The Traveler: Kris

THE TRAVELERBy: susanokw
Cast: Wu Yifan
Rating: PG 16+

Previous part:
The Traveler

“I would stay and love you, but I have to go.”

.

.

“Welcome home.”

Gadis itu menyambutku dengan senyumnya yang paling cerah. Rambut ekor kudanya yang berwarna hitam pekat itu bergoyang-goyang. Ia melangkah mendekatiku, berjinjit, kemudian melingkarkan lengannya di leherku.

“I miss you. So much.” Bisiknya.

“Me too.”

.

.

“Jadi apa yang kau dapatkan dari hasil travelingmu itu?”

“Ini?” Aku melirik ke arah tas ransel yang selalu menjadi teman perjalanan paling setia dari satu tempat ke tempat yang lain. Beberapa teman telah menyarankan agar aku mengganti ransel yang sudah terlihat lusuh, tetapi apalah arti ransel yang hanya terlihat lusuh penampilannya, tapi menyimpan begitu banyak cerita perjalanan yang tidak akan terlupakan? Dan aku tidak akan mengganti ransel ini sampai benar-benar rusak.

“Apa? Ranselmu yang bertambah lusuh dari waktu ke waktu?” Gadis di hadapanku mengangkat sebelah alisnya sambil melemparkan tatapan heran. “Ayolah, Kris.” Ia mendesah.

“Bukan itu,” Aku meraih ranselku dan membuka resletingnya. Ku keluarkan beberapa cinderamata yang sempat kubeli waktu berjalan-jalan mengitari Distrik 11 bersama Blue beberapa waktu yang lalu.

Aku menyodorkan beberapa gantungan kunci khas Distrik 11 dengan bentuk dan warna yang beragam. “Ambil satu.”

Yumi Kim –nama gadis populer yang kusukai –meraih rentengan gantungan kunci yang kusodorkan padanya. Matanya menatap benda-benda kecil itu lekat-lekat.

“Hey, Kris.”

“Ya?”

Yumi mendesah pelan, “Seleramu sungguh tidak berubah.”

Aku langsung mendongak menatap gadis itu sambil mengerutkan kening samar. “Apa?”

“Aku menyimpan begitu banyak gantungan kunci darimu, Kris. Setiap kali kau pulang dari sebuah perjalanan yang sangat jauh, kau selalu memberiku gantungan kunci. Sudah ada 20 gantungan kunci yang kusimpan di kamar.”

Oh.

“Kalau begitu kali ini kau tidak perlu mengambilnya, Yu. Kurasa gantungan kunci yang ke-21 ini akan membuat kamarmu terlihat penuh.” Tanpa menunggu persetujuan Yumi, aku meraih kembali gantungan kunci yang dipegang gadis itu dan memasukkannya kedalam ransel.

“Hanya itu yang kau bawa?”

Aku mengangguk.

Yumi berdecak sebal. Tidak ada lagi percakapan yang terjadi antara aku dan Yumi setelah itu karena makanan pesanan kami datang dan ini waktunya untuk fokus terhadap makanan di atas meja.

.

.

“Papa belum pulang?”

“Belum. Seminggu ini Tuan selalu pulang larut. Katanya sedang ada proyek baru dan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”

Aku mengangguk, tersenyum sekilas.

“Aku mau istirahat.” Ujarku. Aku langsung berlari-lari kecil menaiki anak tangga dan masuk ke kamar.

Seperti biasa, Mrs. Huang yang selalu menyambutku ketika pulang. Papa dan Mama jarang ada di rumah. Ralat. Mama tidak pernah ada di rumah. Papa dan Mama bercerai dua tahun yang lalu. Alasannya karena sudah tidak ada kecocokan lagi diantara mereka. Klise, memang. Tetapi mungkin itulah jalan terbaik yang harus mereka tempuh.

Mama orang yang super sibuk. Bisnis butiknya berkembang begitu pesat dan dalam satu tahun perjalanan bisnisnya, Mama sudah bisa membuka cabang butik di beberapa kota dengan pelanggan yang notabene kalangan konglomerat.

Papa juga seorang pebisnis. Perusahan elektronik yang digelutinya bersaing ketat dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya. Papa gila kerja; pergi pagi, pulang larut atau bahkan tidak pulang ke rumah. Entah menginap di hotel terdekat atau tidur di kantor.

