[KCF’s Fanfiction Writing Competition] When The Light is Talking

FIX3

Title                 : When The Light is Talking

Main Cast        : Suho (Exo), Eunji (Apink)

Rate                 : PG 15

 

Ketika mulut ini tidak dapat berbicara, terlalu terpaku pada wajahnya
Naluri ini begitu menginginkannya
Sehingga aku sampai di batas kesabaran
Tidak ada yang dapat kulakukan selain berusaha mengikuti,
Menjadi sebuah bayangan yang berdiri di belakang dua cahaya terang
Ah.. aku harap aku masih punya kesempatan.
***
Hujan disertai angin berderak perlahan, membasahi jalan-jalan bewarna hitam yang setengah memantulkan cahaya malam. Air hujan yang jatuh bersamaan, perlahan mengumpul bersama, membentuk genangan air di tepi jalanan, menyentuh salah satu ujung sepatuku. Hawa dingin pun merembak, seakan menggodaku untuk masuk ke minimarket dan merebus ramen disana. Setidaknya aku akan makan sambil melihat pantulan diriku di kaca, merenungi betapa bodoh atau betapa tidak beruntungnya hidupku.
Tapi aku tidak melakukannya. Masuk ke minimarket dan membeli ramen di belakang punggungku. Padahal hanya membutuhkan beberapa langkah berani menembus hujan untuk masuk ke dalam minimarket itu. Mungkin bahuku akan basah atau rambut bagian atasku akan lepek. Atau ramen yang kumasak tidak sesuai dengan seleraku. Bisa juga aku lupa untuk membayar setelah makan. Beberapa kemungkinan mengusik kepalaku untuk sesaat. Setidaknya aku mengetahui satu hal yang pasti akan terjadi jika aku pergi dari halte bis ini.
Aku akan kehilangan gadis ini.
Aku berbicara tentang gadis yang berdiri di seberangku. Wajah pucat yang tertutup helai poni yang menggantung menutupi alisnya. Kepalanya terus tertunduk, seakan-akan menghitung banyak tetes hujan yang jatuh mengenai ujung sepatunya. Tubuhnya terbalut mantel bewarna abu kehitaman. Bibir mungilnya diam tak bergerak, seakan membeku karena dinginnya hawa di halte ini.
Atau ia sedang berdiam diri, merenungi kenangan-kenangan menyenangkan yang pernah terjadi di kehidupannya.
Khususnya, kenangan bersama lelaki itu.
Ya, aku cukup mengetahuinya.
Tepat setengah jam sudah aku berdiri bersama gadis ini. Sama-sama terdiam dan memandangi hujan, hendak menyalahkannya karena harus turun di saat kami harus menunggu bis. Namun hujan hari ini tampaknya lebih senang dianggap sebagai perantara dua orang kedinginan di halte yang sedari tadi tidak bicara. Karena pikiran konyolku itu, aku memutuskan untuk membuka pembicaraan.
“Jung Eunji-si?”
Gadis itu menoleh pelan. Matanya berkedip dua kali dan ia menyedot ingusnya sekali. Ia memandangku dengan seksama, berpikir sejenak. Aku tahu ia membutuhkan waktu mengumpulkan keberanian untuk membalas sapaanku.
Setidaknya ia membalasku begini, “Apa saya mengenal anda?”
Aku tersenyum sejenak. “Kurasa tidak.”
Gadis itu tampak kebingungan sejenak lalu menundukkan kepala lagi, sehingga aku tidak bisa menatap wajahnya.
“Anda kuliah di Universitas Wushu? Mungkin anda kakak tingkat saya.”
Rasanya aku ingin berterima kasih pada badge angkatan dan nama universitas yang dipasang di kaosku dibalik mantel. Meskipun desainnya jelek dan tampilannya tidak sesuai dengan fashion, aku cukup berhutang budi.
“Ya, aku kakak tingkatmu. Mereka biasa memanggilku Su—“
“Suho.” Gadis itu menyela sambil mengangkat kepalanya. “Kim Jun Myeon.”
“Sepertinya kau mengenalku.”
Ia menggeleng lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam mantel. “Mereka membicarakanmu—orang-orang di kelasku.”
