[Series] Will You Be My Bride? (7)

WIYBmBL Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

| Will You Be My Bride? |

| Kim Liah (B2utyinspirited.wordpress.com |

| Chapter |

| Xi Luhan, Park Jiyeon |

| Byun Baekhyun, Kim Nahyun, Yoo Ara, Do Kyungsoo |

| Romance, Friendship, Marriage Life |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) BASED ON NOVIA STEFANI’s CERPEN |

NOTE: Ini FF (Luhan Version) remake dari cerpen yang sudah sering dijadikan FF juga. Jadi harap maklum kalau idenya hampir mirip, tapi untuk keseluruhan cerita akan saya kembangkan sendiri. FF ini sudah pernah saya post di WP pribadi dengan cast lain

.

.

.

Luhan memasuki kamar Jiyeon dan menemukan Jiyeon tengah duduk diam menatap komputernya yang menyala kosong. Ia berpikir mungkin Jiyeon sedang memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk memenuhi komputernya yang sekarang berhardisk besar.

“Jiyeonie” Luhan menepuk pundak Jiyeon hingga seketika Jiyeon menyembunyikan sepucuk mawar putih yang masih terbungkus rapi dikotaknya, meski Luhan melihatnya ia mencoba acuh “Apa yang kau pikirkan?”

“An..anniya” Jiyeon mengangkat tangannya hingga gelang pemberian Baekhyun itu bergoyang dan menarik perhatian Luhan, sebisa mungkin ia menyembunyikan kotak mawarnya yang ia masukkan kilat ke laci mejanya. Akan gawat sekali kalau Luhan sampai tahu jika bunga ini adalah pemberian Baekhyun.

“Tumben kau memakai gelang kuno seperti ini?”

Jiyeon menarik lengannya “Geunyang, ingin saja” elaknya dengan senyum datar.

“Argh kurokuna” meski Luhan terlihat acuh sebenarnya ia sangat hafal betul pribadi Jiyeon “Apa kau kebingungan dengan hadiahku?” tanyanya. Ia tahu jika Jiyeon tak menyukai hadiahnya dan ia tahu juga tahu kalau Jiyeon lebih menyukai hadiah manis seperti gelang dan mawarnya tadi. Sayangnya ia bukan pria yang harus saklek dengan apa yang disukai wanitanya. Menurutnya memberi apa yang wanitanya sukai itu adalah konyol dan tidak bisa saling menerima. Ia tidak ingin berubah hanya karna cinta tapi ia ingin mereka berdua saling menerima hal baru diantara mereka.

“Anniya” Jiyeon menekan mousenya untuk mematikan komputernya “Aku mengantuk Lulu-ya” keluhnya seraya bangkit berdiri.

“Arraseo, bolehkah aku tidur disini lagi?”

“Nan shirreo, semalam kan kau sudah tidur disini” Jiyeon mendorong Luhan keluar kamarnya “Jaljayo Lulu-ya” dan pintu kamar Jiyeon-pun tertutup. Bukannya tidur, ia malah bersandar dibadan pintu dan merenungi semuanya. Kegundahannya mengenai Baekhyun cinta lamanya dan juga Luhan suami simulasinya. Kehadiran Baekhyun membangkitkan khayalan lamanya akan hubungannya dengan Baekhyun dulu. Mungkinkah ia dan Baekhyun bisa kembali seperti dulu? Apa Baekhyun akan menerimanya jika dia tahu kalau pernikahannya dengan Luhan hanya pernikahan simulasi semata?

Luhan tertawa kecil seraya menyandarkan punggungnya juga dibadan pintu kamar Jiyeon. Ia tak sebodoh itu, meski sudah lama sekali sejak terakhir kali Jiyeon menerima mawar putih namun ia masih ingat siapa pria romantis itu. Saingan terbesarnya semenjak ia masih remaja, Baekhyun.

**

Jiyeon membaca dua buah kartu dimeja kerjanya, sudah satu minggu ini kiriman mawar putih dan kartu ini berturut-turut ia dapat. Kartu pertama bertuliskan ‘Aku memikirkanmu, Jiyeon-a’

“Nado Baekhyun-a. Aku pun tak bisa menghapuskan senyum, mata, wajah dan suaramu dari benakku?” batinnya lalu ia baca kartu yang ketiga yang baru saja datang pagi ini ‘Mian, kalau kau menganggapku lancang karena terus mencintaimu. Tapi bisakah kau menghentikan badai?’

