Ji Min Point of View

Jimin POV

Jimin Point of View
|| All members of BTS || Friendship || G || Ficlet Compilation ||

|| Written by Vhaerizz ||

–Ji Min tahu dengan baik bagaimana teman-temannya–

***

1. Kind Man

Sebab ikut-ikutan Yoon Gi Hyung tidur dari siang sampai sore tadi, malam ini aku jadi kesulitan menutup kedua mataku. Padahal sudah jam berapa ini? Sebelas lewat dua puluh satu. Kujamin esok hari aku akan bangun kesiangan, lalu terlambat masuk kuliah, karena dua teman sekamarku, Tae Hyung –yang sudah mendengkur keras– dan Ho Seok Hyung –yang tengah membelai tangannya sendiri, sama-sama pemalas dan paling tidak bisa bangun pagi, jadi tidak mungkin mereka akan membangunkanku tepat waktu.

Aku coba memikirkan sesuatu yang mungkin saja bisa membuatku merasa mengantuk, tentang rambut ubanan dan gaya bicara dengan kecepatan 20km/jam Dosen Kang, misalnya. Soalnya, mataku selalu mendadak berat setiap kali aku berada di kelasnya yang didominasi oleh teori membosankan.

Tapi usahaku gagal. Rasa kantuk tak kunjung datang, mataku masih segar-segar saja. Aku harus bagaimana? Besok ada kuis, sehingga tidak mungkin membolos kelas pagi. Nilaiku yang pas-pasan selama ini, bisa langsung terjun bebas.

Kupikirkan segala cara, dan selalu saja kurasa takkan berhasil, hingga aku menemukan satu cara yang sebenarnya sangat kusangsikan, tapi rasanya aku tidak punya pilihan lain.

Aku bangkit dari tempat tidurku yang diapit oleh tempat tidur milik Tae Hyung dan Ho Seok Hyung. Mengambil langkah asal, yang misalnya aku kesandung sesuatu dan menimbulkan sedikit keributan, mereka takkan bangun, lalu keluar kamar.

Mengingat sudah hampir tengah malam, kukira semua penghuni rumah yang ukurannya lumayan besar, hingga mampu menampung tujuh orang sekaligus ini, sudah tidur semua. Tapi ternyata tidak. Ada seseorang dengan bahu lebar masih duduk manis di sofa depan televisi. Ia adalah Kim Seok Jin.

“Belum tidur, Hyung?” Tanyaku sambil mendekati pemuda yang tiga tahun lebih tua dariku itu.

“Belum. Mungkin sebentar lagi. Kau sendiri?”

Aku mendesah pelan sebelum menjawab. “Gara-gara ikut tidur siang Yoon Gi Hyung tadi, mataku tidak mau menutup sama sekali.”

“Lagian, tukang tidur kau ikuti.”

Aku tidak berkata apa-apa lagi. Kaki kuarahkan ke dapur, mendekati dan membuka lemari pendingin, dan mengambil sebotol air mineral lalu menutupnya kembali.

“Hyung, kotak obat kau simpan dimana?”

Mendengar pertanyaanku, kepala Seok Jin Hyung menoleh. Pikirannya pasti sudah melayang kemana-mana sebab aku menanyakan sebuah kotak, dimana isinya hanya akan digunakan jika yang membutuhkannya dalam keadaan yang mungkin tidak baik secara kesehatan.

“Kenapa cari kotak obat segala? Kau sakit?”

Tuh, kan.

“Tidak, Hyung. Seingatku kita masih punya obat tidur yang dibeli Nam Joon Hyung dua minggu lalu.”

“Jangan!” Sergahnya cepat. “Jangan sekali-kali mengonsumsi obat tidur. Kau lupa bagaimana Nam Joon jadi terlalu bergantung pada obat itu supaya bisa tidur?”

Seok Jin Hyung yang khawatir akan berubah jadi ibu-ibu cerewet yang melihat putranya main lumpur di pekarangan rumah.

“Tapi aku harus tidur, Hyung. Besok aku ada kelas pagi.”

“Coba cara lain dulu. Jangan langsung minum obat tidur.”

“Sudah, Hyung, dan tidak ada hasil. Aku tidak mengantuk sama sekali.”

Selain berguling tidak jelas di atas tempat tidur, aku sudah mencoba cara dengan memainkan ponsel yang biasanya akan menimbulkan rasa bosan, dan kantuk akan datang tak lama kemudian. Tapi seperti ada pengecualian untuk malam ini, cara itu gagal.

“Kemarilah.” Kata Seok Jin Hyung pada akhirnya. Memang aku belum tahu apa yang akan Seok Jin lakukan, tapi aku menurut. Mendekati lalu duduk di sampingnya, yang mengenakan sweater rajut putih dan celana training hitam. Sederhana tapi tetap membuatnya terlihat tampan.

