Happy Sunday

Happy Sunday

tumblr_ns2sd0pVRL1qdwwzho1_1280

|| Yoon Hyun Jung (OC) • Yoon Doo Joon Beast || Siblings || G || Oneshoot ||

|| Vhaerizz ||

***

“Cari saja di rak paling ujung.”

Sambil berjongkok di depan rak sepatu yang setengah berantakan, Hyun Jung berteriak pada Doo Joon yang sedang mencari apron biru langit kesayangannya.

Sejak seminggu yang lalu, mereka sudah merencanakan apa yang akan mereka lakukan di hari minggu yang menyenangkan. Dan mereka akan melakukannya berdua. Hanya mereka berdua. Kesibukan Doo Joon dengan pekerjaannya dan Hyun Jung dengan kuliah yang memasuki tahun akhir membuat intensitas pertemuan dua bersaudara itu agak berkurang. Moment berdua saja di rumah sudah jarang sekali mereka lakukan.

“Ihh…”

Hyun Jung sedikit menahan nafasnya. Tangan kanannya mengangkat sepasang sepatu pantofel yang masih ada kaus kaki di dalamnya yang baunya luar biasa tidak enak. Fakta memalukan yang menjadi perusak citra tampan Doo Joon adalah bau jempol yang bisa membuat pingsan. Oke, ini berlebihan. Tapi sungguh bau sepatu yang menjadi hadiah ulang tahun Doo Joon tahun ini dari Hyun Jung itu tidak enak sama sekali.

Hyun Jung menyingkirkan sepatu itu dari rak, kemudian membereskan sepatu-sepatu lain –yang kebanyakan miliknya– dan menyingkirkan sepatu yang nasibnya hampir sama dengan sepatu Doo Joon tadi.

Begitu rak sepatu rapi, Hyun Jung bangkit dengan tiga pasang sepatu di tangannya, termasuk sepatu Doo Joon.

“Sepatumu tidak pernah kau cuci, ya, Joon?”

Sebagai pengingat, Hyun Jung tidak pernah memanggil Doo Joon dengan panggilan ‘kakak’ meski usia mereka terpaut lima tahun.

“Aku memakainya setiap hari, jadi tidak sempat.”

Doo Joon sudah memakai apron yang tadi dicarinya. Di hadapannya, ada beberapa sayuran dan daging seekor ayam utuh yang siap dimasaknya. Menu hari ini adalah sup ayam ginseng kesukaan mereka berdua. Satu ekor ayam ukuran besar akan habis oleh mereka berdua dalam waktu singkat. Perut mereka sama-sama karung.

“Kau kan ada sepatu yang lain. Ganti dulu dan cuci yang ini. Bisa-bisanya kau betah memakai sepatu bau seperti ini.” Hyun Jung berkata dengan memasang mimik jijik di wajahnya.

“Aku suka yang itu.”

Doo Joon selalu suka dengan benda apa pun yang diberikan oleh adik perempuan kesayangannya itu. Bukan hanya sepatu, tapi ada phone case, dasi, beannie bahkan kaus kaki bergambar minion pun dipakainya jika Hyun Jung yang memberikannya.

“Jangan pakai daun bawang, Joon!”

Hyun Jung benci daun bawang. Aromanya yang kuat membuatnya mual dan nafsu makannya seketika akan hilang. Tapi setiap kali memasak, Doo Joon selalu lupa dan menambahkan potongan daun bawang dalam jumlah yang lumayan banyak.

“Maaf. Lupa.” Doo Joon meringis. Potongan daun bawang yang untungnya baru sedikit itu dibuangnya ke tong sampah sedangkan sisanya yang masih utuh –baru terpotong sedikit– dimasukkan kembali ke dalam kantung plastik.

“Kenapa masih di sini? Cepat cuci sepatunya!” Doo Joon mengusir Hyun Jung yang berdiri di balik meja pantry dapur sambil menenteng tiga pasang sepatu bau di tangannya.

