[KCF’s Fanfiction Writing Competition] Green Flash

FIX3Title : Green Flash

Casts : Sehun – Jiwon

Langit biru, awan putih, terbentang indah membentuk hamparan tak berujung. Bagai kapas yang tergantungdi udara bebas, terpaku tak bergerak. Sesekali mereka bergerombol, tebal. Namun, beberapa di antaranya hanya berupa semburat tipis yang jika kau genggam akan meleleh di tanganmu. Begitupun, mereka berbaur baik dengan turquoisyang mendominasi, seperti tak terpisahkan.

Segurat senyum tipis terpampang secara spontan di bibir tipis seorang pemuda berambut hitam. Mata tajam nan hitamnya takjub melihat panorama dari balik kaca tebal. Bersama derak halus yang tercipta, membuat kursi yang ia duduki sedikit bergetar, ia tetap tak mengindahkan pandangannya dari kaca jendela.

Di sinilah Oh Sehun berakhir. Di dalam sebuah pesawat boeingdengan nomor penerbangan terakhir menuju negeri yang terkenal dengan matahari terbitnya. Lelaki itu melirik kedua tangannya yang berada di pangkuan, memainkan sebuah surat yang segelnya telah ia buka, menatapnya kosong sesaat. Ia membuang napas perlahan dan kembali menatap arak-arakan ribuan kapas terbang di luar sana.

Ia tak bisa memahami pikiran orang-orang tua, seperti ayahnya. Tak lihatkah kini seorang Oh Sehun sudah dewasa? Ia lelah harus terus berpura-pura dalam kehidupan statisnya. Yang berperan sebagai boneka tali dan tersenyum setiap saat. Ia ingin bebas, mencari suasana baru.

Setelah tahun ajaran berganti, keinginannya berguru di negeri orang dikabulkan lewat surat. Singkat. Dari sang ayah di Vietnam sana. Sedikit terpekur ketika ia membacanya. Miris melihat jajaran kalimat yang terlalu sedikit. Bahkan sekedar basa-basi, menanyakan ‘apa kabarmu, nak? Sehat? Ayah merindukanmu’ pun nyaris tak terucap. Sehun hanya bisa menelan pil pahit, seraya tersenyum sinis.

Namun, ia berharap, setelah turunnya izin dari sang ayah, hidupnya bisa berubah. Sebenarnya bisa lebih baik, bisa juga tidak. Tapi ia berharap akan jauh lebih baik. Melupakan rentetan skenario film pahit yang telah ia lakoni di masa lampau, yang sama sekali tak bisa ia cut dan take ulang adegan. Kemudian memperbaikinya….

Termasuk skenario film kisah kasihnya.Mungkin….

 

Sehun menyandarkan kepalanya di sisi jendela pesawat. Masih dalam diam, ia meresapi apa yang ia pandangi. Meski dengan tatapan kosong.

(*)

Narita Airport, Jepang

Musim panas, pukul 21.00

Sehun menilik jam tangan hitamnya telah menunjukkan pukul sembilan malam. Sambil mendorong troli yang berisi beberapa tas dan barang-barang bawaannya, lelaki berkulit putih pucat itu berjalan menuju gate yang akan mengantarnya keluar bandara. Hingga kedua mata sipitnya menangkap sosok yang sudah lama ia kenal melambai seperti orang gila di tengah-tengah pengunjung yang ada. Sehun mengangkat sebelah alisnya dan melepas kacamata hitamnya.

“Oh Sehun!” teriak orang itu. Kaki jenjang Sehun membawanya mendekat ke arahnya.

“Jongin—” BRUUGH!

“Huwaaaa!! Aku sangat merindukanmu, Sehun!” Sehun mendadak sesak napas. Seperti diremat oleh pegulat yang akan meremukan tulang-tulangnya. Gila. Beginikah kekuatan orang yang sedang merindu?

