[Chaptered] Venom (Part I)

Venom2

Thanks for Beautiful Poster by Leeyaaaa

Title: Venom (Part I)

Author: @Miithayaaaa

Genre: Angst, Married Life, Romance

Length: Chaptered

Main Cast:

  • CN BLUE’s Minhyuk as Kang Minhyuk
  • F(x)’s Krystal as Jung Soojung

Support Cast:

  • . CN Blue’s Jungshin as Lee Jungshin
  • Kris/Wu Yi Fan
  • Beast’s Doojoon as Yoon Doo Joon
  • Won Bin

Rate: PG-16

Note:

FF ini terinspirasi dari salah satu novel yang aku baca, atau mungkin kalian juga pernah membacanya. Topik masalah mungkin sama, tapi keadaan dan jalan cerita adalah milik saya, dan Hyukstal milik kita semua. Selamat membaca…

 

|| Prolog ||

 

***

 

Pernikahan Minhyuk dan Soojung di selenggarakan dengan sangat mewah dan indah. Pernikahan dengan latar belakang terbuka yang sangat diimpikan Soojung sejak dulu, dan sekarang dia benar-benar bahagia karena telah mencapainya dengan orang yang ia cintai.

Berbagai macam karangan bunga sebagai ucapan atas pernikahan datang dari kalangan-kalangan atas yang Soojung belum banyak ketahui. Dia menyadari bahwa suaminya, Minhyuk, adalah benar-benar orang besar. Ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya ketika dia tahu bahwa ibu Minhyuk tidak bisa hadir di pernikahannya, padahal ini adalah kesempatannya untuk bertemu dengan Ibu Minhyuk dan meminta restunya secara langsung. Bukan Ibu Minhyuk, Lee Jin Ah, yang tidak mau datang, tapi karena jadwal pernikahan mereka yang di atur ulang lebih cepat, sehingga tidak bisa mengatur ulang jadwal Ibu Minhyuk yang berada di Singapore. Walaupun begitu, Ibu Minhyuk tetap menelpon mereka memberikan ucapan selamat dan restu darinya.

Tidak ada hari yang lebih membahagiakan dari hari ini, hari pernikahannya. Walaupun Soojung sedikit sedih karena dia menginginkan ibunya untuk melihat Soojung dalam gaun pengantin, tapi Tuhan berkehendak lain. Dia menarik napas dalam, walaupun tidak terlihat sosok ibunya, Soojung yakin, ibunya pasti sedang melihat dia saat ini dengan senyum kebahagiaan, melihat Soojung yang akhirnya menemukan lelaki untuk menjaganya.

Sahabat Soojung, Kris, juga datang bersama keluarganya yang juga sudah dianggap keluarga sendiri oleh Soojung. Kris adalah orang yang paling bersemangat dengan pernikahan Soojung, dia juga banyak membantu menyiapkan pernikahan. Soojung sangat senang ketika Kris membawa murid kelas seninya kepernikahan Soojung, memberi ucapan selamat tulus, setulus hati yang mereka miliki.

Kris dan Soojung memang sangat dekat, bahkan banyak yang bilang bahwa mereka adalah pasangan. Tapi hanya Soojung dan Kris yang tahu bahwa mereka tidak mungkin bisa lebih dari seorang teman, karena Kris seorang gay yang tidak tertarik pada perempuan. Soojung ingin memberitahu Minhyuk tentang keadaan Kris, karena sering kali Minhyuk mempertanyakan kedekatan Soojung dengan Kris, tapi Soojung tidak bisa mengingkari janji begitu saja dengan Kris yang membocorkan rahasia mereka. Soojung tahu, kalau Kris pasti akan malu jika jati dirinya terbongkar. Tapi Soojung juga tidak ingin Minhyuk merasa cemburu dan curiga terhadap mereka, jadi Soojung mencoba berbicara pada Kris untuk memberitahukan kebenaran pada Minhyuk, syukurnya Kris setuju dan secepatnya Soojung akan memberitahukannya pada Minhyuk.

“Hyungsoonim, apa yang kau lakukan?”

