Part VI : HIME (New)

HIME2

Author : Ariskachann
Cast : Mizuhara Hime (OC), Park Chanyeol, Lu Han
Genre : Romance, sad
Rating : PG
Disclaimer : Cerita murni hasil karangan author. Jika menemukan kesamaan itu karena sudah pernah dipost diblog pribadi saya.
A/N : Untuk chapter ini dan chapter selanjutnya akan ada perubahan untuk maincastnya ya. Maka dari itu author tambahin dijudul dengan ‘NEW’. Terima kasih ^^
Summary : “Loh kenapa? Pria yang mendapatkanmu pasti beruntung kan. Itu artinya dia sudah memenangkan hatimu yang tak pernah berpaling itu,”

Previous : Part V

“Apa kabarmu?”

Kalimat tanya yang sama keluar dari bibir kedua muda mudi itu. Lalu mereka sama-sama terkekeh pelan. Rasanya aneh sekali dan sedikit kaku. Ya mengingat sudah lama sekali mereka tidak pernah bertemu.

“Jadi, bagaimana kabarmu?” Dan Luhanlah orang pertama yang menanyakan pertanyaan itu kembali. Hime tersenyum, menyelipkan helaian rambutnya yang menjuntai disisi wajahnya kebelakang telinga.

“Aku baik. Sunbae sendiri bagaimana?”

“Hmm, aku juga baik. Tapi,” Luhan seperti sengaja menggantungkan kalimatnya membuat jeda sejenak untuk menatapi wajah Hime yang menunggunya, “Aku rasa keadaanku semakin baik setelah bertemu lagi denganmu.”

Entah Hime salah lihat atau apa, senyuman Luhan dan tatapan matanya yang lembut seperti de ja vu baginya. Tatapan itu seperti pernah dialaminya dulu.

“Kudengar Chanyeol sudah menikah,” Luhan kembali bersuara setelah beberapa saat hening menyelimuti mereka. Hime meremas rok selutut yang dikenakannya ketika nama Chanyeol kembali diperdengarkan ditelinganya.

“Hmm, ya Chanyeol sudah menikah,” Hime mengalihkan tatapannya dari kedua mata Luhan, lebih memilih mengamati cangkir kopi yang tinggal setengah diatas meja. Suaranya sedikit bergetar ketika bibirnya mengucapkan kalimat itu dan Luhan menyadari perubahan raut wajah Hime.

“Istrinya seorang model kan? Park Yoonhee? Benar kan?”

Hime menganggukan kepalanya pelan.

“Beberapa kali aku sempat bekerja sama dengan Chanyeol dan juga istrinya,” cerita Luhan kemudian.

“Eoh, benarkah?”

“Ya, beruntung Chanyeol mendapatkan Yoonhee. Dia cantik dan juga baik. Iya kan?”

Hime menatap raut wajah Luhan yang nampak senang menceritakan Chanyeol dan istrinya. Oh tidakkah pria itu tahu bahwa hal itu seperti membuka luka lama Hime kembali. Ataukah pria itu sengaja mengolok-olok Hime dengan cerita-ceritanya? Mungkin saja kan? Luhan lebih dari tahu bahwa Hime mencintai Chanyeol. Sama seperti Yixing, Luhan tahu akan hal itu.

Bagaimana Luhan tidak tahu akan cinta Hime pada Chanyeol. Karena Luhan adalah sunbae Hime dan Chanyeol semasa smu dulu.

Luhan adalah murid asal Cina. Pertukaran pelajar membuatnya harus menempuh tiga tahun masa smunya di Seoul, Korea Selatan. Luhan tampan itu sudah dari dulu. Baru sehari bersekolah dia sudah menjadi idola semua orang. Bukan hanya wajahnya yang menarik tetapi kepribadiannya yang ceria, ramah, mudah bergaul, dan juga pintar membuat ia tidak sulit untuk menyesuaikan diri dilingkungan baru. Maka dari itu ketika dirinya naik kekelas sepuluh Luhan terpilih menjadi ketua osis. Setahun kemudian Hime dan Chanyeol masuk di smu yang sama dengan Luhan. Mereka bertemu ketika masa orientasi siswa. Chanyeol yang kebetulan ditawari oleh Luhan untuk bergabung di tim basket membuat akhirnya dua orang itu menjadi akrab. Chanyeol kemudian menjadi ikut populer berkat bergabung diklub basket anak kelas sebelas. Lagipula selain tinggi wajah Chanyeol tidak kalah tampan dengan Luhan. Lalu Hime, gadis itu memang dari dulu tidak terlalu mencolok sehingga tidak terlalu dikenal siswa-siswi lain. Padahal Hime merupakan murid cerdas yang selalu menempati juara umum dua disekolahnya. Hime juga tidak terlalu jelek. Bisa dibilang dia cantik. Hanya sikapnya yang pendiam dan agak tertutuplah membuatnya menjadi tidak ‘terlihat’. Chanyeol lah orang yang selalu mengajaknya berkumpul bersama teman-teman basket atau dengan anak-anak osis lainnya. Saat itulah Luhan mulai memberikan perhatian lebih pada Hime.