Ia tahu maksud kalimat Baekhyun ini, tapi apa Baekhyun tak sadar juga dengan ucapannya beberapa hari yang lalu? Ia sudah menikah dan itu adalah sebuah penolakan yang teramat jelas bukan? Namun ucapannya memang berlawanan dengan kata hatinya, ia ingin bersamanya, selamanya.  Tapi itu mustahil bukan?

.

“Jiyeon-a waeyo?” Ara merasakan tingkah aneh Jiyeon satu minggu ini “Memangnya kau hendak menghubungi siapa sampai setegang itu?” tebaknya.

Jiyeon menurunkan ponselnya “Anniya, sudahlah kau pulang duluan, anakmu pasti menunggumu” usirnya.

“Aishh arraseo” Ara menutup kembali pintu ruangan Jiyeon namun sedetik kemudian ia menongolkan kepalanya kembali “Awas saja kalau berpikir hendak selingkuh, aku akan membencimu chingu-ya” sindirnya lalu kembali pulang.

Kenapa Ara bisa berkata seperti itu padanya? Apa terlihat jelas diwajahnya kalau ia berencana untuk selingkuh? Ia menggelengkan kepalanya dan kembali mendial nomor yang sudah ia hafal  diluar kepala.

“Yeobbeseo” tak ada jawaban dari Jiyeon “Jiyeon-a, ini kau bukan?” tebak Baekhyun.

“Eoh… Na-ya Baekhyun-a” bagaimana bisa Baekhyun mengetahuinya sementara ia belum mengucap namanya.

“Daengiya, aku sudah menunggu lama telponmu”

Jiyeon tersenyum simpul, ini artinya bukan hanya ia yang berharap lebih. “Jincha?”

“Eoh” Baekhyun tertawa kecil “Bahkan aku terlihat seperti orang gila karna hanya fokus pada ponselku setiap menit” akunya.

“Kurokuna” keberanian mulai timbul seketika “Kalau kau ada waktu, kita bisa melihat pameran lukisan di galeri baru dekat kantorku” tawar Jiyeon,

“Kau yang menentukan apa aku punya waktu atau tidak, Jiyeon-a”

“Geurae, bagaimana kalau besok?”

“Eoh”

**

Hari minggu seperti biasanya, kali ini Luhan sedikit enggan untuk memancing atau bermain bola. Ia sudah lengkap dengan kaos olahraganya dan hendak membangunkan Jiyeon untuk mengajaknya jogging. Namun melihat Jiyeon yang tertidur nyenyak dalam senyum manisnya, ia jadi tak tega membangunkannya dan memutuskan berolahraga sendiri. Jarang sekali Jiyeon tidur sambil tersenyum seperti itu.

“Oppa” baru saja Luhan menutup pintu gerbang rumahnya “Kau sendirian bukan? Boleh aku ikut jogging denganmu?” tanya Nahyun.

“Eoh, keundae bukankah kau biasanya bersama priamu itu?”

“Pria? Anniya oppa, Kyungsoo hanya sahabatku saja. Kajja oppa” ajak Nahyun seraya berlari kecil menjauh dari rumah mereka.

“Lalu dimana sahabatmu itu?”

“Dia sedang marah padaku oppa. Kekanak-kanakan sekali bukan?”

Luhan tersenyum tipis, kisah yang ia dengar ini serasa mencerminkan dirinya sendiri. “Kau yakin dia ..siapa namanya?” tanyanya seraya memelankan larinya.

“Kyungsoo, Do Kyungsoo, oppa”

“Argh Kyungsoo. Jadi, apa kau yakin Kyungsoo yang kekanak-kanakan dan bukan kau sendiri?”

Nahyun mengangguk mantap “Eoh, dia melarangku dekat dengan teman sunbaeku”

“Namja?”

Nahyun menghela nafas “Kau kan tahu oppa, aku ini mudah dekat dengan siapapun?”

“Nan arrayo, keundae mungkin kau terlalu berlebihan dengan sunbaemu itu” Luhan duduk disebuah anak tangga taman “Kau harus bisa membedakan caramu bersikap” lanjutnya.

“Membedakan? Aku tidak suka membeda-bedakan orang, oppa” Nahyun mengusap keningnya dengan handuk kecil.

“Bukan begitu Nahyun-a. Bagaimana harus kujelaskan padamu?” Luhan menghela nafas “Kau tahu Jiyeon bukan?” tanyanya.

