[Oneshot] Like A Crystal

Hai, ini bukan FF saya melainkan FF titipan. Setelah membacanya, dimohon memberikan apresiasi dalam bentuk komentar ya. Terima kasih.

Like A Crystal

Like a Crystal

 

Title             : Like A Crystal

Author         : Rere_L.Kim/El_Ciel.Oz

Genre           : Romance, Drama, Slice of Life, Teens, A Little Bit Comedy

Cast              :

  • Yook Sung Jae (BTOB)
  • Go Eun Bi (OC)
  • Han Yi Ahn (OC)
  • Cha Song Joo (OC)

 

Rating         : PG-15

Type            : Oneshoot

 

 

Copyright ©2015 Rere_L.Kim

 

Like a Crystal Story

 

“Mianhae.”

 

Dalam 1 jam ini, yang ada dipikiran pemuda tinggi dengan kulitnya yang putih susu itu hanya sederet kata yang turun bersama pilu yang tertelan pahit dari seorang gadis bersurai hitam panjang pemilik nama Eunbi. Yook Sungjae masih duduk diatas ayunan di taman yang ada dikompleks itu sendirian.

 

“Kim Joon Seok ssaem bilang, aku bisa bertahan hidup tanpa seseorang yang sangat kusuka.” Sungjae mencoba menahan gejolak yang mendesak keluar. “Hari ini aku bertemu denganmu dan akan berbohong kalau aku akan melupakanmu. Tapi, aku tidak ingin.” Pemuda itu benar2 sekuat hati menahan diri. “Jadi.” Sungjae menarik nafas sedalam mungkin. “Aku akan jujur saja. Entah sudah berapa kali kupikirkan ini, aku tak tahu bagaimana aku bisa berhenti menyukaimu.” Sekali lagi, pemuda itu mencoba terlalu keras untuk menahan diri, hingga senyum yang terkembang dibalik punggung gadis itu terlihat amat pilu. “Aku hanya akan diam di sini seperti ini. Kau tak perlu merasa bersalah padaku. Kau pun tak perlu melakukan apa-apa. Hanya perlu ketahui saja bagaimana perasaanku. Oke?”

 

Sungjae menertawakan kata2 yang ia ucapkan pada Eunbi 1 jam lalu. Mungkin dia harus berfikir untuk ikut audisi terbuka beberapa agensi ternama. Dia punya bakat. Bakat yang terlalu bodoh yang sialnya dimiliki oleh seorang Sungjae. Benar2 hebat bukan? Ia menelan luka itu bulat2 dan disaat yang bersamaan ia menunjukkan senyum polosnya pada orang lain. Tidak ada yang tau. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang mengerti.

 

“Jika saja kau mau mengulurkan tanganmu meski hanya sebentar saja, aku akan bertahan disini dengan menggenggammu. Tapi sayangnya uluran itu bukan untukku,” bisiknya pada malam yang semakin dingin. “Eunbi a.” Tetes kepedihan menjalar turun kepipinya. “Eunbi a.”

 

Satu malam lagi dilewati Sungjae dengan hujan kesedihan. Ia berteriak dalam diam. Ia berbisik dalam tangis. Malamnya ramai dengan kristal2 bening yang meluncur seru seperti air dalam cawan yang ditumpahkan bersama dengan buliran nama yang terus berguling dari bibirnya yang semakin membiru menahan udara malam yang semakin menusuk.

 

 

1 minggu kemudian.

 

Siang itu, kantin begitu penuh sesak dengan siswa sekkang yang tengah menghabiskan jam istirahatnya dengan makan siang. Canda tawa acap kali dilontarkan oleh beberapa siswa untuk membuat gaduh kantin sekolah yang luas itu.

 

“Eunbi a.”

 

Yang dipanggil baru menyahut setelah Song joo, teman dekatnya mengulang panggilannya hingga 3 kali.

 

“Apa yang kau lamunkan, eo?”

Anee.”

“Dari tadi kuperhatikan kau hanya mengaduk2 makananmu. Ada apa denganmu?”

“Tidak apa2.” Gadis itu mulai menaruh perhatian pada makanannya yang sudah tercampur rata dan mulai mengambil sesendok darinya.

“Berhentilah berbohong. Aku tau kau sedang memikirkan sesuatu.”

“Bukan apa2 Songjoo a, ayo makan lagi,” katanya seraya mendorong tangan Songjoo untuk kembali menyentuh makanannya.

“Cih,” dengusnya pelan.

 

Tak tahan dengan rasa ingin tau nya yang sudah ada dipuncak, Eunbi memberanikan diri untuk mengangkat tangannya dan menarik fokus wali kelas yang memang tengah mengajukan pertanyaan pada siswa2 yang belum jelas dengan pengumuman hari itu.

 

Eo, Eunbi a.”

Ssaem.” Keraguan kembali menyergapnya. Haruskah ia bertanya? Mengapa terasa ada yang aneh. Sesuatu yang hampa dalam dirinya memanggil. “Satu minggu ini, Sungjae kenapa tidak datang kesekolah?”

 

Mendengar pertanyaan Eunbi, bukan hanya wali kelas yang mengerutkan dahinya, siswa sekelas pun saling berbisik dan bertanya2. Mereka benar2 tak menyadari jika waktu sudah bergulir terlalu lama bagi seorang siswa absen didalam kelas.

 

“Kenapa kau bertanya? Bukankah Sungjae sudah memberikan pengumumannya sendiri?”

 

Pernyataan dari wali kelas membuat hati Eunbi mulai gelisah. Siswa2 semakin seru membicarakan Sungjae.

 

“Seminggu yang lalu Sungjae berpesan untuk tidak lagi membahas tentangnya karena ia sudah berpamitan dengan kalian semua.”

“Memang Sungjae kemana ssaem?” salah satu siswa bertanya dengan lantang.

“Kalian benar2 tidak tau?” seluruh siswa menggeleng pelan tanpa kata. “Sungjae pindah keluar negeri.”

Mwo?” bukan hanya Eunbi yang terkejut, seantero kelas benar2 dibuat tak percaya dengan kabar ini.

 

Hati Eunbi mencelos. Ada rasa sakit yang terbersit dalam hatinya. Mengapa? Apa Eunbi kehilangan sosok Sungjae? Ataukah hanya karena Sungjae yang pergi tanpa sepatah katapun? Atau karena sesuatu yang lain?

 

Tanpa sadar, air matanya turun tanpa mampu ia bendung. Sebegitu dalamkah Sungjae melukai hatinya hingga rasa sakit itu membuatnya tak bisa mengontrol dirinya sendiri?

