Tulip

tulip_bouquet_2_kadoplus

by grewlay
Kim Jongin Shin Jihyun
Drabble
Romance tipuan

Seperti saat kita masuk ke dalam labirin.
Awalnya asik, lama-kelamaan memuakkan.
Jengah mencari jalan untuk keluar, pasti rasanya ingin menjerit dan menangis.

.

///

.

Namanya Kim Jongin. Yang katanya, tampan, ehm- namun sedikit dungu. Berbeda dengan saudaranya yang dirasa nyaris mendekati sempurna. Jongin seperti cermin cekung untuk Joonmyun. Maksudnya, saat seseorang mematut dirinya di depan cermin cekung, pasti akan terlihat jauh lebih kecil dari yang aslinya.

Ya. Jongin dungu, padahal saudara kandungnya ahli kimia. Jongin jago tidur, Jongin anggota gangster, Jongin sulit memarkirkan mobil, Jongin payah saat diminta membuka botol anggur, dan Jongin hanya mau memakan makanan yang ada unsur ayam di dalamnya.

“Bukan begitu, sialan! Kita hanya perlu memperbaiki dynamo dan memasangnya kembali. Pasti akan-”

“JONGEEEEN!”

Jongin memutar bola matanya malas. Ia rasa, teori yang ia berikan sudah benar. Hanya saja, prakteknya yang terus gagal. Dan alhasil, beginilah. Satu tatapan sengit tengah menatapnya, juga ratusan tinjuan hampir mendarat di wajahnya kalau saja Kyungsoo tidak menahan hasratnya.

“Hei bocah, jangan berteriak seperti itu.” Tegur Jongin seraya menepuk pelan puncak kepala Kyungsoo.

Angin, tolong lenyapkan Jongin sekarang juga!

“Aku ini lebih tua darimu, sialan!”

Jongin butuh dokter. Jongin butuh perawat cantik. Ya, Jongin baru saja mendapat jitakkan keras dari Kyungsoo. “Tapi-”

“Tapi tubuhmu jauh lebih besar?!”

“IBUUU!” Tak ada ampun untuk gangster manja seperti Jongin. Yeah haha, capitan kepiting berhasil mendarat di perut Jongin.

Dimana bagian tampannya Jongin? Dimana bagian sangarnya Jongin? Ck. Sepertinya hanya Jongin yang mengaku-ngaku kalau ia tampan dan patut ditakuti karena ia anggota gangster. Bisa bayangkan bagaimana Jongin berkelahi melawan musuhnya? Belum memukul atau dipukul, ia sudah lari terbirit-birit sambil berteriak “IBUUUU!”

“Jongin, hentikan!” Kyungsoo jadi bingung sendiri. Jongin semakin hari semakin sinting, Kyungsoo rasa seperti itu.

“Do Kyungsoo, kau dendam padaku, ya?” Jongin mengusap perutnya. Sakit.

“Yang sopan pada seniormu. Aku ini jauh diatasmu. Sepantaran Joonmyun.”

“Paman Kyungsoo, kau dendam padaku, ya?”

“JONGEEEEN!” Kyungsoo memang tidak bisa mengambil nada tinggi seperti Minseok, Jongdae, juga Baekhyun. Tapi setidaknya, pekikkan itu berhasil menggetarkan seisi kantin.

Jongin pura-pura tidur. Seolah ia tidak terlibat. Oke, siapapun akan ikut menjadi dungu kalau berpikir Jongin bukan tersangkanya setelah Kyungsoo. Jelas saja. Kyungsoo berteriak menyebut nama Jongin. itu berarti, Jongin terlibat.

Persetan dengan semuanya, pikir Kyungsoo.

“Hyung, di ujung sana ada Jihyun. Bagaimana bisa kau berteriak seperti itu?! Apa kau tidak tahu kalau aku malu?” Jongin masih mempertahankan posisinya. Menelungkup menyembunyikan wajahnya dari tatapan aneh para murid.

“SHIN JIHYUN! JONGIN MENGATAKAN PADAKU KALAU IA YANG SELALU MELETAKKAN BUNGA MAWAR ITU DI LACI MEJAMU!”

Shit! Kiamat!

Jongin menyembunyikan wajahnya semakin dalam. Oh, ralat, mungkin menyembunyikan malunya. Gangster, apanya? Bukannya dipandang takut, Jongin malah lebih sering ditertawakan. Apa definisi gangster sudah berubah haluan nyaris mendekati pelawak?

Sejurus dengan itu, Kyungsoo tersenyum menang karena berhasil mendapat seluruh perhatian murid yang ada di kantin; entah untuk sekedar jalan-jalan atau mungkin yang tengah mengisi perut mereka. Terlebih saat Jihyun perlahan mulai mendekat ke arah Jongin.

“Kim Jongin?”

“Hyung, ini gara-gara-” Jongin tersentak karena yang ia bentak adalah Jihyun; calon pacarnya. Ugh, percaya diri sekali. “Astaga, maaf.”