Jungshin datang menghampiri Soojung yang duduk sendirian di meja bundar dan langsung menyerahkan segelas anggur yang ia bawa.

“Terima kasih.”

“Kenapa pengantin wanita sendiri? Dimana Minhyuk?” Tanyanya sambil menyesap anggur miliknya.

“Aku tidak tahu kalau dia benar-benar orang penting, lihat, tamunya tidak habis-habisnya datang walaupun sudah malam. Wajahku sudah mati kaku karena tersenyum menyambut tamu terus. Tapi lihat, Minhyuk bahkan masih semangat mengobrol.” Ucap Soojung sambil memperhatikan suaminya yang sedang mengobrol dengan Tuan Lee dari Jell Group.

“Dia adalah pebisnis yang sedang naik daun.” Jawab Jungshin bercanda, membuat mereka tertawa. “Tidak heran kalau tamunya sebanyak ini. Tenang saja, kau akan memiliki waktunya sebentar lagi.” Lanjutnya sambil mengedipkan matanya penuh maksud.

Soojung mendelik, mengerti apa maksud Jungshin. Dia ingin memukul, tapi melihat keadaan pesta Soojung tidak mungkin melakukannya. Jadi dia hanya melengos dan mendapat tawaan dari Jungshin. Mereka tertawa seperti mereka sudah mengenal lama, padahal ini adalah pertemuan kedua mereka. Mereka tertawa asik dengan dunia mereka sendiri tanpa menyadari bahwa sepasang mata sedang memperhatikan mereka.

***

Setelah beberapa jam membunuhnya dengan para tamu yang tak habis-habisnya datang, Soojung berganti pakaian dengan gaun tidur warna putih miliknya, duduk dengan ragu di atas ranjang. Dia sedang menunggu Minhyuk yang belum masuk dari tadi karena masih banyak tamu di luar walaupun waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Para tamu itu kebanyakan Investor dari perusahaan Minhyuk.

Sudah larut malam ketika Minhyuk akhirnya masuk. Soojung terperanjat dari sandaran tempat tidur, dia mendongak ketika Minhyuk menutup pintu kamar mereka.

“Tamunya sudah pulang?”

Hening.

Minhyuk menatap soojung lama, lalu menjawab singkat. “Sudah.”

Jantung Soojung berdegup kencang, dia hanya berdua saja dengan suaminya sekarang. Soojung tidak pernah berduaan di kamar dengan lelaki manapun sebelumnya. Minhyuk adalah lelaki pertamanya dalam segala hal. Dan malam ini mereka adalah suami istri. Pipi Soojung memerah, membayangkan bagaimana mereka akan melewatkan malam ini. Bagaimana pun juga Soojung menyimpan rasa takut kalau dia akan mengecewakan Minhyuk yang sepertinya sudah sangat dewasa dan berpengalaman dibanding dirinya. Selisih usia mereka enam tahun, Soojung baru dua puluh empat tahun, sedangkan Minhyuk sudah tiga puluh tahun. Walaupun orang-orang bilang, usia mereka adalah usia yang tepat untuk menikah, tapi tetap saja Soojung merasa masih jauh dari kata cukup untuk menikah.

“Belum tidur?” Minhyuk berjalan ke meja rias, dan mulai melepas dasi, jasnya sudah terlempar secara sembarang di kursi rias.

Soojung menggeleng, tersenyum malu-malu, “Belum, aku menunggumu.”

Minhyuk menatapnya tajam, dia tampak begitu misterius di balik cahaya lampu kamar yang kuning temaram.

“Kau lelah, tidak perlu menungguku.” Ucapnya dingin, lalu melepas kemejanya dan melangkah masuk ke kamar mandi.

Soojung tertegun, bingung dengan nada suara Minhyuk padanya. Minhyuk tidak pernah berbicara dengan nada suara sedingin itu padanya.

Apa mungkin dia lelah?

Ketika Minhyuk keluar dari kamar mandi, dia sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidurnya Soojung mengangkat alisnya ketika sudah berdiri di pinggir ranjang.