 

 

“Yi Ahn a,” panggil Songjoo yang berlari kearah pemuda jangkung yang hendak memasuki gerbang sekolah.

“Pagi Songjoong a,” sapanya ramah.

“Kau baru datang? Bagaimana kompetisimu?”

“Berjalan dengan lancar,” jawabnya singkat.

“Aku bangga padamu,” pujinya seraya menepuk bahu kanan pemuda yang dipanggil Yi Ahn. “Ah, mana Eunbi?”

“Eunbi?”

“Kalian tidak berangkat bersama?”

“Tidak. Kupikir dia sudah berangkat karena rumahnya terlihat sangat sepi. Bahkan mobil bibi saja sudah tidak ada.”

“Aneh.”

“Aneh?”

“Eung. Entah ini ada hubungannya atau tidak, yang pasti aku merasa Eunbi bersikap aneh sejak wali kelas memberitahu kepindahan Sungjae ke luar negeri 3 hari lalu.”

“Sungjae pindah keluar negeri?”

Ne.”

 

Dari wajah  tampan Yi Ahn, Songjoo dapat melihat jelas gambaran emosinya saat itu. Itu expresi yang tak jauh beda dengan yang Eunbi tunjukkan beberapa hari yang lalu. Mengapa dua orang sahabatnya terlihat begitu aneh dan terkejut karena sosok seperti Sungjae, pemuda dengan sejuta kekonyolan.

 

Ditempat lain, Eunbi duduk manis dengan bibir terkatup rapat didalam kelas yang bising seperti biasa. Entahlah, pikirannya terlalu kacau untuk fokus. Ada sesuatu yang terasa mengganjal hatinya yang muncul beberapa hari terakhir ini setelah Sungjae pergi.

 

Ia mulai sering teringat momen dimana Sungjae terus menggodanya, menemaninya, membantunya, membuatnya tertawa bahkan saat pemuda yang baru berumur 18 tahun itu memarahinya. Tak jarang Eunbi seperti mengalami halusinasi melihat dan mendengar Sungjae. Seperti sekarang ini saat phonselnya bergetar singkat tanda sms masuk. Gadis yang berpipi tembam itu amat terkejut saat membaca isi pesan yang hanya terdiri dari 1 kata tersebut.

 

“Atap.”

 

Tanpa berfikir apa2 lagi, Eunbi segera beranjak dari tempatnya dan melesat ketempat yang biasa ia datangi saat Sungjae ingin mengatakan sesuatu. Sampai disana, Eunbi harus menelan kekecewaan. Bukan sosok pemuda jangkung berambut blonde yang ia lihat, melainkan pemuda jangkung atlet renang.

 

“Han Yi Ahn?”

 

Yang dipanggil membalikkan badannya menghadap Eunbi yang berjalan mendekat dengan perlahan. Benar kata Songjoo, Eunbi terlihat aneh, batin Yi Ahn.

 

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku ingin bicara padamu.”

Mwoga?” Yi Ahn menyiapkan diri.

“Kau baik2 saja?”

“Ya, aku baik2 saja,” jawabnya datar.

“Songgjoo bilang, kau terlihat aneh setelah tau kabar tentang Sungjae beberapa hari lalu.”

 

Eunbi terdiam, ia menundukkan kepalanya perlahan. Mengapa kenyataan itu seolah tak dapat ia bantah sedikitpun? Apa benar begitu? Ia kehilangan sosok menyebalkan Yook Sungjae?

 

“Eunbi a, jawab aku.”

“Aku hanya merasa bersalah padanya,” jawabnya terbata dengan masih menundukkan kepalanya. “Tidak bukan itu,” teriak batinnya lantang. “Sampai saat itu, aku berjalan menjauh tanpa sedikitpun menoleh padanya. Aku membiarkannya pergi tanpa memberinya sepatah katapun. Aku melukainya.”

“Jangan menyalahkan dirimu seperti itu.” Yi Ahn melangkah untuk memperkecil jarak mereka. Kedua tangannya tertumpu dibahu kecil Eunbi. “Kita tau dengan pasti, orang seperti apa Sungjae itu. Dia manusia yang hanya peduli dengan hidupnya sendiri melebihi apapun. Dia akan baik2 saja.”

“Tidak.”

 

Yi Ahn terhenyak ditempatnya. Meski tak berteriak, namun cara Eunbi mengucapkan kata ‘tidak’ begitu tegas, penuh penekanan dan tak ada keraguan. Eunbi menatap Yi Ahn tajam.

 

“Sungjae tak hanya sekedar manusia yang seperti kau bilang. Kau tak tau apapun tentangnya, kita tak tau.” Meski tak yakin, Yi Ahn melihat kabut dikedua manik mata jernih Eunbi. “Apa kau tau seberapa terlukanya dia yang kau sebut hanya peduli dengan dirinya sendiri saat satu2nya kerabat dekatnya ditangkap polisi? Taukah kau seberapa sakitnya dia yang kau sebut hanya peduli dengan dirinya sendiri saat tak ada orangtua yang mendampinginya? Taukah kau seberapa kesepiannya dia yang kau sebut hanya peduli dengan dirinya sendiri saat pulang kerumah?” entah sejak kapan buliran bening nan hangat itu menghiasi wajah Eunbi. “Kau tidak tau apapun tentang orang yang hanya peduli dirinya sendiri melebihi apapun itu Yi Ahn, tidak sedikitpun.”

 

Yi Ahn hanya mampu memandangi punggung mungil milik gadisnya yang bergerak semakin menjauh dari pandangannya. Semakin jauh hingga menghilang dibalik pintu. Yah, pada akhirnya memang Yi Ahn tak mengerti apapun. Pertama ia tak mengerti dengan sikap Eunbi, kedua ia jauh lebih tak mengerti dengan situasi Eunbi. Namun satu yang dapat ia mengerti dengan pasti, Eunbi kehilangan Sungjae.

 

Hari ini, entah disadari oleh Eunbi atau tidak, Yi Ahn seperti dihujani kenyataan. Ketakutannya selama ini benar2 terbukti. Meskipun pada awalnya Eunbi memilihnya. Pada akhirnya, hati kecil Eunbi berontak. Seolah Yi Ahn bisa mendengar jeritan pilu hati Eunbi. Gadisnya telah benar2 memilih. Yah, gadisnya jatuh cinta pada rivalnya. Bukan padanya. Tapi pada dia, Yook Sungjae.

 

 

3 tahun kemudian.

 

Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat didepan pintu masuk sebuah rumah yang terdapat banyak pohon hijau dihalamannya. Seorang pemuda yang berpenampilan rapi turun dari mobil. Dari balik kacamata beningnya, kelereng mata beningnya mencoba merekam lingkungan sekitar yang tak berubah sejak 3 tahun lalu.

