[Series] Married with a Gay (Chapter 12B)

mwag-copy

Title     : Married With A Gay

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Angst

Main Cast: Xi Luhan as Lu Han, Ariel Lau (OC), Zhang Yi Xing as EXO M Lay

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : G.Lin @CafePoser

 

***

“Dia cemburu padamu, idiot!” Ariel mengerutkan hidungnya tidak suka saat membaca sebaris pesan yang masuk di kontak akun Line-nya. Baekhyun yang mengirimkannya, tepat setelah ia curhat panjang lebar tentang keanehan Luhan semalam.

“Darimana kau bisa tahu? Memangnya kau pacarnya?” balas Ariel dengan nada tidak suka. Entah bagian mana yang membuatnya tidak suka, yang pasti ia juga merasa konyol dengan opini Baekhyun tentang Luhan yang cemburu.

Kenapa Luhan harus cemburu? Luhan memang moody, Luhan memang cerewet, Luhan memang baik, perhatian, dan kadang sering melakukan hal-hal yang membuat gadis bisa meleleh. Tapi menurutnya, tidak benar jika Luhan harus cemburu. Tidak ada alasan tepat untuk itu.

Kecuali…Luhan cemburu karena…

“Karena kami sama laki-laki, bodoh. Aduh! Kenapa kau jadi idiot begini?” balas Baekhyun lagi.

Kerutan di wajah Ariel semakin bertambah. Lalu, ia kembali membalas dengan kaki yang ia lipat ke atas sofa, “Dia tidak akan tertarik padamu, kan? Dia tidak akan suka padamu, kan? Kau itu manis Baekhyun! Harusnya kau tidak bertemu Luhan! luhan memiliki teman kencan yang tak kalah tampan! Harusnya aku tidak membawamu ke rumah!”

“HA HA HA! Akhirnya kau mengakui jika aku ini tampan Ariel Lau! Dasar bocah tengik! Kenapa baru mengakuinya sekarang? Dan dengar ini, idiot! Dia menyukaimu! Dia cemburu karena aku dekat denganmu! Bagaimana dia bisa menyukaiku sedangkan dia menatapku seolah-olah berkata bahwa kau adalah miliknya?! Oh, kau benar-benar idiot. Dan dengar ya, dia itu tidak gay (setidaknya itu menurutku).”

 

***

 

Siang itu, cuaca terbilag cukup cerah meskipun angin gugur berhembus dengan kurang menyenangkan. Ariel suka dengan musim dingin, tapi ia tidak terlalu kuat dengan angin musim dingin. Ini memang aneh, tapi fisiknya memang payah jika sudah menghadapi angin dingin dan lain sebagainya.

Pikiran Ariel agak sedikit berantakan. Salahkan Luhan yang tiba-tiba mendiamkannya sejak semalam –setelah insiden pembentakkan tiba-tibanya. Yeah, Ariel jadi ngeri sendiri jika mengingat bagaimana tempramen laki-laki itu. Meskipun terlihat manis, tapi jika sudah marah, Luhan seperti singa yang tengah mengaung. Seram.

Dan jawaban yang diberikan Baekhyun tadi pagi justru membuat pikiran Ariel semakin kacau. Jadi Luhan menyukainya? luhan mulai tertarik padanya? Dan…dia tidak gay?—lagi?

Ariel sedikit memijit pelipisnya sambil terus melangkahkan kedua kakinya. semua pertanyaan dan rangkaian memori tentang Luhan secara bersamaan melilit otaknya. jika Luhan memang tidak gay, kenapa Luhan masih suka menelpon Wu Yifan lama-lama? Belum lagi banyak sekali foto yang mempertontonkan keintiman mereka –baiklah, lupakan bagian yang membuat Ariel merasa merinding itu.

Ariel tetap berjalan meskipun ia tidak yakin mau pergi kemana. Tadinya, ia hanya akan berkeliling di sekitar daerah tempat tinggalnya. Tapi ia malah terus berjalan hingga sejauh ini. Dan yang lebih memuakkan, Ariel lupa untuk membawa dompetnya. Ia tidak punya uang dan lapar.

