Link (결합시키는) – Chapter 1

Link

Title : Link (결합시키는)

Author : Atatakai-chan

Length : Chaptered

Genre : AU, Friendship, Romance

Rating : G

Main Casts :
1. Andup as Han Byul
2. OC as Yoo Hyunjin

“Byul-ah! Tunggu aku! Huwee!” Seorang gadis berambut panjang dengan warna cokelat tampak terengah-engah sambil terus berlari menyusul lelaki yang sudah berlari jauh di depannya.

Lelaki yang mengenakan jaket berwarna biru dongker itu behenti dan memutar tubuhnya menghadap si gadis yang tengah membungkuk, punggungnya turun naik karena kelelahan. Lelaki itu tertawa melihat pemandangan di hadapannya.

“Hahaha! Ayo cepat kemari Jinie! Kau mau hantu tadi menangkapmu?”

Mendengar kata hantu gadis itu langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat dan melanjutkan larinya dengan sepenuh hati. Ia mengelurkan tangannya pada lelaki yang masih berhenti menunggunya. Tanpa menunghu lebih lama si lelaki menarik lengan yang tengah terjukur ke arahnya dan kemudian keduanya berlari bersama.

“Byul-ah, aku lelah!”

“Sebentar lagi kita sampai, Jinie. Bertahanlah!” Sedikit tawa terlepas dari mulut lelaki itu karena mendengar si gadis yang ia gandeng sedikit merengek.

“Aah! Aku sudah tidak kuat Byul!”

Langkah keduanya terhenti karena si gadis kini tengah berjongkok sambil mengatur napasnya.

“Ah, kau ini staminanya rendah sekali.” Si lelaki berujar sambil berjongkok memunggungi sang gadis. “Naiklah. Cepat. Sebelum aku berubah pikiran.” lanjutnya.

“Yeaay!” Si gadis langsung melompat ke punggung si lelaki menyebabkan si lelaki yang punggungnya ia tumpangi itu mengaduh.

“Jangan banyak bergerak ya. Kau itu semakin tahun semakin berat tahu.”

“Hahaha! Han Byul memang yang terbaik!” Si gadis merangkul leher lelaki bernama Han Byul itu dengan erat.

Byul tersenyum tipis. “Pegangan yang kuat. Sekarang kita menuju ke losmen!”

.

.

.

“Ah! Itu mereka di sana!”

“Han Byul dari kelas 10-2! Yoo Hyunjin dari kelas 10-2! Kalian berdua besok temui saya! Kalian akan saya berikan hukuman!”

“Dimengerti, Woo seonsaengnim.” sahut Byul dan Hyunjin dengan kompak.

Byul merendahkan tubuhnya sementara Hyunjin mulai turun dari punggungnya. Keduanya kemudian bertatapan kemudian tertawa seraya berjalan menuju ke lorong kamar losmen.

“Bodoh. Kok malah tertawa? Kita besok akan dihukum, tahu.” Dengan pelan Byul menepuk bagian belakang kepala si gadis yang lebih pendek 5cm darinya itu.

“Kau sendiri kenapa tertawa huh?” Hyunjin menyenggol kaki Byul dengan pinggulnya.

“Terserahku dong mau tertawa atau tidak. Kau tidak takut besok kau akan dihukum?”

“Untuk apa takut? Kan ada kau.” Hyunjin tertawa kecil.

Byul mengacak-acak rambut Hyunjin dengan gemas. Sahabatnya yang sudah sejak TK berteman dengannya itu kadang memang aneh, seringkali Byul dibuat heran. Tetapi ini kali pertamanya Byul melihat Hyunjin menerima hukuman. Sahabatnya ini dikenal sebagai anak baik, berbeda dengannya. Padahal sebenarnya watak keduanya hampir sama. Mereka sama-sama iseng. Pernah beberapa kali ketika dulu mereka masih SD, para guru tidak mempercayai bahwa Hyunjin ikut mencoret-coret papan tulis di kelas sehingga Byul yang harus menanggung hukuman.

“Mentang-mentang sudah jadi siswi sekolah menengah kau jadi nakal ya?”

“Ah. Aku lelah jadi anak baik terus, kau tahu kan maksudku? Begini-begini juga aku punya sisi yang-”

“Hanya kau perlihatkan padaku.”

Hyunjin tertawa kalau saja Byul tidak membekap mulutnya pasti tawanya akan menggema di lorong losmen dan mungkin akan membangunkan orang-orang yang sedang terlelap.

