[Series] Married with a Gay – Chapter 11

mwag-copy

Title     : Married With A Gay

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Angst

Main Cast: Xi Luhan as Lu Han, Ariel Lau (OC), Zhang Yi Xing as EXO M Lay

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

 

***

 

Ariel mengepalkan tangannya di kedua sisi dress yang ia kenakan saat ini. Ariel mungkin hampir meluapkan kekesalannya yang bercampur bingung saat tahu ibunya setuju untuk datang ke sebuah acara fstival seperti ini. Ariel tidak ingat kapan terakhir kali ibunya menyentuh tuts piano ataupun mencoba menulis sebuah lagu baru. Yang ia tahu sekarang, ibunya adalah seorang bawahan dari keluarga Xi –dan Ariel sangat membenci fakta ini.

Tapi semua rasa kesal dan bingung itu menguap begitu saja saat ia mendengar suara alunan musik yang tak asing baginya. Baby’s Breath. Lagu ini berjudul Baby’s Breath. lagu yang paling ia sukai dari semua lagu yang pernah ibunya tulis. Lagu yang selalu menemani ibunya dalam keadaan suka ataupun duka. Lagu yang menemani tetesan air mata ibunya saat bertengkar dengan ayahnya 10 tahun lalu.

“Lagu ini bagus. Kau bisa memainkan lagu ini? Kau juga cukup jago bermain…” Suara Luhan langsung terhenti saat Luhan mendapati Ariel sama sekali tidak menggubris ucapannya dan justru mengangkat ponselnya dengan tangan yang gemetar.

“Ariel, kau baik-baik saja?” tanya Luhan khawatir sambil mendekat ke arah Ariel. Dan lagi, Ariel tak menggubrisnya dan tetap mengangkat ponsel itu, menyentuh ikon kamera dan mulai merekam gambar sang ibu yang masih membiarkan jiwanya menari dengan musik Baby’s Breath di pianonya.

“Henry dan Clinton harus tahu tentang ini,” Luhan langsung mengerjapkan matanya. Apa katanya tadi? Henry? Clinton?

“Apa…”

“Kakakku harus tahu tentang Mom. Mereka harus tahu, Mom…kembali…”

Baiklah, Luhan memang memiliki nilai yang tinggi dan IPK yang memuaskan selama kuliah. Semua orang di perusahaan pun sama sekali tidak meragukan kemampuannya. Tapi untuk pernata kalinya, Luhan tahu apa yang harus ia pelajari dan apa yang paling penting dari apa yang ia tidak mengerti saat ini. Ariel. Ia sama sekali tidak mengerti ataupun tahu mengenai perasaan Ariel. Dan entah dorongan dari mana, ia tiba-tiba berpikir untuk…mulai membuka hatinya untuk melihat Ariel. Bukan hanya bagaimana gadis itu menjadi perisai baginya sat ini, tapi juga bagaimana perasaan gadis itu dan bagaimana cara Luhan menjaga perasaan gadis itu. Perasaan perempuan juga penting, kan?

Luhan pun mendekat ke arah Ariel dan membantu memegangi kamera ponselnya. Sebenarnya, ia sama sekali tidak merasa tertarik untuk bergabung dengan ‘kebahagiaan’ Ariel yang tidak ia mengerti. Tapi melihat bagaimana Ariel begitu antusias dengan musik halus yang diciptakan jemari Nyonya Lim di atas tuts piano, Luhan justru merasakan sentuhan hangat dari aura yang muncul dari Ariel. Entah itu rasa bahagianya, pancaran matanya, atau rasa harunya –Luhan tidak terlalu yakin, karena yang Luhan tahu mata gadis itu saat ini basah.

“Luhan…” Ariel hampir menggeser tubuhnya saat Luhan tiba-tiba menyentuh tangannya dari belakang –bahkan posisi ini lebih cocok disebut memeluk karena Luhan yang berada di belakang tubuh Ariel. Tapi Luhan justru semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Ariel, membuat gadis itu tidak bisa bergeser dari tempatnya, “Bagaimana kau mau merekam dengan benar jika tanganmu gemetar seperti ini,” gumam Luhan sambil tetap mempertahankan posisinya, “Santai saja. aku hanya mau membantumu, kok.”

Dan bukannya santai, tubuh Ariel justru semakin menegang dalam posisinya seperti ini. Baiklah, ini memang bukan kontak fisik pertama mereka. Tapi tetap saja, rasanya sangat asing jika Luhan sudah melakukan hal semacam ini terhadapnya. Apalagi Luhan selalu melakukan hal-hal semacam itu dengan tiba-tiba, seperti menggenggam tangannya, memeluknya, atau bahkan…ah, sudahlah.

“Aku tidak tahu ibumu ternyata seorang musisi,” kata Luhan masih memegangi tangan Ariel.

Ariel mendesah pelan sembari mengangukkan kepalanya pelan, “Dia tidak akan mau membahasnya. Aku bahkan tidak menyangka Yingtai Ajumma berhasil membujuknya,”

Dahi Luhan langsung mengerut saat Ariel menyebutkan kata ‘ajumma’ di sela kata-katanya. Bagaimana bisa gadis itu malah menyebutkan bahasa asing dalam ucapannya tadi? Belum lagi susunan kalimatnya terasa rancu. Luhan tidak harus mengkritik keseluruhan bagaimana lidah Ariel melafalkan bahasa cina, kan?

“Ajumma?” ulang Luhan kembali fokus pada layar ponsel Ariel.

Ariel yang tahu akan kesalahan pelafalannya hanya menggigit bibir bawahnya. Malu. tentu saja. Ia sudah mengikuti kursus, bahkan harus menghapal banyak kosa kata dan harus belajar menulis layaknya anak TK. Dan sayangnya, otaknya tidak terlalu cepat menyerap kosa kata mandarin yang baru ia pelajari belakangan ini.