“Minggir ke sana.” Gumamnya kasar, membuat Soojung spontan naik ke atas ranjang dan bergeser ke sisi lainnya dengan perasaan bingung.

Lalu Minhyuk naik ke ranjang dan berbaring di satu sisi lainnya. Soojung menoleh, mencoba menggapai punggungnya, tapi Minhyuk sudah berbaring membelakanginya dengan nafas teratur seolah jatuh tertidur begitu saja.

Soojung menatap punggungnya penuh tanda tanya.

Apa yang terjadi? Kenapa nada suaranya berubah dingin seperti itu? Apa aku membuat kesalahan? Tapi apa?

Seluruh pertanyaan itu menghantui benak Soojung. Dia berbaring dengan penuh kebingungan menatap punggung kekar Minhyuk. Dia ingin Minhyuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul begitu saja dalam waktu sekejap. Tapi melihat napas Minhyuk yang sudah teratur jatuh tertidur, Soojung menghela napas walaupun ada sengatan dalam dirinya.

Malam pengantinnya berlalu dalam keheningan yang menyesakkan dada.

***

Pagi hari ketika Soojung bangun, dia masih merasa bingung dengan keberadaannya. Dia mengedarkan pandangannya sekeliling kamar yang tidak dikenalinya, tetapi kemudian dia mengumpulkan ingatannya. Pernikahannya dengan Minhyuk, rumah Minhyuk.

Dengan gugung Soojung menegakkan tubuhnya, mencari Minhyuk, tentu saja. Tapi sebelah sisi tempat tidurnya kosong. Minhyuk sudah tidak ada.

Diliriknya jam digital disamping meja, sudah jam tujuh pagi. Soojung tidak pernah bangun sesiang ini sebelumnya, dia selalu bangun awal, kemudian menuju galeri dan bersiap-siap untuk mengajar dan melukis. Sekarang galeri miliknya sedang dalam pengawasan Kris, sahabatnya itu ingin memberi Soojung kebebasan untuk berbulan madu sementara.

Soojung bangun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.

Dimana Minhyuk? Kenapa dia tidak membangunkanku? Apa dia tidak ingin mengganggu tidurku?

Suasana rumah Minhyuk tampak lengang. Kamar Minhyuk berada di lantai dua, dan tidak ada siapa pun di situ. Soojung menuruni tangga melangkah turun, ada seorang pelayan di sana yang langsung membungkukkan hormat begitu melihatnya.

“Dimana suamiku?” tanya Soojung pelan, masih merasa ragu mengklaim Minhyuk sebagai suaminya.

Pelayan Kim masih membungkuk hormat, “Hwejangnim sudah berangkat sejak tadi pagi, Samonim.”

“Kerja?” Soojung mengernyitkan keningnya.

“Ne, Samonim.” Jawab pelayan Kim singkat, lalu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di belakang.

Kerja? Hari ini adalah hari pertama mereka resmi menikah dan Minhyuk berangkat kerja? Sebegitu sibukkah suaminya sehingga tidak bisa libur setelah pernikahan mereka? Tidak adakah bulan madu seperti yang dilakukan orang-orang biasanya? Setahu Soojung, kebanyakan orang memilih melewatkan waktu bersama dengan tidak bekerja, tidak perlu harus berlibur ke suatu tempat, bahkan dengan hanya bersama-sama di rumah itupun sudah cukup.

Soojung kira Minhyuk akan meluangkan waktu untuk mereka bisa bersantai berdua, apalagi mengingat hubungan mereka yang singkat sebelum menikah. Tidakkah Minhyuk ingin lebih banyak mengenalnya seperti Soojung yang sangat ingin mengenal suaminya lebih dalam?

Ditambah Minhyuk juga berangkat bekerja tanpa pamit padanya. Soojung masih bertanya-tanya akan sikap kasar dan dingin Minhyuk semalam, tapi pagi ini sikap Minhyuk lebih membuatnya bertanya-tanya lagi.

Suami macam apa yang meninggalkan pengantinnya setelah malam pertama mereka yang tak tersentuh, hanya untuk pergi kerja?

