IXIA — Page 5

Previous: Prologue | Page 1 | Page 2 | Page 3 | Page 4

ixia-bboncafeposter

Poster by Bboness @cafeposter

Youngieomma’s present

.

.

.

I X I A

P A G E 5

Zhang Yixing – Kang Sun Hee – Kim Jongin – Other

PG +19

(Tidak ada adegan dewasa dalam FF ini hanya saja ceritanya tidak baik untuk semua usia)

mommyfangirl.wordpress.com



27 December, 2013

Hujan salju baru saja berhenti turun ketika pada akhirnya Sun Hee menginjakkan kakinya di tanah dari negeri lain, raut wajahnya sendu dan matanya terlihat bengkak, rasa sedihnya bertambah ketika pada akhirnya dia sadar bahwa tak akan lagi ada yang menyayanginya lebih dari tuan Takashima. Malam kemarin Sun Hee mendapat kabar dari para bawahan tuan Takashima bahwa pria tua itu terbunuh di Villa miliknya sendiri ketika mengadakan kesepakatan kerja sama dengan Yakuza dari wilayah berbeda dengannya. Salah satu teman bisnisnya tidak menyetujui jika Tuan Takashima harus bekerja sama dengan Yakuza dari wilayah lain, sayangnya, pria tua itu tak mendengarkan hingga akhirnya ia harus mati di tangan mereka.

“Nona Ixia, sudah sampai.” Panggilan seorang pengawal menginterupsi ingatan Sun Hee, dia turun dari dalam mobil mewah berwarna hitam tersebut. Dengan matanya sendiri, Sun Hee bisa melihat kerumunan orang yang menghadiri upacara semayam tuan Takashima.

“Nona Ixia, apakah anda ingin menemui tuan Takashima untuk terakhir kalinya?” Salah satu penjaga yang Sun Hee ingat bernama Kim (berasal dari Korea) bertanya pada Sun Hee.

Sun Hee menatap tampilannya sendiri dari kaca mobil. Wajahnya sudah tak terlihat bercahaya lagi, kimono hitam bahkan tak membuatnya lebih baik, Juzu (rosario atau tasbih milik umat Budha) di tangan kanan sudah di genggamnya, namun dia merasa tuan Takashima tak akan menyukai tampilannya sekarang.

“Sepertinya tuan Takashima tidak akan menyukai tampilanku jika ia melihatnya,” Ucap Sun Hee pada Kim yang kemudian menatapnya dan tersenyum. Ya, Tuannya selalu ingin melihat Sun Hee tampil cerah hingga membuatnya semangat dan ceria.

“Aku hanya ingin mengantarkan kepergiannya dari sini,” Lanjut Sun Hee pelan.

Kim mengangguk dan meminta salah satu bawahannya untuk memberikan tempat duduk yang nyaman untuk Sun Hee. Gadis itu duduk dan menatap istri tuan Takashima yang tak berhenti menangis, Kim mulai memperkenalkan dari jauh anak-anak Tuan Takashima. Yusuke, Oguri dan Yuzuki. Tiga anak tuan Takashima yang bahkan usianya melebihi usia Sun Hee sendiri.

Sun Hee menyadari bahwa selama ini tak ada yang ia ketahui tentang tuan Takashima selain seberapa kayanya beliau dan juga penuh dengan kekuasaan. Sun Hee tak pernah bertanya siapa istri tuan Takashima, berapa anak yang ia miliki, dan bagaimana kehidupannya selama ini. Mungkin, Sun Hee terlalu pasif untuk memikirkan harus bagaimana ia mengenal tuannya sendiri.

Tak ada waktu lagi yang akan ia habiskan untuk mengenal tuan Takashima lebih jauh, batas akhirnya hanya sampai disini karena tuannya telah pergi untuk selamanya. Tanpa terasa airmata kembali jatuh dari mata sendunya, hatinya terluka, entah mengapa ia merasa menyesal. Tak banyak kata Terima Kasih yang ia berikan pada tuannya namun tanpa dugaan pria tua itu pergi meninggalkannya, Sun Hee benar-benar menyesal.

Upacara semayam berjalan dengan cukup lancar dan berakhir setelah dua jam penuh seorang biksu membacakan doa di dalam, orang-orang mulai kembali ke rumah mereka masing-masing dengan membawa bingkisan terima kasih dari keluarga. Sun Hee masih terdiam ketika Yuzuki mendekatinya dan memberikan bingkisan tersebut, dia terkejut dan gemetar ketika berhadapan dengan putri bungsu tuan Takashima, usianya 18 tahun.