“Masuk cepat, masuk, tidur! Besok pagi aku akan menunggumu di depan kamarmu.” Byul membuka pintu kamar tempat Hyunjin dan beberapa siswi lain tidur dan mendorong Hyunjin masuk.

“Kita menjalankan hukuman bersama ya?” Hyunjin menahan pintu yang sedikit lagi tertutup dan menyembulkan kepalanya keluar,

“Iya, iya. Bersama. Sudah cepat tidur.”

“Benar ya? Hahaha. Malam Byul-ah, jaljayo~”

Beberapa detik setelah pintu kamar ditutup dari dalam, Byul masih berdiri di depan pintu tersebut. Pipinya semakin mengembang karena sebuah senyuman sedang terlukis di wajahnya. Ia menggosok-gosok tengkuk lehernya, senyuman itu masih juga belum hilang dari wajahnya.

“Hey, Han Byul! Kalau kau tidak mau hukumanmu ditambah sebaiknya kau kembali ke kamarmu sekarang!” suara tegas Woo seonsaengnim membuat Byul berjalan menjauhi kamar tersebut.

“Sebentar seonsaengnim, aku segera ke sana.” Langkah Byul semakin lebar, ia mempercepat langkahnya.

Byul berjalan ke arah kamarnya yang terletak di sisi lain losmen dengan langkah yang teramat ringan. Dirinya dan Yoo Hyunjin adalah sepasang sahabat karib yang sudah mulai berteman ketika keduanya masih berada di bangku TK. Penyebab awalnya mereka cepat akrab adalah karena keluarga mereka tinggal di gedung apartment yang sama, dan juga di lantai yang sama. Nyonya Han dan Nyonya Yoo sering bersama-sama menjeput anak mereka masing-masing, hal inilah yang otomatis menyebabkan Byul dan Hyunjin bertemu setiap hari ketika pulang. Entah bagaimana keduanya menjadi sering mengobrol bersama ketika menunggu ibu mereka menjemput, dan percakapan yang semula hanyalah kegiatan yang dilakukan ketika pulang sekolah berubah menjadi sebuah kegiatan yang wajib dilakukan ketika keduanya bertatap muka.

Han Byul yang merupakan anak satu-satunya keluarga Han cenderung untuk berbicara lebih banyak dan hal ini dengan cepat mempengaruhi Yoo Hyunjin yang merupakan anak sulung keluarga Yoo. Sebagai seorang kakak, Hyunjin dituntut untuk bersifat tenang, namun sifat tenangnya itu selalu hilang ketika ia bersama dengan Byul. Hal ini masih terjadi hingga saat ini.

“Yo! Byul! Baru kawin lari bersama istrimu ya?”

Byul menyeringai mendengar gurauan teman sekamarnya, Shin Jaeho. Lelaki berkulit kecoklatan yang sedang berbaring di ranjang itu adalah teman dekat Byul, namun bukan sahabatnya. Bagi Byul, Hyunjin adalah satu-satunya sahabat yang ia miliki. Ia tahu hal ini bisa berdampak buruk tetapi dirinya merasa bahwa seumur hidupnya ia baru sekali menemukan soulmate dan itu adalah Yoo Hyunjin.

“Istri apanya?” Dengan tawa yang ditahan Byul menaiki ranjang dan menarik selimut sampai ke dadanya.

“Aish, kalian berdua itu terlalu dekat untuk ukuran teman.” Jaeho entah sejak kapan sudah duduk di sebelah Byul, hampir menduduki lengan Byul.

“Hey, hati-hati bro! Tidak lucu kalau lenganku yang kecil ini terduduki oleh pantatmu yang lebar dan berat itu.” Byul tertawa seraya menarik lengannya agar tidak terduduki oleh Jaeho yang memang ukuran tubuhnya sedikit lebih besar dan tebal dari ukuran tubuh lelaki seumuran mereka.

“Oh ya? Kau kan belum mencobanya, mana tahu huh?” Jaeho menarik-narik lengan Byul sambil tertawa.

“Hahaha! Hentikan br-”

Sebuah bantal kepala mengenai kepala Byul membuat dirinya berhenti berkata-kata. Bantal itu berasal dari salah seorang yang tidur di kamar bersama dengan mereka. Namanya adalah Seo Chulgoo. Si ketua kelas yang seringkali bertengkar dengan Byul karena sifat keduanya yang bertolak belakang.

