[ONE SHOT] The Story of Seeker: Hide And Seek

Hide And Seek

The Story of Seeker: Hide And Seek | wineonuna

Horor, Fantasy, a lil bit school-life & romance

Poster by. Kis.S Art | G | One Shot

Song Mino ‘Winner’ – Kang Haeli (OC)

Desclaimer: Semua yang tertulis di sini tidak nyata dan karangan author saja

A/N: Semoga feel horrornya terasa ^^

Don’t be a plagiator ^^ kritik dan saran very welcome😄

——————————–

Apapun yang terjadi, tetaplah bersamaku!

 

Dalam kurun waktu tiga bulan, sekolah Tarara menjadi bahan pembicaraan di kota Aekyung bukan karena prestasi yang dihasilkan tapi selama satu bulan terakhir tiga murid sekolah Tarara menghilang secara misterius. Pihak sekolah tidak bisa menjelaskan penyebab hilangnya tiga murid yang terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan, orang tua murid yang panik dan ketakutan tak henti mendesak pihak sekolah untuk memberikan keterangan yang logis tentang kejadian itu.

Meski begitu kegiatan belajar mengajar sekolah Tarara tetap berlangsung, murid-murid tetap belajar dan ujian seperti biasanya hanya untuk menghindari hal serupa, sekolah memberlakukan jam malam artinya kegiatan belajar mengajar hanya sampai pukul lima sore saja.

“Rumor yang beredar akhir-akhir ini mengatakan bahwa murid-murid hilang karena mereka kalah dalam permainan dengan roh penunggu gudang dekat gedung olahraga.”

“Apa maksudmu?”

“Dulu ada permainan yang terkenal, permainan yang menantang adrenalin. Hide and Seek with Yuru, permainan ini menjadi permainan satu lawan satu dengan hantu Yuru. Kau harus menuliskan sebuah nama yang akan menjadi pemain selanjutnya jika kau kalah dari hantu Yuru.”

“Maksudmu?”

“Jika hantu Yuru menemukan persembunyianmu maka kau akan menghilang dan nama yang kau tulis akan menjadi pemain selanjutnya. Permainan selesai jika ia berhasil menemukan persembunyian hantu Yuru dan mengatakan ‘aku menemukanmu!’, jika kau melakukannya maka hantu Yuru akan hilang dan orang-orang yang hilang akan muncul.”

“Bukankah itu hanya mitos? Ah… dan lagi, bukankah hantu Yuru yang mencari?”

“Eeii… Itu bukan mitos, hantu Yuru benar-benar ada. Kau harus menentukan untuk bersembunyi atau mencarinya. Cih, kau tidak tahu aturan permainan itu?”

Selagi murid lain mendengarkan penjelasan murid pria yang dikenal juga sebagai perusuh di kelas, seorang murid wanita justru sibuk dengan layar ponselnya yang dihias dengan stiker lucu. Tidak ada kegiatan selain menunggu waktu pulang.

“Haeli-ya… Kau harus mencoba permainan ini, kau adalah pencari terbaik kepunyaan kami.”

Gadis yang bernama Haeli hanya tersenyum mendengar tawaran murid laki-laki yang bercerita tadi, ia menaruh ponselnya ke dalam saku baju lalu mulai membereskan meja belajarnya. Murid lain masih menunggu jawaban Haeli karena tak puas dengan senyuman yang diberikannya.

“Haeli-ya, kau harus mencobanya. Kau harus memanfaatkan kemampuan ajaibmu itu.”

Teeettt…

Bel sekolah berbunyi, Haeli berdiri dan berjalan menuju pintu kelas lalu menghilang di balik pintu. Haeli berjalan dengan santai menuruni anak tangga, ia tak memikirkan ucapan teman-temannya tadi meski ia memang memiliki bakat istimewa sebagai seorang pencari.

Haeli sudah mendapatkan bakat pencari sejak lahir, ia mampu menemukan benda yang hilang hanya dalam waktu singkat dan yang terlama 24 jam. Haeli baru menyadari kemampuannya saat ia duduk di bangku sekolah menengah pertama, sejak itu ia selalu diandalkan dalam mencari barang yang hilang entah oleh teman-teman, guru atau keluarganya sendiri. Sayangnya kemampuannya ini memiliki kelemahan, jika ia terlalu sering menggunakan kemampuannya jiwanya akan semakin lemah hingga ia mudah sakit dalam waktu yang lama.

Sekalipun keluarga dan orang-orang di sekitarnya tahu, mereka tetap saja meminta Haeli mencari barang yang hilang. Terkadang Haeli justru dikerjai untuk mencari barang yang sengaja disembunyikan hanya untuk menguji kemampuannya. Tidak tahan dengan keadaan yang terjadi terus-menerus, Haeli memutuskan untuk pergi dari rumah dan pindah sekolah.

