Part VII : HIME (NEW)

HIME2

Author : Ariskachann

Cast : Mizuhara Hime (OC), Park Chanyeol, Lu Han

Genre : Romance, sad

Rating : PG

Lenght : Chapter

Disclaimer : Cerita murni milik author. Pernah publish di blog pribadi sebelumnya

Happy reading ^^

Sorry for typo ^^

Previous VI

Chanyeol hanya bisa diam terpaku ketika mendapati sosok wanita yang sudah dari lama tidak dijumpainya. Hime. Ya Hime. Chanyeol tidak salah mengenali bukan. Sosok yang berdiri tidak jauh darinya itu memang benar-benar Hime. Apa  Dia nampak sedang berbincang ringan dengan seorang pria yang sudah membuat janji dengan Chanyeol beberapa hari lalu.

“Luhan Hyung?” Gumam Chanyeol lebih kepada dirinya sendiri. Dahi pria itu mengerut samar ketika kedua matanya mengamati Hime dan Luhan yang terlihat begitu akrab. Apa mereka saling kenal? Kenapa Hime bisa ada disini? Lalu. . . Tiba-tiba kedua mata Chanyeol membulat sempurna.

“Apa ini kebetulan?” Bisiknya.

Flashback. . .

“Chanyeol kau mau mengajakku kemana?” Teriak Hime pada pria yang kini menggenggam lengannya itu erat.

“Sudah diam. Hanya ikuti aku saja okay,” kata Chanyeol tanpa menoleh kearah Hime yang sudah ingin kembali protes. Tangannya terus menarik Hime hingga mereka tiba dilapangan basket indoor disekolah mereka.

“Chanyeol kenapa kita kesini?” Bisik Hime ketika mendapati lapangan basket yang sudah dipenuhi oleh anak basket yang sedang bermain.

“Ayo kukenalkan pada tim basketku,” tanpa persetujuan dari Hime, Chanyeol sudah menarik kembali lengan Hime untuk memasuki lapangan basket. Salah satu diantara mereka menyadari kehadiran Chanyeol yang membawa seorang gadis bersamanya.

“Wooah, magnae. Siapa yang kau bawa eoh? Yeojachingumu?” Yang paling tinggi itu berkomentar dan Hime mengenalinya. Kris sunbae, kapten tim basket yang tampan dan populer. Namja itu menunjukan senyuman jahilnya yang hanya dihadiahi cengiran oleh Chanyeol. Hal itu langsung mendapat respon dari anak basket lainnya. Mereka menghentikan permainan dan mulai mengerumuni Chanyeol. Menanyakan pertanyaan serupa perihal gadis yang dibawanya. Dengan cepat Hime mengatakan jika mereka hanya sekedar teman dekat. Dia bukan pacar Chanyeol tentu saja.

“Begini hyung,” Chanyeol melepaskan genggaman tangannya dilengan Hime dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Aku ingin agar Hime dijadikan sebagai manager tim basket kita,” Chanyeol akhirnya mengutarakan niatnya membawa Hime kesana. Yeoja itu yang tidak tahu menahu rencana Chanyeol langsung membulatkan matanya. Apa-apaan Chanyeol ini? Hime kan tidak ada niat untuk bergabung ditim basket. Ini sungguh diluar dugaannya.

“Chanyeol,” desis Hime seraya menyentak lengan Chanyeol untuk kemudian menghadapnya, “Apa yang barusan kau bicarakan?”

“Boleh juga,” salah satu diantara mereka, Minho sunbae malah menyetujui pengajuan Chanyeol. Dan sepertinya yang lain juga menyetujuinya. Hime tidak bisa berkutik. Sedang Chanyeol malah menunjukan senyuman lima jarinya.

“Gomapta hyungdeul,” Chanyeol membungkuk sopan.

“Ada apa berkumpul begini?” Tiba-tiba suara lain ikut bergabung yang sontak membuat mereka menoleh kesumber suara.

