THE BROTHERS [Part Seven – That Angel]

 

Previous: Prologue | ONE | TWO | THREE | FOUR | FIVE | SIX

brothers

THE BROTHERS

TITLE : THE BROTHERS

LENGTH : CHAPTERED

GENRE : FAMILY, ROMANCE

RATING : PG – 13

AUTHOR : N-R-A

CAST

EXO COMPLETE MEMBER

LEE AHREUM

LEE YURIN

JESSICA JUNG

KIM TAEYEON

HAN DASOM

SEO JOO HYUN

CHOI SULLI

CHOI MINHO

 

 

DISCLAIMER : LEE AHREUM, YANG SEJAK DULU HANYA HIDUP SEBATANG KARA MENDADAK MEMILIKI 12 SAUDARA LAKI-LAKI DALAM HIDUPNYA……

 

Happy Reading–, sorry for typo ^^

 

PART SEVEN

That Angel”

            Ahreum tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Gadis itu membulatkan kedua bola matanya sempurna begitu melihat ke layar komputernya yang menunjukkan hasil voting dari pengambilan nilai music kelas 2 -1 yang dipentaskan secara besar-besaran kemarin. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Ahreum menjadi murid kelas 2-1 yang meraih nilai voting paling banyak dengan jumlah presentase sebanyak 92 %, itu berarti hampir seluruh audience di pentas pengambilan nilai music kemarin memilih performance dirinya. Dan itu juga berarti bahwa Ahreum berhasil meraih predikat murid dengan nilai absolute di mata pelajaran Kelas Musik ???

            “Tidak mungkin….” Gumam Ahreum tidak percaya, berkali-kali gadis itu mengucek matanya dan menggosok-gosok layar komputernya, hanya untuk memastikan bahwa ini semua mungkin tidak nyata. Bagaimana mungkin murid baru seperti dirinya berhasil meraih peringkat pertama di pementasan musik kemarin? Ia bahkan tidak mempersiapkan apapun dan semua penonton tahu seberapa nervous nya Ahreum saat tampil kemarin. Dan juga, ia hanya tampil menyanyikan lagu rohani lama dengan sebuah gitar, sebuah penampilan yang sangat  sederhana jika di bandingkan dengan performance teman-teman sekelasnya yang lain.Teman-temannya yang lain menghabiskan waktu latihan berbulan-bulan dan berusaha tampil total-totalan.

            “Chukae. Kau pantas mendapatkannya” Ahreum hampir saja melompat dari kursi belajarnya begitu sebuah celetukan suara mengagetkannya, untung saja gadis itu cepat menengok dan mendapati Kris, –kakak lelaki—nya itu sedang berdiri tepat dibelakangnya dengan kepala melongok mengintip isi layar computer Ahreum.

            “Oppa, kau mengagetkanku…” Ahreum mengelus dadanya, sementara Kris hanya tersenyum kecil melihat ekspresi Ahreum disaat kaget seperti ini, plus rambut Ahreum terlihat begitu lucu sekarang karena gadis itu mengikat poninya hingga mencuat ke atas.

            “Mian, aku tidak mempunyai maksud. Aku hanya ingin mengucapkan selamat. Penampilanmu kemarin……… sangat bagus” ujar Kris. Ahreum tersenyum mendengar ucapan Kris , ada segelintir perasaan bangga membuncah di dadanya karena sudah di puji seperti itu.

            “Gomawo, Oppa” Ahreum mengangguk kecil terlihat malu.

            “Lagu yang kemarin kau bawakan itu……………” Ahreum mengangkat kepalanya begitu Kris kembali membuka suaranya dengan nada yang menggantung.

            “Boleh aku tahu, kau tahu lagu itu……….. darimana?” lanjut Kris dengan suara kecil dan terlihat raut serius di wajah lelaki itu. Ahreum memiringkan kepalanya mendengar pertanyaan kakaknya itu, pertanyaan yang aneh menurutnya.

            “Memangnya, kenapa Oppa?” Tanya Ahreum dengan wajah polosnya seperti biasa. Kris terdiam, mendengar pertanyaan balik yang dilontarkan oleh Ahreum—adiknya. Tidak tahu apa yang harus ia katakan. Lelaki itu hanya terdiam berdiri di depan Ahreum yang duduk di kursi belajarnya sambil menangkup lututnya menunggu Kris membuka suara lagi. Kris kebingungan. Haruskah ia mengungkapkan bahwa ia hanya curiga bahwa Ahreum mungkin mengenal Lee Na Bi—gadis masa kecilnya—yang tak pernah ia lupakan hanya karena mendengar Ahreum membawakan lagu Na Bi kecil (‘Without Family’) di pementasan kemarin? Apakah ada kemungkinan Ahreum mengenal Na Bi? Kris…. Sejak belasan tahun belakangan ini hidup dengan rasa penasaran yang besar menghantui tentang Na Bi, apakah gadis kecil yang sangat di sayanginya itu masih hidup, atau kah sudah tiada?  Atau jangan-jangan….. Na Bi adalah Ahreum sendiri? Semua kesamaan yang ditemukannya antara Na Bi dan Ahreum akhir-akhir ini terlalu kebetulan untuk bisa di telaah  oleh seorang Kris. Kris sangat penasaran…… hingga hatinya berusaha membuat segala ketidakmungkinan yang sangat impossible untuk diterima otaknya, dan ia harus segera menanyakannya kepada Ahreum untuk mengorek sedikit hal yang selama ini mengganjal hatinya. Kalau tidak, ia bisa saja menjadi gila. Kehadiran Ahreum dalam hidupnya, kembali mengingatkannya kepada sosok gadis kecil bernama Lee Na Bi itu.

            “Aku hanya ingin tahu……… maksudku, ‘Without Family’ adalah lagu lama yang langka. Jarang ada orang yang tahu lagu itu.  Dan kau…. Sepertinya sangat tahu akan lagu itu. Choir di gereja-gereja Korea saja bahkan nyaris tidak tahu kalau ada lagu berjudul ‘Without Family’ . Bahkan murid-murid di Dangwon tidak ada yang tahu lagu dengan melodi seindah itu” Kris berusaha bersikap tidak mencurigakan, lelaki itu berapa kali terlihat mengusap belakang lehernya yang sebenarnya tidak berkeringat.

            “Itu benar, Oppa. Saat aku kecil di  panti asuhan, Ibu Kepala selalu menyanyikan lagu itu sebelum aku dan para penghuni panti lainnya tertidur. Meskipun arti lagu itu sebenarnya sangat menyayat hati kami—para kaum yatim piatu—namun aku tahu, makna di balik lagu itu tetap menyiratkan harapan untuk kami. Harapan bahwa suatu saat nanti…. Keluarga yang hangat itu akan datang menyelimuti kami. Dan itu terbukti padaku, sekarang…. Aku memiliki kalian semua…..” Ahreum mencoba untuk tidak menangis haru saat menjawab pertanyaan Kris . Gadis itu berusaha memberikan senyumnya menatap Kris di depannya dan sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak terjatuh.

            Kris hanya terdiam. Senyum Ahreum yang sedang menahan tangis itu benar-benar mengingatkannya kepada Na Bi kecil nya yang selalu tersenyum padanya di masa lampau meskipun Kris tahu, Na Bi sedang tidak bahagia pada saat itu. Kris dengan cepat menggelengkan kepalanya, menepis segala pemikiran bodoh itu. Ia tidak boleh berpikir seperti itu.

            “Aku mengerti perasaanmu.” Kris memberanikan diri menepuk kepala Ahreum, mencoba memberikan sedikit bentuk perhatian kepada satu-satunya adik perempuan yang dimilikinya itu.  Kris menghela nafasnya sesaat, mencoba membisikkan hatinya sendiri agar berhenti mengingat Na Bi lagi.

 Ahreum hanya tersenyum kecil menerima perlakuan hangat dari kakaknya yang terkenal angkuh dan dingin ini sambil menghapus ujung – ujung matanya yang mulai berair.

            “Oppa… kau juga tahu lagu itu?” Tanya Ahreum.

            “Ya.” Jawab Kris singkat. Ia hanya tidak ingin membahas bahwa ia mengetahui lagu itu dari Na Bi. Bagaimanapun, ia ingin mengubur masa lalu nya dari siapapun, juga rasa bersalahnya.

            “Kalau begitu Oppa adalah orang ketiga yang tahu lagu itu di sekolah.” Gumam Ahreum pelan namun sanggup didengar oleh telinga Kris. Kris terkejut mendengar gumaman Ahreum barusan.

            “Orang ketiga? Apa maksudmu? Bukankah…. Yang tahu lagu ‘Without Family’ hanya kau dan aku….” Pertanyaan yang dilontarkan Kris terdengar terburu-buru dari sebelumnya. Ahreum menggelengkan kepalanya pelan.

            “’Without Family’ memang adalah lagu yang langka. Tapi bukan berarti hanya aku dan Oppa yang tahu dan hafal lagu itu.” Jawab Ahreum.

            “Maksudmu, ada orang lain yang juga menghafal lagu itu…. Di Dangwon?” Tanya Kris memastikan. Ahreum mengangguk.

            “Siapa?” Kris menundukkan tubuhnya , berjongkok di depan kursi yang di duduki Ahreum. Ahreum tersenyum simpul kemudian menjawab dengan pelan,

            “Yurin…” jawabnya ………

***

            “I am without family, yes, no one….. I am without, without… family” Yurin menghembuskan nafasnya perlahan begitu lagu di I-Pod mini yang di bawanya sudah selesai berputar. Gadis itu dengan serta merta mencabut headset putih di telinganya dan memasukkan I-pod ke dalam tas ransel yang di bawanya, lalu gadis berambut panjang dan poni rata itu dengan cepat turun dari taksi yang membawa dirinya.

            Setelah selesai membayar  tagihan argo kepada supir, Yurin melangkah memasuki sebuah rumah minimalis megah yang merupakan kediamannya. Seperti biasa, gadis itu disambut hangat dengan Min ahjumma – pelayan pribadi turun temurun keluarganya yang menyambut kehadirannya.

            “Nona muda, nona sudah pulang” sahut Min ahjumma senang melihat nona muda – nya kembali ke rumah setelah hampir selama 3 hari Yurin memutuskan untuk tidak pulang dan memilih menginap di rumah Kim Taeyeon.

            “Ya , ahjumma. Ayahku kemana?” Tanya Yurin pelan setelah mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan melihat tidak ada tanda-tanda kehadiran ayahnya di rumah ini.

            “Tuan Lee sedang keluar.” Jawab Min ahjumma yang sedang membawakan jus strawberry ke hadapan Yurin dengan telaten agar nona mudanya itu bisa menghilangkan sedikit rasa penatnya. Yurin menerima jus itu setelah berterima kasih kepada Ahjumma yang sejak kecil sudah merawatnya, lalu ia memilih duduk disalah satu sofa dan menikmati jus—nya. Bagus , ayahnya tidak sedang berada di rumah sekarang. Sejak insiden penamparan itu Yurin menjadi merasa tidak tahu bagaimana harus bersikap kepada ayahnya sendiri.

            “Ahjumma………. Wanita itu… sudah pergi?” Tanya Yurin setelah terdiam untuk waktu yang lama. Min ahjumma yang berniat membersihkan ruang tamu menghentikan aktifitasnya mendengar pertanyaan Yurin.

            “Wanita itu? Maksud nona siapa?” Tanya Min Ahjumma tidak mengerti.

            “Wanita yang bersama ayahku.” Jawab Yurin datar.

            “Oh… maksud nona, Nona Seohyun?. Dia pamit pulang seperti biasanya saat tahu nona akan kembali ke rumah” jawab Min ahjumma sopan. Mendengar itu Yurin hanya tersenyum sinis dan mengelap sisa jus strawberry yang menempel di bibirnya.

            “Ternyata dia masih punya rasa malu.” Gumam Yurin sinis.

            “Nona Seohyun juga menitipkan salam untuk nona. Nona Seohyun bilang kalau ia tidak punya waktu berbicara dengan nona di sekolah. Nona Seohyun mengatakan sampai kapanpun nona adalah sahabatnya.” Lanjut Min ahjumma dengan santainya. Mendengar itu Yurin tidak kuasa untuk tidak meremas tangannya sendiri. Wajah Yurin menegang dan ia nyaris saja melempar jus di tangannya. Marah, itulah yang ia rasakan. Sahabat? Setelah apa yang Seohyun lakukan dalam hidupnya, ia masih berani mengucapkan kata sahabat?

            “Nona tidak apa-apa?” Min ahjumma menghampiri nona—nya yang terlihat sedang tidak dalam kondisi yang baik.