“Aku…” Ariel mendengus pelan, bagaimana ia menjelaskannya pada Luhan? “Aku…tidak tahu bahasa mandarin ‘ajumma’, maksudku…selama ini aku hanya memanggilnya Miss.Han…”

“Ayi,” sela Luhan cepat, namun Ariel tidak buru-buru menyahutinya, “Ayi. Setahuku ‘ajumma’ dalam bahasa mandarin adalah ‘ayi’.”

Ariel tersenyum kecil, “Xie xie…”

“Anything for you…”

Alis Ariel langsung terangkat. Apa katanya? Anything…for you? Ariel langsung menggeleng pelan dengan seutas senyum geli tertarik di wajahnya. Lihat, kan? Luhan memang jagonya dalam urusan menggombal dan membuat jantung perempuan berdetak. Ia penasaran, apa pria tiang listrik yang diekori Luhan juga pernah digombali seperti barusan?

 

***

 

“Ni hao,” sapa Han Yingtai saat Luhan dan Ariel ikut bergabung di sebuah meja yang telah disediakan Yingtai untuk Lim Jinha dan juga putrinya –dan tambahkan untuk menantunya yang tanpa ia duga akan ikut datang.

Ariel sedikit menaikkan alisnya bingung, ia pikir seharusnya ia yang terlebih dahulu mengucapkan salam. Dan diberi sambutan semacam tadi justru membuat Ariel harus membanting stir otaknya untuk memberi salam yang tepat. Terlalu banyak tatakrama dan aturan disini, alasan terbesar kenapa ia tidak terlalu menyukai asia.

“Nin hao?” Luhan buru-buru menyela dan membungkuk di hadapan wanita dnegan pakaian super glamournya –dan penampilan wanita itu justr mengingatkannya pada sang ibu, “Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Nyonya Han.”

Han Yingtai tersenyum lebar melihat cara Luhan membalas sambutannya, “Dan aku senang bisa melihat menantu dari sahabatku,” mata wanita itu beralih ke arah Ariel yang berada tepat di samping Luhan, “Ariel, aku tidak tahus menggunakan bahasa inggris disini, kan?”

Ariel tersenyum basa-basi, “Tentu saja tidak, Miss. Maksudku…aku sudah bisa berbahasa cina sedikit-sedikit.” Yeah, sedikit-sedikit, atau sedikit sekali. Ariel lebih suka mendengarkan orang lain bicara padanya aripada dia harus repot-repot menggunakan bahasa cina.

Han Yingtai mengangguk dan mempersilahkan mereka –Luhan dan Ariel- untuk duduk, “Pasti menyenangkan bisa memiliki menantu yang sopan dan tampan seperti Luhan. kau putra Xi Mao, bukan?”

Luhan tersenyum dan menjawab pertanyaan Han Yingtai. Ia bersyukur karena ia cukup pandai untuk bersosialisasi, setidaknya untuk acara basa-basi seperti ini. Bahkan Luhan seperti menjadi bagian dari Lim Jinha dan Han Yingtai, melihat dari cara pemuda itu berhasil mengikuti alur pembicaraan ibu mertua dan sahabat ibu mertuanya itu. Meskipun Ariel hanya tersenyum dan mengaduk minumannya dengan tidak berselera.

“Ah, tapi…Yingtai,” Lim Jinha mengangkat dagunya dan mulai menyelami seisi ruangan lewat ekor matanya, “Dimana pianis muda itu?” dan ekor matanya berhenti tepat di retina mata Yingtai.

Yingtai sedikit menaikan sebelah alisnya, “Aku sudah memintanya kemari,” Yingtai pun tersenyum ke arah Luhan dan Ariel. Sebersit kata ‘gila’ sempat melintasi otaknya, tapi akhirnya Yingtai tetap melanjutkan, “Kalian mengenal Zhang Yi Xing, kan? Kudengar kalian pernah satu sekolah saat masih di Korea?” dan Yingtai sedikit menyesali ucapannya saat melihat reaksi Ariel dan Luhan.

Ariel langsung menjatuhkan sendoknya –ia hampir mencicipi makanannya. Dan ia harus menelan rasa selera dan tertariknya saat Han Yingtai malah menyebut nama yang selama ini ia hindari. bahkan Ariel benar-benar hampir tak mengingatnya lagi, setidaknya sejak semalam. Dan semua perasaan santai itu harus runtuh seketika.

“Ya, aku dan dia satu sekolah saat SMA. Kami sahabat. Dia juga mengenal Ariel, Ariel adalah juniornya di kampus, dulu.” Luhan masih menunjukkan senyum lebarnya ke arah Ariel. Mungkin ia yang menjadi terantusias disini. Terlepas bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada Yi Xing, bagi Luhan, Yi Xing tak berbeda jauh dari Wufan, mereka adalah sahabat terbaik Luhan.

Yingtai mengalihkan pandangannya ke arah Ariel yang terlihat tidak nyaman. Gadis itu terlalu gamblang menunjukkan suasana hatinya, yang Yingtai yakini hampir 90% mendekati kata tidak nyaman.

“Luhan…bisa mengantarku sebentar?”

Luhan mengangkat kepalanya bingung saat Bibi Lim –ia masih memanggil wanita itu seperti itu- memanggilnya, “Y…ya?”

“Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu…juga Yingtai,” Lim Jinha memutar ekor matanya ke arah Yingtai yang menganggukkan kepalanya kikuk, “Ah, ya. tentu. Maksudku…aku ingin menunjukkan sesuatu, ikut denganku…”

 

***

 

Luhan masih sempat mencuri pandang ke belakang, tepat ke arah meja yang ditempati Ariel sendirian. Ia tidak merasa baik saat meninggalkan Ariels endirian seperti itu, menurutnya ariel bukan tipe orang yang terlalus enan dengan suasana baru. Serumah dengannya saja perlu memerlukan waktu yang lama untuk bisa sedikit mencairkan suasana, apalagi di tempat ramai dan asing seperti ini?

Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ini bukan pertama kalinya Luhan hanya mengobrol berdua saja dengan Lim Jinha, bahkan sebelum menikahh Luhan juga sering hanya diam berdua di satu ruangan untuk mengobrol dengan Lim Jinha, Luhan sangat sering membicarakan masalah pribadinya pada wanita yang kini sudah menjadi mertuanya itu –tentunya tidak untuk masalah yang berkaitan dengan Wufan ataupun Yixing. Dan beliau adalah wanita yang baik, sangat sangat baik, terepas dari perjanjian yang dibuatnya bersama ibu Luhan. ah, perjanjian itu…

“Kau sudah membicarakan soal kontrak itu dengan Ariel, Tuan Muda?” tanya Lim Jinha lembut dan sopan. Bagaimanapun Lim Jinha tetap menganggap pemuda 24 tahun itu sebagai putra dari majikannya, dengan kata lain Lim Jinha tetap bawahan dari pemuda itu.

Luhan langsung berubah gugup saat Lim Jinha mencoba mengungkit perjanjian itu, perjanjian yang melibatkan ibunya juga dirinya sendiri. Meskipun Luhan tahu otak dari rencana gila ini adalah ibunya, tapi wanita yang kini berdiri di hadapanny ajuga ikut tergores tinta hitam. Ayahnya benar, harusnya ia tidak pernah membuat kejadian semacam ini terjadi. Luhan menyesalinya, bahkan sejak awal…tapi entah kenapa setelah ia menjalani semuanya dengan Ariel, dentuman yang berakhir dengan kata sakit di dadanya justru semakin menjadi.

“Aku…” Luhan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan dan kembali melanjutkan, “Aku tidak yakin untuk mengatakannya pada Ariel…” cicitnya sambil memutar-mutar gelas sampanye yang disodorkan padanya tadi. Diam-diam, mata pemuda itu kembali mencuri pandang ke arah meja yang diduduki Ariel –dan dengan jelas Luhan bisa melihat bagaimana kikuknya Ariel saat berhadapan dengan Yixing. Bahkan pandangan Ariel terlalu tegang saat memandang Yi Xing.

Luhan pun mengangkat bahu dan kembali memfokuskan pandangannya, “Dia terlalu baik, dan…kaku,” kata Luhan pelan, mencoba menyimpulkan penilaiannya pada Ariel setelah melihat tingkahnya dengan Yixing, “Apa dia memang sependiam itu saat bersama orang baru? Dia vebar-benar kaku. Awalnya kupikir dia tidak nyaman padaku, tapi sepertinya dia memang begitu. Dia juga jago masak, seperti Yuemu (Ibu mertua,” Luhan menggaruk kepalanya gugup. Entah kenapa ia benar-benar merasa malu, bahkan jantungnya berdetak cepat sekali.

Lim Jinha mengerjapkan matanya saat Luhan memanggilnya ‘Yuemu’. Dia memang mengharapkan seorang menantu sesempurna dan sebaik Luhan. tapi Lim Jinha tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa Luhan tidak mungkin bisa memanggilnya seperti itu. Ia pun terkekeh pelan, “Tuan Muda bercanda? Tuan Muda tahu jika Nyonya…”

“Apa tidak bisa aku memanggilmu sepert itu? Tidak bisakah aku menjadi menantumu, Mama?” Luhan memainkan jemarinya, masih gugup. Ia pernah melamar Ariel secara tidak resmi –dan rasanya sama sekali berbeda dengan meminta izin dari orang tuanya langsung, meskipun cara melamarnya memang sangat payah. Tapi Luhan akui, ia merasakan detak jantung yang sama.

Lim Jinha menatap kepala Luhan yang tertunduk, anak laki-laki itu gugup, dan ia langsung mengetahuinya dengan mudah. Ia mengenal Luhan dengan cukup baik, bahkan Lim Jinha sudah menganggap anak itu sebagai anak kandungnya sendiri. Tapi ia tahu, ia tidak bisa mengambil jalan sejauh itu, ia tidak mungkin mengatakan setuju untuk menjadikan Luhan sebagai bagian dari keluarganya tanpa persetujuan Nyonya Xi.

Lim Jinha kemudian menyentuh kedua pipi Luhan dan mengangkat kepala pemuda itu, membuat retina mata mereka bertemu, lalu ia pun melemparkan senyumnya pada Luhan. senyum keibuan yang ia harap bisa ia bagikan untuk anak-anaknya juga.

“Kau…mencintai putriku, Xi Luhan?” tanya Lim Jinha lembut yang membuat Luhan semamin salah tingkah. Luhan memang nyaman berada di dekat Ariel, ia senang saat Ariel mulai terbuka padanya, Luhan juga merasa tenang jika Ariel balas menggenggam tangan luhan, ia juga merasa hangat saat Ariel menatap matanya.

Tapi….apakah itu yang disebut cinta? Apa ia benar-benar bisa merasakan perasaan semacam itu? Luhan justru semakin gugup sendiri untuk mengutarakan isi pikirannya pada Lim Jinha.

