[One shot] Story of Us

argh

Title: Story of Us

Author: Sylvialf/sylf00

Cast(s): Super Junior’s Kim Jongwoon and OC’s Park Minrin

Genre: Romance

Length: 1000+ word(s)

Rating: PG-15 (entah…)

Disclaimer: god only mine my casts.

Note: ini aku post di blog pribadiku, jadi jangan aneh kalo pas search di gugel ada juga di https://sylf00.wordpress.com/2015/07/23/ffstory-of-ye-rin-couple/ wkwk😀 ~

Selamat membaca…

 

 

Minrin masih asik menatap monitor komputernya, di meja kerja kantornya. Beberapa kali, ia mengetikkan sesuatu, dan mengirimkan lewat email. Tentu saja pekerjaannya. Setelah menurutnya selesai, ia membuka kacamata minusnya dan merenggangkan badannya.

“hah, bukankah sekarang dia kembali?” minrin mengecek ponsel yang berada di samping komputer. Ia membuka pesan, dan mengirimkan pesan pada kekasihnya.

To; Woonie

Apa kau sudah kembali,?

            Send

Sambil menunggu balasan, Minrin membereskan kertas-kertas yang bertumpuk di meja kerjanya. Dan mengambil tasnya, lalu segera pulang.

***

Drrt drrt

Minrin segera menghentikan kegiatan mengeringkan rambutnya dengan handuk, dan segera melihat ponselnya.

“siapa yang menelpon semalam ini?” gumamnya, dan terdengar jeritan histeris saat Minrin melihat sang penelpon.

“Woonie!” ucapnya.

ugh, semangat sekali….” terdengar kekehan dari sebrang telpon sana, Minrin hanya mengembungkan pipinya sedikit.

“huh, oh iya kau sudah disini?”

tentu honey, tapi lusa aku ada pemotretan majalah”

“apa?” raut wajah Minrin sedikit berubah.

“tidak usah kaget seperti itu. Besok ke kedai ku ya, aku akan membicarakan sesutu. Cepat tidur sana, saranghae”

“Nado eum~” Minrin mengerutkan kening bingung. Sebenarnya apa yang ingin kekasihnya itu sampaikan?

Minrin melanjutkan kegiatannya yang tadi tertunda, dan segera tidur.

***

Kringg~!!

Bel pintu terdengar nyaring, saat seorang wanita memasuki kedai tersebut. Wanita berumur 24 tahun itu, menatap laki-laki yang berada di counter pemesanan. Namun, tak berapa lama, sang laki-laki menyadari keberadaanya.

“Hai honey” sapa nya, namun segera melirik ke arah pelanggannya dan membantu menyiapkan pesanan. Untungnya, tidak banyak clouds disini, kalau iya, mati lah Minrin tidak bisa masuk!

“ck!” Minrin berdecak kesal. Dan berjalan ke arah termpat duduk di pojok kiri depan. Dia mengeluarkan ponselnya, dan sedikit menyibukkan diri.

“hei, ini punya mu, Latte” ucap Jongwoon menentuhkan karton kopi ke pipi wanitanya.

“aku ingin capucino, sebaiknya kau menyogokku dengan itu, bukan latte, Jongwoon” sewotnya dan mengambil latte, lalu meminum setengahnya.

“lihat ini, biasanya aku tak mau menghabiskan ini, dan sekarang lattenya tinggal setengah” lanjutnya, Jongwoon hanya terkekeh pelan. Lantas, jongwoon mendudukkan dirinya di kursi depan kekasihnya.

“besok aku sudah bilang ada pemotretan, aku ingin mengajakmu, kau mau?” tanya Jongwoon tanpa basi-basi, dan tanpa menyebutkan tempatnya.

“memang bukan di Seoul?” Minrin mengerutkan kening bingung, dan menatap lawan bicaranya.

Jongwoon menggeleng, dan tersenyum.

Ugh, sungguh Minrin bisa gila jika kekasihnya itu memperlihatkan senyuman, yang menurutnya sangat menawan?

“jadi?” Jongwoon mengendikkan bahunya.

“ikut saja, kita disana 4 hari, aku yakin kau akan menikamtinya.”

“apa? 4 hari? Kau gila, aku kan bekerja” decak Minrin sebal. Bukannya senang kekasihnya pulang, Minrin malah berteriak-teriak tak tahu diri di depannya.

Tapi, entah ini daya tarik Minrin atau bukan, yang pasti Jongwoon memang sangat-amat-banyak-banyak mencintai wanita kepalang cerewet, menyebalkan, dan sangat tak tahu dri. Jongwoon menggeleng samar atas lamunannya.

