THE PORTAL 2 [Part 7 : Dream]

theportal2wallpaper2

Title :

THE PORTAL 2

                                                                                                                              

Author :

citrapertiwtiw a.k.a Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast(s) :

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Witch

– INFINITE’s L as the Witch ( another side : Kim Myungsoo )

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard and celebrity

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Casts :

In Junghwa :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon / A Pink’s Hong Yookyung as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince from Gwangdam Kingdom

 

In South Korea :

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as a medium

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s fiancee

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as a celebrity, and introducing ;

– Girl’s Day Yura / Kim Ahyoung as Minah’s Manager (another side : Gwangdam’s palace witch Kim Ahyoung)

– INFINITE’s Kim Sunggyu as Yura’s ‘Father’

 

Rating : PG15 – NC17

 

Type :

Chaptered, Season

 

Cerita Sebelumnya :

Synopsis The Portal 1

Part 1              : I Hate My Life

Part 2              : Big Decision

Part 3A           : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4               : Another Me

Part 5               : Over Protective?

Part 6               : Faithfulness

Part 7               : Something New

Part 8               : The Hidden Truths

Part 9               : Unpredictable

Part 10             : The Scandals

Part 11             : Reality

Part 12             : True Love

Part 13             : It’s Time To…

Part 14             : The Real Story

Part 15 ( final ) : Open or Close The Portal?

PROLOG SEASON 2

Part 1             : Nice to Meet…You?

Part 2A         : 15 Days

Part 2B           : Before The Day 15

Part 3           : Day 15

PREVIEW PART 4

Part 4 : Secret Page

Part 5 : Helpless

Part 6 : Destiny

 

Ringkasan Cerita Sebelumnya :

Sadar akan segala yang pernah ia perbuat di masa lalu membuat L berani menanggung segala masalah yang muncul sendirian, meski tak dapat dipungkiri bahwa ia sendiri hampir gila karena masih dibayang-bayangi oleh kematian Madame Sunny.

Belum selesai masalah besarnya dengan dendam Hyoyeon, kini ia juga dihadapkan pada pilihan yang sulit, dimana ia harus pergi jauh ke negeri Gwangdam dan menemui Ahyoung, penyihir kerajaan Gwangdam yang membantu Hyerim dan Krystal melarikan diri ke dunia nyata dengan resep baru portal yang Krystal dapatkan. Hanya dengan cara itu, L bisa membawa Naeun kembali ke negeri Junghwa, sebab Ahyoung akan memberikan ramuan portalnya jika L yang datang langsung padanya.

Sebelum L mencari cara lain agar tak harus menemui Ahyoung, ia justru mendapatkan alasan yang lebih kuat untuk pergi ke menemui penyihir istana Gwangdam tersebut.

 

Ia telah mengetahui bangkitnya Myungsoo dari kematian. Dan ia tak ingin Naeun semakin lama berada di dunia nyata.

Karena L tahu, Myungsoo telah jatuh cinta pada Naeun.

Hal ini membuat beban L tentu bertambah berat karena ia juga masih belum ‘berhadapan’ dengan bibi sekaligus musuh besarnya, Kim Hyoyeon, yang saat ini hilang entah kemana.

 

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Bagaimana juga dengan Howon dan Hyerim yang masih berada di negeri Junghwa? Akankah mereka segera mengetahui kematian Madame Sunny?

Selamat membaca.

***

Author POV

 

“ Hei, Kim Myungsoo!”

Ne, songsaenim?

Myungsoo menghentikan langkahnya menuju kelas siang itu dan berbalik, mendapati Seo songsaenim, guru matematika kelas X.

“ Kebetulan kau disini. Bisa aku minta tolong?” sang guru menyerahkan setumpuk buku pada lelaki tampan itu, “…ini buku PR kelas X-1, aku baru selesai menilainya. Bisa kau bagikan ke kelas mereka? Kau akan lewat sana, kan?”

Kelas itu…

Kelas Naeun.

“ Ya, tentu saja.”Myungsoo tersenyum ramah dan mengangguk, Seo songsaenim tiba-tiba mengelus rambutnya beberapa kali.

“ Aih.. kau ini. Aku baca buletin. Katanya kau putus dengan Son Naeun, tak kusangka kau masih mau mengerjakan PRnya.”

“ Eh?”lelaki itu mendadak salah tingkah, “…songsaenim..itu..”

“ Kau kira aku siapa, Kim Myungsoo? Aku pengajarmu selama bertahun-tahun, aku tahu persis tulisan tanganmu. Akui saja kau mengerjakan PRnya, jawabannya tak ada yang salah.”

“ Wah, syukurlah. Terimakasih, songsaenim.. hehe.”ia semakin salah tingkah.

“ Tapi Son Naeun dapat nilai 95.”

Ne? apa ada yang keliru?”

“ Sudah kubilang tidak ada. Aku mengurangi nilainya karena ada coretan yang tidak berhubungan dengan pelajaran di buku PRnya.”

Wajah tampan Myungsoo kini memucat.

Apa tulisan di sudut kertas itu?

Padahal ia sudah menulisnya sekecil mungkin.

“ Itu coretanmu juga kan, Myungsoo?”tanya Seo songsaenim sembari tertawa kecil, “…kupikir setelah putus kalian sungguh baik-baik saja, tapi setelah melihat coretan itu.. kurasa kau sedikit…”

Ani, songsaenim.. itu tidak seperti…”

“ Coretanmu itu cukup aneh. Kau bertanya sendiri, kemudian menjawab sendiri.”

Mwo?” sekarang Myungsoo tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh gurunya itu.

“…ah, ya seperti itulah. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu. Tapi kuharap ini tidak mengganggu belajarmu, Kim Myungsoo. Aku ingin melihatmu pidato di mimbar sebagai juara umum ujian kelulusan.”

Myungsoo mengangguk saja dan tersenyum malu, Seo songsaenim pun berlalu.

Lelaki itu segera mencari lorong yang sepi. Setelah berhasil menemukan tempat yang aman, ia segera mencari-cari buku PR Naeun di antara banyak buku yang ia bawa.

Ketemu.

Myungsoo segera membukanya, memeriksa coretan yang ia buat karena ada satu hal yang tidak ia mengerti.

“ Coretanmu itu cukup aneh. Kau bertanya sendiri, kemudian menjawab sendiri.”

Myungsoo sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud gurunya barusan, namun ketika ia membuka halaman dimana ia meninggalkan pesan kecil untuk Naeun di buku PR itu, ia baru sadar kini tulisannya bertambah.

Kim Myungsoo❤ Son Naeun

Semua orang mengenang kisah cinta kita

Tapi aku tidak merasakannya

Akankah aku dapat kesempatan?

 

TIDAK

 

Myungsoo tercengang.

Bentuk tulisannya begitu mirip dengan tulisannya sendiri. Pantas gurunya menyangka ia juga yang menulis jawaban atas pertanyaannya.

Lelaki itu mengamati tulisan tersebut lekat-lekat. Mengapa bisa sama seperti tulisan tangannya…? Apa ini tulisan..

“ L …?”

***

 

“ Tidak.. tidak mungkin! Ah!”

Myungsoo terbangun, ia langsung mengerang dan memegangi lehernya yang luar biasa pegal dan kaku karena tertidur dengan posisi tertelungkup di atas meja baca perpustakaan.

Kini ia panik, dengan cepat melirik jam yang melingkar pergelangan tangan putihnya.

“ Huh.. astaga.. kukira sudah pagi.”

Myungsoo bernafas lega ketika jam masih menunjukkan pukul 3 pagi. Ia menenangkan diri sejenak, batinnya bergejolak akibat mimpi yang baru saja ia alami. Mimpi itu bahkan membuatnya kehilangan rasa kantuk, padahal ia baru tidur selama kurang lebih empat puluh menit setelah menyelesaikan PR Matematika milik Naeun.

Ia merasa takut untuk tidur lagi.

Perlahan Myungsoo menoleh ke kanan dan kirinya. Baru ia sadari Naeun tak ada di sampingnya lagi. Chorong yang beralasan mencari Woohyun ternyata tak kembali juga ke perpustakaan. Kini hanya Myungsoo seorang diri di bangku meja belajarnya.

“ Apa dia ke kamarnya?”pikir Myungsoo. Dengan pikiran yang masih setengah sadar, ia menemukan sebuah buku di lantai.

Buku PR itu.

Lelaki itu buru-buru memungutnya.

Sunbae? Kau bangun?”

Myungsoo terlonjak. Naeun muncul di belakangnya dengan dua cangkir minuman hangat.

“ Hei, kau juga bangun? Dari mana?”Myungsoo kembali duduk dengan normal dan tangannya masih menggenggam buku PR tersebut dengan erat.

“ Yah.. aku terbangun. Gara-gara kepala sekolah datang dan menangkap Sungyeol sunbae.”

“ Apa?” Myungsoo terkejut sekaligus tak mengerti.

“ Ya. Kepala sekolah tahu Sungyeol sunbae tidur disana.” Naeun menunjuk tempat Sungyeol bersembunyi dan tidur di antara rak perpustakaan sebelum waktu belajarnya habis, “…mungkin tertangkap kamera CCTV.”

Myungsoo terkejut. Ini artinya Kim Sunggyu tidak main-main dengan peraturan belajar ketatnya. Jika ia tahu Sungyeol tidur di perpustakaan, artinya ia mengawasi kamera CCTV sepanjang malam.

Ia memang kepala sekolah yang mengerikan.

“…tadinya kepala sekolah ingin menangkapmu juga, tapi aku bilang kau tidur setelah lewat jam 2. Jadi dia hanya menyuruh kita untuk segera kembali ke asrama.”sambung Naeun.

“ Lalu bagaimana dengan Sungyeol? Dia dibawa kemana?”

“ Kepala sekolah bilang, kau yang harus menjemput Sungyeol sunbae ke ruangannya jam enam nanti, sebelum masuk kelas.”

Aigoo.. semoga Sungyeol baik-baik saja.”

Naeun mengangguk dan tersenyum meski bibirnya langsung terasa berkedut kesakitan akibat mimpi yang baru saja ia lalui dengan L.

Naeun begitu membenci pertemuannya dengan L kali ini. Ia sangat bersyukur karena secara tak sengaja kedatangan Kim Sunggyu untuk menangkap Sungyeol di perpustakaan membuatnya terbangun dari mimpi kiriman suaminya itu.

“…oh ya, itu… darimana?”Myungsoo memecah lamunan Naeun sembari menunjuk dua cangkir cokelat panas yang masih ada dalam genggaman gadis itu.

“ Eh? Oh.. ini.. aku mampir ke kantin 24 jam barusan. Aku pesan ini karena kedinginan.” Naeun meletakkan minuman hangat tersebut di meja, mendorong sedikit satu cangkirnya ke hadapan Myungsoo, “…anggap saja sebagai tanda terimakasih sudah mengerjakan PRku, hehe.”

Lelaki tampan itu masih diam, mengamati Naeun yang minum lebih dulu. Entah apa alasannya, Myungsoo hanya suka melihatnya.

“ Aish..”

Gadis itu menurunkan cangkirnya, setelah itu agak menjauh, kemudian mengeluarkan sebotol kecil cairan obat dari sakunya dan menggunakan sedikit obat tersebut di bibirnya, sesekali gadis itu meringis kesakitan. Apa ia tak bisa minum karena bibirnya sakit?

“ Biar kubantu.”

Setelah sedikit menyesap minumannya, Myungsoo mendekat, menyingkirkan tangan Naeun pelan, meraih kedua bahunya dan membuat gadis itu berhadapan dengannya, kemudian mengambil kapas dari tangan gadis itu lalu mengobati luka di bibirnya dengan hati-hati. Sebelum bertanya ada apa, Myungsoo lebih memilih untuk menolong dulu.

Naeun tak menolak, meski wajah cantiknya tiba-tiba bersemu merah. Ia terus menatap ke lantai, menghindari kontak mata karena alasan-alasan tertentu yang mungkin saja bisa mengganggu perasaannya.

“ Boleh aku tanya…kau kenapa?”tanya Myungsoo hati-hati dan tentu saja sopan seperti biasanya, matanya masih belum beralih dari bibir cherry Naeun yang terluka dan ternyata.. sedikit berdarah.

Gadis itu terdiam sejenak. Namun tak lama setelah itu hanya menggeleng pelan, merasa malu jika harus menceritakannya pada Myungsoo.

“…oh, baiklah. Semoga cepat sembuh, tidak terlalu sakit, kan?”

Seperti biasa, Myungsoo lelaki yang pengalah. Meski rasa ingin tahunya sangat besar.

“ Bukankah ini sudah lewat jam 2? Kau bisa tidur sekarang. Kita harus kembali ke asrama.”bisik Naeun seraya melirik jam di atas pintu perpustakaan, kemudian membereskan buku-bukunya.

“ Haruskah aku mengantarmu?”tawar Myungsoo ramah, Naeun menggeleng.

“ Jangan langgar aturan lagi, sunbae. Kudengar beberapa kali kau memasuki asrama putri.”

“ Kau yang membuatku melanggar aturan.”

“Haha.”

Naeun hanya tertawa kecil, pikirannya sungguh masih terlalu kacau menanggapi setiap perkataan Myungsoo yang mengarah pada ketertarikan lelaki itu padanya.

Mimpi dari L beberapa saat lalulah yang membuat pikirannya semakin tidak karuan.

“ Bagaimana dengan PRku, sunbae?”gadis itu mengalihkan pembicaraan dengan sedikit malu karena tugasnya yang tak ia kerjakan sendiri.

Myungsoo menyadari buku PR Naeun yang masih ada dalam genggamannya. Ia belum memeriksanya, apakah ada tulisan dari L seperti dalam mimpinya?

“ Hm.. sebentar, aku perlu cek lagi.”ia beralasan dan membuka bukunya cepat-cepat, Naeun menunggu dengan sabar.

Myungsoo nyaris berhenti bernafas ketika menemukan apa yang ia lihat dalam mimpinya.

Tulisan itu. Tulisan itu benar-benar ada. Bagaimana L tahu?

Ini akan menjadi permasalahan serius, Myungsoo berfirasat bahwa waktunya untuk bertemu dengan sisi jahatnya itu semakin dekat. Meski ia sering memuji L di depan Naeun, jujur saja sebenarnya ia merasa takut bertemu dengan penyihir itu. Yang ada dalam bayangannya hanyalah pertemuannya dengan L tak akan diisi oleh pembicaraan, namun dengan pembunuhan.

Myungsoo merobek kertasnya, meremas-remasnya dengan gugup lalu menyerahkan bukunya pada Naeun, gadis itu sedikit heran.

“ Kenapa disobek?”

“ Aku meninggalkan coretan, nilaimu bisa dikurangi kalau bukumu tidak bersih. Jadi aku buang saja.”

Naeun mengangguk, “ Terimakasih banyak, sunbae. Aku kembali ke kamar duluan.”

Tanpa persetujuan, Naeun menghabiskan minumannya kemudian segera berbalik dan berlari kecil keluar dari perpustakaan duluan. Myungsoo pun segera berdiri, membereskan buku-bukunya dan keluar dari sana, berjalan di belakang Naeun tanpa disadari oleh gadis itu.

Lelaki itu masih meremas segumpal kertas di tangannya, memeriksanya berkali-kali dan memastikan matanya memang tak salah lihat. Tulisan –yang ia anggap- L benar-benar ada disana.

Myungsoo tersenyum getir, kemudian menatap punggung Naeun yang masih ada dalam pandangannya.

“ Kau pasti sangat mencintai Yeoshin, L. Aku tak tahu bagaimana bisa kau terus mengawasinya..”

“…aku juga ingin begitu. Aku juga ingin terus berada di belakang Yeoshin, atau jika bisa, di sampingnya.”

“…bisakah.. kita sama-sama menjaganya?”

Naeun mencoba untuk terus meluruskan pandangannya. Ia tahu Myungsoo ada di belakangnya, namun ia memaksa dirinya untuk tidak menoleh.

Pertemuannya dengan L dalam mimpi beberapa saat yang lalu membuatnya kini merasa bahwa menatap Myungsoo terlalu lama adalah hal yang salah.

Meski seiring dengan rasa bersalah itu, rasa penasaran pun muncul dalam benaknya. Pertanyaan-pertanyaan tentang Myungsoo. Bagaimana bisa secepat itu Myungsoo jatuh cinta padanya? Mengapa Myungsoo bisa menyukainya disaat auranya sudah ada pada L? dan..

Berapa lama Naeun sanggup menghindari dan menolak lelaki sebaik dia?

**

Myungsoo memutar langkahnya ketika menyadari Naeun sedikit mempercepat jalannya menuju gerbang asrama putri. Malam ini, lelaki itu sedang tak ingin melanggar aturan. Ia memilih untuk kembali saja ke kamarnya.

