[Chaptered] Digital Love (Chapter 2)

digital-love

TITLE : DIGITAL LOVE
LENGTH : CHAPTERED
GENRE : AU, ROMANCE
RATING : T

STARRING
BLOCK B ZICO AS WOO JIHO
OC AS SUNG HYEWON

MENTIONED
PARK KYUNG (BLOCK B KYUNG) ; 
IM HYENA (OC) ; KIM MYUNGSOO (INFINITE L) ;
PARK EUNYOUNG (OC) ; PARK SIHOO


poster by:
simpleshine @ PosterChannel



Previous Chapter
(1)


 

Kedua mempelai yang sedang berbahagia itu, Park Eunyoung dan Park Sihoo, kini berdiri membelakangi para tamu undangan, memperlihatkan bagian belakang dari gaun Eunyoung, rupanya tidak kalah indah dari bagian depan gaun yang ia kenakan tersebut.

Di bawah panggung yang diisi oleh kedua mempelai beserta kedua orangtua dari kedua belah pihak berdiri berdesakkan para tamu undangan, rata-rata adalah kaim hawa. Mereka semua menanti bucket bunga yang akan dilemparkan oleh mempelai wanita. Karena gossipnya, orang yang mendapatkan bucket bunga yang dilemparkan oleh mempelai wanita maka dalam waktu dekat akan menikah.

Jiho menoleh kepada gadisnya yang hanya berdiri di sampingnya kemudian bertanya, “Wonnie, kau tidak maju? Hyena saja ada di depan sana.”

Hyewon hanya menggeleng, ia tidak tertarik pada hal seperti ini dan lagipula ia tidak percaya mengenai takhayul mengenai bucket bunga.

“Padahal kalau kau maju siapa tahu kau dapat bunganya.” Jiho tertawa.

Melihat tidak ada respon dari Hyewon, Jiho menggerakan lengannya yang berukuran cukup besar itu untuk merangkul sang kekasih dan kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga kiri Hyewon. “Kalau dapat siapa tahu kita bisa menikah sesegera mungkin.” Woo Jiho kini sedang menggoda gadis kesayangannya.

Sebagai respon, kedua pipi Hyewon bersemu merah. “Aish, jinjja. Oppa percaya pada hal seperti itu eoh?”

Jiho terkekeh pelan. Selama mereka berpacaran tentu saja ia sudah sering sekali menggoda Hyewon. Namun entah mengapa dan bagaimana Jiho tidak pernah bosan melihat reaksi Hyewon ketika ia menggoda gadis bertubuh mungil itu.

Lelaki berambut blonde itu menatap dalam kepada Hyewon, seperti biasa. Dan Hyewon, seperti biasa juga, berpura-pura tidak menyadari tatapan dalam kekasihnya itu. Jiho mengusap-usap rambut Hyewon dan tidak bisa menyembunyikan tawanya ketika melihat Hyewon mulai menggigiti bagian bawah dari bibirnya sendiri. Hanya ada dua arti dari hal yang dilakukan Hyewon tersebut. Yang pertama adalah malu, dan yang kedua adalah grogi.

“Jiho, Hyewon! Maaf menganggu sebentar!” Myungsoo entah sejak kapan muncul di hadapannya keduanya dan hal itu tidak dapat dipungkiri lagi mengangetkan Jiho dan Hyewon.

“Ya! Aku tau kau butuh bantuan. Tapi tidak perlu mengangetkanku seperti itu! Neo jinjja…” Jiho menghela napas seraya mengusap-usap dadanya sendiri dengan tangan kirinya tanpa melepaskan rangkulan tangan kanannya di bahu Hyewon.

Myungsoo tertawa melihat respon Jiho. Menurutnya itu agak sedikit berlebihan tetapi tetap saja itu sangat lucu.

“Apakah salah satu dari kalian tidak keberatan memanggilkan Hyena untukku? Katakan padanya nyonya Im sudah meneleponku untuk segera membawa Hyena pulang. Aku sekarang akan  mengeluarkan mobilku dulu dari tempat parkir dan aku akan menunggunya di depan, di tempat drop off. Tolong katakan padanya untuk bergegas.” Ujar Myungsoo, senyuman khas miliknya terlukis di wajahnya setelah ia selesai berkata.

