Who’s A Daddy? — Five

Previous: — Prologue — OneTwo – Three  Fourwad

Poster by. Cafeposter

Youngieomma’s present

.

.

.

Who’s A Daddy?

F I V E

Evelyn Oh – Sehun Oh – Wu Yifan – Zhang Yixing – Park Chanyeol

PG +18

Para pemeran dalam Fanfic ini hanya dipinjam untuk keperluan cerita.

Ide cerita :

Movie The Back Up Plan dan drama Korea One Mom Three Dads

mommyfangirl.wordpress.com

[Who’s A Daddy?]

Notes.

Hi readers ku tercinta, setelah hiatus cukup lama akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan posting Who’s A Daddy. Btw, terima kasih untuk readers yang udah kirim nama baby buat Evelyn di email ya, masih di tunggu sampe chapter 8^^

Saya membutuhkan nama untuk baby perempuan maupun laki-laki (karena saya belum menentukkan jenis kelamin baby Eve). Boleh nama China, Korea, Europe, Inggris atau Jepang beserta artinya.. Di tunggu paling lambat sampai Chapter 6🙂 di chapter 8 saya akan mengumumkan 5 nama terpilih dan akan di berlakukan sistem Voting. Dua pemenang yang beruntung akan mendapatkan hadiah pulsa 100rb🙂

Ketentuan pengiriman :

Satu account email hanya boleh mengirimkan satu kali, jadi kirim nama terbaik kalian ya guys, tidak di perbolehkan mengirim beberapa nama dalam satu account email. Kirimkan nama buatan kamu ke email saya di b1a4girlfriend@gmail.com dengan subject “baby’s name” ! Di tunggu partisipasinya guys!! ^^v



—Five

25, October

Sudah bukan lagi rahasia bagi Yixing maupun Chanyeol jika teman mereka Wu Yifan menaruh rasa pada si pemilik toko bunga bernama Evelyn. Sudah semenjak lama Yifan menyimpan rapat-rapat apa yang tengah dia rasakan kepada perempuan itu, Yifan dengan sengaja menyediakan duapuluh bunga mawar kuning untuk pelanggan pertamanya di pagi hari hanya supaya dia bisa menemui Evelyn setiap harinya. Yifan selalu berusaha mendengarkan setiap cerita yang di dengarnya dari Evelyn meskipun pikirannya melaju jauh ke Cafe yang terkadang ia tinggalkan kepada para pegawainya untuk sekedar duduk dan mengobrol sambil mengambil bunga mawar di toko bunga tersebut.

Tak dapat dipungkiri bagaimana Yifan sangat terkejut ketika Yixing dengan secara perlahan mengatakan kepadanya bahwa wanita yang dia sukai diam-diam itu kini tengah hamil, mau tak mau Yixing harus menyampaikan berita menyedihkan ini untuk Yifan karena mereka bertiga akan tinggal bersama nantinya. Awalnya, Yifan hanya diam tak merespon ucapan Yixing, hati Chanyeol sudah tak karuan melihat ekspresinya, takut-takut pria itu akan membatalkan penyewaan kamar di rumah Evelyn.

Jujur saja, Chanyeol sangat tidak nyaman tinggal di Cafe milik Yifan. Bukan karena dia dan kedua temannya tersebut harus tidur berhimpitan, tapi karena jauhnya Cafe Yifan dari tempat kerjanya yang baru. Dia jadi membuang waktu di dalam bis dan menguras energinya untuk kerja paruh waktu yang lain. Lagipula, harga sewa di rumah Evelyn tergolong merah di pusat kota seperti ini. Tak akan ada lagi yang menyewakan kamar dengan harga miring seperti itu tanpa tambahan uang air dan listrik.

Yifan tak mengatakan apapun soal penyewaan tersebut sampai hari ini, sepuluh hari setelah Yixing menyampaikan berita tersebut. Yifan bahkan tak menyapa Chanyeol maupun Yixing seolah-olah kehamilan Evelyn disebabkan oleh kedua orang tersebut. Aneh memang, tapi Chanyeol yakin pria itu tengah berpikir, semoga saja keputusannya benar dan tepat. Chanyeol benar-benar sudah tidak betah berada disana.

“Chanyeol,” Panggilan Yixing menyadarkan lamunan Chanyeol yang sedari tadi berada di dalam mobil, memeluk sekeranjang buah-buahan. “Kau mau turun, tidak?” Lanjut Yixing yang sudah berada di luar.

Chanyeol menggaruk kepalanya, melepas sabuk pengaman dan turun dari dalam mobil Yixing. Mereka berada di Rumah Sakit tempat Evelyn di rawat beberapa minggu ini, Yixing bilang gadis itu keluar Rumah Sakit hari ini meskipun keadaannya belum pulih sepenuhnya. Sebenarnya, Chanyeol tidak mengerti mengapa Evelyn harus di rawat, bukankah ibu hamil tidak boleh sembarangan minum obat?.

Ngomong-ngomong, Chanyeol sedang berterima kasih diam-diam ketika akhirnya mereka sampai ke alamat yang tepat setelah empat kali tuan buta arah salah berbelok di persimpangan jalan menuju Rumah Sakit.

“Hai,” Yixing menyapa dengan senyum lebar ketika pintu terbuka dan masuk terlebih dahulu ke dalam sebuah ruangan, Chanyeol mengekor di belakangnya.

Chanyeol hampir saja tidak mengenali siapa yang tengah duduk di atas kasur tersebut jika Yixing tidak menyebut namanya. Evelyn Oh. Perempuan yang beberapa bulan lalu Chanyeol temui adalah perempuan yang cantik dengan rambut kecoklatan dan mata yang bercahaya, tubuhnya indah dan juga mempesona. Kali ini, Chanyeol seperti melihat orang lain, ia sampai berpikir apakah Yixing salah masuk kamar kalau saja Evelyn tidak menyambut sapaan Yixing.

Evelyn memakai pakaian terusan di atas lutut berwarna merah muda dengan kardigan putih rajutan sedada. Wajahnya terlihat sangat tirus dan tubuhnya sangat kurus, wajahnya tidak lagi segar dan matanya terlihat sangat lelah.

Apakah hamil sebegitu menyiksanya?