“Aku harus pulang,” gumam Ariel sambil melirik jam di ponselnya. Dan, ia pun memutuskan untuk naik taksi dan membayarnya nanti sesampainya di apartemen. Ini memang memalukan, tapi ia juga tidak mungkin untuk pulang jalan kaki.

Namun, niat Ariel urung meskipun ia sudah melihat sebuah taksi yang melaju ke arahnya. Tanpa sengaja Ariel mendapati siluet tubuh seseorang yang memunggunginya semalam, yang tak menyapanya tadi pagi, yang tak mau menatapnya saat Ariel bicara. Luhan. itu tubuh Luhan dengan pakian berantakan dan rambut acak-acakannya.

Ariel meringis. Apa Luhan harus sebegitu kacaunya hanya karena Baekhyun kemarin sore? Luhan kan bisa membicarakannya baik-baik. Jika dipikir-pikir, Luhan sebenarnya jauh lebih kekanakan dari yang ia kira. Saat masa berpacaran dulu, Ariel juga tipe pemarah hampir sama seperti Luhan. tapi itu dulu, saat ia masih berusia 20 tahun dan masih lebih suka membesarkan egonya. Dan Luhan berusia hampir seperempat abad, tapi laki-laki itu bersikap seperti remaja 17 tahun.

Ariel pun memutuskan untuk menyebrang dan menghampiri Luhan yang terlihat tengah memperhatikan sesuatu di etalase toko, entah apa, Ariel juga tidak terlalu tertarik untuk membaca tulisan Cina yang ada di sana. Tapi Ariel agak yakin tempat itu adalah toko binatang karena Ariel melihat ada gambar kucing dan beberapa hewan lain di spanduk tersebut.

“Kau suka kucing?”

Luhan terlompat kaget saat suara familiar itu tiba-tiba menyentuh gendatng telinganya. Luhan memutar kepalanya cepat, Luhan pikir ia tengah berhalusinasi –tidak mungkin kan Ariel berada di tengah kota sendirian begini? Ini jam makan siang, setahunya Ariel lebih suka memasak ketimbang jalan-jalan di jam-jam seperti ini.

Tapi Luhan tidak salah lagi. gadis itu yang menyapanya barusan benar-benar Ariel.

“K-kau…kenapa kau ada disini?” Luhan langsung menatap sekitar Ariel, “Kau sendiri? Atau…kau sedang menunggu seseorang?” setelah mengatakannya, Luhan langsung mengerutkan keningnya tidak nyaman, “Kau janjian dengan Baekhyun?”

Sepertinya Baekhyun benar. Luhan memang mempermasalahkan keberadaan Baekhyun, dan bukannya tertarik pada pemuda itu. Oh, Ariel jahat sekali telah berpikiran yang tidak-tidak pada Luhan.

Ariel menggeleng pelan, “Aku hanya ingin jalan-jalan saja,” sahut Ariel sambil tersenyum. Ia mencoba terlihat biasa saja, seolah kejadian Luhan yang marah padanya hanya kejadian sambil lalu yang tak perlu dihiraukan.

“Dengan Baekhyun?” tanya Luhan lagi. dan yang membuat Ariel merasa geli, Luhan masih saja menyebut-nyebut nama Baekhyun.

“Kau suka kucing?” Ariel mengabaikan pertanyaan Luhan dan melemparkan pandangannya ke arah objek yang menarik perhatian Luhan tadi. Seekor kucing Angora menyapa matanya lembut dengan bulu putih dan wajah manisnya. Kucing yang benar-benar menggemaskan.

“Wah, kucingnya manis sekali. Bagaimana jika kita pelihara satu ekor anak kucing di rumah? Sepertinya akan menyenangkan,a ku kadang bosan sendirian di rumah…”

“Kau benar-benar janjian dengan Baekhyun?” suara Luhan kembali terdengar –dan lagi-lagi ia menyebut nama Baekhyun.