Aku anak tunggal. Pun tidak terlalu dekat dengan keduanya. Keadaan rumah yang nyaris selalu sepi membuatku tidak terlalu kerasan. Maka kuputuskan untuk pergi berjalan-jalan,melihat-lihat keadaan kota dan tempat-tempat lain yang kuanggap menarik.

Ransel yang selalu kubawa adalah hadiah ulang tahun ke-10 dari Mama. Katanya ransel ini dibuat dari bahan yang sangat bagus, sehingga tak peduli seberapa sering kupakai, benda itu tidak akan rusak. Dan kamera yang selalu kubawa pun hadiah ulang tahun ke 18 dari Papa, beberapa bulan setelah ia dan Mama berpisah.

Barangkali kedua barang itu yang selalu mengingatkanku bahwa sesungguhnya aku masih punya orang tua; walaupun mereka sudah tidak bersama. Ransel dan kamera, yang selalu kubawa kemanapun aku pergi, dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain. Setidaknya dengan begitu aku merasa bahwa setiap kali aku pergi, Papa dan Mama selalu menemani.

.

.

“Selamat pagi, Kris.” Sapa Papa yang sudah duduk di hadapan meja makan sambil membaca koran.

“Pagi.” Jawabku singkat.

“Sejak kapan kau kembali?”

“Kemarin sore aku tiba.”

Papa mengangguk. Ia melipat koran, melemparnya ke salah satu kursi kosong di sebelahnya, meraih cangkir kopi dan menyesapnya perlahan. Mrs. Huang mengantarkan sandwich yang selalu menjadi menu sarapan Papa; roti tawar tanpa pinggiran dengan isian telur mata sapi yang tiga perempatnya matang, selada, saus tomat, mayonais dan beberapa potongan tomat tipis.

“Setelah ini kau akan pergi kemana lagi?” Tanya Papa setelah gigitan ketiga pada sandwichnya.

“Tidak tahu.”

Papa mendengus. “Baguslah.”

Jawaban Papa yang terdengar tidak menyenangkan itu lantas membuatku mendongak menatapnya. “Kenapa?”

“Kau sudah terlalu lama cuti kuliah. Jangan menunggu sampai umurmu terlalu tua baru kau tersadar bahwa kuliahmu begitu penting, Kris. Mulai besok, urus surat cutimu ke kampus, dan kuharap lusa aku bisa mendengar kabar bahwa kau sudah kembali kuliah.”

Permintaan yang sama dari beberapa kali kepulanganku. Aku menghela napas panjang.

Papa benar. Kuliah adalah salah satu hal yang penting untuk masa depan. Lagipula Papa telah mengeluarkan banyak biaya untuk bisa menguliahkanku di salah satu kampus terbaik di negeri ini. Kurasa kali ini aku tidak bisa membantah lagi.

“Akan kuurus hari ini dan Papa bisa memastikan bahwa besok aku akan kuliah.”

Papa menatapku sekilas sebelum akhirnya mengangguk satu kali dan berkata, “Bagus.”

Detik berikutnya Papa menenggak habis air putih dingin yang selalu disiapkan Mrs. Huang untuknya. Ia meraih tas kantornya, berdiri, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Ekspresinya datar dan Papa berbalik tanpa sepatah katapun.

Tapi, lagipula, apa yang akan Papa ucapkan? Aku juga tidak meminta ucapan “Papa pergi dulu, hati-hati dirumah.” atau “Papa pulang larut. Kau tidak perlu menunggu.”

Sungguh aku tidak meminta ucapan itu.

.

.

Selesai mengurus surat keterangan mahasiswa aktif, aku menelepon Luhan. Lelaki itu langsung mengangkat teleponnya pada deringan pertama.

“Halo?”

“Hey, Lu.”

“Ng.. siapa?”

Astaga. Apakah anak ini tidak menyimpan nomor ponselku?

“Ini Kris.”

Tidak ada jawaban selama lima detik; mungkin ia sedang mengerutkan kening, berusaha mengingat dan bertanya dalam hati, Kris-yang-mana?

“Oh, ya. Kris. Kris?! Kau meneleponku, Kris? Astaga!”

Detik berikutnya pemuda itu langsung berceloteh panjang, bertanya ini-itu dengan nada suara yang meninggi sampai aku harus sedikit menjauhkan ponsel dari telinga.

