[Chaptered] Angel Without Wings – Chapter 3

angel-without-wings2

poster credits to Saturnus from Poster Fanfic Studio

Title : Angel Without Wings

Author : Atatakai-chan

Length : Chaptered [#1][#2]

Genre : AU, Fantasy, Romance

Rating : G

Main Casts :

1. INFINITE Dongwoo as Dongwoo
2. OC as Ahn Jihyo

Supporting Casts :

1. INFINITE Hoya as Hoya
2. BlockB Jaehyo as Ahn Jaehyo
3. B.A.P Zelo as Choi Junhong

Mentioned Casts :
1. INFINITE Sungyeol as Sungyeol
2. TeenTop Changjo as Choi Jonghyun

Chapter 3:

A Soundless Scream

“We’re all human, aren’t we? Every human life is worth the same, and worth saving.”
― J.K. Rowling, Harry Potter and the Deathly Hallows

~**~

Dongwoo menyusuri jalanan di tengah guyuran hujan dengan ceria. Tak sedikit orang yang memperhatikannya karena ia tengah menggenggam payung lipat di tangannya namun sama sekali tidak menggunakan payung tersebut untuk menghindari air yang ditumpahkan oleh langit.

Mungkin tidak akan ada yang menyadarinya kalau melihat dari kejauhan. Walaupun hujan deras turun membasahi semua yang ada, pakaian Dongwoo tetap kering. Bukan hanya pakaiannya saja, melainkan sekujur tubuhnya.

Hoya yang melihat hal ini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, telapak tangannya menempel di wajahnya.

Astaga Dongwoo.

“Bodoh! Bersikaplah normal!” Hoya menarik payung lipat yang ada dalam genggaman Dongwoo dan membuka payung lipat itu.

Dongwoo nyaris terlonjak karena kaget. Ia tidak menyangka Hoya akan berada di sini juga.

“Wah! Kau mengagetkanku sobat!” Dongwoo mengusap-usap dadanya sendiri.

“Kau yang justru mengagetkan kami!”

“Haha! Sudahlah Hoya. Kau tidak perlu memarahinya.”

Dongwoo menoleh ke sumber suara. Di sana berdiri sesosok lelaki bertubuh tinggi dan slim di bawah sebuah payung berwarna merah terang. “Wahaha! Sungyeol? Kau kemari juga?”

Lelaki bernama Sungyeol itu mengangguk. “Hoya mengajakku kemari. Katanya lebih menyenangkan kalau mengantarkan paket sambil menyamar seperti ini.” Sebuah cengiran lebar tampak di wajahnya yang kecil.

“Aku tidak tahu kau begitu bodoh Dongwoo.”

Kedua mata Dongwoo membulat. Jelas-jelas ia keberatan disebut bodoh oleh Hoya.

“Apanya yang bodoh?”

“Orang-orang bisa curiga kalau sekujur tubuhmu kering seperti itu padahal hujan deras sedang turun.” Hoya menghela napas. Ia mempererat genggamannya pada ujung gagang payung yang berbentuk bulat dan agak keras.

Kedua tubuh Hoya dan Dongwoo kini berada di bawah payung lipat berwarna biru langit. Ukurannya yang tidak begitu besar menyebabkan sesekali air hujan masuk ke dalam payung, mengenai bahu Hoya maupun bahu Dongwoo. Walaupun tidak menyebabkan bahunya basah, Hoya merasakan geli ketika rintik hujan mengenai bahunya.

Sesekali lelaki bertubuh kekar itu menggelinjangkan bahunya, kegelian.

“Apa yang kau lakukan?” Dongwoo tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.

“Air hujan mengenai bahuku tahu. Geli.” Sahut Hoya, nada bicaranya datar.

Dongwoo dan Seungyeol -yang berjalan di belakang keduanya- menahan tawa mereka. Entah mengapa menurut keduanya hal ini sangat lucu.

“Ah! Ini dia tempatnya!” Ujar Seungyeol cukup lantang sehingga Dongwoo dan Hoya yang berjalan di depannya menoleh.