“Terima kasih sudah datang,” Ucapnya dan memberikan bingkisan tersebut pada Sun Hee.

Konodabi wa goshusho sama desu(Saya turut berduka cita),” Sun Hee mengucapkannya dengan sangat lembut dan pelan berharap Yuzuki tidak menyadari aksen Jepangnya yang kaku.

Dan, Yuzuki hanya berlalu tanpa menatapnya lagi. Sun Hee menunduk cukup lama, tak berani hanya untuk menatap kembali pada keluarga tuan Takashima. Ia merasa benar-benar asing, dan pada dasarnya, dia memanglah orang asing dalam keluarga tuan Takashima.

Mungkin seharusnya, dia tak perlu datang.

.

.

.

Sun Hee terburu-terburu kembali pulang setelah satu hari menginap di sebuah hotel mewah milik tuan Takashima, Kim memberikan informasi padanya kalau anak istri tuan Takashima masih berada di tempat jenazahnya di semayamkan untuk malam ini. Ia menawarkan Sun Hee untuk hadir dalam upacara pemakaman bosnya besok, namun Sun Hee terlalu malu untuk kembali kesana dan meminta Kim memesan tiket kepulangannya pagi-pagi sekali ke Korea.

Dia terlalu takut untuk kembali berhadapan dengan anak dan istri tuan Takashima, dia menyadari posisinya seketika saat Yuzuki datang dan menghampirinya untuk memberikan bingkisan tersebut. Tak ada yang mengenalnya disana sebagai ‘milik tuan Takashima’ dia hanya orang asing yang datang ke pemakaman seorang pria tua.

Jadi, disinilah Sun Hee sekarang, di dalam taksi menuju Apartementnya dan bertemu pemilik barunya Mr. Alzelvin yang tidak dapat pergi menghadiri upacara semayam teman karibnya karena harus mengajar. Wajah lelah masih nampak ketika Sun Hee mengintip di balik kaca depan pengemudi. Dia benar-benar terlihat kacau, bahkan semalam Sun Hee tidak bisa memejamkan matanya barang sekejap, dia merasa bersedih atas kepergian tuan Takashima.

Pikirannya kembali ketika dering telepon menginterupsinya, Kim Jongin. Sun Hee lupa memberitahu pemuda itu, kemarin setelah sekolah usai dan dia di jemput oleh bawahan tuan Takashima Sun Hee berjanji pada Jongin untuk memberinya kabar. Nyatanya, ia lupa untuk memberikan waktu untuk sedikit tenang pada pemuda itu.

“Jongin,”

“Ya! Kau dimana? Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Tanyanya penuh tanya, Sun Hee bisa mendengar getaran nada khawatir di antara bentakan tersebut.

“Aku baik-baik saja, Jongin-ah.”

“Kau yakin? Ingin aku menemuimu?”

Senyum Sun Hee mengembang, tentu saja dia ingin bertemu Jongin, tidak ada orang lain yang bisa membuatnya nyaman untuk melepaskan kesedihannya selain Kim Jongin. Tapi, untuk kali ini, dia hanya ingin sendirian.

“Tidak, terima kasih Jongin-ah, aku hanya ingin seperti ini untuk sementara waktu.” Sun Hee menjawab penuh kelembutan.

Jongin menghela napas panjang, Sun Hee tahu, pemuda itu tengah kecewa mendengar penolakan darinya.

“Baiklah, telepon aku jika sesuatu terjadi. Aku akan pergi ke Apartementmu, segera.”

“Ya,”

Dan, sambungan teleponnya terputus.

Sun Hee menggigit bibirnya, melemparkan pandangannya keluar jendela, dari radio di dalam taksi terputar lagu Sakura milik Ailee. Suara merdu penyanyi wanita tersebut membuat suasana hati Sun Hee semakin kelabu. Hari-hari dimana ia masih bersama tuan Takashima berkelebat di dalam kepalanya, bagaimana pria tua itu memanggilnya, memandang dan memanjakannya.

Mungkin, dalam satu tahun ada hari dimana Sun Hee merasa sangat membenci tuan Takashima. Yaitu, ketika tuan Takashima ‘memakai’nya lebih dari sekali dalam sehari. Ya, ada kalanya tuan Takashima ‘memakai’ Sun Hee lebih dari sekali dalam satu hari, terutama ketika hatinya sedang bahagia, Sun Hee benci tali temali kasar itu mengekang tangan dan kakinya, ia benci makian dalam bahasa Korea yang di lontarkan tuan Takashima jika sedang berhubungan intim dengannya, ia benci ketika dengan tangan besarnya tuan Takashima mencekik bahkan menarik rambutnya dengan kasar. Ia benci semua perlakuan tuannya ketika hatinya sedang dalam keadaaan penuh kebahagiaan.