Ya! Kim Jongin! He-hentikan! Kau tak malu diperhatikan banyak orang, ha?!” desisnya sambil berusaha melepas pelukan mematikan lelaki dengan sapaan Jongin.

Come! Ayo kita segera ke apartemen! Kau berhutang banyak cerita di mobil. Come, come!” Jongin segera menarik tangan Sehun dan mendorong troli dengan cepat. Sehun menggeleng samar dengan senyum heran. Satu hal yang Sehun tangkap akan sosok lelaki berkulit tan itu.

Ia tak berubah sama sekali.

(*)

“Aku sudah dengar berita itu. Kakakmu yang menceritakan semuanya. Aku turut prihatin.”

Sehun hanya tersenyum. Getir. Ia memasukkan barang-barangnya ke apartemen seraya dibantu oleh sahabatnya itu.

“Ya, siapa yang menyangka mereka akan bercerai.” Jongin terdiam sesaat, memandangi Sehun yang masih sibuk bergerak.

Mian,” gumam Jongin merasa bersalah. Sehun tertawa.

“Sudahlah….” Sehun berusaha mencairkan suasana.

“Sejak kapan mereka berpisah?”

“Sejak aku lulus SMA.” Sehun berkata. Tingkahnya seakan masa bodoh. Tapi Jongin tahu di sudut hatinya, ia merasakan perih.

“Maaf, aku tak ada di sisimu sejak aku pindah kala SMP dulu,” Jongin kembali membantu Sehun berbenah.

“Kita sudah lama berpisah, tapi kita diizinkan untuk satu apartemen sekarang.” Sehun tersenyum. Jongin hanya membalas senyum seadanya.

“Saat Chanyeol hyung mengabariku kalau kau akan kemari,kau tahu? Aku benar-benar melompat kegirangan seperti monyet saat dia meneleponku.” Jongin berbicara dengan cerianya, melompat dan berjalan menuju dapur. Hendak membuatkan sahabatnya itu minuman.

“Chanyeol hyung memang tak bisa diam. Sudah sifatnya sejak lahir. Anehnya,sifatnya tidak menular padaku. Itu menggelikan.” Sehun kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk duduk di sofa. “Malah, sifat kakakku itu menular padamu yang sama sekali tak ada hubungan darah. Itu aneh.”

Ya!”Jongin protes dan menendang kaki sang sahabat. Namun kemudian, suasana berubah sunyi.

“Lalu… apa rencanamu setelah ini?” Kim Jongin yang akhirnya mau tak mau memecah kesunyian. Sehun tercetik.

“Ya… melanjutkan kuliah, belajar…sambil mencari udara segar. Melenyapkan rasa sesak dan mengisinya dengan udara baru.” Sehun meletakkan cangkirnya pada piring alas. “Juga…” Jongin yang sudah membuka mulut, mengurungkan niatnya untuk menyela. “…aku ingin mandiri.”

“M-maksudmu?”

“Ya. Aku akan kerja part time.”

(*)

Desau lirih napas lelah keluar dari mulut Sehun. Para pelanggan sudah berkurang.Ia membersihkan apa saja yang mungkin berdebu. Sesekali ia seka keringatnya dengan punggung tangan. Seminggu sudah Sehun menjalani hidup di Negeri Sakura. Sehun meneruskan kuliahnya di Universitas Tokyo, konsentrasi akuntansi. Jongin yang menghargai keputusan Sehun untuk kerja part time, akhirnya mengusulkan sebuah kafe milik seniornya—yang ternyata sesama rerantauan—yang kebetulan sedang membutuhkan employee. Beruntung benar Sehun karena senior Jongin itu—yang kemudian Sehun memanggilnya Minseok hyung—begitu peduli padanya. Membuatnya semangat bekerja.

