Seoul Boys‘ High School [Chapter 1]

Maaf sebelumnya terjadi kesalahan tanggal publish, tapi sekarang sudah direvisi kok. Maaf :“3

Raditri Park Presents

SBHS Chapter 1

Seoul Boys’ High School [Chapter 1]

Genre : School life, Friendship, Family, Romance, Little comedy*maybe*
Length : Chaptered
Rated : PG-16
Cast(s) : – EXO’s member  – Lee Song Hye [OC]
Support Cast : – Super Junior’s member

Desclaimer : The Original Cast (OC) just my imagination and that’smine. And the other cast or artist name aren’t mine, theirs belong tothemselves. But, the story-line is originally of Tamara (Raditri Park).
SO, DO NOT BASHING!! DO NOT PLAGIAT!! ^^

Warning : Typo(s)

Note : Sesuai sama janjiku, Chapter 1 aku publish di pertengahan Agustus ya🙂 Fanfic ini melewati beberapa revisi sebelum di-publish ulang #halah Aku tebak banyak yang udah bisa nebak kek gimana ini cerita pas baca chapter akhir ff ini muehhehe.

Teaser |

Enjoy reading^^

 

Seorang pria yang bisa dikatakan tampan, manis, dan cantik untuk ukuran pria sedang berdiri di depan sebuah gerbang sekolah. Lima belas menit yang lalu ia baru turun dari bus di halte yang tak jauh dari tempat ini. Dan sekarang, ia masih tetap berdiri di depan gerbang ini sejak sepuluh menit yang lalu.

Kepalanya bergerak-gerak mengamati keadaan di dalam gerbang. Melihat-lihat gedung besar dan halaman yang sangat luas di dalamnya. Tentu saja sekolah ini luas karena menyediakan  asrama untuk murid-muridnya. Dan semua murid diwajibkan untuk tinggal di asrama. Sekolahan ini memiliki peraturan yang cukup ketat untuk murid-muridnya yang dimana sekolah ini dikhususkan untuk murid laki-laki. Seoul Boys’ High School.

“Bagaimana ini?” pria itu mendesah pelan. Ia ragu untuk masuk atau tidak.

Pria itu telah lengkap dengan seragamnya. Grey blazer berkancing dua yang dikancingkan semua, seragam putih bermodel kemeja yang tampak rapi dari luar blazer, dasi panjang berwarna hitam yang terlipat rapi hampir mengikat lehernya. Pria ini sepertinya cukup rapi. Hal itu juga dapat dilihat dari lipatan hasil setrika yang tampak jelas di bagian celana. Tidak lupa dengan sepatu ketsnya yang berwarna hitam dan bertali putih yang terikat dengan rapi pula.

Mata pria itu mendelik melihat jam tangannya. 08.30 A.M.

“Hei, kau!” seorang satpam menghampirinya dari balik gerbang sekolah sambil mengacungkan tongkat satpam ke arahnya. “Kau mau mencoba kabur ya!”

“A-aniyo.” Pria itu juga menggerakkan kedua tangan sebagai pengungkapannya.

“Kau… kau murid baru itu?” tanya sang satpam begitu melihat dua koper super besar di kanan-kiri pria itu. Dan sebuah tas ransel hitam di balik punggungnya.

Ne… ne… itu aku,” jawab pria itu penuh nada antusias.

“Bagaimana kau bisa telat. Baru saja menjadi murid baru sudah melanggar peraturan. Bagaimana kau bisa menjalani hari-harimu nanti.” Marah sang satpam sambil membuka pintu gerbang sekolah dan membiarkan pria itu masuk.

Pria itu langsung membungkukkan badannya. “Mianhamnida Ahjussi, aku tadi ketinggalan bus.”

“Hashh, itu adalah satu diantara banyak alasan yang sering kudengar. Baiklah, karena kau murid baru aku tidak akan menghukummu. Jadi, sekarang kau bisa langsung masuk ke kelasmu. Tapi sebelum itu simpanlah dulu kedua kopermu itu di kamarmu.”

