[Series] Will You Be My Bride? (9 END)

WIYBmBL

Link Will You Be My Bride?: (Part 1Part 2Part 3 Part 4Part 5Part 6Part 7 Part 8Part 9 [END] Released)

| Will You Be My Bride? |

| Kim Liah (B2utyinspirited.wordpress.com |

| Chapter |

| Xi Luhan, Park Jiyeon |

| Byun Baekhyun, Kim Nahyun, Yoo Ara, Do Kyungsoo |

| Romance, Friendship, Marriage Life |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) BASED ON NOVIA STEFANI’s CERPEN |

NOTE: Ini FF (Luhan Version) remake dari cerpen yang sudah sering dijadikan FF juga. Jadi harap maklum kalau idenya hampir mirip, tapi untuk keseluruhan cerita akan saya kembangkan sendiri. FF ini sudah pernah saya post di WP pribadi dengan cast lain

 

.

.

.

Jiyeon pindahkan rengkuhan lengan Luhan dari pinggangnya dan menyelimutinya lalu duduk memeluk lututnya sambil memandang wajah pria yang merupakan sahabat sekaligus suami simulasinya itu. Diwajah tampan itu ia masih bisa melihat kesedihan karna kehilangan ibu mertuanya. Pikirannya mulai meramu berbagai kejadian yang sudah ia alami selama dua bulan pernikahannya.

Sungguh ia tak menyangka dengan pengakuan Luhan beberapa jam lalu mengenai perasaannya kepadanya. Bagaimana bisa sahabatnya itu menaruh hati padanya sejak awal pertemuan mereka 15 tahun lalu? Dan bagaimana bisa pula ia tak peka sama sekali dengan perasaan sahabatnya itu? Ia tertawa kecil, simulasi, kata itu hanya sebuah jalan bagi Luhan untuk bisa menikahinya dan mungkin dia juga berharap agar pernikahan simulasi mereka bukan hanya berakhir seperti yang mereka rencanakan diawal.

Seorang Xi Luhan menikahinya dengan serius dan bukan hanya bermotif permainan belaka. Sementara ia selama ini sudah terbodohi dengan ide dan makna terpendam Luhan. Sebuah angan-angan kecil terlintas dipikirannya, seandainya dulu Luhan benar-benar melamarnya dan mengajaknya menikah sungguhan tanpa embel-embel simulasi, apa ia akan menerimanya?

“Pabo” ia belai wajah terlelap Luhan dengan lembut. “Kenapa kau tak jujur padaku, Xiao Lu-ya?” gumamnya kemudian.

Menilik bagaimana ia mempercayai Luhan, sudah pasti ia akan menerima ajakan Luhan menikah meski diawal ia akan merasa aneh seaneh kehidupan pernikahan mereka diawal dimana ia merasa canggung dengan status barunya sebagai nyonya Xi. Tapi setidaknya ia tahu diawal kalau sahabatnya ini memang sungguh-sungguh memperistrinya dan bukan hanya sekedar simulasi semata.

Meski ia menyetujui ide gila Luhan, namun ia juga was-was kalau suatu saat ia akan menjabat sebagai janda. Cukup ia berpredikat mantan kekasih dari beberapa mantan kekasihnya saja, ia tak ingin menjadi mantan istri juga. Ia ingin kehidupan pernikahan yang bahagia seperti angan-angannya dulu, ia tak ingin hidup menderita seperti ibunya yang harus menahan sakit diduakan.

Sebenarnya ia sama sekali belum ada keinginan bercerai dari Luhan jika saja Baekhyun tak menyapanya lagi. Mantan kekasih yang masih mengisi ntah sebagian hatinya atau masih seluruhnya seperti dulu itu sungguh sangat menggodanya. Satu yang ia percaya dari Baekhyun bahwa ia mencintai Baekhyun dan begitu pula sebaliknya sehingga tidak menutup kemungkinan ia akan hidup bahagia selamanya seperti angan-angannya.

Sekali lagi ia menghela nafas dan memantapkan dirinya dengan keputusan yang sudah ia pikir matang-matang 4 jam ini. Tangannya terarah pada ponsel tipis dinakas ranjangnya dan menekan nomor yang sudah ia hafal, Baekhyun. Ia berjalan menuju jendela kaca yang menghubungkannya ke taman samping rumahnya. Ayunan yang pernah Luhan pamerkan sebagai hadiah pernikahan kedua bulannya menjadi sandaran ternyamannya saat ini.

“Jiyeon-a, kenapa kau menelponku selarut ini? Apa terjadi sesuatu? Neo gwaenchana?” suara Baekhyun terdengar khawatir diseberang sana.

