[Chaptered] Married with a Gay (Chapter 13-END)

mwag-copy

Title     : Married With A Gay

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Angst

Main Cast: Xi Luhan as Lu Han, Ariel Lau (OC), Zhang Yi Xing as EXO M Lay

Other Cast : Find by your self

Rating : PG 17 !

Length : Multichapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Warning!!! PART ini panjang banget! Siapkan popcorn dan cemilan lainnya ><

  • Soulstar ft Beige – Can’t I?
  • Lu Han – Tian Mi Mi
  • Zhang Li Yin – Agape
  • Wu Yi Fan – There is Place
  • Xia – Love is Like a Snowflake
  • TvXQ – Hug
  • Kim Jae Joong – Living Like A Dream
  • Super Junior ft U-Know & Micky – Heartquake

***

 

“Pokoknya setiap jam 5 sore aku akan mengantarkan makanan ke kantormu. Jika aku tidak bisa, aku akan menelpon restoran Jepang milikmu itu untuk mengantarkan makanan dan juga beberapa vitamin. Ingat, kau harus meminumnya dengan teratur. Dan usahakan jangan terlalu banyak lembur, kau harus banyak istirahat. Jangan banyak pikiran juga, apalagi sekarang kau sedang ada proyek baru. Ingat Luhan, aku tidak mau kau sakit lagi seperti kemarin.”

Luhan hanya menyangga dagunya di atas tangan yang terlipat rapi di atas meja makan, memperhatikan Ariel yang terus-terusan mengomel sejak ia skait 2 hari yang lalu. dan sesekali Luhan tersenyum, ia suka sekali saat Ariel seperti ini. Ternyata Ariel bisa bicara banyak terhadapnya, ternyata gadis itu bukan gadis kaku yang hanya bisa terlihat nyaman di dekat Baekhyun Baekhyun itu. Ia menang satu poin dari Baekhyun. Luhan sangat yakin, sedekat apapun Baekhyun dan Ariel, Ariel pasti belum pernah seperhatian ini selain pada Luhan.

Ariel pun berjalan menuju meja makan dengan dua buah piring di tangannya. Tumben sekali gadis itu tidak bereksperimen dengan macam-macam makanan yang mungkin hanya akan Luhan temui di restoran Eropa atau restoran asing lainnya –khususnya Kanada. Tapi apapun itu, selama Ariel yang memasaknya, Luhan rasa, ia akan tetap memakannya. Ia menyukai semua makanan yang dibuat oleh Ariel.

“Super Hero saja bisa sakit, jadi kau jangan sok bertindak seperti super hero yang punya kekuatan super. Jangan kedinginan juga, pakai jasmu dengan benar. Jangan sakit lagi…”

Luhan masih tetap dalam posisinya dengan mata yang sibuk memperhatikan Ariel.Entah sejak kapan Ariel berubah dengan pesona yang begitu kuat, padahal saat pertama kali melihatnya, Luhan justru merasa gadis ini benar-benar semrawut dengan penampilannya yang juga asal-asalan. Tapi sekarang, Luhan justru seperti tengah melihat bidadari yang entah bagaimana bisa tersangkut di hidupnya, dan Luhan berjanji akan membuat gadis itu tetap berada di sepanjang episode hidupnya.

“Oya, Luhan,” Ariel kembali bersuara saat Luhan hampir memasukkan sesendok bubur ke mulutnya, “Ibumu terlihat aneh belakangan ini, dia terus memintaku untuk bertemu…”

“Jangan temui dia,” suara Luhan berubah dingin saat Ariel mulai membahas ibu Luhan lagi. dan tanpa siapapun tahu, pikiran Luhan kembali kacau jika ia sudah mengingat ibunya.

Ariel mendesah panjang. Ia lelah menghadapi Luhan yang terus-terusan bertingkah aneh seperti ini. Memangnya apa yang salah dengan ibunya sendiri? Nyonya Xi adalah mertuanya sekarang,jika dipikir-pikir, tidak pantas sekali jika Ariel menghindari wanita yang juga kini sudah menjadi ibunya.

“Kau ini sebenarnya kenapa? memangnya apa yang salah jika aku menemui ibu mertuaku sendiri?” nada suara Ariel berubah jengkel. Ia tidak mau wajahnya di cap sebagai menantu tidak tahu diri. Semenyebalkan apapun ibu Luhan, tentu saja Ariel harus tetap menerima keadaan itu. Itu sudah menjadi resikonya, mereka sudah menjadi keluarga sekarang.

Luhan hanya bisa menggigit lidahnya. Suara ibunya tempo hari kembali mengikat gendang telinganya…

“Katakan yang sebenarnya Luhan. pernikahan ini tidak bisa diteruskan.”

“Kontrak ini bersifat formal. Kau tahu aku bisa menggugat keluarga Lau jika mereka melanggarnya.”

“Aku menyewa gadis itu untuk memberikanku seorang cucu. Setelah itu, jika kau perlu seorang Nyonya Xi lagi, aku bisa mencari wanita lain. Kau sudah tahu semua rencanaku Xi Luhan. dan yang pasti kau sudah menyetujuinya.”

“Aku sudah membuat kesepakatan dengan keluarga Song. Jangan membantahku lagi Luhan. ini demi nama baik keluarga kita, demi perusahaan yang kakekmu perjuangkan mati-matian.”

Luhan memejamkan matanya saat denyutan di kepalanya mulai terasa kembali. Tidak. Ia tidak mau meninggalkan Ariel apapun alasannya. Ia tidak akan membiarkan siapapun memisahkan dirinya dengan Ariel. Ia sudah merasa benar dengan hidupnya sekarang, ia tidak mau kehilangan Ariel. Tidak akan…

“Kuharap ini bukan karena ibuku yang tiba-tiba ingin kembali menjadi pianis,” Ariel kembali bersuara dengan tatapan sedikit menerawang. Sobekan rasa bersalah kembali menggigitinya. Selama ini Ariel sudah menghindari ibunya, menjauhinya karena pernikahan ini.

Luhan mengangkat kepalanya dan menatap Ariel serius. Ia selalu panik jika Ariel mulai membahas ibu Luhan, ataupun ibu Ariel sendiri. Tidak dalam kondisi sekarang. Tidak disaat Luhan sama sekali belum sepenuhnya yakin untuk menyelesaikan masalah ini.

“Kau sudah tahu jika ibuku mengundurkan diri, kan? Dia selalu begitu, selalu terlalu cepat mengambil keputusan…”

Luhan tetap diam dan melanjutkan sarapan paginya. Tentu saja ia sudah tahu, dan ia tahu apa saja yang menjadi alasan pengunduran diri mertua Luhan yang bisa dikatakan mendadak itu. Ini bukan hanya soal mimpinya, tapi ini juga soal Ariel. Meskipun Luhan tidak benar-benar tahu apakah ibu Ariel berpihak padanya atau tidak, tapi setidaknya Bibi Lim akhirnya bertindak sendiri untuk menghentikan kekonyolan ibunya.

“Oya. Baekhyun…”

“Ariel Lau,” suara Luhan berubah dingin saat lagi-lagi Ariel menyebut nama Baekhyun. Demi Tuhan, bisakah gadis itu sedikit saja mengerti jika Luhan tidak suka jika mulut Ariel mulai menyebut-nyebut Baekhyun?

Namun dengan tampang tanpa dosa, Ariel tetap melanjutkan,”…dia sudah memberikan tiket VIP untuk teaternya nanti. Ada dua tiket, kau harus kosongkan jadwalmu,” kata Ariel lagi berusaha cuek dengan tampang Luhan yang mulai berubah datar.

Luhan mendesis dan membuang mukanya, “Aku tidak mau. Kenapa kau masih saja berurusan dengannya, sih?”

Ariel terkekeh pelan dan kembali menyuapkan nasi gorengnya ke dalam mulut, “Ayolah, Luhan. jangan kekanakan. Bagaimanapun dia sahabatku, bagaimana bisa dengan seenaknya aku menolak ajakannya? Jika kau punya Wu Yifan, maka aku punya Byun Baekhyun.”

“Tapi dia laki-laki! Bagaimana jika…”

“Kami sama sekali tidak saling jatuh cinta Luhan. ayolah. Kita kan datang bersama, bukan aku datang sendiri. Kau mau ya? hmm? Kau juga harus bertemu Taeyeon Sunbae nanti. Dia kekasih Baekhyun. Cantik, baik, pokoknya dia terlalu sempurna untuk seorang Byun Baekhyun.”

“Baekhyun punya pacar?” tanya Luhan sambil mengunyah buburnya, “Ah, tapi punya pacar atau tidak tetap saja aku harus mewaspadainya. Ingat! Jangan dekat-dekat dengannya.” Luhan sedikit mengangkat sendoknya dan mengarahkan ke arah wajah Ariel.

Ariel tergelak. Ia tidak tahu jika Luhan akan berubah menjadi pria manis posesif seperti sekarang. Tapi Ariel menyukainya. ariel menikmati dengan setiap apa yang Luhan lakukan. Dan mungkin, Ariel akan tetap menyukainya.

“Aku berangkat sekarang,” Luhan pun meneguk habis air putihnya, “Jangan kemana-mana dengan Baekhyun. Ingat itu.”

Ariel memutar bola matanya malas. Bahkan Yixing tidak pernah seprotektif itu padanya, meskipun sempat cemburu dan memprotes, tapi Yixing justru kadang lebih mempercayai Baekhyun daripada teman-teman Ariel yang lain.

“Hati-hati di rumah. Dan ingat, jangan angkat telpon ibuku. Jangan temui dia,” Luhan pun mendekati Ariel dan mengecup singkat kening Ariel. Setelahnya, Luhan langsung berjalan santai menuju pintu keluar. Sama sekali tidak tahu Ariel langsung membeku di tempatnya saking kagetnya.

Itu manis –cara Luhan memperlakukannya. Ariel tahu itu benar-benar manis, bahkan sejak dulu Luhan sudah membuat hal-hal manis semacam itu. Dan ia juga tahu bagaimana jantungnya berdebar cepat sekali. Debaran jantung yang membuat aura terang bernada bahagia. Senang. Ariel senang sekali akhirnya ia bisa seromantis ini dengan Luhan –setidaknya bagi Ariel ini semua sangat romantis.

Ariel pun memutar kepalanya ke arah Luhan keluar tadi, mungkin ini saatnya Ariel mulai bisa benar-benar menerima Luhan.

 

***

 

“Mom, kau yakin kau akan benar-benar berhenti?” tanya Ariel langsung saat suara ibunya terdengar dari ujung telepon. Sebelah tangan gadis itu sedikit sibuk membuka-buka sebuah artikel di internet yang dikirimkan teman kursusnya, sebuah tawaran pekerjaan.

Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya sang ibu kembali angkat suara, membuat Ariel menolehkan kepalanya ke arah kaca besar yang menjadi dinding apartemen Luhan, “Siang-siang seperti ini kau tidak ada kerjaan, hm?” tanyanya dengan suara lembut. tanpa sadar, Ariel merasa tercenung mendengar suara ibunya, dadanya bergetar. Ia sangat merindukan ibunya, entah berapa lama ia mengabaikan dan menghindari wanita yang selalu dinomorsatukan olehnya itu. Dan seberkas rasa bersalah itu kembali muncul.

“Sebentar lagi aku akan pergi ke kantor Luhan. sebentar lagi jam makan siangnya, aku harus mengantarkan bekalnya. Sejak dua hari lalu Luhan sakit, dia terlalu kelelahan. Jadi, aku harus memantaunya lebih ekstra,” kelakar Ariel tanpa peduli dengan kekakuan hubungan mereka sebelumnya. ariel bicara seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Dan tanpa sepengetahuan Ariel, di sebrang telpon ibu Ariel tersenyum tipis saat mendengar nada bicara suara putrinya, “Kau dan Luhan baik-baik saja?” tanya Lim Jinha setengah berbasa-basi. Tentu saja dengan mendengar cerita Ariel, Lim sudah tahu jika rumah tangga putrinya benar-benar baik-baik saja. namun yang agak tidak terlalu baik, adalah fakta jika Luhan belum menjelaskan atau melakukan sesuatu atas kontrak yang mulai diungkit-ungkitnya.

“Ya. sangat baik!” sahut Ariel antusias. Ia pun menarik kakinya dan memeluk kedua kakinya, ia kembali memutar momen apa saja yang telah dilewatinya dengan Luhan, “Luhan sangat baik, juga perhatian. Aku juga tidak tahu kenapa kami bisa-bisa berubah menjadi sangat cair. Tapi semuanya terasa sangat menyenangkan…” Ariel menjeda dengan helaan napas panjangnya, “Ma, terimakasih telah membuatku bertemu dengan Luhan. aku…tidak menyesal telah menikah dengannya.”

Lim Jinha tidak menjawab dan hanya tersenyum tipis, ia merasa senang dan bersalah secara bersamaan.

“Jadi, Mom akan benar-benar berhenti?” tanya Ariel lagi mengulang topik awal mereka.

“Ya. belum bisa dipastikan kapan, Ibu Luhan belum sepenuhnya merelakanku untuk keluar. Tapi yang bisa kupastikan hanya satu, aku akan benar-benar berhenti.”

 

***

 

Kepala Luhan langsung terangkat saat seseorang mengetuk pintu, kemudian menampakkan sekretarisnya yang memberitahu jika ariel baru saja tiba. Saat itu Luhan tengah memeriksa beberapa laporan yang masuk ke mejanya. Dan ketika melihat wajah Arie, senyum Luhan langsung mengembang. Ia pun buru-buru menyuruh Ariel masuk. Dan dengan cepat pula, Luhan langsung berjalan menuju sofa panjang yang ada di dalam ruangan itu. Melupakan kertas-kertas yang membuatnya merutuk sejak tadi pagi. Ayolah, ia hanya meninggalkan kantor selama dua hari, tapi semua kertas-kertas itu seperti ingin memakannya dan membuat perut Luhan menjadi mulas karena saking banyaknya.

“Hai,” Luhan mengangkat tangannya dengan semangat saat Ariel baru satu langkah menginjak lantai ruangan Luhan.

Ariel menggeleng kecil dengan seutas senyum geli di bibirnya. Masih saja kekanakan, pikirnya. Ariel pun berjalan mendekati Luhan dan langsung meletakkan bekal yang dibawanya ke atas meja, “Aku takkan lama. Kau makan…”

“Tidak ada makan sendiri Ariel Lau,” sergah Luhan cepat saat ia tahu kemana arah pembicaraan Ariel, “Aku tidak mau makan jika kau tidak menemaniku,” rajuk Luhan dengan tangan terlipat di depan dadanya.

Ariel mendengus pelan. Ia pun menyerah dan langsung duduk di samping Luhan. tadinya ia akan langsung belanja untuk keperluan rumah. Tapi ia tidak punya pilihan jika Luhan mulai merajuk seperti ini lagi.

“Aku mau belanja. Rak di rumah kita mulai kosong. Aku juga harus membeli daging…”

“Aku bisa mengantarkanmu,” sela Luhan cepat sambil menyumpit bekal di hadapannya. Menu siang itu terbilang menu biasa, ada sayur dan daging sapi. Tidak ada menu aneh seperti yang sudah-sudah.

Ariel berdecak geli, “Dan kembali meninggalkan pekerjaanmu? Kau bos yang tidak bertanggung jawab.”

Luhan menggeleng dengan mulut yang penuh, “Kenapa aku harus bertanggung jawab untuk sesuatu yang tidak lebih penting dari istriku?”

“Kau banyak menggombal,” Ariel tidak salah, kan? Luhan banyak menggombal belakangan ini. Padahal, sebenarnya Ariellebih suka Luhan yang terlihat dingin dan pendiam.

Luhan hanya tersenyum dan mengambil sebuah brokoli dengan sumpitnya, “Ayo! Kau juga harus makan!” Luhan mulai mengarahkan sumpitnya ke arah Ariel.

Tapi dengan cepat Ariel menepis pelan tangan Luhan dan memundurkan kepalanya beberapa senti, menghindari sumpit Luhan –atau mungkin brokoli di sumpit Luhan, “Aku sudah makan. Jadi kau saja yang makan,” elaknya dan kembali menegakkan punggungnya. Tentu saja Ariel berbohong. Ariel tidak mau makan karena ia tidak suka sayur, dan ia memasak sayur semata-mata karena peduli terhadap kesehatan Luhan.

Luhan sedikit mengerutkan keningnya, “Ayolah. Hanya brokoli ini saja, ya?”

Ariel kembali memundurkan wajahnya dan langsung menahan tangan Luhan, “Aku makan nasinya saja,” kata Ariel cepat dan dengan cepat pula ia mengambil alih sumpit di tangan Luhan.

Tapi setelah mengarahkan sumpitnya tepat ke depan kotak bekal yang berisi nasi, Ariel langsung meringis dan menaruh sumpit itu lagi, kemudian ia mengambil sendok dan menyendok nasi tersebut, “Aku lupa aku tidak bisa pakai sumpit,” gumamnya yang lebih kepada diri sendiri. Mungkin banyak orang yang kurang memperhatikan ini, Ariel sangat jarang menggunakan sumpit karena…yeah, sejak kecil ia tidak pernah benar-benar membiasakan diri atau menaruh rasa tertarik untuk belajar menggunakan sumpit.

Luhan yang melihatnya langsung tertawa keras, dan yang membuat Ariel harus mendelik, laki-laki itu sampai menepuk tangannya berkali-kali, “Ini lucu. Kau orang cina dan kau tidak bisa menggunakan sumpit?” katanya masih menahan tawa gelinya. Oh, demi apapun ini benar-benar lucu di mata Luhan.

Ariel mendengus dan memalingkan mukanya, “Ini sudah lama sekali sejak orang lain mentertawakanku seperti itu,” gusarnya dengan muka sedikit masam.

Perlahan, Luhan mulai menghentikan tawanya dan menggantinya dengan senyum tipis, “Kalau begitu, biar aku ajari…”

Luhan langsung mengambil sumpit tadi dan mengarahkannya pada Ariel, “Pegang ini, perhatikan bagaimana caraku memegang sumpit,” Luhan mulai mengajarkan bagaimana cara memegang sumpit yang benar. Sebenarnya ini lucu, Luhan bahkan tidak ingat kapan ia belajar menggunakan sumpit.

“Memangnya kau tidak pernah diajari cara memegang sumpit?” tanya Luhan lagi saat Ariel mencoba mengambil brokoli di hadapannya dengan ragu. ia harap, saat brokoli itu berhasil diambilnya, Luhan tidak akan memaksanya untuk memakan brokoli itu.

“Aku saja yang tidak tertarik. Sampai saat ini aku masih punya dua kewarganegaraan. Jadi aku masih punya alasan karena aku warga asing sehingga tidak perlu terlalu memusingkan masalah sumpit dan sebagainya,” sahut Ariel masih terfokus untuk mengambil brokoli di depannya.

Luhan hanya tersneyum kecil, “Kau ini sengaja membuat sumpitmu tidak bisa mengambil brokolinya atau apa? meskipun kau tidak suka sayur, kau tidak boleh memusuhi si manis hijau ini,”

Ariel memutar bola matanya malas. Tiba-tiba saja perutnya merasa mulas saat mendengar panggilan aneh Luhan untuk brokoli-brokoli itu, “Kau tahu aku tidak suka sayur?”

“Tentu saja aku tahu. Aku selalu memperhatikanmu.”

Ariel hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Luhan. ada rasa bahagia yang tiba-tiba melilit dadanya. Ia bukan tipikal gadis yang senang mencari perhatian ataupun selalu menuntut perhatian, tapi jika sudah diperhatikan seperti ini, Ariel sering merasa senang yang keterlaluan. Ia merasa dipedulikan, diperhatikan, dan tentunya disayangi –dan lebih lagi ia dicintai.

“Berhasil! Lihat ini? Aku bisa mengambilnya!” seru Ariel semangat sambil memamerkan brokoli di sumpitnya.

Luhan menggeleng dan mengambil alih sumpit itu, lalu memasukkan brokoli tersebut ke mulutnya, “Baru satu brokoli saja sudah bangga. Dan apa-apaan tadi? Kau membutuhkan waktu 5 menit untuk mengambil sebuah brokoli?” kata Luhan sedikit melebih-lebihkan.

Ariel mencibir dan mencubit pinggang Luhan, “Biar saja, yang penting aku sudah mencoba,” ketusnya yang dibalas kekehan oleh Luhan. dan Luhan pun kembali melanjutkan acara makan siangnya.

“Kau itu cantik,” kata Luhan jujur, tanpa memandang Ariel, dan tentunya masih sibuk berkutat dengan makan siangnya.

Ariel justru hampir terbatuk ketika ia mendengar pujian –yang menurutnya adalah gombalan—Luhan. ia pun melirik Luhan dari ujung ekor matanya, kemudian ia menggeleng pelan. Luhan mulai lagi, pikirnya. Ariel tidak tahu kenapa luhan senang sekali membual atau menggombal semacam tadi, membuat Ariel harus merasakan kupu-kupu itu beterbangan dari perutnya.

“Aku tidak bohong, loh,” Luhan mulai menaruh sumpitnya dan menatap Ariel serius, “Kau memang cantik. Aku penasaran, berapa banyak laki-laki yang pernah kehilanganmu. Mereka pasti sangat kecewa saat tahu siapa yang berhasil memilikimu.”

Lagi-lagi Ariel hampir tersedak. Ia pun kembali melirik Luhan lewat ujung ekor matanya. Ariel kurang senang jika Luhan mulai membahas mantan kekasih Ariel. Ayolah, kalian atau siapapun yang tahu siapa mantan kekasih Ariel sebenarnya pasti akan berpikir Luhan tidak perlu membahasnya atau siapapun yang perlu membahasnya. Selain karena masa lalu tersebut pernah sangat menyakitinya, ia juga tidak tahu bagaimana perasaan Luhan nantinya jika tahu siapa orang itu.

“Apa kalian sudah menyelesaikannya?” lagi-lagi Luhan masih berputar di topik yang sma.

Ariel sangsi. Ia tidak mau membahas ini terlalu jauh, tapi…”Kenapa kau bertanya soal ini?” Ariel pun mencoba tetap bersikap biasa, seolah Zhang Yixing yang terlibat ke dalam topik ini bukanlah masalah besar.

“Aku hanya ingin tahu bagaimana kau mengakhiri hubunganmu dengan kekasihmu. Dia baik-baik saja? bagaimana cara kau memutuskannya? Kau baik, sangat sangat baik. Kau juga cantik. Pasti sulit sekali melepaskanmu…”

Ariel mungkin harusnya merasa senang mendengar ucapan jujur Luhan. tapi yang mendominasinya justru rasa tidak nyaman. hidupnya berubah dratis karena Luhan. ia harus berkorban banyak demi bisa duduk manis dengan seutas senyum kebahagiaan ini bersama Luhan. ini memang bukan kisah pengorbanan seperti Romeo dan Juliette yang harus memperjuangkan kisah cinta mereka, tapi ada banyak air mata yang harus Ariel keluarkan demi merengkuh senyum seperti ini. Ada banyak luka yang harus ia tahan demi kehangatan yang ia genggam saat ini.

Ariel dan Luhan. nama mereka yang bersanding adalah sesuatu yang sangat ia syukuri dengan perjuangan kecil yang benar-benar melelahkan.

“Ariel…”

Ariel menoleh saat Luhan memanggilnya. Kemudian Luhan pun langsung mengecup bibir Ariel, membuat Ariel harus mencerna perlakuan luhan yang selalu tiba-tiba itu. Luhan melumat bibir gadis itu lamat-lamat, membuat Ariel akhirnya ikut larut dan membalas ciuman Luhan.

Ariel dapat merasakan lengkungan bibir Luhan di bibirnya. Ini manis. Sungguh. Ariel dapat merasakan sensasi aneh yang membuatnya merasa bahagia. Ini bukan kali pertama Luhan menciumnya seperti ini –dan tentunya Luhan akan melakukannya dengan tiba-tiba. Tapi kali ini berbeda, Ariel merasakan guratan aneh di dadanya yang merujuk pada perasaan bahagia. Dan Ariel menikmatinya.

Luhan semakin mendesak tubuh Ariel dan juga semakin memperdalam ciumannya. Luhan menjamah bibir Ariel tanpa ada sesentipun yang terlewatkan. Dan Luhan langsung melesakkan lidahnya ke dalam mulut Ariel saat gigitan kecilnya berhasil membuat bibir Ariel sedikit terbuka. Luhan semakin leluasa untuk melanjutkan ciuman panasnya saat tangan Ariel kini beralih melingkar di leher Luhan, membuat mereka harus menggerakkan kepala ke kanan atau ke kiri untuk mendapatkan oksigen di sela-sela ciuman mereka.

Setelah sekian menit, Luhan pun melepaskan tautan bibir mereka dan menatap Ariel tepat di manik mata gadis itu. Melemparkan senyumannya kemudian kembali menyentuh bibir gadis itu lagi, mengecupnya berkali-kali sebelum akhirnya Luhan benar-benar menjauhkan tubuhnya dari tubuh Ariel. Well, Luhan kurang bisa ‘mengontrol’ dirinya, sedikit liar, dan sedikit agresif.

“Sepertinya…aku mulai mencintaimu Ariel Lau,” kata Luhan dengan nada malu-malu. Luhan tidak melihat Ariel, ia justru berpura-pura memainkan sumpitnya. Seperti remaja yang tengah menyatakan cinta pertamanya.

Ariel yang baru saja membenarkan posisi duduknya tersenyum geli ke arah Luhan. astaga. Pria ini benar-benar seperti perempuan. Banyak bicara, manja, bahkan dia juga punya sifat pemalu yang biasanya hanya perempuan yang memilikinya.

Ariel pun mengecup pipi Luhan, “Aku juga,” balasnya masih dengan senyuman yang membuat Luhan selalu ingin ikut tersenyum.

 

***

 

Sore itu, Yixing sengaja mengajak Lisa untuk jalan-jalan berkeliling di taman kota. Yixing sebenarnya masih merasa kaku tiap kali ia harus menatap mata Lisa. Ayolah. Ia benar-benar merasa konyol setelah mencium wanita itu….tapi salahkan saja Lisa yang telah memulainya duluan.

Yixing kembali melirik Lisa yang tengah berjalan di samping kanannya, berjalan sambil menggenggam tangan Yixing dan melihat pemandangan Beijing yang ramai sore itu. Lisa sama sekali tidak berubah setelah insiden aneh itu –setidaknya itu aneh bagi Yixing. Entah Lisa memang seorang playgirl atau memang gadis itu sama sekali tidak memusingkannya.