“Hahh.” Wajahnya berubah senang. Gamsahamnida… gamsahamnida Ahjussi.” Dan kembali membungkukkan badannya berkali-kali lalu segera pergi meninggalkan si satpam sambil menarik kedua kopernya.

Satpam itu berteriak. “Hei bocah, aku tak perlu mengantarmu, kan?!”

Aniyo Ahjussi, aku sudah tahu tempatnya,” sahutnya dari kejauhan tanpa meninggalkan wajahnya yang tampak senang.

Ahjussi dia bilang?! Bocah itu, kenapa ceria sekali,” gumam sang satpam yang masih menatapnya.

oOo

Ruang kelas itu cukup tenang karena Heenim saem yang sedang mengajar saat ini. Heenim saem adalah nama panggilan dari guru itu. Nama panjangnya Kim Heechul. Ia terbilang guru yang cukup muda untuk mengajar di sekolah ini. Saat ini ia masih melanjutkan pasca sarjananya di Universitas Sangji. Dan mengajar matematika di Seoul Boys’ High School adalah pekerjaan sampingannya selain menjadi mahasiswa.

Karena wajahnya yang lumayan cantik bagi seorang pria, banyak yang beranggapan sikapnya akan sama dengan wajahnya. Namun, begitu tahu tabiat asli seorang Kim Heechul, 5 bulan setelah 6 bulan lamanya ia mengajar di sini, banyak murid yang langsung memberikan predikat guru killer padanya. Begitu ia tahu ia mendapat predikat itu, bukannya berkurang tapi kekerasannya dalam mengajar malah menjadi. Ia tak akan segan-segan menghukum siapapun yang tak mau maju mengerjakan soal di depan kelas. Ia juga akan menghukum jika soal yang dijawabnya itu salah. Dan hukumannyapun bermacam-macam. Ada yang pernah disuruhnya untuk berjemur ditengah lapangan, berlari melewati tangga dari lantai 1 sampai lantai 5
gedung kelas ini bahkan ada yang disuruhnya sampai ke rooftop–atap teratas gedung ini. Dan berkeliling berkali-kali.

Banyak muridnya yang melakukan protes. Tapi Kim Heechul selalu memiliki alasan. Ia selalu mengatakan bahwa sekolah khusus pria seperti ini perlu diberikan metode pengajaran seperti miliknya.

Saat ini, guru itu sedang menekuni bukunya dari balik kacamatanya. Duduk tenang di kursinya sambil menunggu para muridnya mengerjakan tugas yang diberikan olehnya 5 menit yang lalu.

Sementara itu, satu murid yang bertempat duduk di urutan kedua dari belakang di deretan ketiga dari kiri sedang menundukkan wajahnya. Kedua tangannya berada di bawah meja.

Sreekk~

Suara itu cukup panjang dan pelan, namun mampu mengusik keheningan kelas.

Sreeekk sreek srek srek.

Kertas. Itu suara kertas yang dirobek.

Seorang pria yang duduk di depannya langsung menoleh padanya, merasa terganggu.

“Chanyeol-ah, apa yang kau lakukan?” bisiknya sangat pelan. Bahkan, pria yang ia panggil Chanyeol itu hampir tidak mendengar suaranya.

“Apa?” Chanyeol ikut berbisik. Tapi karena tipe suaranya yang berat dan serak. Sekalipun ia berbisik akan terdengar suaranya yang berisik.

“Kau ini, apa yang kau lakukan?” suara pria itu bertambah setengah oktaf.

Chanyeol malah menyeringai lalu menoleh pelan ke sebelah kanannya. Melihat seorang pria yang sedang bertelungkup di atas buku tulis di mejanya. Wajahnya menghadap ke arah Chanyeol dengan kedua matanya yang menutup nyaman.

Chanyeol tersenyum jahil. “Hyunnie-ya, menurutmu apa yang harus kita lakukan padanya?” ujarnya dengan masih berbisik.

“Sudah kukatakan jangan memanggilku seperti itu! Namaku itu sudah bagus, Byun Baekhyun. Panggilan seperti itu sangat kekanakan, kau tahu!!” dengus Baekhyun dengan penuh nada sebal dan langsung memalingkan wajahnya lalu menekuri bukunya kembali.