“Luhan hyung,” Chanyeol membungkuk sopan begitu melihat suara itulah yang menginterupsi obrolan mereka.

“Latihannya sudah selesai?” Katanya kemudian seraya mengamati satu persatu anggota tim basketnya. Ya, selain Luhan adalah ketua osis dia juga salah satu anggota inti tim basket sekolahnya.

“Baru saja selesai,” kata Kris lalu mengendikan dagunya kearah Chanyeol dan Hime, “Magnae kita membawa manager baru untuk tim basket.”

Luhan mengarahkan fokusnya pada Chanyeol lalu kemudian pada yeoja yang berdiri disampingnya. Yeoja itu nampak menunduk seraya meremas bagian bawah roknya, gugup, dan Luhan menyadari itu. Namja itu perlahan melangkah mendekati Hime hingga kini jarak mereka hanya sejengkal saja.

“Siapa namamu?” Tanya Luhan seraya menilik penampilan yeoja itu dari atas kebawah, menilai.

“Hime. Namaku Mizuhara Hime,” masih yeoja itu menundukan kepalanya, terlalu takut untuk menatap lawan bicaranya. Luhan menaikan sebelah alisnya.

“Bisa kau menatap lawan bicaramu?” Pelan, namun terdengar tajam. Chanyeol yang menyadari kegugupan Hime segera menarik lengan yeoja itu.

“Hime, ayo jangan gugup begitu,” bisik Chanyeol pelan.

Lalu perlahan Hime mendongakan kepalanya, menatap Luhan dengan
Kedua matanya. Saat itu kegugupan Hime semakin menjadi ketika Luhan hanya diam tak memberi respon apapun. Oh ayolah, bisakah seseorang menyelamatkannya sekarang? Dimata Hime, Luhan terlihat menakutkan sekarang. Hingga sebuah senyuman lembut yang diberikan Luhan kemudian barulah membuat Hime sedikit merasa lega.

“Nah, begitu lebih baik,”

Flashback end

Chanyeol mengerjapkan kedua matanya ketika sebuah tepukan pelan mendarat dipundaknya. Chanyeol menolehkan kepalanya kesamping dan mendapati Manager Zhou tersenyum kearahnya.

“Pak Zhou,” Chanyeol membungkuk sopan pada pria dengan senyum ramah itu. Manager Zhou menepuk-nepuk bahu Chanyeol beberapa kali.

“Kenapa masih berdiri disini? Ayo kita harus segera menemui Luhan,” ajak Manager Zhou yang mendapat anggukan pelan Chanyeol.

Pria itu melangkahkan kakinya perlahan sambil beberapa kali menghembuskan napas panjangnya. Entah kenapa Chanyeol tiba-tiba merasa gugup? Bukankah dia sudah biasa bertemu Luhan? Tidak. Tidak. Bukan masalah bertemu dengan Luhan. Melainkan wanita yang berdiri dihadapan Luhan itu. Siapa lagi kalau bukan Hime. Ya Chanyeol gugup karena akhirnya dia akan bersitatap lagi dengan Hime. Bukankah sudah lama sekali? Sejak pertengkaran terakhir mereka?

“Luhan,” siempu nama segera menolehkan kepalanya ketika Manager Zhou memanggilnya. Luhan tersenyum hangat, “Zhou ge,” dan senyuman Luhan semakin lebar kala melihat sosok yang berdiri disamping Manager Zhou sekarang, “Chanyeol.”

Chanyeol yang disapa membungkuk sopan, “Hyung, apa kabar?” Senyuman tipis Chanyeol berikan setelah sekilas mata menatap Hime yang berdiri disamping Luhan.

“Aku baik. Kau sendiri?”

“Aku baik Hyung,” masih, Chanyeol enggan mendongakan kepalanya, lebih memilih menunduk hingga suara jahil Luhan terdengar ditelinganya.

