan di atas tempat tidur tertawa melihat mereka berdua.

“ Aku titip Krystal ya.”Eunji beralih dan mencari-cari tembok yang pas untuknya menyiram ramuan portal, Hoya masih mengikutinya.

“ Jelaskan dulu sebenarnya ada apa dan tujuanmu saat ini. Kau akan pulang atau bagaimana?”

“ Aku akan kembali. Sekarang aku benar-benar harus ke negeriku, ada yang harus kusampaikan pada L.”

“ L?”

Eunji mengangguk, dan kini Krystal menatapnya dengan prihatin. Ini tentu perihal persyaratan dari Ahyoung yang harus segera Eunji laksanakan.

“ Mau menyampaikan apa? Bagaimana kalau kita menjemput Yeoshin dulu agar dia pulang ke…”

“ Tidak bisa, Lee Howon. Kalau kau ingin tahu, tanya saja dengan Krystal.”

Eunji mempersiapkan ramuan portalnya, sementara Hoya tiba-tiba melepas beberapa aksesoris dan make-up artisnya, kemudian meraih ponselnya dan buru-buru mengirim pesan izin pada manajernya.

“ Aku ikut.”

“ Hah?”

“ Aku ingin menjagamu.”

“…”

“ Pergi saja sana! Aku bisa sendirian disini!”sela Krystal, sementara Eunji masih ragu.

“ Tidak usah, tolong jaga saja Krystal.”

“ Dia bilang bisa sendirian.”

“ Kubilang tidak usah.”

Eunji menyiram ramuan portalnya dan masuk ke dalam sana. Hoya tetap menyusulnya.

Krystal segera berdiri ketika Hoya dan Eunji telah menghilang, mengelilingi apartemen mewah tempatnya berada sekarang dengan senyum tak sabaran.

Ah.. apa yang akan kulakukan dengan tempat sebagus ini?”

***

“ Hei, Yeoshin!”

Naeun berhenti menulis ketika sadar segumpal kertas mendarat di meja belajarnya, terlihat Kai di bangku kanan depan menunjuk-nunjuk kertas tersebut, sudah pasti dia yang melemparnya.

Setelah memastikan guru tak memperhatikannya, Naeun segera membuka gumpalan kertas tersebut di bawah mejanya.

 

Hei, kau tahu kan peraturan sekolah yang terbaru ini : Setiap siswa wajib membentuk kelompok belajar maksimal 8 orang untuk menyelesaikan tugas dan PR, serta sharing materi. Anggota tak harus dari kelas dan jenjang yang sama. Nama anggota wajib dikumpulkan pada pihak asrama dan sekolah karena akan sangat mempengaruhi penilaian individu.

 

Kau belum punya kelompok, kan? Bergabung dengan kelompokku saja.

Naeun segera menulis balasannya dan melempar dengan jitu ke meja Kai.

Siapa saja anggota kelompokmu?

Kai membalasnya lagi.

Kita akan sekelompok dengan para sunbaenim yang pintar-pintar agar nilai kita bisa meningkat.

Bahkan kita akan sekelompok dengan sunbae yang paling cerdas di SMA ini.

Percaya sajalah.

 

Naeun agak kecewa karena Kai tak menyebutkan nama-namanya.

Baiklah. Aku bergabung.

Gadis itu mengira selesai sudah pembicaraannya, namun Kai melemparinya kertas lagi.

Terimakasih! ^^

Sekarang, bisa kau bantu aku?

 

Naeun mengerutkan dahinya.

Bantu apa?

 

Katakan dulu bahwa kau bisa membantuku.

 

Baiklah, akan kubantu. Memangnya apa?

 

Aku ingin kabur dari neraka ini.

 

Kabur dari sekolah?

 

Yap. Dengan sedikit sihir kau bisa membuka gembok gerbang belakang, kan? Aku ingin menemui Hoya.

 

Untuk apa?

 

Aku ingin minta tolong padanya untuk membantuku lolos audisi SDC season 2. Dukung aku juga ya. Aku sedang dalam usaha membawa kehidupanku dengan Myungsoo hyung menjadi lebih baik. Kuharap kau mau membantuku. Aku tahu kau adalah makhluk paling baik hati yang pernah kutemui seumur hidupku.

 

Naeun tertawa kecil, kata-kata Kai membuatnya tak bisa menolak untuk menolong lelaki itu kabur dari sekolah.

Naeun melempar balasan terakhirnya.

 

Aku akan pergi sekarang dan membuka gemboknya.

Kau bisa menyusul beberapa menit kemudian.

 

Kai menoleh dan menunjukkan jempolnya sembari tersenyum lebar. Naeun segera beranjak dari bangkunya.

“ Songsaenim, saya izin ke toilet.”

***

“ Aku kesini bukan karena aku ingin menengokmu, aku hanya bosan menunggu Namjoo yang masih saja berpamitan dengan para penyihir.”

L masih saja mengingkari perasaan dukanya yang dalam, dengan berat hati meletakkan seikat mawar hitam di atas makam Madame Sunny yang terletak di halaman belakang istana.