“Hasyaahh… ne~ ne~ kerjakan saja tugasmu itu, bocah rajin!” balasnya tak kalah sebal, dan ia tak menyadari suaranya naik beberapa oktaf dari bisikannya.

Chanyeol mendengus kesal lalu menoleh lagi ke sebelah kanannya. Kedua tangannya meremas-remas kertas yang telah ia sobek. Dengan pelan, tangan kanannya terangkat lalu… puk!

“Aiissshh, aku terlalu bersemangat,” umpat Chanyeol kesal.

Kertas yang tak berbentuk itu hampir mengenai pria di sebelah kanan pria yang bertelungkup itu dan tak mengenainya sama sekali.

“Lihat saja, kertasku ini pasti akan mengenai hidungnya yang ia bilang mancung itu,” gumamnya dengan suaranya yang sedikit besar. Tangan kirinya mulai terangkat pelan. Matanya menatap fokus hidung pria itu. Ia pernah mendengar dari beberapa orang bahwa jika fokus pada satu hal, maka kemungkinan besar akan berhasil. Dan menurutnya, hal itu berlaku juga untuk saat ini.

Tangan kirinya yang menggenggam kertas berada di depan wajahnya, bersiap untuk melempar dan….

“Chanyeol-ah, kerjakan soal nomor satu di depan kelas sekarang juga!”

Chanyeol terlonjak kaget, begitu pula teman-teman sekelasnya kecuali pria yang hendak ia lempari kertas. Matanya masih menutup nyaman, seolah ia sedang tidur di kamarnya sendiri tanpa ada siapapun.

Wajah Chanyeol tampak tegang melihat Heenim saem yang sudah berdiri ditengah-tengah kelas menatapnya galak.

“Cepat maju ke depan!! Kau tunggu apa lagi?!”

“T-ta…” Chanyeol ingin berkata bahwa ia belum mengerjakan satu soalpun. Tapi jika ia mengatakan kata ‘tapi’, ia tidak bisa membayangkan hal apa yang akan terjadi padanya.

“B-Baekhyun,” bisik Chanyeol memanggil teman yang duduk di depannya itu.

“Baekhyun,” ulangnya penuh penekanan. Baekhyun terdiam, berpura-pura tak mendengar rintihan apapun. Ia hanya menunduk, berharap kemarahan Heenim saem tak berpindah padanya. Karena ia menyadari, ia tadi sempat berisik bersama Chanyeol.

“Chanyeol-ah.” Intonasi suara Heenim saem bertambah. Tangan kanannya mulai berkacak pinggang dan tangan kirinya terangkat membenarkan letak kacamata berbingkai hitamnya.

“Oke!! Kalau begitu kau-“ suaranya terputus ketika ia melihat semua muridnya menatap ke arah pintu, membuatnya ikut menoleh. Heenim saem mendapati seorang pria yang berdiri di ambang pintu. Pria yang terkenal dengan senyumnya yang memunculkan lesung pipi di pipinya sebelah kiri. Pria yang ia kenal sebagai kepala sekolah Seoul Boys’ High School, Park Jung Soo. Tapi, banyak muridnya yang memanggilnya Leeteuk-nim. Park Jung Soo tipikal orang yang ramah dan selalu tersenyum, jadi ia mengijinkan murid-muridnya untuk memanggil nama panggilannya.
Kini, Park Jung Soo menatap Heechul dan murid-muridnya sambil tersenyum, lalu mulai membuka suara. “Maaf Heechul-nim, sedikit mengganggu kelasmu hari ini. Karena kelas ini akan mendapatkan murid baru.”

Semua murid di kelas itu berseru, dan menjadi sedikit ramai.

“Jadi murid baru itu masuk di kelas ini,” gumam Chanyeol di tempat duduknya. Lalu bibirnya tersenyum miring. Berita soal adanya murid baru di sekolah ini sudah menyebar beberapa hari yang lalu dan mereka cukup menunggu hal itu.