Kali ini aku mengangguk, berakting seolah merasa sudah biasa dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan. Walaupun aku sebenarnya tertarik bertanya mengapa mereka membicarakanku. Kurasa aku tidak akan menemukan jawabannya pada gadis ini. Jelas gadis ini tidak banyak bicara dan hanya menjadi pendengar pasif di kelasnya.
“Sunbaenim..”
“Ya?”
Gadis itu kembali mengedipkan matanya beberapa kali sehingga membuatku bertanya di dalam hati. Ada yang salah dengan wajahku? Atau ada percikan darah tertinggal di wajahku karena ikut latihan mengotopsi mayat tadi? Aku ingin bertanya tapi wajah dan ekspresi bekunya membuat kerongkonganku tiba-tiba mengering. Terpaksa aku mengurungkan niatku.
“Bagaimana anda bisa mengenal saya?”
Ah.. ternyata pertanyaan klasik. Aku terlalu berpikir jauh. Sedikit kecewa dengan pertanyaannya, aku membalasnya dengan senyum. Berharap ia mengurangi jarak yang ia ciptakan agar aku bisa mengenalnya lebih baik.
“Kau tahu jawabannya, kurasa.” Jawabku masih dengan bahasa sopan. “Perlukah aku benar-benar menjawab?”
Kepalanya lagi-lagi tertunduk dan aku mengikutinya. Sekarang semua sepatunya sudah basah. Aku yakin ia sedang menahan dingin dan rasa lembap yang tidak karuan di kakinya. Aku jadi merasa sedikit peduli dan hendak mengajaknya masuk ke dalam minimarket, benar-benar akan makan ramen, kalau saja bis yang akan kami berdua tumpangi datang. Karena merasa sudah sedikit dekat, aku memberanikan diri untuk duduk di sampingnya. Ia mempersilahkanku dengan senyum kecil. Lagipula kurasa ia masih ingin mendengar jawabanku.
“Kau putus dengan Chanyeol?”
Jawaban sekaligus pertanyaanku kelihatannya agak terlalu keras karena ia langsung menatapku dengan pandangan aneh. Aku tidak bisa menjelaskan detailnya—tapi sinar matanya langsung membuatku merutuk sendiri. Demi Tuhan, haruskah aku menanyakan hal itu kepadanya? Aku jadi merasa sedikit tidak nyaman.
“Maaf.”
“Ya, aku putus dengannya.” Jawab Eunji sekenanya. “Kurasa sunbae mengenal Chanyeol sunbaenim dengan baik.”
Chanyeol sunbaenim?
Jadi ia sudah dalam tahap sakit hati sehingga memanggilnya dengan embel-embel formal “sunbaenim.” Berita bagus, kurasa. Setidaknya aku sudah bisa memastikan gadis ini tidak akan kembali dengan mantan pacarnya, kecuali Chanyeol yang meminta.
“Entahlah. Sebatas teman karena berasal dari sekolah menengah yang sama. Aku tidak terlalu mengenalnya dengan baik.” Balasku jujur. Gadis itu—Eunji mengalihkan pandangan, melihat rintikan hujan yang membasahi kaca bis. Matanya terlihat menerawang, seakan bertanya-tanya pada jalanan malam yang kami lewati. Menyaksikan ekspresinya yang seperti itu, entah mengapa hatiku merasa sakit. Padahal baru saja, aku merasakan jantungku berdebar-debar keras, meloncat kegirangan saat aku bisa duduk di sampingnya. Sekali lagi aku merutuki kebodohanku.
Selama bis ini menaikkan penumpang dari tiga halte, kami tidak berbicara. Eunji tetap menikmati kesedihannya dalam diam, seolah berusaha menyalahkanku, mengungkit sedikit masa lalunya. Ya, rasanya aku ingin menelan balik semua kalimat tentang Chanyeol yang aku ucapkan. Tapi nasi telah menjadi bubur. Menikmati keadaan adalah satu-satunya hal yang bisa aku lakukan.
“Hujannya deras.”
Ah.. akhirnya dia mengatakan sesuatu.