Alright. Biar aku saja yang panggilkan nona Im.” Jiho melemparkan senyum pada Myungsoo yang kini tengah berjalan mundur menuju ke pintu keluar hall.

You wait here baby. I’ll be right back.” Jiho mencium kening Hyewon sebelum kemudian melangkahkan kakinya mendekati panggung kedua mempelai.

.

.

.

Kerumunan para tamu undangan di depan sana bukan main banyaknya. Jiho menggeleng-gelengkan kepalanya, dari kejauhan jumlahnya tidak sebanyak ini. Lelaki berbibir seksi itu akhirnya berdesak-desakkan dengan beberapa tamu undangan lain.

“Astaga.” Jiho sedikit mengerang frustasi.

“Permisi, nona-nona. Permisi! Saya ingin lewat!” ujar Jiho dengan lantang, berharap ia didengar.

Dengan gerakan yang terbatas Jiho berusaha menuju ke tempat Hyena berdiri, tempatnya cukup depan, sambil dengan sekuat tenaga menghindari diri dari menabrak maupun menyenggol tubuh para kaum hawa yang berdesak-desakkan.

“Satu.. Dua.. Tiga!” Terdengar suara MC yang sedang menghitung dan diikuti oleh suara teriakan para perempuan.

Tiba-tiba saja Jiho merasakan sesuatu mendarat di atas kepalanya yang menyembul keluar dari kerumunan, maklum tingginya 180cm. Dengan sigap Jiho meraih benda tersebut. Belum sempat melihat benda apa yang kini ada dalam genggaman tangannya, Jiho mendengar namanya dipanggil oleh Eunyoung yang berdiri di atas panggung.

“JIHO! WOO JIHO! KAU MENDAPATKAN BUNGANYA!!”

Jiho melongo. Ia kemudian melihat benda yang ia genggam. Benar, itu adalah sebuah bucket bunga cantik yang sedari tadi dipegang oleh mempelai wanita.

“CEPAT NAIK KE ATAS SINI DAN BERIKAN PIDATO TENTANG RENCANA PERNIKAHANMU!” Dari suaranya siapapun tahu bahwa Eunyoung, si mempelai wanita sedang kegirangan.

All eyes on him. Jiho dapat merasakan ia sedang ditatap oleh banyak orang. Dengan sengaja ia memamerkan sebuah senyuman kemenangan sambil berjalan dengan mantap. Setelah tiga langkah, ia berbalik ke belakang, mengangkat bucket bunga dan menggoyang-goyangkannya, tepatnya melambaikan benda tersebut kepada Hyewon.

Baby. Let’s get married as soon as possible.”

Suara riuh langsung memenuhi ruangan. Hyewon yang sebenarnya sudah tidak bisa berdiri di atas kedua kakinya sendiri karena lemas hanya bisa menunduk menyebunyikan rona merah pada kedua pipinya.

Melihat Hyewon yang tertunduk malu, Jiho langsung tersenyum dan tanpa basa-basi ia berlari menuju ke panggung dan melompat naik ke atas. Dengan sopan ia menerima mic yang diberikan oleh MC kepadanya.

Yo! Wassup everyone? Seperti yang kita ketahui, hari ini adalah hari paling bahagia untuk Park Sihoo sshi dan Yoon Eunyoung, yang sekarang sudah menjadi Park Eunyoung sshi. Ya. Hari ini adalah hari dimana mereka saling mengucap janji untuk saling setia pada satu sama lain untuk selamanya. Dan, aku ingin sekali hari itu tiba padaku dan yeoja chingu ku, Sung Hyewon.” Ujar Jiho. Pernyataan yang tanpa jeda panjang itu menandakan bahwa ia adalah seorang rapper yang cukup handal.

Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan membuat Hyewon yang sedari tadi terdiam tidak tahu harus berbuat apa.

“Park Sihoo gyosu, Eunyoung-ah! Selamat berbahagia!” Jiho menjabat tangan kedua mempelai sebelum ia menyerahkan kembali mic kepada MC dan ia pun melangkah hendak menuruni panggung.

Namun belum sampai kakinya pada tangga, ia kembali mendekati MC dan menarik mic sedikit dari tangan sang MC. “Im Hyena, pangeranmu Kim Myungsoo sudah menantimu di tempat drop off. Kau sebaiknya bergegas kesana kalau kau tidak mau ditinggal pulang.”