“Iya, cerewet.”

***

Sup ayam ginseng ala Yoon Doo Joon sudah tersaji dengan apik di meja makan. Asap yang masih mengepul membuat sup itu semakin terlihat menggiurkan. Sebagai pelengkap, Doo Joon menyiapkan dua mangkuk nasi, sebotol besar air mineral dan beberapa alat makan pendukung.

Selesai. Doo Joon melepas apronnya yang ia sampirkan begitu saja di kursi makan.

Berbeda dengan Doo Joon yang sudah beres dengan tugasnya, Hyun Jung masih sibuk menjemur pakaian dan sepatu yang baru saja dicucinya di balkon apartemen mereka. Khusus hari ini, balkon yang lama tak berfungsi sebagaimana mestinya itu akan menjadi lahan penjemuran bagi Yoon bersaudara.

“Masih lama, ya?” Doo Joon berdiri di ambang pintu kaca yang menjadi sekat antara balkon dan ruangan dalam apartemen dengan tangan yang ia lipat di depan dada.

“Sedikit lagi. Masakanmu sudah matang?” Tanya Hyun Jung sambil membentang kaus putih bertuliskan ‘Life’ ke tiang jemuran.

“Ya. Tinggal di makan.”

“Bantu aku. Aku sudah lapar.” Hyun Jung merajuk dan tanpa sadar mengeluarkan aegyo-nya yang sangat langka itu. Aegyo adalah sesuatu yang paling tidak Hyun Jung suka untuk ia lakukan sendiri. Ia takkan pernah mau melakukannya di depan siapa pun termasuk pacarnya, Kim Jong Dae.

Tapi pemandangan langka itu lumayan sering Doo Joon saksikan karena Hyun Jung selalu melakukannya setiap kali ia merajuk padanya. Melihat aegyo di wajah Hyun Jung selalu membuat Doo Joon berpikir jika Hyun Jung tetaplah seorang adik kecil yang paling disayanginya.

Doo Joon mengurai lipatan tangannya lalu menghampiri Hyun Jung untuk membantunya. Hanya tersisa dua kemeja dan satu kaus miliknya yang belum dijemur.

Dua tahun lebih mereka tinggal di apartemen itu setelah pindah dari rumah mereka yang ada di Ilsan, itu adalah kali pertama mereka mencuci pakaian mereka sendiri dan menjemurnya di balkon. Biasanya mereka akan menggunakan jasa laundry yang letaknya di lantai satu gedung apartemen mereka.

Tapi demi kebersamaan yang ingin mereka ciptakan hari ini, Hyun Jung yang selama ini dicap sebagai gadis pemalas rela mencuci semua pakaian kotor dan sepatu yang sudah bau kaki. Sebagai balasannya, Doo Joon mendapat tugas memasak masakan istimewa dan pilihan jatuh pada sup ayam ginseng setelah mereka mengundinya semalam.

“Akhirnya,” ujar Hyun Jung begitu semua pakaian tersampir di tiang jemuran. “Ayo masuk! Aku lapar.”

Dengan menggandeng tangan Doo Joon, Hyun Jung mengajak kakak kesayangannya itu masuk. Menghampiri meja makan dan menelan ludah karena sup buatan kakaknya yang terlihat sangat menggiurkan.

“Kau memang yang terbaik, Joon,” puji Hyun Jung tanpa sadar.

Meski saling menyayangi, mereka bukan orang yang akan saling melontarkan pujian dengan mudah. Dengan ikatan batin yang mereka miliki, pujian yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata itu akan tersampaikan dengan baik. Berbeda kalau mereka sedang saling bully satu sama lain, mereka akan saling balas tanpa henti. Tapi tentu dalam konteks bercanda antar saudara.

Menarik kursi keluar dari kolong meja, Hyun Jung langsung duduk dan mengambil sendoknya.

“Kau tidak makan?” Tanya Hyun Jung pada Doo Joon yang masih berdiri di samping meja makan. “Kalau tidak makan, ya, tidak apa-apa. Aku masih sanggup menghabiskannya sendiri.”

