[Series] Will You Be My Bride? (8)

WIYBmBL Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

| Will You Be My Bride? |

| Kim Liah (B2utyinspirited.wordpress.com |

| Chapter |

| Xi Luhan, Park Jiyeon |

| Byun Baekhyun, Kim Nahyun, Yoo Ara, Do Kyungsoo |

| Romance, Friendship, Marriage Life |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) BASED ON NOVIA STEFANI’s CERPEN |

NOTE: Ini FF (Luhan Version) remake dari cerpen yang sudah sering dijadikan FF juga. Jadi harap maklum kalau idenya hampir mirip, tapi untuk keseluruhan cerita akan saya kembangkan sendiri. FF ini sudah pernah saya post di WP pribadi dengan cast lain

 

.

.

.

Luhan mengangkat sekotak kue maple coklat kesukaan Taehee. Ia sempatkan pulang lebih awal agar bisa mampir lebih dulu ke rumah mertuanya.

“Luhan? Kau..” Taehee menengok ke belakang Luhan untuk mencari sosok putri kesayangannya. “Jiyeon dimana?”

“Aku sendiri saja eommonim” sebuah senyum lebar terpampang diwajah lelah Luhan.

“Geurae, masuklah” Taehee mengambilkan dua gelas jus dan menaruhnya dimeja makan “Apa kau sudah makan malam? Eomma masih memiliki samgyetang kalau kau mau?” tawarnya seraya hendak berbalik kembali ke dapur.

“Anniya eommonim. Aku sudah makan” Luhan meneguk jus jeruk itu dengan bangga.

“Ada apa? Apa Jiyeon membuat masalah?” Taehee sungguh kebingungan dengan kedatangan Luhan tanpa Jiyeon. Mungkin saja Jiyeon sudah berulah lagi dan Luhan membutuhkan bantuannya.

“Anniya eommonim, geunyang aku ingin berkunjung saja” mungkin ini kunjungan terakhir Luhan kerumah ini sebagai menantu “Apa aku tak boleh berkunjung ke rumah ini tanpa Jiyeon?” bibir Luhan mengerucut kesal.

“Anniya, tentu saja kau boleh kemari, ini juga rumahmu dan aku juga eommamu” Taehee menepuk punggung Luhan.

Luhan mengamati ke sekeliling ruangan dan menangkap sebuah pigura besar bergambarkan foto pernikahannya dan Jiyeon yang terletak diruang tengah. Ia tertawa kecil.

“Waeyo? Apa ada yang lucu?” Taehee mengikuti arah pandang Luhan “Matcji, eomma juga tak menyangka Jiyeon akhirnya mengenakan gaun pengantin seperti itu dan foto pernikahan itu tertempel dengan mewah disana” ujarnya dengan tawa kecilnya.

“Ne eommonim, aku juga tak pernah menyangka kalau aku naik jabatan menjadi suaminya dan bukan sahabatnya lagi” Luhan tertunduk dengan senyum mirisnya.

“Eomma malah bersyukur Jiyeon mendapat suami sebaik kau Luhan”

“Keundae eommonim, bagaimana kalau waktu itu kami tak jadi menikah?” Luhan kembali tertawa hambar “Mungkin Jiyeon akan mendapat pendamping yang lebih baik dari aku”

“Yaa” Taehee kali ini memukul kepala Luhan pelan “Tak ada menantu yang lebih baik darimu, kau yang paling terbaik Luhan”

Luhan mengelus kepalanya yang tak sakit “Seandainya fotoku disana diganti foto pria lain pasti…”

“Kau ini kenapa Luhan? Sudah eomma katakan tak ada yang akan menggantikanmu” Taehee menepuk meja “Marhaebwha, apa Jiyeon berselingkuh dibelakangmu? Aishh anak itu, pria mana yang sudi berselingkuh dengannya?”