“Eoh gwaenchana” Jiyeon amati kolam ikan didepannya yang terpantulkan cahaya bulan “Aku sudah bicara dengan Luhan” lirihnya.

“Jincha?” suara Baekhyun penuh kelegaan dan rasa bangga karna ia akhirnya bisa mendapatkan cintanya kembali “Kapan kalian akan bercerai?” lanjutnya.

“Aku terpaksa menunda proses perceraian itu”

“Mwo?”

“Luhan baru saja kehilangan eomma-nya. Rasanya tidak pantas bicara soal perceraian saat ini.”

“Berapa lama?”

Jiyeon menghendikkan bahunya “Entahlah. Sebulan dua bulan mungkin.”

“Itu terlalu lama Jiyeon-a. Kau tahu waktu kita sangat terbatas. Aku tidak bisa menunda kepulanganku ke Swiss” Baekhyun memang hanya memiliki waktu sebentar disini selama menyelesaikan bisnisnya yang ada di Seoul “…dan aku tidak tahu kapan aku bisa kembali ke sini lagi” ia mengambil jeda dan suaranya kembali terdengar seolah memaksa “Mungkin tidak dalam setahun atau dua tahun ke depan. Jincha kita akan kehilangan waktu yang mestinya bisa kita lewati berdua.”

“Aku tahu, Baekhyun-a. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Luhan sekarang. Dia membutuhkan aku.”

“Aku lebih membutuhkanmu dari dia, Jiyeon-a. Dan pikirkan dirimu sendiri. Apa kau tidak ingin kita bisa seterusnya bersama?”

Jiyeon menghela napas panjang. Ntah mengapa ia sungguh terganggu dengan desakan Baekhyun yang terdengar egois dan memaksa. “Entahlah, Baekhyun-a” lirihnya sambil mengamati ikan koi dikolam.

“Apa maksudmu, Jiyeon-a?” suara Baekhyun terdengar kaget.

“Aku …. Aku tidak akan bahagia kalau Luhan menderita.”

Jiyeon sudah memikirkan semua pengorbanan Luhan selama ini, ya meskipun motif pernikahan mereka adalah menikahinya tapi berkat kemauan Luhan menikahinya pula kini ia tidak lagi didesak oleh eomma-nya untuk menikah dan ia juga sudah membahagiakan semua orang termasuk keluarga besar Luhan. Terlebih lagi Luhan selama ini sudah memperlakukannya dengan baik, dia sudah menjadi suami yang teramat baik baginya, suami yang memahaminya melebihi siapapun, mungkin melebihi Baekhyun yang hanya dua tahun menjalin hubungan dengannya dulu.

“Park Jiyeon! Kau tidak …. Dengar, pikir baik- baik. Menurutmu, kalau kau tersiksa hidup dengannya, ia akan bahagia?” suara Baekhyun sekarang terdengar menggertak dan ini benar-benar membuat Jiyeon muak.

“Aku tidak merasa menderita menjadi istrinya.”

Bahkan sebaliknya Luhan yang menderita selama ini, menderita menahan cinta terpendamnya, motif tersembunyinya dan segala kelakuan buruknya yang membuat Luhan geleng kepala. Namun pria itu dengan sabar menunggu semuanya dan menyelesaikannya dengan sabar. Bagaimana Luhan bisa sabar memendam rasa cintanya selama puluhan tahun? Bagaimana bisa pula Luhan tahan menghadapi sikap kekanak-kanakannya yang bertolak belakang dengannya?

“Tapi kau tidak bahagia!”

Aku bahagia, Baekhyun-a. Mungkin tidak seperti saat aku bersamamu. Tapi Luhan membuatku bahagia.”

Luhan tak pernah sekalipun sengaja membuatnya bersedih, pria itu selalu berusaha keras membahagiakannya dan Jiyeon juga merasa bahagia menjalani jabatannya sebagai istri. Ia selalu diperhatikan diam-diam oleh Luhan.

“Kau tidak bisa melakukan ini, Jiyeon-a. Kau hanya kasihan kepadanya. Sebentar lagi kau akan berubah pikiran dan saat itu kau akan menyesal karena membuang kesempatan ini.”

“Aku bisa belajar memaafkan diriku sendiri.”

Kasihan? Apa benar ia kasihan pada Luhan? Jikapun nanti ia menyesal, ia tetap harus berusaha menjalani apapun sebab dari keputusannya kelak.

“Jiyeon-a, kau tidak mencintainya!” tegas Baekhyun, bagaimana bisa Jiyeon berubah pikiran seperti ini?