Hingga ia melintasi kamar Woohyun, menatap jendelanya yang masih terbuka dan melihat seseorang yang sangat familiar di dalam sana.

Park Chorong.

Gadis itu tertidur pulas di atas meja belajar Woohyun dengan setumpuk buku-buku serta kertas-kertas yang berserakan. Kelihatannya, sejak keluar dari perpustakaan gadis itu benar-benar mendatangi Woohyun dan mengerjakan tugas-tugas sekolah ‘mantan kekasihnya’ itu.

Bisa dikatakan, semua tugasnya, karena saat ini Woohyun justru tidur dengan nyaman di ranjangnya, seakan tak peduli dengan tugasnya maupun orang yang mengerjakannya.

Tuk..tuk..

Myungsoo tak tahu apa masalah mereka. Yang jelas, saat ini ia sangat ingin mengeluarkan Chorong dari sana. Ia tak ingin melihat sahabatnya tidur dengan tidak nyaman.

Chorong-ah..”

“ Eh?”

Gadis itu terbangun dan segera menoleh kearah jendela meski masih setengah sadar.

“ Myungsoo?”

“ Keluarlah.. kembali ke kamarmu.”

Chorong mengangguk pelan, namun tiba-tiba memukul kepalanya sendiri.

Aigoo..ada yang belum selesai. Aku ketiduran.”

“ Tugas Woohyun?”

Chorong mengangguk lagi dengan lebih pelan, sekilas melirik ‘mantan kekasih’nya yang masih terlelap tanda tak peduli.

“ Buka pintunya. Biar aku yang kerjakan. Kau kembalilah ke kamarmu.”

Gadis itu menurut, dengan sedikit terburu-buru keluar dari kamar dan menyerahkan buku serta beberapa lembar kertas pada Myungsoo.

“ Kau sendiri bagaimana?”bisik Chorong khawatir, Myungsoo mengacak-acak rambut gadis itu.

“ Ya aku disini saja, mungkin akan bergabung tidur dengan Woohyun setelah ini selesai, hahaha.”

Myungsoo tidur dengan Woohyun? Bagi Chorong, itu terlalu mengerikan untuk dijadikan candaan.

“ Kau benar..tidak apa-apa?”gadis itu masih saja tidak yakin. Myungsoo mengangguk berkali-kali dan membalikkan tubuh Chorong agar gadis itu cepat-cepat pulang ke kamarnya.

“ Jangan seperti ini lagi ya, Chorong-ah. Kau hanya menyiksa dirimu saja.”

Gadis itu mengangguk pelan dan menoleh sejenak, tersenyum pada sahabat laki-lakinya itu.

“ Aku sangat menyayangimu, Kim Myungsoo.”

*****

Naeun terhenyak ketika kasur sedikit bergerak. Meski tubuhnya masih berbalik, ia tahu Chorong bergabung dengannya ke atas tempat tidur. Naeun sedikit bersyukur karena Chorong membuatnya batal untuk terlelap, ia masih terlalu takut untuk tidur lagi.

Ia takut L mendatanginya lagi.

“ Son Naeun, kau sudah tidur ya?”

Chorong menyentuh punggungnya, dan konyolnya Naeun justru mengangguk.

“…haha. Maaf kalau aku membangunkanmu. Tidurlah.”sambung Chorong, kemudian ia membuka buku diarinya dan mulai menulis.

Entah mengapa, Naeun yang biasanya tak peduli kini justru penasaran. Terlebih setelah mengetahui bahwa saat ini Chorong kembali bimbang dengan perasaannya karena kehadiran Myungsoo.

Sial, sejak kapan Naeun begitu peduli dengan mereka? Peduli pada Myungsoo?

Gadis itu berbalik dan sedikit beringsut menuju meja tempat Chorong meletakkan buku diarinya, tentu setelah memastikan bahwa pemiliknya sudah tertidur.

“ Maafkan aku, sunbae. Aku hanya tidak bisa tidur lagi, jadi aku mencari bahan bacaan.”

Naeun bergumam kecil dan membuka diari Chorong dengan hati-hati agar sebisa mungkin suaranya tak terdengar oleh sang pemilik.

Ia cukup terkejut, rupanya Chorong bukan gadis yang senang menulis buku harian dengan panjang lebar. Chorong menulis dengan rutin setiap malam, namun dengan sedikit kalimat yang mewakili isi hatinya saja. Mungkin segala yang ingin ia ungkapkan sudah ia tumpahkan pada Sungyeol?

Mon – Aku masih tidak percaya uri Kim Myungsoo kembali. Tunggu, bisakah aku menyebutnya Myungsoo-ku?

Tue – Aku bahagia ia masih sama seperti dulu.

Meski ada yang sedikit menggangguku.

Ia terlalu peduli pada Son Naeun.

Wed – Aku putus dengan Nam Woohyun, dan ia yang memutuskanku. Aku menangis sepanjang malam karena harga diriku terinjak-injak.

Tapi terimakasih atas ramennya, Lee Sungyeol. Hari ini cenayang itu mengirim video misterius di group chat, dan malam ini ia sangat banyak bicara.

Thu – tadi pagi…duel basket Myungsoo vs Woohyun. Melihat mereka bermusuhan bertahun-tahun, akulah yang paling tersakiti.

Sebenarnya tidak bermusuhan, Nam Woohyun brengsek itu yang terus membenci Myungsoo.

Tapi kenapa aku terus peduli pada lelaki brengsek yang bahkan sudah memutuskanku itu?

“ Mereka putus?”

Naeun tak menyangka, apa ia harus ikut campur dan menginterogasi Woohyun nantinya?

Kini ia membuka halaman-halaman belakang buku harian Chorong, yang justru terlihat lebih penuh dari halaman-halaman depan. Tak hanya dengan tulisan, namun dengan tempelan-tempelan foto.

Tentu saja, didominasi oleh gambar-gambarnya bersama Sungyeol dan Myungsoo dari waktu ke waktu. Mereka sudah begitu lama bersahabat, dan Naeun sedikit merasa bersalah karena ia dan L sempat mengacaukan persahabatan mereka. Bahkan hingga saat ini, Naeun masih merasa ia mengganggu persahabatan Chorong, khususnya dengan Myungsoo.

Chorong menulis banyak hal tentang kedua sahabat laki-lakinya dengan tulisan yang penuh hiasan indah, menunjukkan betapa sayangnya gadis itu pada kedua lelaki yang setia menjadi teman hidupnya hingga saat ini. Naeun bisa merasakan itu.

‘ Lee Seongyeol, cenayang misterius, hanya aku dan Myungsoo yang tahu betul siapa dia. Jika orang-orang menilai ia punya kecenderungan menyukai sesama jenis, mereka salah. Ia hanya menyukai Myungsoo’

 

‘Kim Myungsoo…

Ia serpihan surga yang jatuh ke bumi untukku dan Sungyeol’

 

Sebaik dan seberharga itukah seorang Kim Myungsoo? Hingga Chorong tak mampu menulis panjang lebar tentang lelaki itu karena sudah terlampau banyak kebaikan yang dilakukannya. Terlebih bagi Chorong, jika Myungsoo tak mengenalnya, mungkin hingga saat ini gadis itu masih tidak normal.

Naeun menemukan selipat kertas yang sudah kusut dan lusuh dalam selipan buku harian tersebut, sebuah surat balasan Myungsoo atas surat cinta Chorong dulu. Chorong masih menyimpannya, mungkin sebagai bukti bahwa Myungsoo pernah bersedia menjadi pendamping hidupnya?

Penyihir cantik itu membacanya, sekaligus mengagumi tulisan Myungsoo yang benar-benar indah dan persis dengan tulisan L. Dan ia sedikit menangis, mengetahui Myungsoo bersedia berkorban sedemikian besar untuk Chorong. Meski tidak jadi, setidaknya lelaki itu pernah menunjukkan kesungguhannya.

Tak heran Chorong begitu mengaguminya, bahkan Sungyeol sempat jatuh cinta pada lelaki itu. Siapapun yang nanti menjadi pendamping hidup Myungsoo, ia pasti wanita yang sangat beruntung.

Dan sesungguhnya, Naeun memiliki kesempatan untuk menjadi wanita itu.

Karena Myungsoo menyukainya.

Gadis itu bertanya-tanya dalam hatinya. Tidakkah ia terlalu sombong? Menghindari dan terus mengabaikan perasaan Myungsoo padanya, disaat Park Chorong atau mungkin gadis-gadis lain di luar sana begitu ingin memiliki lelaki itu?

Tidak. Naeun tidak merasa seperti itu. Ia juga tidak bisa membohongi perasaannya, perempuan mana yang tidak akan jatuh hati pada lelaki sebaik Kim Myungsoo? Tak hanya baik, penampilan luarnya juga begitu meluluhkan.

Naeun menutup buku harian Chorong, kemudian berbaring dengan menutup wajahnya menggunakan bantal, mencoba menghilangkan segala bayangannya tentang Myungsoo, karena saat ini semua kebaikan lelaki itu padanya terus berputar-putar dalam kepalanya.

Jika ia semakin lama berada di dunia nyata dan bertemu Myungsoo setiap waktu, ia tak tahu apa yang akan terjadi pada perasaannya.

Ia tak ingin terkesan lebih jauh pada Myungsoo. Karena bila demikian, ia tak hanya bersalah pada L, namun juga pada Lin. Tapi sanggupkah ia terus mengabaikan Myungsoo? Bisakah ia hanya melihat L? meski sisi jahat Myungsoo itu kembali menakutinya..

Naeun mengingat mimpinya lagi, pertemuannya dengan L yang membuatnya takut untuk tidur kembali.

“ Apa yang terjadi padamu, L? mengapa kau berbuat seperti ini lagi padaku?”

Naeun merasakan bibirnya yang terluka kembali berkedut.

***

“…”

L ap..pa? ap..pa!”

L mengerjap-ngerjapkan mata elangnya, sedikit terkejut mendapati Lin yang kini tiarap di atas dada bidangnya dan memanggil-manggil namanya bahkan menepuk-nepuk wajah tampannya.

“ Kau sudah bisa menyebut namaku?”

Ia hanya tersenyum menggemaskan, kemudian menunjuk-nunjuk bekas lilin yang ada di samping tempat L berbaring saat ini.

L baru sadar, terakhir kali ia ingat bahwa dirinya pingsan di depan Namjoo –setelah mengetahui Myungsoo ternyata sudah lama hidup kembali-.

Melihat lilin yang terus ditunjuk oleh Lin, L pun tahu pertemuannya dengan Naeun di dalam mimpi beberapa saat yang lalu rupanya adalah berkat putra kecilnya itu.

“ Aku merasa terlalu tua dipanggil appa. Panggil saja aku L, seperti aku menyebut nenekmu dengan Taeyeon saja.”L mengacak-acak rambut halus Lin yang mulai tumbuh dengan warna kecoklatan.

Lin tertawa kecil dan mengangguk, namun tangannya masih saja menunjuk lilin mati di samping tempat tidur. Hmm.. apa bocah menggemaskan ini ingin dipuji oleh L?

“…ya..ya.. aku tahu kau yang melakukan pengiriman mimpi padaku dan Naeun. Tapi mengapa kau matikan lilinnya terlalu cepat? Aku belum selesai berurusan dengan ibumu itu.”

“ Lin meniup lilinnya karena sepertinya ia tahu kau sedang berbuat kasar pada Naeun.”

L menoleh. Sejak kapan Taeyeon ada di ambang pintu?

Ne!”

Lin menyahut, membenarkan perkataan Taeyeon.

“ Ah, kau semakin pintar saja.”L mengalihkan pembicaraan dan kembali mengacak-acak rambut Lin, Taeyeon menggelengkan kepalanya.

“…jangan menatapku seperti itu, Taeyeon. Kau akan paham mengapa aku seperti itu pada Yeoshin.”ucap L tiba-tiba, membuat Taeyeon terhenyak.

“ Maksudmu..?”

“ Ayo kita bicara.”

Meski kepalanya masih pening, L berusaha untuk bangkit dari tempat tidur dan menempatkan Lin di ranjangnya.

“…sudah hampir pagi dan kau belum tidur. Aku takut kau sakit lagi. tidurlah.” L mengusap puncak kepala putra kecilnya itu kemudian mengecup keningnya singkat.

“…maafkan aku ya, sudah berbuat kasar pada ibumu.”

Lin memejamkan matanya dan tertidur. L segera keluar dari kamar dan menarik tangan Taeyeon untuk pergi berbicara.

“ Siapa yang membawaku ke istana? Aku pingsan di depan rumah keluarga Son.”tanya L dalam perjalanan.

“ Howon dan Hyerim mengikutimu kesana tanpa kau tahu, jadi mereka yang menolongmu.”jawab Taeyeon.

“ Haha.. Howon dan Hyerim..”

“ Kenapa kau tertawa sinis?”

“ Aku tidak tahu apakah aku harus berterimakasih pada mereka karena telah menolongku. Mereka.. sudah membuatku marah.”

“ Marah? Bagaimana bisa kau marah pada sahabatmu dan tuan putri negeri ini?”

“ Kau juga mungkin akan marah. Dengarkan aku.”

L dan Taeyeon berhenti di salah satu balkon luar istana, melanjutkan pembicaraan sambil menunggu matahari terbit.

“ Jadi, apa yang membuatmu marah pada Howon dan Hyerim? Apa ini ada hubungannya dengan perlakuanmu pada Yeoshin dalam mimpi barusan?”

L mengangguk, masih berusaha menahan perih di hatinya mengingat apa yang ia temukan dalam buku PR Naeun.

“ Selamat untuk aku dan kau, Taeyeon. Sisi baik kita hidup kembali.”

“ APA?”

“ Dan itu berkat ahli ramuan yang aku cintai, Son Yeoshin. Ia menghidupkan mereka. Ia juga yang menghidupkan Namjoo.”

“ Tidak mungkin.. jangan bercanda, L.”

“ Apa aku kelihatan bercanda?” L menunjuk wajah tampannya yang memerah menahan sakit dan marah. Taeyeon segera merangkul anak semata wayangnya itu dan berusaha untuk tenang.

“ Lalu kau berpikir Howon dan Hyerim menyembunyikan ini semua darimu?”

“ Tentu saja. Aku bahkan yakin mereka adalah orang pertama yang menemukan Haeyeon dan Myungsoo.”

“ Ck, L selalu jitu menduga sesuatu.”

Hyerim memukul kepalanya dan bersandar di dinding dengan pasrah, merasa tak sanggup menguping pembicaraan L dan Taeyeon lagi.

“ Bagaimana kalau L membunuhku? Sial, karirku sedang bagus-bagusnya.”keluh Howon yang ikut bersandar di samping Hyerim.

“ Huh, Lee Howon yang kukenal sekarang hanya memikirkan karirnya.”

“ Kau akan hidup bahagia juga kalau karirku bagus.”

“ Aku tidak berpikir sampai kesana. Aku juga berpikir L akan membunuhku setelah ini.”

“ Ia tak mungkin membunuh anak raja.”

“ Siapa yang tahu? ia tidak takut pada siapapun.”

“ Tenang, Hyerim. Kita dengar dulu ia bicara apa lagi.”

Howon kembali berdiri dan lanjut menguping dengan hati-hati.

“ Jadi.. apa yang akan kau lakukan pada mereka berdua? Bagaimanapun juga sebenarnya mereka sangat baik dan mereka adalah orang terdekatmu..”

“ Aku tahu..”L melirik ke lorong, Howon segera menarik dirinya dengan panik.

“ Aku yakin seratus persen L tahu kita disini.”

“ Kita keluar saja.”Hyerim ikut berdiri, namun Howon menghalanginya.

“ Jangan. Aku takut ia emosi saat melihat kita.”

L tertawa kecil sendiri, telinga penyihirnya yang tajam mendengar pembicaraan Howon dan Hyerim di balik dinding. Namun ia tak berniat menangkap basah mereka berdua.

“ Kau benar, Taeyeon. Lagipula setelah kupikir-pikir, Howon dan Hyerim membukakan jalan agar aku bisa segera menjemput Yeoshin dari dunia nyata.”

“ Mereka bilang, kau harus ke negeri Gwangdam untuk mengambil ramuan portal baru dari tangan Kim Ahyoung, penyihir istana Gwangdam. Benarkah?”

L mengangguk, “ Tadinya aku tidak ingin kesana. Tapi sekarang aku punya alasan kuat untuk pergi. Aku harus mendapatkan ramuan portal itu, aku tak bisa membiarkan Yeoshin melihat Kim Myungsoo lebih lama lagi.”

“ L benar-benar akan pergi?”Howon terkejut.

“ Syukurlah. Krystal akan selamat.”Hyerim mengelus dadanya, meski rasa khawatir masih mengganjal dalam hatinya.

Kali ini tentang sahabatnya, Naeun.

Ia berfirasat buruk.