            “Nona , sebaiknya nona beristirahat ke atas” saran Min ahjumma dan mengajak nona mudanya itu untuk bangkit. Yurin menuruti dan membiarkan Min ahjumma menuntunnya ke atas kamarnya, kepalanya terasa sangat pusing setiap mendengar nama Seohyun disebut-sebut. Namun langkah Yurin tiba-tiba terhenti begitu ia melihat ada beberapa koper tergeletak di tangga dan sepertinya ia tidak asing dengan koper-koper tersebut.

            “Ahjumma… ini semua koper siapa?” Tanya Yurin menghentikan langkahnya di depan tangga.

            “Ini semua kan koper milik Tuan Muda, kakak nona.” Jawab Min ahjumma. Mendengar itu tentu saja membuat Yurin tersentak.

            “Milik Oppa? “

            “Ya, Tuan Lee keluar karena  sedang terburu buru menuju bandara untuk menjemput Tuan muda. Tuan muda Seungri akan  segera kembali ke Korea bersama istrinya.” Mendengar penjelasan Min ahjumma lebih lanjut membuat Yurin hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Apa yang baru saja ia dengar? Kakak lelaki satu-satu nya itu akan pulang bersama istri barunya yang menyebalkannya selangit itu? Tuhan, kenapa tidak ada tempat bagi Yurin untuk mengambil nafas sebentar saja?

***

            Ting Tong… Ting Tong…

            Taeyeon dengan cepat membuka celemeknya dan bergegas menuju ke depan pintu mendengar bel rumahnya yang terus-terusan berbunyi. Dan ekspresi wanita itu langsung mengernyit begitu mendapati siapa yang memencet bel pintu sekasar itu. Siapa lagi kalau bukan Lee Yurin yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan raut wajah datar seperti biasa yang seakan sudah menjadi ‘trademark’ gadis itu.

            “Lagi-lagi tamu tak di undang.” Ujar Taeyeon memandang Yurin yang dengan seenaknya menyeret koper yang dibawanya masuk ke dalam rumah kecil milik Taeyeon.

            “Aku akan menginap untuk waktu yang agak lama. Maaf jika aku merepotkan. Aku akan memasak dan menjaga Hyeri. Kalau kau keberatan aku tinggal aku akan membayar untuk semua biaya di rumah ini” Yurin mengambil remote di ruang TV dan menyalakannya , lalu tanpa memikirkan seperti apa wajah Taeyeon sekarang gadis itu duduk manis dan menonton acara TV seakan sedang berada di rumahnya sendiri.

            “Kau lucu sekali, mantan adik iparku tersayang. Apa kau baru saja diusir oleh ayahmu yang harga dirinya tinggi itu? Kau bahkan sampai membawa koper segala.” Timpal Taeyeon kemudian duduk di depan Yurin dan menyodorkannya beberapa cookies yang baru saja di panggangnya.

            “Aku tidak di usir. Sebentar lagi, Seungri Oppa akan pulang. Dan kau tahu, ia pulang ke Korea bersama istri barunya.” Yurin menyantap cookies yang di bawa Taeyeon dengan lahap, mendengar itu Taeyeon terdiam. Terutama karena Yurin memberikan penekanan kepada kata ‘istri baru’.

            “Bukankah itu bagus.” Taeyeon berusaha bersikap biasa , menyembunyikan rasa gugup yang menyelubungi hatinya. Yurin hanya tersenyum meremehkan melihat perangai Taeyeon sekarang.

            “Ayolah, Kim Taeyeon. Kau tahu persis seberapa benci nya istri baru SeungRi Oppa itu denganku. Aku juga tidak menyukainya. Dia wanita Korea yang menyebalkan dengan segala aksen ke-amerikaannya. Saat mereka menikah di Los Angeles pun aku bahkan tidak memiliki niat untuk datang, bahkan untuk menyelamati Oppa—ku sendiri. Aku hanya kasihan kepada Seungri Oppa, ia harus bercerai, di bawa ayah ke Amerika dan di paksa menikah di sana tanpa tahu kalau ia mempunyai putri kecil dari mantan istrinya yang kekanakan.”

            “Yurin—ah, berjanjilah kalau akan merahasiakan ini dari Hyeri. Hyeri tidak boleh tahu kalau ayahnya kembali ke Korea.” Taeyeon tiba-tiba memegang tangan Yurin dengan tatapan memohon. Yurin sudah memprediksikan bahwa Taeyeon akan memohon  seperti ini.

            “Asal kau membiarkanku tinggal tanpa membayar.” Jawab Yurin dengan datarnya kembali kemudian memasukkan satu cookies ke dalam mulutnya dengan tenang.

***

            “Selamat, Chukae, Ahreum—ah. Selamat karena kau mendapatkan nilai 100 pada mata pelajaran music di rapor nanti. Sebagai sahabatmu aku sangat bangga.Sebagai gantinya tolong traktir aku es krim cokelat besok di kantin -.- Sudah lama aku tidak makan es . By Yurin”

            Ahreum tersenyum membaca pesan masuk Yurin yang baru saja di terimanya melalui KakaoTalk, bukan hanya Yurin yang mengirimkan ucapan selamat padanya, namun juga ia menerima Congratulation Message dari Minho si Frog01 yang isi teks pesannya sangat panjang sepanjang surat kabar, juga beberapa pesan dari akun murid lelaki di sekolahnya yang sebenarnya tidak begitu Ahreum kenal dengan baik.

            “Serius sekali” lelaki jangkung dengan tubuh kecokelatan itu hadir secara tiba-tiba dan mengacak pelan poni Ahreum, lalu mengambil posisi dengan duduk tepat di depan gadis berkulit pucat itu.

            “Kai oppa~” Ahreum hanya bisa memberengut melihat rambutnya habis di acak-acak Kai namun ekspresi lucu Ahreum itu justru membuat Kai tambah gemas. Lelaki itu mulai mencubit pipi kenyal Ahreum layaknya adonan  dan mengintip layar ponsel gadis itu dengan tatapan menyelidik khawatir jika ada anak lelaki yang berani mengirim pesan atau chat ke Ahreum. Tentu saja, Ahreum dengan berusaha menyembunyikan ponselnya dan akhirnya terjadi aksi kejar-kejaran antar kedua orang itu hingga membuat ruangan tamu yang tadinya sepi menjadi ramai penuh suara mereka.

            Suho yang tadinya berniat mengambil jus jeruk di dapur terpaksa berhenti sejenak di depan tangga, menyaksikan Kai dan Ahreum yang saling kejar-kejaran seperti anak kecil membuat sebuah senyum hangat mengembang di bibir lelaki itu. Senang rasanya melihat dua saudaranya bisa seakrab itu, lagipula Ahreum terlihat jauh lebih ceria dibanding saat ia pertama kali datang ke rumah sebagai anak adopsi. Tidak ada yang lebih meyenangkan bagi Suho untuk melihat Ahreum yang bisa tertawa selepas itu tanpa beban sebagai bagian dari keluarga Choi. Pandangan Suho kemudian beralih kea rah sudut ruangan di dekat dapur, ia baru menyadari kalau ada sosok Kris di sana yang turut sedang memandang Kai dan Ahreum sambil sesekali menyesap limun yang berada di tangannya. Suho bisa menangkap tatapan yang aneh dari mata Kris kali ini, tatapan yang tajam dan membingungkan. Begitulah apa yang Suho lihat. Suho tahu kalau tatapan Kris memang sudah tajam dari sananya, hanya saja ada hal yang berbeda kali ini. Sayangnya , Suho tidak bisa menjabarkan hal berbeda yang seperti apa. Baru saja Suho berniat menyapa Kris, tiba tiba suara bunyi bel rumah terdengar diluar sana, pertanda bahwa ada tamu yang dating.

            “Suho~yaa~ tolong buka pintunya” Nyonya Choi muncul dari balik tangga dengan masker dan mentimun menghiasi wajahnya yang lelah akibat baru pulang dari perjalanan amal dengan suaminya di Hongkong. Suho yang memang di kenal sebagai anak tertua nan patuh tentu saja menyanggupi perintah Ibu angkatnya itu tanpa banyak bicara. Lelaki itu segera melesat ke pintu depan untuk membuka pintu.

            “Ini hari minggu kan? Seharusnya tidak ada orang yang datang” Chanyeol yang baru saja tidur siang muncul dengan wajah bantal setengah mengantuknya.

            “Benar, tumben sekali kita punya tamu di hari seperti ini” celetuk DO yang tahu-tahu sudah nongkrong di atas sofa ruang tamu dengan Playstation di tangan dan satu buah sosis di mulutnya.

            “Kalian ini…. Seharusnya kalian senang kedatangan tamu” Nyonya Choi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan para anak-anak lelakinya. Kemudian wanita paruh baya yang tetap terlihat muda itu menghampiri Ahreum, satu-satunya putri yang ia miliki sekarang.

            “Ahreum-ah….. .. sepertinya kita kedatangan tamu. Bagaimana kalau kau ikut eomma menyiapkan teh dan beberapa kue?” tawar Nyonya Choi yang tentu saja disambut anggukan semangat oleh Ahreum.

            “Tentu Eommonim. Aku sangat suka membuat kue” jawab Ahreum semangat kemudian dengan serta merta gadis itu berlari kecil menyusul eommanya ke dapur.

            Suho yang sudah berada di depan pintu membuka pintu berwarna putih itu dengan raut wajah yang biasa , namun wajah lelaki itu mendadak berubah begitu ia mendapati siapa yang sedang berdiri di depan pintu dan menekan bel. Seorang gadis cantik dengan rambut bergelombang, memakai dress putih dan membawa satu buah kotak berukuran sedang di tangannya.

            “Annyeong, Suho~yaa!” gadis itu membungkukkan badannya dengan anggun lalu melambaikan tangannya sebagai bentuk sapaan kepada Suho. Suho menaikkan satu alisnya terlihat bingung, bagaimana mungkin gadis ini bisa sampai ke rumahnya.

            “Seo Joo Hyun? Seohyun?”

            “Ya, ini aku. Kita sekelas selama dua tahun dan kau sekarang menatapku seakan aku  adalah alien.” Gadis yang ternyata adalah Seohyun itu berusaha membuat lelucon, namun Suho sama sekali tidak tertawa sedikit pun. Suho bingung, bagaimana mungkin Seohyun—dewi Dangwon yang terkenal akan keanggunannya di sekolah bisa berada di depan rumahnya.

            “Kau…… sedang apa di sini?” Suho bertanya dengan tatapan setengah malas. Ya, Suho tahu kalau Seohyun itu cantik dan popular di sekolahnya, banyak lelaki yang berlomba-lomba mencuri perhatian Seohyun, namun gadis macam Seohyun ini yang terlalu elegan dan kelihatan lemah sama sekali bukan tipe nya.

            “Apakah Ahreum ada?” Tanya Seohyun dengan mata berbinar membuat Suho hampIr saja terjungkal dari tempatnya berdiri sekarang. Seohyun datang untuk mencari Ahreum???

***

            “Aku tidak pernah tahu kalau kalian dekat” Sehun menatap Ahreum dan Seohyun yang sekarang sedang duduk dan bercengkrama bersama, para EXO—yang lain pun sama herannya dengan Sehun. Mereka tidak pernah tahu kalau Ahreum juga bersahabat dengan Seohyun, karena setahu mereka Ahreum hanya memiliki dua teman yang sangat dekat di sekolah, yaitu Sulli dan Yurin. Yang terlihat cukup terkejut adalah Kai. Lelaki jangkung dengan tubuh kecokelatan itu  terus memandang nanar kea rah Ahreum dan Seohyun, atau bisa di bilang lebih tepatnya kea rah Seohyun yang secara mengejutkan tiba-tiba muncul di rumahnya .

            “Nona muda memang akrab dengan Seohyun sunbae. Seohyun sunbae pernah menolong kami berdua .” Sulli muncul dengan nampan di tangannya, setelah memberikan segelas jus pada Seohyun—yang notabene adalah tamu mereka hari ini gadis itu mendekat kea rah para tuan mudanya, memberi penjelasan kepada para EXO itu karena mereka semua terlihat sama bingungnya dengan kedatangan Seohyun.

            “Oh ya? Kapan?” Chen terlihat penasaran .

            “Mmm….. waktu Jessica sunbae menjambak rambut Ahreum , Seohyun sunbae datang dan menghentikan Jessica sunbae. Seohyun sunbae memanglah seorang dewi, dia juga memanggil kami dengan sebutan ‘sahabat’ waktu itu” jelas Sulli.

            “Mwo?? Blonde Amerika itu berani menjambak Ahreum? Apa urusannya si chicks itu?” Luhan Nampak emosi begitu mengetahui Jessica berani menjahili adiknya, begitupun dengan EXO yang lain mereka baru tahu kalau Ahreum mengalami perlakuan kasar dari gadis pirang popular bernama Jessica Jung itu.

