The Fear of Falling for You: Chapter 8

Prolog | Chapter: 1234567

Side Story: Suho – Kai: part 1

Title: The Fear of Falling for You

Author: SSI

Length: Chaptered (still on-going)

Cast: Wu Yi Fan / Kris Wu (EXO M), Park Chanyeol (EXO K), Son Hana (OC)

Other casts: EXO K, EXO M, etc.

Genre: Action, romance, angst, slightly abuse

Rating: PG-16

Disclaimer: We don’t own anything but the storyline

Poster: cr; logo

Author’s POV

krisbedroom81Baby,” bisik Kris.

Baby, Hana, look at me,” pinta Kris sekali lagi.

Hana yang sedari tadi menghindari pandangan mata Kris karena saat ini dia sedang berada di bawah pria itu tanpa sehelai benang pun akhirnya memberanikan diri untuk menatapnya. Kris tersenyum dan mengusap pelan pipi Hana. Kris bahkan menyelipkan sejumput rambut yang menghalangi wajah Hana ke belakang telinga gadis itu dan mempelajari ekspresinya. Kris tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi Hana dapat merasakan sentuhan Kris kini telah berubah. Sentuhan Kris kini terasa lembut dan hati-hati, seakan takut untuk menyakiti dirinya. Hana membalas perlakuan Kris dengan mengangkat tubuhnya sedikit dan memberikan kecupan kecil di sudut bibir pria itu, seolah memberikan kepastian bahwa dia baik-baik saja.

Kris menghela napasnya yang terasa panas akibat jarak bibirnya dan bibir Hana hanya sepersekian senti. Dia tidak bisa menahannya lagi.

“Hana, it will hurt, but don’t hold yourself. Scream, yell, bite me, grip me, whatever you need to. I am right here. Let me feel your pain too,” bisik Kris sambil melayangkan kecupan-kecupan ringan di wajah Hana.

Setiap kalimat yang diucapkan oleh Kris melebur ke dalam hati Hana dan gadis itu segera melupakan semua kekhawatirannya seiring tatapan mata Kris yang menghujamnya dengan penuh rasa sayang.

All she could see was him, all she could smell was him, and all she wanted right now was him.

Hana memberanikan dirinya untuk menatap Kris dan mengangguk pelan, memberikan tanda bahwa dia mengizinkan Kris untuk melakukan hal yang saat itu ada di pikiran pria tersebut. Dia dapat melihat Kris tersenyum kecil sebelum dirasakannya Kris memberikan ciuman-ciuman dalam di lehernya. Tak lama kemudian ciuman itu beralih menyusuri rahangnya dan sampai di daun telinganya. Kris menggigit daun telinga Hana pelan yang membuat Hana mendesah pelan.

Kris menarik wajahnya dan puas dengan apa yang sedang dia lihat. Hana berada di bawahnya dengan mata tertutup dan mulut setengah terbuka. Leher gadis tersebut penuh bercak merah akibat ciuman panasnya. Napas Hana bahkan sudah tidak teratur dan pipinya memerah. Pemandangan seperti itu membuat Kris kehilangan semua kendalinya. Dia memberikan satu kecupan pelan di kening Hana sebelum memposisikan dirinya di antara kedua kaki jenjang milik gadis itu.

Hana segera meremas kedua pundak Kris saat dia merasakan Kris tengah menyatukan tubuh mereka berdua. Namun tak disangka, kali ini Hana sama sekali tidak merasakan sakit karena Kris bergerak dengan sangat pelan. Sangat pelan sampai Hana pikir dia akan segera gila. Hana meraih wajah Kris dengan kedua tangannya dan mencium bibir pria itu dengan kasar, seolah ingin memancing gairahnya.

No, Hana. We’re doing it in my way. And we will take it slow,” kata Kris setelah dengan susah payah melepaskan ciuman Hana.

Hana mengerang dan hal itu membuat Kris tertawa.

“Sejak kapan kau menjadi nakal begini, hmm?” tanya Kris dengan nada menggoda.

Hana tidak menjawab pertanyaan Kris namun sedetik kemudian tubuh gadis itu bergerak mengikuti semua gerakan Kris yang membuat Kris tidak bisa mengontrol dirinya lagi.

Shit, Hana…”

Dengan satu hentakan keras akhirnya Kris memutuskan untuk mempercepat gerakannya. Kris segera merasakan tubuh Hana bergetar hebat di bawahnya.

“K-Kris… I’m near,” rintih Hana pelan.

Mendengar suara Hana yang sangat seduktif itu gairah Kris semakin meningkat, sensasi memabukkan yang dirasakannya semakin meninggi. Pria itu semakin meningkatkan kecepatannya yang membuat Hana kehilangan kendali terakhirnya. Tak lama kemudian Kris menyusul dengan melepaskan semua pertahanannya ke dalan tubuh Hana. Kris membelai wajah Hana dan menunggu sampai napasnya teratur sebelum menjatuhkan dirinya di samping gadis itu.   Hana’s POV

Aku mati-matian mengatur napasku yang memburu seperti sedang mengikuti lomba lari marathon. Padahal kenyataannya yang kulakukan hanyalah berbaring di ranjang dan membiarkan Kris memperlakukanku dengan cara yang dia suka. Mengingat kejadian yang baru saja terjadi beberapa menit barusan membuatku malu setengah mati dan udara dingin yang berhembus di atas kulitku segera menyadarkanku bahwa aku masih belum ditutupi oleh sehelai benang pun. Maka dengan perlahan aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku dan berbalik, memunggungi pria itu.

Aku dapat mendengar dia tertawa kecil sebelum mendapati tangannya melingkari pinggangku dan menarik tubuhku untuk mendekat padanya. Kini punggungku menempel erat di dadanya dan aku dapat merasakan hembusan napasnya yang hangat di leherku.

You smell good, Hana,” bisiknya setelah menghirup aromaku dalam-dalam.

“Hmm, you smell like me and I like it,” lanjutnya lagi.

Aku tersentak saat mengerti maksud ucapannya dan segera menyikutnya, tidak terlalu keras namun juga tidak bisa dibilang pelan. Tetapi pria itu malah tertawa lepas dan semakin mempererat lingkaran tangannya di pinggangku.

Sleep, Hana. You must be tired,” ucapnya lagi masih dengan nada menggoda.

