[Vignette] 12 Things About You

12 things about you

12 Things About You | wineonuna

Romance fluff, OOC | Vignette | pic edit: @mirene_mxi

Irene Bae (RV) – Song Minho (Winner)

Desclaimer: plot and story line are mine

Note: sebenernya ini ff untuk temen dengan cast dirinya tapi aku ubah jadi Irene dan Mino

Aku juga gak ngedit banyak jadi mohoh dimaklumi ya ^^

—————————————

 

“Kau tahu kan, aku paling tidak suka bertele-tele seperti ini. Kalau ada yang mau kau katakan, katakan saja. Kalau tidak, aku harus kembali ke rumah sakit. Aku ada jadwal konsul dengan nona Park. Waktumu—“

Pria itu menutup mulut wanita yang tengah terkejut dengan kelakuan pria itu. Helaan nafas berat terdengar dari ujung bibirnya membuat si wanita bertanya dalam hati, mengapa bisa pria yang ia kenal setahun terakhir menghela nafas seberat ini? Apakah ia sedang menghadapi masalah yang besar?

“Diamlah, dokter Bae. Kau terlalu banyak bicara hingga membuatku ingin sekali menciummu jika saja aku tidak ingat tentang tamparanmu bulan lalu.”

Setelah yakin wanita yang ada di hadapannya ini tenang dan bisa menahan laju bibirnya, ia melepaskan tangannya dari wanita itu. Wanita dengan nama Irene tak melepaskan pandangannya dari pria yang juga memandangnya dengan lekat.

“Dengarkan aku! Aku menemuimu karena aku ingin mengungkapkan isi hatiku padamu selama ini, mungkin ada beberapa kalimatku yang akan menyakitimu tapi kau adalah psikiater jadi kau tahu cara menahan amarah kan?”

“Kenapa harus aku?”

“Tentu saja karena biaya konsulnya akan gratis bila itu kau.”

Plak. Irene memukul kepala pria yang sempat tersenyum sebelum akhirnya mengaduh karena kepalanya yang terasa sakit. Ia tampak kesal karena merasa pria yang ada di hadapannya ini bercanda dan menghabiskan waktunya, ketika tubuhnya berbalik hendak meninggalkan ruangan itu langkahnya tertahan.

“Irene … Dengarkan dulu. Bukankah dulu kau memintaku memberimu 12 penilaianku terhadap seorang Irene Bae? Hari ini aku mau melunasinya.”

Irene diam sesaat, ia ingat hari dimana ia meminta pria itu untuk memberinya penilaian. 12 penilaian tidak sebentar bagi Irene, jadi ia menghubungi pihak rumah sakit untuk menjadwal ulang konsul dengan nona Park. Tak lupa Irene mengambil minuman dari lemari pendingin dan meletakkannya di atas meja lalu duduk dengan posisi paling nyaman. sementara pria itu menatap bingung dengan kelakuan Irene.

“Aku siap mendengarkannya. Katakanlah!”

“Kau benar-benar profesional, dokter Bae.”

“5… 4… 3… 2—“

“Pertama kali aku mengenalmu, aku tidak terlalu menyukaimu. Kau tahu dulu aku mengalami borderline disorder* dan social anxiety disorder** dengan tingkat menengah dalam waktu yang hampir bersamaan. Aku tidak suka dengan orang yang tiba-tiba mendekat tanpa sebab tapi kau sepertinya tahu cara mendekatiku, jadi penilaianku yang pertama kau adalah orang yang tahu cara mulai berhubungan dengan orang lain.”

“Kau lupa aku siapa?”

“Ya tentu aku tidak lupa, kau adalah cenayang hati manusia.”

“Sssshhh… Lalu yang kedua?”

“Apa kau benar-benar ingin mendengar yang selanjutnya? Kalau nantinya kau berpikir untuk putus dariku setelah mengetahui semua, kau tidak akan keluar dari rumah ini dalam keadaan selamat. Aku serius.”

Bugh. Irene melempar sebuah bantal terdekat ke pria yang protes karena seorang psikiater sedang melakukan kekerasan fisik terhadap pasien yang sedang konsul, ia juga menjelaskan kalau dia melaporkan ini Irene akan dihukum tapi Irene tak tinggal diam, ia membalas ocehan pria cerewet itu dengan dasar-dasar yang ia tahu.