Aku melongok, mendekati jendela. Akibat gerakan spontanku, wajahku hampir bertabrakan dengan wajah Eunji yang hendak berbalik—menatapku. Tak heran jika aku bisa merasakan napasnya tercekat beberapa saat dan pipinya memerah. Matanya yang tercipta tanpa lipatan—membulat, membalas tatapanku. Ekspresinya tampak aneh namun terlihat berbeda bagiku. Aku menyukai Jung Eunji yang seperti ini, tanpa genangan air mata di matanya. Dengan wajah merona bukannya pucat.
Park Chanyeol itu.. sebenarnya apa yang sudah ia lakukan sampai membuat gadis ini menjadi berubah?
Mungkin aku harus menambahkan Park Chanyeol sebagai laki-laki tak bertanggung jawab di daftarku.
Alih-alih menjauh, aku semakin menghapus jarak di antara kami. Aku begitu menikmati pemandangan di depanku hingga aku lupa kalau kami tidak berada dalam suatu privasi. Masa bodohlah dengan transportasi umum ini. Aku tidak keberatan ada yang mengira kami sebagai pasangan kekasih yang sedang dimabuk cinta.
Memang itu yang aku inginkan.
“Sunb—“
“Eunji-si.” Aku berhasil memotong gerak bibirnya. Ia meneguk liurnya sejenak dan mengedipkan mata beberapa kali.
“Ne?”
Aku tersenyum sejenak. Ia menunggu kalimatku.
“Kau tahu tentang ucapan lama itu?”
“Ucapan lam—hem.” Eunji berdeham,terlihat gugup. Pupil matanya sedikit bergetar sehingga aku bertanya-tanya apakah aku terlalu mengintimidasinya. Mungkin awalanku tidak terlalu baik.
“Jika cahayamu—cahaya yang selalu mendampingimu redup atau hilang..” Aku memutus sejenak kalimatku dan membuat jarak di antara kami. Membiarkannya bernapas lebih lega. Namun ia masih terlihat gugup sehingga aku memperlama jeda kalimatku.
“Ya?”
“Apa yang harus kau lakukan?”
Eunji memiringkan kepalanya. Terlihat sedikit berpikir. Tanpa sadar, akupun memikirkan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Tiba-tiba ada perasaan kalut yang mendera. Rasa takut untuk mendengar jawabannya. Jelas sekali aku membuat perumpaan Chanyeol sebagai cahaya Eunji. Terdengar klise dan rancu. Aku harap Eunji benar-benar mengerti ucapanku barusan.
“Kau kehilangan cahayamu. Apa yang sebaiknya kau lakukan?” Aku mengulangi lagi pertanyaanku. Aku memikirkan segudang kemungkinan jawabannya. Dan kelihatannya Eunji adalah gadis yang cukup pengertian, karena ia menjawab begini:
“Menemukan cahaya baru, kurasa.”
Aku tersenyum sejenak lalu kembali mendekatinya. Kali ini lebih dekat hingga hidungku menyentuh ujung hidungnya. Bibir kami hampir bersentuhan jika saja aku memiringkan kepalaku, bukannya memilih menempelkan kedua ujung hidung kami. Kurasa aku cukup nekat, untuk seorang Suho. Kini aku menyadari betapa aku menyukai dan menginginkan gadis di hadapanku ini.
Jantungku berdetak begitu keras sehingga aku takut Eunji akan mendengarnya.
“Jawaban yang bagus.” Bisikku perlahan sambil mengamati gerak matanya yang gelisah. Ia terdiam dan berusaha menghindari kontak mata denganku.
Hanya ada satu hal yang kupikirkan dan kuharap itu bisa menjelaskan betapa aku menyukai gadis ini.
“Jung Eunji.” Panggilku lembut.
Kali ini aku memiringkan kepala dan mendekat. Mengecup bibirnya sekilas dan kembali menatap matanya yang kembali membulat. Aku siap jika ia menamparku setelah ini. Lebih baik daripada aku tidak pernah bisa menyatakan perasaanku padanya.
Eunji tersadar dan membalas tatapanku penuh dengan tanda tanya. Ekspresinya terlihat agak terluka dengan perlakuanku barusan hingga aku membalasnya dengan senyum pahit yang tidak kalah pedihnya.
“Sunbae—“ Balas Eunji pelan. “Mengapa?”