“Ne, eonnie yang tinggal serumah dengan oppa. Memangnya kenapa oppa?”

“Seperti yang kau bilang kami berteman, dulu”

“Jadi kalian sekarang juga sedang bertengkar sepertiku?” Nahyun menggeleng tak percaya “Jiyeon eonnie jahat sekali sampai memutuskan ikatan pertemanan kalian. Gojongma oppa” ia menepuk bahu Luhan tuk sekedar menghibur.

“Anniya Nahyun-a. Kami tidak bertengkar sekarang. Hanya status kami saja yang berbeda” Luhan membatin bahwa hanya ia saja yang menganggapnya berbeda “Dia istriku”

“Mwo? Istri? Argh pantas saja dia sering ketus kalau oppa mengobrol denganku” sebenarnya Nahyun mengira Luhan dan Jiyeon adalah sepasang kekasih yang hidup bersama.

“Kami teman dan menikah” Luhan menepuk kepala Nahyun “Mungkin suatu saat kau dan Kyungsoo bisa sepertiku juga” ia mengambil handuk Nahyun dan mengusapkannya dihidung Nahyun “Jangan terlalu egois dan sadari perasaan kalian sebelum terlambat” ia bangkit berdiri “Kajja, aku traktir kau eskrim itu” lanjutnya seraya mendekati sebuah kedai eskrim ditaman tersebut.

Nahyun mengeryitkan dahinya, ia bingung dengan perkataan Luhan. Egois? Mungkin ia egois karna selalu meminta Kyungsoo menemaninya dan menjemputnya. Tapi apa maksudnya dengan perasaan? “Oppa, chakkaman” ia berlari mengejar Luhan, masa bodoh dengan perkataan Luhan yang membingungkan.

.

Jam 9 pagi, Jiyeon sudah lengkap dengan gaun merah marunnya. Ia baru saja bangun dan tak sempat mengantar Luhan pergi memancing. Ia letakkan tasnya di kursi meja makan dan menyantap sejenak sarapan yang sudah dingin.

“Kau mau kemana Jiyeonie?” Luhan muncul mengenakan celemeknya, ia baru saja menyajikan sarapan pagi dimeja makan.

Ada kegugupan diwajah Jiyeon “Teman, aku akan pergi bersama temanku” ia bahkan tak berani menatap mata Luhan.

“Bolehkah aku ikut?”

“Anni… maksudku ini acara wanita. Mian aku tak bisa mengajakmu Lulu-ya”

“Argh jincha? Setidaknya kau temani aku sarapan dulu ne?”

“Mianhae Lulu-ya, aku sudah terlambat”

“Geurae, bawakan aku oleh-oleh ne?”

Dan Jiyeon hanya bisa mengangguk lemah dengan senyum yang dipaksakan.

.

“Mian, Baekhyun-a, aku terlambat”

“Gwaenchana, selama apapun aku akan tetap menunggumu Jiyeon-a. Kajja kita masuk” Ingin sekali Baekhyun menggapai tangan yang dahulu sering tergenggam olehnya namun fakta bahwa Jiyeon adalah istri pria lain membuatnya tersenyum perih.

Mereka mengamati berbagai lukisan digaleri tersebut dan membicarakan keunggulan serta kekurangan dari lukisan yang mereka amati. Ada sebuah lukisan yang paling menarik perhatian mereka. Sebuah lukisan seorang pemuda yang mengulas senyum namun dengan ekspresi yang menyedihkan.

Seketika melihat lukisan itu Jiyeon teringat dengan Luhan. Betapa teguhnya seorang Luhan hingga bersabar menghadapinya yang selalu menyusahkannya dengan ulahnya yang menyebalkan jika sedang marah. Luhan selalu mengulas senyum dihadapannya meski dia tersiksa dengan pernikahan simulasi mereka. Ia sudah melibatkan Luhan dengan pernikahan simulasi yang akan merusak masa depan Luhan kelak karna hubungan mereka tak akan berlangsung lama.

Sama halnya dengan Jiyeon, Baekhyun mengibaratkan lukisan itu adalah dirinya. Ia mencoba mengiklaskan Jiyeon, namun hatinya masih terpaut bahkan berharap Jiyeon kembali kepadanya. “Apa yang kau pikirkan Jiyeon-a?”

“Anniya, geunyang…” Jiyeon memegangi perutnya, ia tak mungkin memuntahkan pemikirannya didepan Baekhyun “Aku lapar” keluhnya.