“Yeah, right,” jawabku sambil memutar mata.

Hening sejenak sebelum aku mendengar suara Kris yang kini telah melembut, “Good night, Hana.”

Night, Kris,” bisikku.

Kedua mataku telah terpejam dan aku tengah dalam perjalanan ke alam mimpi saat samar-samar aku kembali mendengar suara parau yang keluar dari bibir pria itu.

“Sleep well, Hana. I love you.”

—–

Aku terbangun dan mendapati sisi lain dari tempat tidur ini telah kosong. Aku melirik jam yang terpasang di dinding dan jarumnya sudah menunjuk ke angka sepuluh. Sepertinya semua energiku terserap oleh aktivitas semalam sehingga aku tidur selelap itu. Aku yakin Kris sudah terbangun dua jam yang lalu dan kini dia telah bersama dengan teman-temannya itu, membicarakan bisnis terlarang yang tidak aku mengerti. Aku menghela napas mengingatnya.

Tetapi tiba-tiba aku teringat hal lain.

“I love you.”

Apakah benar Kris mengucapkan kalimat itu semalam? Atau itu hanya imajinasiku saja? Apa dia benar-benar serius dengan ucapannya tersebut?

Semua pertanyaanku itu langsung buyar saat aku mendengar gerutuan keras yang berasal dari luar kamar. Dahiku kontan mengernyit dan aku memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur. Tepat saat aku membuka pintu kamar, aku mendapati Kris sedang berjalan mondar-mandir dengan satu tangan yang tengah menempelkan telepon genggam di telinganya, sementara tangan yang lain dia gunakan untuk mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Aku tidak dapat mendengar apa yang dia bicarakan karena dia merendahkan volume suaranya, namun aku dapat menangkap nada kesal di sana.

“Kris?” aku memutuskan untuk memanggilnya.

Kris tersentak dan menolehkan kepalanya dengan cepat ke arahku, “Hana?”

Dengan langkah kakinya yang lebar-lebar, Kris berjalan menghampiriku.

Are you okay? Does it hurt? Apakah aku terlalu kasar semalam?” rentetan pertanyaan segera keluar dari bibirnya yang membuat pipiku kembali memerah.

“Umm, Kris… Your phone,” aku berusaha mengingatkan bahwa telepon genggamnya masih tersambung dan lawan bicaranya sudah pasti mendengar apa yang baru saja dia tanyakan padaku.

“Oh, right. Aku lupa. Yeah, Lay? Nanti aku akan menghubungimu lagi,” katanya sebelum memutuskan sambungan telepon.

Well? Does it hurt?” tanyanya lagi.

“Tidak… Tidak separah saat itu,” jawabku sembari membuang muka.

Aku dapat mendengar napasnya tertahan sejenak, sebelum tangannya menarik daguku untuk membuatku mentapnya.

I become violent just for you, Hana,” bisiknya parau.

“Kau tidak perlu tahu apa yang ingin aku lakukan untuk menghukummu setelah kau membiarkan polisi itu menginjakkan kakinya yang kotor di rumahku dan memelukmu. Aku pergi dulu.”

kris81—–

“Dress well, Hana. Meet me at Myeongil-dong, Gangdong-gu, at 4 PM.”

Senyum tipis terulas di wajahku selepas membaca pesan singkat dari suamiku itu. Entah mengapa Kris sekarang sudah bisa membuatku terus tersipu malu. Ya, sekarang, sejak enam bulan terakhir, maksudku.

“Apakah dia sibuk? Biasanya dia akan menjemputku,” gumamku sambil berjalan ke arah lemari.

Aku melirik jam yang terpasang di dinding.

2 PM.

“Kurasa sekarang memang waktunya untuk bersiap-siap, Hana. Oh, Kris, kenapa kau memilih restaurant yang sangat jauh?” lanjutku lagi sembari membuka lemari putih dengan pintu kaca setinggi tubuhku.

Aku melontarkan pandanganku ke setiap sisi lemari, melihat berbagai baju yang kupunya. Menarik satu lembar kaos putih, merentangkannya, lalu kembali memasukkannya ke dalam lemari.

Hmm, dress well, he said.”

Kembali aku mencari dress yang akan aku gunakan, yang tentunya nyaman, mengingat suhu korea saat ini sedang tinggi karena telah memasuki musim panas.

This!” ucapku senang ketika menemukan floral dress berwarna kuning pudar berlengan pendek dengan panjang sedikit di bawah lutut dan kalung yang tergantung bersamanya.

hana81Setelah merasa puas dengan dress yang aku kenakan, aku meraih jam tangan lamaku di dalam kotak perhiasanku, dan tanpa menghabiskan waktu aku segera bergegas ke meja rias di sudut kamarku untuk mengikat rambutku dan menggunakan sedikit make up.

“Mengingat kejadian di restauran terakhir, apa ini penebusan dosamu, Kris?” kataku dalam hati sembari melihat penampilan terakhirku di cermin.

You’re beautiful as usual, Hana,” gumamku sambil tersenyum.

—–

2.30 PM

“Wait me there, dear.”

Setelah mengirim pesan singkat tersebut, kulajukan SUV hitamku menelusuri jalanan perkotaan dan tidak lama kemudian mobilku telah bergabung dengan puluhan mobil lainnya di jalan. Jalanan di kota Seoul ini sedikit lebih padat daripada biasanya. Kulirik jam digital yang ada di tengah dashboard, rupanya waktu sudah berjalan 30 menit karena jam tersebut sekarang telah menunjukkan pukul 3 PM. Sedikit panik, aku membunyikan klakson mobilku dan menaikkan kecepatannya sembari berusaha menyalip mobil-mobil yang berjalan lamban di depanku. Butuh kurang lebih satu setengah jam untuk sampai di restauran itu dengan kecepatan normal, but I don’t want to be late and make him wait for me. Sambil tetap mengemudi, aku menaikkan suhu pendingin mobilku, sudah aku bilang Korea akhir-akhir ini sangat panas, bukan? Aku juga menghidupkan radio untuk mengisi kesunyian di dalam mobil karena akan membuatku mengantuk saat menyetir. Aku tentu masih ingin hidup lebih lama. Aku menekan tombol next hingga alunan suatu lagu yang sangat familiar di telinga dan juga ingatanku terdengar.