“Matcji eommonim, tak ada pria yang mau menjadi selingkuhannya” namun faktanya ada, Baekhyun, pria masa lalu itu berusaha merebut Jiyeon dari Luhan “Eobseo”

“Jujur pada eomma, dia main mata dengan siapa? Eomma akan membantumu menghajar mereka berdua”

“Anniya eommonim, kami baik-baik saja” Luhan menengok arloji ditangannya “Sudah malam eommonim, Jiyeon pasti mencariku”

“Geurae, pulanglah” Taehee menepuk kembali punggung Luhan “Kalau ada masalah katakan pada eomma, eomma akan membantumu” ia tertawa kecil “Kau tahu kan kalau Jiyeon itu kekanak-kanakan, pikirannya tak pernah dewasa. Aku harap kau memakluminya”

“Ne eommonim, na kanda eommonim” Luhan menunduk hormat lalu memasuki mobilnya

.

Masih jam 8 malam, bukannya pulang Luhan malah mengunjungi rumahnya sendiri. Ia ingin menemui ibunya meski mungkin ibunya sudah tertidur pulas.

“Lulu-ya, kenapa kau kemari semalam ini?” Xiaoming nampak terkejut.

“Aku merindukan eomma” Luhan meletakkan kue chococheese ke tangan Xiaoming, lalu menuju kamar Minyoung. Dikamar itu Minyoung tertidur dengan pulasnya, ia rengguh tangan Minyoung dan mengecupnya. “Eomma nan bogoshippeoyo” ia sandarkan kepalanya dipinggir badan ranjang.

“Eomma, apa kau senang melihatku menikah? Apa kau senang mempunyai menantu secantik Jiyeon?” Luhan tertawa kecil “Apa eomma masih ingat dulu eomma selalu menggodaku jika bersama Jiyeon? Impian eomma terwujud, kami benar-benar bukan hanya sekedar sahabat sekarang” simulasi, meski hanya ia yang menganggapnya serius, tapi dunia mengetahui kalau ia dan Jiyeon memang menikah sungguhan “Aku mencintainya eomma. sangat mencintainya” ia merasakan jemari Minyoung menggenggamnya “Mianhae eomma kau terbangun karnaku” sesalnya.

.

Sudah jam 10.00 malam dan Luhan belum juga sampai dirumah. Hal ini membuat Jiyeon bersliweran tak jelas didepan halaman rumah. Bermacam pemikiran aneh menggelayutinya, bagaimana kalau Luhan kabur lagi dari rumah? Panggilannya hanya tersambung ke mailbox. Ia berjongkok kesal dan sekali lagi ia bergelut dengan panggilan yang tak segera terhubung itu.

“Apa kau tidak kedinginan?” suara jeruji gerbang mendayu bersama suara Luhan.

“Lulu-ya” Ingin sekali Jiyeon memeluk Luhan tapi mengingat pembicaraan mereka kemarin mengenai perceraian mereka, ia rasa pelukan itu akan terasa tabu “Wasseo?” lirihnya lega.

“Kajja kita masuk, kau pasti kedinginan” Luhan merangkul bahu Jiyeon dan mengiringnya memasuki rumah.

“Kau darimana saja?” Jiyeon duduk canggung dipinggir ranjang Luhan.

“Aku hanya mengunjungi eomma” Luhan hendak melepas jasnya “Aku tiba-tiba merindukannya” tawanya.

Pertama kalinya Jiyeon tergugah membantu Luhan melepas jaket dan dasinya. Meski sekali lagi kecanggungan ada diantara mereka. “Kenapa kau tak mengaja…” dasi itu sudah ia lepas dari kerah leher Luhan, ia mundur selangkah karna tugasnya sudah selesai. Namun sebuah dorongan dipunggungnya membuat ia kembali berjarak 30 cm dari hadapan pria tampan didepannya. “Lulu-ya..” sejenak ia tak mampu berkedip namun kemudian ia menunduk canggung “Waeyo?” tanyanya.

“Maukah kau membantuku?” tatapan Luhan nampak menusuk dan melelehkan hati para wanita termasuk Jiyeon.

