[JongRa moment] Jealous

IMG_20150907_112016

Jealous
By
Raditri Park
.

Kim Jongin & Park Nira

.

06 September 2015

Jong

“Pagi” 06:03

wpid-17891.png 06.03

Jong
“Berniat tidak membalas ya?” 07:25
“Semalam aku meneleponmu. Kenapa kau tidak menjawab, kupikir kau belum tidur seperti biasanya.” 07:26

image 07.26

“Sibuk ya.” 07:29
“Atau jangan-jangan belum bangun.” 07:29
“Pagi ini aku terbangun, tapi aku akan tidur lagi dan nanti siang latihan sebentar.” 07:30
“Dan aku harap jam 5 sore nanti kau mau menungguku di tempat biasa.” 07:31

image 07.31

image 07.31

Jong
“Kau sibuk? Ini kan hari minggu. Apa kau ada acara?” 11.20

image 11.20

Jong
“Kau baca tapi tidak kau jawab.” 11.40
“Kau kenapa lagi sih?” 11.40

image 11.40

Lagi-lagi Park Nira melirik ponselnya yang sengaja ia diamkan di meja sisi ranjang. Berkali-kali pula kaki kecilnya mondar-mandir di kamar tanpa tujuan. Sekarang sudah jam 4 sore dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Bunyi ringtone notification Line  yang terakhir terdengar di smartphone-nya sekitar jam 12 siang tadi dan tidak terdengar lagi setelahnya.

Semalam ia tidur jam 2 pagi setelah Kim Jongin meneleponnya. Gadis itu sengaja tidak menjawab dan memilih beranjak tidur setelah bunyi panggilan masuknya berhenti, sedikit lebih berharap Jongin tahu alasannya. Karena selain itu, Kim Jongin jugalah yang membuatnya terjaga hingga selarut itu.

Sekarang bukan lagi jam 4 tepat dan Nira masih berharap setidaknya ada satu pesan line masuk darinya lagi. Nira tidak ingin mengulangi kesalahan-kesalahan konyolnya dulu. Setiap pria itu memberi pesan untuk bertemu, pasti ada saja alasan karena terlambat. Mulai dari terkena macet, para Hyung menguntitnya, larangan dari Manager dan yang lebih menyakitkan adanya jadwal mendadak dari agensinya. Menyebalkan sih, tapi sejujurnya Nira benar-benar memaklumi keadaan seperti itu. Dan sore ini, pria itu akan menggunakan alasan apa lagi?

Tapi…. sebentar! Sebenarnya saat ini ada sesuatu yang membuat Nira sedang tidak mood dengan kekasihnya ini. Ada beberapa hal. Membuatnya berpikir ulang untuk menemuinya atau tidak.

***

“Hei, Nona Park. Kau sedang ada masalah?”

Saat ini mereka berada di kedai es krim daerah Gangnam (tempat yang sering mereka jadikan untuk saling bertemu, dan ini rahasia!). Nira berakhir dengan tetap keluar menemui Jongin yang ternyata kali ini datang lebih awal darinya, ya… karena Nira sengaja datang terlambat. Setibanya disana, Jongin begitu antusias karena kali ini dialah yang lebih awal datang, tapi tidak dengan Nira. Gadis itu lesu entah kenapa.

“Aku yakin kau mendengar panggilanku semalam. Lalu kenapa kau tidak menjawab?” Tanya Jongin dengan ekspresi berlebihannya yang khas.

“Jadi kita bertemu hanya untuk ini?” Sebelum mulut terbuka Jongin mengeluarkan suara, Nira menyela dengan semangat. “Apa kau yakin sedang tidak dibuntuti siapapun?”

Berpacaran dengan artis semacam Jongin mempunyai resiko yang mengkhawatirkan. Lihat! Apa yang dikenakan pria itu sekarang? Hanya selembar hoodie hitam dan masker hitam yang terkenal menjadi trend fashion airport-nya. Bagaimana jika diketahui fans? Lalu bagaimana dengan nasib Nira? Tentu hal ini akan menjadi sesuatu yang serius. Jongin paling tidak bisa menyamar.
wpid-img_20150526_125325.jpg  wpid-img_20150712_212319.jpg

Apa kalian masih ingat kejadian pertengahan bulan Mei lalu dimana Jongin sedang berlibur di LA bersama keluarganya dan saat itu ia tidak ingin kedatangannya di LA diabadikan? Seharusnyapaling tidak Jongin melakukan penyamaran di saat-saat tertentu.

“Tentu saja,” jawabnya santai setelah mengemut sendok es krimnya. Seratus persen yakin Baekhyun ataupun Chanyeol tidak sedang mengikutinya tadi.