“Oya, kau tahu tidak? Koreografer yang kutemui tempo hari menghubungiku lagi,” Lisa mulai angkat suara. Ia tidak mencoba untuk memecahkan keheningan mereka, ia sangat sadar dengan kegugupan Yixing. Tapi ia sama sekali tidak mau memusingkannya dan membuat Yixing tidak nyaman. itu ketidaksengajaan. Sungguh.

Yixing yang mendengarnya memutar kepalanya ke arah Lisa. Jadi Lisa tidak benar-benar punya hubungan khusus dengan koreografer itu?

“Dan kau tahu apa katanya?” Lisa menoleh ke arah Yixing, “Dia menawariku untuk menjadi model MV salah satu artis di agensinya. Itu benar-benar konyol,” Lisa langsung tertawa geli mengingat telponnya dengan orang itu tadi pagi.

“Dia kira umurku berapa? 20 tahun? Bahkan aku sudah melewati angka 25. Dasar aneh…” celoteh Lisa sambilsedikit mengayunkan tangannya yang menggenggam tangan Yixing.

“Sebenarnya Nuna punya hubungan khusus dengannya atau tidak, sih?” Yixing sama sekali tidak ikut tertawa saat Lisa tertawa aneh seperti tadi. Dan pembahasan Lisa sebenarnya tidak terlalu lucu –meskipun memang benar pria yang dibicarakan Lisa memang aneh.

Lisa menoleh ke arah Yixing dan tersenyum misterius, “Kenapa penasaran? Kau mulai penasaran tentangku?” godanya dengan senyum termenyebalkan.

Yixing memutar bola matanya dan langsung menghempakan tangan Lisa dengan jengkel. Ia sedang serius, dan Lisa selalu begini saat ia mulai serius untuk membicarakan tiap pria yang tengah dekat dengannya.

Lisa cantik. Semua mata tidak akan mengelak tentang itu –meskipun kecantikan Lisa memang tidak sebanding dengan Im Yoona. Dia juga menarik, meskipun dia cerewet dan menyebalkan. Lisa itu perhatian, mskipun di sisi lain dia sangat galak dan seenaknya. Dan Lisa bisa berubah menjadi wanita anggun yang bisa menipu tiap mata dengan fakta bahwa Lisa sama sekali gadis selengekan yang aneh.

Sayangnya, Lisa tidak pernah benar-benar serius saat menjalin hubungan dengan pria. Entah apa alasannya. Yang pasti, Yixing belum pernah mendengar hubungan pasti antara Lisa dengan pria manapun. Dan ini membuat Yixing setengah khawatir.

Lisa masih tertawa saat ekor mata Yixing melirik ke arahnya. Lihat. Bahkan Lisa tertawa seperti nenek lampir. Sepertinya Lisa punya banyak topeng saat di dekat banyak pria sehingga mata para pria itu tertipu.

“Tapi aku serius Nuna. Kau dekat dengan banyak pria tapi kau tidak punya kepastian dengan mereka,” sela Yixing dengan nada kesal.

Lisa langsung menghentikan tawanya dan merangkul leher Yixing, “Karena aku mencari pria yang pasti. Bukan pria yang hanya bisa menyatakan cinta dan mengajak bertemu di hotel. Aku tidak tertarik bercinta dengan pria yang tidak punya komitmen seperti itu,” bisiknya dengan nada gurauan. Kemudian ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Yixing.

Yixing sedikit mengerutkan dahinya. Aneh. Lisa memang gadis aneh. Tapi Yixing langsung mengerti ucapan Lisa meskipun wanita itu mengucapkannya dengan nada bercanda. Lisa memang sulit untuk serius, tapi Yixing sudah terbiasa menghadapi Lisa. Sehingga tidak terlalu sulit untuknya membedakan mana yang serius, dan mana yang hanya candaan.

“Tapi di usia kita yang sudah menginjak kata dewasa, menurutku wajar-wajar saja jika pria dan wanita berkencan dengan hubungan semacam itu. Maksudku…bahkan zaman sekarang, anak SMA saja sudah tahu cara melakukannya…” Yixing terpaksa menggigit bibirnya saat Lisa menoyor kepalanya dengan keras.

“Berpikirlah dewasa Zhang Yixing. Aku hidup di zaman ini, tapi aku tidak mau dijajah oleh zaman ini. Aku ingin hidup dengan kepastian, komitmen yang jelas, dan bahagia bersama keluargaku nanti…” Lisa tersenyum sendiri membayangkan keluarga kecilnya kelak.

“Ah! Lihat! Ada permen kapas! Ayo beli! Kita harus terlihat berkencan seperti orang lain!” Lisa langsung berlari kecil menghampiri pedagang permen kapas yang dimaksud. Dan Yixing hanya menggeleng pelan melihat punggung Lisa semakin menjauh.

Selama ini Yixing hanya melihat Lisa sebagai manajer aneh yang menyebalkan, dan juga sebagai kakak yang pengertian dan dewasa. Tapi hari ini, sudut hati kecilnya berkata lain. Ada sayatan aneh yang mencorat-coret hatinya tiap kali ia menatap Lisa.

Dia wanita. Kim Lisa yang galak, aneh, cerewet, dan menyebalkan itu tetaplah wanita dengan segala pesona yang hanya dimiliki seorang wanita.

Yixing mendesah pelan dan menggeleng sekali lagi. ia tidak mau berpikiran aneh-aneh. Ia hanya perlu segera menyelesaikan acara dalam waktu dekat ini dan segera pulang ke Seoul. Hanya itu. Kemudian ia memulai hari-harinya yang biasa…meskipun ia tidak akan terbiasa lagi dengan hari-hari biasanya yang dimaksud. Ia sudah kehilangan satu orang yang membuat hidupnya yang biasa, dan entah apa yang akan terjadi untuk hidupnya yang biasa setelah ia kembali ke Seoul nanti.

 

***

 

Pukul 10 malam.

Ariel mendengus kesal dan kembali melirik layar televisi di depannya. Ia tidak terlalu fokus menonton TV sebenarnya. Tapi sudah 2 jam ia menunggu Luhan dengan segala kebosanan yang dimilikinya. Yang membuatnya semakin kesal bukan hanya karena terlambatnya Luhan pulang, tapi karena Luhan sama sekali tidak membalas pesannya ataupun mencoba menghubunginya setelah mengabaikan panggilan dari Ariel.

Ariel tidak tahu menjadi ibu rumah tangga bisa memiliki sisi yang benar-benar membosankan seperti sekarang ini. Menunggu, diam, dan masih banyak lagi kegiatan yang kadang lebih banyak dihabiskannya untuk diam dan memikirkan sesuatu yang tidak pasti.

Dan Ariel langsung menoleh ke arah pintu saat ia mendengar pintu apartemennya dibuka. Ariel akhirnya bisa bernapas lega. Luhan baru saja sembuh dari sakitnya, dan haruskah laki-laki itu langsung bergelung dengan pekerjaannya seperti sekarang ini?

Luhan tersenyum cerah saat ia mendapati Ariel ada di ruang tengah. Gadis itu baru saja berdiri, seolah menyambut kedatangan Luhan, “Kau belum tidur?” tanya Luhan sedikit lirih. Pria itu pasti lelah.

“Tidak bisa ya kau rehat sejenak dari pekerjaanmu? Kau baru saja sembuh,” Ariel terlihat khawatir saat mengambil tas Luhan. tanpa menunggu jawaban Luhan, Ariel langsung mendorong Luhan ke kamar mereka.

“Cepat mandi setelah itu langsung tidur,” Ariel masih mengoceh saat mereka sudah sampai di dalam kamar, “Kau sudah makan makanan yang kupesan tadi, kan?”

Luhan mengangguk untuk menjawabnya.

“Vitaminnya sudah kau minum, kan?” tanya Ariel lagi. gadis itu masih sibuk membantu Luhan melepas dasi dan juga jasnya.

Lagi-lagi Luhan hanya mengangguk.

“Awas ya kalau kau bohong…”

“Iya cantik, aku sudah melakukan apa yang kau minta.” Luhan memotong ucapan Ariel.

Ariel tidak tersanjung seperti tadi siang. Ia hanya mendengus dan menyodorkan handuk dan piyama ke arah Luhan, “Jangan bicara yang aneh-aneh. Cepat mandi. Ini sudah terlalu malam. Cuaca cukup dingin. Kau juga tidak boleh tidur terlalu malam.”

Luhan langsung mengecup bibir Ariel, “Iya iya. Aku mendengarkanmu Nyonya Xi.”

Ariel lagi-lagi hanya mendengus dan langsung mendorong tubuh Luhan ke kamar mandi. Ia hanya takut Luhan akan sakit. Ia tidak mau kembali menghadapi bayi besar yang mudah merajuk dan selalu minta ini itu padanya.

“Tapi aku serius, kau memang cantik.” Luhan masih bicara sebelum ia menutup pintu kamar mandinya.

Ariel langsung melotot dan Luhan pun langsung menutup pintu kamar mandinya dengan cepat. Ia tidak mau kena semprot Ariel lagi. meskipun ia menyukainya, ia sangat suka dengan apapun yang dilakukan Ariel. Tapi membiarkan telinganya direcoki dengan suara omelan Ariel…yeah, lebih baik Ariel tidak mengomel.

 

Ariel masih menunggu Luhan di atas ranjang dengan sebuah novel di tangannya. Novel yang dengan susah payah Luhan terjemahkan. Meskipun bisa dikatakan masih agak berantakan, tapi Ariel cukup menghargai dengan kerja keras Luhan. ariel kira, Luhan tidak akan benar-benar menerjemahkan novel itu sampai tuntas, tapi ternyata Luhan benar-benar menyelesaikannya. Menyelesaikan 400 halaman ini. Hanya 20 menit, kemudian Luhan sudah muncul di hadapan Ariel.

“Kau belum tidur?” tanya Luhan sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya.

Ariel menggeleng, “Terimakasih telah menyelesaikannya untukku. Kukira tempo hari kau tidak serius,” Ariel mengangkat laptopnya. Luhan menerjemahkannya ke dalam Ms.Word. yeah, pasti bukan pekerjaan mudah dan akan memakan waktu.

Luhan pun berbaring di samping Ariel, kemudian memperhatikan Ariel yang masih serius dengan novel terjemahannya. Ia tahu masih banyak sekali kekurangan disana, tapi entah kenapa ia semangat sekali untuk menyelesaikan terjemahan novel itu. Mungkin ia juga ikut larut dalam ceritanya, atau mungkin ia ingin melihat Ariel merasa bangga karenanya.

“Cepat tidur Luhan. kau masih belum benar-benar sehat,” Ariel menegur dengan mata masih terfokus ke arah layar laptopnya.

“Tidak sebelum kau juga tidur,” Luhan mulai merengek –lagi.

Ariel mndengus panjang dan menutup laptopnya. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Luhan dan langsung berbaring menghadap laki-laki itu, “Kau benar-benar manja.”

“Biar saja. kau kan istriku.”

“Tapi tidak masuk akal jika kau semanja itu.”

Luhan tidak menjawab. Ia hanya menarik tubuh Ariel untuk merapat ke tubuhnya. Luhan mendekap Ariel dengan sangat erat, “Karena aku tidak pernah semanja ini pada ibuku.”

Ariel mengangkat kepalanya dan menatap wajah Luhan, “Aku juga tidak pernah. Dan tepatnya tidak tertarik diperlakukan seperti itu.”

Luhan tidak menjawab dan kembali menempelkan kepala Ariel ke dadanya. Luhan belum mau membahas lebih jauh tentang bagaimana buruknya hubungan keluarga Xi. Tidak harmonis dan penuh pertentangan, atau tepatnya ambisi yang tidak sejalan. Yeah, Luhan bisa dikatakan sangat sangat kesepian. Dan masa kuliah adalah masa emasnya, dimana ia akhirnya memiliki seseorang yang senasib dengannya dan bisa saling menyandarkan punggung masing-masing. Ia bebas. Sangat sangat bebas. Tidak ada yang mengatur, dan ia hidup di lingkungan yang tidak terlalu banyak aturan. Membuatnya merasa bahwa akhirnya ia bisa menghirup oksigen…meskipun sebenarnya ia tahu ia tidak menemukan ketenangan yang diinginkannya, yang dicarinya, yang tidak ia temukan –dan Ariel lah yang membuatnya sadar ketenangan seperti apa yang dibutuhkannya.

“Kau gadis yang kuat…” Luhan kembali bersuara.

“Kau terus-terusan menggombal,”

Luhan pun menjauhkan tubuh Ariel dan mengecup bibir gadis itu, “Sudah kukatakan. Aku serius.”

Ariel memutar bola matanya, “Apa buktinya jika kau serius? Kau terus menunjukkan wajah…” ucapan Ariel harus terhenti saat Luhan kembali membekap bibirnya dengan bibir Luhan.

Ariel kira, ciuman itu akan berakhir setelah Luhan berhasil melesakkan lidahnya ke dalam mulut Ariel, membelit lidah Ariel, dan kemudian melepaskan tautan bibir mereka. Tapi tidak. Luhan justru malah menindih tubuh Ariel dan kembali mencium bibir Ariel. Kali ini dengan agak kasar dan terburu-buru.

“Aku serius dengan semua perkataanku. Termasuk aku mencintaimu, kau harus tahu itu…” kata Luhan saat ia mengambil jeda, menempelkan keningnya di kening Ariel dan menggesekkan hidungnya pada hidung Ariel

Ariel belum sempat menjawab apapun dan Luhan sudah kembali meraup bibir Ariel, Luhan melumatnya dengan kasar, seolah-olah mereka tengah dikejar waktu. Luhan sedikit menggigit bibir Ariel, membuat lidah pria itu kembali masuk ke mulutnya, membelit lidahnya di dalam sana. Menciptakan sensasi tersendiri yang membuat Ariel merasakan candu yang belum pernah dirasakannya. Dan, Ariel pun sadar malam itu akan menjadi malam yang panjang saat ciuman Luhan semakin memanas, bahkan ciuman pria itu mulai turun ke lehernya.

Ini bukan pertama kalinya Luhan bercinta dengan seseorang, tapi malam itu Luhan bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan yang berbeda dengan Ariel. Luhan terus melanjutkan aktivitasnya, mengikuti nalurinya dan menggunakan perasaannya saat menjamah tubuh Ariel. Ini bukan hanya nafsu, meskipun Luhan melakukannya dengan sedikit brutal –yeah, Luhan tetap seperti itu meskipun ia ‘didominasi’ jika melakukannya dengan Wufan—baiklah lupakan. Yang Luhan tahu, saat ini Luhan bisa merasakan perasaannya yang tulus terus mengalir seirama dengan detak jantungnya yang menyatu dengan detak jantung Ariel.

Luhan kini mulai sangsi dengan segala arti cinta yang selama ini dirasakannya. Ia hanya terlalu terobsesi dan terlalu fokus dengan seseorang yang membuatnya hanya bisa melihat ke satu arah. Yixing. Ia sangat mencintai Yixing, ia ingat bagaimana rasanya dan ia menafsirkan semua itu adalah cinta. Dalam, Luhan sangat tahu perasaannya kala itu sangat dalam terhadap Yixing.

Tapi sekarang ia merasakan debaran jantungnya berdetak untuk orang lain. Bukan Yixing, bukan Wufan, bukan juga pria manapun yang pernah berputar di hidupnya. Juga bukan dari wanita-wanita yang pernah berkencan dengannya –tidak, bahkan tak satupun dari mereka berhasil menggetarkan hati Luhan. Dan malam itu, Luhan yakin ia telah berhasil menemukan seseorang yang berhasil meyakinkannya bahwa ia bisa menjadi normal, ia berhasil menemukan seseorang yang tulus menggenggam tangannya yang kotor dan dingin, juga merangkul Luhan untuk berjalan menuju kehidupan yang terang. Dan mulai malam itu juga, Luhan mulai menjanjikan dirinya sendiri untuk memberikan cinta yang dimilikinya pada Ariel. Seutuhnya. Hidupnya, hatinya, cintanya, ia akan memberikannya untuk Ariel.

 

***

 

“Dia datang ke kantor Tuan Muda setiap jam makan siang. Kadang-kadang, dia juga datang pada jam 5 sore untuk mengantarkan makan malam,” Nyonya Xi mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki berkepala tiga itu tengah berdiri tegap.

“Setiap hari?” ulang Nyonya Xi kurang yakin. Bukan. Ia bukan kurang yakin dengan ucapan bawahannya, tapi fakta bahwa Ariel Lau bisa seperhatian itu pada Luhan.

Laki-laki di hadapannya mengangguk pelan, “Hubungan mereka sangat baik,” laki-laki itu masih melanjutkan dengan nada yang meyakinkan.

Nyonya Xi pun melipat tangannya di atas meja, “Jam berapa biasanya Ariel datang ke kantor Luhan?”

Nyonya Xi mungkin memang bisa dihindari oleh Ariel –atau mungkin Luhan, setidaknya seperti yang dilakukan wanita itu beberapa hari ke belakang. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja. tidak. Tidak akan pernah.

Ia akan tetap menuntaskan masalahnya, sampai selesai.

 

***

 

Luhan kembali melirik ponsel yang tergeletak manis di atas meja kerjanya, dan Luhan langsung mendesah kecewa –untuk yang kesekian kalinya. Ini sudah lewat jam makan siang, dan yang menyebalkan seseorang yang ditunggunya justru tidak menampakkan batang hidugnya. Jangankan untuk muncul, bahkan orang itu sepertinya melupakan kewajibannya untuk menghubungi Luhan. Sepertinya gadis itu lupa dengan perjanjian yang mereka buat malam itu.

Tiba-tiba saja sebuah senyum mengembang di bibirnya. Yeah, malam itu. Tepat dua minggu lalu, dimana akhirnya ia dan Ariel melalui malam terpanjang pertama mereka. Tapi senyumnya langsung kebas dan digantikan rasa kesal yang menggelayuti hatinya. Ayolah! Ariel benar-benar sudah sangat terlambat.

“Dia tidak mungkin lupa, kan?” desisnya pelan dan kembali menoleh ke arah gadgetnya yang masih membangkai di tempat yang sama. Oh, Luhan tidak tahu ternyata ia bisa semenyedihkan ini hanya karena Ariel tidak menghubunginya sama sekali.

“Hai Luhan!” Luhan langsung mengangkat kepalanya dengan mata yang sedikit berbinar –sedetik kemudian ia langsung menampakkan wajah murung. Ia kesal sekali karena untuk pertama kalinya Ariel terlambat mengantarkan makan siang untuknya.

“Bagaimana aku bisa makan dengan benar jika yang mengantarkan bekalnya saja bisa seterlambat ini?” Luhan melipat tangannya di depan dada dengan mata sedikit memicing, “Lihat, sekarang sudah lewat jam makan siang. Kau ingin aku mati kelaparan?” Luhan mulai kembali mengomel –ia sempat khawatir karena Ariel tidak biasanya terlambat dan juga tidak menghubunginya, sama sekali.

Ariel hanya menggeleng pelan dengan seutas senyum kecil di bibirnya. Luhan masih saja bisa merajuk seperti anak kecil. Lagipula ia hanyaterlambat 10 menit –meskipun ia memang membuat Luhan menunggu di jam makan siangnya. Tapi mau bagaimana lagi? Ada hal mendadak yang tidak bisa ditinggalkannya begitu saja. Dan lagi, menurutnya Luhan juga pasti sudah biasa meninggalkan jam makan siang –dulu. Jadi, harusnya hari ini terlambat makan siang tidak akan membuatnya kurus kerontang karena kelaparan, kan?

“Dan sekarang kau masih tidak mau makan?” Tanya Ariel sambil menata bekal yang dibawanya, “Hari ini aku hanya bisa membuat bistik. Aku harus bertemu temanku dari salah satu penerbit, dia menawarkanku untuk menjadi translator buku. Itu cukup menggiurkan,” Ariel masih menatap bekal yang dibawanya, kemudian ia pun duduk dan menatap Luhan yang masih menampakkan wajah kesalnya.

“Kau tidak akan makan?” Tanya Ariel lagi sambil sedikit menaikkan alisnya –sedikit menantang.

Luhan menatap Ariel selama beberapa detik –sekitar 5 detik, masih dengan tangan terlipat di dada dan tatapan kesalnya. Dan akhirnya ia menyerah, Luhan pun bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sofa dimana Ariel tengah memandanginya dengan wajah geli, juga bekal yang dibawanya yang sudah berteriak untuk didekati Luhan.

“Kau sering sekali membuat bistik,” komentar Luhan setelah ia duduk dan mendapati bistik ayam di depan matanya. Dan ia pun langsung duduk sambil memeluk Ariel dari samping, menyandarkan kepalanya di pundak Ariel –yeah, semua rasa lelahnya langsung terserap begitu saja.

“Kau tidak suka?”

Luhan berdecak, ia pun menegakkan tubuhnya dan mengambil sumpit di tangan Ariel, “Ayolah. Berhenti bertanya tentang apakah aku suka dengan yang kau masak atau tidak. Apapun selama kau yang memasaknya, aku pasti akan menyukainya. Pasti,” kata Luhan sebelum mengambil sepotong daging di depannya.

“Kau terlalu banyak menggombal,” Ariel mengambil sendoknya dan tersenyum kecil, “Kau pasti akan menarik ucapanmu jika aku membuat udang. Kebetulan aku suka udang…”

“Kau ingin membunuhku?” Luhan masih bernada kesal meskipun Ariel mulai mencairkan suasana dengan candaan yang dapat dipastikan benar-benar gagal total.

Ariel pun tersenyum kecil –lagi. Entah kenapa semenjak kedekatan mereka, Luhan semakin menjadi dengan tingkah kekanakannya. Berbeda sekali dengan Luhan yang pertama kali ia kenal.

“Baiklah, maafkan aku,” Ariel pun menaruh sendoknya, urung untuk ikut bergabung makan siang dengan Luhan, “Aku naik kereta. Jadi aku agak terlambat dan aku lupa menghubungimu.”

“Kau tidak menemui Mama, kan?” Tanya Luhan lagi, masih sibuk dengan bistiknya.

Ariel sedikit menggigit bibir bawahnya. Kenapa Luhan bisa menembakkan pertanyaan yang tepat sasaran seperti itu? Ariel pun buru-buru menegakkan punggungnya, tidak mau terlihat terlalu bersalah disini.

“Tidak. Aku hanya menemui temanku yang kuceritakan kemarin malam…”

Luhan mengangguk tanpa menaruh rasa curiga. Ia baru saja menemui ibunya sebelum jam makan siang tadi. Dan ia sempat khawatir jika ibunya berpapasan dengan Ariel. Ia pun memutar kepalanya ke arah Ariel, “Jangan pernah temui Mama. Apapun alasannya, kau jangan bertemu dengannya tanpa sepengetahuanku. Dan berjanjilah…” Luhan menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan, “…Jangan pernah meninggalkanku untuk alasan apapun.”

Ariel tersenyum masam. Ia hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan Luhan. Ia sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti dengan ucapan Luhan. Ia juga tidak mengerti kenapa Luhan tiba-tiba harus menghindarkan Ariel dari Ibu Luhan. Tapi sekeras apapun ia mengumpulkan nyalinya untuk bertanya, pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk mengiyakan ucapan Luhan tanpa ada niatan untuk membantah.

“Ngomong-ngomong, sebenarnya aku bukan kelaparan…”

Ariel memutar kepalanya ke arah Luhan dengan tatapan bingung, “Maksudmu?” Ariel masih memutar otaknya untuk mencerna ucapan Luhan.

Luhan sedikit berdeham, dan ia kembali bersuara dengan volume yang lebih rendah, “Sebenarnya aku merindukanmu…”

Ariel berdecak pelan dan langsung mencubit pipi Luhan, “Berhenti menggombal, Xi Luhan. Kau ini sudah terlalu tua untuk menggombal seperti itu…” tubuh Ariel langsung membeku saat Luhan tiba-tiba membungkam Ariel dengan bibirnya.

“Biar saja. Daripada aku menggombali Yixing lebih baik aku menggombalimu, kan?” kata Luhan setelah melepaskan tautannya dari bibir Ariel.

Ariel sedikit meringis dan berpura-pura meminum air mineral yang dibawanya. Haruskan Luhan membawa-bawa Yixing di suasana yang bisa dikatakan baik seperti sekarang ini?

“Tapi aku serius. Aku memang merindukanmu,” kata Luhan lagi setelah ikut-ikutan meminum air mineral yang dibawa Ariel.

Ariel memutar bola matanya. Luhan ini ada-ada saja. Benar-benar mirip remaja yang sedang pacaran. Lagipula bagaimana bisa Luhan merindukan Ariel sedangkan mereka hanya tidak bertemu beberapa jam? Dan selebihnya Luhan akan terus menempel padanya, seolah-olah mereka ini magnet dengan berbeda kutub yang selalu tertempel tiap kali bertemu.

“Dan…terimakasih,” kata Luhan tanpa memandang Ariel. Ia hanya memainkan botol mineralnya sambil memandang meja di hadapannya dengan tatapan sedikit kosong.

“Terimakasih untuk?” Ariel sedikit menaikkan alisnya.

“Karena kau membuatku merasakan kebahagiaan jatuh cinta yang sesungguhnya, mencintai dan dicintai. Itu manis, manis sekali. Oh, kuharap aku tidak terkena diabetes saking terobsesi pada manisnya hubungan kita.” Luhan pun menunjukkan cengirannya.

Lihat. Luhan benar-benar seperti remaja yang baru saja jatuh cinta. Ariel hanya bisa terkekeh dan menggelengkan kepalanya pelan. Ariel bahkan belum pernah digombali sesering itu. Entah itu menyukai Stephen, menyukai Chanyeol, bahkan Yixing, tak satupun dari mereka bertingkah seaneh Luhan.

Lagi-lagi, Luhan merengkuh pipi Ariel dan dalam waktu singkat bibir Luhan sudah bergerak di bibir Ariel. Ariel memiringkan kepalanya dan melingkarkan tangannya di leher Luhan seolah memberi kesempatan pada Luhan untuk semakin memperdalam ciuman mereka. Luhan mengelus punggung Ariel seirama dengan lidahnya yang terus bermain dengan lidah Ariel. Dan ciuman mereka terlepas saat suara sekretaris Luhan menginterupsi kegiatan mereka –oh, Tuhan! Bahkan ini adalah yang ketiga kalinya bagi sekretaris Luhan melihat semua itu. Meskipun bagi Ariel itu cukup menguntungkan –meskipun ia harus menanggung malu juga—karena Luhan akan sulit untuk berhenti jika tidak terinterupsi seperti saat ini.