            “Seharusnya Ahreum bilang sehingga kita bisa menggantung si Jessie Jung itu” Tao bergumam gemas.

            “Tidak, kita bakar saja dia hidup-hidup di depan sekolah. Itu baru seru. Hahaha” Lay ikut berapi-api, ia tidak pernah suka dengan gadis-gadis belagu macam Jessica dan antek-anteknya.

            “Hei, Kris beritahu fansmu itu untuk tidak menyentuh Ahreum kita kalau dia tidak ingin rambut pirangnya itu berubah jadi warna hitam “ Suho menyenggol bahu Kris yang sedang duduk sambil membaca buku pelajaran di sampingnya. Kris hanya mendelik sebentar kea rah Suho,

            “Apa hubungannya denganku?” Tanya lelaki dingin itu.

            “Apa hyung tidak pernah sadar? Jessica sepertinya menyukaimu hyung” celetuk Chen , Tao juga mengangguk mengiyakan.

            “Setiap kita masuk ke kantin, Jessica itu pasti langsung salah tingkah dan memperbaiki posisi duduknya. Dan tebak matanya tertuju pada siapa….”

            “KRIS HYUNG!” Pekik Chanyeol dan Lay bersamaan lalu saling menepuk kedua tangan mereka dan membuat ekspresi menggoda kea rah Kris.

            “Bukan hanya itu, kuperhatikan selama di kelas dia terus memperhatikan Kris. Kris saja yang tidak peka” timpal Luhan sambil memasukkan beberapa potongan potato chips ke dalam mulutnya. Kris hanya bisa menghela nafas mendengar seluruh saudaranya menggodanya dengan Jessica. Ia juga tidak pernah peduli dengan hal itu. Lelaki itu akhirnya menutup kedua telinganya dengan seutas tali headset untuk menyumpal telinganya dari celotehan para saudaranya ini.

            Kai hanya terdiam, nampaknya lelaki itu tidak terlalu memperdulikan para saudaranya yang sedang sibuk menggoda Kris. Padahal biasanya Kai cukup antusias dengan masalah seperti ini. Namun sejak tadi, lelaki itu hanya diam di tempat duduknya dengan mata yang terus memperhatikan kea rah Ahreum yang sedang sibuk berbincang dengan Seohyun di kursi taman rumah mereka . Lebih tepatnya, mata tajam Kai terus memandang tajam kea rah gadis bergaun putih itu, Seo Joo Hyun.

            ‘Sedang apa dia disini? Mengapa mendadak menemui Ahreum?’ batin Kai di selimuti kebingungan. Ya, ia terkejut. Ia tidak pernah menyangka , Seohyun mempunyai keberanian untuk sampai ke rumah ini.

***

            “Bagaimana sunbae? Apa kue—nya enak?” Tanya Ahreum antusias sambil menyodorkan kue –kue coklat yang baru selesai di panggangnya kea rah tamu—nya, Seohyun. Seohyun mengangguk sambil tersenyum,

            “enak. Kau membuatnya sendiri?” Tanya Seohyun, Ahreum mengangguk, lantas duduk di dekat Seohyun.

            “Ya, eomoni mengajakku memanggang dan kebetulan sekali sunbae datang” jawab Ahreum sekenanya.

            “Selamat atas nilai absolutmu di kelas music. Semua seongsaenim memuji penampilanmu”

            “Eh? Gomawo, sunbae—nim”

            “Hei, berhenti memanggilku dengan sebutan formal itu. Aku sekarang adalah sahabatmu”

            “Eehhh? Sunbae?”

            “Kau bisa memanggilku eonnie.” Seohyun menatap kea rah Ahreum dan itu membuat Ahreum tersenyum penuh kesenangan , satu lagi. Ia mendapat satu sahabat lagi. Ahreum sangat terharu, Seohyun benar-benar baik. Sejak kedatangannya di sekolah, Seohyun selalu memperlakukan Ahreum dengan baik. Menolongnya saat di jambak Jessica dan sekarang di perlakukan sebagai teman. Benar-benar seorang goddess.

            “Gomawo, sun….. eh…. Seohyun eonnie” ujar Ahreum dengan nada malu-malu.

            Seohyun hanya tersenyum melihat ekspresi lucu Ahreum, kemudian gadis itu menatap kea rah jendela rumah yang memperlihatkan para EXO sedang bercanda gurau bersama di balik kaca jendela transparan.

            “Pasti menyenangkan ya… tiba-tiba memiliki banyak saudara” gumam Seohyun , masih memandang kea rah jendela. Mendengar itu, Ahreum juga ikut menengok memandang kea rah jendela dan tersenyum melihat keakraban para kakak-kakaknya.

            “Iya. Aku benar-benar merasa beruntung memiliki mereka” gumam Ahreum dengan mada lembut. Mendengar itu membuat Seohyun mengarahkan pandangannya kea rah Ahreum yang masih menengok menatap kea rah jendela kaca. Senyum Seohyun memudar seketika begitu matanya memandang kea rah Ahreum. Tatapan tidak biasa di perlihatkan gadis itu. Senyum dewi yang selalu di pertahankannya sejak tadi menghilang entah mengapa.

            “Kau terlalu beruntung. Kau terlalu di berkati” gumam Seohyun pelan.

            ‘Dan aku tidak suka itu’ lanjutnya membatin dalam hati….

            “Eonnie bilang apa tadi?” Tanya Ahreum membalikkan tubuhnya begitu merasa sepertinya Seohyun mengucapkan sesuatu. Seohyun dengan cepat mengganti ekspresinya, dan kembali memasang senyum manisnya kea rah Ahreum.

            “Anni. Aku hanya bilang kau sangat beruntung. Mereka semua sayang padamu” ujar Seohyun sambil tersenyum. Ahreum terkekeh mendengarnya,

            “Ya, mereka semua adalah hadiah terindah yang aku miliki. Aku tidak pernah terpikirkan akan memiliki saudara sebanyak ini” gumam Ahreum memainkan ujung kakinya hingga menyentuh rumput taman.

            Seohyun hanya terdiam. Ekspresinya berubah lagi begitu Ahreum menundukkan kepalanya dan sibuk bermain dengan rumput yang menyentuh ujung kakinya. Perhatian Seohyun pada akhirnya beralih kea rah kalung yang melingkar di leher Ahreum. Sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk malaikat kecil dengan busur  panahnya nampak berkilau menggantung di leher gadis itu.

            “Kalung yang cantik” gumam Seohyun.

            “Eh?” Ahreum mengangkat kepalanya mendengar gumaman Seohyun dan secara refleks menyentuh kalung di lehernya.

            “Oh ini? Ini hadiah dari Kai oppa karena aku mendapatkan nilai sempurna di kelas music kemarin” Ahreum tersenyum sambil memamerkan kalung pemberian Kai dengan polosnya kea rah Seohyun.

            Seohyun tersentak beberapa detik mendengarnya. Kai? Kalung itu dari Kai? Sejak kapan…. Kai suka memberikan hadiah kepada seseorang?? Seohyun tanpa sadar meremas ujung gaunnya sendiri begitu mengetahui bahwa  Ahreum mendapatkan kalung dari Kai. Tidak, ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi tidak sukanya itu kali ini.

            “Eonnie? Gwechana?” Ahreum menyentuh pundak Seohyun begitu sadar ada yang lain dari raut wajah Seohyun kali ini, dan itu cukup untuk membuat sang dewi Dangwon tersadar. Seohyun buru-buru bertingkah seperti orang yang terkejut dan memasang senyum manisnya kembali.

            “Eoh…. Mian, nan gwechana” jawab gadis itu dengan suara lembutnya.

            “Apa eonnie tidak sakit?”

            “Jeongmal gwechana, Ahreum-ah. Mian sudah membuatmu khawatir. Oh, ya. Aku ke toilet dulu sebentar” Seohyun menggelengkan kepalanya dan tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.

            “Baiklah, eonnie. Toilet ada di lorong belakang sebelah kiri. Apa eonnie mau kuantar?” Ahreum sudah akan bangkit hendak menemani Seohyun masuk kedalam namun Seohyun sudah lebih dulu menahannya.

            “Tidak usah. Aku tidak ingin merepotkan”

            “Tapi, eonnie, rumah keluarga ini terlalu luas. Nanti eonnie bisa tersesat kalau pergi sendiri.” Ujar Ahreum. Seohyun menarik sedikit ujung bibirnya samar begitu mendengar Ahreum khawatir jika ia akan tersesat masuk di rumah ini.

            ‘Aku sudah mengenal rumah ini lebih daripada dirimu. Aku sudah hafal ujung demi ujung demi rumah ini. ‘ batin Seohyun dalam hati, gadis itu akhirnya tersenyum kembali.

            “Aku tahu. Lorong belakang sebelah kiri kan? Aku… tidak akan tersesat” ujar Seohyun dengan nada manisnya yang terdengar aneh, namun itu cukup untuk membuat Ahreum percaya. Ya, tidak sepatutnya Ahreum mengkhawatirkan seorang dewi Dangwon yang terkenal pintar dan cerdas seperti Seohyun.

            “Baiklah, eonnie. Hati-hati neee” ujar gadis itu sambil tersenyum simpul.

***

            “Memuakkan~” Seohyun membasuh wajahnya begitu sudah berada dalam toilet dan menatap wajahnya di balik kaca yang terpasang di dinding atas wastafel. Gadis itu tidak berhenti mematut dirinya di depan kaca dan memperhatikan wajah serta lekuk tubuhnya yang terbalut dress anggun warna putih.

            “Aku… sempurna kan?” Seohyun bergumam dengan dirinya sendiri.

            “Aku…. Malaikat kan?” gumam gadis itu lagi sambil tersenyum dan memainkan ujung rambutnya yang panjang. Namun senyum gadis itu memudar begitu ia mengingat apa yang dilihatnya saat baru masuk di kediaman rumah Choi tadi. Deretan foto Ahreum bersama kedua belas EXO yang terlihat sangat akrab terpajang di sekeliling ruangan dan semua EXO memperlakukan Ahreum layaknya berlian yang sangat berharga….. semuanya….. tidak terkecuali Kai.

            “Inikah yang dimaksud Nyonya Go? Anak itu akan mengambil hal paling berharga dalam hidupku?” desis Seohyun penuh rasa tidak suka. Ya, semua ramalan Nyonya Go yang di katakan pada Seohyun memang benar terbukti adanya.

            “Akan datang gadis yang akan merusak hidupmu. Membuatmu jatuh dari tempatmu berdiri sekarang. Gadis yang akan menghancurkan seluruh pengorbanan yang kau lakukan.. Gadis yang akan mengambil hal paling berharga dalam hidupmu”  Seohyun masih sangat ingat ucapan Nyonya Go saat meramalkan masa depannya, dan setelah Nyonya Go mengatakan hal itu, seorang gadis yang berhasil menyita perhatian seluruh sekolah dengan statusnya  sebagai adik angkat EXO muncul di sekolah dan menjadi perhatian akibat suaranya yang begitu indah. Bukan hanya suaranya yang mengagumkan, namun gadis itu juga memiliki kecantikan natural yang luar biasa.

            “Aku iri.” Gumam Seohyun , menatap dirinya di pantulan cermin.

            “Aku iri pada semua gadis yang terberkati. Kehidupan yang luar biasa, keberuntungan yang menyertainya…..” nada gumaman Seohyun semakin melemah. Namun di detik berikutnya, gadis itu tertawa sendiri , layaknya orang gila.

            “Aku akan merenggut kebahagianmu, Lee Ahreum. Aku akan menghancurkanmu, sebelum kau menghancurkanku . Sama seperti yang aku lakukan dulu. Aku pasti bisa, ya, aku pasti bisa” Seohyun tersenyum sinis memperbaiki tatanan rambutnya dan tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Gadis itu tersenyum penuh kemisteriusan. Tekadnya sudah mantap. Ia tidak ragu lagi memikirkan ucapan dan saran Nyonya Go. Nyonya Go benar, ia tidak perlu takut. Ia sudah pernah melewati lembah terkelam dalam kehidupan ini. Apa yang harus ia takutkan? Tidak ada.

Lagipula, ia sudah berbakat untuk hal seperti ini. Ia sudah pernah menghancurkan hidup seseorang ….

            Seohyun merapikan gaun dan rambutnya , juga mengeringkan wajahnya , setelah itu bergegas keluar  toilet. Baru membuka pintu toilet, gadis itu dikejutkan dengan sosok Kai yang berdiri di depan pintu toilet dengan tatapan nanarnya seakan ia sedang menunggu Seohyun keluar dari sana.

            “Kai—ah…” Seohyun tersenyum sumringah, mengetahui Kai menungguinya sejak tadi, tanpa berbasa-basi gadis itu berhambur ke pelukan Kai dan bertindak layaknya orang yang sudah sangat lama tidak bertemu.