Namun, bagaimanapun, setelah perlakuan kasar tersebut tuan Takashima akan berbisik dengan lembut padanya untuk meminta maaf. Dan, hati Sun Hee selalu kembali memaafkannya. Dia mungkin mencintai tuan Takashima, mungkin juga tidak, mungkin ini adalah perasaan sesaat karena kehilangan dan pernah dekat dengan tuannya tersebut.

Tiba-tiba perasaan bernama ‘rindu’ menyela hatinya, matanya kembali berair. Ia rindu bagaimana tuan Takashima menggenggam tangannya, tersenyum padanya dan mendengarkan ceritanya yang di terjemahkan oleh Kim. Ia rindu bagaimana tuan Takashima menatapnya dengan tatapan penuh kasih ketika ia datang dengan gaun indah untuk makan malam bersama. Apa yang akan terjadi jika Sun Hee mengiyakan ajakan tuannya dahulu? Akankah kejadian ini akan terjadi?

Sun Hee menyeka airmatanya. Harusnya, tak ada penyesalan yang tertinggal dalam dirinya. Bukankah itu keputusannya sendiri untuk tetap di Korea? Lagipula, tak ada hak untuknnya merasa menyesal dan bersedih.

Taksi berhenti ketika hujan gerimis mulai turun di Seoul, dengan terburu-buru Sun Hee menarik kopernya untuk masuk ke dalam Apartement. Menarik nafas sekali lagi, ia sedang berusaha keras menetralkan dirinya dari rasa sedih. Bagaimanapun, Mr. Alzelvin mungkin ingin mengetahui proses pemakaman tuan Takashima dan dia akan berusaha bercerita tanpa perlu menangis. Perlahan, ia masuk ke dalam lift yang terbuka.

Kotak besi dingin itu melesat naik ke lantai 6 dimana kamar Sun Hee berada, pintu terbuka, dan Sun Hee terdiam disana cukup lama. Ada yang tak beres pikirnya. Ia berjalan perlahan untuk mendekat pada Mr. Alzelvin yang berdiri di depan pintu Apartement, mungkin pria itu sudah ada disana sejak pagi-pagi sekali. Karena Sun Hee bisa melihat bibirnya yang membiru akibat kedinginan.

“K-kenapa kau di luar?” Tanya Sun Hee kemudian, memulai pembicaraan meskipun dia tak ingin mendengar jawabannya saat  mendapati koper-koper Mr. Alzelvin yang tersusun rapi di balik pot bunga besar dekat pintu kamar.

“Ixia, aku harus kembali,” Wajah pria itu tampak khawatir.

“Aku bertanya pada salah satu bawahan tuan Takashima tadi malam, dan mereka bilang kau akan pulang pagi ini. Jadi, aku menunggumu disini,” Lanjut Mr. Alzelvin dengan suara yang tergesa. Dia sedang ingin menjelaskan, namun juga sedang di buru waktunya. Jadi, Sun Hee harus mendengarkan lebih teliti karena aksen Korea yang tidak bagus darinya.

“Ada apa? Sesuatu terjadi?”

“Aku akan kembali ke Inggris, aku sudah mengurus segalanya kemarin disini. Istriku mengalami kecelakaan,”

Tak ada jawaban dari bibir Sun Hee. Dia terdiam sesaat. Mendengar lamat-lamat setiap kata dari Mr. Alzelvin. Pria itu harus kembali ke Inggris karena istrinya mengalami kecelakaan mobil cukup parah, nyawa istri dan bayinya dalam keadaan bahaya. Belum sempat Sun Hee berkata apapun, Mr. Alzelvin memeluknya dan mengucapkan selamat tinggal. Dia memohon maaf karena tak bisa memenuhi janjinya pada tuan Takashima.

Dan, Mr. Alzelvin meninggalkannya.

Tak ada perpisahan hangat, hanya penjelasan cukup cepat dan pelukan singkat.

Sun Hee menarik kopernya masuk ke dalam Apartement, sepi, dingin, dan kelabu.

Duduk di sofa depan televisi, Sun Hee terdiam cukup lama. Banyak sekali yang terjadi dalam dua hari. Dia di tinggalkan orang-orang yang paling berharga untuknya. Airmata menetes di pipi Sun Hee.

Bolehkah?

Bolehkah ia menangis?

Ia kesepian,

Merasa di tinggalkan,

Rasanya sesak dan Sun Hee membencinya.