Ariel pun menegakkan punggungnya dengan jengkel, “Tidak, Luhan. aku hanya jalan-jalan sendiri. Tidak ada Baekhyun disini, oke? Jadi berhenti merajuk dan menyebut namanya,” kata Ariel dengan nada sesabar mungkin. Ia juga mencubit pipi Luhan gemas, laki-laki ini benar-benar mirip anak berusia 8 tahun.

“Aku bukan anak kecil! Kau bahkan lebih muda dariku! Jangan mencubit pipiku begitu!” kata Luhan kesal sambil menepis tangan Ariel.

Ariel masih tersenyum meskipun Luhan masih saja menampakkan wajah masamnya, “Ayolah. Kau ini seorang pengusaha terkenal. Jangan berpenampilan seolah kau adalah karyawan yang baru dipecat,” Ariel pun mulai membenarkan penampilan Luhan, mulai dari kemejanya yang kusut, dasinya yang berantakan, Ariel juga mengambil jas hitam di tangan Luhan dan memakaikannya dengan telaten, “Ini musim gugur. Kehujanan saja bisa membuatmu flu. Jangan sampai kau malah masuk angin gara-gara angin dingin ini,” kata Ariel lagi.

Luhan tetap diam dan menatap Ariel, “Selalu aktifkan ponselmu. Jangan tidak mengangkat telponku dan kau harus membalas smsku,”

“Aku tahu, aku minta maaf soal kemarin,” Ariel mulai melingkarkan tangannya di lengan Luhan dan menyeretnya untuk berjalan menyusuri trotoar.

“Jangan pergi kemanapun dengan sembarangan orang,”

“Hmm.”

“Jangan membawa Baekhyun ke rumah lagi,”

“Hmm.”

“Jangan terlalu sering berhubungan dengan Baekhyun,”

“Hmm.”

“Jangan berpikir aku menyukai laki-laki.”

“Iya Luhan sayang. Aku tidak akan melakukannya.”

“Kau juga harus terbuka padaku mulai sekarang,”

“Kalau begitu, kau juga jangan terlalu dekat dengan Wufan. Jangan terlalu sering menelponnya. Kau juga jangan membiarkannya tahu password apartemen kita. Dan juga…”

“Tidak akan,” sela Luhan dan memindahkan tangannya ke pinggang Ariel, “Aku akan menjadi suami yang baik untukmu.”

Ariel hanya tersenyum risih dengan sentuhan Luhan di pinggangnya. Ariel tidak biasa diperlakukan seperti itu, tapi akhirnya dia tetap diam dan melanjutkan langkah kaki mereka. Ariel tidak tahu Luhan akan membawanya kemana. Yang pasti Ariel tidak perlu khawatir lagi karena ia akan baik-baik saja tanpa dompetnya sekarang.

 

***

 

Ariel terkikik geli saat kembali melihat foto-foto kencan mereka tadi siang. Yeah, sejak pernikahan mereka, ini pertama kalinya Luha dan Ariel jalan-jalan hanya berdua saja seperti tadi. Makan bersama, mengobrol bersama, tertawa bersama, tersneyum saat saling memandang satu sama lain, dan masih banyak hal-hal lainnya yang menurut Ariel…itu menyenangkan.

Dan yang terlucu, akhirnya mereka sama-sama tahu jika ternyata mereka takut pada ketinggian. Yeah, mungkin bagi Luhan itu bisa disebut pobia, tapi Ariel hanya merasa takut saja. ia bahkan jauh lebih takut jika harus naik lift –dan Luhan belum tahu soal ini.

“Waktunya makan malam,” gumam Ariel saat melirik jam dinding di ruag tengah. Ia pun beranjak dari sofa panjang yang didudukinya dan berjalan menuju kamar Luhan, berniat untuk membangunkan Luhan yang tidur sejak sore tadi.

Sebenarnya memang agak aneh, tidak biasanya pemuda itu tidur lebih cepat –apalagi sampai tidur sore seperti sekarang. Ariel pikir, Luhan mungkin hanya kelelaan saja. laki-laki itu sibuk sekali dengan pekerjaannya. Dan Ariel cukup memakluminya. Mengurus sebuah perusahaan dan bisnis semacam itu bukan hal mudah.