“Aku…aku…”

“Semua kembali pada dirimu,” sergah Lim Jinha cepat, “Aku sudah terlalu banyak ikut campur dan ssudah terlalu banyak merusak hidup putriku,”

“Jadi…mama…”

“Ayi,” potong Lim Jinha cepat, “Panggil aku Ayi. Aku belum berhak dipanggil Mama atau Yuemu olehmu,” Lim Jinha nebgusappelan rambut Luhan, “Yang pasti aku mohon padamu, jaga putriku. Jika kau ingin mengikatnya untuk seterusnya, atau ternyata kalian harus tetap berpisah, tlong jaga dia…”

 

***

 

Ariel mengetuk-ngetukan jemarinya dengan tidak nyaman. ariel tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dan lagi dengan Zhang Yi Xing, dengan keadaan seperti ini. Baiklah, hubungan mreka sudah berakhir bukan? Dan pertemuan mereka saat ini seharusnya bukan masalah besar. Mereka bisa bersikap seperti teman lama yang tidak bertemu, atau sebagai junior dan senior yang pernah terlibat dalam satu acara –dan Ariel akui ini adalah kebohongan karena mereka tidak pernah terlibat dalam acara apapun saat kuliah dulu, atau…mungkin dia harus diam saja seperti sekarang, bersikap seolah tak ada satupun masalah yang pernah mereka laluid ulu. Meskipun secara refleks, ini menyakiti perasaan Ariel sendiri. Di seumur hidupnya, ia tidak pernah mencoba menipu dirinya sendiri dengan kepura-puraan seperti sekarang ini. Terutama dengan Zhang Yi Xing, orang yang selalu mendengar semua rengekan tak berguna Ariel.

“Kau suka makan sayur sekarang?” suara Yi Xing berhasil membuyarkan lamunan Ariel yang mulai berbelit, otaknya pasti sedang sakit sekali sekarang, ia bahkan terlalu lama berpikir untuk hal-hal yang sebenarnya tidak harus ia lakukan.

Dan Ariel terkesiap, tolol. Bagaimana bisa ia membiarkan garpunya menyentuh benda hijau yang selalu dirutukinya –dan tentunya Yi Xing akan tahu soal ini. Ariel pun berdeham pelan dan memaksakan seulas senyum, “Sedikit…kau tahu, aku akan tetap memakan sayur untuk alasan-alasan tertentu.” Dalam hati, Ariel tertawa kecil. Ia tidak tahu kenapa ia selalu menggunakan bahasa korea tiap kali bicara dengan Yi Xing.

Yixing mengangguk pelan dan memabalas senyuman Ariel, ia tidak menyangka bisa kembali bertemu dengan Ariel, kembali bicara pada gadis itu, dan ia kembali mendengar suara gadis itu. Ini bukan hal besar, tentu saja. tapi entah kenapa reaksi organ tubuhnya menunjukkan bahwa ini adalah hal yang sangat besar.

“Kau kenal ibuku?” tanya Ariel lagi, mencoba meminimalisir kekakuan mereka.

Yixing mengangguk pelan, “Mrs.Han mengenalkannya padaku tadi, kukira dia tidak akan disini,”

“Benarkah?” Ariel sedikit menaikan alisnya. Ini cukup aneh, bagaimanapun ibunya tahu soal Yixing –ia pernah mengatakan pada ibunya bahwa Yixing adalah kekasihnya, dulu—dan ia juga yakin ia tahu soal Yixing yang merupakan cinta pertama Luhan, bukankah harusnya ibunya justru menjauhkan Yixing, atau setidaknya menghindari pertemuan semacam ini? Jika boleh jujur, ia tidak terlalu nyaman dengan kilatan mata yang ditunjukkan oleh Luhan saat melihat Yixing.

Yixing kembali mengangguk, “Aku juga terkejut saat dia tahu soal hubungan kita…”

Ariel langsung menjatuhkan sendoknya, “Apa?” katanya dengan nada yang tidak sabar. Bagaimana bisa ibunya mengungkit masalah seperti ini pada Yixing?

“Maksudku…dia menceritakan tentang hubungan…” dada Yixing mencelos, ia merasa tenggorokannya mengering saat mengatakan kata ‘hubungan’ untuk mereka, “…maksudku, tentang kita dulu.”

Ariel mendengus pelan. Ibunya benar-benar…. Ariel sudah merasa cukup malu tiap kali bertemu dengan Yixing, ia yang membuat hubungan mereka berakhir tiba-tiba, ia yang membuat Yixing harus menelan kepahitan seorang diri sedangkan Ariel justru bisa menggenggam tangan yang lain.

“Maaf…”

“Dan kurasa lagu Baby’s Breath versi ibumu lebih bagus. Aku benar-benar kagum dengan caranya memainkan tuts piano, seolah-olah mereka menikah…” Yixing langsung mengubah topik pembicaraan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengakhiri semuanya, bukan hanya hubungannya, tapi juga seluruh perasaannya.

Ariel tertawa kaku saat mendengar ucapan Yixing. Tentu saja cara bermain piano ibunya jauh lebih baik daripada dirinya, bahkan ia selalu berusaha kabur tiap kali akan melakukan latihan seperti itu, dan tentunya ia akan langsun merengek pada Whitney agar mereka pergi kemanapun asal tidak harus belajar alat musik.

Ariel kembali memainkan sendoknya, entah kenapa rasanya ia merasa tidak siap dengan segala perubahan yang terjadi. Terlalu banyak perubahan, dan semua perubahan itu terjadi diluar dugaannya, seperti perceraian orang tuanya, perpisahannya dnegan kakak-kakaknya, bahkan berpisah dengan Zhang Yixing dan menikah dengan Luhan. satu-satunya hal yang benar-benar terjadi sejalan prediksinya, ibunya kembali menyentuh tuts piano. Entah itu berlangsung selamanya atau hanya sementara ini saja.

“Bagaimana kabarmu saat ini?” tanya Yixing lagi, sepertinya ia masih berusaha untuk memperbaiki suasana yang kurang menyenangkan ini, “Dan…bagaimana rencanamu untuk bekerja di bidang jurnalistik? Luhan tidak mencoba menghalanginya, kan?”