Isakannya terdengar keras dan pilu, Sun Hee menyadarinya, dia bukanlah apapun untuk oranglain, dia bukan siapa-siapa yang patut di perjuangkan keadaannya, dia tidak di cintai bahkan tidak mendapat kasih sayang. Bagaimanapun orang lain melihatnya, dia hanyalah seorang anak kecil  penjaja seks.

Kotor dan menjijikan.

.

.

.

1 Januari, 2014

Seminggu sudah berlalu setelah kematian tuan Takashima, airmata masih memenuhi kedua bola mata Sun Hee. Seminggu pula gadis itu tak beranjak kemanapun, dia hanya berdiam diri di dalam Apartement, menangis di dalam kamar yang gelap seorang diri. Kepergian tuan Takashima dan Mr. Alzelvin yang mendadak membuat Sun Hee semakin terpuruk, perasaan di tinggalkan kembali menyergapnya.

Ponselnya berdering.

Sun Hee bangun dari tidurnya dan terduduk dengan mata sembab di atas kasur, melirik ke arah ponselnya, ia tahu siapa yang meneleponnya. Kim Jongin. Seminggu penuh Jongin meneleponnya, namun ia tak berani sekedar menjawabnya. Ia takut Jongin mengetahui keadaannya, ia tak ingin Jongin melakukan hal nekat untuk membantunya, mengingat bagaimana ibu Jongin kini membencinya.

Menghela napas.

Sun Hee beranjak dari kasur dan berjalan menuju dapur, ia menatap kulkas serta membukanya, kosong. Semenjak kematian tuan Takashima tak ada lagi yang mengantarkannya bahan makanan, biasanya dua hari sekali seseorang datang dengan membawa sekeranjang bahan makanan dan menatanya di kulkas. Sun Hee tiba-tiba merasa ketakutan, ia takut menghadapi dunia ini sendirian, tanpa seseorang penuh kekuasaan di sampingnya, apa yang akan terjadi padanya sekarang? Apakah dia akan kehilangan tempat tinggal?

Menghapus airmatanya yang lagi-lagi menetes, Sun Hee menutup kulkas dan berjalan menuju jendela besar di ruang tamu. Dia bisa melihat jalanan Gangnam yang padat, awan terlihat mendung meskipun tak hujan. Sun Hee melihat orang-orang tengah berjalan di udara yang dingin, namun entah mengapa mereka terlihat hangat, bergandengan satu sama lain, bersama kekasih, bersama ayah maupun ibu dan bercengkrama satu sama lain. Sedangkan dirinya hanya seorang diri di ruangan hangat yang terasa dingin.

Suara kode pintu yang di tekan menginterupsi lamunan Sun Hee, melirik ke arah pintu ia bertanya-tanya siapa yang tengah berusaha masuk ke dalam Apartementnya. Setahu Sun Hee hanya ia dan Mr. Alzelvin yang mengetahui kodenya.

….Mungkinkah?

Dengan dada yang berdebar, Sun Hee mendekat ketika pintu terbuka.

Matanya membulat seketika ketika mendapati wajah yang ia lihat dari jauh selama pemakaman tuan Takashima kini berada di hadapannya. Ia menelan ludahnya kasar, tubuhnya mendadak dingin dan gemetar.

Para Bodyguard menunduk hormat ketika wanita itu mulai berjalan masuk ke dalam Apartement dan para pengawal kemudian menutup pintu rapat. Meninggalkan Sun Hee dan wanita tua itu berdua saja.

Tubuh kecil dan anggun dengan balutan kimono itu berdiri tepat di depan Sun Hee, wajahnya angkuh dengan tatapan membunuh. Sun Hee merasa terintimidasi seketika. Istri tuan Takashima berada disini, di hadapannya, wanita tua itu mengenali Sun Hee. Wanita tua itu duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu, gestur tubuhnya mempersilahkan Sun Hee duduk tepat di depannya, dengan susah payah dan tubuh yang terasa kaku Sun Hee berjalan perlahan dan duduk sesuai permintaannya. Menunduk, tak kuasa menatap langsung ke arah wanita tua itu.

“Apakah kau, Ixia?”

Sun Hee terdiam, suaranya lembut dan aksen Koreanya jauh lebih bagus dari tuan Takashima.

“Ya, nyonya.” Jawab Sun Hee, pelan.

“Saya Nyonya Takashima Mariko. Senang bertemu denganmu,” Ucapnya, suara yang lembut namun terkesan menyudutkan. Sun Hee bisa merasakan bagaimana menakutkannya wanita tersebut.