“E-eoh”

“Bisakah kau melepasnya?” Luhan berharap Jiyeon kali ini kembali melepas Baekhyun seperti 5 tahun yang lalu.

Jiyeon sungguh terkejut dengan kalimat itu, baukankah itu artinya Luhan melarangnya bersama Baekhyun? “Nn-ne?”

“Jebal, hajima. Tetaplah disini bersamaku” Luhan memeluk Jiyeon sangat erat

“Lulu-ya, kau…” Jiyeon merasa kembali bimbang dengan keputusannya, ia tak menyangka Luhan akan menahannya pergi seperti ini.

Tawa renyah memenuhi kamar Luhan “Yaa ekspresimu itu sungguh lucu” ia mencubit pipi kanan Jiyeon “Aku mandi dulu”pamitnya lalu memasuki kamar mandi.

Jiyeon terduduk lemah dilantai, apa ini? Apa maksud ucapan Luhan? Apa dia hanya mempermainkannya?

**

Jiyeon merasakan seseorang mengguncang bahunya “Jiyeonie, ireona!”

“Ada apa?” gumam Jiyeon, ia lirik jam alarm di sisi ranjangnya yang baru menunjukkan pukul tiga lima belas dini hari.

“Ganti baju cepat, kita harus ke rumahku sekarang. Eomma meninggal.”

Jiyeon terlonjak duduk. “Mworago?”

“Ganti baju!” perintah Luhan sambil meninggalkan kamar Jiyeon.

Jiyeon terpaku sejenak sebelum akhirnya ia berlari mengejar Luhan. “Eonje?”

“Baru saja.”

“Eoddie?”

“Rumah. Ganti bajumu! Kita berangkat lima menit lagi.”

“Lulu-ya ….” Tak ada jawaban hanya dentuman pintu kamar Jiyeon yang terbanting oleh Luhan. Jiyeon kembali ke kamarnya dan bergegas mengganti piyamanya dengan gaun hitam. Ketika ia keluar, semua lampu belum menyala dan pintu depan masih tertutup, begitu pula pintu kamar Luhan. Ia ketuk pintu itu perlahan.“Lulu-ya, aku sudah siap.”

Tidak ada jawaban. Jiyeon menyelinap masuk kamar Luhan yang gelap. Dengan sedikit cahaya samar lampu taman, ia masih bisa melihat sosok lemah itu duduk meringkuk di sudut kamar. Wajah Luhan tersembunyi di balik kedua tangannya. Ia hendak membelai bahu Luhan, namun Luhan menepisnya.

Akan tetapi ketika untuk ketiga kalinya ia ulurkan tangannya, Luhan tidak lagi menghindar dan pria bertabiat kuat itu menangis hebat dipelukan Jiyeon. Jiyeon bisa merasakan perasaan Luhan, ia tak mampu melakukan apapun selain memeluk tubuh ringkih itu.

Hanya saat itu Luhan tidak bisa mengontrol emosinya. Setelah itu ia kembali menjadi Luhan yang rasional dan berkepala dingin, yang mengurus pemakaman, menerima para tamu dan menghibur kakak perempuannya dengan ketenangan yang nyaris mengerikan.

.

Rumah mewah keluarga Xi tak lagi sesepi dulu, banyak pelayat berdatangan berbela sungkawa. Diruang tengah terdapat rangkaian bunga krisan putih dengan sebuah foto Minyoung ditengahnya. Xiaoming dan Soeun nampak mengenakan jas dan gaun hitam tuk menyambut tamu pelayat disana.

“Lulu-ya” Soeun menatap wajah adik iparnya yang nampak berbeda.

Luhan dan Jiyeon meletakkan sepucuk bunga krisan didepan foto itu dan berlutut memberi hormat. Ekspresi wajah Luhan terlihat tegar, ia berkali-kali menyambut pelayat disana. Sementara Jiyeon, ia membantu para ibunya dan sanak keluarga lainnya menyiapkan hidangan untuk pelayat diruang depan.

“Eomma” Jiyeon memeluk Taehee begitu mereka selesai mengantarkan makanan dan soju.