“ Kau benar-benar yakin sisi baik kita hidup? Kau sudah melihat mereka secara langsung?”tanya Taeyeon masih tak percaya, L mulai lelah meyakinkan ibunya itu.

“ Belum. Tapi aku menemukan tulisan Myungsoo dalam buku Naeun di mimpi barusan. Sebuah… pesan cinta.” L sedikit tercekat mengucapkannya, emosinya kembali naik mengingat hal itu.

“ Apa?”

“ Pesan cinta? Myungsoo menyukai Naeun?”kali ini Hyerim yang terkejut.

“ Sudah kuduga ini akan terjadi. Selama di apartemen, Myungsoo selalu mengatakan ingin bertemu dengan Naeun, ia juga terus memuji sketsa wajah Naeun dalam buku yang ia baca.”sahut Howon.

“ Tapi bukankah aura Naeun sudah ada pada L? apa mungkin.. sisi baiknya bisa merasakan aura itu juga?”

“ Entah. Aku berfirasat Myungsoo memiliki kalung aura milik L. kulihat L tidak memakai kalung itu lagi. pasti kalungnya hilang.”

“ L menyimpan aura Naeun dalam sebuah kalung?”

“ Ya. Dan biasanya ia terus memakai kalung itu setiap saat.”

“ Kenapa aku baru tahu…”

“ Jadi maksudmu.. Myungsoo.. jatuh cinta pada Yeoshin?”

“ Tidak usah kau sebutkan. Aku muak mendengarnya.”

Taeyeon bisa merasakan betapa besarnya kemarahan L saat ini. Sama besarnya seperti saat mengetahui Madame Sunny terbunuh. Ia tak tahu sampai kapan L akan bertahan dengan segala beban di kepalanya.

“ Semuanya sudah terlanjur, L. aku juga tak akan mempermasalahkan Kim Haeyeon.. sebaiknya kau fokus saja dengan Hyoyeon yang bisa muncul tiba-tiba..”

“ Aku tak akan berdaya melawan Hyoyeon jika hatiku sakit seperti ini.”

“ Katakan padaku apa yang bisa memulihkan hatimu.”

“ Aku harus memberi pelajaran pada orang yang kusalahkan.”

Taeyeon berpikir dahulu, bahkan Howon dan Hyerim yang masih menguping ikut menebak-nebak.

“ Siapa yang kau salahkan, L? Apakah Howon? Hyerim? Atau……”

“ Yeoshin.”

“ A..apa?”

“ Jika dia tidak membuat ramuan pembangkit kematian itu, Myungsoo tak akan hidup, dan tak akan jatuh cinta padanya. Benar, kan?”

“ L benar. Tapi bagaimana mungkin ia akan memberi pelajaran pada istrinya sendiri?” Howon tak habis pikir.

“ Ia sudah gelap mata. Hasrat jahatnya bangkit kembali. Yeoshin.. seandainya aku bisa menolongmu..”Hyerim semakin khawatir, pikiran buruknya benar-benar terjadi.

“ L, pikirkan lagi. bagaimana mungkin kau akan memberi pelajaran pada wanita yang kau cintai? Apa yang akan kau perbuat padanya?”Taeyeon pun ikut berperasaan buruk karena ini artinya sifat asli L mulai kembali dengan kemarahannya. Dan satu hal yang Taeyeon tahu, ia takkan mampu mencegah L.

L menggeleng dengan misterius, “ Kupikir aku sudah memberi Yeoshin peringatan dalam mimpi barusan.”

“ Peringatan macam apa yang kau lakukan pada Yeoshin sampai Lin harus mematikan lilin mimpi kalian?”

L mengelus pipinya yang sedikit memerah karena sempat ditampar oleh Naeun dalam mimpinya.

“ Aku hanya menciumnya hingga berdarah.”

“…dan aku tak akan berhenti sampai disana.”

*****

“ Selamat pagi, kawan.”

“ WHOA!!”

Woohyun nyaris jatuh dari atas tempat tidur kamar asramanya yang mewah, terkejut karena wajah tampan rivalnya yang ia lihat saat pertama kali membuka mata.

“ Sedang apa kau disini hah!?” tembaknya kasar, Myungsoo masih sabar dan tersenyum tenang.

“ Sudah selesai semuanya. Kau harus traktir aku hari ini.” Myungsoo menunjuk buku-buku tugas Woohyun yang sudah tertata rapi di atas meja belajar, Woohyun langsung mengerti dan yakin pasti semalam Chorong menukar posisinya dengan Myungsoo.

“ Jangan sok akrab denganku. Keluar. Kau pikir kau siapa bisa tidur di atas tempat tidur mahalku?”

Myungsoo ikut bangkit dari tempat tidur Woohyun, namun justru meraih handuk di dekat kamar mandi dan masuk ke dalam sana.

“ Aku tidak punya waktu untuk kembali ke kamar, aku harus segera menjemput Sungyeol di ruang kepala sekolah. Jadi.. aku menumpang mandi, ya.”

“ Apa? H..hei! tidak bisa!!! YA!!” Woohyun menggedor-gedor pintu kamar mandinya, namun berhenti karena lelah sendiri.

“…sialan kau Kim Myungsoo, apa yang sedang kau rencanakan hah?”

Sisi baik L itu tidak menyahut, umpatan Woohyun hanya dibalas dengan suara guyuran air. Woohyun pun mendekati meja belajarnya dan memeriksa semua tugasnya.

Memang benar bahwa Chorong mengerjakannya, dan Myungsoo menuntaskannya. Ini sedikit memalukan. Ia sedikit menyesal sengaja tidak hadir dalam kerja kelompok semalam. Padahal setidaknya itu lebih baik daripada melihat tugasnya dikerjakan oleh Chorong dan Myungsoo.

Tak lama, Myungsoo keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada, menatap Woohyun dan hanya memberi kode agar ia juga pergi mandi.

“ Kau sedang merencanakan sesuatu padaku, kan?” Woohyun menatapnya tajam dengan tangan mengepal, Myungsoo menggeleng dengan polos.

“ Aku hanya menyuruhmu mandi. Kita bisa terlambat.”

“ Kau tidak merasa kelewatan? Kau pikir kau sedang berada di kamar siapa sekarang?”

“ Mandilah dulu, kawan.”

“ Kawan? Cih.” Woohyun mendengus dengan sinis dan masuk ke kamar mandi dengan membanting pintu.

Myungsoo hanya menghela nafas dan memakluminya. Setelah menduga bahwa hubungan Chorong dengan Woohyun sedang tidak berjalan baik, Myungsoo berniat untuk sedikit lunak dengan orang yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membencinya ini.

Ia beralih dan membuka lemari pakaian Woohyun, hingga terpampang puluhan stel seragam SMA Junghwa yang mahal di dalam sana.

“ Aku hanya punya dua stel, bahkan sempat berhutang ke koperasi saat membelinya. Dan kau punya sebanyak ini untuk berganti setiap hari? Sungguh beruntung…” gumam Myungsoo seraya mengambil satu stel dan memakainya.

“ Hei sialan! apa lagi sekarang? Kau menyentuh seragamku!?” Woohyun keluar dari kamar mandi dan berteriak, kesabarannya hampir habis.

“ Aku hanya pinjam satu.”

“ Kau belum izin padaku!”

“ Kau pasti tidak akan mengizinkan, jadi aku tidak perlu izin.”

Woohyun mendengus, haruskah ia membunuh rivalnya ini sekarang juga?

“ Akan kucuci dan kukembalikan nanti. Tenang saja.” Myungsoo tersenyum manis, menepuk bahunya dan berjalan keluar dari kamarnya.

“…terimakasih tumpangannya, Nam Woohyun. Aku duluan, aku harus menjemput Sungyeol di ruangan kepala sekolah.”

“ Kenapa cenayang itu?”

“ Dihukum.”

***

“ Tegakkan badanmu!”

N..ne..”

Sungyeol masih mencoba menopang tubuhnya dengan satu kaki dan kedua tangan menyilang memegang telinga. Sudah hampir empat jam ia bertahan dalam posisi konyol ini di sudut ruangan Kim Sunggyu.

Entah setan apa yang merasuki kepala sekolah barunya itu, selama empat jam pula ia betah sekali melihat harga diri muridnya yang satu ini terinjak-injak dengan terus membentaknya jika ia sedikit saja bergerak dan merubah posisinya. Sambil terus mengawasi kamera CCTV, tentunya. Membuat Sungyeol berpikir apakah Kim Sunggyu adalah pengidap insomnia akut. Semalaman penuh ia hanya mengawasi setiap sudut lingkungan SMA dan asrama Junghwa, tanpa tidur sama sekali.

“ Sudah hampir jam enam. Aku harus bersiap ke sekolah.” Sunggyu bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari ruangannya.

“ B..bagaimana denganku?”

“ Jangan bicara kalau aku belum memintamu berhenti.”

“ Ugh!! Monster!”

Sungyeol menurunkan kaki dan tangannya dan membanting dirinya ke atas sofa sedetik setelah Sunggyu keluar, peluhnya bercucuran hanya karena hukuman bodoh yang hampir empat jam dihadapinya.

“ Kau bilang apa tadi?”

“ EH?”

Lelaki itu nyaris panik, ia kira Sunggyu kembali ke ruangannya.

Rupanya Kim Yura.

“ Kau mengejutkanku saja. Kukira kau sudah kembali ke habitatmu di SMA Wondae.”

SMA Wondae adalah sekolah Yura, Sungyeol ingat betul ia baru saja mengantar gadis itu kesana kemarin. Dan sekarang Yura sudah kembali lagi ke SMA Junghwa? Sungguh gadis nakal.

“ Asrama Junghwa kan rumahku sekarang.”jawab Yura enteng. Rupanya ia benar-benar menggunakan kamar asramanya disini.

“ Lalu kau mau bolos lagi hari ini?”

“ Guru-guruku rapat lagi.”

“ Omong kosong.”

Rahang Yura mengeras, tangannya langsung melempar satu stel seragam dan satu gayung alat mandi pada Sungyeol hingga berhamburan di atas tubuh namja itu.

“ Dasar sinis! Aku menyesal membawa itu semua untukmu! Hih!”

Dan gadis itu langsung keluar dari ruangan dengan membanting pintu. Sungyeol masih heran, memperhatikan seragam sekolah dan peralatan mandi yang ia terima.

“ Ia jauh-jauh ke kamarku untuk mengambil ini? Aku bahkan tidak menyangka ia tahu aku dihukum.”

Lelaki itu berdiri dan bergegas menuju kamar kecil yang ada di ruangan. Mencoba tidak peduli dengan gadis yang barusan pergi dengan marah karenanya.

“…hah, paling-paling dia mengambil ini ke kamarku hanya untuk melihat Myungsoo.”

***

“ Tuan putri.. apa kau sudah selesai?”

“ Ya?” Hyerim menoleh dan segera berdiri menghampiri Taeyeon yang rupanya sejak tadi menunggu di belakangnya.

“ Apa yang kau kerjakan?”

Hyerim tersenyum seraya merapikan gaunnya yang mulai tak terbiasa ia kenakan, “ Hanya ikut berdoa.”

Taeyeon mengalihkan pandangannya pada para penyihir yang masih berjajar, berbaris dengan berlutut di lantai dan menutup mata mereka. Sejak kedatangan Hyerim ke istana, mereka memutuskan untuk terus berkumpul dan ‘berdoa’ untuk keselamatan keluarga dan warga kerajaan Junghwa yang masih dalam perjalanan pulang dari negeri Gwangdam.

“…ada apa, Taeyeon? Kau tidak bergabung dengan mereka?”tanya Hyerim, Taeyeon menggeleng seraya menarik sang tuan putri untuk pergi keluar istana.

“ Tidak. Aku yakin semuanya akan selamat dan tiba disini.”

“ Semoga saja. Aku merindukan keluargaku..”Hyerim menghela nafas berat, “…tadi aku juga.. berdoa agar L selamat sampai ke negeri Gwangdam.”

Taeyeon tersenyum getir, “ Sepertinya kau mendengarkan pembicaraan kami tadi pagi.”

Kali ini Hyerim salah tingkah. Jangankan L, rupanya Taeyeon saja tahu ia dan Howon menguping tadi pagi. Hm, memang tak seharusnya mereka bersembunyi dari penyihir.

Namun Taeyeon rupanya tak ambil pusing soal itu.

“…kau benar, tuan putri. L akan segera pergi, dan aku masih berat hati melepaskannya dalam kondisi seperti itu.”

“ Kondisi..seperti apa?” Hyerim bukan tak tahu jawabannya, ia hanya ingin memastikan.

“ Kau tahu sendiri, L tidak pernah stabil jika sedang marah atau sakit hati. Apalagi dengan darah jahat yang ia bawa sejak lahir.. aku takut—“

“ Bukankah dia sudah berjanji untuk berubah?”

“ Yah, semua orang bisa mengucapkan janji. Tapi kau tahu kan, mewujudkan sebuah janji tentu perlu usaha, dan sebagai ibu.. aku tahu L masih bersusah payah dalam usahanya menjadi penyihir baik seperti yang diinginkan Yeoshin..” Taeyeon mengalihkan matanya sejenak menuju pintu kamar tempat Lin berada, L sedang berada di dalam sana, mungkin tengah bersiap untuk pergi.

“…bayangkan saja, Hyerim. Seluruh negeri tahu betul, sejak lahir L terus berbuat jahat, dan sekarang ia harus menahan semua hasratnya untuk melukai siapapun. Semua demi Yeoshin, tapi ternyata Yeoshin mengecewakannya.”

“ Yeoshin tidak bermaksud begitu, Taeyeon. Percayalah..”

“ Aku mengerti, Hyerim. Kau bisa membela sahabatmu.”Taeyeon menepuk bahu Hyerim, kaki mereka telah melangkah keluar dari istana.

“ Lihat dia. Kupikir sudah benar-benar berubah, ternyata tidak juga.” Hyerim mengalihkan pembicaraan sejenak ketika melihat Howon yang sedang bermain bola dengan bocah-bocah penyihir di halaman samping istana.

Lelaki itu rupanya sadar dan ikut melihat Hyerim dan Taeyeon yang berdiri tak jauh dari arena bermainnya.

“ Hei! Mau kemana kalian?”ujarnya sedikit berteriak.

“ Ke rumah keluarga Son.”sahut Taeyeon.

Mwo? Jadi kau sedang mengajakku kesana?” Hyerim terkejut. Taeyeon mengangguk saja.

“ Aku ikut!” Howon mengakhiri permainannya dan berlari kecil ke arah Hyerim dan Taeyeon sembari menghapus peluhnya.

“ Kupikir sejak menjadi selebriti kesombonganmu meningkat, ternyata kau masih mau bermain dengan anak-anak..”sindir Hyerim.

“ Haha.. aku bermain ke luar karena takut bertemu L.”jawab Howon kikuk, Taeyeon tertawa kecil.

“ Tenang saja. Setidaknya L tidak akan membunuhmu. Kalian sahabat, kan?”sela Taeyeon.

“ Yah.. tapi tetap saja.. aku merasa bersalah sudah menyembunyikan tentang Myungsoo dan Haeyeon darinya. Darimu juga, Taeyeon.”

“ Kami menyesal karena akhirnya L dan kau tahu sendiri, kalian pasti snagat kecewa. Kami minta maaf..”sambung Hyerim, Taeyeon mengangguk-angguk mengerti.

“ Sebenarnya.. aku masih setengah tidak percaya. Makanya aku ingin pergi mengunjungi Namjoo. Ia mungkin bisa menjelaskan semuanya.” Taeyeon mempercepat langkahnya, Hyerim dan Howon mengikutinya dari belakang.

“ Wajahmu pucat sekali. Berapa lama kau bermain di luar?”bisik Hyerim setelah beberapa saat menatap wajah Howon yang berjalan di sampingnya.

“ Bukan karena bermain..”jawab lelaki itu pelan, kemudian sedikit mendekat untuk membisikkan sesuatu pada Hyerim.

“ Tadi.. bolaku sempat terbuang jauh, aku mengambilnya. Dan.. rupanya bola itu mengenai batu..”

“ Lalu apa masalahnya?”

“ Batu itu.. nisan.”

“ APA? Jadi kau ingin mengatakan.. ada makam di istanaku?!”

“ Taeyeon belum bilang apa-apa tentang itu?”

Hyerim menggeleng dan panik, “ Makam siapa itu!?”

“ Bunga-bunga di atas pusaranya masih segar.. makam itu masih baru..” Howon sedikit gugup juga menjawabnya sebab ia sendiri masih syok, “…Hyerim-ah, apa kau tidak heran mengapa sejak kita datang kesini, kita sama sekali tidak melihat Madame—“

“ Kau ingin bilang itu makam Madame Sunny!?” seluruh tubuh Hyerim mendadak dingin dan airmatanya berjatuhan, Howon panik.