“Ah, kau sudah datang?” Ujarnya dengan senyum, kemudian memberi hormat dengan membungkuk sedikit ketika melihat Chanyeol datang di belakang Yixing. “Oh, bukankah anda Park Chanyeol?” Tanya Evelyn kemudian.

Chanyeol dengan kaku mengangguk dan tersenyum sambil menyerahkan sekeranjang buah pada Evelyn, dia masih cukup terkejut melihat perubahan drastis pada diri Evelyn.

“Bagaimana keadaanmu? Maafkan aku tiga hari ini tidak dapat mengunjungimu,” Ucap Yixing, duduk di kursi sebelah kasur Evelyn.

“Jauh lebih baik, mungkin karena akhir bulan ini kehamilanku masuk trimester kedua, kuharap tak ada lagi selang infus di tubuhku.”

Yixing dan Evelyn tersenyum bersamaan.

Chanyeol merasakan atmosfer hangat dari keduanya, sejak kapan mereka jadi dekat?

Dia duduk di samping Yixing dan mendengarkan obrolan keduanya yang cukup lama, untung saja hari ini Chanyeol memiliki jadwal libur dari semua kerjaan paruh waktunya. Dia ingin tidur seharian, hanya saja dia sedang tidak ingin berduaan dengan Yifan yang cemberut sepanjang hari seperti anak kecil yang tidak di belikan eskrim oleh ibunya.

Chanyeol bisa mendengar Evelyn bertanya perihal kepindahan dan penyewaan kamar di rumahnya, Yixing menjawab dia harus menunggu keputusan Yifan karena tanpa Yifan kami bertiga tak akan pindah. Kemudian Evelyn bertanya apa yang terjadi sampai-sampai kami bertiga terusir dari Apartement. Yixing menceritakannya.

Dan, Chanyeol bertaruh Zhang Yixing setengah hati menceritakannya.

Siapa yang sudi mengingat lagi kesialan yang menimpa mereka akibat menerima Huang Zitao di Apartement, si bangsat kecil yang kini tak tahu dimana rimbanya itu memang pembawa musibah. Wajar saja bibi Yifan tak sanggup mengurusinya. Chanyeol jadi menggerutu di dalam hati karena mendengar Yixing menjelaskan pada Evelyn mengapa mereka kehilangan Apartement.

“Wah, kurasa orang itu bukan teman kalian. Sudah melapor polisi?” Tanya Evelyn.

“Kami tidak bisa melaporkannya, dia masih sepupu Yifan.” Jawab Yixing, Evelyn mengangguk.

“Sayang sekali kalian harus kehilangan uang dan tempat tinggal seperti ini, harga Apartement di daerah sini sangat mahal jika kalian menyewa yang baru. Kuharap Yifan segera memberikan keputusannya kepada kalian, lagipula aku jadi tidak sendirian di rumah.”

Yixing dan Chanyeol mengamini.

“Suamimu tidak berada disini?” Pertanyaan singkat Chanyeol membuat Evelyn dan Yixing hampir menoleh bersamaan.

Yixing menendang kaki Chanyeol sambil menunduk dan menggaruk tengkuknya, sedangkan Chanyeol tidak mengerti salahnya dimana dengan pertanyaan tersebut. Bukankah orang yang hamil pasti memiliki seorang pria di sampingnya? Evelyn Oh itu tidak membelah diri kan?

“A-aku belum menikah,” Evelyn berkata dengan kaku setelah cukup terkejut mendengar Chanyeol bertanya dengan tak acuh padanya mengenai ‘suami’nya.

“Ah, kalau begitu kalian masih pacaran?”

Yixing semakin melotot, kembali menyenggol kaki Chanyeol yang tak sadar dengan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari bibirnya sendiri. Evelyn hanya tersenyum, berharap dia tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut. Namun, tatapan mata Chanyeol seolah menunggu dan penasaran.

“Tidak, kami tidak berpacaran.”

Kini, Chanyeol dan Yixing melotot bersamaan mendengar jawaban Evelyn. Namun, tak ada lagi pertanyaan yang keluar dari bibir Chanyeol. Setelah mengobrol hal lain untuk mencairkan suasana, akhirnya Yixing mengantar Evelyn kembali ke rumah, sekaligus keduanya ingin melihat kamar yang akan disewakan. Semenjak masuk ke rumah besar milik Evelyn, Chanyeol sudah sangat jatuh cinta.

Sudah lama baginya melihat pekarangan rumah lebar dengan rumput hijau dan bunga-bunga segar di dalam pot, begitu masuk ke dalam rumah tersebut Chanyeol merasakan kenyamanan, ini sudah benar-benar sangat lama baginya tidak merasakan ‘hawa’ rumah yang sebenarnya. Tentu saja Apartement juga rumah, hanya saja perbedaannya terlalu jauh. Rumah Evelyn sangat luas, kamar mandi di masing-masing kamar, dapur, pekarangan depan, backyard untuk bersantai dan juga ruang membaca serta ruang musik besar milik adiknya membuat Chanyeol ingin segera pindah ke tempat ini sekarang juga.

“Kau yakin tak menerima uang air dan listrik dari kami?” Tanya Yixing ketika menyadari seberapa besar rumah tersebut. Dia bertanya sambil duduk di sofa yang berada tepat di depan Evelyn yang masih terduduk di kursi rodanya.

“Aku tidak perlu uang listrik dan air, aku hanya perlu seseorang pindah ke rumah ini secepatnya. Aku tidak ingin merasa sendirian,” Keluh Evelyn. Yixing mengangguk, kemudian membantu Evelyn yang berusaha bangun dari kursi rodanya dan pindah ke sofa.

Sudah lebih dari seminggu ia berada di Rumah Sakit, berada di rumahnya sendiri membuatnya jadi jauh lebih baik. Yixing mulai bertanya dan mengajak Evelyn mengobrol tentang bagaimana sistem yang ingin ia terapkan jika mereka jadi pindah ke rumah tersebut. Tak ada yang istimewa, Evelyn hanya ingin mereka membantu membereskan rumah dan menyiram tanaman karena tubuhnya yang masih belum terlalu stabil keadaannya.