“Ia mencintaiku. Itu lebih dari cukup.”

Ntah mengapa bibirnya berucap yang berlainan dengan rencana awalnya tadi. Sebenarnya tadi ia tetap teguh dengan keputusannya kemarin untuk bercerai dari Luhan. Namun ntah mengapa sekarang ia berkata seperti ini.

“Kau hanya bingung, Jiyeon-a” Baekhyun menghela nafas mencoba menolak asumsi dari perkataan Jiyeon yang bisa bermakna berlainan dari rencana awal mereka. “Arraseo, kau bingung. Tapi apa kau lupa kalau aku sangat mencintaimu?”

“Aku tidak pernah akan lupa, Baekhyun-a”

“Lantas apa yang membuatmu berubah pikiran secepat ini?”

Luhan mengajariku tentang cinta.”

Benar Luhan mengajarinya bahwa cinta itu tak harus memiliki apalagi memaksakan kehendak. Bahkan cinta itu adalah sebuah bentuk kesetiaan dari sebuah penantian panjang.

“Hanya karena itu?”

“Juga karena aku yakin, aku akan belajar mencintainya.”

Jika Luhan saja bisa belajar memahami segala sifat buruknya kenapa Jiyeon tak mampu belajar membalasa cinta terpendamnya?

“Park Jiyeon!” Sungguh Baekhyun tak habis pikir dengan perubahan keputusan Jiyeon saat ini.

“Selamat tinggal, Baekhyun-a. Mudah-mudahan kau akan sebahagia aku nantinya atau mungkin lebih bahagia lagi.”

Meski berat melepas cintanya, namun Jiyeon yakin semua ini adalah keputusan yang terbaik baginya dan bagi semuanya. Tanpa menunggu sanggahan dari Baekhyun, segera saja ia menutup sambungan telpon. Terlebih lagi air mata mulai terurai dipipinya.

“Jiyeonie”

Sejak Jiyeon bercengkrama membahas apa ia menderita menikah dengan Luhan, sejak itu pula Luhan terbangun dan mencari keberadaan Jiyeon hingga ia terpaku didepan jendela kaca untuk mencuri dengar panggilan Jiyeon dan Baekhyun. Ya meski ia harus siap mendengar kenyataan pahit.

Jiyeon tersentak dan berbalik seketika. Entah sudah berapa lama Luhan berdiri di belakangnya. Wajahnya penuh tanda tanya dan dia menggeleng perlahan sambil duduk di ayunan bersampingan dengannya.

“Wae irae Jiyeonie?” tanyan Luhan, ia masih belum percaya dengan apa yang sudah ia dengar tadi.

Jiyeon tak bisa menjawab. Air matanya menetes satu-satu dan dengan lembut Luhan menyeka pipi Jiyeon dengan jarinya.

“Aku tak bisa melihatmu begini” Luhan tertawa pahit “Ini keputusan yang sangat konyol, Jiyeonie. Kau benar-benar akan membiarkan kesempatanmu berlalu
sekali lagi?”

Jiyeon mengangguk mantap, mungkin ada hikmah kenapa dulu dan sekarang ia tak pernah dipersatukan dengan Baekhyun. Kalaupun mereka bersatu, itupun diwaktu yang tak tepat seperti ini. Jika memang Baekhyun adalah pendamping terbaiknya dari Tuhan, kenapa Baekhyun tak datang lebih awal?

“Dia akan membuatmu sangat bahagia, Jiyeonie”

Jiyeon mengangguk membenarkan, semua teori dan fakta mengatakan kalau bersama apa yang diinginkan pasti akan berakhir bahagia.

“Kau akan menyesal.”

Jiyeon kembali mengangguk, benar ia pasti akan menyesal nanti karna sudah melepas kesempatan bersama pria yang dicintainya. Tapi tak ada yang tahu jika penyesalan itu adalah awal dari kebahagiaan yang sebenarnya.

“Kau akan sedih, kecewa ….”

Jiyeon mengangguk lagi, tentu saja ia akan kecewa dan sedih. Semua manusia pasti akan sedih jika berpisah dengan pria yang dicintainya selamanya.

“Kau tidak mencintaiku.”

Kali ini Jiyeon menggeleng, ia mungkin sudah dibutakan dengan nostalgia cinta lamanya yang masih berbekas dihatinya sehingga ia tak menyadari kalau sebenarnya ia menyisakan sedikit tempat untuk cinta barunya.

Luhan terbelalak. “Jiyeonie!” pekiknya tertahan.

“Xiao Lu-ya!” Jiyeon melempar tubuhnya dalam dada Luhan, memeluk elak pria yang ntah sejak kapan sudah mencuri sebagian tempat dihatinya tersebut.