“Syukurlah,” sambut Nira seraya mengalihkan tatapannya ke es krim yang belum disentuhnya sama sekali. Merasa tidak perlu khawatir berlebihan.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau marah ya? Pasti ada sesuatu.” Jongin mulai sadar gadis ini mulai menunjukkan sikap tidak mengabaikannya. Sikap dari Nira yang cukup tidak disukai Jongin.

Setelah diam-diam menghempaskan napasnya, Nira membuka suara, “Kemarin. Kemarin apa saja yang kau lakukan?” Dari cara bicaranya tampak ada nada sengit tidak suka. Dan Jongin tahu itu. Bibirnya mengulum senyum tipis. Tampaknya fansnya satu ini mulai berlagak tidak tahu menahu jadwal kegiatan idolanya.

“Jika aku mempunyai kesempatan untuk mengobrak-abrik ponsel dan laptopmu, aku yakin akan menemukan segala sesuatu mengenai diriku di dalamnya,” tebak Jongin penuh percaya diri. Ia tahu seberapa gilanya fansnya satu ini akan dirinya. Dan ia perlu membanggakan soal ini.

“Kau pikir lucu bersikap seperti itu di depan umum? Jangan-jangan aku salah memilih pasangan hidup. Apa rumor yang sering beredar itu benar ? Kau dan Sehun?”

Dan lihat! Jongin malah tersenyum lebar nyaris tertawa. Tidak mengerti jalan pikiran gadis ini. Kadang gadis ini bisa bersikap dewasa tapi tidak jarang jalan pikirannya menuju taraf kekonyolan.

“Memang apa yang aku lakukan?” tanya Jongin sembari menebak sendiri apa yang dipikirkan gadis ini. “Apa kau cemburu?” Jongin sendiri tahu apa yang menjadi permasalahan setiap fansnya jika menyangkut teman sebayanya ini, Oh Sehun.

“Tidak!” Jawab Nira cepat.

“Lalu-”

“Aku hanya khawatir orang lain akan menilaimu lain dariku.”

Haruskah Nira bilang bahwa ia cemburu? Saat dimanapun EXO perform, Kai tampak tidak bisa jauh dari Sehun. Terus menempel seperti dia adalah kekasihnya. Saling berbicara seperti sedang membahas sesuatu yang menyenangkan. Sering bergandengan tangan. Dan masih banyak lainnya. Haruskah Nira bilang sejujurnya? Bahkan ia tidak mendapatkan itu dari Jongin.

Dan haruskah Nira bilang bahwa ia benar-benar merindukan Jongin? Nira harus rela membagi rasa cinta Jongin pada sejuta fansnya. Nira harus mau untuk tidak sering bertemu layaknya kekasih pada umumnya. Dan Nira harus bersedia menemui resiko apapun menyangkut dirinya dan Jongin. Pernah Nira merasa lelah menjalin hubungan seperti ini.

Tapi Nira tidak bisa tahan untuk tidak merindukan Jongin. Dan sayang, tampaknya pria itu tidak peka.

“Dan aku tidak suka project apapun antara kau dan gadis itu.”

Lagi dan lagi Jongin hanya tersenyum lebar, dan kali ini tersenyum lebar penuh kebanggaan dibalik wajah tidak suka Nira yang menatapnya datar nyaris kesal. Kadang tingkat kepercayaan diri Jongin sulit untuk ditangkal.

“Habiskan es krimmu. Es krim cair itu tidak enak meskipun banyak anak kecil yang malah menyukainya,” saran Jongin dan perlahan Nira menurutinya sambil menyembunyikan helaan kecil napasnya.

***

Jalanan trotoar Gangnam tidak terlalu sepi. Jongin harus menggunakan maskernya dan merapatkan hoodie-nya hingga menutupi seluruh kepala. Mereka berjalan beriringan, melangkah dengan tempo sedang, sembari menikmati keramaian dalam gelapnya malam. Malam hampir larut dan Jongin berniat mengantar Nira pulang sedangkan ia harus kembali sebelum mendapat pertanyaan lebih banyak dari member.

“Kau masih melihatku seperti cara fans mengagumiku. Tidak masalah, aku suka rasa cemburumu.” Tanpa sadar rona merah tersembul di pipi Nira. “Tapi karena kau fansku yang berbeda, kau mulai harus melihatku dengan cara yang berbeda juga.” Kali ini Nira hanya menunduk, memperhatikan jalan, sesekali melihat kakinya yang berjalan sepadan dengan kaki pria itu. Mencoba memahami kalimat-kalimat Jongin.