“Enak saja,” sahut Doo Joon cepat lalu ia melakukan hal yang sama dengan Hyun Jung –menarik kursi yang terdapat apron miliknya keluar dari kolong meja dan mendudukinya.

Tangan Hyun Jung terulur mengambil pisau yang sudah Doo Joon sediakan sebelumnya dan memotong bagian paha untuk dirinya sendiri dan untuk Doo Joon. Sebenarnya daging ayamnya sudah benar-benar lunak, tapi masih terlalu panas sehingga perlu bantuan pisau untuk memotongnya.

“Kau tidak ada jadwal kencan dengan Jong Dae kan hari ini?” Doo Joom bertanya untuk memastikan jika hari ini mereka akan habiskan hanya berdua saja. Tanpa gangguan dari siapa pun termasuk pacar Hyun Jung sekali pun.

Hyun Jung menggeleng. “Kami jarang bertemu akhir-akhir ini.”

“Bertengkar?”

“Tidak. Jong Dae mulai sibuk dengan pekerjaan barunya.”

“Oh,” respon Doo Joon singkat. Doo Joon ingat jika Jong Dae lulus akhir musim dingin kemarin.

“Enak tidak?”

Harusnya, tanpa bertanya pun Doo Joon sudah tahu jawabannya. Hyun Jung adalah penggemar nomor satu masakannya yang biasa-biasa saja. Gadis itu pasti akan memuji, tapi dengan caranya sendiri.

“Karena tidak ada daun bawangnya, jadi enak. Untung tadi aku melihat jadi sempat memeringatkanmu.”

Begitulah cara Hyun Jung memuji. Yang penting ada kata ‘enak’, Doo Joon sudah senang mendengarnya. Ditambah melihat Hyun Jung yang lahap dengan paha ayam yang sudah termakan setengah.

“Oh, iya. Aku dengar kau sedang dekat dengan perempuan,” ujar Hyun Jung dengan mulut penuh.

“Dengar dari siapa?”

“Dong Woon oppa.”

“Memangnya kalau aku benar dekat dengan perempuan kenapa?”

“Ya tidak apa-apa sih,” jawab Hyun Jung dengan nada tak acuh. “Itu berarti kau masih normal.”

“Memangnya selama ini aku tidak normal?” Doo Joon protes.

“Aku sempat berpikir begitu. Habisnya kau sendiri sudah hampir lima tahun, Joon. Wajar kan kalau aku berpikir seperti itu?” Hyun Jung berkata dengan senyum tipis di bibirnya. Mengejek. Hyun Jung lumayan ahli dalam melakukan itu.

“Jahatnya.”

“Jadi benar, tidak? Siapa orangnya?”

“Bukan dekat seperti yang kau pikirkan, Hyun. Hanya sebatas rekan kerja. Dong Woon saja yang berlebihan.”

Hyun Jung menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Tidak. Untuk urusan ini aku lebih percaya pada Dong Woon oppa. Siapa perempuannya? Atau kau tidak perlu sebut namanya, beritahu saja bagaimana orangnya? Nanti aku akan tentukan dia baik untukmu atau tidak.”

“Yang kakakmu itu aku atau Dong Woon? Bukan siapa-siapa, Hyun. Kalau memang aku benar-benar dekat dengan perempuan, aku pasti akan cerita. Tunggu saja.”

Hyun Jung menggerutu. “Selalu saja begitu. Jangan-jangan sampai umurku kembali ke lima tahun kau takkan pernah membawa perempuan satu pun.”

“Dulu aku pernah mengenalkan seseorang padamu, kau malah tidak suka.”

“Siapa? Teman kuliahmu yang matrealistis itu? Tidak. Baru seminggu kau berkencan dengannya, kau akan jatuh miskin, Joon.”

“Makanya sabar saja dan aku akan bawa perempuan yang akan kausukai juga kalau tidak mau aku dapat yang sepertinya lagi.”