“…hari ini aku akan mengantar Namjoo pulang. Aku berharap bisa bertemu Hyoyeon dan menyelesaikan semuanya, agar matimu tidak sia-sia.”

“ Siapa yang mati, L?”

Penyihir tampan itu berdiri dan berbalik, terkejut melihat dua orang terdekatnya datang dan menemuinya.

“ Howon? Hyerim?”

“ Aku tidak tahu ada makam di halaman belakang rumahku..”Hyerim mencoba melihatnya lebih dekat, namun L menghalanginya.

“ Hei! Bagaimana bisa kalian kesini? Apa kalian lewat portal?” L mencoba mengalihkan pembicaraan dan menarik Howon serta Hyerim untuk menjauh dari sana.

Keduanya menurut saja, khawatir L akan meledak jika dibantah.

*

“ Kau pasti terkejut melihat istanamu diisi bangsa kami. Tenang saja, ini hanya sementara. Setelah keluarga kerajaan tiba, kami akan pergi dari sini.”

L mengajak Howon dan Hyerim untuk duduk di taman bunga yang terletak di halaman depan istana –dan jauh dari makam Madame Sunny, tentunya-

“ Tidak apa-apa, aku justru lega. Kalian aman di tempat ini.”

“ Hyerim bilang ia harus menyampaikan sesuatu padamu.”ucap Howon.

“ Apa ini ada hubungannya dengan portal? Aku agak heran bagaimana bisa kalian tiba di tempat ini.”tanya L, Hyerim mengangguk.

“ Memangnya ada apa dengan portal?”tanya Howon tak mengerti, karena Hyerim memang belum bercerita apapun padanya.

Hyerim mengeluarkan sisa ramuan portal yang ia miliki, menunjukkannya pada dua lelaki itu.

“ Perhatikan. Warnanya berbeda dari ramuan portal yang biasanya, kan? Dulu ramuannya berwarna hijau seperti daun, sekarang menjadi bening seperti air.”

“ Ah, benar juga. Apa yang terjadi?”

Sementara L mencoba memikirkannya dalam-dalam.

“ Apa ini hasil dari resep baru?”

“ Kau benar. Rupanya kau sudah tahu portal tak bisa terbuka dengan resep lama.”

Howon menjadi satu-satunya yang terkejut di antara mereka.

“ Pantas saja Yeoshin masih di dunia nyata.”

L mencoba meraih sisa ramuan tersebut dari tangan Hyerim, “ Berikan padaku, akan kuserahkan pada Taeyeon, ia akan mengurai bahan-bahannya dan……”

“ Maaf, L. aku tidak bisa.”Hyerim terpaksa menjauhkannya, “…ada lagi yang harus kusampaikan padamu.”

Kini Howon menahan tangan L agar tak lagi mencoba mengambil sisa ramuan tersebut. Penyihir tampan itu mencoba sabar dan mendengarkan.

“ Baiklah, apa lagi?”

“ Kau tahu darimana aku mendapatkan ini? Bukan dari Hyoyeon. Ini didapat saat aku dan Krystal masih di negeri Gwangdam. Krystal menangkap seekor merpati yang ternyata membawa resep baru dari ramuan portal.”

“ Hah.. rupanya merpati sialan itu terbang ke Gwangdam. Ia terbang dengan cepat ke negeri sejauh itu..” L kini menatap pergelangan tangannya yang masih menunjukkan bekas luka akibat cakar burung tersebut.

“ Kau tahu tentang merpati itu?”

“ Merpati sialan itu merebut kertas resepnya dari tanganku.”

“ Benarkah? Darimana kau dapatkan kertas itu?”

“ Madame..Sunny.”

Sial. L masih saja merasa tenggorokannya tercekat tiap kali menyebut nama penyihir yang baru saja meninggal itu. Rasa bersalah kembali menggerogotinya.

“ Woah, itu artinya Madame Sunny merebutnya dari Hyoyeon. Kita harus berterimakasih padanya.”ucap Howon, Hyerim mengangguk. L semakin tak tahan mendengarnya dan segera mengalihkan pembicaraan.

“…oh ya, syukurlah Krystal menangkap merpati sialan itu. Tak kusangka tingkah gilanya berguna juga.”

“ Pada awalnya dia gila karena perbuatanmu juga, L.”ucap Howon langsung, L tertawa sinis.

“ Aku tahu. Suatu saat aku akan menebus kesalahanku padanya.”

“ Ini saatnya kau menebus kesalahanmu, L.”ucap Hyerim, sekaligus melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan.

“ Apa maksudmu, Hyerim?”

“ Kau tahu mengapa aku tak bisa memberikan ramuan portal ini padamu? Ini karena.. penyihir istana negeri Gwangdam yang membantu kami membuat ramuan ini melarangku untuk memberinya padamu.”

“ Apa!? Kenapa dia……”

“ Namanya Ahyoung. Dia tahu tentangmu, dan dia sangat.. sangat menyukaimu, L. dulu, ia sampai belajar keras tentang ilmu ramuan agar bisa menikah denganmu, tapi ia kecewa karena kau menikahi Yeoshin.”