Aku menggenggam jemarinya—yang terasa dingin, lalu berkata dengan suara rendah, “Tidak bisakah aku menjadi cahaya barumu?”
Aku mengatakannya.
Akhirnya aku melontarkan kalimat itu. Walau tidak seindah yang kurencanakan sebelumnya. Setidaknya aku telah mengeluarkan sedikit beban dari dalam hatiku. Aku tidak mengharapkan Eunji untuk membalas. Sekedar untuk membuka mulutnya pun tidak. Aku merasa telah melakukan hal nekat yang paling mematikan seumur hidupku. Dan kurasa aku tidak boleh heran kalau setelah ini Eunji akan menjauhiku. Perlakuanku barusan—pernyataan cinta ini agak sedikit beresiko. Sangat jarang badanku bisa merasa panas dingin seperti ini.
Aku gugup setengah mati.
Tapi Eunji adalah gadis yang baik. Walau ia tahu gelagatku tidak ingin mendengarkannya lagi, ia memutuskan menjawab. Ia mengubah sinar matanya menjadi tenang. Ia balas menggenggam jemariku. Senyumnya tampak seperti bayi, terkesan murni. Mungkin agak berlebihan membandingkan gadis universitas dengan bayi, tapi—kesan itulah yang kudapat. Kemana semua kesedihan gadis ini lima menit yang lalu? Apa dia sedang mempermainkanku?
“Sunbae.”
Ah.. dia memanggilku.
Rasanya aku ingin cepat keluar dari dalam bis ini.
Seandainya bisa.
“Aku akan menjawabnya setelah turun dari bis.”
Oke. Dan itu mungkin tidak sampai sepuluh menit.Kelihatannya aku harus segera mempersiapkan hatiku dengan baik. Mungkin seharusnya aku menikmati saja jemari kami yang bertaut saat ini.
Tidak bisa.
Aku terus menghitung waktu dengan arlojiku, walaupun rasanya sangat mengerikan. Seperti jarum-jarum jam itu menancap di otakmu, sambil menggumamkan kalimat begini,
KITA HAMPIR SAMPAI!
Ck.. bahkan dalam keadaan seperti ini jarum jam dapat mengusik ketenanganku. Sebenarnya aku menjadi bertanya-tanya tentang pendapat orang lain tentang rasa percaya diriku yang terlihat tinggi. Yah.. dalam perkuliahan mungkin. Namun dalam kasus yang satu ini, aku merasa orang-orang itu perlu merubah pendapatnya tentang diriku.
Demi Tuhan.. tidak bisakah bis ini melaju lebih cepat?!
“Aku turun disini.” kata Eunji lirih sambil mengisyaratkanku untuk berdiri mengikutinya. Seperti dugaanku, tepat sepuluh menit. Perutku menjadi mual sejenak saat menuruni tangga-tangga bis dan menjejakkan kaki di halte. Aku bersikeras menunjukkan muka sok tenang di depannya. Sekarang perlahan ia mengendurkan tautan jemarinya.
“Rumahku di dekat sini.”
Eh?
“Kau mengajakku ke rumahmu?” tanyaku dengan nada rendah. Eunji balas menatapku lalu mengangguk. Ia berjalan di depanku, menyusuri pinggiran trotoar jalan dengan tenang. Seakan sedang mengejekku yang sedang gugup dengan jawabannya. Mungkin aku bisa menaikkan harapanku dengan ajakannya barusan.
Atau mungkin setelah ini aku akan bermabuk-mabukan karena ditolak?
“Rumahmu?” Tanyaku sambil menunjuk bangunan di hadapanku. “Toko lilin?” Eunji mengangguk mengiyakan.
“Heran?”
Aku menggeleng. “Tidak ada yang salah dengan toko lilin dan anak perempuannya yang cantik, kurasa.”
Lelucon gagal yang menyebalkan.
“Yang membuatmu gugup seperti ini?”
Wah!
Aku hanya tersenyum simpul. “Terlalu terlihat?”
“Tidak. Aku hanya memastikan kau benar-benar menyukaiku.”
“Apa aku terlihat meragukan?”
Eunji membuka pintu toko itu lalu mendorongnya. Ia mengucapkan salam ke beberapa pegawai yang sedang membersihkan toko untuk besok.
