[Chaptered] Angel Without Wings – Chapter 2

angel-without-wings2

poster credits to Saturnus from Poster Fanfic Studio

Title : Angel Without Wings

Author : Atatakai-chan

Length : Chaptered [#1]

Genre : AU, Fantasy, Romance

Rating : G

Main Casts :
1. INFINITE Dongwoo as Dongwoo
2. OC as Ahn Jihyo

Supporting Casts :
1. INFINITE Hoya as Hoya
2. BlockB Jaehyo as Ahn Jaehyo
3. INFINITE Woohyun as Woohyun
4. B.A.P Zelo as Choi Junhong

Chapter 2:

The Flapping Wings

“A bird is safe in its nest – but that is not what its wings are made for.”

  ― Amit Ray, World Peace: The Voice of a Mountain Bird

~**~

“HOYAA! Kau di mana? Keluarlah, aku tahu kau ada di sini!” Dongwoo berlari-lari sambil terus memanggil-manggil nama sahabatnya itu.

“Berhentilah berteriak, Dongwoo. Aku bisa mendengarmu.”

Muncullah sesosok lelaki yang diketahui bernama Hoya itu. Ia menghampiri Dongwoo yang kini sedang melakukan tarian bahagia ala Dongwoo.

“Aku tahu kau sedang senang. Aku tahu. Aku melihatnya.”

Dongwoo memamerkan senyuman lebar pada Hoya. Dan sama seperti Jihyo, Hoya pun tidak bisa menolak untuk tidak balas tersenyum. Senyum dan tawa Dongwoo benar-benar menular. Bahkan bila diperhatikan, setiap Dongwoo tertawa maupun tersenyum bintang-bintang di langit ikut berkelip seolah sedang tertawa.

Senyuman polos itu.

“Namanya Ahn Jihyo.” Ujar Dongwoo tiba-tiba. Ia telah menghentikan tarian bahagianya.

“Lalu? Bukannya kau sudah tahu?” Tanya Hoya.

“Ya, memang sih. Hanya saja rasanya menyenangkan ketika ia mengenalkan dirinya sendiri padaku.”

Dongwoo menengadahkan kepalanya, menatap langit malam yang diterangi oleh cahaya bulan dan juga kemilau bintang-bintang. Ia menarik napas, membiarkan udara yang baru ia hirup mengalir di sekujur tubuhnya.

Rasanya manis.

Hoya memperhatikan sahabatnya itu sebelum menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mengerti jalan pikiran yang dimilikinya.

“Aku tidak tahu apa istimewanya.”

Hoya berbohong.

Sebenarnya ia tidak berbohong, hanya saja, ia lupa mengenai hal tersebut karena terjadi sudah lama sekali.

“Coba tebak…” Dongwoo menengok kepada Hoya yang berada di sampingnya.

“Lanjutkan,” ujar Hoya tanpa mengengok kepada Dongwoo. Pandangannya menerawang langit malam.

Aku sangat senang. Aku tidak akan pernah melupakan hari ini.

“.. Dia memanggilku oppa. Dongwoo oppa.”

Pandangan Hoya langsung tertuju kepada sahabatnya itu. Kedua mata tajam Hoya terbelakbak. Ia tampak kaget… sekaligus marah.  Ia benar-benar tidak paham jalan pikiran Dongwoo dan jelas sekali bahwa ia keberatan apabila Dongwoo terlibat lebih jauh lagi dengan gadis bernama Ahn Jihyo itu.

“Apa kau gila!? Kau memberitahu namamu!?” Nada bicara Hoya meninggi dan dalam sekejap awan gelap menutupi cahaya bulan. Kini langit tidak secerah beberapa saat lalu.

“Kau akan ada dalam masalah besar Dongwoo!”

Dongwoo terdiam.

Kau tidak ingat bukan begitu, Hoya?

Napas Hoya mendadak menjadi tidak beraturan dan ia mencengkram bagian dadanya dengan kuat seolah ia sedang kehabisan napas dan merasakan sesak.

Dongwoo hanya diam di tempat, tidak melakukan apa-apa. Ia tahu betul Hoya akan baik-baik saja. Yang terjadi pada Hoya hanyalah efek dari ingatan yang terlepas, atau tepatnya, ingatnya yang sengaja dilepas.