“ Aku bahkan tidak kenal siapa dia.”

“ Justru itu, ia ingin kau mengenalnya. Jadi..”

“ Jadi?”

“ Ia ingin kau datang ke negeri Gwangdam. Menemuinya, dan mengambil ramuan portal itu sendiri.”

“ APA!?”

Ini gila. L harus pergi sejauh itu? Ke negeri Gwangdam?

“ Itu persyaratan darinya sejak awal hingga ia mau membantuku dan Krystal membuat ramuan portal baru ini. Aku sudah berjanji bagaimanapun caranya akan menepati itu.”

“ Apa konsekuensinya jika aku tidak datang menemuinya?”

“ Ia akan melaporkan kepergianku dan Krystal pada keluarga kerajaan Gwangdam, termasuk Baekhyun. Itu akan menimbulkan kekacauan bagi kerajaan kita, perang bisa saja terjadi..” Hyerim terdengar sedih, “…dan yang paling parah adalah, Ahyoung akan memberi ramuan portal pada Baekhyun agar pangeran itu bisa memburu Krystal di dunia nyata.” Hyerim mulai berkaca-kaca, takut jika hal itu benar-benar terjadi.

“ Mengerikan. Kau baru saja bilang akan menebus kesalahanmu pada Krystal. Kurasa memang ini saatnya.”Howon menepuk bahu L, penyihir tampan itu mulai pucat.

“ Ahyoung memberiku waktu dua hari untuk menyampaikan ini padamu, jika dalam lima hari berikutnya kau tidak menemuinya di negeri Gwangdam, ia akan benar-benar melakukan ancamannya.”

“ Hyerim.. tapi aku tidak..”

“ Kumohon. Tolong Krystal, L…” Hyerim menangis sekarang, “…aku benar-benar tak ingin ia bertemu Baekhyun lagi, ia disiksa.. disiksa sampai nyaris mati..”

Kini Howon beralih dan menenggelamkan Hyerim ke dalam pelukannya. L semakin pucat, beban di kepalanya semakin bertambah.

“ Pikirkan baik-baik, kawan. Kau juga ingin segera bertemu Yeoshin, kan? Ambil saja ramuan portal itu kesana.”ucap Howon.

L masih belum bisa menjawab, ia justru berdiri dan ingin menghampiri Namjoo yang muncul dari pintu istana, rupanya gadis itu sudah selesai berpamitan dengan para penyihir.

Sebelum melangkah, rupanya Namjoo berlari kearahnya.

Omo! Ini Hyerim unnie, kan? Dan kau.. Lee Howon?”

Howon mengangguk dan tersenyum pada Namjoo, Hyerim buru-buru menghapus airmatanya dan memeluk gadis itu sejenak.

“ Apa kabar, Namjoo-ya? Mengapa kau ada disini?”

“ Ceritanya sangat panjang, unnie. Kau juga kenapa bisa muncul disini? Dan.. kenapa kau menangis?”

“ Aku—“

“ Aishh, sudahlah. Dia akan kuantar pulang.”L memotong dan meraih lengan Namjoo dengan sedikit paksa. Gadis itu tak berani menolak lagi karena takut.

“…kalian bisa masuk ke istana dulu. Tunggu aku. Jika aku kembali, aku akan memberi jawaban apakah aku akan ke Gwangdam atau tidak.”

“ Bagaimana jika kau tidak kembali..?”

“ Berarti aku sudah mati.”

***

“ Sudah kau buka gemboknya?”

Naeun mengangguk cepat ketika ia bertemu dengan Kai di lorong sekolah, lelaki itu langsung menepuk bahunya.

“ Terimakasih, Son Yeoshin. Kau memang yang terbaik, hehe.”

Gadis itu tertawa kecil dan segera memberi kode agar Kai cepat pergi.

“ Oh ya, Myungsoo hyung masih di lapangan basket. Mungkin kau akan melihatnya saat lewat.”

Setelah itu Kai benar-benar pergi, meninggalkan Naeun yang kini kebingungan mencari jalan pintas agar tidak perlu lewat lapangan basket.

“ Ah, sekolah ini begitu besar. Aku takut tersesat.”Naeun terpaksa mengambil jalan seperti biasa.

Perlahan menyusuri lorong sekolah yang sepi dan melintasi lapangan basket yang tadi pagi sempat ramai.

“…baiklah.. pura-pura tidak lihat saja..”

“ Nona Son..?”

“ Ya?”

Ah. Sudah takdirnya mereka bertemu lagi.

Naeun tersenyum dan membungkukkan badannya dengan sopan, setelah itu menyadari bahwa Myungsoo yang sedang seorang diri di lapangan basket tidaklah sedang bermain.

Lelaki itu membersihkan sampah-sampah bekas makanan yang ada disana.

Ya Tuhan. Untuk menjadi loper buletin saja ia terlalu tampan, apalagi untuk membersihkan sampah.

Naeun benar-benar ingin menuntut cleaning service sekolah. Ia tak tega melihat Myungsoo yang semalaman tidak tidur dan kelelahan setelah bertanding harus melakukan pekerjaan seperti ini.

