[Chaptered] Venom (Prolog)

Venom1

Thanks For Beautiful Poster by Leeyaaaa

Title: Venom (Prolog)

Author: @Miithayaaaa

Genre: Romance

Length: Chaptered

Main Cast:

  • CN BLUE’s Kang Minhyuk as Kang Minhyuk
  • F(x)’s Krystal as Jung Soojung

Support Cast:

  • . CN Blue’s Jungshin as Lee Jungshin
  • Kris/Wu Yi Fan

Rate: PG-16

Note:

FF ini terinspirasi dari salah satu novel yang aku baca, atau mungkin kalian juga pernah membacanya. Topik masalah mungkin sama, tapi keadaan dan jalan cerita adalah milik saya, dan Hyukstal milik kita semua. Selamat membaca…

 

***

 

“Keputusanku sudah bulat, Jungshin.”

Lelaki dengan mata dingin menatap asisten sekaligus sahabat di depannya tanpa ragu. Rahangnya mengeras, dia berdiri dari sofa yang telah menyaksikan kegelisahannya dari awal, meremas dokumen map merah ditangannya dengan kuat. Lalu pergi begitu saja.

“Kau akan menyesal, Minhyuk.”

 

***

“Hey.”

Soojung menatap bingung pada lelaki yang berdiri di hadapannya. Lelaki ini tidak seharusnya berada disini. Setelan serba hitam, rambut yang disisir rapi dan penampilan yang luar biasa elegan, dan tampan. Dia seharusnya tidak berada disini, tempat dimana dia sedang mencorat-coret semua ide yang ia tuangkan ke dalam kanvas.

Apa dia tersesat? Tidak mungkin, galeri ku tidak sebesar museum.

Entah tersesat atau bagaimana, lelaki itu bisa menemukan jalannya kemari, di ruangan belakang tempat dimana bagian paling penting dari galeri ‘Heaven’ milik Soojung.

“Apa Tuan tersesat?” Akhirnya Soojung bertanya, lalu meletakkan kuas beserta palet ke meja kecil sebelah kanvas. Untuk pertama kali dia merasa malu di depan seseorang dengan penampilannya yang kotor penuh dengan cat warni-warni, dan tempat yang berserakan, terutama seorang lelaki. Soojung tersenyum manis mengusir rasa malu dalam dirinya.

“Tidak. Aku sengaja ke bagian belakang untuk mencari siapa di balik lukisan-lukisan indah yang berada di depan, juga yang telah berhasil membawa perusahaanku dalam keuntungan.”

Keuntungan?

“Aku-“

Lelaki itu tersenyum melihat wajah kebingungan perempuan didepannya. “Lukisanmu, Happiness, telah membawa keuntungan yang besar untuk perusahaanku. Tuan Gerald, investor perusahaan kami sangat menyukainya. Dia bilang aku harus berterima kasih pada pelukis yang telah melukis lukisan sangat indah itu, karena tanpa lukisan itu dia tidak akan menerima tawaran kerja sama dari perusahaanku.” Lelaki itu tersenyum sejenak. “Ini seperti penyogokan terhadapnya.” Lalu terkekeh pelan.

Happiness?…” Soojung mengerutkan kening, mengingat sejenak. Semenit kemudian, matanya terbelalak kaget, dia spontan menutup mulutnya tak percaya. Jadi lelaki ini dari perusahaan Emerald,Ltd yang terkenal dengan produksi alat-alat elektronik dan hotel mewah, dan yang lebih mengejutkan, dia adalah pemiliki perusahaan tersebut dan membeli lukisannya.

“A-aku, minta maaf, aku.. tidak tahu anda dari.. hmm..” Dan untuk pertama kalinya, Soojung mengutuk dirinya karena gugup didepan pria.

Lelaki itu tersenyum lagi, membuat Soojung merasa tak berdaya hanya karena senyumnya. “Tidak apa, mungkin aku yang kurang terkenal.” Candanya, sebelum melanjutkan. “Terima kasih atas keuntungan darimu, Tuan Gerald benar-benar menyukai lukisanmu.”

Soojung terkekeh pelan, lalu menyelipkan sehelai rambut ke belakang terlinganya, gugup. “Bukan, bukan karena lukisanku, itu hanya lukisan sederhana, tidak ada ke istimewaan dari lukisan tersebut. Mungkin, itu Tuan yang memiliki kemampuan yang luar biasa membuat investor ingin bergabung dengan perusahaanmu.” Soojung tersenyum merendah.

“Tapi tetap, lukisanmu sangat indah. Seindah orang yang melukisnya.”

Soojung tak mengerti kenapa jantungnya berdebar cepat saat ini, dan dia merasa pipinya panas karena pujian. “Terima kasih.”

“Aku Minhyuk, Kang Minhyuk.” Ucap lelaki itu, mengulurkan tangan, memperkenalkan diri.

Lama Soojung menatap uluran tangan Minhyuk. Dia takut akan mengotori tangan Minhyuk dengan cat-cat sisa di tangannya. Tapi jika dia tidak menerima, bukankah sangat tidak sopan?

