[One Shot] Christmas Eve

received_m_mid_1416936840637_8638ebf33e97077359_0

Christmas Eve | wineonuna

AU, Hurt, Sad, Romance | One shot | Poster by. Indri Art

Bobby ‘Ikon’  – Kim Jisoo ‘Ygtrainee’

Desclaimer: This is just fanfiction. The line story are mine.

note: Chaerin Jingyo itu author’s name-ku dulu🙂

Enjoy the story ^^ plagiator is not allowed!

……………………………………

“Maaf…”

Seorang gadis muda menunduk dan pergi dengan terburu-buru setelah bertabrakan dengan pria yang tengah membetulkan tasnya yang terjatuh akibat tabrakan tadi. Berbalik sesaat dan menatap kerumunan yang ada di belakangnya, mencoba mencari sosok gadis itu namun sudah tidak terlihat.

“Apa dia tadi menangis..?”

 

 

 

..CHRISTMAS EVE..

“Makan yang banyak Bobby Kim, kau harus selalu memiliki tenaga untuk bisa membantuku di kedai.”

Wanita bersuara parau itu menyumpitkan makanan dan menaruhnya di atas tumpukan nasi anak muda yang bernama Bobby lalu menyumpitkan nasi dari mangkuknya masuk ke dalam mulutnya, bobby membalas dengan ucapan terima kasih yang terdengar kecil.

Bobby menghela nafasnya dengan kasar, perutnya dipenuhi makanan padahal ini hanya sarapan. Ia berjalan sungkan menuju sekolah yang tidak terlalu jauh dari rumahnya atau mungkin lebih tepatnya kedai ahjumma yang tadi.

Duduk di kelas menatap kosong ke langit dari dalam kelasnya yang berada di lantai tiga, seolah langit akan jatuh jika ia berhenti menatapnya. Ketika ia mulai bosan menatap langit, meja di depannya siap menerima jatuhan kepalanya yang ringan menyentuh kulit meja. Bobby tak pernah peduli dengan apa yang terjadi di dalam kelas, tidak terus-terusan berada di kedai ahjumma saja sudah sangat baik baginya. ia tak ingin memperburuk dengan berusaha mengikuti pelajaran.

“Kelas kalian akan kedatangan murid baru. Pindahan dari sekolah Seungri. Murid baru, masuklah.”

Bobby tidak berminat mendengar pengumuman wali kelas tadi, ia sudah mulai memejamkan matanya mencoba terlelap dengan harapan ketika ia bangun pelajaran sudah usai bahkan jam sekolah juga usai.

“Namaku Kim Jisoo. Semoga kita bisa berteman.”

Murid baru yang bernama Jisoo itu membungkuk kecil setelah memperkenalkan diri. tidak ada wajah ceria yang terlihat darinya, hanya tatapan dingin yang menghiasi sudut mata yang bulat. Wali kelas Lee menyuruhnya duduk di sudut belakang, tidak di belakang sekali karena Bobby sudah menempatinya, ia duduk persis di depan Bobby.

Jam sekolah selesai seperti biasa, Bobby menarik tasnya dengan setengah hati. Ia masih berharap sekolah memiliki waktu pelajaran 24 jam agar ia tak perlu pulang ke kedai ahjumma dan membantunya memukuli paman-paman miskin yang tidak mampu membayar alkohol yang diminumnya. Ia sangat lelah, bahkan nyeri-nyeri di pergelangan tangannya tiga hari lalu masih ia rasakan.

Langkahnya terseok jika mengingat ia baru bisa tidur jam tiga pagi lalu harus bangun lagi jam setengah tujuh dan pergi sekolah lima belas menit sebelum bel masuk. Sekolah mulai sepi ketika ia melihat beberapa siswi sekolah mengelilingi seorang siswi yang terlihat menyedihkan. Bobby tidak menghentikan langkahnya, ia tidak peduli dengan apa yang terjadi di sana meskipun sayup terdengar suara sombong dari beberapa siswi di sana.

“Kau pindah sekolah tanpa memberitahu kami, chingu. Apa kau menghindari kami? Kita bahkan belum mengucapkan perpisahan.”

Gadis itu terlihat ketakutan, bibirnya tak mengucap kata apapun. ia menatap penuh harap pada Bobby yang lewat dan hanya melihatnya sekilas namun kemudian menghilang diantara kegelapan. Seseorang mendorong bahu kanannya hingga tubuhnya sedikit terdorong ke belakang.