“Kurasa aku akan baik-baik saja setelah melewati usia kehamilan empat bulan, kuharap tak ada lagi makanan yang keluar dari mulutku agar bisa melakukan pekerjaanku yang biasanya.” Ujar Evelyn.

Yixing mengamini, bisa gawat jika dia dan kedua temannya harus di repotkan oleh Evelyn.

“Bagaimana? Kau suka kamarnya?” Tanya Evelyn membuat Yixing menoleh dan mendapati Chanyeol tersenyum lebar dari telinga kanan ke telinga kiri. Lebar sekali.

“Kau yakin adikmu tak akan marah jika aku menempati kamarnya?” Tanya balik Chanyeol.

“Ya, kami mempunyai empat kamar. Tiga di atas dan satu di bawah, selama kehamilanku, aku dilarang naik turun tangga sesering mungkin. Jadi, kalian bertiga bisa mengambil kamar yang di atas.”

“Ge, sudah memutuskan kamar mana yang akan kau tempati?” Tanya Chanyeol pada Yixing yang menatapnya penuh telisik.

Pemuda itu pasti sangat bersemangat mendapatkan kamarnya sendiri dengan kamar mandi di dalam dan menemukan ruang musik besar kesukaannya di dalam rumah ini. Pikir Yixing diam-diam ketika mengamati mata berbinar Chanyeol menatapnya.

“Kudengar Yixing seorang Composer?”

“Wah, bagaimana kau tahu?” Chanyeol bertanya dengan nada cukup terkejut pada Evelyn.

“Yixing memberitahuku,” Ucap Evelyn, Chanyeol dengan mata melotot menatap horror ke arah Yixing yang memberitahukan dengan mudah seseorang mengenai pekerjaannya. Ini pertama kalinya.

Ketiganya kembali mengobrol mengenai kamar-kamar yang di sewakan dan entah apalagi karena tiba-tiba Chanyeol ikut andil dalam obrolan dengan nada penuh semangat dan bersahabat membuat Yixing lupa bahwa sebenarnya itulah sifat asli Chanyeol yang selama ini hilang karena hutang yang melilitnya. Dia menjadi serius dan terkesan acuh.

“Kurasa kami akan mengakhiri obrolannya sampai sini, kulihat kau sudah lelah.” Yixing memotong ucapan Chanyeol yang masih asik bercerita mengenai musik kesukaannya pada Evelyn.

“Ah, aku baik-baik saja.”

“Tidak, kami harus melaporkan hal ini juga pada Yifan. Mengenai kamar dan juga lokasinya,” Lanjut Yixing.

Evelyn mengangguk dan bangun dari duduknya.

“Terima kasih sudah mengantarku,” Ucapnya, Yixing mengangguk dan mengundurkan diri dengan sopan di ikuti Chanyeol yang sempat melambai dengan gembira pada Evelyn sebelum masuk ke dalam mobil dan pergi pulang bersama Yixing.

“Kupikir kau sudah sangat dekat dengan Noona itu, kau bahkan sudah memberitahunya pekerjaanmu.” Chanyeol membuka pembicaraan di dalam mobil.

“Dia harus tahu pekerjaanku, dia kan pemillik tempat yang akan kusewa.” Jawab Yixing.

“Hm, kupikir karena selama ini kau terus menemaninya.”

Hening kemudian setelah pernyataan Chanyeol yang membuat Yixing risih. Ia memang tidak pernah memberitahukan siapapun mengenai pekerjaannya, bahkan Tao mengetahui hal itu baru-baru ini. Yixing tidak suka seseorang tahu pekerjaannya, dia tidak ingin seseorang mulai membicarakan musik atau apapun yang menyangkut pekerjaannya. Dia ingin terhindar hal-hal macam itu di luar perusahaanya.

Namun entah mengapa dia memberitahu Evelyn tentang pekerjaannya bahkan tanpa perempuan itu tanya.

.

.

.

Yifan tengah menghancurkan biji kopi ketika salah satu pegawai memanggil namanya dengan cukup keras, dia terkejut dan menoleh. Pegawai tersebut menunjuk kepada mesin yang masih menggiling bahkan ketika biji-biji tersebut sudah sangat hancur, biasanya Yifan tidak pernah menggiling biji kopi sampai sehalus itu untuk memberikan sensasi yang berbeda. Jadi, hal itu membingungkan para pegawainya, terutama karena dia berkali-kali hilang fokus ketika melayani para pelanggan.

Pikirannya masih melayang jauh ketika Yixing memberitahunya mengenai kehamilan Evelyn, jujur dia hampir tidak bisa bernapas saat satu persatu kata HAMIL di selesaikan Yixing. Selama ini dia dan Evelyn cukup bersahabat dan keduanya sering mengobrol sampai larut malam, entah di salah satu aplikasi chat maupun di toko bunga miliknya.

Bagaimana mungkin perempuan itu hamil?

Siapa yang menghamilinya?

Dia tidak mungkin memiliki pria lain karena selama ini tak ada pembahasan mengenai hal itu dengannya. Lalu, kenapa Evelyn hamil?

Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu selain Evelyn sendiri dan berarti Yifan harus bertanya pada perempuan itu untuk menghilangkan rasa haus dari keingintahuannya. Tapi, alasan apa yang bisa membuat pertanyaan itu terdengar wajar keluar dari bibirnya yang notabene bukan siapa-siapa Evelyn.

Frustasi.

Dia merasa benar-benar frustasi karena keingintahuannya. Yifan sampai merasa kesal tiap kali melihat wajah Yixing, padahal bukan salah pria itu hingga akhirnya Evelyn Oh hamil. Entah pria mana yang masuk ke dalam kehidupannya hingga membuatnya terbaring selama berminggu-minggu di Rumah Sakit akibat kehamilan tersebut.

Mendidih.

Darah Yifan terasa mendidih jika menduga-duga siapa pria yang sudah menghamili perempuan yang dia cinta diam-diam selama ini.

“Sialan.”

Dia menggerutu lagi di balik meja kasir, memaki dengan suara kecil. Para pegawai melirik lagi dan lagi kepadanya, namun Yifan tak peduli. Hatinya sedang tidak merasa baik. Pikirannya sedang berkecamuk karena harus memutuskan apakah harus menyewa kamar di rumah Evelyn atau tetap berada disini.

