[Chaptered] Angel Without Wings – Chapter 1

angel-without-wings2

poster credits to Saturnus from Poster Fanfic Studio

Title : Angel Without WIngs

Author : Atatakai-chan

Length : Chaptered

Genre : AU, Fantasy, Romance

Rating : G

Main Casts :
1. INFINTE Dongwoo as Dongwoo
2. OC as Ahn Jihyo

 

Chapter 1:

The Angel Who Fell

“It’s so dark right now, I can’t see any light around me.
That’s because the light is coming from you. You can’t see it but everyone else can.” 

― Lang Leav, Love & Misadventure
~**~

“Hei, apa kau sudah dengar gossip mengenai Ahn Jihyo? Anak kelas sebelah itu.”

“Ah, iya aku sudah dengar! Tidak kusangka dia seperti itu!”

“Benar sekali! Ia di kelas sangatlah pendiam. Siapa sangka ia sering berkeluyuran malam-malam.”

“Wanita panggilan kah? Hahaha.”

“Menjijikan!”

Kata-kata tersebut terus terngiang di kepala Jihyo… Terus terngiang, berputar-putar di dalam benak Jihyo, bahkan hingga Jihyo memejamkan matanya, berusaha membiarkan tubuhnya terjun bebas dari atap gedung berlantai 10 itu…. Kata-kata yang terngiang di benaknya belum hilang juga.

Jihyo kembali membuka matanya, menatap gemerlap-gemerlap lampu yang menghiasi kota pada saat malam hari

Oppa, maafkan dongsaeng bodohmu ini! Appa, eomma, tunggu aku ne? Sebentar lagi kita akan berte-

Angin berhembus kencang, keseimbangan Jihyo menghilang begitu saja. Kedua mata gadis itu terbelakbak, jantungnya dengan tiba-tiba berdegup kencang.

Apakah aku akan mati sekarang?

“WHOAA! PEGANG TANGANKU!” Tiba-tiba saja sepasang lengan dengan kuat menarik kedua lengan Jihyo yang kin sudah bergelantungan di tepian atap gedung.

Jihyo menengadah ke atas, mencoba mencari tahu siapa pemilik genggaman yang amat kuat itu.

Malam tidaklah se terang siang hari. Dengan cahaya yang minim, Jihyo dengan susah payah akhirnya dapat melihat bagaimana rupa yang sedang ia tatap kini. Tanpa bantuan penerangan tambahan, Jihyo tahu bahwa sosok itu, wajah yang dimilikinya tidak begitu menarik. Bila dibandingkan dengan Junhong mungkin skalanya 10:4.

“Bertahanlah! Aku mendapatkanmu!”

Jihyo tertarik naik dengan perlahan. Sosok yang ditatapnya menunjukkan ekspresi sangat keras, yang berarti ia dengan susah payah menarik Jihyo.

“Terimakasih” Jihyo menatap lelaki yang berada di hadapannya itu.

Sebenarnya bisa saja Jihyo memarahi lelaki itu karena telah menggagalkan usaha bunuh diri yang hendak ia lakukan, tetapi ia menyadari bahwa keputusan tadi sangatlah bodoh. Pikiran kacaunya pasti yang menyebabkan ia berpikiran singkat seperti itu. Dirinya sendiri mengetahui bahwa dirinya bukanlah orang yang mudah menyerah.

“… Aku benar-benar tidak tahu apa yang aku pikirkan. Maafkan aku telah merepotkanmu.” Lanjutnya, seluruh tubuhnya gemetaran, membayangkan apa jadinya kalau ia benar-benar terjatuh. Kalau langsung meninggal memang baik tetapi kalau ia harus menjalani masa koma? Tersiksa.

“Tidak perlu ber terimakasih.” Lelaki itu menyahut seraya mengulurkan tangannya pada Jihyo.

Jihyo berusaha semampunya untuk menghentikan getaran tubuhnya seraya meraih tangan yang tengah diulurkan ke arahnya. Dengan berpegangan pada tangan yang kokoh itu Jihyo kembali berdiri di atas kedua kakinya.

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?”

Lelaki yang berhadapan dengan Jihyo, dan yang selama ini selalu menatap matanya, kini mengalihkan pandangannya ke kanan dan ke kiri sambil sesekali  tersenyum sebelum akhirnya ia menatap lurus ke arah Jihyo.