Dasar Kim Seok Jin! Di dalam rumah pun, ia masih berusaha terlihat tampan dan menarik.

“Nonton TV saja denganku, lama-lama kau akan mengantuk.”

“Aku bisa kesiangan kalau tidak tidur sekarang, Hyung.”

“Akan kubangunkan besok, mengerti? Kau tidak akan ketinggalan kuismu. Nikmati saja acaranya dan jangan berpikir untuk menanyakan obat sialan itu. Sudah kubuang!”

Aku tidak membantah. Menurut dan ikut menonton acara semacam talk show tengah malam dengan setting sauna, favorit Seok Jin Hyung.

Seok Jin Hyung memang selalu memperhatikan penampilannya dan ingin terlihat tampan, tapi di balik itu semua, Seok Jin Hyung tetap kakak tertua yang baik dan bijaksana.

끝 … Not yet … 끝

2. Clear

“Kau niat membantuku, tidak, sih?”

Setelah lima belas menit berjalan, Yoon Gi Hyung akhirnya sampai pada batas awalnya. Memang terdengar datar cenderung ketus, tapi aku masih belum menangkap kekesalan, apalagi kemarahan di nada bicaranya. Aku masih punya kesempatan.

“Maaf, Hyung. Kita ulangi sekali lagi,” kataku kembali memperhatikan rangkaian huruf di kertas yang sejak tadi kupegang, membentuk satu kesatuan lirik dari lagu yang Yoon Gi Hyung ciptakan semalaman.

Kunyanyikan bait demi bait syair lagu yang menurutku memiliki arti yang dalam. Tentang perasaan yang tidak mau kehilangan, tapi juga tidak bisa menahan kepergian seseorang. Yoon Gi Hyung memang berbakat untuk jadi seorang komposer.

“Sudah, sudah. Istirahat saja dulu. Kesabaranku akan habis kalau mendengarmu bernyanyi seperti itu.”

Apa yang baru saja Yoon Gi Hyung katakan, memiliki arti kurang lebih seperti ini. “Sudah, sudah. Istirahat saja dulu. Perbaiki kondisimu dulu sebelum kita mulai lagi.”

Percaya atau tidak, memang seperti itulah makna yang kutangkap. Yoon Gi Hyung memang orang yang seperti tidak punya keraguan dalam hidupnya. Jika ia suka, maka ia akan bilang suka, begitu juga sebaliknya. Langsung, tanpa ada keraguan sedikit pun.

Tapi, ya, itu. Yoon Gi Hyung tidak terlalu pintar mengutarakan kepedulian atau kekhawatirannya melalui kata-kata. Contohnya adalah yang barusan. Sudah cukup, kan?

Setelah mengutarakan kepeduliannya, lantas Yoon Gi Hyung langsung berpindah dari kursi belajarnya ke dipan empuk yang menjadi salah satu surga dunianya. Mata sipit yang kadang terkesan cantik itu perlahan terpejam.

Tidak mau mengganggu acara istirahatnya, aku melangkah pelan meninggalkan kamarnya yang biasa ia tempati bersama Seok Jin Hyung.

Tempat yang kutuju pertama adalah dapur, lebih spesifik lagi, kulkas. Aku butuh air yang akan mengaliri tenggorokanku yang kering. Kondisi yang harus kuperbaiki adalah tenggorokanku. Menyanyi dengan tenggorokan kering, rupanya mengganggu sekali.

“Hyung, jus jeruk ini punyamu, bukan?” Aku bertanya dengan suara agak keras pada Ho Seok Hyung yang tengah mengeluarkan aksi hypernya bersama Tae Hyung di ruang tengah.

Kupikir, aku akan perlu untuk mengulangi pertanyaanku sebab Ho Seok Hyung seperti tidak sedang mendengarkanku. Rupanya suaraku masih bisa menjangkau dan mendapat respon darinya.

“Ambil saja!” Katanya.

Tenggorokanku sudah sedikit membaik, aku memutuskan untuk kembali ke kamar Yoon Gi Hyung dengan sebotol air mineral yang tersisa setengah di tangan kananku, dan sebotol jus jeruk yang masih tersegel rapi di tanganku yang lain.

“Dari mana?” Tanya Yoon Gi Hyung yang rupanya sudah kembali ke kursi belajarnya, berkutat dengan laptop dan aplikasi musiknya.

“Memperbaiki kondisiku,” kataku. Aku duduk di pinggiran tempat tidur Seok Jin Hyung yang paling dekat dengan posisinya.

“Minum ini!” Kusodorkan jus jeruk yang kuminta dari Ho Seok Hyung padanya. “Sepertinya kau juga butuh memperbaiki kondisimu.”

