Shoes

Shoes
Leobin

|| Jung Leo VIXX • Lee Hong Bin VIXX || Friendship || Vignette || General ||

|| Vhaerizz ||

***

“Bin, dimana sepatuku?”

Di dekat pintu kamar flatnya, Leo terlihat kebingungan sebab sepatu warna biru kesayangannya tidak ia temukan di rak. Seingatnya, dua hari yang lalu ia letakkan di sana dan belum dipakainya lagi karena kemarin ia memakai sepatu lainnya.

“Sepatu yang mana?”

Sebenarnya, Hong Bin sedang mandi. Tapi mendengar pertanyaan Leo, Hong Bin seger mematikan showernya dan membuka pintu kamar mandinya sedikit. Kepalanya yang penuh busa mencuat keluar.

“Yang biru.”

“Coba lihat di balkon. Kemarin aku mencucinya sekalian dan semalam aku lupa memasukkannya kembali.”

Kemudian, Hong Bin menarik kepalanya dan pintu kamar mandi tertutup.

Leo bergegas ke balkon yang selama ini mereka jadikan lahan penjemuran. Dengan alasan penghematan, mereka mencuci pakaian mereka sendiri tanpa menggunakan jasa laundry. Tidak peduli pakaian siapa, mereka akan mencucinya jika jadwal kerja mereka sedang longgar. Dan kemarin jadwal kerja Hong Bin sedang lumayan longgar.

Balkon lumayan penuh. Seminggu terakhir, mereka cukup sibuk hingga pakaian kotor mereka menumpuk. Sepatu yang Leo cari ada di pojokan. Berdampingan dengan sepatu hitam Hong Bin yang sudah agak rusak. Alasnya sudah halus dan bagian pinggirnya sudah agak terbuka karena lemnya yang tidak sanggup merekatkannya lagi dengan baik.

Seingat Leo, Hong Bin membeli sepatu itu tahun lalu di Myeongdong dengan harga yang terbilang murah plus diskon. Sudah mending bisa bertahan setahun padahal Hong Bin memakainya hampir setiap hari.

Mengingat hari yang sudah hampir siang, Leo segera mengambil sepatunya dan segera kembali masuk ke dalam flatnya. Tapi sebelum itu, mata Leo melihat tiga handuk yang menggantung di jemuran.

Leo mendesah pelan. Hong Bin lupa bawa handuk lagi saat mandi.

Disambarnya satu handuk berwarna biru laut lalu masuk. Digantungnya handuk tersebut di ganggang pintu kamar mandi sebelum benar-benar keluar dari kamar flatnya.

Leo tidak boleh terlambat.

***

Berbagai tali pengaman telah terpasang di badan Leo. Ia siap. Apa yang harus dilakukannya sudah dihafalnya di luar kepala. Tinggal menunggu aba-aba dari pria setengah baya yang duduk di kursi bertuliskan ‘Director’.

Leo bukan seorang aktor. Walau wajahnya sangat mendukung untuk menjadi seorang aktor –dan Leo cukup sering mendapat penawaran bergabung ke agensi, tapi sekali lagi, Leo bukan seorang aktor.

Leo hanyalah seorang stuntman yang sebentar lagi akan melakukan adegan melompat antar gedung yang berjarak tiga meter. Tubuhnya yang tinggi dan atletis, membuat Leo sering mendapat panggilan oleh tim produksi film aksi, juga Leo adalah orang yang serba bisa. Dua tahun menjadi stuntman, segala adegan pernah dilakukannya. Balapan, berkelahi, lompat antar gedung, Leo pernah mencoba semuanya dan selalu berhasil hanya dengan satu atau dua kali percobaan.

Mata Leo fokus ke depan –ke gedung di seberangnya, kakinya sudah mengambil ancang-ancang, dan…

“Action!”