Musim panas begitu melelahkan. Sehun berhenti sejenak. Kedua mutiara hitamnya sendu menatap sekitar. Hingga suatu detik, ia tertambat pada kaca jendela yang tepat mengarah ke pantai. Bundarnya matahari kini hanya terlihat sedikit bagiannya. Hanya pasrah di sedot garis khatulistiwa. Bahu Sehun perlahan turun dan ia mendesah pelan. Kedua bola hitamnya menatap pemandangan itu sayu. Sesaat, seberkas cahayahijau muncul di permukaan sebelum matahari benar-benar lenyap. Ia meresapi suasana yang seketika berubah ketika ia tak sengaja mendapati fenomena itu—lagi.

Green Flash…

Sesuatu yang aneh tiba-tiba menyeruak keluar. Seperti sesuatu yang begitu ia rindukan, namun samar. Terasa sedikit sakit. Sesuatu yang dahulu sempat hilang.

“Sehun-ah! Tolong gantikan aku sebentar. Aku dipanggil Minseok hyung.” Salah satu rekan kerja Sehun memanggilnya. Dengan tergesa, ia segera pergi dari tempatnya berpijak menuju balik meja kasir. Melayani pelanggan yang masih ada. Siapa sangka ia tak sengaja menabrak seseorang yang hendak memesan. Orang itu terlihat buru-buru dan akhirnya mereka jatuh terduduk sambil memegangi pantat maupun kepala.

G-gomenasai!” tukas Sehun dengan bahasa Jepang. Dengan cepat ia bangkit dan membantu sang korban yang masih kesakitan. Namun, ketika mata mereka bertemu, waktu seakan terhenti.

“O-Oh Sehun?”

Sehun membeku. Kedua bola mata itu…

“Kim… Jiwon?”

…yang dahulu pernah hilang… kini datang lagi menyapa hidupnya.

(*)

Green Flash?” Suara Jiwon yang hangat kini kembali menyapa.

Di pinggir pantai dekat kafe, mereka berdua kini menghabiskan senja. Sehun sudah selesai dengan shiftnya, dan mengajak teman semasa SMAnya itu duduk-duduk di pinggir pantai.

“Ya, Green Flash. Cahaya hijau statis yang muncul sesaat sebelum matahari terbenam.”

“Indahkah? Aku belum pernah melihatnya secara langsung.” Jiwon mengerucutkan bibirnya, membuat Sehun tersenyum diam-diam.

“Aku jarang bisa menangkap momen itu. Kejadian itu sangat cepat. Hanya beberapa detik saja.”

“Tapi kau pernah melihatnya, kan?”

“Ah, itu hanya keberuntungan…” Sehun menoleh dan terkekeh.

Mata itu berwarna hijau. Menatap sumringah ombak yang bergulung-gulung. Menyihir siapapun yang menatapnya. Indah bagaikan emerald. Menyala bagaikan cahaya Green Flash. Menyadarkan Sehun bahwa gadis itulah cinta sejatinya.

(*)

Seperti hari-hari sebelumnya, aku selalu bertemu dengan kawan lamaku itu di kafe. Menghabiskan waktu senja di pinggir pantai, sambil bertukar cerita lucu di masa lalu maupun pengalaman masa kini. Bibirku selalu tak kuasa menahan senyum ketika Jiwon berceloteh dengan asyiknya.

“Kau kuliah di sini?” tanyanya riang. Aku mengangguk seraya terkekeh. Jiwon mendesah kagum sambil tertawa.

“Kau sendiri?” kutanya balik dia.

“Aaah, aku hanya mengunjungi nenekku. Aku rindu padanya.” Terkadang suara renyah tawanya menyihirku untuk tertawa juga. Sungguh. Aku sangat menikmati masa-masa seperti ini. Menikmati detak jantungku yang selalu berdegub keras dan membuat darahku menghangat. Menikmati caraku mengamati gadis di pelupuk mataku itu diam-diam.

“Ah! Sehun! Coba lihat ini.” Aku memiringkan sedikit kepalaku ketika Jiwon menunjukkan kelima jarinya. “Apakah cincin ini bagus?” Kunaikkan sebelah alis.

“Ya… itu cantik,” pujiku tanpa pikir panjang. Ya, perempuan mana yang tidak suka berlian?