Sekretaris Luhan sedikit berdeham. Ia kikuk sekali saat lagi-lagi harus mendapati adegan kurang senonoh dari atasannya. Bedanya, dulu ia harus menelan ludah ngeri karena Luhan melakukan skinship dengan sahabatnya –yang lebih cocok disebut pacarnya— Wu Yifan. Dan sekarang, setelah menikah ia harus kembali mendapati atasannya itu bercumbu, kali ini dengan istri sah nya.

“Ma-maaf, aku…ini…ada kiriman untuk Anda,” gadis itu masih terlihat gugup saat berbicara di depan pintu.

“Xiuying. Sudah kukatakan kau harus mengetuk pintu dulu, apa kau tidak mengerti juga?” tukas Luhan kesal sambil membenarkan dasinya.

Jika gadis itu berani, ia pasti akan membalas “Aku sudah mengetuk pintunya sejak tadi! Dan ini sudah jam kerja jika Anda lupa Tuan Xi!” tapi akhirnya gadis bernama Xiuying itu hanya bisa membungkuk dan meminta maaf.

“Baiklah, taruh di mejaku. Ingat. Lain kali ke-tuk-pin-tu-nya.” Luhan memberikan penekanan pada nada bicaranya yang membuat Meng Jia harus membungkuk sekali lagi.

“Aku benar-benar malu pada sekretarismu itu. Kau harus tahu tempat,” omel Ariel sabil merapikan rambutnya.

Luhan sedikit mendelik dan mengambil air minumnya, “Tapi kau juga menyukainya,” sergahnya dengan nada kesal yang masih kekanakan –setidaknya di telinga Ariel.

“Lagipula dia sering sekali memergokiku tengah melakukan skinship seperti tadi,” Luhan mulai bercerita dengan blak-blakan, “Entah itu dengan Wufan, bahkan denganmu. Tapi kau tahu apa yang kusuka darinya?” Tanya Luhan yang memubuat Ariel sedikit berjengit ngeri –sesering itukah Luhan melakukan skinship dengan Wufan?

“Dia itu setia. Sangat sangat setia. Dia teman sekelasku saat SMA, kami sama-sama kuliah ke luar negri, tapi dia dengan biaya beasiswa dan terpaksa harus berhenti kuliah karena nilainya pada semester dua dan tiga tidak memenuhi. Setelah kembali ke Beijing, aku kembali bertemu dengannya dan menawarinya pekerjaan untuk menjadi sekretarisku. Dia sangat baik. Sayangnya kami tidak dekat, mungkin dia takut padaku,” Luhan sedikit murung saat mengenang bagaimana Meng Jia sedikit menjaga jarak darinya saat tahu Luhan adalah gay. Tapi Luhan sangat memakluminya, perempuan manapun pasti akan merasa takut saat bertemu dengan laki-laki tidak normal sepertinya. Untungnya gadis itu tidak pernah membocorkan masalah ini pada siapapun, well –akhirnya Luhan selalu merasa baik-baik saja.

Ariel tadinya akan memprotes soal ‘skinship’ yang dibicarakan Luhan. Ayolah, perempuan normal manapun pasti ngeri membayangkannya meskipun itu hanya berupa pelukan. Tapi melihat tatapan sendu Luhan –meskipun Luhan menatap makanannya—tapi Ariel justru tahu, hal itu jugalah yang membuat Luhan selama ini sangat tidak nyaman dengan kekurangannya. Orang-orang menjauhinya dan menatapnya ngeri. Dikucilkan bukan sesuatu yang menyenangkan, apalagi Luhan membutuhkan dukungan.

Ariel pun menyentuh tangan Luhan dan menusap punggung tangannya, dan ia pun tersenyum ke arah Luhan saat Luhan menoleh ke arah Ariel, “Semua sudah berlalu. Sekarang kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, semuanya baik-baik saja.”

Dan sekali lagi Luhan mengecup bibir Ariel, “Terimakasih untuk segalanya.”

 

***

 

Ariel berbohong pada Luhan soal pertemuannya dengan ibu mertuanya sendiri. Dan ia juga cukup merasa bersalah karena telah melanggar janji pada Luhan untuk tidak bertemu dengan Nyonya Xi tanpa seizinnya. Tapi saat ini bahkan Ariel tidak punya alasan menolak. Ayolah, mana mungkin Ariel berkata bahwa Luhan melarangnya dan tidak suka jika ia bertemu dengan Nyonya Xi?—haruskah ia masih memanggilnya Nyonya?

Saat ini Ariel hanya bisa pasrah saat ia kembali menginjakkan kakinya di rumah ibu Luhan, rumah yang pertama kali mempertemukannya dengan Luhan. Rumah yang sempat memberikan takdir berupa petaka –dan kini Ariel sangat mensyukuri semuanya.

“Kudengar kau sangat pandai memasak, benarkah?”

Ariel agak linglung saat Nyonya Xi mengajaknya bicara tepat saat seluruh pikirannya terbang kemana-mana. Oh, ayolah Ariel Lau! Berhentilah bertindak tolol! Ariel pun sedikit mengangkap bahunya dan menggeleng pelan –ia harap ia tidak salah dengar, “Ti-tidak. Biasa saja. Aku hanya memasak apa yang aku bisa, dan tentunya yang Luhan suka juga…” dan Ariel harus menelan ludahnya gugup saat tatapan mata Nyonya Xi sedikit berubah saat ia menyebut nama Luhan.

“Kalian pasti sangat harmonis. Kudengar dari orang kantor kau datang ke sana setiap hari untuk mengantarkan makanan,” Nyonya Xi tersenyum kecil –sedikit sinis—lalu ia pun duduk di kursi ruang kerjanya, “Duduklah. Jangan sungkan. Kau juga anakku sekarang.”

Ariel balas tersenyum dan ia pun mengambil tempat duduk tepat di hadapan Nyonya Xi –ibu mertuanya. Nyonya Xi tidak langsung angkat suara danmenunggu dua cangkir teh yang dimintanya untuk datang. Setelah 5 menit diliputi keheningan, akhirnya Nyonya Xi angkat suara.

“Aku cukup terkejut saat tahu ibumu ingin kembali merambah dunia musik,” ia mengangkat cangkir tehnya dan menatap Ariel sedikit tajam, “Kau sudah tahu tentang itu, bukan?”

Ariel mengangguk pelan disertai dengan senyum kecilnya, “Ya. Aku juga tidak tahu Mom ternyata ingin kembali ke dunia lamanya, impian lamanya,”

Nyonya Xi menahan tawanya saat gadis di hadapannya mengatakan kata ‘impian’. Di matanya, gadis seumuran Ariel masih terbilang naïf untuk urusan impian dan lain sebagainya. Ada banyak tantangan yang harus dilewati, dan Ariel belum menginjak tantangan hidup yang sebenarnya.

“Jika di usia senja ibumu saja dia masih memiliki impian, lalu impianmu untuk saat ini apa?”

Ariel agak tercekat saat ia dilempari pertanyaan itu. Entahlah. Ia yakin tidak ada yang salah dengan pertanyaan ibu mertuanya. Wajar saja—mungkin—bagi Nyonya Xi bertanya hal tersebut pada Ariel. Tapi nyatanya ia malah kelabakan, ia tidak tahu apa impiannya untuk saat ini…selain hidup bahagia dengan Luhan.

“Awalnya aku ingin mendalami dunia musik…” seperti Yixing –ia mendesah dalam hati—, “Atau mungkin bekerja di sebuah perusahaan yang berkaitan dengan jurusan yang kuambil saat kuliah. Tapi yang kufokuskan saat itu adalah belajar musik dengan sungguh-sungguh…tapi karena pernikahan mendadak dengan Luhan, untuk saat ini aku hanya berpikir untuk membuat Luhan bahagia…”

Nyonya Xi terkekeh pelan mendengar jawaban Ariel. Benar dugaannya bukan? Gadis di hadapannya masih terlalu naif. Masih dipenuhi rasa penasaran dane gois yang besar tanpa mengedepankan rasionalisme.

“Kebahagiaan seperti apa yang kau inginkan dengan putraku?” Nyonya Xi kembali menyesap tehnya, “Harta? Kekuasaan? Atau kau masih berpikir untuk menjadi translator?” Nyonya Xi kembali meletakkan cangkirnya, “Yang kutahu kau mengambil jurusan bahasa dan berkutat dalam bidang seni. Seni teater? Musikal? Aku tidak terlalu ingat…”

Ariel sedikit mengerutkan dahinya curiga, juga menaruh rasa tidak suka dengan nada yang diucapkan oleh ibu mertuanya. Ternyata wanita itu masih sama, wanita yang senang merendahkan orang lain –Ariel dapat melihat jelas di kedua bola matanya.

“Atau kau masih ingin menjadi psikolog? Kudengar kau juga sempat mengambil fakultas lain saat kuliah di Korea, Fakultas Psikologi. Dan kau berhenti karena kau tidak memiliki waktu yang cukup,” Nyonya Xi masih gemas untuk melanjutkan, “Yang pasti kau harus tahu, jika aku tahu terlalu banyak informasi tentangmu. Termasuk alasan kenapa kau berpikir untuk berfokus pada dunia musik.”

“Keluargaku berkecimpung di dunia musik,” Ariel buru-buru menyela, “Yeah, meskipun akhirnya tidak semua keluarga kami berada di bidang musik, tapi kami punya bakat dan kemampuan dalam bidang musik. Ibu kami mengajarkan dengan baik semua itu.”

Nyonya Xi menarik sudut bibirnya angkuh, “Sayangnya kau bukan salah satu yang terlalu tertarik ataupun berbakat dalam bidang musik. Kukira Zhang Yixing lah penyebabnya hingga kau berpikir untuk berfokus pada musik.”

Ariel terpekur. Ia benar-benar merasa dilempari batu besar saat Nyonya Xi justru membeberkan semuanya, semua tentang dirinya seolah-olah Ariel bukanlah orang yang memiliki privasi penting untuk dilindungi. Wanita itu tahu semuanya. Semuanya, termasuk Zhang Yixing dan…impian kecilnya.

“Kupikir Anda…”

“Aku tidak tahu hubunganmu sudah sejauh itu dengan Zhang Yixing saat kau belum menikah dengan Luhan,” Nyonya Xi sama sekali tidak ingin mendengarkan ucapan apapun dari mulut Ariel, “Dan aku tidak tahu nama itu akan muncul lagi dengan situasi berbeda di gendang telingaku.”

“Nyonya…”

“Kau akan menikah dengan Yixing, namun akhirnya kau menikah dengan Luhan karena keinginan ibumu. Hidup begitu egois bukan?”

Ariel benar-benar merasakan pusing yang tak tertahankan saat lidah tajam wanita di hadapannya terus menamparnya dengan semua kenangan yang tak ingin ia ungkap lagi. Ia sudah melupakannya, ia sudah berjalan pada hari ini dan bersiap melangkah menuju masa depan yang lebih baik dengan Luhan…bukan dengan air mata dan masa lalu seperti yang diucapkan ibu mertuanya tersebut.

“Kau bahkan tidak mengatakannya pada Luhan. Ya…aku bisa bayangkan bagaimana perasaan putraku saat tahu Zhang Yixing, cinta pertamanya ternyata adalah masa lalu dari istrinya. Masa lalu terpenting yang aku yakini mungkin akan terlalu manis untuk dikenang begitu saja.”

Ariel menarik napas panjang dan menghembuskan napasnya perlahan, “Ya…Zhang Yixing adalah mantan kekasihku, bahkan kami berniat menikah akhir tahun ini setelah semua pekerjaannya selesai dan juga kuliahku yang selesai beberapa bulan lalu,” Ariel mencoba menegakkan pundaknya yang mulai merosot, “Aku mencintainya, dan sangat benar aku ingin fokus pada musik karena aku ingin menemaninya bersama dengan musik. Menemaninya dan terus berada di sampingnya sambil memahami seberapa penting dan seberapa besar cintanya terhadap dunia yang telah membesarkannya hingga saat ini, Zhang Yixing. Orang itu benar adalah Zhang Yixing.”

Ariel pun mengangkat kepalanya dengan seutas senyum tertarik di bibirnya, “Dan aku akui, aku sangat terpukul saat tahu Luhan adalah seorang gay. Aku kecewa. Benar-benar kecewa. Setelah tahu ibuku memaksaku secara tidak langsung untuk menikah dengan Luhan dan meninggalkan kekasihku, aku juga harus tahu jika suamiku memiliki kelainan seks. Aku bahkan berpikir mungkin akan gila karena hidupku terjungkal begitu saja,” Ariel tidak tahu kenapa dadanya harus sesesak ini saat mengenang helaian cerita lamanya yang mulai ia kemas dan ia warnai dengan warna putih, tapi yang ia tahu, ia bahagia dengan semua yang pernah dialaminya, “Tapi itu dulu. Sebelum akhirnya Luhan berhasil membuatku hanya menatapnya, membuat hatiku juga ikut terjungkal dari membencinya, menjadi mencintainya…”

“Luhan mencintaimu? Dia seorang gay jika kau lupa,” Nyonya Xi sedikit mencemooh Ariel saat Ariel mulai membahas kata cinta.

“Ya, dia seorang gay. Dia berkenalan dengan beberapa pria yang sama sepertinya, dia juga menyandarkan hidupnya pada seorang pria yang mencintainya sama seperti Luhan mencintai Yixing…” well, Ariel tidak yakin apakah ia benar soal Wufan yang menyukai Luhan, tapi dari cara menatap Luhan, Ariel yakin Wufan bukan hanya menganggap Luhan sebagai sahabat, “Tapi aku juga tahu bagaimana kerasnya Luhan mencoba menyembuhkan dirinya, membuat dirinya kembali normal meskipun ia mengawali cinta pertamanya tanpa ada kata normal di dalamnya,” Ariel pun mengangkat kepalanya dan menatap Nyonya Xi tepat di manik matanya, “Demi Anda, juga keluarga ini. Keluarga Xi yang telah membesarkannya dan menyayanginya hingga saat ini.”

Ariel menarik napas panjang lagi, “Aku tidak mau percaya pada awalnya. Hati kecilku menolak untuk menerima kenyataan bahwa Luhan berkata jujur. Tapi Luhan menceritakan semuanya, Luhan menangis di depanku, Luhan tidak memaksaku untuk melihat ke arahnya dan menerima dirinya juga pernikahan kami…” Ariel mendengus pelan, “Dia selalu berkata jika aku ingin mundur, maka aku bisa mundur kapanpun aku mau. Tapi semakin aku melihatnya lebih dalam, justru aku semakin ingin meraih tangannya dan memeluknya erat. Dia butuh seseorang untuk melingkupi rasa kesepiannya, dia butuh seseorang yang bisa menyeka rasa khawatir dan ketakutannya. Dia butuh seseorang yang mau tetap berada di sisinya dengan kondisinya saat ini, dengan segala kekurangan yang ia miliki. Ia butuh seseorang yang bisa berjalan berdampingan dengannya agar ia bisa normal. Dan aku mencintainya…bahkan sebelum ia berkata bahwa ia mencintaiku.”

Nyonya Xi cukup terenyuh dengan semua ucapan Ariel. Nada tulusnya, tatapan matanya. Tapi tentu saja cinta tetaplah cinta. Baginya, cinta bukan tujuan utamanya ataupun tumpuan untuk hidupnya. Ia cukup memiliki rasa cinta pada putranya, karena seandainya ia tak memiliki Luhan, mungkin saat ini ia sudah memutuskan untuk berpisah dari suaminya yang tak lagi sejalan dengannya dan membuatnya menghempaskan cinta yang pernah ia rasakan pada suaminya.

Nyonya Xi kembali menyesap tehnya. Ia tadinya ingin menasehati Ariel satu hal, bahwa hidup bisa berubah. Sama seperti cinta yang bisa berubah meskipun ada sebuah ikatan yang mengikat mereka, meskipun ikatan itu juga telah disaksikan Tuhan. Tapi semua urung. Ia hanya ingin bicara langsung ke inti. Ia tidak bisa tersentuh oleh kata-kata Ariel dan membuatnya urung begitu saja.

“Sayangnya cinta dalam pernikahan kalian bukan sebuah rencana yang aku buat,” katanya setelah ia menaruh kembali cangkirnya. Ia pun menatap Ariel, tepat di manik matanya, “Dan yang lebih disayangkan, semua orang terlalu iba untuk memberitahumu satu kenyataan tak menyenangkan.”

Nyonya Xi langsung mengeluarkan sebuah map berwarna abu-abu ke hadapan Ariel, “Ibumu sudah mencoba menghasut Yixing agar mau kembali padamu jika kelak kau berpisah dengan Luhan…” Nyonya Xi hanya bisa tersenyum saat melihat wajah Ariel yang terus memucat, “Aku tidak tahu dia berhasil atau tidak. Tapi yang aku tidak suka dari rencana ibumu, semua itu akan menyakiti putraku. Aku ingin kalian berpisah tanpa luka yang disisakan untuk putraku.”

“Y-ya?” Ariel menatap Nyonya Xi bingung. Ia semakin merasa sakit kepala saat wanita it uterus memperlebar obrolan mereka.

Nyonya Xi mendengus pelan dan mulai membuka map di hadapannya, “Ini adalah perjanjian yang kubuat dan kusepakati dengan keluarga Song,” Nyonya Xi menjeda dan menatap Ariel, “Aku memang meminta bantuan ibumu untuk mencarikan perempuan yang bisa menikah dengan Luhan demi menyelamatkan status keluarga kami, menyelamatkan Luhan dari rumor tidak sedap yang telah beredar lama. Dan kau adalah orang pertama yang disebutkan oleh ibumu.

“Awalnya aku sangat setuju dan tidak keberatan. Luhan juga langsung menyetujuinya, mungkin karena dia khawatir padaku karena saat itu aku sedang sakit. Tapi pikiranku berubah saat aku berpikir jika Luhan tidak menolak pernikahannya saat itu, maka dia juga tidak akan menolak pernikahan yang akan kubuat dengan siapapun,” Nyonya Xi pun mulai memperlihatkan lembaran kertas di dalam map tersebut, “Tapi saat itu aku tidak enak pada ibumu jika aku membatalkan pernikahan begitu saja. Karena saat itu, aku tahu Song Qian sangat tergila-gila pada putraku. Dan kau tahu? Keluarga Song pemilik SE Group adalah pemilik perusahaan besar dan juga saham yang tinggi. Pernikahan Luhan juga mau tak mau harus berhubungan dengan kedudukan dan status keluarga kami. Ini juga demi nama baik keluargaku di mata pengusaha lain. Menciutkan mental mereka, itu salah satu cara yang harus kutempuh agar mereka tidak berkembang terlalu pesat. Aku perlu jalan untuk semakin membesarkan perusahaanku, dan tanpa kusangka Song Qian menawarkan itu padaku.

“Aku bingung, tentu saja. Tapi melihat bagaimana Luhan menerima semuanya begitu saja, dan melihat Luhan yang tidak terlihat tertarik pada wanita, membuatku terpikirkan satu hal untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan keluarga lain yang memiliki putra gay sepertiku, aku pun menawarkan pernikahan kontrak dengan penggantian sejumlah biaya hidup dan kuliah kakakmu Whitney di London. Dan satu hal lagi, aku akan menjamin hidupmu. Juga dengan harapan kau akan melahirkan penerus untuk keluargaku…”

“Bohong!” Ariel menyela dengan cepat. Tidak. Pasti semuanya bohong. Nyonya Xi tidak mungkin benar. Wanita itu baru saja bohong karena ia ingin memisahkan Luhan dengannya. Tidak. Semua itu pasti bohong…

Nyonya Xi hanya tersenyum dengan secuil iba di dadanya, “Kau harus percaya Ariel Lau. Bahkan Luhan pun tahu semua ini…”

Ariel ingin membantah sekali lagi. Semua itu pasti tidak benar. Apa yang diucapkan oleh Nyonya Xi pasti semuanya bohong. Tidak mungkin ibunya mau menukar dirinya dengan uang ataupun harta. Tidak mungkin Luhan melakukan semua itu padanya, tidak mungkin. Dan Ariel terus mengelak meskipun dadanyatelah dihimpit rasa sakit. Ini jauh lebih menyakitkan ketimbang ia menerima kenyataan bahwa ia harus meninggalkan Yixing demi Luhan.

“Dan dalam perjanjian ini, pernikahan kalian akan berjalan setahun. Setelah itu kalian berpisah, dan Luhan akan menikah dengan Song Qian 6 bulan setelah perceraian kalian.”

Ariel menggeleng keras. Bohong. Semua ini pasti hanya mimpi buruk. Tidak mungkin Luhan tega melakukan semua ini terhadapnya. Tidak mungkin Luhan tega menipunya. Tidak mungkin. Ia mencintai Luhan dan ia juga menemukan sorot ketulusan di mata Luhan. Mustahil Luhan melakukan semua itu padanya.

Sakit. Ariel merasakan sakit yang amat sangat di dadanya. Jika ia bisa, ia ingin membalas semua ucapan Nyonya Xi atau bahkan merobek kertas yang ia sebut sebagai impiannya tersebut. Tapi Ariel terlanjur kehilangan tenaganya dan menyisakan rasa sakit yang menggerogoti seluruh hatinya.

“Jangan berpikir Luhan tidak melakukan apapun. Aku tidak mau kau berpikiran buruk padanya, dia juga sempat meminta agar aku menarik semua perjanjian itu. Sayangnya ini perjanjian resmi, aku mungkin bisa membayar kerugian, tapi tidak dengan harga diri atas nama keluarga Xi. Bahkan Luhan juga menjual hotelnya di Hong Kong untuk membayar semua yang telah kuberikan untuk Whitney, bahkan ia juga berkata bahwa ia akan menjual sahamnya jika ia perlu. Tapi dia tidak bisa membantahku. Luhan lah yang telah berjanji padaku dan membuatku melakukan semua ini. Aku juga melakukan semua ini untuknya…”

Nyonya Xi hanya mendesah pelan saat melihat Ariel terus menghapus air matanya yang meleleh, “Sayangnya meskipun Luhan yang menggantinya, perjanjianku dengan ibumu tidak seperti itu. Dia harus mengganti semuanya dengan lunas atau semua ini masuk persidangan…”

“Kau kejam!” pekik Ariel tidak terima. Ia bersiap untuk bangkit dan meninggalkan ruangan itu. Busuk! Keluarga Xi benar-benar busuk hingga Ariel tidak percaya ada manusia sebusuk itu yang hidup di dunia.

“Salahkan ibumu yang bersedia melakukannya Ariel Lau. Jangan salahkan aku,” Nyonya Xi mengingatkan Ariel sebelum gadis itu membuka pintu keluar, “Karena dia lebih dari sekedar tahu apa ambisi hidupku yang sesungguhnya.”

 

***

 

“Dia kekasihku mulai sekarang,” bohong Lisa, “Jadi kumohon. Cinta kadang tidak bisa berada di atas segalanya…”

Mata Luhan begerak cepat saat ia mendengar suara manajer Yixing. Tidak. Ia bukan terkejut karena wanita itu mengakui hubungannya dengan Yixing, tapi karena pembicaraan itu dilakukan Lisa dengan Lim Jinha, ibu Ariel –dengan nada penuh mengancam.

Lim Jinha tersenyum kecut dan hanya bisa mengangkat bahunya, “Dan kau ingin menipuku bagaimana tentang perasaannya?” balasnya santai. Halus. Nadanya sangat halus dan membuat Luhan measa merinding mendengarnya.

Tadinya, Luhan hanya ingin bertemu ibu mertuanya dan mengajaknya makan malam. Tapi ia justru disuguhi drama kecil yang entah bertopik apa sampai-sampai harus membuat ibu mertuanya terlibat cekcok dengan manajer Yixing –bahkan mempermasalahkan hubungan Yixing dan Lisa.

“Dia menceritakan isi hatinya bukan hanya lewat sorot matanya, tapi juga bagaimana cara ia menyentuh tuts piano dan melarikan nada-nada itu hanya untuk satu orang. Kau kira aku sebodoh apa sampai aku harus menutup mataku tentang semua itu?”

Lisa mengepalkan tangannya dengan keras, “Berhenti menyakitinya, Nyonya Lim…”

“Buka matamu Nona Kim. Entah kau yang menipuku atau memang Yixing menipu dirinya sendiri. Tapi aku tidak bisa ditipu dengan semua gestur dan mimik yang ditunjukkannya.”

“JIKA KAU INGIN DIA BAHAGIA KENAPA KAU MERENGGUT KEKASIHNYA?! KENAPA KAU MELARIKAN KEKASIHNYA DAN MEMBUAT HIDUPNYA HANCUR?!” pekik Lisa tidka terima saat Lim Jinha terus menyudutkan tentang perasaan Yixing sedangkan wanita itu sendiri yang membuat hidup Yixing hancur.

Bukan hanya Luhan yang kini menonton drama kecil itu, tapi semua orang yang ada di dekat panggung menoleh ke arah Lisa dan Lim Jinha.

“Kau tahu bagaimana dia menangis setiap malam karena kehilangan Ariel?! Kau tahu bagaimana ia menahan semua kesakitannya seorang diri karena Ariel meninggalkannya tiba-tiba?” Lisa masih melanjutkan, bahkan ia menunjukkan cincin lamaran yang tadinya akan diberikan Yixing untuk Ariel, “Dia hampir melamar Ariel. Dia berniat untuk menikahi Ariel, BAHKAN DIA INGIN MEMBUAT KEJUTAN KECIL UNTUK SEMUA KELUARGA ARIEL!”Lisa masih berteriak penuh emosi, “Dan kau tahu apa yang membuat fisiknya juga digerogoti rasa sakit? Karena Ariel menikahi sahabat Yixing! LUHAN ADALAH SAHABAT YANG SANGAT DISAYANGI YIXING!!!”

“Lisa Nuna hentikan!” Yixing tiba-tiba muncul dan menahan lengan Lisa. Ia tidak tahu bagaimana awalnya Lisa bisa bertengkar dengan Lim Jinha. Ia belum pernah melihat Lisa semarah ini, bahkan sampai berteriak seperti tadi.