“Kau tidak ingin bertanya bagaimana kabar Hime?” Dan mau tak mau Chanyeol mendongakan kepalanya. Tak sengaja matanya itu menatap wajah Hime tapi buru-buru Chanyeol mengalihkan kembali tatapannya.

“Hmm, ya. Itu, bagaimana kabarmu?” Chanyeol berkata sangat pelan seraya menelan samar ludahnya. Oh Tuhan jangan sampai Hime mengacuhkannya. . .

“Aku baik,”

Chanyeol mengerjapkan kedua matanya perlahan sebelum kemudian mendongakan kepalanya, memberanikan diri untuk melihat kearah Hime. Seperti ada angin surga yang berhembus ketika Chanyeol mendapati wajah biasa Hime malahan senyuman tipis tersungging dibibir Hime. Sungguh bayangan akan wajah masam Hime jika bertemu dengannya atau kalimat ketus yang akan diucapkan Hime hilang begitu saja dari benak Chanyeol. Itu Himenya. Wanita yang ada dihadapannya sekarang adalah Himenya yang dulu. Himenya yang baik dan Himenya yang selalu tersenyum kearahnya.

“Syukurlah kalau begitu,” kata Chanyeol penuh kelegaan dan kali ini Hime menunjukan senyuman yang tulus kearah Chanyeol membuat perasaan pria itu semakin membaik.

Luhan yang menyadari keadaan itu langsung berseru riang, “Waaah, reuni yang menyenangkan. Aku tidak menyangka teman dan cinta pertama akan bertemu kembali,” oceh Luhan yang membuat senyuman Hime perlahan memudar. Begitupun Chanyeol, wajahnya berubah tegang.

“Oh, maaf. Aku sepertinya kelepasan,” Luhan menepuk bibirnya beberapa kali sebelum menunjukan cengirannya, “Huum, kalau begitu kita langsung keruanganku saja. Ayo,” ajak Luhan kemudian yang mendapat anggukan oleh Manager Zhou tapi tidak Hime dan Chanyeol. Kedua orang itu hanya diam. Entah kenapa ucapan Luhan tadi membuat atmosper disekitar mereka berubah canggung.

‘Kenapa bisa jadi begini?’ Umpat Chanyeol dalam hati.

*
*
*

Hime baru saja akan keluar dari ruangannya dan dirinya langsung dikejutkan oleh sosok Chanyeol yang berdiri dihadapannya.

“Eoh, Chanyeol,”

“Hmm, hai,” Chanyeol melambaikan satu tangannya yang bebas sementara yang satunya dimasukan kedalam saku celana, “Apa kau sibuk?” Chanyeol melirik sekilas map-map yang dibawa Hime.

Wanita itu meringis pelan, “Sepertinya iya. Memang ada apa?”

Chanyeol mengusap belakang kepalanya, “Begini, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan,” katanya kemudian yang membuat satu alis Hime terangkat keatas.

“Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Hmm, begini kau tahu kan jika sudah lama sekali kita tidak bertemu dan banyak sekali yang ingin kukatakan padamu. Dan lagipula kita-”

“Hime!” Luhan berdiri diambang pintu ruangannya yang berada tidak jauh dari tempat Chanyeol dan Hime berdiri sekarang.

“Ya sunbae?” Sahut Hime.

“Apa kau sudah menemukan desain-desainmu?” Tanya Luhan kemudian dan dibalas anggukan Hime seraya mengacungkan map ditangan kanannya.

“Ya, aku sudah mendapatkannya,”

“Kalau begitu keruanganku sekarang,” setelah mengatakan itu Luhan kembali masuk kedalam ruangannya bahkan sebelum Hime menjawab ‘ya’.

“Chanyeol maaf. Bisa nanti saja bicaranya?”

Chanyeol mengerti, Hime sedang sibuk sekarang. Tidak seharusnya mereka bicara sekarang ini.