Menghela napas, Yifan memanggil salah satu pegawai untuk menggantikannya di kasir. Dia berjalan menuju kantornya sendiri di lantai atas. Mungkin berpikir disana sendirian jauh lebih baik dan bijaksana.

Jika di pikir-pikir, tinggal di Cafenya tidak seburuk yang dia pikirkan. Toh disini juga ada kamar mandi dan kasur lipat, meskipun pembayaran listrik Cafe kini cukup membengkak akibat pemakaian Yixing jika pria itu harus menyelesaikan idenya yang datang tanpa permisi.

Namun, egois baginya jika harus bertahan disini. Karena dia tahu dua tempat kerja paruh waktu Chanyeol yang baru cukup jauh di tempuh dari Cafenya, pemuda itu harus turun sekitar dua halte untuk sampai ke tempat kerjanya. Sedangkan jika dari depan rumah Evelyn, Chanyeol tak perlu turun halte karena ada bus yang langsung sampai ke tempatnya bekerja.

Dilema.

Mungkin kata itu cocok untuk apa yang tengah di alami Yifan. Di sisi lain dia harus memikirkan bagaimana pentingnya menyewa rumah yang benar-benar bisa di pakai beristirahat dan bekerja untuk kedua sahabatnya, di sisi satunya, dia harus berperang dengan perasaannya sendiri jika di haruskan tinggal bersama Evelyn, hatinya masih belum siap kalau-kalau pria yang menghamilinya datang dan tinggal bersama mereka.

“Mungkin aku akan bunuh diri jika itu terjadi,” bisik Yifan. Menghela napas dan kembali menerawang.

Ketukan di pintu mengejutkan Yifan, dia bisa melihat sosok Yixing dan Chanyeol di balik kaca tembus pandang pintu kantornya.

“Kami kembali,” Chanyeol bersuara lebih dulu, meskipun wajahnya terkesan biasa saja, namun Yifan bisa menangkap nada bahagia dari kalimat yang baru saja dia lontarkan.

Apakah dia benar-benar rmenyukai rumah Evelyn?

“Kalian sudah melihatnya?” Yifan bertanya, membuat Chanyeol dan Yixing kini menoleh dan mengangguk dengan spontan.

Tak ada obrolan lagi, hingga jantung Chanyeol dan Yixing kini beradu kecepatan di dalam rongga masing-masing. Yifan berdehem, Chanyeol serta Yixing tegang seketika. Mereka tahu, Yifan sudah memiliki keputusan di kepalanya dan sebentar lagi mereka akan mengetahuinya. Apakah mereka akan tetap tinggal di Cafe sampai Tao di temukan atau Yifan akan memaksa memakai uangnya untuk deposit baru sebuah Apartement.

“Kalian menyukainya?”

“Apa?” Tanya Yixing dan Chanyeol berbarengan,

Yifan melirik.

“A-ah, maksudmu kamar di rumah Evelyn?” Chanyeol berkata, menggeser bokongnya, mencari tempat nyaman untuk duduk di sofa mewah nan empuk milik Yifan.

“Aku menyukainya,” Jawab Yixing. “Evelyn mempunyai ruang musik besar di rumahnya, aku sangat menyukainya.”

Chanyeol melirik penuh keterkejutan mendengar jawaban Yixing, mungkin pria itu sudah putus asa kalau-kalau Yifan membuat keputusan yang bertolak belakang dengan keinginannya. Chanyeol memperhatikan ekspresi Yifan di balik kacamata bulat pria itu.

“Ada berapa kamar yang ia sewakan?”

“Tiga kamar di lantai atas,” Jawab Chanyeol, cepat.

“Ada peraturan yang ia terapkan?” Tanya Yifan lagi.

“Tidak ada, Evelyn hanya ingin kita membantunya menyiram bunga dan merawat rumah,” Kini giliran Yixing yang menjawab dengan cepat penuh semangat.

Yifan menelan ludahnya begitu melihat mata kedua sahabatnya, antusiasme tinggi menanti keputusannya. Dia menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan, berharap keputusannya adalah yang terbaik.

“Aku tahu kalian menunggu keputusan dariku, persahabatan kita terjalin sudah hampir lebih dari 10 tahun. Kita pernah berselisih paham dan berkelahi, namun yang kita sama-sama tahu semua kejadian itu jadi jauh lebih membuat kita saling bersahabat. Kejadian memalukan seperti ini terjadi karena ulah sepupuku dan aku bersyukur kalian tidak melaporkan anak itu ke polisi.”

Chanyeol dan Yixing hampir-hampir lupa cara bernapas mendengar ceramah panjang milik Yifan. Mereka memiliki firasat yang buruk ketika pria itu membawa-bawa berapa tahun persahabatan mereka.

“Dan, seperti kalian tahu, sudah sejak lama aku menyukai Evelyn Oh. Aku tahu, pasti sangat sulit bagi Yixing untuk memberitahukan tentang–ke–hamilannya–“ Ucap Yifan.

Ada rasa nyeri di hatinya ketika kata itu terucap.

“Aku tahu kalian sangat membutuhkan tempat yang nyaman untuk beristirahat dan bekerja, aku tahu dua tempat kerja paruh waktu Chanyeol yang baru lebih jauh dari Cafeku dan lebih dekat jika pergi dari rumah Evelyn. Begitupun dengan Yixing yang terkadang harus mengerjakan musiknya lebih dari 24 jam dalam seminggu.” Yifan menggantung kalimatnya, menatap kedua sahabatnya, “jadi, kurasa, kali ini aku akan mengalah dan ikut bersama kalian menyewa kamar di rumah Evelyn.”

Chanyeol dan Yixing memandang Yifan dengan tatapan kosong. Ada jeda untuk otak mereka mencerna ucapan-ucapan Yifan yang panjang sebelum sampai kepada kesimpulannya, refleks, kedua pemuda itu berteriak kegirangan dan berlari menjitak kepala Yifan.

“YA! Hentikan!!” Pekik Yifan.