“Jisoo-ya… Mau kau pindah sekolah pun, kejahatanmu tidak akan hilang. Sebentar lagi teman-teman barumu juga akan tahu kalau kau hampir membunuh Yuri.”

“Aku tidak mendorong Yuri. Aku sudah mengatakannya berkali-kali.”

“Semua orang melihat kau mendorongnya dari tangga. Kau sangat iri dengan Yuri, apa mendapatkan Myungsoo tidak cukup bagimu, huh? Ah… aku lupa, bahkan Myungsoo sekarang tak membelamu.”

“Kau harusnya bersyukur, Yuri tidak melaporkanmu ke polisi. Bukannya berterima kasih, kau malah pindah sekolah. Ck ck ck.”

“Kau tidak bisa hidup tenang sebelum kau benar-benar minta maaf pada Yuri…”

“… Ayo kita pergi.”

.

–Christmas Eve–

.

Bagi Bobby harinya akan selalu sama seperti sebelumnya, ia akan sarapan lalu ke sekolah dan tidur di kelas, istirahat akan tetap tidur, belajar juga tidur, lalu pulang sekolah, memukuli ahjushi yang tidak membayar lalu tidur lalu bangun lagi. Ia sudah menjalani keadaan ini selama tiga tahun terakhir, dan hutangnya kepada ahjumma itu baru akan selesai ketika ia lulus sekolah nanti artinya ia masih harus menjalani ini setahun lagi.

Kadang ia tak selalu berhasil lolos dari pukulan ahjushi, seperti hari ini. kulit di dekat tulang pipinya robek, begitu juga bibirnya tapi ia tetap berjalan menuju sekolah. Ia lebih memilih tetap bersekolah daripada harus berada dalam satu atap dengan ahjumma pemilik kedai.

Tepat di belakang Bobby, Jisoo berjalan dengan menenggelamkan kepalanya di antara rambut cokelat yang tergerai indah. Ia tak pernah banyak bicara sejak kejadian itu, kejadian yang membuatnya terpaksa pindah sekolah. Dan saat ini, ia sedang merasa takut jika ancaman teman-teman di sekolah sebelumnya benar-benar terjadi.

 

 

 

“Jisoo-ssi.. Kenapa kau pindah ke sini? Bukankah sekolah Seungri lebih bagus?”

“Itu… ng… Sekolah yang lama terlalu jauh dari rumahku.”

“Hmm.. Begitu.. Rambutmu bagus, kau sering perawatan ya?”

Bobby yang duduk di belakang Jisoo menatap sebentar orang-orang yang mengelilingi anak baru itu lalu merebahkan kepalanya di atas meja, memejamkan matanya dan melayangkan angannya memasuki alam tidur dan suara-suara di sekitarnya perlahan mengecil lalu menghilang seiring dengan lelapnya Bobby tidur.

Jisoo tersenyum meskipun ia terpaksa karena merasa tak enak dengan teman-teman barunya yang berusaha bersikap ramah namun tak lama kemudian, ia menegang. Tubuhnya membeku, telinganya berdenging panjang dan matanya membulat mendengar apa yang salah satu dari mereka ucapkan kecil kepada Jisoo.

“Bagaimana kabar Kang Yuri? Apa kau sudah minta maaf padanya sebelum pindah ke sini?”

Senyum sinis bermunculan dari bibir mereka, tatapan bersahabat dari siswa-siswa perempuan itu menjadi tatapan dingin dan penuh intimidasi. Nafas Jisoo tercekat, ia tak bisa bernafas dengan normal. Dadanya sangat sesak dan dikelilingi oleh mereka membuat asupan oksigen Jisoo berkurang. Segera Jisoo berdiri dan menerobos lalu berlari menuju kamar kecil. Ia mengunci pintu dan menghela nafas dengan panjang, derai liquid beningnya tak tertahan lagi. bagaimana bisa murid Seungri school benar-benar melakukan itu padanya.

“Apakah kau yang mendorong Yuri, Kim Jisoo?”

“Bukan.. Bukan aku.. Ia terjatuh sendiri, itu hanya kebetulan aku berada di belakangnya.”

“Tapi teman-temanmu melihat kau mendorongnya.”