“Namaku…”

Sekilas lelaki itu terlihat ragu.

“Kau bisa memanggilku Dongwoo.” Ujar lelaki itu kemudian diikuti sebuah senyuman yang manis.

Di sisi lain, entah mengapa Jihyo dapat merasakan bahwa senyum yang diberikan lelaki bernama Dongwoo itu benar-benar tulus. Harus diakui bahwa Jihyo adalah gadis yang sensitif dalam artian mudah tersentuh, tetapi, tetap saja, ia bisa merasa senyuman itu menyejukkan hati dan pikirannya yang tengah kacau. Jihyo tidak dapat menolak untuk balas tersenyum kepada Dongwoo. Sang penyelamat.

“Jihyo. Ahn Jihyo. Senang berjumpa denganmu, Dongwoo oppa.”

Mendengar dirinya dipanggil oppa, Dongwoo mencondongkan wajahnya. Ekspresi heran nampak di wajahnya.  “Oppa?”

“Kenapa? Kau lebih tua dariku kan? Apa aku salah?” Tanya Jihyo bingung. Menurut hasil pengamatannya beberapa saat lalu, Dongwoo nampak lebih tua beberapa tahun darinya  

“Ah, m-mungkin.” Dongwoo mengusap-usap tengkuk lehernya, dan tatapannya kini tertuju ke permukaan tempat ia berpijak.

Dongwoo berhenti mengusap tengkuknya kemudian menghela nafas, “Sudah lama aku tidak dipanggil seperti itu.”

Jihyo yang tidak tahu harus merespon apa hanya memberikan senyum tipis.

Benar-benar lucu.

“Ah iya! Biar kuantar kau pulang. Ayo!”

Jihyo tidak menolak ajakan Dongwoo. Anak perempuan tetap saja anak perempuan. Jihyo takut pulang sendirian di malam hari dan lagi ia saat ini merasa membutuhkan seorang teman untuk setidaknya dapat mengisi ruang kekosongan yang ada di hatinya. Ya, Jihyo baru saja membuang orang yang selama ini ia anggap adalah teman-temannya dari dalam sana. Ia merasa.. dikhianati.  

Mereka berdua pun beranjak pergi dari tempat yang mulai saat ini dianggap mengerikan oleh Jihyo.. Meninggalkan atap gedung lantai 10 yang menjadi saksi kisah pertemuan Jihyo dengan Dongwoo.

|

|

|

|

|

|

“Dongwoo oppa, maukah kau mendengarkan ceritaku?”

Dongwoo mengangguk. “Tentu saja. Kenapa tidak?”

Jihyo menghela napas panjang sebelum mengeluarkan rasa sesak yang ia rasakan menggunakan kata-kata dan Dongwoo, ia bukan sekedar mendengerkan, ia menyimak setiap perkataan yang meluncur keluar dari mulut Jihyo.

Percakapan diantara keduanya berlangsung dengan amat baik.

Selain mengeluarkan amarah, kekesalan, dan kekecewaannya, Jihyo juga menceritakan sedikit mengenai dirinya. Ia adalah seorang anak yatim piatu yang kini tinggal bersama kakaknya, Ahn Jaehyo. Jihyo juga bercerita bagaimana kerasnya perjuangan Jaehyo hingga akhirnya kini Jihyo dapat bersekolah di salah satu SMA terkemuka di kota itu.

Tidak mau kalah, Dongwoo juga menceritakan sedikit tentang dirinya. Ia mengaku tinggal di daerah dekat gedung tadi. Dan ia juga menceritakan bagaimana dirinya bisa berada di sana.

“Jadi begitulah~ Semuanya kebetulan. Aku hendak menghirup udara segar dan kemudian tanpa sengaja aku melihatmu sedang berdiri di tepian atap gedung. Awalnya aku berpikir untuk langsung kembali masuk ke dalam. Aku tidak mau terlibat dengan polisi.”

Jihyo menyimak Dongwoo dengan serius.

“Dan pada saat itulah, ketika aku berpikir untuk kembali masuk angin berhembus dengan kencang. Aku mendengar teriakanmu. Beruntunglah aku belum masuk ke dalam. Aku berlari dan langsung menarik lenganmu.” Dongwoo tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih.