Kini bertiganya berada di depan sebuah restoran yang tampak berkelas. Dindingnnya yang terbuat dari bata-bata menambah kesan unik pada restoran tersebut. Jemari Sungyeol yang panjang menunjuk ke arah papan nama restoran. Di sana tertulis: Mama Woo’s.

“Kalau begitu tunggu apa lagi. Masuklah ke dalam.” Ujar Hoya.

“Aish, Kau ini apakah tidak bisa sedikit santai? Aku tahu tujuan awalmu adalah mengantarkan Dongwoo sampai ia selesai mengirimkan semua paketnya, tapi tidak bisakah kalian menemaniku terlebih dahulu? Ini adalah kali pertamaku mengantarkan paket dalam mode samaran seperti ini.” Sungyeol berujar panjang lebar. Jujur saja, ia merasa gugup.

Hoya menghela napas sebelum menggembungkan kedua pipinya secara bergantian. Dari awal ia tahu mengajak Sungyeol untuk melakukan hal ini bukanlah hal yang tepat. Ia hapal betul bagaimana lelaki berperawakan tinggi dan slim itu mudah gugup dan panik.

“Baiklah. Ayo.”

Persetujuan dari Hoya membawa kelegaan pada Sungyeol. Tanpa menunggu lebih lama lagi ketiganya berjalan mendekati restoran tersebut, mereka tak lupa melipat payung dan memasukkannya ke dalam sebuah plastik bening yang tersedia di depan restoran sebelum mereka melangkah masuk ke dalam.

“Selamat datang! Untuk berapa orang?”

“Tiga.” Jawab ketiganya kompak.

|

|

|

|

|

|

“Jonghyun.. Jonghyun..”

Seorang lelaki bernama lengkap Choi Jonghyun bangun dari tidur nyeyaknya ketika mendengar namanya dipanggil dan ditambah pundaknya terasa digoyangnya. Kedua mata sipitnya langsung melebar ketika mendapati Jihyo kini berada di sampingnya, dan tangan gadis itu tengah menempel pada pundaknya.

“Apa-apaan ini?! Mengganggu saja!” Jonghyun menggerakan pundaknya dengan kasar, menyingkirkan tangan Jihyo dari sana.

“A-ah mianhae kalau aku mengganggu.. Aku hanya ingin menyerahkan lembar jawab ujian milikmu. Tadi Park seonsaengnim memanggilmu berulang kali tapi kau sedang tidur jadi…”

Sebuah seringaian mengejek terbentuk di ujung bibir Jonghyun. Dengan segera ia merebut lembar jawab ujian miiliknya yang kini berada di genggaman Jihyo. Ia langsung membuka jendela yang berada persis di sebelah tempat duduknya dan melemparkan kertas itu keluar.

“Y-yah! Jonghyun-ya! Apa yang kau lakukan!?” Jihyo dengan panik menyembulkan kepalanya keluar jendela dan ia melihat kertas itu kini sudah mendarat di permukaan pekarangan sekolah yang basah oleh air hujan.

“Kertasnya sudah kotor. Aku tidak mau.”

Jihyo menahan air matanya yang sudah berada di kedua ujung matanya. Tanpa berkata apapun ia berjalan keluar kelas.

——-

Hujan gerimis membasahi sekujur tubuh Jihyo yang berlari-lari di pekarangan sekolah hendak mengambil lembar jawab ujian milik Jonghyun yang dengan sengaja Jonghyun lempar ke bawah sana.

Sementara itu di atas sana, beberapa siswa menertawakan Jihyo yang tengah kebasahan.

“Wah! Lihat itu! Hahaha!”

“Astaga Jonghyun! Padahal kau sudah susah payah membuangnya… lembar jawab ujian yang kotor itu.”

“Mungkin kau harus membakarnya nanti.”

“Benar Jonghyun! Bakar! Hahaha!”

Jonghyun menyeringai, dengusan napas pendek ia keluarkan melalui hidungnya.

Bodoh sekali.

——-

“Hey Jonghyun, mau kemana?”

“Toilet” jawab Jonghyun singkat sambil kemudian berjalan keluar kelas meninggalkan teman-teman genknya yang sedang asyik berbincang.