Semoga songsaenim tidak curiga aku izin ke toilet lama-lama.”

Perlahan Naeun memasuki lapangan, tanpa bicara membantu Myungsoo membersihkan sampah-sampah tersebut, namun lelaki itu segera menghentikannya.

“ Bukankah kau sedang belajar? Kembalilah ke kelas. Lagipula sebentar lagi ini selesai.”

“ Sebentar lagi? ini masih banyak.”Naeun menunjuk lapangan yang masih sangat berantakan, “…salah kau dan Woohyun oppa juga sih, kenapa harus bertanding di jam makan pagi?”

Gadis itu kembali membantu Myungsoo meski masih merasa canggung.

“ Pagi ini memang jam olahraga di kelasku dan Woohyun. Tadinya kami hanya ingin bermain basket biasa, tapi semua orang datang dan menyangka itu pertandingan.”jelas Myungsoo.

“ Benarkah? Jadi bukan karena alasan tertentu?”

“ Ya. Aku agak sedih karena banyak orang mengaitkan pertandingan kami tadi pagi dengan berita yang ada di buletin. Mereka mengira Woohyun mengajakku duel karena aku telah ‘putus’ denganmu. Hahaha.. mereka lucu sekali, kan?”

Tawa yang terpaksa itu..

Naeun semakin merasa bersalah.

“ Maaf.. karena telah memberi berita itu pada Dongwoo sunbae tanpa persetujuanmu.”

Myungsoo mengangguk pelan.

“ Yah.. tidak apa-apa. Aku justru lega, itu artinya kita tidak perlu membicarakan tentang hubungan kita lagi di sekolah ini.”

Naeun tersenyum. Anggap saja Myungsoo menerimanya meski hati Naeun masih merasa lelaki itu kecewa.

“…lagipula, aku sadar aku tak bisa menggantikan L. aku tak bisa membayangkan betapa kerennya seorang Kim Myungsoo saat L yang menggantikan aku disini.”sambung Myungsoo sembari tertawa kecil, “…saat bertanding, aku merasa penggemarku bertambah, sepertinya ini berkat L.”

Ah, Naeun benar-benar tak nyaman jika semuanya sudah menyangkut L. penyihir tampan yang dibicarakan itu bahkan belum tahu bahwa Myungsoo hidup kembali.

“ Kau adalah kau, dan L adalah L. kalian berdua sama-sama keren.”sahut Naeun, mencoba mengikuti alur pembicaraan Myungsoo.

“ L masih lebih dari aku. Haha.”

“ Kenapa? Karena dia penyihir?”

“ Bukan.”

“ Lantas?”

“ L dicintai olehmu, sementara aku tidak. Itu kekalahan telak.”

Naeun terdiam. Apa ia tidak salah dengar?

Setelah itu keadaan menjadi sunyi, Myungsoo melanjutkan kegiatannya membersihkan sampah seolah tak sadar akan apa yang ia ucapkan barusan.

Ia tak sadar perkataannya telah menembus ulu hati gadis itu.

Selang beberapa menit kemudian, Myungsoo meraih kantong sampah dari tangan Naeun dan membuangnya. Setelah itu duduk sejenak di pinggir lapangan untuk mengurangi rasa lelahnya.

“ Kau bisa kembali ke kelasmu. Maaf telah merepotkan.”ucap Myungsoo ramah, “…oh ya, saputanganmu.. akan kucuci dulu, baru kukembalikan.”

Naeun tak tahu kebodohan macam apa yang ia lakukan, ia justru duduk disamping Myungsoo dan meraih saputangannya yang ada di saku celana lelaki itu.

“ Ini saputangan sihir. Tidak perlu dicuci, ia tak akan pernah kotor.”

Perlahan Naeun menghapus peluh yang ada di leher, dahi, dan pelipis Myungsoo dengan lembut. Lelaki itu menatapnya tanpa berkedip dan menikmati jarak yang semakin berkurang di antara mereka.

“ Aku menyukaimu.”

Naeun kembali terdiam.

Anggap saja ia tidak dengar. Gadis itu hendak menurunkan tangannya dan segera pergi. Tetapi Myungsoo menahan tangan halus gadis itu agar terus menempel di wajah tampannya.

“…aku sungguh menyukaimu, Son Yeoshin.”

“ Ternyata kau sedikit melantur jika tidak tidur semalaman. Pulanglah ke asrama, sunbae. Beristirahatlah hari ini.”

Myungsoo tersenyum gemas.

“ Kau cukup pintar mengalihkan pembicaraan. Kau tahu? Aku bahkan tidak tidur semalaman karenamu.”

Naeun ingin pergi dari situasi ini.

Ia tak tahan.

Lelaki di hadapannya terlalu sama dengan L.

Ia takut kehilangan kendali dan tak melihat perbedaan lagi diantara keduanya.

Ia takut kontak mata yang terlalu lama ini membuat pintu hatinya terbuka lagi.