“Bunga mawar itu,”

“Kurasa aku lapar. Tapi tempat jual ayamnya tutup. Aku tidak bisa makan tanpa ada ayam. Apa aku harus pergi keluar sekolah demi mendapatkan ayam? Tapi memangnya boleh? Bukankah harus mendapat izin terlebih dahulu? Astaga, kenapa harus seperti ini? Sial!” Perlu kalian tahu, Jongin sedang berbicara sendiri. Mencoba mengabaikan Jihyun.

“Yasudahlah, Jongin. Kurasa tidak ada yang harus kau jelaskan disini.”

Jongin meraih pergelangan tangan Jihyun. “A-aku menyukaimu.”

Seperti saat kita masuk ke dalam labirin. Awalnya asik, lama-kelamaan memuakkan. Yeah, Jongin berpikir seperti itu. Ia muak harus berhadapan dengan ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Rasanya ia ingin berjongkok di pojokan sambil memegangi perutnya. Oh oke, kalian pasti tahu rasanya.

Grogi. Takut. Mual. Dan, yah, mungkin keringat dingin juga.

Jihyun duduk di bangku yang semula di duduki Kyungsoo. Jongin ingin menarik kalimatnya tadi. Bukan. Bukan karena ia tidak menyukai Jihyun, tapi ia tidak ingin Jihyun berada di depannya dalam jangka waktu yang lama. Jongin bisa mati karena grogi.

“Bagaimana mungkin ada gangster yang menyukaiku?”

“Shinji, a-aku bukan gangster.” Jongin bergerak gelisah. Ia selalu menunduk dan tangan kirinya tidak henti-hentinya mengusap tengkuk. “Aku menyukaimu sejak melihatmu membacakan artikel tentang pola hidup sehat saat lomba di aula.”

“Tapi aku tidak suka Jongin yang selalu mengumbar ketampanannya; itu terkesan sombong.” Jihyun melipat tangannya di atas meja. Gadis itu memandang Jongin lamat-lamat dengan satu senyuman. “Kau tahu ada berapa gadis yang mengelu-elukanmu? Banyak, Kkam.”

Brak!

Jongin menggebrak meja dan membuat seluruh murid terkejut setengah mati, tak terkecuali Jihyun. Gadis itu mulai takut sekarang. Kalau-kalau ada ucapannya yang salah atau menyinggung hati Jongin. Rahangnya mengeras, tatapannya menajam. Sekarang, Jongin terlihat seperti gangster sesungguhnya.

“Kalian semua dengarkan aku! Aku ini tidak tampan! Aku ini biasa saja! Aku anggota gangster, memang. Tapi gangster itu sudah lama ditinggalkan! Para anggotanya sudah banyak yang menikah! Jadi, kalian tidak perlu takut padaku! Dan satu lagi, jangan pernah menyukaiku! Kalian paham?!” Pekik Jongin seperti Perwira Polisi. Di sekon selanjutnya, Jihyun terkekeh geli karena kelakuan Jongin.

Jongin kembali duduk dan menyembunyikan wajahnya.

“Jongin?” Jihyun mengusap kepala Jongin. Bukan. Mungkin yang lebih tepat adalah Jihyun sedang meletakkan telapak tangannya di kepala Jongin. Hanya seperti itu.

“Tidak. Aku malu, Shin. Aku malu sekali.”

“Oke. Tapi, Kkam, jangan menaruh mawar lagi di laciku, ya. Tanganku sering tertusuk durinya.”

Jongin menengadahkan kepalanya. “Maafkan aku, Shin.”

Jihyun berdiri, berniat meninggalkan Jongin. Sedangkan lelaki itu, ia masih tetap diam di tempatnya. “Aku lebih menyukai bunga tulip.” Jihyun melenggang pergi. Dan Jongin rasanya ingin naik ke atas meja, lalu bernyanyi dan menari.

.

FIN

.

Astagfirullah, wataknya Jongin disini anu banget. Efek frustasi gara-gara si wakepsek yang errr… soganteng wakakakaka

4 responses to “Tulip

  1. Haii! Ini konsep ceritanya bagus, loh! Hahahaha bahasanya juga udah pas dan gampang dimengerti, engga terlalu cepat dan engga terkesan berputar2. Ngomong2 dari tadi ada kata2 “kkam” itu kkamjong, ya? Kalau boleh aku kasih saran nih yaaa, lebih baik pakai nama jongin aja,kalaupun mau pakai julukan “kkam” lebih baik di ceritain dulu sebelumnya karna dari tadi aku kira itu typo (?) Tapi pas dipikir ternyata kkam itu untuk kkamjong, ya?🙂

    • Hahaha thx buat masukkannya.
      Aku juga nggak tau kalo bakal ada yang mumet pas baca ‘kkam’. Kupikir semua orang bakal tau apa itu kkam. Ya karna di keseharian aku lebih seneng nyebut jongin itu pake kkamjong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s