“Luhan? ini sudah sore, ayo bangun! Tidak baik jika tidur sore seperti ini,” Ariel mendekati Luhan yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut putihnya.

“Hei, ayo makan malam! Jarang-jarang kau bisa makan makanan sungguhan di jam seperti ini,” Ariel mencoba untuk menggoyangkan kaki Luhan, tapi pemuda itu sama sekali tidak merespon.

Ariel sedikit mengerutkan dahinya, “Hei. Ayo bangun! Kau tidak apa-apa, kan?” nada bicara Ariel berubah khawatir. Luhan bertingkah aneh, belum lagi sepulang dari acara ‘kencan’ mereka, wajah Luhan terliha agak kuyu.

Luhan menggelengkan kepalanya, “Aku sakit kepala,” rengeknya dengan nada…baiklah, Ariel akui –ekhm—Yixing juga pernah bertingkah manja seperti ini, tapi merengek seperti anak 10 tahun…ini kali pertama bagi Ariel mendengar pria dewasa merengek manja seperti tadi.

Luhan masih memejamkan matanya saat Ariel mencoba menyentuh dahi Luhan, “Kau tidak demam. Kepalamu benar-benar sakit?” tanya Ariel agak panik.

Luhan mengangguk lemah, “Sakit sekali. Ini benar-benar sakit, Ariel…” sekali lagi Luhan merengek.

“Aku akan ambilkan obat…”

Luhan langsung meraih tangan Ariel dan menahannya, “Aku tidak mau obat. Aku mau kau disini saja, temani aku.”

“Tapi Luhan, kau harus menghilangkan sakit kepalamu dulu. aku ada obat untuk…”

“Aku bilang tidak ya tidak! Aku tidak mau obat! Aku tidak suka obat! Pahit! Kau saja yang temani aku disini, tidur disini. Aku tidak mau makan apapun, aku mohon…” Luhan merengek lagi. kali ini Luhan membuka matanya yang terlihat sayu itu. Satu fakta lagi yang Ariel dapat tentang Luhan, Luhan benar-benar manja.

Tapi Ariel pun menuruti kemauan Luhan dan ikut berbaring di samping Luhan, membiarkan Luhan memeluk tubuhnya erat, seolah Luhan takut Ariel akan melarikan diri dan meninggalkan Luhan tanpa niat untuk kembali.

“Jangan tinggalkan aku…” gumam Luhan masih dengan nada merengek.

Ariel mendengus pelan sambil mengusap kepala Luhan, kemudian ia mulai memijit kepala Luhan perlahan, “Aku tidak akan kemana-mana, kok. Cepat tidur, aku akan membangunkanmu untuk makan, nanti,”

“Aku tidak mau makan. Aku mau kau disini dan tidak meninggalkanku…”

“Iya iya. Cepat tidur. Jangan bicara terus!”

Kumohon, jangan tinggalkan aku, tetap berada disisiku, teruskan pernikahan ini dan tetaplah jadi pendampingku Ariel Lau. Aku ingin kita menghabiskan sisa waktu kita bersama-sama. Luhan pun mulai terlelap kembali.

 

***

 

“Cepat buka mulutmu, Luhan! kau bukan anak kecil! Kau harus makan!” kesal Ariel dengan tatapan jengkelnya yang diarahkan pada Luhan.

Entah sengaja, atau memang watak Luhan memang seaneh itu. Luhan tidak mau makan meskipun ia akan disuapi. Jangankan untuk makan, membuka mulutnya saja tidak mau. Demi apapun! Ia biasanya mendapati adegan ini hanya di cerita-cerita fanfiksi TvXQ dulu –ia fans TvXQ dan tentu saja ia akan membaca fanfiksi mereka. Ia juga pernah membuat adegan semacam ini di fanfiksi buatannya, dimana Jaejoong dan pacarnya (ia menamai pacar Jaejoong dengan nama Ariel Lee) melakukan adegan yang sama seperti ini, tapi Ariel Lee yang sakit dan Jaejoong yang membujuknya makan. Ariel yang merengek dan Jaejoong yang harus menahan kesabaran untuk menghadapi Ariel.