Soojung terbengong. Matanya menatap keindahan rumah dengan segala interior mewah yang bergaya minimalis itu dengan bingung. Rumah itu terasa sangat asing baginya, dan tiba-tiba saja, Minhyuk juga terasa sangat asing untuknya.

***

“Bagaimana malam pertamamu?” Goda Kris ketika Soojung mengangkat teleponnya.

Soojung tersenyum lembut, “Kami belum malam pertama.” Bisiknya, dia memang selalu jujur pada Kris dalam hal apapun, dan kenyataan bahwa Kris adalah gay membuatnya semakin nyaman di dekat lelaki itu.

“Mwo?” suara Kris di seberang sana tampak terkejut, “Kalian belum melakukannya?

Meskipun ada di seberang telepon, Soojung tetap tersenyum malu-malu, “Kami terlalu lelah, kemarin hampir tengah malam pun masih ada tamu-tamu yang berdatangan.”

Kris tertawa, “Itu resikonya kalau menikah dengan seorang chaebol.” Candanya. “Jangan khawatir, semuanya akan ditebus saat bulan madu kalian.”

Aku bahkan ragu, adakah bulan madu untuk kami. Kata Soojung dalam hati.

Soojungie?” Panggil Kris dari seberang sana, ketika Soojung tak merespon pertanyaannya barusan, karena Soojung sibuk dengan pikirannya.

“Eh.. Hmm?” Gumam Soojung kaku.

“Aku tanya, kemana kalian akan berbulan madu.”

Soojung bingung harus menjawab apa, lalu dia berdeham, “Aku belum tahu…” Gumamnya pelan, “Kami belum merencanakannya…”

Mungkin dia akan memberimu kejutan,” Ada nada menggoda di suara Kris, “Seperti membawamu ke pulau romantis yang luar biasa indah, kau harus memberitahuku, Soojung.”

Soojung memaksakan senyum di suaranya, “Pasti, Kris.” Mereka lalu berbincang-bincang sebentar mengenai galeri Soojung. Perasaan Soojung sedikit tenang ketika Kris mengatakan dia akan meminta temannya Kim Jae Kyung untuk sementara mengajari anak-anak kelas seninya. Kim Jae Kyung dulu pernah melakukan hal yang sama ketika Soojung sakit dan anak-anak juga menyukainya.

Soojung mendesah setelah menutup telepon, masih bingung dengan sikap Minhyuk dari tadi malam. Apa mungkin benar, kalau Minhyuk akan memberinya kejutan? Seperti drama yang sering dilihatnya, orang-orang bersikap aneh dan membingungkan ketika ingin memberi kejutan. Misalnya memberikan kejutan ulang tahun, orang-orang berkomplot untuk berpura-pura lupa dan tidak memberikan selamat, hingga membuat orang yang ulang tahun merasa sedih dan kecewa, lalu pada akhirnya mereka akan memberikan pesta ulang tahun kejutan yang membahagiakan, membuat kejutan mereka lebih bermakna.

Mungkin saja…

***

Minhyuk bersandar dikursi putarnya, tatapannya jatuh pada jari keempat yang dilingkari cincin kawinnya. Dia mendesah, lalu menatap kearah luar jendela dengan hantu-hantu yang terus menggentayangi pikirannya.

“Lihat siapa disini, seorang pengantin baru atau seorang penggila kerja?”

Minhyuk memutar kursinya dan melihat siapa yang sudah berani memasuki ruangannya tanpa permisi. Dia sangat siap untuk memecat jika itu karyawannya selain Jungshin. Namun ketika lelaki yang membuka pintu ruangannya begitu saja tepat berada di depan mejanya dengan tangan disaku yang diikuti Jungshin di belakangnya, Minhyuk langsung berdiri, ada keceriaan diwajahnya sebelum dia menyambut tamunya dengan pelukan rindu.

“Hyung!!”

“Yah! Beraninya kau menikah tanpa memberitahuku, kau pikir aku ini apa, hah?” Yoon Doo Joon, sepupu Minhyuk memukul kepalanya setelah melepaskan pelukan mereka.