“ Benar. Dan disinilah tempatnya terbunuh.”

Taeyeon menghentikan langkahnya di depan pohon besar tempat dimana ia dan L menemukan jasad sang penyihir istana. Rupanya sejak tadi Taeyeon mendengar pembicaraan mereka.

Maldo andwae.. Madame..” Hyerim nyaris berontak, namun Howon buru-buru memeluknya hingga gadis itu justru jatuh pingsan karena syok.

“ Sunny merawat Hyerim dan saudara-saudaranya sejak kecil. Ini pasti berat baginya. Aku minta maaf tidak bilang dari awal. Tadinya aku berencana untuk menyembunyikan kematian Sunny dari keluarga kerajaan bagaimanapun caranya. Tapi sepertinya tidak mungkin.” Taeyeon menyesal, ia lantas mengajak Howon yang mengangkat tubuh Hyerim untuk segera mengikutinya menuju rumah keluarga Son yang tepat berhadapan dengan pohon tersebut.

***

“ Permisi..”

Myungsoo mengetuk pintu ruangan kepala sekolah dan masuk dengan hati-hati, matanya langsung mencari-cari Sungyeol yang kelihatannya sudah tidak ada disana. Hanya ada sang kepala sekolah yang berdiri dengan wajah mengeras di depan pintu kamar kecilnya. Pria itu melirik Myungsoo sekilas kemudian menendang pintu kamar kecilnya.

“ Temanmu sudah datang, cepatlah keluar kau b—“

Dengan sopan Myungsoo mencoba memberi isyarat agar Sunggyu tak jadi mengucap kata-kata kasar, ia akhirnya mengerti Sungyeol ada di dalam kamar kecil sejak tadi.

Sunggyu akhirnya beralih dari depan pintu dan duduk di atas sofanya.

“ Duduk.”titahnya singkat.

Myungsoo tersenyum, membungkuk dan duduk di depannya.

“ Tolong maafkan Sungyeol, songsaenim. Ini salah saya tidak mengingatkannya untuk tidak tidur sebelum jam dua.”

Sunggyu tertawa sinis, “ Jika satu sekolah kecuali kau melanggar peraturan, sepertinya kau akan minta maaf juga atas nama mereka satu per satu. Begitukah, Kim Myungsoo?”

Myungsoo tak menjawab, ia tahu ia tak akan pernah menang.

Kini sang kepala sekolah merogoh saku jasnya, kemudian melempar sebuah amplop ke arahnya.

“ Itu, upah loper buletin.”

“ Ah, ne.. terimakasih, songsaenim.” Myungsoo memungutnya karena amplop tersebut mendarat di lantai, ia membungkukkan badannya lagi untuk berterimakasih.

“ Adikmu loper juga kan? Mana dia? Tidak mau uang dariku?”

Myungsoo kebingungan karena Kai mendadak hilang, sejak kemarin juga sebenarnya ia mencari tahu keberadaan adiknya itu.

“ Kai izin!”

Seorang gadis tiba-tiba muncul di ambang pintu.

Son Naeun.

Ia masuk dan menyerahkan satu amplop surat pada Sunggyu. Surat izin Kai yang ia karang sendiri. Mengingat Kai pergi karena dibantu olehnya, ia merasa bertanggung jawab jika ada yang menanyakan kemana perginya adik Myungsoo itu.

“ Oh, ya. Selamat pagi, songsaenim.” Naeun pun membungkukkan badannya, Sunggyu mengangguk saja kemudian melirik Myungsoo yang masih duduk di depannya.

“ Kalian putus ya? Aku membaca buletin juga.”ucap Sunggyu santai, membuat Myungsoo dan Naeun langsung merasa tak nyaman.

“ Saya.. izin kembali ke ruang makan. Permisi.” Naeun membungkukkan badannya lagi. Lebih baik menghindar, pikirnya.

“ Keputusan yang tepat, Son Naeun. Woohyun punya banyak kenalan teman yang lebih kaya, sebaiknya kau dengan mereka saja, daripada dengan loper buletin.”

Kenapa situasinya semakin tak nyaman? Naeun sungguh ingin menutup mulut kepala sekolahnya. anehnya, Myungsoo pasrah saja dan hanya menunduk mendengar penghinaan yang ia terima.

“ Tapi.. Myungsoo sunbae sangat baik.” Naeun hanya menjawab demikian dan tersenyum pada Myungsoo, membuat jantung lelaki itu berdebar keras untuk kesekian kalinya.

“…permisi. Sunbae, aku duluan.” Naeun membungkukkan badannya sekali lagi bahkan menatap Myungsoo beberapa saat sebelum benar-benar meninggalkan ruangan kepala sekolah.

“ Hah, kau miskin yang beruntung.”Sunggyu tertawa pada Myungsoo.

Lelaki itu tak peduli, kepalanya kini dipenuhi dengan wajah tersenyum Naeun yang baru saja ia dapatkan pagi ini.

***

“ Sebelumnya.. aku sangat minta maaf. Aku tidak tahu kalau apa yang aku katakan pada L membuat kalian kecewa. Aku saja terkejut saat L pingsan didepanku..”

Sembari menuang teh ke dalam cangkir untuk Taeyeon dan Howon, Namjoo meminta maaf, gadis itu tak menyangka bahwa apa yang ia katakan tentang ramuan pembangkit kematian yang dibuat Naeun berdampak sedemikian hebat pada L.

“…aku kira kalian sudah tahu soal itu dari awal.”sambung Namjoo, ia kemudian duduk di samping Hyerim yang masih terbaring lemah di atas sofa sederhana rumah keluarga Son, tempat mereka berada saat ini.

“ Kami tidak tahu Naeun bisa membuat ramuan sehebat itu. Sampai saat ini aku bahkan masih tidak percaya..”ucap Taeyeon sembari terus memijat kepalanya.

“ Bagaimanapun juga.. kau harus percaya. Aku buktinya. Aku juga hidup karena ramuan itu, bersama wanita bernama Kim Haeyeon yang sangat mirip denganmu, dan.. bersama lelaki sangat tampan yang persis dengan L. tapi aku tak tahu mereka kemana setelah bangkit, aku langsung dibawa kesini oleh Hyoyeon.”

“ Myungsoo kubawa ke apartemenku, selama hampir satu bulan ia rutin membaca buku tulisan Hyoyeon, untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia sangat cerdas, jadi ia cepat memahami keadaan. Dan hebatnya, ia tidak marah dan tidak merasa dirugikan sama sekali. Ia sungguh baik..”jelas Howon, membuat Taeyeon begitu penasaran dengan sisi baik anaknya itu.

“…dan, Kim Haeyeon.. ia langsung masuk ke dalam penjara, karena dianggap lalai atas kasus pembunuhan belasan siswa yang dilakukan oleh L. kau masih ingat kan, Taeyeon?”tanya Howon hati-hati, Taeyeon langsung memucat.

“ Astaga. Ini salahku. Aku langsung melarikan diri ke negeri ini setelah peristiwa itu terjadi..” Taeyeon begitu merasa bersalah, “…apa ia tahu juga yang sebenarnya terjadi?”

Howon mengangguk, “ Ia juga punya kesempatan membaca buku Hyoyeon di dalam penjara. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya, tapi saat sidang terakhir.. ia mengorbankan diri dan mengaku bersalah. Kita semua, bahkan Myungsoo.. syok dengan keputusannya. Posisi kepala sekolah akhirnya diganti.”

“ Mengingat Haeyeon adalah sisi baik, mungkin ia merelakan dirinya.”Namjoo berpendapat, namun Taeyeon sedikit menggeleng.

“ Memang, aku sedikit mempelajari tentang diri Haeyeon saat dulu menggantikan perannya. Ia orang yang sangat menyayangi Kim Myungsoo, lebih dari dirinya sendiri.”jelas Taeyeon, “…sama seperti aku menyayangi L.”

“…tapi, soal pengorbanan dirinya, aku tidak yakin ia benar-benar ikhlas mendekam di penjara dan mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak ia perbuat. Ia pasti menginginkan sesuatu untuk menebus semuanya.”pikir Taeyeon.

“ Mengapa kau berpikiran seperti itu, Taeyeon?”tanya Howon.

“ Sebaik-baiknya manusia, adakah yang rela dipenjara atas sesuatu yang tidak diperbuatnya?”

Arasseo. Lalu menurutmu apa yang diinginkan Kim Haeyeon sebagai tebusan atas pengorbanannya?”

“ Seperti yang kukatakan, ia menyayangi Myungsoo lebih dari dirinya sendiri. Jadi kupikir, ia pasti menginginkan sesuatu untuk kebahagiaan Myungsoo, entah apa itu. Mungkin seseorang yang ia inginkan untuk menjadi pasangan hidup Myungsoo, atau sejenisnya.”

Howon tahu Taeyeon tak sekedar mengungkapkan pendapatnya. Sebagai peramal paling jitu di negeri Junghwa, Taeyeon tentu menerawang dulu dalam kepalanya sebelum berbicara.

“ Kalau Kim Haeyeon tahu bahwa saat ini Myungsoo menyukai Yeoshin, mungkin Yeoshinlah yang ia minta untuk mendampingi Myungsoo. Jika pendapatmu benar.”ucap Howon, karena ia cukup yakin itu bisa saja terjadi.

Taeyeon menghela nafas berat dan meraih sebatang rokok dari saku jubahnya, membakar dan menghisapnya sejenak.

“ Ini membuatku gila.”umpatnya setengah berbisik.

“…sekarang aku tahu doppelgangerku hidup kembali, dan aku merasa tidak masalah. Kemarahan L lah yang menggangguku, kenyataan bahwa Kim Myungsoo hidup karena ramuan buatan Yeoshin sangat menyakitkan bagi anakku. aku yakin, tidak akan masalah bagi L jika ia tahu Myungsoo hanya sekedar hidup tanpa mengenal Yeoshin, tapi keadaan sungguh berbeda.. Myungsoo berada di tempat yang sama dengan Yeoshin sekarang, dan L tahu sisi baiknya itu jatuh cinta pada istrinya. Jika aku jadi L, tentu aku juga akan sangat marah, apalagi Yeoshin menyembunyikan kenyataan ini hingga L mengetahuinya sendiri..”

“ Aku sudah bilang padamu, Taeyeon. Yeoshin tidak bermaksud…” Hyerim yang mulai sadar dan pulih menyahut, “…Yeoshin.. tidak bermaksud menyembunyikan ramuan pembangkit kematiannya dari L, karena ia sendiri tidak pernah menduga ramuannya itu akhirnya digunakan untuk Haeyeon, Myungsoo, bahkan Namjoo..”

Taeyeon mengangguk mengerti.

“ Tapi apa tujuan Yeoshin membuat ramuan itu?”

Hyerim terdiam sejenak. Mencoba mengingat-ngingat karena ialah yang menemani Naeun saat membuat ramuan tersebut di ruang penyimpanan mayat.

Flashback

Naeun beralih menatap jasad Myungsoo, menatap wajah tampan yang tersenyum itu kemudian melirik botol-botol ramuannya yang sudah jadi.

“ Bisakah aku mengajakmu berkenalan jika L tak akan pernah bisa menjadi orang baik?”ucap gadis itu pelan dan tanpa ia sadari membangunkan Eunji.

Eunji melihat Naeun pelan-pelan menggores pergelangan tangannya sendiri, kemudian meneteskan darahnya ke botol ramuan yang baru saja ia buat. Eunji menyadarinya, Naeun membuat beberapa botol ramuan yang sudah ia buat dari ramuan penyembuh menjadi ramuan pembangkit kematian.

“ Untuk apa dia membuat ramuan itu?”pikir Eunji, ketika Naeun menoleh kearahnya ia langsung memejamkan matanya lagi dan berpura-pura tidur. Saat Naeun kembali sibuk meneteskan darahnya, Eunji kembali memperhatikannya.

“…sudah selesai?”Eunji berpura-pura baru bangun.

“ YA! Sudah..” Naeun terkejut dan langsung menyembunyikan tiga botol ramuan penyembuhnya yang sudah menjadi ramuan pembangkit kematian ke bawah tempat pembaringan Myungsoo agar tak dilihat Eunji.

“ Berapa botol?”tanya Eunji berbasa-basi.

“ Ena… eh, tiga.. tiga..”Naeun menunjukkan ramuan penyembuhnya yang lain, “…ayo kita ke rumah sakit sekarang. Memberikannya untuk Woohyun oppa.”

“ Baiklah..”

-The Portal 1, part 15 –

 

Ini gila. Hyerim akhirnya ingat bahwa saat itu Naeun membuat ramuan tersebut karena keinginannya sendiri untuk membangunkan Myungsoo.

Haruskah Hyerim berbohong agar situasi tidak semakin rumit?

Ya, sebaiknya berbohong saja. Jika ia berkata jujur dan sampai ke telinga L, sesuatu yang mengerikan bisa saja terjadi.

“ Jadi begini, Taeyeon—”

“ Tidak usah kau jelaskan.” Taeyeon memotong, “…aku tahu. aku sudah membaca pikiranmu.”

Sial. Hyerim baru ingat ia berhadapan dengan siapa saat ini, Kim Taeyeon penyihir yang tidak bisa dibohongi.

“ Tidak..” Hyerim mendadak panik, “…tolong.. jangan beritahu L tentang ini.. kumohon.. Yeoshin bisa saja dalam bahaya..”

Taeyeon menghembuskan asap rokok dari mulutnya dan mengangguk lemah, “ Aku juga tak ingin melihat anakku lebih menderita lagi. urusannya dengan Hyoyeon bahkan belum selesai..”

“ Kemana Hyoyeon sekarang?”tanya Howon, Hyerim pun ikut bertanya-tanya.

“ Sejak kematian Madame Sunny, Hyoyeon depresi hebat dan menghilang. Entah kemana. Aku, Dongwoon oppa, dan Gain unnie juga tidak tahu. ia seperti ditelan bumi.”jawab Namjoo.

“ Bukankah itu bagus? Mungkin saja ia sudah bunuh diri di suatu tempat.” Howon berusaha berpikir positif, meski ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia ucapkan.

“ Aku berpikir sebaliknya. Kupikir situasi ini semakin berbahaya. Itulah yang membuatku takut melepas L pergi ke Gwangdam.” Taeyeon mengutarakan segala yang mengganggu pikirannya, “…apalagi dengan kondisi hatinya yang sedang sesakit itu. Aku sungguh takut. Tapi apa boleh buat? Karena itu juga jalan satu-satunya untuk menyelamatkan putri Krystal dan kerajaan, mau tidak mau aku harus melepasnya.”

“ Maafkan aku, terpaksa membuat perjanjian dengan Ahyoung. Semua itu aku lakukan demi Krystal..”Hyerim masih saja merasa bersalah.

“ Tak apa. Semua sudah terlanjur. Aku menyerahkan semuanya pada L. jadi.. kumohon pada kalian, kita biarkan saja apapun yang akan L lakukan, ia tahu apa yang membuatnya merasa lebih baik.”

“ Bagaimana jika ia berbuat kasar lagi pada Yeoshin? Kita harus tetap membiarkannya?”btanya Hyerim, karena hal itulah yang terus mengganggu pikirannya.

Taeyeon menggangguk tanpa keraguan.

“ Ya. Dengan perasaan sesakit itu, aku mengerti jika L ingin melampiaskannya. Jadi akan kubiarkan dia.”

“ Kau gila? Bagaimana jika dampaknya sangat buruk? Bagaimanapun juga L sudah berjanji pada Yeoshin untuk menjadi baik.”Howon merasa khawatir.

“ Aku tahu. tapi Yeoshin sudah menyembunyikan hal besar darinya sekian lama. Kupikir L bisa saja sejenak tak lagi menghargai janjinya.”

“ Ini gila. Rasanya aku ingin melihat Yeoshin di dunia nyata secepatnya. Ia masih tidak tahu L sudah mengetahui semuanya.”

“ Kau benar, Howon. Yeoshin harus tahu L seperti ini sekarang, agar ia bisa berjaga-jaga jika L mendatanginya lagi dalam mimpi.”Hyerim setuju, “…aku masih punya sisa ramuan portalnya. Kita bisa ke dunia nyata sekarang.”

“ Kupikir kau ingin bertahan lebih lama disini.”

“ Ya. Sebenarnya aku ingin disini sampai keluargaku tiba. Tapi aku tidak bisa membiarkan Krystal sendirian.”

“ Aku setuju. Kalian bisa kembali sekarang juga. Jika kalian ingin memberitahu Yeoshin tentang kemarahan L, aku tidak melarang. Mau tidak mau Yeoshin memang harus menghadapi itu. Sekarang aku hanya harus memastikan Lin tidak mendengar semua ini.”