“Wah, Wu Yifan! Kau benar-benar hampir membuat jantungku berhenti berdetak!” Ujar Chanyeol, terduduk di lantai samping kaki Yifan. Kedua kakinya lemas akibat merasa tegang selama ceramah panjang yang di lontarkan Yifan.

“Kupikir kau akan menolak untuk pindah kesana! Aku hampir ingin menangis!” Yixing memekik, memeluk leher Yifan kencang-kencang.

Yifan hanya menghela napas.

Sebenarnya, dia ingin egois. Membatalkan untuk menyewa kamar di rumah Evelyn dan ingin berbuat nekat dengan mengeluarkan uangnya sendiri untuk sebuah Apartement baru, hanya saja begitu melihat bagaimana berbinarnya wajah Chanyeol setelah kembali, dia rasa tempat itu sangat membuatnya jatuh cinta. Sudah lama baginya tidak melihat Chanyeol bersemangat seperti itu sejak terlilit hutang, mungkin jika pindah kesana, dia bisa melihat sahabatnya yang dulu kembali lagi.

Dia tidak ingin mengecewakan Yixing yang sudah bersusah payah mencari dan juga menemani Evelyn selama ini untuk dapat tinggal disana dan juga diam-diam Yifan berterima kasih karena kedua sahabatnya masih mengaggap pendapatnya penting setelah sepupunya membuat mereka jadi gelandangan.

“Jadi, kapan rencana kalian pindah ke rumah Evelyn?”

“Besok,” Jawab Yixing dan Chanyeol serempak membuat Yifan terkejut. Kedua pemuda itu kemudian berdiri dari duduknya dan mulai membereskan barang mereka masing-masing.

.

.

.

Evelyn menatap ruang tamunya ketika Chanyeol dan Yixing sudah beranjak pergi dari kediamannya, tak ada suara lain selain suara napasnya sendiri. Rumah terasa sepi dan dingin. Padahal sebelum kepergian Sehun, rumah tetap seperti ini, tak ada yang berubah. Lalu, mengapa ia merasa sangat kesepian?

Perubahan emosinya akhir-akhir ini memang sangat menakjubkan, ia jauh lebih sensitif dari biasanya, entah itu menyangkut perasaan maupun indera penciumannya. Meskipun ingin menyerah, namun kedua janin di rahimnya selalu memiliki alasan yang membuatnya jatuh hati semakin dalam. Dokter Gong berkata bahwa kehamilan kembar memang sangat menyiksa, karena segalanya jadi dua kali lebih berat di banding kehamilan biasa.

Evelyn mengelus lembut perutnya yang sudah terlihat agak buncit.

Kehamilannya memasuki usia empat bulan, dia tak sabar untuk merasakan tendangan di dinding rahimnya seperti yang di katakan Dokter. Tiba-tiba airmatanya menetes, ia benar-benar merindukan hal itu. Ketika ia pada akhirnya di lamar oleh Luhan dulu, Evelyn bahagia setengah mati, ia sudah bermimpi bagaimana kehidupan rumah tangganya bersama sang kekasih dan juga membayangkan akan secantik dan setampan apa bayinya dengan Luhan. Namun, Luhan berkata padanya bahwa dia tak menginginkan seorang anak.

Kekasihnya tersebut berkata bahwa dia tak ingin di sibukkan oleh anak dan ingin hidup berdua saja dengan Evelyn. Terlebih lagi Luhan menyinggung masalah keluarga Evelyn, pria itu takut Evelyn tidak sanggup mengurus anak karena bagaimanapun bagi Luhan, perempuan itu terlahir dari keluarga berantakan.

“Kau tidak akan bisa mengurus bayimu sendiri, karena kau juga tidak tahu bagaimana memberi kasih sayang. Ayahmu tidak memberikan kasih sayangnya padamu, kan?”

Kata-kata menyakitkan yang Luhan lontarkan terngiang kembali di telinga Evelyn, ia rela membatalkan pernikahannya dan meninggalkan Luhan. Hatinya terasa sakit dan harga dirinya terluka, ia dan Sehun mungkin tidak merasakan kasih sayang seorang ayah, namun, ibunya sudah lebih dari cukup. Sosok wanita yang membesarkannya dan Sehun jauh lebih berharga di banding ayahnya.

Maka dari itu, dengan sedikit keegoisan Evelyn mulai merencanakan Inseminasi. Ia ingin memiliki seorang anak tanpa seorang suami, ia yakin bisa membesarkan anaknya dengan sangat baik. Berharap semua orang paham, bahwa menjadi Single Parents bukanlah hal memalukan dan anak-anak yang di asuh oleh satu orangtua tidaklah berbeda dengan anak-anak yang di besarkan dengan orangtua utuh.

Evelyn mengelus kembali perutnya dengan lembut, merasakan kehidupan yang tengah berkembang di dalam rahimnya. Airmatanya tak berhenti menetes. Bagaimanapun, ia akan berusaha membahagiakan kedua anaknya, ia akan berusaha menjadi yang terbaik untuk bayinya. Tak akan ada yang bisa membuatnya lebih bahagia selain bayinya sendiri.

Suara dering ponsel mengejutkan Evelyn, ia sudah bisa menebak siapa yang meneleponnya.

“Eve? Kau sudah keluar dari Rumah Sakit? Si Composer itu jadi mengantarmu?” Sehun langsung bertanya tanpa basa-basi ketika telepon menyambung, namun, tak ada jawaban. Hanya ada isakan dari seberang sana.

Keningnya berkerut.

“Hei, sesuatu terjadi?” Tanya Sehun kemudian, hatinya terasa teriris mendengar isakan Evelyn.

“Tidak ada yang terjadi,” Jawab Evelyn di tengah isakannya.

“Lalu, mengapa kau menangis?” Sehun menyandarkan tubuh kakunya ke tembok dingin di ruangan istirahat para Dokter, hari ini ada kecelakaan parah yang melibatkan truk pengangkut anjing liar. Anjing-anjing itu mengalami luka cukup parah, beberapa ada yang mati di tempat dan semua kekacauan itu cukup menyita waktu Sehun sepanjang hari.