Di saat ia sendirian, Haeli menemukan seseorang yang juga memiliki keistimewaan. Orang itu adalah Song Mino, pria dengan kemampuan melindungi. Mino bisa melindungi seseorang yang dia mau dari bahaya apapun kecuali maut. Berbeda dengan Haeli yang menyadari kemampuan saat berusia 14 tahun, Mino sudah menyadari keistimewaannya sejak umur 8 tahun, saat ia melihat ibunya sering dipukuli ayah tirinya. Sejak itu ia berusaha melindungi ibunya namun bukannya berpihak padanya, sang ibu justru meninggalkannya dan lebih memilih tinggal dengan suaminya.

“Mino…” panggil Haeli saat melihat pria dengan motor sportnya ada di gerbang sekolah. Haeli segera berjalan mendekat ke Mino dengan senyum kelegaan karena menemukan Mino sudah menunggunya.

“Kapan kau akan memanggilku oppa, gadis nakal?”

“Mana helmnya? Menggelikan memanggilmu oppa, hiiiii.”

“Kalau chagi?” Mino mengedipkan sebelah matanya pada Haeli namun gadis itu tak merespon, ia mengambil helm dari tangan Mino lalu naik ke belakang dan memakai helm lalu memeluk Mino.

“Ayo jalan, chagi.”

Mino tersenyum mendengar ucapan Haeli yang terdengar kecil seperti menahan malu lalu menjalankan motornya ke jalan raya. Kota Aekyung tak sebesar Seoul atau Busan atau Incheon, Aekyung adalah kota yang kecil namun tak kalah modis dengan ibu kota negara ini.

Motor Mino berhenti di sebuah restoran siap saji, keduanya masuk dan mulai memesan makanan. Lima menit kemudian, Haeli dan Mino sudah duduk saling berhadapan. Mino mulai membuka kertas yang membungkus chicken burgernya sementara Haeli mulai menyesap cola yang ia pesan.

“Mereka mulai menyuruhku mencari lagi. huft…”

Mulut yang siap menggigit burger langsung mengatup begitu mendengar ucapan Haeli, Mino menaruh burger di atas piring lalu ikut menyesap cola sesaat. Matanya tak lepas dari wajah Haeli yang terlihat malas.

“Kali ini apalagi yang mereka cari?”

“Hantu…”

“Untuk apa mencari hantu? Apa kau bisa melihat hantu?”

Haeli diam tak menjawab, ia melihat sesaat ke arah kuku-kukunya yang berwarna-warni karena cat kuku lalu jemari kirinya merogoh ke dalam tasnya mencari sesuatu. Melihat Haeli tak peduli dengan permintaan teman-temannya, Mino kembali mengambil burger dan bersiap menggigitnya.

Haeli menaruh kertas yang tergulung di atas meja makan mereka lalu kembali menyesap cola dengan santai namun matanya tak lepas dari kertas itu yang menarik perhatian Mino. Pria itu kembali menaruh burger dan meraih kertas yang ada di atas meja lalu membukanya.

KANG HAELI

“Apa maksudnya ini?”

“Apa kau tahu permainan hide and seek with Yuru?”

“Aku rasa aku pernah mendengarnya, hubungannya dengan ini?”

“Aku adalah pemain selanjutnya.”

Mino terdiam. Ia tengah mencerna ucapan Haeli, mengaitkannya dengan permainan dan permintaan teman-temannya untuk mencari hantu. Kemudian matanya membesar, ia menatap Haeli tak percaya. Sedikit banyak, ia tahu tentang permainan bodoh itu lengkap dengan aturan dan resiko permainan itu tapi gadis yang sudah tinggal bersamanya selama tiga tahun terakhir ini tidak terlihat takut atau gelisah.

“Apa kau akan melakukannya?”

Haeli memutar bola matanya lalu mengedikkan bahu dan kembali melihat kukunya sambil memainkannya dengan santai. Mau atau tidak, ia adalah pemain selanjutnya. Permainan tidak akan selesai jika ia tidak bermain dan sampai kapanpun permainan itu akan menunggunya, matanya melirik kertas yang ada di sela jari Mino.

Mengapa Hyonsuk menuliskan namanya? Membuatnya susah saja. Haeli tidak takut hantu tapi pria yang ada di hadapannya ini pasti bersikeras ikut untuk melindunginya sementara dia sangat takut dengan hantu. Bukannya melindungi yang ada justru dia yang melindungi Mino.

Apa tak usah memberitahu Mino saja, ya? pikir Haeli.

 

. . .

Hide And Seek

. . .

 

“Bagaimana Kang Haeli? Apa kau akan melakukannya?”

Murid laki-laki yang kemarin menceritakan tentang permainan itu tiba-tiba saja duduk di bangku yang ada di depan meja Haeli tapi sayangnya Haeli tak memedulikan murid laki-laki itu, ia sibuk memoleskan cat kuku di kuku tangan teman yang duduk di sebelahnya.

