[KCF’S Fanfiction Writing Competition] White Lies

FIX3

Genre : Romance

Cast :

*Park Jiyeon (T-ARA)

*Kim Myungsoo (INFINITE)

* Krystal as Jung Sojung or Kim Sojung(F(X))

 

As much as the sun that rises above you, I’ll keep you

 

Bagaikan langit malam yang gelap tanpa ada bulan, bintang dan cahaya lampu. Itulah yang diderita Jiyeon saat ini. Kecelakaan mobil yang dialaminya merubah seluruh dunianya. Yeoja itu seperti kupu-kupu yang kehilangan sayapnya itulah yang Jiyeon rasakan saat mengetahui dirinya tak akan bisa melihat lagi.

Jiyeon begitu terpuruk dan tak bisa menerima keadaannya. Namun seseorang hadir dalam kehidupan Jiyeon mengembalikan semangat gadis itu. Seorang namja yang mengatakan akan menjadi cahaya yang menerangi Jiyeon dari kegelapan. Namja yang saat ini duduk di samping Jiyeon.

“Soal terakhir. Clue pertama, Benda ini kecil.” Namja bernama Myungsoo memberikan clue untuk Jiyeon.

“Semut.”

TTUUKK…

Jiyeon meringis saat Myungsoo memberikan hadiah jitakan untuk jawabannnya yang salah.

“Aku bilang benda bukan hewan.”

“Aish… Banyak sekali benda yang berukuran kecil Oppa. Bagaimana dengan clue kedua?”

“Benda ini tidak bergerak.”

“Kau curang Oppa. Kau memberikan clue yang sulit.” Kesal Jiyeon tak bisa menebaknya.

“Kau ingin clue terakhir tidak?”

“Tentu saja.”

“Baiklah. Clue terakhir benda ini sangat keras.”

Yeoja itu tengah berpikir jawaban apa yang tepat dengan mengaitkan ketiga clue yang disebutkan Myungsoo.

“Oppa curang clue-clue yang kau berikan benar-benar sulit.”

“Bukan aku yang curang tapi kau yang tidak pintar menjawabnya.”

Tawa Myungsoo pecah melihat yeoja itu memanyunkan bibirnya.

“Kau bisa menjawabnya tidak?” Tanya Myungsoo.

“Baiklah aku akan menjawabnya. Jawabannya adalah batu.”

“Akhirnya kau menjawabnya dengan benar.”

“Benarkah? YYEE…. Aku bisa menjawabnya.”

“Jangan senang dulu. Kau hanya bisa menjawab 2 dari 10 soal yang kuberikan.”

“Aku ingin kita mulai lagi Oppa.”

“Sayangnya waktu habis nona Park. Bukankah kau harus kembali ke kamarmu.”

“Tapi Oppa…”

“Tidak ada tapi-tapian Jiyeon-ah. Kau harus beristirahat. Lagipula aku harus segera pergi.”

“Kemana?”

“Rahasia.”

Hanya jawaban itulah yang di dengar Jiyeon jika yeoja itu menanyakan semua hal yang berhubungan dengan namja berambut hitam itu. Meskipun penasaran tapi Jiyeon berusaha untuk tidak memaksa Myungsoo karena bagaimanapun namja itu sudah berbaik hati menemaninya setiap hari di taman rumah sakit.

 

Since the rain is falling, I think I might fall as well

 

Langit yang mendung meneteskan titik-titik hujan  membasahi kota Seoul. Sama kelamnya dengan langit itu, Jiyeon menjadi tidak bersemangat karena tak bisa bertemu dengan namja pujaannya.

“Sepertinya anda sedang tidak bersemangat nona Park.” Tanya suster Yoona  yang mengantarkan obat untuk yeoja itu.

“Aku sedang kesal suster Im. Hujan diluar membuatku tak bisa bertemu dengan orang yang aku tunggu-tunggu.”

“Apakah orang itu sangat spesial untukmu nona?”

“Ne. Sangat spesial.” Semangat Jiyeon.

“Jadi dia adalah kekasihmu nona?”

Yeoja itu menggeleng.

“Tidak suster Im. Kami masih belum memasuki jenjang itu.”

“Pasti anda sangat menyukainya. Siapa namja itu nona? Mungkin aku bisa membantumu.”