“Ahahaha. Syukurlah jika ini bagus. Dia selalu bisa memilihkanku barang-barang yang indah.” Mendengar itu, telingaku seakan tercetik.Alis kukerutkan lebih dalam. “Dia?”

Jiwon menengadah. Ia seakan baru ingat sesuatu. “Aaah… aku lupa. Aku belum cerita, ya?” Jiwon mengusap tengkuknya, tersenyum malu-malu di tengah-tengah rasa penasaranku. “Aku sudah jadian.”Detik itu, raut wajahku mengeras. Kalimat klise itu berhasil membuat darahku nyaris beku. Tubuhku tiba-tiba membatu. Lidah kelu. ‘Sejak kapan…?’Melihat Jiwon yang tersipu memandangi cincin di jari manisnya membuat hatiku teriris.

Batu emeraldku yang lama hilang, kini tak dapat lagi kugenggam. Hanya bisa kukirimi isyarat… sehalus udara, setipis asap putih, sedingin embun pagi.

(*)

Jinjja?!” Jongin buru-buru menggeser sebuah kursi, melebarkan kakinya dan duduk menghadap sandaran kursinya. “Kau yakin dia Jiwon? Gadis yang kau sukai semasa SMA dulu?” Seketika Jongin mendapat jitakan manis dari tanganku.

“Kau pikir aku amnesia?!” Jongin meringis sambil mengelus atas kepalanya. Namun, kegaduhan itu tak bertahan lama. Mendadak suasana kelabu. Semendung perasaanku kini.

“Aku tak menyangka dia sudah punya pacar.” Jongin ikut menyesali pupusnya kisah kasih sahabatnya ini. Tangan lebarnya mengelus pundakku yang lunglai perlahan.

“Aku bahkan sudah melupakannya, tapi ia kembali muncul di saat-saat tak terduga.” Suaraku melirih. “Meski berkali-kali menepis, kenyataannya aku masih mencintainya, Jongin.”

“Tidakkah kau ingin mengutarakannya? Setidaknya, ia berhak tahu apa isi hatimu.” Aku kembali sunyi. Hanya duduk diam di sofa sambil meremat-remat telapak tanganku yang entah kenapa mendingin. Batinku kembali berperang. Kupikir, aku bisa melupakan masa laluku. Ya, sebagian. Tapi yang lainnya malah kembali mengawang. Dan kini berhasil membuatku bimbang.

“Ah! Bukankah kau bilang… Kim Jiwon akan pulang ke Seoul besok lusa?” Suara Jongin menyadarkanku dari lamunan. Mataku terbelalak. Jongin sedikit tercekat ketika tiba-tiba aku menoleh ke arahnya.

(*)

Entah perasaan apa ini, tapi rasanya menyesakkan. Di dalam bus yang melaju, tak kulepaskan tangan yang meremat jaket tipisku. Selama kuliah, aku tidak bisa tenang. Beberapa jam lalu, Jiwon mengucapkan selamat tinggal lewat telepon. Suaranya begitu indah, tapi nyaris membuatku menangis.

Kusandarkan kepala pada jendela bus. Mengikuti pertokoan pinggir jalan yang ikut mengejarku. Kulirik tiga orang ibu-ibu yang duduk di depanku mengobrol asyik. Gosip? Tapi entahlah. Raut wajah mereka seakan menyiratkan kemirisan. Aku sedikit terganggu dengan suara mereka yang seperti tikus di atap rumah. Tak sengaja, kudengar mereka menyebut nama pesawat yang ditumpangi Jiwon menuju Seoul. Membuat kepalaku menegak.

Ponselku bergetar saat itu juga. Aku terjengat melihat banyak miscall dari Jongin. Buru-buru, kuangkat panggilannya.

Yeoboseyo…?”

Mendengar suara Jongin yang membabi buta, badanku gemetar. Tangan yang ku gunakan untuk memegangi ponsel seakan mati rasa.