“Sejak kapan kau suka jus jeruk?” Yoon Gi Hyung bertanya, tapi tangannya terulur untuk menerima jusnya.

“Titipan Ho Seok Hyung. Minum saja. Sepertinya kau butuh asupan vitamin lebih setelah begadang terus untuk membuat lagumu.”

“Aku terdengar seperti orang yang kekurangan gizi.”

“Memang. Lihat saja tubuhmu yang tidak berkembang.”

“Sial!” Katanya sambil melempar tutup botol jusnya ke arahku.

Aku tertawa kecil. Walaupun tubuh kami sama-sama yang paling pendek di antara teman-teman yang lain, tapi kupikir punyaku sedikit lebih baik. Ada sedikit otot-otot kekar dalam lengan dan perutku. Sementara Yoon Gi Hyung, tangannya agak sedikit lebih baik, tapi kakinya, mungil cenderung ramping. Kalau kubilang mirip kaki perempuan, Yoon Gi Hyung akan mengamuk.

“Bisa lanjut?” Tanyanya setelah meneguk habis jusnya. Kubilang apa? Yoon Gi Hyung lebih butuh untuk memperbaiki kondisinya dibanding aku.

“Ya.”

Konsentrasiku terfokus kembali pada syair lagu yang ada pada lembaran kertas yang tadi kutinggalkan di meja belajar Yoon Gi Hyung. Suasana diciptakan sehening mungkin, sebelum Yoon Gi Hyung memainkan aransemen buatannya dan mulai merekamnya bersama suaraku.

“Ulangi!” Katanya setelah aku berhasil mencapai setengah lagu. Pasti ada yang kurang lagi. “Coba sekali lagi.”

Aku menarik nafas dalam sebelum memulai lagi nyanyianku. Memperbaiki penjiwaanku yang sepertinya menjadi penyebab Yoon Gi Hyung untuk mengulanginya lagi.

“Selesai,” ucap Yoon Gi Hyung setelah nyanyianku selesai dan alat perekamnya dimatikan.

“Akhirnya,” kataku lega. “Omong-omong, lagu ini buat apa, sih?”

“Kompetisi.”

“Ha?”

“Dua hari lalu aku melihat ada pengumuman kompetisi membuat lagu di internet. Tidak ada salahnya ikut, kan?”

“Hadiahnya besar, tidak?”

Bahunya terangkat sekilas. “Tidak kulihat. Aku hanya melihat deadline-nya yang tinggal besok.”

“Oh,” sahutku singkat. “Kalau menang nanti, aku minta jatah, ya?”

Tawa remeh lolos dari mulutnya, lebih untuk dirinya sendiri. “Kata menang terlalu jauh, Ji Min. Mereka bisa menerima musikku saja sudah syukur.” Seperti biasa, Yoon Gi Hyung merendah. “Tapi kurasa suaramu bisa sedikit membantu.” Dan tidak segan memuji orang lain, walau tidak berlebihan.

“Lagumu bagus, Hyung,” pujiku tanpa ragu. “Ya… tentu saja semakin bagus karena aku yang menyanyikannya. Tapi meski bukan aku, walau tidak menang, aku yakin akan ada produser yang melirik lagu ciptaanmu.”

“Begitu?”

“Ya. Kalau kau menang, bukan hanya aku, traktir yang lain juga sebagai perayaan. Siapa tahu mereka akan mendoakanmu lebih dan kau bisa mendapat pencapaian yang lebih juga.”

“Pasti,” katanya dengan keyakinan yang sedikit bertambah karena penuturan panjangku barusan.

Sebab Yoon Gi Hyung pasti beranggapan, kalimat penuh penguatan dariku atau teman-teman lain adalah sebagai wujud cinta kami padanya. Walau hanya pemikiranku saja, kupikir Yoon Gi Hyung suka dicintai oleh kami, teman-temannya.

끝 … Not yet … 끝

3. Bright

“Yeee… makan enak, makan enak, makan enak.”

Boleh kudeskripsikan bagaimana kelakuan Ho Seok Hyung sekarang? Melompat-lompat kegirangan, ditambah menari random dan tidak jelas karena menu besar yang Yoon Gi Hyung bawa sepulang kuliahnya.

Ayam goreng dalam jumlah besar dan jajjangmyun masing-masing satu porsi. Agak tidak terduga, memang. Tapi lagu Yoon Gi Hyung berhasil menyabet juara tiga dalam kompetisi yang diikutinya dua minggu yang lalu. Dan karena itu kompetisi nasional, hadiahnya lumayan besar.

“Jangan harap dapat jatah kalau masih petakilan seperti itu,” kata Yoon Gi Hyung yang mulai lelah dengan betapa berisiknya adik yang satu itu.