“Aku tidak terlalu mengenalnya karena dia selalu tertutup jika menyangkut kehidupannya. Aku hanya tahu namanya Kim Myungsoo.”

Seperti musik yang terhenti tiba-tiba, suasana pun menjadi hening. Jiyeon tampak bingung dan berpikir jika Yoona meninggalkannya.

“Suster Im. Kau masih di sini?” Tanya Jiyeon meraba mencari keberadaan Yoona.

Yoonapun meraih tangan yeoja itu. Wajah Yoona tampak sedih namun Jiyeon tak bisa melihatnya.

“Nona Park. Aku ingin memberitahu sesuatu padamu.”

“Sesuatu apa suster Im?”

“Maafkan aku. Tapi aku harus memberitahumu yang sebenarnya.”

Jiyeon merasakan hal yang tidak enak. Yeoja itu merasa apa yang akan diungkapkan Yoona akan merubah segalanya, termasuk hatinya.

 

But that musical box containing the past isstill turning,

so how do I stop that?

 

Angin berhembus menerbangkan daun-daun kering yang berguguran. Seakan tidak memperdulikan angin yang berubah dingin menerpanya, Jiyeon tidak bergerak sedikitpun dari kursinya. Tetesan air mata yang jatuh mengering diterpa angin. Sebuah tangan menepuk bahu yeoja itu. Meskipun tak bisa melihat tapi Jiyeon tahu itu adalah namja yang ditunggunya. Yeoja itu hafal bagaimana hangatnya tangan Myungsoo menyentuh kulitnya.

“Apa kau menunungguku lama?” Tanya Myungsoo.

Jiyeon hanya memberikan gelengan kepala tanpa bersuara. Myungsoo duduk di samping dan menatap yeoja itu. Senyuman dibibir namja itu seketika lenyap saat menyadari wajah Jiyeon yang tampak sedih.

“Ada apa Jiyeon-ah? Kau tampak sedih?”

“Apa aku seperti orang bodoh di hadapanmu Oppa?”

Myungsoo tampak bibgung mendengar pertanyaan Jiyeon.

“Tentu saja tidak.”

“Sudah cukup kau membohongiku Oppa. Selama ini kau berhasil memberikan cahaya-cahaya indah dalam hidupku yang gelap. Namun setelah aku melambung tinggi diudara kau bisa menghempaskanku kapan saja kau mau. Mengapa kau melakukannya Oppa?”

“Aku tidak mengerti ucapanmu Jiyeon-ah. Apa maksudmu?”

“Kim Sojung. Tentu saja kau mengenal nama itu bukan?”

Tubuh Myungsoo mematung mendengar ucapan Jiyeon. Namja itu tak lagi bisa menyembunyikan kehidupannya dari yeoja di hadapannya.

“Mengapa kau diam saja Oppa. Apa kau tidak mengenali nama istrimu sendiri?”

Hati yeoja itu begitu hancur saat mengetahui namja yang disukainya ternyata menyimpan sebuah rahasia besar yang sangat menyakitkan untuknya.

“Jiyeon-ah, aku memiliki alasan untuk tidak mengatakannya padamu. Aku…”

“Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun darimu Oppa. Pergilah Oppa tempatmu bukan di sini.”

“Bagimana jika aku tidak mau meninggalkanmu?”

“Kalau begitu aku yang akan pergi Oppa. Selamat tinggal.”

Myungsoo meraih tangan Jiyeon yang hendak berjalan pergi.

“Jiyeon-ah.” Suara Myungsoo terdengar putus asa.

Itu membuat hati Jiyeon sangat gundah. Namun yeoja itu perlahan melepaskan tangan Myungsoo.

“Aku…. Aku tidak membutuhkan cahaya ini lagi.”

Jiyeon menggunakan tongkatnya dan segera pergi meninggalkan Myungsoo. Yeoja itu menggigit bibir bawahnya menahan kesedihannya. Ucapan perpisahan yang sulit diucapkan akhirnya bisa juga dilontarkannya. Meskipun aliran kenangan yang memenuhi pikirannya terus saja mengalun namun Jiyeon ingin menghentikannya. Sayangnya kenangan itu begitu terpatri dalam dirinya, yeoja itu  tidak bisa dengan mudah menghapusnya. Yeoja itu hanya bisa membiarkan kenangan-kenangan itu berhenti di sana.