 

Pemuda itu tersenyum pada alam. Cahaya matahari yang cerah pagi itu seolah memancarkan karisma pemuda bersurai hitam legam yang kini bersandar dibadan mobilnya.

 

“Yook Sungjae?”

 

Suara khas yang ia dengar 3 tahun lalu menyapa indra pendengarnya. Sungjae menolehkan kepalanya kekanan untuk menatap sosok yang memanggilnya. Dengan senyum yang juga khas seorang Sungjae, ia membalas sapaan kawan lamanya, Han Yi An.

 

“Han Yi Ahn, eoremanida.”

 

“Kemana saja kau selama ini tanpa kabar?” tanya Yi Ahn sembari menyuap ramen kedalam mulutnya.

Na?” Sungjae menunjuk wajahnya sendiri.

 

Saat ini, dua kawan yang lama tak bersua itu duduk saling berhadapan disebuah toko 24 jam yang dekat dengan komplek perumahan Yi Ahn.

 

“Ceritanya panjang,” jawabnya singkat setelah menyeruput kopi hangatnya. “Bagaimana karirmu sebagai atlet renang?”

“Lancar,” jawab Yi Ahn yang masih sibuk mengunyah makanannya. “Bahkan aku sudah sembuh dari cideraku.”

“Baguslah.”

 

Dan setelah pertanyaan itu, mereka berdua bungkam. Sibuk dengan pikirannya masing2, pura2 menyibukkan diri lebih tepatnya. Mereka benar2 terlihat canggung satu sama lain. Tentu saja, mereka rival. Dan hal yang seperti ini wajar untuk mereka.

 

“Eunbi,” Yi Ahn menoleh cepat kearah Sungjae yang terlihat tegang. “Eottae?”

“Eunbi?”

Jjalinya gu?” Yi Ahn terdiam seribu bahasa. Sungjae mengangkat kepalanya pelan dan menatap Yi Ahn datar. “Eo? Jjalinya gu?” Yi Ahn masih bergulat dengan pikirannya. Yang ia lakukan sekarang hanyalah menatap Sungjae kosong. “Jjalinya gu?” tegas Sungjae dengan nada datar yang mengganggu Yi Ahn. Deja vu, ia pernah mengajukan pertanyaan yang sama sebelumnya pada Sungjae.

Eung,” jawabnya singkat.

Geurom twetta.” Sungjae kembali membasahi tenggorokannya dengan air mineral yang ia beli. “Baiklah.” Sungjae berdiri. Merapatkan kedua lengannya dan memasukkannya ke dalam saku celana. “Aku pergi, terimakasih atas traktirannya, lain kali jika ada kesempatan, aku yang akan mentraktirmu.”

“Sungjae a!” Sungjae terdiam ditempatnya tanpa berniat memalingkan wajahnya untuk menatap wajah Yi Ahn yang masih terlihat amat terkejut. “Kau– kau tidak bertanya dimana?”

 

Sungjae menghela nafas dalam dan tersenyum, menghibur dirinya sendiri kemudian berbalik menghadap Yi Ahn dengan masih menampilkan senyumannya. Ia tersenyum begitu manis dan ringan namun terkesan pilu.

 

“Selama kau tau, aku tidak perlu tau. Karna aku yakin, dia baik2 saja.”

“Kau salah.” Sekali lagi langkah Sungjae tertahan. “Kau salah Sungjae a. Dia tak baik2 saja. Sungjae kembali enggan menatap Yi Ahn. “Sejak kepergianmu, dia tak baik2 saja.”

“Kau bicara apa? Tentu saja dia seperti itu. Dia kehilangan teman untuk berdebat. Tidak ada teman debat sehebat aku,” jawabnya enteng dengan tawa renyahnya.

“Sungjae a–“

“Han Yi Ahn,” potongnya cepat. “Maaf aku harus pergi sekarang,” imbuhnya.

 

 

Sampai dirumah, Sungjae masih belum bisa lepas dari belenggu kalimat Yi Ahn. Jawabannya sudah sangat jelas bukan? Tentu saja dia ingin, bahkan amat ingin tau keadaannya sekarang. Untuk apa ia cepat2 kembali dari luar negeri kalau bukan untuk bertemu dengan Eunbinya lagi. Pemuda yang dulunya dikenal sebagai sosok periang dan konyol itu, kerap kali menangis dalam kesendiriannya ketika merindukan gadis tembam itu. Baginya, tidak ada hal yang lebih menyiksa ketika ia tidak dapat melihat Eunbi, gadis yang entah sejak kapan itu ia sukai.

 

Sungjae kelimpungan sendiri didalam kamarnya. Ia tak tenang. Ia benar2 terganggu dengan kata2 Yi Ahn pagi tadi. Rasa penasarannya benar2 sangat memuncak. Diraihnya phonsel putih dari dalam saku celananya. Ia bingung akan melakukan apa. Menghubungi seseorang? Bahkan ia tak lagi punya kontak teman2nya dulu.

 

Setelah dirundung dilema yang berkepanjangan, akhirnya ia merajut langkahnya untuk keluar kamar dan mencari keberadaan Eunbi. Bagaimana? Entahlah, bahkan Sungjae tak menyiapkan rencana untuk menemukan Eunbi saat ini selain dirumahnya.

 

“Gadis bodoh, dimana kau sekarang?” gumam Sungjae yang memilih kursi dekat jembatan sungai Han untuk memanjakan tubuhnya yang lelah mencari tanpa arah sosok Eunbi.

 

Hari sudah larut saat Sungjae memutuskan untuk mengunjungi taman dekat sungai Han. Tak jauh dari tempatnya, ada pertunjukan kecil dari dua orang muda mudi yang menghibur orang2 malam ini. Entahlah, katakan saja Sungjae sedang terkena sindrom terlalu percaya diri, tapi ia merasa melodi yang keluar ditiap petikan pemuda dengan kaca mata itu memanggilnya. Tanpa ragu, Sungjae mengayunkan langkahnya menuju kerumunan itu.

 

20 menit sudah waktu berlalu dengan Sungjae yang tak mau beranjak dari tempatnya. Sudah beberapa lagu ia dengarkan dengan penuh perhatian. Petikan gitar yang lembut bercampur sempurna dengan suara penyanyi wanitanya yang merdu.