Ariel tersenyum kecil dan menggeleng pelan, “Entahlah, aku masih belum berpikir kesana. Aku masih butuh waktu untuk beradaptasi disini,” sahut Ariel jujur. Ia belum berpikir untuk mulai menulis semua impiannya lagi seperti dulu, meskipun ia bosan dengan rutinitasnya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga –dan ia tidak pernah menyangka akan mengalami masa seperti itu—, tapi tetap saja ia butuh waktu lagi untuk melihat Beijing lebih luas. Bisa saja ia tidak bekerja di bidang jurnalistik, kan?

Yixing yang tahu Ariel begitu kaku dengannya langsung mengulurkan tangannya dan menarik senyum di sudut bibirnya, membentuk lubang imut di pipinya, lesung pipi yang selalu jadi ledekan Ariel –meskipun Yixing tahu Ariel sedang memujinya saat itu, “Kita berteman mulai sekarang, bagaimana?”

Ariel mengangkat kepalanya. Bingung. Ia sedikit menaikan alisnya dan memutar bola matanya ke arah tangannya yang diulurkan ke arahnya.

“Aku tau semua ini membuatmu tidak nyaman, tapi aku akan jauh lebih tidak nyaman lagi jika kau terus bersikap seperti ini. Semua orang sudah terlanjur tahu kau adalah juniorku, jadi tidak ada salahnya kita bersikap seperti itu, kan?” kata Yixing meyakinkan. Dan ia serius, ia ingin mengubahnya mulai sekarang, entah itu butuh waktu lama atau sesulit apapun, ia rasa Tuhan akan terus mempertemukan mereka, seperti sekarang.

Dengan ragu, Ariel pun mengangkat tangannya, mencoba menyentuh telapak tangan Yixing yang masih terarah ke arahnya. Ini aneh, benar-benar aneh.

“Jadi…sekaranga ku bisa memanggilmu…Ariel-ssi?”

“Wah, sepertinya ada momen yang kulewatkan,” Ariel langsung menarik tangannya tepat saat suara Luhan menyentuh gendang telinganya. Sedangkan Yixing hanya menarik tangannya santai dan melemparkan senyumnya ke arah Luhan.

“Aku hampir mencuri istrimu barusan, kenapa kau datang sekarang?” balas Yixing masih dengan senyum cerahnya, sayangnya Ariel bisa membaca warna mata Yixing yang sangat kontras dengan nada bicaranya. Ia tidak yakin apakah Luhan menyadarinya atau tidak.

Luhan tertawa pelan dan menoleh ke arah Ariel, kemudian ia pun memutuskan duduk di samping Yixing –dan Ariel jengkel setengah mati dengan itu. Jika Yixing yang menyebabkan Luhan seperti ini,s etidaknya Luhan harus menghindari hal-hal yang membuat mereka terlalu dekat, kan?

“Tapi sepertinya itu akan sulit,” Luhan memutar bola matanya nakal ke arah Ariel, “Aku sudah terlanjur menginginkannya untuk tetap disampingku, selamanya…” Luhan pun merangkul Yixing dan menatap mata pemuda itu, “Lain kali sepertinya aku harus memberi jarak untuk kalian jika kau berencana melakukan hal itu lagi…”

Yixing pun tertawa yang disusul tawa Luhan. setelah itu, Ariel benar-benar tidak lagi memperhatikan dua orang sahabat dengan…kisah yang sedikit membingungkan. Ia juga pernah mengalami masa menyukai sahabat sendiri, tapi tentu saja sahabatnya itu seorang laki-laki –dan jangan berpikir bahwa orang itu adalah Byun Baekhyun—, berbeda dengan kisah yang dimiliki Luhan.

“Jika bisa kau harus bujuk istrimu untuk ikut tampil, dia punya bakat yang luar biasa…”

Lamunan Ariel langsung pecah saat ia merasa tengah dibicarakan. Tidak ada namanya memang, tapi yang berstatus memiliki istri hanya Luhan, dan Yixing baru saja menyebut kata ‘istrimu’ yang artinya kalimat itu merujuk padanya.

Luhan tersenyum dan melirik ke arah Ariel, “Apa dia seberbakat itu?” tanyanya lagi, bukan pada Ariel, masih pada Yixing.

“Suaranya juga bagus, selain itu dia bisa memainkan gitar dan biola. Tapi ia sangat payah saat bermain gitar, makanya dia sangat keras kepala untuk belajar dari Park Chanyeol, teman satu kelasnya saat kuliah…”

“Tunggu sebentar…” Luhan mengangkat tangan kanannya ke arah Yixing dan menoleh ke arah ariel, kemudian kembali menatap Yixing, dan terus seperti itu selama beberapa kali, “Sepertinya kalian sudah saling mengenal sejak lama,” Luhan pun menatap Ariel dengan serius, “Jika kau fans-nya, kau harusnya jauh lebih tau tentang dia, kan? Kenapa inu malah sebaliknya…”

Yixing mendengus pelan, namun masih menaruh ulasan senyum di wajahnya, kemudian mengangkat kepalanya menatap Ariel. Mungkin, ini saatnya ia berterus terang saja. toh, orang tua Ariel juga ternyata sudah tahu, dan ia rasa pasti jika Luhan tahu tentang masa lalu mereka, semua akan jauh lebih baik-baik saja.

“Itu…sebenarnya kami…”

“Luhan, aku baru ingat aku harus kembali ke perpustakaan sekarang. Aku meminjam buku kemarin…dan…aku…aku harus mengembalikannya sekarang, kau mau mengantarku, kan?”