“Kau harus membantu teman-teman kita yang kalah dalam permainan itu. Masa kau tak punya rasa kasihan sama mereka?!”

“Itu hanya rumor, Son Yongguk. Lagipula hantu itu tidak ada, kau terlalu banyak menonton film horror.” Jawab Haeli dengan cuek.

“Han Yooeun menemukan kertas yang ada tulisan namamu di dekat gedung olahraga. Kau pemain selanjutnya kan?”

Suasana riuh kelas pagi itu berubah menjadi keheningan dalam waktu singkat, semua mata memandang ke satu arah. Kang Haeli masih sibuk dengan cat kuku, Yongguk tak main-main dengan ucapannya. Murid laki-laki itu mengeluarkan secarik kertas dari saku baju sekolahnya dan menaruhnya di atas meja Haeli yang berhasil membuat Haeli menghentikan pekerjaannya sesaat.

SIAL. Umpatnya dalam hati. Harusnya ia membakar kertas itu bukan hanya meremas lalu membuangnya begitu saja. Pagi tadi Haeli sengaja mampir ke gedung olahraga, ia melihat gudang yang berada di dekat gedung olahraga hanya melihat saja meski ada keinginan untuk melihat lebih dekat tapi Haeli tak ingin melakukannya, ia tak tertarik.

“Kertas itu tidak ada artinya, itu kertas pemberian pacarku.” Bohong Haeli.

Bel masuk berbunyi sebelum Yongguk membuka mulut untuk menolak penjelasan Haeli. Pelajaran hari ini dimulai, Haeli hanya berharap tidak ada yang percaya dengan ucapan Yongguk kali ini. Ia ingin melewati hari ini seperti sebelum-sebelumnya.

Sebuah kertas tiba di atas mejanya, Haeli menghela pendek saat melihat kertas itu. Ia membuka kertas kecil itu dan membaca isinya lalu dengan segera membalasnya kemudian melipat dan memberikan kertas itu ke teman yang memberikannya. Bukan sekali tapi lebih dari itu hingga pelajaran selesai dan istirahat sejenak menunggu pelajaran lain tiba.

Yongguk kembali ke tempat Haeli, kali ini tatapannya terlihat kesal. Ia melempar kertas ke atas meja Haeli dengan kasar membuat pemilik meja itu menatap Yongguk tak kalah jengkel.

“Apa maksudmu dengan banci, huh?”

“Kalau kau tidak berani melakukannya, kau akan menyuruh orang lain melakukannya. Kalau bukan banci apa namanya?”

“Eeuuuhh… Untung kau wanita, Kang Haeli. Kalau kau pria, aku tak segan melayangkan pukulan ke wajahmu!”

Yongguk mengepalkan tangannya siap meninju Haeli karena terlalu kesal dibilang banci olehnya, ia meninggalkan Haeli dengan menabrakkan bahu secara kasar ke Haeli membuat tubuh gadis itu bergerak kasar. Bunyi pintu kelas yang tertutup kasar mewakili rasa kesal Yongguk yang tak tersalurkan dengan baik, sementara Haeli kembali duduk dan mengatur napasnya agar kembali normal.

Pelajaran dimulai, seperti sebelum-sebelumnya Haeli sibuk memperhatikan cat kuku yang menempel di kuku jemarinya lalu mulai mengambil ponselnya di dalam tas. Matanya membulat ketika tak menemukan ponsel di dalamnya, Haeli justru merasa tasnya dipenuhi dengan potongan-potongan kertas kecil. Penasaran dengan yang terjadi di dalam tasnya, Haeli menarik tas miliknya dan menaruhnya di atas kedua pahanya. Suara penjelasan guru tak lagi jelas didengarnya, hawa kelaspun terasa dingin.

Haeli membuka tasnya dan menemukan banyak kertas kecil yang menumpuk di dalamnya, Haeli menggenggam kertas itu dan mengeluarkannya dari dalam tas lalu menaruhnya di atas meja. Ia mengulanginya lagi dan lagi namun kertas-kertas itu tak berkurang jumlahnya membuat napas Haeli tersengal karena rasa lelah dan kepanikan yang bercampur.

Haeli menghentikan laju tangannya, ia menarik secarik kertas dari dalam tasnya dan membukanya. Namanya tertulis jelas di sana. Haeli tersenyum sinis, ia merasa sedang dikerjai sang hantu. Haeli kembali menetralkan perasaannya dan keadaan kembali seperti semula. Suara guru yang menjelaskan di depan kembali terdengar, udara yang tadi mampu membuat bulu kuduknya berdiri sudah tak ada lagi dan tumpukan kertas dalam tasnya menghilang, termasuk semua kertas yang dibuangnya tadi. Haeli mengambil ponselnya lalu mengembalikan tas ke posisi semula. Sepertinya terror sudah dimulai. Apa ia bisa menghindari terror ini?