Gelak tawa terlontar dari mulut para tamu undangan dan juga kedua mempelai. Sedangkan Im Hyena mengangkat sedikit bawahan gaun yang ia kenakan dan berlari keluar dari dalam hall menuju ke tempat drop off.

*********************

Jiho membukakan pintu mobil dan mempersilakan Hyewon untu masuk ke dalam. Dengan anggun Hyewon menaiki mobil. Tanpa berkata-kata Jiho meletakan tangannya di atas kepala Hyewon, mencegah kepala Hyewon mengenai bagian atas pintu mobil. Cara Jiho memperlakukan Hyewon mungkin terlihat seperti cara seorang ayah memperlakukan anaknya, tetapi coba katakan, siapa yang tidak ingin diperlakukan seperti itu oleh pasangannya?

Secara perlahan namun pasti Jiho menutup pintu mobil dari luar dan melangkah ke sisi mobil yang satunya tempat pintu untuk bangku pengemudi berada. Ia masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobilnya.

Selang beberapa menit kemudian mesin mobil menyala. Lengan panjang Jiho mulai mengatur temperatur AC pada mobil.

“Apakah cukup?”

Hyewon mengangguk. “Iya oppa. Ini cukup sejuk.”

“Sudah memakai seatbelt?” tanya Jiho seraya mengalihkan tangannya dari AC controller ke tangan Hyewon dan menggenggamnya erat.

“S-sudah.” jawab Hyewon, suaranya sedikit bergetar.

Sudah amat sering Jiho memegang tangannya, memeluknya, mencium kening dan pipinya, namun tetap saja setiap Jiho melakukannya lagi Hyewon tidak dapat mengontrol perasaannya. Ia merasa seperti sedang berada di langit tingkat ketujuh. Singkatnya ia masih merasa degdegan.

Mobil dengan jenis sedan berwarna hitam itu pun mulai melaju. Keadaan di dalam mobil sangatlah hening, yang terdengar hanyalah suara mesin mobil dan terkadang terdengar suara lembut hembusan napas Hyewon dan Jiho. Walaupun keadaan hening tetapi keduanya menikmatinya. Ya, keduanya menikmati waktu mereka bersama. Saling merasakan secara mendalam kehadiran satu sama lain di sisi satu sama lain. Belakangan ini baik Jiho dan Hyewon sama-sama sibuk. Tetapi untungnya sekarang sudah zaman digital, di mana ada gadget yang memungkinkan keduanya untuk saling berhubungan baik melalui e-mail, telepon, maupun SNS.

Dengan sengaja Jiho tidak menempatkan mobil di lajur kiri karena lajur sebelah kiri hanyalah untuk kendaraan yang akan dikemudikan dengan cepat. Tidak, ia tidak mau. Walaupun Hyewon tidak mengatakannya tetapi Jiho tau bahwa mereka sama-sama ingin meghabiskan waktu untuk bersama lebih lama lagi.

“Wonnie, bagaimana kuliahmu? Lancar kan?” Jiho memecah keheningan.

“Begitulah oppa. Sejauh ini semuanya lancar. Ada asisten dosen baru yang sedikit menyebalkan tetapi itu tidak begitu mempengaruhiku.” Hyewon menjawab sambil menatap ke arah kekasihnya yang pandangannya fokus memperhatikan jalanan.

Bukan hanya Jiho saja yang suka memperhatikan kekasihnya. Hyewon juga secara diam-diam sering melakukan hal itu. Ia tidak peduli Jiho menyadarinya atau tidak, tetapi akan lebih melegakan baginya apabila Jiho tidak menyadarinya.

Sifat iseng memang sudah merupakan bawaan lahir Jiho. “Wonnie-ah, katakan padaku. Apakah aku begitu tampan sampai kau daritadi memperhatikan wajahku?”

Hyewon langsung mengalihkan padangannya. Tanpa harus melihat pun Jiho tahu bahwa kini Hyewon sedang tersipu. Mereka sudah bersama cukup lama dan hal itu membuat mereka mengenal betul satu sama lain.

Sebuah tawa keluar dari mulut Jiho sedangkan dari mulut Hyewon keluar gerutuan-gerutuan.