“Hah?” Luhan menatap Ariel bingung. Perpustakaan? Sejak kapan Ariel pergi ke perpustakaan, dan meminjam buku apa? gadis itu bahkan belum lancar menulis ataupun membaca tulisan cina, bahkan Ariel belum hapal betul tempat-tempat tertentu di Beijing. Bagaimana bisa gadis itu tiba-tiba tersesat ke perpustakaan?

“Kau…pergi ke perpustakaan?”

Ariel mengabaikan pertanyaan Luhan dan buru-buru pamit pada Yixing, “Ge…eh, maksudku Sunbae, aku harus pergi sekarang. Maaf aku juga harus meminjam Luhan…”

Yixing tersneyum kecut dan mengangkat bahunya. Mau bagaimana lagi, ia tidak bisa memaksa salah stau dari mereka untuk tetap berada disini, kan?

 

***

 

“Sejak kapan kau suka pergi ke perpustakaan? Buku apa yang suka kau pinjam?” tanya Luhan masih penasaran, ia tidak menyangka ternyata Ariel suka membaca buku-buku selain buku berbahasa inggris –ia tahu jenis buku bacaannya karena Ariel sering menaruhnya di atas nakas, dan setahunya, ia tidak pernah melihat buku tulisan cina selain buku belajarnya dari tempat kursus.

Ariel yang berjalan di depan Luhan langsung memutar tubuhnya sekaligus, membuat Luhan harus menghentikan langkah kakinya tiba-tiba karena hampir menabrak tubuh mungil gadis itu, “Jika kau memang tahu kau menyukai Yixing Ge, seharusnya kau tidak terlalu dekat dengannya, bagaimana kau bisa melupakannya jika kau…” mulut Ariel langsung terkunci saat Luhan mendekatkan wajahnya ke arah Ariel.

“A…apa? kenapa melihatku begitu?” tanya Ariel dengan gugup. Dan ia harap, ia tidak terlihat bodoh di depan Luhan.

“Kau cemburu?” tanya Luhan dengan nada polos, masih belum menjauhkan wajahnya.

“Hah…? apa? aku? Kenapa aku harus…”

“Aku tidak tahu kau cemburu pada siapa,” Luhan pun menjauhkan wajahnya dan kembali berdiri tegak, “Entah itu kau cemburu karena aku dekat dengannya atau karena aku memang menyukainya, tapi satu hal pasti, aku jamin aku tidak akan selingkuh dengan…pria manapun,”

Ariel hampir menjatuhkan rahangnya. Ia tahu ia orang yang cukup blak-blakan, setidaknya saat ia berada di dekat orang-orang yang membuatnya nyaman –minimal Baekhyun atau Wendy, tapi ia tidak pernah bertemu dengan laki-laki yang segamblang Luhan. dan apa pula tadi? Berselingkuh dengan…laki-laki? Ariel mendengus pelan, ternyata mendapati kenyataan ia jauh lebih harus mewaspadai laki-laki di sekitar Luhan jauh lebih menggelikan daripada mewaspadai gadis-gadis cantik yang mengitari Luhan.

Dan tanpa sadar, ia sudah ditarik Luhan sampai di depan mobilnya dengan Luhan yang sudah membukakan pintu mobil untuknya, “Aku malah jauh lebih harus mewaspadai dirimu Ariel Lau. Bisa saja besok pagi kau malah melarikan diri dengan laki-laki lain,”

Ariel menggeleng pelan, nada bicara Luhan benar-benar kekanakan.

“Ingat ya, jangan selingkuh…”

“Ayolah Luhan. siapa yang akan selingkuh disini? Kau harus menyetir jadi cepat masuk dan berhenti bicara, oke?”

Luhan menggeleng pelan dan tetap menahan pintu mobil, “Aku serius, Ariel Lau. Untuk pertama kalinya aku merasa harus mewaspadai Yixing.”

 

***

 

“Tingkah Luhan itu memang agak aneh…” komentar Lisa sambil merapikan rambutnya yang tidak berantakan sama sekali. Mereka –Lisa dan Yixing—tengah membicarakan Luhan dan Ariel. Yeah, semua berawal dari Yixing. Ia masih berpikir untuk meminta atasannya berhenti meminta Yixing untuk pergi mengunjungi Cina.

Yixing tidak berkomentar, ia hanya menghembuskan napas panjang dan menatap ke arah Lisa yang baru meletakkan cerminnya, gadis itu pun mulai memakan makanannya dengan santai, “Tapi Luhan memang begitu, kok. Kadang-kadang dia memangbersikap seperti perempuan…”

Lisa tertawa pelan dan mengangkat garpunya, “Dia cantik, dan dia akan cocok untuk berkencan dneganmu seandainya dia perempuan…” kata Lisa sambil menunjuk-nunjuk Yixing dengan garpunya.

Yixing mendesis geli, “Jangan bercanda. Dia sudah menikah sekarang, dia juga cukup posesif pada Ariel…”

“Tapi aku jauh lebih heran dengan sikap ibunya ariel. Siapa namanya? Lim…Lim…”

“Lim Jinha…”

“Ah benar Lim Jinha,” Lisa pun menaruh garpunya dan menatap Yixing serius, “Dia seperti tahu sesuatu, maksudku…sikapnya tadi agak ganjil, kau tidak curiga sesuatu darinya?”

Yixing langsung mendengus keras, “Nuna terlalu banyak menonton drama. Sudah sana teruskan makan, kita harus segera kembali ke hotel.”

Lisa mencibir, “Tapi aku serius. Dia tidak mengatakan sesuatu yang aneh padamu, kan? Menurutku agak kurang lazim saja jika dia…terlalu baik padamu,”

Yixing hanya menarik kedua sudut bibirnya dan menarik cangkir kopinya tanpa minat. tentu saja ada yang dibicarakan wanita itu padanya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak ingin Lisa tahu tentang ini. Hebatnya, Lisa cukup peka dengan gerak-gerik orang lain.