Evelyn tidak langsung menjawab pertanyaan Sehun, ia masih terisak di ujung telepon. Mencoba menghentikan airmatanya yang terus mengalir. Tak ada pertanyaan lagi yang keluar dari bibir mungil Oh Sehun, telinganya masih mendengarkan kakak kesayangannya. Ini bukan kali pertama Sehun di suguhkan isakan ketika menelepon Evelyn, sepuluh hari lalu kakak perempuannya itu juga menangis setelah mengetahui anak yang di kandungnya berjumlah dua.

Kembar.

Ia terharu karena bahagia, keluhannya yang selama ini Sehun dengar, lenyap seketika. Ada nada bahagia dan semangat baru dari suaranya. Sehun senang namun juga khawatir, bagaimana keadaan kakak perempuannya disana seorang diri dengan dua bayi membuatnya tak tenang.

Namun, seperti bisa membaca pikirannya, Evelyn menenangkan Sehun. Perempuan itu berkata ia tak akan pelit mengeluarkan uang untuk menyewa seorang Baby Sitter untuk membantunya mengurus kedua bayinya, ada perasaan lega setelah Sehun mendengarnya, tapi masih terselip rasa was-was karena perubahan emosi kakaknya selama kehamilan.

Sehun pernah menelepon Dokter Gong dan berbicara mengenai keadaan Evelyn, dia takut kakak perempuannya tersebut terserang syndrome BabyBlues terlebih lagi di kehamilan pertamanya ia mendapat dua bayi sekaligus. Tapi, Dokter Gong berjanji untuk terus memantau kondisi Evelyn bahkan setelah ia melahirkan.

Sehun bersyukur dia dan Evelyn di kelilingi orang-orang baik yang menjaga keduanya meskipun jarak memisahkan.

“–Hun? Sehun-ah?”

Suara Evelyn mengaburkan lamunan Sehun, kakaknya telah berhasil mengendalikan dirinya. Tangisnya telah berhenti.

“Apalagi sekarang? Anakmu menjadi tiga atau bagaimana sehingga kau menangis tersedu?” Tanya Sehun, kemudian dia bisa mendengar Evelyn terkekeh geli.

“Kau merasa menyesal?” Lanjut Sehun, hening kemudian. Evelyn tidak menjawab untuk beberapa saat.

“Mungkin aku terlalu gegabah ketika pertama kali menginginkan bayi ini lewat jalur Inseminasi, hamil jauh lebih menyiksa di banding dugaanku. Ya, seperti yang kau tahu aku hampir menyerah dan perasaan menyesal itu pernah mampir di hatiku. Tapi, ketika mengetahui aku akan mendapatkan dua bayi sekaligus ada perasaan bahagia yang tiba-tiba meluap dan saat pertama kali mendengar detak jantung sehat kedua janinku aku merasa diberkati. Di luar sana, banyak pasangan menikah yang menginginkan seorang anak selama bertahun-tahun. Lalu, mengapa aku harus merasa menyesal?”

Sehun tersenyum kecil mendengar ucapan panjang lebar Evelyn.

“Sehun-ah, aku bahagia, sangat bahagia. Meskipun kehamilan ini sangat berat, aku yakin sanggup melewatinya. Aku akan makan lebih banyak dari apa yang ku muntahkan, aku akan meminum semua vitamin dari Dokter dan berusaha lebih kuat demi kedua bayiku. Menurutmu, aku bisa menjalaninya kan?”

“Tentu saja, kau sanggup bekerja siang dan malam demi menjadikanku seorang dokter, adikmu. Bagaimana mungkin kau tidak bisa menjalani kehamilan sampai kelahiran serta membesarkan anakmu sendiri? Kau bisa. Kau ‘kan Evelyn Oh, perempuan paling mandiri dan kuat di keluarga Oh setelah ibu.”

Kedua kakak adik itu tersenyum.

Kata-kata Sehun menguatkan Evelyn, perasaannya sampai kepada adiknya. Bagaimanapun, tak ada lagi yang bisa menjadi sandarannya selain satu sama lain. Keduanya tak akan terpisahkan, mereka akan lebih kuat dengan tambahan dua bayi Evelyn.

[Who’s A Daddy?]

 

Evelyn terbangun dengan perut mual seperti biasa di pagi hari, sambil berusaha menahan muntah yang hampir keluar dari mulutnya ia berjalan tertatih menuju kamar mandi kemudian mengeluarkan isi makanan yang sempat ia makan semalam sebelum tidur sehabis menangis dan bercerita dengan Sehun di telepon. Ia memesan Pizza, Chicken dan juga semangkok Jjangmyeon untuk mengisi perutnya sebelum tidur, dan pagi ini itu semua keluar menjadi cairan menjijikan dan bau.

Dengan perlahan, ia membuka bajunya, bersiap mandi agar tubuhnya jauh lebih segar. Evelyn membuka kotak berisi Bath Powder Aromatheraphy kesukaannya, ia memilih aroma citrus, karena itu satu-satunya yang bisa di terima kedua bayinya dengan mulus masuk ke indera penciumannya tanpa membuat ia mual. Evelyn mulai mengisi air ke dalam bath tub dan berendam, merasakan sensasi menggelitik karena ini kali pertama dalam empat bulan kehamilannya ia bisa santai barang sebentar.

Setelah hampir lima belas menit berendam, Evelyn menyelesaikan mandinya. Mengeringkan rambut dan memakai lipblam, ia memilih baju terusan selutut berwarna putih bercorak bunga orange kecil di bagian dadanya, perutnya tidak terlalu tampak ketika mengenakan baju seperti ini. Ia keluar dari rumah dan mendengar bel berbunyi, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan Evelyn menebak pasti Maid yang biasa membereskan rumahnyalah yang datang.

Ia membuka pintu dan terkejut ketika mendapati Yifan berdiri di hadapannya.

“Selamat pagi,” Jawab pria itu, dengan senyum kecil. Menatap Evelyn dengan canggung.

“K-kris?”

“Kami pindah kemari hari ini!!” Pekik Chanyeol dan Yixing yang mendadak muncul di balik punggung Yifan, Evelyn terkejut melihatnya.

“Kalian pindah hari ini?” Tanya Evelyn.

“Kenapa? Kami tidak bisa pindah hari ini, Noona?” Chanyeol bertanya balik, alih-alih menjawab pertanyaan Evelyn.