“Aku tahu sebagian apa yang dipikirkan para fans dan itu karenamu. Apa kau benar-benar berpikir aku memiliki hubungan dengan Sehun? Hhahaaha,” tawa Jongin ringan, bahkan pria itu sempat menertawakan sendiri argumennya. “Dia temanku sejak SMA, mengalami masa-masa predebut bersama dan kami sering memiliki pemikiran yang sama. Kurasa karena itulah yang membuat kami terlihat lebih akrab dibanding dengan member lain. Intinya aku merasa nyaman jika bersamanya. Tapi terkadang tidak hanya bersama Sehun, aku suka bicara dengan siapapun.”

Jongin sadar saat itu juga Nira menengok menatapnya. Lalu ia meliriknya dengan kekehan kecil yang tersembunyi di balik masker. Jika Jongin melepas maskernya, Nira akan menemukan ekspresi Jongin yang sering ditemuinya di hasil jepretan ratusan fansite Jongin. Yang pasalnya mampu terbayang di kepala Nira semalaman.

“Aku tahu,” gumam Nira berusaha lebih mengerti.

“Sekarang kau jadi tahu sedikit demi sedikit rahasiaku bukan?”

“Aku tidak memintamu untuk bercerita, Jong. Jangan menyalahkanku jika suatu hari nanti fansmu tahu yang sebenarnya,” sungutnya kesal. “Hari ini kau tidak ada jadwal?”

“Aku kan sudah mengatakannya di pesan line.”

“Kenapa tidak kau gunakan untuk istirahat saja?”

“Memangnya tidak boleh kalau aku ingin bertemu denganmu? Akhir-akhir aku akan memiliki banyak waktu istirahat sebelum konserku ke Chongqing nanti, ee-malam ini semakin dingin.” Jongin bergidik sebentar di balik hoodie-nya. Dan Nira terjengat seketika saat jari-jari besar Jongin menyentuhnya dan menggenggamnya protektif karena hal itu benar-benar mengacaukan detak jantung Nira.

Sejenak Nira merasa Jongin menahan sesuatu yang akan diucapkannya. Dan Nira tahu apa itu, tapi ia tidak ingin membahasnya untuk saat ini. Hari dimana Jongin konser adalah hari ulang tahunnya. Entah pria itu ingat atau tidak. Nira sadar akan situasi dan kondisi Jongin maka dari itu ia tidak perlu banyak berharap.

Mereka masih di posisi yang sama, berjalan beriringan dan kali ini dengan suasana yang berbeda. Nira mudah merasa canggung jika tiba-tiba Jongin bersikap seperti ini. Perasaan yang sebenarnya membuatnya paling beruntung di antara ribuan fansnya. Sejenak Jongin menghela napas sebelum berbicara sembari melepas maskernya.

“Aku dan Soojung, soal project-project itu…. jangan kau pikirkan lagi.” Nira merasakan genggaman Jongin sedikit memainkan tangan kecilnya, seolah sedang mencari posisi ternyaman dan setelah menemukannya Jongin mengeratkan genggamannya, menyalurkan kehangatan. Dari nada bicara Jongin, Nira merasakan sarat akan ketegasan dan sulit untuk disangkal. Nira mulai merasakan sisi Jongin yang serius.

“Jong… seharusnya kau tidak memacari fansmu sendiri. Aku sempat menduga kau tidak akan pernah mau menjalin hubungan dengan salah satu fansmu. Mungkin dengan artis, atau gadis biasa paling tidak.”

“Jadi kau tidak suka?”

“Bukan, seharusnya kau juga lebih tahu perasaan fansmu sendiri. Aku ini termasuk salah satu fansmu yang tidak suka melihat kau dengannya. Jika aku boleh memilih aku ingin menjadi haters-nya, kau tahu.”

Kalimat Nira lagi-lagi membuatnya tersenyum simpul. Senyuman itu kali ini terbebas terkena hempasan angin malam. Hanya pada Nira, Jongin berusaha untuk lebih dewasa.

Terdengar helaan kecil dari mulut Nira sebelum kembali bersuara, “Aku tidak suka pemotretan kau dengannya di majalah itu.”

Jongin berkerut sebentar. “Itu karena aku harus profesional.”

“Aku tidak suka kau selalu dipasangkan dengannya.”

“Itu bukan keinginanku sendiri.”

“Aku benci apapun yang berkaitan antara kau dengan gadis itu.”

“Tapi aku semakin suka.”

Jongin menyunggingkan senyum kecil penuh makna. Dan seketika itu juga Nira berhenti berjalan, masih mencoba mencerna kalimat pria itu.

“Maksudmu?” Tolehnya dengan raut minta penjelasan hampir kesal.

“Aku tahu kau sedang cemburu. Dan kau fansku yang selalu cemburu. Tapi aku tidak akan benar-benar melarangnya. Terimakasih kau sudah memiliki perasaan seperti itu padaku. Tapi aku harap kau bisa sedikit mengontrolnya.”