“aish cuti saja, bukan nya dalam sebulan kau ada cuti 4 hari? Habiskan pada waktu saja kan mudah” ucap Jongwoon santai. Minrin mengembungkan pipinya, dan menyeruput lattenya hingga habis.

“aku pikir kau tidak suka latte, honey” ucap Jongwoon sambil menyondongkan kepalanya untuk melihat latte di kertas karton coklat itu, sudah masuk ke dalam perut keksihnya.

“ini karna aku sedang kesal, hish” Jongwoon mengulum bibirnya menahan tawa. Dia menatap geli kekasihnya tersebut. Ini daya tariknya -menurut Jongwoon.
“Baik, besok aku tunggu di bandara sayang, jam 7 sudah ada disana okay.” Minrin hanya mengangguk sebagai balasan.
Tapi, tak sampai disitu, mereka mengobrol dan saling menyalukan keinduan yang terpendam. Sampai jam istirahat Minrin habis.
***
“hah hah! Jongwoon!” Minrin berlarian menerobos bandara, yang dipenuhi orang-orang dengan koper-koper besar, sepertinya.
“Hey lama sekali, 15 menit lagi, sayang.” Ucap Jongwoon kalem dan segera mengusap punggung kekasihnya, dan memeluknya lembut.
“lelah ya?”
“tentu saja, aku lupa tidak pasang alarm, hish” gerutunya.
Beberapa menit kemudian, pengumuman dari pramugari disana bersuara. Minrin, Jongwoon, Jongjin, dan yang lainnya, segera berjalan memasuki pesawat.

“hey.. Sayang, sudah sampai, nyenyak sekali.” Jongwoon terkekeh, dan mengusap-usap pipi Minrin berkali-kali.
“eumhh..” Minrin mengerjapkan matanya, dan segera sadar.
“Ayo turun.” Mereka pin bergegas turun.
Sementara Minrin yang tidak tahu di negara mana ini, mengerutkan kening.
“Sudahlah hyung, kasih tahu noona.” Ucap Jongjin tertawa geli, melihat Minrin yang kebingungan.
“Ini Indonesia.” ucap Jongwoon dengan santai, Minrin membelalakkan matanya.
“apa? Benarkah?” Jongwoon hanya mengangguk, dan berjalan mengajak Minrin keluar bandara.

*****

Hari pertama, Minrin sudah bosan. Mengingat dia hanya menemani Jongwoon, yang tengah pemotretan. Dia terus menggerutu, sampai-sampai dia tidak sadar di perhatikan Jongwoon dari sana. Yah, jaraknya mungkin tak jauh,sekita 3 meter dari tempat yang di duduki gadisnya. Ia menggeleng sambil tersenyun kecil, saat Minrin mengacuhkan keberadaan adiknya yang tengah mengajaknya bicara.
“Nuna, ada apa denganmu? Emosi mu naik ckck.” Minrin menoleh sekilas, sangat sekilas, sampai-sampai Jongjin tidak tahu seberapa buruk wajahnya saat ini.
Minrin membenarkan kacamata yang ia pakai, dan menatap Jongjin, dengan tatapan “Diam atau kubunuh kau!”. Entah dariman ia tahu tatapan yang -mungkin akan membunuhnya- Jongjin berlari menuju tempat ramai.

Satu jam berlalu, Jongwoon menemui gadisnya yang tertidur, dan sudah mengganti kacamatanya dengan kaca yang gelap.
“Hei.” Jongwoon membuka kacamata Minrin dan mengusap dahinya.

“Sudah selesai?” tanya Minrin -lalu mengumpulkan nyawanya.
“sudah honey,”
“ah sudah sore, langsung ke hotel saja ya.” lanjutnya, Minrin menyipitkan matanya dan tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya.
Ugh! Awas kau Jongwoon!
“Hey, aku minta maaf, sayang.” Jongwoon merangkul Minrin –mengajaknya berdiri. Minrin menghela nafas pelan, lalu tersenyum simpul. Hell, bagaimana pun juga Minrin tidak bisa marah padanya. Dammit.
*****
Sinar matahari yang masuk dari celah -ah bukan-, dari jendela yang gordennya sengaja Jongwoon buka. Minrin mendecak kesal, tentu saja tidurnya terganggu. Minrin membuka matanya, melihat sinar matahari yang dengan seenaknya masuk tanpa izin. Minrin mendengus kasar, lalu menyembunyikan mukanya dengan selimut. Bergerak memunggungi matahari -sekaligus kekasihnya.
Jongwoon yang sedari tadi terlihat asik dengan ponselnya, nampaknya terusik oleh gerakan Minrin.
“Morning baby” bisik Jongwoon tepat di telinga Minrin –setelah menyimpan ponselnya di nakas. Yang dibalas gumaman oleh kekasihnya.
Jongwoon tersenyum kecil. Lalu mengecup beberapa kali bibir gadisnya.
“hari ini jadwalnya ke pusat pembelanjaan, bagaimana, mau ikut?” Jongwoon mengulum bibirnya, mencoba untuk tidak tertawa. Mengingat pusat perbelanjaan yang ia sebutkan adalah -pasar tradisional. Minrin membelalakkan matanya, dan berbalik menghadap Jongwoon. Wajahnya berubah cerah, bahkan lebih cerah daripada sinar matahari yang masih -dengan tanpa izinnya- masuk je kamar mereka.
*****
Dua jam berlalu, dan sekarang mereka sudah berada di gerbang masuk pusat perbelanjaan -pasar tradisional.