“Bernapaslah perlahan Hoya. Kau akan baik-baik saja.” Tidak ada yang bisa Dongwoo perbuat selain memegangi lengan sahabatnya itu dengan kuat.

|

|

|

|

|

|

“Sudahlah! Cukup sampai sini saja Dongwoo. Aku tidak mau kau berada dalam masalah.” Nada bicara Hoya melembut, bukan karena ia kesakitan tadi, tetapi karena keras memanglah bukan sifat aslinya.

“Dengarkan aku, oke?” Hoya menghela napas panjang.

“Tenang saja tuan Hogod.” Dongwoo tersenyum kepada Hoya.

“Aku akan menanggungnya…”

“Lagipula, bukankah aku memang sudah berada dalam masalah sejak pertama kali aku jatuh hati padanya?” Lanjut Dongwoo. Nada bicaranya tetap seperti biasa. Tenang dan lembut..

Suara yang bagaikan tiupan angin sepoi-sepoi itu membuat Hoya tertegun.

Kau akan menanggung semuanya? Apa kau gila?

Hoya benar-benar tidak mengerti. Kalau ia adalah Dongwoo dan ia jelas-jelas mengetahui masalah apa yang harus dihadapi bila terus melanjutkan apa yang sudah diperbuat, ia tidak mungkin bisa tenang seperti itu dan mungkin ia akan mengurungkan niat untuk melanjutkan.

Kalau harus jujur Hoya mengakui bahwa memang diantara mereka bertujuh Dongwoo lah yang paling menggambarkan sosok apa yang sering orang-orang perkirakan mengenai mereka. Begitu ramah, tulus, dan lembut.

Semuanya sudah sesuai. Hanya saja.. Kau itu bodoh.

Dongwoo tertawa. “Kau boleh menyebutku gila. Tetapi asal kau tahu aku tidak begitu suka disebut bodoh, Hoya.”

“Jadi sekarang apa maumu?” Tanya Hoya. Ia memutar kedua bola matanya sambil menghela napas.

“Apa mauku? Tentu saja aku mau kau mendukungku, Hoya. Kita adalah sahabat bukan?”

Hoya mengangguk mengiyakan pertanyaan apakah mereka sahabat atau bukan. Tentu saja Dongwoo adalah sahabatnya. Mereka semua bersahabat. Bukan hanya dengan enam lainnya saja. Keseluruhan mereka adalah sebuah keluarga.

“Seharusnya sebagai seorang sahabat kau mendukungku tahu.”

Hoya terdiam untuk beberapa saat. Begitu gerbang terbuka ia kemudian berkata, “… Biasanya memang pada akhirnya aku selalu mengikuti keinginanmu Dongwoo. Tetapi untuk utusan kali ini, maaf. Aku tidak bisa. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu.”

Setelah Hoya selesai berujar, Dongwoo langsung menyerangnya dengan tatapan yang ia kenal sebagai tatapan puppyeyes dan Hoya langsung mengalihkan padangannya ke arah lain. Ia benar-benar lemah terhadap tatapan seperti itu.

“Maaf Dongwoo, aku benar-benar minta maaf” Hoya kembali meminta maaf. Sebenarnya sakit sekali rasanya ketika kau harus dengan sengaja mematahkan impian sahabatmu sendiri. Tetapi apa boleh buat. Menurutnya inilah yang terbaik yang bisa ia berikan sebagai sebuah bantuan.

Mau sampai kapan kau terus meminta maaf? Lucu sekali. Kalaupun kau tidak memberi bantuan aku akan tetap menyimpan perasaan ini.

——-

Seorang lelaki dengan postur ramping namun berisi berdiri bersandar pada sebuah tiang yang cukup besar dan tinggi menjulang. Begitu Dongwoo dan Hoya lewat di hadapannya, tanpa segan-segan ia menarik keduanya dengan cara menjewer telinga keduanya secara bersamaan.

“Baaagus yaaa~! Kaliaaan kemanaaa sajaaa hmmm?”

Lelaki itu tampak menjewer Hoya dan Dongwoo dengan gemas.

“Wahahaha! Maaf Woohyun!”

Berbeda dengan Dongwoo yang masih bisa tertawa, Hoya di sisi lain hanya menundukkan kepalanya sambil meringis menahan sakit. Jeweran yang diberikan oleh Woohyun benar-benar terasa dahsyat bagi Hoya.

“Kau rindu kami kan? Haha!”

“Bodoh! Siapa yang rindu? Akan ada perjamuan dan aku kesana-kemari mencari kalian. Aku lelah, bukan rindu! Perjamuan akan dimulai sebentar lagi. Ayo kita bergegas!”