“Kalian mau membuat orang-orang sekamar dihukum karena kalian? Tidurlah!”

Jaeho dan Byul saling bertatapan dan keduanya memutuskan untuk terus berbincang, hanya saja dengan suara pelan/ Walaupun mereka berdua termasuk dalam list anak nakal para guru tetapi keduanya tidak gila. Siapa yang mau dihukum ketika mereka seharusnya bersenang-senang?

“Jadi tadi kau dan istrimu tadi kemana? Bulan madu kilat?” tanya Jaeho dengan suara setengah berbisik.

“Berhentilah menyebut Hyunjin sebagai istriku!” Byul menepuk bagian belakang kepala Jaeho dan membuat lelaki bebadan besar itu meringis.

“Ah, ya, ya. Jadi tadi kau dan Hyunjin mu kemana?”

“Kau ingat rumah tua yang dikatakan berhantu siang tadi oleh anak-anak perempuan? Hyunjin memaksaku untuk menemaninya ke sana.” jawab Byul.

Sebenarnya kalau mendengar kata “Hyunjin mu” yang diucapkan oleh Jaeho, Byul sama sekali tidak akan menjawab. Tetapi karena tidak terdengar maka Byul menjawab. Dan hal itu menyebabkan kesalahpahaman. Jaeho langsung berpikiran bahwa Byul dan Hyunjin berpacaran.

“Ah! Sial sekali kau Han Byul! Kenapa dengan wajah pas-pasan seperti itu kau bisa mendapatkan perempuan seperti Hyunjin sih?!” Jaeho mengguncang-guncang tubuh Byul cukup kuat bukan karena kesal, tetapi karena Jaeho adalah tipikal seorang teman baik yang bahagia apabila temannya bahagia.

“Eh? Apa maksudmu?”

“Ah, kau tidak perlu pura-pura bodoh seperti itu. Memang sih  tampang mu sangat mendukung untuk berlagak bodoh, tapi kau tidak bisa menipuku. Tadi saat kubilang ‘Hyunjin mu’ kau merespon! Tandanya dia benar-benar Hyunjin mu kan?” Jaeho menaik-naikkan alisnya tanda bersemangat.

“Aish, dasar bodoh. Aku tidak mendengar kau mengatakan ‘Hyunjin mu’ tadi! Makannya aku jawab!”

Jaeho mengerucutkan bibirnya, kecewa atas pernyataan teman baiknya itu.

“Kalau begitu.. boleh buatku saja ya?” tanya Jaeho iseng.

Jaeho tidak mendapatkan jawaban dari mulut Byul, namun bantal kepala yang sedari tadi mengganjal kepala Byul kini mendarat di wajah bulat miliknya.

“Tidurlah, sudah malam. Kau mulai melantur, sobat.”

.

.

.

Hyunjin yang sudah lelah tengah tertidur namun tiba-tiba saja dibangunkan oleh suara gumaman yang berasal dari teman-teman sekamarnya. Ia merasa hal itu benar-benar mengganggu sehingga ia mengatur posisi tidurnya menjadi temgkurap dan menutupi kepalanya dengan bantal kepala, berharap ia tidak lagi mendengar gumaman teman-teman sekamarnya.

“Ah, Hyunjin enak sekali ya. Aku juga mau pacaran dengan Byul.”

“Aku juga mau! Padahal kalau masalah lekuk tubuh, milikku lebih bagus daripada milik perempuan itu.”

Hyunjin yang mendengar percakapan teman-teman sekamarnya bingung antara harus tertawa atau menangis. Tertawa karena mereka berpikiran bahwa ia dan Byul adalah sepasang kekasih atau menangis, tepatnya tertawa sampai menangis karena mereka begitu mempercayai hal yang belum ada kepastiannya.

“Astaga kalian ini. Aku dan Byul tidak berpacaran tahu.” Akhirnya Hyunjin membuka mulutnya karena sudah tidak tahan mendengarkan percakapan teman-teman sekamarnya.

“Benarkah? Sejak hari pertama masuk kalian sangat dekat seperti orang pacaran.”

Hyunjin tertawa membayangkan seperti apa mereka akan bereaksi kalau tahu dirinya dan Byul memang sangat dekat dari zaman ketika mereka masih TK dulu. Bahkan berpegangan tangan adalah hal yang wajar bagi keduanya.

“Aku sungguh-sungguh. Kami tidak berpacaran.”