“Gwaenchana Jiyeon-a. Gwaenchana” Taehee menepuk punggung Jiyeon dengan hangat “Kau harus lebih kuat agar Luhan semakin tabah Jiyeon-a”

.

Hari sudah berganti sore mereka semua kembali ke rumah keluarga Xi. Kedukaan masih mendalam bersama para pelayat yang masih berdatangan tanpa henti. Jasad Minyoung sudah terkebumikan dan hanya tersisa seguci abu pembakarannya. Sekali lagi Luhan dengan tegarnya membawa guci itu dan meletakkannya dirumah peristirahatan terakhir Minyoung.

Jiyeon tengah membantu merapikan kembali ruang tamu, ia sungguh tak menyangka ibu mertuanya kini sudah pergi selamanya. Ia bahkan belum menjadi menantu yang baik bagi beliau.

“Jiyeon-a” Xiaoming menghampiri Jiyeon yang tengah menata meja pelayat “Jebal, bawa Luhan pulang.” pintanya.

“Apa tidak sebaiknya Luhan masih di sini dulu, oppa?”

Xiaoming menggeleng. “Coba kau lihat sendiri”  ia menunjuk ke halaman samping rumah dimana disana ada sosok seperti Luhan yang tengah mengisap sebatang rokok. Didepannya nampak sebuah asbak yang terdapat sisa-sisa putung rokok.

Sudah sepuluh tahun Luhan berhenti merokok dan melihatnya kembali pada kebiasaan itu membuat Jiyeon sadar bahwa suaminya itu sedang bergelut dengan kepedihan yang lebih dalam dari yang ditunjukkannya.

Jiyeon mengangguk mengerti dan menghampiri Luhan. Ketika ia mendekat kotak rokok di atas meja itu hanya berisi sebatang saja. Ia cabut rokok itu dari jemari Luhan dan ia matikan bara itu di asbak. Luhan sama sekali tidak memprotes, ia bahkan tidak menatap Jiyeon. Jiyeon sadar Xiaoming memang benar, ia harus segera membawa Luhan jauh-jauh dari semua kenangan tentang ibunya.

“Aku ingin pulang, Lulu-ya” ujar Jiyeon sambil memegang tangan Luhan.

Luhan menggeleng pelan. “Aku akan menginap di sini. Kau pulanglah sendiri. Besok aku pulang naik taxi saja.” tolaknya masih dengan ekspresi kosong yang tak dapat diartikan.

“Aku tidak mau sendirian di rumah.”

.

Luhan menghela napas berat dan akhirnya bangkit. Ia berpamitan kepada Xiaoming dan Soeun lalu keluar untuk mengambil mobil. “Hyung, noona, eommonim, kami pulang dulu” pamitnya lalu berjalan duluan menuju mobilnya.

Xiaoming menahan tangan Jiyeon dan berbisik. “Aku senang Luhan sudah menikah denganmu. Kau pasti bisa menghiburnya disaat seperti ini. Ia paling merasa kehilangan dengan meninggalnya eomma. Kau tahu kan, ia sudah tinggal dengan eomma selama dua puluh tujuh tahun”

“Jaga Luhan baik-baik Jiyeon-a, eomma akan tetap disini membantu Soeun” Taehee menepuk lengan Jiyeon.

“Kalau ada apa-apa kau telpon kami” sambar Soeun.

Jiyeon terpana sesaat, dadanya ngilu. Ia peluk kedua kakak iparnya dan eommanya dengan hati menggigil. Bagaimana bisa ia katakan kepadanya bahwa ia dan Luhan sudah sepakat untuk mengakhiri pernikahan mereka secepatnya?

.

“Apa kau mau kumasakkan nasi goreng, Lulu-ya?” tanya Jiyeon begitu memasuki rumahnya.

“Nanti saja. Aku tidak lapar.”

“Kau tidak makan apa-apa dari tadi subuh. Nanti kau sakit. Mau ya?”