Yesung – It Has to Be You

Bayangan pernikahanku di altar bersama Kris masuk melalui saraf menuju otakku, memutarkan kembali momen yang sangat indah sekaligus canggung di memoriku. Aku tak pernah membayangkan akan menikahi Kris, seseorang yang menjabat sebagai CEO muda, pikirku saat itu. But he turned out to be a leader of an illegal organization, yang sampai sekarang aku masih tidak tahu apa tujuannya. Aku tersenyum getir mengingatnya, namun memori tersebut buyar dan digantikan dengan wujud dua anak berumur sekitar 10 tahun yang sekarang sedang berlari di tengah jalan mengejar topi bewarna merah yang terbawa angin.

‘PIPPPP!’

Sontak aku segera membunyikan klakson dan menginjak rem hingga maksimal. SUV-ku berhenti. Aku merasa takut untuk membuka kedua mataku yang sedaritadi kututup rapat, takut melihat insiden apa yang mungkin terjadi akibat ulahku. Setelah menenangkan pikiranku, aku secara perlahan membuka kedua mataku dan langsung mencari dua anak kecil tadi. Kutolehkan wajahku ke kanan jalan dan melihat dua anak itu sudah berada di tepi dengan salah satu tangannya memegang topi. Kutarik napasku dan menghembus panjang sebelum kembali melajukan mobilku.

Kini perhatianku tertuju penuh pada jalanan. Namun ada satu hal yang kini menarik perhatianku. Aku baru menyadari bahwa mobil Jeep hitam di belakangku selalu mengikutiku. Kucoba untuk kembali menaikkan sedikit kecepatanku, berusaha untuk membuat jarak dengan mobil tersebut. Jalanan yang berkelok dan curam ini benar-benar membuatku harus berhati-hati. Setelah beberapa menit, aku kembali melihat ke arah spionku.

chanyeolsjeep81Shit, mobil itu masih mengikutiku.”

Setiap akan bertemu Kris, perasaanku akan berubah menjadi perasaan yang sangat susah didefinisikan seperti ini. Berawal dari perasaan senang yang tak lama kemudian digantikan dengan perasaan cemas, seperti sekarang. Ya, aku masih trauma akan kejadian-kejadian yang pernah menimpaku hanya karena aku memiliki hubungan sepesial dengannya. Aku melirik jam di dashboard, sudah pukul 4 sore.

“Maaf, Kris, aku akan datang terlambat,” sesalku dalam hati.

Aku mencoba untuk menepikan mobilku dan berharap mobil Jeep hitam itu akan melaju melaluiku. Namun alih-alih berjalan melaluiku, pengemudi mobil itu malah ikut menepikan Jeep hitamnya tepat di belakangku.

“Oh Tuhan, kini apa lagi?” gerutuku kesal.

Aku mengetukkan jari-jariku di atas kepala seat belt sembari mulai menimbang-nimbang, apakah aku harus turun dari mobil dan menghampiri Jeep itu untuk menanyakan apa maksudnya, atau aku harus melajukan mobilku jauh lebih kencang dengan kondisi jalan seperti ini? Opsi terakhir sepertinya hampir tidak mungkin kupilih, mengingat aku baru saja hampir mengalami insiden yang akan membuat Kris semakin marah kepadaku di samping kedatanganku yang terlambat. Butir-butir keringat mulai tercipta di keningku, pendingin mobilku sepertinya kurang cukup untuk menentang suhu di Korea Selatan akhir-akhir ini, atau karena aku sedang ketakutan?

‘Tok-tok’

Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan di kaca jendela mobilku yang akhirnya menyadarkan lamunanku. Aku bernapas lega ketika melihat seorang pria memakai topi hitam dan shades dengan warna senada yang sedang berdiri menunduk sembari melambai-lambaikan tangannya tepat di samping pintu mobilku.

tfoffychanyeol

Chanyeol’s POV

“Chanyeol!” aku mendengar suara manis yang sudah lama aku putar secara terus-menerus di ingatanku sebelum tidur.

“Hai Han—” sapaanku terpotong oleh omelannya.

“Apa-apaan kau ini? Tidakkah kau tahu, kau sudah hampir membuatku tewas jatuh ke dalam jurang!”

“Ma—”

“Kenapa kau mengikutiku? Kenapa kau bisa tahu ini mobilku? Aku tidak sedang bercanda, kau benar-benar hampir membunuhku,” Hana lagi-lagi memotong kalimatku.

Aku memperhatikan raut wajahnya yang benar-benar tegang, terlihat dari butiran-butiran ketingat yang ada di keningnya. Segera kuambil sapu tangan yang ada di saku celanaku.

“Maafkan aku karena telah membuatmu takut seperti ini. Tadi aku tidak sengaja melihat mobilmu di lampu merah. Karena aku kebetulan sedang tidak bertugas, mengikutimu dan memastikan keselamatnmu sepertinya hal yang menarik untuk menghabiskan waktu luangku. Dan soal mobilmu, tipe SUV seperti ini adalah satu-satunya yang ada di Korea Selatan, bukan?” jelasku panjang lebar sambil tersenyum, sementara itu tanganku meraih sisi wajahnya untuk menghapus keringat di sekitar keningnya.

Aku tidak mampu menahan tawaku ketika melihat ekspresi kesalnya beberapa saat yang lalu kini telah digantikan oleh ekspresi kaku karena sentuhanku.

chanyeol82I can do it by myself, by the way,” katanya berusaha terdengar tidak terkejut sambil mengambil sapu tangan dari tanganku secara tiba-tiba. Gerakannya itu membuat tanganku tertepis dari wajahnya dan mengenai puncak seat belt di sisi kursi pengemudi.

Aku berdeham, “So, Hana, where are you going to go?”

Dia terdiam sejenak sebelum memperbaiki ikatan rambutnya sembari menghapus keringat-keringat kecil yang ada di leher jenjangnya itu.

Late lunch. Dan sepertinya aku sudah sangat terlambat,” jawabnya dengan seulas senyuman yang sangat aku rindukan.

Tidak sopan sepertinya jika aku bertanya lebih jauh lagi, terlebih dengan kalimat yang dia ucapkan barusan memang menandakan dia sedang terburu-buru. Melihat dari kedua matanya yang berbinar cerah dan pipinya yang merona merah, aku tahu pasti dengan siapa dia akan menghabiskan waktu makan siangnya. Yeah, it must be that bastard.