Lisa menarik lengannya dengan kasar, “Dia harus menghentikan aksinya untuk mempengaruhimu! Kau ingin terus-terusan dibayangi oleh Ariel yang jelas-jelas tidak bisa kembali padamu? Apapun bentuk pernikahan mereka, dia adalah milik orang lain! Dia pikir dia siapa bisa seenaknya memintamu kembali pada Ariel? Dimana hatinya saat ia membuat pernikahan itu dan justru membuat pernikahan itu hancur juga!”

Lutut Luhan langsung lemas saat mendengar semua ucapan Lisa. Ia terpekur. Dadanya nyeri. Ia tidak tahu sejak kapan dadanya tersendat dan membuatnya sulit untuk bernapas. Ia mencintai Ariel, Demi Tuhan ia mencintai Ariel dan berharap ibu mertuanya pun dapat membantunya agar ia bisa tetap bersama Ariel.

Dan Demi Tuhan pula, ia mencintai Zhang Yixing. Ia pernah mencintai pria itu sebesar dan sedalam perasaannya pada Ariel saat ini. Dan ia rela tersenyum untuk kebahagiaan sahabatnya, ia tetap tersenyum meskipun ia kerap kali membutuhkan pelukan Wufan untuk melepas semua rasa sakit yang terus memukuli dadanya tanpa henti. Dan ia juga ikut menangis saat tahu gadis yang dicintai Yixing –gadis yang Yixing sebut penyempurna hidupnya justru pergi meninggalkannya.

Dan rasa sakit itu kian bertambah saat ia tahu ia lah orang yang merenggut kebahagiaan Yixing. Ia lah orang yang membuat air mata Yixing tumpah, ia lah yang membuat Yixing sakit –yang bukan hanya sakit di dalam hatinya, tapi juga fisiknya. Yang lebih bodoh lagi, Luhan justru sama sekali tidak tahu dengan semua kesakitan orang-orang di sekitarnya.

Semua memorinya langsung kembali berputar ke saat dimana ia bertengkar dengan Ariel, ia melihat air mata Ariel bahkan saat gadis itu berada di altar. Dan harusnya Luhan juga tahu Yixing pasti menangis sat melihat Ariel berada di altar dengan sahabatnya sendiri…

Sakit. Semua itu jauh lebih menyakitkan daripada ia menanggung semua kenyataan bahwa ia seorang gay. Semua itu jauh lebih menyakitkan dari kenyataan bahwa ia tidak bisa meraih tangan Yixing…

“Luhan…”

Luhan mendongak, mencoba mengangkat kepalanya dan menatap ibu mertuanya –yang ia ketahui mulai sangsi dengan kemampuannya untuk mempertahankan pernikahan ini. Ya. Harusnya Luhan tahu Ariel sama sekali tidak layak hidup dengannya, dengan laki-laki menjijikkan yang menghabiskan waktunya dengan sesama pria dan meniduri banyak gadis di pub demi alasan bodoh.

“Luhan, ini salah paham, kau tahu…” Luhan mundur satu langkah saat Yixing mulai mendekat ke arahnya. Ia tidak butuh penjelasan apapun. Tidak. Ia tidak ingin mendengarnya dan tidak pantas mendengarnya.

“Kenapa kau tidak mengatakan apapun saat kau datang ke pernikahanku?” Tanya Luhan dengan nada dingin.

“Luhan, bukan begitu…”

“Kenapa kau diam saja saat kau tahu sahabatmu lah yang merebut kekasihmu sendiri? Wanita impianmu yang sudah kau tumpukan seluruh hidup dan harapanmu padanya, kenapa kau diam saja?”

“Luhan…”

“KENAPA KAU TAK MENGHAJARKU YANG BRENGSEK INI ZHANG YIXING!!!”

Luhan langsung memukul rahang Yixing sampai pria itu terpental. Ia tidak tahu alasan apa yang membuatnya harus memukul Yixing. Tapi ia emosi dengan segala yang telah dilakukan Yixing. Demi Tuhan! Luhan tidak pantas diperlakukan sebaik itu! Luhan justru menjadi pria terbrengsek yang menyakiti semua orang.

“Kau masih mencintainya, kan?”

“Tidak Luhan…” Yixing mencoba bangkit, “Aku tidak lagi…”

Luhan kembali memukul Yixing berulang kali, “Katakan bahwa kau masih mencintai Ariel!!!” teriaknya pada Yixing sambil memegang kerah pria itu.

“Luhan…”

“Aku membencimu, Zhang Yixing.”

Luhan pun bangkit dan menghempaskan tubuh Yixing ke lantai. Yixing tidak mengerti, Luhan terluka bukan hanya kenyataan bahwa mereka bersahabat dan ia telah merebut Ariel, melainkan karena Luhan merasa bersalah karena telah menyakiti orang yang pernah dicintainya –atau mungkin orang yang masih disayanginya.

 

***

 

“Lagipula kenapa Nuna harus bertengkar dengan Lim Ayi? Nuna tahu? Ini hal terkekanakan yang pernah Nuna lakukan selama aku mengenal Nuna,” Yixing masih memarahi Lisa karena kejadian tadi, kejadian dimana pertengkaran Lisa dan ibu Ariel yang justru membuat Luhan dan dirinya juga harus ikut bertengkar hebat seperti ini.

Lisa yang sedang mengobati luka Yixing langsung menaruh kain kassa di tangannya dan menatap Yixing kesal, “Kau kira kenapa aku melakukan ini? Kau kira untuk siapa aku melakukan ini? Aku tidak suka kau…”

“Ini urusanku!” potong Yixing dengan nada membentak, “Ini bukan urusan Nuna sama sekali. Ini urusanku, jadi kumohon, Nuna harus berhenti ikut campur. Nuna hanya orang luar dan…”

“Baik. Aku akan berhenti mengurusi urusanmu,” suara Lisa mulai melemah. Jujur saja, ia cukup tersinggung dengan nada bicara Yixing barusan. Pemuda itu bicara seolah-olah Lisa sama sekali bukan siapa-siapanya –oh ya, mungkin Lisa memang lupa jika Lisa sama sekali bukan siapa-siapa.

Yixing memejamkan matanya. Sial! Ia sama sekali tidak bermaksud untuk membuat Lisa kesal –ia bahkan tahu Lisa kesal hanya dengan perubahan nada suaranya. Dan ia tidak ingin memulai pertengkaran lagi dengan siapapun, terutama dengan Lisa. Terus terang saja, ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa jika seandainya tidak ada Lisa selama ini.

“Nuna…”

“Aku akan kembali ke kamarku sekarang,” Lisa mulai beranjak tanpa mau menatap Yixing. Lisa terlalu malu pada dirinya sendiri. Ya…mungkin lain kali Lisa harus berterimakasih pada Yixing karena laki-laki itu telah mengingatkan betapa konyolnya Lisa, “Jaga dirimu baik-baik. Istirahat cukup dan minum vitaminmu. Jangan latihan sampai larut, besok pagi kau bisa latihan lagi sebelum pergi ke lokasi…”

“Nuna marah padaku?” potong Yixing mengabaikan ucapan Lisa. Wanita itu tetap cerewet, tetap mengkhawatirkannya. Dan harusnya Yixing tahu Lisa justru punya niat yang sangat baik terhadapnya.

Lisa menatap Yixing dan tersenyum kecil, “Tidak. Kenapa aku harus marah?” Tanyanya sambil meraih tas tangannya, “Kau juga harus menyelesaikan masalahmu dengan Luhan. Maksudku…tidak terlalu masuk akal dia memukulmu seperti tadi,” dan Lisa sedikit melirik Yixing kurang nyaman, “Kau tahu kan aku mengambil jurusan psikologi saat kuliah? Dan menurutku dia sedang frustasi. Emosinya labil, aku agak khawatir padanya. Jadi lebih baik kau membicarakan semuanya dengan baik-baik.”

“Nuna tidak akan menginap?” Tanya Yixing lagi, mengulur waktu agar Lisa tidak langsung pergi.

Dan tahu apa yang dilakukan Lisa? Lisa kembali menoyor Yixing dengan keras, membuat Yixing sedikit terjungkal ke belakang, “Kau bahkan pernah menciumku seenaknya! Dan kau ingin aku tidur disini denganmu? Oh, aku tidak ingin mengambil resiko ditiduri olehmu. Sudah ya! Aku harus pulang. Lagipula kamar kita hanya berbeda lantai,” dan setelahnya Lisa benar-benar pergi dengan cuek.

Yixing hanya mendengus. Sedikit geli. Lisa hampir selalu sulit untuk benar-benar diajak serius. Dan kebiasaan buruknya yang lain adalah menoyor kepalanya seperti tadi. Sangat seenaknya dan menyebalkan. Belum lagi ucapannya. Apa-apaan tadi? Menidurinya? Bahkan saat ciuman itu terjadi Lisa duluan yang menciumnya!

Yixing pun menggaruk kepalanya kasar. Mungkin ia harus mengganti manajernya. Lisa dan Yixing benar-benar hampir tidak bisa dikatakan waras jika sudah bersama. Atau mungkin Yixing tidak akan benar-benar menggantinya. Yixing sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia kehilangan manajer sebaik Lisa.

Yixing pun berjalan menuju kaca besar yang menjadi dinding pembatas kamar hotelnya yang menyuguhkan pemandangan Beijing. Kali ini Yixing justru memikirkan Luhan, juga ucapan Lisa tadi. Yixing pun kembali mendengus panjang. Benar kata Lisa, ia harus menyelesaikan semuanya dengan Luhan. Ia tidak bisa membuat masalah ini terus berkepanjangan.

 

***

 

Ariel masih berdiri di depan pintu apartemennya. Ia tidak bisa duduk setelah suara Nyonya Xi membelit kepalanya dan membuatnya benar-benar pusing. Mungkin Nyonya Xi benar, mungkin wanita itu benar dengan semua fakta bahwa Nyonya Xi membuatnya harus menikah dengan Luhan dan kini ia harus memisahkan mereka juga.

Tapi ia juga tahu bagaimana perasaan Luhan lewat sorot matanya. Ia ingin mendengar penjelasan Luhan. Ia ingin Luhan memeluknya dan berkata semuanya baik-baik saja danmereka tidak akan bisa berpisah. Sama seperti tadi, ia dan Luhan masih bisa saling berbagi pelukan dan kehangatan yang bisa membuatnya tenang. Ya. Ia sangat yakin.

Kepala Ariel langsung terangkat saat pintu apartemennya terbuka, dan tepat sasaran. Luhan baru saja pulang –dengan wajah lusuh dan mata sembabnya. Perasaan Ariel justru berbalik menjadi khawatir. Luhan tidak baik-baik saja, itu yang ia pikirkan pertama kali saat melihat penampilan Luhan.

“Luhan?”

Luhan tak menyapanya seperti biasa dan melewati Ariel begitu saja. Ia masih tidak tahu bagaimana caranya untuk mengatasi semua sakit yang mencekiknya tanpa ampun saat ini. Luhan hanya butuh sendiri. Ya. Ia hanya butuh sendiri. Memikirkan semuanya dan menenangkan seluruh otak dan hatinya.

Napas Ariel tercekat. Apa-apaan ini? Kenapa semua suasana langsung berubah drastis seperti ini? Bahkan Luhan masih menciumnya tadi siang, dan sekarang Luhan akan mengabaikannya begitu saja?

“Aku sudah bertemu ibumu, dan dia sudah mengatakan semuanya…” Ariel pun angkat suara. Ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Ia tidak bisa berdiam diri dan bersikap seolah tidak tahu sedangkan pernikahannya justru berada di ujung tanduk seperti ini, seperti benda yang mudah dijual belikan. Ini bukan hanya tentang pernikahan, ikatan status mereka, ataupun cincin yang mengikat mereka berdua. Ini juga tentang hatinya, tentag hati Ariel yang langsung berantakan hanya dengan lembaran kertas yang ditunjukkan padanya tadi siang.

Luhan benar-benar ingin mati saat ia mendengar ucapan Ariel. Emosinya kembali memuncak, semua lukanya kembali menerjang, menyanyi seolah ingin mengejek betapa lemahnya seorang Luhan. Ia benci semua situasi ini, benar-benar benci.

Luhan langsung membalik tubuhnya dan mengguncang bahu Ariel dengan kencang, “Kenapa kau tidak mendengarkanku?! Kenapa kau tidak mau mendengarkanku?! Aku sudah mengatakannya padamu!!! Jangan pernah temui ibuku!!!” teriaknya dengan nada frustasi. Sudah cukup dengan kejadian tadi sore saat ia bertemu Yixing, ia tidak harus memulai semua pertengkaran lagi dengan Ariel, kan?

“Lalu sampai kapan kau akan terus menipuku?!” Ariel balas berteriak dan menghempaskan tangan Luhan dengan kasar. Ia muak. Ia muak dengan semua kebohongan ini. Ia sudah merelakan semuanya demi Luhan, dan sekarang ia harus dibalas dengan kebohongan seperti sekarang ini?

“Menipu?” desis Luhan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia benar-benar sudah pusing. Jadi selama ini Ariel masih belum mempercayainya dan akan menelan semua ucapan ibunya begitu saja?

“Baiklah jika kau berpikir kau ditipu olehku. Semua terserah padamu…” Luhan berbalik dengan bahu yang terus merosot. Ia harap ia bisa terbangun dari semua kenyataan menyakitkan ini.

“Aku ingin pergi dari tempat ini…” kata Ariel dengan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki. Semuanya kebas oleh sakit yang didera hatinya. Semuanya terlalu menyesakkan. Sungguh.

“Pergilah,” balas Luhan terus menaiki tangga, “Kembalilah pada Zhang Yixing dan berbahagialah dengannya.”

Mata Ariel langsung membulat. Ia pun mengangkat kepalanya dan menatap Luhan yang mulai menjauh, “Yi…Yixing?”

Luhan menghentikan langkahnya. Ia pun menatap Ariel dengan tatapan lelahnya, “Kalian semua juga telah menipuku. Harusnya sejak awal pernikahan ini tidak pernah ada,” Luhan tersenyum penuh luka, “Harusnya malam ini aku masih berada di samping Wufan dan merasakan sentuhan menenangkannya, atau mungkin harusnya aku tengah menikmati tubuh pelacur sewaanku di pub…maafkan aku, aku sudah membuat hidupmu kacau Ariel Lau.”

Pundak Ariel langsung saat ia mendengar jawaban Luhan. Bukan. Bukan ini yang ia harapkan dari Luhan. Ia butuh dukungan pria itu, dan bukannya dibuang seperti sekarang…

“Lalu apa arti semua yang kurasakan selama ini? Lalu apa maksudmu selama ini jika kau menyerah begitu saja XI LUHAN!!”

Luhan menghentikan langkah kakinya. Ayolah Ariel, jangan menangis. Jangan menangis lagi untuk Luhan. Sudah cukup dengan semua perbuatan yang ia lakukan di masa lalu. Sudah cukup dengan semua luka yang telah ia sayatkan pada banyak orang, pada orang-orang yang ia sayangi. Cukup…

“Lalu aku harus bagaimana saat aku tahu aku telah melukai banyak orang?” Luhan berbalik, menatap Ariel yang jauh berada di lantai bawah, “Aku telah menyakiti Yixing dan merebut orang yang disayanginya! Aku yang membuat hidupnya kacau! Aku yang membuatnya dan dirimu menangis! Dan kau tahu betapa berat aku menanggungnya?!” air mata Luhan mulai meleleh, ia menepuk dadanya dengan keras, menunjukkan betapa sesaknya ia saat ini, “Semua karena salahku Ariel! Aku membuat malu keluargaku dengan kekuranganku! Aku membuat ibuku sakit dan membuat ibumu harus sepakat dengan perjanjian konyol ibuku! Aku merebut kebahagiaanmu dan juga kebahagiaan Yixing! Aku penyebabnya Ariel…aku…kau kira aku harus tetap tersenyum seperti biasa?” Luhan menundukkan kepalanya dan mendengus keras, “Dan sekarang Lim Ayi tak lagi dipihakku. Jadi, kembalilah pada Yixing. Dia masih mencintaimu Ariel Lau. Sangat mencintaimu. Dia lebih pantas untukmu dibandingkan aku. Maaf telah membuatmu sulit,” Luhan pun membalikkan tubuhnya dan terus berjalan menuju kamarnya, ia benar-benar berharap semua kesakitan ini bisa berakhir sekaramg juga.

 

***

 

Baekhyun baru saja akan terlelap saat pintu kamar hotelnya diketuk dengan keras. Baekhyun mengerang keras. Demi Tuhan! Mahluk apa yang berani mengusik jam istirahatnya –bahkan di jam yang telah menunjukkan kata malam ini?

“Iya! Tunggu sebentar! Bisa sabar tidak, sih?” teriak Baekhyun kesal sambil berjalan terseok menuju pintu kamarnya.

Tadinya, ia akan langsung menyembur siapapun yang telah mengganggu malam tenangnya –bahkan malam ini Taeyeon tidak menghubunginya dan membiarkan Baekhyun untuk istirahat. Tapi semuanya urung. Lidah Baekhyun langsung kelu saat tahu siapa yang berada di hadapannya saat ini.

“A-ariel? Kau kenapa?”

“Baek…”

Dan Baekhyun langsung menarik tubuh ringkih Ariel ke pelukannya. Ia tidak pernah melihat Ariel sekacau ini. Detik berikutnya, Baekhyun langsung mengusap punggung Ariel ketika tangis gadis itu pecah di pelukannya. Sakit. Ada nada sakit di dalam tangisan Ariel saat ini.

“Menangislah…menangislah sampai kau tenang, hm?” Baekhyun tidak tahu apa yang terjadi pada Ariel. Yang ia tahu, ia hanya perlu menenangkan Ariel saat ini. Kemudian ia pun menuntun Ariel masuk ke dalam.

 

***

 

Wu Yifan mengerutkan keningnya saat sekretaris Luhan mengatakan jika dua hari ini Luhan tidak datang ke kantor tanpa kabar. Tadinya ia mau mengajak Luhan –juga Ariel—untuk berlibur bersama ke Macau bersama dirinya dan Fei. Ia juga merasa khawatir dan teringat Luhan semalam, alasan yang kuat untuk membawanya ke kantor Luhan dan melihat laki-laki itu sendiri.

Tapi informasi yang diberikan sekretaris Luhan itu justru membuatnya gusar. Apa jangan-jangan Luhan sakit? Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apakah ia baik-baik saja bersama Ariel? Apakah Ariel bisa menjaganya dengan benar?

Wufan berbalik dan menjauhi sekretaris Luhan dengan ponsel di tangannya. Ia sangsi untuk menghubungi Luhan, terlebih saat ini pria itu telah berstatus sebagai suami seseorang. Tapi tidak ada salahnya jika Wufan menanyakan kabarnya, kan? Wufan bisa bertanya sebagai seorang sahabat…mungkin.

Wufan semakin khawatir saat Luhan tak kunjung mengangkat telponnya. Apakah Luhan benar-benar baik-baik saja? Dan akhirnya Wufan tetap menghubungi Luhan sampai berkali-kali, setidaknya Ariel mau mengangkat telponnnya.

Dan Wufan hampir mematikan telponnya ketika sebuah suara menyahut dari sebrang sana. Luhan. Wufan sangat yakin itu suara Luhan. Wufan pun buru-buru menempelkan kembali ponselnya ke arah telinga kirinya.

“Lu? Are you okay?” Tanya Wufan langsung dengan nada panik.

Dan tubuh Wufan langsung terpekur saat mendengar suara serak Luhan, juga nada suaranya. Luhan sama sekali tidak baik-baik saja, terutama ketika Luhan mengatakan dengan suara lirih, “Ariel…She left me….”

Wufan memejamkan matanya. Tiba-tiba saja kepalanya mulai sakit saat ia mendengar suara isakan di sebrang telpon sana. Wufan yakin ini semua karena kontrak sialan itu. Ia sudah mengingatkan Luhan berulag kali. Wufan pun langsung mematikan telponnya dan sedikit berlari meninggalkan kantor Luhan. Luhan membutuhkan dirinya sekarang, Luhan sendirian, dan Luhan sama sekali tidak baik-baik saja.

 

***

 

Wufan langsungmemasuki apartemen Luhan dengan panik. Wufan bersyukur Luhan tidak mengganti password apartemennya, sehingga semua itu tidak menyulitkan Wufan untuk masuk ke dalam. Dan hal pertama yang didapati oleh retina mata Wufan adalah pemandangan apartemen Luhan yang sama sekali berantakan.

Wufan langsung berlari dengan panik menuju kamar Luhan. Ia yakin Luhan ada disana, dan Wufan harap Luhan tidak melakukan hal bodoh apapun. Yeah, Luhan tipe orang yang mudah berpikiran pendek. Saat di situasi terburuk, Luhan bisa saja berpikir yang tidak-tidak.

“Luhan!! Luhan!!” Wufan memangil nama Luhan saat ia sampai di lantai atas. Wufan yang tahu letak kamar Luhan langsung menyampangi kamar tersebut dan membuka pintu yang kebetulan tak dikunci tersebut.

“Han…” Wufan langsung menghambur menuju ranjang. Luhan disana. Dengan keadaan menyedihkan, dia meringkuk di bawah selimut.

“Hei, Luhan. Ini aku, kau baik-baik saja?” Wufan benar-benar tidak bisa menahan kepanikannya jika Luhan sudah seperti ini.

Luhan membuka matanya perlahan, kemudian tersenyum kecil menatap manik mata Wufan, “Thanks for coming…”

Wufan menggeleng keras dan langsung membantu Luhan untuk bangun, “Apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini? Astaga…Luhan, tubuhmu demam…”

Wufan hampir beranjak jika saja Luhan tidak kembali bersuara dengan lirih, “Ariel tahu semuanya,” Wufan kembali menatap Luhan, menunggu Luhan melanjutkan, “Dan kau tahu? Yixing…Zhang Yixing adalah kekasih Ariel sebelum Ariel menikah denganku…” mata Luhan mulai kembali berair saat mengatakannya. Sakit. Dadanya benar-benar sakit, seolah hancur pun tidak akan menghilangkan lubang di hatinya.

Wufan hampir menjatuhkan rahangnya saat mendengar ucapan Luhan barusan. Tapi ia buru-buru menarik Luhan ke dalam pelukannya. Luhan membutuhkan seseorang untuk menopangnya saat ini. Dan Wufan benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Yixing dan Ariel…Wufan mendengus panjang. Cukup. Mulai sekarang ia tidak akan meninggalkan Luhan lagi. Tidak akan pernah.

Wufan pun mengusap pungung Luhan saat Luhan mulai kembali terisak di pundaknya, “Dan Ariel?” tanyanya pelan. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Ariel begitu saja meninggalkan Luhan.

“Dia berhak membenciku, Wufan…dia berhak membenciku. Semua pernikahan ini kesalahan. Harusnya sejak awal aku tidak pernah menyetujui permintaan ibuku untuk menikah dengannya dan langsung menerima Song Qian. Harusnya saat ini Yixing dan Ariel sedang berbahagia, dan aku justru merusak segalanya. Yixing tersiksa karenaku, dan selama ini Ariel juga terluka. Bukankah aku pantas mati saja? Aku bahkan hanya bisa membuat ibuku malu…”

Wufan semakin mengeratkan pelukannya, “Hei. Jaga bicaramu. Kaukira mati bisa menyelesaikan masalah?” Wufan pun menenggelamkan wajahnya dilekukan leher Luhan, “Aku juga sama sepertimu. Kau kira aku tidak merasakan apa yang kau rasakan?” Wufan menarik napas panjang, menghirup aroma tubuh Luhan, “Seseorang hidup dengan satu tujuan. Meskipun kau tidak menemukan jawabannya sampai mati, tapi Tuhan memiliki jawabannya. Ini hanya ujian Tuhan. Percayalah…kau masih percaya pada Tuhan, kan?”

Luhan tidak menjawab dan hanya balas melingkarkan tangannya di punggung Wufan, “Kau harus bertahan, hmm? Semua ini akan berakhir cepat atau lambat. Aku akan tetap berada di sisimu apapun yang terjadi, aku akan melakukan apapun untukmu. Apapun…. ”

“Aku merindukannya, Fan…” Wufan memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang kembali menyayat dadanya, ia harus tetap bertahan, apapun itu, ia sudah tahu Luhan akan mengatakannya. Ia tahu Luhan menyukainya, menyukai Ariel, “Aku ingin merelakan Ariel pergi, tapi aku sangat merindukannya, Fan…aku sangat brengsek dengan segala perasaanku yang egois…”

“Tidak,” tukas Wufan cepat, “Semua bukan salahmu. Tidak ada yang pernah meminta kapan dan pada siapa kita jatuh cinta. Ini hanya tentang apakah kita yang akan mengendalikan cinta itu sendiri, atau justru cinta yang mengendalikan kita,” Wufan pun menyentuh leher Luhan dengan bibirnya. Tidak. Wufan tidak melakukan apapun, ia hanya menempelkan bibirnya disana, semakin menghirup dalam aroma tubuh Luhan, “Semuanya akan baik-baik saja. Aku ada di sini.”

 

***

 

“Aku benar-benar tidak bisa meninggalkannya, Fei! Dia sendirian! Dia terpuruk dan dia membutuhkan seseorang!” Wufan menyentak tangan Fei yang masih memeganginya.

Fei sedikit memijit pelipisnya. Semuanya mulai lagi, pertengkaran ini kembali terjadi setelah sekian lama. Dan kali ini masalahnya ada pada Luhan. Luhan tiba-tiba sakit karena pertengkarannya dengan Ariel –setidaknya itu yang ia tangkap. Meskipun semua terlalu berbelit karena Zhang Yixing dan orang tua mereka –orang tua Ariel dan Luhan— juga masing-masing ikut terlibat.

“Dia membutuhkan Ariel, Kris…” lirih Fei dengan nada lelah. Kris terus bersikukuh untuk menjaga Luhan tanpa mau pulang ke rumah. Bahkan pria itu sama sekali tidak memperhatikan dirinya, “Satu-satunya yang membuat tubuh Luhan semakin sakit sekarang, karena hatinya sakit, Kris. Dia bukan hanya perlu bicara pada Yixing, tapi ia juga sangat membutuhkan Ariel,” Fei masih melanjutkan.

Fei sendiri sebenarnya lelah dengan semua masalah ini. Dan ia juga benar-benar khawatir kaena kesehatan Luhan terus menurun. Luhan mengalami sakit kepala hebat juga muntah-muntah. Bahkan sejak tadi pagi Luhan tidak bisa makan apapun. Yang lebih membuatnya semakin kesal, karena Wufan sangat keras kepala karena tidak mau memberi tahu keadaan Luhan pada ibunya. Bahkan Wufan juga tidak mau memberi tahu Ariel.