Luhan mulai menyukai Hime. Tapi Hime menyukai Chanyeol. Ini hampir sama ketika Yixing menyukai Hime. Namun bedanya, Luhan sama sekali tidak pernah memperjuangkan cintanya itu. Beda dengan Yixing. Luhan terlalu terlalu takut untuk ditolak dan pada akhirnya sakit hati berkepanjangan. Persepsinya sama persis seperti perasaan Hime pada Chanyeol. Memilih untuk memendamnya sendiri. Bedanya adalah perasaan Hime akhirnya diketahui oleh Chanyeol. Sedangkan Luhan, sampai sekarang Hime tidak pernah tahu perasaan pria itu.
Bahwa rasa suka Luhan dulu sudah berubah menjadi cinta.
*
*
*
“Apa kau merasa nyaman memakainya?” Hime menepuk-nepuk bahu Luhan pelan seraya menilik jas yang dikenakan pria itu, jas hasil rancangannya.

“Hmm, sangat pas,”

Hime tersenyum mendengar perkataan Luhan. Lihat Luhan begitu tampan dengan jas dan dasi kupu-kupu merah yang melekat dikemeja putihnya. Apalagi senyuman hangat dan mata indahnya. Sungguh Hime mengakui jika Luhan memang tampan.

“Kenapa melihatku seperti itu?” Tanya Luhan ketika mendapati kedua mata Hime tidak berpaling dari wajahnya.

“Boleh aku bertanya,”

Luhan menaikan sebelah alisnya, “Apa aku harus menjawabnya?” Goda Luhan kemudian.

“Kenapa sunbae terjun kedunia hiburan? Bukankah dulu sunbae bercita-cita ingin menjadi seorang dokter?”

Bukannya menjawab pertanyaan Hime. Pria itu malah diam. Sebelum sebuah senyuman terukir dibibirnya.

“Karena aku tidak mau menyia-nyiakan ketampananku,” senyuman itu kemudian menjadi cengiran yang membuat Hime gemas.

“Sunbae! Dasar narsis!” Umpat Hime membuat Luhan tertawa. Tertawa renyah dihadapan Hime namun berbeda didalam hatinya. Jauh berbeda.

‘Aku sudah membuang mimpiku Hime-ya. Aku membuangnya ketika mengetahui kenyataan aku tidak bisa menggapaimu.’

Flashback

“Sunbae! Chanyeol!”

Luhan menoleh cepat ketika suara familiar itu masuk kegendang telinganya. Namja itu mendapati Hime berdiri diseberang jalan, melambaikan tangannya semangat kearah Luhan.

“Hime-ya! Palli!” Chanyeol yang berada disamping Luhan meneriaki yeoja itu untuk segera menyeberang.

“Ne!” Teriak Hime lalu mulai berlari kecil menghampiri Luhan dan Chanyeol. Yeoja itu bahkan melupakan untuk menengok kanan kiri hingga sebuah motor dengan kecepatan tinggi menabraknya. Luhan dan Chanyeol membeliak terkejut saat dengan keras tubuh Hime terpelanting kesisi trotoar.

“Hime!” Luhan dan Chanyeol langsung berlari menghampiri tubuh Hime yang sudah banjir darah.

“Hime! Hime!”

Luhan dan Chanyeol hanya bisa terduduk lemas didepan ruang ICU. Operasi Hime belum selesai sejak dua jam lalu. Tangisan bibi Hime sedari tadi tidak henti. Keponakan satu-satunya kini sedang berjuang untuk hidupnya.

“Hime, Tuhan selamatkan dia!”

