[Sequel of Married with a Gay] Tian Mi Mi (Prolog)

SAH

Title     : Tian Mi Mi

Genre  : AU, Romance, Marriage Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG 17

Length : Multi chapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : SIMPLE SHINE @HSG

***

Mungkin, orang-orang di luar sana berpikir bahwa pernikahan Ariel dan Luhan adalah pernikahan yang terbilang sempurna. Luhan yang bisa dikatakan tampan, tergolong orang terpandang, cerdas, dan mapan adalah pangeran yang begitu diidamkan oleh banyak wanita di luar sana.

Dan, mungkin akan banyak orang juga yang berpikir bahwa pernikahan adalah hal yang sangat manis untuk dilalui oleh sepasang manusia yang tengah dimabuk cinta. Melakukan apapun bersama, saling berbagi senyuman di setiap harinya, bahkan akan ada banyak keromantisan yang membuat orang lain akan menggigiti jari-jari mereka.

Mungkin begitu, tapi bagi Ariel tidak sepenuhnya benar. Luhan yang berwibawa dan begitu…ekhm, manly di mata para karyawannya, justru begitu menjengkelkan dengan sikap manja dan mudah merajuknya. Selain itu, Luhan juga pecemburu dan banyak merengek ini itu. Meskipun…yeah, Ariel merasa semua itu manis. Luhan benar-benar manis dengan sikap kekanakannya.

Luhan memang kaya dan terkenal. Bahkan saat mengadakan acara untuk perusahaannya, ada banyak wartawan yang mengantri untuk masuk dan sangat tertarik untuk memotret Luhan. Tapi tidak ada banyak yang tahu betapa melelahkannya menjadi Nyonya Besar yang manis dengan senyum anggunnya –Ariel pikir pipinya akan kram karena banyak tersenyum saat acara-acara formal seperti itu.

Dan lagi, Luhan sangat sibuk satu bulan terakhir ini. Jangan tanya apa yang dilakukannya hingga harus meninggalkan Ariel hampir tiga minggu lamanya, karena sudah bisa dipastikan sesuatu yang disebut ‘proyek’ lah yang telah merebut waktu Luhan untuk Ariel. Tidak ada tidur bersama, tidak ada sarapan bersama, bahkan Luhan tidak lagi menghubungi Ariel lima terakhir ini.

“Kau belum punya rencana untuk memiliki anak? Kau tahu, mungkin saja dengan tangisan bayi di rumah kalian bisa mengalihkan rasa bosanmu,” Lyn –kenalan Ariel—bersuara, seolah baru saja membaca rasa bosan Ariel yang ditulis besar-besar di keningnya.

Ariel sedikit salah tingkah, kemudian berdehem sedikit untuk mengurangi kegugupannya, “Aku…entahlah, aku masih belum yakin. Tapi sepertinya aku akan mempertimbangkannya,” jawab Ariel dengan jujur.

Lyn buru-buru memutar kepalanya ke arah Ariel yang berjalan di samping kanannya, mengabaikan kamera cantiknya yang sejak tadi lebih mendominasi perhatian Lyn. Mereka –Lyn dan Ariel—tengah berjalan-jalan di Fragrant Hills Park. Yeah, beginilah kegiatan Ariel semenjak ia merasa kesepian karena Luhan yang sibuk di Chengdu dan Shanghai, menjadi traveler dengan menggaet Lyn, seorang traveler juga yang ditemuinya dua minggu lalu.

“Kau benar-benar tengah menunda memiliki momongan? Ayolah Ariel Lau, apalagi yang kau ragukan? Aku rasa Luhan juga akan senang jika kalian punya seorang anak. Luhan pasti sangat menyenangkan di atas ranjang…”

Ariel mendelik risih saat Lyn dengan cueknya membahas hal-hal privasi semacam itu. Ia tidak peduli apakah itu sebenarnya cocok atau tidak untuk dibahas, tapi Ariel tidak terlalu nyaman membahas hal-hal semacam itu. Membuatnya malu dan…entahlah, ia tidak nyaman saja.