Mobil berhenti ketika lampu merah muncul di salah satu mata yang dimiliki oleh lampu lalu lintas. Kesempatan seperti ini tidak pernah dilewatkan oleh Jiho. Setiap kali berhenti di lampu merah, Jiho akan terus menatapi Hyewon sampai gadis itu merengek, meminta Jiho untuk berhenti menatapinya.

Oppa kumohon jangan mulai.” Hyewon yang sudah hapal dengan pola ini mencubit lengan Jiho.

“Hahaha! Iya maafkan aku. Habis kau manis sekali.” ucap Jiho.

“….”

“Hahaha! Maafkan aku sayang.”

Berbeda dengan biasanya, kali ini Jiho mencondongkan badannya pada Hyewon yang duduk di sebelahnya dan menempelkan bibirnya pada pipi gadis itu.

Next time please prepare yourself. Don’t faint when I-

O-Oppa! Lampunya sudah hijau!” Dengan sedikit panik Hyewon mendorong pelan wajah Jiho menjauhi wajahnya.

Jiho bergegas menancap gas karena ia paling tidak suka apabila ada kendaraan di belakangnya membunyikan klakson.

“Hey, mau ku lanjutkan tidak perkataanku tadi?” goda Jiho.

“Tidak! Aku tidak mau!” Kedua tangan Hyewon menempel pada kedua telinganya.

“Aku sudah tahu kelanjutannya dan tidak mau dengar.” Hyewon menggelengkan kepalanya cepat.

“Haha! Oh ya? Coba katakan apa kelanjutannya.”

“Tidak mau!”

“Berarti kau tidak tahu hahaha.”

“Aku tahu kok.” Hyewon bersikeras.

“Baiklah, kalau begitu apa?”

“….”

“Ayolah Wonnie hahaha. Ayo coba kita test apakah kita benar-benar terhubung.”

“….”

Next time please prepare yourself. Don’t faint when I kiss your lips.Apakah seperti itu?”

Aish oppa jinjja. Berhenti menggodaku! Aku tahu tadi kau akan berkata seperti itu!”

Jiho tidak dapat menahan tawanya yang kini sudah meledak memenuhi mobil. Ia benar-benar berpikir bahwa Hyewon sangatlah menggemaskan. Walaupun kesan pertama yang ia dapat ketika pertama kali bertemu dengan Hyewon adalah bahwa Hyewon merupakan seorang perempuan macho, Jiho tidak kecewa. Ia merasa bahagia bisa mengenal seorang Sung Hyewon. Orang yang ia yakini adalah the one and only untuknya.

*********************

Hyewon menutup pintu mobil dan kemudian melambai kepada Jiho yang berada di dalam mobil. Kaca jendela mobil yang terbuka memungkinkan keduanya untuk saling dapat melihat satu sama lain dan Jiho pun balas melambai sambil memaerkan senyum khas miliknya.

Annyeong Wonnie. Jaljayo.”

Ne oppa annyeong. Jaljayo!” sahut Hyewon.

Hyewon mulai melangkah menaiki tangga yang menuju ke pintu masuk kediaman keluarga Sung.

“Ah, baby! Tunggu sebentar!” Dengan sedikit berteriak Jiho kemudian bergegas keluar dari mobil dan menghampiri Hyewon.

Hyewon menoleh kepada Jiho, memberikan tatapan bingung. Apakah ada barangnya yang tertinggal di dalam mobil? Tetapi Hyewon tidak merasa meninggalkan barang apapun.

Jiho kini berdiri di hadapannya. Kedua mata Hyewon membulat karena ia tidak pernah melihat Jiho seperti ini. Lelaki itu tengah mengusap-usap tengkuk lehernya dan ia menggigit bagian bawah bibirnya. Tak lama kemudian Hyewon dapat melihat rona merah pada wajah lelaki itu, salahkan kulitnya yang berwarna terang.

“Malam dua hari lagi…. Apa… Apa kau ada waktu?” Jiho akhirnya membuka mulutnya.

Hyewon mengangguk, masih menatap kekasihnya dengan heran. “Eung, tentu. Ada apa oppa?”

Kedua tangan Jiho langsung menggapai kedua tangan Hyewon, amat erat dan menarik kedua tangan Hyewon mendekati dadanya.

“Kalau begitu, malam dua hari lagi, tepat jam tujuh malam aku akan menjemputmu. Arraseo?”

“Eh? Apakah ada acara pernikahan lagi?”