Haeli mengirimkan pesan singkat ke Mino untuk tidak menjemputnya karena ia akan menginap di rumah salah satu temannya. Berharap Mino mempercayainya karena Haeli memutuskan untuk segera mengakhiri semua dengan memainkan permainan bodoh itu, alasannya hanya satu ia ingin hidup tenang dan membuat teman-temannya berhenti meminta bantuannya menemukan benda-benda tak berguna.

Kelas terakhir sudah selesai, Haeli menjadi murid terakhir yang tinggal di kelas. Ia duduk menatap kosong papan tulis yang sudah bersih. Ia yakin dirinya pasti sudah gila karena mau melakukan permainan ini. Haeli mulai berdiri dan berjalan menuju pintu kelas. Napasnya terdengar berat. Haeli menggeser pintu kelas dan keluar.

“Kau akan melakukannya?”

“Mino?”

“Iya, ini aku. Apa kau benar-benar akan melakukannya?”

“Aku tidak punya pilihan. Hantu itu menggangguku.”

“Aku akan ikut.”

“Tidak. Kau sangat penakut. Aku tidak mau mengambil resiko.”

“Kau bodoh. Kau pikir aku akan jadi penakut jika itu menyangkut keselamatanmu?”

.

.

.

“Haeli-ya… Apa setelah kita masuk ke sini, suasana di dalam akan berubah?”

Genggaman tangan Mino menjadi lebih erat dari sebelumnya setelah melihat keadaan gudang sekolah. Haeli menghela napas, karena itulah ia tak begitu mempercayai Mino bila bersangkutan dengan hantu. Pria itu terlalu penakut. Namun Haeli tak menyalahkan Mino sepenuhnya, suasana di sini memang mencekam. Gudang sekolah tak memiliki sumber cahaya sama sekali, satu-satunya penerang adalah biasan cahaya lampu dari gedung olahraga, itupun hanya remang.

“Haeli, apapun yang terjadi. Jangan lepaskan genggamanmu dan tetap di dekatku.”

DEG. Pipinya terasa panas untuk sesaat mendengar ucapan Mino. Haeli merasa Mino tampak beda malam ini, ia merasa Mino lebih ‘LAKI’ dengan berusaha menenangkannya. Hawa dingin semakin terasa, mereka saling menatap sebelum akhirnya tangan Haeli meraih gagang pintu gudang.

“Tunggu!”

Haeli menatap Mino bingung karena menahan putaran tangannya yang akan membuka pintu gudang. “Ada apa? Apa kau berubah pikiran?”

“Tentu saja tidak! Aku tidak tahu ini akan menjadi pertemuan terakhir kita atau tidak. Jadi, biarkan aku menciummu dulu. Mumumu.”

Mental Haeli terjun bebas melihat kekasihnya masih bisa bersikap seperti ini di saat genting. Haeli menutup bibir Mino yang terlanjur mengerucut mencari bibirnya dan memajukan wajahnya lalu mencium singkat pipi Mino.

“Kita akan berhadapan dengan hantu, kau masih saja berusaha mesum. Aku akan menciummu jika kita berhasil menemukan Yuru.”

“Oke~!”

Tangan Haeli kembali memegang gagang pintu gudang dan berhasil memutarnya sehingga pintu terbuka lebar dan menghembuskan angin yang lebih dingin dari angin di luar. “Kita akan masuk sekarang. Kau masih bisa berubah pi—“ Belum selesai peringatan Haeli, Mino sudah menariknya masuk ke dalam gudang.

BLAM. Pintu gudang menutup dengan keras, suasana berubah menjadi lebih mencekam. Cicitan tikus dan derikan kayu yang bergesekan dengan lantai terdengar sesekali. Haeli merasa tangan Mino semakin dingin dan berkeringat, gadis itu menatap Mino dengan ragu namun Mino mengangguk kecil dengan wajah tegarnya.

Sebuah meja muncul dari kegelapan dengan cahaya remang yang menyinarinya, Haeli merasa gudang sekolah menjadi lebih luas dari sebelumnya. Apakah mereka sudah memasuki dunia Yuru? Langkah keduanya terlihat ragu, perlahan mereka mendekati meja itu.

Di atas meja tersedia sebuah kertas dan bolpoint, selain itu di atas meja tertulis aturan permainan.

“’Tulis nama orang yang akan menjadi peserta selanjutnya. Katakan, kau akan mencari atau bersembunyi. Jika kau mendapatkanku, aku akan membebaskan orang-orang yang berhubungan denganmu, tapi jika kau kalah, kau akan menghilang sampai pemain selanjutnya menemukanku,’”

Mino dan Haeli saling menatap saat membaca aturan permainan ini. Mereka mengetahui aturan itu, yang mereka tidak tahu, apakah Yuru tidak berbuat curang?