Tapi Ariel akhirnya memilih diam dan merapatkan jaketnya. Ia tidak ingin membahas lebih jauh alasannya untuk menunda untuk memiliki momongan. Bukannya ia tidak mau atau tidak siap. Hanya saja…ia khawatir. Salahkan obrolan sialannya dengan Sherly, gadis bermata biru yang menceritakan tentang kekasihnya. Tidak ada yang salah dengan obrolan itu, tapi saat Sherly bercerita tentang kekasihnya yang mengalami bisexual membuat Ariel merinding sendiri.

Menyukai pria dan wanita secara bersamaan. Tidakkah itu benar-benar menyeramkan? Ariel tahu Luhan sangat tulus dan serius untuk sembuh dan mengakhiri semua perasaannya terhadap sesama pria. Tapi jika ia mengingat kembali bagaimana Luhan begitu peduli pada perasaan Yixing tapi disisi lain Luhan juga peduli pada Ariel, membuat Ariel berpikir panjang lagi tentang ‘sisi’ Luhan.

Ariel mendesah panjang. Ia sudah membicarakannya dengan seorang psikiater, dr.Chou. dan menurutnya, kelainan sex itu bisa sembuh karena keinginan kuat si penderita –Fei juga pernah menceritakan ini dulu, dan yang membuat Ariel panik, saat dr.Chou juga mengatakan gejala ini bisa saja kambuh kembali. Karena bagaimanapun, kelainan ini cukup sulit disembuhkan. Dan yang terpikirkan oleh Ariel, adalah membawa Luhan pergi dari Cina. Kemanapun. Asal tidak ada Wufan yang bisa membuat Luhan kembali ‘terangsang’, atau siapapun yang bisa membuat Luhan kembali ke masa lalunya.

Bukannya Ariel tidak percaya Luhan, ataupun Wufan. Hanya saja…atisipasi itu penting bukan? Dr.Chou bilang, salah satu cara untuk menyembuhkan kelainan semacam ini, adalah menjauhkan si penderita dari hal-hal yang berhubungan dengan ‘masa lalunya’.

Dan hal ini lah yang membuat Ariel ingin fokus untuk Luhan sepenuhnya. Ia ingin benar-benar membuat Luhan kembali normal.

 

***

 

“Kau tidak merindukanku, ya?” keluh Ariel sambil memelototi ponselnya dengan jengkel. Luhan tidak menghubunginya –lagi, setelah terakhir pria itu mengirim MMS dimana terdapat foto Luhan yang tengah menyumpit seonggok sayur.

Ariel sangat ingin menghubungi Luhan. Tapi ia benar-benar takut mengganggu pria itu. Ia yakin sekali proyek yang tidak Ariel mengerti itu adalah hal yang sangat penting, jadi ia lebih memilih untuk mencari aman saja –meskipun ia sangsi untuk mengatakan bahwa dengan cara menunggu seperti ini adalah cara aman.

Bagaimana jika Luhan bertemu Wufan di sana? Kemudian mereka kembali berkencan dan…oh, oke berhenti berpikiran buruk. Atau, bagaimana jika ia bertemu dengan teman kencan prianya? Atau ia bertemu gadis yang menggodanya? Dan…baiklah, berhenti menjadi istri dengan tingkat kecurigaan tinggi Ariel Lau.

Ariel menggeleng keras, ia pun kembali melanjutkan praktek membuat eskrimnya. Ini musim dingin, dan jangan tanya kenapa Ariel malah membuat eskrim. Ariel sangat suka eskrim, dan mungkin dengan membuat eskrim sendiri, Ariel tidak perlu keluar rumah untuk membeli banyak makanan favoritnya itu.

 

***

 

Luhan kembali mengangkat tinggi kalung yang baru saja selesai dibuat oleh Stephan Chang. Sebenarnya ia lebih terbiasa memesan perhiasan semacam ini dari Zhang Li Yin, kakak Yixing. Tapi semenjak masalahnya dengan Yixing, Luhan merasa harus cukup tahu diri.