Luhan melepas paksa pelukan Jiyeon “Kau…mencintaiku?” tanyanya tak percaya.

Jiyeon menghela nafas lalu menertawakan ekspresi terkejut Luhan, suaminya ini sungguh lucu disaat terkejut seperti ini. Ia mengangguk “Molla” jawabnya lalu dengan beraninya ia mengecup bibir Luhan sekilas sebagai jawaban sebenarnya.

Sekali lagi Luhan tercengang dengan pandangan kosong, Ada gurat kebahagiaan tiada tara di wajahnya, pendar takjub di matanya dan seulas senyum di bibirnya yang entah masih sulit diartikan. Jiyeon menciumnya? Sahabatnya itu menciumnya? Dan hal ini ia gunakan untuk membuktikan apa yang baru saja ia asumsikan. Ia rengkuh tengkuk Jiyeon dan menciumnya hangat hingga mereka terbawa suasana akan first night yang sempat tertunda.

*

Jiyeon terbangun dari tidurnya, sama seperti semalam ia masih tidur dikamar Luhan dan Luhan masih memeluknya hangat. Hanya saja yang membedakan adalah kondisi mereka saat ini. Kulit bahunya yang putih polos bersentuhan dengan dada bidang Luhan.

Mereka melakukannya semalam, menyatukan hati dan raga mereka. Ia kini seutuhnya milik Luhan, istri sungguhan Luhan dan bukan simulasi lagi. Sungguh malas sekali ia bangun pagi ini, rasanya pelukan dan dada bidang Luhan adalah tempat ternyaman baginya saat ini.

“Selamat pagi, istriku” suara itu terdengar disela pelukan Luhan yang semakin dirapatkan.

“Eoh, pa-pa-pagi Xiao Lu-ya” Jiyeon kembali merasa canggung, meski mereka sudah buka-bukaan bukan hanya isi hati tapi isi pakaian juga tapi tetap ini pertama baginya.

“Aku akan meliburkan diri hari ini” Luhan mengecup puncak kepala Jiyeon.

“Andwae” Jiyeon terlonjak duduk sambil menutupi dadanya dengan selimut putih itu “Kita harus bekerja” ia ingin bangkit berdiri tapi selimut itu hanya satu dan menutupi tubuh mereka berdua “Tutup matamu” pintanya lalu hendak memakai gaun hitam yang sejak kemarin belum ia ganti semenjak kepulangan dari rumah keluarga Xi.

“Waeyo? Kita kan sudah…” tatapan mata tajam Jiyeon membuat Luhan tak mampu mengelak “Arraseo” segera ia pejamkan matanya seperti perintah Jiyeon. Senyum mengembang diwajah tampannya, sungguh ia tak menyangka penantiannya dan kesabarannya berbuah manis sekarang. Jiyeon lebih memilih dirinya, mencintainya dan ia akan memiliki Jiyeon selamanya.

.

Doojoon dan Jin nampak bingung dengan tampang Luhan yang nampak aneh bagi mereka. Kemarin mereka melihat Luhan berwajah kosong seolah-olah tegar di prosesi pemakaman ibunya. Tapi sekarang wajah itu berubah cerah bahkan seolah seperti kelebihan kadar senyum.

“Neo gwaenchana Luhan?” Jin memeriksa kening Luhan, suhunya stabil.

“Jangan seperti ini Xi Luhan! Muntahkan semua kesedihanmu kepada kami dan jangan memendamnya sendiri. Aku tak tega melihatmu seperti ini” Doojoon memeluk Luhan erat, baginya ekspresi wajah Luhan terlihat menakutkan seperti orang tak waras.

“Nado, chingu-ya. Kau aneh sekali jika seperti ini” Jin turut lebur dalam pelukannya pula.

Sementara Luhan hanya memutar bola matanya bingung. Kenapa dua sahabatnya ini tiba-tiba menghampiri meja kerjanya dan memeluknya seperti ini? Padahal ia bekerja dengan wajar saja menyusun rangkaian kode program aplikasi baru yang sedang ia kerjakan di komputer kerjanya.

“Kalian kenapa? Ini masih waktunya bekerja Jin-a, Doojoon-a” tanyanya bingung seraya melepas pelukan dua sahabatnya.

“Jangan memorsir dirimu Luhan, kau seharunya istirahat dirumah saja” saran Doojoon.

“Eoh, aku akan memintakan ijin untukmu Xiao Lu-ya” tambah Jin.