“Hey, Lu. Aku di kampus. Kita bertemu di kafe biasa dan aku akan menceritakan semuanya, oke?”

Begitu mendapatkan jawaban, aku menutup ponsel, memasukkannya kedalam saku celana, dan bergegas pergi ke kafe tempat aku dan Luhan biasa menghabiskan waktu bersama.

.

.

“Yo yo man, apa kabar? Sudah lama sekali aku tidak melihatmu berkeliaran di kampus.”

Aku tersenyum sambil balas memeluknya dan menepuk punggungnya pelan. Kami sekarang berada di kafe yang letaknya tidak jauh dari kampus. Disinilah aku dan Luhan pertama kali bertemu. Kami berkenalan hingga akhirnya menjadi teman dekat.

“Senang melihatmu kembali, Kris.”

Yeah. Senang bisa kembali.” Ujarku. Aku memesan es kopi, sedangkan Luhan memesan matcha ice cream. Lelaki dihadapanku ini sungguh penggemar greentea.

“Jadi ada perihal apa kau berkeliaran di kampus?”

“Mengurus surat keterangan mahasiswa aktif.”

Mata Luhan melebar mendengar jawabanku. Ia menggebrak meja –yang membuat beberapa pengunjung lain menoleh –dan tersenyum sangat lebar. “Kau akan kembali kuliah?”

Aku mengangguk. Pesanan kami datang, pelayan menaruhnya di atas meja dan berbalik pergi.

“Finally, man! Finally!” Pekiknya kegirangan, seperti seorang anak yang baru saja memenangkan undian lotere setelah sekian kali gagal.

“Finally what?”

“Aku senang kau tersadar, Kris. Ah, kenapa kau tidak tersadar dari dulu saja sih.” Ujarnya sedikit menggerutu karena kesadaranku datang dengan sangat terlambat.

Aku hanya tersenyum kecil mendengar gerutuannya. Luhan memang lelaki, tetapi ia multifungsi. Maksudku, pada saat-saat tertentu ia bisa menjadi sesosok lelaki yang begitu macho, tapi di waktu yang berlainan, ia bisa berubah menjadi seperti gadis remaja yang berceloteh panjang lebar, menggerutu terhadap hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu diberi komentar, dan bergosip, tentu  saja.

“Jadi…” Sejurus kemudian aku menatap Luhan. “… ceritakan padaku apa saja yang terjadi selama aku cuti.”

Luhan buru-buru menelan es krim matchanya. “Kau melewatkan banyak hal, Kris.”

“Oh ya?”

Luhan mengangguk. Ia melahap satu sendok penuh es krim. “Kau tahu kan Zed? Gitaris band yang selalu membuat onar di kampus? Dia bunuh diri setengah tahun yang lalu.”

Zed?

“Kenapa dia melakukan itu?”

“Itu yang polisi katakan pada pihak kampus, karena ditemukan barang bukti berupa pistol dan beberapa botol minuman keras di ruang bawah tanah kampus.” Luhan mengangkat sebelah bahunya. “Zed diduga frustrasi karena baru putus dari pacar modelnya. Belum cukup, orangtuanya bertengkar hebat malam itu. Akhirnya ia kabur dari rumah dan membeli beberapa botol minuman keras di supermarket. Entah bagaimana, keesokan sore ketika teman bandnya hendak latihan, mereka menemukan tubuh Zed tergeletak dengan darah di sekitar kepalanya.”

Luhan bercerita dengan penuh ekspresi. Wajahnya terlihat sangat antusias seakan cerita kematian Zed baru saja terjadi kemarin dan bukan setengah tahun yang lalu.

“Kau mendapatkan semua cerita itu dari mana, Lu?”

Luhan mendengus geli. “Hey, sudah begitu lamanyakah kau tidak bertemu aku sehingga kau lupa siapa aku? Aku ini Luhan, Kris. Lu-han. Cerita heboh seperti itu menyebar dengan cepat seantero kampus. Jadi tidak sulit mendapatkan informasi. Kenapa? Kau terkejut? Kau terkesan, ya?”

Alih-alih melahap es krimnya, Luhan mencondongkan badannya ke arahku dan berbisik. “Kudengar arwah Zed bergentayangan setiap malam. Terutama di tempat latihan band. Ray kerap kali mengalami hal-hal menakutkan ketika ia harus masuk ke ruang latihan band sendirian ketika sore menjelang malam.”