“Hmm, tidak apa-apa jika kau sedang sibuk. Tapi,” Chanyeol menatap kedua manik mata Hime, “Bisa kita minum kopi jika urusanmu sudah selesai?” Kedua mata Chanyeol nampak memelas. Mau tak mau Hime mengangguk setelah sebelumnya sempat menimang-nimang ajakan Chanyeol. Senyuman terkembang dibibir Chanyeol.

“Baiklah. Aku tunggu dilobi,” dan Hime kembali mengangguk.

‘Tidak apa-apa kan jika hanya untuk sekedar minum kopi?’

Nyatanya Hime memang terlalu sibuk. Pembahasan mengenai baju yang akan dipakai untuk pemotretan lusa sungguh diluar dugaan Hime. Dipikirnya hanya satu jam saja. Tetapi lihatlah, Hime baru bisa keluar dari ruangan Luhan setelah dua setengah jam kemudian. Sebenarnya masalah baju apa yang sesuai dengan konsep pemotretan tidak terlalu rumit seperti yang dipikirkan Hime. Luhanlah yang sengaja mengulur-ulur waktu. Pria itu tahu bahwa Hime dan Chanyeol akan bertemu setelah rapatnya selesai. Luhan mendengar semua percakapan mereka tanpa dua orang itu sadari. Katakanlah Luhan menguping dan itu benar adanya. Salahkan dengan sifat ingin tahunya yang terlalu tinggi. Namun tetap saja, Luhan tidak bisa menahan Hime terlalu lama karena akhirnya perbincangan itu sudah menemukan titik terang. Jadi mau tak mau Luhan harus merelakan Hime keluar dari ruangannya untuk kemudian pulang. Mengingat bahwa setelah ini Hime akan pergi menemui Chanyeol, perasaan tidak rela langsung mendominasi Luhan. Membayangkan apa yang akan mereka lakukan dan apa yang akan mereka bicarakan nanti saja sudah membuat Luhan tak tenang.  Sungguh jika saja Luhan tidak memikirkan akan ketahuan, ia kan senang hati menguntit Hime. Tetapi Luhan ternyata masih memikirkan resiko itu. Pasrah saja apa yang akan dua orang itu lakukan. Semoga hanya perbincangan ringan antar sahabat yang sudah lama tak bertemu. Ya, semoga saja.

*
*
*

Hime keluar dari lift dan baru beberapa langkah kakinya terhenti saat mendapati Chanyeol tengah duduk disebuah kursi tunggu dekat pintu masuk gedung dengan posisi kepala tertunduk. Tergesa Hime menghampiri Chanyeol. Tepukan pelan Hime daratkan dibahu Chanyeol membuat pria itu tersentak kaget. Kedua matanya nampak merah dan sayu. Sepertinya Chanyeol tertidur tadi dengan posisi duduk yang pasti membuat punggungnya pegal-pegal.

“Hime,” kedua mata Chanyeol mengerjap, memastikan jika wanita yang kini berdiri dihadapannya adalah Hime. Dengan senyumannya Hime mengangguk kemudian duduk disamping Chanyeol.

“Maaf membuatmu menunggu. Kau sampai tertidur disini,” sedih Hime dan Chanyeol langsung menggeleng cepat.

“Tidak. Tidak masalah. Aku akan menunggumu jam berapapun kau selesai dengan pekerjaanmu,” kata Chanyeol cepat.

“Hmmm,” Gumam Hime lalu kedua orang itu saling diam.

Seperti tak ada lagi yang harus mereka katakan. Padahal sungguh baik Hime maupun Chanyeol punya segudang pertanyaan untuk diajukan. Tetapi entah mengapa lidah mereka tiba-tiba menjadi kelu.

“Kau bilang tadi mau membicarakan sesuatu?” Akhirnya Hime lah yang menjadi orang pertama menghentikan keheningan itu.
Chanyeol mengerjap. Oh ya bukankah tadi dia yang mengajak Hime untuk. . .