“ Kau tidak ingin mengatakan apapun?”tanya Myungsoo pelan, Naeun menggeleng dan menunduk, perlahan menurunkan tangannya dan segera berdiri, merapikan seragamnya.

“ Aku izin ke kelas duluan. Beristirahatlah, sunbae.”ia membungkukkan badannya dengan sopan, Myungsoo mengangguk.

“ Jika kau merindukan L. temui saja aku.”

“ T-terimakasih..”

Naeun segera keluar dari lapangan dan menghapus buliran-buliran air yang mulai keluar dari kedua mata beningnya.

Myungsoo menatap kepergian gadis itu sembari meremas sebuah liontin milik L yang ada di dalam seragam basketnya. Dengan perlahan ia mengeluarkannya, membuka kembali benda berisi aura tersebut.

“ Ini semua salahmu.”

***

“ Dia tidak ada di kantor. Mungkin dia disini..”

Kai keluar dari lift dan berjalan menuju pintu apartemen Hoya, berharap ia tidak salah tempat karena ia sering lupa dengan angka.

“…Hoya-ssi, annyeong! Kau ada didalam kan?”

“ Huh? Ada orang!”

Seorang gadis yang sedang asyik menikmati kesendiriannya di dalam apartemen terkejut ketika mendengar suara seseorang dari luar.

“…aku tidak tahu cara membuka pintunya. Hu.. ottokhae..

Krystal mendekati pintunya yang canggih, yang tak pernah ia temui sebelumnya di negeri Junghwa.

“ YA! Hoya-ssi!!”

Sekarang suara itu berteriak sambil menggedor pintunya. Krystal semakin kebingungan.

“ Siapa kamu!?”

Kai terkejut karena yang menyahut justru suara perempuan.

Yang bahkan terdengar tak asing baginya.

“ Aku Kai. Kau.. siapa? Selingkuhan Hoya? Hahaha!”

“…”

Krystal masih tak percaya. Seandainya saja ada celah sedikit, ia ingin sekali mengintip keluar.

“ Aku.. aku..”

“ Kau siapa sih!? Buka saja pintunya!”

“ Aku tidak tahu bagaimana membukanya. Padahal.. aku.. sangat ingin melihatmu.”

“ Kenapa kau ingin melihatku?”

“ Aku.. rindu.”

Kai menautkan kedua alisnya.

“ Jangan bercanda. Aku sedang mencari Hoya!”

“ Hoya siapa!? Ini tempatnya Howon!”

“ Bagaimana dia tahu nama asli Hoya?”perasaan Kai semakin tidak enak.

“…he, kau Hyerim?”tanya lelaki itu.

“ Bukan.”

“ Lalu?”

“ Aku.. adiknya.”

“ KRYSTAL!?”

Kai tak tahu harus bagaimana menggambarkan perasaannya.

Tangannya mulai mencoba-coba password dengan menebak-nebaknya sendiri.

Ia juga ingin melihat gadis itu lagi.

***

Keadaan masih sunyi di kediaman keluarga Son. L telah mengantar Namjoo pulang namun ia tak menemukan yang ia cari.

Kim Hyoyeon.

Penyihir itu tidak ada. Dia menghilang. Entah kemana.

Dongwoon dan Gain masih saling kode untuk bicara duluan karena sama-sama ketakutan, sementara L masih menunggu di dalam rumah sembari mondar-mandir menatap lukisan-lukisan milik Naeun yang terpajang di dinding.

Namjoo kembali dari salah satu ruangan kecil di rumah tersebut, menghampiri L dan menyerahkan sebuah kunci pada lelaki itu.

“ Kuharap kalian tidak bisu lagi setelah aku kembali kesini.”

L menerima kunci dari Namjoo dan mengikuti langkah gadis itu menuju ruang bawah tanah tempat para penyihir disekap oleh Hyoyeon.

Ketidakberadaan Hyoyeon saat ini juga setidaknya menguntungkan bagi L, ia bisa membebaskan para penyihir yang telah lama hilang dan disekap, lalu memindahkan mereka untuk ikut tinggal di istana sementara waktu. Dongwoon dan Gain tak bisa menghalanginya.

“ L songsaenim!! L songsaenim!!”

Beberapa siswa sekolah sihir yang terkurung di dalam sana berteriak gembira ketika L datang, sang penyihir segera membuka penjara mereka yang rupanya masih terlindungi mantra meski ia memegang kuncinya.

“ Kasihan teman-temanmu. Setelah mereka bebas kau harus minta maaf.”

Namjoo mengangguk, bagaimanapun juga ia memang pernah membantu Hyoyeon menculik teman-teman sekolahnya sendiri.

L berhasil membukanya karena mantra yang melingkupi penjara tersebut sudah sangat lemah. Para penyihir di dalam sana langsung menghambur keluar dan berterimakasih pada L, sementara Namjoo terus membungkukkan badannya untuk meminta maaf.

“ Berlarilah ke istana. Semua keluarga dan rekan kalian ada disana. Makan dan istirahatlah sepuasnya agar kekuatan kalian terkumpul lagi.”ucap L, mereka menurut dan segera berlari keluar dari rumah yang memenjarakan mereka selama ini. Melintasi Dongwoon dan Gain yang terpaksa diam daripada dibunuh.