            “Bogoshippo~” gumam Seohyun dengan nada manjanya.

            “Hentikan, Seo Joo Hyun” terdengar suara dingin Kai sebagai jawaban dari ucapan Seohyun barusan. Seohyun tercekat, suara Kai sangat dingin dan ia bahkan tidak bereaksi dengan pelukan yang di berikan Seohyun.

            “Wae… Jong-In…” Seohyun mengendurkan pelukannya dan menatap sendu kea rah Kai yang masih menatapnya dengan tatapan dingin. Kai tidak pernah sedingin ini padanya, tidak pernah….

            “Mengapa kau bisa datang kemari dengan tiba-tiba? Apa yang sebenarnya kau inginkan?” Tanya Kai seakan tidak mengindahkan ucapan Seohyun barusan.

            “Mengapa kau bertanya seperti itu, Kai? Mengapa kau tiba-tiba bersikap sinis padaku? Kau…. Sudah benar-benar berubah” ujar Seohyun . Mendengar itu , Kai hanya tertawa pelan sebentar lalu lanjut menatap Seohyun dengan tatapan nanar yang sulit di artikan.

            “Aku? Berubah? Apa tidak salah? Yang berubah 180derajat itu kau!” terdengar nada meninggi di balik ucapan Kai pada Seohyun, membuat Seohyun cukup tersentak di buatnya.

            “Aku pikir kau tidak akan datang ke rumah ini lagi setelah apa yang kau lakukan di masa lalu. Apa kau tahu? Aku mati-matian menyembunyikan perbuatanmu dari orang tuaku dan saudara-saudaraku sampai sekarang. Dan kau, masih memiliki keberanian datang kemari? Apa lagi yang kau inginkan?” Kai mendorong tubuh Seohyun kea rah tembok membuat tubuh Seohyun sedikit terbentur dinding.

            “Sejak kapan kau jadi kasar begini , Kai?” Tanya Seohyun memegangi lengannya. Kai terdiam,ia masih memandang tajam kea rah Seohyun yang sekarang memasang wajah sedihnya.

            “Bukankah kau sudah berjanji untuk selalu melindungiku apapun yang terjadi? Bukankah kau berjanji untuk selalu ada di sampingku ?” Seohyun sekarang menangis. Ya, menangis. Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi gadis itu.

            “Aku tidak bisa menyanggupi janji itu.” Ujar Kai setelah sekian lama terdiam. Ia mundur selangkah menjauh dari tempat Seohyun berdiri sekarang.

            “Maaf, aku tidak bisa. Kau bukan Seo Joo Hyun Noona yang ku kenal 4 tahun lalu.” Kai semakin melangkah mundur menjauh. Kai memutar badannya, berniat pergi meninggalkan Seohyun ,namun sebelum itu , ia menghentikan langkahnya terlebih dulu, lalu berkata,

            “Bisakah kau berhenti bersikap seakan sangat membutuhkanku? Bisakah kau melupakan janji itu? Dan…. Bisakah kau berhenti berkeliaran di sekitar Ahreum kami?” ujar Kai lalu benar-benar melangkahkan kakinya pergi dari sana, meninggalkan Seohyun dengan air mata yang tidak mau berhenti dari matanya. Gadis itu meremas ujung gaunnya dengan kasar.

            Di khianati. Ia benar-benar merasa di khianati sekarang. Dan, apa yang baru saja di dengarnya tadi? Kai menyuruhnya menjauhi Ahreum? Sebegitu sayangnya kah Kai pada adik kecilnya itu ? Dan sebegitu hina nya kah Seohyun di mata Kai sekarang?

            Apa yang di katakan Nyonya Go menjadi kenyataan.

            Ahreum benar-benar telah merampas hal yang paling berharga dalam hidup Seohyun. Dan hal itu adalah…. Kai. Kai adalah satu-satunya orang yang berharga dalam hidup Seohyun. Kai adalah orang yang pernah memberikan kebahagiaan tidak terhingga pada Seohyun di masa lalu. Dan sekarang…. Kai membencinya….

            Seohyun menghapus sisa-sisa air mata di pipinya yang tadinya ia anggap ampuh untuk meluluhkan hati Kai. Namun Kai benar-benar sudah berubah. Ia bukan lagi Kai yang patuh dan sangat mencintainya seperti dulu. Seohyun benar-benar terasa tersakiti sekarang. Sakit, ia tidak pernah merasa sesakit ini.

***

            “Aneh sekali, Seohyun unnie tiba-tiba pamit pulang. Padahal aku baru saja mau mengajaknya makan kue shortcake yang baru saja kita buat bersama” Ahreum memasukkan satu sendok shortcake dengan whip cream penuh ke bibirnya sambil berbicara dengan Sulli yang juga tengah membereskan dapur.

            “Ya, sepertinya sunbae kelihatan tidak sehat. Aku jadi khawatir padanya” ujar Sulli sambil mengelap piring – piring di atas meja.

            “Hei, Ahreum-ahh” Kai tiba-tiba muncul dan mengambil kue shortcake  di tangan Ahreum dengan serta merta.

            “Yakk!!! Oppa! Itu punyaku!”  Ahreum memukul-mukul bahu Kai dengan pelan, sementara Kai hanya terkekeh sambil tetap memakan kue Ahreum dengan ekspresi mengejek karena adik kecilnya itu terlalu pendek sehingga tidak bisa merebut kue di tangan Kai.

            “Hei, kalian berdua. Apa tugas Sosiologi kalian sudah selesai?” Tao dan Sehun muncul bersamaan dan ikut memakan kue Ahreum yang di pegang Kai. Mendengar itu membuat Ahreum lantas menepuk jidatnya. Ia benar-benar lupa dengan tugas sosiologi itu dan tugas itu harus di kumpulkan besok.

            “Tugas berkelompok itu ya? Aku sekelompok dengan Sulli. Sulli—ah, sudah hentikan melap piring itu, kita harus cepat mengerjakan tugas” Ahreum dengan cepat mengambil tangan Sulli dan mengajak gadis itu segera naik ke kamarnya untuk mengerjakan tugas itu. Kai, Tao dan Sehun tertawa melihat adik mereka yang nampak panik karena lupa mengerjakan tugas , raut wajah panic Ahreum benar-benar menggemaskan.

            “Padahal kita juga belum mengerjakan apa-apa” celetuk Sehun yang notabene satu kelompok dengan Tao.

            “Huh, aku satu kelompok dengan si gadis gila itu ” gerutu Kai begitu mengingat bahwa ia satu kelompok kembali dengan Yurin , hanya karena bangku mereka yang di anggap sejajar oleh seongsaenim.

            “Maksudmu Yurin?” Tanya Sehun, Kai mengangguk malas.

            “Lebih baik kau hubungi dia. Tanya apakah dia sudah mengerjakan tugas kalian” ujar Tao.

            “Okay. Tapi aku tidak yakin dia akan mengangkatnya mengingat gadis itu adalah Anti-EXO yang sangat kuat” Kai menghela nafasnya pelan kemudian mengambil ponselnya dari saku celana. Setelah mencari nomer kontak teman sekelasnya, lelaki itu menaruh ponselnya di telinga, menghubungi Yurin.

            “Yeobosey…..”

            “Ada apa coklat kering?” terdengar suara datar Yurin di seberang sana dan itu sukses membuat Tao dan Sehun terbahak mendengarnya.

            “Yaaa!!! Michin yeoja kau benar-benar menyebalkan! Sapaan macam itu?” teriak Kai di ponselnya.

            “Kalau tidak ada hal penting aku akan menutup ponselku….”

            “Hei, hei, jakkaman! Jangan ditutup dulu! Aku mau bertanya apakah kau sudah mengerjakan tugas kelompok kita?”

            “Tugas kelompok yang mana?”

            “Hei, kau amnesia?”

            “Memangnya kita satu kelompok?”

            “Yaaa!!! Lee Yurin ku bunuh kau!”

            “Kau yang kerjakan! Aku mau tidur! Bye~~” TUT~ TUT~ TUT~ Yurin memutuskan panggilan dengan sepihak dan semena-mena.

            “LEE YURIN !!!!” Teriak Kai gemas karena Yurin selalu saja memperlakukannya seperti ini. Tao dan Sehun tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi kesal Kai akibat perlakuan Yurin pada Kai. Baru kali ini Kai diputuskan panggilannya begitu saja, tentu saja ini melukai harga diri Kai sebagai playboy cap kucing di sekolah.

***

            “Memangnya apa tugas kita?” Kai sudah membuka komputernya berniat mengerjakan tugas sosiologinya dengan raut wajah malas.  Ia sebenarnya sangat malas mengerjakan tugas dan lebih suka terlambat mengumpulkan tugas, diantara semua EXO bersaudara memang Kai—lah yang punya sifat malas tingkat akut dan paling tidak tertarik dengan namanya tugas. Namun, berhubung guru Sosiologi adalah Kang seongsaenim yang terkenal galak dengan kumisnya yang sepanjang 3 centimeter itu, mau tidak mau membuat Kai harus mengerjakan tugas Sosiologi sialan ini. Ini semua karena Lee Yurin, batin Kai.

            “Mencari artikel kriminal yang terjadi di Korea lalu menganalisisnya. Setelah itu print dan kumpul di meja Kang seongsaenim besok. Gampang kan?” jawab Sehun yang malah sibuk memainkan bola basket di atas kasur Kai.

            “Well, itu mudah” gumam Kai, kemudian lelaki itu mulai membuka tab pencarian dan mengetikkan kata kunci “Kasus Kriminal Korea Paling Heboh” di kotak pencarian. Tidak lama, halaman internet menunjukkan  beberapa link artikel seperti yang Kai minta.

            “Pembobolan bank…… tidak berkelas” Kai menscrool down kembali layar komputernya.

            “Pembunuhan janda di klub malam… ya ampun…. Menggelikan”

            “Pedofil yang di tangkap…….. eohh~~ menjijikkan” Kai kembali menscroll down layar komputernya, mencari artikel yang menarik dan sesuai harapannya, hingga akhirnya ada satu link artikel yang cukup menyita perhatiannya.

            “Putri Presdir ditemukan di sekap di dalam hutan…. Well, kelihatannya menarik” Kai dengan cepat mengklik link tersebut.

            “Putri Presdir Shine Corp. berhasil di temukan pihak kepolisian setelah seminggu lamanya di sekap penculik yang tidak di kenal. Nona Lee ***** , yang merupakan putri presdir Lee ** ***** di temukan di sebuah pondok kecil di dalam hutan Yang seom , cukup jauh dari kota Seoul dalam keadaan tidak sadarkan diri meringkuk di bawah kolong tempat tidur dalam kondisi kedua tangan terikat”

            “Wow~~~ sepertinya seru. Tapi kenapa namanya di samarkan sih?” Kai mendadak menjadi penasaran, meskipun artikel tersebut adalah artikel lama melihat tanggalnya yang di publish tahun 2012. Kai pada akhirnya mencari arsip artikel di blog tersebut dan menemukan link menuju ke artikel selanjutnya. Tanpa ragu, Kai mengklik link ke artikel tersebut.

            “Nona Lee mengaku tidak ingat siapa penculiknya. Nona Lee menderita depresi yang parah pasca insiden penyekapan dirinya. Nona Lee di bawa keluarganya ke terapis karena di duga mengalami gangguan kejiwaan. Ayah Nona Lee mengatakan putrinya sering tertawa sendiri setiap malam. Nona Lee mengundurkan diri dari sekolah menengah tempatnya menuntut ilmu dan menjalani perawatan di salah satu rumah sakit jiwa di Seoul. Pihak keluarga mengatakan bahwa kasus Nona Lee sudah resmi di tutup dan pihak keluarga tidak ingin berurusan dengan penculik Nona Lee yang sampai saat kini belum tertangkap.” Kai sepertinya hanyut dalam bacaan artikel yang di bacanya, ia terus menscrooll down layar komputernya hingga akhirnya Kai tercekat begitu artikel yang di bacanya menampakkan foto Nona Lee yang merupakan korban penculikan. Kai benar-benar terkejut hingga rasanya ia ingin melompat dari kursi duduknya sekarang. Lelaki kurus dengan tubuh kecokelatan itu beberapa kali mengucek matanya, hanya untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.Lebih terkejut lagi ketika ia menzoom foto Nona Lee hingga memenuhi layar komputernya, Kai ingin berteriak saking terkejutnya, namun ia segera buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangannya, mencoba untuk mengendalikan dirinya yang di landa keterkejutan amat hebat akan apa yang baru saja di lihatnya.