“Arghh matta, kajja” dan tanpa Baekhyun sadari ia menarik lengan Jiyeon menuju cafetaria terdekat.

.

“Kau kelihatan lapar sekali”

“Eoh, aku belum sarapan tadi” jawab Jiyeon seraya memakan steaknya. Ia merasa menyesal sudah menolak menemani Luhan makan hanya sepuluh menit saja tadi pagi.

“Keundae Jiyeon-a….kenapa kau menikah dengan Luhan?”

Jiyeon tak jadi memakan irisan steak yang sudah hampir terlahap dimulutnya “Waeyo? Apa salah kalau aku menikahinya?”

“Seingatku Luhan bukan typemu” Baekhyun melahap irisan steaknya.

Jiyeon tertunduk, benar Luhan bukan typenya. Ia tak menyukai pria yang easygoing seperti Luhan, apalagi sikap itu Luhan tunjukkan dihadapan para wanita. “Luhan mencintaiku” lirihnya seakan hanya sebuah bisikan. Mencintai? Bagiamana bisa ia memakai kata itu sementara diantara mereka berdua tak ada perasaan seperti itu?

“Apa kau mencintainya”

Jiyeon meletakkan pisaunya dan hanya menatap steak hanya tinggal dua irisan itu.

“Apa kau bahagia?”

Jiyeon beranikan menatap mata Baekhyun yang nampak tak secerah kemarin “Eoh”

“Jangan berbohong”

“Luhan suami yang baik”

“Tapi apa kau bahagia?”

Jiyeon kembali membisu, tentu saja ia bahagia namun itu hanya kebahagian kecil. Ia lebih bahagia ketika masih bersama Baekhyun dulu.

“Berapa lama kau menikah dengan Luhan?”3

“Sebulan.” Jiyeon tak menyangka pernikahan mereka baru berjalan sebulan, padahal baginya seperti sudah lama sekali.

“Mianhae, kalau ini menyinggung perasaanmu. Tapi apa kau menikahinya karena terpaksa? Karena usia dan….” Baekhyun menanyakan ini bukan karna tanpa alasan, ia mengenal Jiyeon, kebohongan terlihat jelas dimata Jiyeon.

“Stop!” Jiyeon memundurkan kursinya dan bangkit berdiri, sedikit terpukul dengan perkataan Baekhyun.

“Maafkan aku kalau perasaanmu terluka karena pertanyaanku. Tapi bisakah kau renungkan perasaanku sendiri? Bagaimana hatiku tersiksa ketika tahu pernikahan itu tidak membuatmu bahagia?”

Jiyeon sekali lagi membisu sejenak lalu bangkit berdiri menyambar tasnya. “Aku ingin pulang” hanya ini cara satu-satunya untuk melarikan diri dari pertanyaan Baekhyun.

**
Kartu ucapan di tangan Jiyeon bergetar bahkan tulisannya kabur dalam genangan air
matanya begitu mengingat perkataan Baekhyun kemarin.

“Jiyeon-a, neo waeirae?” tanya Ara yang ntah kapan telah memasuki ruangan Jiyeon.

“Ye? Anniya, kenapa kau disini? Bisakah kau keluar sebentar? Aku harus menelpon Luhan”

“Geuraeyo” Ara keluar dari ruangan Jiyeon dengan mengangkat kedua jempolnya seakan ucapan Jiyeon itu suatu yang melegakan baginya.

Dengan sangat enggan Jiyeon menekan nomor kantor Luhan. Tiba-tiba ia sadar bahwa semenjak menikah dengannya ia tak lagi pernah mengadu dan bertanya kepadanya tentang segala hal yang menyangkut hati dan perasaan. Dan kini, ia tahu ia sangat membutuhkan masukannya seperti dulu, sebelum Luhan menjadi suami simulasinya.

“Lulu-ya”

“Jiyeonie. Ada apa pagi-pagi begini menelponku?” kemarin selepas kepergian Jiyeon, istrinya itu sama sekali tak mau berbicara dengannya dan ia juga menyadari bahwa ekspresi wajahnya memang seolah mengatakan ia tidak ingin diganggu, namun sekarang Jiyeon malah menelponnya.