Cerita horror. Sialan.

Aku bukan tipe orang yang percaya pada hal-hal mistis semacam itu, tetapi, oh ayolah, aku juga bukan tipe orang super berani untuk mendengarkan cerita hantu bergentayangan.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Tiba-tiba saja leherku berkeringat. “L-lalu apa yang terjadi selanjutnya?”

“Para anggota band yang lain akhirnya memutuskan untuk pindah tempat latihan. Mereka sekarang latihan di rumah si Bassis. Kebetulan ia punya ruang bawah tanah yang cukup luas dan tidak terlalu sering digunakan. Tapi kau tahu, Kris?”

“A-apa?”

“Kejadian aneh kembali terjadi di tempat latihan band mereka yang baru. Pernah pada suatu malam, ketika mereka sedang mempersiapkan lagu untuk tampil menyambut tamu kehormatan dari kampus lain, tiba-tiba terdengar suara petikan gitar. Nadanya sama persis dengan nada yang pernah Zed mainkan. Karena penasaran, akhirnya mereka memberanikan menoleh ke arah gitar yang biasa Zed gunakan untuk latihan. Dan pada saat itu…..”

Luhan menunda kalimatnya dan entah kenapa bulu kudukku tiba-tiba saja meremang. Suasana kafe mendadak menjadi sepi, seolah-olah di dalam kafe ini hanya ada aku dan Luhan dengan cerita menyeramkannya yang—

BRAK!!

“WAAA!!!!!”

Sontak aku berteriak kencang ketika Luhan menggebrak meja secara tiba-tiba. Aku hampir terlompat dan jatuh dari kursiku. Jantungku berdebar begitu kencang dan napasku naik-turun membabi buta. Keringat mengucur deras dari pelipisku dan bisa kurasakan leherku kini telah basah oleh keringat. Alih-alih, Luhan tertawa keras sekali di hadapanku sambil memegangi perut dan memejamkan matanya. Sesekali ia memukul-mukul meja dan tersengal-sengal mengambil napas dari tawanya yang panjang.

Luhan. Kau. Brengsek.

“Lihat dirimu, Kris! Astaga, ekspresimu barusan—“ Luhan kembali tergelak hingga menimbulkan tatapan penuh tanya dari seluruh pengunjung kafe saat itu.

“Luhan kau tahu terkadang aku sangat membencimu.” Aku berdesis pelan menahan malu seraya mencondongkan tubuh padanya. Sebal, kuraih gelasku yang berisi es kopi dan detik berikutnya kutuang seluruh isi gelas tersebut ke dalam mangkuk es krim matchanya.

Seketika tawa Luhan berhenti dan terbengong-bengong dengan mulut terbuka lebar. Matanya melotot ke arah mangkuk es krimnya yang kini sudah seperti air comberan. Hitam kecoklatan bercampur dengan hijau.

“Kau!”

“Aku?”

“Kenapa kau melakukan ini padaku, Kris Wu?!”

Kini giliranku yang tersenyum penuh kemenangan. Ralat. Senyum picik tepatnya.

“Karena aku sedang membencimu beserta dengan cerita horror sialanmu itu.”

Luhan kemudian sibuk mengomel protes kenapa aku membalasnya dengan menuangkan es kopi ke dalam mangkuk es krimnya. Luhan tidak suka kopi. Mamanya bilang bahwa kopi mengandung kafein yang kalau diminum terus-menerus tidak baik bagi tubuh. Dan kini, ia menapati es krim kesukaannya bercampur dengan es kopi pahit milikku.

Hidup ini indah, bukan?

Dan sepanjang sisa obrolan kami diisi dengan Luhan yang menggerutu dan mencak-mencak panjang lebar, menuntutku untuk mengganti es krimnya dengan yang baru.

Sesekali ia terbawa suasana ketika kuminta untuk menceritakan hal-hal lain yang terjadi selama aku cuti kuliah. Tetapi percayalah, bukan Luhan namanya jika kekesalannya bisa menguap begitu saja.

Atau mungkin dua mangkuk es krim matcha bisa menghilangkan kekesalannya padaku. Mungkin.

.

.