            “Yurin?” gumam Kai , membulatkan matanya tidak percaya. Di komputernya sekarang terlihat foto Yurin yang tersenyum manis dengan rambut sebahu dan poni ratanya, ekspresi gadis itu riang dan ceria dengan mengenakan seragam sekolah menengahnya yang berwarna putih – kebiruan, sangat berbeda dengan Yurin—teman sekelas yang di kenalnya. Namun, Kai benar-benar yakin 100% bahwa itu adalah Yurin yang di kenalnya.

            “Wae hyung? Apa kau sudah menemukan artikelnya?” Sehun mendekat begitu merasa aneh dengan ekspresi Kai yang kelihatan terkejut. Kai dengan terburu-buru men-close tab komputernya agar Sehun tidak bisa melihat apa yang baru saja di lihatnya.

            “Ya, aku sudah menemukannya” jawab Kai dengan cepat.

            “Tapi mengapa ekspresi hyung mendadak pucat?” Tanya Sehun dengan tatapan menyelidik. Ia tidak pernah melihat Kai sepucat ini.

            “Gwechana. Aku akan segera mem-printnya” ujar Kai kemudian bangkit dan mengajak Sehun keluar. Ia tidak ingin Sehun mengetahui apa yang baru saja di bacanya. Kai masih di landa keterkejutan yang amat kuat, ia tidak menyangka. Itu benar – benar Yurin bukan? Gadis di foto itu adalah Yurin , kan? Yurin, gadis itu memiliki masa lalu yang teramat kelam……

***

            “Selamat pagi Yurin eonnie~” Hyeri yang duduk di meja makan berseru menyapa Yurin yang baru saja keluar dari kamarnya dengan memakai seragam sekolah dan sepertinya sudah berniat berangkat ke sekolah.

            “Selamat pagi juga, Hyeri—ah. Aku bibimu, bukan eonnie” Yurin mengelus lembut kepala keponakannya yang menggemaskan itu.

            “Apa tidurmu nyenyak?” Tanya Taeyeon yang sibuk menghidangkan sarapan di atas meja makan. Yurin mengangguk pelan,

            “Terima kasih sudah menyelimutiku semalam” jawab gadis dengan rambut panjang itu lantas mengambil tempat duduk di sebelah Hyeri.

            “Aku tahu persis kebiasaanmu tidur di bawah kolong tempat tidur itu. Ternyata kau belum berubah” ujar Taeyeon , Yurin hanya terdiam dan memperhatikan hidangan yang di sajikan Taeyeon di atas meja. Semuanya kelihatan enak, Yurin tahu mantan kakak iparnya ini cukup hebat dalam urusan masak memasak.

            “Makanlah sebelum berangkat. Aku membuatkanmu macaroni panggang~” ujar Taeyeon kemudian menyodorkan sepiring macaroni panggang kea rah Yurin. Yurin terdiam, ia tidak menyentuh macaroni itu malah terus menatap sepiring macaroni itu dengan tatapannya yang berubah sendu.

            “Yonghwa oppa suka macaroni panggang~” gumam gadis itu pelan. Mendengar itu, membuat Taeyeon tersentak. Ia tidak pernah ada maksud untuk mengingatkan Yurin dengan masa lalunya.

            “Mian. Aku tidak bermaksud membuatmu teringat dengan Yonghwa lagi~” Taeyeon merasa bersalah. Ia memang tidak ingin melihat mantan adik ipar sekaligus muridnya ini sedih kembali. Taeyeon tahu persis hal apa saja yang sudah pernah Yurin lalui, dan itu sangat berat untuk di lalui gadis se—belia Yurin.

            “Gwechana. Aku sudah terbiasa untuk bisa mengontrol perasaanku sendiri” Yurin menggelengkan kepalanya , ia tidak ingin membuat Taeyeon merasa bersalah.Gadis itu menyentuh piring macaroni dan memberanikan diri memasukkan seseondok macaroni ke dalam mulutnya, meskipun masih terkesan ragu-ragu.

            “Seperti biasa, masakanmu selalu enak “ puji Yurin meskipun ada nada bergetar di suara gadis itu saat mengatakannya. Setiap makan macaroni, ia selalu teringat pada Yonghwa. Yonghwa yang selalu datang menghampirinya di kelas dan membawakan sekotak macaroni untuk Yurin.

            “Aku selalu membuang macaroni pemberiannya. Aku benar-benar jahat” air mata Yurin akhirnya pecah , ia tidak sanggup menahannya lagi. Sangat menyakitkan baginya untuk mengingat Yonghwa lagi. Taeyeon bangkit dan menghampiri Yurin, kemudian memeluk gadis itu. Bagaimanapun, Yurin sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

            “Kau pasti bisa melupakan hal itu. Kau sudah berhasil keluar dari rumah sakit dan bertahan sampai sekarang. Kau pasti bisa melupakan segala trauma itu” Taeyeon mengelus punggung Yurin dengan lembut. Si kecil Hyeri hanya duduk memperhatikan. Ini kali pertama melihat bibi—nya itu menangis.

            “Eonnie~ uljima” Hyeri turut menyentuh lengan bibinya itu. Yurin menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. Ia tidak ingin terlihat cengeng dan menyedihkan di hadapan keponakannya.

            “Aku tidak menangis” ujar Yurin, kemudian kembali memasukkan sesendok penuh macaroni ke dalam mulutnya.

            “Nan gwechana” gumam gadis itu pelan. Taeyeon tersenyum dan mengelus puncak kepala Yurin dengan lembut. Ia merasa salut kepada muridnya satu ini, sangat tegar setelah begitu banyak kejadian buruk yang menimpa kehidupannya. Perceraiannya dengan kakak Yurin bukanlah mimpi yang terlalu buruk, namun apa yang sudah di lalui Yurin di usianya yang masih belasan tahun benar-benar adalah mimpi yang sangat buruk, Taeyeon mengerti akan hal itu.

            “Lusa adalah peringatan 3 tahun kematian Yonghwa oppa. Aku tidak boleh bersikap sedih seperti ini” gumam Yurin kembali, tatapan gadis itu memandang datar kea rah sepiring macaroni di depannya. Taeyeon kembali ke kursi makannya yang berhadapan dengan Yurin.

            “Sebenarnya aku ingin selalu menanyakan hal ini. Tapi…. Aku lebih khawatir pada perasaan dan emosinalmu sehingga aku selalu mengurungkan niatku untuk bertanya” ujar Taeyeon dan menyantap macaroni buatannya setelah di siram saus tomat , lalu wanita berambut pendek itu menatap ragu kea rah Yurin.

            “Sebenarnya… kau mengingat siapa pembunuh Yonghwa kan? Juga…. Orang-orang jahat yang sudah menculikmu……..” Tanya Taeyeon dengan ragu-ragu. Yurin terdiam. Gadis itu berhenti mengunyah. Tatapan kosong terlihat dalam kedua bola mata gadis itu.

            “Sudahlah, sayang… kau tidak perlu menjawabnya. Yang harus kau lakukan adalah melupakan satu per satu ingatan buruk itu. Kau tidak perlu memikirkan ucapanku lagi” Taeyeon buru-buru tersenyum dan meraih tangan muridnya itu dengan lembut. Sekali lagi, ia menyalahkan dirinya karena sudah mengajukan pertanyaan bodoh. Ia tidak boleh menyinggung masa lalu lagi. Tidak boleh.

            “Gomawo”  gumam Yurin pelan. Ia menghentikan aktivitas sarapannya. Ia rasa setengah piring macaroni sudah cukup untuk mengisi perutnya. Taeyeon benar, ia tidak boleh teringat hal-hal buruk lagi. Ia harus bisa melupakan semuanya. Ia harus mampu memperbaiki hidupnya setelah apa yang terjadi.

            TING TONG TING TONG

            Suara bel depan rumah berbunyi.

            “Tumben ada tamu sepagi ini. Paling hanya pengantar susu” gumam Taeyeon kemudian mengikat rambut pendeknya ke atas bersiap untuk bangkit kea rah pintu, namun Yurin sudah terlebih dahulu bangkit dan berkata,

            “Biar aku saja. Kau lanjutkan saja sarapanmu bersama Hyeri” ujar Yurin kemudian mengambil ranselnya dan bersiap menuju pintu depan. Taeyeon mengerti dan wanita bertubuh mungil itu kembali di posisi duduknya, melanjutkan sarapannya bersama putri semata wayangnya, Hyeri.

            Yurin melangkah menuju pintu depan dengan santainya gadis itu membuka pintu dengan wajah datarnya seperti biasa. Kening gadis itu berkerut begitu melihat ada  pot bunga mawar besar berwarna merah tergeletak begitu saja di depan pintu tanpa ada kemunculan seseorang yang mengantarnya.

            “Whats? Big Red Roses?” gumam gadis itu dengan wajah acuhnya, perhatian Yurin kemudian teralih kea rah sepuck surat berwarna putih yang terselip diantara salah satu tangkai bunga mawar. Dengan pelan-pelan gadis itu meraih surat itu karea berhati-hati siapa tahu tertusuk duri mawar.

            “Dear My Lady. Semoga harimu menyenangkan. Aku harap kau tidak membuang bunga ini seperti bunga-bunga yang selalu ku berikan padamu . Tolong hargai sedikit usahaku. Aku tidak akan menyerah. Tidak akan, jadi berhenti menyuruhku menyerah. Oh ya, aku juga menitip salam untuk putrimu Hyeri. Terima kasih sudah mengenalkannya padaku tempo hari. Tapi aku tidak suka kau menyebutku sebagai muridmu hari itu. Tidak bisakah,….. kau menganggapku sebagai lelaki  Setidaknya sekali saja….”

            “Heoll…… surat norak macam apa ini?” gumam Yurin yang merasa bergidik begitu membaca isinya. Ia tahu, surat dan pot bunga besar ini untuk Kim Taeyeon. Tapi, siapa orang norak semenggelikan ini yang mengirimkannya?

            Yurin melipat surat itu dan kemudian mengedarkan pandangannya keluar jalan, mencari hal-hal yang mencurigakan dan saat itulah Yurin menangkap penampakan mobil sport warna merah yang terparkir tidak jauh dari rumah Taeyeon, sekitar 5 m dari tempatnya berdiri sekarang. Yurin menyeringai kecil melihat mobil itu, ia tahu persis siapa pemilik mobil sport merah itu.

            “Heoll~ menggelikan, Byun Baekhyun. Jadi sekarang kau menaksir guru mu sendiri. ” gumam Yurin dengan ekspresi datarnya. Ia yakin seyakinnya bahwa orang yang membawa bunga mawar besar dan surat super duper norak itu adalah Baekhyun, salah satu EXO—bersaudara sekaligus seniornya. Jadi, Baekhyun menaruh hati pada Kim Taeyeon? Yurin rasanya ingin tertawa dalam hati. Tidak ia sangka, mantan kakak iparnya itu boleh juga hingga bisa membuat muridnya sendiri jatuh cinta padanya, apalagi Baekhyun adalah salah satu murid yang terkenal bengal di sekolah. Ini menggelikan sekali, bagi Yurin.

            “Siapa yang datang?” Taeyeon muncul dari balik pintu karena merasa aneh Yurin belum juga kembali masuk ke dalam. Sebelum wanita itu melangkah keluar, Yurin buru-buru kembali ke teras rumah dan menyembunyikan surat yang dari tadi di pegangnya.

            “Bukan siapa-siapa” jawab Yurin cepat sambil menggelengkan kepalanya.

            “Jinjja?? Lalu apa itu?” Tanya Taeyeon sambil menunjuk pot bunga dengan mawar besar yang merekah di samping kaki Yurin.

            “Eoh…. Ini untuk tetangga sebelah……… pengirim barang tadi salah mengenali rumah dan menyuruhku memberikannya pada rumah Kang. Kau tahu kan kalau rumah sebelah sangat suka dan berkebun” jawab Yurin asal sambil menggaruk tengkunya yang tidak terasa gatal.

            “Jinjja? Jadi bunga itu bukan untuk kita?” Tanya Taeyeon sambil memicingka mata sipitnya kea rah Yurin yang terlihat melakukan gesture mencurigakan.

            “Kau tidak percaya padaku, huh?” Yurin kembali memasang ekspresi datarnya,

            “memangnya kau pikir siapa yang sudi mau mengirimi guru kekanakan sepertimu bunga” lanjut Yurin sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Tentu saja , ucapan Yurin membuat Taeyeon hanya bisa menelan ludah. Ya, ia tidak akan pernah bisa menang melawan mantan adik iparnya ini.

            “Kau…. Punya pacar lagi?” Tanya Yurin dengan gamblangnya, membuat Taeyeon tentu saja terkejut setengah mati.

            “Hei, anak nakal. Bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu?” Taeyeon terlihat gugup dan itu justru membuat Yurin semakin semangat untuk menggoda mantan kakak iparnya ini.