Minhyuk berdecak kesal mengusap kepalanya sebelum berjalan ke arah sofa besar yang berada di ruangannya di ikuti Doo Joon dan Jungshin.

“Bagaimana kabarmu Hyung?” Tanya Minhyuk setelah duduk di salah satu sofa.

“Jangan mengalihkan pembicaraan Minhyuk, kenapa kau tidak memberitahuku kau menikah. Kau takut istrimu ku ambil, hah?” Canda Doo Joon.

“Kau bicara omong kosong Hyung, terus kenapa kau tidak mengabariku kalau kau kembali kesini?” Balas Minhyuk tak mau kalah karena kedatangan Doo Joon dari Sydney yang tiba-tiba.

“Aku kembali karena kau tidak mengabari pernikahanmu, aku terkejut ketika Jungshin menjawab telponku kalau kau sedang berada di altar.”

“Mianhe, itu terjadi begitu saja.” Kata Minhyuk pelan.

“Begitu saja? Kau bercanda? Hhmm.. Aku yakin istrimu pasti sangat cantik makanya kau menikahinya cepat-cepat, kau tidak ingin kehilangannya, kan? Kau pasti sangat mencintainya..” Tanya Doo Joon berderet dan begitu semangat.

“Tunggu, bagaimana dengannya? Kau sudah memberitahunya?”

Minhyuk hanya melirik Jungshin yang sudah menatapnya dengan helaan napas, sebelum menjawab. “Dia bahkan sangat tahu, Hyung.”

***

Soojung duduk di taman belakang sendirian melihat kolam yang penuh dengan ikan-ikan hias didepannya. Dia merasa sangat bosan, biasanya dia akan menghabiskan waktunya dengan melukis setelah itu mengajari anak-anak sore harinya. Dia sama sekali tidak menyangka inilah yang akan terjadi pada dirinya. Ditinggal bekerja, seorang diri di rumah setelah pernikahannya.

Soojung ingin sekali pergi ke galerinya sekarang juga, tapi Kris pasti akan menanyainya dengan sejuta pertanyaan, dan Soojung tidak tahu harus menjawab apa, karena dia sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi.

Soojung melirik ponsel yang tak berdering sama sekali. Dulu Minhyuk selalu mengiriminya pesan-pesan penuh perhatian padanya. Bahkan hanya untuk sekedar mengucapkan selamat pagi, menanyakan apakah dia sudah makan atau belum, dan juga Minhyuk yang selalu memberitahukan apa yang sedang dilakukannya. Tapi sekarang berbeda, tidak ada satupun telpon bahkan pesan dari Minhyuk untuknya.

Sesibuk itukah Minhyuk dengan pekerjaannya sekarang?lalu bagaimana dengan dulu?

Ingin sekali Soojung menelpon Minhyuk, tapi dia takut kalau saja Minhyuk sedang berada dalam rapat penting dan dia mengganggunya. Tapi dia benar-benar bosan dirumah dan tidak melakukan apapun.

Soojung mengambil ponselnya, dia benar-benar tidak tahan. Soojung mengganti pakaian dan meminta supir mengantarnya ke café tempat biasa dia menghabiskan senjanya.

***

Soojung memasuki Café berarsitek Itali dua lantai berpadukan dengan nuansa taman yang mengelilingi setiap sudut luar restoran, semua serba hijau dan memantulkan suasana alam yang indah ditambah dengan pemain orchestra yang memainkan alat musik yang merdu membuat para tamu juga terhayut dalam alunan musik. Seluruh dindingnya terbuat dari kaca, sehingga pengunjung bisa menatap pemandangan taman dan melihat orang-orang yang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing.

Won Bin, pemilik café yang juga senang melayani para tamu tersenyum ketika melihat kedatangan Soojung.

“Apa yang dilakukan pengantin baru di sini?” Tanyanya menggoda, membuat Soojung memerah.

“Aku merindukan teh hijaumu, ajusshi.” Jawab Soojung penuh canda, mengedipkan mata, membuat Won Bin tergelak.

“Pesanan akan segera datang, putri.” Balasnya mengedipkan mata, lalu melangkah pergi.