Oke, Hyun Jung mengalah. Untuk urusan perempuan, Doo Joon memang tidak terlalu memikirkannya. Jika sudah jodohnya, nanti juga datang dengan sendirinya. Tidak ada yang tahu bagaimana rencana Tuhan ke depannya untuk kita, kan? Doo Joon selalu mengingatkan hal itu pada Hyun Jung. Jalani saja hidupmu apa adanya. Tuhan tahu mana yang baik untukmu dan mana yang tidak.

“Bagaimana kuliahmu?”

“Jangan menghilangkan nafsu makanku, Joon!”

Mengungkit kata kuliah, sama saja mengingatkan Hyun Jung pada tumpukan tugas yang selalu saja bertambah meski tugas yang sebelumnya belum selesai dikerjakan. Tahun akhir kuliah tidak jauh berbeda dengan tahun terakhir SMA dengan segala tugasnya. Yang membuatnya berbeda hanya tingkatan belajarnya dan waktu belajar yang tidak sampai malam hari.

“Kenapa? Pasti nilaimu memburuk lagi,” goda Doo Joon.

“Jangan bahas kuliah.”

“Kenapa?”

“Joon!”

“Oke.” Doo Joon mengalah. Ia tidak mau harinya bersama Hyun Jung rusak karena pembahasan mengenai kuliah.

“Bagaimana hubunganmu dengan Jong Dae?”

Doo Joon mencari topik lain. Melupakan tradisi lama yang melarang siapa pun berbicara saat makan. Baginya, rasanya sudah lama sekali tidak mengobrol berdua dengan Hyun Jung seperti ini sebab pekerjaannya yang padat dan tidak mengenal kata libur dan Hyun Jung yang sudah terbiasa berkumpul bersama teman-temannya di akhir pekan.

“Biasa saja.”

“Dia masih sabar menghadapimu?”

“Untungnya iya. Lagipula aku tidak terlalu menyebalkan sampai bisa membuat orang sesabar dan sedewasa Jong Dae kesal dan marah padaku.”

Salah satu hal yang Hyun Jung syukuri dalam hidupnya adalah kehadiran seorang Kim Jong Dae. Lelaki manis, sabar dan dewasa meski tidak terlalu tampan yang mau merelakan hatinya jatuh untuk perempuan urakan dan sedikit temperamen sepertinya. Setahun lebih menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih, mereka selalu damai karena kedewasaan Jong Dae yang mampu mengurangi sedikit demi sedikit ego dalam diri Hyun Jung.

Bukan hanya Hyun Jung, Doo Joon juga bersyukur akan kehadiran Jong Dae yang sudah banyak membantunya menjaga Hyun Jung. Jika hubungan mereka berlangsung lama, Doo Joon akan dengan suka rela melepas adik kesayangannya untuk lelaki seperti Jong Dae.

“Sudah sejauh apa hubungan kalian?”

“Kau menginterogasiku lagi?”

“Jawab saja.”

“Sejauh apa, ya? Hubungan kami biasa-biasa saja sama seperti sebelumnya dan selagi itu masih dalam hal yang baik, aku tidak masalah.”

“Tsk. Aku harus banyak-banyak berterima kasih padanya. Bagaimana bisa dia mengubahmu jadi seperti ini?” Doo Joon kembali merasa bersyukur sebab adiknya yang egois bisa sedewasa ini.

“Seperti apa?”

“Seperti Yoon Hyun Jung.”

Wajah Hyun Jung berubah datar. “Memangnya selama ini aku siapa? Setan? Atau mantan pacarmu yang materealistis itu?”

“Selama ini kau adikku yang cerewet, manja dan egois,” jujur Doo Joon. Akhir-akhir ini Hyun Jung selalu sadar diri jika dirinya dalam posisi yang salah, juga sangat menyadari bagaimana dirinya yang dulu sebelum mengenal Kim Jong Dae. Jadi, Hyun Jung takkan tersinggung.