“Noona?”

Panggilan Chanyeol jauh lebih mengejutkannya.

“Bukannya kau lebih tua dariku? Mulai sekarang kita akan tinggal satu rumah, jadi mulai hari ini aku akan memanggilmu Noona!”

Yifan menjitak kepala Chanyeol, pemuda itu terlihat kesakitan, Yixing hanya tertawa melihatnya.

“Kau terkejut?” Yifan bertanya.

Evelyn terdiam sebentar, kemudian tertawa dan mengangguk kecil. Mempersilahkan ketiga pria tersebut masuk ke dalam, Chanyeol berlari ke atas dengan menarik Yifan untuk memamerkan kamar-kamar milik Evelyn.

“Maaf, Chanyeol sedang sangat bersemangat hari ini. Dia senang Yifan akhirnya mengizinkan kami tinggal disini.” Yixing memberikan penjelasan pada Evelyn yang menatap Yifan yang di seret paksa oleh Chanyeol menuju lantai atas.

Evelyn tersenyum kecil pada Yixing.

“Kupikir kalian tak akan mendapat izinnya untuk menyewa tempat disini,”

Yixing tersenyum dan mengangguk kecil, mengamini ucapan Evelyn. Dia juga terkejut karena Yifan akhirnya meluluhkan rasa egois dan sakitnya untuk tinggal satu atap bersama Evelyn yang kini tengah hamil.

“Apakah kau baru saja mandi?” Tanya Yixing kemudian, ia mencium aroma citrus dari Evelyn.

Evelyn dengan malu-malu mengangguk kecil.

“Aku tidak bisa santai di Rumah Sakit, jadi kupikir tadi pagi waktu yang tepat untukku mandi dan membuat diriku santai sebentar. Beruntung, malaikat kecilku tidak protes dengan aromanya.”

“Kurasa karena aromanya segar sehingga kau tidak merasakan mual,”

“Terima kasih sudah mengerti diriku hanya dalam satu bulan lebih,” Ujar Evelyn yang di sambut senyum manis dengan lesung pipi oleh Yixing.

Chanyeol berlari dari lantai atas dan turun menyambut para petugas pemindahan barang, Evelyn terkejut ketika melihat ada dua mobil box cukup besar berhenti di garasinya, kardus-kardus berukuran besar, sedang hingga kecil terlihat banyak memenuhi isi mobil. Yifan hanya tersenyum kecil ketika melihat raut wajah terkejut Evelyn, mereka membereskannya dan membuka kardus-kardus tersebut. Menata barang-barang di kamar masing-masing, beruntung Maid yang sering datang ke Rumah Evelyn datang tepat waktu hingga bisa membantu.

Evelyn bisa melihat ketiga pria tersebut memiliki kepribadian berbeda dari barang-barang yang mereka miliki, keduanya juga memiliki selera berpakaian berbeda. Jika isi kardus pakaian Chanyeol berisi kaos yang di dominasi warna hitam dan abu-abu, isi koper dan kardus milik Yifan di dominasi pakaian kemeja lengan panjang berwarna pastel dan juga celana katun untuk bekerja, ada beberapa celana jeans panjang. Sedangkan pakaian Yixing lebih banyak di dominasi oleh Sleeveless berwarna putih dan juga celana pendek selutut.

Sepatu, barang, dan cara mereka menata kamar masing-masing, semuanya sangat berbeda. Evelyn jadi bertanya-tanya bagaimana mereka bisa bersahabat dan hidup bersama selama sepuluh tahun lebih.

Namun, ada kesamaan dari ketiganya. Mereka masing-masing membawa sesuatu yang berhubungan dengan alat musik yang mereka mainkan atau sukai. Yifan membawa Bass berwarna biru tua dengan corak naga di bagian atasnya, Chanyeol membawa beberapa stik drum yang ia ikat bersama-sama dan di masukkan ke dalam tempat kulit khusus, sedangkan Yixing membawa beberapa pack kertas. Mungkin, untuk menulis lagu.

Dan, Evelyn yakin itulah yang membuat mereka akrab sampai selama ini.

Sepanjang hari mereka sibuk di atas sedangkan Evelyn diam di bawah, duduk santai di backyard sambil membaca buku dan memakan buah musiman yang di kupas oleh Maidnya. Ia minum air mineral dengan mulus, dan ketika ia berdiri untuk kembali ke kamar, ia kembali muntah begitu banyak di kamar mandi. Namun, ia tak gentar, ia meminta paman Jung membawakan bubur. Ia habiskan semangkuk penuh bubur dan tertidur, pukul 4 sore Yifan, Yixing dan Chanyeol bisa mendengar dengan jelas suara Evelyn memuntahkan kembali makanannya.

“Kurasa dia sangat tersiksa,” Chanyeol membuka pembicaraan, dia tengah membantu Yifan membereskan baju setelah kamarnya sendiri rapi.

“Apa semua orang hamil sepertinya?” Tanya Yixing setengah berbisik, melanjutkan melipat celana katun milik Yifan.

Chanyeol mengedikkan bahunya.

Yifan tak berkata apapun, ia bisa mendengar bagaimana rintihan Evelyn sehabis memuntahkan makanannya. Beberapa kali ia mendengar Evelyn meminta di bawakan minuman dan makanan dan ia kembali muntah. Terus dan terus.

Pukul 7 malam, ketiganya sudah selesai membereskan baranng-barang dan baju. Paman Jung pamit pulang dan menitipkan Evelyn pada ketiga pria tersebut, dia bilang Evelyn sedang tidur karena baru saja memuntahkan kembali makanannya. Paman Jung meminta mereka membelikan makan atau memasakan makanan yang di inginkan Evelyn agar perempuan itu tetap memasukan sesuatu ke dalam perutnya meskipun harus keluar lagi.

“Dokter juga berkata seperti itu padaku, dia harus terus makan setiap tiga puluh menit sekali meskipun akan keluar lagi nantinya.” Ujar Yixing, dia selalu berada di sisi Evelyn selama satu bulan terakhir sebelum pindah kemari. Hal-hal seperti itu tanpa sadar terekam dalam otaknya.

“Apa yang biasanya Noona makan?” Tanya Chanyeol kemudian.