Taeyeon cukup bijaksana, meski tak bisa menolong dan justru membiarkan L berbuat apapun. Ia hanya tak ingin anaknya semakin menderita jika tak bisa melampiaskan kemarahannya. Ia tidak salah, namun ini membuat Hyerim semakin khawatir dengan Yeoshin.

“ Aku tak ingin membuang waktu. Ayo pergi sekarang. Penggemar akan bingung juga jika aku lama-lama menghilang.”Howon berdiri dan membantu Hyerim untuk bangkit.

“…kau sudah baik-baik saja, kan? Sudah bisa menerima kenyataan? Doakan saja Madame Sunny..”

Hyerim hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis meski airmatanya masih meleleh.

Perlahan ia meraba saku-saku kecil yang ada di gaunnya, mencari sisa ramuan portal pemberian Ahyoung yang akan digunakannya dan Howon untuk pulang sekarang.

Namun..

“ Tidak.. aku ingat betul ada disini..” gadis itu mulai panik karena botol kecil berisi ramuan portal yang satu-satunya bisa membawanya pulang tak ada padanya. Kemana benda itu pergi?

“ Ada apa, Hyerim?”Howon membaca kepanikan dari raut wajah gadisnya itu.

“ Ramuan portalnya.. apa kau menyimpannya?”tanya Hyerim ketakutan, Howon menggeleng cepat.

“ Tidak.. ramuan itu kan kau yang sim—“

“ Tidak ada, aku tidak menemukannya..”Hyerim semakin panik, Howon ikut memeriksa gaun gadis itu untuk mencarinya, namun hasilnya nihil.

Botol berisi sisa ramuan portal itu tak ada, entah kemana.

“ Ramuannya hilang?”Taeyeon ikut terkejut dan tak percaya, sementara Namjoo berlari kecil menuju pintu rumah karena ada yang datang.

“ Hei! Sejak kapan kalian disini?”

Dongwoon dan Gain muncul ketika Namjoo membuka pintu, sepertinya mereka baru saja pulang dari suatu tempat.

“ Mereka pergi ke pasar membeli beberapa bahan makanan. Kami akan memasak.” kata Namjoo seraya menyambut kedua kakak Naeun itu. Hyerim dan Howon ikut menyambut mereka meski masih dilanda panik .

“ Kalian sudah berubah nampaknya.”Hyerim tak bisa menyembunyikan perasaan leganya, Dongwoon dan Gain tersenyum canggung, keduanya sedikit gemetaran melihat Taeyeon di rumah mereka.

“ Ehm.. Taeyeon, tak kusangka kau ada disini.”Gain berbasa-basi, dibarengi anggukan Dongwoon yang langsung melanjutkan perkataan saudaranya.

“ Tadi di perjalanan pulang kami bertemu anakmu..”

“ L?”Taeyeon terkejut, “…kalian bertemu L?”

“ Yah.. lebih tepatnya berpapasan karena jalan kami berlawanan arah. Tadinya kami ingin sembunyi, tapi dia memanggil kami.”

“ Apa katanya?”tanya Howon.

“ Tiba-tiba saja dia berterimakasih pada kami, karena telah mengizinkannya menikahi Yeoshin.”

Mwo?

“ Lalu apa lagi?” Taeyeon semakin penasaran karena sepertinya tindakan L semakin sulit diprediksi.

“ Setelah itu ia berpamitan, ia bilang saat ini ia sedang memulai perjalanan menuju Gwangdam.”jelas Dongwoon.

“ Awalnya kami tidak percaya. Untuk apa L pergi sejauh itu? Dan L bilang.. ia sedang berusaha untuk menjemput adik kami kembali kesini, jadi ia harus ke Gwangdam untuk mengambil ramuan portalnya..”sambung Gain.

“ Ia benar.”jawab Taeyeon, “…jadi ia benar-benar sudah pergi dan bahkan tidak berpamitan padaku?”

“ Ia berpamitan padamu, pada Namjoo, Howon, dan Hyerim juga. Ia menitipkan ucapan selamat tinggalnya pada kami. Ia tahu kalian ada disini. Oh ya, dia juga menitipkan ini untuk Howon dan Hyerim.”Dongwoon mengeluarkan selembar kertas kaku dari kantong belanjaannya.

Howon segera menerimanya. Hyerim, bahkan Taeyeon dan Namjoo ikut membaca surat singkat dari L tersebut.

Lee Howon, Jung Hyerim..

Terimakasih sudah memberitahuku agar pergi ke negeri Gwangdam.

Tetapi tetap saja, kalian sudah membohongiku.

Jadi aku mencuri ramuan portal kalian.

Tidak usah pikirkan bagaimana caranya aku mencuri ramuan itu, kalian tahu aku bisa melakukan apapun yang kumau.

Ada yang harus aku lakukan di dunia nyata. Jangan khawatir, aku akan tetap ke negeri Gwangdam dan menemui Ahyoung.

 

Aku tahu perbuatanku ini membuat kalian tidak bisa pulang. Jadi, tolong jaga Lin dan Taeyeon untuk sementara waktu.

 

L

Lutut Howon dan Hyerim melemah, keduanya terduduk di lantai dan menunduk. Sementara Taeyeon masih membaca tulisan anaknya itu berulang-ulang karena tak percaya.

“ Jadi L akan ke dunia nyata dulu? Apa dia mengatakan apa yang akan ia lakukan disana?”tanya Namjoo pada Dongwoon dan Gain.

Kedua kakak Naeun itu menggeleng.

“ Dia tidak mengatakan tujuannya, tapi dia meminta maaf pada kami..”ucap Gain pelan.

“ Minta maaf?”

“ Ya. Ia minta maaf.. karena mungkin akan menyakiti adik kami lagi.”

Howon mengacak-acak rambutnya dengan gusar, jadwal serta pekerjaannya sebagai artis di dunia nyata jelas akan kacau dan berantakan. Sementara Hyerim benar-benar depresi sekarang.

“ Apa Yeoshin benar-benar akan tamat?”

 

Tapi tentu saja, tak ada yang bisa menebak apa tujuan L mengunjungi dunia nyata dengan ramuan curiannya.

***

“ Jadi kau benar-benar putus dengan Chorong unnie?!”

“ Sudahlah.. kau mau pesan apa?”

Naeun justru menjauhkan daftar menu di depan matanya dan menatap Woohyun lebih tajam.

Oppa, jawab pertanyaanku dulu.”

“ Bukan urusanmu, Naeunnie. Puas?”Woohyun sedikit kesal, “…lagipula memang sudah biasa kan kami begitu.”

“ Apa karena.. Kim Myungsoo sunbae?”

Tak disangka, Woohyun justru tertawa, “ Bagaimana perasaanmu, Naeunnie? Apa kau masih merindukan L disaat Myungsoo lalu lalang di depanmu setiap hari?”

“ Yah, mengapa sekarang jadi kau yang menanyaiku?” Naeun protes, dan sang oppa langsung mengacak-acak rambut indahnya dengan gemas.

“ Dia menyukaimu, kan?”

Tidak. Berhenti bertanya tentang itu. Naeun paling tak siap jika dihadapkan dengan pertanyaan tentang perasaan Myungsoo padanya, atau sebaliknya. Hatinya terasa sakit jika harus terus-terusan berbohong bahwa ia mengabaikan perasaan lelaki itu.

“ Hahaha, tak mungkin ia suka padaku. Ia tahu aku sudah menikah…dengan L.”jawab Naeun seadanya dengan setengah berbisik, dan berharap setelah ini Woohyun tak bertanya lebih lanjut.

“ Apa pedulinya kau sudah menikah atau belum? Cinta tidak mengenal status.”

“ Sudahlah. Kau mengada-ngada. Myungsoo sunbae tidak menyukaiku.”

Ini menyakitkan. Sebenarnya Naeun tak suka terus berbohong.

“ Tidak menyukaimu, tapi menatapmu seperti itu?” Woohyun menunjuk ke arah meja kantin yang tak jauh dari mereka.

Naeun menoleh sejenak.

Sial.

Ia tak tahu sejak kapan Myungsoo duduk disana dan rela memutar leher untuk terus memperhatikannya dengan senyum mengembang. Lelaki itu bahkan mengangguk dengan sopan ketika Naeun membalas tatapannya.

“ Terimakasih, Naeunnie. Aku sedikit tenang karena itu artinya Myungsoo tidak akan membalas perasaan Chorong. Sekarang aku tinggal mencari cara agar Chorong berhenti bodoh dan kembali padaku.”

Naeun beralih pada Woohyun dengan salah tingkah karena mata Myungsoo masih saja tak lepas darinya.

“ Kalau begitu.. kau tidak akan mengganggu Myungsoo sunbae lagi kan, Woohyun oppa?”

“ Tidak tahu.”jawab Woohyun jahil, ketika ia mencoba untuk ikut melihat Myungsoo, rupanya sang rival memanggilnya untuk pindah meja.

“…heol, sialan itu. Setelah semalaman berani tidur di kamarku dan meminjam seragam mahalku, sekarang dia menyuruhku untuk pindah ke mejanya?”

Naeun mendengar omelan Woohyun dan tertawa kecil menatap Myungsoo yang kini tengah memanggil mereka seakan-akan Woohyun adalah teman akrabnya.

Ia tahu selama ini Myungsoo memang tak pernah membenci Woohyun.

“…bukankah bagus mereka kumpul bertiga saja? Kenapa harus memanggil kita?” Woohyun masih saja mengomel, membuat Naeun menyadari Myungsoo rupanya tak sendirian, ada Chorong dan Sungyeol disana.

“ Ada Chorong sunbae. Gabung saja, ayo!” Naeun menarik tangan Woohyun.

Sebenarnya ia sedikit bimbang jika harus berdekatan lagi dengan Myungsoo. Namun ia tak senang melihat Woohyun begitu jauh dengan Chorong.

Yah, lagipula hanya makan siang bersama. Apa salahnya?

Keduanya bergabung, dan tentu saja situasi berubah canggung. Ketika semua masih diam, hanya Myungsoo yang masih tersenyum karena gadis yang ia sukai kini duduk tepat di depannya.

“ Terimakasih, sunbaenim. Sudah mengajak kami untuk bergabung..”Naeun tersenyum pada ketiga sahabat itu, sementara Woohyun masih tetap pada wajah datarnya yang bahkan tidak mau mengarah pada Chorong.

“ Kalian belum pesan, kan? Hari ini Myungsoo yang akan traktir!”ucap Sungyeol, dibarengi anggukan Myungsoo.

“ Hah? Apa Kim Myungsoo sekarang sudah lebih kaya dariku?”sahut Woohyun sinis.

Ani..hari ini aku dapat upah loper buletin pertama sejak aku bangkit dari kematian.. jadi ingin aku bagi dengan kalian.”jawab Myungsoo jujur, dan tentunya lagi-lagi membuat perasaan Naeun tak nyaman karena Myungsoo membahas ‘kebangkitan’nya dari kematian.

“ Terimakasih ya, Naeun.. sudah mengembalikan sahabat kami.”ucap Sungyeol, Naeun hanya mengangguk dan tersenyum canggung.

“ Memangnya berapa upah yang kau dapat?”tanya Woohyun, masih dengan nada sinisnya dan membuat Chorong yang sejak tadi diam jadi merasa gemas.

“ Untuk apa kau tanya itu? Berterima kasih saja.”sahut gadis itu kesal, namun Woohyun seakan menganggap suaranya seperti angin lewat.

“ Hei Myungsoo, berikan saja semua upahmu padaku, aku yang akan traktir kalian semua.”

Myungsoo mengeluarkan amplopnya, menggesernya pada Woohyun di atas meja.

“ Jadi aku membeli seragam sekolahmu?”

“ Bagus, kau tahu maksudku.”Woohyun mengambil amplopnya, “…ini bahkan masih kurang. Kau tahu betapa mahalnya seragam yang kau pakai?”

“ Hah? Kalian berbagi seragam?”Chorong, Sungyeol, bahkan Naeun merasa tak percaya.

“ Tidak. Makanya aku anggap Myungsoo membelinya, karena aku tidak mau memakai seragam itu lagi.”sahut Woohyun cepat.

“ Tidak. Woohyun memberikannya padaku. Terimakasih ya.”sela Myungsoo sembari tersenyum manis.

“ Siapa yang memberikannya padamu hah!?”

“ Kau. Kau bilang uangku masih kurang untuk membelinya, jadi tetap saja ada unsur hadiahnya kan?”

“ Aku tidak memberinya padamu sialan, kau membelinya dariku.”

“ Kau memberikan seragam ini padaku.”

“ Aku tidak—“

“ Terimakasih ya, Nam Woohyun.”

Naeun tak dapat menahan tawanya, ia merasa pembicaraan yang didengarnya sangat konyol. Ternyata Myungsoo bisa juga keras kepala.

“ Apa yang kau tertawakan? Dua rival ini sudah sama-sama gila.”Sungyeol hanya geleng-geleng kepala, sementara Chorong hanya sedikit tersenyum, kagum dengan sikap Myungsoo yang jelas terlihat untuk akrab dengan Woohyun.

Naeun masih tertawa sebab baru kali ini ia melihat Woohyun yang biasanya selalu sombong dan menyebalkan nampak bodoh dan salah tingkah di depan banyak orang.

“ Aku berhasil rupanya, kau tertawa.”

Naeun menutup mulutnya, menyadari bahwa sejak tadi Myungsoo memperhatikannya.

“ Oh, jadi kau menggunakan aku untuk membuat Naeun tertawa!?”Woohyun protes dan melempar Myungsoo dengan sebutir kacang.

“ Haha. Maaf, Woohyun. Aku hanya suka melihat adikmu tertawa. Sangat cantik.”

Semburat merah perlahan timbul di wajah Naeun, ia segera menenggelamkan dirinya di balik daftar menu. Tak hanya malu, ia juga tak ingin melihat perubahan ekspresi Chorong.

“ Hei. Kenapa sembunyi?”Myungsoo menurunkan daftar menu yang ia pegang dan menatapnya lebih dekat.

Naeun mencoba bersikap wajar. Rupanya Myungsoo tak kalah agresif dari L. mengapa Naeun harus berhubungan dengan lelaki-lelaki ini?

“…Kai ada dimana sekarang?”lanjut lelaki itu, Naeun segera menegakkan duduknya kemudian sedikit membungkuk untuk meminta maaf.

“ Maafkan aku, sunbae. Kemarin aku membantu Kai kabur dari sini tanpa izin padamu. ia bilang ingin ke apartemen Hoya. Tapi aku tak tahu mengapa ia belum kembali juga sampai sekarang..”

“ Untuk apa Kai ke apartemen Hoya?”tanya Sungyeol tak mengerti.

“ Dia ingin bantuan agar lolos SDC season 2, katanya..”

Heol, adikmu itu..”Woohyun tertawa mengejek.

“ Kau perlu mencarinya.”saran Chorong, Myungsoo mengangguk pelan.

“ Kau benar, Chorong-ah. Kalau begitu aku akan buat surat izin dan keluar asrama nanti sore.”

“ Kim Sunggyu tidak mengizinkan siapapun untuk keluar asrama. Kau lupa dengan peraturan itu?”sela Woohyun.

“ Ah.. aku baru ingat. Tapi aku sangat mengkhawatirkan Kai..”

Dengan masih tetap memasang wajah angkuhnya, Woohyun merogoh saku seragamnya dan melempar sebuah kunci ke arah Myungsoo.

“ Kau bisa bawa motor besar, kan? Pergi saja dengan motorku nanti sore. Aku yang akan bilang pada Sunggyu.”

“ Wah. Aku benar, kan? Kita benar-benar teman sekarang. Terimakasih, Woohyun.”

“ Hah, jangan berlebihan. Kau harus membayarku nanti.”

“ Aku yang akan membayarnya.”sela Chorong, “…jadi hubungi aku saja dan katakan apa yang kau minta.”

Woohyun tertawa sinis dan mengangguk, “ Oke. Deal.”

Aigoo.. aku sudah tidak mengerti kalian ini pasangan macam apa.”sindir Sungyeol.

“ Jangan minta macam-macam pada Chorong, atau aku tidak usah menggunakan motormu.”Myungsoo sedikit mengancam Woohyun.

“ Tenang saja. Kau pikir aku akan meminta apa padanya?”jawab Woohyun remeh sekaligus misterius, sementara Chorong pasrah saja dan sepertinya sudah bisa menebak apa yang akan Woohyun lakukan padanya.

“ Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi nanti sore. Dan… karena kita akan belajar kelompok lagi, kalian belajar saja duluan, aku akan menyusul ke perpustakaan.”

“ Kau jadi repot begini. Sekali lagi maafkan aku, sunbae.”Naeun kembali meminta maaf.

“ Kau ingin dimaafkan? Datanglah ke kamarku.”

Mwo?”

“ Hahaha. Aku hanya bercanda.”