Ho Seok Hyung membungkam mulutnya rapat-rapat, lalu ikut bergabung bersama kami mengitari meja kaca yang menjadi pembatas sofa dan televisi ruang tengah yang sudah penuh dengan makanan. Ia duduk di antara Yoon Gi Hyung dan Jung Kook, anak termuda di antara kami.

“Tumben sekali kau menraktir kita begini, Hyung. Habis merampok dari mana?” Tanya Ho Seok Hyung asal, dan mungkin terdengar kasar, tapi aku tahu maksudnya tidak seperti itu.

“Kebetulan dapat rezeki lebih saja,” kata yang ditanya merendah.

“Lagu ciptaan Yoon Gi Hyung menang kompetisi. Lumayan lah juara tiga.” Aku memberikan klarifikasi karena yang lain tidak akan semudah itu melepas Yoon Gi Hyung yang hanya memberi jawaban ambigu seperti itu.

“Daebak!” Ho Seok Hyung heboh lagi. “Kupikir itu hanya hobimu, Hyung.”

“Sesekali menantang diri sendiri tidak ada salahnya, kan?”

“Selamat, Hyung.”

“Selamat, Yoon.”

Mereka berbarengan mengucapkan selamat pada salah satu teman berbakat mereka, lalu mulai menikmati makanan yang tersedia dengan lahap. Tentu saja diselingi dengan candaan yang berasal dari seorang Jung Ho Seok dan ditimpali dengan baik oleh kami.

Selama aku kenal dengannya, aku sempat berpikir mungkin Ho Seok Hyung punya cadangan kotak tertawa yang melimpah dalam dirinya. Jarang sekali aku melihat Ho Seok Hyung yang tidak ceria. Kalau mau diumpamakan, ia seperti musim semi. Cerah-cerah yang menyenangkan dan menyejukkan hati.

Oh, aku memang buruk dalam membuat perumpamaan. Pokoknya kurang lebih Ho Seok Hyung seperti moodmaker bagi kami. Ada Ho Seok Hyung, berarti keceriaan akan selalu menyertai kami.

Tawa Jung Kook terdengar setelah melihat Yoon Gi Hyung menyumpal mulut cerewet Ho Seok Hyung dengan potongan besar daging ayam. Dua orang berbeda kutub, kalau disatukan, ya, seperti itu.

Tapi bukan Ho Seok Hyung jika langsung bungkam hanya karena aksi tersebut. Malah selanjutnya ia menggoda Jung Kook yang mulutnya belepotan oleh saus kacang hitam dari jajjangmyun yang dimakannya.

Sasaran selanjutnya, aku.

“Makan yang banyak, uri Ji Min. Supaya pertumbuhanmu tidak terhambat macam–”

“Berani menyebut namaku, mati kau!” Potong Yoon Gi Hyung yang tahu kalau sasaran Ho Seok Hyung bukanlah aku, melainkan dirinya.

“Oopss…” Ho Seok hanya merespon seperti itu sebelum kembali tertawa.

Selama kurang lebih tiga puluh menit, makanan kami habis. Hanya menyisakan tulang-tulang ayam tak layak makan dan sampah-sampah lainnya. Seok Jin Hyung dan Jung Kook mendapat jatah membereskan semua dan meja kembali bersih.

Selepas itu, Yoon Gi Hyung langsung kembali ke kamarnya. Mungkin akan langsung tidur seperti biasanya. Nam Joon Hyung masih berada di tempatnya, sambil memainkan benda keramat bernama ponsel miliknya. Tae Hyung dan Ho Seok Hyung juga kembali ke kamar. Sepertinya akan melanjutkan pertandingan video games mereka. Ho Seok Hyung masih berambisi merebut predikat dewa game yang disandang Tae Hyung, yang ternyata tidak mudah.

Merasa diabaikan oleh Nam Joon Hyung, aku memutuskan menyusul Tae Hyung dan Ho Seok Hyung ke kamar, yang kemudian kusadari jika perkiraanku tadi salah. Tidak ada Tae Hyung, yang sepertinya langsung pergi mandi. Sementara Ho Seok Hyung telentang di atas tempat tidurnya dengan mimik seperti orang yang sedang berpikir.

“Kukira kau akan bermain dengan Tae Hyung,” kataku membuka pembicaraan.

Ho Seok Hyung mengangkat kepalanya sebentar, lalu kembali ia tempelkan ke permukaan kasurnya. Aku bisa melihatnya menggeleng. “Tidak. Tae Hyung capek katanya.”

“Oh,” singkatku sebelum merangkak naik ke atas tempat tidurku yang ada di sebelah kirinya. “Tugas kuliahmu menumpuk terus, ya, sampai kaupikirkan seserius itu?”