“Kupikir itu puding lembut atau makanan semacam itu. Sepertinya Evelyn bisa memakan apapun, yang terpenting sesuatu harus masuk ke dalam perutnya.” Yixing meyakinkan. Chanyeol mengangguk, mengerti.

“Kalau begitu aku akan bersiap kalau-kalau Noona ingin makan sesuatu yang tidak bisa kita buat sendiri.”

“Aku bisa memasak bubur Seafood, di sekitar sini ada Mall besar 24 jam. Kita bisa membeli bahannya kapanpun jika Evelyn mau.”

Keduanya mengobrol cukup lama di sofa ruang tamu ketika Yifan dengan tenang, duduk sambil menonton TV hingga beberapa menit kemudian tak ada suara dari keduanya. Ketika Yifan menoleh dia mendapati kedua orang itu sudah tertidur dengan pulas.

Yifan mendengus kencang.

Mereka berbicara seolah siap melakukan apapun demi Evelyn, pada akhirnya mereka sendiri yang terlebih dahulu tertidur sebelum Evelyn bangun. Yifan menatap sekeliling, dia tak pernah menyangka Evelyn memiliki rumah sebesar ini. Tinggal sendirian saja di rumah sebesar ini? Yifan tak pernah berpikir bagaimana kesepiannya Evelyn jika mereka tidak jadi menyewa kamar di rumah ini.

Perlahan dia berdiri, mengelilingi rumah dan melihat-lihat. Hawa rumah tersebut dingin karena di kelilingi pohon-pohon yang tidak terlalu besar, di pekarangan depan dan belakang terdapat kebun bunga yang indah dan juga tertata rapi. Yifan bisa merasakan bagaimana dengan teliti dan sabar Evelyn membuat bunga-bunga tersebut mekar dengan sangat indah dan cantik.

Dia kembali berjalan menuju pekarangan belakang yang di penuhi bunga serta pohon, ada selang untuk menyiram, dan juga kursi panjang untuk bersantai. Benar-benar rumah impian di tengah kota seperti ini. Yifan kembali masuk, melihat dapur dan ruang cuci, kemudian perpustakaan kecil yang berada dekat dapur. Dia bisa melihat banyak buku-buku kedokteran milik Sehun dan buku-buku mengenai bunga saling bertumpuk di lemari tersebut. Di tembok, tergantung foto berukuran cukup besar. Disana terlihat seorang wanita berusia empat puluhan yang cantik dengan rambut merah, sepertinya itu ibu Evelyn di lihat bagaimana mereka hampir serupa di foto. Sehun berada di gendongan ibunya, mungkin usianya sekitar empat tahun dan Evelyn berdiri di samping ibunya dengan senyum lebar.

Selama kenal dengan Evelyn tak pernah sekalipun Yifan mendengar Evelyn bercerita tentang keluarganya. Perempuan itu hanya mengatakan bahwa ayahnya meninggal karena sakit, pun dengan sang ibu. Tapi, tak ada foto ayahnya disana. Dari dua foto yang sejauh ini Yifan temukan, tak ada ayah di dalamnya.

Yifan menghela napas.

Ucapan Yixing kemarin teringat kembali dalam benaknya, Evelyn berkata pada Chanyeol dan Yixing bahwa hubungannya dengan pria yang menghamilinya bukanlah hubungan kencan. Perempuan itu mengatakan bahwa ia tak berkencan maupun menikah.

Apa yang terjadi pada Evelyn? Apakah dia perempuan seperti itu? Yang bisa di tiduri hanya untuk satu malam?

“Kris?”

Yifan menoleh dengan terkejut ketika mendengar suara Evelyn. Dia mendapati perempuan itu berdiri di belakangnya.

“Astaga Eve, kau membuatku terkejut!” Ujar Yifan setengah teriak, Evelyn terkekeh geli.

“Kau terlalu serius mengamati,”

Yifan terkekeh. Menduga-duga apakah Evelyn mengetahui apa yang tengah dia pikirkan.

“Kenapa kau bangun?” Yifan bertanya kemudian, mencoba mencairkan suasana.

“Ah, itu, sebenarnya–“

Evelyn terlihat ragu-ragu ingin mengatakannya.

“Apa? Bilang saja, Eve. Paman Jung bilang kami harus siap membelikanmu sesuatu, jika kau merasa lapar.”

Evelyn tersenyum kecil dan mengigigit bibir bawahnya. Yifan sungguh mati, rasanya ingin memeluk Evelyn yang berperilaku seperti itu. Evelyn sangat menggemaskan.

“Aku ingin tonkatsu,”

Yifan terdiam sebentar.

“Sekarang?” Tanya Yifan lagi.

Evelyn mengangguk.

Yifan mengangguk juga.

“Aku akan membelikannya untukmu,” Ujar Yifan, dia hendak beranjak pergi ketika kemejanya tertahan tangan Evelyn. Perempuan itu menarik kencang kemejanya.

“Ikut,”

“Eoh?”

“Aku ikut, aku ingin makan disana.”

Yifan menelan ludahnya, selama dia mengenal Evelyn. Tak pernah sekalipun Yifan melihat Evelyn berperilaku seperti ini. Entah mungkin karena kehamilannya atau apapun itu, rasanya Yifan ingin menjerit karena keimutannya dan nada manja yang keluar dari mulutnya. Namun, dia tersadar jika kini Evelyn tengah hamil. Perempuan itu sudah memiliki seseorang di dalam kehidupannya.

“Kau bisa masuk angin,” Yifan berkata, berharap Evelyn tidak jadi ikut karena bisa-bisa dia tidak tahan bertanya tentang siapa ayah dari bayi di dalam kandungannya.

“Kumohon,”

Dan, Yifan tak bisa menolak ketika akhirnya Evelyn mengekor di belakangnya dan masuk ke dalam mobil. Duduk di sampingnya. Yifan merasa gugup karena ini kali pertama dirinya dan Evelyn berduaan di dalam mobil.

Semoga,

Semoga saja mulutnya tahu sopan santun dengan tidak bertanya siapa ayah dari bayi perempuan itu.

                                                                 Continued..

34 responses to “Who’s A Daddy? — Five

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s