Tak lama kemudian Won Bin kembali, membawa secangkir teh hijau beraroma khas yang harum yang masih hangat. Soojung sangat menyukai harum aroma teh hijau ini, apalagi teh hijau buatan Won Bin. Hampir setiap sore Soojung selalu mampir untuk menikmati secangkir teh hijau setelah melepas penat mengajar di kelas seninya.

“Kau aneh, Soojung.” Soojung mengernyit dahinya sambil menyesap tehnya. “Hanya kau yang memesan teh hijau panas, di saat musim panas sekarang ini.” Kata Won Bin sembari menggelengkan kepalanya.

Soojung terkekeh, “Orang bilang, teh hijau mempunyai kemampuan untuk menenangkan.”

“Yah, menenangkan orang yang sedang banyak pikiran.” Won Bin tersenyum, “Yang pasti bukan untuk pengantin baru sepertimu, Soojung.” Lelaki itu setengah berbisik, “Apa kau tahu racikan apa yang aku masukkan ke teh hijau yang sedang kau minum sekarang?”

“Apa?” Soojung langsung tertarik.

Percakapan dengan Won Bin memang selalu menarik, lelaki itu seolah punya segudang pengalaman dan pengetahuan yang kadang-kadang bisa membuat Soojung terpana.

“Rahasia.”

“Hmm?” Soojung mengernyitkan dahinya makin dalam dan cemberut mendengar jawaban Won Bin.

Won Bin tertawa. “Bukan rahasia yang ku maksud tidak memberitahu Soojung. Rahasia. Setiap memikirkan teh hijau aku selalu memikirkan tentang rahasia.” Ditatapnya Soojung dengan serius, “Kau tahu, ketika sajian teh hijau yang dipadu dengan melati datang padamu, aromanya sangat khas dan menakjubkan yang membuatmu tergoda dan bahkan bisa membayangkan rasanya sebelum kau mencicipinya. Tapi kemudian setelah kau menyesapnya, kau pasti akan mengernyit, merasakan pahit yang menerpa lidahmu. Setelah itu ketika kau menyesapnya lagi dan lagi, barulah kau bisa menemukan keindahan cita rasanya yang berpadu. Teh hijau selalu penuh rahasia, dia tidak seperti aroma yang ditampilkannya, bahkan memberi kepahitan pada kesan pertama. Sedikit demi sedikit kau harus mengenal lapisan demi lapisan rasanya hingga menemukan kenikmatan sejati dalam teh hijau ini.”

“Wow.”

Soojung terpesona mendengar penjelasan Won Bin, “Aku tidak pernah tahu teh hijau memiliki makna dalam seperti itu sebelumnya, ajusshi. Bagiku teh hijau hanyalah minuman yang enak dan membuatku ketagihan.” Soojung terkekeh. “Aku terkesan dengan penjelasanmu, ajusshi.”

Won Bin terkekeh, “Kau berbanding terbalik dengan istriku, dia bilang aku terlalu rumit dengan pikiranku. Tapi tetap saja, dia selalu bilang ‘walaupun kau rumit, kau masih orang pertama dalam segala hal untukku’.” Tiba-tiba Won Bin merasa malu menceritakan asmaranya dengan istrinya pada Soojung.

“Apa kau sampai malam disini? Se Kyung ingin bertemu dengamu, dia ingin dilukis olehmu.” Ucap Won Bin teringat anaknya yang selalu merengek untuk bertemu dengan Soojung.

“Aku tidak bisa…” Sesal Soojung. “Maaf ajusshi..”

“Tidak apa Soojung, aku mengerti. Sepertinya semua pengantin baru tidak pernah tahan menjauhkan diri satu sama lain.” Won Bin mengedipkan sebelah matanya sebelum melangkah mundur, “Silahkan nikmati teh hijaumu, Soojung.”

Soojung tertegun mendengar kata-kata Won Bin bahwa semua pengantin baru tidak pernah tahan menjauhkan diri satu sama lain. Diliriknya ponselnya yang masih sepi dalam keheningan. Soojung menghela napas panjang, tiba-tiba merasakan firasat buruk yang menyelimuti hatinya.