“Yaaa kalian ini. Bagaimana kalian bisa tahu kalau semalam….” Luhan memukul lengan dua sahabatnya, ia mengira arah pembicaran dua sahabatnya ini adalah mengenai first night-nya semalam “Jiyeon melarangku ambil cuti hari ini” lanjutnya.

“Ccckkk, bagaimana bisa Jiyeon-ssi seperti ini padamu. Kenapa dia tak paham juga mengenai situasimu sekarang” Doojoon menggelengkan kepalanya tak percaya.

“Aku tak menyangka istrimu yang cantik itu sejahat itu Xiao Lu-ya” sanggah Jin.

“Yaa kau berlebihan Jin-a. Jiyeon sangat, sangat baik sekali” tolak Luhan dengan senyumannya yang semakin mengembang.

“Kalau dia baik, dia pasti menghiburmu dan menyuruhmu ambil cuti. Apa dia tak merasa kehilangan ibu mertuanya? Arghh nappeun nampyeon” cibir Doojoon.

“Kehilangan? Jadi kalian membicarakan tentang eomma-ku?” Luhan memang masih bersedih dengan kepergian Minyoung, tapi ia sudah tidak terlalu memikirkannya. Mungkin kepergian Minyoung memang terbaik baginya, ia kasihan setiap melihat ibunya dalam kondisi seperti itu. Lagipula kepergian eomma-nya juga membawa kebaikan tersendiri baginya, ia bisa mengungkap isi hatinya dan memiliki Jiyeon seutuhnya. “Gumawo chingu-ya” kali ini ia hanya mampu memeluk dua sahabatnya itu karna sudah mengkhawatirkannya.

.

“Jiyeon-a” Baekhyun masih belum menyerah, ia bahkan mengunjungi kantor Jiyeon hanya untuk menyakinkan Jiyeon bahwa apa yang dikatakan Jiyeon kemarin adalah sebuah kesalahan besar.

Jiyeon duduk dikursi cafetaria tepat didepan Baekhyun,mantan kekasihnya ini sungguh tak menyerah untuk mempengaruhinya lagi. “Kalau kau mencariku hanya untuk merubah pikiranku” ia menatap Baekhyun tanpa rasa gentar “Mian, kau tak akan berhasil Baekhyun-a” lanjutnya.

“Yaaa kau ini bicara apa Jiyeon-a” Baekhyun berusaha merengkuh punggung tangan Jiyeon namun dengan sigap Jiyeon segera menarik tangannya mundur “Geurae aku tak akan memaksamu, tapi dengarkan aku dulu. Kau tak akan bahagia jika hanya terpengaruh dengan kondisi…” ujarnya.

“Anni, tak ada yang mempengaruhiku sama sekali. Semuanya murni bukan karna aku kasihan pada Luhan atau karna keadaannya yang sedang terpuruk” Jiyeon tersenyum mantap “Aku mencintainya” ujarnya.

Baekhyun tertawa meremehkan “Mencintainya? Lucu sekali bagaimana bisa kau mencintainya sedangkan dihatimu masih ada aku, Jiyeon-a” bantahnya.

“Kau salah Baekhyun-ya, kau..” Jiyeon menunjuk Baekhyun dengan telunjuknya “Kau masa lalu dan dia masa depanku. Kau sudah berakhir dan dia awal baruku”

Baekhyun tersentak dengan kalimat Jiyeon, apa benar Jiyeon sudah tak mencintainya lagi? Apa benar dua bulan saja Jiyeon hidup dengan Luhan bisa merubah cinta mereka yang sudah terbina tahunan lebih? “Jiyeon-a, kau…”

“Geumanhe, Baekhyun-a. Aku tegaskan sekali lagi, aku mencintai Luhan. Carilah wanita lain yang jauh lebih baik untukmu” tegas Jiyeon lalu meninggalkan Baekhyun yang nampak frustasi. Rencana manusia dan rencana Tuhan itu tak selamanya sama, Hubungannya dengan Baekhyun yang semula ia harapkan akan jadi masa depan impiannya, terbantahkan begitu saja. Segalanya bisa berubah dengan sangat cepat semudah membalikkan telapak tangan kita.
***

Jiyeon tidak tahu seberapa besar kini ia mencintai Luhan setelah semua yang telah terjadi namun hal itu sudah membuat Luhan begitu bahagia. Sekarang ia benar-benar sedang belajar mencintai Luhan, memulai kembali aktivitas mereka seperti hari-hari awal pernikahan simulasi mereka dan merenda jalinan cinta sesungguhnya yang tidak pernah ada di awal pernikahan mereka yang ia anggap hanya simulasi.