 

Tanpa komando, tepat ketika wanita yang memakai denim putih itu mengajukan pertanyaan pada pendengarnya untuk meminta sumbangan lagu, Sungjae tergerak untuk mengangkat lengan kurusnya. Deru tepuk tangan mengiringi langkah Sungjae menuju bangku yang sebelumnya dipakai wanita itu untuk duduk. Sungjae selanjutnya meminjam gitar yang dipakai laki2 berkacamata itu untuk mengiringi rekannya bernyanyi lagu2 penuh cinta.

 

Setelah yakin dengan semua yang ia butuhkan, Sungjae menarik nafas ringan sebelum jari2nya menari lembut diatas senar2 gitar.

 

♪♪♪ Neukkyeobwayo Neukkyeobwayo neukkyeobwa

Deullinayo dugeungugeun soriga

 

Saenggakhamyeon halsurok yeori batne

Wae naeildo motbogo nae ildo motae

Ne saenggangman namyeonhadeon geotdo meomchugo dasi

Dotaomyeon mwol haenneunjido kkameongne

 

Ige saranginga bwa

Jjaksaranginga bwa

Babocheoreom dweneun ge nado saraminga bwa

Ijeo bollago oneuldo il deohago il hae gwaenchanhajil geoya gakkaun mirae

 

Oerowo Oerowo Oerowo Oerowoyo

Iri wa Iri wa Iri wayo

Eodil bwayo eodil bwa eodil bwa

Yeogil bwayo yeogil bwayo yeogil bwa

Nal jom bwa i nappeun yeojaya

 

Sasil neon jom yeppeo

Keuriseutalgatchi bicheul naegonhae

Nal heumchit nollan saennim gachi hilkkeutdaegon hae

Chamaboryeo amuri aesseodo jakku saenggak na

Stop stop girl you drive me crazy ♪♪♪

BTOB – Like a Crystal

Tiap tarikan nafas yang ia hembuskan, tiap kata yang ia ucapkan, tiap nada yang ia petikkan, semua tentang gadis itu. Tak sedetikpun dalam benaknya, Sungjae berhenti memanggil nama gadisnya. Eunbi, Go Eunbi nya yang tak juga ia temui keberadaannya.

 

Ia ingin Eunbi mendengarnya, lagu yang segenap hati ia nyanyikan dengan perasaan yang penuh akan dirinya. Hingga tepuk tangan yang amat meriah dari para penonton membangunkannya dari dunia yang dipenuhi dengan sosok Eunbi nya.

 

Malam ini ia tak beruntung. Memang espektasi dengan kenyataan selalu kontras. Tak selalu bisa berjalan sama. Sungjae berjalan pelan menuju mobilnya yang terparkir rapi dideretan parkir taman. ia mendudukkan diri diatas kap mobil mewahnya dengan mengacung2kan phonselnya diudara. Ia ragu, ia bimbang. Bagaimana ia bisa menemukan gadisnya bila nomor saja ia tidak punya.

 

Yah, 3 tahun lalu ia harus rela kehilangan semua datanya karena phonselnya ringsek setelah beradu dengan ban mobil ketika baru tiba diluar negeri.

 

“Go Eunbi,” gumamnya pada langit malam. “Jjaljinaesso?” Sungjae menepuk punggung phonselnya ke telapak tangannya pelan. “Apa yang kau lakukan selama 3 tahun ini?” seperti orang gila, Sungjae bicara dan tersenyum sendiri. “Apa kau merindukanku seperti aku merindukanmu?” senyumnya semakin lebar namun terasa sangat hambar. “Kenapa kau tidak pernah mencoba untuk menghubungiku?” tiba2 ia memukul pelan kepalanya. “Aigoo, Sungjae a,” ia kembali terkekeh. “Tentu saja itu tidak mungkin.”

 

Dalam renungan bodohnya, Sungjae terhenyak ditempatnya saat sebuah pesan yang berisi sebuah foto ia terima. Dari nomor tak dikenal, itu menganggu. Tapi yang jauh lebih mengganggu adalah isi pesannya. Foto yang baru ia terima adalah dirinya yang tengah duduk diatas kap mobil dengan kepala yang mendongak keatas sambil tersenyum bodoh. Foto itu diambil dari arah belakang, tak jauh darinya.

 

Jantungnya seakan berhenti berfungsi untuk beberapa detik. Selama beberapa saat, yang dilakukan Sungjae setelah menerima pesan tersebut, tentu saja mencari tau siapa yang mengirimnya. Baru saja ia akan beranjak dari tempatnya untuk melihat sekeliling, pandangannya terkunci pada sosok yang berdiri tegak dengan satu tangan yang menopang sepedanya tak jauh dari tempatnya.

 

 

Seorang gadis yang dikenal bernama Eunbi, Go Eunbi, terlihat tengah melakukan kegiatannya beberapa tahun terakhir ini. Jika dulu ia lebih suka bangun pagi dan berolah raga dengan mengendarai sepedanya mengelilingi taman dekat sungai Han yang memang lokasinya tak jauh dari kompleks rumahnya, sekarang justru sebaliknya. Gadis itu kini lebih suka bangun siang sebelum berangkat bekerja sebagai seorang editor magang disalah satu perusahaan majalah dan malam harinya ia habiskan untuk bersepeda mengelilingi taman yang semakin larut justru semakin ramai.

 

Ia sudah dalam perjalanan pulang ketika tiba2 ia menyadari phonselnya jatuh. Dengan cepat ia kembali mengelilingi rute ia bersepeda sebelumnya. Gadis itu beruntung, sekalipun ramai, tak ada seorangpun yang mengambil phonselnya yang tergeletak mengenaskan diatas rumput. Ternyata pertunjukan rutin tiap malam ditaman itu yang merebut perhatian pengunjung.

 

Eunbi tidak heran, ia sudah sangat sering mendengar lantunan nada2 indah dari seorang gadis yang ia ketahui namanya Yoon So Ah. Gadis itu masih sibuk membersihkan dan mensyukuri phonselnya saat lantunan nada sendu nan merdu milik seorang laki2 menelusup ditelinganya. Jika boleh diungkapkan secara berlebihan, maka Eunbi akan bilang ‘Lagu itu memanggilku. Lagu itu untukku.’ Yah begitulah kira2 yang ada dipikiran Eunbi.

 

Diliriknya jam yang melingkar manis dipergelangan tangan kanannya. Jam 11.00 pm KST. Gadis itu bergegas untuk pulang. Katakanlah Eunbi sedang sial. Gadis itu terjatuh bersama sepedanya karena seseorang yang tidak bertanggung jawab menabraknya dan justru malah marah2 tak jelas padanya. Memakan sedikit waktu, akhirnya Eunbi bisa lepas dari omelan wanita yang berumur 47 an tahun itu.