“Berapa usiamu?” Tanya Nyonya Mariko.

“16 tahun,”

Nyonya Mariko terdiam setelah mendengar jawabannya, Sun Hee tidak bisa melihat bagaimana wanita itu berekspresi, dia menunduk semakin dalam ketika helaan napas Nyonya Mariko terdengar kasar.

“Usiamu bahkan lebih muda dari putri bungsuku,” Ucapnya dengan tawa kecil yang menyertainya.

Hati Sun Hee tak jelas lagi iramanya, ia ketakutan setengah mati.

“Kudengar suamiku membelikanmu Apartement ini tanpa sepengetahuanku.” Lanjutnya, kemudian terdiam memberikan jeda yang membuat Sun Hee rasanya tak dapat bernapas karena gugup.

“Aku membencimu, pelacur kecil. Aku tidak pernah merasa cemburu selama hidupku ketika mengetahui suamiku memiliki beberapa pelacur di sampingnya, itu sudah hal wajar baginya sebagai seorang mafia besar. Tapi, kau berbeda..” Ucapnya, “kau tahu? Suamiku selalu bercerita mengenai dirimu dengan mata yang berbinar, bagaimana dirinya sangat menyayangkan pendidikanmu yang sempat terbengkalai karena perlakuan teman-teman yang membuatmu tak dapat pergi ke sekolah dengan nyaman. Seorang Takashima Okada yang selama ini tak pernah peduli bahkan pada keluarganya sendiri, kini memiliki perhatian lebih padamu. Lucu bukan?”

Sun Hee terdiam, menelan ludah dan menundukkan kepalanya semakin dalam.

“Suamiku sangat memanjakanmu, tapi kini dia telah tiada.. Tak akan ada yang bisa melindungimu lagi, jadi, pergi dari tempat ini sekarang juga.”

Sun Hee mengangkat kepalanya, pandangannya beradu dengan tatapan penuh kebencian Nyonya Mariko.

“Kumohon Nyonya, jangan usir aku,” Ucap Sun Hee lirih.

Nyonya Mariko mengalihkan pandangannya dan tersenyum sinis.

“Pergilah, aku sudah memberikanmu pada salah seorang mucikari besar disini. Aku tak akan membiarkanmu pergi begitu saja, Ixia, karena suamiku memberikan tiga setengah harta warisannya padamu.”

Sun Hee terkejut mendengarnya.

“Sampai usiamu 20 tahun, aku akan terus mengawasimu. Jangan pernah berpikir kau akan mengambil warisan itu dan menikmatinya, aku akan memaksamu menandatangi surat perjanjian penyerahan warisan tersebut. Selama waktu itu, bekerjalah dengan baik-baik bersama Madam Shin,”

Nyonya Mariko menyelesaikan kalimatnya ketika pintu terbuka dan seorang wanita tua lain berwajah angkuh berjalan masuk dengan penuh kesopanan di hadapannya. Ia memperkenalkan Sun Hee pada Madam Shin dan membicarakan apa yang dia inginkan dari Sun Hee.

Sekali lagi, Kang Sun Hee, kembali ke dunia pelacuran yang sebenarnya. Kini, di bawah pengawasan mucikari lain. Madam Shin. Wajahnya tak kalah angkuh, tatapannya serupa dengan Nyonya Mariko, bibirnya kecil dengan gincu merah terang, tubuhnya besar, dan suaranya berat.

Sun Hee bahkan tak dapat menolak.

Dia bahkan tidak tahu jika tuan Takashima memberikannya warisan, dia tak pernah bermimpi mendapatkannya dan kini dia terjebak karena hal itu.

Kang Sun Hee, tak pernah bebas dari jeratan penjaja seks.

Tak pernah.

.

.

.

20 Januari, 2014

“YA PELACUR! BERHENTI DISANA!!”

Sun Hee berlari dengan napas terengah dan peluh yang menetes, wajahnya sudah membiru dan sudut bibirnya terluka, darah belum juga berhenti mengalir dari hidungnya. Hana dan teman-temannya yang lain terus mengejar Sun Hee yang keluar dari gerbang sekolah. Ia terus berlari, tak peduli bagaimana orang-orang di jalan memandangnya, di tengah dinginnya jalan yang tertutup salju, Sun Hee terus berlari tanpa alas kaki. Ia bahkan sudah tak tahu dimana sepatu yang melindungi kakinya, yang terpenting ia harus pergi. Pergi menjauh dari Hana.

“SUN HEE! YA! KANG SUN HEE!!!”