Okay, Hana, take care,” ucapku sambil menyelipkan sedikit helaian rambutnya yang tidak terikat ke belakang telinganya.

Dia memegang tanganku yang berada di pipinya sambil tersenyum, “Thank you, Chanyeol.”

Aku berjalan kembali dan segera masuk ke dalam mobilku dengan suasana hati yang tidak bisa kudeskripsikan di sini. Di depanku terlihat mobil SUV berwarna hitam dengan lampu sein kanan yang menyala, berusaha untuk kembali ke jalan. Tiba-tiba perasaan yang tidak enak menyelimutiku. Bukan, bukan karena Hana akan bertemu dengan bajingan sialan itu. Ada suatu hal yang secara mendadak terbesit di pikiranku.

Aku lekas membuka pintu mobilku dan tanpa menutupnya, aku berlari menghampiri kembali mobil Hana yang setengah badannya sudah berada di jalan dan memberi isyarat untuk menepikan mobilnya kembali. Setelah mobilnya terparkir di pinggir kalan, dia menurunkan kaca jendela mobilnya dan memandangku dengan raut bingung di wajahnya.

“Ada apa lagi, Chanyeol?” tanyanya.

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu,” jawabku cepat dan langsung mengecek puncak seat belt yang tadi mengenai tanganku. Kuperhatikan dengan baik detail seat belt yang ia gunakan.

“Maaf, Chanyeol, tapi apakah ini penting? Kau tahu aku sudah ter—”

“Sangat penting!” jawabku sedikit membentak.

Aku membuka pintu belakang mobil ini dan melihat sebuah kaleng minuman bersoda dengan ukuran tidak normal.

Shit. Kenapa aku baru menyadarinya?!” gerutuku kesal.

Aku menutup pintu mobil itu dengan kencang dan kembali menghampiri Hana yang tengah memandangku bingung. Kubenamkan wajahku sebentar di dalam kedua tanganku yang kulipat di atas pinggiran jendela mobil Hana yang sepenuhnya telah terbuka, berusaha berpikir apa yang harus aku lakukan.

What’s wrong, Chanyeol?” tanyanya dengan nada ketakutakan yang tidak bisa dia sembunyikan dari pendengatanku.

Aku terdiam.

Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan yang menarik topiku, membuatku menengadah menghadapnya, dia mengelap keringat yang kini malah muncul di keningku, merapikan rambutku, sebelum kemudian memasang kembali topiku di tempat semula. Aku secara perlahan sadar dari rasa kagetku akibat perbuatannya itu dan langsung menahan tangannya yang masih tergantung di udara usai memakaikan topi di atas kepalaku.

“Aku bukanlah Suho Hyung atau Sehun yang dapat mengendalikan situasi seperti ini dengan benar, tapi aku yakin aku bisa menanganinya, apakah kau percaya padaku?”

Hana menjawab dengan anggukan. Kedua matanya seolah bertanya-tanya akan apa yang sedang terjadi, namun dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku merasa dia tidak mampu mengeluarkan suaranya karena rasa takut, terbukti dari tangannya yang sedang meremas tanganku erat. Sementara aku berusaha mengubah ekspresiku agar tidak terlihat panik di hadapannya.

Aku tersenyum dan menghembuskan napas sebelum menjelaskan kepadanya, “Ada M84 stun grenade—uh, maksudku bom, di mobilmu. Pertama, kau harus mematikan pendingin mobil

Belum sempat aku menjelaskan secara lengkap perihal bom itu, dia sudah mematikan pendingin mobilnya dengan cepat dan hampir menekan head seat belt-nya untuk melepas sabuk pengaman tersebut agar dia dapat dengan segera keluar dari mobil. Namun sebelum dia sempat menekannya, aku sudah terlebih dahulu menahan tangannya.

karena itu akan memacunya untuk meledak. Kau jangan bergerak, aku akan kembali ke mobilku untuk mengambil sedikit peralatan yang bisa aku gunakan untuk menolongmu, dan yang terpenting, jangan buka seat belt-mu itu, which means, kau tidak boleh pergi ke mana-mana, okay?” lanjutku.

“Okay…” ucapnya lirih.

Aku berbalik untuk berjalan menuju mobilku namun tangannya menahan lenganku.

“Ada apa?” tanyaku sembari kembali menatapnya.

Dia tidak menjawab namun aku dapat melihat air mata yang menggenang di pelupuk matanya dan siap tumpah saat itu juga. Aku tersenyum sekilas, mencium keningnya dan menghapus air matanya yang mulai turun dengan cepat.

“I’m here, right?”

Hana’s POV

Aku mengangguk dan menyerahkan seratus persen keyakinanku kepada pria yang kini tengah berlari menghampiri mobil Jeep berwarna hitamnya yang terparkir di tepat belakang mobilku.

Park Chanyeol.

Ya, ciuman di keningku yang secepat kilat tadi sukses membuatku mematung sekaligus merasa tenang, sesuai dengan harapannya agar aku tidak panik dan tetap berada di dalam mobil, mobil SUV hitam sialan ini yang di bagian belakangnya terdapat suatu stanstunapalah itu. Intinya adalah di dalam mobilku ada sebuah bom yang kapan saja bisa meledak jika aku melakukan sesuatu dengan seat belt ini.

Tentang kondisiku saat ini, kalian bisa membayangkan wajah seorang gadis bersimbah keringat karena panik dan ketakutan dengan eyeliner yang sudah meluber ke mana-mana akibat air matanya yang tidak kunjung berhenti mengalir. Aku memang gadis yang cengeng, mendengar bentakan yang dilayangkan Kris kepadaku saja bisa membuatku menangis semalaman.

But we’re talking about a boom inside my car! What in the world?! Siapa orang iseng yang tega-teganya memasukkan bom ke dalam mobilku?

Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya, walaupun cukup sulit. Berkali-kali aku melakukannya sampai aku bisa berpikir jernih. Aku mencoba untuk melihat kondisiku sendiri. Sebenarnya aku bisa saja meloloskan diri dari seat belt ini tanpa harus melepas head seat belt-nya. Tubuhku terbilang cukup ramping untuk dapat melakukan hal itu. Mencoba mengingat-ingat apa yang Chanyeol katakan, aku hanya tidak boleh menekan head seat belt-nya, bukan? Tentu saja aku tidak perlu menekannya. Aku menutup kedua mataku dan kembali mengatur napasku, mencoba mengumpulkan keberanian untuk melakukan hal tersebut. Setelah yakin, aku memutuskan untuk membuka pintu mobil terlebih dahulu sebelum mencoba menurunkan badanku sedikit demi sedikit sebelum sebuah bentakan mengejutkanku.

What the hell are you doing, Hana?!” teriak Chanyeol yang segera memperbaiki posisi dudukku kembali.

“Sudah ku bilang ja

I’m trying, Chanyeol! Aku bisa keluar dari mobil ini tanpa harus melepaskan seat belt-nya!” jawabku dengan tidak kalah keras disertai air mata yang mulai tumpah kembali.

Air mataku menetes tepat di atas bagian leher kaos hitamnya. Dengan kondisi pintu terbuka, sekarang Chanyeol berada sangat dekat denganku, sampai-sampai aku bisa mencium aroma tubuhnya yang bercampur dengan keringat lewat hidungku yang berada di lehernya. Dia melingkarkan tangannya di leherku, mengarahkan kepalaku agar berada tepat di samping kepalanya, di lekukan lehernya. Sedangkan aku, tanganku sudah terlalu lemas untuk melakukan sesuatu.

Sesaat kemudian dia menyisirkan rambut yang menghalangi telingaku, aku bisa merasakan tarikan nafasnya yang panjang sebelum berbicara tepat di telingaku, “Aku sudah memasang tanda sehingga tidak ada mobil yang akan melintas di jalan ini. Mobilku sendiri sudah berada cukup jauh di belakang dan aku sudah menelepon Sehun untuk segera datang ke sini.”

Aku bisa merasakan nada kekhawatiran di sanadan juga gerakan bibirnya yang terasa di telingaku akibat tidak adanya jarak yang menghalanginya.

Aku mengangguk pelan dan dia melanjutkan lagi, “Aku tidak menemukan apapun di mobilku yang dapat kugunakan untuk menolongmu…”

“Maaf,” ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.

“Tapi aku yakin dapat menolongmu. Hampir sama dengan caramu tadi, tapi kali ini ada aku yang akan memegang seat belt-mu, karena ketika kau melakukan hal tersebut tanpa ada yang menahan tali seat belt-nya, talinya secara otomatis akan kendor dan memicu tarikan yang akan membuka tutup kaleng tersebut, walaupun tidak semaksimal dengan tarikan lewat head seat belt-nya.”

“Dan kau sendiri?” tanyaku cemas

“Menurut perkiraanku, kaleng tersebut akan meledak walaupun tidak ada tarikan dari seat belt sekitar 10 menit lagi. Dan dengan cara tadi, kita mempunyai waktu sekitar 1 menit sebelum tutup kaleng tersebut benar-benar terbuka. Are you ready?” tanyanya, diakhiri dengan lepasan pelukannya dariku.

Tanpa membalasnya, aku langsung menurunkan badanku dengan lihai. Sedangkan dia hanya tersenyum melihatku sambil memegang seat belt yang menahan tubuhku. Yang dapat aku tangkap dari perkataan Chanyeol tadi adalah dalam 10 menit mobil ini akan meledak walaupun aku tak menyentuh seat belt-nya, sedangkan jika aku menekan head seat belt-nya akan memicu tarikan pada kaleng tersebut yang akan menyebabkan bom di dalamnya meledak. Dan walaupun aku keluar tanpa menyentuh seat belt-nya, namun tubuhku yang lepas dari tahanan talinya akan menyebabkan tali tersebut kendor akibat tidak adanya tubuhku yang menyangga tali tersebut dan akan memicu tarikan pada kaleng itu juga.

Yang aku herankan adalah… siapakah yang ingin membunuhku dan merancangnya sedemikian rupa seperti ini?

Tanpa aku sendiri sadari, aku sudah terlepas dari jeratan seat belt tersebut dan sekarang aku meringkuk di bawah setir pengemudi. Dengan sedikit berhati-hati, aku turun dari mobil. Chanyeol tersenyum lega setelah melihatku berhasil keluar dari mobil dengan selamat. Namun aku juga dapat melihat dengan jelas bahwa dia sebenarnya merasa gugup dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Sekarang kau harus lari sejauh mungkin, Hana. Berlarilah ke belakang, jangan menengok, dan berlindung di dalam mobil

Kata-katanya terhenti akibat ciuman dayang aku berikan tepat di bibirnya. Awalnya hanya sebuah ciuman ringan, entah apa yang mendorong tubuhku untuk melakukannya, tetapi ketika aku berniat untuk menyudahinya, kepalanya bergerak maju dan bibirnya berusaha untuk menahan bibirku, Tubuhnya sama sekali tidak bergerak, tangannya pun tetap dia gunakan untuk menahan tali seat belt mobilku. Hanya dengan kepala dan bibirnya, dia dapat memperdalam sebuah ciuman yang awalnya seringan kapas menjadi suatu ciuman yang panas.

Akal sehatku berhasil mengambil alih otakku yang sempat tidak berfungsi akibat ciumannya. Dengan cepat aku sedikit mendorong pundaknya menjauh agar apapun yang sedang kami lakukan ini bisa berhenti. Kini kami berdiri canggung di hadapan satu sama lain atas apa yang baru saja terjadi.

Run, Hana,” katanya seolah mengingatkan apa yang harusnya aku lakukan sejak tadi selain menciumnya.

Aku mulai berlari tanpa sempat berbicara kepadanya lagi. Namun aku ingat wajah Chanyeol yang seketika berubah kesal ketika menyuruhku berlari tadi. Aku berlari sekuat tenaga hingga dapat melihat mobil Jeep berwarna hitam di kejauhan sembari tetap bertanya-tanya dalam hati.

Why, Chanyeol? Am I wrong?

Gusaran pertanyaanku itu berakhir dengan sebuah dentuman yang sangat keras dan juga hantaman benda yang mengenaiku.