Wufan berdecak kesal dan menatap Fei dengan tajam, “Jika sampai nanti sore Luhan tidak bisa makan juga aku akan membawanya ke rumah sakit. Dan kumohon, jangan sebut Ariel atau siapapun yang membuatnya seperti sekarang!” desisnya tajam. Ia pun langsung berjalan menuju anak tangga, menuju kamar Luhan.

“Jika kau mencintainya maka kau harus membiarkannya bertemu dnegan Ariel! Dia membutuhkan Ariel, Kris! Kau harus tahu itu!” ucapan Fei berhasil menghentikan langkah kaki Wufan, “Sebenci apapun kau terhadap Ariel sekarang, tapi saat ini justru dialah yang bisa membuat Luhan kembali membaik.”

Wufan pun berbalik dengan cepat, “Kenapa sekarang kau begitu peduli? Apa sekarang kau menyukai Luhan dan…”

“Dia sahabatku, Kris…” Fei menarik napas panjang, “Dan aku juga pernah menyukainya. Sayangnya dia tidak bisa menggantikan posisimu, Kris. Jika kau mencintainya, maka aku harus mengalah dengan egomu…”

“Kau tidak mengerti, Fei…”

“Aku mengerti. Jika aku tidak mengerti aku tidak akan ada disini, aku tidak akan membiarkanmu mencintai Luhan dan terus berhubungan dengan Luhan. Tapi aku tahu kebahagiaanmu adalah dirinya, aku mengalah. Dan sekarang kau harus tahu, Kris. Kebahagiaan Luhan adalah Ariel. Kau harus mengalah,” Fei menarik napas panjang, “Semua terserah padamu. Aku ke kantor Luhan sekarang. Aku tidak boleh membiarkan ibu Luhan sampai tahu jika putra semata wayangnya sakit parah, kan?” Fei pun pergi. Menyisakan Wufan yang terpekur di tempatnya.

Tubuh Wufan merosot, ia hanya bisa menenggelamkan kepalanya di balik lipatan tangannya. Ia juga sudah cukup frustasi dengan segala perasaannya. Tapi harusnya ia memang sadar sejak awal, sejak Luhan tetap melihat ke arah Yixing meskipun mereka hidup bersama, Luhan takkan pernah melihatke arah Wufan. Tidak. Tidak akan pernah.

 

***

 

“Direktur Xi sakit sejak beberapa hari lalu,” jelas sekretaris Luhan dengan nada lirih, “Sepertinya dia sakit keras karena dia sama sekali tidak menghubungi kantor. Jika Anda ingin bertemu dengannya, Anda bisa menghubunginya langsung dan bertemu dengannya,” kata wanita itu lagi.

Yixing mendesah pelan, “Dia tak bisa kuhubungi sejak beberapa hari lalu,” gumamnya lebih kepada dirinya sendiri. Dan ia serius, Luhan sama sekali tidak membalas telponnya. Ia kira Luhan marah besar terhadapnya, tapi sepertinya ia salah.

“Zhang Yixing?”

Yixing memutar tubuhnya dan cukup terkejut mendapati gadis menyebalkan yang ditemuinya dulu –Ju Fei, jika tidak salah nama gadis di hadapannya adalah Ju Fei. Gadis yang mengaku sebagai mantan kekasih Luhan di hadapan Ariel.

“Kau mencari Luhan?” tanyanya dengan nada sarkatis. Tanpa menunggu jawaban Yixing, Fei melanjutkan, “Dia sakit. Dan kurasa kau harus bertemu dengannya. Ada yang harus kalian luruskan.”

Fei pun berjalan menuju meja sekretaris Luhan, berbicara sebentar dan menyerahlan sesuatu sebelum akhirnya Fei kembali mendekati Yixing, “Ikuti aku. Temui Luhan di apartemennya sekarang.” Kata Fei lagi, dengan nada perintah di dalamnya.

 

***

 

Yixing duduk dengan risih dengan mata yang terus berlari ke arah kaca mobil, pemandangan di luar sana kini menjadi satu-satunya yang bisa sedikit menepis ketidaknyamanan Yixing, duduk bersama denan Fei di mobilnya –well, pertemuan pertama mereka kurang mengenakkan bagi Yixing, dan semua itu membuat Yixing masih kurang nyaman saat harus berada di dekat Ariel seperti sekarang.

Fei menarik napas panjang saat melihat gestur tidak nyaman yang ditunjukkan Yixing sejak tadi. Yeah, Fei tahu dia bukan gadis manis yang terlihat begitu baik seperti Ariel, tapi setidaknya Yixing harusnya bisa bersikap biasa saja. Jika boleh jujur, Fei sebenarnya cukup tersinggung dengan gerak-gerik yang ditunjukkan Yixing sekarang.

“Kris ada di apartemen Luhan sekarang,” kata Fei sambil mengatur stir yang dipegangnya, “Dan kuharap saat kau bertemu dengannya nanti, kau tidak melakukan hal-hal yang membuat Kris tidak suka. Dia sedang sensitif sekali sekarang, terutama semenjak Ariel pergi dari rumah,” jelas Fei masih sambil memandangi jalan di depannya. Memperingatkan Yixing lebih dini mungkin tidak ada salahnya. Fei tidak bohong soal Kris yang memang jauh lebih sensitif, mudah marah, dan tidak meutup kemungkinan Kris bisa melakukan sesuatu yang buruk pada Yixing.

Fei sedikit mengintip gestur Yixing lewat ekor matanya, kemudian ia pun kembali menatap jalan raya di depannya. Bagaimanapun, Yixing salah satu penyebab hidup Luhan begitu sulit selama ini. Dan Kris dengan berbaik hati mau bersabar menghadapi Luhan dengan segala masalah hidupnya. Kris pemuda temperamental dan kasar, tapi ajaibnya dia bisa berubah menjadi begitu sabar hanya karena seorang Xi Luhan.

“Ariel…pergi?” Fei dapat mendengar nada ragu dari suara Yixing.

Fei terkekeh kecil dan menoleh sedikit ke arah Yixing, “Kukira kau tahu banyak. Jadi kau sama sekali tidak tahu apa-apa?” tanyanya dengan nada sedikit mengejek. Ayolah, si biang kerok ternyata tidak menyadari efek dari semua kesalahan yang telah ia lakukan.

“Mereka bertengkar hebat karena…aku?” Tanya Yixing sekali lagi. Ia benar-benar merasa sangat bersalah jika memang benar Ariel dan Luhan sampai bertengkar sehebat itu –meskipun ia sangsi. Bagaimanapun ini bukan masalah yang harus membuat Ariel sampai meninggalkan Luhan. Yixing mengenal baik Ariel. Ariel bukan tipikal gadis yang mudah mengambil keputusan dengan pikiran sedangkal itu.

Fei lagi-lagi tertawa. Oh, Demi Tuhan. Yixing benar-benar konyol, “Kau tidak tahu apapun ya?” katanya lagi, masih dengan seringai di bibirnya, “Kau tidak tahu jika Luhan menyukaimu?” tanyanya lagi dengan nada santai. Fei tahu harusnya ia tidak mengatakan apapun pada Yixing soal ini, tapi menurutnya Yixing harus tahu –cepat atau lambat. Dan Fei rasa, inilah saatnya untuk Yixing mengetahui segalanya.

Yixing sempat tersedak air ludahnya sendiri. Ia menatap Fei tidak percaya. Apa-apaan barusan? Luhan menyukai…Yixing? Yixing menggeleng keras dan tertawa hambar. Itu pernyataan tergila yang pernah ia dengar. Bagaimana bisa Luhan menyukai…Yixing sedangkan pria itu mencintai Ariel?

Fei tiba-tiba menepikan mobilnya dan langsung menatap tajam ke arah Yixing, “Baiklah. Aku tahu Kris akan membunuhku karena aku mengatakannya padamu, tapi kau harus tahu Zhang Yixing. Luhan menyukaimu sejak kalian masih berada di sekolah yang sama. Dan dia masih menyukaimu sampai sekarang, atau mungkin sampai ia merasa ia mencintai Ariel,” Fei pun memposisikan dirinya menghadap ke arah Yixing, “Dan aku mencintai Kris sejak kami berada di Junior High School. Tapi Kris seorang gay, dan dia menyukai Luhan saat ia sekamar dengannya di asrama saat kami kuliah dulu.”

“Kau gila,” Yixing menggeleng tidak percaya. Fei pasti sudah gila karena segala obsesinya. Tidak mungkin Luhan seorang gay, Yixing bahkan mengenal Luhan sangat lama. Bahkan Luhan pernah memiliki kekasih. Dan bagaimana bisa justru Luhan menyukai Yixing?

“Ya, aku gila. Karena kau menyukai seorang gay dan terus melakukan segala cara untuk meraih hatinya. Tapi aku nyaris gagal, meskipun aku telah mempelajari segala macam tentang gay, aku bahkan berkonsultasi dengan seorang psikiater di Kanada agar aku bisa menghadapi Kris dengan baik. Tapi aku gagal karena cintanya pada Luhan sangat besar.”

“Tapi Luhan menikah dengan Ariel!”

Fei ertawa meremehkan. Ia pun menarik kerah kemeja Yixing dan mendekatkannya ke arah Fei, “Dan pernikahan itu adalah pernikahan kontrak. Ariel tahu Luhan adalah gay, tapi dia tidak tahu keluarga Xi telah menipunya, bahkan ibunya sendiri,” Fei melepas kerah Yixing dan mulai menstarter kembali mobilnya, “Itu alasan kenapa ibuku sangat membenci ibu Luhan. Keluarga Xi penuh tipuan. Tapi yang paling penting bukan itu sekarang,” Fei kembali menoleh ke arah Yixing, “Kau harus bersikap tidak tahu apapun di depan Luhan. Tapi kau harus meredam lubang yang kau buat di hati Luhan. Jika kau lupa, dia juga sahabatku, dan aku juga pernah menyukainya. Dia butuh rangkulan, dan bukannya disalahkan. Kau sahabatnya, kan? Kau harusnya jauh lebih tahu.”

Lutut Yixing langsung lemas. Semua ini tidak bisa dipercaya. Tidak. Bahkan tak satupun semuanya asuk akal bagi Yixing. Ia tahu, ia dan Luhan terlampau dekat meskipun Luhan telah kembali ke Beijing dan Yixing tetap tinggal di Seoul. Tapi ia tidak tahu jika Luhan…

Yixing memejamkan matanya. Kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit. Sekarang ia paham kenapa Luhan menghajarnya tempo hari. Dan, ia juga tahu kenapa Ariel berusaha menutupi hubungan mereka di masa lalu. Bukan Yixing yang benar-benar menjadi korban disini, tapi Luhan…juga Ariel. Yixing mungkin akan memilih untuk bunuh diri jika ia ada di posisi Luhan.

 

***

 

Wufan menatap tajam Fei saat matanya mendapati Yixing justru membuntuti Fei di belakangnya. Ini gila. Luhan sudah cukup depresi dengan semuanya, dan sekarang Yixing harus datang dan membuat penderitaan Luhan semakin panjang?

“Kenapa kau membawanya kemari?” Tanya Wufan dengan nada dingin.

Fei mengedikkan bahunya acuh, “Kami bertemu di kantor Luhan. Dia ingin bertemu Luhan, dan aku membawanya kemari,” sahutnya dengan nada sedikit cuek.

“Fei! Kau tahu bagaimana keadaan Luhan!”

“Dan kau harus tahu apa yang harus kau lakukan pada Luhan!” Fei balas membentak. Ia sudah lelah dengan semuanya, dan ia tidak mau harus kembali memulai peperangan kecilnya dengan Kris-nya.

“Luhan juga orang terpenting bagi hidupku, Kris. Dia yang berada di sisiku saat kau menjauhiku. Dan biarkan sekarang aku mencoba membantunya untuk mengobati luka hatinya perlahan. Dia juga membutuhkan Yixing, dan…Yixing sudah tahu semuanya.”

“FEI!!!”

“Yixing juga sahabat Luhan, Kris! Dia juga tahu bagaimana Luhan…dan biarkan dia menyelesaikan semuanya, Kris. Justru sekarang kau yang perlu membuka matamu, Kris…”

Yixing hanya bisa mengusap tengkuknya tidak nyaman. Bagaimanapun ia orang luar dari lingkaran Fei dan laki-laki yang dipanggilnya Kris itu, bahkan Luhan sekalipun. Yixing tidak mengerti satupun perkataan mereka, tapi yang ia tahu, ia harus menemui Luhan. Meskipun ia tidak yakin dengan apa yang harus dilakukannya setelah ia bertemu dengan Luhan nanti.

“Luhan di atas, temui dia,” perintah Fei tanpa memandang Yixing.

Yixing langsung mengangguk dan naik ke lantai atas. Seolah-olah kakinya begitu hapal dengan tempat ini. Tapi Yixing tetap memutuskan pergi sendiri, ia tidak mau terlibat dengan pria tadi ataupun Fei.

“Kau akan berurusan denganku jika kau membuat Luhan semakin memburuk, Zhang Yixing,” ancam Wufan sebelum Yixing sampai di lantai atas. Dan Yixing hanya membalasnya dengan anggukkan mengerti.

 

***

 

Hal pertama yang Yixing tangkap dari ruangan dengan cat serba putih itu, adalah Luhan yang tengah meringkuk di balik selimutnya. Yixing tahu ia bukan tengah berada di rumah sakit, tapi Yixing justru bisa mencium aroma obat-obatan asing yang menyentuh indra penciumannya.

Yixing mendesah kecil sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mendekat ke arah ranjang Luhan. Yeah, Luhan sakit. Dan Yixing paham Luhan bukan hanya sakit fisik, tapi hatinya yang sakit justru membuat fisiknya juga semakin melemah.

“Luhan?” panggil Yixing dengan suara rendah. Ia tidak akan membangunkan Luhan jika Luhan memang benar-benar tengah tidur.

Yixing pikir Luhan tidak akan bangun, wajah pemuda itu sangat pucat dan matanya benar-benar terpejam rapat. Tapi suara Yixing seperti mantra, Luhan langsung membuka matanya dan menegakkan tubuhnya saat mendapati Yixing ada di hadapannya.

“Yi…Yixing?”

Yixing duduk di tepi ranjang dan tersenyum kikuk ke arah Luhan, “Kau sakit parah?” Tanyanya dengan nada bicara yang dibuat sebiasa mungkin.

Yixing pun mengambil mangkok bubur di atas nakas, “Fei mengeluh kau tidak bisa makan, atau kau tidak mau makan?” Yixing sedikit menaikkan alisnya dengan nada jahil, “Apa karena Ariel tidak di sini makanya kau tidak mau makan?”

Luhan benar-benar merasakan pusing yang hebat di kepalanya. Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba Yixing bisa berada disini?

“Apa yang kau lakukan disini? Dan…Ariel…Ariel tidak bersamamu?”

“Makan satu sendok dulu baru aku akan menjelaskan,” Yixing mengangkat sendok di tangannya dan mengarahkannya ke arah Luhan, “Kau selalu manja jika sakit. Aku jadi ingat saat SMA dulu, kau sakit demam, dan kau merajuk tidak mau makan,” Yixing menggeleng geli. Yeah, secuil kenangan kecil mereka. Dan Yixing benar-benar merindukannya.

“Zhang Yixing…”

“Kau tidak kasihan pada Kris dan Fei? Mereka bertengkar karena mengkhawatirkanmu dan kau malah merajuk seperti bayi. Hanya satu sendok, setelah itu kau tidak perlu melanjutkan agar kau tidak merasa mual,” kata Yixing lagi masih dengan nada membujuk.

Luhan berdecak kecil. Apa-apaan ini? Kenapa Yixing bertingkah menggelikan seperti ini? Bahkan yang terbesit dalam pikirannya, harusnya mereka tengah dalam kondisi tegang karena pertengkaran mereka tempo hari. Tapi sikap Yixing di luar dugaannya, membuat kepalanya bertambah pusing.

“Yixing…”

“Satu sendok saja, baru kita bicara.”

Sekali lagi, seperti sebuah mantra, Yixing bisa membujuk Luhan untuk memakan satu seondok bubur yang disodorkannya –tapi Luhan menolak untuk disuapi. Tidak. Meskipun kadang Luhan bisa merasakan desiran saat menatap Yixing, tapi Yixing bukan Wufan –Luhan tentu tidak akan menolak jika Wufan yang menyuapinya, dan Yixing juga bukan Ariel…. Luhan mendesah kecil, rasa rindunya kembali meninju dadanya dengan kuat.

“Jadi…” Luhan menggantung ucapannya dan membiarkan Yixing mengambil gelas di tangannya, “Kau kemari…”

“Untuk meminta maaf padamu,” sela Yixing cepat sambil menaruh gelas Luhan di atas nakas, dan ia pun kembali menatap Luhan dengan seutas senyum kecil di bibirnya, “Aku tidak tahu jika Lisa Nuna akan bertengkar hebat dengan mertuamu. Aku minta maaf soal itu. Nuna kehilangan kendali. Dan…soal hubunganku dengan Ariel…”

“Kembalilah padanya. Sepertinya dia sedang bersama Baekhyun jika dia tidak menemuimu,” Luhan menukas cepat. Ia tidak ingin membahas masalah ini, entah kenapa.

“Haruskah aku juga menghajarmu agar kau mau membuka matamu?”

“Yixing…”

“Kalian saling mencintai, tidak ada alasan bagi kalian untuk berpisah saat ini,”

“Tapi kau juga mencintainya! Aku yang merebutnya darimu, Yixing. Aku yang menyakitimu, aku yang…”

“Tapi dia tidak berjodoh denganku, Han…” ucapan Yixing berhasil membuat Luhan kembali diam, “Jika dia memang berjodoh denganku, harusnya Ariel masih bersamaku saat ini. Ikatan pernikahan sanga kuat, Han. Status sebagai kekasih bisa diakhiri dengan kata putus, tapi tidak mudah untuk memutus ikatan pernikahan. Kau berjanji untuk hidup bersamanya, dan Tuhan yang menjadi saksinya, kalian bersumpah di hadapan Tuhan.”

Luhan memejamkan matanya erat, “Tidak, Yixing. Pernikahan ini salah sejak awal. Ariel memang seharusnya tidak menikah denganku, tidak…”

“Kau bisa merobek perjanjian itu, Han…” Yixing menarik napas panjang dan menepuk pndak Luhan, “Jangan menolak kenyataan bahwa kau membutuhkannya saat ini. Aku baik-baik saja tanpanya, meskipun aku memang terluka, tapi aku bahkan masih bisa tertawa dan bermain piano dengan baik. Tapi kau benar-benar membutuhkannya, Han. Dan Ariel juga mencintaimu…”

Yixing masih menahan senyum di bibirnya, “Terimakasih telah menjadi sahabatku, Han. Terimakasih karena kau juga telah banyak memberiku inspirasi. Maaf, aku bukan sahabat yang sempurna untukmu…” Yixing kembali menepuk pundak Luhan dan memeluk Luhan, “Permintaan terakhirku, jaga Ariel baik-baik. Aku melepaskannya bukan untuk membiarkannya menangis, tapi untuk membahagiakannya dengan cinta seseorang yang lebih pantas untuknya.”

Luhan tidak ingin membalas pelukan Yixing. Tidak. Ia bahkan tidak pernah memeluk Yixing meskipun mereka berpisah dulu. Tapi tangan Luhan bergerak dengan sendirinya dan balas memeluk Yixing, dengan tepukan di bahu Yixing, juga air mata yang sempat jatuh tanpa Yixing tahu.

 

***

 

Yixing mengetuk-ngetuk layar ponselnya dengan tidak tenang. Ini adalah panggilan kesepuluhnya yang ia lakukan pada Ariel, tapi tidak satupun yang digubris oleh Ariel. Gadis itu benar-benar seperti hilang ditelan bumi…

Yixing menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia pun sedikit merapatkan baju hangatnya dan mencoba kembali menghubungi seseorang lewat ponselnya. Kali ini bukan Ariel, tapi Baekhyun. Seingatnya ia masih menyimpan nomor Baekhyun. Dan ia harap, Luhan benar soal Ariel yang mungkin tengah bersama Baekhyun sekarang.

Untuk beberapa saat, Baekhyun juga hampir mengabaikan panggilan Yixing –dan mungkin jika dalam 5 detik lagi Baekhyun tak mengangkatnya, Yixing akan segera menutup telponnya. Tapi akhirnya Baekhyun mengangkatnya, tanpa mengucapkan apapun.

“Baekhyun?” Tanya Yixing memulai percakapan.

“Kau mencari Ariel, Hyung?” balas Baekhyun dengan nada datar di sebrang telpon sana.

Yixing mendengus panjang, berarti Ariel memang benar ada bersama Baekhyun saat ini, “Bisa aku bertemu dengannya, Baek?”

“Kau bisa menemuinya, tapi tidak untuk membuatnya kembali menangis. Kecuali kau mau kembali merasakan hantamanku, Hyung,” Yixing tersenyum kecil mendengar ancaman Baekhyun.

“Ya. Kau bisa melakukan apapun jika sampai aku menyakitinya,”

“Aku akan mengirimkannya lewat pesan. Aku tidak berada bersama Ariel, Ariel ada di kamar hotelku sekarang.”

 

***

 

“Tuan Muda sakit selama beberapa terakhir ini. Dia juga tidak datang ke kantor, dan Nona Ju tadi pagi sempat datang menyuruh sekretaris Tuan Muda untuk melakukan beberapa hal,” seorang pemuda dengan usia sekitar 25 tahun itu menjelaskan dengan tubuh yang masih sedikit membungkuk.

Nyonya Xi mengangkat kepalanya dengan sedikit kerutan di dahinya, “Maksudmu…Luhan sakit?”

“Ya, Nyonya. Itu informasi yang saya dapatkan. Juga, saya dengar Tuan Muda Xi baru saja di daftarkan sebagai pasien di sebuah rumah sakit.”

Nyonya Xi semakin mengerutkan dahinya, “Ariel yang mengantarkannya?” tanyanya dengan nada sedikit gusar. Bagaimana tidak? Luhan sakit. Dan sejauh yang ia tahu, Luhan tidak pernah sakit separah itu –tidak sampai harus masuk ke rumah sakit.

“Bukan, tapi sahabatnya Tuan Wu Yi Fan dan Nonya Ju Fei yang mengantarkannya,” jelas pemuda itu lagi.

“Ariel tidak mengantarkannya?” Song Qian yang kini bersama dengan Nyonya Xi akhirnya ikut bersuara. Ia memutar kepalanya ke arah Nyonya Xi yang terlihat bimbang dan juga panik, “Ariel tidak bersama Luhan?” tanyanya sekali lagi.

“Dan Ariel…bagaimana dengannya?” tanya Nyonya Xi lagi.

Pemuda di hadapannya menggeleng kecil, “Saya belum mendapat informasih apapun. Tapi sepertinya Nona Lau memang tidak sedang bersama Tuan Muda, saya juga sama sekali tidak melihatnya…”

“Gadis itu pasti menyerah,” Song Qian bersuara dengan nada kemenangan. Ia pun mengangkat cangkir teh nya dan mengintip mimik Nyonya Xi lewat ujung ekor matanya, “Anda bilang, Ariel sudah mengetahui semuanya. Apakah mereka sudah memutuskan untuk berpisah?” tanya Song Qian lagi, berharap gadis bernama Ariel itu benar-benar sudah enyah.

Nyonya Xi hanya mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas permukaan meja di hadapannya. Ia tidak tenang, sama sekali tidak merasa tenang setelah tahu jika Luhan jatuh sakit. Ini bukan hanya tentang Ariel yang kemungkinan sudah tidak lagi berada di sisi Luhan, tapi Lim Jinha mengatakan Luhan berkelahi dengan Zhang Yixing bertepatan dengan pertemuannya dengan Ariel. Kemungkinan besar mereka bertengkar.

Nyonya Xi menghela napas panjang dan meminta agar pemuda yang menjadi bawahannya itu segera keluar. Untuk pertama kalinya, akhirnya Nyonya Xi ingin mempertimbangkan perasaan Luhan. Ini bukan hanya tentang sebuah perasaan, tapi ini juga berhubungan dengan kesembuhan Luhan –Ariel telah berhasil membuat Luhan kembali normal. Semua itu memang terjadi di luar dugaannya, tapi setelah berhentinya Lim Jinha kemarin membuat Nyonya Xi mulai iri untuk meniru Lim Jinha yang membela perasaan putrinya. Ia tergiur dengan kesembuhan putranya –ia tahu gay bukanlah penyakit, tapi kembali normal bukankah bisa dikatakan sembuh?

“Sepertinya semua rencana kita berjalan lebih cepat dari yang kita duga, bukan begitu Nyonya Xi?” Song Qian kembali bersuara yang membuat kepala Nyonya Xi semakin pusing.

Nyonya Xi hanya tersenyum kecil dan ikut menyesap teh nya, “Tapi meluluhkan hati Luhan saat ini sama sekali tidak mudah, Nona Song,” ia menyahut tanpa menoleh ke arah Song Qian, “Ariel berhasil merebut hati Luhan, karena Luhan berhasil membuat Ariel bisa menoleh kepadanya. Bahkan Luhan sudah berani menjual penginapan yang dimilikinya untuk membatalkan perjanjian ini,” Nyonya Xi menoleh ke arah Song Qian, “Luhan jatuh cinta pada Ariel. Dan dari sejauh yang aku tahu, putraku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta ataupun melupakan orang yang dicintainya. Dia tidak akan melepas Ariel begitu saja.”

“Nyonya Xi…”

“Aku bisa tetap mengusahakan semua berjalan sesuai rencana, tapi aku tidak bisa menjamin hatinya bisa berubah dengan cepat. Luhan bukan robot yang bisa kukendalikan sepenuhnya, dia manusia dengan hati dan pikirannya sendiri.”

Song Qian sedikit menggertakkan giginya, “Dan aku juga belum tentu bisa kembali mengendalikan ayahku. Jika perjanjian ini batal, semua perjanjian yang dilakukan perusahaan kita juga batal. Ini bukan hanya tentang penggantian rugi, tapi mungkin impian kerja sama di msa depan pun hampir tidak mungkin terjadi,” Song Qian tidak bermaksud untuk mengancam. Ia juga tidak terlalu tertarik dengan bisnis dan semacamnya. Tapi ini Luhan. Dalam perjanjian berbau bisnis yang melibatkan perusahaan ayahnya, juga perusahaan keluarga Xi telah melibatkan Luhan, “Aku mencintai Luhan. Aku menginginkannya. Aku akan tetap berusaha untuk merebut hati putra Anda, Nyonya Xi.”