Sun Hee menghentikan langkahnya seketika saat mendengar suara Jongin memanggilnya, pemuda itu berlari di belakangnya di ikuti oleh Hana dari belakang.

“Ya! Kenapa kau berhenti?! Ayo lari!!!” Pekik Jongin yang dengan cepat meraih pergelangan tangan Sun Hee dan berlari bersama, menjauh dari kejaran Hana.

Keduanya terengah setelah tiga puluh menit penuh berlari untuk menghindari Hana, Jongin menatap Sun Hee yang terlihat sangat berantakan, wajahnya penuh peluh, darah yang mengering di sekitar hidungnya, dan juga lebam biru di pipi dan wajah terlihat dengan jelas di bawah guyuran hujan salju.

“Ayo kita masuk ke dalam sana, ini taman tak terpakai, kurasa Hana tak akan tahu kita disini.” Ujar Jongin, menarik lengan mungil dan dingin milik Sun Hee.

“Kenapa kau ikut berlari?” Tanya Sun Hee, duduk di hadapan Jongin yang kini sibuk membuka tasnya.

“Aku di bohongi si sialan Hana, mereka mengunciku di kamar mandi perempuan setelah bel pulang. Kudengar dari mereka kau terkunci disana, jadi aku segera pergi untuk menemuimu. Maafkan aku, Sun Hee-ya, seharusnya aku tak percaya mereka.” Jongin menjelaskan dengan cukup panjang di sela napasnya yang terdengar memburu, dia membuka kotak P3K yang ada di dalam tasnya.

“Kau membawa ini?” Tanya Sun Hee,

“Aku selalu membawanya di tas, aku mempersiapkannya jika hal seperti ini terjadi,” Ujar Jongin lagi, mengambil kasa dan melumurinya dengan alkohol untuk membersihkan luka dan lebam di wajah Sun Hee.

“Sesuatu terjadi? Mengapa kau di pukuli habis-habisan oleh Hana?” Tanya Jongin lagi, suaranya terdengar khawatir.

Sun Hee terdiam sesaat, menatap Jongin yang masih sibuk membersihkan debu di lukanya.

“Tadi malam, aku di tampar oleh ibu Hana.”

Jongin menghentikan pekerjannya.

“Pelangganku semalam, ayah Hana.”

Jongin menelan ludahnya kasar ketika Sun Hee menceritakan apa yang terjadi, hatinya penuh amarah, kata ‘pelanggan’ yang selalu ia dengar kali ini membuatnya kesal. Sudah dua minggu lebih Sun Hee bekerja sebagai pelacur aktif di tempat Madam Shin, awalnya Jongin menentang hal tersebut pada Sun Hee dan mengajaknya untuk pergi menjauh dari Seoul, dia memiliki tabungan yang cukup membawa Sun Hee kemanapun.

Namun, gadis itu tak mau ambil resiko. Terutama karena ia disana atas keinginan istri tuan Takashima.

Bukanlah hal yang mudah membuat hatinya tetap baik-baik saja mengetahui bagaimana pekerjaan Sun Hee sekarang, gadis itu benar-benar menjadi seorang pelacur yang bisa melayani tiga bahkan lebih pria dalam satu malam. Jongin kesal. Menyesal, bahwa faktanya dia masih di bawah pengawasan kedua orangtuanya.

Perlakuan kasar di sekolah semakin menjadi, guru laki-laki mulai melecehkannya dan bahkan hampir memperkosanya. Namun, para guru perempuan dan orangtua murid menuding pekerjaan Sun Hee lah yang memicu ia diperlakukan demikian.

Hanya saja, mereka hanya bisa berbicara tanpa bisa bertindak karena Nyonya Mariko dengan kekuasaannya meminta Sun Hee tetap bersekolah sampai lulus disana.

“Jongin-ah, kau dengar?” Tanya Sun Hee, membuyarkan lamunan Jongin.

“Hm? Apa?”

Sun Hee menghela napas dan menjitak kepalanya lembut.

“Kau lihat sepatuku? Sepatuku hilang.”

“Kau memang tidak pakai sepatu sejak dari sekolah,” Ujar Jongin.

“Kalau begitu sepatuku tertinggal di belakang sekolah! Ayo kembali kesana.” Ajak Sun Hee.

Jongin menarik tangan Sun Hee yang hendak berdiri, tatapan keduanya saling beradu.

“Sun Hee-ya, tak bisakah kau duduk dia di depanku?”

“Hm?”

“Kau tak pernah mau duduk berlama-lama berdua denganku semenjak kau bekerja dengan Madam Shin..”

Sun Hee terdiam, kembali duduk di depan Jongin.