Leo berlari dengan kecepatan penuh, kaki kanannya memijak sebuah pemantul yang disediakan di pinggir atap gedung dan lompatan fantastis yang mengundang decak kagum itu pun tersaji. Langkah lebar Leo dan pijakan yang tepat pada pemantul tadi merupakan perpaduan sempurna yang membuat jarak tiga meter menjadi jarak yang bukan apa-apa.

“Cut!”

Pengambilan gambar dihentikan setelah pendaratan sempurna yang Leo lakukan. Leo langsung dihampiri orang yang akan melepaskan alat pengaman di badannya.

“Kerja bagus, Leo,” kata orang itu.

“Terima kasih.”

Setiap pujian yang dilayangkan padanya, selalu Leo balas dengan ucapan terima kasih. Hanya itu. Leo adalah orang yang irit bicara sehingga apa yang keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang seperlunya saja.

“Kau tunggu di bawah. Setelah ini ada satu adegan lagi yang harus kau lakukan.”

Leo hanya mengangguk sebelum turun sesuai apa yang diperintahkan.

Adegan selanjutnya adalah salah satu adegan yang paling sering Leo lakukan saat menjadi stuntman. Berkelahi. Pengambilan gambar dilakukan di lantai dua gedung yang sama. Berkelahi sebentar lalu dilanjutkan dengan adegan melompat ke lantai dasar melalui jendela yang masih ada kacanya. Jika tidak hati-hati, adegan itu bisa jadi adegan berdarah.

Leo memerhatikan pengarahan yang diberikan lalu siap dengan lawan main yang juga sama-sama stuntman.

“Action!”

Leo mulai menunjukkan ketrampilan beladirinya. Berkelahi cukup ‘sengit’ dan ia harus dalam posisi terdesak sebelum melarikan diri menembus kaca dan…

Prang…

Leo mampu memecahkan kaca jendela dengan tubuhnya, melayang sebentar di udara lalu terjatuh di matras yang disediakan di lantai dasar. Tidak terlalu sempurna karena Leo tidak berhasil mendarat dengan kedua kakinya.

Adegan berdarah yang tidak diinginkan pun terjadi. Bukan sesuatu yang menyeramkan, hanya sedikit darah yang mengalir dari luka di sikunya yang tadi dijadikan tumpuan saat jatuh di atas matras sebab ada pecahan kaca yang masih tersangkut di sana.

“Kau tidak apa-apa?”

Salah satu kru perempuan menghampiri Leo dengan wajah paniknya. Pertanyaannya dijawab dengan gelengan ringan kepala Leo. Perempuan itu adalah kru yang entah mengurus bagian apa, tapi setiap ada Leo datang, ia selalu siap sedia di dekatnya dan menjadi orang pertama yang menghampiri jika Leo terluka sekecil apa pun.

“Tunggu di sini,” kata perempuan itu sebelum berbalik dan berlari ke arah tenda yang menaungi wardrobe. Ia terlihat sibuk mencari sesuatu yang Leo sendiri tidak tahu apa.

“Leo, apa ini milikmu?” Seorang pria menghampiri Leo. Di tangannya ada sebuah tas ransel hitam dan sebuah kotak berukuran sedang yang berada di dalam plastik hijau.

Leo mengangguk lalu menerimanya. Dua barang itu memang miliknya yang seingatnya ia taruh di salah satu tenda yang didirikan.

“Tendanya tadi rubuh dan seingatku kau menaruh barangmu di sana jadi langsung kuambilkan.”

“Terima kasih.” Lagi, Leo hanya merespon dengan dua kata itu.

“Bagaimana dengan tanganmu?”

Darah segar masih mengalir dari siku Leo. Walaupun tidak banyak, tapi sapu tangan putih yang sempat diberikan kru perempuan tadi berubah jadi merah sepenuhnya.

“Tidak apa-apa. Hanya luka kecil.”