Sosok bernama Woohyun itu berhenti menjewer keduanya dan tangannya beralih ke lengan masing-masing, ia menggandeng keduanya memasuki sebuah ruangan yang ternyata sudah ramai. Walaupun ruangan itu ramai, keadaan di dalamnya tidak kacau seperti kelas yang tidak ada gurunya.

|

|

|

|

|

|

Dongwoo berjalan keluar, belum sampai dirinya di gerbang, ia merasakan pundaknya ditepuk dan ia pun langsung menoleh.

“Kau sudah mau berangkat Dongwoo?”

“Ah, iya. Kurasa lebih pagi akan lebih baik bukan?” Dongwoo menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya sambil memamerkan senyuman.

Sosok yang ada di hadapannya itu menghela napas. “Hey. Kau tahu bukan aku mengawasi kalian berenam?”

Dongwoo mengangguk. Tentu saja ia tahu. Sosok yang kini sedang ia tatap bisa disebut sebagai ketua squad di mana dirinya menjadi anggota. Sosok itu memiliki wajah yang lembut, begitu juga dengan kedua matanya, namun aura seorang ketua tetap terasa ada dalam dirinya, bahkan terkadang aura itu memancar keluar.

“… Baiklah kalau begitu. Sealamat menjalani tugasmu.” Tanpa berkata apapun lagi sosok tadi menjauh dari Dongwoo dan juga gerbang yang sudah terbuka, menghilang seperti kabut yang tertiup angin.

|

|

|

|

|

|

Jihyo duduk di halte bus, ditengah guyuran hujan gerimis. Bus pertama yang menuju ke arah sekolah nya sudah berlalu. Bus berikutnya akan segera tiba dalam hitungan menit, namun Jihyo ragu. Jihyo tidak ingin berangkat ke sekolah. Tetapi di sisi lain Jihyo dapat membayangkan pasti Jaehyo akan sangat kecewa. Ia tahu betul kakaknya bekerja sangat keras untuk membiayai kehidupan mereka.

“Tidak berangkat?”

Jihyo langsung menoleh ke asal suara.

Rasanya aku mengenal suara itu.

Ia mendapati Dongwoo sedang berdiri sambil merapikan payung lipatnya.

“Dongwoo oppa? Sedang apa di sini?”

Tanpa menunggu, Dongwoo berjalan dan menduduki space kosong yang berada tepat di samping Jihyo. “Baru akan menjalankan tugas” Jawabnya.

“Tugas? Oppa sudah bekerja ya?”

“Ya aku sudah bekerja. Apa tampangku seperti orang pengangguran?”

Jihyo spontan tertawa. Tentu saja ia tidak berpikiran seperti itu.

“Apa pekerjaanmu?” tanya Jihyo penasaran.

Well, pekerjaan yang kadang menyenangkan kadang tidak.” Dongwoo berhenti sejenak.

“Mengantarkan beberapa ‘paket’ pada orang-orang. Itu saja. Cukup berat tapi ya menyenangkan juga,” lanjutnya.

Kurir pengantar barang. Dalam hitungan detik itulah yang muncul di benak Jihyo ketika ia mendengar mengenai tugas yang Dongwoo lakukan.

“Kau tidak berangkat?” Dongwoo kembali bertanya. Mengulangi pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang ia gunakan untuk menyapa Jihyo pertama kali pada hari ini.

Jihyo hanya menundukkan kepalanya, tidak menjawab.

“Ada yang kau takutkan?”

Jihyo mengangguk dan tidak lama kemudian ia menengadahkan kepalanya karena Dongwoo tengah menarik kedua tangannya yang gemetaran dan tangan yang besar itu menggenggam tangannya dengan erat.

“Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja, arraseo?”

Suara deru bus yang datang dari kejauhan membuat Jihyo tersentak. Jujur saja, Jihyo belum siap. Ia benar-benar takut. Feelingnya mengatakan kalau gossip mengenai dirinya pasti sudah menyebar keseluruh sekolah hari ini. Ia benar-benar takut dengan apa yang akan dilakukan kebanyakan orang dan juga ia merasa takut karena selama ini feelingnya nayris tidak pernah salah.

Masih menggenggam kedua tangan Jihyo, Dongwoo bangkit berdiri dengan perlahan. Ia menuntun Jihyo naik ke dalam bus, sambil berjalan mundur.