Ada beberapa hal yang kusukai di dunia ini. Selain traveling, aku suka minum latte dan es kopi; baik dengan atau tanpa gula. Aku suka mendengarkan radio sampai larut malam, dan aku menyukainya.

Yumi Kim. Gadis populer di kampus yang menjadi incaran setiap lelaki.

Aku menyukainya karena menurutku dia manis, berkepribadian baik, dan entahlah aku hanya menyukainya. Begitu saja. Aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa menemukan alasan-alasan mengapa aku menyukai gadis itu.

Kami pertama kali bertemu ketika pembagian kelas pada semester pertama perkuliahan. Saat itu mahasiswa baru berdesakan untuk melihat dimana kelas mereka. Merasa bosan, akhirnya aku menunggu kerumunan itu pergi sambil bersidekap bersender di tembok.

“Mereka ricuh, uh?”

Tiba-tiba seorang gadis berambut hitam gelap berdiri disampingku. Tangannya dilipat didepan dada dan matanya memandang lurus ke arah kerumunan itu.

“Y-yeah.” Jawabku tergagap.

Gadis itu berbalik, mengulurkan tangannya. “Yumi. Yumi Kim.”

Oh, berkenalan.

“Kris. Kris Wu.” Aku menjabat tangannya pelan. “Informatika?”

Ia mengangguk. Tingginya hanya sebatas bahuku. Gaya berpakaiannya sangat casual. Celana jeans hitam, kemeja flanel kotak-kotak dan sneakers warna putih. Manik matanya hitam dengan alis yang melengkung sempurna, membuat tatapannya terlihat begitu tajam.

Aku dan Yumi tidak sekelas. Aku masuk ke kelas A dan dia masuk ke kelas C. Waktu itu aku belum terlalu tertarik pada perempuan –maksudku, aku mahasiswa baru, masih banyak senior yang mengawasi setiap tingkah lakuku. Dan perkenalan kami pun hanya sebatas itu. Berjabat tangan, bertukar nama. Setelah mengetahui kelas masing-masing, aku berpisah dengannya.

Tapi kau tahu banyak orang berkata bahwa ‘jodoh tidak akan lari kemana-mana’, dan kurasa aku mulai memercayai itu. Karena kami satu angkatan, maka ada banyak event angkatan yang harus di kerjakan bersama-sama. Salah satunya membuat pentas seni tingkat jurusan. Aku dan Yumi berada pada divisi yang sama.

Banyak hal yang harus kukerjakan bersamanya pada waktu itu. Seiring waktu berlalu, aku semakin mengenalnya. Ia banyak berubah. Kini ia tidak terlihat sebagai gadis tomboi yang sehari-hari memakai sneakers putih dan kemeja flanel kotak-kotak ke kampus. Sekarang ia lebih sering memakai blus, rok span selutut, flat shoes warna merah dan tas tangan yang senada dengan warna sepatu. Rambutnya yang sebatas bahu lebih banyak dibiarkan tergerai, dan kini gaya rambutnya lebih keriting –mungkin ia melakukan beberapa perawatan di salon. Yumi mulai berias memakai make up, dan bibirnya yang tipis selalu dilapisi oleh lipstik warna merah.

Ia menjadi sangat populer setelah berhasil berpacaran dengan salah satu kapten tim basket kampus. Aku belum menyukainya saat itu. Sayangnya hubungan mereka tidak bertahan lama. Kapten tim basket itu jatuh cinta pada gadis lain yang lebih menarik daripada Yumi, dan akhirnya gadis itu dicampakkan begitu saja.

Kini aku sudah memasuki semester enam. Setahun yang lalu aku cuti kuliah karena merasa begitu bosan. Apalagi keadaan Papa dan Mama yang sudah tidak harmonis membuat rumah terasa begitu sepi. Saat itulah kuputuskan untuk memulai hal-hal baru. Dan setahun yang lalu pula, aku mulai menyukai Yumi.

.

“Aku senang kau melanjutkan pendidikanmu, Kris. Lagipula Papamu benar. Kuliah sangat penting untuk masa depanmu. Apalagi kau anak tunggal, dan cepat atau lambat kau akan meneruskan perusahaan Papamu. Kau harus punya banyak pengetahuan tentang elektronik dan informatika.”

Yumi melontarkan pendapatnya sesaat setelah aku selesai bercerita bahwa aku akan kembali masuk kuliah besok.