“Kau benar-benar penyelamat, oppa! Terimakasih banyak!” ujar Jihyo. Ia benar-benar tidak dapat membayangkan akan seperti apa nasibnya apabila ia tidak ditarik oleh Dongwoo..

“Hahaha. Sudahlah, berhenti berterimakasih. Mungkin sebaiknya ungkapan terima kasih mu kau salurkan saja pada penjelasan mengapa dirimu hendak melompat dari atas sana”

Jihyo menghela nafas.

“… Aku tidak bisa membiarkan kakak ku sendiri yang bekerja. Beberapa bulan lalu aku memutuskan untuk bekerja sambilan di daerah N di sebuah cafe, sebagai seorang waitress. Dan karena aku tidak mau kegiatan belajar ku di sekolah terganggu, aku memutuskan untuk bekerja hanya pada weekend saja, karena aku ingin gaji penuh aku mengambil inisiatif untuk bekerja sampai malam Suatu malam ketika sedang dalam perjalanan pulang, aku berpapasan dengan beberapa teman sekelas ku dan pada hari Senin keesokan harinya, gossip sudah menyebar. Untuk beberapa hari pertama, aku masih tahan tetapi saat ini aku sudah tak tahan lagi.”

Dongwoo tertegun.

Tak kuduga seburuk itu.

“Alasan yang bodoh. Aku tahu.”

“Tidak, tidak! Sama sekali tidak bodoh. Maksudku, siapa saja pasti akan berpikir untuk mengakhiri hidup mereka apabila mereka adalah dirimu.”

“Lalu? Apa menurut oppa sebaiknya tadi aku melompat saja?”

“Aish, tidak, tidak. Bukan begitu. Aku hanya mengatakan bahwa pola pikirmu normal, Jihyo.”

Jihyo tersenyum kecil mendengar kata-kata terakhir Dongwoo. Lelaki yang kini berjalan bersebelahan dengannya itu benar-benar dapat menenangkan dirinya.

“Hey, Jihyo. Ingat apa yang akan aku ucapkan, oke?:

Jihyo mengangguk tanda setuju.

“Nyawa bukanlah suatu hal yang ada untuk dibuang. Kau harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Tuhan pun pasti tidak suka jika nyawa yang telah Ia berikan kepadamu kau buang begitu saja, apalagi seperti katamu tadi, alasan yang bodoh. Nyawa tidak ada untuk dibuang karena alasan apapun.”

Jihyo mengangguk sambil tersenyum, ia menatap Dongwoo.

“Baiklah, aku akan mengigat apa yang oppa ucapkan tadi. Terimakasih oppa.”

Tanpa terasa akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka, kediaman Ahn. Kalau saja Dongwoo tidak berhenti sejenak untuk mengikat tali sepatunya, Jihyo pasti tidak akan meyadari bahwa rumahnya berada tepat di sisi kiri jalan.

Jihyo menekan bel yang terletak di samping pintu. Terdengar derap kaki dari dalam rumah dan tak lama kemudian pintu terbuka. Dari dalam nampak seorang lelaki dengan raut wajah gelisah. Rambut berwarna cokeltnya sedikit berantakan. Lelaki itu tampak sangat kacau.

“Jihyo-ya! Akhirnya kau pulang!” Lelaki itu memeluk Jihyo dengan amat erat.

“Maafkan aku Jaehyo oppa. Aku benar-benar minta maaf.” Jihyo balik memeluk Jaehyo.

“Dengan siapa kau pulang? Apa yang terjadi? Kenapa kau pulang selarut ini?” Jaehyo mengelus pipi adik kesayangannya itu. Raut khawatir sudah sedikit menghilang dari wajah tampannya.

“Ah, akan aku ceritakan di dalam ne, oppa. Sebelumnya ini ada yang ingin aku perkenalkan…”

Jihyo menoleh ke kanan dan kiri nya, namun Dongwoo sudah tidak ada di manapun.

“Siapa? Orang yang mengantarkan mu pulang?” Jaehyo ikut menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari orang yang Jihyo cari.

“Hm. Tidak ada ya? Sudahlah, ayo masuk.” Jaehyo menggandeng Jihyo.