            “ekspresimu itu seakan kau mengharapkan kalau bunga ini di tujukan untukmu” lanjut Yurin dan dengan gaya acuhnya menendang kecil pot bunga di sampingnya.

            “Aku….. tidak….. ah…. Sudahlah….. sebaiknya kau cepat bergegas ke sekolah jika tidak ingin terlambat” Taeyeon terlihat gugup dan salah tingkah, hampir saja membuat Yurin tertawa. Yurin tertawa kecil dalam hatinya. Sifat isengnya sedang kambuh , jadi dia mengerjai Taeyeon dengan begitu saja. Huh, jadi Byun Baekhyun sedang mengincar Kim Taeyeon? Huh, sudah Yurin duga semua anggota EXO tidak memiliki otak yang beres.

***

            “Aahh~~~ pagi yang indah~” Ahreum merentangkan kedua lengannya dengan lebar saat memasuki gerbang sekolah. Gadis dengan rambut tercepol sederhana itu menghirup udara pagi sekolah dan tersenyum damai, sebuah kebiasaan yang hampir di lakukan Ahreum setiap datang ke sekolah. Para EXO tersenyum kecil melihat tingkah adik mereka yang terlihat begitu menggemaskan sekarang. Ah, kapan sih Ahreum tidak membuat para EXO gemas?

            “Hei, Ahreummie, tugas sosiologi mu sudah selesai belum?” Tao menghampiri Ahreum sambil memainkan lollipop di mulutnya. Ahreum mengangguk dengan semangat.

            “Sudah kok, Oppa. Aku dan Sulli begadang semalaman mengerjakannya. Ternyata menganilisis artikel itu sangat menyusahkan. Lihat saja mataku sekarang sudah seperti mata oppa” Ahreum mengerucutkan bibirnya dengan sengaja, lalu menunjuk kantung matanya dan kemudian membandingkannya dengan kantung mata Tao yang membuat lelaki itu tercengang. Hei, sejak kapan adik kecilnya ini jadi iseng begini?

            “Hei, kau sudah mulai berani ya pada Oppa. Ini trademark—ku tahu!” Tao menunjuk kantung matanya yang menghitam membuat Ahreum terkikik kecil karena sudah berhasil menggoda Tao.

            “TRADEMARK PANDA!! HAHAHAHA” Sehun dan Chanyeol berteriak dari belakang dan tertawa terbahak-bahak, ikut menggoda Tao yang sudah memasang wajah merenggutnya.

            “AKU BUKAN PANDA!” Tao berteriak frustasi dan mengacungkan permen lolipopnya kea rah Sehun dan Chanyeol. Tapi Sehun dan Chanyeol malah semakin asik menggoda Tao dengan mengatakan kalau Tao itu Panda Cina yang minum tebu (?) well, Ahreum tidak mengerti dengan maksud kosakata itu. Bukannya panda memang makan tebu?

            “Ya! Kalian, tidak bisakah diam sebentar. Sebentar lagi bel masuk akan mulai” Suho mulai bertingkah layaknya anak tertua, lelaki dengan tubuh atletis itu menarik Tao dan menjitak pelan kepala Sehun dan Chanyeol yang masih sibuk menertawakan Tao dengan segala sisi ke—pandaannya (?).

            Ahreum tersenyum dengan mata bulan sabitnya menyaksikan tingkah laku para Oppa—nya. Setiap hari ia menyaksikan para Oppa—nya itu bertengkar, tertawa dan bermain bersama, dan Ahreum tidak pernah bosan untuk menyaksikan itu semua. Lagi-lagi Ahreum merasa beruntung karena ia menerima adopsi hingga bisa menjadi saudari para EXO bersaudara.

            “Annyeong, Ahreum” sebuah suara membuyarkan lamunan Ahreum yang dari tadi tersenyum menyaksikan keakraban para Oppa—nya. Gadis itu menoleh dan menemukan Choi Minho sedang berdiri di sampingnya dan menepuk pelan pundaknya.

            “Oh, apakah aku mengagetkanmu?” Tanya lelaki jangkung itu hati-hati. Well, Minho kelihatan semakin berbeda sekarang, dalam artian penampilan lelaki itu. Lelaki itu kelihatan semakin tampan dan stylish dengan potongan rambut cepak dan seragam rapi yang pas di badan atletisnya, lelaki itu juga tidak mengenakan kacamata butut lagi, sangat jauh sejak pertama kali Ahreum melihat Minho—si Frog01 –murid culun yang terobsesi dengan katak dan laboraturium. Tapi dari segi tingkah laku dan nada bicara, Minho sama sekali tidak berubah. Masih kaku dan canggung apalagi jika berhadapan dengan Ahreum.

            “Anni~ waeyo?” Ahreum menggelengkan kepalanya pelan dan kembali memasang senyum bulan sabitnya, oh, Minho bersumpah bahwa itu adalah senyum termanis dan terimut yang pernah ia lihat! ><

            “Errr…. Anni….. aku hanya ingin bersama-sama ke kelas…. Ya…. Meskipun kelas kita berbeda sih…. Tapi kita kan satu arah……” ucapan canggung nan kikuk Minho terpotong begitu ia merasakan ada aura buruk menyelubunginya seketika. Dan yang benar saja! Ternyata kedua belas EXO dari tadi melayangkan tatapan membunuh kea rah Minho yang dengan berani-beraninya mengajak Ahreum bicara! Ah~ Minho merutuki dirinya yang tidak melihat kalau ternyata para EXO masih berkeliaran di sekitar Ahreum saat memasuki gerbang sekolah.

            Glek!

            Minho menelan ludahnya sendiri melihat tatapan haus darah para EXO yang seakan sudah siap meremukkan Minho jika lelaki itu berani mengajak Ahreum ke kelas bersamanya. Chen dan Lay bahkan membuat nyali Minho makin ciut dengan mengayun-ayunkan tongkat baseball mereka ke udara. Ukh~ Sial!, batin Minho.

            “Boleh saja” Ahreum akhirnya menjawab dengan sebuah senyuman bersemangat terukir di bibir manis gadis itu. Tentu saja, itu mengejutkan para EXO yang sedari tadi berdiri di belakang Ahreum dan memasang death glare kea rah Minho.

            “Eh?” Minho tersentak, padahal tadinya dia mau kabur saja, takut kehadirannya semakin membuat para EXO kesal dan mengamuk padanya.

            Ahreum berbalik dan melambaikan tangannya kea rah para oppa—nya dengan senyum ceria, “ Oppa aku duluan ya!” kemudian gadis bertubuh mungil itu menepuk punggung Minho “kajja~~ sebentar lagi bel masuk” lalu berjalan memasuki gedung sekolah dengan riang gembira , meninggalkan kedua belas EXO dengan tangan masing-masing tergantung ke udara,  mereka melambaikan tangan pada Ahreum—adik kecil mereka itu. Namun semua ekspresi mereka sama, sama-sama tidak suka melihat Ahreum berjalan beriringan dengan si Choi Minho sialan itu. Ukh~ dasar anak culun sialan! Lihat saja nanti~

***

            Seohyun menyaksikan semuanya….

            Gadis berambut panjang dengan kepangan kecil yang menjuntai mengitari rambutnya dengan indah berdiri di atas balkon sekolah, mengamati apa yang baru saja ia lihat di depan gerbang sekolah. Ahreum yang di kerubungi kedua belas EXO dan tertawa penuh kebahagiaan~ cih~ mereka semua terlihat sangat akrab. Dan apa-apaan semua itu, semua EXO memperlakukan Ahreum layaknya hal paling berharga yang mereka miliki. Menyebalkan! Hanya karena bisa memiliki saudara-saudara popular seperti EXO…..

            Perasaan iri itu semakin membuncah di dada Seohyun. Ia memang paling tidak bisa melihat hal seperti ini. Padahal kalau di pikir-pikir, semua ini sudah lebih dari cukup. Kehidupannya sudah berubah 180 derajat seperti yang ia harapkan. Ia memiliki status social yang bagus, ketenaran, orang-orang memandangnya sebagai Dewi Dangwon yang terhormat, kecantikan yang menyilaukan dan ia mempunyai uang. Semuanya sudah seperti apa yang Seohyun inginkan, semua orang tidak bisa memandang rendah dirinya lagi seperti dulu. Tapi, Seohyun selalu menginginkan hal lebih….

            “Aku …. Tidak pernah di perlakukan seistemewa itu….” Batin Seohyun menatap Ahreum dan para EXO sambil meremas rok seragamnya….

***

            Yurin melangkah memasuki koridor sekolah sambil memainkan i-pod di tangannya. Dan saat itu pulalah, ia berpapasan dengan Kai yang muncul dari balik lorong sebelah, sepertinya lelaki itu habis dari ruang guru. Yurin membuka headset putih yang dari tadi menyumpal telinganya dan menahan Kai yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya.

            “Hei, Kim Jong In. Tugas sosiologi kita….. kau sudah mengumpulkannya?” Tanya Yurin. Kai mengangkat wajahnya dan melihat Yurin yang sedang menyentuh lengannya dan berbicara padanya. Kai terdiam, tidak menjawab pertanyaan Yurin. Lelaki itu malah sibuk memperhatikan Yurin dengan tatapan yang Yurin sendiri tidak mengerti apa maksudnya.

            “Kai…. Yak!! Kim Jong In coklat kering….” Yurin mengibaskan tangannya di depan wajah Kai . Namun Kai tidak memberikan respon, ia masih menatap  Yurin dengan tatapan yang sulit artikan. Melihat tingkah Kai yang terus menatapnya membuat perasaan Yurin tidak enak, dan ya, ia merasa aneh terus di tatapi seperti itu. Sepertinya Kai sedang sakit atau lupa minum obat. Ah~ atau mungkin Kai marah padanya karena ia mengabaikannya saat menelpon kemarin, batin Yurin.

            “Kau marah padaku?” Tanya Yurin hati-hati.

            “Ya~ aku tahu aku salah karena tidak membantumu mengerjakan tugas sosiologi itu dan mengabaikan teleponmu kemarin. Sudah sepantasnya kau marah padaku” gumam Yurin pelan dan menundukkan wajahnya, merasa bersalah. Seutas senyuman muncul di bibir Kai begitu melihat Yurin menundukkan kepalanya. Ini pertama kalinya ia melihat si gadis datar ini merasa bersalah, dan itu cukup lucu bagi Kai. Senyuman Kai hilang begitu ia mengingat kembali artikel yang kemarin di bacanya. Berapa kali ia membaca artikel di komputernya kemarin dan ia yakin bahwa gadis yang dimaksudkan di artikel itu adalah Lee Yurin, gadis yang sekarang berdiri di depannya. Tatapan Kai menyiratkan rasa kasihan yang amat dalam kea rah Yurin. Sekarang ia tahu alasan mengapa Yurin memiliki masalah kejiwaan yang tidak stabil dan mengapa orang-orang mengatakan Yurin adalah gadis gila karena suka tertawa sendiri jika melihat hal-hal yang di bencinya. Apa yang sudah gadis ini lalui di masa lalu terlalu menyedihkan….

            “Hei, sepertinya kau sudah tidak membenciku” sahut Kai pada akhirnya setelah lama terdiam. Mendengar Kai yang membuka suaranya membuat Yurin mengangkat kepalanya yang sedari tadi di biarkan menunduk.

            “Mwo?”

            “Biasanya kalau kau melihatku atau melihat EXO kau akan mulai tertawa hahahahihihi dan berubah menjadi gadis gila yang menyeramkan” lanjut Kai sambil memperagakan tawa horror Yurin ketika kondisi kejiwaannya berubah.

            Alis Yurin mengerut melihat Kai yang sedang memperagakan suara tawanya. Tapi apa Kai yang ucapkan ada benarnya juga, Yurin sendiri baru sadar akan hal itu. Biasanya jika melihat Kai dan para EXO yang ia benci emosinya menjadi tidak stabil dan ia akan berubah menjadi ‘orang lain’—gadis gila yang suka tertawa di sana sini dan melakukan hal-hal tidak jelas. Tapi, sudah berapa kali ia bertemu dan berbicara dengan para EXO, namun penyakit gilanya tidak kunjung kambuh seperti dulu.

            “Aku sudah bisa mengedalikan perasaanku” jawab Yurin pelan. Kai tersenyum,

            “Itu bagus.” Sahut Kai.