“Kau malu?”

“Jongin-ah, kurasa urat malu milikku sudah tak ada lagi. Aku bahkan tanpa ragu pergi ke sekolah meskipun mereka semua tahu apa pekerjaanku, aku, hanya tidak ingin kau banyak terlibat denganku. ibumu–tidak menyukainya.” Jawab Sun Hee, lembut. Ia menatap Jongin yang balas menatapnya.

“Aku tak malu berada di sisimu,”

Jongin menggenggam jari jemari Sun Hee yang dingin, menariknya dalam pelukan hangat dan dalam. Diam-diam keduanya menginginkan hal yang sama,

“Semoga waktu berhenti sampai disini, selamanya.”

Sun Hee kembali ke tempat madam Shin pukul 20.34 malam, wanita tua dan cerewet itu sudah menggerutu dari pintu gerbang ketika melihat gadisnya terlihat sangat berantakan. Caci maki untuk orang-orang yang membuat ‘peliharaannya’ terlihat buruk terdengar nyaring di telinga Sun Hee.

“Ya, Ixia, kenapa kau tidak pernah menurut padaku? Sudah kubilang berhenti pergi ke sekolah dan hanya melakukan perawatan untuk kecantikamu!” Keluh Madam Shin sambil menyesap dalam-dalam rokok di bibirnya, mengekor Sun Hee yang menaiki tangga menuju kamarnya.

“Ya Tuhan! Ixia! Apa yang terjadi?!” Pekik para perempuan di dalam kamar tersebut ketika Sun Hee masuk, mereka mengerumuni Sun Hee dan mengambil beberapa kassa dan antiseptik untuk mengobati lukanya.

“Kau bahkan di perlakukan buruk oleh mereka! Cih! Apa hak mereka membuatmu babak belur begini? Sialan! Mereka tidak tahu bagaimana ruginya aku jika barang berhargaku di rusak! Apakah aku harus menuntut mereka?!” Ucap Madam Shin dengan suara melengking.

“Maafkan saya,” Ujar Sun Hee, pelan.

Madam Shin hanya mendengus mendengarnya, dengan tatapan tidak suka ia keluar dari dalam kamar tersebut dan terus menggerutu.

“Kau masih sering di perlakukan buruk oleh teman-temanmu?” Tanya Jenny, salah seorang pelacur yang usianya lebih muda tiga tahun dari Sun Hee.

“Jenny-ya, teman tak ada yang memukuli temannya sendiri,” Ujar Dena, pelacur paling tua di antara mereka, usianya 30 tahun.

Wanita yang lain tertawa mendengar ucapan Dena, Sun Hee tersenyum. Orang-orang ini selalu membantu Sun Hee, ketika pertama kali datang, Jenny pertama kali menyapa Sun Hee dan tanpa di minta memperkenalkan satu persatu ‘seonbae’ disana. Di tempat Madam Shin, satu pelacur dengan pelacur lainnya saling bercengkrama dengan akrab. Total 20 perempuan berada di bawah perintah Madam Shin, usia mereka di mulai dari 13 tahun sampai 30 tahun dan semuanya tidur di satu kamar yang sama. Mereka tidak saling membenci dan ikut membantu untuk memperkenalkan lingkungan pada orang baru disana.

Cukup melegakan.

Mungkin Sun Hee akan bunuh diri jika ia di perlakukan buruk juga disini.

Pukul 22.00 malam Sun Hee sudah berpakaian rapi, masuk ke dalam kotak kaca besar dan duduk disana. Menanti pelanggan barunya untuk datang dan memakainya. Madam Shin tidak menyuruhnya memakai pakaian kelewat ketat yang memperlihatkan kemaluan ataupun buah dadanya. Ia hanya berpakaian cukup minim tanpa membuatnya terlihat memalukan.

Satu persatu gadis di kotak sudah menghilang, di pesan oleh para pria hidung belang yang baru saja masuk dan melihat-lihat. Pukul 23.00 dan Sun Hee masih berada di tempatnya, mungkin para lelaki itu enggan memakainya malam ini karena wajahnya cukup menakutkan, biru-hijau keungu-unguan, belum lagi luka belum kering dekat bibir dan hidungnya.

“Hei, Ixia. Madam Shin memanggilmu,” Bisikkan dari belakang mengejutkan Sun Hee, ia mengangguk kecil dan berjalan turun dari tempatnya. Hatinya gelisah, wanita tua itu pasti memarahinya tanpa ampun kali ini.