Nyonya Xi tersenyum kecut. Ia akhirnya lebih memilih untuk memperhatikan taman yang berada di luar restoran kecil bergaya Italia ini. Semua pemandangan di tempat ini menyenangkan, menyejukkan, dan menenangkan. Sayangnya sejak ucapan gadis bermarga Song di hadapannya tadi, justru membuat semua aura menyenangkan itu harus kebas begitu saja.

 

***

 

Yixing telah sampai sejak 1 jam lalu di kamar hotel Baekhyun. Dan ia memang benar mendapati beberapa benda yang ia yakini adalah milik Ariel. Tapi Ariel tidak berada di sana, dan Yixing yakin gadis itu masih berada di dalam kamar mandi –karena sejak Yixing tiba, pintu kamar mandi itu tertutup dengan suara gemericik air di dalamnya.

Yixing tadinya akan tetap menunggu sampai Ariel benar-benar keluar. Tapi ia justru berubah merasa tidak tenang. Ini sudah satu jam, dan Ariel tidak seharusnya mandi selama itu, kan? Bahkan Yixing tahu jika Ariel bukan tipe gadis yang suka berlama-lama di kamar mandi.

Dengan ragu, Yixing pun mendekat ke arah pintu kamar mandi tersebut dan mengetuknya pelan, “Ariel, kau di dalam? Ini aku, Yixing.”

Tidak ada satuhan. Dan sekali lagi Yixing mengetuk pintu kamar mandi tersebut, “Ariel kau baik-baik saja? Bisa kita bicara?”

Dan setelah lebih dari 10 kali mengetuk pintu, Yixing tetap tidak mendapat jawaban dan ini membuatnya semakin panik. Ia pun segera menelpon Baekhyun kembali, “Dia tidak keluar Baek, dia di kamar mandi sejak satu jam lebih…”

Baekhyun ikut menyahut panik di sebrang sana. Menelpon Baekhyun sama sekali tidak membantu. Yixing justru mendapati Baekhyun yang mengumpat tidak jelas –Baekhyun mengumpati Luhan. Yixing hanya bisa mengusap tengkuknya. Ia sempat berpikir untuk sedikit membela Luhan, hey! Luhan malah jatuh sakit semenjak Ariel meninggalkannya. Tapi ini bukan saat yang tepat.

Ia sempat berpikir mendobrak pintu kamar mandi itu sampai suara Baekhyun menginterupsi Yixing, “Panggil pelayan hotel dan suruh mereka untuk membuka pintunya. Cepat lakukan, Hyung! Aku segera pulang!” Dan tanpa menunggu lagi, Yixing langsung memanggil pelayan hotel lewat telpon.

 

 

Yixing berdiri dengan gugup saat wanita berseragam hitam dengan corak putih itu berhasil membuka pintu kamar mandi yang sejak sejam lalu terkunci itu. Wanita tersebut berhasil membuka pintu, kemudian ia mengecek ke dalam untuk memastikan Ariel ada disana –dan Yixing sangat berharap Ariel baik-baik saja.

“Anda bisa melihatnya sendiri, Tuan,” kata pelayan itu dengan ramah dan sedikit membungkuk. Kemudian dia dan dua orang resepsionis lainnya segera pergi dan menutup pintu kamar hotel milik Baekhyun ini.

Dengan ragum Yixing mendekat ke arah kamar mandi. Dan Ariel benar ada di sana, dengan piyama berwarna putih yang terlihat kebesaran itu, Ariel menekuk kakinya dan memeluknya sambil duduk di bak mandi yang penuh berisi air. Ariel tidak melakukan apapun di sana, hanya duduk tanpa melakukan apapun dengan memeluk kakinya.

“Ariel…”

“Kau tahu apa yang kurasakan saat pertama kali tahu aku akan menikah dnegan Luhan, Ge?” Ariel bersuara tanpa menatap Yixing sedikitpun. Yixing tidak menjawab dan hanya mendekat ke arah Ariel, duduk di tepi bak mandi berwarna putih itu dan mencoba meraih tangan Ariel.

“Aku mencintaimu dan menginginkanmu. Tidak peduli sekaya apa atau setampan apa seorang Xi Luhan, aku hana memikirkanmu dan benar-benar ingin berlari ke pelukanmu,” Ariel melanjutkan dengan nada datar tanpa bergerak sedikitpun, “Aku sama sekali tidak mengenal Luhan. Aku hanya bertemu dengannya dengan derajat yang sangat berbeda, aku pelayan dan dia majikan. Dia baik. Aku tahu dia baik, bagaimana caranya peduli pada ibuku, dan juga bagaimana dia mencoba menolongku saat itu, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa dia adalah pria baik. Tapi aku tidak mencintainya, Ge. Sama sekali tidak…”

Yixing mencoba menghapus air mata Ariel yang meleleh dari kelopak matanya, “Tapi Mom berhasil membujukku. Dia dengan segala ucapannya. Dia adalah ibu, dan aku adalah seorang anak. Aku ingat saat dia berkata bahwa ia tak pernah meminta apapun dariku, dia tidak menginginkan apapun selain kebahagiaan untukku. Dan dia benar, Mom benar. Mom tak pernah meminta apapun ataupun menghalangiku ataupun anak-anaknya untuk menggapai mimpinya, apapun itu. Mom selalu berada di pihak kami, Mom menyayangi kami dan Mom selalu memahami kami. Karena Mom juga hidup dengan sebuah impian dan ambisi yang besar…. Dan Mom hanya sekali meminta padaku, yaitu hanya menikah dengan Luhan.”

“Aku hancur saat tahu harus meninggalkanmu. Aku memikirkanmu siang dan malam tanpa tahu bagaimana cara meredam perasaan sakit yang bercampur dengan rasa rindu itu. Aku merindukanmu, Ge…sangat.,”

“Ariel…”

“Kupikir Mom sangat jahat karena dia menggunakanku agar ibu Luhan membantu Whitney yang sedang kesulitan saat itu,” Ariel mencebik, “Mom sudah memperingatkan Whitney berulang kali agar dia tidak perlu sekolah ke London dan mengambil jurusan psikiater. Tapi dia tidak pernah mau tahu dan tetap pergi ke sana, membuat Mom kelabakan karena harus banting tulang mencari uang demi dirinya. Dan sialnya, aku harus menjadi korban disini,”

“Dan yang membuatku semakin hancur, adalah kenyataan bahwa Luhan seorang gay. Gay…” Ariel tersenyum perih mengingat bagaimana ia mendengar ucapan Nyonya Xi bahwa Luhan adalah gay, “Dan kau datang ke pernikahan kami, datang ke pernikahanku. Aku malu. Sangat malu. Bukankah aku seperti barang investasi yang hanya diincar keuntungannya?”

“Aku membenci Luhan. Sangat. Aku jijik melihatnya, aku benci saat dia justru bersikap baik padaku, seolah semuanya baik-baik saja. Dia merebut kebahagiaanku. Dia merebut impianku, dia menjungkir balikkan hidupku. Keluarga yang begitu mengerikan…” Ariel memejamkan matanya, “Tapi setelah itu aku justru tidak bisa terlepas darinya meskipun dia menawariku perpisahan. Bukan karena dia kaya dan memberikanku segalanya, bukan karena dia selalu bersikap baik padaku, tapi ketulusannya…ketulusannya untuk menerimaku dan membuatku tetap merasa nyaman dengan pernikahan kami yang benar-benar menyedihkan. Aku tahu dia terluka karena mencintaimu, aku tahu dia juga terluka karena disaat yang bersamaan ia juga memikul nama baik keluarganya, harga diri keluarganya. Dan aku justru ingin melindunginya, ingin memeluknya saat tahu bagaimana ia melalui hidupnya selama ini…. Dia memperkenalkan dirinya dengan baik.”

“Kami jatuh cinta…setidaknya itu yang kupikirkan sampai aku tahu… Mom ternyata benar-benar menjualku, mempermainkanmu, dan Luhan justru tahu semua itu tanpa mengatakan apapun,” Ariel membuka matanya dan membiarkan air matanya kembali meleleh, “Aku tahu dia mencintaiku. Aku tahu dia mencintaiku sama seperti aku mencintainya. Aku tahu dia menyembunyikan semua ini agar tidak mengusik kebahagiaan kami berdua. Aku mengerti…. Itu yang kuharapkan selama perjalanan pulang setelah aku mendengar semua cerita itu dari ibunya. Aku akan memaafkannya jika ia meminta maaf, memelukku dan bergata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi apa yang dikatakannya? Dia justru berkata harusnya semua tidak pernah terjadi. Dan dia justru memintaku untuk kembali padamu…setelah semua yang kulalui…”

Yixing langsung menarik Ariel ke pelukannya, membiarkan Ariel kembali menangis tanpa suara di pelukannya, “Apakah aku tak seberharga itu sampai semua orang bisa memperlakukanku serendah itu? Aku bahkan tidak tahu harus pulang ke mana setelah Luhan memintaku untuk pergi…. Aku tidak memiliki rumah atau siapapun….”

“Ariel…”

“Aku ingin membencinya, Ge. Aku ingin membenci Luhan dan menamparnya, membuat dia tahu seberapa sakit yang aku rasakan…. Tapi aku tidak bisa, aku mencintainya…. Aku merindukannya, aku justru ingin memeluknya sekali lagi…”

 

***

 

Yixing masih memeluk erat Ariel yang terbaring di lengannya saat Baekhyun tiba di kamar hotelnya. Baekhyun cukup terkejut saat melihat Yixing yang tengah memeluk Ariel sambil terbaring di ranjangnya. Baekhyun ingin memprotes, tapi ia cukup tahu diri jika ini bukan waktu yang tepat untuk memprotes sepasang manusia yang tengah terluka itu.

Baekhyun akhirnya hanya meletakkan tas nya di atas sofa, kemudian berjalan menuju kulkas dan mengambil air dingin di sana. Ini musim gugur, bahkan sudah mendekati musim dingin. Tapi karena sangat buru-buru datang ke mari justru membuat Baekhyun merasa kepanasan.

Sekali lagi Baekhyun menoleh ke arah Yixing dan Ariel, kemudian mendesah panjang. Dulu, pasangan itu adalah pasangan favoritnya. Mereka tidak terlalu romantis, tapi bukan pasangan yang sering bertengkar juga. Mereka selalu serasi dan terlihat romantis dengan apapun yang mereka lakukan. Mereka bahkan lebih sering berkencan di tempat-tempat tabu, seperti perpustakaan, tempat latihan Yixing, bahkan kantin kampus yang menurut Baekhyun payah sekali. Tapi diam-diam Baekhyun justru menaruh rasa iri. Mereka terlihat manis dengan cara mereka sendiri.

“Kau sudah pulang?” entah sejak kapan Yixing sudah bangun dan berdiri di dekat Baekhyun. Meskipun sempat terkejut, akhirnya Baekhyun hanya mengangkat bahu sambil mengedikkan bahunya.

“Seperti yang kau lihat,” Baekhyun pun menjatuhkan pandangannya ke arah Ariel, “Dia baik-baik saja?” tanya Baekhyun kemudian.

Yixing mendengus pelan, “Tidak terlalu. Justru aku penasaran dengan kabarnya beberapa hari ini,”

“Tidak baik, setelah dia menangis malam itu, Ariel lebih banyak diam. Dan aku tidak bisa melakukan apapun. Bahkan, rencananya aku akan membawanya kembali ke Korea jika dia masih tidak ingin bertemu dengan ibunya…”

“Ibunya sudah tahu soal ini?”

Baekhyun menggeleng pelan, “Bahkan aku tidak ingin bertemu dengan ibunya,” kata Baekhyun.

“Nyonya Lim juga tidak datang beberapa hari terakhir…”

Baekhyun mendesah pelan, kemudian hanya menganggukkan kepalanya. Masih banyak pertanyaan yang berputar di kepalanya, tapi ia tidak yakin untuk mengutarakan semuanya, “Jadi apa saja yang telah Hyung katakana padanya?”

Yixing kembali menoleh ke belakang, menoleh ke arah Ariel yang mulai tenang, “Apa yang dikatakan Ju Fei…” katanya tanpa mengalihkan pandangannya, “Dan memintanya kembali pada Luhan,”

“Hyung…”

“Fei bilang seorang gay memiliki tingkat emosi yang sedikit tinggi. Dan emosi Luhan memang sedikit tidak stabil karena dia ada di posisi ego distonik, dimana ia tidak menyukai keadaannya sebagai gay. Luhan membutuhkan Ariel, dan Ariel juga membutuhkan Luhan…”

“Hyung…”

“Tidak ada alasan untuk memisahkan mereka,” Yixing masih melanjutkan tanpa mempedulikan sergahan Baekhyun, “Aku memberi pengertian pada Ariel. Dan kuharap Ariel mau mendengarkanku, setidaknya kali ini,” ingatan Yixing sedikit kembali terlempar pada obrolan panjangnya dengan Ju Fei kemarin saat mereka berada di mobil. Gadis arogan dan agresif yang menyimpan kepedulian tinggi. Jika Yixing adalah Kris, mungkin ia sudah jatuh hati pada Fei. Sayangnya Kris tidak mungkin menyukai Fei…kecuali kejadiannya berbeda, seperti yang terjadi pada Luhan dan Ariel.

“Hyung…, oke jangan sela. Aku hanya ingin bertanya, Fei itu siapa?”

Yixing hanya menjatuhkan rahangnya beberapa saat sebelum akhirnya berdeham –sedikit jengkel—kemudian mengambil botol mineral milik Baekhyun dan meminumnya, “Tidak ada. Tidak penting. Sekarang aku pulang, aku takut manajerku mencariku dan mengomeliku seperti kemarin. Jaga Ariel, aku permisi.”

 

***

 

Ariel mengetuk-ngetuk meja makan di hadapannya dengan kepala terkulai lemas, pertemuannya dengan Yixing kemarin membuat kepalanya harus berpikir ekstra keras. Meskipun ia merasa cukup tenang setelah Yixing memeluknya dan menenangkannya seperti kemarin. Ariel mendesah panjang dan memejamkan matanya kembali. Pusing. Ia benar-benar pusing.

“Kalian saling membutuhkan, jadi apalagi yang harus kau pikirkan?” Ariel terpaksa mengangkat kepalanya saat suara Baekhyun menginterupsi lamunannya sambil menaruh sekaleng jus jeruk di hadapan Ariel.

Ariel tersenyum tipis, kemudian mengambil kaleng jus tersebut dan membukanya perlahan. Sepertinya Baekhyun sudah tahu apa yang dibicarakannya dengan Yixing kemarin. Yeah, itu sangat memalukan. Ariel harus bertemu Yixing dengan kondisi yang benar-benar menyedihkan, kondisi yang benar-benar tidak layak untuk dilihat siapapun.

“Masalah rumah tangga memang lebih rumit daripada hubungan sepasang kekasih. Ini mungkin baru badai petama kalian, jika kau malah melarikan diri, bagaimana kau bisa siap menghadapi badai berikutnya?” Baekhyun mulai angkat bicara lagi dengan nada tak acuh, “Luhan pasti sedang dalam kondisi yang buruk, aku yakin dia tidak bermaksud untuk memintamu pergi, kok. Jika dia memang menginginkanmu pergi, harusnya dia tidak perlu repot-repot menentang ibunya. Dia hanya terpukul saat tahu gadis yang membuat Yixing terluka adalah kau, dengan kata lain Luhan sendiri lah yang menyakiti Yixing,”

Ariel masih tidak menjawab dan memutar bola matanya menatap Baekhyun, menunggu kelanjutan ucapan pemuda itu, “Jika aku ada di posisi Luhan, aku juga pasti akan merasa sangat sulit. Kau pernah belajar tentang psikologi, kan? Kau tebak saja bagaimana kondisi psikologi Luhan saat ini. Kau hanya perlu menyelesaikannya dengan Luhan, selepas itu kau baru membicarakan semua masalahmu dengan ibumu…”

“Aku tidak tahu Mom akan menjualku,” tukas Ariel cepat setelah ia mengingat ibunya kembali. Nada suaranya datar, sedater perasaannya saat ini. Ia tidak tahu lagi harus merasakan perasaan apa setelah ia tahu semua kenyataan pahit yang ditutupi semua orang. Ariel benar-benar merasa seperti keledai tolol.

“Ibumu pasti punya alasan,” Baekhyun mengulurkan tangannya untuk menyentuh punggung tangan Ariel, “Jika dia memang berniat buruk, dia seharusnya tidak mengkhawatirkanmu…”

“Tapi Mom menyetujui kontrak itu,” Ariel menarik tangannya dan meneguk jus kalengnya, “Artinya Mom bersedia menukarku dengan sejumlah uang. Aku harus melabrak Whitney setelah ini, meminta ganti rugi karena aku telah banyak berkorban…”

“Itu bukan dirimu,” Baekhyun berujar dengan nada rendah, “Coba pikirkan sekali lagi dengan mengenyampingkan perasaanmu. Cari tahu jawabannya lewat hatimu Ariel,” Baekhyun tersenyum tipis sebelum akhirnya ia bangkit.

“Aku harus latihan sekarang. Jika kau mau menjenguk Luhan di rumah sakit, beri tahu aku. Jangan membuatku harus menelpon polisi gara-gara tak menemukanmu dimana-mana.”

Ariel terhenyak saat diingatkan kembali soal Luhan yang jatuh sakit. Ariel memeamkan matanya erat. Luhan baru saja sembuh, dan sekarang dia sakit lagi? Laki-laki itu benar-benar payah. Ariel sudah mengingatkannya berulang kali agar dia bisa menjaga kesehatannya dengan benar. Apa tidak bisa Luhan membebaskannya dari rasa khawatir?

Khawatir? Ariel mendecak pelan dan kembali meneguk jusnya. Lucu sekali. Bahkan setelah ditipu pria itu, Ariel bahkan masih bisa berpikir jika ia mengkawatirkan pria itu, merindukan pria itu, dan sangat benci dengan dentuman di dadanya yang berteriak jika Ariel mencintai Luhan…

Ariel sedikit menggebrak meja makan di hadapannya dengan kaleng jus yang saat ini tengah dipegangnya. Luhan benar-benar seperti kafein yang membuatnya kecanduan dan gila. Dan tanpa perintah ataupun persetujuan otaknya, tiba-tiba tubuhnya bergerak menuju lemari pakaian dan mengambil jaket milik Baekhyun.

“Aku pergi ke rumah sakit jika kau tak menemukanku di sini.
P.S aku pinjam jaketmu, sayang <3”

 

***

 

“Kris tak mengizinkanku pergi selangkah pun. Kau tahu itu benar-benar merepotkan?” omel Fei sambil mengupas kulit apel di tangannya. Jangan berpikir Fei tengah mengupas buah untuk Luhan, justru Fei mencuri apel milik Luhan yang diberi dari rumah sakit.

Luhan hanya bisa tersenyum kecil melihat Fei harus terus menekuk wajahnya. Luhan tahu Fei tulus saat gadis itu berkata akan menunggui Luhan disini –meskipun dia kukuh jika Wufan yang memaksanya. Meskipun memang benar begitu, tapi Fei tetap mau melakukannya.

“Kau bisa pulang jika kau mau, aku baik-baik saja, kok.”

Fei mendelik sambil memakan apel yang baru selesai dipotongnya, “Dan membiarkanmu terlantar tanpa memastikan kau sudah bisa makan atau belum? Kris hampir gila karena mengkhawatirkanmu, dan kau seenaknya bicara seperti itu?”

Luhan kembali tersenyum, kali ini dia sama sekali tidak memiliki kata-kata yang bisa dilontarkannya untuk beradu argumen dengan Fei. Luhan akhirnya memilih untuk memejamkan matanya dan menarik sedikit selimutnya sampai ke batas dada.

“Ibumu sudah tahu jika kau sakit dan dirawat di sini. Tadi malam aku tidak sengaja melihat mata-mata ibumu. Sepertinya dia belum mengganti mata-matanya, dia masih tampan sama seperti dulu. Kau tahu namanya?”

Luhan langsung membuka kembali matanya dan menatap Fei dengan sedikit terkejut, “Mama…?” lirih Luhan dengan suara rendah.

Fei hanya mengedikkan pundaknya tak acuh, “Menurutku harusnya kau bicarakan dengan ibumu sekarang,” Fei pun bejalan mendekat ke arah Luhan kemudian duduk di tepi ranjang tersebut, “Pasti ibumu akan merasa kasihan dan setuju untuk membatalkan perjanjian dengan keluarga Song. Lagipula Ariel sepertinya cukup baik, setidaknya dia bisa merebut hati ibumu.” Kata Fei lagi sambil memakan apel yang tadi dipotong-potongnya.

Luhan mendesis pelan. Kemudian matanya secara perlahan memperhatikan rambut panjang Fei yang berwarna kecoklatan. Jika saja memang semudah itu untuk meluluhkan hati ibunya, harusnya saat ini Luhan dan Ariel tidak bertengkar…atau…yeah, baiklah. Luhan akui tepo hari Luhan lah yang salah. Ia terlalu kasar pada Ariel. Sekuat apapun gadis itu, tetap saja Ariel hanya perempuan biasa dengan hatinya yang ringkih. Seringkih gelembung –setidaknya itu yang ia baca dari novel yang sempat diterjemahkannya untuk Ariel.

“Tapi kau juga harus merasa senang jika mata-mata ibumu ada disini,” Fei kembali bersuara, “Artinya dia khawatir padamu. Dia masih peduli padamu, pada putra semata wayangnya yang sakit-sakitan ini.”

Jika Luhan tidak dalam keadaan sakit, Luhan pasti akan menyumpal mulut Fei dengan sandalnya. Lidah gadis itu sama sekali tidak bisa dirubah, seolah-olah lidah itu memiliki tabiat sendiri sampai-sampai kata tahun tidak bisa merubahnya. Dan akhirnya, Luhan hanya bisa memutar bola matanya.

“Sebenarnya kau pernah menyukai Kris atau tidak, sih?” Fei lagi-lagi bersuara, hanya saja kali ini dengan topic dan nada suara yang berbeda. Nada suara yang membuat Luhan cukup simpati untuk memperhatikan Fei yang kini menundukkan kepalanya, menatap kakinya yang menggantung ke arah lantai, “Kau selalu bersamanya dan selalu berbagi apapun dengannya. Bahkan Kris sepertinya akan menyanggupi menyerahkan seluruh hidupnya untukmu jika perlu, tapi kau justru malah menikahi seorang gadis dan secara blak-blakan menceritakan tentang rumah tangga anehmu itu,” Fei pun mengangkat kepalanya,”Pernahkah kau memikirkan bagaimana perasaannya? Setidaknya perasaannya terhadapmu. Dia mencintaimu. Dia berkorban banyak untukmu. Apa kau pernah tersentuh sedikit saja setelah apa yang dia lakukan untukmu?”

Luhan menelan ludahnya. Kecut sekali. Sekecut suasana yang diciptakan oleh Fei, juga sekecut suasana hatinya yang tak kunjung membaik setelah Ariel pergi dari rumah. Yeah, cinta ternyata jauh lebih rumit daripada rumus fisika yang sempat membuat Luhan mual setengah mati saat ia mempelajarinya, cinta juga jauh lebih memusingkan dan lebih mudah membuat orang frustasi, bahkan Luhan jauh lebih sanggup mengurus seluruh perusahaan Jia Hua Group yang diwariskan kakeknya daripada harus memikirkan cinta. Apalagi jika cinta itu sudah terhubung pada persahabatan, hubungan kekasih, bahkan pernikahan. Memahami, melindungi, mencintai, dan menjaga satu orang yang kau ikat di sisimu seumur hidup ratusan kali lipat lebih sulit daripada mengurusi sebuah perusahaan yang menampung ribuan orang yang bergantung di dalamnya.

Dan Wufan juga salah satu orang yang membuatnya cukup kelimpungan tiap kali ia harus memikirkan bagaimana perasaan pria itu. Luhan hanya tahu Wufan adalah sahabatnya, kakaknya, dan kekasihnya secara bersamaan –setidaknya sampai Luhan akhirnya menikah dengan Ariel. Luhan menyayanginya, mencintainya, dan tentu saja Luhan juga sangat peduli pada Wufan. Tapi ia tidak yakin dengan bentuk cinta yang menarik di hatinya selama ini. Luhan juga berjanji untuk selalu menjadi orang pertama yang menggenggam tangan Wufan saat kesulitan. Tapi Wufan bukan Luhan yang selalu mengeluhkan masalahnya, Wufan cukup dewasa untuk menguasai dirinya sendiri saat masalah tengah menderanya. Dan jujur saja, Luhan juga sebenarnya merasa tidak enak tiap kali ia mengadukan banyak hal pada Wufan…. Tapi nyatanya, meskipun Luhan tidak meminta agar Wufan datang, Luhan dapat menjamin Wufan akan tetap datang dan membelanya saat dunia ini membelakanginya.

“Jika kau tidak menyukainya…” cicit Fei lagi, “Lalu kenapa kau terus bersamanya? Membuatnya terus berlari ke arahmu, bahkan kalian perna tidur bersama segala. Aku bahkan hampir frustasi saat mengetahuinya…”

Luhan langsung meraih tangan Fei dan mengurung tangan Fei dengan genggaman kedua tangannya. Fei menoleh ke arah Luhan, juga tangan Luhan yang mulai mengusap punggung tangannya dengan lembut, seolah Luhan menyalurkan kekuatan lewat genggaman tangannya yang hangat itu.

“Jawabannya hanya dua, jika bukan adanya orang lain yang belum dipertemukan Tuhan denganmu, berarti waktu saja yang belum membuka hati Wufan,” Luhan menarik kedua sudut bibirnya lembut yang menghiasi wajah pucatnya, “Wufan hanya tidak tahu bagaimana cara membuka mata hatinya untuk melihat ketulusanmu, karena sejauh yang aku tahu, semua ketulusanmu berhasil menyentuh pintu hatinya,” Luhan pun mencoba menggapai pipi Fei yang mulai dialiri lelehan air matanya, “Maaf jika keberadaanku justru membuatmu semakin sulit. Tapi terus terang saja, aku memang membutuhkannya…dan kupikir dia juga membutuhkanku. Kami saling melengkapi karena kami saling membutuhkan. Jika waktunya tiba, kau pasti akan menemukan jawabannya, dan semua kesulitanmu pasti terbayarkan. Aku jamin itu.”