 

Dan sekali lagi, ada saja hal yang membuatnya tetap bertahan tinggal sejenak ditaman itu. Tanpa sengaja saat ia melewati area parkir mobil2 pengunjung taman, ia mendengar namanya disebut. Awalnya Eunbi tak menghiraukannya, namun kata kedua dan seterusnya yang terlontar dari bibir seorang pemuda yang duduk diatas kap mobil, menarik perhatiannya.

 

“Yook Sungjae?” batinnya setelah benar2 yakin dengan suara yang didengarnya berasal dari sosok yang ia kenal.

 

Sesuatu membuat hatinya perih tak tertahankan hingga membuat kristal bening dimatanya jatuh. Tangannya mengenggam phonselnya erat hingga buku2 jarinya memutih.

 

“Kenapa kau tidak pernah mencoba untuk menghubungiku?”

 

Sungguh, Eunbi juga ingin berteriak dengan kalimat yang sama dengan yang ditanyakan Sungjae padanya. Kemana saja kau selama ini? Kenapa pergi tanpa pamit? Kenapa tidak pernah memberi kabar? Kenapa menghilang begitu saja?

 

Terlalu banyak kenapa yang ingin ditanyakan Eunbi jika bertemu dengan Sungjae. Tapi nyatanya, gadis itu tak bergerak dari tempatnya sekarang. Ia diam bak patung batu.

 

 “Aigoo, Sungjae a, tentu saja itu tidak mungkin.”

 

Gadis itu mengangkat lengannya yang menggenggam phonsel. Dibukanya aplikasi kamera dan mengarahkannya pada sosok yang seperti orang gila diatas kap mobil, yang sedari tadi bicara sendiri tak jelas.

 

Dalam sekejap, satu gambar terabadikan. Dengan cepat, Eunbi mengirimkannya pada nomor Sungjae yang Eunbi saja tidak yakin apakah nomor itu masih dipakai atau tidak. Ajaibnya, nomor yang selama 3 tahun tidak dapat dihubungi, bisa menerima pesan foto yang dikirim Eunbi.

 

Dari jarak ini, Eunbi bisa menangkap wajah terkejut Sungjae. Dengan mata penuh kabut, ia mengunci pandangan Sungjae. Mereka saling berlomba. Siapa yang paling kuat untuk diam dan tak berkedip. Bodoh bukan? Tapi itu yang mereka lakukan beberapa menit ini.

 

“Go Eunbi.”

 

Akhirnya, Eunbi lah pemenangnya. Sungjae tak tahan untuk terus diam. Pemuda yang berusia 1 tahun diatas Eunbi itu perlahan melangkah mendekat. Seperti ada rem darurat, pemuda itu otomatis berhenti dijarak 1 meter.

 

“A–annyeong Go Eunbi,” sapa Sungjae mencairkan suasana. Gagal. Tentu saja. Eunbi masih diam menatapnya lamat. “K–kau dari mana? Bagaimana kabarmu?” Sungjae masih berusaha untuk mencairkan suasana yang sungguh Sungjae bersumpah tak ingin lagi merasakannya dikemudian hari.

 

Ketara sekali kalau Sungjae gugup setengah mati. Ia salah tingkah. Tak punya ide lagi untuk mengajak Eunbi bicara. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa bertemu dan menyapa gadisnya lagi. Namun ini jauh dari yang ia bayangkan. Ia pikir, jika ia dipertemukan lagi dengan Eunbi, maka pertemuan itu akan dramatis dan romantis. Nyatanya? Sama sekali jauh dari perkiraannya.

 

“Oke baiklah. Kau boleh diam seperti itu terus, aku tidak masalah,” katanya menyerah dan mulai bertingkah konyol ala Sungjae. “Aku tidak mengerti dan tidak tau harus mulai dari mana, tapi aku yakin mungkin aku harus melakukan ini sebagai awalnya.” Sungjae menatap Eunbi intens. “Maafkan aku.”

 

Buliran kristal itu semakin deras berjatuhan dari kelopak mata indah Eunbi. Sungjae semakin salah tingkah melihat Eunbi yang tak kunjung menanggapinya.

 

“Kau masih saja cengeng?” ledeknya dengan suara lemah. Senyumnya terlihat begitu layu menyaksikan genangan kristal itu tak kunjung surut. “Kau tau ini apa?” Sungjae menunjukkan phonselnya. “Kau tau apa yang bisa dihasilkannya dengan wajah jelekmu itu, huh?”

 

Suara Sungjae bergetar. Tangannya yang bebas menggenggam angin dengan erat. Ia gelisah. Ingin sekali ia menghapus air mata Eunbi, namun segenap hati ia tahan. Bersamaan dengan belaian angin malam yang menerpanya, tubuh mungil Eunbi jatuh dan menabrak dadanya. Sesak, sedikit. Sungjae berusaha menyesuaikan diri dengan cepat. Pelukan Eunbi terlalu erat, tapi sialnya Sungjae menyukainya. Saat itu pula, tangisan manja Eunbi pecah. Ia dengan sengaja membasahi baju yang dikenakan Sungjae dengan air matanya.

 

Napeun nom… napeun nomiya,” rancaunya yang setiap kata terucap, membuatnya semakin mempererat lingkaran tangannya kepinggang Sungjae.

 

Sungjae tersenyum pahit. Ada rasa sakit yang menelusup masuk disela2 aura kebahagiaannya. Ia tak mengelak jikalau saat ini ia merasa sangat bahagia karena faktanya Eunbinya tak bisa jauh darinya. Tapi kenyataan tentang bagaimana gadis itu menarik cepat uluran tangan yang bahkan belum sempat gadis itu berikan pada Sungjae, membuat pemuda yang memiliki mata indah itu kembali meyakinkan dirinya bahwa yang dilakukannya saat ini salah.

 

“Eun–Eunbi a.”

 

Sungjae mencoba mendorong Eunbi pelan. Gadis itu melonggarkan pelukannya ketika kedua tangan Sungjae bertumpu di bahunya. Sungjae tak menyukai ini. Beberapa detik lalu, ia merasa sangat nyaman dengan suhu tubuh Eunbi yang mendekapnya, tapi sekarang, angin malam menggantikannya.

 

Eunbi mengerti, garis wajah Sungjae yang bercerita. Sungjae bingung harus memulai dari mana saat suasana canggung kembali tercipta. Maka yang ia lakukan sekarang hanyalah menunduk dan mencoba menghindari tatapan Eunbi. Yah, hanya itu yang ia mampu pikirkan saat ini.

 

“Apa di luar negeri tidak ada signyal?”