Ho Seok Hyung menoleh karena pertanyaanku. Senyum tipis ia tampakkan di bawah hidungnya yang mancung.

“Aku tidak seserius Nam Joon kalau urusan belajar, kau tahu.”

Aku tahu. Aku hanya berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk memancingnya bicara lebih. Soalnya, Ho Seok Hyung selalu menjadi pendengar yang baik bagi orang lain, tapi menutup diri untuk cerita kegundahan hatinya sendiri.

“Lalu? Apa yang kaupikirkan? Menakutkan, tahu, kalau kau memasang wajah serius begitu.”

“Bukan hal yang penting.”

“Kau baru putus dari pacarmu saja, kau bilang tidak penting. Aku yakin kalau sekarang juga tidak seperti yang kau katakan.”

“Tidak percaya, ya, sudah.”

“Memang aku tidak percaya. Sesekali cerita tidak ada salahnya, Hyung. Itu sih kalau kau mau saja.”

“Tidak ada apa-apa, Ji Min. Hanya pikiran tidak penting yang tahu-tahu minta jatah untuk kupikirkan. Menyebalkan.”

“Aku tidak memaksa,” kataku pada akhirnya. Membuat Ho Seok Hyung mencurahkan isi hatinya lebih sulit dari kelihatannya.

Sebab di balik sifat cerianya yang melebihi siapapun, tersimpan sifat tertutup –cenderung ke malu atau takut– yang tidak terduga dalam diri seorang Jung Ho Seok.

 

끝 … Not yet … 끝

4. Clumsy

Baru saja aku selesai mengeringkan rambutku, dan hendak menyusul Tae Hyung dan Ho Seok Hyung yang sudah bergulat dengan mimpi masing-masing, suara gaduh mirip pecahan kaca terdengar dari luar kamar. Aku coba mengingat-ingat siapa yang masih terjaga saat tengah malam segera menjelang, selain aku. Dan begitu aku mengingatnya, aku mendesah.

Kuurungkan niatku menaiki tempat tidur dan keluar kamar. Sesuai dugaan, si tuan ceroboh sedang panik di ruang tengah. Kaca dari gelas yang dipecahkan berserakan di lantai, kertas-kertas di meja masih morak-marik dan dilihat dari gerakan tangannya yang tengah mengusap-usap laptopnya dengan kain, sepertinya isi gelas yang sudah pecah itu sempat tumpah ke benda mahal tersebut.

“Sudah berapa banyak gelas Seok Jin Hyung yang kau pecahkan?” Tanyaku sambil melangkahkan kaki mendekati dapur. Tidak sampai masuk ke dapur, sebab sapu dan temannya berada di antara pintu masuknya.

Sementara Nam Joon Hyung –si tuan ceroboh– menyelamatkan laptopnya, aku membersihkan pecahan kaca. Jika tidak, bukan tidak mungkin Nam Joon Hyung akan menginjaknya karena lupa kalau ada gelas yang baru saja dipecahkannya.

“Tugasmu memang selalu sebanyak itu, ya, Hyung?” Karena setiap kali aku melihat Nam Joon Hyung mengerjakan tugas, meja itu selalu penuh kertas-kertasnya.

“Tidak juga. Aku selalu mengerjakan semuanya sekalian, jadi kesannya banyak,” jawabnya tanpa menoleh sedikit pun. Laptop mahal kesayangannya masih belum kering. Sepertinya, Nam Joon Hyung akan segera mengucapkan selamat tinggal untuk sesaat pada benda itu kalau harus diperbaiki ke tukang reparasi komputer.

“Sebanyak itu, biasanya berapa lama kau bisa menyelesaikannya?” Dapat kutebak, pasti tidak selama aku. Dengan jumlah kertas sebanyak itu, aku mungkin dapat menyelesaikannya kurang lebih tiga jam.

“Kalau tidak ada kejadian sialan ini, mungkin sebentar lagi aku sudah selesai, ya… sejaman cukup.”

See?

Dengan otak jenius yang dimilikinya, Nam Joon Hyung pasti bisa menyelesaikannya lebih cepat. Tapi, Tuhan kan Maha Adil. Dengan sifat ceroboh yang dimililinya, setidaknya ada yang membuat Nam Joon Hyung tidak sempurna.

Aku segera ke dapur untuk membuang pecahan kaca yang sudah kukumpulkan untuk dibuang ke dalam tong sampah.

“Ji Min, bisa ambilkan minum?” Pintanya tepat saat aku melintas di depan lemari pendingin. Karena kasihan, ya, kuambilkan saja. Sekalian mengambil untuk diriku sendiri.

“Jangan tumpahkan lagi ke laptopmu,” kataku sambil menyerahkan sebotol air mineral ukuran kecil padanya.