“Sudahlah. Penilaianku yang kedua tentang Irene Bae. Kau cerewet. Aku tidak salah, kan? Kau benar-benar cerewet. Tapi aku tidak masalah dengan itu, aku menerimanya. Bukankah aku pasangan yang ideal untukmu karena menerima kau yang cerewet?”

Hanya terdengar helaan nafas panjang dari Irene, “Sepertinya sekarang kau mengalami narcissistic personality***.”

“Hahaha… Jangan lupa sembuhkan aku ya.” Pria itu mengedipkan sebelah mata kepada Irene membuat Irene bersiap melemparkan sisa bantal yang ada di dekatnya.

“Aku harus melanjukannya, jangan lakukan kekerasan lagi!“ rengeknya.

“Lanjutkan!” perintah Irene dingin.

“Kau sangat pekerja keras, terlalu bekerja keras sampai kadang kau melupakan kesehatanmu dan bahkan aku. Awalnya aku memaklumi itu, tapi semakin aku berusaha mengerti semakin aku merasa kau tidak peduli padaku. Apa kau lupa, cinta itu bukan aku sendiri yang mengusahakannya tapi kau juga harus mengusahakan yang sama denganku?”

Irene terdiam, ia tidak tahu bahwa pria yang sudah setahun ia pacari ini ternyata mempermasalahkan kurangnya waktu mereka berdua. Ia pikir bahwa prianya selalu mengerti tentang itu tapi ia lupa bahwa prianya tak selalu mengerti tentang dirinya.

“Kau juga sangat praktis. Ingat saat kita berlibur ke Jepang tanpa membawa apapun kecuali yang kita pakai? Aku tidak mengerti batas antara praktis dan nekat saat itu tapi bagaimanapun aku menyukainya. Karena praktismu juga kau selalu mempunyai sesuatu yang baru untuk dikerjakan bersama. Aku tidak bilang kau kreatif karena aku lebih kreatif darimu tapi aku akan bilang seorang Irene Bae adalah orang yang spontan.”

“Apa tidak bisa dipercepat, huh? Ini sudah yang ketujuh kan?”

“Tujuh, kepalamu! Ini baru lima, masih ada tujuh lagi. Aku tidak mau jadwal konsul kedua, dokter Bae. Karena tidak ada yang kedua untukku. Hari ini selesai  atau tidak sama sekali.”

Cess. Bunyi minuman kaleng terbuka, Irene meneguk beberapa kali tanpa mempedulikan pria yang duduk di hadapannya sedang memandang kesal ke arahnya. Ia sebenarnya sedang mengatur pria itu untuk mengeluarkan semuanya segera dan tidak bertele-tele, ia mencintai pria ini tapi pria ini terlalu bertele-tele.

“Aku rasa kau mempunyai indera ke enam, karena kau selalu mudah mengerti orang lain dan bagaimana menghadapinya. Aku saja selalu kesulitan menghadapi ayah yang tidak pernah mengerti mengapa aku menjadi rapper bukan menjadi seorang dokter ahli bedah sepertinya, tapi kau? Dengan mudahnya mendekati ayahku dan memberi penjelasan tentang semua lalu voila~ ayah mendukung karirku begitu saja. Apa yang kau katakan pada ayah saat itu?”

“Kau benar-benar ingin tahu?”

“Tentu saja.”

“Aku bilang kau bisa mengalami skizofrenia**** karena dihalangi, kau sudah memiliki tanda-tanda ke arah sana dan bila kau semakin ditekan bisa jadi saat ini kau berada dalam perawatanku di rumah sakit bukan di rumah ini bercerita tentang aku.”

“Aku benar-benar bisa seperti itu?”

“Dari segi kejiwaan, itu sangat mungkin.”

Prianya tertegun mendengar jawaban Irene. “Kau sangat blak-blakan, Irene.”