“Kemarilah.” Jung Soo membalikkan sedikit tubuhnya dan membuka tangannya untuk memberi jalan pada murid baru yang dimaksud, yang ternyata sedari tadi berada di balik punggungnya. Murid-murid di dalam kelas cukup terkejut melihatnya.

“Masuklah. Sapalah teman-teman barumu.”

Ne~ gamsahamnida Jung Soo-nim.” Murid baru itu membungkuk pada Jung Soo lalu berjalan memasuki kelas.

“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali dan hadapi teman-teman barumu.” Nasehat Jung Soo lalu memberikan senyuman menenangkannya. Senyuman yang dia berikan pada murid barunya hari ini. Lalu menepuk dua kali pundak murid baru itu pelan sebelum berlalu meninggalkannya.

Beberapa saat kemudian, Heenim saem memberikan waktunya untuk perkenalan murid baru itu. Murid baru itu kini berdiri di depan kelas dan menjadi perhatian semua mata. Ia menatap seluruh murid dengan pandangannya yang hampir kosong. Untuk sejenak ia terdiam. Tapi sepertinya sedikit lama hingga membuat Heenim saem berbicara.

“Ayo, perkenalkan namamu. Kau bisa memulainya sekarang,” ujar Heenim saem sambil melipat kedua tangannya dan menyandarkan pinggulnya di sisi meja.

“Ah!” murid baru itu seperti baru tersadar dari lamunan. “Ne,” jawabnya mantab.

Murid baru itu menghela napasnya sejenak lalu mencoba tersenyum memberikan kesan yang baik untuk di awal perkenalan.

“Annyeonghaseyo.” Murid baru itu membungkuk sopan. “Jeoneun Kim Donghyun imnida. Sebelum aku masuk di sekolah ini aku bersekolah dan tinggal di Amerika. Lalu beberapa bulan terakhir aku mulai berpikir dan aku harus melalukan sesuatu, aku tidak boleh meninggalkan Korea terlalu lama dan akhirnya kuputuskan untuk kembali ke Korea. Dan aku langsung memilih sekolah ini untuk melanjutkan study -ku. Mohon bantuannya.” Murid baru yang bernama Kim Donghyun itu membungkuk lagi, menunjukkan kesopanannya. Lalu ia mencoba untuk tersenyum. Donghyun memang pria yang cukup manis, tapi tidak cukup dikatakan keren karena wajahnya yang cantik seperti seorang gadis idola. Bahkan melebihi Kim Heechul.

Tiba-tiba salah seorang pria yang bermata sipit mengangkat tangannya lalu bersuara, “Kenapa dari Amerika kau langsung memilih sekolah ini? Apa kau memiliki alasan tertentu?”

Untuk sejenak Donghyun memandangi lantai putih di depannya. “Tentu saja karena aku ingin melanjutkan sekolahku di sini. Dan kudengar ada banyak hal menarik di sekolah ini, maka dari itu aku kemari. Dan begitulah~.” Donghyun tersenyum lagi.

“Menurutku kau aneh.” Pria itu bersuara lagi dengan kalimat yang mengejutkan, membuat semua mata menatapnya. “Kau dari Amerika lalu pindah kemari dan memilih bersekolah di sekolah khusus pria. Aku rasa kau memiliki alasan juga untuk itu. Kalau aku, aku lebih memilih menetap di Amerika. Di sini tidak ada gadisnya, sedangkan di Amerika di manapun mata melihat, pasti ada gadisnya. Lalu anehnya, kau itu malah-“

“Tao! Kalau kau ingin berbicara terus tidak di jam pelajaranku. Berbicaralah sampai puas, tapi di luar kelas ini. Mengerti!” Heenim saem melotot ke arah pria yang dipanggilnya Tao.

Tao menunduk. Bukannya takut, tapi berusaha menyembunyikan mulutnya yang bergerak-gerak, mencibir Heenim saem tanpa suara. Sedangkan teman-temannya yang duduk di sekitarnya menahan kikikan atas ulahnya.