“Aaah itu,” Chanyeol menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, “Bagaimana kalau kita makan dulu? Tiba-tiba perutku lapar,” Chanyeol memegangi perutnya yang memang lapar. Karena sejak siang tadi Chanyeol belum memakan nasi sesuap pun.
Hime berpikir sejenak sebelum mengangguk. Hal itu tentu membuat Chanyeol senang sekali. Cepat-cepat Chanyeol berdiri lalu meraih tangan Hime untuk kemudian digenggamnya.

“Ayo!”

*
*
*

Chanyeol selalu makan dengan lahap. Ya mungkin itu karena dia terlalu lapar atau dia berusaha menyimpan rasa gugupnya sedari tadi. Sungguh Hime terlalu hapal akan sikap Chanyeol. Pria itu akan makan dengan lahap dan memenuhi mulutnya dengan makanan jika ia sedang merasa gugup.

“Chanyeol pelan-pelan, kau bisa tersedak nanti,” Hime memperingati Chanyeol yang tengah memasukan begitu banyak mie kedalam mulutnya. Pria itu hanya menggeleng, tak mampu menjawab karena mulutnya penuh. Melihat itu Hime hanya tersenyum lalu menggeleng pelan sebelum kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda karena terlalu memerhatikan cara makan Chanyeol.

“Terima kasih,” tiba-tiba Chanyeol bersuara setelah menelan mienya tentu saja.

“Hm?” Sahut Hime tak mengerti.

Chanyeol meletakan sumpitnya, menatap Hime yang juga kini tengah menatapnya dengan wajah bingung, “Aku berterima kasih padamu, Hime-ya. Untuk semuanya. Semuanya yang bahkan tidak bisa kuucapkan satu persatu. Karena sungguh kau sudah terlalu memberikan kebaikan padaku. Salah satunya adalah tidak mengacuhkanku dan tidak menghindariku setelah sekian lama tidak bertemu,” mata Chanyeol nampak berkaca-kaca, helaan napas berat keuar dari bibirnya, “Pertemuan terakhir kita tak begitu baik bukan? Kita saling bertengkar dan kau bilang jika kita tak seharusnya bertemu. Kau tahu, itu sungguh menyakitkan untukku. Tahukah kau jika setelah kejadian itu aku sungguh merasa bersalah pada diriku sendiri. Betapa egoisnya aku dan sikap kekanak-kanakanku yang akhirnya membuatmu jauh dariku,”

“Chanyeol-ah,”

Pria itu tersenyum getir, “Aku tak bisa membayangkan jika suatu saat kita bertemu lagi. Pasti kau akan sangat membenciku,” Chanyeol menundukan kepalanya, hingga tanpa disadari airmatanya mengalir begitu saja, “Tapi hari ini kau menunjukan ketulusanmu lagi. Kau tersenyum padaku, kau menyapaku, kau, kau bersikap baik  padaku,” bahu Chanyeol bergetar membuat Hime tak tahan melihat itu lalu perlahan Hime mengulurkan sebelah tangannya, menyentuh puncak kepala Chanyeol pelan. Mendapat sentuhan Hime dikepalanya Chanyeol semakin terisak.

“Terima kasih. Terima kasih, Hime-ya,”

Senyuman Hime kembali terbit, dengan gerakan pelan Hime mengusap puncak kepala Chanyeol, menyalurkan rasa hangat kembali dihatinya.

“Bisakah kita kembali bersahabat seperti dulu lagi?” Chanyeol mendongakan kepalanya menatap wajah Hime yang menatapnya sendu.

“Ya, kita bisa bersahabat seperti dulu lagi,”

*
*
*

Fin

7 responses to “Part VII : HIME (NEW)

  1. Ini FIN atau masih ada terusannya???
    Masih ada lanjutannyakan??
    Agak pendek yaa author.
    Jadinya luhan sama Hime gimana??
    Penasaran banget…… :’D

  2. Pingback: Part VIII : HIME (NEW) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s