“’Kau sebaiknya bersembunyi dengan baik dan jangan bersuara atau aku akan menemukanmu.’”

Haeli sudah memegang bolpoint dan siap menulis nama orang selanjutnya, namun ia berhenti. Mino menatap heran ke Haeli. “Mengapa kau tak menulis sebuah nama?”

“Kalau aku menulisnya dan ternyata kita kalah, aku akan membuat orang selanjutnya kesusahan dan permainan tak akan selesai.”

“Lalu?”

Haeli menatap wajah Mino lekat bahkan Mino mampu merasakan tatapan Haeli yang dalam itu, kepalanya menggeleng perlahan. Seperti sudah bisa membaca apa yang selanjutnya terjadi. Haeli melepas genggaman tangan Mino dan menunduk untuk menulis.

SONG MINO.

“Aku tidak akan meninggalkanmu! Kau gila?! Kita akan bersama sampai akhir! Aku akan melindungimu dengan kekuatanku! Jangan bertindak bodoh Kang Haeli, ambil kertas itu!”

“Aku akan bermain sendirian. Jika aku kalah, kau harus menemukannya atau bersembunyi darinya sebisa dirimu. Ah… aku tidak akan kalah.”

Pintu gudang terbuka dengan kasar dan tubuh Mino mendapat dorongan besar yang membawanya keluar dari gudang lalu pintu gudang tertutup kembali. Bunyi tangan yang beradu dengan pintu mulai terdengar samar lalu hening. Haeli tak menampik ia menjaid lebih takut setelah terpisah dengan Mino. Hawa dingin ruangan ini sangat menusuk hingga ke tulang, mata Haeli kembali mawas. Setelah menulis nama Mino, ia menaruh bolpoint di atas kertas yang langsung menghilang dalam hitungan detik.

“Aku akan mencarimu, Yuru.”

 

. . .

Hide And Seek

. . .

 

Haeli berjalan menyusuri lorong gudang sekolah yang sudah bertambah luas dan lebih tampak seperti bangsal rumah sakit tua. Cahayanya hanya berasal dari lampu senter yang ia ambil dari dekat pintu lain yang menghubungkannya dengan ruangan ini. Hawa dingin langsung terasa sangat pekat di lorong ini, Haeli berjalan pelan-pelan, sesekali lampu senternya ia arahkan ke sekeliling untuk mengetahui keadaan sekitar.

BRUK.

Haeli terkejut, ia segera mengarahkan senternya ke belakang dan kosong. Tidak ada sesuatu yang terjatuh dari manapun. Bulu kuduknya berdiri, udara dingin dan lembab ini membuatnya bergidik ngeri. Untuk sesaat, ia menyesal meminta Mino keluar. Paling tidak ia punya seseorang di sampingnya jika hantu itu mengganggunya.

“Haeli-ya… Kang Haeli… Kemarilah!”

IBU. Batin Haeli. Suara wanita yang terdengar sayup-sayup itu sangat ia yakini sebagai suara ibu yang pernah tinggali, rasa rindu segera menyergap. Betapa tidak, ia sudah meninggalkan rumah selama dua tahun tanpa ingin kembali sekalipun Mino sering kali memintanya menjenguk sang ibu.

“Maafkan ibu, Haeli-ya.”

Perlahan Haeli mulai mendekati sumber suara, kerinduannya menuntunnya mencari pemilik suara itu. Haeli sampai di sebuah ruangan dimana suara itu berasal. Tangannya sudah memegangi gagang pintu untuk membuka pintunya, dari kaca yang menunjukkan sisi dalam ruangan tampak sang ibu sedang menangis menunggu Haeli membuka pintu untuk memeluknya dengan tangan yang terbuka. Mata Haeli tak lagi bisa membendung air mata yang memenuhi pelupuk matanya.

Pintunya sudah terbuka. Saat akan melangkah masuk, Haeli justru tertarik ke belakang dan merasakan tubuhnya dipeluk seseorang. BLAM!! pintu tertutup dengan keras, tak ada lagi suara yang memanggil nama Haeli hanya terdengar isak kecil dari Haeli.

“Sshhhh… Tenanglah, ada aku.”

Tangan Haeli mulai menggenggam erat kemeja pria yang memeluknya. “Mi… no.” lirihnya.

Hampir lima menit mereka berdiri seperti itu, setelah Haeli lebih tenang dan melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Mino dengan penuh tanya. Bagaimana bisa pria itu masuk sedangkan namanya telah ditulis untuk menjadi pemain selanjutnya?

“Aku membuat sedikit kesepakatan dengan hantu sinting ini.”

“Kesepakatan? Kesepakatan apa?”

“Kita fokus mencari saja sekarang.”

“Tidak bisa. Apa yang kau sembunyikan?”