“Aku tidak mendorongnya.. Kau melihatnya juga kan Myungsoo oppa?”

Jisoo menatap penuh harap dengan matanya yang sudah basah ke siswa laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya, ia yang dipanggil Jisoo sebagai Myungsoo oppa terlihat ragu untuk menjawab. Ia melihatnya atau tidak kejadian itu, Yuri jatuh dari tangga entah karena Jisoo yang mendorongnya atau ia yang melakukannya sendiri. tapi semua yang ada di sana terlihat begitu yakin jika Jisoo adalah orang yang dengan sengaja mendorong Yuri hingga tulang bahunya retak dan luka lainnya.

“Ya, aku melihat kejadian itu, tapi aku tidak yakin Jisoo yang mendorongnya atau Yuri melakukannya sendiri.”

“Kau yakin, Myungsoo-ssi?”

“Ya! Lee Myungsoo, kau kan melihatnya Jisoo berdiri di belakang Yuri saat Yuri terjatuh.”

Myungsoo diam dan mengalihkan matanya yang tak lagi menatap gadis yang memandangnya penuh harap. Jisoo terpukul melihat Myungsoo tak membantunya, semua orang menuduh bahwa dirinyalah yang mendorong Yuri. Guru Shin menyuruh murid lain keluar dan hanya menyisakan Jisoo di dalam ruangan itu bersama dirinya, ia masih saja mendesak Jisoo untuk mengakui perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukan Jisoo. Bahkan, guru Shin sudah mulai memberikan pilihan kepada Jisoo untuk pindah sekolah.

Air matanya semakin mengalir deras mendengar kata ‘pindah’. Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang membuatnya harus pindah sekolah namun ia diperlakukan seperti seorang anak nakal yang membuat ulah tak termaafkan di sini.

Bukan kali ini saja ia diperlakukan tidak adil, hidupnya sudah tidak adil sejak ia masih di sekolah dasar. Ia dijauhi teman sekelasnya karena kepintarannya yang sempurna dan tidak ada cacatnya, ia menjadi bulan-bulanan sekolah karena terpilih menjadi murid teladan di sekolahnya. Namun tidak sekalipun guru membela dan mempercayai cerita bahwa ia dibully.

Di tingkat menengah tahun tiga ia bersekolah, beberapa teman yang pernah satu sekolah dengannya kembali membentuk koloni untuk membully dirinya. kali ini karena ia tumbuh menjadi gadis yang manis hingga beberapa anak laki-laki di sekolahnya mengejar dirinya. ia dituduh melakukan operasi pada mata dan pipinya.

Beberapa kali Jisoo mencoba untuk menenggak obat penenang namun pada akhirnya ia tidak mati dan justru dirawat di rumah sakit, tidak ada satupun teman yang menjenguknya hingga saat ia kembali ke sekolah dirinya kembali dituduh melakukan operasi.

“AAAKKKKK”

Jisoo berteriak kencang, menengadah memandang langit dengan mata yang sudah sembab. Jam pelajaran masih berlangsung dan dirinya memilih tidak kembali ke kelas. nafasnya terengah, isak tangisnya masih tersisa.

“Kau ini berisik sekali!”

Jisoo terkejut, ia segera membalikkan tubuhnya dan menemukan seorang siswa laki-laki yang sedang duduk memandangnya. Matanya menyipit namun Jisoo masih bisa menemukan tatapannya yang kesal dari balik kelopak mata laki-laki itu.

.

–Christmas Eve–

.

“Jangan turun tangga bila ada Jisoo daripada dia nanti mendorong kalian seperti dia mendorong temannya dulu di sekolah Seungri.”

“Iya benar, apalagi kepada murid cantik.. Hey Park Hyeri, kau harus hati-hati dengan anak ini!”

Jisoo terus melewati mereka yang berbicara tentangnya, ia terus mengucapkan dalam hati ‘aku pernah melewatinya lalu kenapa aku sekarang tak bisa melewatinya lagi?’ ia percepat langkahnya untuk sampai di kelas dan duduk di kursinya. Dadanya masih sesak dan nafasnya masih tersengal kecil karena menahan gejolak dalam hatinya.

“Kau habis dikejar pembunuh?”