“Tapi oppa…”

“Sudahlah, yang penting sekarang kau masuk dulu. Mungkin ia harus segera pulang dan tak sempat berpamitan. Ini kan sudah larut.”

“…Baiklah…” Jihyo dengan enggan memasuki rumah sederhana di mana ia dan kakaknya tinggal.

——-

”Jadi, orang yang ingin kau perkenalkan tadi adalah orang yang menyelamatkanmu?” tanya Jaehyo.

”Iya oppa. Orang tadi menyelamatkanku. Kalau tidak ada dia mungkin aku..”

Jihyo memejamkan matanya. Tubuhnya kembali bergetar, membayangkan akan seperti apa jadinya bila ia benar-benar melompat.

“.. M-mungkin aku sudah tidak akan bertemu dengan mu lagi” lanjut Jihyo.

Jaehyo mengela napas panjang, lega.

Jaehyo mengelus-elus kepala adik tercintanya itu. Dalam hati Jaehyo benar-benar bersyukur Jihyo dapat kembali pulang ke rumah dengan selamat, dalam keadaan utuh.

Sebenarnya Jaehyo tahu mengenai gossip yang menimpa Jihyo, dan ia juga tahu betapa Jihyo ingin bunuh diri (Terima kasih kepada buku diary Jihyo). Namun Jaehyo sama sekali tidak mencegah. Jaehyo amat menyesali hal itu. Semula ia beranggapan bahwa adiknya itu kini bukan anak kecil lagi.

”Ia benar-benar seperti pahlawan, oppa. Andai saja kau ada di sana pada waktu itu.” ujar Jihyo.

Jaehyo tertawa kecil. “Pahlawan? Kurasa julukan itu kurang tepat.”

”Dia lebih seperti seorang malaikat pelindung. Buktinya dia mengantarkan mu sampai ke sini dengan selamat. Kau tahu? Kalau dilihat di film-film, pahlawan hanya menolong orang yang ada dalam bahaya, tidak sampai mengantarkan orang tersebut pulang.” lanjut Jaehyo.

Kedua kakak beradik itu asyik berbincang sambil menyantap makan malam yang mereka santap sedikit terlalu larut.

-TBC-

author’s note:
Fanfiction ini dibuat pada sekitar tahun 2011.
Mau tidak mau saya harus mengedit gaya bahasa dan plot sedikit saya ubah.
I hope you’ll like this.
Sebuah feedback akan dengan senang hati saya terima❤

4 responses to “[Chaptered] Angel Without Wings – Chapter 1

  1. Wah… ga nyangka bakalan nemu fic yang main castnya Dongwoo infinite >..<
    Mau review dikit ya.. sebenernya aku agak bingung, soalnya di kalimat pertama, nama OCnya Ahn Hyojin, terus pas kebawah namanya jadi Jihyo… mungkin itu bisa dikoreksi lagi…😀
    Terus, nanti apa member infinite yang laen bakalan muncul? Kalo bisa, tolong dimunculin dooong… wkwk… biar makin asik ceritanyaaa… tapi, kalo ga bisa juga ga apa2 sih..😀
    overall, aku suka sama ficnya… pasti Dongwoo itu beneran malaikat (dalam artian yang sebenarnya) #soktau… wkwk… nebak aja sih…😀
    nice fic! Aku tunggu lanjutannya yaaa…😀

    • astagaaaaa jadi malu ;; maaf ya nanti aku koreksi >< biasa lah namanya juga manusia kalau udah malam jadi yaa gitu deh (?)
      terima kasih banyak sudah mengoreksi❤

      memang rencananya nanti ada semua member INFINITE kok hihi

      terima kasih banyak ya sudah mau baca dan ninggalin jejak❤

  2. nemu!!! cast yang dongwoo, terus jaehyo, duuh langsung baca.
    first of all, karakternya dongwoo emang bener0bener angelic, cuma disini konfliknya ga terlalu runyam, bagus buat chapter 1. wkkwkwkw suka sama karakternya jaehyo❤❤

    • waaah syukurlah kamu suka❤
      yepyep setuju banget karakter Dongwoo emang angelic banget ( bahkan kalau boleh jujur irl juga❤ )

      thank you ya udah baca dan ninggalin jejak😀❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s