 

I was heart broken that you endured so much,

I’m not worthy of your beauty

 

Perpisahan yang begitu menyakitkan juga di rasakan Myungsoo. Jam yang tak mampu berdetak mampu menggambarkan bagaimana namja itu sekarang. Detikan jarum jam patah seiring kepergian Jiyeon membuat Myungsoo tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menggerakkannya.

“Kau memikirkan apa Oppa?”

Suara yeoja cantik yang sudah lama tak didengar Myungsoo pun saat ini memenuhi ruangan itu. Namja itu menoleh dan tersenyum tipis pada istrinya. Begitu ajaib, sehari setelah Jiyeon meninggalkannya, Sojung akhirnya bangun dari komanya selama satu tahun yang lalu.

“Aku tidak memikirkan apapun.”

“Kau masih saja tidak pandai berbohong Oppa.”

Myungsoo kembali menyunggingkan senyumannya.

“Sudah kubilang aku tidak memikirkan apapun. Aku akan mengambilkan apel untukmu.”

Sojung menahan tangan Myungsoo yang hendak berdiri. Namja itu kembali duduk dan menatap wajah Sojung yang berubah serius.

“Oppa…. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu sebelum waktuku tiba.”

“Kau bicara apa Sojung-ah? Kau sudah sadar dari koma. Jadi kau akan sembuh.”

Sojung menggeleng lemah.

“Tidak Oppa. Justru waktuku akan tiba sebentar lagi.”

Sojung mengulurkan tangan menyentuh pipi Myungsoo.

“Gomawo Oppa, selama ini kau sudah menjagaku dengan baik. Meskipun kita tidak saling mencintai, tapi kau sudah menjadi suami yang baik untukku. Aku bahkan selalu berpikir apakah kau malaikat?”

“Malaikat? Tapi aku tetap manusia Sojung-ah yang masih memiliki kekurangan.”

“Aku tahu Oppa. Maukah kau berjanji padaku Oppa?”

“Berjanji apa?”

“Berjanjilah kau akan menikah dengan yeoja  yang kau cintai Oppa. Jangan mengulangi hal yang sama seperti denganku. Oppa berhak merasa bahagia. Mianhae aku sudah menghambat kebahagiaanmu.”

Myungsoo meraih tangan Sojung di pipinya lalu menggenggamnya erat.

“Aku berjanji padamu Sojung-ah.”

“Kalau begitu aku bisa pergi dengan tenang.”

Sojung menyunggingkan sebuah senyuman yang begitu manis yang pernah Myungsoo lihat. Namja itu tidak menyangka jika  itu adalah senyuman terakhir Sojung yang dilihatnya.

 

You remain deeper than a scar in my heart so I can’t erase you

 

Deburan ombak terdengar seperti alunan musik di telinga Jiyeon. Canda tawa dari beberapa orang yang bermain dipantaipun juga bisa yeoja itu dengar. Angin laut berhembus menerbangkan rambut panjangnya yang tergerai. Musim semi dua bulan lalu yang dia lalui bersama Myungsoo terasa begitu manis. Namun saat ini hanya kepahitan yang Jiyeon rasakan karena tak lagi bersama namja yang di sukainya.

Suasana berubah semakin hening namun Jiyeon tak memperdulikannya. Yeoja itu tetap bertahan di pinggir pantai menikmati suasana pantai meskipun udara semakin dingin membuat tubuhnya sedikit menggigil karena pakaian tipis yang dikenakannya. Sebuah jaket menyelimuti kedua bahu yeoja itu membuat tubuhnya menegak.

“Siapa kau?”

“Ini aku.”

Suara lembut itu mampu menyalakan kembang api dalam hati Jiyeon. Suara itu masih sama seperti yang Jiyeon ingat.

“Myungsoo Oppa?”

“Ne. Apa kabar Jiyeon-ah?”

“Seperti yang kau lihat Oppa aku baik-baik saja.”

Tapi aku sangat merindukanmu Oppa. Tambah Jiyeon dalam hati.

Jiyeon merasakan tangan Myungsoo menggenggam  tangannya memberikan kehangatan ditangannya yang dingin.

“Aku tahu kau tidak ingin mendengarkan penjelasanku. Tapi aku ingin kau mengetahuinya Jiyeon-ah.”