“Aku bukan maniak pembersih, aku lebih senang jika cat-catmu mengenai tanganku.” Sela Minhyuk tahu kebingungan Soojung.

Soojung tersenyum, menerima uluran tangan Minhyuk. “Soojung, Jung Soojung.”

“Senang berkenalan denganmu, Soojung-ssi.”

***

Galeri Soojung adalah warisan dari ibunya yang dari dulu sudah di bangun ibunya dengan susah payah. Setelah lulus dari Universitas di bidang seni rupa, Soojung fokus untuk mengembangkan hobi melukisnya dengan mengurus galeri dan menjual lukisan-lukisan hasil karyanya. Awalnya memang sulit, karena ibunya dulu melukis untuk diri sendiri dan menjual lukisan hanya ditempat dilingkungan rumah mereka saja. Tapi sejak ibunya meninggal, Soojung berusaha mengembangkannya, dengan di bantu Kris, sahabat kecilnya yang berdarah Chiness yang memiliki kemampuan di bidang marketing. Mereka membuat rencana pameran kecil untuk memperkenalkan lukisan-lukisan Soojung dan lukisan ibunya dulu untuk menarik para pembeli dan peminat lukisannya. Pada akhirnya ada beberapa peminat dari lukisannya, bahkan ada yang menjadi pelanggan tetap untuk memesan lukisan Soojung.

Galeri Soojung semakin terkenal bukan hanya karena lukisan-lukisan indah darinya. Kelas seni yang ia bangun untuk mengajarkan anak-anak seusia dini pun semakin ramai. Dan sekarang dia dan Kris sudah bisa membuat pameran yang lebih besar untuk memperlihatkan lukisan Soojung tidak hanya di kota Seoul, tetapi juga diluar kota Seoul.

Tak disangkanya, sang peminat yang memiliki perusahaan terkenal menemuinya secara langsung dan pribadi karena lukisannya. Pipi Soojung terasa memerah mengingat senyum Minhyuk, tetapi segera dia menepuk pipinya menyadarkan diri. Minhyuk memuji lukisannya, bukan dirinya.

***

“Hey, lagi, Soojung.”

Soojung hampir saja menjatuhkan lukisan yang baru ia selesaikan ketika mendengar suara berat itu lagi. Dia menoleh dan terkejut melihat Minhyuk yang sudah berdiri di depan pintu gudang.

Apa yang dia lakukan disini?

“Aku tadi mencarimu di ruangan biasa kau melukis. Kekasihmu.. bilang aku bisa menemuimu disini. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

“Kris, bukan kekasihku.” Soojung membenarkan kata-kata Minhyuk. “Dia temanku. Jika Tuan ingin membicarakan soal bisnis, Tuan bisa membicarakannya dengan Kris.” Memang benar, segala urusan bisnis Kris yang mengatur, Soojung hanya melukis dan mengajarkan anak-anak.

“Aku sudah membicarakannya dengan Kris, tapi tetap saja aku ingin menemuimu. Kris bilang, masalah lukisan kau yang terbaik.”

“Ah, begitu.” Soojung mengangguk paham.

“Bisakah kita membicarakannya sambil makan malam? Makan malam informal saja, aku akan menjemputmu nanti.” Minhyuk melihat keraguan dia mata Soojung. Dia takut bahwa Soojung akan curiga karena makan malam sebagai tameng Minhyuk untuk mengenal Soojung lebih dekat. Sebenarnya bukan itu saja, Minhyuk benar-benar ingin membicarakan tentang lukisan yang akan dia letakkan di bangunan baru tempat hotelnya di bangun.

Pada akhirnya Soojung, menerima tawaran Minhyuk. Dia tidak menyangka, makan malam kemarin, menjadi makan malam kedua, ketiga dan seterusnya, yang membuat mereka semakin dekat.

***

“Aku sangat senang bertemu denganmu dan menghabiskan waktu denganmu, Soojung-ah.” Minhyuk menatap Soojung lembut, pada makan malam akhir pekan mereka.

Sudah hampir empat bulan mereka berhubungan, sejak pembicaraan lukisan yang berlanjut dengan kontrak dua tahun bahwa Soojung akan menyewa hotelnya untuk setiap pameran yang akan dilaksanakan.

Hampir setiap hari, selarut apapun Minhyuk selesai dari pekerjaannya. Minhyuk selalu mampir ke galeri Soojung dan mengajaknya untuk meminum teh sejenak dan berbincang bahkan Minhyuk sering menggoda Soojung. Mereka sangat cocok disetiap pembicaraan, seperti film dan musik yang menemukan mereka bahwa mereka menyukai genre yang sama. Setiap saat mereka bersama, sangat menyenangkan dan terasa begitu cepat. Hingga ketika mereka berpisah, Soojung sudah merindukannya begitu cepat dan tak sabar untuk melihat Minhyuk keesokan harinya.