“Semuanya akan baik-baik saja, Jihyo-ah. Aku akan menemanimu berangkat ke sekolah setiap hari, mulai dari hari ini.” Dongwoo menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking milik Jihyo.

Yaksok.” Dongwoo tersenyum.

Melihat senyuman yang begitu tulus, tanpa berpikir panjang Jihyo balas tersenyum.

——-

Jihyo menuruni bus dengan sangat gugup.

Sepasang tangan milik Dongwoo yang besar bertengger di kedua bahunya, membuat Jihyo merasa sedikit lebih baik karena kehangatan yang terasa dari sepasang tangan itu.

Beberapa siswa yang juga baru turun dari bus memberikan tatapan pada Jihyo. Tatapan yang dirasa oleh Jihyo membuatnya tidak merasa nyaman. Bisikan demi bisikkan mulai bisa ia dengar, rasanya ia ingin menutup telinganya dan kemudian berlari pulang.

Setelah beberapa menit akhirnya Jihyo dan Dongwoo sampai di pekarangan sekolah yang begitu luas. Dongwoo dengan perlahan menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi menumpang di kedua bahu Jihyo.

“Baiklah. Berjuanglah untuk hari ini, Jihyo! Hwaiting!”

Ne Dongwoo oppa. Gomawo.” Jihyo tersenyum sebelum membungkuk 90 derajat kepada Dongwoo sebagai tanda terima kasih.

Dengan langkah ringan Jihyo memijakkan kakinya memasuki gedung sekolah. Sementara itu Dongwoo tak melepaskan pandangannya dari sosok Jihyo yang berjalan membelakanginya hingga sosok itu masuk semakin jauh ke gedung sekolah.

Dengan perlahan Dongwoo berbalik arah, keluar dari pekarangan sekolah. Ia tersenyum kepada dirinya sendiri.

“Hey! Kau siapa?”

Dogwoo menatap lelaki yang berdiri di hadapannya.

Ah. Aku tahu anak ini.

“Kau tidak perlu tahu.” sahut Dongwoo dengan tenang, tidak lupa sebuah senyuman ia perlihatkan.

“Tidak perlu tahu? Kau pikir kau siapa? Orang yang sedari tadi kau pegangi itu temanku tahu!.” Lelaki bertumbuh tinggi itu menyahut dengan galak, ia berjalan makin dekat ke arah Dongwoo dengan geram, seolah ia adalah sebuah angin topan yang bisa begitu saja melemparkan Dongwoo entah kemana.

“Whooa! Tenag, tenang! Aku bukan seperti yang kau pikirkan.” ujar Dongwoo dengan tetap tenang, ia sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri.

Lelaki itu menghentikan langkahnya. “Memangnya apa yang aku pikirkan?”

Dongwoo mengusap-usap tengkuk lehernya, ia bingung bagaimana harus menjelaskan hal ini. Yang jelas ia tahu betul bahwa lelaki di hadapannya ini pasti mengira bahwa dirinya adalah seorang om-om genit yang mengenal Jihyo dari pekerjaan malamnya dan tengah menggoda gadis itu.

“Dengarkan. Pertama aku bukan hidung belang. Kedua aku tidak mengenal Jihyo dari pekerjaan malamnya karena ia sama sekali tidak melakukan hal itu.”

Lelaki di hadapannya itu mengatupkan bibirnya dengan rapat.

“Kau bilang tadi kau temannya kan? Kenapa kau sama sekali tidak mencoba untuk menanyakan kebenarannya? Menagapa kau menelan bulat-bulat gossip yang bersebaran?”

Lelaki itu tidak menjawab. Ia benar-benar merasa terpukul.

Bel bunyi tanda masuk terdengar dengan amat nyaring. Perhatian lelaki berambut hitam itu sekilas teralihkan ke arah jam tangannya dan ketika ia mendongak, lawan bicaranya itu sudah tidak ada..

Cepat sekali larinya. Aku jadi ragu akan pernyataannya tadi.

“Bel sudah berbunyi, sebaiknya kau cepat masuk Choi Junhong-ssi. Aku duluan ya.”

Lelaki bernama Choi Junhong itu tersentak kaget ketika meendengar suara lawan bicaranya yang samar-samar.

Eh? Dia masih di sini? Tapi.. di mana?