Aku dan Luhan menghabiskan waktu untuk mengobrol panjang lebar –walau sesekali Luhan masih menggerutu perihal es krim bercampur es kopi –hingga sore hari. Aku tiba di rumah pukul lima dan sempat terkejut ketika mendapati Yumi sedang duduk membaca majalah fashion milik Mama di ruang tamu. Ditemani secangkir teh manis dingin yang dibuatkan Mrs. Huang, gadis itu terlihat tenang sampai suara langkah kakiku membuatnya menoleh.

Ia langsung tersenyum begitu melihatku berjalan mendekat ke arahnya.

“Kau sudah pulang?”

“Apa yang kau—“

“Ibuku membuatkanmu masakan Korea untuk menyambut kepulanganmu. Jadi aku mengantarkannya kesini. Lagipula, kurasa aku merindukanmu. Lucu sekali bukan? Padahal kemarin aku baru saja menjemputmu di bandara.”

Aku tidak bisa berkutik. Ini bukan kali pertama Yumi datang ke rumah, jadi tiap kali ia menginjakkan kaki di rumah ini, seperti halnya ia berada di rumah sendiri. Bahkan gadis itu menyimpan sandal rumah hello kitty-nya di kamarku.

Sekarang pukul delapan. Kami baru selesai makan malam bersama dengan menu masakan Korea buatan Mamanya. Kedua orangtua Yumi berkebangsaan Korea. Beberapa tahun yang lalu ia pindah ke China karena Papanya yang dipindahtugaskan oleh perusahaan. Walaupun tinggal di China, Mamanya sering sekali membuatkan bekal masakan Korea. Dan aku langsung jatuh cinta pada makanan itu saat pertama kali mencicipinya.

Setelah makan malam, aku mengajaknya untuk duduk di balkon kamarku. Papa belum pulang, dan kurasa Papa tidak akan pulang malam ini. Hal yang cukup bagus karena itu artinya aku tidak perlu repot-repot mempercepat waktu pertemuanku dengan Yumi. Mrs. Huang pasti sudah tertidur sejak setengah jam yang lalu. Wanita paruh baya itu pasti kelelahan setelah membersihkan rumah yang padahal tidak perlu dibersihkan pun rumah ini akan terlihat bersih.

Maksudku, siapa pula yang akan mengotori perabotan di rumah sesepi ini?

Zed? Oh, sudah. Lupakan perihal Zed dan cerita hantu sialan itu.

“Hey, Kris.” Panggilnya lembut. Gadis itu dalam posisi duduk memeluk lutut diatas sofa panjang di balkon.

“Hm.”

“Kau tahu,” Yumi menoleh padaku. “Aku selalu suka ketika kita bisa menghabiskan waktu berdua seperti sekarang.”

Aku menoleh padanya dan tatapan kami bertemu di udara. “Kau suka?”

Ia mengangguk. “Kalau saja aku bisa menghentikan waktu, aku ingin saat-saat berdua denganmu seperti ini bisa abadi.”

Aku tersenyum samar. “Kau tahu, aku punya seorang teman yang mengaku kalau ia mempunyai kekuatan untuk menghentikan waktu.”

“Oh ya? Siapa?”

“Namanya Zitao.”

“Sepertinya nama itu tidak asing.” Yumi mengerutkan kening, berusaha mengingat.

“Hey, keningmu berkerut dalam sekali.” Ujarku. Aku mengangkat sebelah tangan dan menyentuhkan jari telunjuk pada keningnya.

“Tunggu. Aku sedang berpikir orang bernama Zitao itu. Kalau benar ia bisa menghentikan waktu, aku mau memintanya untuk—“

Tawaku pecah saat itu juga. Lucu sekali bukan? Bahkan Yumi terlihat begitu polos mendengar ceritaku tentang Zitao yang bisa menghentikan waktu.

“Zitao itu memang ada. Ia temanku di jurusan Teknik Elektro. Tapi sungguh, Yumi, ia tidak punya kekuatan menghentikan waktu. Itu hanya bualan ibunya pada saat dia kecil.”

Mendengar itu ekspresi Yumi langsung berubah drastis. Ia mengerucutkan bibirnya dan mulai merajuk.

“Kris… itu bukan hal yang lucu. Kau tahu betapa aku sangat menginginkan hal itu benar-benar ada?”