—–

Aku mencoba membuka kedua mataku secara perlahan, warna putih merupakan sensor pertama yang mengenai pupilku. Aku menggerakkan sedikit badanku namun rasa sakit segera menyerbu seluruh bagian tubuhku. Aku kembali menutup kedua mataku dan bayangan akan ledakan yang menghempasku secara tiba-tiba datang merasuk ke dalam ingatanku.

“Chanyeol?!” aku berseru sambil membuka kedua mataku kembali.

“Hana… Oh, syukurlah kau baik-baik saja.”

“Kris.”

Aku melontarkan pandangan ke setiap sudut ruangan dan aku mengenal betul ruangan ini yang tidak lain adalah kamarku. Puncak salah satu tanganku sudah terhubung dengan selang infus dan di sudut kiriku terdapat elektrokardiograf yang entah sejak kapan menjadi salah satu ‘penghias’ kamarku.

Chanyeol.

Nama itu muncul lagi di ingatanku yang langsung memutarkan kembali memori saat aku menciumnya.

“Aku sangat mengkhawatirkanmu, Hana. Kau tidak sadar selama tiga hari dan itu adalah tiga hari terlama dalam hidupku. Aku tidak bisa membawamu ke rumah sakit tapi aku telah menyiapkan hal-hal untuk penyembuhanmu di sini,” jelas Kris.

Aku hanya tersenyum memandangnya dan dia membalas senyumanku sambil mengambil salah satu tanganku yang kemudian dia letakkan di pipinya.

Sangat tidak mungkin untuk menanyakan keadaan Chanyeol pada suamiku ini. Sangat tidak mungkin.

“Hana…”

“Ya, Kris?”

kris82Are you trying to fight me?” tanya Kris dengan suara yang sangat pelan tanpa menatapku.

“Aku tidak mengerti, Kris,” jawabku sambil mengarahkan wajahnya untuk memandangku.

Are you cheating on me, Hana?” walaupun kini wajahnya tepat di hadapanku, pandangannya tetap menghindari mataku.

Aku tertegun, mencoba mencerna pertanyaannya.

Jika ya, tolong relakan dia, Hana, karena aku akan segera menghilangkannya dari muka bumi ini,” lanjutnya lagi.

“I don’t even have the guts to try, Kris” jawabku lirih yang sukses membuatnya melepaskan nafas lega.

“Aku kira kau salah mengirimkan pesan kepadaku.”

“Pesan?”

“Ya. Kau tak mengingatnya? Kau mengirimiku pesan, ‘wait me there, dear’. Kau bahkan tak pernah membalas pesanku, apalagi memanggilku ‘dear’. Makanya aku cukup kaget mendapatkan pesan seperti itu darimu.”

Aku mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada hari itu dan pantulan diriku yang sedang mematut-matut dress-ku di depan cermin pun muncul, lalu dengan cepat terganti oleh bayangan dua bocah yang berlari di tengah jalan, dan kemudian digantikan oleh wajah Chanyeol yang tiba-tiba muncul di samping mobilku.

It’s okat, honey, if you forget it,” lanjutnya lagi karena melihat ekspresiku yang mungkin terlihat kebingungan.

No, Kris. Aku memang mengirim pesan itu kepadamu. Kau yang menyuruhku untuk datang ke restauran di daerah Gangdong-gu, kau ingat?”

What?! No, I always call you first and then pick you up, right? I never text and ask you to come by yourself. Apalagi di Gangdong-gu, kau tau betapa jauhnya itu, ‘kan? Aku tidak mungkin tega menyuruhmu ke sana sendirian,” jelasnya dengan nada gusar.

“Kris…” aku bahkan terlalu takut untuk mengetahui hal ini, jika bukan Kris yang mengirimkan pesan padaku, lalu siapa?

Kris berdiri dari kursi yang tepat berada di samping tempat tidurku, tangannya yang putih pucat kini kurasa mengelus pipiku pelan lalu dengan cepat dia mencium keningku.

Go back to sleep, Hana. I’ll be back.”

Author’s POV

Mungkin ini aneh, seorang Kris, pemimpin Dragon Team yang terkenal gemar sekali berada di markas tiba-tiba jarang menampakkan batang hidungnya selama beberapa minggu terakhir. Tentu saja kedatangannya kali ini mendapat perhatian lebih dari beberapa orang yang berada di sana. Tetapi Kris tetaplah Kris, dia tidak memperdulikan tatapan kagum, mengejek ataupun hormat mereka. Tujuannya ke sana hanya satu, menemui Lay dan meminta semua informasi yang dibutuhkannya.

Lay yang menyadari kehadiran Kris langsung menyudahi ‘kencan’-nya dengan tiga wanita sekaligus, membuat mereka mengeluarkan rengekkan kecewa. Tapi pria itu tidak peduli, dia lebih memilih mengikuti langkah Kris yang menuju ruangannya. Pria tinggi itu terlihat dalam mood yang sangat tidak baik.

“Ke mana saja kau akhir-akhir ini? Kau tahu, beberapa hari yang lalu Tao hampir tertangkap karena si yakuza Jepang itu ternyata adalah seorang polisi. Belum lagi pembeli dari Argentina yang hampir mencelakai Chen. Jebakan di mana-mana, Kris. Dan kau menghilang seperti tidak terjadi apa-apa,” jelas Lay panjang lebar sambil menahan emosi.

Kris tahu betul, bukan informasi tersebut yang dia butuhkan, tetapi dirinya tidak mungkin tidak peduli dengan masalah seperti itu. Dalam hidupnya, hal-hal jebakan ataupun penipuan sudah terjadi berulang kali tetapi tidak pernah masuk ke dalam daftar masalah serius Dragon Team, kecuali jika hal ini hampir mencelakai anggota inti mereka.

Kris menatap Lay tepat ke manik matanya, terlihat sedikit raut menyesal pada tampang datarnya, “Aku akan lebih bertanggung jawab lain waktu.”

Lay menghela napas berat, apakah jawaban seperti ini yang dia dambahkan? Oh, well, dia memang begitu bagus dalam bermain peran, mungkin dia lebih cocok menjadi seorang aktor daripada anggota polisi atau lebih bagus disebut agen ganda saat ini. Tetapi keadaan Tao dan Chen yang nyaris kehilangan nyawa memang cukup membuatnya khawatir sungguhan. Dia memang sangat membenci Dragon Team beserta antek-anteknya, tetapi berada beberapa tahun bersama mereka jelas saja membuatnya sedikit ‘mengerti’, walau semenjak kematian inspektur Suho waktu itu kembali membangkitkan jiwa kebenciannya.