Sebenarnya Jonghyun bukan berniat ke toilet. Ia tahu Jihyo sudah memasuki gedung sekolah dan ia hendak menghampiri gadis yang merupakan cinta pertamanya itu. Penolakan yang berulang-ulang membuat Jonghyun merasakan… kekesalan dan lama-lama rasa kesal itu berubah menjadi benci.

 

“Uh… Basah…” Jihyo berlari masuk kedalam gedung sekolah dan langsung menuju ke arah toilet yang berada di lantai 2.

Ia berhenti di depan wastafel dan segera mengambil tissue dari meja wastafel untuk mengeringkan wajah dan seragamnya. Sudah banyak helai tissue yang ia gunakan namun seragamnya belum bisa kering. Tiba-tiba ia terhenti.

Tunggu. Rasanya tadi pagi Dongwoo oppa tidak membuka payungnya. Kok rasanya seragamku tadi tetap kering? Ah. Mungkin sudah mengering dengan sendirinya.

Lamunan Jihyo terpecah ketika pintu toilet perempuan tempat ia berada sekarang dibuka dengan kasar -terdengar dari suara pintu yang mengenai dinding.

“Hai, Jihyo.”

Jihyo menegak ludahnya. Jonghyun tengah berdiri di ambang pintu toilet sambil menyenderkan sikutnya ke bingkai pintu. Hal itu otomatis memblok jalan keluar satu-satunya. Jihyo berjalan mundur, menjauhi Jonghyun. Feelingnya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Melihat ketakutan di wajah Jihyo membuat Jonghyun semakin merasa senang. Ya, Choi Jonghyun adalah seorang alpha dan ia suka sekali mendominasi.

“Hey.. Kau tidak perlu takut seperti itu. Aku hanya ingin berterima kasih padamu. Aku tidak akan melakukan apapun…”

… saat ini.

Jonghyun menunjuk lembar jawab ujian miliknya yang basah dan sedang berada di atas meja wastafel. “Berikan padaku. Tolong.” Ia mengulurkan tangannya dengan posisi telapak tangan yang menghadap ke atas.

Jihyo mengambil kertas tersebut dan menyerahkannya pada Jonghyun. Sebelum tangan lelaki itu menutup dan menjebak tangannya dalam genggaman, Jihyo buru-buru menarik tangannya. Hal ini memancing seringaian kecil di bibir Jonghyun.

“Biar aku yang keringkan. Kembalilah ke kelas.”

“…”

“Waktu istirahat masih ada 15 menit,  sebaiknya kau makan. Bersama dengan.. siapa itu namanya? Anak kelas sebelah. Jun-”

“Junhong.” Ujar Jihyo.

“Ah, iya dia maksudku. Dia sahabatmu kan?”

Jihyo tidak menjawab. Dengan berani ia menerobos keluar dan Jonghyun tegeser dari posisinya semula berada.

See you after school, Ahn Jihyo.

 

|

|

|

|

|

|

Dongwoo, Hoya, dan Sungyeol hanya menatap makanan-makanan yang berada di atas meja mereka. Tentu saja mereka pernah melihat makanan-makanan tersebut hanya saja tidak ada salah satu dari mereka bertiga yang tahu akan seperti apa rasanya.

“Ah, andaikan tadi aku membawa Sungjong kemari.” Terdengar penyesalan dari cara Sungyeol berbicara.

Dongwoo mengusap-usap tengkuknya sendiri dengan sebelah tangan dan secara perlahan tangan yang satunya mendekati sendok yang berada di samping piring diletakkan. Ia menyendoki sup asparagus yang tersedia di hadapannya.

“Ffuh… Fffuhh!” Dongwoo meniup sendok berisi sup asparagus yang tengah ia pegang itu dan kemudian secara perlahan memasukkannya ke dalam mulut.

Hoya dan Sungyeol mengamati Dongwoo, seolah menanti respon Dongwoo dari rasa makanan tersebut.

Ini enak!

Hoya dan Sungyeol saling bertukar pandang sebelum keduanya mulai menyendoki makanan yang berada di hadapan mereka.

——-

“Kita harus sering-sering melakukan hal ini.” Ujar Dongwo setengah berbisik.

Sungyeol mengangguk tanda setuju sementara Hoya menggelengkan kepalanya, ia merasa keberatan.