***

Pada akhirnya Soojung tidak tahan untuk tidak mengunjungi galerinya, dia berdiri di depan kelas seninya, menyapa Jae Kyung dari luar jendela yang sedang mengajari salah satu anak membuat sketsa. Dia menghela napas, menatap satu persatu anak didiknya yang lucu yang membuatnya tenang, lalu berjalan ke arah ruangannya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Soojung terkejut mendengar suara Kris dari belakang punggungnya ketika hendak membuka pintu ruangannya.

“Kau membuatku kaget, Kris.” Soojung mendelik, memelototi Kris.

Kris tertawa. “Mian.” Lalu menunjukkan kantong plastik makanan yang ia beli barusan, kemudian mendahului Soojung memasuki ruangan. “Aku lapar, kau mau?”

“Tidak.”

“Bagus kalau begitu.”

Soojung berdecak, membuat Kris tertawa lagi. Hubungan Kris dan Soojung sangat dekat, bahkan lebih dari sahabat, seperti kakak adik. Keluarga Kris juga sangat menyayanginya. Ketika ibu Soojung meninggal, keluarga Kris-lah yang mengurus Soojung dan merawatnya seperti anak sendiri.

Ibu Kris selalu berharap kalau Soojung dan Kris melanjutkan hubungan mereka ke pernikahan. Maklum Ibu Kris tidak tahu jati diri yang disembunyikan Kris sebagai seorang gay. Berkali-kali Ibunya menyinggung betapa senangnya jika mempunyai menantu seperti Soojung. Tapi kemudian ketika Soojung merencanakan pernikahannya dengan Minhyuk, dia akhirnya menerima kenyataan bahwa mereka memang tidak ditakdirkan melebihi sahabat. Bahkan ibu Kris yang bersemangat membantu persiapan pernikahan Soojung, membuat Soojung terharu karena Ibu Kris bertindak seperti ibu kandungnya.

Soojung menatap Kris yang lahap menyantap ayam goreng dengan pikiran kosong.

“Kenapa kau di sini? Bukankah seharusnya bersama dengan Minhyuk sekarang?” Ucapnya dengan mulut penuh.

“Hmm?.. Ahh, Minhyuk ada urusan mendadak dikantornya, jadi aku memutuskan untuk ke sini dan melihat anak-anak sebentar.” Jawab Soojung asal menghindari kecurigaan Kris.

“Kerja di hari pertama setelah pernikahan?” Suara Kris meninggi, “Sungguh keterlaluan, Soojung” Kris menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis.

Keterlaluan ya?

“Soojungie?”

“Aku… bingung, Kris.” Gumam Soojung, menunduk.

Kris meletakkan makanannya, lalu menatap Soojung serius. “Bingung kenapa?”

“Minhyuk. Dia.. bersikap aneh, semalam.” Ucap Soojung menatap sendu Kris.

Kris tertawa mendengar kata-kata Soojung.

“Aku serius, Kris.”

“Soojung, kebanyakan pengantin baru memang suka bersikap aneh. Mungkin nanti kau akan menemukan banyak hal baru dari Minhyuk. Sesuatu yang tidak pernah kau duga sebelumnya, kau akan mengerti.”

Soojung berdecak. “Kau berbicara seakan kau sudah menikah, kau tahu.”

Kris tertawa kembali melahap makanannya dengan nikmat. “Aku memang belum menikah atau mungkin tidak akan pernah.” Wajahnya tampak sedih, Tapi dengan cepat Kris mengubah ekspresinya menjadi ceria, “Tapi aku banyak membaca dan mencari tahu, kau bisa datang padaku kalau kau ada masalah dengan pernikahanmu dengan Minhyuk.” Kris menepuk dadanya bangga.