“Nuna…”

“Hmm?”

“Menurutmu…” Yixing menggigit bibir bawahnya ragu, “Apa menurutmu…Ariel masih…masih bisa berjodoh denganku…” Yixing benar-benar merasa manusia paling bodoh dengan pertanyaannya barusan. Dan seandainya Lisa malah menyiram wajahnya, ia sama sekali tidak akan mengelak, ia tahu, pertanyaannya kelewat bodoh atau apapun itu namanya.

Yixing sudah memejamkan matanya, siap menerima pukulan, siraman air atau apapun itu yang bisa menyadarkannya dari kebodohannya beberapa saat lalu. tapis etelah sekian detik, sama sekali tidak ada pukulan atau perlakuan apapun yang dilakukan oleh Lisa seperti biasanya. Dengan perlahan, Yixing membuka sebelah matanya, takut-takut jika Lisa menyerangnya tiba-tiba.

“Nyonya Lim terlalu gegabah. Dan…kau kira berapa umurmu? 17? 18? Kenapa kau mau dibodohi dengan kata-kata semacam itu?” sembur Lisa kesal sambil menyendok makanannya, “Dan dnegar ya, meskipun Nyonya Lim memberikan kesempatan padamua tau apapun itu untuk memiliki Ariel, merusak hubungan orang lain sama sekali bukan hal bagus. Mungkin saja kau bisa memiliki Ariel kelak, tapi jangan pernah berpikir atau menyugesti dirimu seperti itu. Aku tidak mau kau merusak hubungan persahabatanmu dengan Luhan karena ariel.”

Yixing meremas celana panjangnya. Entah setan mana yang berhasil meniupkan rasa bahagia yang harusnya cucuran air mata saat ucapan Nyonya Lim menyentuh gendang telinganya. Harusnya ia merasakan sesak yang luar biasa, atau setidaknya ia merasa tersinggung dnegan ucapan Nyonya Lim. Tapi dengan bejatnya, Yixing justru merasa lega dan malah menghidupkan kembali harapan kecilnya yang sudah layu.

“Pernikahan kontrak itu bisa saja hanya tulisan dalam kertas, sebuah catatan omong kosong yang dibuat manusia. Tapi catatan takdir jauh lebih mengejutkan,” Lisa sama sekali tidak mengangkat kepalanya, “Bisa saja kau memang berjodoh dengannya, tapi siapa yang tahu? Pernikahan bukan ikatan tali sepatu yang bisa terlepas begitu saja. jika memang ada kesempatan untuk menemukan gadis lain, coba saja hubungan baru itu. Kau tidak bermaksud melajang sambil menunggu Ariel, kan?”

“Kalau begitu…bisakah Nuna saja yang membuka kesempatan itu…”

Lisa langsung tersedak mendengar jawaban Yixing. Apa katanya barusan? Lisa yang…membuka kesempatan? Anak itu benar-benar, bagaimana bisa dia malah bercanda di situasi seperti ini?

“Kau tahu, ini bukan situasi untuk bercanda. Lagipula apa maksudmu…”

“Nuna yang selalu ada di sisiku,” sergah Yixing cepat, “Kau yang mengerti bagaimana diriku, apa bisa…Nuna saja yang menjadi kesempatanku?”

 

***

 

Luhan menaruh 4 kaleng bir dan sebungkus makanan ringan di atas meja kasir. Sebenarnya ia benar-benar sudah mengantuk dan ingin segera pulang, tapi semua mood untuk mengistirahatkan tubuhnya langsung menguap karena Ariel malah mendiamkannya setelah percekcokan kecil mereka tadi. Luhan mendengus pelan, ia tidak yakin bagian mana yang membuat Ariel harus repot-repot marah terhadapnya, ia juga tidak yakin apakah Ariel benar-benar mendiamkannya atau hanya sedang sakit gigi saja –ah, baiklah itu konyol. Tapi melihat Ariel sampai tidak mau menatap matanya benar-benar mengganggunya.

“Berapa umurmu?” lamunan Luhan langsung terserap habis, dan Luhan langsung memfokuskan pada wanita di hadapannya, “Hah?”

Wanita yang menurutnya kini seumurannya mendengus pelan, wajahnya benar-benar kusut dan membuat mood Luhan semakin terpuruk, “Kenapa bertanya umurku?” tanya Luhan menahan rasa kesalnya sebisa mungkin.

“Apa anak seumuranmu bisa minum bir, hah?”

Luhan menaikan sebelah alisnya. Wah, wah. Wanita itu ternyata ingin mencari masalah dengannya. Lagipula memangnya dia terlihat seperti remaja 13 tahun? Atau anak SMA yang suka merokok dan ketagihan alkohol?

“Aduh…Nona, dengar. Istriku sedang menunggu di mobil dan dia sedang merajuk padaku, jadi jangan membuat mood-ku semakin buruk, oke?” Luhan pun mengeluarkan uang 10.000 Yuan dari dompetnya, “Aku tidak tahu berapa totalnya, tapi ambil saja kembaliannya. Dan ingat! Jangan bersikap tidak sopan lagi pada pelanggan, mengerti!” Luhan pun langsung melenggang pergi setelah mengambil belanjaannya –tanpa kantong plastik—dan juga tidak mendengar teriakan wanita tidak sopan itu.

Luhan benar-benar kesal. Memangnya wanita itu tidak tahu Luhan bahkan sudah menyeelsaikan S2-nya dengan nilai terbaik, bahkan ia menjadi sarjana hanya dalam waktu 3 tahun saja. dan ia tidak perlu pamer jika ia juga pernah mendatangi club terbaik di Canada, kan? Ia juga bahkan pernah membeli anggur yang lebih baik daripada wine dan bukannya bir seperti di tangannya.