“Sunbae.. kau tahu? Kau mengajakku berkencan disaat aku patah hati.”
Aku tidak balas menatapnya. Pandanganku tertarik pada deretan lilin yang beronamental cukup rumit dilabeli harga mahal. Entah mengapa lilin lilin itu seakan memberiku petunjuk menyatakan cinta dengan cara lain. Walaupun agak kekanakan, kurasa aku menemukan sisi romantisnya. Karena rencana mendadak itu, aku mengambil sebuah lilin kecil di etalase kaca tepat di hadapanku. Kemudian menemukan korek api dekat meja kasir. Aku melihat Eunji sedang membuka buku besar yang sepertinya buku keuangan tokonya. Diam-diam aku mendekati tombol lampu di belakangku. Kemudian mematikannya.
Dan terjadilah toko lilin yang gelap.
Aku mendekati Eunji yang kedengarannya bingung dengan kelakuanku. Kemudian aku menyulut sebatang korek api dan menyalakan lilin itu. Tepat di hadapannya.
“Apa yang kau lakukan?” Bisiknya lirih sambil memandang lilin dan wajahku bergantian.
“Aku hanya ingin menyatakan cintaku dengan cara lain—kau tahu..”
“Dengan white light?” potong Eunji melirik merek lilin yang kubawa.
Aku berdeham dan menampilkan senyum tenangku. Kemudian aku berusaha menata tata bicara dan besar suaraku. Tapi kalimat yang berhasil keluar seperti ini:
“Karena cahayamu yang lama telah redup, ijinkan aku mendampingimu dengan cahayaku.”
Terlalu to the point?
“Aku—“
“Aku mencintaimu.” potongku kali ini. “Mungkin aku tidak akan menjadi sekonyol Chanyeol padamu. Atau suatu saat nanti mungkin kau akan bosan dengan sikap sok serius ku. Aku tidak terlalu tinggi sehingga mungkin kau tidak akan pernah memakai hak tinggi di hadapanku. Suatu hari pun aku bisa saja melukaimu tanpa sengaja. Cahaya ku pun mungkin akan terlihat berbeda di matamu—aku—“
Aku mengatakan semua kemungkinan terburuk?!
Aku mengambil jeda sejenak dan melihat Eunji menyunggingkan senyum yang saat itu membuatku bersumpah betapa cantiknya dia di tengah temaram cahaya lilin. Sejenak, aku kehilangan semua kata-kata sehingga aku terdiam lebih lama dari rencanaku.
“Jadi.. kau mengijinkanku?” Suaraku agak tercekat.
Hening sejenak kemudian Eunji membuka mulutnya,
“Yah—“ Eunji mengendikkan kedua bahunya. “Tidak ada yang salah dengan berbeda, kurasa.” Eunji mengambil lilin dari tanganku. “Dan tidak ada salahnya aku mencoba.”
“Ne?”
Eunji kembali tersenyum. “Aku akan mengijinkannya. Aku menemukan cahaya baruku.”
Aku tersenyum kaku saking gembiranya. Dan aku berusaha keras menutupinya. Aku tidak ingin kelihatan konyol di saat pengakuan yang sudah kubuat mati-matian.
“Terima kasih.” Ucapku lirih.
“Untuk?”
“Mengijinkanku untuk jadi cahayamu.”
Eunji tertawa kecil lalu menggoyangkan pelan lilin di tangannya.
“Kau tahu, sunbae?”
“Ya?”
“Kau harus membayar lilin yang kau pakai ini.”
Kali ini aku tertawa lepas dan mengambil kembali lilin itu. Lilin kecil itu telah membantu aku menyatakan semua perasaanku pada gadis yang aku sukai malam ini. Lilin itu juga menyadarkanku, betapa berbedanya cahayaku dan cahaya dari mantan kekasihnya. Tapi kurasa itu bukan masalah. Karena aku tahu aku akan berusaha keras untuk gadis ini. Seperti berusaha untuk terus menyelaraskan cahayaku dengannya.
Dan, berusaha untuk menjaga agar cahayaku bisa terus berdampingan dengan cahayanya.
“Aku mencintaimu, Jung Eunji.”

-Kim Jun Myeon-

The End.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s