L kembali ke ruang tengah, berdiri dengan angkuh di depan Dongwoon dan Gain. Ia memang masih belum bisa menghilangkan kebiasaannya yang satu ini.

“ Dalam lima detik, aku tidak akan peduli lagi kalian iparku atau bukan. Jika kalian masih diam, aku akan membunuh dua penyihir hari ini.”

“ Hyoyeon pergi! Dia pergi sejak dua malam yang lalu!”

Dongwoon dan Gain buru-buru rebutan bicara, L tersenyum sinis.

“ Kalian benar-benar tidak tahu dia kemana?”

“ Tidak, L. sumpah.. kami tidak tahu.”

“ Tapi apa kalian tahu apa penyebabnya pergi?”

Dongwoon dan Gain saling bertatapan, setelah mengumpulkan keberanian, mereka mulai bercerita…

*

[Flashback : Malam kematian Sunny]

 

“ Tidak.. tidak mungkin.. aku membunuh Sunny.. aku telah membunuhnya.. aku membunuh sahabatku sendiri..”

Dongwoon dan Gain hanya bisa mematung, masih gemetaran menatap Sunny yang lehernya baru saja dililit oleh Hyoyeon dengan akar-akar gantung pepohonan besar yang tak jauh dari kediaman mereka.

Tubuh penyihir nomor tiga itu tergantung dan terus meneteskan darah dari lehernya.

“ Kenapa dia harus berpura-pura menjadi L.. kenapa aku tertipu.. kenapa aku sampai membunuhnya.. kenapa..kenapa..kenapa!!!!!!!” Hyoyeon terus merutuk, menangis sekeras mungkin dan menyesali perbuatannya, ia terus memeluk kaki Sunny yang tergantung di atasnya, membiarkan darah sahabatnya itu mengotori wajahnya.

*

“ Hyoyeon depresi hebat saat ia tahu bahwa yang ia bunuh bukanlah kau dan justru sahabatnya sendiri.”ucap Dongwoon.

“ Setelah peristiwa itu, Hyoyeon terus diam di pohon tempat ia membunuh Sunny.”sambung Gain.

“ Dan siang itu, aku melihatmu dan Taeyeon menemukan mayat Sunny. Kami cukup waswas karena kami tahu Hyoyeon ada disana. Tapi ternyata ia bersembunyi dan tidak membunuhmu. Mungkin karena ia masih depresi.”

“ Jadi.. kami melihat dia hanya mengeluarkan merpatinya untuk merampas kertas resep baru yang kau dapatkan dari genggaman Sunny.”

“ Dan setelah kejadian itu, Hyoyeon benar-benar menghilang. Kami tidak tahu dia kemana.”

L merenung sejenak. Segala prediksi yang Madame Sunny ungkapkan sebelum mati terbukti benar. Hyoyeon depresi. Jika saja bibinya itu tidak kabur seperti ini, L mungkin bisa membunuhnya dengan mudah karena penyihir wanita itu sedang lengah.

“ Aku menghargai kejujuran kalian. Terimakasih.”L berdiri dan pamit, “…aku pergi. Tolong jaga Namjoo dan jangan lagi mencuci otaknya. Aku senang dia sudah berpihak padaku.” L mengusap puncak kepala Namjoo, gadis itu tersenyum.

“ Bagaimana kabar adik kami, L?”

“ Yeoshin? Haha, kukira kalian tidak akan pernah merindukannya.”

“ Kami mulai khawatir..”

“ Ia baik-baik saja.”

L segera keluar dari rumah keluarga Son karena tak ingin membahas lebih lanjut tentang Naeun, mengingat istrinya itu membuatnya ingat lagi dengan cara yang harus ia tempuh untuk mendapatkan ramuan portal yang baru : pergi ke negeri Gwangdam.

“ Terimakasih banyak, L songsaenim. Jika keadaan memungkinkan, boleh kan aku mengunjungi istana dan bermain dengan Lin?” Namjoo masih mengikuti L.

“ Tentu saja.”

Gadis itu tersenyum dan memeluk L sejenak, meneteskan airmatanya.

“ Aku tidak pernah menyangka hubungan kita jadi sebaik ini. Kumohon maafkan aku, L.”

“ Justru aku yang minta maaf, karena pernah membunuhmu.”

Namjoo tersenyum dan melepas pelukannya, “ Yah, untuk beberapa lama. Aku memang pernah merasakan betapa diriku begitu ringan, lemah, dan dingin tanpa jasad. Tubuhku berada di dasar sungai selama aku mati, Hyoyeon tidak benar-benar membuangku. Mungkin karena ia percaya aku bisa hidup lagi.”

“ Sebenarnya sejak awal kita bertemu di sekoah.. itulah yang kupertanyakan, Kim Namjoo. Bagaimana cara Hyoyeon menghidupkanmu?”

Namjoo menggigit bibir bawahnya, tak yakin apakah tidak apa-apa jika ia mengatakan hal ini. Ia merasa khawatir tanpa sebab.