Tuhan mendengar bibi Hime. Gadis itu berhasil melalui masa kritisnya. Namun kenyataan pahit yang harus diterima Hime adalah gadis itu tidak bisa menari lagi. Selama ini memang Hime sangat menyukai balet. Dia sudah mendedikasikan dirinya untuk menjadi seorang penari balet terkenal kelak. Tapi impian itu harus pupus ketika semua kecelakaan itu terjadi.

“Hime-ya. Kau tidak perlu menangis lagi. Aku janji aku akan menyembuhkanmu. Aku akan menjadi seorang dokter dan membuatmu bisa menari lagi,”

Itulah janji Luhan. Janjinya untuk Hime. Janjinya yang sempat ditunggu oleh Hime.

Flashback end

“Sunbae,”

Panggilan Hime membuyarkan lamunan panjang Luhan.

“Sunbae sedang memikirkan sesuatu?” Tebak Hime. Luhan menggeleng seraya menyibakan tangannya.

“Aniya. Aku sedang tidak memikirkan apapun,” elak Luhan. Hime menggelengkan kepalanya pelan lalu tanpa diduga wanita itu menyentuh dahi Luhan dengan telunjuknya membuat pria itu terhenyak.

“Dahi sunbae akan berkerut jika sedang memikirkan sesuatu,”

Lidah Luhan kelu.
*
*
*
Hubungan Luhan dan Hime tidak sekaku pertama kali mereka bertemu. Mereka sekarang lebih sering bercanda bersama, bernostalgia semasa smu dulu meskipun beberapa kali Hime seakan menghindari membahas Chanyeol. Luhan tahu akan sikap menghindar Hime. Wanita itu tidak mau membahas cintanya itu. Tapi Luhan semakin penasaran. Luhan ingin tahu bagaimana perasaan Hime sekarang terhadap pria itu. Masih sama ataukah sudah berubah.

Dan hari ini Luhan ingin membuktikannya.

“Kau sudah punya pacar?” Tanya Luhan tiba-tiba yang membuat Hime tersedak minumannya. Saat ini mereka sedang makan siang bersama disebuah kafe.

“Pacar?” Beo Hime dan Luhan mengangguk.

“Kenapa tiba-tiba sunbae bertanya tentang hal itu?”

“Kenapa? Tidak boleh. Aku cuma mau tahu pria beruntung mana yang menjadi pacarmu,” Luhan mengaduk minumannya berkesan cuek.

“Tidak ada pria beruntung sunbae,”

“Loh kenapa? Pria yang mendapatkanmu pasti beruntung kan. Itu artinya dia sudah memenangkan hatimu yang tak pernah berpaling itu,” Luhan sengaja menekankan kata terakhirnya membuat dahi Hime berkerut samar.

“Oh jangan katakan kalau kau belum punya pacar,” Luhan menampilkan wajah polosnya. Hime menghela napas panjang.

“Sunbae tidak usah mengolok-olokku,” kata Hime malas. Oh dia terlalu tahu jika Luhan memang sedang mengolok-oloknya sekarang.

“Aku tidak mengolok-olokmu. Aku bicara kenyataan kan. Bahwa kau-“Apa bedanya dengan sunbae? Sunbae juga belum punya pacar,”

“Aku ini pria. Tidak masalah masih menjomblo. Lalu kau?” Senyuman menyebalkan Luhan membuat Hime kesal. Pria ini.

“Belum ada yang tepat saja,”

Luhan menaikan sebelah alisnya. Tidak yakin dengan jawaban wanita itu.

“Yixing lumayan,” kata Luhan tiba-tiba, “Tapi dia terlalu baik untuk menunggu cintamu,” sungguh kalimat Luhan diakhir langsung menohok hati Hime.

“Sunbae,”

“Oooh, jangan katakan kau masih mengharapkan Chanyeol, Hime-ya,”

Hime menelan samar ludahnya dan Luhan tersenyum dalam hati melihat ekspresi terkejut wanita itu.

“Kenapa sunbae berpikir demikian?”

“Tebakanku benar kan?”

Hime menatap tidak suka Luhan. Oh bisakah pria itu tidak kembali mengungkit nama Chanyeol lagi. Hime tidak ingin mengingatnya.