Oh my god! Kim Jongwoon apa ini? Kau bilang pusat perbelanjaan, sumpah Jongwoon awas kau!” Minrin mengumpat sepanjang jalan dengan Jongwoon yang menggandeng -menyeret- dirinya.
“sudah sayang kau pasti suka haha” Dengan tanpa -atau- dengan sedikit rasa kasihan, Jongwoon terus menggandeng kekasihnya.
Dia suka disini. Disini aman, dengan tanpa adanya kejaran fans yang melelahkan, Jongwoon tersenyum senang. Namun, segera memudar, saat pekikan wanita -yang tak lain adalah kekasihnya- memekakkan telinga.
Jongwoon berbalik dan ya ampun, heels Minrin menginjak lumpur -yang ugh menurut Minrin
sangat menjijikan.
“Jongwoon!” Dia berjalan dengan tergesa-gesa namun sangat hati-hati,
“aku tidak suka tempat ini.” keluhnya -yang entah keberapa kali. Jongwoon mengulum bibirnya, menahan tawa karena melihat tingkah kekasihnya. Oke, dia sangat mengerti karena di tempat mereka, tidak -yah tidak terlalu seperti ini….
“Jangan terlalu banyak mengeluh, sayang.” Minrin menyipitkan matanya melihat Jongwoon.

Oh, ayo makan itu.” Ajaknya pada Minrin, dia menggandeng Minrin berjalan menuju -tukang bakso. Sebenarnya, Jongwoon tidak tahu apa itu, makanya -dia-harus-mencobanya!
“Apa?”
“Sudah ayo duduk.” Dengan sangat-sangat tepaksa, mereka memakan bakso -yang menurut Jongwoon, enak.

Minrin menyisir kawasan pasar dengan retinanya, lalu ia fokus terhadap sesuatu disana. Oh! Es krim, pantas saja.
“Woonie, Jongwoon!” Ucapnya pada Jongwoon yang masih memakan baksonya.
“eum?”
“aku akan kesana, untuk membeli es krim ya.” respon Jongwoon hanya mengangguk, dan itu membuat Minrin mengerucutkan bibirnya. Namun, segera kembali, saat ia ingat akan membeli kesukaannya itu.
*****
Setelah Jongwoon menyelesaikan makannya, ia segera berjalan mencari kekasihnya. Tapi, tunggu, dimana kekasihnya itu? Ugh! Jongwoon lupa kemana arah menuju kedai es krim yang Minrin tuju. Dengan langkah tergesa, ia berkeliling mencari kekasihnya.

Ugh! Jongwoon kau dimana.” Minrin membuang bekas es krimnya, dan berjalan dengan feelingnya.

Jongwoon berlari dengan sedikit kencang, karena ini pasar, dan jalanan yang dipenuhi lumpur. Jongjin, yang sedari pagi bersantai ria di hotel, langsung berangkat ke pasar saat kakaknya itu menghubunginya, dan memberitahunya -kekasihnya hilang!