Jisoo tidak peduli dengan suara yang berasal dari belakang, ia hanya ingin sendiri saat ini. sebuah botol kecil sudah ada di tangannya. Dengan tangan yang bergetar ia keluarkan sebuah botol minum, perlahan ia memutar penutup botol dan menuangkannya isinya ke telapak tangannya.

Tidak ada yang peduli dengan apa yang Jisoo lakukan kecuali satu orang. Belum sempat butir pil itu masuk ke dalam mulut Jisoo, tangannya sudah ditepis menjauh dari mulutnya. Jisoo terkejut begitu juga siswa-siswa yang berada di kelas. semua mata menatap mereka.

“Kau sudah gila, huh? Ikut aku!!!”

Tangan itu menggenggam pergelangan tangan Jisoo sangat erat hingga beberapa kali Jisoo meringis karena menahan sakit. Langkahnya masih belum berhenti, orang yang menarik Jisoo membawanya keluar sekolah bahkan menjauhi sekolah. Genggamannya mulai longgar ketika mereka sudah tiba di sebuah tanah kosong.

“Kenapa? Kenapa kau melakukannya, huh? Harusnya kau biarkan saja aku menenggak obat itu!”

Bentakan. Benar, Jisoo sedang membentak siswa laki-laki yang menggagalkan usahanya untuk mengakhiri hidup yang sudah tidak ingin dijalaninya. Seolah Tuhan sengaja menciptakannya untuk dibully orang lain.

“Aku lelah……….”

Jisoo berbalik dan berjalan menjauhi siswa laki-laki yang hanya diam memandang kepergiannya. Ia hanya terus melangkahkan kakinya tanpa tahu tujuannya. Jisoo menyeka air matanya saat ia telah duduk di sebuah halte bis, memandang kosong ke jalanan. Pikirannya mulai melayang di benaknya.

“Kau bisa bicara padaku jika kau mau..”

Jisoo mengalihkan pandangannya, betapa terkejut siswa laki-laki yang daritadi mengikutinya melihat wajah Jisoo terlihat memiliki bekal yang sangat berat jauh lebih berat dari hidupnya. Tanpa berusaha mengendalikannya, tangan kanannya perlahan menepuk punggung Jisoo untuk membuatnya tenang.

Dengan mata yang basah dan wajah yang lusuh, Jisoo menatap kembali siswa pria yang duduk di sampingnya. Siswa pria itu memberikan sebuah senyuman untuk Jisoo, senyuman yang mampu mengurangi beban di dalam hati gadis itu.

“Terimakasih…”

“Bobby… Kim Bobby.”

 

 

 

 

“Pagi…”

“Ee? Kenapa tidak masuk?”

“Menunggumu… Ayo!”

Jisoo tersenyum kecil melihat yang Bobby lakukan untuknya, begitu juga Bobby. Entah sejak kapan laki-laki muda itu tak lagi hanya memikirkan dirinya. sekalipun saat pelajaran di mulai, ia akan kembali tidur tapi di waktu luang matanya selalu terjaga untuk memperhatikan semua teman sekelasnya  yang mungkin akan menyakiti Jisoo lagi.

Setelah dari cafetaria, Jisoo kembali ke kelas dengan sebungkus roti dan dua botol jus. Ia berencana akan memberika roti dan jus itu kepada Bobby sebagai ucapan terimakasih telah menemaninya beberapa hari yang lalu. simpul senyum menghiasi wajah gadis manis itu.

“Jisoo-ya… Kau buru-buru?”

-DEG-

Tubuh Jisoo menegang, matanya membulat mendengar suara yang menyapanya itu. ia mengenal suara itu. ia mendengar langkah kaki dari pemilik suara itu mendekat dan sesaat kemudian ia bisa melihat jelas siapa orang yang menyapanya ini. Nafas Jisoo tercekat, deburan jantungnya terdengar berantakan.

Orenmaniya… Chingu.”

“Kang Yu…Ri?”

“Benar… Aku dengar kau bersekolah di sini, jadi aku sengaja datang ke sekolah ini dan sengaja menunggumu untuk melihat kebenaran itu.”

“Ba..Bagaimana lukamu?”

“Sudah mendingan, setidaknya aku mendapatkan Myungsoo karena luka ini…”

Tatapan sinis dari Yuri sangat menghujam bagi Jisoo terlebih ia baru mengetahui kenyataan bahwa Yuri melakukan semua itu hanya untuk mendapatkan Myungso. Benar, ia sengaja menjatuhkan dirinya di tangga dan membuat semua seolah kesalahan Jisoo hanya karena ia ingin mendapatkan Lee Myungso, kekasih Kim Jisoo.