Ia mulai mengagumi segala kelebihan Luhan dan mulai lagi belajar menerima kekurangannya, kebiasaan-kebiasaan buruknya dan segala kekonyolannya. Bahkan ia mulai bersedia menemaninya bermain bola pada akhir pekan meski ia benci panasnya lapangan. Sebaliknya Luhan juga mulai mau memahami makna terselubung dari lukisan-lukisan dan benda antik yang sering mereka lihat di galery.

Awalnya memang sangat sulit dan menyiksa diri namun ketika bad mood itu datang, ia pandangi wajah Luhan yang begitu bahagia saat ia temani dan keantusiasan Luhan bercerita berbagai hal untuk menghiburnya. Ia ingat bahwa Luhan tidak pernah mengeluh saat ia memintanya menemaninya jalan-jalan yang mungkin sebenarnya sangat membosankan baginya. Pengorbanan, ia juga mulai lebih banyak berkorban untuk saling memahami satu sama lain. Pengorbanan mereka berdua dalam menjaga keharmonisan hubungan dalam rumah tangga.

Pengorbanan Luhan bahkan sekarang semakin bertambah saja. Luhan sekarang semakin memanjakannya. Banyak hal yang harusnya Jiyeon lakukan sebagai seorang istri, tapi malah Luhan yang melakukannya. Sebelum berangkat bekerja Luhan masih sempat menyiapkan sarapan untuk Jiyeon. Bahkan jika Jiyeon sedang kelelahan dan tak sempat mencuci bajunya sendiri, dia pula yang mencucikan dan menyetrikanya. Dan herannya Jiyeon tak bisa menolaknya, justru ia menikmatinya karena Luhan selalu melakukan hal-hal itu dengan senyum terkembang yang sulit ia artikan.

Pagi ini Jiyeon berusaha bangun lebih pagi dari biasanya mengalahkan keinginannya untuk tidur lagi setelah subuh. Ia lirik sesosok pria disampingnya, tak seperti biasanya Luhan tidur lagi. Mungkin dia sangat kelelahan setelah semalaman lembur mengerjakan proyek terbarunya. Satu bulan sudah mereka berbagi ranjang bersama, ia tak lagi tidur dikamarnya melainkan dikamar Luhan. Mereka juga bukan hanya tidur seranjang dan berpelukan saja tapi melakukan hal yang lebih layaknya suami istri sungguhan.

Pelan-pelan ia beranjak dari tempat tidur mereka dan menutup pintu dengan pelan agar Luhan tidak terbangun. Tiba-tiba ia buka kembali pintu itu, ingin sekali memandangi Luhan yang tertidur pulas dengan wajah yang sama sekali berbeda dari saat dia sadar dan penuh dengan kekonyolan. Manis juga, pikirnya. Namun semua ia urungkan karna ia akan melakukan niat awalnya bangun lebih pagi.

Ia ingin mempraktekkan resep yang diam-diam telah ia pelajari selama beberapa hari ini bersama Taehee. Ia ingin menyiapkan sarapan untuk Luhan, sarapan yang belum pernah ia siapkan sekalipun untuknya selama mereka menjadi suami-istri. Biasanya Luhan yang selalu  menyiapkan sarapan untuknya. Maklum ia kan tadinya suka bangun telat dan hebatnya lagi hal itu tidak pernah diprotes oleh Luhan.

30 menit ia bergelut dengan bahan masakannya kini air di panci masakannya sudah terdengar mendidih dan sup asparagus jagungnya sudah matang. Ia sendok sedikit untuk menyicipinya, ia sendiri terkesima karna rasanya ternyata lezat. Ia tuang sup itu ke dalam mangkuk dan hendak membawanya ke meja makan, namun ntah mengapa tiba-tiba perutnya terasa mual. Mangkuk itu terjatuh terbelah dua dilantai hingga Luhan terbangun dan berlari menghampirinya.

“Jiyeonie, gwaenchana?” Luhan sampai tak beralas kaki dan menginjak pecahan beling itu. “Kenapa kau memasak segala jika sedang sakit begini” ia memapah Jiyeon duduk di kursi meja makan.

“Anniya, aku sehat Xiao Lu-ya” mata Jiyeon menangkap kaki Luhan yang berdarah “Eommo, kakimu terluka Xiao Lu-ya” mual kembali menyerangnya, segera ia berlari ke wastafel dapur dan memuntah isi perutnya.

“Jiyeonie, kau benar-benar sakit”

“Yaa hati-hati kakimu bisa bertambah sakit Xiao Lu-ya ” cegah Jiyeon seraya membekap mulutnya karna ia merasa mual lagi, namun kali ini hanya perasaan mual saja tak ada lagi yang bisa ia muntahkan karna perutnya kosong.