 

Pertanyaan gadis itu menyentak kesadaran Sungjae yang sempat berlarian tanpa arah. Ia mendongak perlahan dan mulai membalas tatapan Eunbi.

 

“Kenapa diam saja?” Sungjae menelan salivanya pahit. “Aku bertanya ; apakah diluar negeri tidak ada signyal?”

“K–kau bodoh atau apa?” seru Sungjae setelah beberapa saat terdiam. Keberaniannya untuk bersikap normal pada Eunbi ia bangun dengan susah payah. “Tentu saja ada.”

“Atau mungkin kau yang sudah lupa cara menggunakan alat komunikasi jaman sekarang?”

 

Eunbi mengacungkan benda persegi panjang dengan design sederhana dan berukuran sedang, kurang lebih 5” ukuran layarnya.

 

“Kenapa kau tidak menggunakannya?” kembali, Sungjae menelan salivanya pahit. Seperti ada duri tajam yang bersarang ditenggorokan, Sungjae menelannya dengan susah payah. Pemuda itu menghela nafas panjang sambil terpejam.

“Maaf.”

“Hanya itu?” tuntut gadisnya.

“Aku mengalami kecelakaan saat baru tiba diluar negeri. Phonselku terlindas mobil yang melintas. Semua berantakan. Yang dapat kuselamatkan hanya memory cardnya. Dan sekilas info, tak banyak yang bisa kuselamatkan darinya.”

“Apa kau tidak bisa membuka akunmu lagi?” Sungjae lagi2 hanya bisa diam. “Jawab aku Sungjae,” seru gadis itu tak sabaran.

 

“Benar. Aku tidak membuka akunku lagi karenamu.”

“Aku?” Sungjae menatap intens tepat dimanik bening Eunbi.

“Apa untungnya aku membuka kembali akunku?”

“Setidaknya kau bisa memberi kami kabar.” Eunbi terlihat ragu menjawab. Gadis manis itu mencoba menghindar dari tatapan yang sarat akan tuntutan dari Sungjae. “L–lalu, nomor yang tiba2 aktif setelah 3 tahun tidak bisa dihubungi itu, bisakah kau jelaskan?” tanya Eunbi kembali menantang.

“Aku mengambil nomorku lagi saat sampai disini beberapa hari lalu,” jelasnya malas. “Kau mau tau? Sekolah asrama yang dipilihkan ayahku menyita semua barang pribadiku. Kami diberi fasilitas baru dari sekolah agar pihak sekolah bisa memantau semua kegiatan dan komunikasi kami.” Sungjae menghela nafas dalam2. “Menurutku itu penjara bukan sekolah asrama. Semua tindakan dan perilaku kita benar2 diperhatikan detil. Bahkan sekolah itu jauh lebih parah dari sekolah kepribadian dinegara manapun. Aigoo, ayahku benar2 menemukan tempat yang sulit untuk digempur,” dengusnya.

“Benarkah?” kikik Eunbi.

 

“W–Wae?” Eunbi gelagapan saat Sungjae kembali intens menatapnya.

“Lama sekali tidak melihat wajah bodohmu.”

 

Dengan seenaknya, Sungjae mengacak poni Eunbi. Tentu saja cibiran dan penolakan terlontar keras dari bibir mungil Eunbi. Meski begitu, Sungjae tetap melakukannya. Menganggu Eunbi selalu menjadi kesenangan tersendiri untuknya.

 

 

Hari2 berlalu dengan ide2 segar yang mengalir dikepala seorang Eunbi. 1 minggu ini, meski berat seperti apapun, Eunbi selalu tersenyum sepanjang hari. Gadis itu semakin sering bertemu dengan Sungjae. Bahkan terkadang mereka janjian untuk pulang bersama. Ow, jangan lupakan Yi Ahn. Atlet renang itu sesekali pernah bergabung dengan mereka. Menghabiskan waktu dengan bercerita tentang masalalu. Sahabat Eunbi yang lain, Cha Song Joo, gadis itu berhasil kontrak dengan agensi 4 tahun lalu dan mewujudkan mimpinya sebagai seorang artis.

 

Ketika saat itu tiba, Yi Ahn dibuat semakin tau seberapa tebal garis batasnya. Setiap waktu yang bergulir disertai sebuah cerita tentang kekonyolan, ketidak jelasan, kebodohan, dan kecerobohan Sungjae. Yah, sosok Sungjae yang kini mendominasi dalam cerita itu. Yi Ahn mencoba mengerti, dia memahami.

 

Siang ini, Eunbi duduk manis dengan kedua tangan yang bertumpu mantap diatas meja yang penuh dengan makanan. Wajah manisnya tak absen oleh senyuman. Kelereng matanya terus merekam setiap inci gerakan yang dibuat oleh seorang yang kini tengah semangat melahap makan siangnya.

 

Ingatan gadis itu bertengger pada waktu lalu. 1 tahun setelah kepergian Sungjae keluar negeri, ia bertemu dengan wanita paruh baya yang sejak Sungjae kecil bekerja sebagai asisten rumah tangga diistana megah keluarga Sungjae, setelah tidak sengaja bertemu didekat komplek perumahan dan membantunya membawa belanjaan yang berantakan karena kantung plastiknya rusak.

 

Wanita yang akrab disapa ’ahjungma’ oleh Sungjae itu menceritakan kabut kelam yang menyelimuti kehidupan seorang Sungjae sejak kecil. Adegan demi adegan yang sempat ia rekam, ia ceritakan pada Eunbi. Remuk redam hati Eunbi saat tetes demi tetes air mata merembes keluar dari kedua kelopak mata renta ahjungma.

 

“Tak pernah sekalipun saya melihatnya makan bersama, minimal orangtuanya dihari ulang tahunnya. Dia selalu sendirian. Kenyataan bahwa ayahnya membenci kelahirannya, membuat Sungjae menjadi liar.” Wanita yang menginjak umur kepala 6 itu mengambil nafas dalam2. “Bukannya mendapat perhatian, dia justru mendapat perawatan dirumah sakit. Aigoo uri Sungjae.

Saat itu, otak Eunbi memutar kembali momen saat ia bertemu dengan cara tak biasa dengan Sungjae di rumah sakit. Pemuda dengan sejuta kekonyolan yang pernah tercipta didunia, begitu suram jiwanya. Tak ada tempat untuknya bersandar. Ironis.

 

“Sungjae hanya anak laki2 normal yang mengalami guncangan mental karena perceraian orangtuanya. Dia sebenarnya anak yang baik.” Ahjungma menambahkan. “Dia selalu memperhatikan orang lain. Sebaliknya, tak pernah ada yang memperhatikan dan memperdulikannya. Dia hanya butuh orang yang mengkhawatirkannya lebih dari ia mengkhawatirkan orang lain.”