Dan omong-omong soal Stephan Chang, Xiuying lah yang mengenalkannya pada Stephan. Dia sangat terkenal di Cina dan juga Prancis –meskipun Luhan baru kali pertama mendengar nama pria itu. Tapi saat tahu bagaimana keahliannya dalam membuat perhiasan yang bisa dikatakan hanya satu-satunya di dunia karena hanya kau yang memilikinya, Luhan langsung tergiur dan meminta bawahannya untuk mencari tahu dimana ia bisa bertemu dengan Stephan sebulan lalu. Ajaibnya, justru Stephan tengah berada di Shanghai, membuat Luhan tidak sulit untuk menemuinya sebulan lalu.

Dan akhirnya, kalung itu selesai juga. Kalung yang menggambarkan Ariel lewat kerapihan dan kecantikan kalung di tangannya saat ini. Yeah, tidak sia-sia ia menambah beberapa hari lagi waktu perjalanan bisnisnya di Shanghai demi kalung ini. Semuanya terbayar, sisanya ia hanya tinggal menunggu bagaimana reaksi Ariel.

Ah, omong-omong soal Ariel, gadis itu belum menghubunginya sama sekali semenjak beberapa hari lalu. Luhan mendengus panjang, dengan gerakan malas ia pun menarik ponselnya dari dalam saku celananya dan berharap ada nama Ariel di layar ponselnya. Sayangnya, semua itu hanya angan. Ariel sepertinya sama sekali tidak merindukannya.

Luhan mendesis dan kembali menaruh ponselnya, kali ini di atas mejanya. Ia baru saja akan mengumpat jika saja sekretarisnya tidak muncul dengan nampan pesanan mereka berdua. Ya, hanya mereka. Karena satu-satunya penghubung Luhan dengan Stephan hanya gadis yang baru saja mengecat warna rambutnya itu, Xiuying.

“Kau akan bekerja ke kantor dengan warna rambut yang mencolok seperti itu?” tanya Luhan ragu. Sekali lagi ia memperhatikan warna baru rambut Xiuying yang agak kemerah-merahan.

Xiuying tersenyum ragu, “Ayolah Tuan Muda, kau harus memberikanku hadiah. Dan hadiah yang kupinta hanya warna rambut ini,” Xiuying sedikit membujuk Luhan. Dan sedikit membuat Luhan geli. Gadis itu pendiam, sangat sangat pendiam dalam sejarah statusnya sebagai sekretaris Luhan. Dan sejak perjalanan bisnis mereka ke Chengdu 19 hari yang lalu, Xiuying sedikit lebih cerewet, bahkan gadis itu mulai mengajukan permintaan yang aneh –mewarnai rambutnya.

Luhan menggeleng kecil dan tidak menjawab gadis itu. Ia lebih memilih untuk menyendok makanannya, sampai terbesit ide kecil di dalam kepalanya, “Kau bisa antar aku ke salon yang kau datangi kemarin? Aku juga ingin mewarnai rambutku.”

 

***

 

“Ariel sayang, bagaimana jika aku mewarnai rambutku? Mungkin aku bisa terlihat lebih tampan.”

Ariel tidak percaya ia membaca pesan Line Luhan lebih dari tiga kali, tak lupa ia kembali memperhatikan foto Luhan yang ikut di kirim di sana. Gambar Luhan sambil memegang sebuah majalah –atau apalah itu, juga tangan Luhan yang terangkat membentuk huruf V meskipun Luhan tidak menoleh ke arah kamera.

Luhan mau mewarnai rambutnya? Apakah Luhan sedang memiliki waktu luang sampai pria itu sempat-sempatnya datang ke salon bahkan sampai berpikir untuk merubah warna rambutnya? Atau jangan-jangan Luhan sudah selesai dengan pekerjaannya dan…lalu kenapa Luhan tidak pulang saja? Dan bukan pergi ke salon dengan pikiran anehnya –mewarnai rambutnya lagi. Oh, ayolah. Bahkan rambut Luhan masih agak kecoklatan, sekarang Luhan mau mewarnai rambutnya lagi?