“Kajja, kau harus benar-benar istirahat” dengan tak mengindahkan perih dikakinya Luhan kembali membimbing Jiyeon ke kamar tidur.

“Ambilkan kotak obat, kita harus membersihkan kakimu Xiao Lu-ya ” pinta Jiyeon.

“Arraseo” Luhan terlebih dahulu menyajikan semangkuk sup dan nasi kepada Jiyeon lalu mengambil kotak obat. “Makanlah dulu lalu minum obat ini” titahnya.

“Anni, kita obati kakimu dulu” Jiyeon bangkit duduk mengangkat kaki Luhan dipangkuannya dan membersihkannya dengan alkohol. “Bagaimana bisa kau mengacuhkan luka dikakimu ini”

“Dan bagaimana bisa kau mengacuhkan mualmu itu hah?” Luhan menyuapi Jiyeon nasi dan sup buatan Jiyeon.

“Aku kan hanya mual sedangkan kau, luka ini bisa infeksi Xiao Lu-ya ” Jiyeon teteskan obat merah dan memerban kaki Luhan.

“Kau lebih penting Jiyeonie, perutmu bisa meledak jika mual terus” Luhan kembali menyuapi Jiyeon namun suapan itu Jiyeon tolak karna Jiyeon merasa mual lagi dan buru-buru ke kamar mandi. Dengan terpincang ia hampiri Jiyeon dikamar mandi dan mengelus punggung Jiyeon. “Sakitmu sepertinya parah sekali Jiyeonie. Kita ambil cuti saja dan ke dokter nanti” tawarnya.

“Anniya Xiao Lu-ya, kau pergi bekerja saja. Ini hanya masuk angin biasa, setelah minum obat pasti juga sembuh”

.

Semula Luhan tetap bersikukuh akan mengantar Jiyeon ke dokter. Namun setelah Jiyeon meyakinkan kalau ia benar-benar tidak apa-apa akhirnya dia menurut juga. Luhan berangkat ke kantor dengan enggan, tanpa diantar sampai ke depan oleh Jiyeon, tanpa dirapikan dasinya dan tentu tanpa kebiasaannya mengecup kening Jiyeon sebelum pergi. Namun Luhan tetap menelpon Taehee untuk mengabarkan atau lebih tepatnya mengadukan kalau Jiyeon sedang sakit.

“Aku pergi dulu” Luhan menyerahkan ponsel Jiyeon lalu bergegas pergi ke kantor dengan penuh kecemasan.

“Eomma. Nan gwaenchana, aku hanya mual biasa”

“Mual? Jangan-jangan kamu hamil Jiyeon-a!” dari seberang sana Taehee begitu histeris.

“Hamil? Anniya eomma” Jiyeon yakin ini hanya masuk angin biasa tapi kenapa Taehee bisa menyimpulkan sampai sejauh itu?

“Sebaiknya kamu periksa ke dokter sekarang agar kamu yakin. Ajak Luhan mengantarmu sekarang!”

“Tapi Luhan sudah berangkat, eomma” Jiyeon sungguh penasaran, apa benar yang dibilang Taehee bahwa ia sedang hamil? Seingatnya bulan ini ia belum datang bulan.

“Kalau begitu eomma akan kesana menjemputmu ke dokter”

.

“Selamat, anda positif” Ujar dokter cantik itu sambil mengulurkan selembar kertas yang isinya tidak Jiyeon mengerti.

“Yaa Jiyeon-a” Taehee segera memeluk Jiyeon erat, akhirnya ia akan menjadi nenek.

“Eomma, kau kenapa?” Jiyeon melirik dokter bermarga Kang itu “Maksudnya bagaimana uisangnim? Saya terkena penyakit apa?”

“Anda tidak sakit, anda positif hamil sekarang” dokter itu tersenyum.

“Hamil?” tanya Jiyeon masih belum percaya sambil memandangi Taehee dan dokter itu.

“Ye, selamat anda akan segera menjadi seorang ibu” jawab dokter Kang.

“Eomma?” Jiyeon nampak masih shock, hamil? Ia akan menjadi seorang ibu dan diperutnya terdapat sebuah kehidupan?

“Chukkae Jiyeon-a. Chukkae”

.

Setelah kepergian Taehee dengan segera ia menelpon Luhan karna pria itu belum pulang juga meski ia dan Taehee sudah cukup lama berjalan-jalan mengelilingi sebuah toko bayi. Ya meski ia hanya duduk diam saja, karna ia masih lemas.

“Jiyeonie, waeyo? Apa kau sudah baikan sekarang?”