Helaan napas lega terdengar dari para perempuan yang berada di dalam kamar yang sama dengan Hyunjin dan hal itu memancing tawa Hyunjin yang kemudian ia tahan sebisanya karena ia tahu tawanya bisa membangunkan orang-orang yang tengah tertidur di kamar sebelah.

“Kalau boleh tau kenapa kalian ingin sekali menjadi kekasih Byul?”

Hyunjin sudah berteman lama dengan Byul namun ia tidak tahu apa yang menarik dari sahabatnya itu. Ia merasa bahwa Byul hanyalah seorang lelaki sedikit angkuh yang humoris dan yang bersedia menemaninya ke mana saja dan kapan saja ia mau. Hanya seorang lelaki yang dapat berbicara dan mendengarkan di waktu yang sama.

“Hm? Kalian sedekat itu dan kau sama sekali tidak merasakan ketertarikan pada dirinya?” tanya Kim Yeonju.

Hyunjin hanya menggelengkan kepalanya.

“Kau tahu? Menurutku pribadi, ia adalah tipe bad boy romantis seperti di manhwa manhwa itu. Benar-benar menggemaskan!”

Tawa Hyunjin nyaris meledak mendengar ungkapan Yeonju. Untung saja Hyunjin mengingat mengenai hukuman yang harus ia jalani esok hari. Ia benar-benar tidak mau dihukum sebanyak dua kali.

“Kalian harus tahu. Dia sama sekali bukan tipe yang seperti itu.” Hyunjin tertawa kecil seraya memejamkan matanya, mencoba untuk kembali tidur.

.

.

.

Byul berjalan menuju ke kamar Hyunjin yang berada di sisi lain losmen sambil mengucek-ucek matanya yang masih terasa sepet. Ia sebenarnya masih mengantuk namun ia bertekad bulat untuk meminta hukman di pagi hari agar nanti siang ia dan Hyunjin bisa ikut rombongan untuk mengunjungi Kuil Itsukushima. Kuil tersebut adalah alasan mengapa dirinya mengikuti study tour ke Jepang yang diadakan oleh pihak sekolah.

Byul mengetuk pintu kamar di mana Hyunjin dan beberapa siswi lain tidur. Ia berusaha untuk mengetuk sepelan mungkin agar tidak membangunkan terlalu banyak orang.

“Ayo Yoo Hyunjin, bukalah pintunya.” gumamnya setelah mengetuk pintu.

Tidak lama kemudian pintu terbuka dan sosok Hyunjin yang sudah rapi terlihat sedang berada di ambang pintu kamar.

“Kau tahu di mana kamar Woo seonsaengnim?” tanya Hyunjin seraya melangkahkan kakinya keluar kamar dan kemudian dengan amat perlahan menutup pintu kamar dari luar.

Byul mengangguk. “Aku tahu.” ia kemudian menyeringai.

You’re thinking what I’m thinking?”

Hyunjin mengangguk. “I know.”

Dan keduanya melangkah bersama menuju ke kamar guru yang akan memberikan mereka hukuman di pagi hari yang masih gelap dan sepi sembari berharap hukuman yang akan diberikan tidak akan terlalu berat dan tidak akan memakan waktu lama.

“Apa hantu di rumah yang kita kunjungi semalam menghampirimu dalam mimpi?”

Hyunjin terkekeh. “Tentu saja tidak, bodoh.”

“Lho kenapa?”

“Hantunya tidak berani mendekatiku karena ia tahu kalau kau adalah sahabatku.”

Byul tertawa seraya memalingkan wajahnya, berpura-pura memandang keluar jendela. Kalau saja kata sahabat tadi diganti oleh sebuah kata lain, mungkin Hanbyul akan memikirkan kembali mengenai apa yang Jaeho katakan semalam sebelum mereka tidur.

“Hey, aku serius Byul. Kalian tampak serasi! Apa kau yakin hanya akan menjadi sebatas sahabat dengannya? Seumur hidupmu? Apa kau yakin kau tidak akan menyesal?”

-TBC-

author’s note:
Halo, halo! Bertemu lagi dengan Atatakai-chan!
Sebenernya ini fanfic terinspirasi dari mimpi malam kemarin~
Jangan lupa kasih feedback ya. Semoga kalian suka ^^
Mohon maaf untuk poster aneh(?) dan mungkin alur yang terlalu cepat?

Oh iya ngomong-ngomong diblog pribadiku sedang mengadakan event.
Kalau tertarik bisa kunjungi blog ku di sini.
Thank you!❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s