Luhan mengangguk dengan mata hampa lalu langsung melesat memasuki kamarnya tanpa menyalakan lampunya.

Ketika Jiyeon baru saja mengambil telur dari lemari es, ia mendengar suara Luhan di kamar mandi. Ia segera berlari menuju kamar Luhan, was-was jika suatu yang buruk terjadi. Seperti dugaannya, ia menemukan Luhan membungkuk di samping wastafel, menangis dan muntah hampir bersamaan. Kemeja putih itu kotor tak berbentuk.

Untuk sesaat kepanikan melumpuhkan pikiran Jiyeon  dan ia hanya bisa terpaku di ambang pintu kamar mandi, tak pasti apa yang harus ia lakukan. Insting pertamanya adalah lari keluar mencari bantuan. Tapi ia tidak mungkin meninggalkan Luhan dalam keadaan seperti itu.

Ia hampiri Luhan dengan ragu, perlahan ia elus punggung Luhan dan sentuhannya agaknya sedikit menenangkan Luhan hingga lambat laun isakan Luhan mereda. Ini membuat Jiyeon lebih yakin dengan apa yang mesti ia lakukan selanjutnya.

Ia pijat tengkuk Luhan dan ia seka keringat di dahinya. Tapi tiba-tiba saja Luhan terkulai lemas dan kalau ia tidak segera meraihnya ke dalam pelukannya, Luhan pasti akan tersungkur ke lantai.

“Lulu-ya, Lulu-ya” tangis Jiyeon pecah, pelan-pelan ia papah tubuh Luhan ke ranjang dan ia baringkan Luhan di ranjang. Ia buka kemejanya yang basah menggantinya dengan kemeja baru lalu menyelimuti badannya yang menggigil.

“Mian, Jiyeonie” suara Luhan terdengar seperti sebuah bisikan kecil “Aku tidak bisa menangis di depan kakakku. Mereka ….”

“Aku tahu. Tidak apa-apa” Jiyeon rasakan tangan Luhan masih gemetar saat ia mengelus rambutnya. “Akan kubuatkan teh gingseng hangat, nanti kau minum, ne?” ia bergegas menuju dapur untuk membuat teh gingseng dan sebaki air untuk membersihkan wajah Luhan.

Luhan menghirup sedikit teh yang Jiyeon buatkan. Wajahnya tidak lagi pucat setelah itu. Ketika Jiyeon merapikan kembali selimutnya, ia memegang tangan Jiyeon. “Gumawo, Jiyeonie”

“Kau pernah melakukan lebih dari ini untukku.” Jiyeon menyeka wajah Luhan dengan handuk kecil itu.

“Bukan untuk tehnya. Tapi untuk tidak memberiku pernapasan buatan” Luhan tersenyum nakal.

“Yaa, aishhh” Jiyeon ikut tersenyum lega.

“Dan untuk menikah denganku”  ekspresi wajah Luhan begitu serius. “Setidaknya sebelum meninggal, eomma bisa tenang karena mengira aku sudah beristri.”

Jiyeon tertegun sesaat. Suaranya goyah dan terbata saat ia berbicara. “Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu.

“Untuk apa?”

“Untuk dua bulan yang kau lewati denganku. Untuk kesabaranmu….pengorbananmu.”

Luhan tersenyum kecil. “Aku tidak melakukan apapun yang tidak kusukai. Ini dua bulan yang sangat menyenangkan untukku. Seharusnya aku yang berterima kasih.”

“Jangan memaksa” Jiyeon mencoba tertawa kecil “Aku yang harus berterima kasih.
Mengalahlah sedikit.”

Luhan tersenyum dan mencubit hidung Jiyeon. Tangannya tidak sedingin tadi dan itu melenyapkan sisa-sisa kekhawatiran Jiyeon.

“Aku masih tidak mengerti kenapa kau akhirnya mau terlibat dengan ide gilaku ini?” Luhan menepuk tempat kosong disamping ranjangnya agar Jiyeon duduk disana.