“Oh, ayolah, Hoya.” Sungyeol menyipitkan kedua matanya ketika ia menatap Hoya.

“Apa? Kau berani melawanku?” Hoya juga menyipitkan kedua matanya ketika ia menatap Sungyeol.

Sungyeol mencibir, “tentu saja tidak.”

“Sudahlah. Kau sebaiknya menyerahkan paketmu sekarang.” Hoya menyela Sungyeol yang sebenarnya ingin mengatakan sesuatu.

“Buru-buru sekali… Ah. Baiklah.” Sungyeol menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan mulutnya bergerak-gerak, ia tengah mengucapkan, atau lebih tepatnya merapalkan sesuatu.

Gerakan tangannya semakin cepat dan sebuah cahaya kejinggaan muncul dari sela-sela kedua telapak tangannya yang sedang bergesekkan. Cahayanya begitu terang namun tidak menyakitkan mata. Cahaya yang hanya bisa dilihat oleh mereka bertiga di tempat itu pun lama kelamaan menjadi semakin terang dan Sungyeol berhenti menggosokkan telapak tangannya.

Bola cahaya itu melayang di atas telapak tangan kanan Sungyeol.

Amin.

Ia meniup bola cahaya itu. Bola cahaya itu pecah dan serpihan-serpihan cahaya kejinggaan, seperti glitter, memenuhi restoran tempat mereka berada.

“Nah, sudah selesai.” Sungyeol tersenyum.

Tiba-tiba saja pintu restoran terbuka dan beberapa orang pengunjung masuk. Tak lama kemudian restoran hampir penuh oleh pengunjung dan Sungyeol dapat merasakan kebahagian dari wajah para pelayan dan dari pemilik restoran yang otomatis turun tangan ketika restoran dibanjiri oleh pengunjung.

Seorang pelayan menghampiri meja tempat Dongwoo, Hoya, dan Sungyeol berada untuk memberikan kembalian uang. Pelayan itu bertubuh tinggi dan ramping. Rambutnya berwarna hitam.dan kuncir kudanya tampak melambung di belakang kepalanya

“Halo. Senang berjumpa denganmu.” Dongwoo tersenyum pada pelayan laki-laki itu.

Pelayan laki-laki itu balas tersenyum, “Senang juga berjumpa dengan tuan-tuan sekalian. Terima kasih banyak sudah berkunjung.” Ujarnya dengan sopan.

Dongwoo, Hoya, dan Sungyeol beranjak berdiri, meninggalkan restoran yang kini keadaannya ramai itu. Walaupun tidak deras hujan masih turun di luar sana namun ketiganya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena mereka masih mempunyai banyak paket yang harus dikirimkan.

Sebelum restoran benar-benar menghilang dari pandangannya, Dongwoo membalik badannya dan tersenyum kepada pelayan tadi yang masih memperhatikan mereka dari dalam melalui jendela berukuran besar.

Perasaan apa ini?

Ia balas tersenyum kepada Dongwoo.

Rasanya aku mengenal payung lipat itu…

“Jaehyo-ssi! Mau sampai kapan kau bengong di situ? Ayo bantu aku!”

“A-ah iya baiklah! Sebentar. Aku segera ke sana!”

 

|

|

|

|

|

|

Jihyo menggigiti bibirnya, panik. Hari sudah semakin gelap namun Junhong masih belum juga terlihat batang hidungnya. Sudah semenjak istirahat siang ia tidak melihat sahabatnya itu padahal tadi pagi mereka sempat bertemu. Apakah sesuatu terjadi pada Junhong? Ia sendiri tidak tahu tetapi jantungnya yang sedari tadi berdebar tidak karuan mengatakan: Ya, sesuatu terjadi pada Junhong.

“ARGH!”

Tubuh Jihyo menegang. Ia jelas-jelas mendengar suara seseorang yang tengah kesakitan. Tanpa berpikir panjang ia menyurusi lorong gedung yang sudah sepi. Pintu sebuah ruang kelas dengan lampu yang masih menyala terbuka cukup lebar. Jihyo berjalan mendekat dan mengintip ke dalam.