“ Tidak lucu.”sahut Chorong sinis, Myungsoo tertawa kecil. Naeun geleng-geleng kepala.

“ Kau benar, Chorong sunbae. Sama sekali tidak lucu.”

***

Cup..cup..sudah.. jangan menangis.. L tidak akan lama. Kau bersamaku..”

Meski sejujurnya sudah putus asa, Taeyeon tetap menggendong Lin dan mengayun-ayun cucu satu-satunya itu. Sudah hampir dua jam bayi penyihir itu terus menangis keras. Lebih tepatnya sejak L pergi meninggalkan istana untuk pergi ke negeri Gwangdam.

Tentu, Lin sangat sedih karena kini kedua orangtuanya tak ada disisinya. Dan dengan tangisannya yang sekeras ini, Taeyeon menduga Lin bisa saja sudah tahu masalah L dan Naeun saat ini.

Para penyihir lain pun sudah putus asa membantu Taeyeon menghibur Lin. Yang dapat mereka lakukan sekarang hanyalah membersihkan istana karena mungkin beberapa hari lagi rombongan kerajaan dari negeri Gwangdam akan segera tiba.

“ Hei, tolong ambilkan aku satu lilin pengirim mimpi. Aku akan mendatangi Yeoshin. Setelah kupikir-pikir, aku mulai kasihan padanya. Jadi aku ingin memberitahu keadaan ini padanya.”Taeyeon meminta tolong salah seorang penyihir yang ada di dekatnya. Penyihir itu segera berlari kecil ke tempat dimana L menyimpan benda tersebut.

Namun tak lama, ia kembali bahkan dengan membawa kotaknya.

“ Maaf, Taeyeon. Lihatlah, lilinnya tidak ada.”

“ Tidak ada? Satupun?!”

Penyihir tersebut mengangguk, “ Aku justru menemukan ini di dasar kotaknya.”

Taeyeon mengambil alih kotak tersebut dan menemukan ukiran tulisan disana.

Sudah kuduga kau akan mencari lilin untuk menemui Yeoshin.

Aku tak akan membiarkan itu, Taeyeon.

Akulah yang harus memberi kejutan padanya.

 

L

 

“ Anak berandal ini..!” Taeyeon melempar kotaknya dengan wajah yang mulai frustasi.

L membawa semua lilinnya. Agar benar-benar tak ada seorangpun yang bisa menghalanginya atau ‘meniup’ mimpi yang akan ia kirimkan pada Yeoshin.

*

“ Kenapa kau pergi tanpa berpamitan pada keluarga kami? Aku masih tak percaya. apakah keadaan sedang seburuk ini sampai-sampai kau meninggalkan kami?”

Hyerim memeluk nisan Madame Sunny dan terus terisak disana. Sementara Howon yang stress karena tak bisa pulang lebih memilih untuk melanjutkan permainan bolanya dengan anak-anak penyihir demi menghibur diri.

Tindakan L yang mencuri ramuan portal benar-benar membuat mereka tak berdaya dan akhirnya ‘terkurung’ di negeri mereka sendiri.

BUK!

Hyerim sontak memegangi kepalanya, matanya memicing ke arah Howon yang kini berlari-lari kecil menghampirinya dan mengambil bola yang mendarat tepat di atas pusara Madame Sunny.

“ Sakit, tahu.”desis Hyerim jengkel karena sepertinya Howon sengaja menendang bola tersebut tepat di kepalanya.

Lelaki itu mengurungkan niatnya sejenak untuk kembali ke lapangan. Ia ikut duduk di samping makam sang penyihir istana dan meraih kedua tangan Hyerim, menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

“ Maaf ya..”Howon mengelus kepalanya dengan lembut, “…lagipula tak sesakit kehilangan Madame Sunny, kan?”

Tangis Hyerim kembali pecah, ia memukul dada Howon dengan kesal karena lelaki itu membuatnya semakin sedih.

“ Jangan berlarut-larut dalam kesedihan, tuan putri. Sebaiknya pikirkan apa yang harus kita lakukan disini. Kita tak bisa ke dunia nyata.”

Hyerim mengangkat kepalanya dan menatap Howon.

“ Jadwalmu pasti akan berantakan.”

“ Sudah pasti. Tapi aku lebih tidak suka jika perasaanmu yang berantakan. Jadi jangan menangis lagi..”

Howon mengeratkan pelukannya dan mengelus rambut gadis itu, “ Sambil menunggu L kembali, kita bersenang-senang saja disini. Bukankah ini tempat pertama kali kita bertemu?”

Hyerim tersenyum kecil dan mengangguk, namun perasaannya belum sepenuhnya tenang.

“ Tapi Howon… aku sangat mengkhawatirkan Krystal, ia sendirian di apartemenmu. Dan ia belum tahu apapun tentang dunia nyata.”

***

Hoya-ssi.. tolong buka pintumu!”

“ Kami perlu keterangan!!!”

“ Kami akan terus menunggu disini!!”

Kai mengerjap-ngerjapkan matanya, terbangun dari tidur setelah mendengar suara yang sangat bising dari luar apartemen tempatnya berada sekarang. Hingga saat ia menoleh, jantungnya nyaris berhenti.

“ YA!! Kenapa kau ada disebelahku!!?”

Kai segera meraih selimut di lantai dan menutupi Krystal yang tepat berbaring di sebelahnya dalam keadaan… bisa dikatakan setengah telanjang. Gaun yang ia kenakan robek sana-sini, menampakkan tubuh mulusnya yang banyak meninggalkan bekas luka karena kekejaman suaminya.

“ Bajingan! Berisik tahu!”

Gadis itu akhirnya ikut terbangun, setelah mengumpat ia menggeliat sembari menutup telinganya, sementara Kai mencoba mengingat-ngingat apa yang telah terjadi hingga ia berakhir seperti ini, terbangun di dalam apartemen mewah yang kini luar biasa berantakan dimana botol dan gelas bahkan beberapa batang rokok berserakan di lantai.

Dan.. dengan seorang gadis dalam keadaan sama-sama setengah telanjang.

Apa yang terjadi?

Kai memegangi kepalanya. Sakit di kepalanya semakin bertambah ketika suara-suara bising itu masih saja mengganggunya. Sepertinya ada banyak orang di luar sana.

“ Hah? Jam 2? Hahaha.. kita tidur belasan jam. Aku akan gemuk.. ah..” Krystal menatap jam, “…sebentar.. KITA!? YA! Kau tidur denganku!!?”

“ Kau yang memintaku masuk kesini kemarin siang!”Kai mencoba membela diri sebelum Krystal mencakar wajahnya.

“ Tapi..tapi..”

“ Diam dulu. Aku penasaran ada apa di luar.”Kai terpaksa tega dan menyumpal mulut Krystal dengan remote televisi yang ada di dekatnya, lalu berjalan mendekati pintu perlahan-lahan.

“ Ugh!”Krystal melepas remote dari mulutnya dan menekan tombolnya sembarangan hingga televisi di depannya menyala.

“ Selamat siang, pemirsa. Berita terkini, tercatat sudah hampir delapan jam para wartawan menunggu artis Hoya Lee yang dicurigai membawa seorang wanita ke dalam apartemennya kemarin malam. Artis Bang Minah, yang merupakan tetangga apartemen Hoya telah memberi keterangan bahwa semalaman terdengar suara berisik dari dalam apartemen Hoya, sehingga sang artis patut dicurigai…

Sampai saat ini wartawan dari seluruh media elektronik dan media cetak masih menunggu sang artis keluar dari apartemennya untuk dimintai keterangan.”

 

“ Omong kosong apa ini!?” Kai terkejut, jika Hoya kembali dan tahu ia mendapat masalah seperti ini, tamatlah riwayatnya.

“ Kai..”

“ Bagaimana ini, Krystal?? Apa yang harus kita—“

“ Aku lapar.”

Kai mengacak-acak rambutnya, rupanya Krystal masih tak mengerti apa masalah mereka sekarang.

Kai terpaksa bertindak sendiri, dengan panik meraih telepon apartemen dan menghubungi seseorang.

“ Halo!? Kenapa baru telepon balik sekarang!? Kau benar-benar sedang di apartemen dengan seorang gadis, Hoya?? Jangan buat aku—“

“ Diam. Diam Bomi-ssi, tak ada Hoya disini. Paham!?”

M-mwo? Lalu ini siapa?”

“ Kai. Kai.. teman SMPmu.. Kai.”

“ Ahh.. KAI!? Bagaimana bisa—“

“ Nanti kujelaskan, sekarang tolong datang ke apartemen Hoya. Aku ada disini, aku tidak berani keluar.”

“ Baiklah. Tunggu aku.”

Kai menutup teleponnya dan memastikan semua pintu dan jendela di apartemennya tertutup rapat. Sementara Krystal yang masih duduk di atas tempat tidur beringsut dan mengambil sebotol bir yang tersisa di lantai lalu meneguknya hingga habis.

Membuat Kai ingat apa yang telah mereka perbuat semalam.

***

“ Apa kau jadi datang ke apartemen Hoya, sunbae?”

Myungsoo terlonjak kaget, tak percaya Naeun telah berdiri di ambang pintu kamarnya.

“ Naeun? Sedang apa kau disini? Kau bahkan masih pakai seragam, hahaha. Masuklah.. kau bisa dilihat pengawas.”

Naeun tersenyum dan memasuki kamar asrama Myungsoo yang juga merupakan kamar Sungyeol. Dengan santai ia duduk di atas tempat tidur dan menunggu Myungsoo selesai bersiap-siap.

“ Kau bilang jika aku merindukan L, aku boleh datang padamu.”

Myungsoo berhenti sejenak dan menatapnya tak percaya, Naeun segera tertawa.

“ Hahaha. Aku bercanda, sunbae. Aku ingin memberitahumu, kalau ada banyak wartawan di depan apartemen Hoya saat ini. Kupikir akan sulit kalau kau menjemput Kai kesana.”

“ Ya. Aku baru dapat kabar juga dari Bomi. Katanya.. Hoya tidak ada di apartemen, hanya ada Kai disana. Dan Bomi akan mengurus kesana. Lagipula sepertinya agak bahaya jika aku kesana, aku bisa diserang wartawan karena setahu mereka aku adalah manajer Hoya.”

“ Jadi? Kau akan tetap pergi?”

Myungsoo mengangguk, diam-diam memakai kalung aura milik L yang selama ini ia simpan. Setelah itu duduk di hadapan Naeun.

“ Woohyun sudah meminjamkanku motor, rasanya sayang kalau tidak jadi kupakai.”ia sedikit bercanda dan berhasil membuat Naeun terkekeh lagi.

“ Lalu kau mau kemana? Kau tidak mengganti seragammu?”

“ Tidak.. aku suka memakai seragam mahal dari Woohyun ini.”jawab Myungsoo dengan tawa kecil, “…aku pergi.. ingin menengok ibuku di penjara.”

“ Kepala sekolah Kim Haeyeon?”

Myungsoo mengangguk. Naeun mulai teringat dengan permintaan Haeyeon yang harus ia penuhi untuk menebus kesalahan L, perasaannya jadi tak nyaman.

“ Kau mau ikut?”tawar Myungsoo, Naeun menggeleng pelan, ia takut Haeyeon bertanya apakah permintaannya sudah dipenuhi atau belum.

“ Aku titip ini saja untuknya.”Naeun membuka tasnya dan mengambil sebuah buku dari sana lalu menyerahkannya pada Myungsoo.

“ Buku apa ini? 1001 jenis ramuan obat dan fungsinya?”

Naeun mengangguk, “ Kudengar ibumu suka membaca. Kuharap beliau akan menyukai buku itu. Kalau ada ramuan yang membuatnya tertarik, aku akan membuatkannya.”

“ Wah..”Myungsoo begitu senang dan mengelus kepala Naeun sekilas, “…terimakasih ya, kau sangat baik.”

“ Kau juga.”

“ Kita adalah orang-orang terbaik yang datang dari dunia masing-masing. Bukankah begitu yang dikatakan oleh teori dalam dunia sihirmu?”

Satu-satunya penyihir terbaik dan sisi baik dari penyihir terjahat. Benar juga.

“…tapi aku tidak benar-benar merasa sebaik yang orang lain pikirkan.”sambung Myungsoo, matanya mulai menatap Naeun lebih dalam dari sebelumnya.

“…aku jatuh cinta padamu, dan itu adalah sebuah kejahatan. Karena aku sudah tahu jelas siapa dirimu, dan siapa yang memilikimu.”

Naeun menggeleng dan sedikit kaku.

“ Tidak, sunbae. Itu bukan kejahatan. Semua orang berhak jatuh cinta pada siapapun.”

“ Kupikir kau menganggap itu kejahatan.”

“ Tentu saja tidak.”

“ Lalu mengapa terkadang kau menghindariku?”

“ Aku hanya.. tidak.. aku tidak bermaksud menghindarimu, aku hanya—“

“ Kalau begitu mulai sekarang jangan lagi menjauh.”

Myungsoo menarik tubuh Naeun dan memeluk gadis itu erat, membenamkan wajah tampannya sejenak di bahu gadis itu. Lalu sedikit menyingkirkan rambut panjangnya dan berbisik lembut di telinganya.

“ Bisakah kau menungguku disini sampai aku pulang?”

***

Night 09.00 PM

 

“ Ah… ini sama saja menunggu Myungsoo.”Sungyeol bersandar di kursi perpustakaan dengan bosan, sementara Chorong dan Woohyun sibuk dengan gadget masing-masing. Mereka bukan tak ingin bicara, mereka justru saling berkirim pesan meski duduk bersebarangan.

Sungyeol sudah tak peduli dengan mereka berdua, ia menunggu Myungsoo yang sejak tadi belum juga kembali dari luar. Mereka benar-benar tak bisa memulai kerja kelompok karena hanya Myungsoo yang bisa memulainya dan biasanya membantu mengerjakan soal dan tugas.

“ Haruskah aku menelponnya? Semoga dia bawa ponsel murahannya itu..” Sungyeol meraih ponselnya, namun batal ketika seorang lelaki memasuki perpustakaan dan bergabung dengan mereka.

“ Hei, maaf aku terlambat.”

Woohyun dan Chorong beralih sejenak ketika tahu yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang juga.

“ Myungsoo.. bagaimana Kai?”tanya Chorong.

“ Ah, dia baik-baik saja.”

“ Syukurlah..”

“ Kemana adikku?”tanya Woohyun.

“ Naeun?” ia terlihat berpikir, Sungyeol pun menyela.

“ Bukannya kau bilang ia ada di kamar kita? Kukira kau datang bersamanya kesini.”

“ Ah.. aku lupa. Kalau begitu akan kujemput dulu.”

Lelaki itu berbalik dan buru-buru keluar dari perpustakaan, Sungyeol mengikutinya.

“ Kau ke dalam saja, Sungyeol. Biar aku sendiri yang menjemput Naeun.”

“ Apa yang sedang kau lakukan disini, L?”

Lelaki itu menghentikan langkahnya dan membuang nafas dengan kasar.

“ Hah.. sialan. Aku sudah mencuri seragam di kamar Woohyun dan kau masih mengenaliku?”

L berbalik dan menunjukkan wajah sadis khasnya, yang membedakannya dengan Kim Myungsoo.

“ Tutup mulutmu dan kembali saja ke perpustakaan.”

“ Jawab aku dulu, apa yang kau lakukan disini?”

“ Aku? Haha.. tentu saja aku datang berkunjung. Kau tidak rindu padaku?” L tertawa sinis, Sungyeol menggeleng tak percaya.

“ Kau pasti ingin berbuat kekacauan. Aku akan beritahu Naeun.”

“ Ooh.. jadi sekarang kau baik pada istriku? Karena dia sudah berjasa menghidupkan sahabatmu? Aku terkesan.” L semakin sinis, ia melangkah mendekat dan mencekik Sungyeol keras-keras.

“…aku sedang sangat marah saat ini. Jangan ganggu urusanku atau kau benar-benar akan mati.”

L menghempaskan Sungyeol ke lantai dan penyihir itu menghilang.

Tak peduli dengan sedikit luka di lehernya, Sungyeol segera meraih ponselnya yang ikut terhempas di lantai dan mengetik pesan singkat dengan terburu-buru.

“ Myungsoo, cepat datang. L ada disini.”

***

“ Myungsoo sunbae? Kau sudah kembali?”

Naeun menyambut seorang lelaki yang baru saja datang dan memasuki kamarnya.

Gadis itu benar-benar ada disana.

L mencoba mengatur nafasnya sejenak dan melanjutkan kepura-puraannya meski luka di hatinya semakin perih. Tangannya sudah begitu gatal untuk melampiaskan amarahnya.

“…bagaimana ibumu? Apa ia menyukai buku dariku?”

Ibu Myungsoo?

Pasti Kim Haeyeon.

L mengangguk dan tersenyum saja. Tangannya perlahan mendekat dan menyentuh rambut indah Naeun.