“Baiklah. Kim Donghyun kau duduk di…” Heenim saem berhenti sesaat dan mengedarkan pandangannya. “Chanyeol, kau pindah tempat duduk di depan Jong In. Dan biarkan Donghyun duduk di tempatmu. Aku tidak bisa membiarkanmu duduk di sana, karena aku tidak bisa memperhatikanmu. Kalau kau terus di sana, nilaimu tidak akan bertambah dan malah merosot.”

“T-tapi Sonsaengnim, itu tidak bisa,” bela Chanyeol.

“Tidak apa-apa Sonsaengmin, aku akan duduk di tempat yang telah ada. Lagipula, tempat di mana siswa duduk tidak sepenuhnya akan mempengaruhi baik buruknya pelajaran yang diterima oleh siswa itu. Semua bergantung pada pribadi masing-masing dan usahanya. Aku rasa hal ini tidak perlu adanya kekerasan, karena setiap murid pasti memilki alasan tersendiri dengan apa yang telah dipilihnya. Itu menurutku.” Donghyun berbicara panjang lebar dengan wajah polosnya, membuat semua murid menatapnya seksama, sekaligus was-was.

“Hahh.” Heenim saem hanya bisa menatap Donghyun yang berjalan ke kursinya dengan tatapan tidak percaya. Baru kali ini guru itu hanya terdiam saat kalimatnya dibantah oleh muridnya. Biasanya ia akan sangat marah jika murid-muridnya di Seoul Boys’ High School menentangnya, Heenim saem pasti akan memanggilnya ke ruangannya setelah semua jam mapel selesai dan mungkin akan memarahinya lebih panjang di sana. Ya, itu pernah terjadi pada beberapa murid di sekolah ini. Kecuali, jika Heenim saem berhadapan dengan wanita. Hal itu akan sangat berbeda. Dan kini, konsep pemikirannya berbeda pada murid prianya yang bernama Kim Donghyun.

Sementara itu, Donghyun terus berjalan menuju kursinya. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria bertelungkup di atas mejanya, tepat di belakang kursi kosong yang akan dia tempati.

Donghyun memandangnya sesaat lalu mengerut bingung. “Pria ini tidur?” gumamnya.

Dan saat itu juga, Heenim saem tahu keadaan itu, lalu berteriak dengan keras. “JONG IN!!! KELUAR DARI KELASKU SEKARANG JUGA!!!”

oOo

Donghyun sedang merapikan loker barunya. Ia bisa menyimpan benda-benda pentingnya di sana, dan itu akan sangat membantunya. Ia akan menyimpan kunci lokernya dengan baik.

Setelah dirasanya cukup, bibirnya terangkat tersenyum simpul. Lalu ia menutup dan mengunci lokernya. Ketika ia hendak berjalan, ia dikagetkan oleh seseorang yang bersandar tepat di sebelah lokernya dan sedang menatapnya.

Jantungnya berdegub keras karena kaget. Donghyun menangkap mata pria itu menatapnya secara intens dari rambut hitam lurusnya yang bermodel pretty thick straight hingga ujung sepatu.

“Ada apa?” tanya Donghyun dengan nada sedikit dingin.

“Ternyata kau tidak lebih tinggi dari yang kukira.” Pria itu menegakkan tubuhnya yang sebelumnya bersandar di loker.

“Oh.” Donghyun bergumam pelan lalu menatap tajam pria itu. “Memangnya kalau bersekolah di sini harus memiliki badan yang tinggi.”

“Aku tidak berkata seperti itu.”

“Tapi maksudmu seperti itu. Kau melihatku seolah aku paling pendek diantara yang lain.”

“Apa benar kau yang bernama Donghyun?!”

“Apa?” Donghyun mengerutkan keningnya bingung. Ia mendengar kalimat pria itu, tapi ia hanya ingin memastikannya. Ia seperti pernah melihat pria yang berponi hampir menutupi dahinya itu. Bukankah dia-

“Hei, Kim Jong In,” sapa Baekhyun yang tiba-tiba muncul di antara mereka.