“TIDAK! JUNHONG-YA!” Jihyo berlari masuk ke dalam ruang kelas, tidak mempedulikan fakta bahwa sahabatnya yang tengah tergeletak dengan penuh luka di lantai sedang dikelilingi oleh orang-orang yang tak asing lagi baginya, teman-teman dekat Jonghyun.

“Wah, kebetulan sekali.” Suara Jonghyun terdengar dari pojok ruangan. Lelaki itu tengah duduk di atas kursi dan kedua kakinya yang panjang tengah menumpang di atas meja.

“Aku tadinya hendak menyusulmu, Jihyo. Untuk mengucapkan terima kasih atas tadi.” Jonghyun melompat berdiri dan berjalan cepat menghampiri Jihyo yang sedang berlutut di samping Junhong yang kini terkapar tak sadarkan diri.

Tangan Jonghyun yang kuat menarik lengan Jihyo, memaksanya untuk berdiri di atas kedua kakinya.

“Ah. Kenapa kau berwajah seperti itu? Padahal aku ingin berterima kasih.” Ujar Jonghyun. Suaranya yang lembut membawa kesan menyeramkan tersendiri bagi Jihyo.

Jihyo menarik-narik lengannya, berusaha melepaskan diri dari genggaman Jonghyun namun genggaman lelaki berubuh besar itu terlalu erat sehingga walaupun mencoba melepaskan diri tidak ada gunanya, ia hanya merasa sakit karena daging lengannya seperti tertarik-tarik.

“Heh. Kenapa begitu? Kau ingin pulang? Perlu aku antar?” Sambil bertanya seperti itu Jonghyun mencondongkan tubuhnya mendekati tubuh Jihyo. Kini wajah keduanya berjarak sangat dekat dan menyebabkan Jihyo memalingkan wajahnya.

“Tidak sopan sekali. Tsk.” Tangan Jonghyun yang besar menangkup wajah Jihyo, mengarahkan wajah yang ketakutan itu untuk menatap kepadanya.

“Jadilah pacarku.”

“… Kumohon Jonghyun-ya. Lepaskan aku.”

“Akan kulakukan kalau kau bersedia jadi pacarku.”

“A-aku ti-”

“Aku tidak mau lagi menerima penolakan darimu, Ahn Jihyo.”

“…”

“Lucu sekali. Kau mau menjadi wanita panggilan tetapi tidak mau menjadi pacarku.”

“Aku bu- ughh!”

Napas Jihyo sesak karena kini tangan Jonghyun sedang mencengkram lehernya. Ia benar-benar ketakutan. Kekuatan Jonghyun bukan main, dan ia merasa ia bisa saja mati tercekik.

Siapa saja, tolong aku!

 

|

|

|

|

|

|

Dongwoo menghentikan langkahnya secara mendadak dan hal ini membuat Hoya dan Sungyeol secara beruntun menabrak punggung yang berada di depannya.

“Aish, kau ini kalau mau berhenti bi-”

Ucapan Hoya terpotong karena Dongwoo memutar tubuhnya dan menghilang dari tempatnya semula beada. Hoya merasa beruntung karena lokasi mereka bukan di jalan raya, melainkan di sebuah jalan kecil yang kebetulan sama sekali tidak sedang dilalui orang maupun kendaraan.

“Ayo kita susul dia!”

Sungyeol mengangguk, menerima ajakan Hoya. Tak lama kemudian, keduanya tiba-tiba menghilang. Sama seperti yang terjadi beberapa saat lalu pada Dongwoo.

|

|

|

|

|

|

Jihyo merasakan napasnya semakin sesak, penglihatannya mulai kabur.

Aku sudah tidak kuat.

Kedua mata Jihyo terpejam dan keadaan aneh terjadi dalam ruang kelas tersebut. Angin yang cukup besar bertiup dalam ruangan padahal jendela dan pintu sama sekali tidak ada yang terbuka. Hembusan angin itu cukup kuat untuk membuat semua yang dalam keadaan sadar dalam ruangan itu kaget, termasuk Jonghyun. Jonghyun melepaskan cengkramannya pada leher Jihyo dan membiarkan tubuh perempuan itu jatuh ke lantai diikuti suara dentaman yang lumayan keras.