“Aku …. Kau tahu …, ” nada suara Jiyeon terbata-bata, ia bingung bagaimana harus mulai menceritakan kepada suaminya, walaupun hanya simulasi, bahwa ia sedang dirundung kasmaran kepada lelaki lain? Ia tahu Luhan tidak akan marah, karna dia memang tidak berhak untuk itu. Tapi itu tidak membuat segalanya mudah. Luhan bukan lagi sekedar seorang sahabat tempat curahan keluh kesah dan semua masalahnya seperti dulu. Dia adalah suaminya, simulasi atau bukan sekalipun dan menceritakan hal seperti kartu dari Baekhyun dan bunga mawar putihnya terasa sangat tidak pantas dan kejam untuk dilakukan.

“Aku…. Lulu-ya, kau tahu Ara, kan?”

“Sekretarismu? Tentu, dia juga temanmu bukan?”

“Eoh. Bekas pacarnya yang pilot itu kembali.”

“Lalu?” Luhan sudah menyadari topik yang akan mereka bicarakan.

“Sekarang mereka sering bertemu. Meski suaminya tidak tahu, tapi sekarang Ara bingung. Dia mengaku jatuh cinta lagi dengan bekas pacarnya itu dan si bekas pacar ini pun ingin menikahi Ara meski tahu status Ara”

“Tapi Ara sudah punya seorang putra kan?”

“Eoh, tapi menurut si pilot ini, anak bukan masalah. Mereka boleh memilih untuk tinggal dengan siapa.”

“Lalu apa hubungannya semua itu denganmu?”

Jiyeon menghela napas. “Ara bertanya apa yang harus dia lakukan dan aku tak
bisa menjawab.” dustanya.

“Dan kau bertanya pada pak gurumu. Arraseo. Chakkaman” meskipun Luhan menutup mikrofon telepon, Jiyeon bisa mendengarnya berteriak kepada seseorang di ujung sana “Chakkamanyo, ini istriku! Ya, mulailah dulu. Aku menyusul.”  ia kembali fokus pada gagang telpon itu “Mian. Mereka benar-benar tidak bisa apa-apa tanpaku …” suaranya kembali terarah ke telepon.

Jantung Jiyeon rasanya melesak ke dalam bumi begitu mendengar kata ‘istriku’ tadi. Ntah mengapa ucapan itu terdengar tulus. “Karena kau yang membuatkan kopi?”

“Aishh” Luhan tertawa, lalu segera kembali serius. “…Kupikir Ara dan pacarnya terlalu egois. Mereka tidak bisa lagi hanya memikirkan keinginan mereka sendiri. Ada suami Ara dan anaknya yang juga harus diperhitungkan.”

“…Tapi kalau Ara tidak bahagia lagi menikah dengan suaminya, apa pernikahan itu harus dan bisa tetap dipertahankan?”

“Sebaiknya kau tanya Ara, apa dia benar-benar mencintai bekas pacarnya itu, atau mereka hanya terpesona dengan nostalgia masa lalu? Apa mereka benar-benar saling membutuhkan atau mereka hanya ingin mengulang keindahan masa pacaran mereka dulu? Kalau hanya itu yang mereka inginkan, mereka akan kecewa kalau terus bersama, karena Ara dan pacarnya sudah jadi dua orang yang berbeda, sudah lebih dewasa dan bukan lagi remaja yang masih hijau.”

“Ara bilang dia hanya mencintai lelaki itu, bukan suaminya. Ia tidak pernah mencintai suaminya.”

Luhan tersenyum miris, ia sadar arah pembicaraan Jiyeon kali ini sebenarnya menyangkut hubungan mereka berdua dan ia juga tahu betul kalau Jiyeon memang tidak mencintainya. “Kalau begitu kenapa dulu dia menikahi suaminya?”

“Keadaan.”

“Maksudnya?” Luhan kembali tersenyum miris, pernikahan mereka memang hanya terbatas karna sebuah keadaan saja. Jiyeon tak pernah menganggapnya serius.

“Adik-adiknya sudah ingin menikah semua, tapi orang tuanya tidak mengizinkan karena mereka tidak mau Ara didahului.”

“Astaga. Kasihan sekali.” suara lirih Luhan menandakan ia mengasihani dirinya sendiri.

“Jadi bagaimana?”

Luhan terdiam sejenak memikirkan arah hubungan mereka berdua kedepannya, ia juga sulit untuk memberi saran pada Jiyeon karna ia juga terlibat. “Aku tidak tahu, Jiyeonie. Yang aku tahu, aku tidak mau jadi penyebab ketidakbahagiaan seseorang. Aku sarankan Ara untuk meninggalkan pacarnya, siapa tahu ia tidak akan pernah sebahagia bersama suaminya meskipun hubungan mereka sebatas terpaksa. Tapi jika Ara meninggalkan suaminya, aku juga tidak menjamin ia akan bahagia dengan orang yang hanya mengenalnya di permukaan, tidak utuh, seperti suaminya.”