“Tidak lucu,” ketusnya.

Laptopnya sudah kering, dan yang Nam Joon lakukan selanjutnya adalah me-restart benda elektronik itu yang pada akhirnya menimbulkan kekesalan pada pemuda yang usianya sama dengan Ho Seok Hyung ini.

Laptopnya tidak mau menyala.

“Sial,” umpatnya. Ia hampir tersedak minumannya sendiri.

“Beli baru saja lagi,” asalku, dan Nam Joon malah melirikku tajam. Meski keluarganya bisa terbilang kaya, Nam Joon Hyung bukan tipe orang yang suka memghambur-hamburkan uang, kecuali dalam urusan pakaian. Ia masih ingin terlihat seperti seorang fashionista.

“Masih bisa diperbaiki, kan? Paling, tidak ada seminggu juga sudah selesai.”

“Tapi tugasku ada di dalamnya, Ji Min. Hanya tinggal beberapa kalimat lagi, sudah selesai.”

“Kau bisa pakai laptopku dulu, kalau mau.”

“Dan mengerjakan semuanya dari awal, begitu?”

“Sesekali, Hyung. Dengan IQmu yang terlampau tinggi itu, kau bisa mengerjakannya dengan cepat. Sejam, kan, tadi kau bilang?”

Nam Joon Hyung mendesah. “Asal kau tahu saja, setinggi apapun intelejensi seseorang, tidak akan berjalan maksimal dan sesuai harapan kalau tubuhmu lelah.”

“Memangnya deadline-nya kapan, sih?”

“Tiga hari lagi.”

“Ya Tuhan.”

Ketika kemampuan otaknya bisa mengerjakan tigas hanya dalam waktu satu jam –yang normalnya tiga jam– dan tenggang waktunya masih tiga hati lagi, kenapa harus panik seolah jam tujuh esok hari sudah harus dikumpulkan?

“Bereskan saja kertas-kertasmu itu dan istirahat. Besok kau bisa pakai laptopku.”

“Yakin? Kau tidak sedang membutuhkan laptopmu, memangnya?”

Kalau dibilang butuh, sih, butuh. Tapi…

“Pokoknya pakai saja punyaku besok. Aku tidur dulu.”

Begitulah Kim Nam Joon. Cerdas, tapi ceroboh. And He’s timid. Ketika ia dalam kondisi membutuhkan, ia masih mempertimbangkan kepentingan teman-temannya.

끝 … Not yet … 끝

5. Absurd

Gelak tawa membuat suasana kamar jadi lebih berwarna. Tawa berasal dariku yang tentu saja takkan tertahan karena pemuda yang seusia denganku itu bertingkah aneh, tidak jelas dan cenderung bodoh.

“Aku yakin Na Yeong akan langsung melupakan cintanya padamu kalau melihatmu seperti ini,” kataku setelah berhasil meredam separuh dari tawaku.

Tae Hyung mengabaikan perkataanku dan masih melanjutkan aksinya. Menirukan tarian Ho Seok Hyung yang dilihatnya semalam, tapi dengan versi bodoh ala Kim Tae Hyung. Sudah menari seperti itu, wajahnya juga dibuat tidak santai. Tae Hyung sepertinya tidak suka terlahir seperti orang tampan, sehingga ia cukup sering membuat ekspresi jelek tanpa mengenal waktu dan situasi.

Salah satu hal yang terkadang membuatku iri padanya, adalah sifatnya yang tidak tahu malu.

“Hey! Pesan Na Yeong semalam belum kau balas-balas juga, ya?” Aku bertanya setelah –akhirnya– Tae Hyung menghentikan aksi konyolnya.

“Na Yeong siapa, sih?”

Aku mendengus sebentar, sebelum menggeplak lengannya pelan. Setelah Na Yeong setahunan ini berusaha mendekatinya, Tae Hyung malah tidak tahu siapa Na Yeong. Mending kalau Na Yeong itu berasal dari kelas atau jurusan lain. Nah, Na Yeong itu selalu sekelas dengan kami selama setahun ini. Tempat duduknya juga tepat di belakang Tae Hyung, karena ia mau lebih leluasa memandangi lelaki pujaannya.

“Yang semalam mengirim pesan padamu itu, yang mengajakmu jalan-jalan pulang kuliah.”

Tampang polosnya nampak berpikir. Lupa ternyata. Atau mungkin lebih tepatnya tidak memikirkan orang-orang yang tidak dikenalnya.

“Oh, yang dari nomor asing itu? Aku tidak tahu, sih, makanya tidak kubalas.”

“Kalau tahu, kau mau membalasnya?”

“Untuk sekedar mengatakan ‘tidak’, aku pasti balas.”