Pintu terbuka secara tiba-tiba. Suara geserannya terdengar sangat kencang sehingga semuanya menoleh namun penglihatan mereka langsung terhalangi oleh cahaya yang sangat terang. Tanpa sempat mengetahui siapa yang berada di balik pintu, Jonghyun dan kawan-kawannya sudah terlebih dahulu terkapar di lantai kelas.

——-

Jihyo membuka matanya perlahan, ia masih merasakan sakit yang amat sangat pada lehernya. Ia memperhatikan sekelilingnya. Ia mengenal tempat ini.

“Aduhh.” Jihyo mendengar suara erangan Junhong.

Apa yang terjadi beberapa saat lalu kembali dalam ingatannya dan ia langsung mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. Ia menoleh ke sebelah kirinya dan mendapati Junhong tengah terbaring dan dikelilingi oleh tiga orang lelaki.

“Siapa kalian!?”

Ketiga sosok yang mengelilingi Junhong menoleh ke arah Jihyo dan salah satu diantara mereka adalah Dongwoo.

“Ah, Jihyo. Syukurlah kau sudah sadar!” Dongwoo berlari kecil menghampiri Jihyo dan tanpa pikir panjang ia langsung memeluk Jihyo.

“E-eh. Maaf, Dongwoo oppa…” Jihyo berusaha melepaskan diri dari pelukan Dongwoo.

Dongwoo yang mengerti gestur Jihyo pun langsung melepaskan pelukannya. “Maafkan aku. Aku hanya sangat senang. Itu saja.” Ujar Dongwoo.

“Ini di UKS sekolah kan?” Jihyo bertanya, seolah tidak yakin.

Dongwoo menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan.

“A-apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa me-”

“Begini nona, Tadi kami bertiga kebetulan lewat sekolahanmu dan temanku ini,” Hoya menepuk-nepuk bahu Dongwoo, “ia bersikeras mengajak kami masuk ke dalam untuk bertemu denganmu, teman barunya. Jadi pada akhirnya kami bertiga masuk dan secara kebetulan ketika hendak menuju ke toilet kami menemukan sebuah ruangan yang lampunya masih menyala. Ketika kami menengok ke dalam kau dan beberapa siswa lain tengah terkapar di lantai.”

Jihyo mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti.

Bagaimana bisa Jonghyun dan kawan-kawannya terkapar?

“Kami tidak tahu apa yang terjadi kepada kalian namun kami mengangkat kalian berenam ke UKS. Beruntunglah petugas piket UKS masih ada di tempat dan ia mempersilakan kami masuk ke dalam untuk merawat anak itu.” Lanjut Hoya seraya menunjuk-nunjuk Junhong.

“Tidak usah khawatir. Teman kami yang satu itu adalah calon dokter.” Dongwoo berujar, berusaha menenangkan Jihyo yang tampaknya kembali panik ketika melihat kondisi Junhong.

“Terima kasih banyak Dongwoo oppa dan..” Jihyo terhenti, menyadari bahwa ia tidak mengetahui siapa nama dari teman-teman Dongwoo.

“Kau dapat memanggil pria ini Hoya dan yang itu, Sungyeol.” Dongwoo memaerkan senyum khas miliknya. “Tidak perlu menggunakan oppa juga tidak apa-apa.” Lanjutnya.

Hoya dan Sungyeol ikut tersenyum kepada Jihyo, seolah mereka sedang memperkenalkan diri mereka kepada Jihyo melalui senyuman dan Jihyo pun balas tersenyum kepada mereka. Kini entah mengapa perasaannya sudah mulai tenang. Ia tidak takut akan diganggu oleh Jonghyun dan kawan-kawannya walaupun mereka kini tengah berbaring di tempat yang tak jauh dari tempatnya.

 

~TBC~

author’s note:
Halo, halo! Akhirnya chapter 3 selesai juga.
Mohon maaf sebesar-besarnya untuk fansnya Changjo,
Maaf ya di sini karakternya aku buat seperti ini T_T.
Sebenernya aku juga fansnya Changjo sih dan pas ngetik itu rasanya gimana gitu ya tapi mau bagaimana lagi? Menurutku dia yang paling cocok sama karakter itu ;;

Mohon feedbacknya ya!❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s