Tapi di dunia nyata, justru Luhan lah yang tidak mau makan, Luhan lah yang bertingkah manja, Luhan lah yang mengeluh banyak, dan Luhan juga yang terus-terusan merengek menolak obat yang diberikan Ariel. Dan disini, Ariel lah yang harus sabar menghadapi bayi besar ini. Bahkan dalam mimpi sekalipun, Ariel tidak pernah mengalami hal semacam ini.

“Ayolah, Luhan! kau jangan kekanakan. Kau tidak sakit demam, lidahmu baik-baik saja dan makanan ini juga baik-baik saja. kau harus makan!”

“Kenapa marah-marah?” sewot Luhan kesal, “Bagaimana aku mau makan jika kau marah-marah?” tambah Luhan lagi dan sedikit memalingkan wajahnya.

Ariel mendesah pelan dan menaruh makanannya di atas nakas, “Luhan, dengar. Kau harus cepat sembuh. Ada banyak karyawan yang menunggumu, ada segudang pekerjaan yang membutuhkanmu, kau tidak bisa bertingkahkonyol seperti ini.”

“Aku bilang, a-ku-ti-dak-ma-u. Aku tidak mau dipaksa makan.”

Ariel sudah membuka mulutnya hendak mengomeli Luhan. luhan terkena anemia dan bagaimana bisa Luhan seenak jidatnya menolak makan dan memilih terus-terusan merajuk seperti anak 10 tahun seperti sekarang ini. Tapi semuanya urung ketika ponselnya berdering nyaring. Dengan jengkel, Luhan mengambil ponselnya dan mendapati nama ibu Luhan ada di layar ponselnya.

“Ibumu terus menelpon, tapi tidak terangkat,” gumam Ariel sambil menggeser ikon berwarna hijau di layar ponselnya. Namun belum sempat Ariel menjawab suara di sebrang sana, Luhan langsung merampas ponsel Ariel kasar dan mematikannya langsung. Wajah Luhan berubah panik, panik sekali. Ia bahkan bisa merasakan kepalanya bertambah pusing saat suara ibunya tempo hari mengejar-ngejar memorinya, seolah mengingatkan Luhan akan sesuatu…

“Luhan! kau ini kenapa?”

“Jangan angkat telpon ibuku. Jangan bertemu ibuku. Aku mohon…” Luhan sedikit memelas saat bicara pada Ariel. Mata sayu itu bersungguh-sungguh, Luhan benar-benar memohon agar Ariel tidak melakukan kontak apapun dengan ibunya.

Ariel mendengus jengkel, “Luhan. berhenti bertingkah seperti ini, kau ini…”

“Aku akan makan!” Luhan langsung mengambil piring di atas nakas dan melahapnya dengan cepat, “Aku juga akan makan obatnya. Jadi kumohon kabulkan permintaanku, jangan berhubungan dengan ibuku…”

“Luhan…”

“Kumohon Ariel. Aku mohon…”

Ariel pun tidak menjawab apapun dan lebih memilih untuk mengambil piring di tangan Luhan. Luhan memejamkan matanya erat, menahan pusing di kepalanya. Ariel tahu rasanya anemia, dan ia tahu betapa menyiksanya penyakit itu. Dan Ariel merasa perlu menjaga Luhan baik-baik. Mskipun Luhan mulai bertingkah seperti bayi.

“Aku ingin bertemu dengan keluargamu yang lain di Kanada,” kata Luhan toba-tiba, dengan tatapan sedikit menerawang, “Boleh, kan? Aku ingin melihat ayah mertuaku, juga kakak iparku. Ibumu sering menceritakan tentang Henry, aku ingin bertemu dengannya.”

Ariel menatap Luhan lama, lalu ia tersenyum dan mengangguk. Ia pun memberikan air putih ke arah Luhan dan tak lupa menyodorkan obat yang diberikan dokter tadi pagi, “Maka dari itu kau harus sembuh. Makan dengan benar, istirahat dengan benar,” kata Ariel sambil membenarkan posisi tidur Luhan.