Dengan malas, Ariel pun membalas pesan tersebut.

“Tidak ada acara mewarnai rambut. Segera pulang jika kau sudah selesai, Luhan.”

“Kenapa wajahmu ditekuk begitu?” Lyn muncul dengan mata penasarannya, iseng ia mengintip ke arah layar ponsel Ariel yang langsung disembunyikan oleh wanita itu, “Ou, ou. Romantis sekali. Apakah Luhan baru saja mengabarimu?” Lyn langsung duduk berhadapan dengan Ariel dengan kopi pesanannya.

Ariel mendesah pelan, “Kau selalu saja penasaran,” katanya kemudian menutup layar laptopnya. Yeah, ini salah satu bagian pekerjaan terbaru Ariel, menjadi translator di sebuah penerbit.

Lyn mengedipkan sebelah matanya nakal, “Aku jauh lebih penasaran bagaimana rasanya menjadi istri seorang bangsawan. Kudengar kakek Luhan juga bekerja di pemerintahan. Wow, aku tidak bisa bayangkan bagaimana bahagianya keluarga kalian.”

Ariel mengabaikan ucapan Lyn dan menarik cangkir coklat panasnya sambil mengedarkan pandangannya. Kali ini dia mendatangi Taman Chaoyang. Ia harus berterimakasih pada Lyn yang telah mengajaknya untuk menyebrang ke distrik Chaoyang dengan kecantikannya yang tersendiri.

“Kau belum memiliki kekasih?” tanya Ariel iseng. Melihat bagaimana Lyn begitu penasaran soal rumah tangganya, mungkin saja Lyn sudah memiliki kekasih dan berpikir untuk segera menikah dengan kekasihnya.

Lyn sedikit memicingkan matanya mendengar pertanyaan Ariel, “Kenapa tiba-tiba bertanya?”

Ariel mengedikkan bahunya, “Mungkin saja kau berencana untuk menikah dalam waktu dekat ini setelah mendengartentang cerita rumah tanggaku,” Ariel sedikit bergurau, walaupun ia benar-benar berharap agar Lyn bisa segera menikah. Ayolah, pernikahan adalah seuah kebahagiaan, dan Ariel akan sangat senang jika Lyn benar-benar berencana agar segera menikah.

Lyn hanya tersenyum tipis, sedikit misterius. Tapi Ariel tidak memusingkannya dan membelokkan tema obrolan mereka.

 

***

 

Ariel baru saja membereskan semua sampah-sampah di dapurnya. Luhan menghubunginya semalam, dan katanya ia akan sampai di Haidian malam ini. Akhirnya Ariel memutuskan untuk membuat makan malam yang sedikit special. Ya, sedikit baginya, Ariel tidak tahu harus membuat apa untuk membuat Luhan terkesan. Dan akhirnya, makanan ala Italia yang dipelajarinya selama beberapa hari ini lah yang berhasil ia buat.

Ariel kembali melirik jam dinding di ruang tengah sebelum mengembangkan senyum di wajahnya, kemudian ia berjalan dengan dua kantong plastik sampah di tangannya. Baru saja Ariel akan membuka pintu apartemennya, tiba-tiba saja pintu itu terbuka lebar dan menampakkan sosok Luhan dengan senyum dan mata cerahnya.

Ariel hampir tersenyum. Ya, dia benar-benar hampir tersenyum jika saja ia tidak mendapati warna rambut Luhan. Warna putih yang benar-benar mencolok dan…oh, jadi Luhan benar-benar mengganti warna rambutnya menjadi absurd seperti sekarang ini?

“Hei, kau tidak mau memelukku?” tanya Luhan dengana lis terangkat. Luhan sudah melebarkan tangannya, siap menyambut Ariel di pelukannya.

Ariel tidak tahu sejak kapan ia menjatuhkan plastik sampahnya dengan mata yang masih terpaku ke arah Luhan, terutama penampilan pria itu yang bisa dibilang baru, “Kau benar-benar mengganti warna rambutmu?” Ariel mengabaikan pertanyaan Luhan danmenatap kesal ke arah rambut Luhan.