“Aku butuh informasimu,” Kris menegaskan, membuat lelaki berkulit putih dan lebih pendek darinya itu menatap dengan sorot lebih serius ke arahnya, sesuatu dalam dirinya membuatnya menjadi sedikit panik.

“Hana. Siapa yang mencelakainya?”

Lay membisu, sedikit lega karena ini bukan menyangkut status pengkhianatannya. Sure, dia tahu betul apa yang terjadi pada Hana, sekaligus Park Chanyeol, tapi dia benar-benar tidak memiliki clue siapa aktor intelektual dibalik peristiwa itu, walau setidaknya dia sempat mencurigai beberapa orang.

I have no idea, Kris,” jawabnya.

Sungguh, siapapun orang itu, tentu dia tidak mungkin orang biasa.

—–

Pagi itu dimulai dengan kekhawatiran sekaligus kebingungan yang melanda tiga anggota tim penyidik kepolisian kota Seoul tersebut. Ketiganya tengah berada di kediaman Chanyeol. Sehun adalah inspektur komandan tim yang menggantikan ketua sebelumnya, Kim Jun Myeon. Mereka bertiga, temasuk Sora dan Luhan, sedang kalut dalam pembahasan masalah tentang siapa yang melakukan pengeboman pada sebuah mobil tiga hari yang lalu. Sora sedang berbaring di kursi sofa dengan pandangan mengarah ke langit-langit, Luhan hampir mirip dengan posisi Sora namun bedanya dia dalam kondisi terduduk, sedangkan Sehun sedaritadi duduk dengan mencondongkan badannya ke meja di depannya, melihat foto-foto yang disangka sebagai pelaku pengeboman.

“Setidaknya Chanyeol tidak apa-apa,” gumam Luhan yang membuka mulut pertama kali diantara keheningan di dalam ruangan itu.

“Dia cukup pintar karena memilih melompat ke tebing daripada harus melebur karena ledakan bom sialan itu.”

“Ehem…”

“Sudahlah, Sehun, aku tak mau mendengar penjelasanmu lagi. Berhentilah mencurigai orang itu karena aku yakin, bahkan sangat yakin, kalau bukan dia pelakunya,” balas Sora tajam ketika mendengar dehaman Sehun, dia yang awalnya ingin beranjak dari sofa ruang tengah seketika batal akibat tarikan tangan Sehun pada pergelangan tangannya yang menyuruhnya kembali untuk duduk.

Dengan adanya adu mulut barusan, Luhan berpura-pura untuk tidak melihatnya dengan berdalih sibuk pada ponselnya. Namun tidak lama kemudian dia menghembuskan napas panjangnya, “Kurasa Sehun benar, Sora.”

“Kita ulang dari awal. Pertama, dari barang bukti yang terdapat di TKP, kaleng minuman bersoda yang terbakar sampai kering dan juga benang layangan. Kedua, dari penjelasan Chanyeol, maksudku dari penjelasan saksi sekaligus korban, dia kebetulan mengetahui trik ini dan dapat dengan mudah mengetahui bahwa terdapat bom cahaya atau biasa disebut stun grenade. Ketiga, yaitu penjelasan Sehun yang mengatakan bahwa trik ini dulu pernah digunakan pada kasus 4 tahun lalu mengenai seseorang yang membunuh tetangganya di dalam mobil dikarenakan iri kepada korban. Caranya sama, yaitu menggunakan stun grenade dan memanfaatkan musim panas kota Seoul. Stun grenade adalah granat yang berbentuk seperti kaleng minuman. Untuk mengaktifkannya cukup dengan mengikat benang layangan ke stun grenade, membuat pinnya atau tutup kalengnya tertarik keluar dengan mengikatkan ujung benang layangan ke head seat belt-nya, dan ketika korban menekan head seat belt itu… BANG! Ledakan pun terjadi,” jelas Luhan panjang lebar yang dia akhiri dengan meneguk segelas orange juice yang terdapat di depannya.

“Bedanya dari kasus pembunuhan 4 tahun lalu, tersangka hanya menggunakan petasan yang dikamuflase berbentuk serupa. Namun kasus peledakan yang membuat teman kita harus melompat ke tebing ini, menggunakan bom yang ledakannya bisa sampai radius 40 meter. Dia sepertinya motifnya bukan hanya ingin membunuh korban, tetapi juga melenyapkannya menjadi debu,” tambah Sehun, masih dengan raut datar dan serius miliknya.

“Dan kau taukan siapa yang mengetahui trik kotor semacam ini dan juga memiliki bom seperti itu kecuali anggota militer Korea?” Sekarang giliran Luhan lagi yang juga menambahkan penjelasan dari Sehun.

“Apakah kau memiliki argumen lain, Sora?” ditutup dengan pandangan curiga dari kedua rekannya itu.

But…”

Sora seakan menimbang-nimbang kalimat yang akan dia lontarkan. Dia memegang kartu ace dari Hana, dia adalah istri Kris, ketua dari Dragon Team. Ini benar-benar jauh dari kata manusiawi jika seorang suami dengan sengaja mencelakai istrinya. Tapi apa yang tidak mungkin di zaman sekarang? Dan dia tidak mungkin menbocorkan rahasia terbesar Hana ini. Setelah beberapa lama ia berpikir, akhirnya perhatian ketiganya teralih kepada suara bel yang berbunyi.

Luhan beranjak untuk membuka pintu, sedangkan Sehun juga melangkahkan kakinya menuju kulkas untuk mengambil dan meneguk isi salah satu soft drink di dalamnya.

Sebuah boks yang dibalut dengan kertas bewarna putih berada tepat di depan pintu rumah Chanyeol. Luhan mengambil boks tersebut kemudian menoleh ke arah kiri dan kanan untuk mencari kurir atau siapapun yang mengantarkan boks itu. Ketika dia berbalik badan, seorang wanita dengan tinggi yang sama dengannya, yang tidak lain adalah Sora, sukses mengagetkannya dan dalam hitungan detik boks yang ada di genggamannya sudah berpindah ke tangan Sora.