Kejam sekali. Tapi beginilah Tae Hyung. Apa adanya. Apa yang ia katakan adalah apa yang ia rasakan. Seingatku, Tae Hyung memang belum mau memikirkan perempuan. Ribet, katanya. Meski umurnya sudah memasuki kepala dua, ia tak ubahnya bocah TK yang polos dan masih suka bersenang-senang dengan temannya.

“Ji Min, ayo bermain video games!” Ajaknya tiba-tiba yang langsung kutolak mentah-mentah. Mengajakku bermain video games adalah modusnya untuk minta traktiran sesuatu dariku. Tae Hyung tahu dengan pasti jika aku tidak mungkin mengalahkannya untuk urusan permainan itu.

“Ayolah, Ji Min!” Tae Hyung tidak menyerah, terus merengek padaku. Tangannya mengguncang-guncang lenganku, wajahnya memasang aegyo andalannya, berharap aku luluh. Siapapun yang melihatnya, takkan percaya jika aku menyebutkan usia aslinya.

“Satu ronde saja.” Aku luluh. Lagipula, sudah lama aku tidak bermain dengannya karena ali selalu kalah. Selama seminggu terakhir ini, Tae Hyung terus bermain dengan Ho Seok Hyung. Mereka agak seimbang, meski lebih sering Tae Hyung yang menang.

“Yei!!!” Soraknya bergembira.

Setelah persiapan yang memakan waktu tidak lebih dari lima menit, kami mulai bermain. Meski lawannya jelas sekali takkan menang darinya, Tae Hyung tetap bermain dengan usaha maksimal. Tidak mau mengecewakan dengan bermain asal-asalan, aku memberikan perlawanan semaksimal mungkin. Walaupun nantinya aku kalah, setidaknya permainan kami berlangsung seru.

“Yak!” Pekiknya spontan. Walau tidak sampai tumbang, aku berhasil menendang pemainnya. Lumayan mengasyikkan juga.

“Awas kau, Chim.” Katanya dengan nada sok mengancam. Usahanya bertambah dua kali lipat.
Beberapa pekikan spontan seperti Tae Hyung tadi lolos dari mulut kami. Permainan berlangsung lebih lama dan lebih seru dari yang biasa kami lakukan. Tanpa kusadari, kemampuanku lumayan meningkat. Setara dengan Ho Seok Hyung yang lumayan bisa mengimbangi permainan Tae Hyung.

“YEEEEE!!! AKU MENANG!!!” Teriak Tae Hyung setelah pemainku tumbang.

Sebagai perayaan, Tae Hyung kembali melakukan tarian konyol yang akan terlihat normal jika Ho Seok Hyung yang menarikannya. Walau bukan pertama kali Tae Hyung menang dariku, ia selalu melakukan selebrasi berlebihan seolah ia adalah pemain sepak bola yang baru saja mencetak gol. Bahkan pemain bola saja tidak ada yang segila dia.

“Makan malam gratis. Makan malam gratis. Makan malam gratis.” Masih belum menghentikan selebrasinya, Tae Hyung melafalkan frasa itu tiga kali yang sontak membuat mataku terbelalak.

“Kita tidak ada perjanjian seperti itu, Tae.” Harusnya aku sudah menduganya. Perjanjian tanpa kata –dan tanpa sepengetahuanku– selalu Tae Hyung yakini terjadi di antara kami. Sudah kubilang, kan, Tae Hyung mengajakku bermain video games adalah modus minta traktiran

“Aku mau jajjangmyeon, Chim.”

“Aku tidak bilang setuju.”

“Tidak ada penolakan,” katanya setengah tertawa lalu keluar kamar. Saat masih berada di ambang pintu, Tae Hyung memamerkan tarian bokongnya.

Dasar Kim Tae Hyung! Aku sudah bilang, kan kalau umurnya sudah dua puluh? Tapi ia masih saja kekanakan, polos, tidak peduli pandangan orang saat ia melakukan hal yang sebenarnya konyol. Selebihnya… aku tidak punya jawaban untuk menggambarkan bagaimana Tae Hyung sebenarnya.

끝 … Not yet … 끝

6. Magnae

“Ji Min Hyung!”

Aku tergelak manakala Jung Kook mulai kesal karena aku terus mengganggunya. Jung Kook yang saat ini sedang memupuk sifat rajin dalam dirinya untuk bisa menyelesaikan tugas sekolahnya. Dari sekian hal yang Jung Kook benci, belajar adalah satu yang mengambil tempat dalam daftar tersebut.

Tapi kondisinya memaksa ia harus rajin-rajin belajar, berada di tahun ketiga SMA, membuat Jung Kook harus menambah porsi belajarnya yang sangat sedikit. Setidaknya, Jung Kook harus lulus meski nilainya nanti pas-pasan.