“Kapan kau pulang?”

“Oh dua jam lagi aku pulang. Kau mau kubelikan lauk apa tuk makan malam nanti?”

“Terserah kau saja, aku ingin mengatakan sesuatu padamu nanti dirumah”

“Mwonde? Katakan sekarang saja”

“Anni, lanjutkan kerjamu. gudno”

Entah kenapa Jiyeon menginginkan Luhan pulang cepat, namun ia ternyata tidak punya cukup keberanian untuk memaksanya pulang sekarang.

.

Terdengar suara klakson di depan rumah. Tandanya Luhan sudah pulang. Jiyeon segera bergegas menyambut Luhan. Luhan tampak lelah sekali, ia berjalan menuju pintu masuk sambil menenteng bungkusan lauk yang ia janjikan tadi.

“Jiyeonie, kau tampak sudah baikan sekarang”

“Aku kan sudah bilang aku tidak apa-apa.”

“Kalau begitu kajja kita langsung makan malam. Ini aku sudah membawa bubur ayam dan samgyetang hangat”

“Sebaiknya kau mandi dulu dan ganti pakaian. Bau sekali” Entah kenapa Jiyeon merasa keringat Luhan lebih bau hari ini.

Luhan menurut dan langsung ke kamar untuk menaruh tas kerjanya lalu mandi dan ganti pakaian. Jiyeon menunggunya di meja makan sambil mengeluarkan nasi yang belum sempat dimakan tadi pagi dari ricecooker.

Luhan kembali ke ruang makan dengan wajah yang sudah lebih segar dari yang tadi. Entah karena ia kurang bersih membilas sabun mandinya tadi atau apa, Jiyeon merasa bau sabun mandi yang dikenakan Luhan masih sangat menyengat.

“Kau mau mengatakan apa padaku Jiyeonie?” tanya Luhan sambil menuangkan bubur ke mangkuk didepan Jiyeon.

“Kau makan dulu saja. Aku takut setelah kukatakan, nafsu makanmu menghilang” Jiyeon serahkan mangkuk nasinya ke Luhan.

“Jincha? Jangan bilang kau mau mengingatkan berakhirnya kontrak pernikahan simulasi kita lagi seperti dulu” Luhan menyendok nasi dan samgyetangnya.

Jiyeon melengos dan meninju lengan Luhan meski Luhan berhasil mengelak. Sesaat Jiyeon lihat samgyetang yang sepintas sangat menggiurkan. Namun saat ia sendok sedikit ke mangkuk buburnya, tiba-tiba baunya jadi sangat menyengat dan mual-mual yang sempat menyerangnya tadi pagi terasa kembali. Ia langsung lari ke wastafel dapur dan diikuti Luhan yang terkejut.

“Neo gwaenchana Jiyeonie? Kajja aku antarkan ke dokter.”

Jiyeon masih terdiam karena masih menahan muntah. Barulah setelah muntahnya mereda ia keluar dan dengan dipapah Luhan menuju ranjangnya untuk sekedar berbaring sejenak.

“Kau lanjutkan saja makanmu. Aku sedang tidak selera makan”

“Kau masih sakit Jiyeonie. Kajja kuantar ke dokter sekarang!” Luhan tidak memperdulikan perintah Jiyeon tadi.

“Anniya, nan gwaenchana”

“Kau sakit begitu. Bagaimana bisa kau bilang tak apa-apa”

“Jincha nan gwaenchana Xiao Lu-ya, lagipula tadi aku sudah ke dokter dengan eomma”

“Jadi kau sakit apa? Mana obatmu? Kau pasti belum meminumnya”

“Aku harap kau tak akan kaget mendengarnya” jawab Jiyeon sambil menunjuk obat dimeja kerjanya.

“Memangnya kau sakit apa sampai aku kaget segala” Luhan mengeluarkan 3 pil itu dan meminta Jiyeon meminumnya”

“Aku hamil Xiao Lu-ya ”

“Jincha? Kau hamil?” Luhan melirik perut datar Jiyeon, untuk beberapa detik ia seolah tak percaya bahwa sebentar lagi akan ada Jiyeon atau Luhan kecil hadir dikehidupan rumah tangga mereka. “Abeoji, aku akan segera menjadi abeoji” teriaknya bangga seraya memeluk Jiyeon hangat, betapa bahagianya ia akan menjadi seorang ayah dan kini lengkap sudah kebahagiaan mereka.

.

END

.

Be Sociable, Like and comment please!

.

Thankiess  good readers ♥♥♥♥

14 responses to “[Series] Will You Be My Bride? (9 END)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s