Mengingat betapa Myungsoo begitu kejam membohonginya, Jiyeonpun tidak ingin mendengar penjelasan apapun karena yeoja itu takut mengetahui kebenaran yang akan menyakiti hatinya. Namun nalurinya menolak hatinya itu. Sangatlah egois jika yeoja itu tak mendengarkan penjelasan Myungsoo.

“Baiklah. Aku akan mendengarnya.”

Terdengar helaan nafas Myungsoo sebelum akhirnya bercerita.

“Sepertinya yang kau ketahui istriku Sojung memang mengalami koma  setelah mengalami kecelakaan satu tahun yang lalu. Sebelum kecelakaan itu terjadi hubungan kami tidak seperti layaknya suami istri pada  umumnya. Kami tidak pernah saling mencintai. Pernikahan kami hanya di didasari bisnis semata.”

Jiyeon masih terdiam mendengar cerita Myungsoo.

“Tapi saat bertemu denganmu, aku tidak pernah sedikitpun ingin berniat mempermainkan perasaanmu Jiyeon-ah. Aku benar-benar tulus saat mengatakan ingin menjadi cahaya dalam kehidupanmu. Karena kau yeoja satu-satunya yang bisa membuatku berdebar-debar, hanya  kau yang bisa membuatku merasakan betapa manisnya bersama dengan orang yang aku sukai.”

Meskipun Jiyeon tak bisa melihat tapi yeoja itu bisa merasakan Myungsoo tengah menatapnya saat ini.

“Aku tak pernah bisa melupakan bibirmu yang cemberut saat tak bisa menjawab tebakanku. Aku tak pernah bisa melupakan mata indahmu. Aku tak akan pernah bisa melupakan segalanya tentangmu Park Jiyeon.”

Jiyeon perlahan menarik tangannya dari Myungsoo.

“Meskipun kau tidak mencintai istrimu tapi kau harus tetap bersamanya Oppa. Kau harus berusaha melupakan aku.”

“Tapi tugasku sebagai seorang suami sudah selesai Jiyeon-ah.”

“Apa maksudmu Oppa?”

“Sojung meninggal setelah dia sadar selama dua hari.”

“Mi-mianhae Oppa.”

“Gwaenchana. Sojung sudah tahu dia tidak bisa bertahan lama. Karena itu dia ingin aku berjanji sesuatu padanya.”

“Berjanji apa?”

“Dia ingin aku berjanji jika aku akan menikah, aku harus menikah dengan yeoja  yang aku cintai karena aku berhak mendapatkan kebahagiaan.”

Myungsoo kembali meraih tangan Jiyeon dan menggenggamnya erat.

“Aku dengan senang hati ingin menepati janji itu Jiyeon-ah. Tapi bagaimana dengan yeoja dihadapanku yang akan memberikanku kebahagiaan? Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya Jiyeon-ah. Aku rela menukarkan apapun hanya  untuk bersamamu. Menjadi cahaya yang memberikan warna dalam hidup kita. Maukah kau kembali padaku?”

“Selama ini aku berpura baik-baik saja, namun dalam hatiku tidak baik-baik Oppa. Suara tawamu, lembutnya  tangan Oppa, aku selalu merindukan semua  yang ada dalam dirimu Oppa.  Aku tidak pernah membayangkan hari ini kau akan datang kembali Oppa. Dan aku tidak ingin kita berpisah lagi dengan cahayaku.”

Myungsoo menyunggingkan senyuman senang. Diapun merengkuh Jiyeon ke dalam pelukannya.

“Kita tidak akan berpisah lagi Jiyeon-ah. Aku berjanji itu. Aku sangat menyayangimu Jiyeon-ah.” Ucap Myungsoo.

Tetesan air mata menunjukkan betapa bahagianya Jiyeon saat ini.

“Aku juga sangat menyayangimu Oppa, cahayaku.”

Keduanya tersenyum bahagia karena tidak ada lagi yang akan memisahkan sepasang kekasih itu.

 

you’re more beautiful than the stars above in the night sky

the shining thing deep inside my heart

my own love light

give me light next to me whenever

~~~END~~~

9 responses to “[KCF’S Fanfiction Writing Competition] White Lies

  1. White Lies. Sebuah kebohongan utk sebuah kebaikan. Apapun itu jika kebohongan itu terbongkar pd akhirnya akan menyakiti pihak lain. Tp untung aja happy ending. Suka sama bahasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s