“Kenapa lama?” tanya Ariel sambil bersandar pada pintu mobil yang tertutup.

Luhan mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tidak salah, kan? Ariel benar-benar bicara padanya, kan? Dalam waktu kurang dari satu detik, Luhan langsung tersenyum cerah dan berjalan cepat ke arah Ariel.

“Kenapa kau memegang semuanya? Kau tidak apaki kantong plastik atau…”

“Pelayan itu menyebalkan,” adu Luhan dengan nada merajuk, “Bayangkan saja, dengan tidak sopannya dia malah bertanya soal umurku dan dia bilang aku tidak boleh minum bir. Benar-benar tidak sopan! Dia tidak tahu apa, aku bahkan sudah menikah dan sudah menyelesaikan S2-ku, bahkan aku sudah mencicipi minuman termahal di club terbaik! Dasar menyebalkan!”

Ariel mengangguk geli, ia pun mengambil 2 botol bir dan sebungkus makanan ringan di tangan Luhan, “Dia juga harusnya tahu kau bahkan pernah menyewa wanita termahal di Cina…” sambung Ariel yang alnsgung dibalas teriakan Luhan, “YAK!!!”

Ariel langsung tertawa keras. Ia tidak bermaksud untuk mentertawakan Luhan, tapi jika diteliti sekali lagi, siapapun yang melihat penampilan Luhan dengan sweater abu bertuliskan ‘Your Boy’ –dan menurut Ariel itu tulisan yang sangat konyol, rambut kecoklatan yang berantakan, dan wajah kusut ala anak SMA yang baru melihat nilai jebloknya. Yeah, rasanya lucu sekali jika menyadari bahwa Luhan memiliki wajah yang cantik dan juga imut.

“Apa itu lucu?” tanya Luhan sedikit memajukan bibir bawahnya. Sebnarnya ia tersinggung dan ingin marah pada Ariel, tapi diam-diam, ia merasa tenang saat melihat Ariel tertawa seperti ini. Ia belum bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat Ariel bahagia, tapi setidaknya ia bisa membuat Ariel tersenyum –bahkan tertawa seperti sekarang—meskipun ia harus merelakan dirinya jadi bahan tertawaan.

“Salah sendiri kenapa kau punya wajah anak-anak,” kata Ariel sambil mengusap ujung matanya, “Kau memang penipu ulung Xi Luhan…” Ariel mulai berhenti tertawa dan membuka kaleng minumannya.

Luhan ikut bersandar pada sisi mobil dan mengangkat bahunya dengan tidak nyaman. ucapan Ariel seperti belati untuknya, bagaimanapun ia memang penipu. Ia menipu Ariel…dan ia bahkan belum mencoba mengubah situasi menjadi lebih baik.

“Arel…”

“Hmmm…”

“Mama baru kembali dari Singapura sejam yang lalu,”

Ariel pun memutar kepalanya ke arah Luhan. ia tidak terlalu nyaman untuk membiacarakan ibu mertuanya, tapi bagaimanapun ia tetap menantu Nyonya Xi dan artinya Nyonya Xi juga adalah ibunya, seburuk apapun tabiat wanita itu. Oh, bahkan ariel merasa sangat kejam karena memikirkan kata ‘buruk’, “Kenapa? dia ingin bertemu denganmu?”

Luhan memutar kepalanya ke arah Ariel dengan ragu. mungkin saja ia gagal untuk membuat kontrak itu gagal dan malah membuat dirinya kehilangan Ariel, tapi tidak ada salahnya mencoba, kan? Ia harus meluruskan semuanya dan kembali mendapat simpati dari ayahnya. Ia benar-benar tersiksa saat tahua yahnay menjauhinya seperti sekarang ini.

“Tidak,” kata Luhan akhirnya, “Ini…ini tentangku, aku ingin bicara dengan Mama, dan kau harus ikut.”

Ariel menganggukkan kepalanya setuju, “Aku juga harus menengok Mom. Kalau bisa kau bujuk Ibumu agar tidak membiarkan Mama terus bekerja, ya?”

Luhan hanya tersenyum menanggapi uacapan Ariel.

“Dan…Ariel, apapun yang terjadi besok, kau…harus percaya padaku…”

Ariel menatap Luhan lama. Luhan memang agak aneh hari ini. Tapi apapun itu, secara refleks hatinya sudah mempercayai Luhan begitu saja, tapi akhirnya ia hanya memberikan seulas senyum pada Luhan.

 

=TBC=

20150409 PM0442

 

sebelumnya aku mau ngucapin makasih banyak buat Kak Rasyifa yang mau ngebantu posting ff ini🙂 dan berhubung sekarang aku jadi author tetap di sini, mulai sekarang aku ngeposting FF ini langsung.

sekali lagi, makasih banyak, bua Kak Rasyifa, dan semua readers ^^

19 responses to “[Series] Married with a Gay – Chapter 11

  1. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 4 | FFindo·

  2. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 5 | FFindo·

  3. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 6 | FFindo·

  4. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 7 | FFindo·

  5. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 8 | FFindo·

  6. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 9 | FFindo·

  7. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 10 | FFindo·

  8. serius, chapter ini bikin tenang. seengganya yixing nyoba move on. tapi aku penasaran saja percakapan ibunya ariel ke yixing. jangan bilang dia ngasih harapan ke yixing? dan nyeritain semua alasan kenapa ariel nikah sama ariel. padahal ibunya ariel udah bilang ke luhan buat jagain ariel? kalo iya, nyebelin serius. karakter emak-emak disini rada antagonis yak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s