Sun Hee mengetuk pintu dengan pelan dan membukanya, Madam Shin duduk di tempatnya dengan wajah masam di hadapannya seorang pria berjas biru tengah duduk santai di temani seorang pria tua berpakaian jas rapi. Kening Sun Hee berkerut.

“Masuklah, duduk disana,” Ujar Madam Shin, menunjuk kursi kecil di pojok ruangan.

Kemudian, wanita itu berbicara dengan bahasa asing. Sun Hee tidak terlalu yakin apakah itu bahasa Jepang atau Mandarin, karena jarak mereka cukup jauh. Sun Hee berpikir, menatap ekspresi wajah tak senang Madam Shin.

Dua puluh menit berlalu dan keduanya masih mengobrol, beberapa kali terlihat Madam Shin agak berdebat dengan pria itu dan menelepon Nyonya Mariko. Perasaan Sun Hee benar-benar tidak enak mendengar nama itu.

“Ixia, kemari.” Panggilan Madam Shin sedikit mengejutkan Sun Hee. Ia berjalan perlahan ke arah wanita tua itu.

“Perkenalkan, ini tuanmu yang baru,” Lanjutnya.

Sun Hee terkejut mendengarnya,

Tuan yang baru?

“Namanya, Zhang Yixing. Dia baru saja membelimu.”

Sun Hee terdiam, ia masih bingung mendengar perkataan Madam Shin ketika pria yang duduk itu kini berdiri di depannya. Sun Hee bertaruh jantungnya berpacu seperti kuda balap ketika pandangan mereka saling beradu, mata pria itu terlihat sayu, hidungnya runcing dan bibirnya terbentuk dengan sangat baik. Dia menatap Sun Hee dan tersenyum dengan manis.

“Senang berjumpa denganmu, Ixia..”

Continued..

28 responses to “IXIA — Page 5

  1. Akhirnya si yixing muncul juga ya ampun. Walaupun cuman sebentar tapi senengnya ahayyy💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕

  2. Yee.. ff yg ditungu2 share juga.. kuat banget ya Sun Hee. Jong in manis banget dan akhirnya lay muncul di part ini, walaupun sedikit tapi seneng ya itu, 1-5 kisah sun hee dimasa sebelum ketemu lay ya, sun hee hamil kan, jadi ngak sabar apa alasan lay… jangan lama2 ya eomma.. gomawo

  3. Hai aku reader baru🙂
    maaf kalo baru komen, soalnya baru nemu pas udah sampe chapter ini, jadi langsung ngebut bacanya😀

    Ceritanya bagus, walopun di chapter awal masih agak bingung karena flashback
    tapi semakin kesini semakin seru, kereeen banget
    pas sampe di chapter 4 juga agak bingung karena belum ada Zhang Yixing yang muncul😀
    padahal dinanti banget soalnya kan dia main cast juga kan?

    ugh~ panjang banget komennya😀

    masih banyak yg pengen aku tau sebenernya tapi udah panjang bangeeet😀

  4. Seneng banget akhirnya Yixing keluar juga di chapter ini. Dia kok bisa tau ixia dri siapa ya? Hmm penasaran. Ditunggu yaa

  5. Waaaaa akhirnya yixing keluar juga setelah sekian lama ditunggu
    Ixia itu udah penyabar kuat baik lagi…..kasian banget ngeliat dia kayak gitu
    Pasrah banget sama keadaan sendiri… mending ikut kai
    Ditunggu lanjutannya yaaaaa
    Neeexxxtttt fightingggg

  6. Kurang panjangggggg Aaaaaaaaaa yixinggg muncul jugaaaaaaa
    Wah, ixia sebenernya disayang banget sama taksshima itu… Wkwkkk trus gimana klanjutannya eon? Akankah nyonya takashima nglepas gitu aja ? Padhal kan ixia dapet harta warisannya tuan takashima dan sekarang ixia udah dibeli yixing lagiii jadiii penasaraannnnnn
    Ayooio nexxtt nexttt

  7. Haii aku readers baru disini…keren banget deh thor ff nya setiap kali author yg bikin ff nya selalu ngena hati gitu keep writing ya thor😊

  8. akhirnya di post jga page 5. beh kasian dgn ixia . dia menderita bgt . klo aku jdi dia psti dah pikiran nya mu bunuh diri aja .gara2 ff ini aku rda kasian ama pra pelacur . mrka terpaksa bekerja gituan untuk cari uang buat mkan dgn hidup sehari tnpa perduli lgi ama harga diri nya yg di pandang rendah ama orang lain . akhir nya lay kluar jga hihi mga aja ff ni happy ending . ditunggu next nya ya kak. semangat !!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s