“Sehun! Kim Jiwon-ssi! Pesawat yang ia tumpangi tergelincir dan terbakar!”

(*)

Tak kupedulikan langkah kakiku yang memekakan telinga sepanjang koridor rumah sakit. Kiri-kanan teronggok para korban dengan berbagai luka yang membuatku meringis melihatnya.

“Sehun-ah! Sebelah sini!” Jongin menarik tanganku secepat kilat. Kami berlari seperti orang kesurupan, mencari satu sosok berambut panjang sebahu, yang nasibnya tak menentu. Terbaring lemah di ranjang putih yang dingin.

Tak lama, kutemukan sosoknya. Dengan mata hijaunya yang terbalut kulit kelopak mata. Di tangan-tangannya terdapat luka bakar yang cukup serius, pelipisnya berdarah.Hatiku menangis.

“Jiwon…” panggilku lirih. Tanganku gemetar mengelus rambut halusnya. “Jiwon…”

Benar-benar aku bersyukur ketika kulihat mata hijau itu terbuka. Lemah. Ia tersenyum dalam wajah pasinya.

“Oh… Sehun…”

(*)

“Kedua tangannya mengalami luka bakar yang serius. Kaki kanannya retak dan kepalanya sempat terbetur benda keras.” Penjelasan dokter membuatku menahan napas. Ia menjeda sesaat, membuatku ingin memukulnya karena makin membuatku khawatir. “Tapi, saya minta maaf. Paru-parunya sudah diambang batas. Nona Jiwon terlalu banyak menghirup asap. Satu-satunya cara hanya jika ada pendonor paru-paru.” Aku membekap mulutku rapat-rapat. “Saya sudah berusaha semaksimal mungkin.” Aku jatuh terduduk begitu saja semenjak dokter itu berlalu. Jongin terus memegangi pundakku, memberiku percikan semangat meski bagiku itu terlalu kecil. Aku terguncang… dan hanya bisa menangis dalam pelukan sahabatku.

“Sehun-ah…” Suara lemah itu memanggil namaku. Di dalam kamar rawat beralat canggih ini, aku terus menampakkan diri. Menjaga belahan jiwaku yang terbaring lemah. Selain kedua orangtuanya. Selain kekasihnya….

Ne, Jiwon….” Jiwon tersenyum. Membuat hatiku teriris.

“Antarkan aku… melihat matahari terbenam. Melihat cahaya Green Flash… yang pernah kau lihat dulu….” Aku hanya mengeratkan tanganku pada genggamannya. Sedih aku mendengar permintaannya. “Aku mohon…. Untuk yang pertama kali… dan mungkin yang terakhir kali….” Ingin sekali kuelus kepalanya sayang. Namun, tangan ini seakan kaku. Hanya bisa mengelus sebatas pundaknya saja.

“Iya,” jawabku pahit. “Akan kuusahakan membawamu keluar.” Dan Jiwon tersenyum lagi. Sama seperti tadi. Dalam wajah yang semakin memutih.

(*)

Angin laut berdesir lembut. Burung-burung camar beterbangan pulang. Kusandarkan kepalanya di dadaku. Duduk bersisian di sebuah gubuk di pinggir pantai. Tak jauh kuletakkan kursi roda miliknya. Di belakang kami, siap sedia sahabatku Jongin bersama seorang asisten dokter yang akan menangani jika terjadi sesuatu.

“Aku… tidak pernah… melihat matahari terbenam seindah ini…” ucap Jiwon lemah, nyaris berupa lirihan. Mata itu… tak lagi secerah dulu. Hijaunya kini pudar. Membuatku hatiku pedih.

“Matahari terbenam selalu indah di mataku. Tak ada darinya yang tak indah, Jiwon-ah…”

“Tapi… ini yang terindah… dalam hidupku….” Senyum itu lagi. Sungguh, aku tak tega melihatnya. Bibir itu pucat itu tersenyum manis, namun miris.