Soojung tidak pernah berpikir bahwa Minhyuk memiliki perasaan untuknya. Tetapi kemudian sahabatnya, Kris, menggodanya. Mengatakan kalau Minhyuk tidak hanya terarik dengan lukisan Soojung saja, tetapi juga menyukai Soojung. Bisa saja, kan, urusan bisnis di serahkan ke asistennya, tidak perlu CEO yang langsung berurusan langsung dengan bisnis sekecil ini, sampai mengajak Soojung makan malam hampir setiap minggu.

Dalam empat bulan perkenalan mereka, mereka semakin dekat dan mengenal satu sama lain. Seperti halnya Soojung, Minhyuk juga tidak memiliki ayah yang meninggal karena penyakit jantung. Minhyuk masih memilik ibu yang tinggal terpisah dengannya, sedangkan Soojung, ibunya sudah meninggal sekitar dua tahun yang lalu.

Malam ini, entah kenapa Minhyuk sedikit aneh. Lelaki itu banyak berdiam diri dan tidak penuh canda seperti biasanya. Ketika mereka sampai di restoran jepang, Minhyuk telah mengatur semuanya, makan malam romantis dan mewah, tidak seperti makan malam mereka biasanya.

Sekarang, Minhyuk menatap Soojung dengan tatapan serius dan penuh kelembutan. Minhyuk mengambil tangan Soojung, dan meremasnya lembut.

“Aku mencintaimu, Soojung. kau mungkin tidak percaya cinta pada pandangan pertama, tapi aku merasakannya. Semakin aku mengenalmu, aku merasa yakin bahwa aku memiliki perasaan untukmu, Soojung. aku ingin menjagamu, aku ingin mengahabiskan hidupkan denganmu, menjadi tua bersamamu.” Ucap Minhyuk dengan kesungguhannya. Lalu mengambil kotak cincin di saku jasnya, membukanya yang membuat Soojung terkejut melihat cincin berlian yang berkilauan.

“Jung Soojung, aku mencintaimu. Menikahlah denganku.”

Mulut Soojung terbuka, tapi tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Jantungnya berdetak cepat seakan berpacu dengan balapan mobil.

“Apa kau serius, Minhyuk?”

Minhyuk menganggukan kepalanya mantap. “Aku mencintaimu, Soojung.”

“Tapi.. Kita belum mengenal lama, Minhyuk.”

“Tidak perlu waktu lama untuk mengenal cinta sejati, Soojung.” Jawab Minhyuk mantap. “Aku akan menjadi lelaki yang paling bahagia, kalau kau menerima lamaranku, Soojung.” Ucapnya penuh harap, dengan binar di matanya.

Soojung menelan ludah, perasaannya terlalu senang. Tentu saja, dia juga mencintai Minhyuk, setelah kebersamaan mereka telah menumbuhkan benih-benih cinta yang semakin lama semakin kuat.

Tiba-tiba matanya terasa panas, dan bulir-bulir air mata bahagia menyeruak untuk keluar dari sudut matanya. Soojung menghela napas, dia akan mengambil keputusan terpenting dalam hidupnya, dan lamaran Minhyuk benar-benar membuatnya bahagia.

“Ya, Minhyuk. Aku akan menikah denganmu.” Jawabnya tulus dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya.

Minhyuk memejamkan matanya lega. Dia benar-benar jantungan menunggu jawaban Soojung. Minhyuk mengecup lembut jemari Soojung, berkata “Aku mencintaimu, Soojung.”

“Aku juga mencintaimu, Minhyuk.”

***

Disudut kamar dalam kegelapan temaram, perempuan itu duduk di kursi roda. Matanya yang melihat ke arah luar jendela tampak kosong dan kehilangan.

Lalu, pintu terbuka dan seorang lelaki memasuki kamar. lelaki itu tersenyum, sebelum berlutut dan dengan lembut meletakkan kepalanya di atas pangkuan perempuan itu. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya memejamkan mata, merasakan kelembutan jemari perempuan itu mengelus kepalanya, meskipun tanpa mengalihkan tatapan kosongnya dari luar jendela.

To be continue…

 

Deng!! Disinii satu cerita hyukstal chaptered!! Yeeeaah!!

Setelah mempertimbangkan sana sini *halah, akhirnya aku memutuskan untuk membuat ff chaptered, hahaha. Sebenarnya aku takut, karena nntinya aku membiarkan ini begitu saja, aku seorang penulis yang sering terkena block writer, hahaha. Dan sering terjadi ketika satu cerita belum selesai, cerita baru muncul, *ditabok. So, berikan saya semangat kalian melalui komentar, jadi saya terdorong untuk menyelesaikannya, *bahasaku men!!

Berikan pendapat kalian tentang prolog ini, dan terima kasih buat silent readers yang uda mau nyempatin baca ff geje ku ini, karena apalah arti seorang penulis tanpa pembaca. Hahaha.

Thankyou so much🙂

54 responses to “[Chaptered] Venom (Prolog)

  1. Pingback: [Chaptered] Venom (Part IV) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s