“K..Kau gila, Yuri.”

“Kau yang gila! Kau punya wajah yang cantik, kau juga pintar. Sekalipun kau menolak ratusan pria di sekolah tapi kau tak bisa menolak Myungsoo. Kenapa harus Myungsoo? Kau tahu aku menyukainya dari hari pertama kita bersekolah, tapi kemudian kau menerima cinta Myungsoo. Apa kau tidak punya perasaan huh? Bersahabat denganmu hanya menyiksaku saja, melihat Myungsoo memperlakukanmu hanya menambah kebencianku padamu. Dan bukan aku saja yang membencimu, Kim Jisoo. Semua gadis di sekolah membencimu, tapi Cuma aku yang berani melakukan ini dan membuatmu terusir.”

“Sekarang… Nikmatilah harimu di sekolah baru. Apa kau masih membawa obat penenang? Kau bisa menelannya jika harimu sangat sulit di sini.”

Senyum sinis muncul dari bibir tipis Yuri sebelum ia pergi dari hadapan Jisoo. Lutut Jisoo terasa ngilu, ia masih mematung di sana. matanya memerah menahan air mata yang tak ingin ia keluarkan, ia tak ingin terlihat rapuh di hadapan orang-orang. Perlahan, ia melangkah maju. Jisoo menatap lurus ke depan tanpa memedulikan ucapan orang-orang yang ia lewati. Naik tangga tanpa henti hingga ia sampai di atap gedung sekolah.

Lututnya bergetar bukan karena udara dingin yang menyentuh pori-pori kulitnya tapi karena ia tak tahan lagi menahan beban tubuhnya. Jisoo terduduk di lantai, tangisnya pecah bahkan ia menangis dengan suara yang parau.

Ini bukan kali pertama ia mendengar ada yang iri dengannya tapi ini kali pertama ada orang yang iri dengannya dan nekat melakukan hal yang mungkin bisa merenggut nyawanya hanya untuk membuatnya bersalah terlebih semua karena seorang laki-laki.

Semua ucapan Yuri terngiang di benaknya, ia baru menyadari bahwa Yuri pernah menceritakan tentang Myungsoo dulu padanya. Yuri adalah teman dekatnya sebelum kejadian itu. sekarang, ia benar-benar merasa bersalah pada Yuri. Ia tidak tahu akan menyakiti Yuri terlalu dalam hingga membuatnya bertindak nekat hanya untuk mendapatkan Myungsoo.

.

–Christmas Eve–

.

“Kenapa kau menelan obat itu saat kau tidak tenang?”

“Aku tidak bisa menenangkan diriku sendiri. aku membutuhkannya untuk membantuku tenang.”

Jisoo menatap ke luar, salju sudah turun dengan intensitas yang kecil. Salju itu turun tanpa beban dengan sangat ringan menyentuh tanah yang sudah tertutup kumpulan salju putih. Bobby menyeruput cokelat hangat dari gelas yang ada di tangannya. Keduanya sedang duduk di café.

Ia melihat sedikit simpul senyum dari bibir Jisoo namun ia tak mengerti arti senyum itu, yang ia tau sesuatu yang lebih manis dari cokelat hangat ini menjalar memenuhi perasaannya dan membuat tubuhnya hangat. Bobby tak pernah merasa seperti ini sebelumnya, yang ia tahu hanya tidur, sekolah, tidur, bekerja. Perasaan datar bahkan hampa.

“Bobby-ya… Apa kau pernah bertanya-tanya seperti apa rasanya mati?”

Mata Bobby membulat. Ia tak pernah mengerti mengapa Jisoo menanyakan hal seperti itu padanya. apa gadis itu ingin mengakhiri hidupnya?

“Apa kau tidak penasaran apakah kematian bisa membuat semuanya jauh lebih baik?”

“Apa kau ingin mati, gadis bodoh?”

Jisoo terkekeh kecil mendengar pertanyaan Bobby yang menambahkan kata ‘gadis bodoh’ di dalamnya. Lalu tidak ada kata lagi yang keluar dari bibir keduanya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.

 

 

 

 

“Bobby… Kau akan kemana malam natal nanti?”