“Apa ini, Luhan?” tanya disertainya gerakan lincah tangannya yang kini sedang membuka boks tersebut, bagaikan seorang anak kecil yang begitu bersemangat saat membuka kado natalnya.

Setelah menutup pintu dengan sedikit rasa curiga karena tidak melihat kurir pengantar boks tersebut, Luhan berjalan kembali menuju sofa yang telah diisi oleh Sora.

tfoffy1Wow! Look at this!” seru Sora takjub, nyaris berteriak.

“Bukankah tidak sopan membuka paket seseorang tanpa izin?” Luhan bertanya dan tampak acuh, dia lebih suka menyelesaikan game terbaru di ponselnya.

Wow… Wow, Chanyeol has a very good taste! Wah…” Sora tidak berhenti terkagum-kagum dengan isi paket yang baru saja dibukanya. Dia tidak tahan untuk tidak memegang langsung creature tersebut. Dia memegang benda tersebut dengan kedua jarinya, memutar-mutarnya di depan matanya, masih dengan tatapan kagum.

PRAK!

Benda tersebut terjatuh ke lantai dan langsung pecah menjadi beberapa bagian. Hal tersebut sontak membuat Luhan yang awalnya fokus pada ponselnya kini terlonjak kaget akibat suara pecahan tadi.

“Apa yang kau lakukan, Sora?! Sudah kubilang jangan membuka paket orang sembarangan!” ujarnya sedikit terkejut.

“Luhan… Tanganku…”

Luhan yang awalnya kesal dengan perbuatan Sora kini berganti menjadi rasa panik karena melihat tangan Sora yang melepuh.

“Luhan, perhatikan langkahmu! Jangan menyentuh pecahan benda itu dan juga jangan terlalu banyak menghirup oksigen!” teriak Sehun yang kini sedang menggendong Sora menuju wastafel.

Sora hanya terdiam di gendongan Sehun, tak sadar air matanya telah menetes menahan sakit yang amat sangat pada kedua jarinya yang tadi memegang benda jahanam itu. Sehun dengan cepat menurunkan Sora dari gendongannya, menyalakan air, dan menuntun tangan Sora pada aliran air itu.

“Air akan menghilangkan zat kimiawi yang melekat di jarimu, tenang saja,” terang Sehun sambil membilas tangan Sora dengan cekatan.

“Tetap lakukan ini, okay?”

Sehun mengelap kedua tangannya dan setelah itu dia juga mengelap bekas air mata yang ada di pipi Sora. Sehun meninggalkan Sora yang sekarang sangat kaget dengan apa yang Sehun lakukan barusan, lalu dengan cepat dia berlalu menuju Luhan yang tampak sibuk menyapu pecahan-pecahan benda tersebut.

“Dari aromanya yang seperti bawang putih, aku yakin ini Arsenopyrite,” jelas Sehun.

“Apa lagi, Sehun? Bagiku ini hanya bongkahan batu yang tampak seperti emas putih dan kau menyebutnya Arsena? Arseno?”

Arsenopyrite, aroma bawang putih dan bentuknya yang menyerupai emas, dari itu aku bisa simpulkan.”

“Hmm,” balas Luhan yang dengan cepat menyapu bersih pecahan batu tersebut.

“Batu ini mengandung Arsenik sulfida yang jika disentuh dengan lama bisa menyebabkan kematian. Pertanyaannya, untuk apa Chanyeol memesan benda ini?”

Hold on, Sehun. Sepertinya kita mendapat undangan.”

Luhan mengambil sebuah kertas kecil yang tergeletak tak jauh dari pecahan kaca yang ia coba bersihkan. Tanpa menunggu lama lagi, dia mulai membaca apa isi kertas yang dibenamkan di dalam batu tersebut.

tfoffy2“Sepertinya kita dapat tantangan,” katanya pelan.

TO BE CONTINUED

a/n: HI! Setelah kurang lebih 2 tahun, The Fear of Falling for You a.k.a. TFOFFY akhirnya update juga! How was it? Please leave us a lot of comments and tell us what you’re thinking about Hana and Chanyeol!🙂 hehe. So… Who’s the person behind this? What will happen to the police? And how’s Chanyeol doing? See you in chapter 9! XOXO.

62 responses to “The Fear of Falling for You: Chapter 8

  1. Wah gila iki beneran ga nyangka ff ini lanjut ke chap 8 setelah terakhir baca pas gue sma atau smp? Halah lupa dan sekarang gue udah kuliah! gue kangen ff ini sering banget nyari dan ga ada lanjutannya. Sampe gue lupa judulnya dan akhirnya dengan segala cara gue mengingat judulnya sekarang baru sekarang ketemu dan omg ada chap baru omg thankyou so much my lovable authornim hope you always do your best. Best of luck for you lah love you so much author nim I LOVE YOU !!!!!!!!

  2. Anjiiirrrr ini ff ngga nyangka di lanjutin jugaaa huhu kangen bgt sama ff ini :”” terakhir baca pas smp dan sekarang udah sma :3 plis ini wajib bgt dilanjutin
    Semangat author kuhhh 😙

  3. This is seriously insane!!
    U khow authors i’ve been waiting for a long time for the next chapter
    Dan buka ffindo ga sengaja banget liat ada iniii
    I’m so glad,soalnya dikira bakal udahan ajaa
    Thank you so much for updating 😁

    Btw,hana kayanya ‘ga sengaja’ selingkuh yaakk.. maen cium chanyeol ajaa hoho

  4. Huhu sebenernya aku kurang ngerti sama chapter kali ini yg aku tangkap cuma Hanna ingin dibunuh udah hanya itu 😅😅..
    2 tahunn ?!! Hemm lumayan…
    Lanjut terus ya thor 😚 . Ceritanya seru andai di terbitin jadi buku pasti akan aku beli 😄😍

  5. Makin banyak misteri ?? ?
    Kirain bom itu kerjaan Kris, bat nyelakain Chanyeol. Untung Chanyeol’y ga’ papa…
    Ini next kan Kak???
    Please next ya!! Kan kemarin udah hiatus, ga’ hiatus lagi kan??

  6. Ini sbnrnya kelanjutannya gimana, saya nunggu banget loh thor😭😭 udah satu tahun nih:’):’) masa updatenya 2tahun sekali huhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s