Aku tidak bisa berhenti tertawa. Aku tidak menyangka Yumi yang merajuk bisa begitu menggemaskan seperti sekarang ini. Aku mengangkat tangan dan mengacak rambutnya pelan. Aku beringsut merapatkan jarak diantara kami. Sekarang tanganku sudah merangkul bahunya dan ia menyenderkan kepalanya di bahuku.

“Malam ini cerah ya?” Tanyaku padanya.

“Hm.” Yumi bergumam pelan. “Tapi udaranya cukup dingin. Maksudku, cukup dingin bagiku yang memakai kemeja lengan pendek seperti ini.”

Oh, apakah ini kode?

Alih-alih, aku mengeratkan rangkulanku padanya. Kuusap lengannya pelan untuk memberikan kehangatan padanya. “Sudah merasa lebih hangat?”

Yumi mengangguk pelan. Malu-malu.

Keheningan tercipta diantara kami selama lima menit penuh. Angin bertiup lembut, mengusik dedaunan di pohon rindang, menciptakan suara gemerisik yang menenangkan.

“Yumi..”

“Hm?”

“Tadi kau bilang bahwa kau ingin selalu bisa menikmati saat-saat seperti ini bersamaku?”

“Ya.”

Aku mendesah pelan. Ini saatnya.

“Apa kau benar-benar menginginkan hal itu?”

Yumi tertawa kecil. “Tentu saja. Aku benar-benar ingin hal itu terjadi. Seandainya temanmu Zitao itu benar-benar mempunyai kekuatan menghentikan waktu, aku ingin sekali memintanya melakukan itu.” Ungkapnya. Jemarinya kini sedang bermain dengan ujung sweater tanganku yang bebas.

“Aku punya cara agar kita bisa terus menikmati hal seperti ini.”

“Bagaimana?”

Aku menghela napas panjang.

“Kau…”

Kalimatku menggantung sejenak.

“Aku?” Yumi menunggu.

“Kau… jadi milikku.”

Mendengar itu Yumi langsung menegakkan kepalanya yang sedari tadi bersender di bahuku. Matanya melebar menatapku, seolah tak percaya apa yang baru saja aku katakan kepadanya.

Aku menoleh dan balas menatapnya lekat-lekat.

“Yumi Kim..”

Ia terdiam. Jarak diantara kami hanya sekitar sepuluh sentimeter. Kutatap wajahnya lamat-lamat. Aku mengeratkan rangkulanku pada bahunya sehingga membuat wajahnya lebih mendekat lagi ke arahku.

“Jadi milikku, oke?”

Yumi terdiam. Angin malam kembali bertiup lembut, mengusik helai-helai rambut gadis yang masih menatapku tanpa mengeluarkan jawaban atas pertanyaanku barusan.

Perlahan aku mendekatkan wajahku padanya untuk melihat reaksi yang akan ia berikan. Tapi, oh, dia tidak menghindar. Bahkan perlahan Yumi menutup matanya.

Suara gemerisik daun yang begitu menenangkan membuat waktu seakan berjalan begitu lambat. Jarak diantara kami hampir terpangkas habis, seiring dengan angin malam yang berusaha untuk mengusik kami berdua.

Dan detik berikutnya, segalanya terjadi.

.

.

.

.

1. Ini part selanjutnya dari The Traveler (link tercantum di awal postingan) sebelumnya, dibuat dari sisi Kris yang sudah kembali ke China.
2. Semoga kalian suka part ini dan semoga apa yang dilakukan Kris tidak lantas membuat kalian kesel (?)
3. Maafkan atas segala typo yang mungkin tidak teredit :’) maklum, tengah malem ngeditnya mata udah sepet yha aku bisa apa HAHA
4. Saran dan kritik atas fanfik ini SELALU aku tunggu di kotak komentar. Saran dan kritik kalian membantu banget dalam mengumpulkan semangat loh HEHEHE.
5. Terima kasih sudah membaca🙂

14 responses to “The Traveler: Kris

  1. Rapi. Suka hahaha. Btw kris yumi jurusan informatika ya. Sama kayak guaa wkwk author juga ya? Gatau ya gue berharap ntar bahas dikit2 ttg IT. Dan kekuatan zitao itu bener2 ada kkk keep writing yea

    • Btw terima kasih sudah membaca ya🙂 Iya, Kris sama Yumi jurusan informatika, hehe. Aku jurusannya Psikologi, tapi dulu waktu SMA ikut ekskul yang sedikit banyak berhubungan sama komputer dan syntax algoritma hehe. Mungkin kalau kepikiran untuk ada pembahasan informatika bisa ditambahkan, hehe. Terima kasih banyak!