“Aku? Malam natalku akan selalu sama. bekerja di kedai ahjumma lebih berat dari hari biasa karena itu adalah malam natal. Kau?”

“Apa kau mau ikut denganku?”

“Kemana?”

Jisoo terdiam sesaat. “Ah… Tidak jadi… Aku akan tidur saja di malam natal.”

Bobby tersenyum. Tangan Jisoo terulur untuk menangkap salju yang turun, ia bermain kecil dengan salju sementara Bobby hanya duduk memperhatikan gadis yang tersenyum ringan di bawah rinai kecil salju yang turun.

 

 

 

Jisoo mengurung diri di kamar, ia tak keluar meski di lantai bawah rumahnya terdengar tawa dan kegembiraan. Ia tak diundang untuk ikut merayakan natal bersama mereka. ia memandang pesan singkat dari ponselnya.

[Jangan turun bahkan untuk mengintip sekalipun! – Ibu]

Jisoo menaruh ponselnya di atas tempat tidur dan meraih botol kecil berwarna hitam yang selalu ada di dalam tas sekolahnya. Memandangi botol itu dengan lekat. Apakah jika ia menenggak habis semua, ia bisa keluar dan melihat seperti apa keriuhan keluarganya di bawah? Apakah jika ia menghabiskan semua, ia akan membuat orang-orang yang ada di sekitarnya merasa bahagia?

Jisoo kembali meraih ponselnya, ia menghubungi seseorang yang saat ini ingin sekali di dengar suaranya.

(Halo..?)

“Bobby…”

“… Aku ingin bahagia, apa aku bisa?”

(Gadis bodoh, tentu saja kau bisa bahagia. Apa kau tidak bahagia saat di dekatku?)

“Tentu aku bahagia…”

“… Apa kau bahagia jika aku terus di sisimu selamanya?”

(Tentu saja. Kenapa kau menanyakannya?)

“Aku akan di sisi mu selamanya, Kim Bobby.”

(Ya… Kau harus di sisiku selamanya. Aku mencintaimu, Jisoo.)

Jisoo tersenyum. Ia menyudahi sambungan teleponnya. Menarik secarik kertas dan mulai menumpahkan tinta dalam rangkaian kata yang ia sambung menjadi kalimat dan beberapa paragraf.

Menaruh botol yang berisi obat penenang dan beralih ke sebuah revolver yang simpan di bawah ranjangnya. Ia mengambil revolver itu dari ruang kerja ayahnya tiga bulan lalu dan menyimpannya di bawah ranjang. Ia yakin, obat penenang ini tak akan cukup untuk menenangkannya selamanya.

Perlahan Jisoo mengangkat revolver itu, menyentuhkan moncongnya ke pelipis. Tidak ada rasa takut apalagi ragu dalam dirinya. ia sudah meyakini segala keputusannya, dan ini adalah keputusan terbaik dalam hidupnya yang ia ambil.

Di malam natal ini, Jisoo akan mencapai puncak ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya yang tak pernah ia temukan sebelumnya. Yah, baginya natal tahun ini adalah natal terbaik dalam hidupnya.

Ia menarik pelatuk revolver dan memejamkan matanya. menghirup udara kebahagiaan dan merasakan kebahagiaan itu menjalar dalam dirinya. senyum manis dari Jisoo merekah sempurna.

 

 

 

 

DOOORRRR

 

 

 

.

–Christmas Eve–

.

[Kau merasakan kehadiranku, Bobby?

Aku di sisimu sekarang, dan akan ada di sisimu, selamanya.

Inilah kebahagiaan yang sempurna. Puncak kebahagiaan dalam hidupku.

Aku mencintaimu, Kim Bobby – Jisoo]

Derai air mata mengurai semua kesedihan yang Bobby rasakan namun ia juga mengerti kebahagiaan yang dimaksud oleh Jisoo. Sekarang Jisoo tak akan merasakan kesedihan dalam hidup barunya saat ini. Bobby tersenyum kecil. Di hadapan jasad Jisoo, wajah Bobby mendekat.

Ia mencium bibir Jisoo yang lebih dingin dari udara saat ini. ia membisikkan sesuatu di telinga Jisoo sebelum akhirnya kembali ke kursinya di dalam gereja.

“Aku mencintaimu, Kim Jisoo.”

.

END

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s