“Berhentilah Hime. Chanyeol sudah terlalu jauh untuk kau gapai. Jangan menjadi wanita menyedihkan yang menunggu cinta tak pasti. Karena itu sungguh memuakkan,”
*
*
*
Semenjak percakapan itu Hime dan Luhan kembali bersikap kaku, saling menjaga jarak. Jika ada yang ingin dibicarakan itupun hanya seperlunya saja. Hanya seputar masalah pekerjaan. Sisanya Hime lebih memilih diam. Luhan menyadari hal itu dan ia merasa bersalah karenanya. Luhan sudah berbicara keterlaluan waktu itu. Tapi hey, Luhan benar kan. Tidak baik Hime terus mengharapkan pria itu. Hime seharusnya sudah punya pacar dan melupakan masa lalunya. Kalau mau Luhan bisa membantu. Oh lupakan kalimat terakhir itu.

“Jadi bagaimana? Kau setuju?”

“Ya?” Luhan mendongakan kepalanya, menatap manager Zhou yang duduk dihadapannya.

“Kau akan bekerja sama dengan Jesica. Dia yang akan jadi pasanganmu diedisi bulan depan majalah Vogue. Judulnya Hot dan Chick. Pemotretannya akan diadakan minggu depan. Tapi sayang Nona Jung menolaknya karena dia ada urusan lain. Jadi pilihan terakhir kau akan berpasangan dengan Krystal,”

Luhan hanya diam mendengar penjelasan managernya. Tidak tertarik sama sekali.

“Ini kopinya,” Hime meletakan dua cangkir kopi keatas meja, “Apa kalian mau cemilan? Aku akan membeli-”

“Aku mau Hime,” kata Luhan tiba-tiba.

“Ne?” Hime mengerutkan dahinya tidak mengerti kata-kata Luhan barusan. Begitupun Manager Zhou.

“Aku mau Hime yang menjadi pasanganku,” Luhan kemudian berdiri, merangkul bahu Hime.

“Aku akan merasa nyaman bila dia yang menjadi pasanganku,”
Hime membulatkan kedua matanya sedangkan Luhan memberikan kerlingan menyebalkan.

‘Kenapa begini?’
*
*
*
“Kau yakin dia bisa melakukannya?” Sekali lagi Manager Zhou menanyakan hal yang sama pada Luhan.

“Iya. Aku sangat yakin. Hime akan melakukannya dengan baik,”

“Tapi Hime tidak mempunyai basic untuk menjadi seorang model,” keluh Manager Zhou dan Luhan seakan menulikan telinganya.

“Sunbae,” Hime menghampiri Luhan menatap kesal wajah datar pria itu.

“Apa Hime kusayang?” Goda pria itu. Hime memutar kedua bola matanya malas.

“Sunbae sudah kubilang aku tidak mau-”

“Ssstttt,” Luhan menempelkan jari telunjuknya dibibir Hime menyuruh wanita itu berhenti mengoceh hal serupa. Menolak tawaran Luhan tentu saja.

“Aku hanya meminta tolong sekali ini padamu Hime. Hanya sekali. Kau tidak mau menurutinya,” wajah memelas Luhan sungguh cobaan bagi Hime. Wanita itu tak kuasa untuk menolaknya. Baiklah hanya sekali kan.

“Baiklah. Hanya kali ini,” lirih Hime akhirnya. Luhan tersenyum gummy mendengar persetujuan Hime. Dengan gemas Luhan mencubit pipi Hime.

“Nah, begitu. Kau jadi terlihat semakin manis.”

“Manager Zhou, apa kau sudah menghubunginya?” Tanya Luhan kemudian pada managernya.

“Iya, semalam aku menelponnya,”

“Apa katanya?” Luhan mendudukan dirinya dikursi untuk kemudian wajahnya dimake up.

“Iya, dia setuju untuk jadi fotografermu nanti,”

“Waah, benarkah?” Seru Luhan gembira. Lalu matanya melirik sekilas kearah Hime yang kini sibuk menyiapkan baju yang akan dikenakan Luhan untuk pemotretan hari ini.

‘Pasti akan menarik’

Fin

Masih pendek kah????

Sebenernya ini ff pengen kugantungin aja pas dichapter IV tapi karena rasa suka aku sama Luhan entah kenapa aku jadi pengen nyambunginnya lagi dengan masukin dia sebagai seseorang dimasa lalu Hime dan Chanyeol. Aku gak tau kenapa tiba-tiba suka aja dan semakin suka ama Luhan meskipun sekarang dia udah gak di EXO lagi. Mungkin gara2 terlalu banyak baca FF tentang doi yaa.
OK seperti biasa RCLnya jangan lupa ya!!!!

3 responses to “Part VI : HIME (New)

  1. Pingback: Part VII : HIME (NEW) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s