“Lantas aku harus jawab apa pada Ara?”

“Sampaikan saja petuahku ini kepada Ara. Bilang saja ini saran dari pakar pernikahan kelas dunia yang reputasinya tidak diragukan lagi.”

“Aishh. Kau sama sekali tidak membantu” desah Jiyeon.

“Ini bukan keran bocor atau tv rusak yang bisa diperbaiki begitu saja, Jiyeonie. Memperbaiki tv rusak saja aku menyerah, apalagi mengurusi rumah tangga orang.”

“Bodohnya lagi, aku bertanya kepadamu.”

“Majayo, Jiyeonie. Aku sendiri heran kenapa aku mau membuang waktuku dan terpaksa terlambat ikut rapat untuk memberimu saran yang tak berguna.”

Jiyeon tertawa pahit. “Ya, sudah. Pergilah buat kopi sekarang. Gomapta untuk saran dan waktumu.”

“U’re welcome. Oh! Bosku ke sini. Aku harus pergi. I love you, yeobeo” teriak Luhan lalu terdengar suaranya, sedikit jauh dari telepon. “Iya, sajangnim, sebentar. Istri saya ….”

Jiyeon tutup panggilan itu, tiba-tiba ia merasa begitu dingin dan sendiri. Namun ia telah memutuskan sebuah keputusan yang menurutnya terbaik baginya dan semuanya yang ada disekitarnya.Ia tekan nomor Baekhyun dengan kilat hingga terdengar suara bahagia dari Baekhyun.

“Jiyeon-a, kau..”

“Kita tidak bisa bertemu lagi Baekhyun-a” Separuh jiwa Jiyeon rasanya terbang dan hilang saat kata-kata itu ia ucapkan.

“Kenapa? Luhan melarangmu?”

“Dia tidak tahu apa-apa.”

“Kenapa kau terus memikirkan dia, Jiyeon-a. Pikirkan dirimu sendiri. Apa kau bisa menghabiskan hidupmu dengan orang yang tidak kau cintai, sedangkan denganku kau bisa mendapatkan semuanya?”

“Air mata Jiyeon menetes dipipinya, memang benar ia mencintai Baekhyun. Tapi seperti yang dikatakan Baekhyun, sebagian dirinya memintanya memikirkan pengorbanan Luhan, meski hanya simulasi.

“Jiyeon-a, akuilah. Aku menemukan separuh hatiku kepadamu dan hidupmu baru akan lengkap denganku. Selama ini, aku sendirian dan kau dengan Luhan, hidup kita hanya mimpi, cacat timpang. Dan kita baru akan memulai hidup, setelah kita bersama. Saat ini kau tidak punya apa-apa bahkan msa depanpun tak ada, Jiyeon-a,  tapi kalau kita bersama, kita akan memiliki segalanya ….”

“Geumanhe” potong Jiyeon dengan suara bergetar.

“Kalau kau minta aku untuk berhenti berusaha mendapatkanmu lagi, kau hanya buang-buang waktu dan tenaga. Kau tahu aku tidak semudah itu disuruh mundur. Ini menyangkut sisa hidupku dan hidupmu. Tidak ada yang lebih penting dari itu dan aku tidak akan berhenti sampai kau kembali kepadaku.” kekeh Baekhyun.

“Aku tidak bisa ….” lirih Jiyeon.

“Kenapa tidak? Kau tidak mencintai Luhan, Jiyeon-a. Kau berbeda dengannya, jadi bukan kesalahanmu kalau kau tidak bisa mencintainya. Satu-satunya perasaan yang layak kau simpan untuknya cuma iba, karena ia tidak akan pernah bisa mendapatkan hatimu dan ia akan selamanya menikah dengan wanita yang mencintai lelaki lain.”

Jiyeon mengangguk lemah, pernikahan ini hanya sebuah permainan. Menyenangkan memang, tapi tetap hanya sekadar sandiwara. Namun ntah mengapa rasanya berat sekali memutuskannya? “Aku ….”

“Akuilah, Jiyeon-a, kau mencintaiku. Kebersamaan kita adalah takdir.”