“Waktu kita tak banyak, Haeli-ya. Gunakan kekuatanmu untuk menemukan persembunyian hantu itu.”

Mino menggenggam tangan Haeli dan mengambil alih senter yang dipegang gadis itu, ia berjalan di depan Haeli dan mengikuti kata Haeli yang menunjukkan arah tujuan mereka. Pelan-pelan mereka kembali menyusuri lorong ruangan dengan banyak pintu itu, masuk ke satu ruangan lalu keluar jika tak menemukan Yuru.

“Mino-ya…”

“Ibu?” Mino menghentikan langkahnya setelah mendengar sayup suara yang ia kenal sebagai suara ibunya. Kakinya mulai melangkah mencari sumber suara yang terdengar sedih itu, Haeli menggenggam keras tangan Mino.

“Mino, tidak! Itu hanya ilusi. Jebakan dari Yuru.”

“Tapi itu suara ibuku.”

“Bukan, sayang.” Haeli menahan langkah Mino. Ia menarik Mino agar menatapnya, kedua tangan Haeli menutup telinga Mino, “Dengarkan suaraku saja. Yuru sedang berusaha menjebak kita, seperti suara ibuku tadi, ia juga menggunakan suara ibumu untuk menjebakmu.”

“Tapi…”

“Percayalah padaku, sayang.” Ucap Haeli lembut sambil melepaskan kedua tangannya dari telinga Mino. Perlahan suara itu mulai menghilang.

Pencarian mereka kembali dilakukan, gangguan dari Yuru semakin menjadi. Suara barang yang terbuat dari stainless jatuh ke lantai cukup mengagetkan keduanya, sangat keras dan dekat. Sekelebat bayangan mengganggu mereka dari belakang.

“Apa kau bisa menemukannya?”

“Dia berpindah terlalu cepat.”

Keduanya masih terus melangkah, membuka tirai dari ruangan satu namun tak menemukannya lalu berjalan ke tirai selanjutnya dan kembali tak menemukannya. Haeli mulai kelelahan karena kekuatannya cukup menguras tenaganya. Mino yang menyadari itu, menghentikan langkahnya.

Mino memeluk Haeli selama beberapa menit. Mino menyalurkan sebagian energi yang ia punya dengan cara memeluk Haeli, metode ini mereka temukan secara tidak sengaja ketika Mino melindungi Haeli dari runtuhan papan reklame dua bulan lalu. Karena Mino kehabisan energi saat melindungi Haeli, tubuhnya menjadi lemah, saat itulah Haeli memeluk Mino sambil menangis lalu perlahan Mino mulai merasakan tubuhnya menjadi lebih baik.

Untuk membuktikan metode yang mereka temukan ini, keduanya sering berlatih menyalurkan energi sampai minggu lalu menjadi puncak keberhasilan metode ini. Perlahan Haeli merasa tubuhnya menjadi lebih kuat dan energinya kembali ada.

“Terimakasih.”

“Terimakasih saja tidak cukup, kau harus membayarnya dengan ciuman.”

“Astaga! Bagaimana bisa kepalamu hanya berisi ciuman, huh?”

“Umurmu sudah cukup untuk melakukan adegan ciuman denganku, sayang.”

“Aku rasa setelah menemukan Yuru, aku akan menghajarmu!”

Mino terkekeh mendengar keinginan Haeli. Kesal dengan Mino, Haeli berjalan lebih dulu. Ia berjalan dan tak menggubris panggilan Mino, terus berjalan mengikuti perasaannya. Perasaannya semakin kuat ketika berada tepat di depan sebuah ruangan. Haeli berhenti di depan ruangan itu dan menyadari bahwa Mino tak mengikutinya.

“Mino? Ah, bagaimana ini?”

Haeli merasa Yuru masih bertahan di ruangan ini tapi Mino mungkin saja tersesat di ruangan lain atau Yuru sudah menemukan Mino lalu menyembunyikannya. Perasaan bimbang dirasakan Haeli saat ini, jika Mino ada di dekatnya sudah barang tentu ia tak merasa bimbang tapi sekarang Mino tak ada di sampingnya, lalu yang mana harus didahulukannya?

Keberadaan Yuru mulai melemah membuat Haeli panik, ia tak mau kehilangan Yuru dan harus mengakhirinya malam ini juga. Tangannya sudah memegang gagang pintu. Keraguan Haeli masih terlihat tapi fokusnya saat ini sudah jelas, ia harus menemukan Yuru dulu baru mencari Mino.

BRAK!

Pintu terbuka dan ruangan itu kosong. Apa? Kosong? Apa Yuru menipu dirinya? Haeli masuk ke dalam ruangan. BLAM! suara pintu tertutup kasar, sepertinya Yuru masih ada di sini tapi Haeli tak bisa memastikan dimana posisi Yuru dengan tepat karena keberadaan Yuru hampir terasa di seluruh ruangan.