“Aku rasam aku mulai bisa melihat ke arahmu…”

“Apa?” Ariel memutar tubuhnya ke arah Luhan –ia baru saja berbalik untuk menaruh piring kotor.

Tapi Luhan hanya menggeleng, “Tidur di sini lagi. temani aku.”

 

***

 

“Aku menyesal telah memintamu untuk memberikan bantuan terhadapku,”s kata Nyonya Xi sambil menyentuh gelas anggurnya, merasa semua beban pikirannya semakin bertumpuk di usianya yang mulai berubah senja.

Xi Mai pun mengangkat kepalanya danmenatap Lim Jinha yang tengah menunduk dengan dagu angkuhnya. Ia selalu percaya pada wanita itu, ia selalu merasa bisa mengandalkan wanita itu,s tapi untuk pertama kalinya, ia menyesal telah begitu banyak memberikan kepercayaan padanya.

“Aku hanya ingin putrimu melahirkan cucu untuk keluarga Xi, bukannya menjadikan gadis itu sebagai bagian dari keluarga Xi. Aku cukup tertegun melihat bagaimana cara Luhan memohon agar kontrak itu dibatalkan,” kata Xi Mai lagi, nada sedih begitu kentara dalam tiap kata yang dilontarkannya, “Jika aku tahu semuanya akan menjadi seperti ini, sejak awal aku pasti akan memilih Victoria sebagai menantuku…”

“Luhan juga memohin padaku, jika Nyonya belum tahu soal itu,” kata Lim Jinha masih menunduk.

Xi Mai memejamkan matanya erat, “Dan kau berencana meninggalkanku setelah semua yang terjadi? Kau akan membawa putrimu dan membiarkannya kembali pada Zhang Yixing?” Xi Mai memicingkan matanya tajam, “DAN KAU AKAN MEMBIARKAN PUTRAKU MENDERITA?!” pekiknya frustasi sambil melempar gelas di tangannya.

“Hidup bisa berubah seiring waktu. Entah itu karena pilihan kita, tujuan kita, atau apa yang dipikirkan oleh kita,” Lim mengangkat kepalanya, “Bukan aku yang menginginkan pernikahan kontrak ini. Aku hanya berkata bahwa anakku mungkin bisa menikah dengan Luhan. tapi Nyonya lah yang mengajukan pernikahan kontrak itu…dan aku menyesal. Saat itu aku hanya berpikir bahwa Whitney tengah kesulitan dan benar-benar membutuhkan uang. Maka dari itu aku setuju. Bahkan Luhan setuju karena dia sangat menyayangimu,” Lim menarik napas panjang, “Dan aku berhenti bukan karena aku yang mengkhianatimu. Aku…ingin menempuh impian lamaku, mengembalikan namaku, juga nama keluargaku, mengangkat nama anak-anakku…”

“Kau konyol, Lim…”

“Kami memang miskin,” Lim semakin mengangkat dagunya, “Tapi kami masih punya harga diri. Aku tahu pada akhirnya akan seperti ini, tapi yang aku tidak tahu hanyalah perasaan putriku. Aku yakin, jika Ariel tidak nyaman berada di sisi Luhan, dia kaan melarikan diri. Dia gadis yang nekat, aku kenal baik dirinya. Tapi seperti yang Anda lihat, bahkan waktu 3 bulan terbilang sangat lama untuk pernikahan yang tanpa dilandasi cinta terutama…karena kekurangan yang dimiliki Luhan. dan yang membuatku semakin yakin bahwa Luhan menyukai putriku, saat dia mulai bertanya semua tentang Ariel, bahkan sampai meminta agar kontrak itu dihentikan.”

“Sudah selesai mengajariku, Lim?” desis Xi Mai dengan nada mengejek.