Jiyeon tutup mikrofon itu dengan tangannya dan menghela napas panjang. Seluruh
tubuhnyarasanya terbakar dan lunglai hingga dunia seperti berputar makin cepat. Ia pejamkan matanya sebelum mengucapkan kata yang berat itu. “Aku tidak mencintaimu” gumamnya.

“Lebih keras lagi.”

“Aku tidak mencintaimu.” Jiyeon mengeraskan suaranya dengan mantap.

“Kau berbohong.”

Lama sekali Jiyeon terdiam sebelum akhirnya sanggup mengucapkan ‘Ya.’

“Jiyeon-a” suara Baekhyun nampak gemetar. “Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia”

Jiyeon tahu sejak awal bahwa permainannya dengan Luhan akan berakhir, cepat atau lambat. Tapi hatinya tetap enggan berdamai dengan kenyataan bahwa ia mengucapkan perpisahan. Ia sadar bahwa Luhan sendiri tidak berhak dan tidak mungkin menghentikannya. Bahkan, mungkin Luhan akan merasa lega dengan keputusannya itu, karena akhirnya dia bisa membenahi hidupnya sendiri lagi.

Mustahil Luhan akan menolak berpisah dengannya. Apalagi, ia juga tahu Luhan sangat menyayanginya dan ingin ia bahagia. Dan Ia tahu, keputusan untuk kembali kepada Baekhyun adalah yang terbaik untuknya dan masa depannya, sesuatu yang pasti akan didukung oleh Luhan. Ia yakin keputusannya itu tidak merugikan siapa pun. Jadi kenapa ia harus segan menyampaikannya pada Luhan? “Beri aku waktu”

**

Seminggu sudah selang Jiyeon meminta waktu dari Baekhyun, berkali-kali pula Baekhyun mendesaknya untuk segera memutuskan segalanya dengan Luhan. Namun berkali-kali pula ia menunda kesempatan yang ada, keraguannya merusak segalanya.

Sore itu, Jiyeon pulang dengan hati berat. ia sudah bertekad untuk bicara dengan Luhan malam itu juga. Jiyeon tak akan menundanya lagi, begitu Jiyeon tiba di rumah, Luhan sudah menunggunya di teras. Matanya berbinar dan wajahnya berseri saat Jiyeon mendekati teras, hingga Jiyeon jadi berpikir, ada apa sebenarnya.

“Kenapa kau sudah di rumah?” tanya Jiyeon.

Luhan menyilangkan telunjuknya di depan bibir dan menggandeng tangannya ke dalam rumah.

“Ada apa?”

“Sst!”

Luhan membawa Jiyeon ke serambi samping. Dengan bangga dikembangkannya tangannya. Di sana ada sebuah ayunan rotan berwarna putih, cukup lebar untuk tiga orang, dengan bantal-bantal yang kelihatan sangat mengundang, berwarna hijau dengan gambar … mawar putih?

“Ini hadiah ulang tahun pertama pernikahan kita selama hampir dua bulan ini, memang terlalu cepat tapi aku ingin segera memberikannya padamu” katanya. Luhan sadar mungkin kalau menunggu satu tahun lagi, ia tak akan mungkin bisa merayakan ulang tahun pernikahannya dengan Jiyeon kelak.

Mata Jiyeon beralih cepat dari ayunan rotan itu. Wajah Luhan benar-benar sumringah. Di matanya ada sekelumit keheranan melihat wajah Jiyeon yang pasti telah berubah warna.

“Aku… Aku tidak punya hadiah apa-apa,” gumam Jiyeon sambil kembali menatap ayunan itu, menyembunyikan kalutnya.

Luhan tertawa lalu duduk di ayunan itu. “Kajja” katanya sambil menarik tangan Jiyeon. Jiyeon duduk di sampingnya, tak tahu mesti mengatakan apa. Jiyeon benar-benar tidak ingat bahwa dua bulan lalu hari itu, Jiyeon dan Luhan menikah, simulasi. Kenapa Luhan harus menganggap hari itu demikian istimewa sementara Jiyeon sendiri sama sekali tak mengingatnya?

Luhan mulai berayun-ayun pelan sambil menggenggam tangan Jiyeon. Ia sedang menceritakan sebuah kejadian lucu di kantornya, tapi Jiyeon sama sekali tak mendengarkan. Di kepala Jiyeon berdenging ribuan kata-kata yang akan segera ia ucapkan padanya. Jiyeon telah berlatih dalam hati untuk mengutarakan segalanya, tegas dan jelas. Tapi sekarang, semua ketetapan hati yang telah ia bangun runtuh berserpihan.