“ Apa..yang kau lakukan disini?”tanyanya datar, membuat Naeun sedikit heran.

“ Kau kan memintaku untuk menunggumu sampai kau datang.”

Myungsoo meminta Naeun untuk menunggunya? Dan gadis itu benar-benar menunggu.

Otak L seakan mulai bekerja untuk memutuskan siapa yang akan ia bunuh.

“…kau lama sekali, pasti kau mengobrol banyak dengan Kim Haeyeon. Sebenarnya aku agak jenuh menunggu disini. Tapi aku mengisi waktu untuk menata ini.” dengan sedikit berseri, Naeun menarik lelaki itu menuju meja belajar yang tak jauh dari mereka.

“…aku baru ingat, aku membawa semua barangmu yang pernah digunakan L dulu. L memintaku untuk mengembalikan semuanya walaupun dia sudah menganggapmu tiada. Jadi.. semua barangnya aku tata disini.”

Beberapa barang elektronik bahkan buku tabungan Myungsoo. L memang menitipkannya pada Naeun agar mengembalikan semuanya.

Namun L tak menyangka Naeun akan mengembalikannya dengan cara semanis ini, menatanya dengan sangat rapi di atas meja belajar Myungsoo.

“ Terimakasih, sudah mengembalikannya.”

Naeun mengangguk dan tersenyum, tangan halusnya perlahan naik dan menyentuh pipi lelaki itu dengan sedikit khawatir.

“ Kau sakit? Kelihatannya kau sangat kaku.. apa kau kedinginan di jalan?”

Darah L semakin memanas.

Sejak kapan Naeun menjadi sepeduli ini? L berpikir mungkin jauh di relung hati Naeun yang terdalam, gadis itu memang mengagumi sosok Myungsoo.

“ Yah.. sangat dingin.”jawab L, masih datar karena kini ia bahkan tak sanggup meniru sikap Myungsoo seperti dulu.

“ Haruskah kita minum teh sebentar? Baru kita ke perpustakaan.”

Tanpa meminta persetujuannya, Naeun beranjak dan berjalan menuju dispenser, mengambil dua buah cangkir dan mulai membuat teh.

“ Kau suka sedikit gula atau—“

Naeun memutus pertanyaannya ketika kedua tangan lelaki itu muncul dari balik pinggang kecilnya dan melingkarinya perlahan. Dagunya bersandar di bahu Naeun, membuat deru nafasnya terdengar jelas oleh gadis itu.

“ Apakah.. membuat ramuan pembangkit kematian sama mudahnya dengan membuat teh?”

Gadis itu terkekeh dan menggeleng, “ Tentu saja tidak. Membuat ramuan sehebat itu.. sangat sulit, lebih sulit dari yang kau bayangkan.”

Ini konfirmasi yang sangat jelas bahwa benar Naeun telah membuatnya.

L melanjutkan pertanyaannya, berusaha untuk tetap menekan emosinya dalam-dalam.

“ Lalu mengapa kau tetap membuatnya walaupun sangat sulit?”

Naeun mengingat-ingat saat-saat ia membuat ramuan tersebut di ruang penyimpanan mayat Myungsoo. Haruskah ia menceritakannya secara jujur?

“ Kau tahu? aku membuat ramuan itu di ruang penyimpanan jasadmu. Ditemani Eunji.”

Sialan. Rupanya Hyerim mengetahui lebih banyak dari yang L bayangkan.

“ Lalu..?”

“ Sebenarnya, aku hanya berniat membuat ramuan penyembuh untuk Woohyun oppa yang sedang sekarat. Tapi ramuan itu terlalu banyak untuk kumasukkan ke dalam botol. Jadi.. sisanya kutambahkan dengan darahku untuk menjadi ramuan pembangkit kematian. Ramuan penyembuh akan berubah menjadi ramuan pembangkit kematian jika ditetesi darah penyihir.”

L benar-benar tak menyangka ilmu ramuan Naeun sudah sejauh ini.

“ Kenapa kau terpikir untuk membuat ramuan itu?”

Naeun menunduk sejenak, mencoba membuang rasa malunya.

“ Selama aku membuat ramuan, mataku tak lepas dari mayatmu. Aku membayangkan, bagaimana jika mata itu terbuka, bagaimana jika bibir pucat itu tersenyum, bagaimana jika ia bangun dan berkenalan denganku, dan menunjukkan padaku seperti apa gambaran seorang L jika ia menjadi seseorang yang baik.”

Pengakuan Naeun sungguh menyesak di dada L saat ini.

Darahnya sudah mendidih.

“ Jadi.. kau membuat ramuan itu atas keinginanmu sendiri? Agar bisa berkenalan dengan seorang Kim Myungsoo?”

Naeun mengangguk pelan dengan wajah tersipu. Tak menyadari bahwa rahang lelaki di belakangnya telah mengeras dan ingin segera menghabisinya.

“ Suara apa itu?”

Gadis itu mendengar suara lain dari luar kamar, derap kaki seseorang yang terdengar cepat dan semakin jelas. Apa ada seseorang yang berlari menuju kamarnya?

L sudah menduga dan menunggu, matanya mengarah pada pintu dan menunggu pertemuan pertamanya dengan Kim Myungsoo.

“ Naeun! Apa kau baik-baik saja!?”

Lelaki itu benar-benar muncul, dengan nafas terengah-engah akibat mengebut dan berlari kencang setelah menerima pesan dari Sungyeol.

PRANG!

Gadis itu sontak menjatuhkan cangkir tehnya, syok dengan kehadiran Myungsoo dan mencoba melihat seseorang yang sejak tadi menipunya. Namun tangan yang sejak tadi melingkar dengan hangat di pinggangnya telah berpindah ke lehernya, membuatnya sesak dan tak mampu bergerak.

“ Tidak mungkin..tidak mungkin ia disini..”Naeun mencoba menenangkan dirinya, jantungnya berdebar tak karuan, Myungsoo ingin maju dan menolongnya, namun Sungyeol menahannya karena akan sangat berbahaya.

“ Oh ya, aku lupa menjawab pertanyaanmu..”L kembali berbisik di telinga Naeun, dengan nada mengancam.

“…aku tidak suka sedikit gula. Sejujurnya aku juga tidak menyukai teh. Aku lebih suka..darah manusia.”

Naeun benar-benar depresi sekarang. Mengapa ia bisa tertipu lagi?

Dengan sekuat tenaga ia mencoba membalik tubuhnya hingga bertabrakan dengan lelaki itu. Peluh dingin membanjiri wajahnya saat menatap tato yang perlahan muncul dan tergambar jelas di leher lelaki itu.

“ L.. tidak—“

“ Terkejut, istriku?”

“ Bagaimana bisa kau kesini!? Dan.. dan yang tadi.. aku bisa jelaskan—“

“ Diam. Atau aku akan membunuhmu.”

Naeun menutup mulutnya dan mulai menangis ketakutan. Myungsoo gemetar, ini kali pertamanya ia menyaksikan siapa L sesungguhnya.

Dengan tangan yang masih menyandera Naeun, L berbalik dan menghadapi Myungsoo, melempar seringai jahat pada sisi baiknya itu.

“ Kau—“

“ Hentikan, Myungsoo. Jangan mendekat.”Sungyeol masih menahan tangan Myungsoo, namun dengan pelan Myungsoo menepisnya.

“ Aku baik-baik saja. Kau kembalilah ke perpustakaan, dan tidak perlu beritahu Woohyun apalagi Chorong tentang ini.”

“ Bagaimana mungkin aku meninggalkan—“

“ Pergilah, cenayang. Daripada aku membunuhmu juga.”L ikut membuka suara, Myungsoo segera memberi isyarat agar Sungyeol segera pergi.

Dengan terpaksa Sungyeol berlari keluar dari kamar dan mencari tempat bersembunyi agar bisa terus mengawasi Myungsoo.

Sebab ia tak akan rela seumur hidup jika Myungsoo harus mati lagi karena kejadian ini.

“ Bukankah Naeun adalah istrimu? Tidak seharusnya kau seperti itu padanya..”

Myungsoo masih berkepala dingin, namun L membalasnya dengan sinis.

“ Apa kau sedang memerintahku? Dia milikku, aku bebas—“

“ Aku juga merasa memilikinya. Aku tidak ingin melihatnya terluka.”

L tersentak. Mengapa Myungsoo begitu berani mengucapkan kalimat semacam itu di depannya?

Mata elangnya semakin memicing ketika ia mengenali tali kalung yang melingkar di leher Myungsoo.

Kalung aura miliknya.

“ Brengsek..”

Penyihir tampan itu tak mampu lagi menahan amarahnya, tangannya meraih sepotong beling pecahan cangkir di lantai dan menggores leher Naeun sembari menghempaskan gadis itu ke lantai.

Naeun menjerit dan mengerang kesakitan, L tertawa mengejek kearah Myungsoo.

“ Aku sudah melukainya. Sekarang apa yang akan kau lakukan?”

Naeun menahan darah yang terus mengalir dari lehernya, menangis menahan perih.

“ Tolong.. Kim Myungsoo, tolong aku..”

“ Aku sungguh tidak mengharapkan pertemuan kita berakhir seperti ini, L..”

Myungsoo tak punya alasan lagi untuk diam di tempatnya. Ia maju dan mendorong L sekuat tenaganya hingga tongkat sihir penyihir itu terlempar.

Kedua lelaki berwajah sama itu kini benar-benar berkelahi.

“ Naeun, lari!!”

“ A..apa?” Naeun masih tak sanggup untuk bergerak.

“ Kubilang lari!!!” Myungsoo berteriak lebih keras.

Gadis itu segera bangkit dan berlari keluar dari kamar Myungsoo, L geram dan meraih tongkat sihirnya, melawan Myungsoo dan berlari mengejar gadis itu dengan mengikuti jejak darahnya.

Myungsoo ikut berlari dan berharap bisa menolong Naeun lebih awal.

“ Aku akan mati.. aku akan mati..”

Naeun ketakutan dan tak tahu arah, ia bahkan harus bersembunyi dari pengawas karena ia berkeliaran di asrama putra. Ia takut L segera menemukannya.

“ Ikut aku!”

Sungyeol muncul dan menariknya menuju suatu tempat.

“ Kemana kita, sunbae!?”tanya gadis itu panik.

“ Kamar Woohyun. L mencuri seragam Woohyun, mungkin portal tempatnya keluar ada disana.”

Sungyeol benar. Kamar Woohyun nampak terbuka lebar dan lingkaran portal masih menyala disamping lemari pakaiannya.

“ Mengapa kau mengajakku kesini? L akan datang..!” Naeun justru semakin ketakutan, Sungyeol menyembunyikan gadis itu di balik punggungnya dengan tenang karena ia telah menyusun rencana di kepalanya.

“ Aku tahu kau disini, Son Yeoshin!!”

L muncul dan Myungsoo menyusulnya, Sungyeol segera mendorong gadis di belakangnya pada Myungsoo. Naeun kini berlindung di balik punggung lelaki itu.

“ Mengapa kau menghindari suamimu sendiri, Son Yeoshin?!” L semakin geram dan mencoba menangkap Naeun, Myungsoo menghalanginya dengan sekuat tenaga.

Sungyeol melancarkan rencananya, ia menarik L dari belakang menuju portal. Matanya memberi isyarat pada Myungsoo.

BUK!

Myungsoo mendorong L hingga memasuki portal.

Ia membuat penyihir itu pergi.

***

BRAK!

“ Astaga.. siapa ini!? L !?”

Daehyun dan Ilhoon bangkit dari duduk mereka ketika mendengar suara jatuh di dalam kereta mereka. Bahkan Raja dan Ratu yang sudah tidur di dalam kamar keluar dan terkejut melihat penyihir terjahat di negeri mereka tiba-tiba muncul di dalam kereta.

“ Bagaimana bisa L masuk ke dalam sini?” Daehyun menunduk dan mendapati L yang masih linglung di lantai kereta, sementara Ilhoon mundur ketakutan, meminta tolong beberapa pengawal saja untuk memeriksa penyihir yang datang tiba-tiba itu.

“…L.. kau baik-baik saja? Kau baru keluar dari portal?” Daehyun bertanya pelan-pelan, sementara beberapa pengawal mencoba membangunkan sang penyihir.

L terbangun dan menatap arahnya keluar, rupanya portal telah tertutup. Ia tak bisa lagi masuk ke dalam sana.

“ Sialan! Tidak.. tidak bisa.. aku harus kesana lagi.. lepaskan aku!!! Lepaskan!” L berontak dan para pengawal akhirnya mundur karena takut. L segera berdiri dan terlihat hendak mengamuk.

“…mimpi. Ya.. aku harus mengiriminya mimpi..” gumamnya, matanya berkilat-kilat ke arah keluarga kerajaan serta para pengawal yang tak tahu apapun.

“…siapkan aku kamar. Aku harus tidur. Sekarang!” perintahnya sembari mengancam dengan tongkat sihir dalam genggamannya.

“ Cepat siapkan!” Raja Yonghwa mengabulkannya saja dan menitahkan pengawalnya untuk segera menyiapkan kamar untuk L di dalam kereta daripada L menghancurkan perjalanan pulang mereka menuju negeri Junghwa.

L mendapatkan kamarnya, ia segera masuk dan menguncinya rapat-rapat. Setelah itu melepas jubahnya dan mengeluarkan banyak lilin dari sana. Ia menyambar salah satu lilin yang paling besar dan segera menyalakan api dengan tongkat sihirnya.

Sekarang kau tak akan bisa melarikan diri, Son Yeoshin.”

***

“ Lehermu terluka, kau harus ke ruang kesehatan. Ayo..”

Naeun mengeraskan tubuhnya, menolak meski darah dari lehernya masih menetes dan mengotori lantai kamar Woohyun. Ia masih syok hebat dan gemetaran, membuat Myungsoo semakin khawatir.

“…kau aman sekarang, jangan takut.”

“ Tidak, sunbae. Aku.. aku..” Naeun menggeleng dan masih bergetar, “…aku menjadi takut berada di dekatmu.”

“ Yah.. kau tak ada bedanya dengan L.”Sungyeol menepuk bahu Myungsoo dan mencoba memberi pengertian, “…sebaiknya kita kembali ke perpustakaan. Woohyun dan Chorong akan curiga jika kita terlalu lama.”

“ Ya. Duluan saja, aku.. akan menyusul.”ucap Naeun sembari berbalik dan berjalan pelan ke arah pintu.

“ Apa kau bisa mengobatinya sendiri?” Myungsoo masih tak tega dan berjalan di belakangnya.

“ Berhenti. Jangan dekati aku dulu.. kumohon..”

Naeun menguatkan kakinya dan mulai berlari, menjauh dari Myungsoo dan menuju ke arah gerbang belakang asrama, memasuki area sekolah.

“ Aku tak bisa tenang membiarkannya sendiri..”

Myungsoo terpaksa kembali ke perpustakaan bersama Sungyeol, meski tak bisa berhenti mengkhawatirkan Naeun yang memilih untuk mengobati dirinya sendiri di ruang kesehatan sekolah.

***

“ Kenapa gelap sekali?”

Naeun menyusuri koridor sekolah yang nyaris gelap gulita sebab hari sudah semakin malam. Ia kesulitan mencari ruang kesehatan yang biasanya terang.

Tangan kanannya sudah berlumuran darah karena masih terus menempel di lehernya yang terluka. Perlahan-lahan, gadis itu merasa semakin pusing karena banyaknya darah yang mengalir keluar dari lukanya.

Langkahnya melambat, matanya terkatup perlahan.

Ia jatuh pingsan.

***

“ Ternyata ada gunanya juga aku melukaimu, kau pingsan karena kekurangan darah.”

Naeun membuka matanya dan segera beringsut mundur dengan ketakutan.

L mengiriminya mimpi secepat ini.

Lelaki itu menginjak kaki Naeun kuat-kuat, sementara tangannya bergerak membuka pintu salah satu ruangan di koridor agar Naeun sulit melarikan diri darinya. Setelah terbuka, ia menyeret paksa istrinya itu untuk masuk ke dalam sana.

Sebuah laboratorium.

“ Kau ingat tempat semacam ini?”tanya L sembari tertawa ringan, “…laboratorium, tempat dimana pertama kalinya aku mengirimimu mimpi buruk. Tempat dimana aku merenggut auramu.”

“ Aku tidak mau mengingatnya lagi.”jawab gadis itu cepat, ia berdiri dan mencoba untuk melawan meski ia tahu tak akan menang.

“ Aku akan mengingatkannya padamu malam ini. Sampai kau bangun dengan airmata penyesalan.”

“ Tidak.. aku tidak mau!”

PRANG! PRANG!

Gadis itu meraih banyak botol dan gelas kaca dari meja laboratorium, melemparnya dengan nekat ke arah L.