“ Sebenarnya… secara teknis.. bukan Hyoyeon yang menghidupkanku.”

L terkejut, selama ini ia menganggap enteng rasa penasarannya karena ia pikir Hyoyeonlah yang menghidupkan Namjoo dengan segala kehebatannya. Namun sekarang ia mendengar dari Namjoo bahwa bukan Hyoyeon yang melakukan itu. Lalu siapa..?

“ Lalu.. ada orang lain yang menghidupkanmu?”

Namjoo sedikit bingung menjelaskannya. Namun melihat wajah L yang begitu lapar akan penjelasan, ia terpaksa membuka mulutnya.

“ Ada ramuan yang membuatku hidup. Hyoyeon menemukannya di dunia nyata. Di sebuah ruangan aneh.”

L mengerutkan keningnya, “ Dunia nyata? Ruangan aneh? Ruangan macam apa?”

“ Ada dua ranjang yang ditempati mayat disana. Dan di bawah ranjang itulah, Hyoyeon menemukan ramuan pembangkit kematian itu. Ada tiga botol. Satu untukku, dan dua untuk mayat-mayat itu.”

“…”

Pandangan L mendadak kabur, wajah tampannya memucat seketika. Ia mengerti persis apa yang sedang dijelaskan oleh Namjoo. Namun ia masih ingin mendengar lebih lanjut.

“ Me..mengapa ramuan itu bisa ada disana? S..siapa yang membuatnya?”

“ Kau sungguh tidak tahu?”Namjoo sedikit terkejut, “…kukira Yeoshin akan mengungkapkan semuanya dengan bangga padamu. Ramuan itu salah satu mahakarya Yeoshin.”

Pandangan L benar-benar gelap sekarang.

Ia mendadak terjatuh dan tak sadarkan diri.

***

Night, 12.00 PM

 

“ Oh, jadi Kai mengajakmu bergabung dengan kelompok kami?”

Naeun mengangguk dengan kikuk, “ Tapi.. Kai tidak bilang kalau sunbaenim yang dia maksud adalah kalian..”

“ Sekarang, kemana Kai?”

Kali ini Naeun menggeleng, kalau begini ia menyesal juga membantu Kai kabur tadi siang, sampai larut malam begini dia belum pulang juga.

“ Ya sudah, ayo belajar bersama.”Sungyeol mengisyaratkan agar Naeun bergabung dengan kelompok belajarnya. Naeun memasuki perpustakaan dengan canggung dan mengambil duduk di samping Chorong.

“ Maaf aku sangat terlambat, sunbaenim. Aku baru tahu kalian adalah kelompokku setelah memeriksa daftar namanya di pengawas asrama.”

“ Apa kau punya PR? Kami bisa bantu mengerjakannya.”

Naeun mengangguk pelan. Sedikit heran mengapa Myungsoo masih bisa bersikap wajar setelah apa yang ia ucapkan tadi siang.

“ Ini.. PR.. Matematika.”Naeun mengeluarkan bukunya, Myungsoo segera berpindah dan duduk di sampingnya.

Baiklah. Naeun tak ingin menoleh dan melihat perubahan ekspresi Chorong.

“ Maaf aku tidak bisa membantu.”Sungyeol menyerah duluan tanpa melihat bagaimana PR Naeun, ia tidak pernah suka mata pelajaran itu.

Sementara Chorong diam, tetap fokus dengan tugasnya sendiri dan diam-diam menunggu Nam Woohyun yang seharusnya datang juga karena telah tergabung dalam kelompok mereka.

“ Wah, 50 soal.. pasti nilainya setara dengan ujian. Kita harus mengerjakannya dengan baik.”

Myungsoo yang sudah menyelesaikan tugas dan belajarnya kini membantu Naeun mengerjakan PR, dengan mudah menghitung dan menyelesaikan soalnya satu demi satu. Sementara si pemilik PR justru tak tahu harus berbuat apa, setiap penjelasan Myungsoo hanya memantul di telinganya karena kejadian tadi siang masih saja mengganggu pikirannya.

“ Kim Sunggyu benar-benar monster. Seharusnya dia berlakukan peraturan belajar seharian ini pada anaknya saja.”Sungyeol mengeluh dan menutup bukunya, kemudian berdiri dan mencari-cari sudut perpustakaan yang tidak diawasi kamera CCTV agar ia bisa tidur.

“ Aku cari Woohyun dulu.”Chorong ikut berdiri dan keluar begitu saja dari perpustakaan.

Naeun semakin merasa tak nyaman. Kini ia hanya berdua dengan Myungsoo.

Sunbae, kau sama sekali tidak mengantuk?”tanya Naeun heran, masih merasa prihatin dengan Myungsoo yang tidak tidur semalaman dan masih harus menaati peraturan baru untuk belajar sampai larut malam begini.

Myungsoo menggeleng sembari terus menghitung di atas kertas, “ Aku sudah tertidur sangat lama. Jadi aku sulit mengantuk.”