Suasana hening untuk sesaat, Irene tahu prianya sedang memikirkan masa-masa dimana ia sangat kesulitan meyakinkan ayahnya bahwa mimpinya bukan menjadi dokter ahli bedah tapi menjadi seorang rapper. Irene sendiri sedang melakukan flashback ke waktu dimana ia juga sempat mengalami kesulitan meyakinkan ayah prianya tentang mimpi pria itu.

“Ah… Aku paling tidak suka ketika kau berdebat, kadang kau tidak memikirkan perasaan orang lain karena yang kau pikirkan adalah bagaimana hatimu menjadi tenang. Tapi kau lupa, kadang orang lain menjadi terluka tanpa kau sadari. Aku tidak akan bilang kau egois ketika marah tapi aku lebih senang mengatakan emosi terlalu menguasaimu ketika kau marah. Apa kau menyadarinya, Irene?”

Irene tersenyum kecil, ia ingat tentang kelakuannya yang satu itu. Ia bukan tidak bisa mengendalikan emosinya, ia bisa hanya saja ia tak ingin. Jika orang lain memilih memendam emosinya atau melampiaskannya pada barang maka ia memilih menggunakan kata-kata yang kasar sekalipun itu artinya ia menyakiti orang lain namun selanjutnya ia akan melupakannya dengan cepat.

“Kau pendendam?”

“Ya! Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu?”

“Aku hanya bertanya, kalau kau bukan pendendam ya sudah. Tapi kalau kau mengelak seperti ini, bisa jadi kau adalah pendendam.”

Smirk muncul dari bibir pria itu, ia sedang mencoba menggoda Irene. Baginya akan menyenangkan jika Irene tidak bersikap seperti seorang psikiater saat ini, ia suka Irene yang bertingkah menjadi dirinya sendiri. Karena dirinya adalah belahan jiwa Irene bukan pasiennya.

“Ini sudah yang ke delapan berarti empat lagi. Iya, kan?”

“Gadis bodoh! ini sudah yang ke Sembilan.”

“Sembilan? Apa kau benar-benar memasukkan pendendam sebagai penilaianmu terhadapku?”

“Hitung saja. Hahaha.”

“YA!!!”

Irene mengerucutkan bibirnya membuat pria itu semakin gemas padanya dan memutuskan untuk pindah duduk di samping Irene dan menarik tubuh Irene masuk ke dalam rangkulannya, ia sengaja mengeratkan rangkulannya karena Irene sedang meronta untuk melepaskan diri.

“Kadang kau seperti anak-anak dan sangat manja. Karena itulah aku mencintaimu, Irene Bae. Kau selalu menunjukkan sisi kuatmu di hadapan orang lain tapi begitu bersamaku, kau menjadi sangat manja dan mampu bertingkah kekanakan. Aku sangat senang dengan sisimu yang ini bahkan kadang kau menunjukkan sisi lemahmu di hadapanku, membuatku menjadi seorang pria yang sebenarnya karena mampu melindungimu.”

“Hmmm… Itu dihitung satu atau tiga?”

Tak! Pria itu melayangkan sentilan di kening Irene membuat gadis itu kesakitan lalu tertawa, ia tidak tertawa sendirian karena suara tawa milik prianya muncul mengiringinya. Mereka sedang menertawakan diri mereka sendiri dan keadaan mereka saat ini. Hal yang sudah lama tidak mereka lakukan, menertawakan diri sendiri dan berduaan seperti ini. Terlebih prianya baru saja menyelesaikan tur promo album barunya dan dirinya baru menyelesaikan sebuah kasus yang cukup sulit.

“Yang kesebelas, ini menjadi satu bagian yang penting juga bagiku sebelum akhirnya yang terpenting dari semuanya aku letakkan di akhir konsul hari ini. Kau adalah satu-satunya gadis yang selalu memberiku kejutan dan bersikap romantis di hadapanku, aku punya beberapa mantan kekasih yang juga romantis tapi kau tidak sama dengan mereka. Kau berbeda, Irene Bae,”

“Jangan tanya bedanya karena aku tidak bisa menjelaskannya. Itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan logika. Jangan memaksa, dokter Bae.” lanjutnya.

Irene tersenyum, ia tak akan memaksa dan hanya akan mendengarkan ucapan prianya dengan seksama sambil menikmati belaian di rambut cokelat keemasan yang baru ia dapatkan minggu lalu setelah bosan dengan rambut hitam legamnya.