Sialnya, L bahkan tak terluka dan justru menertawainya.

“ Haha.. semenarik itukah sisi baikku sampai-sampai kau melupakan sisi jahatnya yang sudah menikah denganmu? Aku terkejut, kau kelihatan memusuhiku barusan..”

Naeun menggeleng dan masih saja melempar semua pecah belah yang ada di sekitarnya, membuat begitu banyak beling berserakan di lantai.

“…kau membuat arena permainan kita menjadi semakin menarik, Son Yeoshin.”

L tersenyum menatap banyaknya beling di lantai. Dengan satu dorongan membuat Naeun terjerembab dan bergabung dengan beling-beling tersebut.

“ Kumohon, L.. kita bisa selesaikan ini—“

“ Kali ini aku tidak menjanjikanmu kenikmatan. Aku minta maaf, Son Yeoshin. Hasratku untuk menyakitimu muncul lagi setelah tahu hal itu. Kau benar-benar menyakitiku.”

Naeun masih saja menggeleng dengan airmata yang terus mengalir, seluruh tubuhnya gemetaran dan bahkan tak lagi merasakan pedihnya beling yang menusuk-nusuk kakinya. Ia berharap bisa bangun dari mimpi ini namun L tak membiarkannya, hingga rasanya seperti nyata. Rasa bersalah dan takut semakin menggerogotinya.

L tidak terdengar main-main saat ini.

“ L.. aku.. b-bisa j-jelaskan semuanya.. t-t-olong..”

Bahkan tenggorokannya sudah tercekat, perkataannya tersendat karena rasa takut yang menginjak-injaknya.

Dan L tetap tidak melunak, penyihir itu justru semakin mengancamnya.

“ Aku tidak butuh penjelasanmu. Yang kubutuhkan adalah memilikimu seutuhnya.”

“ Kau sudah memilikiku seutuhnya, L. apa—“

“ Tidak. Myungsoo memilikimu juga. Ia memiliki auramu. Dan aku sangat marah dengan hal itu. Mengetahui dia hidup berkatmu saja aku marah, apalagi setelah tahu dia memiliki auramu yang selama ini kusimpan..”

Tatapan mata elangnya semakin tajam dan menusuk, ia mengunci pergerakan Naeun di bawah lutut dan di antara kedua lengan besarnya. Perlahan ia mendekat, berbisik dengan nada mengerikan di telinga gadis itu.

“…aku ingin membuatmu sadar, Myungsoo memang bisa merasakan auramu. Tapi yang menguasainya, tetaplah aku.”

Naeun semakin tegang. Matanya terus mencoba menyiratkan perasaan menyesal dan memohon belas kasihan, namun L sama sekali tak terpengaruh, ia justru tersenyum sinis, membuat Naeun merasa kembali ke masa dimana L terus memperlakukannya dengan kasar.

Perlahan, jemari lelaki itu menyusuri wajahnya, senyuman sinis itu masih belum hilang, matanya mulai menyala penuh nafsu. Naeun benar-benar ingin melarikan diri.

Ia tak ingin melakukannya jika L seperti ini.

Ia tak ingin melakukan hal ini di tempat yang mengingatkannya pada mimpi buruknya yang telah lalu.

Ia benar-benar tak mau.

“ K-kumohon…j-jangan, L..”

Sedikit nekat, Naeun menyingkirkan tangan L dari wajahnya dan mengambil kesempatan untuk berguling lalu berlari keluar dari laboratorium.

“ Hah..” L tertawa sinis dan mengeluarkan tongkat sihir dari balik punggungnya.

“…aku sedang tidak ingin bermain-main, Son Yeoshin. Kau akan celaka jika aku menangkapmu.”

Naeun menghentikan langkahnya di mulut pintu, airmatanya menetes semakin banyak. ia tak menyangka harus mengalami ketakutan ini lagi setelah sekian banyak momen indah yang telah ia lalui bersama L. Ia kira penderitaannya benar-benar sudah berakhir.

Ini semua salahnya. Seharusnya ia jujur dari awal bahwa ia telah membuat ramuan pembangkit kematian itu untuk Myungsoo.

Lengan kuat L tiba-tiba melingkar di lehernya, menariknya secara paksa hingga ia merasakan sesak. Kakinya terseret, bergesekan dengan lantai laboratorium. L menghempaskannya hingga kepala gadis itu sedikit terbentur ujung meja.

Apa lagi yang bisa Naeun perbuat selain terus menangis dan mengerang memegangi kepalanya? Ini sudah biasa ia alami di masa lalu dengan pelaku yang sama.

Namun kali ini, rasanya ribuan kali lipat lebih sakit, tepat dalam hatinya. Naeun tak pernah menduga akan mengalami hal seperti ini lagi.

Mimpi buruk tentang betapa jahat L padanya telah ia kubur dalam-dalam.

Dan ia sudah mengira kehadiran Lin sudah cukup menghentikan hasrat aneh L untuk menyakitinya.

Apakah sebegitu sakitnya L mengetahui kehadiran Kim Myungsoo? Terlebih ia langsung tahu bahwa sisi baiknya itu jatuh cinta pada istrinya. Naeun sadar betul akan hal itu, membuatnya tak bisa menyalahkan L sepenuhnya.

Naeun sadar, dialah yang membangkitkan kejahatan L lagi. Semenjak kehadiran Lin, L terus menekan hasrat jahatnya. Seharusnya Naeun menghargai itu, seharusnya sejak lama ia bicara baik-baik dan tak menyembunyikan tentang Myungsoo pada suaminya.

Ia benar-benar menyesal.

L berlutut di hadapan Naeun yang masih terduduk di lantai, tangan lebarnya yang dingin dengan kasar mengangkat dagu gadis itu dan tersenyum hanya dengan mengangkat satu sisi bibir tipisnya.

“ Selamat datang, Son Yeoshin..”

Lelaki itu terdengar gila sekarang.

“ A..apa?”

“ Selamat datang di mimpi terburuk kita berdua. Mimpi yang lebih buruk dari mimpi pertama yang pernah kukirimkan padamu sebelum kita menikah. Mimpi yang lebih menyeramkan dari mimpi disaat aku merenggut auramu..”

Naeun semakin pucat, namun ia masih memaksa batinnya untuk merasa bahwa kali ini L hanya sedang menakut-nakutinya.

Meski tak ada gunanya.

Lelaki itu benar-benar tak melepaskannya sekarang, tangannya kini mencengkeram leher Naeun, perlahan dan semakin keras hingga gadis itu mulai kesulitan bernafas. Tangan kuat itu bahkan membuatnya berdiri dan terhempas ke dinding.

Mungkin saat ini Naeun lebih memilih mati daripada harus merasakan siksaan selanjutnya.

Tapi ia tahu, L tak akan membiarkannya pergi.

>>WARNING ! sexual and violence content. (get password : check my twitter’s pinned tweet) and –Click to continue-<<

***************************

Jam menunjukkan pukul tiga pagi. L belum pergi meninggalkan mimpi Naeun, bersandar di kaki meja laboratorium dan membuat kepulan asap dalam ruangan tersebut dengan rokoknya. Suasana begitu sunyi dan hampa.

“ Katakan sesuatu.”

“…”

L melirik Naeun yang masih memunggunginya dengan berselimut tirai jendela laboratorium. Apa gadis itu telah kehabisan seluruh tenaganya?

“…kubilang katakan sesuatu.”L mengulang permintaannya.

“ Seperti apa?”sahut gadis itu dengan suara kecil dan parau, tanpa menoleh kearahnya.

“ Seperti.. kau membenciku lagi, atau ingin bercerai.. atau—“

“ Jangan bunuh Kim Myungsoo, L. jangan sentuh dia. Dia.. lelaki yang sangat baik.”

L menghembuskan asap rokoknya dengan kasar. Apa Naeun belum jera?

“ Dan kau menyukainya?”

“ Ya. Aku menyukainya.”

Tangan L mulai meremas tongkat sihirnya lagi, Naeun tahu lelaki itu bisa saja menyakitinya lagi.

“…aku juga menyukai Woohyun oppa, bahkan Sungyeol sunbae. Mereka sekarang lebih baik memperlakukanku. Tapi satu-satunya yang aku cintai, adalah penyihir gila yang baru saja memperkosaku.”

L menjatuhkan tongkat sihirnya, menunduk dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

“ Jangan berbohong.”

Naeun tersenyum kecil dan berbalik dengan sisa tenaganya, mencoba merangkak naik dan bersandar di dada L.

“ Kupikir-pikir memang fatal, menyembunyikan tentang Myungsoo darimu. Maafkan aku.. kuharap kau sudah puas menyiksaku barusan.”

“ Apa masih terasa sakit?”

Naeun mengangguk pelan dengan sedikit aegyo, L mulai menyesal.

“ Maaf—“

“ Jangan minta maaf. Bukankah ini salahku?”

“ Oh ya, ini salahmu.”

Namun sebenarnya, L sudah melunak. Lelaki itu menarik Naeun untuk memeluknya lebih dalam.

“ Pejamkan matamu. Setelah mengatakan beberapa omong kosong, aku akan mengakhiri mimpi buruk ini.”

Naeun menurut meski merasa setengah hati. Ia baru saja berdamai dengan L, dan lelaki itu ingin segera pergi begitu saja?

“ Aku sedang dalam perjalanan ke Gwangdam.”

Naeun membuka matanya lagi, mendongak menatap wajah L dengan kedua alis terangkat.

“ Untuk apa..?”

“ Ada hal penting.”

“ Apa itu?”

“ Kau akan tahu setelah kau pulang nanti.”

“ Kapan aku bisa pulang?”

“ Secepatnya.”

“ Apa konflikmu dengan bibi Hyoyeon sudah—“

“ Ssshh.. jangan bahas dia.”

Naeun menutup mulutnya, matanya kembali menatap wajah tampan L.

“ Berapa hari perjalananmu ke Gwangdam?”

“ Untuk seorang penyihir, tak perlu lima belas hari. Mungkin besok aku sudah tiba disana.”

“ Pasti urusanmu disana sangat penting, sampai harus meninggalkan uri Lin.”

“ Ia aman bersama Taeyeon.”

“ Aku sangat merindukan putra tampan kita..”

“ Kau akan segera bertemu dengannya, aku janji.”

Naeun mengangguk percaya, kembali memejamkan matanya karena tak mampu lagi bertoleransi dengan tubuhnya yang lelah dan lemas.

“…omong kosongku sudah selesai, aku akan mengakhiri mimpi burukmu.”

“ Dan melanjutkan perjalananmu ke Gwangdam?”tanya Naeun dengan mata yang masih terpejam.

“ Ya. tapi sebelum itu..”

“ Apa?”

“ Katakan kalau kau hanya mencintaiku. Agar aku bisa pergi dengan tenang.”

Naeun membuka matanya lagi, bibirnya yang terluka dengan sukarela mengecup bibir L sekilas.

“ Aku mencintaimu, sesakit apapun itu. aku mencintaimu.”

*****************

“ Selamat pagi. Kau sudah bangun?”

L membuka matanya, melihat langit-langit ruangan tempatnya berbaring saat ini.

Ini bukan kamar di kereta kerajaan.

Lelaki itu buru-buru bangkit, memperhatikan sekeliling ruangan asing yang penuh dengan botol cairan ramuan dimana-mana.

Dan ketika ia berbalik, seorang gadis cantik berjubah hitam tersenyum kearahnya.

“ S-siapa—“

“ Ternyata benar, kau sungguh tampan, L.”

“ Kau.. Kim Ahyoung?”

“ Hah.. kau menyebut namaku barusan? Oh tidak.. aku sangat terkesan.. kau mengenaliku?”

L tak percaya. Bagaimana bisa ia tiba-tiba sampai ke negeri Gwangdam? Ia bahkan tidur di kereta kerajaan yang seharusnya menjauh dari negeri ini.

“ Siapa yang membawaku kesini!?”tanya L penasaran, Ahyoung tertawa kecil.

“ Apa itu penting? Yang jelas, kau sudah bertemu denganku kan?”

Benar juga. Ramuan portal itu adalah prioritasnya.

“ Baiklah. Kalau begitu sekarang berikan padaku, ramuan portalnya.”

“ Hah.. kau sangat tidak pandai berbasa-basi. Bisakah kita perpanjang sebentar pertemuan kita? Melihat wajahmu secara langsung adalah impianku sejak dulu.”

L memutar bola matanya, mencoba untuk sedikit bersabar.

“ Aku tak punya banyak waktu. Berikan padaku sekarang juga.”

Dengan sedikit angkuh Ahyoung mengeluarkan sebotol ramuan berwarna bening dari dalam jubahnya. Menyodorkannya ke arah L, namun menariknya lagi saat L hendak mengambilnya.

“…kau sedang bermain-main denganku?”L mulai jengkel, Ahyoung menggeleng.

“ Aku ingin membuatmu sadar bahwa tak ada sesuatu apapun yang bisa kau peroleh secara cuma-cuma.”

“ Lalu apa maumu?”

Ahyoung tersenyum karena inilah yang ingin ia dengar dari penyihir tampan yang selama ini menjadi obsesinya itu.

“ L, apa kau sudah dengar.. tentang obsesiku padamu?”

“ Aku mendengarnya dari Hyerim.”

“ Bagus. Kalau begitu, seharusnya kau bisa menebak apa yang akan kuminta.”

“ Katakan saja, jangan menyuruhku berpikir.”

Ahyoung melangkah, mendekat dan mengelus wajah tampan L.

“ Nikahi aku.”

Mata L membesar, ia segera menggeleng dan menjauh, namun Ahyoung kembali maju mendekatinya.

“ Kalau kau tidak mau menikahiku.. baiklah, aku akan memberimu pilihan kedua.”

L membiarkan Ahyoung semakin mendekat dan berbisik di telinganya.

“…tidurlah denganku disini. Hanya malam ini.”

“ Penyihir gila!”

Lelaki itu berontak dan mencekiknya, Ahyoung nampak tak terkejut, ia sudah menduga L akan seperti ini.

“ Jangan bermain-main denganku, serahkan ramuan portal itu sebelum aku mengotori tanganku dengan darahmu.”

“ Silahkan.”

L benar-benar tak bercanda, ujung tongkat sihirnya sudah menempel di dahi penyihir kerajaan Gwangdam itu. lelaki itu benar-benar akan membunuhnya.

“ AHYOUNG!”

Seseorang memasuki menara dan segera menyingkirkan tongkat sihir L dari Ahyoung untuk menolong gadis penyihir itu.

Pangeran Baekhyun.

“ Jangan ikut campur. Aku tak akan membunuhnya jika ia tidak mempersulitku!” L geram, dan Ahyoung masih tetap keras kepala.

“ Kau harus tetap memilih salah satunya, L.”

Darah L kembali memanas, kini ia justru mencekik Baekhyun dan menjadikan pangeran itu sebagai ancaman, membuat Ahyoung mulai gemetar.

“ Sepertinya akan lebih menarik jika pangeran ini yang kubunuh. Benar begitu, Kim Ahyoung?”

Ahyoung tak menyangka situasinya akan menjadi seperti ini.

“ Kau tak bisa membunuhku, L.”ucap Baekhyun tiba-tiba dengan nafas tersendat.

“ Mengapa aku tak bisa membunuhmu?”

“ Kau tidak penasaran siapa yang mengambilmu dari kereta kerajaan Junghwa dan membawamu kesini? Ia pelindungku, yang akan membuatmu menyesal jika berani membunuhku.”

“ Pelindungmu?”

“ Ya. ia ada disini. Menyusul burung merpatinya sekaligus menunggumu untuk masuk dalam perangkapnya.”

L terdiam, terpaksa meloloskan Baekhyun dan perlahan membalikkan tubuhnya kearah pintu menara sebab atmosfir yang benar-benar tak nyaman menghinggapinya secara tiba-tiba.

Firasat buruknya benar.

 

Kim Hyoyeon berdiri disana. Menunjukkan seringai liciknya dan memain-mainkan tongkat sihirnya.

“ Siap untuk bertarung, keponakanku?”

To be Continued

 

Whoaa.. akhirnya.. di tengah kesibukan kuliah yang mulai padat aku bisa update, walaupun ini juga udah ngaret banget.

Terimakasih sudah membaca part ini! Semoga makin suka dengan ceritanya❤

Jangan jadi silent reader yaa.. komentar yang kalian tinggalkan akan sangat berpengaruh untuk dua part terakhir nanti.

So, see you in the next part! This story is getting closer to the end !🙂

Next >> Part 8 [PRE-END] : Sacrifices

94 responses to “THE PORTAL 2 [Part 7 : Dream]

  1. aaaa~ sumpah kejer gila pas baca ini..
    deg degan pas L nyiksa Naeun xD
    untung aj L bisa damai sama Naeun ampunnnn..
    speechless sampe… (?)

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s