“Entahlah, Lulu-ya” Jiyeon tertawa kecil. “Mungkin aku sudah sangat lelah berkilah tiap kali eomma merongrong soal perkawinan dan ting..” ia menjentikkan jarinya “..tiba-tiba aku melihat tawaranmu itu sebagai jawaban yang paling jitu untuk menyelesaikan dua masalah sekaligus” ia menatap Luhan “…keenggananku untuk menikah karena tidak ada calon yang sesuai dan keinginan eomma yang menggebu-gebu untuk segera melihatku menikah.”

“Apa yang kau dapat setelah dua bulan kita menikah?” tanya Luhan dengan mimik lebih serius.

Jiyeon terdiam sejenak. “Banyak” ia nampak mengingat-ingat “Aku belajar bahwa aku tidak menikah dengan malaikat atau monster, tapi dengan manusia yang punya kekurangan yang harus kumaafkan dan keistimewaan yang tidak bisa kuabaikan. Aku belajar bahwa dalam pernikahan, bila kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan itu tidak selalu berarti sebuah kekalahan, tapi boleh jadi suatu kemenangan bersama.” ia ingin menambahkan bahwa pernikahan membutuhkan cinta dan kesetiaan seperti gurun memerlukan air, tapi ia tidak punya nyali untuk menyatakan semua itu.

“Kau memang selalu pintar bicara, editor-nim” Luhan menepuk kepala Jiyeon.

“Kau sendiri? Apa yang kau pelajari selama ini?” Jiyeon mengamati Luhan lekat menanti jawaban yang akan terangkai dari bibir Luhan.

“Hanya satu” Luhan menunduk “Hidupku mungkin tidak akan pernah sebahagia ini lagi setelah kau pergi.” ujarnya dengan senyum datarnya.

Jiyeon tertegun “Mwo-mworago?” apa ia tak salah dengar? Luhan akan bersedih jika mereka bercerai?

Luhan memiringkan duduknya menghadap Jiyeon “Tahun ini adalah saat paling bahagia dalam hidupku. Setiap aku bangun pagi dan mendengar suaramu, aku jadi berpikir bahwa aku adalah pria paling bahagia di dunia ini. Dan setiap malam waktu aku pulang dan kau tersenyum menyambutku, aku merasa aku jadi manusia paling beruntung di seluruh jagad raya” sungguh hati Jiyeon semakin mencelos mendengar pengakuan Luhan ini “Aku jadi sangat terbiasa dengan kehadiranmu bahkan mulai berharap kau akan bersamaku terus, walaupun aku tahu harapan itu konyol. Tapi kalau kau mencintai seseorang seperti aku mencintaimu, kau pasti juga akan kehilangan akal sehat.” jelas Luhan panjang lebar yang ia akhiri dengan senyum mirisnya.

Jiyeon tatap wajah Luhan lekat-lekat. Luhan tidak kelihatan sedang bercanda dengannya, dia tampak sangat tenang dan serius. “Aku masih belum mengerti” bisiknya.

Luhan kembali mengulum senyum miris “Pernikahan ini tidak pernah hanya sebuah simulasi untukku, Jiyeonie. Ini adalah pernikahan sesungguhnya untukku.”

Deg.. jantung Jiyeon nampak berdegup tak tenang. Apa ini sebuah pengutaran cinta? Luhan menaruh hati padanya bukan hanya sebagai sahabat? “Ap-apa maksudnya? Dangsin-eun nareun saranghae?” suaranya tercekik.

Luhan menyipitkan kedua matanya “Apa yang tidak kau pahami? Eoh, Nan saranghaeyo, Jiyeonie”

Kata-kata Luhan begitu lugas, seperti menghantam Jiyeon dengan sebuah pukulan keras hingga ia terhempas jauh.

“Aku mencintaimu sejak kau memarahiku karena nyaris melindas kelincimu, sepuluh tahun yang lalu, waktu kita masih sama-sama anak-anak. Dan aku tidak pernah bisa berhenti mencintaimu hingga kini.”