Fei buru-buru memalingkan wajahnya saat lelehan air matanya semakin menjadi. Tangan kirinya yang bebas buru-buru menghapus air matanya. Fei merasa sangat idiot sekali karena tiba-tiba membuat suasana seaneh ini. Luhan juga, kenapa bisa-bisanya dia membicarakan hal-hal seperti ini sedangkan dirinya sendiri juga sedang terpuruk?

“Permisi…”

Fei dan Luhan secara bersamaan langsung menarik tangan mereka masing-masing, juga langsung memutar bola mata mereka ke arah pintu yang entah sejak kapan telah terbuka, dan memunculkan sosok seseorang…seorang perempuan. dan pandangan Fei langsung kembali beralih ke arah Luhan. Itu Song Qian.

 

***

 

“Keadaanmu sepertinya jauh lebih buruk dari yang kuduga,” Song Qian menarik kursi yang berada di dekat ranjang Luhan. Tatapan gadis itu datar, sedatar wajahnya dan juga nada suaranya. Mungkin gadis itu cukup ‘terpana’ dengan pemandangan yang didapatinya saat ini.

Luhan menarik sudut bibirnya kecut, “Ya. Aku sama sekali tidak baik-baik saja. Sepertinya aku juga tidak bisa banyak bicara. Jadi, aku akan lebih banyak mendengarkan sekarang.”

Song Qian tersenyum penuh arti mendengar jawaban Luhan. Cara menghindar yang halus. Ya. Luhan selalu menghindarinya, bahkan setelah Luhan menyetujui persetujuan yang dibuat Qian dengan Nyonya Xi, Luhan tetap bersikap seperti itu. Seolah Qian sama sekali orang yang tidak ingin dilihatnya.

“Aku kecewa saat tahu kau mulai tertarik pada Ariel,” Qian mulai angkat suara. Kali ini ia bicara dengan segala kepasrahannya. Ia tidak akan lagi menggebu-gebu seperti dulu, ia tidak akan lagi bicara dengan nada tinggi dan berusaha untuk meraih tangan Luhan. Ia hampir menyerah jika ia memang tidak bisa lagi melanjutkan langkahnya kali ini. Persetan soal perjanjian dan segala macam yang berkaitan dengannya dan juga Nyonya Xi. Qian lelah. Qian terpukul saat tahu gadis bernama Ariel itu lah yang justru berhasil mendapatkan perhatian Luhan.

“Aku tidak mengerti kenapa kau tidak pernah mencoba memberikanku kesempatan yang sama seperti kau memberikan kesempatan pada Ariel. Dan saat kau memberikanku harapan, kau justru menarik ulurnya, membuatku kembali terpojok. Seolah-olah aku gadis murahan yang terobsesi denganmu,” Qian mengeratkan pegangannya pada tali tas jinjing yang dibawanya,”Aku merasa sangat tidak adil. Aku juga sama dijodohkan denganmu, sama seperti kau dijodohkan dengannya. Bahkan aku juga lebih dulu tahu jika kau seorang gay, dan sama seperti yang kukatakan, aku menerimamu apa adanya. Tidak peduli kau gay atau apapun, aku tetap mencintaimu…. Tapi kau justru tidak memberikanku kesempatan yang sama,” Qian menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, “Memang apa yang membuatmu bisa sampai menyukainya? Dia memiliki apa sampai kau rela melepas segalanya untuk mempertahankan pernikahan ini?”

Luhan tersenyum tipis, mencoba untuk menyembunyikan luka yang mulai menganga kembali. Luhan sebenarnya enggan untuk membahas Ariel saat ini. Tema pernikahan menjadi hal sensitif untuk dibicarakannya. Luhan merasa gagal. Ia gagal untuk tidak membuat Ariel menangis, ia gagal untuk membuat rumah tangganya tetap utuh. Ia kehilangan Ariel –atau munkin hampir kehilangan Ariel. Ia merindukan Ariel. Sangat.

“Dia tidak arogan,” Qian menatap Luhan kaget saat mendengar jawaban itu, tapi Luhan tetap melanjutkan, “Dia apa adanya dengan kondisinya. Dan dia juga menerimaku bukan sebelum dia tahu kekuranganku, tapi justru setelah dia tahu kekuranganku. Semakin sering aku membuatnya melihat hal paling menjijikkan dalam diriku, semakin dia merangkulku erat. Dia membuatku sadar…sosok sepertinya yang aku butuhkan,” Luhan mencoba menahan air mata yang mencoba melesak di kedua kelopak matanya. Dia laki-laki, secengeng dan sepecundang apapun, dia tidak ingin terlihat selemah itu di depan Song Qian, di depan orang lain yang tidak mengenalnya.

“Aku tahu kau tulus mencintaiku, dan terimakasih untuk itu. Tapi maaf, aku terlanjur mencintai Ariel…aku…aku bukan hanya mencintainya, tapi juga membutuhkannya. Aku bukan membutuhkannya untuk menerimaku saja, tapi aku membutuhkannya karena dia tahu cara membuatku untuk memperbaiki semua warna kelam yang pernah kubuat.”

Song Qian mengangguk paham. Ia ingin mengelak. Ia juga merasa bisa, ia juga merasa mampu untuk melakukan apa yang dilakukan Ariel, setidaknya dari apa yang ia dengar dari Luhan. Tapi ia tidak ingin berargumen apapun lagi. Ia kalah telak. Dan sekarang ia ingin menyangkal banyak pernyataan soal hati perempuan yang sulit didapatkan. Siapa bilang? Hati laki-laki justru jauh lebih sulit direngkuh. Pikiran seorang laki-laki sulit ditebak, hatinya sulit ditembus, dan tangannya sulit diraih. Setidaknya itu yang Song Qian rasakan.

“Bisa kau bantu aku bangun dari sini?” suara Luhan menginterupsi semua lamunan Qian. Qian menatap Luhan beberapa saat, sampai akhirnya ia bangkit dan mencoba membantu Luhan untuk bangun dari tempat tidur yang ditempatinya.

“Kau mau kemana?” tanya Qian setelah selesai membantu Luhan. Suaranya agak serak, dia harus mati-matian untuk menahan tangisnya agar tidak pecah di depan Luhan.

Qian tidak mendapatkan jawaban dari mulut pria di hadapannya saat itu, justru ia mendapat jawaban lewat apa yang dilakukan Luhan saat itu –Luhan berlutut di hadapan Song Qian sambil berpegangan pada tiang infuse di sisi kanannya.

“Luhan…”

“Demi ibuku, aku memohon Song Qian, batalkan perjanjian itu. Aku mohon biarkan kerja sama yang telah disepakati oleh ayahmu dan juga ibuku tetap berlanjut, aku akan membayar kerugiannya jika kau ataupun keluargamu menginginkannya, tapi kumohon, batalkan perjanjian itu,” Luhan menarik napas panjang, “Aku selalu bermimpi untuk melupakan pria yang menjadi cinta pertamaku. Aku juga terbebani dengan keadaanku karena ibuku, keluargaku, aku membawa nama mereka dalam hidupku. Aku satu-satunya tumpuan harapan dari mereka, aku ingin menjadi pria normal. Dan aku membutuhkan Ariel untuk itu. Aku akan memberikan apapun yang kau butuhkan, dan aku membutuhkan Ariel…juga untuk membuat ibuku tidak merasa nama baiknya tidak terusik. Aku membutuhkanmu untuk semua itu, Song Qian…”

“Luhan…”

“Aku mohon…”

“Luhan hentikan!” dada Qian naik turun setelah ia membentak Luhan. Kemudian ia pun ikut berlutut, menundukkan kepalanya sambil tetap menghadap ke arah Luhan, “Izinkan aku memelukmu untuk yang pertama dan terakhir, dan aku akan mengabulkan semua keinginanmu.”

Luhan menatap Song Qian dengan mata yang membulat –Song Qian hampir arogan seperti Ju Fei, hampir tidak mungkin untuknya mengeluarkan nada mengalah seperti yang dilakukannya saat ini. Tapi Luhan tak mengatakan apapun, ia justru langsung menarik Song Qian ke pelukannya –dengan sedikit susah payah, tenaga Luhan tidak sekuat biasanya. Dan ia perlu tenaga ekstra meskipun hanya untuk menumpu berat tubuhnya dengan lutut.

“Maafkan aku, Luhan…. Maaf….”

“Ya, aku juga minta maaf, menyulitkanmu sejauh ini.”

 

***

 

“Kau dengar sendiri? Lu-han-men-cin-ta-i-mu,” Fei memutar tubuhnya ke arah Ariel yang masih menatap lurus Luhan yang tengah dibantu Song Qian untuk kembali berbaring di tempat tidurnya, “Dia punya alasan untuk perjanjian itu, dia tidak bermaksud untuk menyakitimu karena…yeah, kau tahu, bahkan Luhan tidak menyangka dia akan menyukaimu saat kau sudah menikah dnegannya. Dari yang kudengar dari Kris, Luhan hanya berusaha untuk membuatmu nyaman, karena dia tahu dia telah mempersulit hidupmu. Dia peduli padamu. Dia membiarkan banyak orang tersakiti demi orang yang dicintainya. Yaitu kau, Ariel Lau.”

Ariel tidak menjawabnya. Dia justru menundukkan kepalanya, menahan agar tangisnya tidak pecah. Ia benar-benar merasa sangat bodoh setelah meninggalkan Luhan begitu saja. Ia tidak mendengarkan Luhan, dia tidak mencoba untuk tetap membuat kondisi tetap stabil. Ariel terlalu terbawa emosi.

“Bahkan ibumu juga mulai membelamu. Kau tahu artinya apa? Dia tidak bermaksud menyakitimu. Semua orang mencintaimu, peduli padamu. Bahkan kedatangan Song Qian saat ini menandakan bahwa dia telah menyerah, artinya ibu Luhan juga menyerah. Nyonya Xi juga tetap seorang ibu, kebahagiaan putranya adalah yang utama.” Fei mulai mengusap pundak Ariel. Ia juga malah ikut menangis saat melihat Ariel mulai sesenggukan. Yeah, ia kira hanya ia yang hidup dalam drama yang sangat dramatis ini. Tapi ternyata ada satu gadis yang juga mengalami hal sama, hanya saja gadis itu jauh lebih beruntung –karena Fei tidak kunjung berhasil merengkuh hati Kris.

 

***

 

Setengah empat. Luhan mendengus keras setelah ia mengalihkan matanya dari jam dinding berwarna senada dengan dinding ruang inapnya saat ini. Putih. Semua serba putih, seprai, gorden, lantai, dinding, nakas, bahkan jam pun berwarna putih. Warna yang untuk pertama kalinya membuat Luhan bosan untuk memandangnya.

Yang membuat Luhan lebih jengkel lagi, tidak ada siapapun di sini. Wufan tidak menunjukkan batang hidungnya, Fei juga menghilang begitu saja setelah Song Qian tiba-tiba datang. Luhan pun mendengus panjang, kedatangan Qian benar-benar membuat otaknya terlempar pada Ariel.

Sekali lagi Luhan menoleh ke arah jam, kemudian ia menatap langit yang sedikit gelap lewat kaca tembus pandang di sisi kirinya. Ia bosan. Dan sepertinya jalan-jalan sebentar tidak masalah, Luhan sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Setidaknya ia bisa jalan dengan kakinya tanpa merasakan kepalanya berputar.

Akhirnya Luhan pun memutuskan untuk turun dari ranjangnya. Ia tidak tahu akan jalan-jalan kemana di tengah cuaca dingin seperti saat ini. Tapi ia tidak tahan hanya berbaring sendirian sambil menatap warna putih yang membuatnya merasa mual.

 

***

 

Ariel menarik kakinya dengan langkah yang benar-benar lambat, juga tanpa suara. Mata gadis itu masih terpaku pada punggung yang terlihat ringkih itu, punggung Luhan. Ariel yang sejak tadi menemani Fei di kantin rumah sakit akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar inap Luhan –tentunya ia juga menyuruh Fei pulang dan menitip salam juga terimakasih untuk Wu Yifan. Tapi saat ia kembali, ia justru melihat Luhan tengah berjalan terseok meninggalkan kamar inapnya.

Ariel khawatir, tentu saja. Ia bahkan merutuki kebodohan Luhan yang hanya mengenakan pakaian rumah sakit yang tipis, dilapisi baju hangat yang juga tipis. Demi Tuhan, cuaca saat ini benar-benar buruk. Dan Luhan berencana bunuh diri dengan membuatnya bertambah sakit karena angin musim gugur –yang bahkan hampir mendekati musim dingin ini?

Tapi Ariel mengurung semua rasa khawatirnya. Ia menahan dirinya untuk tidak berlari ke arah pria itu. Ariel lebih memilih untuk berjalan di belakang pria itu, mengikuti Luhan. Dan…entahlah, ia tidak yakin akan melakukan apa setelah ia mengikuti Luhan.

Dan yang membuat Ariel cukup terpaku, Luhan ternyata datang ke lantai teratas rumah sakit ini. Dia sampai di rooftop dan berdiri menghadap ke salah satu tembok pembatas yang hanya setinggi perut Luhan. Ariel tidak yakin dengan apa yang menjadi objek menarik Luhan, tapi Ariel dapat melihat Luhan yang hanya berdiri tegak dengan pemandangan lurus ke depan.

Ariel mungkin saja memutuskan untuk tetap berdiri beberapa meter di belakang Luhan sampai Luhan berbalik dan menyadari keberadaan Ariel. Tapi semua itu kebas saat angin dingin itu mulai menyapu kulitnya –juga kulit Luhan. Ariel benar-benar tidak tahan dengan pakaian Luhan yang benar-benar tipis. Pria itu sedang sakit. Harusnya Luhan sadar angin dingin disana bisa membuatnya lebih lama menginap di rumah sakit.

“Tidak bisakah kau lebih peka terhadap kesehatanmu?” lirih Ariel sambil menyampirkan jaket yang dipinjamnya dari Baekhyun –setelah ia memutuskan untuk mendekati Luhan dan memberikan jaket yang dikenakannya.

Luhan terkesiap. Tentu saja. Ia mendengar suara Ariel, jelas sekali. Seolah-olah gadis itu berada tepat di belakangnya. Luhan pasti berpikir itu hanya halusinasinya saja jika tidak ada jaket yang tersampir di punggungnya, disusul sepasang tangan yang melingkari perutnya. Ariel. Itu tangan Ariel dan Luhan sangat mengenali tangan yang dilapisi kain berwarna coklat itu.

“A…Ariel?”

“Hmm,” gumam Ariel sambil menempelkan kepalanya di punggung Luhan, “Ini aku, Ariel Lau, jika kau lupa.”

Lutut Luhan langsung lemas saat ia dengan jelas mendengar jawaban itu. Suara itu benar milik Ariel, dan Ariel benar ada di sana, didekatnya, memeluknya erat. Luhan merasa dirinya sangat memalukan saat itu –ia malu dengan segala yang telah ia lakukan pada Ariel. Ia kira Ariel tidak akan kembali dan justru akan tetap memilih bersama Yixing, meskipun Yixing kemarin meminta Luhan untuk menjaga Ariel. Tapi ia serius, seandainya Ariel memutuskan untuk kembali padaYixing, Luhan takkan menghalanginya. Ariel pantas bahagia bersama orang yang benar-benar bisa membahagiakannya.

Tapi Ariel di sini. Dia kembali. Ariel tidak meninggalkannya…

Luhan pun melepas pelukan Ariel dan menarik Ariel untuk menghadap ke arahnya. Terlalu sulit untuk Luhan berbalik, belum lagi selang infuse yang membuatnya kerepotan. Yeah, tiba-tiba saja ada kelegaan yang membabi buta di dalam dada Luhan.

“Kau…benar di sini?” Luhan menangkup pipi Ariel dengan kedua tangannya.

Ariel sudah meluapkan semua tangisnya tadi, jadi saat ini ia tidak perlu menangis lagi, dan justru menggantinya dengan seutas senyum di bibirnya. Ariel tidak menjawab dengan suaranya, ia justru mengangguk, meyakinkan Luhan jika…jika ia kembali untuk memperbaiki semuanya.

Dan Luhan langsung menarik Ariel ke pelukannya setelah mendapat jawaban lewat anggukan gadis itu. Luhan bahagia. Sangat bahagia. Ia tidak tahu ada berapa banyak kupu-kupu yang beterbangan dari perutnya, tapi ia tahu ada banyak kebahagiaan yang kini meletup di dadanya. Bersatu dengan kelegaan dan mulai mengeringkan rasa rindu yang ia kira akan membuat Luhan mati rasa. Hangat. Ia kembali merasa hangat, juga hidup.

“Maaf, maafkan aku…” gumam Luhan masih memeluk Ariel dengan erat. Sangat erat. Ia takut Ariel saat ini bayangan dan bisa menghilang begitu saja.

Dan sekali lagi Ariel tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan membalas pelukan erat Luhan.

 

***

 

“Aku sempat berpikir kau tidak akan kembali,” gumam Luhan dengan posisi memeluk Ariel. Ia yang meminta Ariel untuk berbaring di sisinya, Luhan berniat untuk memeluk Ariel semalaman nanti.

“Kau kira memutuskan ikatan pernikahan sama seperti memutuskan ikatan sepasang kekasih? Ada banyak hal yang harus kupertimbangkan,” sahut Ariel sambil memejamkan matanya. Yeah, jika Luhan tidak mengajaknya bicara, mungkin saja Ariel sudah tertidur di pelukan Luhan saat ini.

Luhan tersenyum, kemudian mengecup puncak kepala Ariel, “Aku berharap kau berkata jika kau merindukanku. Tapi…yasudahlah. Yang pasti aku benar-benar merindukanmu. Sangat…” Luhan kembali mengecup puncak kepala Ariel, kali ini lebih lama.

“Aku tidak akan datang jika tidak merindukanmu,” Ariel menyahut dengan nada sambil lalu, “Dan…terimakasih, kau membuat keputusanku membulat agar tidak pergi darimu.”

“Kau kemana saja setelah malam itu?” tanya Luhan sambil mengusap punggung Ariel.

“Aku menemui Baekhyun. Bahkan, tadinya dia akan membawaku kembali ke Korea,”

Luhan mungkin saja memprotes seandainya mereka bukan dalam kondisi seperti sekarang. Tapi ia tidak ingin merusak moodnya. Dan akhirnya ia menjawab, “Aku…minta maaf. Aku malah membentakmu malam itu, bukannya mencoba memberi pengertian padamu. Aku salah, aku bodoh, aku…”

“Sst. Aku mengerti,” Ariel menaikkan selimut mereka, ia merasa cukup kedinginan di rumah sakit itu, padahal pemanas ruangan sudah dinyalakan, “Aku juga minta maaf. Aku terlalu terbawa emosi.”

“Setelah ini aku akan bicara dengan ibumu, juga ibuku…”

“Ibumu,” tukas Ariel cepat dengan mata yang benar-benar telah terpejam, “Aku sudah bertemu dengan ibuku. Dan yang harus kita temui pertama kali adalah ibumu. Kita harus meminta maaf juga restu darinya.”

“Ide bagus,” Luhan kali ini mengecup kening Ariel, “Aku rasa juga begitu. Tapi setelah itu aku juga ingin menemui ibumu.”

“Hmm. Lakukanlah. Juga temui Wu Yifan dan Ju Fei,” belum sempat Luhan menjawab, Ariel sudah melanjutkan, “Fei akan kembali ke Hongkong. Dan aku juga harus berterima kasih pada Wu Yifan karena dia telah menjagamu dengan baik.”

Luhan mengerutkan dahinya, cukup terkejut dengan informasi yang didapatnya dari Ariel, “Kau bertemu dengan Fei?”

Ariel mengangguk, “Ceritanya panjang. Fei akan kembali, aku tidak tahu bagaiana dengan Wu Yifan. Tapi yang pasti, kita harus bertemu mereka.”

Dan selama beberapa saat, ruangan itu kembali hening dan hanya ditemani nyanyian jarum jam yang tidak pernah berhenti menguntit kuping Luhan. Tapi kali ini Luhan tidak muak dengan suara jam yang biasanya bisa membuat perut Luhan terasa mual. Ada Ariel di dekatnya, tepat di dekapannya. Dan semua fokus dalam dirinya langsung mengerucut pada Ariel.

“Ariel…” panggil Luhan sambil mengusap kepala Ariel.

Ariel hampir terlelap, tapi ia membuka matanya sedikit dan mencoba menyahuti Luhan, “Hmm?”

“Jangan tinggalkan aku lagi, ya?”

Ariel tersenyu geli. Yeah, cara bicara Luhan yang kekanakan ternyata diam-diam dirindukannya juga, “Dan kau juga harus berjanji, kau harus terbuka untuk masalah-masalah penting seperti…”

“Ya aku janji. Aku janji bahkan tanpa kau memintanya.”

 

***

 

Lisa bersedekap dengan dagu yang sedikit terangkat. Ia masih penasaran dengan masalah Yixing yang dipendamnya sejak kemarin. Biasanya, Yixing akan banyak bemain piano meskipun ada masalah, tapi sejak kemarin Yixing justru hanya tiduran di atas sofa dengan TV yang menyala. Dan yang mencolok dari semua tingkah Yixing, pemuda itu tidak menatap layar TV, melainkan menatap langit-langit bercat putih di atasnya.

“Apakah putra bungsu keluarga Zhang sekarang sudah berubah profesi menjadi pelamun?” kata Lisa asal sambil berjalan menuju kulkas kecil di ruang tengah tersebut, mengambil sekaleng bir dan mendekati Yixing yang merubah posisinya menjadi duduk.

“Mana ada profesi menjadi pelamun?” sergah Yixing yang kemudian disesalinya sendiri. Untuk apa juga Yixing menyahuti ucapan Konyol seorang Kim Lisa.

Lisa mengedikkan bahunya, “Kau sepertinya sudah menjadi seorang pelamun. Jangan kebanyakan melamun, nanti aku harus bekerja dengan siapa jika kau gila?” katanya sambil meneguk birnya perlahan. Kemudian dia tersenyum kecil melihat layar TV di depannya. Hei, kenapa ada Choi Siwon di TV?

“Suruh siapa Nuna malah keluyuran tanpa mengatakannya padaku kemarin?” Yixing berkata ketus, “Nuna melewatkan momen penting.”

“Wow, sejak kapan digoda oleh Ju Fei menjadi momen penting?”

Yixing terbatuk –tersedak air liurnya sendiri. Kenapa Lisa tahu soal…oh yeah, jangan katakana ternyata Lisa malah membuntutinya kemarin?

“Nuna tahu?”

“Tentu saja. Gadis itu sedikit agresif, ya? Bahkan dia seenaknya menarik-narik kerahmu, kukira dia akan menciummu.”

Rahang Yixing benar-benar sudah terjatuh sekarang. Yixing yakin sekali kemarin tidak ada yang melihat kejadian itu –bahkan Yixing tidak berpikir yang lain-lain selain ucapan Fei tentang Luhan.

“Bagaimana Nuna bisa tahu?”

“Kaca mobilnya transparan, siapapun bisa melihanya. Tapi hanya aku yang memperhatikan. Karena aku yang membelikan kemeja limited edition yang kau pakai kemarin,” sahut Lisa dengan nada sedikit pamer.

Yixing mendelik malas. Yeah, Yixing bahkan tidak sadar jika kemarin dia menggunakan kemeja ‘limited edition’ yang dibelikan Lisa tahun lalu untuk ulang tahunnya. Yixing tidak yakin darimana Lisa mendapatkan baju dengan inisial “Y” itu. Hanya saja, Lisa selalu berkata bahwa itu mahal, terbatas, Lisa sulit mendapatkannya, dan lain lain.

“Jadi, apa saja yang kau bicarakan dengannya sampai kau jadi pemurung begini? Apakah dia menyatakan perasaannya padamu?” Lisa pun menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa di belakangnya.

Yixing mendesah pelan, kemudian ikut-ikutan menyandarkan punggungnya ke belakang, “Luhan…menyukaiku,” kata Yixing dengan nada ragu.

Lisa menaikkan sebelah alisnya, “Tentu saja. Dia kan…tunggu!” Lisa langsung membulatkan matanya tidak percaya, “Kau tidak akan bilang jika dia…”

“Dia gay. Dan kemarin dia ditemani laki-laki yang dipanggil Kris. Fei bilang, Kris adalah teman kencannya Luhan.”

Lisa membatu di tempatnya. Wow. Ini benar-benar informasi yang kelewat mengejutkan untuk Fei. Luhan seoran gay? Jadi dibalik sikap antusiasnya saat menghubungi Yixing, pria itu adalah…gay?

“Kau hanya bercanda, kan? Bagaimana bisa? Dia menikah, bahkan dengan…”

“Itu dia masalahnya,” Yixing mengambil kaleng bir milik Lisa dan meneguk isinya, “Luhan gay. Dan…dan dia menyukaiku sejak kami sekolah dulu. Fei cerita banyak, pokoknya Luhan memang terpaksa menikah dengan Ariel, tapi kemudian Luhan menyukai Ariel. Sejak awal Luhan ingin sembuh, tapi gay bukan penyakit, jadi tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya.”

Tidak masuk akal. Semua ini benar-benar tidak masuk akal. Bahkan masih banyak lagi pertanyaan yang berputar di kepala Lisa. Tapi ia sama sekali tidak tahu harus bertanya darimana, atau apakah ia benar-benar bisa menanyakannya pada Yixing sekarang.

“Jadi…bagaimana akhirnya? Apa yang kau lakukan?” yeah, mungkin lebih baik Lisa tahu tentang akhir keputusan Yixing. Terlalu banyak pertanyaan jika Lisa harus menanyakannya.

Yixing menatap datar meja di depannya, “Luhan sedang bertengkar dengan Ariel karena kontrak itu…jangan menyela! Oke!? Pokoknya mereka bertengkar dan Ariel pergi dari rumah, makanya hanya ada Kris dan Fei disana. Dan…yeah, aku minta maaf pada Luhan. Aku semakin merasa bersalah setelah tahu rahasia Luhan…”

“Itu bukan salahmu…”

“…dan aku menemui Ariel.”

Lisa terdiam, “Ariel?”