“Haeli… Apa kau bisa menemukanku? Atau kau justru akan terjebak bersamaku?”

Haeli mematung, suara Yuru tepat berada di samping kanan lalu berpindah ke samping kirinya. Yuru sedang mempermainkan Haeli, mengacak posisi yang sebenarnya. Haeli memejamkan mata, memfokuskan kemampuannya di pusat kepala mencari keberadaan Yuru yang berpindah-pindah.

PRANG. Bunyi piring dari stainless terjatuh menyentuh lantai. Suara-suara kembali muncul di dekat telinganya mencoba mengganggu konsentrasinya tapi Haeli masih berusaha berkonsentrasi untuk menemukan posisi hantu itu.

Yuru memperhatikan Haeli dan menyiapkan sebuah benda tumpul yang sudah dibuatnya melayang, ia akan mengarahkan benda itu langsung ke Haeli dan membuatnya pingsan. seringai jahatnya terlihat jelas, ia tak ingin kalah oleh manusia. Tangannya sudah mengarahkan benda itu ke arah Haeli dengan cepat.

WUSH—BUGH. Haeli terkejut, ia membuka matanya dan melihat sebuah benda jatuh ke lantai. Sebuah perisai pelindung berwarna biru keputihan melindunginya, Haeli melihat ke belakang dan menemukan Mino berdiri dengan kedua tangan yang mengarah ke depan.

“Fokuslah untuk menemukan Yuru.” Pinta Mino.

Haeli mengangguk dan kembali memejamkan matanya sementara Mino berjaga di dekat Haeli untuk melindunginya. Hantu itu mulai bermain curang karena keberadaannya hampir diketahui. Haeli berjalan maju dengan mata yang terpejam, ia sudah yakin Yuru tak akan berpindah lagi.

Haeli berhenti di depan sebuah meja yang berada di samping ranjang besi seperti tempat tidur pasien lalu merendah sambil memegang gagang pintu kecil. Mino tepat berada di belakangnya, masih siaga melindungi Haeli yang sudah tak terlihat takut lagi.

1…2… Haeli mulai menghitung dalam hati, 3! “Aku menemukanmu!”

Haeli menunjuk ruangan dalam lemari kecil yang terlihat kosong karena terlalu gelap, namun perlahan sebuah tangan kecil terulur dari dalam membuat Haeli dan Mino terkejut dan bergerak mundur selangkah. Mino langsung memegang tangan Haeli dan hendak menariknya tapi terlambat karena tangan itu sudah memegang telunjuk Haeli lebih dulu.

Suasana ruangan berubah seketika, Haeli dan Mino terkejut dengan perubahan itu. Kamar yang tadinya gelap menjadi terang, ruangan yang tadinya berbau campuran besi berkarat dan tengik berubah menjadi harum khas rumah sakit. Kamar ini kosong, ranjang yang ada di sini masih rapi.

Suara anak-anak berlari di lorong rumah sakit terdengar ceria dan saling bersahutan dengan suster yang meminta mereka untuk berhenti bermain di lorong rumah sakit. Tiba-tiba saja pintu terbuka, seorang anak laki-laki memakai pakaian pasien berwarna biru masuk dengan tergesa. Nafasnya tersengal bukan karena kelelahan tapi jantungnya terpacu karena terlalu senang.

Ia segera mencari tempat untuk bersembunyi, beberapa kali ia mengganti tempat bersembunyi sampai akhirnya ia berdiri di depan meja sekaligus lemari kecil di tempat tidur yang dekat jendela. Anak laki-laki itu membukanya dan segera masuk ke dalam, sebelum menutup pintu matanya menatap ke arah Haeli dan Mino yang mematung tapi memperhatikannya dari tadi. telunjuknya mengarah ke bibir sambil tersenyum. Jelas itu adalah permintaan agar Haeli dan Mino tak memberitahu keberadaannya, tapi bagaimana bisa anak itu melihat Haeli dan Mino?

Seolah waktu sedang berjalan cepat, anak itu tak keluar dari lemari kecil itu pun tak ada yang memasuki ruangan ini untuk mencarinya, perlahan Haeli mendekat ke lemari itu dan merendah. Tangannya sedikit gemetaran untuk membuka pintu lemari itu namun Mino menguatkannya dari belakang, tangannya terulur memegang tangan Haeli dan bersama membuka lemari itu.

Mereka menemukan anak laki-laki itu dalam kondisi yang lemah, tubuhnya sudah terkulai. Haeli meraih tubuh anak laki-laki itu seketika saat tubuhnya yang lemah jatuh ke kiri.

“Akhirnya… Te-rima ka-sih.” Lirihnya.

Di tangan kanan anak itu ada gelang pengenal milik pasien rumah sakit. Kim Yuru.