Lim menggeleng, “Kau tidak tahu rasanya ketika jatuh, Nyonya Xi. Aku mengalaminya. Aku mengalamis ebuah kejayaan dimana kekuasaan, harta, dan harga diri adalah segalanya. Aku pernah di posisimu dan selalu mempertahankan semua itu. Tapi saat aku dijatuhkan karena keegoisanku, saat itua ku menyesal karena telah membuat anak-anakku menderita karena keegoisan yang telah kutinggikan…”

“Lim Jinha cukup!!!”

“Anda bukan penentu takdir, ada Tuhan yang masih menentukan jalan hidup Anda. Lakukan semua yang terbaik untuk Luhan sebelum Luhan berbalik membenci Anda, sama seperti apa yang dilakukan Whitney dan Ariel padaku…”

 

***

 

“Undang mereka, sapa mereka seperti biasa. Dan jangan rusak keharmonisan mereka karena masalalumu dengan Ariel,” Lisa masih mengingatkan Yixing sambil sedikit merapikan rambutnya.

Yixing masih saja menyentuh tuts pianonya, pemuda itu latihan mati-matian. Setengah melampiaskan emosi hitamnya, juga ia ingin menampilkan permainan terbaiknya. Ia harus membuat musik terbaik dari pianonya. Harus.

“Jangan terlalu melankolis meskipun kau masih menyukai Ariel…”

“Nuna bawel,” ketus Yixing mengangkat jarinya dari atas tuts piano.

“Aku tahu,”

“Nuna cerewet,”

“Ya ya…semua orang berkata hal yang sama.”

“Tapi Nuna tidak tahu bagaimana debaran jantungku saat mengingat nama Ariel, bagaimana napasku berubah sesak ketika aku harus berhadapan dengan Ariel, bagaimana aku harus tetap tersenyum pada Luhan meskipuna ku benar-benar terluka…”

“Salah siapa kau mendengarkan ucapan ibu Ariel?! Ucapannya memanga gak kurang waras. Kau jangan terlalu mendengarkannya…”

“Tapi bukankah itu artinya Luhan tidak serius menjadi suami Ariel?!”

“Yak! Kenapa berteriak?!” Lisa balas membentak Yixing, “Dan tahu apa kau tentang rumah tangga Ariel? Bagaimanapun itu tentu saja akan kembali menjadi urusan Luhan. lagipula apa menurutmu Luhan bermain-main? Kau tidak lihat bagaimana cara Luhan merangkul Ariels eolah berkata…” Lisa menghentikan ucapannya saat Yixing memukul pianonya dengan keras. Keras sekali, dan ini pertama kalinya bagi Lisa melihat Yixing seemosi itu.

“Kenapa Ariel mempermainkan perasaanku sejauh ini…” Yixing membenamkan wajahnya pada lipatan tangannya di atas pianonya, “Kenapa dia tidak bisa membiarkanku hidup tenang dengan perpisahan kami…” Yixing mulai terisak. Ia benar-benar frustasi. Ia begitu mencintai Ariel. Sangat emncintai Ariel. Ia bisa melepaskan gadis itu, tentu saja. tapi tidak saat semua orang terus membicarakannya, dnegan wkatu yang terus membawanya ke hadapan Yixing. Yixing tidak bisa.

Lisa pun mendekati Yixing dan memeluk Yixing erat, “Hei…ini mungkin jalan yang ditunjukkan Tuhan menuju seseorang yang lebih pantas untuk berada di sisimu. Jangan pikirkan apapun lagi, pikirkan saja konsernya. Atau kau mau aku membatalkan semuanya?” Lisa mengusap kepala Yixing penuh kasih sayang.

Lisa tahu ini berat. Melupakan seseorang yang kau cintai, seseorang yang kau beri harapan penuh, seseorang yang sudah kau jadikan rencana masa depanmu…melepasnya tiba-tiba dan melihatnya pergi bersama sahabatmu. Yang benar saja. jika Lisa yang mengalaminya, mungkin Lisa akan berpikir untuk menenggelamkan tubuhnya ke dalam sungai Han.