            “Tapi aku rasa bukan hanya karena itu. Kau sudah tidak membenci kami , para EXO. Makanya, penyakit gilamu itu tidak datang bahkan saat kau sedang berbicara denganku seperti ini” Kai melangkah mendekat kea rah Yurin dan menyentuh dahi Yurin dengan telunjuknya. Yurin terdiam. Ia sendiri baru menyadarinya. Biasanya ia sangat benci dengan mahkluk bernama Kai dan para saudaranya yang  sok keren bernama EXO itu, biasanya ia tidak bisa mengendalikan perasaannya jika sudah bertemu para EXO dan ia akan sibuk tertawa seperti orang gila saking bencinya ia dengan para EXO, namun sekarang semuanya lain. Ia merasa normal, bahkan ketika Kai menyentuh dahinya dengan telunjuk seperti ini ia tidak merasakan apapun. Mungkinkah……. Ia sudah bisa menerima para EXO????

            “Kau tahu Lee Yurin, seberapa besar kau membenciku dan para saudaraku, aku tidak akan pernah membencimu.” Lanjut Kai yang entah mengapa sekarang tangannya berpindah mengelus puncak kepala Yurin. Yurin tersentak, merasakan tangan Kai di kepalanya. Sudah lama sekali……….. sudah lama sekali ia tidak merasakan kepalanya di elus seperti ini.

            “Karena kau adalah temanku, arra” Kai menundukkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Yurin dan memasang senyum tulusnya di depan gadis itu. Yurin terdiam. Semburat-semburat merah muda meletup di pipi gadis itu, menyelimuti wajah putih pucatnya. Ada apa ini? Kenapa Kai mendadak berubah sebaik ini padanya? Yurin tidak mengerti………………..

***

            “Hei, apakah aku sudah terlihat  cantik?” Jessica tidak henti mematut dirinya di depan cermin toilet sekolah dan mengusap bibirnya yang sudah berkilau akibat lipgloss limited edition baru yang di belinya. Tiffany, sahabat karib no.1 nya itu mengangguk sambil memakan buah apel di samping gadis bertubuh semampai itu.

            “Kau selalu cantik” puji Tiffany. Jessica mengibaskan rambut blondenya bak model,

            “Kalau itu aku juga tahu. Tapi apakah kali ini aku terlihat sangat sangat double double triple triple cantik?” Tanya Jessica lagi dengan gaya kebarat-baratannya yang aneh dan kali ini Tiffany sukses dibuat mual akibat mendengar pertanyaan Jessica. Tiffany diam-diam memalingkan wajahnya dan memutar bola matanya sambil memasang ekspresi akan muntah.

            “Hei, kau kenapa?” Jessica melayangkan tatapan killernya ke Tiffany yang terlihat mencurigakan, Tiffany buru-buru memasang senyumnya kembali hingga matanya itu berbentuk bulan sabit dan berkata,

            “Anniyo, kau sangat sangat amat teramat cantik.” Puji Tiffany memaksakan senyumnya. Tiffany tahu , Jessica sangat senang dengan segala bentuk pujian. Gila pujian dan hormat, Tiffany tahu betul sifat mendarah daging Queenka nomer satu di depannya ini.

            “Tapi…. Cantik saja tidak cukup untuk membuatnya suka padaku” lanjut Jessica, menyisir rambut pirangnya dengan tangan dan masih mematut dirinya di depan cermin.

            “Kau benar-benar menyukai Kris?” kali ini Tiffany yang bertanya.

            “Kalau itu tidak perlu di pertanyakan lagi. Aku benar-benar menyukainya. Dia sangat tampan dan juga dingin. Diantara seluruh EXO, hanya dia yang mencuri perhatianku. Bayangkan kalau aku dan Kris bersatu, kami akan menjadi pasangan terserasi di sekolah, Kingka dan Queenka Dangwon yang tak terkalahkan. “ Jessica tersenyum girang sambil membayangkan jika benar dirinya bisa berpacaran dengan Kris dan membuat seisi sekolahan gempar, bukankah itu sangat hebat? Jessica masih berkutat dengan segala khayalannya , namun ucapan Tiffany pada akhirnya merusak segalanya.

            “Tapi, Kris tidak menyukaimu” Jessica benar-benar ingin menjambak rambut sahabatnya itu yang sangat polos dan jujur.

            “Yaa!!! Tiff, kau mau aku tendang, huh?”  Well, Jessica terlihat mengerikan ketika dia marah, dan Tiffany tidak mau menjadi sasaran tending gadis itu.

            “Aku juga heran kenapa pertahanan Kris begitu kuat, huh? Kenapa dia bisa-bisa mencueki gadis secantik aku?” Jessica memasang wajah merengutnya dan memungguni cermin. Tiffany hanya mendengus, ingin sekali rasanya ia mengatakan kalau Kris tentu tidak mau bersama gadis berkepribadian buruk seperti Jessica namun ia berusaha menahan mulutnya atau kali tidak kali ini Jessica benar-benar akan menendangnya.

            “Aku harus membuat Kris menjadi milikku. Dengan begitu aku baru bisa tenang” gumam Jessica, terdengar ambisius hingga membuat bulu kuduk Tiffany berdiri sendiri.

            “Tapi bagaimana caranya?”

            “Makanya, kau harus membantuku berpikir . Bergunalah sedikit” sindir Jessica kea rah Tiffany. Tiffany memutar bola matanya sekali lagi. Gadis itu memainkan kuku-kuku cantiknya, seperti sedang memikirkan sesuatu.

            “Bagaimana kalau begini saja…….” Ucap Tiffany pada akhirnya, gadis itu menjentikkan jarinya.

            “Begini apanya?” Tanya Jessica bingung. Tiffany tersenyum misterius dan kemudian membisikkan sesuatu ke telinga sahabatnya.

            “Eotte? Ide bagus bukan?”

            “Itu terdengar gila…… tapi….. juga bagus. Tiffany Hwang, untuk pertama kalinya otakmu ada gunanya juga” ujar Jessica sambil tersenyum penuh kemenangan.

***

            “SEHUN OPPAAAAA !! SARANGHAEYOOOOO!!! NEOMU JOAHEYO~~~ OPPA MENIKAHLAH DENGANKUUUUUUUUU” Teriakan para hoobae dari segala penjuru kelas menggema di depan kelas 2-1 , para gadis-gadis junior dengan rok pendek sepaha itu kompak menempel di depan pintu demi bisa melihat sang pangeran tampan—salah satu EXO, Oh Sehun sedang tertidur pulas di mejanya.

            “AAAAAAAA~~~ TAMPAN SEKALIIII!!!! AKU BISA GILAAAAAA~~~ OPPAAA” Para hoobae itu berteriak seperti orang kesetanan melihat Sehun yang tertidur di atas bangkunya , lelaki itu sangat tampan jika bisa di lihat dari jarak sedekat ini dan itu surge bagi para EXOlove dan pengikut Sehun.

            Yurin menutup kupingnya dengan kedua tangannya rapat-rapat, jengah atas teriakan para adik kelas menyebalkan itu yang membuat keributan di depan kelasnya. Sekali lagi Yurin merutuki nasibnya yang harus satu kelas dengan beberapa member EXO, membuatnya bahkan tidak bisa merasakan ketenangan di kelas sendiri. Dan Yurin hanya bisa mencibir melihat bagaimana Oh Sehun dengan santainya bisa tertidur padahal suasana sangat bising dan ribut akibat ulah para penggemar gilanya di luar sana itu.

            “Ahreum—ah, bisakah kau membangunkan saudara sialanmu itu dan membawanya pergi bersama para hoobae gila di luar sana?” Tanya Yurin kepada teman sebangkunya, Ahreum yang sibuk membaca buku pelajaran yang entah apa.

Ahreum menatap bangku Sehun, oppa—nya itu sedang tidur dengan damainya.

            “Aku tidak enak Yurin—ah. Sehun oppa tidurnya sangat pulas” gumam Ahreum, meskipun ia sendiri merasakan kupingnya sakit akibat teriakan para EXOlove di luar sana namum ia sungguh tidak tega membangunkan Oppa—nya itu.  Yurin mendengus, kemudian gadis itu merobek salah satu kertas dari bukunya kemudian melemparnya kea rah Sehun dengan sengaja.

            “Awww~~” Sehun mengelus kepalanya begitu merasakan bola kertas mendarat di atas kepalanya dengan sempurna yang sudah mengusik tidur indahnya. Lelaki itu bangun dalam posisi terduduk dan mengedarkan pandangannya ke seisi kelas  mencari siapa pelaku yang sudah melemparnya dengan bola kertas dan saat ia berbalik, ia menemukan Yurin yang sudah siap melemparnya kembali dengan bola kertas kedua.

            “Oh…. Lee Yurin! Apa yang kau lakukan, huh?” Sehun bangkit dan berjalan kea rah bangku adiknya Ahreum yang notabene juga merupakan bangku Yurin karena mereka berdua sebangku.

            “Aku? Aku mencoba membangunkanmu” jawab Yurin dengan santainya.

            “Kau mengusik tidurku.”

            “Kau dan para fansmu itu mengusik telingaku. Cepat bawa fans-fans mu itu menjauh dari kelas sebelum aku menyumpal satu per satu mulut mereka dengan acar timun” Yurin bangkit dari kursinya, sekarang wajahnya sejajar dengan Sehun dan mereka lebih mirip dua orang yang sedang beradu mulut sekarang.

            “Sudah, Oppa dan Yurin jangan bertengkar” Ahreum turut bangkit dari kursinya, melerai perdebatan Sehun dan Yurin.

            “Temanmu ini sudah merusak tidurku, Ahreum—ah. Kau tahu betapa susahnya aku tidur belakangan ini”ujar Sehun.

            “Ya, aku tahu oppa. Tapi…. Para fans – fans oppa diluar sana juga sangat berisik. Mereka hanya diam jika Oppa menampakkan diri” Yurin tersenyum mengejek kea rah Sehun mendengar Ahreum yang seakan mendukung ucapannya.

            “Kau dengar, bahkan Ahreum tidak tahan mendengar teriakan mereka. Cih” ujar Yurin. Sehun melayangkan pandangannya kea rah pintu dimana banyak fans yang bergerombol meneriakkan namanya. Sehun menatap mereka semua dengan tatapan malas.

            “Memangnya itu salahku? Aku tidak menyuruh mereka datang ke sini dan meneriakkan namaku. Mereka datang dan ribut sendiri. Jadi, aku tidak punya urusan….” Ujar Sehun dengan santainya kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku dengan cueknya.

            “Mwo?” Yurin melayangkan tatapan sinisnya kea rah Sehun.

            “Aku tidak pernah meminta mereka menyukai atau mengidolakanku. Kenapa aku harus menemui mereka?? Mereka tidak pent……..” Sehun tidak melanjutkan ucapannya begitu melihat tatapan kosong yang dilayangkan Yurin padanya. Gadis itu seperti boneka hidup dengan cahaya matanya yang terlihat meredup.

            Yurin seperti merasa dejavu mendengar ucapan Sehun barusan. Ucapan yang Sehun katakan, sama persis dengan ucapannya di masa lalu…….

            “Aku tidak pernah menyuruh Oppa menyukaiku. Jadi jangan salahkan aku jika aku melakukan ini. “ ingatan Yurin kembali melayang saat ia bertemu dengan Yonghwa di taman sekolah dan dengan seenaknya membuang  buket bunga di tangannya di depan wajah Yonghwa yang nampak shock atas perlakuan yang Yurin lakukan.

            Yurin menutup matanya kuat-kuat dan meremas rok seragamnya. Sungguh~~ ia tidak ingin mengingat hal itu lagi~~~~~~ tidak ingin.

            “Yurin—ah, gwechana?” Ahreum menyentuh pundak sahabatnya itu, sementara Sehun menatap khawatir. Ia tahu ucapannya barusan itu salah.

            Yurin membuka kedua matanya. Wajah gadis itu pucat. Yurin menatap Sehun yang masih berdiri di depannya,

            “Kau harus menyayangi orang yang menyukaimu dengan sepenuh hati. Atau kalau tidak ~ kau akan menyesal” ujar Yurin pelan, kemudian gadis itu menyambar ponsel dan headsetnya di atas meja lalu berlalu keluar kelas. Sehun terdiam. Ucapan Yurin barusan benar-benar tepat mengenai dalam hatinya. Sehun berbalik, menatap sosok Yurin yang membuka pintu dan menyerobot para  fans Sehun diikuti Ahreum dari belakang dengan tatapan yang sulit di artikan.

***

            “Yurin—ah, apa kau sakit? Kau terlihat pucat” Ahreum menyuguhkan sebotol air mineral kea rah sahabatnya Yurin yang terduduk di kursi taman sekolah. Yurin menerima botol air itu dan berusaha menyunggingkan senyumnya di depan Ahreum,

            “Nan gwechana. Jinjja” jawab Yurin. Angin bertiup menerpa rambut panjang gadis berkulit pucat itu. Ahreum duduk di samping Yurin , mengambil posisi. Ahreum tahu, ketika Yurin mengatakan tidak apa-apa, bukan berarti memang tidak apa-apa. Meskipun sudah menjadi teman baik, namun Yurin masih menjadi sosok gadis misterius di mata Ahreum. Yurin terlalu banyak menyembunyikan sesuatu, sesuatu yang sepertinya memberatkan gadis itu. Yurin masih tidak mau terbuka atas kehidupannya. Yurin seperti sebuah kamar yang di pasangi banyak sekat, sulit untuk menerka gadis di sampingnya ini.