Sore pun tiba, Minrin menemukan tempat -yang ia pikir cukup baik untuk berteduh. Iya tentu saja, ini adalah mcd yang berada kurang-lebih 100m dari jalan keluar pasar, air mukanya merengut kesal, nafasnya gusar sama dengan hatinya. Kenapa ia sampai lupa membawa ponsel! Itu bodohnya. Minrin kembali berdecak, namun ia segera menegakkan badannya, saat matanya yang sedari tadi meyisir jalanan. Mulutnya melongo, ditambah saat yang berada dalam pandangannya melihat kearahnya, matanya berbinar. Oh yes! Kim Jongwoon aku padamu! Teriak batin Minrin, saat lelakinya berlari kearahnya. Sungguh ia sangat amat merindukan lelaki ini. Tunggu, apa ia benar-benar merindukannya? Atau ia hanya ingin bertemu dengannya lalu kembali ke hotel bersamanya?
Eum cukup sulit.
Jongwoon yang sudah berada di depan gadisnya, hampir saja membawa gadis itu dalam dekapannya. Tapi, untungnya ingat betul bahwa ini adalah Indonesia.
“Kau kemana saja, sayang?” Tanya Jongwoon menatap Minrin yang tengah mengerucutkan bibirnya.
“Aku kan sudah bilang huh!” Jongwoon terkekeh pelan, lalu mengajaknya pulang. Dan mengabarkan Jongjin, bahwa kekasihnya sudah kembali!
Namun, wajah Minrin terlihat kusut, err.. Jongwoon yakin gadisnya ini kesal padanya. Oh ayolah, tapi dia benar-benar hampir gila saat ia tahu Minrin tak ada disampingnya. Disampingnya saja dia sudah gila, bagaimana jika Minrin menghilang dari kehidupannya? Ugh!
Minrin mengekor di belakang Jongwoon -sedari tadi- dengan wajah yang malas.
“kau menyebalkan!” Minrin menggerutu sepanjang jalan menuju van mereka.
“Maaf sayang, ayolah” Jongwoon sudah sangat ingin mengecup bibir pink kekasihnya, tapi ia ingat betul bahwa ini Indonesia!
Dan Minrin tetap mengerucutkan bibirnya hingga mereka tiba di hotel.
***
Minrin mengerjapkan matanya, oh ini hari terakhir sebelum nanti malam mereka pulang. Dan, Minrin masih merajuk pada Jongwoon. Tidak biasanya Minrin merajuk lama-lama pada kekasihnya itu, tapi entahlah kejadian kemarin itu sangat-sangat menyebalkan!
Eo? Kau akan kemana? Bukannya kita pulang nanti malam?” Tanya Minrin tanpa bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Jongwoon menjawabnya dengan senyuman penuh arti, dan menyuruh Minrin segera mandi dan berpakaian yang pantas.
***
Minrin menyusul Jongwoon dan yang lain turun dari van mereka, ia melongo hebat, dan untungnya ia pas memakai kostum sekarang. Minrin tersenyum puas.
“ada apa? Kau suka?” Tanya Jongwoon yang di balas anggukan antusias oleh kekasihnya.
Mungkin dengan ini kesalahannya kemarin termaafkan. Batin Jongwoon.
Minrin mengangguk dengan sangat antusias, Jongwoon pun menghela nafas lega.
“ayo naik perahu itu!” seru Minrin.
“tidak, makan dulu, ayo.” Jongwoon menarik tangan Minrin yang tengah memasang wajah masam untuk bergabung dengan yang lain.
Sudah lama Minrin sibuk dengan tulisan-tulisannya yang dikejar deadline, dan sangat beruntung ia ikut kemari bersama kekasih tercintanya itu.
“apa yang akan kita lakukan lagi?” tanya Minrin sudah tak sabar untuk menikamti hal lain lagi disini.
“kau mau menaiki perahu itu, sayang?” tanya Jongwoon menunjuk perahu yang berjajar di pinggir pantai, badannya tergerak untuk memeluk gadisnya dari belakang.
eoh? Kajja, aku ingin naik itu!” Jongwoon sedikit terkekeh melihat kekasihnya yang terlihat sangat bersemangat.
Mereka berdua pun segera menaiki perahu kecil tersebut, di ikuti dengan yang lain, dengan perahu yang berbeda.
Mereka sudah berada lumayan jauh dari pantai, dan angin besar itu dengan sengaja membuat topi pantai Minrin hampir terbang. Melihat itu Jongwoon terkikik geli. Tak lupa mereka mengabadikan moment ini, yang yah terasa jarang sekali. Mengingat Jongwoon adalah member boyband Korea yang sangat terkenal, dan Minrin adalah seorang penulis yang tak jarang di kejar deadline karena tentu saja tulisannya sangat menarik.
“sayang.” Jongwoon memeluk pundak Minrin, membuat gadisnya menyenderkan kepalanya di pundak Jongwoon, dan menyerukkan kepalanya ke lehernya.
hm?” gumam Minrin, menghirup feromon Jongwoon yang sangat ia rindukan.
“saranghae, maaf soal kemarin.” ucap Jongwoon sambil tersenyum tulus dan menatap matanya.
“iya Woonie sayang, nado saranghae.” Jongwoon mengecup sekilas bibir Minrin dan mengucapkan terima kasih.
Menurut mereka, cinta bukan hanya tentang seberapa sering mereka bertemu, tapi tentang rasa tulus yang mereka hadiahkan untuk orang spesial.

“karena, aku akan mencintaimu hari ini, lebih dari hari kemarin. Saranghae.” -Minrin.

Fin

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s