——-

Keadaan di kelas Jihyo hening, namun tidak bisa dikatakan sangat hening. Di bagian belakang kelas, lima orang siswa saling berbisik dan sesekali mereka tertawa. Guru yang bernama Lee Cheoljoo atau yang sering dipanggil Lee seonsaengnim kini sedang melakukan presentasi di depan kelas dan ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkali-kali menghela napas. Ia sudah tidak tahu bagaimana harus menghandle kelima siswa tersebut.

“…Hahaha! Iya aku sudah tidak sabar untuk mengerjainya nanti sepulang sekolah! Hey Junhong-ya! Kau mau ikut tidak?”

Junhong menoleh ke arah Kim Minhyuk yang tadi bertanya kepadanya. Dengan galak Junhong menatap Minhyuk yang kini sedang terkekeh.

“Kau jangan macam-macam, sialan!”

“Ah sayang sekali! Padahal sepertinya nanti akan menyenangkan lho.”

“Tak akan aku biarkan kalian mendekati Jihyo!”

.

Langit hari ini sangat hitam. Hujan gerimis tadi pagi berubah menjadi hujan deras. Biasanya Junhong tidak tertarik melihat pemandangan seperti ini namun entah kenapa kali ini ia tidak keberatan. Sekali lagi, dalam benaknya terngiang ucapan lelaki yang ia temui tadi pagi. Ia menyesali perbuatannya yang dengan begitu saja percaya perkataan orang lain.

Jihyo. Maafkan aku.

|

|

|

|

|

|

“Astaga Jaehyo! Kau tidak bawa payung ya?” Mrs. Woo, pemilik restoran tempat Jaehyo bekerja kaget melihat karyawan terbaiknya masuk ke dalam restoran dengan keadaan basah kuyup.

“Iya nyonya. Saya lupa di mana saya menaruh payung saya. Daripada terlambat mencari payung saya langsung saja berlari ke sini.” ujar Jaehyo.

“Astaga. Sudahlah, kau ke belakang dulu saja. Ganti pakaianmu dengan seragam kerja. Santai saja Jaehyo.”

“Baik nyonya. Terimakasih”

Jaehyo berjalan ke bagian belakang restoran untuk mengganti pakaian.

Apakah Jihyo akan baik-baik saja? Aku khawatir.

 

-TBC-

 

author’s note:
Halo, halo bertemu lagi dengan Atatakai-chan❤
Bagaimana chapter 2 nya? Memuaskan atau tidak?
Untuk yang sudah memberikan feedback pada chapter 1,
saya ucapkan terima kasih banyak❤
Untuk para readers lain saya harap kalian dengan senang hati
memberikan feedback 😀

Saya ingin meminta maaf kepada readers yang dengan setia menanti
kelanjutan Digital Love. Mohon maaf sebesar-besarnya!
Untuk sementara waktu Angel Without Wings akan dituntaskan terlebih dahulu
sebelum saya terserang writter’s block ;;

with love,
暖かいちゃん 

2 responses to “[Chaptered] Angel Without Wings – Chapter 2

  1. Ohohoho… cepet banget keluar chapter 2 nya, perasaan baru kemaren keluar chapter 1… kamu keren deh…❤ eh, btw ternyata kita satu liner, aku 96liner jugaa #gananya…😛
    Aku jadi makin penasaran aja nih sama kelanjutan ceritanya… :p
    Itu si ketua Squad-nya Sunggyu bukan ya?😛 semoga aja iya… :p
    Terus si Jaehyo kehujanan sampe basah kuyup itu pasti gara2 payungnya dipinjem sama Dongwoo… wkwk… #ngarangluarbiasa
    wkwkwk… maaf, malah ngerusuh… ^^v
    aku tunggu kelanjutannya yaaaaaaaaaaa….😀😀😀

    • wahaha iya cepet rilis soalnya waktu SMA aku buat ff nya, wajtu itu udah sampai chapter 3 jadi pasti sampai chapter 3 rilisnya cepet kkk makasih ya dear❤
      ciee kita 96rs ayo toss dulu! #VirtualHigh5 *plak

      syukurlah kalau bikin penasaran, syukurlah :""D
      hmm iya bukan ya? ditunggu aja ya chapter 4 nya [SPOILERALERTCHAPTER4PENGENALANSUPORTINGCASTS]

      sebenernya ga mau kasih tau sih cuma tebakanmu tepat, payungnya diambil sama Dongwoo😂😂😂

      sekali lagi makasih banyak yaaa udah may baca dan ninggalin jejak❤

      lavlav😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s