Rain in Winter Night


Heavy-Winter-Rain

Rain in Winter Night
|| A little story of Jung Leo of Vixx and An Original Character || Sad • Failed Angst || G || Drabble ||
|| Written by Vhaerizz ||

***

Kami duduk dalam diam. Di sebuah halte di kawasan Itaewon. Pada jam sepuluh lewat sepuluh malam. Tidak ada suara apa pun selain suara derasnya hujan yang mengguyur di akhir musim dingin.
Ada jarak di antara kami meski tidak lebih dari satu meter. Sejak sepuluh menit yang lalu, kepalanya terus tertunduk. Sibuk dengan pikirannya sendiri dan mengabaikan aku yang masih menunggu kata apa pun yang keluar dari bibirnya untukku.
Yang kutahu, di sini akulah yang selama ini pendiam. Kenapa sekarang si cerewet ini ikut-ikutan? Kenapa mulutnya yang selalu bicara seperti mobil yang berada di turunan tapi kabel rem putus itu sekarang bungkam? Aku tidak percaya jika rem bicaranya berfungsi secepat ini. Tidak mungkin.
“Hyun.”
Kali ini, aku yang tidak sabar. Tidak betah pada suasana hening yang baru kali ini terasa sangat mengganggu. Menyesakkan.
“Aku harus ke Indonesia,” katanya. Nama salah satu negara asing ia sebutkan yang menjadi pertanda tidak baik. Dimana pun itu, Hyun akan pergi. Itu pasti.
“Indo–”
“Ayah pindah tugas ke sana. Katanya aku harus ikut.” Hyun bicara tanpa menatapku, bahkan mengangkat kepalanya pun tidak. Padahal, aku sangat ingin melihat wajahnya. Selama pesta perpisahan SMA tadi, Hyun sibuk mengucapkan salam perpisahan dengan yang lain. Orang ceria sepertinya memiliki teman banyak itu wajar, kan? Sama wajarnya dengan orang pendiam sepertiku yang hanya punya Hyun.
“Kapan kau akan pergi?” Pertanyaanku membuatnya mengangkat kepalanya, menatapku dengan tatapan tidak percaya. Entah sejak kapan, matanya sudah berair yang mungkin takkan lama lagi air itu akan menetes. Jangan menangis di depanku. Kau itu tidak cengeng, Hyun.
“Apa menurutmu aku harus pergi?” Suaranya terdengar lirih. Teredam suara hujan yang belum mau reda.
“Mungkin. Itu permintaan Ayahmu, kan?” Aku tidak tahu dengan apa yang harus kukatakan selain kata-kata dukungan yang akan menguatkan niatnya untuk pergi.
“Ah, jadi aku memang harus pergi, ya?” Air matanya menetes. Aku tidak baik dalam hal membaca isi hati perempuan sehingga aku tidak benar-benar tahu apa yang sudah membuat gadis di sampingku ini menangis. Karena berat meninggalkan kampung halamannya atau berat harus– jangan besar kepala!
Suara deru mesin bus yang baru datang memasuki indera pendengaranku, mengalihkan perhatian Hyun yang langsung mengusap air matanya kasar. Kemudian Hyun berdiri, matanya berkedip berkali-kali –memastikan tidak ada air mata yang keluar lagi.

“Aku pulang. Kumohon, kita naik bus yang berbeda.”
Aku tidak mengerti. Rumah kami searah meski punyaku satu halte lebih jauh. Di saat Hyun pamit akan pergi ke negara yang jauh, kenapa malah ingin pulang dengan bus yang berbeda denganku? Bukannya ini adalah saat yang tepat untuk menikmati saat yang– aku benci perpisahan. Aku benci berpisah dengan Hyun.
Hyun mulai melangkahkan kakinya pelan, mendekati pintu bus yang baru saja terbuka sebelum tanganku mencekalnya. Bahunya menegang, tidak sesuai dengan matanya yang menatapku sayu –lagi-lagi aku melihat harapan di sana.
Jangan pergi. Tetap di sisiku. Aku tidak ingin jauh darimu. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Apapun! Aku ingin mulut keparat ini mengucapkan kata apa saja yang tidak akan membuatnya pergi. Hyun tidak seharusnya pergi.
“Hati-hati,” kataku. Aku merasa menjadi orang paling pengecut sedunia. Memang apa susahnya untuk menahannya pergi!
Tanpa menunggu kulepas, Hyun menarik tangannya. Bahunya yang tadi tegang seketika meluruh, tatapan matanya masih sayu tapi aku tidak melihat ada harapan di sana. Dengan segera Hyun berbalik dan memasuki bus, duduk di bangku belakang dan tanpa menoleh sedikit pun padaku.
Pintu bus tertutup, melaju membawa Hyun pergi jauh dariku. Setelah ini, tidak ada lagi gadis cerewet yang merecoki hidupku dengan mulut tanpa remnya. Setelah ini, tidak ada yang menyoraki kata ‘fighting’ dengan volume suara super keras saat aku bertanding sepak bola. Setelah ini, tidak ada lagi wajah tenang nan lucu yang akan kupandangi setiap hari. Dan setelah ini, hidupku akan kembali ke kehidupan lamaky sebelum mengenal Hyun. Tenang dan damai. Dengan kembalinya kehidupan lamaku, aku akan baik-baik saja, kan?

Fin!

8 responses to “Rain in Winter Night

  1. Ugh, kebiasaan pria.. plin plan banget
    Tinggal bilang jangan pergi atau I love u aja susah….
    Ckckck…
    Sequel dong thornim…
    Di tunggu ya…

    • Kadang cwok emng gtu. Cm di sini mrk gk dlm hbungan lbih dr tmen, jd ky ragu satu sama lain. Lgian makhluk ky Leo mah susah buat ngomong gtu.
      Makasih yak, sequel dipertimbangin deh.

  2. Sekian lama gak main ke ini wp nemu yang castnya es batu ini

    Ini mas satu tingkat gengsi bin bisunya emang selangit kok gemes liatnya pingin jorokin .-.

    Nice fic ^^

  3. Kenapa g jujur aja sih, kalau emang g rela dia pergi kan tinggal bilang tetap lah selalu di sisiku, eh ini malah membiarkan t cewek pergi, pengecut banget nih cowok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s