“Dia tidak lebih baik dari keadaan Luhan yang memang sedang sakit kemarin. Dan aku memberinya pengertian, mereka harus kembali,”

“Kau merelakan Ariel untuk Luhan?!”

“Luhan tulus pada Ariel. Dia bahkan memintaku untuk membawa Ariel,” Yixing tertawa hambar, “Hubunganku dengan Ariel di masa lalu tak berarti apa-apa. Ariel juga mencintai Luhan. Mau bagaimana lagi?”

Lisa mendesah panjang. Bahkan masalah ini lebih mengerikan dari drama yang sering ditontonnya di TV, “Lalu akhirnya?”

“Mereka kembali, sepertinya. Baekhyun mengeluh karena Ariel pergi membawa jaket pemberian Taeyeon dan Ariel belum mengembalikannya. Dan aku sekarang akan fokus pada konser yang tinggal menghitung hari itu,” Yixing pun bangkit dari kursinya, “Dan Nuna harus segera kembali ke kamarmu. Kau harus segera tidur. Ini sudah malam.”

Lisa berdecak dan langsung berbaring di sofa yang mereka duduki tadi, “Aku tidur disini saja,”

“Nuna bilang kau tidak mau tidur disini agar tidak terjadi sesuatu.”

“Memangnya kau akan melakukan sesuatu padaku?”

“Tapi tetap saja…”

“Ini bukan pertama kalinya aku meginap di satu kamar denganmu. Kau dengan pianomu dan aku dengan TV. Sekarang pergilah, malam ini aku mau tidur di sofa saja.” Lisa mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Yixing yang dibalas decakan Yixing. Manajer yang benar-benar manis.

 

***

 

Wu Yifan tidak menoleh ke arah pintu meskipun ia tahu seseorang baru memasuki apartemennya. Yeah. Jika bukan Luhan, pasti Fei yang datang. Dan karena Luhan tidak mungkin datang, sudah bisa dipastikan Fei lah yang baru memasuki apartemennya.

“Sekarang kau punya hobi menonton?” suara Fei muncul dari belakang, dan Yifan tetap tidak bergerak, masih memperhatikan pembaca berita mengabarkan informasi seputar saham.

Merasa diabaikan, Fei pun memilih duduk di pangkuan Yifan dan melingkarkan tangannya di leher pria itu. Tidak peduli dengan Yifan yang mulai bergerak tidak nyaman, bahkan Yifan mulai menatap Fei tajam.

“Fei…”

“Ayolah, Kris. Aku akan sangat merindukanmu saat kembali ke Hong Kong nanti. Ibuku mengamuk saat tahu aku tidak disana saat dia menelpon ke kantor. Anak buahku benar-benar menyebalkan, harusnya mereka katakana saja aku sedang ada urusan bisnis ke Macau,” Fei menyela Yifan. Ia tahu suasana hati Kris-nya sedang tidak bagus, dan Fei harap kepergiannya ke Hong Kong salah satu faktornya. Meskipun Fei tahu, Luhan lah yang membuat kerutan di dahinya terlihat begitu jelas saat ini.

Fei pun menenggelamkan wajahnya ke leher Yifan. Yeah, ia tidak tahu bagaimana dengan akhir kisahnya dengan pria yang telah mengikat hatinya selama ini. Entah akan berakhir seperti Ariel-Luhan yang terlihat manis –semanis pemandangan yang ditangkapnya tadi sore saat mereka berpelukan dan saling menyeka air mata, atau malah akan berakhir…tidak! Fei tidak akan melepaskan Kris. Tidak peduli meskipun dunia memunggunginya, ia akan terus berlari mengejar Kris dan berada di sisi pria itu.

“Apa kau tidak lelah, Fei?” Kris tiba-tiba bersuara, membuat Fei yang hampir terlelap harus membuka matanya kembali. Terlalu terkejut dengan pertanyaan diluar dugaannya, juga lingkaran tangan Kris yang mulai mengikat pinggang Fei.

“Maksudmu?”

Kris tersenyum kecut, “Kau tidak sebodoh itu, Fei. Haruskah kau bertanya lagi?”

Fei mendesah panjang, ia pun membaringkan kepalanya di pundak Kris, “Lelah. Tentu saja. Aku bahkan harus terlibat dengan Luhan berkali-kali hanya demi dirimu. Bahkan, aku harus berkenalan dengan pianis dengan lesung pipi yang manis itu, juga Song Qian si model angkuh dengan paras menawan, dan Ariel Lau, orang pertama yang menyiram wajahku,” Fei mulai menyentuh wajah Kris dengan jari telunjuknya, “Dan itu takkan kulakukan jika bukan karenamu. Aku mencintaimu. Aku lelah, tapi aku justru merasa kering tanpamu. Aku kira aku akan berakhir di rumah sakit jiwa saat tahu kau kembali ke Cina.”

Kris mendesah panjang, “Kurasa sudah saatnya kau menemukan pria lain yang bisa membalas perasaanmu, Fei.”

Fei menggeleng pelan, “Tidak. Tidak ada yang seperti itu. Bahkan Luhan sekalipun yang membuatku tersenyum saat kau menjauhiku. Juga Aiden, laki-laki yang hampir bertunangan denganku, atau…”

“Kau player…”

“Dan itu karena aku hanya mencintaimu, Kris. Aku menginginkanmu, nobody, but you. Bahkan aku rela menikah denganmu meskipun itu hanya sebuah status,” Fei kembali menenggelamkan wajahnya di leher Kris.

“Kau bercanda. Bahkan itu sama saja dengan menyakitimu,”

“Jauh lebih menyakitkan jika kau meninggalkanku, Kris.”

Kris pun membaringkan Fei, dengan Kris yang sedikit menindih tubuh Fei, “Kau akan terluka seumur hidupmu, Fei. Kau sahabatku. Bahkan sekarang kau satu-satunya. Aku tidak akan tega mempermainkan perasaanmu,” kata Kris dengan tatapan tajamnya.

Fei justru semakin mengeratkan lingkaran tangannya di leher Kris, “Sudah kukatakan, Kris. Selama kau tidak meninggalkanku, semuanya baik-baik saja.,” ucapnya sebelum mengecup bibir Kris.

Kris tidak pernah membalas perlakuan Fei. Kris adalah gay, dan Kris akan sangat dingin meskipun Fei bersikap agresif di hadapannya. Tapi untuk pertama kalinya, Kris membalas perlakuan Fei. Kris membalas ciuman Fei malam itu. Fei tidak tahu dengan perasaan Kris saat membalas ciumannya. Kris tidak tertarik pada wanita, sama sekali. Bahkan dia sering mengeluh jika Fei sudah bertingkah macam-macam pada Kris, seperti memeluknya, menciumnya, dan banyak lagi. Tapi Fei tidak mau tahu, malam itu ia membiarkan dirinya tenggelam suasana yang…entahlah. Fei tidak berharap lebih setelahnya. Ia sudah cukup senang –atau mungkin bisa dikatakan sangat senang—saat Kris membalas ciumannya.

 

***

 

Yixing sama sekali menghindari kontak mata dengan Ariel –bahkan Luhan—saat melihat mereka berada di barisan kursi penonton. Ia tidak tahu harus acara festival yang diadakan oleh Nyonya Han sukses besar. Ada banyak musisi yang tampil di acara ini, juga yang ikut diundang hanya sekedar untuk mendengarkan tarian nada yang akan memenuhi udara di acara tersebut.

“Kenapa tegang sekali? Kau bahkan pernah tampil dengan Yiruma, tapi kau tidak setegang ini,” kata Lisa setengah mengejek.

Yixing hanya mendelik, sama sekali malas menyahuti Lisa, “Nuna sudah membawa apa yang kuminta?” Yixing mengalihkan topik pembicaraan.

Dan hal itu justru membuat Lisa semakin gemas untuk mengerjai Yixing, “Kau benar-benar akan melamarku ya? Omo…omo…harusnya aku berdandan sangat cantik jika kau akan melamarku di atas panggung,”

“Terserah Nuna,” Yixing mengibaskan tangannya malas dan langsung berjalan meninggalkan Lisa yang sekarang sedang tertawa keras. Lisa yang menyebalkan.

Dan sekarang adalah waktunya untuk Yixing. Ini memang kali kesekian Yixing tampil di atas panggung, dikerubuni banyak pasang mata, juga tarian jarinya diperhatikan oleh banyak telinga. Tapi…entah kenapa beberapa kejadian yang terjadi di atas tanah Tiongkok ini justru membuat perasaan Yixing sering jungkir balik, ini bukan hanya soal mantan kekasihnya, tapi banyak cerita-cerita yang membuatnya sadar, dunia bahkan lebih luas dari yang ada dalam bayangannya. Belum lagi, ada banyak cerita dari tiap jengkal nafas.

Yixing tersenyum kecil saat mendapati tuts putih di hadapannya telah menyapa. Yeah, untuk penampilan pertama ini Yixing tidak akan membawakan lagu baru, ataupun lagunya yang paling terkenal. Semua rencananya yang telah disepakati dengan Lisa langsung menguap saat ia mendapati mata Luhan dan Ariel tengah bergerak ke arahnya.

Autumn Love. Ia ingin membawakan lagu ini. Persetan soal musim dingin saat ini, ataupun omelan Lisa yang akan didapatkannya nanti. Musik bukan hanya soal janji atau keindahan, tapi soal hati. Dan hati Yixing tidak ada dalam perjanjian yang akan memberinya uang ataupun kesederhanaan lagu yang ada pada Autumn Love. Tapi perasaannya ada pada lagu ini, lagu yang membawanya terbang ke hari ini, di depan piano ini, juga lagu yang hanya dimengerti oleh sepasang manusia yang sejujurnya…telah menorehkan kata sakit di hati Yixing.

 

***

 

“Kukira Yixing tidak akan membawakan lagu ini,” bahu Luhan sedkit merosot saat Yixing selesai memainkan lagunya. Entah mengapa ia kurang nyaman dengan cara Yixing yang menghindari tatapannya. Yixing tidak pernah seperti itu, dan mungkin Luhan harus terbiasa dengan perubahan sikap Yixing kedepannya.

“Mungkin lagu ini berkesan untuknya. Kau lihat bagaimana caranya membawakan lagu ini? Benar-benar penuh pengkhayatan,” Ariel menyahut dengan senyum kecil di bibirnya. Meskipun lagu itu masih terbilang sederhana, tapi penonton di tempat itu sepertinya tahu Yixing tengah bercerita lewat lagu sederhananya.

“Sepertinya kau benar-benar jago main piano, bahkan kau tahu apakah dia mengkhayati atau tidak,” sahut Luhan tanpa menoleh ke arah Ariel.

Ariel terkekeh dan ikut menurunkan bahunya, “Yixing tidak pernah membawakan lagu ini untuk acara apapun. Bahkan untuk konsernya sendiri. Dia sama sekali tidak percaya diri, itu yang dikatakannya padaku. Tapi jika dia memutuskan untuk membawa lagu ini, artinya ada alasan tersendiri. Dia tidak pernah main-main jika soal urusan lagu yang dipilihnya,” tanpa sadar Ariel justru menjelaskan dengan detail secuil cerita Zhang Yixing yang diketahuinya. Ia tidak bermaksud apapun, hanya saja…ia merasa langsung menangkap sinyal perasaan yang menari bersama lagu yang dibawakannya.

Ariel langsung menoleh kaget ke arah tangannya yang sudah digenggam erat oleh Luhan, kemudian Luhan tersenyum samar, masih tanpa menoleh ke arah Ariel yang sudah kembali melemparkan pandangannya ke arah panggung.

“Terimakasih tidak memilihnya, jika kau sudah memilih pergi bersamanya, mungkin saat ini aku tidak bisa merasakan kehangatan tanganmu,” kata Luhan dengan senyum aneh di bibirnya –setidaknya menurut Ariel senyum Luhan terlampau aneh.

“Aku juga ingin berterimakasih, karena kau telah merubah pikiranku untuk tidak lari ke pelukannya,”

Luhan mendelik tidak suka saat Ariel mengucapkan kata ‘peluk’, “Kau lebih suka pelukanku atau pelukannya?” tanya Luhan kemudian.

Ariel mendelik, setengah tidak percaya Luhan akan menanyakan hal sekekanakan barusan, “Pertanyaan macam apa itu?” sewot Ariel langsung menarik tangannya.

“Aku sangat suka memelukmu. Dan aku yakin, kau juga pasti pernah dipeluk olehnya, kan? Aku hanya ingin tahu, kau lebih suka dipeluk olehku atau olehnya,” kata Luhan lagi sambil menarik tangan Ariel ke genggamannya.

“Yeah, dibanding dia, sebenarnya kau jauh lebih sering memelukku. Bahkan hampir setiap malam kau terus-terusan memelukku,” sahut Ariel tanpa mengalihkan pandangannya.

“Tapi kau menyukainya, kan?” tanya Luhan lagi dengan senyum kekanakannya.

Ariel menggeleng, “Tidak juga.”

“Hey, ayolah…kau tidak pernah protes. Artinya kau menyukai pelukanku, kan?” Luhan mulai lagi dengan tingkah anehnya –menarik-narik tangan Ariel, memaksa agar Ariel mau menyahut sesuai keinginannya.

“Luhan, jangan berisik, kita harus mendengarkan…”

“Tidak sebelum kau menjawab ya,” rajuk Luhan menarik tangannya.

Dan Ariel terlihat sama sekali tidak peduli, ia justru terpana saat ibunya mulai naik ke atas panggung dengan wibawa yang dimilikinya. Aura seorang pianis, entahlah –Ariel juga tidak terlalu yakin apakah aura semacam itu benar ada atau tidak. Tapi melihat ibunya berada di atas panggung dengan tatapan dan ekspresi wajah yang datar namun lembut itu membuat Ariel selalu ingat saat ibunya mengajarkan bermain alat musik saat dulu.

Not pertama pun dimulai, Ariel tahu ibunya akan memainkan lagu Baby’s Breath. Namun di pertengahan lagu, Ariel langsung mengangkat bahunya terperangah saat mendapati lagu lain yang dimainkan sang ibu.

“Ada apa?” tanya Luhan heran melihat reaksi Ariel.

Lagi-lagi Nyonya Lim menghentikan lagunya, kemudian menyapukan pandangannya ke seluruh kursi penonton. Ia mencari seseorang di sana, seseorang yang ingin ia peluk, ia kecup, ia berikan kata maaf meskipun mungkin kata maaf itu takkan menghapus kesalahan yang pernah dibuatnya.

“Untuk putriku Ariel Lau, bisakah kau naik ke atas panggung dan memainkan lagu ini bersama denganku?” suara Nyonya Lim terdengar di seluruh penjuru ruangan konser.

Berbeda dengan penonton yang lain, Luhan justru langsung menoleh ke arah Ariel dan mendapati Ariel tengah menahan desakan air matanya. Yeah, yang Luhan tahu, hubungan Lim Ayi dan Ariel tak seharmonis dulu, sebelum Luhan dan Ariel akhirnya menikah. Tapi di lain sisi, seburuk apapun hubungan Ariel dengan ibunya, Luhan menaruh rasa iri dengan ikatan batin yang mereka miliki –sesuatu yang Luhan rasa Luhan tidak memilikinya.

“Majulah, sepertinya kalian sudah sama-sama tahu lagu apa yang akan kalian mainkan bersama,” kata Luhan dengan tangan bersedekap. Ia tidak akan terkejut lagi dengan kejutan yang akan diberikan Ariel. Jika ibunya saja meminta Ariel untuk maju ke atas panggung, artinya Ariel punya kesetaraan saat memainkan pianonya.

“Ini lagu yang dibuat saat Mom jatuh cinta pada Dad, jangan terkejut jika aku memainkan lagu ini untukmu,” bisik Ariel sebelum akhirnya ia maju meninggalkan Luhan seorang diri di kursi penonton.

Luhan cukup tercengang saat melihat permainan piano yang dilakukan Ariel dengan ibunya. Luhan belum sempat menanyakan lagu yang dimainkannya bersama sang ibu –yang kini sah menjadi ibu mertua Luhan. Tapi jika Lim Jinha pernah memainkannya untuk orang yang dicintainya –atau setidaknya pernah ia cintai, maka saat ini seharusnya Ariel tengah menyatakan perasaannya untuk Luhan. Oh, Luhan benar-benar ingin melompat dan berteriak pada semua orang, jika gadis yang disebut sebagai putri dari Lim Jinha tersebut adalah istrinya, dan saat ini gadis itu tengah menyatakan perasaannya untuk Luhan.

Tapi Luhan tidak segila itu untuk melakukannya. pada akhirnya dia tetap diam di kursi penonton dengan mata hapir tak berkedip –ia ingin melihat jemari mungil Ariel menari di atas tuts piano dengan cantik.

 

***

 

“Nuna masih menyimpan cincinku untuk Ariel tempo hari, kan?” tanya Yixing dengan kedua tangannya yang ia sembunyikan di dalam saku celananya.

Dengan bangga, Lisa langsung memamerkan cincin tersebut di jari manis tangan kanannya tepat ke wajah Yixing, “Maksudmu ini, sayang? Wow, bahkan ini lebih cantik dari yang kukira. Kau berniat untuk memberikannya padaku bukan?”

Yixing bisa saja menyangkal, atau melakukan sesuatu untuk mengulur waktu agar Lisa tidak bisa langsung menebak tujuannya hari itu. Tapi Lisa terlanjur membaca semuanya, mungkin Lisa keturunan cenayang makanya sejak semalam –tepatnya sejak Yixing meminta agar Lisa membawa cincin itu hari ini, Lisa terus saja mengoceh soal lamaran dan semacamnya.

“Kau ingin melamarku, kan?” tanyanya dengan mata berbinar.

Yixing sedikit menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “Jika Nuna mau menerimaku. Tapi aku hanya akan melamarmu jika kau menerimaku, tidak ada pacaran. Aku tidak mau kehilangan seseorang untuk yang kedua kalinya,” Yixing menegakkan bahunya, menyembunyikan rasa gugupnya.

Lisa tertawa terbahak mendengar nada suuara Yixing yang lucu sekali di telinganya –ayolah! Ini tidak romantis sekali. Melamar di tempat parkiran dengan nada bicara yang aneh, benar-benar membuat siapapun pasti berpikir dua kali soal keseriusan Yixing.

“Jadi…?”

Lisa mendesah panjang sebelum akhirnya menangkup wajah Yixing, “Aku akan menerimamu, dengan syarat kau harus jatuh cinta dulu padaku…”

“Tapi…”

“Kau hanya merasa membutuhkan orang sepertiku, bukan mencintaiku. Jika kelak kau menemukan seseorang yang lebih baik dariku, maka aku rela mengembalikan cincin ini padamu. Tapi jika kau yakin kau sudah mencintaiku, aku siap naik ke altar kapanpun kau mau.”

“Jadi Nuna sudah mencintaiku?” tanya Yixing balas menangkup wajah Lisa.

“Tidak juga sih,” Lisa menarik tangannya dan melepas tangan Yixing dari wajahnya, “Hanya saja aku tidak perlu berpikir terlalu lama untuk orang yang serius padaku, apalagi orang itu adalah kau, jadi PR keduamu, buat aku jatuh cinta, oke?”

Yixing tersenyum lebar, kemudian menarik Lisa ke pelukannya. Yeah, mungkin mulai saat ini, Yixing benar-benar akan melihat Lisa sebagai seorang wanita sungguhan.

 

***

 

“Ayolah Ariel…kau harus memainkan lagu itu untukku lagi, ya ya ya? Apa judulnya? Part Of Me!! Ah, lagu itu keren sekali! Kau harus mau, ya ya ya?” Luhan masih mengekori Ariel sambil menarik-naik piyama Ariel.

Ariel mendesis panjang untuk yang kesekian kali. Ayolah, Luhan benar-benar konyol sekali hari ini. Bahkan Ariel tahu ia masih salah dengan beberapa nada saat tampil mendadak tadi –meskipun ia cukup tersanjung saat semua orang memberikan tepuk tangan yang begitu meriah. Membuatnya tahu apa yang dirindukan dari dunia piano sang ibu –para pendengar yang menyukai lagu ibunya.

“Luhan, ini sudah malam. Aku mau tidur, oke?” Ariel hampir menarik selimutnya saat Luhan lagi-lagi menarik selimut Ariel. Kali ini dengan sedikit memaksa, Luhan mengangkat tubuh Ariel dan membawanya ke depan piano yang ada di ruang duduk di lantai dua tersebut.

“Mainkan untukku!” kata Luhan lagi. Dan ia buru-buru memposisikan diri di samping Ariel, menurutnya Ariel cantik sekali saat bermain piano seperti tadi.

Ariel ingin marah pada Luhan sebenarnya, tapi ia terlalu lelah, dan di sisi lain ia juga cukup senang karena ada seseorang yang mau mendengarkannya memainkan piano. Yeah, jika Henry ada di sini, pasti pria itu sudah tertawa terpingkal karena kepayahan Ariel. Tapi akhirnya Ariel tetap memposisikan jarinya di atas tuts piano sebelum kembali bersuara, “Aku akan memainkan lagu Yixing Ge saja…”

Luhan mengerutkan hidungnya kurang suka, “Hey, aku…”

“Judulnya, Finger. Di sana, sebenarnya ada catatan dari Yixing tentang sedikit makna dari lagu itu. Dan kurasa kau perlu mendengarnya, aku pernah mencobanya sendiri, dan itu bagus,” kata Ariel lagi mengabaikan Luhan. Ia langsung menekan tuts di depannya tanpa perlu lagi melihat kertas yang diberikan Yixing tempo hari. Ia sudah hapal lagunya –lagu sederhana yang menurut Ariel…cukup dalam. Setidaknya, Ariel bisa memaknai kisahnya dengan Yixing dalam lagu tersebut, juga sebagai kisah Luhan untuk Yixing, kisah mereka bertiga.

Luhan tidak terlalu pandai bermain alat musik, jadi sebenarnya ia tidak terlalu pandai untuk memaknai lagu tanpa lirik semacam ini. Tapi melihat bagaimana cantiknya jari Ariel yang menari di atas tuts piano, membuatnya sadar jika lagu ini memiliki makna yang dalam. Luhan pasti akan menagih arti dari lagu tersebut, pasti.

“Bagaimana? Bagus bukan? Yixing Ge benar-benar berbakat…”

Dan, Luhan sama sekali tidak meloloskan niatannya untuk menanyai makna lagu itu. Luhan lebih tertarik untuk menyatukan bibir mereka, bermain nada dalam perasaan mereka lewat tautan bibir yang menyatu semakin dalam.

“Ariel,” panggil Luhan saat ia melepaskan ciumannya yang sempat memanas tadi, “Bagaimana jika kita punya anak dalam waktu dekat ini? Aku ingin ada tangis bayi di rumah ini,” kata Luhan lagi sambil menyibakkan rambut Ariel.

“A-apa?”

Luhan mengangguk cepat dengan semangat, “Ya. Mama dan Baba pasti akan sangat senang saat tahu mereka akan memiliki cucu.”

“Luhan, dengar…”

Tidak. Luhan sama sekali tidak mau mendengar Ariel dan lebih memilih untuk menggendong Ariel lagi menuju kamar. Memiliki anak –salah satu hal yang hampir tidak pernah ia perhitungkan selama ini. Tapi melihat bagaimana reaksi ibunya menerima Ariel sebagai menantunya saat ini di pertemuan kemarin sore, justru membuat Luhan semakin yakin, satu orang cucu untuk keluarga Xi bisa membuat keluarga Xi menghangat kembali.

 

=The End=

25 Juni 2015, 10:11PM

 

Kyaaa, akhirnya FF ini bisa selesai juga –meskipun dengan hasil yang mengecewakan— ><

Aku gak tau mau bilang apa-apa lagi, selain rasa syukur, juga makasih (maaf juga karena kekurangan yang banyak banget dari FF ini). Makasih buat On The Spot yang sekitar 5 tahun silan ngasih berita seputar Cina, juga gay dan nikah kontrak yang ada disana –karena akhirnya aku punya ide buat bikin FF ini, buat semua readers yang udah baca FF ini (tanpa kalian aku bukan apa-apa), buat yang ngomentari FF ini (kalian pasti butuh perjuangan buat ini), buat yang jadi silent readers juga, dan buat ade aku yang terus ngoceh soal ending FF ini, juga buat sahabat aku Syifa Luthfianingsih yang mau direpotinbuat baca tulisan gak bermutu ini.

Semoga kalian bisa ngambil sisi positif dari FF ini, dan semoga kalian mau baca FF lain yang aku buat nanti.

Sekali lagi, makasih dan maaf yang sebesar-besarnya.

Salam dari saya,

Nidhyun ^^

 

 

25 responses to “[Chaptered] Married with a Gay (Chapter 13-END)

  1. aaaaa~ happy ending. akhirnya, walaupunaku masih penasaran sama kisah cinta wufan dan fei. kk~ tapi aku suka sama semua kepedulian antar tokoh di cerita ini. rasanya hidup gitu saat salah satu tokohnya punya masalah, padahal cara peduli merela rada aneh. dan yang paling bikin aku mikir ada engga ya orang yang begitu, itu tokohnya yixing, fei sama wufan. kk~ salut ceritanya, ditunggu karya selanjutnya. ah …. sepertinya kakak harus memperbaiki diksi kakak, karena ada beberapa diksi yang terkadang bikin bingung dan pemborosan kata. tenang aja kak, kakak punya nilai plus yang harus dipertahankan, yaitu cara kakak menggambarkan karekter si tokoh untuk menyelesaikan masalah, juga hubungan antar tokoh. haha. pokoknya sukses selalu🙂

  2. Huuuffftttt.. Part Ini panjaaanggg bener…Dan sangat menguras air Mata 😭
    Akhrny smuany jelas ya..ga ad kesalahpahaman lg. Moga2 cepet pny ank ya Lu 😍
    Mau dong d buat after storynya, khusus wufan n fei am. Penasaran ak sm hubungan mrka bdua stlh ngeliat perjuangan Luhan n Ariel. Siapa tau wufan terinspirasi untuk berubah n berusaha sembuh.
    Btw emang seorg gay it beneran ga bs sembuh ya???
    D tgg karya slnjtny 😊 terima kasih

  3. Ya ampun bagus bangettt!! Aku suka banget deh… Pokoknya alur ceritanya mantap! Gak rela ceritanya udah berahir… Pinginnya sih ada sequel nya eheheh

  4. Pingback: Rekomendasi Fanfiction EXO | chocolategalaxy10·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s