Mereka tergelak bersama meskipun ada sedikit perasaan mengganjal di benak Soojung. Kris sama sekali tidak berpenampilan seperti gay, dia tidak lembut atau bersikap seperti perempuan. Tubuhnya gagah dan penampilannya jantan seperti lelaki kebanyakan. Soojung tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya Kris harus berpura-pura dan mengingkari jati dirinya, apalagi mengingat bahwa ibu Kris sering sekali mendesak anak lelaki satu-satunya itu untuk segera menikah.

Berbicara tentang ibu Kris, Soojung teringat dengan ibunya, ibunya yang cantik dan begitu lembut. Yang selalu Soojung ingat dari ibunya adalah sebuah lukisan taman dengan satu ayunan yang di naiki gadis gecil yang mencoba menggapai kupu-kupu terbang dihadapannya. Gadis kecil itu, Soojung. Ibunya bilang, dia akan berhasil mencapai tujuannya seperti dia ingin menggapai kupu-kupu itu sepaket dengan kebahagiaannya.

***

“Dari mana saja kau?” Suara dingin Minhyuk menyambut Soojung di ruang tamu, membuat Soojung mengedipkan matanya, takut.

Soojung menggigit bibir bawahnya gugup, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Aku.. Aku bosan… Jadi, aku memutuskan untuk ke galeri.”

“Galeri?” Tatapan Minhyuk menjadi tajam. “Menemui Kris?”

“Iya. Juga, melihat kelas seniku. Kris meminta bantuan pada Jae Kyung, jadi aku mampir untuk melihat sebentar..”

“Kau selalu memikirkan galerimu dan Kris. Apa kau tidak bisa berhenti memikirkannya?! Aku muak kalau kau selalu menyebut-nyebutnya di rumah ini. Kalau kau memang mau jadi istri yang baik, tetap dirumah. Bukan selalu mengurusi Kris dan galerimu!” Ucap Minhyuk kejam, lalu meninggalkan Soojung yang terperangah kaget di ruang tamu.

Soojung merasakan hatinya seperti diremas, matanya terasa panas, tapi dia menahannya. Seumur hidupnya, tak pernah ada seorang pun yang memarahinya dengan sekejam itu.

Apa Minhyuk cemburu pada Kris dan galerinya?

Bulir air matanya yang ia tahan, akhirnya mengalir dari sudut matanya. Hatinya terasa sesak. Dia tidak percaya, orang yang berkata seperti itu adalah Minhyuk, suaminya. Dimana suara yang lembut itu? Dimana perhatiannya yang dulu itu? Itu bukan Minhyuk. Bukan Minhyuk yang ia kenal empat bulan yang lalu. Bukan Minhyuk yang melamarnya penuh cinta malam itu.

Siapa kau, Minhyuk?

 

To Be Continue

 

Hayooo, siapa yang disini sudah benci sama Minhyuk? *akuuu, nunjuk sendiri, hahaha. Mungkin kalian akan lebih membenci Minhyuk, setelah part selanjutnya dan selanjutnya, Hahaha. *tertawa evil.

Dan Wow, terima kasih atas respon prolog dari kalian, saya benar-benar seeeenaaang, terima kasih, hehehe. Pada bingung ya awal percakapan Minhyuk sama Jungshin di awal prolog, itu semacam flashback kecil sebelum Minhyuk ketemu sama Soojung, biar bikin greget, hehee. Ntar juga ada bagian penuhnya kok, tenang aja. Siapa cewek yang dikursi roda, part selanjutnya dikasih tahu. Tetap stay yooooo..

Seperti biasa, komentarnya. Maaf untuk typonya. Thank you sooo much🙂

64 responses to “[Chaptered] Venom (Part I)

  1. Pingback: [Chaptered] Venom (Part IV) | FFindo·

  2. Minhyuk kenapa sih? Kasar amat perasaan mereka kan baru nikah.apa dia cemburu ? Kasian baget soojungnya baru mau gelangkah kekehidupan baru yang ia fikir bakal bahagia eh malah kaya gini.

  3. omg
    mihyuk oppa kenapaa begituu. tapi ini baru sekali loh liat ff dgn karakter minhyuk kayak gitubiasanya minhyuk itu karakternya angel, flower boy pokoknyaa selalu sweet dan makin gasabar liat kelanjutannyaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s