.

.

.

Suasana kembali seperti semua, mereka tak kemana-mana dan hanya berputar di sana saja. Haeli terduduk lemas dalam pelukan Mino. Satu persatu siswa yang menghilang muncul lalu mengelilingi Mino dan haeli, ucapan terima kasih tak henti bergema di sekitar mereka. Mino menggendong Haeli di depan dadanya dan berjalan menuju pintu gudang. Seorang siswa membuka pintu gudang dan hamparan sinar matahari pagi menyambut kebebasan mereka. Para siswa yang selamat langsung menghambur ke berbagai arah sementara Mino tertatih membawa Haeli ke luar sekola lewat jalan lain. Ia senang semua berakhir baik-baik saja.

 

. . .

Hide And Seek

. . .

 

Tiga bulan kemudian.

Seorang gadis muda tengah menyesap ice tea di taman kota, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri menunjukkan bahwa ia tengah menanti seseorang tiba. Matanya mulai melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri lalu beralih ke sepatu kets pink yang ia mainkan di tanah.

“Kau menungguku?”

Gadis itu memalingkan wajahnya ke samping kiri, ia tersenyum kecil dan menggeleng, “Tidak, aku tidak menunggumu. Aku tahu kau ada di belakang sejak 10 menit yang lalu.”

“Bagaimana mungkin kau menggunakan kekuatanmu untuk mencariku, Kang Haeli?”

“Hihihi… itu alami, sayang. Aku tidak bisa mengendalikannya.”

“Kalau begitu kita harus belajar mengendalikannya.”

“Oh tidak, jangan bilang kencan kali ini kita akan ke kuil lagi. Aku ingin kencan yang lebih menantang, Mino-ya.”

Haeli menghentak-hentakkan kakinya dan merengek dengan wajah memelas. Mino tersenyum jahil melihat tingkah kekasihnya, “Cium aku dulu. Kau kan janji akan menciumku tapi sampai sekarang janjimu masih palsu.”

Haeli membeku mendengar ucapan Mino, ia memang pernah menjanjikan sebuah ciuman kepada pria mesum yang menjadi kekasihnya ini tapi saat itu ia tak benar-benar serius mengatakannya. Haeli berdiri lalu naik ke atas kursi taman yang didudukinya.

“Bagaimana jika aku tak mau menciummu?”

“Maka kencan kita akan selalu berakhir di kuil.” Jawab Mino enteng.

“Lihat aku.”

Mino menyeringai, ia menghadapkan tubuhnya ke Haeli yang sekarang lebih tinggi darinya. Mino menengadah menunjukkan wajahnya sambil memejamkan mata dengan mulut yang sedikit mengerucut siap menerima ciuman dari Haeli.

Wajah Haeli mendekat, kini jarak mereka hanya beberapa senti saja. Bahkan Haeli bisa mendengar nafas Mino yang berhembus pelan.

CUP. Mata Mino terbuka dan membulat. Haeli mengecup lembut pipi Mino. Benar, pipi milik Song Mino bukan bibir yang siap bersentuhan dengan bibir Haeli namun Mino tersenyum kecil karena kedua tangan Haeli melingkar di lehernya.

“Kau tahu cara melunakkan hatiku, dear.”

“Hihihi… Suatu saat aku akan menciummu tapi aku takkan mengatakannya padamu jadi waspadalah.”

“Kapan itu? Satu menit ke depan? Lima menit? Sepuluh? Sekarang?”

“Sekarang? Sekarang saatnya kau menggendongku. Putar badanmu!”

Haeli memutar tubuh Mino dan melompat ke punggung pria itu lalu berpengangan erat dengan melingkarkan penuh tangannya di leher kekasihnya itu. Mino membawa Haeli berjalan menyusuri taman. Sesekali suara Haeli meninggi karena Mino menggodanya dengan kata-kata yang nakal.

“Ah aku ingat sesuatu, apa yang kau sepakati dengan Yuru saat itu?”

“Mmm… Aku hanya bilang akan menemaninya jika aku diperbolehkan masuk dan kita kalah.”

“ASTAGA! Bagaimana bisa kau membuat kesepakatan seperti itu?”

“Sssttt… Kenyataannya, kau menemukannya. Bahkan Yuru senang karena ditemukan.”

Haeli mengeratkan pelukannya dan tersenyum, ia tersenyum karena melihat takdir mereka. Ia adalah seorang yang memiliki naluri pencari puluhan kali lebih kuat dari orang lain, mungkin bertemu dengan Mino adalah takdir yang tanpa sengaja ia temukan di tengah pencariannya.

Mino juga tersenyum, ia tersenyum karena akhirnya ia bisa melindungi seseorang yang mau dilindungi oleh kemampuan yang ia miliki.

 

= END =

One response to “[ONE SHOT] The Story of Seeker: Hide And Seek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s