Semakin sore, tubuhnya semakin lemah. Napasnya mulai satu-satu. Karena sangat—sangat khawatir—kupanggil Jongin dan si asisten mendekat. Tapi Jiwon mencegah dengan tangannya. Matahari nyaris tertelan. Sebentar lagi Green Flash akan terlihat.

“Se-ben-tar… la… gi…?” Kata-katanya sudah mulai tak karuan. Makin kueratkan saja pelukanku padanya.

“Iya. Sebentar lagi…” jawabku tertahan. Aku tahu ini tak akan lama. Tak akan lama lagi….

“Se-hun…” panggilnya terbata, “…kata-kan…” Aku menoleh seraya mendekatkan telingaku karena suaranya benar-benar lirih. “Katakan-lah…” Jiwon menjeda sesaat,“ak-u tahu… ada se-suatu… yang ha-rus k-au kata-kan….” Aku tertegun. “Agar ki-ta… sama-sa-ma mera-sa… le-ga….” Kepalaku menoleh ke arah Jongin. Hatiku meragu, sesak, dan sakit menjadi satu. Namun, dengan tegas Jongin mengangguk. Seakan mendorongku kuat untuk berucap. Tak ada pilihan lain. Inilah kesempatan terakhirku. Menghirup napas dalam dan kukerahkan semua keberanianku, akhirnya aku bilang. Meski aku tahu, perasaan ini nyaris membuatku mati. Rasa sakit ini. Rasa sedih ini….

Kudekatkan bibirku pada telinganya. “Kim Jiwon….” Kueratkan pelukanku, “…aku… mencintaimu….” ucapku gemetar. Sesaat, kata-kataku disambut cahaya Green Flash yang hanya muncul beberapa detik saja, dan menghilang bersama bongkahan oranye itu. Kulihat Jiwon tersenyum ketika berhasil melihatnya. Manis. Juga damai. Dan ia berbisik,

Go-mawo-yo….” Gemetar aku mendengarnya. Air mataku membendung begitu saja. Satu tetes jatuh melewati pipiku. Kuberanikan diri untuk mencium pucuk kepalanya. Lama.

Seiring hilangnya cahaya Green Flash dan terbenamnya matahari, sepasang mata nan indah itu menutup perlahan. Warna hijau itu kini tenggelam dalam hitam. Sehitam malam yang baru saja turun.

Kim Jiwon tak akan kembali lagi.

(*)

Sampai bila kasih mengalahkan tekad, manusia takkan bisa apa-apa. Meski berusaha kau butakan hatimu, jika dia tetap ditakdirkan bertemu, kau tak akan bisa apa-apa. Oh Sehun hanya lelaki yang ingin menghirup udara baru, keluar jeruji tak kasat matanya. Ia hanya lelaki yang ingin memperbaiki skenario filmnya yang nelangsa. Pergi menyeberangi lautan kapas dan dipertemukan kembali dengan batu emeraldnya yang sempat hilang.

Sampaipada halnya ia kembali menangkap cahaya hijau ketika matahari terbenam, mengingatkannya terus pada sang emerald yang kini rapuh, berada dalam rengkuhan mutiara hitamnya. Kalimat yang lama mengerak di sudut hatinya itu akhirnya terucap, diiringi air mata dan senyuman lemah. Meniupkan harapan dan impiannya yang tinggal sekejap.Sekejap cahaya Green Flash.

‘Cintamu abadi dalam jiwaku, dan akan kubawa mati bersama hayatku.’

One response to “[KCF’s Fanfiction Writing Competition] Green Flash

  1. Dapat FF bercast JiWOn itu selalu bikin hati gembira, tapi nggak faham deh kalau kau bikin Jiwon itu OC atau si artis Kim JiWon. Wkwkwkwk
    Endingnta untung SeHun gag donorin paru2, bosan kalau endingnya si JiWon hidup trus SeHun dengan gobloknya jadi pendonor. Ff kau bagus, moga juara ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s