“Jiyeonie, kau tidak menyimak kata-kata Pak Guru, anak nakal,” teguran Luhan membuyarkan renungan Jiyeon. “Ada apa?” tanyanya.

Jiyeon tatap mata Luhan. “Lulu-ya, Baekhyun pulang.”

Dahi Luhan berkerut. “Baekhyun?”

“Pacarku yang pergi ke Swiss.”

“Oh,” Luhan mengangguk. “Kapan?”

“Beberapa minggu yang lalu, tepat ketika ulang tahunku.”

Luhan mengangguk lagi. Jiyeon tak bisa mengucapkan apa-apa setelah itu. “Dia sudah menikah?” tanyanya, ia memang hendak mendorong Jiyeon berkata jujur mengenai semuanya.

Jiyeon menggeleng. “Lalu?”

“Dia ingin menikah denganku” ujar Jiyeon cepat-cepat, tanpa memandang wajah Luhan. “Ia hanya di sini lima bulan lagi. Karena itu, aku ingin kita segera bercerai.”

“Oh.” Luhan tak mengatakan apapun selama beberapa saat. Pertanyaan berikutnya ia ajukan dengan ringan, seolah-olah sambil lalu, ”Kau yakin ia mencintaimu?” Jiyeon mengangguk. “Kau yakin akan bahagia dengannya?” Sekali lagi Jiyeon hanya mengangguk. “Kalau begitu, selamat” ketulusannya terdengar hangat. “Aku ikut bahagia.” tambahnya.

Jiyeon beranikan diri untuk menatap wajah Luhan dan Jiyeon tidak menemukan setitikpun kekecewaan di sana. Rasa lega meruahi hatinya. Luhan bertanya beberapa hal tentang Baekhyun dan semuanya ia jawab dengan antusiasme gadis belasan tahun yang mabuk asmara. Tapi setelah beberapa waktu, Jiyeon sadar kalau Luhan tidak sungguh-sungguh memperhatikan ceritanya.

“Lulu-ya?” tegur Jiyeon.

“Ne?”

“Kau tidak mendengarkanku. Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Aku sedang berpikir, gadis mana yang bisa kuajak selingkuh, supaya kau punya alasan untuk bercerai denganku.”

Dan Jiyeon hanya tersenyum miris, haruskah rencananya bercerai ia lanjutkan dan semakin menyusahkan Luhan?

.

.

TBC

Be Sociable, Like and comment please!

Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

19 responses to “[Series] Will You Be My Bride? (7)

  1. halooo,
    aku pembaca baru,maaf baru sempat komen
    Suka banget sama ceritanya,, awalnya sih luhan cari2 kesempatan dalam kesempitan,, tapi nih jiyeonnya ng peka banget,masa ng tau sih kalau luhan suka sama dia,,apalagi chapter ini nyesek banget bacanya,alasan buat cerai aja, biar luhan yg kelihatan jelek, kurang baik apa coba, sini luhan sama aku aja,, hehehehe
    Makasih ff nya, next chapternya jangan lama2 ya

  2. yaampun miris banget sama luhan :(( kasian, dia nyoba tegar sampe kek gitu u.u baekyun kurang ajar banget jadi perusak rumah tangga orang…. sampe segitunya, plis jiyeon jangan bodoh pingin balik ke baekhyun u.u

  3. Jadi sedih melihat keadaan Luhan, Jiyeon kebangetan hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri tanpa memikirkan perasaan Luhan, pasti sakit banget buat Luhan, tapi masih sempatnya dia tersenyum. Jiyeon yang meng anggap pernikahan simulasi sedangkan Luhan kan serius, masak 2 bulan nikah mau bercerai, Jiyeon pikirkan Luhan juga ya, next lagi thor g tahan nyesek bingit membacanya

  4. ohh andwaee , jiyeon jgn pisah ma luhan ntar nyesal loh .
    ishh baekhyun ganggu aja dah , jiyeon jgn cerai kasian luhan nya huh
    pnasarann , next dtunggu thor . fighting

  5. Astaga jiyeon-ah, kau benar2 keterlaluan. Bahkan di saat spt itu yg luhan pikirkan adl spy dlm perceraian itu nama jiyeon tetep bersih. Sesek bacanya. Sini Luhan oppa sama aku aja, kita tanggung bersama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s