Kali ini Nira menunduk, ia merasa telah salah kata. Memang seharusnya ia bisa lebih mengerti dan mengontrol emosinya. Tapi terkadang Nira suka lupa untuk tidak berbicara terlalu jujur. Dia tidak sepenuhnya mengerti dunia Jongin.

“Aku sadar apa yang kulakukan. Aku melanggar peraturan dan aku yakin jika semua tahu aku akan mengecewakan semuanya. Dan maaf, telah membawamu sampai sejauh ini karena apapun yang terjadi aku akan tetap merugikanmu. Tapi-” Jongin menahan kalimatnya sendiri dan memilih menatap mata Nira secara langsung. “Tapi aku serius denganmu. Aku menjadi tidak peduli pada peraturan agensi, memilih diam-diam dari siapapun untuk mengencanimu dan memilih mengambil banyak resiko. Aku seperti ini karenamu. Kurasa hanya kau yang tahu aku menjadi segila ini.”

Nira tidak tahu harus menjawab apa. Tidak tahu harus bahagia atau sedih. Dan benar apa yang sering dibicarakan para fans Jongin di luar sana bahwa Jongin benar-benar memiliki daya pikat tersendiri di matanya. Nira merasa beruntung karena kali ini tatapan itu hanya untuknya seorang. Ia seakan menjadi tidak peduli pada apapun resiko yang terjadi dan ia akan mempertahankan Jongin. Ia bisa mempercayai Jongin cukup dengan melihat dari sorot mata Jongin saat mengatakannya.

“Jongin… jangan terlalu serius, aku tidak suka ini,” dengusnya pelan lalu melanjutkan langkahnya sembari melepas genggaman Jongin di tangannya. Tapi tertahan karena Jongin tidak mau melepaskannya. Jongin tahu gadis ini mudah tersipu dan kadang tidak suka pembicaraan yang terlalu tegang. Senyum Jongin kini mengembang menggoda.

“Sekarang aku jadi tahu alasan jika kau tidak membalas pesanku.”

“Sok tahu.” Nira terus berjalan dan menghindari tatapan Jongin.

“Itu artinya kau sedang cemburu.”

“Tidak Jongin!”

“Aku bilang aku tidak apa-apa.”

“Sekali tidak ya tidak.”

Lihat! Entah Jongin tidak peka atau pura-pura tidak peka soal perasaan Nira. Tampaknya pria itu suka mengganggu dan memanfaatkannya untuk dijadikan bahan godaan. Dan Jongin suka melakukannya.
Sebelum Nira berjalan lebih cepat darinya, Jongin menahan genggaman Nira hingga membuatnya berhenti dan Jongin merangsek ke hadapannya. Tanpa ada perkiraan, Nira merasakan wajah Jongin mendekatinya dan mengecup pinggir bibirnya cepat. Tidak lama, hanya sekitar dua detik dan mampu membuat pikirannya kosong seketika. Bahkan rasanya bibir itu masih menempel di bibirnya.

Tanpa pikir panjang, dengan senyum sumringahnya Jongin melanjutkan langkahnya sembari menarik tangan seorang gadis yang tampaknya telah kehilangan sebagian nyawanya itu. Jongin selalu seperti itu, tidak di kehidupannya ataupun di depan kamera, ia selalu atraktif dan tidak terduga, terkadang berperilaku manja dan kadang lebih dewasa.

IMG_20150508_101843

IMG_20150508_101951

Jongin sadar apa yang dilakukannya dan ia akan tetap menjaga apapun yang terjadi. Ia tidak akan pernah lupa saat pertama kali bertemu dengan Nira di salah satu acara fansign-nya dan merasa uring-uringan saat pertemuan itu terus terbayang di kepala hingga sempat mengacaukan memori otaknya.

Mereka akan terus menjalaninya dan membiarkan semua mengalir apa adanya.

 

End!
150909

Inspiration from:

*) Klik aja fotonya buat buka video twitter, video bisa jalan jika dibuka via twitter app atau lewat pc/laptop

wpid-screenshot_2015-09-10-16-22-03.png

wpid-screenshot_2015-09-10-16-23-23.png

Cuap-cuap :

Acakadut bin amburadul sumpah! TT^TT
Ff ini ceritanya mau dipublish tgl 8 kemarin, tapi gegara ada kesalahan teknis, ff yang setengahnya udah diterusin ampe final ternyata hilang, gak kesimpen😦 dan karna pengen banget nerusin ini ff akhirnya tetep dilanjutnulis lagi maksudnya. Meskipun agak kurang memuaskan sih T^T

3 responses to “[JongRa moment] Jealous

  1. Pingback: I Love You, Kim Jongin | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s