  2. Huh, ga suka lihat kris sama yumi…
    Blue?? Kayak mana sama dia??? Maaf thornim di part Yang sebelumnya ga comment jadi commentnya sekalian disini. Kris kayak ga berperasaan. Dia beri harapan sama blue tapi dia malah ngajak yumi pacaran… ditunggu next part nya

    • Terima kasih sudah membaca yaa.. Tapi Kris memang seperti itu, mungkin karena dia traveler jadi hatinya juga masih jalan-jalan untuk menemukan tempat yang tepat🙂

  3. terus gimana sama blueee😦 mungkin disana dia nungguin kris…. tapi krisnya….. ya ampun nasib perempuan ya (?)
    aku suka ceritanya dari yang the traveler kayak yang ngena banget gitu hehehehe semoga ada yang bagian bluenya ^^

    • Terima kasih sudah membaca ya🙂 Mungkin Blue sedang mencari sosok pengganti Kris, atau mungkin juga dia sedang menanti Kris kembali HAHA

  4. Gmn sm blue????kasian kan si blue uat aja blue dpt tmen dket caok trus kris tau tp dia jga cemburu gtu…hahahaha maksa bgt ya aq jya,hbis gmn ya liat kris ma yumi jdi kesel bgt deh kasian blue beneran deh…biar kris nyesel trus dia bisa lbih gentle mlih mana
    jgn php anak orang dong #emaknya tersinggung
    hehehhe maaf ya mlah mrah2 hehehe aq suka alur critanya rapi,dan gk ribet jdi nya pahamnya gk kelamaan
    nice story hehe

  5. bagus kok author,bahasanya enak dan gampang di cerna.penggambaran karakternya juga lumayan oke.
    pengen tahu aja kris kayak gimana lagi.kayaknya dia stress karena masalah keluarga tapi dia bisa menghadapinya.

    • Terima kasih sudah membaca ya. Kamu benar, Kris memang sedang menghadapi masalah keluarga. Semoga Kris bisa melewati semua itu ya🙂

  6. Gilaaaaa… Perjuangan bgt buat komen di sini
    Bacanyaa dr siang bru bsa komen grgr UC nya eror mulu buat komen

    Aku sebenernya udah baca The Traveler, cuman g tau komen ku ke post apa engga. Soalnya ya giitu, UC nya eror mulu. Opmin kagak bisa /ini malah curcol/
    Ok.. Ok.. Ini komennya
    Untuk di series pertama jujur baper bgt, berasa pengen nangis baca tentang blue. Perasaannya itu di gantungkan T.T
    Terus di chap ini kris tambah bikin naik darah. Apa-apaan coba dia heuh~
    Kris itu seperti di butakan dengan perasaan yg semu
    Sebenernya agak bingung juga sh, soalnya ini siapa. Si main castnya. Belum juga ke baca konfliknya mau kemana. Tapi menururtku justru ini bagus, jadi ceritanya g mainstream, kalo bisa di bikin lebih hurt lagi.
    Itu ajah sih dari aku, aku g pinter berkomentar dan saran jadi aku harap ini biisa di terima, aku takut aja ntar di kira tidak menghargai karya orang
    Eitsss iyah. Tadi di ending kris ngapain hayooo?? Kenapa g di jabarin sekalian / ini mah maunuya. Tolong abaikan/ hahaha
    HWAITING!!!

    • Terima kasih ya sudah membaca🙂 Kamu tidak bisa komen mungkin karena koneksi atau ada satu dan lain hal yang membuatmu sulit untuk posting komentar.
      Mudah-mudahan di part selanjutnya bisa membuat emosi kamu lebih meluap-luap lagi ya, hehe. Btw untuk di ending kamu bisa membayangkan sendiri kan Kris ngelakuin apa? :))

    • Mungkin Blue harus bisa menguatkan diri untuk move on dari Kris kalau ia harus mencari laki-laki lain secepat itu. Btw terima kasih sudah membaca🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s