“Apa kau deg-degan mendengarkan yang terakhir, Irene?”

“Sedikit.”

“Bagus. Karena sepertinya kita harus menjaga jarak sekarang karena yang terakhir akan menjadi akhir segalanya, aku sudah mengumpulkan emosiku untuk menyampaikan yang terakhir secara meledak-ledak kepadamu.”

Prianya melepaskan rangkulannya dan menghentikan belaiannya, ia juga menarik dirinya kembali ke kursi awal ia duduk membuat Irene menatapnya heran dan bertanya apa pria ini sedang mengalami episode lain dengan disorder baru?

“Apa kau sedang stress karena tur jepangmu?”

“Tidak… Aku stress karena ulahmu. Dengarkan aku, Irene Bae! Aku sangat tidak suka kau memuja HUGEBOY secara berlebihan. Dia hanya pria yang pandai rapp dan tidak lebih, ia bahkan melakukan kebohongan publik karena menyembunyikan hubungannya dengan seorang wanita dan juga… Kau tahu ia tak lebih baik dariku. Uhh… Aku benci pria itu karena mencuri perhatian kekasihku seenak hidupnya! Ia memiliki kehidupan artis yang menyedihkan karena harus tampil sempurna di hadapan orang lain tapi jauh di dalam hatinya ia kesepian. Kau harus berhenti menyukai Hugeboy si rapper itu, Irene-ssi.”

“Apa kau benar-benar marah?”

“Kau tidak lihat tandukku?”

Prianya menunjukkan tanduk yang ia bentuk dari dua buah telunjukkan, gelak tawa muncul dari mulut Irene. Ia berdiri masih dengan tawanya dan menarik lengan prianya hingga mereka berdua berdiri berhadapan. Irene menarik tubuh pria itu mendekat dan memeluknya dengan erat sambil tertawa, detik berikutnya lingkaran tangan pria itu di tubuh Irene menjawab pelukan yang diberikan Irene.

“Aku menyukaimu, Song Minho. Apa kau Song Minho si rapper Hugeboy yang sibuk atau Song Minho mantan pasienku atau Song Minho yang menjadi kekasihku. Aku menyukai Song Minho siapapun dia di luar sana. Aku memujamu karena bakatmu, menyayangimu karena perjuanganmu dan mencintaimu karena dirimu. Boleh aku berikan satu penilaianku padamu?”

“Kau akan bilang aku yang terbaik?”

“Cih… Tuan Song sangat percaya diri. Kau sempurna.”

“Kalau begitu, kita menikah saja.”

“Setelah aku menyelesaikan program doktorku.”

“Atau kita punya anak dulu?”

“Aku akan membuatmu dipenjara, Song Minho!”

Keduanya saling merangkul dan berjalan menuju pintu, keluar dan menghilang di balik pintu. Tawa renyah mereka masih terdengar sekalipun mulai samar lalu menghilang.

 

-END-

 

=========================

*Borderline personality menunjukan adanya ketidakstabilan dalam suatu hubungan, mood, dan citra diri(self-image). para penderita gangguan ini mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi yang mereka miliki. Gangguan ini biasanya melibatkan tingkat yang tidak biasa dari ketidakstabilan suasana hati , kelabilan dalam berpikir.

**Social anxiety disorders. Sering disebut juga sebagai fobia sosial, yakni kecemasan berlebihan seseorang terhadap lingkungan sosialnya. Orang-orang dengan gangguan ini biasanya takut dengan penilaian orang lain, takut diejek, takut tidak diterima oleh teman-temannya, dsb.

*** Narcissistic personality disorder adalah perilaku di mana seseorang merasa sangat bangga terhadap dirinya sendiri dan memerlukan perhatian serta kekaguman dari orang lain.

****Skizofrenia merupakan suatu gangguan kejiwaan kompleks di mana seseorang mengalami kesulitan dalam proses berpikir sehingga menimbulkan halusinasi, delusi, gangguan berpikir dan bicara atau perilaku yang tidak biasa (dikenal sebagai gejala psikotik).

One response to “[Vignette] 12 Things About You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s