Luhan menurunkan tangannya perlahan, “Kau memberikanku sambutan ketus padaku? Ayolah, ini sudah tiga minggu dan…”

“Aku menyuruhmu untuk tidak mengganti warna rambutmu Luhan.” Ariel berkata datar.

Luhan kini menatap serius ke arah Ariel, mood nya mendadak turun, “Tapi sekretarisku bilang ini bagus…”

“Sekretarismu?”

Luhan mengangguk polos, “Sebenarnya tugasku sudah selesai sejak 5 hari lalu, dan saat dia mengganti warna rambutnya…”

“Kau sudah selesai sejak lima hari lalu?”

Luhan sedikit salah tingkah mendengar perubahan suara Ariel, “Ya…dan aku…”

“Kau lebih mendengarkan sekretarismu daripada aku? Dan kau tidak segera pulang saat pekerjaanmu selesai? Oh, bahkan kau tidak menghubungiku.”

“Bukan begitu Ariel. Ada hal yang harus kulakukan…”

“Aku mengkhawatirkanmu disini dan kau malah bersenang-senang? Bagus sekali, kenapa tidak kau tambah seminggu lagi saja?”

“Hei, kau marah padaku?” Luhan menangkup wajah Ariel. Ini kali pertama Ariel memarahinya seperti ini. Manis dan menyeramkan secara bersamaan.

Ariel menepis tangan Luhan dengan malas, “Cepat mandi, setelah itu kau makan. Itu pun jika kau belum makan. Aku buang sampah dulu,” Ariel pun berjalan melewati Luhan. Membuang sampah, dengan mood yang buruk dan wajah tertekuk sempurna.

 

***

 

Luhan menggaruk kepalanya dengan gusar. Harusnya hari ini adalah hari yang benar-benar menyenangkan. Ia bisa bertemu Ariel, memeluk Ariel dan melakukan hal yang menyenangkan dengan wanitanya. Tapi sialnya, Ariel justru mendiamkannya setelah dia melihat warna baru rambut Luhan. Akh! Ini benar-benar membuatnya frustasi.

Lihat saja, tidak biasanya Ariel berlama-lama duduk di depan layar TV. Entah siapa yang menjadi perhatiannya saat ini, sampai-sampai Ariel tidak bertanya bagaimana kabar Luhan dan semacamnya.

Luhan pun mendekati Ariel, kemudian duduk di samping Ariel. Luhan ingat, terakhir kali Yixing mengingatkannya untuk minta maaf pada Ariel jika dia mulai merajuk seperti sekarang –yeah, akhirnya dia tahu bagaimana cara Ariel merajuk padanya.

Luhan sedikit sakit hati ketika Ariel menggeser posisinya saat Luhan mendekat. Luhan tidak mau kalah, ia pun menggeser duduknya hingga Ariel tidak bisa bergeser kembali, kecuali jika Ariel pergi dari sana.

“Maaf…” Luhan akhirnya bersuara, dan tentunya ia berhasil membuat Ariel melihat ke arahnya, “Aku tidak bermaksud untuk tidak mendengarkanmu. Kurasa rambut ini bagus, jadi…aku mengubah warnanya. Aku akan mengecatnya lagi menjadi hitam, aku janji. Dan soal keterlambatan pulangku…” Luhan pun mengeluarkan kalung yang dinanti-nantinya, “Aku memesan ini dari designer perhiasan yang menurut sekretarisku cukup terkenal. Hanya satu-satunya di dunia, karena aku memesannya secara khusus dan hanya kau yang memilikinya,”

Ariel tidak bersuara, ia terpana dengan kalung yang kini tengah dipasangkan di lehernya. Dan Luhan sempat mencuri kesempatan untuk mengecup leher Ariel setelah selesai memasangkan kalung itu di leher Ariel.

“Hei! Dasar tengil!” Ariel langsung mendorong tubuh Luhan.