            “Kau tahu, aku akan selalu ada jika kau membutuhkanku. Tidak peduli apa yang terjadi padamu, aku akan berusaha keras agar kau bisa terus tersenyum. Kesulitan apapun, aku ingin kau membaginya padaku.” Ahreum meraih tangan Yurin dan menatap gadis itu dengan wajah serius.

            Yurin terkekeh kecil, melihat bagaimana seriusnya Ahreum mengambil tangannya dan memasang wajah seperti itu.

            “Kata-katamu itu…. Seperti malaikat saja….” Gumam Yurin , masih terkekeh pelan. Ahreum mengerutkan keningnya.

            “Malaikat di film-film selalu mengatakan hal seperti itu ketika bertemu manusia di bumi. ‘Aku ingin kau tersenyum’ , ‘ Aku ingin kau membaginya denganku’. “ lanjut Yurin memperjelas ucapannya.

            “Aku bukanlah malaikat……. Tapi berjanjilah untuk membagi apapun masalahmu kepadaku. Bukankah kita teman? Janji?” Ahreum mengacungkan kelingkingnya kea rah Yurin dengan polosnya, membuat Yurin terhenyak. Ahreum……. Gadis ini benar-benar memiliki ketulusan. Rasanya, Yurin ingin menitikkan air mata terharunya karena mempunyai teman yang tulus seperti Ahreum , padahal sebelumnya ia tidak pernah mempunyai teman seorang pun.

            Dia seperti malaikat. Benar-benar malaikat.

            Malaikat yang di kirim tuhan sebagai hadiah bukan hanya untuk para EXO, tapi juga untuk Yurin.

            “Ya, janji.” Yurin mengulum senyumnya dan mengaitkan jarinya ke jari Ahreum lalu tertawa bersama.

            Karena kau adalah temanku yang berharga……

 

***

            “Yifan-ah!!! Yifan-ah!! Lihat ~~~ itu kupu-kupu~ “Na Bi kecil terlihat meloncat di atas padang rumput sambil tak henti-hentinya berlari mengikuti kupu-kupu warna – warni yang terbang di sepanjang padang rumput.

            “kupu-kupu nya banyak sekali” Na Bi berteriak girang sambil sesekali menoleh kea rah anak lelaki bercelana pendek yang sedang duduk di bawah pohon sambil tersenyum. Anak lelaki itu, Wu Yi fan tidak pernah menghilangkan senyum dari wajahnya melihat begitu bahagianya Na Bi bisa mengejar kupu-kupu sebanyak itu. Sama seperti nama gadis itu – Na Bi – yang berarti kupu- kupu — Na Bi sangat menyukai dan bahkan terobsesi dengan binatang kecil yang indah itu.

            “Hati-hati Na Bi—ah. Nanti kau jatuh” Yifan bangkit dari duduknya begitu melihat Na Bi berlari terlalu semangat sampai-sampai tidak memperhatikan langkahnya.

            “Kalau aku jatuh, bukankah kau akan datang menolongku…… huahhhhhhh~~~” Na Bi yang terus menengok kea rah Yifan dan tidak memperhatikan langkahnya dan kali ini gadis itu terjatuh akibat batu besar yang mengganjal kakinya.

            “Na Bi—–ah!!!” Yifan terkejut begitu melihat Na Bi terjatuh. Anak lelaki itu berlari kea rah padang rumput yang meninggi hingga seukuran dada orang dewasa dan ia tidak menemukan Na Bi dimana pun.

            “Na Bi!!! Lee Na Bi!! Dimana kau???” teriak Yifan khawatir.

            “Na Bi! Apakah kau baik-baik saja~ Hei, ini tidak lucu” Yifan sangat khawatir hingga rasanya ia kesulitan bernafas. Ia tidak menemukan keberadaan Na Bi dan gadis kecil itu tidak menjawab teriakannya.

            “Aku disini Yifan—ah…” Yifan sontak berbalik begitu mendapati Na Bi berdiri di tengah-tengah padang rumput dengan keadaan yang sangat aneh. Gaun putih gadis itu kotor dan lusuh, rambut gadis itu berantakan dan wajahnya basah penuh air mata. Yang paling mengejutkan adalah Yifan melihat darah di sekujur tubuh gadis itu hingga mengotori kulit dan gaunnya.

            “Na Bi —ah” Yifan tercekat hingga rasanya ia kesulitan bersuara. Melihat Na Bi dalam kondisi sangat menyedihkan seperti itu sangat menyayat hatinya.

            “Pembohong” ujar Na Bi, air mata tidak hentinya menetes dari pipi gadis kecil itu.

            “Kau bilang…. Kau akan datang. Kau selalu bilang bahwa akan menjadi pelindungku. Tapi…. Semuanya bohong. Kau tidak datang…… dan orang itu menyakitiku.” Suara Na Bi terdengar serak, gadis itu menatap tubuhnya yang bersimbah darah.

            “Lihat apa yang orang itu lakukan padaku. Sakit Yifan—ah…. Sakit….”

            “Mianhae….” Yifan ingin meneriakan kata itu namun seperti ada yang menahan tenggorokannya, Yifan tidak bisa bersuara. Lidahnya kelu dan mati rasa.

            Mianhae….. Mian… Jeongmal Mianhae…..

            “Mian~~~” Kris tersentak dan membuka matanya. Lelaki itu merasakan kedua matanya mengeluarkan cairan putih yang ia yakini itu adalah air mata. Kris bangkit dari tidurnya. Ya, sedari tadi lelaki bertubuh putih itu tertidur di taman belakang sekolah, di atas rerumputan beratapkan cahaya matahari dan angin musim panas. Kris tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur, sepertinya ia juga sudah melewatkan jam pelajaran Sastra –Taeyeon seongsaenim.

            Kris terduduk menatap taman sekolah yang sepi. Pikirannya melayang atas apa yang baru saja ia mimpikan. Kembali, ia memimpikan Na Bi. Ini sudah kesekian kalinya Kris memimpikan gadis kecil itu. Dan mimpi barusan adalah mimpi yang paling menyakitkan dari semua mimpinya. Satu hal yang Kris ketahui dari mimpinya tadi, ia tidak akan pernah bisa mengucapkan kata ‘maaf’ secara langsung ke Na Bi. Semuanya sudah terlambat…….. karena Na Bi sudah tidak ada…..

            Menyesal……

            Kris bangkit dari duduknya dan merapikan seragamnya yang munkin terkena rerumputan dan berniat kembali ke kelas, namun langkah lelaki itu terhenti begitu mendengar suara riang seorang gadis. Kris membalikkan wajahnya, menatap Ahreum yang berlari kegirangan memasuki taman seperti sedang mengejar sesuatu.

            “Yurin—ah~~ itu kupu-kupu !” Ahreum bersorak girang sambil menunjuk kea rah kupu-kupu berwarna kuning yang terbang ke sana dan kemari.

            “Ppali~~~ kita harus menangkapnya” Ahreum dengan cerianya meraih tangan Yurin dan mengajak gadis itu turut berlari mengejar kupu-kupu bersamanya. Yurin menurutinya, mereka berdua berlari mengejar kupu-kupu kuning itu seperti dua orang anak kecil yang habis pulang sekolah.

            Kris terdiam di tempatnya berdiri menyaksikan itu semua. Menyaksikan bagaimana Ahreum dengan begitu semangatnya mengejar kupu-kupu kuning itu, menangkapnya lalu menaruhnya di atas kepala Yurin yang tertawa geli merasakan kupu-kupu di rambutnya.

            Tersentak…..

            Itu apa yang Kris rasakan.

            Kenapa? Kenapa Ahreum adiknya itu sangat mirip dengan Na Bi?? Bahkan tawa renyah gadis itu ….

            Kenapa? Kenapa Na Bi dan Ahreum begitu mirip? Terlalu banyak kemiripan. Dan itu membuat Kris gila.Baik dari segi wajah, tingkah laku, kesukaan, tawa….. Kris tidak bisa memungkiri bahwa semuaanya terlalu mirip. Seakan-akan Na Bi dan Ahreum adalah orang yang sama.  Tapi…. Itu sangat tidak mungkin. Bagaimana mungkin Ahreum adalah Na Bi gadis kecilnya sementara Kris tahu Na Bi sudah meninggal belasan tahun yang lalu?

            “Apakah takdir sedang mempermainkanku?” batin Kris di dalam hatinya.

            “Mengapa kau seperti lahir kembali dalam dirinya , Na Bi—ah?” gumam Kris, masih memperhatikan Ahreum yang sibuk bercanda dengan Yurin dan kupu- kupu itu.

            ‘Jika terus seperti ini…. Aku mungkin tidak bisa mengendalikan diriku. Aku mungkin……. Tidak bisa melihatmu sebagai seorang adik’

 

 

TO BE CONTINUED

 

Annyeongg~~~ apakah ada yang masih ingat dengan fanfic super nggak jelas ini?? Well~~ butuh waktu setahun bagi aku untuk melanjutkan fanfic ini, sebenarnya sudah agak lupa dengan storylinenya, namun aku menyempatkan untuk melanjutkannya dengan segenap tenaga. Mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa lama sekali aku melanjutkan fanfic ini? Alasannya sangat klise, aku sibuk, yeorobeun. Setahun belakangan ini dunia perkuliahan itu seperti neraka, semua mata kuliah itu menguras tenaga (lebih tepatnya dosennya sih) trus aku prepare mau KKN, dan begitu KKN kelar aku keingetan fanfic ini dan memutuskan untuk melanjutkannya. Tapi, aku nggak tahu apakah Part Eight nya ada kelanjutannya atau bagaimana, kalau aku sibuk lagi dan stress sama mata kuliah mungkin aku nggak bisa cepat melanjutkannya. Apalagi aku udah semester7, udah stress mesti setor judul, bentar lagi bikin skripsi TT^TT

Tapi sayang juga kalo fanfic ini nggak dilanjut secara banyak ‘kebenaran’ yang ingin aku sampaikan kepada yang sudah membaca dari part awal, secara fanfic ini banyak banget hal terselubungnya mulai dari Ahreum-Kris-Yurin-Seohyun-Kai-Yonghwa-Taeyeon-Seungri itu mereka yang mempunyai masa lalu yang harus diluruskan. Nggak enak aja kalo pembaca harus menerka-nerka apa yang terjadi sebenarnya. Kayak di previous part pada ngira kalo Yonghwa itu kakak dari Yurin dan sekaligus suami Taeyeon, ternyata Seungri adalah kakak sekaligus suami Taeyeon. Jadi, Taeyeon bukanlah janda di tinggal mati ya~ tapi janda di tinggal cerai karena Seungri masih hidup dan sehat wal afiat (?) Lalu bagaimana dengan cast lainnya??? Apa yang sebenarnya terjadi? Kalau kalian jeli dari part sebelumnya pasti kalian punya bayangan kok akan apa yang terjadi.

Silahkan menerka~

Dan semoga fanfic ini tidak terputus sampai di part ini~~

See You!!

27 responses to “THE BROTHERS [Part Seven – That Angel]

  1. oh my god
    suka serin couple (sehun yurin) dari awal sempat bete karena kai yg perhatian ke yurin setelah tahu kalo yurin pernah di culik, tapi senang lagi pas sehun mandangin yurin keluar kelas dan kata – kata yurin kayaknya bikin sehun suka sama yurin next thor

  2. huaaa lama bgt nunggu fanfict ini asli. tp selalu berharap berlanjut. sedih dan kecewa bgt klo sampe ff ini gak lanjut. tebakan ku ttg yonghwa setidaknya bkn berpikir klo yonghwa suaminya taeyeon. tp lebih ke kayak org yg cinta dan dicinta yurin maybe. Tp klo ahreum knp kepikiran klo dia itu na bi. eh tp yurin jg tau lagu with out family. i’m feeling confused now. tolong dilanjutkan ff ini. Jebal….. FIGHTING utk skripsinya!!!

  3. Aku melongo baca bagian kris di akhir…
    Aku yang kesemsem..
    wkwkwkwkk.. untuk authornya semangat yaa!!

  4. Asli deh ff ini greget banget!!! Aku punya dua kemungkinan, pertama na bi sama ahreum itu satu orang, atau kedua ahreum itu reinkarnasinya na bi

  5. Akhirnya keluar juga(?) *telatbaca*
    Semangat ya author buat skripsinyaaa~
    FF ini bakal aku tungguin terus loh xD
    Fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s