“Aku merindukannya, Nuna…sangat…”

Lisa masih mengusap kepala Yixing dan memeluknya semakin erat, “Ya…aku tahu. Aku mengerti…”

“Aku mencinainya Nuna, sangat…”

“Hmm…”

“Aku tidak rela Luhan lah yang berada di sisinya,”

Lisa semakin mengeratkan pelukannya, “Luapkanlah semuanya. Dan setelah ini kau harus berhenti memikirkannya. Katakanlah semua yang kau pikirkan, katakan jika Luhan brengsek, Ariel sangat jahat, kau membenci mereka, katakanlah…”

“Ya…mereka brengsek…sangat brengsek…”

Lisa pun mengangkat bahu Yixing dan menatap wajah Yixing dalam. Meskipun dia sudah berumur 24 tahun, tapi Lisa tetap menatap Yixing seperti remaja 16 tahun –sama seperti saat ia mengenal anak ini untuk pertama kalinya. Lisa pun menghapus air mata Yixing, dan entah dorongan darimana, Lisa langsung mendekatkan wajahnya ke arah Yixing, menyentuh bibir pemuda itu dengan bibirnya. Lisa tidak pernah melakukannya. Selama hampir 9 tahun ia mengenal Yixing, ini pertama kalinya Lisa melakukan hal gila ini.

Lisa kira, Yixing akan mendorong Lisa ataupun langsung melepaskan sentuhan bibir mereka, namun tanpa ia duga, Yixing justru menarik tengkuk Lisa kasar dan langsung melumat bibir Lisa dengan kasar. Lisa tahu Yixing tengah meluapkan kekesalannya, dan Lisa hanya membiarkan Yixing terus mendominasi dirinya.

 

***

 

“Berhenti mengganggu Yixing,” Lisa tersenyum kecut saat ia berpapasan dengan Lim Jinha di pintu masuk staff room untuk acara festival yang dilakukan oleh Yingtai.

Lim sedikit mengerutkan dahinya, “Maaf?”

“Aku tidak tahu apa yang menjadi masalah di dalam pernikahan Ariel dan Luhan. tapi kumohon, jangan libatkan Yixing lagi. Anda harus tahu, itus angat menyakitinya. Dan jika sampai Luhan ataupun ariel tahu tentang ini, mereka juga akan sama-sama tersakiti. Jadi kumohon. Jangan buat adikku semakin menderita…”

Lim tersenyum meremehkan, “Kau tidak mengerti Lisa-ssi. Kadang hidup perlu berkorban, atau seseorang yang harus dikorbankan. Aku pikir, Yixing mungkin bisa…”

“Silahkan tanamkan pikiran itu sekehendak Anda. Tapi jangan biarkan Yixing terlibat dan jangan berpikir Yixing akan terlibat…” Lisa membungkukkan badannya dalam, “Kumohon. Sebelum Ariel tahu jika ibunya terus memaksa Yixing untuk menempati posisi Luhan saat ini.”

Rahang Lim Jinha langsung mengeras setelahnya, “Kau begitu peduli padanya…”

“Dia kekasihku mulai sekarang,” bohong Lisa, “Jadi kumohon. Cinta kadang tidak bisa berada di atas segalanya…”

 

***

 

150527 2202

=TBC=

Wow! Gak nyangka udah sampai sini aja nih ff :^)

Satu part lagi guys…semoga aku bisa posting part terakhir secepat yang aku bisa ^^

19 responses to “[Series] Married with a Gay (Chapter 12B)

  1. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 3 | FFindo·

  2. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 4 | FFindo·

  3. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 5 | FFindo·

  4. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 6 | FFindo·

  5. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 7 | FFindo·

  6. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 8 | FFindo·

  7. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 9 | FFindo·

  8. Pingback: [Series] Married With A Gay – Chapter 10 | FFindo·

  9. akhirnya yixing move on. ulala~ wufan juga udah nerima fei kan? berarti tinggal luhan sama ariel masalahnya. tapi kalo akhirnya luhan engga sama ariel, kasian banget luhannya. ehiya ariel udah suka sama luhan belom sih? tingkahnya dia ke luhan rada ambigu, hahaha. semoga happy ending.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s