Ia sedang membicarakan kematiannya. Naeun juga tak nyaman dengan topik itu. Sepertinya segala yang ia bahas dengan Myungsoo akan menjadi tak nyaman setelah apa yang terjadi tadi siang. Naeun benci pada dirinya sendiri yang tidak bisa melupakan kejadian itu.

“ Aku bisa melanjutkan PRnya sendiri. Kau harus istirahat, sunbae. Aku tahu kau sangat lelah hari ini.”

“ Melihat wajahmu membuat lelahku hilang. Jadi diamlah disini, aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat.”

Ya Tuhan. Ada apa dengan lelaki ini?

Naeun menyerah. Ia menempatkan kepalanya di atas meja, memilih untuk tidur. Lagipula jam belajarnya sebagai siswi kelas X sudah berakhir. Sementara Myungsoo memang masih harus membuka matanya karena jam belajar kelas XII lebih lama dua jam.

Myungsoo menatap gadis itu, menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantiknya.

Ia begitu cepat terlelap.

“ Bermimpi indah lagi, Son Yeoshin. Aku suka melihatmu tersenyum saat tertidur.”

***

“ Sudah kubilang aku tidak ingin kita bertemu di tempat aneh lagi.”

Naeun membuka matanya, mencoba menutup mulutnya dahulu sebelum mengenali siapa pemilik wajah tampan yang kini ada di sampingnya.

Oh, Naeun melihat tato itu.

“ Maaf, aku harus belajar disini.”jawabnya, “…lagipula ini bukan tempat aneh. Ini perpustakaan.”

L mengangguk saja, ia lantas berdiri dan mulai mengelilingi tempat itu.

“ Dengan siapa kau kesini?”tanya lelaki itu pelan.

“ Aku datang sendirian.”

“ Adakah orang yang kau temui di tempat ini?”

“ Kelompok belajarku.”

“ Siapa saja?”

L semakin interogatif. Ada apa dengannya?

“…ya sudah. Tidak perlu kau jawab. Akan sakit jika kau membohongiku lagi seperti di ruang redaksi kemarin.”

Untuk beberapa saat Naeun terdiam, membiarkan L mondar-mandir tanpa tujuan di tempatnya berada sekarang.

“ Apa kau punya kabar untukku?”tanya gadis itu, L terdiam sejenak kemudian menggeleng. Meski rasanya ia ingin bicara panjang lebar tentang sesuatu yang baru saja ia ketahui.

L kembali duduk di samping Naeun, membuka-buka buku PR milik gadis itu.

“ Kau baru saja menyelesaikan PR Matematika?”

Naeun mengangguk meski sedikit ragu. L masih saja memperhatikan buku PRnya.

“ Sejak kapan tulisanmu mirip dengan tulisanku?”

Itu tulisan Myungsoo. Naeun bahkan baru sadar bahwa ternyata L dan Myungsoo memiliki cara dan bentuk menulis yang sama. Gadis itu buru-buru merampas bukunya dan meletakkannya lagi di atas meja.

“ Sudahlah. Bukankah bagus kalau tulisan kita sama?”ucap gadis itu dengan sedikit gugup. Kini ia berpindah ke pangkuan L dan menyentuh wajah lelaki itu dengan penuh kerinduan.

“…kau tidak habis merokok, kan?”

L menggeleng sembari tersenyum kecil. Naeun segera mempertemukan bibir mereka, L masih kaku tanpa menciptakan gerakan apapun.

Tangannya meraih buku PR Naeun, melihat kembali tulisan yang ada di dalam sana. Hingga ia menemukan pesan kecil di ujung kertas buku tulis tersebut.

Kim Myungsoo❤ Son Naeun

Semua orang mengenang kisah cinta kita

Tapi aku tidak merasakannya

Akankah aku dapat kesempatan?

 

L memejamkan matanya hingga beberapa bulir air bening turun dan membasahi pipinya. Ia menjatuhkan buku tersebut dan tangan lebarnya berpindah menuju tengkuk Naeun, membalas ciuman gadis itu dengan lebih dalam dan lama, seakan tak ingin lepas selama-lamanya.

“ Aku memang harus pergi ke negeri itu. Aku harus segera membawamu pulang, Son Yeoshin.”

-To Be Continued-

 

Wah panjang kali part ini -_-

Maaf kalau sakit mata, hehe. Ini aja udah banyak adegan yang aku potong TT

Gimana? Gimana? Semoga updatenya memuaskan ya!

Like dan comment sangat diharapkan, tanpa review kalian author gak bisa apa-apa buat fanfic ini :’)

Sampai jumpa di part berikutnya yang (lagi-lagi) author janjikan akan penuh kejutan!

 

Next >> Part 7 : Dream

76 responses to “THE PORTAL 2 [Part 6 : Destiny]

  1. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | FFindo·

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | citrapertiwtiw·

  3. nahhhh kannnn.. L terskiti :’)
    nyesek nihh yg baca T.T
    naeun juga kenapa gk mau nhasih tau L..
    trus.kalungnya L itu lohhh.. aduhhhhhh xD
    baper bacanya :3

  4. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s