Pria itu berdecak. Jika tidak sampai masuk rumah sakit, Leo akan selalu beranggapan jika lukanya adalah luka kecil. Padahal jelas-jelas darahnya tidak mau berhenti keluar.

“Hyung!”

Leo dan pria itu menoleh karena panggilan itu. Seorang pemuda dengan lesung pipi di wajahnya berdiri tidak jauh dari mereka. Pemuda itu adalah Lee Hong Bin dengan kamera dslr menggantung di pundaknya dan sebotol air mineral di tangannya.

Hong Bin mendekati mereka berdua. Membungkuk dan memberi salam pada pria yang bersama Leo lalu berdecak setelah melihat luka di tangan Leo.

“Leo, biar kuobati lukamu.” Perempuan tadi kembali dengan kotak P3K di tangannya.

“Biar aku saja,” kata Hong Bin. Tangan kekarnya mengambil alih kotak P3K tersebut. “Ayo, Hyung.”

Hong Bin mengajak Leo menyingkir dan membuat perempuan itu menggerutu tidak jelas. Biar saja, baik Hong Bin maupun Leo tidak peduli.

Mereka berdua berhenti di pos keamanan gedung. Ada sebuah kursi panjang di sana yang langsung mereka duduki.

“Kenapa kau ada di sini?” Leo bertanya saat Hong Bin membuka air mineral yang sejak tadi dibawanya lalu menyiramannya ke luka Leo.

“Aku tidak sengaja lewat, jadi mampir sebentar tidak masalah.”

Hong Bin berbohong. Karena bosan tidak melakukan apa pun di kamar flatnya, Hong Bin memutuskan menyusul Leo. Tadi Hong Bin melihat lompatan sempurna Leo. Saat jeda tadi, Hong Bin ke toilet sebentar dan begitu kembali malah melihat Leo sudah terluka.

Dengan telaten, Hong Bin mengobati luka Leo dan membebatnya dengan kain kasa yang cukup tebal.

“Wajahmu mendukung jadi aktornya, kenapa memilih jadi stuntman yang beresiko?” Bukan pertama kali Hong Bin bertanya seperti itu. Bayaran yang tidak seberapa tapi memiliki resiko yang cukup tinggi. Ralat, sangat tinggi.

“Aku tidak mau menjawab,” kata Leo. Ia sendiri sudah bosan mendengar pertanyaan harian itu dari sahabatnya.

“Masih ada adegan lagi yang harus kau lakukan, Hyung?”

“Tidak.”

“Oh. Mau pulang sekarang? Aku mengantuk, mau tidur.”

“Yang memintamu mampir juga siapa? Kita pulang sekarang.”

“Ya sudah. Aku mengembalikan ini dulu.”

Hong Bin bangkit dan berjalan ke arah keramaian di dekat gedung untuk mengembalikan kotal P3K yanh dibawanya. Sementara Leo menunggu dengan memangku kotak di plastik hijau. Kotak yang beserta isinya ia beli di sebuah toko saat berangkat tadi.

“Ayo, Hyung!”

Hong Bin sudah kembali.

“Bawa ini.” Leo menyerahkan kotak itu pada Hong Bin. “Buatmu saja.”

“Apa ini?”

“Lihat saja sendiri. Tadi aktor utama film ini memberikannya untukku.”

Hong Bin mengeluarkan kotak itu dari plastiknya. Tanpa harus membuka kotak itu, Hong Bin juga sudah bisa menebak apa isinya. Tapi, karena rasa penasaran yang lain, Hong Bin tetap membukanya.

Senyumnya mengembang, lesung pipinya nampak dan membuat wajah tampannya terlihat semakin tampan.

“Terima kasih, Hyung,” kata Hong Bin setelah melihat sepasang sepatu model terbaru di dalam kotak tersebut.

Fin!

One response to “Shoes

  1. Aduuuhhh maniisnyaa~ walaupun cuek tapi tetep keliatan perhatian satu sama lain
    Aaaaa suka deh! Nice story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s