“Kau … kau tidak pernah ….” jika memang Luhan mencintai Jiyeon, kenapa sahabatnya ini selalu membiarkannya bersama pria lain bahkan berkeluh kesah mengenai pria-pria itu kepadanya?

“Kau tidak pernah memberiku kesempatan. Kau selalu sedang jatuh cinta dengan orang lain atau patah hati karena orang lain dan kau selalu datang kepadaku menceritakan semuanya. Aku tahu aku bukan pria idamanmu, aku tidak pandai melukis, tidak mahir merangkai puisi.” Luhan mengambil jeda sejenak mengingat kali pertama mereka mengunjungi galeri ketika mereka masih remaja “Aku tidak mengerti kenapa kau menilai sebuah lukisan itu bagus. Aku tidak jago pidato dan bukan calon ketua OSIS yang kau gilai di SMA. Aku bukan aktivis kampus yang membuatmu mabuk kepayang waktu kuliah dulu. Aku terlalu biasa-biasa saja. Aku tahu ini sangat menyedihkan, memalukan dan aku benci kau kasihani. Tapi selama ini aku benar-benar tidak punya keberanian, belum lagi kesempatan, untuk berterus terang kepadamu.” jelasnya.

Jiyeon terpana dengan penjelasan Luhan yang terdengar menggelikan baginya, sebegitu pengecutkah sahabatnya yang ia kira player ini? “Kau tidak pernah biasa-biasa saja, Lulu-ya” ia mengulas senyum bangga “Kau istimewa dengan caramu sendiri.”

Luhan menggeleng keras “Dan tidak cukup untuk kau cintai.”

Sesaat Jiyeon hanya bisa terdiam, menatap kedua mata Luhan tuk mencari petunjuk kalau semua ini bukan hanya salah satu dari sekian banyak permainannya. Tapi menurutnya Luhan kelihatan sungguh-sungguh. “Kenapa kau katakan semua ini kepadaku waktu kita akan berpisah seperti ini? Apa yang kau inginkan?” tanyanya datar.

Luhan tersenyum kecil. Ada kepedihan dalam senyumnya, sesuatu yang tak pernah Jiyeon temukan sebelumnya. “Aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus mengatakan semua ini kepadamu. Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu. Bukan karena aku masih berharap kau akan mencintaiku juga. Sekarang tidak ada bedanya lagi. Tapi aku ingin kau tahu kalau kau tetap memiliki cintaku, apapun yang terjadi, bahkan jika akhirnya kau benci kepadaku atau melupakanku sekalipun.”

Ia tertunduk sesaat, ada sorot yang asing berpijar di matanya saat ia kembali menatap Jiyeon. “Dan kalau kau tanya apa yang kuinginkan, aku ingin kau di sini bersamaku, seumur hidupku. Aku ingin kau belajar dan akhirnya benar-benar mencintaiku, mungkin tidak akan pernah sedalam dan separah cintaku kepadamu, tapi setidaknya kau tidak lagi menganggapku hanya sekedar sahabatmu, tapi juga kekasihmu. Aku ingin mencintaimu lebih dari yang pernah kutunjukkan.” terdengar helaan nafas berat darinya “Tapi itu semua keinginanku. Bukan kemauanmu. Kebahagiaanku, belum tentu kebahagiaanmu juga, Jiyeonie” lanjutnya sambil menatap Jiyeon, mungkin ini terakhir kalinya ia bisa menatap Jiyeon sepuasnya.

Tatapan Jiyeon penuh kebimbangan, disatu sisi ia merasa tersentuh dengan pengutaraan Luhan, namun disisi lain ia memiliki cinta lama yang masih setia menunggunya, walau mungkin tak selama Luhan mencintainya. “Gumawo Lulu-ya” ia peluk Luhan erat-erat untuk menyembunyikan air matanya di bahunya. Keputusannya akan kembali terurung dengan fakta baru ini.

.

TBC

Be Sociable, Like and comment please!

 Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

21 responses to “[Series] Will You Be My Bride? (8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s