Luhan mendesis pelan, tapi ia kembali mengecup Ariel, kali ini di bagian pipi. Dan sayangnya semua itu tidak berlangsung sekali, tapi berkali-kali. Luhan benar-benar berubah menjadi mesum saat Ariel mulai mengenalnya lebih jauh. Selain mesum dan kekanakan, Luhan juga punya kebiasaan aneh seperti menyanyi keras-keras saat mandi, menyanyi keras-keras sebelum tidur, juga memakai topi boneka seperti topi koala, topi rusa, dan masih banyak lagi.

“Aku merindukanmu tahu, sangat. Tapi kau malah tidak menghubungiku duluan,” Luhan mulai berhenti menciumi Ariel dan kini memilih untuk menidurkan kepalanya di pundak Ariel.

Ariel memutar bola matanya, “Lalu kenapa tidak menghubungiku duluan? Kukira kau sedang bekerja, dan aku sama sekali tidak mau mengganggumu.”

Luhan menarik seulas senyum di bibirnya. Oh, istrinya benar-benar manis dan perhatian. Tapi tetap saja, dari semua orang yang pernah berkencan dengannya, hanya Ariel satu-satunya orang yang tidak berinisiatif terlebih dulu untuk menghubunginya –selain harikerja biasa tentunya. Itu pun Ariel hanya mengingatkannya untuk makan dengan benar, minum vitamin, dan semacamnya. Bukannya menanyakan dimana Luhan berada atau sejenisnya.

“Aku ingin mengujimu, tapi sepertinya aku akan selalu gagal jika mengujimu dengan cara begitu,” Luhan pun melingarkan tangannya di pinggang Ariel, kemudian menjatuhkan kepalanya di pundak wanita itu, “Ariel, bagaimana jika kita bulan madu? Kau tahu kan kita belum pernah benar-benar berbulan madu setelah 5 bulan menikah, hmm?” Luhan mendekatkan wajahnya ke arah lekukan leher Ariel, kemudian menghirup aroma tubuh Ariel.

Ariel sedikit bergerak tidak nyaman, tapi ia tidak mengatakan apapun dan hanya menjawab pertanyaan Luhan –atau mungkin ajakan Luhan, “Kita sudah pernah berkeliling Shanghai, juga Guangzhou. Wu Yifan bahkan ada di sana jika kau lupa.”

Luhan menjauhkan tubuhnya dari Ariel, menatap Ariel dengan tatapan tidak setuju, “Dengan atmosfer mengerikan seperti itu kau sebut itu bulan madu?” Luhan pun mendesah dengan berlebihan, “Nenekku menelpon beberapa hari lalu, dia ingin bertemu denganmu. Bagaimana jika kita pergi ke sana? Hmm?”

Ariel memutar kepalanya menatap Luhan. Sedikit menimbang-nimbang ajakan Luhan yang cukup menarik, tapi membuat Ariel sedikit ragu. Ia cukup risih untuk bertemu ibu mertuanya meskipun hubungan mereka –Ariel dan Luhan—sudah direstui sekarang, dan ia tidak terlalu siap untuk bertemu nenek Luhan yang Ariel sendiri tidak tahu bagaimana sifatnya.

Saat acara pernikahannya, bahkan hanya ada sedikit keluarga Luhan yang datang. Ariel tidak curiga, ia lebih fokus pada perasaannya sendiri saat itu. Tapi jika dipikir-pikir lagi, setelah ia tahu ternyata pernikahannya berawal dari bubuhan tanda tangan berbau bisnis, Ariel bisa mengerti kenapa keluarga Luhan tidak datang saat itu.

“Apa Nenekmu akan menyukaiku?”

Luhan tersenyum, “Tidak ada alasan untuk tidak menyukaimu, kok. Nenek pasti akan sangat menyukaimu, aku jamin itu.”

“Tapi, Lu. Aku juga ingin kau bertemu dengan kakak-kakakku di Kanada…”

 

***

20150715

AM1132

also published : http://xiaohyun.wordpress.com

14 responses to “[Sequel of Married with a Gay] Tian Mi Mi (Prolog)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s