“Kalian tidak mau melangkah ke jenjang yang lebih jauh atau bagaimana, begitu?”

Pertanyaan Doo Joon membuat Hyun Jung tersedak. Hubungan yang lebih jauh? Hah! Pikiran Doo Joon yang sudah terlalu jauh.

“Sejauh apa?”

“Menikah, misal.”

“Joon, aku masih kuliah dan Jong Dae juga baru beberapa bulan lulus. Menikah terlalu jauh untuk dipikirkan. Lebih baik pikirkan jodohmu sendiri yang tidak kunjung datang atau kau akan jadi perjaka tua. Dan satu lagi, aku tidak akan menikah kalau kau belum menikah.”

“Hey! Itu masih lama. Aku masih harus wajib militer dan kau tahu sendiri target menikahku setidaknya empat atau lima tahun lagi.”

“Begitu pula denganku, Joon.”

“Kalau Jong Dae tidak sabar dan kabur dengan yang lain bagaimana?” Doo Joon mulai sok menakut-nakuti, tapi tidak mempan.

“Biar saja,” sahut Hyun Jung sok tidak peduli. “Masih ada Min Yoon Gi atau Jung Leo.”

“Siapa mereka?”

Hyun Jung mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Aku melihat mereka di acara musik setiap sore,” jawabnya setengah tertawa.

“Berkhayal lagi?” Tanya Doo Joon datar.

“Sedikit. Atau mungkin Yo Seob oppa? Dia masih ada rasa untukku, kan?”

“Awas saja kalau kau berani memberi harapan padanya lagi,” kata Doo Joon dengan nada lengancam yang mengundang senyum jahil di bibir adiknya.

“Tidak, tidak. Aku masih sayang Jong Dae kok.”

Fin!

4 responses to “Happy Sunday

  1. WAW.. AKU SUKA BANGET FF INI, KAKA VHAERIZZ!! /aduh, maaphkan capslock-nya ya /hehe^^
    Eniwei, aku bersyukur banget ketemu sama ff ini.. serius, aku suka banget. Soalnya ff BEAST jarang banget dibuat. Huweee /nangis di pelukan Bang Seob /gak
    Sebelumnya sih aku agak kagok sama nama Hyun Jung di sini, kupikir itu Jun Hyung, tapi kalo dilihat lagi mah marganya Yoon. Awalnya juga kupikir karena namanya Hyun Jung, jadi mungkin dia adik lelakinya, tapi ternyata adik perempuan. Setahuku juga saudara perempuan Doo Joon itu Yoon Doo Ri, bukan adik tapi kakak.
    Apapun deh, yang penting ff ini bagus banget dan aku suka.. apalagi ada nama Min Yoongi yang nyelip (?).. #BangtanBEAST /HURAY!!! /ditendang
    Oke, aku tunggu ff BEAST yang lainnya ya, Ka Vhaerizz. And, bye~ /sok akrab

    • Makasih Aerin.
      Well, nambah lagi jml korban yg ngira Hyun Jung tu cwok, bkan cwek. Udah lmyan byk yg salah ngira di awal pertama liat nama hyun jung di ffku. Kan Doori eonni udh nikah dan Dujun biar gk kesepian hadirlah seorang Hyun jung /maksa bgt emang/
      Nama2 yg muncul di atas itu daftar bias smua. Jd krn aku sayang mrk, sebut2 dikitlah nama mrk biar eksis.
      Ditunggu aja ff lainnya, smg bs dpet pencerahan lbih cepat. Soalnya ini ff hyunjung sma dujun pertama stlah gk buat ttg mrk setahun lbih.
      Sekali lg makasihhhhh…

  2. Aduuuuuu suka suka! Persaudaraannya kerasa banget, walaupun hyun jung atau doo joon nggak pernanh ngungkapin satu sama lain
    Eh pertamanya aku kira hyun jung itu cowok loh eh ternyata adik perempuan yah~
    Kereeeen! Nice story!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s