“Hyung, itu bajuku!” Tiba-tiba Jung Kook berteriak. Tangannya menunjuk Nam Joon Hyung yang baru keluar dari kamar yang mereka tempati mereka berdua. Baju yang Jung Kook maksud adalah kaus ungu polos kebesaran yang Nam Joon Hyung pakai sekarang.

Kaus itu adalah milik Jung Kook. Akhir-akhir ini Jung Kook gemar memakai kaus polos dengan warna-warna yang berbeda. Yang ungu itu baru Jung Kook pakai tiga hari lalu. Dan sepertinya, Nam Joon Hyung sedang buru-buru dan mengambil kaus itu asal karena tidak menemukan kausnya sendiri. Nam Joon Hyung lumayan pemalas untuk urusan merapikan kamar.

“Aku pinjam sebentar,” katanya sebelum menghambur keluar dengan setenga berlari.

Di sebelahku, Jung Kook menggerutu. Memang terdengar egois, tapi Jung Kook tidak begitu suka berbagi pakaian dengan orang lain. Saat mencucinya pun, ia hampir selalu memisahkan pakaiannya dari yang lain.

“Biarkan saja, Kookie. Hanya kaus ini, bukan underwear seperti Yoon Gi Hyung dulu, kan.”

“Jangan memanggilku Kookie, Hyung.” Jung Kook menggerutu lagi hanya karena panggilanku padanya. Meski usianya masih belasan tahun dan yang termuda di antara kami, ia tidak mau diperlakukan seperti anak kecil. Singkatnya, Jung Kook ingin terlihat manly.

“Iya, Jeon Jung Kook,” kataku sambil mencubit pipinya gemas.

“Hyung!”

Aku tergelak lagi. Menggoda Jung Kook adalah sesuatu yang menyenangkan.

“Tidak tahu, ya, kalau gemar menggoda orang bisa menghambat pertumbuhan? Hyung, sih, menggodaku terus, makanya tidak tinggi-tinggi begitu.”

Tawaku mendadak terhenti. Jung Kook sudah mengeluarkan jurus andalannya untuk membungkamku. Tinggi badan adalah masalh ‘sensitif’ bagiku, makanya Jung Kook menggunakannya untuk balas menggodaku.

Jung Kook hanya pintar untuk membully Park Ji Min saja.

Puas menertawakanku, Jung Kook bangkit dari sofa dan melangkah ke dapur. Membuka lemari di atas pantri dan mengambil dua kaleng kentang goreng dan sekaleng cola dari kulkas.

“Aku sekalian, Kook.”

“Apanya?”

“Cola.”

“Kentang gorengnya, tidak?”

“Itu kau sudah ambil dua, kan?”

“Dua ini untukku saja.”

“Ya sudah sekalian.”

“Tidak sampai, ya, kalau ambil sendiri?”

“Jeon Jung Kook!”

Tahu maksud kata-katanya, kan? Jung Kook secara tidak langsung mengatai aku pendek. Ayolah! Jangan percaya. Selisih tinggi kami hanya sekitar empat sampai lima senti saja, kok. Aku tidak sependek seperti yang kalian bayangkan setelah mendengar cara Jung Kook mengejekku barusan.

Lagipula, masih ada Yoon Gi Hyung yang sama pendeknya denganku. Tapi Jung Kook hanya mengejekku saja. Mana berani dia mengejek orang yang mulutnya pedas macam Yoon Gi Hyung?

“Ini.”

Jung Kook melemparkan sekaleng kentang goreng dan cola ke pangkuanku, lalu duduk di atas karpet dan melanjutkan rencana belajarnya. Ya, rencana saja. Sebab satu jam berlalu, belum ada satu materi pun. Karena setiap kali ia mau mulai belajar, ada saja gangguannya.

Salah satunya, aku.

“Terima kasih, Kookie!!!” Kataku dengan nada yang dibuat imut berlebihan sambil memeluk lehernya.

“Hyung!!!”

Seperti inilah magnae kami. Dia baik, polos tapi sangat ingin terlihat manly. Itulah yang membuatnya semakin terlihat imut. Dan yang paling penting, Jung Kook adalah milikku. Haha…

끝 … Really … 끝

3 responses to “Ji Min Point of View

  1. Aaaaaa, suka banget sama ff ini! Menggmbarkan Bangtan banget! Friendshipnya kerasa banget~
    Sian Chimchim diejek terus aama member lain wkwkwk. Gapapa chim, walopun bantet tapi tetep jadi kesayangan kok (?)

  2. eiih.. ini udah beberapa bulan lalu. dan ya taraaa 9 januari 2015 semua fakta2 itu baru muncul juga :v
    authority bin… sarangnya♡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s