 

Sejak percakapan panjang yang mencabik2 tiap bagian dari hatinya itu, Eunbi berjanji pada dirinya sendiri untuk mengatur ulang hatinya. Kali ini tak akan ada lagi kesalahan. Ia telah memantapkan hatinya. Ia siap mengulurkan tangannya kapanpun, dimanapun, dan disaat apapun pada Sungjae. Ia akan menggenggamnya erat dan menjaminnya tidak akan jatuh lagi.

 

“Ya!!!”

 

Seruan Sungjae membangunkannya dari kenangan masa lalu. Gadis itu hanya bergumam menanggapi Sungjae sambil menunggu kesadarannya yang masih berlari dari masa lalu.

 

“Kau bilang lapar, kenapa tidak dimakan?” tanyanya gemas dengan mulut penuh makanan.

“Eung.” Gadis itu mengangguk dan mengangkat sumpitnya.

 

Tak berapa lama, seorang waitress mendatangi meja tempat Sungjae dan Eunbi makan siang. Pelayan wanita yang memakai seragam rapi itu meletakkan semangkuk miyeok-guk diatas meja. Setelah memberi ucapan terima kasih pada pelayan, Eunbi menarik mangkuk putih itu kearah Sungjae. Dengan tatapan tanpa minat, Sungjae mendorong kembali mangkuk itu kearah Eunbi.

 

“Ini ulang tahunmu, ingat?” tutur Eunbi selembut mungkin seraya kembali mendorongnya ke dekat Sungjae.

“Aku hanya tidak menyukainya.” Sekali lagi, aksi dorong mendorong terjadi diatas meja.

“Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya.” Eunbi mengambil sesendok penuh miyeok-guk. Misi selanjutnya, menunggu Sungjae melahapnya. “Aku meracuninya, kau akan terkejut karenanya. Makanlah.” Eunbi masih menahan lengannya diudara, menunggu respon Sungjae.

 

Meski tidak lucu, Sungjae tersenyum dengan candaan Eunbi. Pemuda yang genap berumur 21 tahun itu menghela nafas panjang. Dengan berat hati, ia melahap sesuap miyeok-guk dari sendok yang disodorkan Eunbi.

 

Eottae?” Eunbi antusias setelah melihat Sungjae menelannya.

“Sepertinya kau harus menggendongku lagi. Aku kesakitan, agrh,” erangnya seraya memegangi dadanya.

“Cih,” desisnya. “Berhenti mendrama. Habis kan makananmu.” yang diejek hanya tersenyum lebar dan sesuai perintah, ia kembali memasukkan makanan2 itu kemulutnya.

 

Cuaca cerah dengan angin yang lembut menyambut Sungjae dan Eunbi yang kini tengah menelusuri walkingstreet yang tak jauh dari restoran tempat mereka makan siang dan merayakan ulang tahun Sungjae. Hari yang memperoleh rangking 1 dalam daftar hal dibenci milik Yook Sungjae.

 

“Sungjae a.” Panggilan Eunbi hanya dibalas gumaman oleh Sungjae. “Apa yang ingin kau lakukan?” tanyanya antusias. Dahi Sungjae terlipat. Memikirkan baik2 apa yang ia ingin lakukan untuk menyambut malam bersama Eunbi.

“Kau? Apa yang ingin kau lakukan.”

“Menuruti semua permintaanmu,” jawabnya pasti.

“Benarkah?” senyum jahil tercetak tebal digaris bibirnya. “Kalau begitu aku ingin… emmm…”

“Ya! Aku meluangkan waktu hari ini bukan untuk kau habiskan dengan bergumam tak gelas seperti itu.” yang bentak hanya tersenyum senang.

“Apapun asal bersamamu.”

Aigoo, kau tidak berubah sama sekali,” dengus Eunbi yang diiringi kekehan.

 

Sepanjang hari itu hanya ada kegembiraan yang dirasakan Sungjae dan Eunbi. Mereka tertawa bersama. Menghabiskan waktu ditaman bermain bersama. Semua tentang kebahagiaan. Nampaknya Eunbi benar2 memegang teguh janji yang sudah ia buat sendiri.

 

Dan disinilah mereka. Dipenghujung hari ini, Sungjae dengan wajah ceria mengantar Eunbi pulang.

 

“Baiklah kita sampai,” ucap Sungjae begitu mereka sudah berdiri didepan pintu gerbang rumah Eunbi.

“Eung.” Eunbi bergeser menghadap Sungjae.

“Terimakasih untuk hari ini. Menyenangkan bisa menghabiskan hari ini bersamamu.” Eunbi tersenyum bangga. “Masuklah. Kau pasti lelah.”

 

Tak mengindahkan kata2 Sungjae, Eunbi masih berdiri tegap dihadapan Sungjae. Tak ada tanda2 dari gadis itu akan beranjak dari tempatnya. Sungjae menaikkan sebelah alisnya bingung dengan tatapan Eunbi.

 

Wae? Apa ada yang ingin kau katakan lagi?”

 

Tanpa menjawab pertanyaan Sungjae, Eunbi melangkah mendekat. Tepat dihadapan Sungjae, Eunbi berhenti. Jantung Sungjae bermaraton karenanya. Meski begitu, ia tak juga merespon.

 

Hal yang tak diprediksi Sungjae pun terjadi. Gadis yang lebih pendek darinya itu berjinjit dan tiba2 mencium pipi kanannya singkat. Ada sensasi menyenangkan saat bibir lembut Eunbi menyapa kulit pipinya. Ia menyukainya, sangat.

 

Keduanya saling menatap. Sungjae benar2 kehilangan kemampuan syarafnya saat berhadapan dengan Eunbi dijarak ini. Terkejut, pasti.

 

“Y–ya.” Sungjae menelan saliva dengan gugup. “Go Eun Bi. Apa yang kau lakukan?”

“Entahlah,” jawabnya tanpa rasa bersalah. Gadis itu justru tersenyum simpul.

“Kau bahkan tidak menyukaiku. Bisakah kau melakukan itu padaku?”

 

Eunbi diam. Senyumnya perlahan memudar. Raut wajahnya tegang. Sungjae yang mengetahuinya mencoba untuk menghibur. Oh sungguh. Sudahkah Sungjae bilang kalau dia bersumpah tidak ingin berada dalam situasi seperti ini lagi? Sepertinya ia sudah mengatakannya. Tapi beginilah takdir, berjalan sesuai dengan kehendak tuhan, bukan kehendak Sungjae.