Jiho menggeleng pelan. “Tidak ada acara pernikahan, Wonnie. Aku ha-”

“Oh! Apakah oppa mau mengajakku ke taman bermain?”

“B-bukan itu. Kalau kau mau ke taman bermain bagaimana kalau minggu depan? Akan ada taman bermain baru yang dibuka di daerah Y.”

“Eh? Jinjja? Baiklah! Ayo!” Hyewon mengangguk dengan semangat.

“Baiklah, baiklah. Aku akan kosongkan jadwalku untuk minggu depan. Tapi, untuk malam dua hari lagi, aku hendak mengajakmu untuk dinner bersama.”

Hyewon memiringkan kepalanya. “Dinner bersama? Dengan siapa? Apakah ada teman oppa yang ulang tahun?”

Jiho menahan tawa yang hampir lepas.

‘Bersikaplah serius, Woo Jiho. Kali ini saja! Cobalah untuk serius!’ ujar Jiho dalam hati.

“Aku hendak mengajakmu, Sung Hyewon, unruk dinner denganku. Hanya ada aku dan dirimu. Sebuah candle-light dinner.” akhirnya. Dengan susah payah Jiho melontarkan hal tersebut.

Harus ia akui bahwa dirinya bukanlah tipe lelaki romantis dalam kata-kata. Makannya tadi wajahnya memerah karena ia malu akan kata-kata yang harus ia keluarkan dari mulutnya, kata-kata yang sudah ia rencanakan untuk ia katakan sedari pagi hari tadi.

Hyewon diam.

“Tidak boleh menolak. Alright? Kau tadi sudah bilang kau ada waktu.” ujar Jiho sedikit panik.

“Hahaha! Siapa yang mau menolak? Tentu saja aku mau oppa.”

“Oh, syukurlah.” Jiho menghela napas lega.

Melihat respon Jiho yang seperti itu, ide jahil muncul di benak Hyewon. Gadis itu pura-pura marah. Ia menarik kedua tangannya dari genggaman Jiho dan mulai melipat kedua lengannya di depan dada. Hyewon memalingkan wajahnya.

Mwo? Kau kenapa Wonnie-ah?” tanya Jiho yang bingung melihat tingkah kekasihnya itu.

“Masa respon oppa hanya seperti itu?”

Selang beberapa detik kemudian Hyewon dapat mendengar lolongan yang berasal dari mulut Jiho. “YESS! WOOHOO!”

Hyewon tertawa.

“Kau ingin aku merespon seperti itu baby?” Jiho dengan gemas mengacak-ngacak rambut Hyewon.

“Baiklah kalau begitu. Good night Wonnie.” Jiho mendekatkan dirinya pada Hyewon dan memeluk gadis itu dengan erat.

Ne oppa. Good night.”

Hyewon mengusap kedua belah pipi Jiho ketika pelukan Jiho sudah terlepas. Tanpa menunggu lebih lama Jiho mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Hyewon, kecupan yang sangat lembut seolah adalah sebuah lagu pengantar tidur dan menyebabkan kedua mata Hyewon terpejam.

“Hati-hati di jalan ya oppa.”

Don’t worry. Sekali lagi, jaljayo Wonnie-ah.”

Hyewon mengangguk seraya berjalan menjauh dari Jiho. Ia melambaikan tangannya pada Jiho sambil tersenyum dan vice versa.

Bertepatan dengan Hyewon yang memasuki pintu kediaman Sung, Jiho masuk ke dalam mobil miliknya. Dan tidak lama kemudian mobil itu melaju menembus kegelapan malam.

-TBC-

author’s note:
Halo halo, bertemu lagi dengan saya!❤
Akhirnya aku update juga fanfic ini.
Mohon maaf untuk yang sudah lama menunggu TT
Jangan lupa feedbacknya ya ^^

2 responses to “[Chaptered] Digital Love (Chapter 2)

  1. senengnya pas buka ffindo udah ada chapter 2 ff ini.manis banget ya zico di sini.aku maulah jadi Hyewon.haha.Jadi penasaran nih bakal kaya gimana candle light dinnernya mereka berdua.ditunggu kelanjutannya ya…fighting

  2. Miss bisa anggap Hyewon itu Miss kok, aku juga sering gitu #plak kkk
    terima kasih sekali sudah mau baca dan ninggalin jejak Miss❤
    gomawo juga untuk supportnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s