Jong In si pria tidur itu, teriak Donghyun dalam hati ketika ia mengingat pertemuannya di kelas tadi.

“Donghyun.” Baekhyun menatapnya antusias lalu mengulurkan tangannya. “Aku Baekhyun, yang duduk di sebelah kiri mejamu tadi.”

“Ne.” Donghyun membalas ulurannya.

“Aku salut padamu karena berani berbicara dengan Heenim saem.”

Donghyun lagi-lagi mengerutkan keningnya bingung. Memangnya Heenimsaem kenapa, batinnya.

“Kenapa kalian masih berdiri di sini? Ayo kita langsung ke kolam renang. Istirahat pergantian jam hanya 10 menit.”

“Kalian duluan saja, aku akan mengambil perlengkapanku di asrama.” JongIn mengunci lokernya lalu berjalan menjauhi Baekhyun dan Donghyun.

“Kenapa dia dari dulu seperti itu. Kadang-kadang malas, kadang-kadang rajin,” gumam Baekhyun membuat Donghyun menatap punggung Jong In yang menjauh.

Tiba-tiba Baekhyun meraih bahu Donghyun cepat lalu mengajaknya berjalan, berbalik arah dengan langkah Jong In. Karena tubuh Donghyun yang sedikit pendek membuat Baekhyun mudah meraih bahunya.

“Karena kita sudah berteman, kita akan ke kolam renang bersama-sama,” ucapnya dengan nada cukup ceria.

“Untuk apa?”

“Apa kau tidak tahu setelah jam pelajaran dari Heenim saem kita akan langsung masuk ke jam olahraga, dan kebetulan jadwal yang didapat kelas kita hari ini adalah berenang.”

“Berenang?!!” Donghyun langsung berhenti berjalan dan menatap Baekhyun serius. “Kau bilang berenang??!”

 

TBC

A.N: Aku tau ff kek gini tu pasaran dan (jelas) mudah ditebak. Tapi apa kalian masih bisa menebak di chapter berikutnya? #sokmisterius

Silakan cuss yang mau komen, kritik, saran… well, aku masih menerapkan peminat di ff chapter ini, kalo ada peminat aku terusin kalo engga yaudah—bubay😄 (pengen tau alasannya?! buka note akhir di Teaser :””3)
Jadi yang mau ff ini lanjut, silakan komen. Semakin banyak minat/komen di tiap chapter lanjutan, semakin cepat ff selanjutnya untuk publish. ga ada komen = ga ada peminat / 1 komen = 1 peminat :”3
[ini beneran gak maksa kok sumpah! cuman aku akan menilai peminat ff dari jumlah komen :”33]

Makasih sebelumnya yang sudah berkunjung baca hingga akhir :”3

Oya ada tambahan… karena di era Growl EXO punya kostum ala seragam Senior High yang banyak, jadi di ff ini aku pake yang kek gini ya (look at the picture bellow) jadi bayanginnya pake ini aja :3

EXO-School-Uniform-in-Growl-kpopfanz-37208705-500-434

5 responses to “Seoul Boys‘ High School [Chapter 1]

  1. Aku langsung komen disini aja ya😀

    Iya sih, memang sedikit mudah ditebak

    Donghyun itu cwe kan ya?

    G ada salah juga bikin cerita yang sudah banyak dipakai idenya
    tapi kan style nya beda2 >.<

    Maaf ni ya
    pertama baca g tau kenapa feel nya itu kek drama To The Beautiful You
    *itu menurut aku aja sih*

    Pengen tau kelanjutan ceritanya😀
    Next chap ditunggu

    Ohya, Luhan belum keluar ya
    hahahaha

    Dia jadi Lead cast barengan Chanyeol sama Kai kah?
    *Sok tau*

    Apapun itu, semangat nulisnya ya
    Sedikit saran aja
    Untuk pemilihan katanya aja si
    biar g double2 gitu
    *mudah2an paham*😀

  2. Huuuuiiihhhh byangin heechul greget kkkkk~ eeyhhh…chanyeol iseng bgt sihhh, untung lahh ada leeteuk yg bwa mrid bru, next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s