 

“Sudah malam. Masuklah,” ucap Sungjae kemudian. Dengan lembut, ia mengusap puncak kepala Eunbi. “Selamat malam.” Sungjae beranjak.

 

Joahae.”

 

Oke kali ini, bukan lagi merasa. Tapi mungkin Sungjae akan benar2 kehilangan kemampuan jantungnya untuk memompa darah dengan normal. Apa tadi? Sungjae tidak salah dengar kan? Eunbi? Dengan gerakan perlahan, Sungjae memutar badannya menghadap Eunbi.

 

Joahagu,” ulang Eunbi.

 

Suara malam mengisi keheningan mereka. Eunbi mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Kenapa? Eunbi gugup. Ini pertama kali dalam hidupnya, mengatakan dirinya menyukai seorang pria. Sekali dalam seumur hidupnya, ia merasa amat tersiksa karena seorang pria. Yah, ini pertama kalinya gadis itu melakukannya. Ia tak ingin kehilangan pemuda itu lagi. Tidak setelah ia pernah membiarkan pemuda itu terjatuh dan menderita seorang diri.

 

Mianhae.” Suaranya parau. Gadis itu menahan tangisannya. “Maaf karena meninggalkamu sendirian. Maaf karena tak bisa mengerti dengan kondisimu. Maaf karena membiarkanmu dalam sakit hatimu. Maaf karena tak bisa kau andalkan. Maaf karena aku menolak menjadi sandaranmu.”

 

Oh baiklah. Sungjae sudah tidak peduli lagi dengan jantungnya yang terus berdenyut tanpa ritme yang benar. Kakinya begitu ringan untuk melangkah mendekat.

 

“Maafkan aku Sungjae a, maafkan aku,” gumamnya sesenggukan. Tangan Sungjae terulur untuk menangkup pipi kanan Eunbi.

“Bodoh.”

“Eung.”

“Mau berapa banyak lagi kau minta maaf? Kau pikir aku akan memaafkanmu semudah itu?” Eunbi menggeleng. “Benar. Ini semua salahmu.” Satu lagi tangannya yang bebas menangkup pipi kiri Eunbi dan mendongakkannya sedikit agar gadis itu menatapnya.

 

“Aku sudah bilang padamu sebelumnya. Kau akan menyesal menolakku seperti dulu,” canda Sungjae. “Kau tau crystal?” Eunbi tak menjawab. “Batu keras yang indah itu, akan semakin berharga jika dirawat dengan baik. Lalu apa yang terjadi dengan crystal ku? Aku sudah susah payah merawatnya dengan baik dan membiarkannya ditangan yang benar. Tapi mengapa crystal ku menjadi begitu suram? Tak ada lagi cahaya yang terpancar darinya.”

Crystalmu rusak,” ucap Eunbi. “Banyak retakan dimana2 setelah pemilik yang sebenarnya tak merawatnya bahkan membiarkannya jatuh pada pemilik yang lain. Crystal mu, sangat rapuh. Kemilaunya membuat pemilik yang sebenarnya tak terlihat.”

 

Sungjae tersenyum mendengarnya. Kedua ibu jarinya bergerak lembut, mengusap air mata yang tergenang dikelopak mata gadisnya. Tanpa pikir panjang, Sungjae menghapus jarak wajahnya dengan Eunbi. Satu kecupan hangat yang penuh dengan sejuta kerinduan tersalur dikening Eunbi.

 

“Aku akan memperbaiki retakan itu,” bisik Sungjae. “Sekarang berhentilah menangis. Sampai kapan kau cengeng seperti ini?”

 

Rengkuhan hangat Sungjae membuat Eunbi hanyut. Gadis itu tersenyum simpul saat debaran jantung Sungjae terdengar olehnya. Belaian lembut Sungjae dikepalanya begitu menenangkan. Gadis itu menyukainya. Pelukan Sungjae yang ia rindukan. Ia tak akan menolaknya lagi.

 

Saranghae.”

 

Eunbi mempererat lingkar tangannya dipinggang Sungjae begitu mendengar bisikan manis itu. Gadis itu lupa caranya berhenti tersenyum senang. Malam panjang yang indah.

 

Hari terbaik dalam hidupnya. Hari ulang tahunnya. Sekarang Sungjae tak lagi membencinya. Karena ada yang bersyukur atas kelahirannya. Yah, dia orangnya. Sandarannya. Tempatnya pulang. Crystalnya. Go Eun Bi.

 

~fin~

 

Thanks for Dea yang mau direpotin lagi

Hehehe

 

Thanks too for readers dul yang menyempatkan baca, like bahkan meninggalkan jejak

Kritik dan saran selalu dinanti J

Gomawoyo

16 responses to “[Oneshot] Like A Crystal

  1. huaaaahhhhhhh aku masuk terlalu dalam sama cerita inih, mungkin efek aku memang belum bisa move on dari drama mereka school 2015..

    welll penulisannya juga oke banget, diksi diksi yang dipakai bagus dan indah..

    good writer🙂
    ditunggu karya karya lainnya

    • Thanks for your comment

      Habis nonton itu drama yang kedua kalinya, gemes banged sama endingnya
      makanya kepikiran buat Tae Kwang side yang namanya aku kasih nama aslinya
      soalnya ada beberapa bagian yang bener2 bertolak belakang sama dramanya
      ehehehehe

      Trimakasih buat pujiannya juga
      Semoga bermanfaat dan bikin aku semakin semangat nulis2 yang lebih baik lagi

      sekali lagi trimakasih🙂

      • Bener thro. Udah seneng bangt pas akhirnya eubin bisa deket banget sama tae kwang. Tapi jalan ceritanya ga terduga. Tau tau endingnya enbi sama yi ahn rasanya tuh ga rela banget. Padahal yang berjuang bener bener tae kwang bukan yi ahn.
        Kesel sendiri liat ending school 2015. Aaahhh

  2. Waaah keren bangeett T^T Suka banget sama kata-kata crystal nya, menyentuh.. Arti nya juga bagus.. Coba aja ending school 2015 kaya gini.. Pati jadi drama yang TOP banget deh T^T Dan saya juga salah satu orang yang belum bisa move on dari drama itu :’v Pokoknya fanfic ini keren banget.. Di tunggu karya lain TaeBi nya.. hihi

    • Thanks for your comment

      Jinjja???
      Gomawoyo😀

      Yah padahal aku sempet ragu sama bagian yang bahas soal crystalnya
      Eh malah berkesan
      Bersyukur sayanya
      hehehe

      Yah begitulah
      Sayanya juga belum isa move on dari ini couple

      Coba deh nanti dipikir lagi buat yang TaeBi couple

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s